NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 1 Chapter 8

Bab 8: Ah, Aku Mengerti


"Haah... tuh anak, makin ke sini kok makin seram aja tumannya...?"

 

Seusai jam pelajaran, Masachika bergumam sendiri melihat pesan yang dikirim oleh Yuki.

 

Katanya ada belanja barang inventaris untuk urusan OSIS, tapi karena mendadak ada urusan dan tidak bisa pergi, dia minta Masachika untuk menggantikannya.

 

Onii-chan, tolo~ng ya♡

 

"..."

 

Melihat pesan terakhir yang terasa begitu sengaja dipasang sok imut dan manja sampai bikin geli sekaligus jengkel, Masachika merasa tenaganya seolah terkuras habis.

 

"Yah, aku bakal pergi juga sih... Pergi juga, tapi ya..."

 

Sambil menggerutu pelan, dia hanya membalas singkat, Oke.

 

Horeee, sayang banget sama Onii-chan♡

 

"Iya, iya."

Sambil tersenyum kecut melihat stiker bertaburan hati yang dikirim bertubi-tubi, Masachika mengantongi ponselnya lalu melangkah menuju ruang OSIS.

 

Bagaimanapun juga, Masachika memang sangat memanjakan adiknya.

 

Dalam standar umum, dia sudah bisa dikategorikan sebagai sis-con tanpa bisa membantah.

 

"Permisi."

 

Saat Masachika mengetuk pintu ruang OSIS lalu membukanya, ada dua orang di dalam.

 

"Ooh, Kuze. Maaf ya, malah kamu yang repot-repot datang membantu."

 

"Tidak apa-apa, saya cuma datang buat menutupi kelakuan Yuki kok."

 

Pria pertama adalah Ketua OSIS, Kenzaki Touya. Dan satu orang lagi adalah...

 

"Araa, kamu yang namanya Kuze-kun? Aku Maria Mikhailovna Kujou.

Kakaknya Alya-chan, sekaligus Sekretaris OSIS. Salam kenal ya~?"

 

"Ah, halo. Alya selalu merepotkan saya."

 

Melihat Maria yang menyapa dengan ramah sambil mengulas senyum lembut, Masachika membungkuk ringan sambil berpikir (Pasangan kakak-beradik ini benar-benar punya atmosfer yang berbanding terbalik, ya).

 

"Saya dengar hari ini belanja barang inventaris sama Kujou-senpai..."

 

"Kamu boleh panggil aku Masha, lho? Kalau kamu temannya Alya-chan, berarti kamu temanku juga kan~"

 

"Ah, haah..."

 

Melihat Maria yang mendekat perlahan dengan senyum merekah, Masachika agak ciut di dalam hati (D-daya ekstrovert-nya tidak main-main).

 

"Mau panggil Masha-senpai atau Masha-san juga boleh kok~?"

 

"Haah... kalau begitu, Masha-san saja."

 

Masachika memalingkan pandangannya karena agak malu. Begitu sampai di depannya, Maria menggenggam tangan kanan Masachika dengan kedua tangannya lalu menggoyangkannya perlahan ke atas dan ke bawah.

 

"Yup yup, salam kenal, ya..."

 

Jabat tangan Maria diiringi senyuman yang kalau itu seorang idola, pasti bisa membuat pria mana pun berlutut seketika. Namun saat mendongak menatap wajah Masachika dari dekat, ekspresi itu mendadak berubah menjadi datar.

Matanya yang agak turun dan biasanya menyempit ramah kini membelalak lebar, dan senyuman yang biasanya terpajang mendadak lenyap tanpa sisa.

 

"A-ada apa?"

 

Masachika refleks hendak menarik diri karena perubahan drastis itu, tapi genggaman di tangan kanannya terasa mengejutkan kuatnya, membuat dirinya hanya bisa mundur selangkah sebagai batas maksimal.

 

"Kuze-kun... nama depanmu siapa?"

 

"Eh? Masachika... ditulis memakai kanji 'politik' dan 'dekat'."

 

"Masa... chika..."

 

Dengan ekspresi serius yang hampir terasa menakutkan, Maria menatap wajah Masachika seolah ingin melubanginya.

 

Ditatap lekat-lekat sambil dipegang kedua tangannya oleh seorang kakak kelas cantik yang baru pertama kali ditemui, Masachika bukan lagi sekadar berdebar, melainkan mulai merasa cemas.

 

"Ada apa, Kujou kakak? Apa ada sesuatu yang menempel di belakang Kuze?"

 

"Ketua, kalau mau memotong pembicaraan harusnya 'Apa ada sesuatu yang menempel di wajahnya?', kan."

 

"Ooh, boleh juga potonganmu, Kuze."

 

Touya mengulurkan bantuan dari samping, dan Masachika dengan sigap menyambungnya. Dengan teguran cepat tanpa jeda itu, Touya memberikan acungan jempol disertai pujian.

 

Atas lelucon yang mendadak itu terjadi, Maria mengedipkan matanya perlahan, lalu kembali memajang senyum lembutnya yang seperti biasa.

 

"Aaah, maaf ya. Aku cuma berpikir, 'Oh, jadi orang ini yang temannya Alya-chan ya~', makanya tanpa sadar jadi begini."

 

Dia melepaskan tangannya dengan cepat, lalu menempelkan tangan ke pipinya sendiri sambil memiringkan kepala seolah merasa bersalah.

 

Kemudian, dia menepuk kedua tangannya untuk mengalihkan suasana.

 

【それじゃあ、行きましょうか】(Kalau begitu, ayo kita pergi)

 

Masachika mengedipkan matanya mendengar bahasa Rusia yang mendadak itu. Tentu saja dia paham artinya, tetapi karena selama ini dia bersikap seolah tidak paham bahasa Rusia di depan adiknya Alisa, dia tidak boleh mengangguk di sini.

 

"Maaf, bicara apa tadi?"

