NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 1 Chapter 4

Bab 4: Yuri Antarsaudari, Aku Enggak Benci-Benci Amat, Sih

"Aku pulang."

 

Saat Alisa membuka pintu apartemen dan bersuara ke dalam, kakaknya, Maria, memunculkan wajahnya dari ruang tamu. Berlawanan dengan Alisa yang pada dasarnya tidak berekspresi, Maria pada dasarnya tidak pernah menyurutkan senyumnya kapan pun.

 

Saat ini pun sambil memajang senyum lembut yang seolah menebarkan bunga-bunga di sekitarnya, dia menyambut adiknya dengan senang.

 

"Selamat data~ng, Alya-chan."

 

Mendekat sambil merentangkan kedua tangan dengan senyum merekah di sekujur wajah, dia melakukan cheek kiss secara berurutan kanan, kiri, kanan, lalu terakhir memeluk Alisa erat-erat.

 

Bisa dibilang, ini adalah pemandangan yang jika dilihat oleh kaum yuri-buta di luar sana pasti akan membuat mereka bersorak gembira.

 

"Aku pulang, Masha."

 

Alisa menyuruh kakaknya melepaskan pelukan hangat itu dengan menepuk-nepuk tangannya. Lantas, Maria yang tadinya memajang senyum lembut, menggembungkan pipinya dengan wajah tidak puas saat melepaskan pelukan.

"Ih, padahal kan sudah kubilang di Jepang (sini) panggil aku 'Onee-chan'."

 

"Nggak mau, sudah terlambat."

 

Atas respons Alisa yang dingin, Maria semakin menggembungkan pipinya.

 

Pada dasarnya, dalam bahasa Rusia tidak ada sebutan khusus untuk kakak laki-laki atau kakak perempuan seperti 'Onee-chan' atau 'Nii-san' dalam bahasa Jepang.

 

Baik kakak perempuan maupun kakak laki-laki, memanggil nama adalah hal yang mendasar. Alisa yang lahir di Rusia pun mengikuti hal itu dengan memanggil nama panggilan kesayangan kakaknya, tetapi Maria tampaknya sangat menyukai sebutan 'Onee-chan' ini dan sering kali menuntut Alisa untuk memanggilnya begitu.

 

"Uuh... Alya-chan dingin sekali..."

 

Begitu melihat wajah tidak puasnya tidak mempan, Maria seketika memasang ekspresi lesu yang menyedihkan, membuat Alisa mengarahkan pandangan heran. Walau ini bukan pertama kalinya terjadi, tapi jika kakak perempuannya memasang wajah seperti ini rasanya membuat dirinya merasa seperti telah melakukan hal jahat.

 

Namun, mau dikatakan apa pun dia tetap merasa risih untuk memanggilnya 'Onee-chan'. Pada dasarnya sang adik adalah tipe orang yang andal sementara sang kakak adalah tipe yang santai.

Tinggi badan pun Alisa lebih tinggi, dan usianya cuma berselisih satu tahun, membuat sejak dulu Alisa lebih sering mengurus Maria.

 

Karena itu, Alisa sendiri memiliki kesadaran yang amat tipis terhadap Maria sebagai seorang 'kakak'.

 

(Lagipula, sebutan 'Onee-chan' itu sendiri kan rasanya seperti sedang manja...)

 

Setidaknya kalau 'Nee-san' mungkin dia masih mau mempertimbangkannya, tapi karena Maria bilang "Kalau begitu aku tidak mau", jadi mau bagaimana lagi.

 

Memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi, dia melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah, membuat Maria mengedipkan matanya dan memiringkan kepalanya sedikit.

 

"...Alya-chan, rasanya suasana hatimu sedang tidak enak, ya?"

 

"...Tidak juga?"

 

Secara refleks memasang ekspresi heran, Alisa menyembunyikan guncangan di dalam hatinya. Namun, pengalihan seperti itu tampaknya tidak mempan pada kakaknya ini.

 

"Reaksi itu... Jangan-jangan, pemuda yang waktu itu? Ada kejadian

sesuatu ya sama Kuze-kun?"

Maria yang matanya seketika berbinar-binar memamerkan rasa ingin tahunya secara gamblang, membuat Alisa melangkah ke kamar mandi sambil merasa jengkel.

 

"Tidak ada apa-apa kok."

 

"Bohong, Onee-chan tidak bisa dibohongi, lho. Hei hei, ada kejadian apa?"

 

Setelah itu pun Maria terus membuntutinya seperti anak bebek sambil mengajukan pertanyaan tanpa henti.

 

Saat akhirnya diserbu sampai ke dalam kamar, Alisa pun menyerah.

 

Duduk di kursi masih dengan mengenakan seragam, dia membuka mulutnya dengan enggan kepada Maria yang duduk menempel di atas bantal lantai sambil mendesaknya untuk bercerita.

 

"Beneran, bukan hal besar kok... Cuma agak bertengkar sedikit."

 

"Hee~~, bertengkar!"

 

Untuk sebuah kata yang jika dipikirkan secara normal bukanlah hal yang patut dipuji, Maria entah kenapa membuat matanya berbinar-binar dengan gembira.

 

"...Apa?"

 

"Habisnya... Fufu, Alya-chan bertengkar itu kan sangat langka, tahu. Apalagi sama anak cowok."

 

"Yah, begitulah."

 

"Begitu yaa, akhirnya muncul juga anak cowok yang sanggup menggerakkan hati Alya-chan, yaa."

 

"Maksudnya apa itu."

 

Atas cara bicara Maria yang rasanya memiliki arti terselubung, Alisa menaikkan alisnya. Lantas, Maria berkata dengan wajah sok tahu.

 

"Kamu suka, kan? Sama Kuze-kun itu."

 

"...Haah?"

 

Alisa menusukkan pandangan tanpa ragu ke wajah Maria seolah ingin bilang "Kamu ngomong apa sih dasar otak penuh bunga ini", lalu menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.




"Tidak tahu apa yang kamu salah pahamkan, tapi... kami tidak seperti itu. Kami itu, ya... "

 

Di dalam kepala Alisa, pemandangan saat istirahat makan siang kemarin kembali bangkit. Wajah Masachika yang memajang ekspresi penuh rasa heran saat menuturkan bahwa mereka adalah teman.

 

"Ya... kami ini, teman."

 

Sambil tersenyum mengenang hal itu, Alisa menuturkannya dengan nada yang agak bangga di suatu tempat. Terhadap ekspresi yang seolah menantang "Bagaimana?" itu, Maria memasang mata yang lembut.

 

"Huu~um, begitu ya... Tapi, kenapa bisa jadi teman? Alya-chan kan benci orang yang tidak serius atau setengah-setengah?"

 

"Kalau itu..."

 

Kata-kata Maria memang benar. Dan Masachika yang biasanya, tidak ada motivasi, hidup seenaknya... benar-benar jenis orang yang dibenci oleh Alisa.

 

Orang seperti Masachika itu, mengapa bisa diakui oleh dirinya sendiri sebagai seorang teman? Alisa menerbangkan pikirannya ke ingatan masa lalu yang menjadi titik awalnya.

 

 

Peraih Penghargaan Terbaik untuk presentasi kelompok adalah... Tim B!

 

Suara tepuk tangan bergema di seluruh kelas. Di antaranya hanya ada satu orang, seorang gadis yang menggigit bibirnya sambil menunduk.

 

Alisa, saat itu kelas empat SD. Kejadian di sebuah sekolah dasar yang terletak di Vladivostok, Rusia.

