NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 1 Chapter 3

Bab 3: Pak Polisi, Orang Ini Pelaku!


Keesokan harinya, Masachika datang ke sekolah hampir satu jam lebih awal dari biasanya.

 

Tidak ada alasan yang terlalu mendalam.

 

Sederhananya, dia terbangun satu jam lebih awal dari biasanya.

 

Lagi pula, sangat jarang bagi Masachika untuk bangun dalam kondisi yang begitu segar. Jika dia memaksakan diri untuk tidur lagi, ada firasat dia malah kesulitan tidur, berguling-guling, dan akhirnya kesiangan, jadi dia memutuskan untuk berangkat lebih awal saja.

 

Alasan lainnya adalah karena hari ini kebetulan dia bertugas sebagai piket harian.

 

Di sekolah ini, dua orang bertugas sebagai piket harian secara bergiliran sesuai urutan nomor absen, dan posisi duduk kedua orang tersebut diatur agar saling berdampingan. Dengan kata lain, rekan piket Masachika adalah Alisa.

 

Masachika menyadari bahwa dirinya adalah orang yang pemalas dan menyukai kemudahan, tetapi dia selalu berusaha agar tidak menyusahkan orang lain (lupa membawa buku pelajaran lalu meminjam milik Alisa, dalam pikiran Masachika, tidak termasuk dalam kategori menyusahkan).

Karena itu, seberapapun malasnya, dia tidak pernah membolos dari tugas piket atau kebersihan. Namun, kenyataan bahwa dia hanya menyelesaikan bagian tugasnya dengan pas merupakan alasan mengapa

Masachika tetaplah Masachika, walau hari ini perasaannya sedikit berbeda.

 

"Yup, sempurna kalau kubilang sendiri."

 

Masachika melihat ke sekeliling kelas yang kosong dari atas mimbar

guru, lalu mengangguk puas.

 

Meja dan kursi tertata dengan rapi dan teratur, dan di atasnya tergeletak

buku catatan yang telah dikembalikan oleh guru wali kelas secara rapi.

 

Papan tulis sama sekali tidak ketempelan serbuk kapur, dan penghapus papan tulis pun dalam kondisi benar-benar bersih.

 

Semua ini adalah hal-hal yang biasanya dilakukan Alisa atas inisiatif sendiri saat piket, dan sebenarnya tidak termasuk dalam tugas piket yang seharusnya. Namun, karena hari ini kebetulan bangun pagi, Masachika ingin mencoba melakukan hal seperti, "Eh? Yang biasa kamu kerjakan? Sudah kukerjakan semuanya, tuh?".

 

Dia kembali ke kursinya, menunggu Alisa yang kemungkinan akan datang lebih awal dari biasanya.

 

Lalu beberapa menit kemudian, Alisa benar-benar datang. Dia membuka

pintu kelas, lalu matanya membelalak begitu mengonfirmasi keberadaan Masachika.

"Yo, selamat pagi."

 

"...Selamat pagi, Kuze-kun."

 

Melihat ke sekeliling kelas dan menyadari bahwa tugas yang biasanya dia kerjakan sudah selesai sepenuhnya, Alisa menaikkan alisnya, sementara Masachika mengulas senyum yang agak bangga sambil berkata.

 

"Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Karena lengang, aku selesaikan saja semuanya."

 

"...Kuze-kun sampai bangun pagi begini, apa hari ini bakal turun salju?"

 

"Alya-san, bahasa Jepangmu beneran fasih banget, ya."

 

"Setidaknya jangan sampai tidur di tengah pelajaran, ya."

 

"...Kuusahakan."

 

Mendengar Masachika yang mengatakannya tanpa rasa percaya diri, Alisa menghela napas heran, lalu mengucapkannya dengan suara pelan namun bernada tegas.

 

"...Penghapus papan tulis sesi pagi, aku yang akan melakukannya."

 

Melihat sikap yang sama sekali tidak ingin berutang budi pada orang lain itu, Masachika mengulas senyum kecut.

Bagi Masachika sendiri, dia tidak bermaksud membuat Alisa berutang budi, tetapi ini mungkin masalah harga diri Alisa.

 

Karena sudah berhubungan selama lebih dari satu tahun, Masachika tahu bahwa mengatakannya dalam situasi seperti ini akan sia-sia, jadi dia pun menerimanya dengan polos, "Kalau begitu, tolong ya."

