Bab 4: Yuri Antarsaudari, Aku Enggak Benci-Benci Amat, Sih
"Aku pulang."
Saat Alisa membuka pintu apartemen dan
bersuara ke dalam, kakaknya, Maria, memunculkan wajahnya dari ruang tamu.
Berlawanan dengan Alisa yang pada dasarnya tidak berekspresi, Maria pada
dasarnya tidak pernah menyurutkan senyumnya kapan pun.
Saat ini pun sambil memajang senyum
lembut yang seolah menebarkan bunga-bunga di sekitarnya, dia menyambut adiknya
dengan senang.
"Selamat data~ng, Alya-chan."
Mendekat sambil merentangkan kedua tangan
dengan senyum merekah di sekujur wajah, dia melakukan cheek kiss secara
berurutan kanan, kiri, kanan, lalu terakhir memeluk Alisa erat-erat.
Bisa dibilang, ini adalah pemandangan
yang jika dilihat oleh kaum yuri-buta di luar sana pasti akan membuat mereka
bersorak gembira.
"Aku pulang, Masha."
Alisa menyuruh kakaknya melepaskan
pelukan hangat itu dengan menepuk-nepuk tangannya. Lantas, Maria yang tadinya
memajang senyum lembut, menggembungkan pipinya dengan wajah tidak puas saat
melepaskan pelukan.
"Ih, padahal kan sudah kubilang di
Jepang (sini) panggil aku 'Onee-chan'."
"Nggak mau, sudah terlambat."
Atas respons Alisa yang dingin, Maria
semakin menggembungkan pipinya.
Pada dasarnya, dalam bahasa Rusia tidak
ada sebutan khusus untuk kakak laki-laki atau kakak perempuan seperti
'Onee-chan' atau 'Nii-san' dalam bahasa Jepang.
Baik kakak perempuan maupun kakak
laki-laki, memanggil nama adalah hal yang mendasar. Alisa yang lahir di Rusia
pun mengikuti hal itu dengan memanggil nama panggilan kesayangan kakaknya,
tetapi Maria tampaknya sangat menyukai sebutan 'Onee-chan' ini dan sering kali
menuntut Alisa untuk memanggilnya begitu.
"Uuh... Alya-chan dingin
sekali..."
Begitu melihat wajah tidak puasnya tidak
mempan, Maria seketika memasang ekspresi lesu yang menyedihkan, membuat Alisa
mengarahkan pandangan heran. Walau ini bukan pertama kalinya terjadi, tapi jika
kakak perempuannya memasang wajah seperti ini rasanya membuat dirinya merasa
seperti telah melakukan hal jahat.
Namun, mau dikatakan apa pun dia tetap
merasa risih untuk memanggilnya 'Onee-chan'. Pada dasarnya sang adik adalah
tipe orang yang andal sementara sang kakak adalah tipe yang santai.
Tinggi badan pun Alisa lebih tinggi, dan
usianya cuma berselisih satu tahun, membuat sejak dulu Alisa lebih sering
mengurus Maria.
Karena itu, Alisa sendiri memiliki
kesadaran yang amat tipis terhadap Maria sebagai seorang 'kakak'.
(Lagipula, sebutan 'Onee-chan' itu
sendiri kan rasanya seperti sedang manja...)
Setidaknya kalau 'Nee-san' mungkin dia
masih mau mempertimbangkannya, tapi karena Maria bilang "Kalau begitu aku
tidak mau", jadi mau bagaimana lagi.
Memutuskan untuk tidak memikirkannya
lagi, dia melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah, membuat Maria
mengedipkan matanya dan memiringkan kepalanya sedikit.
"...Alya-chan, rasanya suasana
hatimu sedang tidak enak, ya?"
"...Tidak juga?"
Secara refleks memasang ekspresi heran,
Alisa menyembunyikan guncangan di dalam hatinya. Namun, pengalihan seperti itu
tampaknya tidak mempan pada kakaknya ini.