 

Pada saat inilah, Alisa menyadari bahwa dirinya berbeda dengan

orang-orang di sekitarnya.

 

Pemicunya adalah kegiatan presentasi penelitian kelompok yang diadakan di kelas.

 

Para siswa di kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat atau lima orang, menginvestigasi satu tema selama dua minggu, lalu merangkum isi investigasi tersebut di kertas besar dan mempresentasikannya.

 

Tema presentasi kelompok Alisa adalah 'Pekerjaan di Lingkungan Sekitar'. Mengunjungi toko-toko terdekat atau mewawancarai pekerjaan keluarga untuk menginvestigasi pekerjaan seperti apa itu. Isi yang sangat wajar dan polos khas anak sekolah dasar.

 

Namun, apa pun isinya, Alisa bukanlah tipe orang yang akan main-main.

 

Sejak saat itu Alisa sudah memiliki sifat pantang menyerah yang kuat, dan bagi Alisa yang selalu mengincar posisi nomor satu dalam hal apa

pun, mengincar posisi nomor satu dalam presentasi──Penghargaan

Terbaik, adalah hal yang sangat alami.

 

Dan Alisa mengerahkan seluruh kemampuannya demi merebut Penghargaan Terbaik tersebut.

 

Setiap hari setelah jam sekolah usai, dia melakukan wawancara berulang kali di toko-toko kawasan sekitar yang dialokasikan kepadanya sampai tiba waktu makan malam, dan isi materi yang diinvestigasinya dalam satu minggu cukup untuk memenuhi satu buku catatan penuh.

 

Namun, pada hari rapat kelompok yang dihadapi dengan persiapan matang.

 

Alisa dibuat tercengang oleh kata-kata dari tiga anggota lainnya.

 

Ah, sori. Aku belum sempat cari tahu.

 

Ini toko roti, dan ini toko pakaian. Eh? Isi pekerjaannya? Yang begitu

mah kalau toko roti ya jualan roti, kalau toko pakaian ya jualan pakaian, udah pasti kan.

 

Maaf, aku baru cari tahu separuhnya~. Tapi kan masih ada seminggu lagi. Pasti tidak apa-apa kok.

 

Sangat... bagi Alisa itu adalah isi investigasi yang amat sangat seadanya.

 

Bahkan jika semua informasi yang dicari oleh ketiga orang lainnya digabungkan, jumlahnya tidak mencapai separuh dari informasi yang dicari oleh Alisa.

 

Fakta tersebut. Lebih dari apa pun, terhadap ketiga orang yang sama sekali tidak memperlihatkan rasa kepanikan maupun rasa maaf meskipun berada dalam kondisi menyedihkan seperti itu, rasa terkejut

Alisa melampaui rasa amarahnya.

 

Rasa amarah meluap saat ketiga orang itu melihat buku catatan yang dirangkum oleh Alisa.

 

Uwah, apaan nih. Kamu seberapa serius sih.

 

Rinci banget. Dipikir bagaimanapun tidak bakal kepakai sebanyak ini, kan.

 

Alya... ini, harus dibaca semua?

 

Pandangan heran yang diarahkan dari ketiga orang tersebut. Senyum kecut yang seolah ingin bilang "A~ah, dia kelewatan".

 

(Eh? Ini, aku yang salah?)

 

Tepat setelah pertanyaan itu terlintas di benaknya, amarah membuncah

dari dasar perut Alisa.

 

Bukan. Aku tidak salah. Aku cuma mengerjakan tugas yang diberikan

dengan serius dan mengerahkan seluruh kemampuan.

Aku tidak salah. Yang salah adalah mereka.

 

Amarah dan antipati yang meluap secara mendadak. Untuk menahan

hal-hal tersebut, Alisa saat itu masih terlalu muda.

 

Nee, kenapa kalian tidak mengerjakannya dengan serius?

 

Mata yang menatap tajam. Kata-kata pedas yang dilontarkan dengan nada bicara menyalahkan membuat anak SD yang sensitif bereaksi dengan tajam.

 

Dari sana tidak membutuhkan waktu lama untuk berkembang menjadi pertengkaran mulut yang sengit.

 

Karena saat itu sedang pelajaran, guru segera datang melerai, namun dalam waktu singkat itu celah yang sangat besar hingga tidak mungkin untuk saling bekerja sama telah tercipta di antara Alisa dan ketiga anggota kelompoknya.

 

Kalau tidak suka sampai segitunya, kerjakan saja sendiri sana!!

 

Saling melempar kata-kata kasar. Atas kalimat yang dilontarkan oleh salah satu siswa laki-laki anggota kelompoknya, Alisa menjadi keras kepala.

 

Setelah itu dengan memanfaatkan sisa waktu yang ada, Alisa berusaha meningkatkan isi presentasi sebisa mungkin hingga ke tingkat yang dapat disetujuinya sendiri.

Namun, bagaimanapun juga ada batas untuk hal yang bisa dilakukan sendirian, dan hasil presentasi yang jadi sama sekali tidak mencapai tingkat yang diincar oleh Alisa. Hasilnya, Penghargaan Terbaik yang diincar Alisa jatuh ke tangan kelompok lain.

 

Bagi Alisa, hal itu tidak dapat dipahami.

 

Terhadap tugas yang diberikan, para teman sekelas yang tidak mengerjakannya secara serius. Mereka yang tertawa tersenyum-senyum tanpa memikirkan apa pun soal kekalahan.

 

(Kalau semuanya bekerja seserius aku, pasti kita tidak akan kalah.

Nggak, kalau dari awal aku kerjakan sendiri, pasti bisa menang!)

 

Diri ini berbeda dengan orang lain. Hanya aku yang serius, hanya aku yang mengerjakan dengan penuh kesungguhan. Benar-benar ingin menang.

 

Saat menyadari hal itu, Alisa berhenti berharap pada orang lain.

 

Toh tidak akan ada yang bisa menyamai tingkatanku. Tidak ada yang

mau mengerjakannya dengan penuh kesungguhan dan antusiasme yang sama denganku.

 

Kalau begitu terserah mereka saja. Kepada orang-orang yang kurang usaha dan kurang motivasi seperti itu, aku tidak akan pernah kalah. Di saat kalian sedang bermain-main seadanya, aku akan pergi lebih tinggi dari siapa pun.

Bantuan orang lain tidak diperlukan. Semuanya akan kukerjakan sendiri. Dicampuri oleh kesiapan yang setengah-setengah atau sekadar rasa kewajiban biasa justru malah menyusahkan.

 

Seiring bertambahnya usia dan memiliki kemampuan bersosialisasi sampai tingkat tertentu pun, pemikiran mendasar Alisa tersebut tidak berubah. Tidak, justru makin menguat dari tahun ke tahun.

 

Kekecewaan terhadap orang lain yang menumpuk setiap kali merasakan kurangnya motivasi dan rendahnya tingkat para teman seangkatan, tanpa disadari berubah menjadi pandangan meremehkan terhadap sekeliling.

 

Setelah menyadari hal tersebut, demi menghindari perselisihan dengan sekelilingnya, Alisa mulai berhubungan dengan orang lain dengan sikap menjaga jarak.

 

Benar-benar menyendiri. Bakat sejak lahir dan sifat pantang menyerah yang membedakan dirinya dari orang lain. Karena itulah dia menyendiri.

 

Saat menjadi murid kelas tiga SMP, Alisa kembali ke Jepang karena urusan pekerjaan ayahnya.