 

Kepada Masachika yang seperti itu, Alisa mengangguk walau wajahnya masih tampak agak tidak puas, lalu melangkah menuju kursinya dengan cara berjalan yang sedikit aneh.

 

Merasakan kejanggalan dari cara berjalannya, Masachika menyadari bahwa kousokuhiki (knee-high socks) milik Alisa basah.

 

Dia melihat ke luar jendela, tetapi tanpa perlu mengonfirmasinya pun di luar sedang cerah berawan. Tampaknya tadi malam sempat turun hujan, tetapi sekarang tidak ada tanda-tanda hal itu sedikit pun.

 

"Itu kenapa? Kaki kamu masuk ke genangan air?"

 

"Bukan. Aku bukan kamu."

 

"Siapa yang kamu sebut lentera siang yang selalu melamun sepanjang tahun!?"

 

"Aku tidak bilang sampai sejauh itu... Haah, ini kena cipratan air dari truk."

 

"Walah, itu sih ketiban sial, ya."

"Yah, aku yang berjalan di sisi jalan raya juga ikut bertanggung jawab, dan karena aku membawa kaus kaki cadangan jadi tidak apa-apa, sih."

 

Sambil berkata demikian, begitu sampai di kursi Alisa melepas sepatu dalam rumahnya dengan wajah meringis jijik. Kemudian, menaruh kaki kanannya di tepi kursi, dia mulai melepas knee-high socks-nya di depan mata Masachika.

 

Kaki telanjang yang menyilaukan yang tadinya terbungkus knee-high socks putih, terpapar di depan mata Masachika. Kaki yang jenjang dan luar biasa putihnya, berkilauan diterpa sinar matahari pagi yang menerobos dari jendela. Roknya terangkat sedikit di atas kaki yang ditegakkan, memperlihatkan sedikit paha dari ujungnya.

 

Melepas knee-high socks yang lembap dan merenggangkan kakinya lebar-lebar seolah menikmati rasa bebas, Alisa membiarkan kaki telanjangnya yang basah terkena udara luar. Melihat wujud itu,

Masachika memalingkan pandangannya dengan perasaan seolah telah melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat.

 

Padahal cuma sekadar melepas knee-high socks, tapi ada rasa bersalah aneh seolah-olah dia baru saja mengintip adegan berganti pakaian atau adegan mandi. Baru menyadarinya sekarang, Masachika menjadi sangat sadar bahwa Alisa adalah seorang gadis yang luar biasa cantik, membuatnya mendadak merasa tidak tenang.

 

"Fuu..."

Setelah melepas kedua knee-high socks-nya dan menyapu kakinya dengan handuk kecil yang dibawanya untuk mengantisipasi saat terkena hujan, Alisa menghembuskan napas dengan raut lega.

 

Lalu tanpa sengaja dia melihat ke samping, dan menemukan sosok Masachika yang tubuhnya menghadap ke arahnya namun menatap miring ke bawah dengan ekspresi canggung, membuat matanya berkedip-kedip.

 

Melihat ekspresi Masachika yang biasanya santai dan tidak tergoyahkan oleh apa pun itu kini tampak agak malu-malu dan gugup... senyum cengengesan pun terukir di sudut mulut Alisa.

 

Memasang ekspresi yang agak sadis dan jahil, Alisa menghadap kembali ke arah Masachika lalu merenggangkan kaki kanannya. Dengan lihai dia menjepit celana Masachika menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya, lalu menarik-nariknya.

 

"Nee, bisakah kamu mengambilkan kaus kaki ganti dari loker?"

 

"Ha?"

 

"Karena aku sudah melepasnya duluan, jadi tidak bisa pergi mengambilnya."

 

Lalu seolah ingin bilang "Kamu lihat sendiri kan?", dia menyilangkan kakinya dengan lihai sambil membiarkan ujung kakinya melayang di udara.

Seketika itu juga zettai (absolute territory) nyaris terlihat dari depan, membuat Masachika memalingkan pandangannya dengan cepat sambil menunjukkan kegugupannya secara terang-terangan.

 

Melihat keadaan itu, Alisa semakin memperdalam senyum sadisnya, lalu bertopang dagu di sandaran kursi.

 

Menyandarkan punggungnya pada sinar matahari pagi, betapa indahnya sosok yang tertawa kegirangan itu.

 

Bagaikan seorang putri manja yang merasa terhibur saat memberikan tuntutan sulit kepada pelayannya. Atau mungkin eksekutif wanita jahat yang memberikan perintah gila kepada bawahannya.