"Reaksi itu... Jangan-jangan, pemuda
yang waktu itu? Ada kejadian
sesuatu ya sama Kuze-kun?"
Maria yang matanya seketika
berbinar-binar memamerkan rasa ingin tahunya secara gamblang, membuat Alisa
melangkah ke kamar mandi sambil merasa jengkel.
"Tidak ada apa-apa kok."
"Bohong, Onee-chan tidak bisa
dibohongi, lho. Hei hei, ada kejadian apa?"
Setelah itu pun Maria terus membuntutinya
seperti anak bebek sambil mengajukan pertanyaan tanpa henti.
Saat akhirnya diserbu sampai ke dalam
kamar, Alisa pun menyerah.
Duduk di kursi masih dengan mengenakan
seragam, dia membuka mulutnya dengan enggan kepada Maria yang duduk menempel di
atas bantal lantai sambil mendesaknya untuk bercerita.
"Beneran, bukan hal besar kok...
Cuma agak bertengkar sedikit."
"Hee~~, bertengkar!"
Untuk sebuah kata yang jika dipikirkan
secara normal bukanlah hal yang patut dipuji, Maria entah kenapa membuat
matanya berbinar-binar dengan gembira.
"...Apa?"
"Habisnya... Fufu, Alya-chan
bertengkar itu kan sangat langka, tahu. Apalagi sama anak cowok."
"Yah, begitulah."
"Begitu yaa, akhirnya muncul juga
anak cowok yang sanggup menggerakkan hati Alya-chan, yaa."
"Maksudnya apa itu."
Atas cara bicara Maria yang rasanya
memiliki arti terselubung, Alisa menaikkan alisnya. Lantas, Maria berkata
dengan wajah sok tahu.
"Kamu suka, kan? Sama Kuze-kun
itu."
"...Haah?"
Alisa menusukkan pandangan tanpa ragu ke wajah Maria seolah ingin bilang "Kamu ngomong apa sih dasar otak penuh bunga ini", lalu menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak tahu apa yang kamu salah
pahamkan, tapi... kami tidak seperti itu. Kami itu, ya... "
Di dalam kepala Alisa, pemandangan saat
istirahat makan siang kemarin kembali bangkit. Wajah Masachika yang memajang
ekspresi penuh rasa heran saat menuturkan bahwa mereka adalah teman.
"Ya... kami ini, teman."
Sambil tersenyum mengenang hal itu, Alisa
menuturkannya dengan nada yang agak bangga di suatu tempat. Terhadap ekspresi
yang seolah menantang "Bagaimana?" itu, Maria memasang mata yang
lembut.
"Huu~um, begitu ya... Tapi, kenapa
bisa jadi teman? Alya-chan kan benci orang yang tidak serius atau
setengah-setengah?"
"Kalau itu..."
Kata-kata Maria memang benar. Dan
Masachika yang biasanya, tidak ada motivasi, hidup seenaknya... benar-benar
jenis orang yang dibenci oleh Alisa.
Orang seperti Masachika itu, mengapa bisa
diakui oleh dirinya sendiri sebagai seorang teman? Alisa menerbangkan
pikirannya ke ingatan masa lalu yang menjadi titik awalnya.
◇
【Peraih Penghargaan Terbaik untuk presentasi
kelompok adalah... Tim B!】
Suara tepuk tangan bergema di seluruh
kelas. Di antaranya hanya ada satu orang, seorang gadis yang menggigit bibirnya
sambil menunduk.
Alisa, saat itu kelas empat SD. Kejadian
di sebuah sekolah dasar yang terletak di Vladivostok, Rusia.
Pada saat inilah, Alisa menyadari bahwa
dirinya berbeda dengan
orang-orang di sekitarnya.
Pemicunya adalah kegiatan presentasi
penelitian kelompok yang diadakan di kelas.