 

SMA Seirei yang dimasukinya atas saran orang tuanya. Sekolah ternama yang disebut-sebagai salah satu yang terbaik di Jepang. Jika di sini, mungkinkah ada lawan yang bisa berdiri sejajar, bersaing, dan menggembleng diri bersama? Alisa menyimpan harapan tipis.

Namun, pada tes kemampuan yang diadakan tepat setelah pindah sekolah, harapan tipis Alisa hancur berkeping-keping secara menyedihkan.

 

Peringkat satu seangkatan. Kembali ke Jepang setelah lima tahun. Murid pindahan dari luar yang bahkan tidak tahu kecenderungan soal tes.

 

Bahkan dengan semua tuduhan yang di cap itu, dia tetap mendapat peringkat satu seangkatan.

 

(Apa-apaan, di sini juga ternyata cuma sampai tingkat ini ya.)

 

Pada akhirnya di sini pun, aku tetap sendiri.

 

Di saat kepasrahan seperti itu hendak memenuhi dadanya, Alisa mengetahui tentang dirinya. Pertemuan pertama mereka adalah pada hari pertama pindah sekolah. Pagi hari tanggal satu April.

 

"Kujou-san, bahasa Jepangmu pintar ya. Sebelumnya pernah tinggal di Jepang?"

 

"Cantik banget. Rambut perak baru pertama kali kulihat, lho."

 

"Nee nee, beneran kamu menembus ujian pindahan yang katanya super sulit itu dengan mudah?"

 

Para teman sekelas berkumpul memamerkan rasa ingin tahu mereka secara terang-terangan. Sambil merasa agak enggan di dalam hati, Alisa menanggapinya seadanya agar tidak terlalu tidak sopan.

Menjadikan diri sendiri yang meremehkan orang-orang di sekeliling menjadi akrab dengan seseorang tidak akan membawa hal baik bagi kedua belah pihak.

 

Pihak lawan pasti akan merasa tidak menyenangkan, dan dirinya sendiri pun akan merasa buruk saat menyadari hal tersebut pada dirinya.

 

Karena itu, di sini pun Alisa tidak berniat untuk menjadi akrab dengan siapa pun.

 

"Ah, bel persiapan."

 

"Loh, sudah ya? Mau bagaimana lagi. Sampai nanti ya, Kujou-san."

 

"Di istirahat berikutnya ceritakan lagi ya."

 

"Ya."

 

Setelah mengantar para teman sekelas yang kembali ke kursi masing-masing dengan raut kecewa, Alisa menjatuhkan pandangannya ke kursi sebelah.

 

"......, ............"

 

Di sana, meskipun ada keributan sebesar itu, terdapat sosok seorang siswa laki-laki yang menelungkupkan badan di meja tanpa tampak terganggu sedikit pun.

 

Atas sosok yang terlalu bebas tersebut, rasa ingin tahu Alisa cukup terstimulasi. Tanpa disadari dia menggoyangkan bahu siswa tersebut secara ringan, dan untuk pertama kalinya menyapa teman sekelas atas inisiatif sendiri.

 

"Anu... bel persiapan, sudah berbunyi, lho?"

 

"Uu... Nng-a?"

 

Siswa laki-laki berpenampilan biasa dengan wajah tampak belum sepenuhnya sadar itu mengangkat kepalanya perlahan atas suara Alisa.

 

Dia adalah Kuze Masachika. Kuze dan Kujou. Siswa laki-laki yang menjadi tetangga duduknya hanya karena alasan nama belakang mereka berdekatan.

 

Masachika menatap Alisa dengan ekspresi samar, mengedipkan matanya beberapa kali, lalu miringkan kepalanya sedikit.

 

"Aaah~~... murid pindahan yang waktu upacara pembukaan memberi sambutan?"

 

"Ya, Alisa Mikhailovna Kujou. Mohon bimbingannya."

 

"Ooh... aku Kuze Masachika. Mohon bimbingannya."

 

Setelah hanya mengatakan itu, Masachika menghadap kembali ke depan dan meregangkan badannya lebar-lebar. Kemudian, begitu menyadari sesuatu, dia mencolek-colek punggung siswa laki-laki di kursi depannya.

"O~h Hikaru. Kamu ada juga toh."

 

"Ada kok... ngomong-ngomong Takeshi juga ada, lho?"

 

"Oh, benar juga. Karena tadi tidur aku tidak sadar."

 

Melihat Masachika yang setelah itu mulai mengobrol dengan seru tanpa memedulikan Alisa sedikit pun, Alisa merasa agak terkejut.

 

Alisa menyadari bahwa dirinya memiliki penampilan yang jauh lebih unggul dari orang lain.

 

Memahami bahwa kecantikan adalah salah satu senjata dalam hubungan antarmanusia, Alisa yang bijak tentu saja tidak pernah absen menggembleng dirinya. Walau tidak memakai riasan karena akan melanggar peraturan sekolah, dia tetap percaya diri memiliki kecantikan yang tidak akan kalah dari artis-artis di luar sana.

 

Meski tidak tertarik untuk menarik perhatian lawan jenis, dia tahu bahwa penampilannya, terutama rambut perak ini, menarik perhatian orang-orang.

 

Karena itulah, Masachika yang hampir menjadi satu-satunya orang yang tidak menunjukkan ketertarikan padanya menjadi berkesan di matanya.

 

Namun, setelah mulai memperhatikan Masachika, Alisa segera menyadarinya.

Masachika bukannya tidak tertarik pada anak cewek, bukannya tidak tertarik pada orang lain. Dia hanya seorang pemuda yang tidak ada motivasi terhadap segala hal.

 

Lupa membawa buku pelajaran. Tertidur lelap di tengah pelajaran. Baru mengerjakan tugas dengan sangat panik saat jam istirahat tepat sebelumnya. Menjalani pelajaran olahraga seadanya agar tidak mencolok. Sikap tak berdaya yang sama sekali tidak terasa memiliki yang namanya motivasi.

 

(Biarpun dibilang sekolah ternama, ternyata murid seperti ini ada di mana-mana ya.)

 

Sejak saat itu, Alisa kehilangan ketertarikan pada tetangga duduknya ini.

 

Yang mengubah hal itu adalah festival budaya di bulan September.

 

Festival budaya terakhir di SMP. Bagi banyak anak SMP itu adalah

masa-masa sibuk dengan ujian, tetapi karena murid di sekolah ini hampir semuanya naik ke SMA secara eskalator, belajar untuk ujian tidak terlalu mendesak.

 

Malah, berawal dari ide Takeshi yang menjadi panitia pelaksana festival budaya karena ingin melakukan hal besar untuk yang terakhir kalinya, stan kelas mereka ditetapkan menjadi rumah hantu.

 

Namun, suasana penuh semangat itu hanya terjadi di awal saja. Di tahap rapat perencanaan semua orang memang bersemangat, tetapi begitu pekerjaan persiapan yang sebenarnya dimulai, kesederhanaan dan kerepotan pekerjaan itu membuat motivasi kelas makin lama makin merosot.

 

Merasakan atmosfer tersebut, Alisa sejak awal sudah bersiap untuk mengambil alih sebagian besar pekerjaan tersebut seorang diri.

 

"Aduh!"

 

Setelah jam sekolah usai. Alisa yang tersisa seorang diri di kelas sedang membuat kostum. Tanpa sengaja jarinya tertusuk jarum, lalu dengan cepat dia melepaskan tangannya.