 

(Gaun atau seragam militer, Alya rasanya cocok memakai keduanya ya~)

 

Sambil menerbangkan pikirannya ke arah yang tidak jelas seperti itu,

Masachika berburu-buru bangkit dari kursi lalu melangkah menuju loker Alisa yang berada di belakang kelas.

 

Meminta konfirmasi Alisa lewat pandangan mata, dia membuka pintunya, dan di dalamnya terdapat buku-buku pelajaran serta kotak peralatan yang tertata sangat rapi.

 

Di bagian dalam tempat itu, di bawah payung lipat, terdapat kaus kaki yang dimasukkan ke dalam kantong plastik transparan.

Kembali merasa seolah sedang melakukan hal yang tidak boleh, dia mencengkeram kaus kaki itu bersama kantong plastiknya, lalu bergegas kembali ke kursinya sendiri.

 

"Nih."

 

Lalu sambil melihat ke arah samping wajah Alisa, dia menyodorkan kaus kaki itu dengan kuat, namun Alisa menyandarkan dirinya pada bingkai jendela sambil melempar pernyataan bom.

 

"Kalau begitu, pakaikan?"

 

"Faa!?"

 

Masachika berbalik sambil mengeluarkan suara aneh, sementara Alisa mengangkat kaki kanannya ke arah sini.

 

Mungkin karena hanya ada mereka berdua, berlawanan dengan biasanya

Alisa tidak berniat menyembunyikan rasa terhiburnya sedikit pun, sambil memiringkan kepalanya dengan senyum cengengesan.

 

"Ada apa?"

 

"Bukan, bukannya ada apa tapi justru kamu yang ada apa!?"

 

"Ini ucapan terima kasih karena sudah mengambilkan kaus kaki. Bagi kamu ini kan hadiah?"

 

"Nggak, yang menganggap itu hadiah kan cuma sebagian orang yang spesial..."

 

"Ara? Bukan?"

 

"Bukan! Hadiah matamu!?"

 

Dengan raut wajah terkejut sambil bersedekap tangan, Alisa kembali

merubah posisi silangan kakinya, membuat Masachika berteriak sambil memalingkan seluruh kepala beserta matanya secara drastis.

 

Dia berniat melanjutkan "Sudah cukup kan!? Ampuni aku!!"... namun,

sebelum hal itu terjadi, gumaman bahasa Rusia Alisa meluncur masuk ke telinga Masachika.

 

【私だってだけど】(Aku juga, kok)

 

Melirik sekilas dengan sudut mata, raut jahil yang ada sampai sesaat lalu sudah menghilang entah ke mana.

 

Dengan wajah yang entah mengapa memerah, Alisa memalingkan pandangan sambil memainkan rambutnya. Melihat ekspresi tersebut, otak Masachika bekerja penuh menuju ke arah yang aneh.

 

Mengenai apa sebenarnya maksud dari sikap dere bahasa Rusia Alisa itu.

 

Masachika sudah memikirkannya sejak lama. Dan, kesimpulan yang dicapainya adalah sebuah kesimpulan, "Jangan-jangan Alya ini seorang eksibisionis mental?".

 

Alisa adalah seorang pekerja keras yang perfeksionis. Demi menjadi sosok ideal yang diimpikannya, dia selalu mendisiplinkan diri dengan ketat dan terus melakukan usaha tanpa henti.

 

Namun, Masachika pernah mendengar di suatu tempat bahwa makin seseorang terbiasa menahan diri seperti itu, makin besar pula keinginannya untuk melepaskan stres yang menumpuk di suatu tempat.

 

Dan bagi Alisa, bukankah sikap dere bahasa Rusia inilah tempat pelepasan itu?

 

Bagaikan seorang eksibisionis yang berjalan-jalan di tempat umum tanpa mengenakan pakaian dalam, dia melontarkan kata-kata memalukan di depan orang lain dan menikmati sensasi mendebarkan di batas tipis antara ketahuan atau tidak.

 

Masachika berspekulasi demikian. Dengan kata lain, apa yang ingin dikatakannya adalah...

 

(Kalau atas dasar suka sama suka berarti aman!!)

 

Menurut teori Masachika, Alisa adalah tipe orang yang bisa menikmati rasa malu. Artinya, Alisa senang dan dirinya sendiri juga senang. Ya, ini adalah hubungan win-win!