Para siswa di kelas dibagi menjadi
beberapa kelompok yang terdiri dari empat atau lima orang, menginvestigasi satu
tema selama dua minggu, lalu merangkum isi investigasi tersebut di kertas besar
dan mempresentasikannya.
Tema presentasi kelompok Alisa adalah
'Pekerjaan di Lingkungan Sekitar'. Mengunjungi toko-toko terdekat atau
mewawancarai pekerjaan keluarga untuk menginvestigasi pekerjaan seperti apa
itu. Isi yang sangat wajar dan polos khas anak sekolah dasar.
Namun, apa pun isinya, Alisa bukanlah
tipe orang yang akan main-main.
Sejak saat itu Alisa sudah memiliki sifat
pantang menyerah yang kuat, dan bagi Alisa yang selalu mengincar posisi nomor
satu dalam hal apa
pun,
mengincar posisi nomor satu dalam presentasi──Penghargaan
Terbaik, adalah hal yang sangat alami.
Dan Alisa mengerahkan seluruh
kemampuannya demi merebut Penghargaan Terbaik tersebut.
Setiap hari setelah jam sekolah usai, dia
melakukan wawancara berulang kali di toko-toko kawasan sekitar yang
dialokasikan kepadanya sampai tiba waktu makan malam, dan isi materi yang
diinvestigasinya dalam satu minggu cukup untuk memenuhi satu buku catatan
penuh.
Namun, pada hari rapat kelompok yang
dihadapi dengan persiapan matang.
Alisa dibuat tercengang oleh kata-kata
dari tiga anggota lainnya.
【Ah, sori. Aku belum sempat cari tahu.】
【Ini toko roti, dan ini toko pakaian. Eh? Isi
pekerjaannya? Yang begitu
mah
kalau toko roti ya jualan roti, kalau toko pakaian ya jualan pakaian, udah
pasti kan.】
【Maaf, aku baru cari tahu separuhnya~. Tapi kan
masih ada seminggu lagi. Pasti tidak apa-apa kok.】
Sangat... bagi Alisa itu adalah isi
investigasi yang amat sangat seadanya.
Bahkan jika semua informasi yang dicari
oleh ketiga orang lainnya digabungkan, jumlahnya tidak mencapai separuh dari
informasi yang dicari oleh Alisa.
Fakta tersebut. Lebih dari apa pun,
terhadap ketiga orang yang sama sekali tidak memperlihatkan rasa kepanikan
maupun rasa maaf meskipun berada dalam kondisi menyedihkan seperti itu, rasa
terkejut
Alisa melampaui rasa amarahnya.
Rasa amarah meluap saat ketiga orang itu
melihat buku catatan yang dirangkum oleh Alisa.
【Uwah, apaan nih. Kamu seberapa serius sih.】
【Rinci banget. Dipikir bagaimanapun tidak bakal
kepakai sebanyak ini, kan.】
【Alya... ini, harus dibaca semua?】
Pandangan heran yang diarahkan dari
ketiga orang tersebut. Senyum kecut yang seolah ingin bilang "A~ah, dia
kelewatan".
(Eh? Ini, aku yang salah?)
Tepat setelah pertanyaan itu terlintas di
benaknya, amarah membuncah
dari dasar perut Alisa.
Bukan. Aku tidak salah. Aku cuma
mengerjakan tugas yang diberikan
dengan serius dan mengerahkan seluruh
kemampuan.
Aku tidak salah. Yang salah adalah
mereka.
Amarah dan antipati yang meluap secara
mendadak. Untuk menahan
hal-hal tersebut, Alisa saat itu masih
terlalu muda.
【Nee, kenapa kalian tidak mengerjakannya dengan
serius?】
Mata yang menatap tajam. Kata-kata pedas
yang dilontarkan dengan nada bicara menyalahkan membuat anak SD yang sensitif
bereaksi dengan tajam.