 

Saat Masachika bertanya balik dengan wajah pura-pura tidak tahu, mata Maria sempat terbuka lebar sejenak, sebelum akhirnya kembali mengulas senyum.

"Maaf ya, aku cuma bilang 'Ayo kita berangkat'."

 

"Ah, iya."

 

"Kalau begitu Ketua, kami berangkat dulu ya."

 

"Ya, kutitip ya."

 

"Permisi."

 

"Kuze, tolong ya."

 

"Baik."

 

Setelah memberi salam pada Touya, mereka berdua keluar dari ruang OSIS.

 

"Beli barang inventaris apa ya? Dari Yuki saya cuma dengar garis besarnya saja."

 

"Begitulah~ berbagai barang yang mau dipakai di ruang OSIS~"

 

"Haah... di SMP dulu barang-barang seperti itu biasanya dipesan sekalian ke agen, tapi di SMA ternyata beda ya."

 

"Kalau barang pakai habis yang kecil-kecil memang begitu~ Tapi kan ini ruang OSIS yang kita pakai sendiri. Mesti ada warna khas kita sendiri dong? Yang begitu harus dipilih langsung dengan mata sendiri. Apalagi teh, kalau tidak dicium aromanya langsung kan tidak bisa pilih yang bagus."

 

"Ah, begitu... Kalau begitu rasanya orang luar seperti saya malah makin tidak enak buat ikut-ikutan."

 

"Begitu ya~... Kalau begitu, bagaimana kalau Kuze-kun masuk OSIS sekalian saja?"

 

"Nggak ah, saya tidak ada minat ke sana."

 

"Masa? Sa~yang sekali."

 

Melihat Maria yang mengedikkan bahu dengan raut benar-benar merasa sayang, Masachika mengulas senyum kecut.

 

"Ya sudah, saya bakal berusaha keras sebagai pembawa barang saja."

 

"Iya, tolong ya~?"

 

Karena posisinya hanya orang luar, dia berpikir lebih baik tidak usah memberikan pendapat yang tidak perlu dan fokus menjadi pembawa

barang saja... tapi ternyata pemikiran itu terlalu meremehkan keadaan.

 

"Aroma terapi ini wangi bange~t. Buat uji coba, bagaimana kalau beli semua jenisnya sekalian──"

 

"Nggak bisa, masa memasang aroma terapi di ruang OSIS. Yang begitu

silakan pakai di kamar sendiri saja."

"Tidak mau~ boneka kucing ini mirip banget sama Alya-chan! Ah, benar juga. Bagaimana kalau kita pajang boneka yang menggambarkan semua anggota OSIS?"

 

"Memangnya ini dunia dongeng apa! Kalau siswi lain mungkin tidak apa-apa, tapi Ketua pasti bakal merasa sangat serba salah!"

 

"Kalau Ketua itu singa yang pakai kacamata di sebelah sini ya~"

 

"Nggak, makanya... eh tapi mirip banget, oi!"

 

"Kalau begitu beli yang ini──"

 

"Nggak, biarpun mirip! Memajang boneka di ruang OSIS itu jelas-jelas tidak boleh!"

 

"Eee~"

 

"Nggak, justru saya yang mau bilang 'Eee~'."

 

"Muu... Ya sudah deh. Tapi kucing ini imut banget, jadi mau kubeli buat diriku sendiri saja."

 

"Ah, struk pembayarannya jangan dicampur, gawat nanti! Bisa-bisa dimarahi Alya yang bagian bendahara!"

 

Masachika sudah punya firasat gawat saat Maria tanpa ragu melangkah masuk ke toko barang-barang fancy, tapi kenyataannya jauh lebih parah dari bayangannya. Tingkat kebebasannya benar-benar melompati perkiraan Masachika.

 

Matanya berpindah ke sana-kemari, dan secara sangat serius mencoba membeli barang-barang yang jelas-jelas tidak pantas berada di ruang OSIS. Sebelum menjadi pembawa barang, Masachika sudah mengerahkan seluruh kemampuannya hanya untuk meluruskan alurnya.

 

(Tidak bisa ini, orang ini terlalu bebas. Apa selalu begini tiap saat? Kalau iya, Alya pasti sengsara banget ya...)

 

Saat dia akhirnya berhasil mengumpulkan barang-barang kebutuhan minimum dan melangkah menuju toko teh terakhir, Masachika sudah benar-benar lelah secara mental. Sambil menjalankan tugasnya sebagai pembawa barang sesuai janji, dia melirik ke arah Maria yang melangkah sambil memeluk boneka kucing.

 

Melangkah di tengah kota sambil memeluk boneka rasanya cukup berat dilakukan oleh anak SMA ketimbang anak SD kelas rendah, namun anehnya saat Maria yang melakukannya tidak terasa ada kejanggalan.

 

(Yah, gimana ya... rasanya seperti ingin bilang 'Woi kucing, geser dikit dong'.)

 

Melihat dua bukit yang menekan kepala boneka itu dari belakang, pemikiran seperti itu mendadak terlintas... dan tepat setelahnya, wajah Alisa yang memasang mata seolah melihat sampah terbayang di benaknya, membuat Masachika merinding seketika.

(Bukan begitu... Kalau ada barang sedahsyat itu di depan mata, cowok mana pun pasti bakal melirik. Ini naluri pria yang menyedihkan tahu.)

 

Sambil membuat alasan entah kenapa memakai gaya bicara yang beda di dalam hati, dia meminta maaf pada Alisa yang ada di kepalanya.

 

"Kuze-kun, di sini tempatnya~"

 

"Ya! Maaf!"

 

"? Ada apa?"

 

"Nggak, anu, ya. Tidak ada apa-apa kok..."

 

Melihat Masachika yang menciutkan lehernya, Maria memiringkan

kepalanya bingung "Nnn~?", lalu melangkah masuk ke dalam toko.

 

"Anu, Masha-san. Biar saya bawakan saja barangnya."

 

"Ah, terima kasih~ Kalau begitu, titip Alya-nyan ya?"




"A, Alya-nyan..."