...Jika orang lain mendengar hal ini, "Pengembangan logika macam apa itu", "Eksibisionis mental itu apaan coba", "Semua pelaku kejahatan juga pasti bilang kalau itu atas dasar suka sama suka", dan berbagai teguran lainnya dipastikan akan berhamburan, namun sayangnya di dalam otak Masachika sedang tidak ada penegur.

 

Meski begitu, pada tahap ini Masachika masih memiliki keraguan.

 

Walaupun dibilang sudah ada kesepakatan suka sama suka, hal itu kan baru dalam bahasa Rusia. Bagaimanapun juga, dia ingin mendapatkan bukti berupa ucapan dalam bahasa Jepang.

 

"Tadi, kamu bilang apa?"

 

Dengan pemikiran yang sepenuhnya seperti orang jahat, Masachika bertanya sambil menghadap kembali ke depan. Lantas, Alisa dengan sigap mengulas senyum provokatif, lalu melakukan pengalihan persis seperti yang telah diduga oleh Masachika.

 

"Tidak ada? Aku cuma bilang 'pengecut'."

 

Kata-kata itulah yang kutunggu. Sambil mengepalkan tangan selebrasi di dalam hati, Masachika memasang wajah seolah benar-benar merasa keberatan. Kepada Masachika yang seperti itu, Alisa memajukan senyum meremehkan, lalu memperbaiki posisi silangan kakinya.

 

"Yah, sudahlah. Aku bisa memakainya sendiri──"

 

"Nggak, tidak perlu."

"Eh──?"

 

Saat hendak meminta kaus kakinya diserahkan, Masachika berlutut di tempat itu dengan kaus kaki di tangan, membuat mata Alisa berkedip-kedip.

 

Namun, detik berikutnya saat tangan Masachika memegang kaki kanannya, matanya membelalak lebar.

 

"Hiaa!?"

 

Sensasi gatal sekaligus aneh saat jari orang lain merambat dari tumit hingga ke pergelangan kaki membuat Alisa mengeluarkan suara konyol.

 

Secara refleks kakinya terangkat membalas, dan dengan terburu-buru dia menahan roknya menggunakan tangan.

 

"Oi oi, jangan mengamuk dong."

 

"A-apaan jangan mengamuk, a-tunggu──!?"

 

Merasa suara aneh hendak keluar, sambil menahan rok menggunakan tangan kanan dia dengan cepat menutup mulutnya memakai tangan kiri.

 

Sambil mengarahkan pandangan heran kepada Alisa yang seperti itu, namun dengan sudut mulut mengulas senyum puas karena berhasil, Masachika berkata.

 

"Kenapa sih, kan kamu sendiri yang menyuruhku memakaikannya?"

"M-memang begitu, tapi, tapi tetap saja──!"

 

"Kalau sampai dibilang pengecut, aku juga punya yang namanya harga diri, tahu."

 

"Tunggu dulu, persiap… persiapan mentalku belum──"

 

Namun, tanpa memedulikan kata-kata Alisa tersebut, Masachika yang menyangkutkan kedua ibu jarinya di lubang kaus kaki perlahan-lahan memakaikan kaus kaki itu ke kaki Alisa.

 

Sensasi kaus kaki yang merambat naik dari ujung kaki membuat bulu kuduk di punggung Alisa meremang.

 

"Ah, ja──"

 

Lalu, ibu jari Masachika menyentuh paha Alisa melewati kain tipis kaus kaki tersebut──

 

"~~~Ngapain sembarangan megang-megang, sih!!"

 

"Habushii!?"

 

Kaki Alisa yang terangkat refleks menendang dengan telak mengenai dagu Masachika. Masachika pun jatuh terduduk dan menabrakkan bagian belakang kepalanya dengan keras ke kursinya sendiri.

 

"~~~~~~~~!!"

 

"A-ma, maaf. Kamu tidak apa-apa?"

 

Melihat Masachika yang roboh di lantai dan menggeliat kesakitan sambil merengkuh kepalanya, rasa khawatir dalam diri Alisa bagaimanapun juga jauh lebih dominan. Di hadapan Alisa yang sementara waktu melupakan rasa malu serta amarahnya dan mengkhawatirkan Masachika, Masachika mengulurkan tangan kanannya yang gemetaran ke lantai, lalu menelusuri lantai menggunakan jari telunjuknya.

 

Hal itu benar-benar mirip seperti orang sekarat yang meninggalkan dying message menggunakan darahnya sendiri.