 

Dia menyentuhkan ujung jarinya yang mengeluarkan darah ke mulut untuk menghentikannya, lalu menekannya kuat-kuat agar pendarahan berhenti. Agar tidak meneteskan darah pada kostum yang sedang dibuat, dia menempelkan plester luka pada lukanya.

 

Ini bukan pertama kalinya jarinya terluka karena pekerjaan menjahit yang tidak terbiasa. Plester luka yang terbalut di jari Alisa sudah mencapai lembar kelima.

 

Namun, meski meringis menghadapi jari yang memancarkan rasa sakit berdenyut-denyut, Alisa tetap melanjutkan pekerjaannya.

 

Dia tidak boleh menyerah hanya karena hal sebesar ini. Selama dirinya ikut berpartisipasi, tidak mungkin dia mengeluarkan stan yang setengah-setengah. Dengan tekad bulat itu, dia kembali menghadapi kostum tersebut.

 

"Ah, ternyata masih ada di sini, ya."

 

Tepat saat itu. Pintu kelas terbuka dengan suara berderit, dan Masachika yang tadi mendadak menghilang begitu homeroom usai kini melangkah masuk.

 

"Kuze-kun... ada apa?"

 

"Terima kasih atas kerja kerasnya. Yah, ada sedikit urusan."

 

Sambil menyamarkan kata-katanya, Masachika melirik sekilas ke beberapa lembar dokumen di tangannya. Terpancing oleh hal itu Alisa ikut melihatnya, tetapi tidak tahu itu dokumen apa.

 

"Yah, Kujou-san juga pulang saja hari ini. Pekerjaan di sekitar situ besok kan bisa dikerjakan ramai-ramai lagi sama yang lain."

 

Mendengar Masachika yang mengatakannya sambil mengedikkan bahu, Alisa merasa agak jengkel.

 

(Kalau bicara santai begitu mana bakal keburu... Lagipula, dari awal aku yang kerjakan kan karena semua orang tidak mau mengerjakan.)

 

Mengubah kejengkelan itu menjadi penolakan yang jelas, Alisa menepisnya dengan memperkuat nada bicaranya.

 

"Tidak usah dipikirkan. Aku bakal pulang setelah mengerjakan sedikit lagi. Jangan hiraukan aku."

 

"...Aaa~ yah, umm."

 

Sambil duduk di kursinya Masachika mengarahkan pandangannya ke sana-kemari sejenak, lalu menggaruk-garuk kepalanya dan mengucapkannya dengan nada bicara seolah bukan hal besar.

 

"Mengenai pembuatan kostum, aku sudah bicara sama klub kerajinan tangan untuk minta bantuan, jadi serahkan saja sepenuhnya ke sana."

 

"Eh...?"

 

Kepada Alisa yang tercengang oleh kata-kata di luar dugaan itu, Masachika menyodorkan dokumen yang dipegangnya.

 

"Ini izin penggunaan penginapan. Kalau acaranya menginap, anak-anak yang motivasinya turun pasti bakal bersemangat lagi, kan."

 

"A... yang begini, bagaimana caranya..."

 

"Nng~ yah, ke pihak OSIS sedikit lah. Lalu minta tolong mantan wakil... bukan, mantan Ketua OSIS, terus pakai koneksinya buat mengurus ini-itu sedikit."

 

Kepada Masachika yang mendadak terbata-bata Alisa mengarahkan mata curiga, tetapi Masachika melanjutkan obrolan seolah menghindari ceceran tersebut.

 

"Ya... yah, begitu lah penjelasannya. Sama klub kerajinan tangan sudah sepakat kalau kita bakal meminjamkan tenaga anak cowok. Kalau dibilang ini kesempatan memperlihatkan sisi yang bisa diandalkan ke anak cewek klub kerajinan tangan, sebagian anak cowok pasti bakal senang hati menerimanya, kan. Kalau soal kamp persiapan... yah, mulai dari sini kerjaannya Takeshi, sih."

 

"Eh?"

 

"Pokoknya, hari ini pulang saja sana. Kujou-san berjuang sendirian pun tidak ada gunanya, kan?"

 

Atas kata-kata santai Masachika itu, emosi Alisa yang ditampungnya selama ini meledak secara sengit.

 

"Tidak ada gunanya... maksudmu apa?"

 

Di saat stres menumpuk karena kesulitan bertarung dengan pekerjaan menjahit yang tidak biasa, solusi justru disodorkan oleh orang yang selama ini di dalam hatinya diremehkan sebagai orang tanpa motivasi, lalu usahanya ditampik secara mentah-mentah.

 

Fakta tersebut menghancurkan benteng pertahanan di dalam hati Alisa.

 

Tanpa disadari Alisa menghempaskan kostum setengah jadi yang dipegangnya ke atas meja dengan keras.

 

Dengan momentum yang sama dia bangkit berdiri, lalu menatap Masachika dengan tajam.

 

"Aku...! Selama aku ikut berpartisipasi, aku ingin menjadikan stan ini hal yang bagus! Menyambut hari H dengan bentuk yang setengah-setengah, aku tidak akan pernah mau! Kompromi atau semacamnya, aku sama sekali tidak mau!!"

 

Alisa sendiri sadar kalau sebagian besar ini adalah pelampiasan amarah, namun kata-katanya tidak bisa berhenti.

 

"Tapi... yang begitu, aku tahu kalau itu cuma kemauanku sendiri! Aku tahu kalau semua orang tidak seserius tingkatanku! Makanya, aku berusaha keras untuk menutupinya! Apa yang kulakukan ini ada yang salah!?"

 

Meluapkan emosi lalu melabrak seseorang. Bagi Alisa, itu adalah hal pertama yang dilakukannya sejak masa SD.

 

Gejolak emosi telanjang yang diperlihatkan oleh Alisa yang biasanya baik atau buruk tidak pernah memperlihatkan emosinya ke luar.

 

Terhadap hal itu, mata Masachika membelalak lebar, namun dia mengatakannya dengan amat sangat jelas.

 

"Arah usahamu yang salah, kan."

 

"Eh──?"

 

Atas bantahan langsung dari depan yang di luar dugaan itu, Alisa menjadi linglung. Menatap Alisa tersebut secara lurus, Masachika melanjutkan dengan tenang.

"Stan festival budaya itu bukan barang yang dibuat seorang diri. Itu kan barang yang dibuat dengan menyatukan kekuatan bersama semua orang, kan? Kalau ingin menjadikannya stan yang bagus, bukannya berpasrah diri menganggap semua orang tidak ada motivasi, melainkan harusnya berpikir bagaimana caranya membuat semua orang jadi bersemangat, kan?"

 

"..."

 

Kepada mata yang menatap lurus itu. Kepada argumen benar yang tidak bisa dibantah itu. Alisa tanpa sadar ingin memalingkan wajahnya.

 

Namun, hal semacam itu tidak diizinkan oleh harga diri Alisa. Tidak sudi kalah tanpa perlawanan, dia menatap balik Masachika dengan sekuat tenaga. Namun, sebelum Alisa mengatakan hal lain lebih jauh,

Masachika mengalihkan pandangannya secara pelan.

 

"...Tapi yah, kalau dikatakan dengan cara begitu pasti bakal jengkel, ya.

Maaf ya. Aku tahu kok kalau Kujou-san sudah berusaha keras, dan tidak ada niat untuk menampik hal itu."

 

"A──"

 

Diberi permohonan maaf sambil menundukkan kepala secara ringan, Alisa menjadi tidak tahu harus bagaimana.

 

Pelampiasan amarah dibalas dengan permohonan maaf, membuat tinju

yang diangkatnya kehilangan arah.