 

Sambil meringis melihat penamaan yang begitu dahsyat, Masachika menerima boneka itu dari Maria.

 

(...Meskipun ya, aku memang sudah menerimanya, tapi pemandangan ini ngenes banget!)

 

Seorang siswi SMA yang memeluk boneka mungkin masih bisa dimaafkan dengan senyum kecut, tapi kalau cowok SMA yang membawanya, itu mah sudah menjadi ekspresi tanpa emosi. Ini adalah kasus yang sama sekali tidak boleh membuat kontak mata. Namun...

 

"Araa~ cocok banget, lho~"

 

"Model kepekaan macam apa yang Anda miliki itu."

 

Entah bagian mana yang menarik perhatiannya, Maria tersenyum gembira, lalu entah bagaimana caranya dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengambil foto untuk mengabadikannya.

 

"Ayo, say cheese."

 

"Nggak, mana kubiarkan?"

 

"Eee~ kenapa, kan bagus~"

 

Masachika menutupi lensa ponsel Maria menggunakan kantong belanjaan yang dibawanya. Masachika sudah tidak merasa sungkan lagi untuk melayangkan protes kepada senior satu ini.

 

"Sudah, mau lihat tehnya, kan?"

 

"Ah, benar juga ya. Pak Toko~"

 

Berhasil menghindari sesi foto, Masachika mengawasi gerak-gerik Maria dari sudut toko.

 

Maria sepertinya sudah menjadi pelanggan tetap di toko ini, sambil mengobrol sesuatu dengan sang pemilik toko paruh baya yang sudah dikenalnya, dia mulai mencoba aroma dari berbagai daun teh.

 

"Kuze-kun, menurutmu yang mana yang bagus?"

 

"Aduh, saya tidak tahu soal teh. Lagian bukan saya yang bakal minum."

 

Mungkin karena merasa sungkan pada Masachika yang mati gaya, Maria meminta pendapatnya, tapi Masachika menolaknya dengan sopan.

 

(Kalau di situasi begini, Yuki pasti bisa ikut bergabung, sih.)

 

Kalau Yuki yang merupakan putri dari keluarga Suou, dia pasti punya pengetahuan yang lumayan soal merek teh.

 

Sambil memikirkan hal itu, tampaknya Maria diperbolehkan mencicipi teh yang menarik perhatiannya. Seorang pelayan wanita datang dari bagian dalam toko sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir kertas.

 

"Nmm~ enak. Kuze-kun juga, mumpung ada mari kita coba?"

 

Sambil menempelkan bibirnya pada salah satu cangkir kertas dan mengulas senyum lebar, Maria melambaikan tangan menyuruh Masachika mendekat. Situasi itu langsung membuat satu hal terlintas di benak Masachika.

 

(I-ini adalah... event ciuman tidak langsung!)

 

Sebuah event di mana cewek yang tidak acuh pada hal semacam itu tanpa berpikir panjang memberikan cangkir atau botol plastik bekas minumnya. Event yang membuat banyak protagonis komedi romantis berdebar-debar, dan memberikan sedikit kebahagiaan sebagai bayaran atas rasa malu yang luar biasa!

 

(Tapi, aku berbeda.)

 

Masachika sangat paham bahwa dalam hal semacam ini siapa yang merasa malu maka dialah yang kalah, siapa yang memikirkannya maka dialah yang kalah. Ya, dalam situasi seperti ini harus diselesaikan dengan cerdas dan penuh stylish!

 

"Kalau begitu..."

 

Di bawah tekad itu, Masachika meletakkan barang bawaannya di tempat, lalu berjalan mendekati Maria dengan langkah kaki yang stylish (standar Masachika)──

 

"Silakan, Kakak. Ini buat Kakak juga."

 

"Terima kasih banyak."

 

Seorang pelayan wanita menyodorkan cangkir baru, dan Masachika menerimanya sambil tersenyum. Rupanya dari awal memang disiapkan untuk dua orang. Sungguh toko yang perhatian dan royal. Tapi, perhatian itu sama sekali tidak membuat Masachika senang.

 

(Nuoooh, oooohhーー!! Malu banget!! Aku, malu banget!!)

 

Sambil tersenyum dipaksakan dan menyesap tehnya, Masachika menjerit tersiksa di dalam hati.

 

"Kan? Enak, kan?"

 

"Asli, ini beneran enak banget."

 

"Yakan~"

 

"Asli, asli."

 

Masachika meronta-ronta di dalam hati sambil tanpa sadar jadi bernada seperti anak sekolahan pecinta olahraga. Inilah kesedihan dari otak otaku yang membuat garis batas antara dunia nyata dan dua dimensi menjadi kabur.

 

 

"Ooh, sudah pulang. Kerja bagus... eh, bawa apa tuh kelihatannya heboh banget."

 

Touya yang sedang bekerja dengan dokumen di ruang OSIS tersenyum kecut melihat boneka yang dipeluk oleh Maria.

 

"Lucu, kan?"

 

"Ya, lucu sih... tapi mau ditaruh di mana di ruang OSIS?"

 

"Boleh ditaruh di sini?"

 

"Nggak, kalau itu tolong jangan."

 

"Ketua, ini enaknya ditaruh di mana ya?"

 

Masachika mengangkat kantong belanjaannya dan bertanya, membuat Touya berdiri dari mejanya untuk melihat isinya.

 

"Coba kulihat... yah, barang inventaris biasa. Kerja bagus, Kuze. Coba bayangkan kalau tadi cuma dibebankan sama Kujou kakak saja, entah bakal jadi seperti apa..."

 

"Ruang OSIS bakal berubah jadi dunia dongeng."

 

"Begitu ya... yah, syukurlah. Terima kasih ya."

 

Mungkin menyadari sesuatu setelah melihat boneka yang dipeluk Maria, Touya menepuk bahu Masachika dengan ekspresi penuh arti.

 

"Bagaimana, Kuze. Apa kamu tidak mau masuk OSIS saja?"