 

Kenyataannya tidak ada darah yang menempel pada jari Masachika, dan jari itu hanya sekadar menelusuri lantai saja, namun Alisa dapat memahami dengan sangat jelas huruf yang mencoba ditulis oleh

Masachika.

 

Hanya tiga huruf katakana. "Pink".

 

"!?"

 

Saat menyadari hal itu, Alisa dengan cepat menahan roknya sendiri.

 

Wajahnya seketika memerah padam oleh amarah dan rasa malu.

 

"~~~Dasar kamu ini, kuuu~~~"

 

Mungkin karena bingung bagaimana harus meluapkan amarah kepada orang yang sedang roboh di lantai. Alisa sempat membuka dan menutup tangan kanannya sambil mengeluhkan suara yang tidak jelas, lalu tanpa ragu meraih kaus kaki satunya yang ada di atas meja Masachika, kemudian memasukkan kaki kirinya dengan cepat.

 

Lalu, setelah menyangkutkan sepatu dalam rumahnya ke kaki, dia berteriak dalam bahasa Rusia ke arah Masachika yang masih terkapar tak berdaya di atas lantai.

 

【信っじらんない! バカ! 死んじゃえ!!(Nggak bisa dipercaya! Dasar bodoh! Mati sana!!)

 

Setelah merajuk seperti anak kecil begitu, Alisa melangkah dengan hentakan kaki yang kasar keluar dari kelas. Dua orang siswi teman sekelas yang baru saja hendak masuk ke kelas, berburu-buru melapangkan jalan sambil terkejut melihat sosok Alisa yang tidak seperti biasanya.

 

"Eh? Apaan? Putri Alya tadi berteriak keras banget, lho?"

 

"Bahasa Rusia, kan tadi? Ada apa gerangan? Eh? Putri Raja sedang murka?"

 

Keduanya secara kompak mengantar punggung Alisa dengan ekspresi cengong, lalu secara implisit melirik ke dalam kelas dan menemukan sosok Masachika yang sedang mengelus bagian belakang kepalanya.

 

"Selamat pagi, Kuze... ada kejadian sesuatu?"

 

"Ah, selamat pagi... nggak, tidak ada apa-apa kok?"

"Selamat pagi, Kuze-kun. ...Kepalamu kenapa?"

 

"Nggak... rasanya sepertinya jerawat tumbuh di tempat seperti ini."

 

"Huu~um?"

 

Sambil memiringkan kepala dengan raut penuh curiga, keduanya duduk di kursi masing-masing. Sambil berpura-pura tidak menyadari pandangan penuh kecurigaan dari kedua orang itu, Masachika mengeluarkan ponselnya, lalu menjalankan aplikasi pesan dan mengirimkan pesan kepada adiknya.

 

Adikku, gawat nih

 

Mungkin saat ini sedang dalam perjalanan ke sekolah naik mobil. Pesan itu seketika dibaca, dan balasan pun dikirimkan.

 

Ada apa, Kakakku yang tersayang

 

Dengar lalu jangan kaget ya, sebenarnya...

 

Glek

 

Stiker karakter anime yang gemetaran ketakutan dikirimkan. Sambil melihat stiker yang dipenuhi ketegangan itu, Masachika mengetikkan pesan dengan ekspresi yang benar-benar tampak seperti penyesalan mendalam.

 

Aku... sepertinya seorang leg fetish

Ap, a-apa...!? Kamu, bukankah kamu ini murni seorang oppai (penyuka dada)!?

 

Aaah... Sial! Tak disangka, aku punya fetish seperti itu!!

 

Begitu ya... Kamu akhirnya, paham juga keindahan dari kaki...

 

Sepertinya, begitu ya

 

Kaki itu bagus, tahu? Paha yang berisi juga bagus, tapi kaki bagaikan kancil yang terlatih dengan baik juga sulit untuk dibuang

 

Ooh, hebat juga kamu adikku

 

Umm... Ngomong-ngomong Kakak

 

Ya?

 

Obrolan sampah apaan sih ini

 

Maaf

 

Menerima siraman air dingin dari adiknya lewat ponsel, Masachika seketika memasang raut muka datar. Setelah menyimpan ponselnya, dia menelungkupkan badannya di atas meja dengan lemas.

 

"Harus bagaimana yaa."

 

Dia sendiri sadar kalau sudah bertindak terlalu jauh dalam berbagai hal.

Rasanya lebih baik pergi meminta maaf sekarang juga, tapi mengingat Alisa yang memiliki harga diri tinggi itu, jika dia pergi ke sana dengan cara yang salah sekarang, rasanya malah akan membuatnya makin keras kepala.