Lebih dari apa pun, "Aku tahu kok kalau Kujou-san sudah berusaha keras". Kata-kata itu rasanya begitu menghujam dadanya hingga membuatnya tidak bisa bernapas.

 

"...Aku pulang."

 

Pada akhirnya, setelah hanya sanggup memeras kata-kata itu, Alisa mencengkeram tasnya lalu keluar dari kelas dengan langkah cepat.

 

(Ada apa sih... Ada apa coba, ah!)

 

Berbagai emosi berkecamuk membuat dadanya bergejolak, berusaha ditenangkannya mati-matian sambil melangkah di dalam lingkungan sekolah. Berpura-pura tidak menyadari rasa tidak puas, penyesalan, dan kegembiraan samar yang tersembunyi di baliknya.

 

 

──Keesokan harinya.

 

"Teman-teman sekalian! Kamp persiapaaan!!"

 

Rapat menuju festival budaya dimulai dengan teriakan lantang Takeshi yang semangatnya meledak-ledak.

 

Kepada para teman sekelas yang bingung tanpa tahu apa yang terjadi,

Takeshi dengan nada suara bersemangat menjelaskan bahwa Masachika telah berhasil mendapatkan izin penggunaan penginapan.

"Sambil melanjutkan persiapan festival budaya, malam harinya kita manfaatkan gedung sekolah buat main petak sempetik sama uji nyali! Dilengkapi dengan berbagai macam rekreasi, ini adalah festival pra-pra-pra-pesta khusus buat kita semuaa!! Uwoooーーーー!!"

 

Melihat Takeshi yang hilang kendali, teman-teman sekelas mengulas senyum kecut sambil menuturkan "Jangankan pra-pra-pra, ini kan seminggu sebelumnya" atau "Bukannya mainnya yang malah jadi menu utama daripada persiapannya?", namun seolah terseret oleh semangat tersebut mereka memperlihatkan sikap berantusias.

 

Tanpa disadari jadwal untuk hari H pun disusun, dan saat rapat berakhir semua orang membicarakan tentang hari H dengan tampak menyenangkan.

 

Hal itu merupakan keseruan yang melebihi saat perencanaan stan festival budaya pertama kali dilakukan.

 

Dan, menyambut hari H kamp persiapan. Ditambah dengan rekreasi malam hari, para anak cowok yang dipancing umpan berupa masakan buatan para anak cewek memperlihatkan kerja keras yang luar biasa, membuat pekerjaan berlangsung dengan kecepatan tinggi.

 

Tingginya semangat bertempur tersebut terus berlanjut hingga seusai kamp, dan pada hari H festival budaya stan rumah hantu dengan kualitas yang menjadi target Alisa... tidak, kualitas yang melebihi hal tersebut telah selesai dibuat.

 

Pada akhirnya jumlah penjualan menjadi yang tertinggi di antara seluruh stan yang ada, hingga berujung meraih penghargaan.

 

"Ah..."

 

"Aaah, terima kasih atas kerja kerasnya. Kujou-san."

 

Pasca-festival setelah semuanya berakhir. Di saat para siswa membuat lingkaran dan menari folk dance di halaman sekolah, Alisa yang melangkah menuju gedung sekolah sambil melirik hal tersebut, berpapasan dengan Masachika yang sedang duduk di tangga depan pintu masuk.

 

Masachika bertopang dagu di atas lututnya, sambil menatap ke arah halaman sekolah dengan ekspresi agak tersenyum kecut.

 

Saat Alisa mengikuti arah pandangan tersebut, di sana terdapat sosok

Takeshi yang tampaknya sedang menyapa para siswi secara serampangan, dan berlawanan dengannya terdapat sosok Hikaru yang diajak menari secara bergantian oleh para siswi.

 

"Haha, mereka berdua juga merepotkan ya."

 

"...Kamu tidak pergi?"

 

Ditanya oleh Masachika yang tertawa seolah hal itu sepenuhnya urusan orang lain, Masachika menaikkan sebelah alisnya lalu mengedikkan bahu.

"Nng? Yah soalnya aku tidak punya pasangan menari sih... Lagipula, sekolah ini dalam hal begini berasa zaman Showa banget ya. Zaman sekarang pasca-festival pakai folk dance... yah, untungnya tidak sampai ada api unggun, sih."

 

"...Bolehkah aku duduk di sebelahmu?"

 

"Nng? Ah, boleh saja... Tidak apa-apa tidak menari? Kalau Kujou-san kan pasti banyak yang mengantre? Ah, jangan-jangan tidak bisa menari folk dance?"

 

"Tidak sopan ya. Biarpun begini waktu kecil aku pernah ikut balet, tahu? Kalau cuma tarian sekelas itu bisa langsung kutarikan. Yah, karena malas jadi kubilang tidak bisa menari lalu kutolak ajakannya."

 

Sambil mendenguskan napas dari hidung dan menyapu rambutnya ke belakang, Alisa duduk di samping Masachika.

 

"Kalau begitu... terima kasih atas kerja kerasnya."

 

"Tidak juga? Karena sudah biasa jadi bukan hal besar kok."

 

"Begitu toh. Seperti yang diharapkan dari Putri yang Menyendiri."

 

"Apa-apaan itu?"

 

Melihat Alisa yang menaikkan alisnya dengan raut heran, Masachika mengatakannya dengan wajah terkejut.

"Eh? Kamu tidak tahu? Kujou-san akhir-akhir ini dipanggil begitu lho sama siswa lain."

 

"...Huu~um."

 

"Kok, kelihatannya tidak terlalu senang?"

 

"Ya, rasanya tidak terlalu senang."

 

"Kenapa? Karena diusili gara-gara menyendiri?"

 

"Bukan yang itu. Lalu, bisakah kamu menghentikan cara bicara yang meremehkan itu?"

 

"Maaf."

 

Ditatap tajam, Masachika menciutkan lehernya. Kepada Masachika yang bercanda sambil memajukan bibir bawahnya seolah bilang "Aku dimarahi nih", Alisa menghela napas lalu berkata.

 

"Yang tidak kusukai itu, bagian 'Putri'-nya."

 

"Kenapa? Padahal itu pujian biasa, kan."

 

"Masa sih? Kalau bagiku itu terdengar seperti penghuni di dalam mimpi yang tidak tahu rasanya berjuang."

 

"Aaa~ yah, ada juga ya sudut pandang seperti itu."

"Memang benar aku terlahir dengan penampilan dan bakat yang melebihi orang pada umumnya. Tapi, aku tidak pernah sekalipun memangku tangan di atas hal itu. Mengatakan usahaku selama ini seolah-olah cuma karena kelahiranku yang bagus itu sungguh tidak menyenangkan."

 

"Paham."

 

Mendengar Alisa yang menegaskannya secara mantap bahwa hal itu tidak menyenangkan, Masachika menunjukkan kepahamannya.

 

"Kalau begitu, aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan seperti itu lagi."

 

"Baguslah."

 

Setelah mengatakannya seolah tidak peduli, Alisa berkata dengan tenang sambil tetap mengarahkan pandangannya ke depan.

 

"...Terima kasih ya, Kuze-kun."

 

"Nng? Untuk apa?"

 

"Aku... mungkin baru pertama kali ini mengakhiri festival budaya dengan perasaan yang semenyenangkan ini."

 

Stan kelas itu, selalu menjadi hal yang menyusahkan bagi Alisa.

 

Selalu saja dirinya yang harus mengcover anggota lainnya, dan saat berakhir rasa lelah jauh lebih tersisa daripada rasa pencapaian.