 

"Duh, soal itu... kalau cuma sekadar bantu-bantu sesekali sih tidak masalah tapi."

 

"Kalau cuma begitu, apa tidak lebih baik terdaftar namanya saja? Aku tidak memaksa kok."

 

"Ooh, Kujou kakak setuju ya."

 

"Nggak, cuma terdaftar namanya saja... mana bisa begitu. Lagipula, kalau Yuki sih aku paham, tapi kenapa Ketua ngotot banget pengen aku masuk?"

 

Mendengar Masachika yang bertanya dengan heran, Touya mengelus dagunya sambil memasang ekspresi seolah ingin berkata, "Justru aku yang heran."

 

"Hmm... justru, kenapa Kuze tidak mau masuk OSIS, ya? Rasanya mustahil kalau alasannya cuma karena pekerjaannya yang sangat padat."

 

"...Karena aku bukan orang yang pantas jadi pengurus OSIS."

 

Dirinya tidak memiliki tekad yang kuat untuk mengincar posisi itu, ataupun kesiapan untuk menanggung tanggung jawab yang menyertai posisi tersebut, sehingga dia merasa tidak pantas. Melihat Masachika yang tersenyum kecut sambil menyurutkan bayangan di wajahnya, Touya mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi "Hmm?" sambil memiringkan kepala.

 

"Menurutku tidak ada kata tidak pantas, kok. Lagipula, kamu kan punya rekam jejak yang membanggakan sebagai Wakil Ketua OSIS di tingkat SMP."

 

"Justru karena punya pengalaman itulah aku jadi tahu. Dari awal, aku jadi Wakil Ketua pun karena diminta oleh Yuki... Diriku sendiri tidak punya hal ingin dicapai dari jabatan itu."

 

"...Hmm, terus apa salahnya dengan itu?"

 

"Eh?"

 

Mendengar suara Touya yang terdengar benar-benar kebingungan, Masachika mendongakkan kepalanya dengan cepat. Lantas, Touya menyeringai lebar, lalu membusungkan dadanya dan berkata.

 

"Kalau aku dulu jadi Ketua OSIS demi membuat cewek yang aku suka berpaling padaku, tahu? Kurasa alasanku jauh lebih tidak suci dibanding dirimu! Hahaha!"

 

"Eh? B-begitukah?"

 

Touya mendeklarasikannya dengan begitu percaya diri seolah tidak ada yang perlu disembunyikan, membuat Masachika terkejut. Kepada Masachika yang membelalakkan mata karena terkejut, Touya mengoperasikan ponselnya lalu memperlihatkan sebuah gambar.

 

"Coba lihat ini."

 

"...? Um, ini adiknya Ketua?"

 

"Ini aku waktu kelas tiga SMP."

 

"Eh!?"

 

Sosok yang terpampang di sana sama sekali tidak mirip dengan Touya yang sekarang, jujur saja dia adalah seorang cowok gemuk yang sama sekali tidak menarik.

 

Rambut berantakan, kacamata kuno, dan wajah penuh jerawat.

 

Lebih dari apa pun, tubuh yang besar secara vertikal maupun horizontal itu ditekuk tanpa rasa percaya diri, memancarkan keputusasaan yang sama sekali tidak bisa dirasakan sedikit pun dari sosok Touya saat ini.

 

"Dua tahun lalu, aku ini seorang icomic tipikal seperti yang kamu lihat. Nilaiku jelek dan aku juga payah dalam olahraga. Sejujurnya aku tidak begitu suka dengan sekolah itu sendiri... tapi, entah bagaimana aku malah jatuh cinta pada salah satu dari dua gadis tercantik di angkatan yang sama."

 

"Itu kan..."

 

"Ya, Wakil Ketua. Sarashina Chisaki."

 

Hubungan pacaran antara Ketua dan Wakil Ketua adalah cerita yang terkenal di sekolah. Setidaknya cukup terkenal sampai-sampai Masachika yang tidak tertarik pada gosip murahan pun tahu.

 

Namun, Masachika selama ini mengira bahwa para elite yang berada di puncak school caste itu menjadi pasangan secara alami. Dia sama sekali tidak mengira bahwa ini adalah sebuah giant killing dari lapisan bawah school caste.

 

"Makanya, supaya aku bisa menjadi pria yang pantas menjadi pacarnya, aku berusaha setengah mati. Keberhasilanku merebut kursi Ketua ini pun adalah bagian dari usaha itu. Bagaimana, tidak suci kan?"

 

"Hahaha... yah, begitu ya..."

 

Mendengar orangnya sendiri mengatakannya dengan begitu penuh percaya diri, Masachika hanya bisa tertawa. Kepada Masachika yang tersenyum kecut karena bingung harus merespons apa, Touya berkata.

 

"Makanya, intinya alasan itu tidak penting. Kakak Kujou yang ada di sana itu juga masuk OSIS karena ajakan Chisaki, kok."

 

"Begitukah?"

 

"Iya~? Yah, tapi ada juga alasan karena aku sekadar tertarik sih."

Maria mengonfirmasinya sambil tersenyum lembut. Di sana, Maria memasang wajah yang agak serius, lalu berbicara dengan nada menasihati yang lembut.

 

"Menurutku ya, apa pun alasannya yang penting seseorang bisa meninggalkan hasil dengan benar. Entah pemicunya itu perasaan cinta ataupun persahabatan, asalkan sebagai OSIS bisa menjalankan kegiatan yang benar-benar berguna bagi para siswa, itu saja sudah cukup."

 

"Begitu, ya?"

 

"Iya, kan? Kalau tidak, berarti politikus itu tidak boleh jadi politikus kecuali mereka adalah seorang suci."

 

"Ahaha, yah benar juga sih."

 

Kepada Masachika yang tertawa sinis, namun entah kenapa terasa begitu menikmati, Touya juga mengangguk membenarkan perkataan Maria.