 

"Yah, nanti pikirkan lagi setelah dia kembali."

 

Alisa juga bukan anak kecil. Setelah membuang keputusasaannya, siapa tahu dia bisa kembali dengan sikap yang biasa-biasa saja.

 

 

Kesimpulannya, hal semacam itu sama sekali tidak terjadi.

 

"Eeh~ kalau begitu, pengumuman untuk hari ini sekian. Ah, tidak usah memberi salam. Kalau begitu."

 

Bicara dengan cepat seperti itu, guru wali kelas bergegas keluar dari kelas. Karena homeroom pagi selesai dengan sangat terburu-buru, masih ada waktu hampir lima menit sebelum pelajaran jam pertama dimulai.

 

Namun, para siswa kelas 1-B sama sekali tidak bergeming dari kursi mereka, dan mulai saling berbisik-bisik sambil merendahkan suara.

 

Guru yang menyelesaikan homeroom lebih cepat maupun para siswa yang merasa agak tegang, alasannya cuma satu.

 

Karena Putri Alya kita sedang melunturkan ekspresi datarnya yang biasa, lalu bertopang dagu dengan ekspresi aura tidak senang yang meledak-ledak.

 

"(N-ngomong-ngomong... itu, ada kejadian apa, ya?)"

 

"(Tidak tahu... Tapi, rasanya seperti ada sesuatu antara dia sama Kuze-kun deh)"

 

"(Kalau Alya-san sampai tidak senang begitu sih cuma bisa terpikir kalau Kuze-kun yang bikin dia marah, kan. Secara spesifik ada kejadian apa, sih?)"

 

"(Aku, seperti mendengar Putri Alya berteriak sesuatu, lho?)"

 

"(Eh? Teriak apa?)"

 

"(Entah? Karena pakai bahasa Rusia jadi aku tidak tahu)"

 

Di saat berbagai spekulasi berhamburan dengan suara pelan di dalam kelas, Takeshi yang bangkit dari kursi secara diam-diam, mendekat ke tempat Masachika sambil membungkukkan badan.

 

"(N-ngomong-ngomong)"

 

"(Apaan)"

 

Terseret oleh atmosfer sekeliling, Masachika ikut merespons dengan suara pelan. Lantas, Takeshi mendekatkan mulutnya ke telinga Masachika dan berbisik.

 

"(Kamu, beneran bikin Alya-san marah terus kena enzui giri?)"

 

"Kenapa bisa jadi begitu!?"

 

Tanpa sadar aku berteriak keras, lalu menciutkan leher saat tatapan mata Alisa mengarah tajam ke sini.

 

Ngomong-ngomong enzui giri adalah tendangan berputar yang diarahkan ke bagian belakang kepala lawan sambil melompat.

 

Sebuah jurus yang anak nakal pun sama sekali tidak boleh menirunya.

 

"(Mana mungkin Alya memakai jurus berbahaya seperti itu)"

 

"(B-benar juga, ya)"

 

"(Ah, paling-paling aku cuma kena somersault kick di bagian dagu doang kok)"

 

"(Nggak, itu mah sama aja bahayanya kan?)"

 

Kepada Takeshi yang mengulas senyum kecut karena mengiranya bercanda, Masachika tersenyum mengambang sambil berpikir (Padahal separuhnya beneran terjadi, sih).

 

"(Terus, kenapa Putri Alya bisa sengambek itu coba?)"

 

"(Yah, kalau itu sih...)"

 

"(Paling-paling kamu kan yang bikin ulah? Hayo, cepat jujur)"

 

"(Huu~m, yah kalau dibilang bikin ulah sih rasanya seperti bikin ulah, ya?)"

 

Jujur saja, aku memang melakukannya. Aku bikin ulah. Tapi, kalau di sini aku bilang "Aku memegang kakinya yang indah terus berujung melihat celana dalamnya", bisa dipastikan saat itu juga akan diadakan sidang kelas dan dieksekusi di depan umum secara aklamasi.

 

Karena itu, sambil mengelak dari cecaran Takeshi dengan lihai, Masachika memutar otak berpikir bagaimana cara memperbaiki suasana hati Alisa.

 

"Aaa~... Alya?"

 

Berniat meminta maaf untuk sementara, Masachika menyapa Alisa yang sedang bertopang dagu sambil mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Lantas, Alisa mengarahkan pandangannya ke arah Masachika, lalu membalas dengan suara tajam.