 

Tapi, kali ini berbeda. Persiapan yang dikerjakan bersama dengan bekerja sama di kelas itu sangat menyenangkan.

 

Rasa pencapaian yang diraih bersama semua orang jauh lebih besar daripada rasa pencapaian yang dituntaskan seorang diri, dan saat ini di dalam rasa lelah ada semacam rasa segar yang menyegarkan.

 

"Memang benar, aku yang salah. Kalau aku mencoba mengerjakannya sendiri, aku tidak akan bisa menghabiskan festival budaya dengan perasaan seperti ini... Lalu, maaf ya. Waktu itu aku melampiaskan amarah padamu."

 

Mendengar Alisa yang meminta maaf secara jelas meski sambil memalingkan pandangan, Masachika mengibaskan tangannya karena merasa tidak nyaman.

 

"Tidak usah dipikirkan. Lagipula, aku cuma mengurus prosedur ringan saja, tidak bekerja dua kali lipat seperti Takeshi atau Kujou-san."

 

Memang benar, yang secara nyata menarik dan menggerakkan teman sekelas adalah Takeshi. Tapi, yang menggerakkan Takeshi dan menyiapkan seluruh panggungnya adalah Masachika.

 

Ditambah lagi, meski kelihatan berkeliaran tanpa motivasi, kenyataannya dia merapikan lingkungan agar semua orang di kelas mudah bekerja, dan setiap saat selalu memberikan follow up.

Yang bersangkutan memang bilang tidak melakukan hal besar, tetapi Alisa tahu bahwa Masachika-lah sosok yang paling berjasa.

 

"Aku yang memikirkannya. Sebagai permintaan maaf karena sudah melampiaskan amarah... dan sekaligus ucapan terima kasih untuk kali ini, aku ingin melakukan sesuatu. Apa kamu punya permintaan?"

 

"Ucapan terima kasih... ucapan terima kasih, yaa?"

 

"Jawaban seperti tidak perlu itu tidak berlaku, ya."

 

"Uuu~m..."

 

Kepada Masachika yang jalan kaburnya sudah ditutup terlebih dahulu oleh Alisa, dia sempat memutar otak sejenak, lalu mendadak melempar

pertanyaan tanpa hubungan sebab-akibat.

 

"Ngomong-ngomong, di Rusia kan ada kebiasaan saling memanggil dengan nama panggilan kesayangan yang khusus, kan? Alisa kalau di Rusia nama panggilan kesayangannya apa?"

 

"Apa? Tiba-tiba sekali."

 

"Alisha? Nggak, Alishka, Alichka gitu? Rasanya nama panggilan kesayangan Rusia itu seperti itu, kan?"

 

"...Alya. Kalau sama keluarga dipanggil Alya."

 

"Begitu ya... kalau begitu, sebagai ganti permintaan maaf dan ucapan terima kasih, bolehkah aku minta hak untuk memanggilmu Alya?"

 

"Apa-apaan itu. Di belah mananya yang ucapan terima kasih?"

 

Melihat Alisa yang menaikkan alisnya karena tidak memahami

maksudnya, Masachika mengulas senyum nihilistik.

 

"Seorang pria yang memanggil idola kelas yang diidam-idamkan semua orang dengan nama panggilan kesayangan seorang diri. Nikmat bangett!!"

 

"Kamu bodoh, ya?"

 

"Terima kasih banyak!!"

 

"Jijik."

 

Mendengar Masachika yang mendadak mulai mengatakan hal bodoh, Alisa melontarkan kata-kata dengan ekspresi ilfil. Di sana, salah satu siswa laki-laki yang sejak tadi berkumpul di sekitar menyapanya.

 

"A-anu, Kujou-san. Kalau tidak keberatan maukah menari denganku?"

 

"Ah, kamu jangan mendahului dong! Alisa-san, sebenarnya sejak dulu

aku selalu tertarik padamu. Menarilah denganku!"

 

"Jangan menyatakan cinta di tengah kesempatan begini dong! Kalau gitu aku juga──"

Diawali oleh seorang siswa laki-laki yang menyapa, seketika lima atau enam siswa laki-laki berkumpul mengerubungi Alisa.

 

Tampaknya, karena sudah waktunya last dance, mereka memberanikan diri.

 

"Maaf. Saya tidak bisa menari."

 

"Tidak apa-apa. Aku pandai menari kok, nanti kuajari."

 

"Haa? Aku yang lebih pandai. Iya kan, lebih baik sama aku saja?"

 

"Bukan begitu, beneran deh, cuma perlu menggerakkan tubuh mengikuti musik saja kok!"

 

Meski Alisa menolaknya secara tegas sambil meminta maaf, para siswa yang bersemangat merasa dirinya paling bisa itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mundur.

 

Menghadapi para siswa yang sedikit demi sedikit makin mendekat, Alisa menyempitkan matanya lalu berdiri.

 

"Kalian ini──"

 

Dan, tepat saat Alisa hendak menebas dan membuang mereka dengan kata-kata tanpa ampun.

 

Tiba-tiba, tangan kanan Alisa ditarik dengan kuat ke samping.

 

", dia sudah ada janji duluan. Ayo pergi, Alya."

 

Masachika mengatakannya agar terdengar oleh para siswa itu, lalu

sambil tetap menggenggam tangan Alisa dia mulai melangkah ke arah halaman sekolah.

 

"Tun-tunggu...!"

 

Meskipun melayangkan suara protes atas keputusannya yang terlalu paksa, Alisa berburu-buru mengikutinya dari belakang.

 

Harusnya, jika biasanya dia akan memaksakan diri mengibaskan tangan lalu melempar satu tamparan, tetapi Alisa saat itu mengikutinya dari belakang Masachika dengan sangat penurut hingga membuat dirinya sendiri merasa heran.

 

Jantungnya berdegup kencang. Matanya tidak bisa lepas dari punggung lebar Masachika yang berjalan di depan.

 

Kalau dipikir-pikir, pengalaman pegangan tangan dan ditarik secara paksa oleh lawan jenis itu sendiri merupakan pengalaman pertama bagi Alisa.

 

(Benar, ini cuma karena baru pertama kali jadi aku sedikit bingung.

Tidak ada arti yang lebih dari itu kok!)

 

Tepat saat Alisa meyakinkan dirinya sendiri seperti itu, Masachika

berhenti di antara lingkaran para siswa, dan di saat yang sama lagu terakhir mulai mengalun.

"Nah nah, bukannya tadi kamu bilang? Karena pernah ikut balet, kalau cuma folk dance mah begitu lihat pasti bisa."

 

"Eh... ya, lalu kenapa?"

 

Kepada Alisa yang bertanya balik sambil berusaha keras menata kembali pikirannya, Masachika mengulas senyum provokatif.

 

"Kalau begitu, bagaimana kalau kutonton kebolehanmu? Putrisan?"

 

Cara bicara yang menggoda. Mengingat percakapan sebelumnya, maksud hal itu sangatlah jelas.

 

"...Boleh juga keberanianmu. Jangan sampai memperlihatkan wujud yang menyedihkan, berusaha keraslah sekuat tenaga buat mengimbangiku ya."

 

"Jangan terlalu bersemangat sampai menginjak kakiku, ya? Alya-chan?"

 

"..., Siapa takut!"

 

Melihat Masachika yang mengulas senyum memprovokasi yang bikin jengkel, Alisa menaikkan alisnya dengan pipi kedutan.