 

"Begitu intinya. Apa pun alasannya, kamu bersama Suou telah meninggalkan hasil yang gemilang sebagai Wakil Ketua OSIS. Tidak ada alasan sama sekali untuk merasa malu ataupun bersalah atas hal itu."

 

Kata-kata itu menggetarkan lubuk hati Masachika jauh lebih kuat dari yang dia duga

 

Selama ini, selalu ada rasa bersalah di suatu sudut hatinya. Seberapa banyak pun pencapaian yang ditinggalkannya, pemikiran "masih ada orang lain yang lebih pantas menduduki posisi ini" tidak pernah hilang.

 

Rasa bersalah karena telah merebut posisi itu dari "seseorang" terus meninggalkan bayangan di hati Masachika.

 

Sebanyak apa pun pujian yang diberikan orang sekitar, tidak ada artinya jika yang bersangkutan tidak bisa mengakuinya sendiri. Jika tidak diiringi dengan rasa percaya diri, kemuliaan apa pun akan terasa hampa.

 

Tapi sekarang, lewat kata-kata Touya dan Maria, Masachika untuk sesaat bisa mengakui dirinya di masa lalu.

 

"Masuk OSIS demi menjadikan orang lain sebagai Ketua? Bagus sekali. Aku, Chisaki, maupun Kujou kakak juga menyambutnya. Tidak akan kubiarkan siapa pun protes."

 

Melihat Touya yang berkata demikian dengan angkuh dan senyum penuh keyakinan, Masachika merasa matanya agak panas. Dia tidak tahu apakah rasa haru itu berasal dari kelegaan karena dimaafkan oleh masa lalunya sendiri, ataukah dari rasa kekaguman terhadap sosok Touya yang begitu cemerlang.

 

"......Akan kucoba pikirkan sebentar."

 

"Ooh, pikirkanlah baik-baik. Merasa bingung adalah hak istimewa anak muda, kok."

 

"Ketua juga anak muda, kan~. Jujur saja tidak kelihatan seperti anak kelas dua SMA lho."

 

"Hahaha, sering dibilang begitu! Kemarin bahkan aku disangka mahasiswa pascasarjana!"

 

Di hadapan dua senior yang tertawa cerah dengan ramah, Masachika ikut menyunggingkan senyum tipis.

 

(Demi menjadikan seseorang sebagai Ketua, ya...)

 

Sambil merenungkan kata-kata Touya di dalam hati, sesaat kemudian dia terkejut saat sosok seseorang secara alami terlintas di benaknya.

 

Karena sosok itu bukanlah Yuki, melainkan...

 

"......Ngomong-ngomong, hari ini Alya di mana?"

 

Mencoba mengalihkan pikirannya, Masachika bertanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Meski itu adalah pengalihan topik yang mendadak, Touya menjawabnya tanpa rasa curiga sedikit pun.

 

"Ah, Kujou adik sedang pergi untuk menengahi masalah di klub olahraga... ngomong-ngomong, lama juga ya."

 

"Masalah? Itu..."

 

"Tenang saja. Bukan berarti ada perkelahian fisik kok. Sebenarnya──"

 

Katanya, masalah itu adalah perebutan hak penggunaan lapangan sekolah antara klub sepak bola dan klub bisbol.

 

Klub sepak bola dan klub bisbol, keduanya menggunakan lapangan sekolah sebagai tempat latihan.

 

Dan pada musim seperti ini setiap tahunnya, klub bisbol menggunakan lapangan sedikit lebih banyak untuk persiapan pertandingan luar yang sudah menjadi agenda rutin tahunan.

 

Namun, tahun ini klub sepak bola mengajukan keberatan atas hal itu.

Katanya, "Klub sepak bola juga ada jadwal pertandingan luar, jadi tolong berikan hak penggunaan lapangan kepada kami."

 

"Klub bisbol bersikeras karena itu adalah jadwal yang sudah ditentukan setiap tahun, sementara klub sepak bola bersikeras bahwa tidak adil jika klub bisbol yang prestasinya lebih sedikit terus yang diprioritaskan hanya karena tradisi. Faktanya, prestasi klub sepak bola meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sementara klub bisbol jumlah anggotanya berkurang dan menyusut akhir-akhir ini... jadi kedua belah pihak sama-sama punya argumen yang kuat, agak susah mencari jalan tengahnya."

 

"Dan hal itu sedang ditengahi oleh Alya?"

 

"Iya. Biasanya masalah antar klub seperti ini ditangani oleh Chisaki, tapi hari ini dia tidak bisa ditinggal karena urusan di klub kendo. Aku menyerahkannya pada Kujou adik karena menganggap ini sebagai pengalaman juga, tapi... sepertinya cukup mengalami kesulitan, ya."

 

Setelah melihat jam dinding, Touya mengarahkan pandangannya ke luar jendela, ke arah gedung klub.

 

"......Apa tidak apa-apa?"

 

"Hah? Yah, meski situasinya sedikit memanas, kurasa tidak akan sampai berujung tawuran kok."

 

Touya mengedikkan bahunya santai. Tanpa ada rasa khawatir sama sekali, Maria merapikan barang inventaris yang baru dibeli.

 

Namun, di dalam benak Masachika terbayang sosok Alisa yang hampir bersitegang dengan seorang pekerja kantoran pemabuk beberapa hari lalu. Rasa cemas mulai merayap di dada Masachika.

 

"......Kalau begitu, saya permisi dulu."

 

"Ooh, hati-hati di jalan."

 

"Terima kasih untuk hari ini ya. Nanti kapan-kapan aku traktir lagi."

 

"Ya."

 

Sambil setengah gelisah, Masachika pamit pada para seniornya lalu keluar dari ruang OSIS.

 

"......Lebih baik aku pastikan saja apakah mereka beneran tidak sedang bertengkar."

 

Dan setelah menggumamkan hal itu tanpa tujuan yang jelas, dia mengarahkan langkahnya bukan ke pintu keluar, melainkan ke gedung klub.