 

"...Apa, Kuze-kun."【この脚フェチスケベ男】(Dasar cowok mesum penyuka kaki)

 

Rasanya, ada sub-audio yang terdengar. Kuze-kun diberi teks terjemahan dalam bahasa Rusia.

 

Mengenai sebutan itu sebenarnya Masachika ingin sekali memprotesnya, tapi sebagai orang yang berpura-pura tidak paham bahasa Rusia dia tidak bisa mengatakan apa-apa.

 

Yah kalau aku membalas "Sayang sekali, aku ini penyuka dada", saham Masachika di dalam diri Alisa dipastikan akan memperbarui rekor terendah, dan bonusnya penjualan saham Masachika dari seluruh siswi di kelas akan berhamburan, jadi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa mungkin adalah jawaban yang benar.

 

(Tapi kalau dipikir-pikir~ rasanya aku tidak melakukan hal jahat-jahat amat, kan?)

 

Melihat reaksi dingin dari Alisa, pemikiran seperti itu terlintas di dalam diri Masachika.

 

Dari awal, memegang kaki Alisa itu kan atas perintah Alisa sendiri, dan yang malu-malu sampai menendangkan kakinya ke atas juga Alisa.

 

Hasilnya celana dalamnya kelihatan itu kan karena faktor ketidaksengajaan, dan setelahnya menunjukkan hal itu dengan gaya dying message memang rasanya berlebihan, tapi itu pun dilakukan demi mempertimbangkan agar Alisa tidak merasa kepikiran karena sudah melakukan kekerasan... Bagi Masachika, dia merasa agak tidak terima jika cuma dirinya yang dijadikan pihak jahat.

Namun, karena memahami kalau dalam situasi seperti ini pria sering kali berada di posisi yang lemah, dia memutuskan untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu dan meminta maaf saja.

 

"Anu, maaf ya? Yang tadi itu dalam berbagai hal."

 

"...Tidak ada apa-apa kok? Aku juga salah, dan aku sudah tidak marah lagi."

 

Suara hati Masachika yang bilang "Kalau begitu kenapa suasana hatimu kelihatan sengambek itu~" dan suara hati seluruh teman sekelas yang pasang telinga "Pasti bohong..." saling bertumpuk.

 

Namun, kenyataannya itu bukan kebohongan. Faktanya, saat ini Alisa memang sudah tidak marah.

 

Yang ada di dalam hati Alisa saat ini adalah rasa malu karena kakinya dipegang dan celana dalamnya dilihat.

 

Ditambah lagi, biarpun reaksinya menyenangkan, rasa malu terhadap dirinya sendiri yang dari awal menyuruh "Pakaikan?".

 

Lalu rasa malu karena sudah merajuk seperti anak kecil dan berbagai rasa malu lainnya memenuhi isi hati Alisa. Perasaannya saat ini ingin masuk ke dalam lubang, menutupnya, melapisi dengan peredam suara, lalu berteriak di dalamnya.

 

Agar isi hatinya tersebut tidak tampak ke luar, dia hanya sekadar mendorong aura "Aku sedang tidak senang!!" ke permukaan saja.

Namun, Masachika mana paham dengan perasaan gadis seperti itu, dan hanya bisa kebingungan tak berdaya.

 

Di saat seperti itu bel berbunyi, guru masuk dan pelajaran jam pertama pun dimulai.

 

"Yooos, kita mulai pelajarannya~. Kalau begitu, piket harian Ku--Kuze. Pimpin salam."

 

Melihat nama piket harian yang tertulis di ujung papan tulis, lalu tanpa sengaja menoleh ke arah Alisa, guru matematika menunjuk Masachika dengan gerakan alami.

 

((Kami paham perasaannya))

 

Perasaan seluruh murid di kelas kecuali satu orang menjadi bersatu.

 

"...Berdiri, beri salam. Mohon bimbingannya~"

 

"""Mohon bimbingannya~"""

 

Bahkan setelah salam yang tidak alami secara alami itu, pelajaran berlanjut dengan ketegangan yang aneh.

 

Di bawah tempat Masachika, sesuai dugaan akibat dari bangun pagi rasa kantuk mulai mendekat, tapi Masachika bukanlah orang yang cukup nekat untuk bisa tertidur lelap di dalam atmosfer seperti ini.