 

Terhadap last dance yang seharusnya ditarikan oleh sepasang orang yang saling menyukai, kedua orang ini justru menghadapinya dengan atmosfer yang sama sekali tidak ada manis-manisnya. Pada awalnya mereka memang menari sama seperti sekeliling, namun sedikit demi sedikit langkah tarian Alisa mulai keluar dari teori dasar.

Sambil merentangkan lengan dan kakinya yang panjang secara anggun, Alisa menari dengan ringan di halaman sekolah malam hari. Meski pas dengan lagunya, tarian itu sudah bukan lagi barang yang bisa dijuluki folk dance.

 

Namun, Masachika menyamakan gerakannya dengan tepat terhadap keliaran pasangannya tersebut. Bukannya mengimbangi secara sejajar.

 

Namun, dia juga tidak terseret.

 

Agar tidak mengganggu pasangannya, tetapi di saat yang sama mengatur pergerakan dengan baik agar tidak terlalu liar. Pertarungan mereka berdua, dengan membagi peran secara jelas sebagai pemeran utama dan pemeran pembantu, secara ajaib terwujud sebagai sebuah tarian.

 

(Aah, begitu... kamu itu, orang yang seperti itu ya.)

 

Di saat sedang menari seperti itu, ada hal yang berhasil dipahami Alisa

dengan mengendap di dalam dadanya. Tarian ini, cara mengatur pergerakan inilah sosok Masachika yang sebenarnya.

 

Dirinya tidak maju ke depan, melainkan membantu orang lain. Dirinya

fokus berada di bayang-bayang, membuat orang lain bersinar. Begitulah sosok manusia bernama Masachika.

 

"Fufu... Ahahaha!"

 

Tanpa disadari, Alisa tertawa. Tarian yang dimulainya sebagai sebuah pertarungan, tanpa disadari dinikmati Alisa dari dasar hatinya.

Namun, waktu itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian lagu berakhir, dan tarian pun usai. Sambil merasakan keengganan untuk berpisah, begitu melepaskan tangan dari Masachika dia membungkuk memberi hormat.

 

"Yah, seperti yang diharapkan kamu hebat ya. Mengimbangimu saja sudah batas maksimal bagiku."

 

"Ya, sangat menyenangkan."

 

Atas kata-kata jujur dari Alisa, Masachika mengedipkan matanya dengan ekspresi terkejut.

 

"...Kalau begitu, yah aku mau balik duluan."

 

"Ara? Kamu tidak mau mengawalku?"

 

"Ampuni aku. Kalau melakukan hal seperti itu aku bisa dibunuh sama anak-anak cowok yang gila karena cemburu."

 

"Huu~um, begitu. Itu informasi yang bagus."

 

Kepada Masachika yang menciutkan lehernya, Alisa mengulas senyum cengengesan, lalu dengan luwes menggamitkan tangannya ke lengan Masachika.

 

"Tung-apa──"

 

"Kalau begitu, tolong kawal aku ya?"

"...Maksudmu, menyuruhku mati?"

 

"Ini hukuman karena sudah memanggilku putri."

 

"Ugeeh..."

 

Sambil memasang ekspresi lemas, namun tanpa mengibaskan tangannya Masachika mulai melangkah, melihat hal itu Alisa tertawa bersemangat karena merasa akhirnya berhasil membalasnya.

 

Baru sekarang rasa malu atas tindakannya sendiri mulai terasa,  tapi saat ini perasaannya jauh lebih menyenangkan dari itu. Berjalan berdampingan bersama seseorang. Hal itu membuatnya merasa sangat senang.

 

Di dalam perjalanan singkat menuju gedung sekolah. Alisa merasakan bahwa rasa kesepian dan rasa terasing secara samar yang dirasakannya sejak masa SD dulu, sedikit demi sedikit meleleh dan menghilang...

 

...Begitulah yang Alisa rasakan. Namun, keesokan harinya.

 

"Selamat pagi. Alya, sori. Boleh lihat buku pelajaran Bahasa Jepang Modern milikmu?"

 

Masachika kembali menjadi Masachika yang tidak ada motivasi seperti biasa.

 

"..."

"O-oh, ada apa? Alya. Kenapa tatapanmu seperti sedang melihat sampah begitu?”

 

"Dasar sampah."

 

"Galak amat!?"

 

"...Haah."

 

Mendengar Masachika yang menjerit sambil tersenyum kecut, Alisa sengaja menghela napas panjang untuk diperlihatkan, lalu memalingkan wajahnya.

 

Lalu, sambil tetap memalingkan wajah dia menyodorkan buku pelajaran Bahasa Jepang Modern secara kasar, lalu membisikkan satu kata dalam bahasa Rusia.

 

【昨日はかっこよかったのに】(Kemarin kamu keren, padahal)

 

Begitulah, dia berbisik pelan.

 

Setelah itu pun, Masachika tidak berubah.

 

Selalu saja tidak ada motivasi dan membuat Alisa heran, padahal saat

situasi darurat dia jauh lebih bisa diandalkan daripada siapa pun.

 

Dengan wajah seolah bukan hal besar, dia membantu dengan santai.

 

Bagi Alisa yang menganggap semua orang di sekelilingnya sebagai saingan, gerak-gerik Masachika tersebut terlihat aneh... namun di saat yang sama, membuatnya merasa tenang.

 

Fakta bahwa dirinya tidak perlu bersaing dengan orang ini. Tidak perlu memperebutkan siapa yang lebih unggul, membuat hati Alisa menjadi ringan. Sejak saat itu, Alisa menjadi bisa berhubungan dengan Masachika tanpa perlu merasa terbebani sedikit pun.

 

Kemarahan karena merasa gemas dengan kurangnya motivasi sehari-harinya, atau menggodanya karena merasa kesal dengan sikapnya yang selalu santai. Merasa jengkel dengan posisinya yang seolah mengawasi dari satu tingkat di atas, memperlihatkan celah dalam bahasa Rusia, lalu tertawa melihat konyolnya Masachika yang tidak menyadari hal itu.

 

Di saat menghabiskan hari-hari seperti itu, tanpa disadari…




 

"Kamu jadi suka padanya, ya~ Romantisnya!"

 

Melihat Maria yang menepuk-nepuk tangannya sambil bersuara gembira, Alisa menghela napas.

 

"Makanya... sudah kubilang bukan. Kamu dengar cerita aku tidak, sih?"

 

"Eee~? Didengar seperti apa pun itu terdengar seperti cerita bagaimana kalian berdua bisa saling menyukai, tahu?"

 

"Jangan bicara dengan istilah yang aneh-aneh. Tadi kan sudah kubilang kalau kami ini teman?"

 

"Yup yup, dari teman menjadi kekasih. Alur utama yang klasik ya~. Aku dan Saa-kun juga dulu begitu kok~. Iya kan~? Saa-kun."

 

Sambil menarik liontin emas dari belahan dadanya yang sangat dalam itu, Maria berbicara kepada foto yang ada di dalamnya dengan ekspresi yang sangat cengengesan.

 

Jika ini komik, rasanya simbol hati sudah berhamburan dari kepalanya.

 

Melihat kakaknya yang sudah sepenuhnya masuk ke mode gadis kasmaran, Alisa mengarahkan pandangan yang dingin.

 

"Tapi yah... benar juga. Mengenai kemampuannya... aku mengakuinya, dan aku juga memercayainya."

Kepada Alisa yang menyampaikannya seolah enggan sambil memalingkan pandangan, Maria mengangguk sambil menatap foto kekasihnya.