 

 

"Makanya! Meskipun kalian bilang itu tradisi, bukannya itu cuma sebatas pertandingan persahabatan, ya? Kami ini ada pertandingan penting buat turnamen, tahu!"

 

"Justru karena pertandingan persahabatan makanya itu penting! Ada urusan relasi dengan sekolah lain juga, dan yang memaksakan kehendak itu kan kalian dari awal!"

 

Ruang klub sepak bola benar-benar memperlihatkan kondisi yang siap meledak sewaktu-waktu. Belasan murid senior dari klub sepak bola dan klub bisbol yang berkumpul di sana saling menatap tajam tanpa ada satu pihak pun yang mau mengalah.

 

"Tolong tenanglah. Bukannya tidak ada gunanya jika kita saling menyalahkan begini?"

 

Alisa yang berdiri di antara mereka berusaha menengahi untuk kesekian kalinya, tetapi tidak terlalu membuahkan hasil.

 

Sebenarnya, sebagai bahan bujukan, Alisa telah menyiapkan tempat latihan baru di bantaran sungai dekat sekolah. Namun, kali ini pendapat mereka justru bertolak belakang mengenai siapa yang akan menggunakan lapangan sekolah dan siapa yang akan menggunakan bantaran sungai.

 

Perdebatan terus berjalan tanpa titik temu, dan diskusi kedua belah pihak kini sudah berada dalam kondisi yang hampir mirip dengan aksi saling maki.

 

Alisa berusaha mencari jalan tengah, tetapi kedua pihak yang sudah terlanjur emosi sama sekali tidak mau memberikan kompromi.

 

"Lagipula jumlah anggota klub sepak bola itu jauh lebih banyak! Kalau memperhitungkan kerepotan saat berpindah tempat, harusnya kalian yang pindah!"

 

"Justru karena itu anggaran yang kami dapat lebih besar, kan! Sudah begitu masih mau merebut tempat latihan kami lagi, itu mah murni intimidasi jumlah!"

 

"Tolong tenang, tolong tenanglah!"

 

Meski berusaha menenangkan mereka dengan sekuat tenaga, hati Alisa sebenarnya sudah hampir patah.

 

Sehebat apa pun Alisa, berada di antara para murid laki-laki senior bertubuh bongsor tetap saja membuatnya merasa takut.

 

Ditambah lagi, usul yang dikeluarkannya terus-menerus ditolak, dan jika terus-menerus dihujani kata-kata pedas dari kedua sisi, Alisa pun tentu akan merasa tertekan secara mental.

 

Dia hanya bisa bertahan sejauh ini berkat rasa tanggung jawab atas tugas yang diterimanya serta sifat pantang menyerah, tetapi hal itu pun sudah mendekati batasnya.

 

(Tidak ada orang... yang mau mendengarkan kata-kataku. Aku, memang...)

 

Tidak bisa menggerakkan hati orang lain.

 

Hal itu sudah samar-samar disadarinya sejak lama.

 

Meremehkan orang lain, menepis mereka dengan berpikir "Toh tidak ada yang bisa mengimbangiku", serta menolak untuk memahami dan mendekatkan diri.

 

Ini adalah pembalasan atas hal itu.

 

Siapa yang mau mendengarkan kata-kata dari orang seperti ini?

 

Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah mencoba memahami perasaan orang lain, dan hanya bisa menyodorkan argumen benar dari sudut pandang di atas, sanggup menggerakkan hati seseorang?

 

(Aku... sendirian.)

 

Fakta itu meresap ke dalam hati Alisa yang terluka bagaikan racun dingin yang menyiksa dengan rasa sakit yang tajam.

 

Dia paham. Yang memilih untuk menjadi seperti ini adalah dirinya sendiri. Menganggap semua orang di sekelilingnya hanya sebagai saingan, dan hidup agar tidak kalah dari siapa pun.

 

Karena semua ini adalah hal yang dipilihnya sendiri, jadi mau bagaimana lagi.

 

(Ya, aku paham. Aku paham...)

 

Tapi, tapi...!

 

【助けて……(Tolong aku…..)

 

Keluhan lemah yang dibisikkannya secara pelan adalah bahasa Rusia yang tidak dipahami oleh siapa pun di tempat ini.

 

Dia tidak bisa membuang harga dirinya lalu melarikan diri, tidak bisa menangis dan berteriak, dan bahkan tidak bisa meminta bantuan secara jujur.

 

Di sudut hatinya, dirinya yang tenang mengatakannya dengan dingin, "Makanya kamu itu sendirian." Sambil mengejek dirinya sendiri bahwa hal itu memang benar, mulut Alisa tetap memeras suara dari dalam tenggorokannya yang gemetaran.

 

【誰か、助けてよぉ……(Seseorang, tolong aku…..)

 

Itu adalah SOS yang sangat pelan dan menyedihkan, namun bagi Alisa, itu adalah jeritan paling memilukan yang dikeluarkannya sekuat tenaga.

 

Kata-kata yang dibisikkan oleh gadis yang menyendiri tanpa niat menyampaikannya kepada siapa pun itu, seharusnya sirna begitu saja tergerus oleh teriakan amarah yang bersahutan di dalam ruangan... seharusnya.

 

Gagagaga!

 

Suara pintu geser yang dibuka secara mendadak bergema di dalam ruangan, membuat pandangan semua orang yang ada di sana terpusat secara bersamaan.

 

Di sana berdiri seorang murid laki-laki berpenampilan biasa.

 

Melihat warna dasinya, dia adalah murid kelas satu. Tubuhnya tidak terlalu tinggi atau kekar, dan merupakan yang paling kurus di antara para murid laki-laki di ruangan ini.

 

Namun, saat pemuda itu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, semua orang di tempat itu menahan napas. Dalam sekejap, mereka terseret oleh atmosfer yang dipancarkan oleh pemuda tersebut.

 

Pemuda yang hanya dengan pandangan matanya sanggup membungkam para murid senior yang tadinya dipenuhi hawa membunuh itu, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan tegap... lalu mendadak mengulas senyum santai dan berkata.