Meski begitu bukan berarti dia bisa konsentrasi pada pelajaran, Masachika di dalam kepalanya terus-menerus mencari cara untuk memperbaiki suasana hati sang putri.

 

"Kalau begitu, hari ini sampai di sini. ...Kuze, pimpin salam."

 

"...Berdiri, beri salam. Terima kasih banyak~"

 

"""Terima kasih banyak~"""

 

Sampai akhir tanpa sudi menoleh ke arah Alisa sedikit pun, guru matematika berlalu keluar dari kelas. Seolah mengejar punggung guru itu, Masachika juga bergegas keluar dari kelas, melangkah cepat menuju mesin penjual otomatis yang terletak di luar pintu darurat. Setelah mendapatkan barang yang diincarnya, dia segera kembali ke kelas, lalu menyodorkannya dengan hormat ke arah Alisa di sebelahnya.

 

"Putri, untuk hari ini tolong maafkan saya dengan barang ini."

 

Yang disodorkan oleh Masachika sambil mengucapkan hal itu adalah...

Peringkat Barang yang Paling Tidak Jelas Di Mana Letak Kebutuhannya di SMA Seirei yang memegang peringkat pertama selama empat belas tahun berturut-turut, bernama "Anma~i Oshiruko".

 

Ngomong-ngomong, move sisinya tidak salah lagi adalah selai kacang merah cair, sebuah barang yang sangat-sangat manis dan bikin haus luar biasa.

 

((Kenapa oshiruko!?))

Teman-teman sekelas melihat Masachika dengan pandangan "Kamu waras? Mau cari ribut sama Putri?", tapi Masachika tahu. Minuman peningkat kadar gula darah ini terkadang diminum oleh Alisa.

 

"...Bukannya tadi sudah kubilang kalau aku tidak marah?"

 

"Hehee, tentu saja. Ini adalah bentuk perasaan minta maaf dari hamba."

 

"...Yah, terimalah."

 

"Hahaha~"

 

Benar saja, Alisa menerima kaleng oshiruko dari Masachika, membuka tutupnya, lalu meminum isinya sekaligus dalam satu tegukan.

 

Pandangan mengerikan berkumpul dari seluruh kelas.

 

"Terima kasih atas makanannya."

 

"Ah, kaleng kosongnya biar saya yang urus."

 

"Tidak apa-apa, cuma begini saja."

 

"Jangan begitu, saya tidak boleh merepotkan tangan sang Putri."

 

"Kalau begitu hentikan sandiwara anehmu itu."

 

"Siaap."

Nada bicaranya memang tetap pedas, tapi Masachika merasakan atmosfer Alisa menjadi sedikit lebih melunak. Sambil merasa lega atas hal itu, dia kembali ke kursinya... dan Masachika menyadari sebuah hal yang gawat.

 

(Ah, gawat... Pelajaran berikutnya tidak ada buku pelajaran.)

 

Kalau biasanya, dia akan meminjam milik Alisa. Tapi, kalau dalam situasi seperti ini dia dengan tidak tahu malunya bilang "Boleh lihat buku pelajaran?", suasana hati Alisa yang baru saja sedikit membaik bisa-bisa langsung meluncur turun.

 

Jika hal itu terjadi, dipastikan pandangan celaan dari seluruh kelas akan mengarah padanya.

 

(Mau bagaimana lagi...)

 

Melihat Masachika yang membeku setelah mengonfirmasi bagian dalam tas dan bagian dalam meja, pandangan curiga Alisa mengarah padanya.

 

Seolah ingin melarikan diri dari pandangan itu, Masachika memalingkan wajahnya lalu menyapa siswi di sebelah luarnya.

 

"Maaf, boleh lihat buku pelajarannya sebentar?"

 

"Eh? Aah... ya, boleh saja."

 

Siswi di sebelahnya itu pun, seolah memahami situasinya, mengulas senyum kecut dan mengangguk dengan senang hati. Sambil bersyukur atas hal itu, Masachika merapatkan kursinya lalu menghela napas lega karena masalah bisa teratasi. Tepat setelahnya.

 

【浮気者】(Dasar tukang selingkuh)

 

Bersamaan dengan bisikan bahasa Rusia tersebut, atmosfer kelas kembali menjadi jauh lebih dingin dari sebelumnya.

 

(Terus aku harus bagaimana coba...)

 

Ratapan Masachika pun sia-sia, dan pada hari itu di dalam ruang kelas 1-B, pelajaran yang dipenuhi ketegangan berlebihan terus berlanjut.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close