 

"Yup yup, anak cowok yang bertindak saat dibutuhkan itu keren ya. Saa-kun juga begitu. Dulu, penampakan punggung Saa-kun saat menolongku yang diserang anjing! Saat itu benar-benar──"

 

"Kalau mau pamer kemesraan bisakah kamu keluar saja?"

 

"Ih, Alya-chan dingin sekali!"

 

Kepada Maria yang menggembungkan pipinya, Alisa mengarahkan pandangan dingin.

 

"Lalu, aku dari dulu lebih menyukai orang yang pekerja keras."

 

"Alya-chan tidak paham deh. Sisi maskulin yang diperlihatkannya pada momen tak terduga oleh dia yang biasanya tidak bersemangat! Justru itu yang bagus tahu~!"

 

"Itu perbedaan pandangan, ya. Kalau aku, lumayan buat aku jengkel dari dasar hati terhadap Kuze-kun yang biasanya tidak ada motivasi itu."

 

Apakah karena mengingat berbagai hal saat sedang berbicara, Alisa melanjutkan dengan memperkuat nada bicaranya.

 

"Beneran deh, dia sering lupa membawa barang, tertidur di tengah pelajaran, lagipula! Seberapa sering pun ditegur sama sekali tidak merasa bersalah! Selalu saja tersenyum-senyum lalu mengelak dengan santai... yah, tapi justru karena itulah aku jadi bisa merasa tenang mengatakan apa pun yang kusukai padanya, sih..."

 

"Yup yup. Artinya, di antara kalian berdua ada hubungan saling percaya yang pasti, kan?"

 

"Kenapa bisa menyimpulkan begitu?"

 

"Mau dikatakan apa pun, kalau Kuze-kun pasti tidak akan pernah pergi menjauh. Justru karena paham hal itulah Alya-chan jadi bisa berbicara tanpa beban dengan Kuze-kun, kan? Lalu, Kuze-kun juga mengizinkan hal itu. Bukankah itu hubungan saling percaya yang luar biasa?"

 

Atas teguran tajam yang di luar dugaan itu, Alisa sempat bungkam sejenak. Namun, dia segera menata diri lalu membalas dengan penolakan.

 

"Bukan begitu. Kuze-kun itu dari sudut pandang siapa pun adalah murid yang sepantasnya ditegur, jadi aku bisa menegurnya tanpa ragu. Memang... dalam artian tertentu, aku mengakui kalau dia adalah lawan bicara yang tidak perlu membuatku canggung. Tapi, bukan berarti hal itu langsung terhubung dengan perasaan cinta, kan? Lagipula, yang namanya suka itu kan yang seperti itu, kan? Yang... ingin kencan, ingin ciuman, yang seperti itu, kan? Aku tidak pernah memikirkan hal semacam itu kok..."

 

Melihat Alisa yang memalingkan matanya dengan malu-malu saat mengucapkannya sendiri, Maria mengatupkan kedua tangannya lalu mengulas senyum lembut.

 

"Alya-chan, imutnya."

 

"Apa-apaan itu... kamu meremehkanku?"

 

"Mana ada begitu? Begini ya, Alya-chan. Kencan atau ciuman, tidak perlu hal-hal spesial seperti itu. Kalau sama orang yang disukai, cuma ngobrol atau saling bersentuhan saja sudah bikin perasaan jadi spesial kok."

 

Sambil membusungkan dadanya yang besar itu dengan bangga, Maria berbicara dengan wajah sok tahu. Atas kata-kata itu, alis Alisa bergerak sedikit.

 

"...Spesifiknya seperti apa?"

 

Kepada Alisa yang tidak biasanya terpancing bertanya, Maria yang berpikir akan diabaikan seadanya seperti biasa, mengedipkan matanya seolah agak terkejut lalu memasang mata seolah menatap jauh ke depan.

 

"Huu~m, benar juga ya... Yang paling mudah dipahami itu, berpegangan tangan mungkin? Tanpa perlu sampai sejauh itu pun, cuma tangan dan tangan saling bersentuhan saja kalau sama orang yang disukai pasti bikin berdebar-debar lho. Rasanya malu sampai ingin berteriak wah begitu, tapi tidak merasa benci. Rasanya seperti perasaan bahagia, lalu dengan begitu──"

"...Malu, sampai ingin berteriak..."

 

Apakah karena makin bersemangat saat berbicara, Maria berbicara tentang apa itu cinta dengan ekspresi gadis remaja seorang diri sambil terjerit-jerit gembira, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap foto kekasihnya.

 

Di depannya, Alisa menatap lurus ke arah kakinya sendiri, lalu tanpa ragu menyodorkan kaki kanannya ke depan Maria.

 

"? Apa? Ada apa? Alya-chan."

 

"Maaf. Boleh tolong lepaskan ini sebentar?"

 

"Eh? Kenapa?"

 

Meskipun Maria mengedipkan matanya atas permintaan mendadak yang tidak dapat dipahami ini, apakah karena merasakan sesuatu dari ekspresi Alisa, dia perlahan berpindah di atas karpet lalu memegang kaki kanan Alisa.

 

"Nng..."

 

Tangan Maria perlahan melepas knee-high socks milik Alisa. Alisa memperhatikan hal itu dengan ekspresi yang agak tajam.

 

"Nih, sudah kulepas, tapi... kaki kiri juga?"

 

Maria yang mengarahkan pandangannya ke kaki kiri Alisa dengan ekspresi heran, Alisa berkata sambil mengerutkan dahi.

 

"...Nggak, tolong pakaikan sekali lagi."

 

"Eh? Maksudnya bagaimana?"

 

"Sudah pakaikan saja."

 

"...I~ya deh."

 

Dengan ekspresi tidak paham, tangan Maria kembali memakaikan knee-high socks yang tadi dilepasnya. Sambil memperhatikan hal itu dengan cermat, ekspresi Alisa makin lama makin tajam.

 

"Nih, sudah kupakaikan. ...Tapi ada apa?"

 

Maria mendongak menatap wajah Alisa dengan ragu dan hati-hati.

 

Tanpa memedulikan pandangan itu, Alisa yang menatap kakinya sendiri dengan ekspresi tajam mendadak menghembuskan napas pelan lalu bangkit dari duduknya.

 

"...Tidak bisa. Ternyata Maria tidak bisa dijadikan referensi."

 

"Maksudnya bagaimana!? Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi Onee-chan agak sakit hati lho!"

 

"Iya iya, sudah selesai kan? Aku mau ganti baju jadi keluarlah."

"Uu... Alya-chan,  Lagi masa memberontak ya? Bagaimana ini Saa-kun. Alya-chan masuk masa pembangkangan."

 

Setelah mengusir Maria yang menjatuhkan bahunya dengan ekspresi lesu ke luar kamar, Alisa kembali menjatuhkan pandangannya ke kaki kanan sendiri, lalu dengan perlahan menyapukan jarinya di pahanya sendiri.

 

Merasa agak malu dia mengangkat wajahnya, dan di sana terdapat cermin berdiri yang besar. Alisa yang terpantul di sana, pipinya tampak memerah tipis.

 

"Mmh..."

 

Seolah menolak dirinya yang seperti itu, Alisa memasang wajah masam.

 

Lalu, kepada seorang pemuda yang terbayang di dalam kepalanya, dia berbisik dengan ekspresi tajam.

 

【違うから】(Bukan begitu)

 

Bahasa Rusia yang dibisikkannya secara pelan itu, meleleh dan menghilang ke udara kamar tanpa sampai ke telinga siapa pun.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close