 

"Halo~, saya datang sebagai bantuan dari OSIS. Saya Kuze Masachika, urusan umum OSIS."

 

 

Masachika yang tiba di depan ruang klub sepak bola, berdiri mendengarkan dari luar ruangan saat Alisa berjuang sendirian.

 

(Ini sih sudah tidak mungkin, Alya.)

 

Hanya mendengarkan suara Alisa yang berusaha sekuat tenaga menyampaikan kata-katanya seorang diri, Masachika menilai hal itu secara dingin.

 

Kedua belah pihak sudah terlalu tersulut emosi. Masalah ini harus dihentikan dulu untuk sementara, lalu mendiskusikannya kembali di hari lain setelah mereka merasa tenang.

 

Jika itu Alisa yang pintar, dia pasti paham kalau itulah jawaban terbaik dalam situasi seperti ini.

 

Apakah karena dia merasa panik atas tugas yang dipercayakan oleh Ketua, sehingga dia kehilangan momen untuk mundur?

 

(...Yah, kasihan sih, tapi ini juga pengalaman.)

 

Kalau terus begini, tanpa perlu dihentikan oleh Alisa pun, tidak lama lagi diskusi mereka akan pecah karena bertengkar.

 

Setelah itu, tinggal mengatur waktu untuk berdiskusi kembali dari awal.

 

Sebagai orang luar, dia tidak boleh menyela dengan cara yang salah di sini, dan jika dia melakukannya, hal itu justru akan melukai harga diri Alisa.

 

"Semangat ya, Alya."

 

Setelah melayangkan dukungan pelan dalam satu kata, Masachika meninggalkan tempat itu──

 

【助けて……(Tolong aku…..)

 

Di punggung Masachika yang baru saja membalikkan badan, sebuah SOS pelan pun sampai. Langkah kaki yang terayun berhenti seketika.

 

Suara yang lemah dan memilukan.

 

Suara minta tolong darinya yang tidak pernah didengarnya sekali pun selama ini.

 

Atas suara yang membuat dadanya sesak luar biasa itu, Masachika menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar.

 

(*Ah, sialan! Kenapa kamu malah bilang begitu!*)

 

Harusnya aku pergi dari tempat ini sedikit lebih cepat. Kalau begitu, aku tidak perlu mendengar suara seperti itu darinya.

Betapa canggungnya SOS itu. Harusnya dia minta bantuan saja secara jujur pada Ketua atau kakaknya. Karena dia tidak bisa melakukan hal itulah makanya dia selalu sendirian sampai kapan pun. Gara-gara hal seperti itu...

 

【誰か、助けてよ……(Seseorang, toloang aku…..)

 

Bagaimanapun juga, aku tidak bisa membiarkannya.

 

Японял(Aku mengerti))

 

Setelah berbisik pelan, Masachika mengusap rambutnya dengan kasar, lalu membalikkan badannya kembali.

 

 

Di tengah kebingungan banyak orang atas penyusup yang mendadak ini, beberapa murid termasuk Ketua Klub Bisbol melontarkan suara terkejut, "Kuze...". Mereka adalah orang-orang yang mengenal Masachika sejak zaman OSIS tingkat SMP.

 

"Kuze, kun..."

 

Menepuk punggung Alisa yang memanggil namanya dengan suara penuh terkejut dan bingung namun entah kenapa terasa bersandar padanya, Masachika maju ke depan seolah melindungi Alisa di belakangnya.

 

"Saya sudah mendengar garis besarnya dari Ketua, apa benar masalahnya adalah perebutan tempat latihan antara lapangan sekolah dan bantaran sungai, mengenai siapa yang menggunakan yang mana?"

 

"Ya, benar."

 

"Terima kasih."

 

Yang menjawab pertanyaan Masachika adalah Ketua Klub Bisbol yang entah kenapa sejak tadi terus membisu.

 

Di tengah anggota lain yang melontarkan makian, dia yang terus diam menatap Masachika dengan mata yang menyimpan harapan dan rasa percaya secara berimbang.

 

Seolah menjawab pandangan mata itu, Masachika mengedarkan pandangannya sekali ke seluruh wajah kedua belah pihak sebelum akhirnya berkata.

 

"Kalau begitu, bagaimana jika seperti ini. Mengingat jumlah orang yang berpindah, klub bisbol yang akan pergi ke bantaran sungai. Namun sebagai gantinya, dari klub sepak bola yang jumlah anggotanya lebih banyak, akan mengirimkan tenaga bantuan untuk membantu mereka."

 

Atas usulan Masachika, klub sepak bola merasa bingung, sementara klub bisbol merasa keberatan.

 

"Apa-apaan itu! Pada akhirnya kami kan yang kena ruginya!"

 

"Kenapa cuma kami yang harus diasingkan ke bantaran sungai!"

 

Protes yang wajar pun membumbung. Namun, hal itu ditenangkan hanya oleh satu suara yang muncul dari pihak klub sepak bola.

 

"Kalau jalannya begitu, para manajer dari kami yang bakal pergi membantu klub bisbol kok."




Suara yang menyela adalah seorang siswi yang bertindak sebagai manajer klub sepak bola.

 

Berkat penampilannya yang cantik serta dukungannya yang penuh pengabdian kepada para pemain, dia adalah manajer kepala klub sepak bola yang sangat populer di kalangan murid laki-laki.

 

Atas pencalonan diri yang tidak disangka-sangka ini, di pihak klub bisbol melintas atmosfer seolah bilang "Kalau gadis itu yang datang membantu sih...". Namun, kali ini pihak klub sepak bola yang mengajukan keberatan.

 

Meski begitu, keberatan itu pun ditenangkan hanya oleh satu kalimat darinya, "Kalau mereka mau menyerahkan hak penggunaan lapangan sekolah, hal sekecil ini sudah sepatutnya kita lakukan, kan."

 

"...Dari pihak kami tidak keberatan dengan syarat itu, bagaimana menurut kalian?"

 

Membaca atmosfer para anggotanya, Ketua Klub Bisbol bertanya demikian, dan Ketua Klub Sepak Bola pun mengangguk sambil agak meringis.

 

"Kalau begitu, diputuskan seperti itu ya. Besok atau kapan pun, silakan datang lagi ke OSIS untuk mengajukan permohonan secara resmi."

 

Masachika menutupnya seperti itu, dan diskusi kedua belah pihak pun

terselesaikan secara lancar dengan bentuk yang tak terduga.

 

 

Seusai diskusi, Masachika dan Alisa berjalan di koridor gedung klub menuju bangunan utama sekolah. Tanpa ada percakapan di antara keduanya, mereka melangkah dengan tenang tanpa saling bertukar pandang.

 

"...Ah~, maaf ya."

 

Tak lama kemudian, Masachika yang tidak sanggup menahan keheningan berucap demikian, membuat Alisa mengarahkan ekspresi heran ke arah Masachika.

 

"Aku seenaknya ikut campur dan memajukan pembicaraan. Aku jadi bikin kamu kehilangan muka, ya."

 

"...Tidak juga."

 

Setelah mengatakannya secara dingin, Alisa kembali menghadap ke depan. Namun, sambil tetap menghadap ke depan dia langsung mengangkat suaranya, "Nee."

 

"Kenapa kamu memberikan usulan seperti itu?"

 

"Nng?"

 

"Kalau dipikir secara normal, tidak mungkin klub bisbol akan setuju dengan usulan seperti itu. Di mataku, kamu terlihat seolah-olah sudah tahu kalau senior itu akan mencalonkan diri untuk membantu."

"Hee... kamu paham betul, ya."

 

"Paham lah. Saat klub bisbol sedang memprotes, kamu terus menatap ke arah senior itu, kan."

 

Sambil merasa kagum karena Alisa memperhatikan dengan sangat baik, Masachika membeberkan rahasianya dengan nada bicara yang santai.

 

"Ini rahasia, ya?"

 

"? Ya."

 

"Senior manajer itu... sebenarnya pacaran sama Ketua Klub Bisbol."

 

"Eh!?"

 

Atas informasi yang di luar dugaan ini, Alisa membelalakkan matanya lebar-lebar lalu melihat ke arah Masachika.

 

"Ketua Klub Bisbol terus membisu selama diskusi, kan? Itu karena kekasihnya ada di pihak lawan, makanya dia tidak bisa bicara keras. Biarpun mencampuradukkan urusan pribadi dan kelompok itu keterlaluan, tapi yah mau bagaimana lagi."

 

"Jadi, begitu..."

 

"Di sisi lain, si cewek juga sadar kalau pihak mereka menuntut hal yang berlebihan jadi merasa tidak enak. Makanya, aku tahu kalau diberikan usulan seperti itu di sana, dia pasti bakal ikut."

"...Begitu."

 

"Klub bisbol senang karena dapat bantuan latihan dari gadis-gadis imut. Klub sepak bola senang karena bisa menguasai lapangan sekolah secara eksklusif. Mereka berdua senang karena bisa kencan latihan menembus batas klub. Ya ampun, tiga pihak benar-benar selesai dengan damai!"

 

Masachika tertawa sambil menambahkan, meski merasa para anggota biasa klub bisbol yang tidak tahu apa-apa agak sedikit dirugikan sih.

 

Menatap Masachika yang seperti itu, Alisa pun menyunggingkan sedikit senyuman.

 

"...Tapi tunggu──"

 

Namun di sana, melihat seorang murid laki-laki berdiri di ujung koridor

yang terhubung ke bangunan utama sekolah, senyuman Masachika sedikit bercampur rasa pahit.

 

"Ooh, apa diskusinya berjalan lancar?"

 

"Ketua..."

 

Di sana berdiri Touya. Tanpa memperlihatkan raut heran melihat

Masachika bersama Alisa, dia memajang senyuman seolah sudah memprediksi semuanya.

 

"...Klub sepak bola menggunakan lapangan sekolah, dan sebagai gantinya klub bisbol menggunakan bantaran sungai, lalu selama masa itu manajer klub sepak bola akan membantu klub bisbol. Diskusi selesai dengan kesepakatan itu. ...Ini semua berkat Kuze-kun."

 

"Begitu ya, kerja bagus Kujou adik."

 

Mendengar Alisa yang menyampaikan fakta secara datar, Touya memujinya tanpa mengatakan hal yang tidak perlu. Kepada Touya yang seperti itu, Masachika menusukkan mata sipit sebagai bentuk perlawanan minimum.

 

"Apakah semuanya berjalan sesuai rencana Anda?"

 

"Nng? Bukannya seperti itu juga sih."

 

"Di saat Anda tidak menjawab 'Apa maksudmu?', itu sudah cukup

membuktikan kalau Anda memang pelakunya."

 

"Oho... aku kalah telak ya."

 

Melihat Touya yang mengangkat kedua tangannya secara jujur, Masachika menghela napas seolah semangat bertempurnya dilucuti.

 

"Lalu, bagaimana? Apa keputusannya sudah bulat?"

 

"..."

 

Sambil berpikir bahwa pria ini memang sudah tahu semuanya, kali ini Masachika mengibarkan bendera putih secara jujur.

"Ya, begitulah... Saya, Kuze Masachika yang masih serba kekurangan ini, akan bergabung sebagai anggota OSIS di posisi paling bawah."

 

"Ooh, selamat bergabung ya."

 

Touya yang menyunggingkan senyum maskulin yang pekat, dan Masachika yang mengulas senyum kecut seolah ingin bilang "Aku benar-benar tidak berkutik padanya". Dua orang yang mengulas senyum berlawanan itu saling berjabat tangan dengan erat.

 

Melihat pemandangan itu dari posisi yang agak mundur, Alisa mengawasinya dengan raut wajah yang entah kenapa terasa rumit.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close