Dari sana tidak membutuhkan waktu lama
untuk berkembang menjadi pertengkaran mulut yang sengit.
Karena saat itu sedang pelajaran, guru
segera datang melerai, namun dalam waktu singkat itu celah yang sangat besar
hingga tidak mungkin untuk saling bekerja sama telah tercipta di antara Alisa
dan ketiga anggota kelompoknya.
【Kalau tidak suka sampai segitunya, kerjakan saja
sendiri sana!!】
Saling melempar kata-kata kasar. Atas
kalimat yang dilontarkan oleh salah satu siswa laki-laki anggota kelompoknya,
Alisa menjadi keras kepala.
Setelah itu dengan memanfaatkan sisa
waktu yang ada, Alisa berusaha meningkatkan isi presentasi sebisa mungkin
hingga ke tingkat yang dapat disetujuinya sendiri.
Namun, bagaimanapun juga ada batas untuk
hal yang bisa dilakukan sendirian, dan hasil presentasi yang jadi sama sekali
tidak mencapai tingkat yang diincar oleh Alisa. Hasilnya, Penghargaan Terbaik
yang diincar Alisa jatuh ke tangan kelompok lain.
Bagi Alisa, hal itu tidak dapat dipahami.
Terhadap tugas yang diberikan, para teman
sekelas yang tidak mengerjakannya secara serius. Mereka yang tertawa
tersenyum-senyum tanpa memikirkan apa pun soal kekalahan.
(Kalau semuanya bekerja seserius aku,
pasti kita tidak akan kalah.
Nggak, kalau dari awal aku kerjakan
sendiri, pasti bisa menang!)
Diri ini berbeda dengan orang lain. Hanya
aku yang serius, hanya aku yang mengerjakan dengan penuh kesungguhan.
Benar-benar ingin menang.
Saat menyadari hal itu, Alisa berhenti
berharap pada orang lain.
Toh tidak akan ada yang bisa menyamai
tingkatanku. Tidak ada yang
mau mengerjakannya dengan penuh
kesungguhan dan antusiasme yang sama denganku.
Kalau begitu terserah mereka saja. Kepada
orang-orang yang kurang usaha dan kurang motivasi seperti itu, aku tidak akan
pernah kalah. Di saat kalian sedang bermain-main seadanya, aku akan pergi lebih
tinggi dari siapa pun.
Bantuan orang lain tidak diperlukan.
Semuanya akan kukerjakan sendiri. Dicampuri oleh kesiapan yang
setengah-setengah atau sekadar rasa kewajiban biasa justru malah menyusahkan.
Seiring bertambahnya usia dan memiliki
kemampuan bersosialisasi sampai tingkat tertentu pun, pemikiran mendasar Alisa
tersebut tidak berubah. Tidak, justru makin menguat dari tahun ke tahun.
Kekecewaan terhadap orang lain yang
menumpuk setiap kali merasakan kurangnya motivasi dan rendahnya tingkat para
teman seangkatan, tanpa disadari berubah menjadi pandangan meremehkan terhadap
sekeliling.
Setelah menyadari hal tersebut, demi
menghindari perselisihan dengan sekelilingnya, Alisa mulai berhubungan dengan
orang lain dengan sikap menjaga jarak.
Benar-benar menyendiri. Bakat sejak lahir
dan sifat pantang menyerah yang membedakan dirinya dari orang lain. Karena
itulah dia menyendiri.
Saat menjadi murid kelas tiga SMP, Alisa
kembali ke Jepang karena urusan pekerjaan ayahnya.
SMA Seirei yang dimasukinya atas saran
orang tuanya. Sekolah ternama yang disebut-sebagai salah satu yang terbaik di
Jepang. Jika di sini, mungkinkah ada lawan yang bisa berdiri sejajar, bersaing,
dan menggembleng diri bersama? Alisa menyimpan harapan tipis.
Namun, pada tes kemampuan yang diadakan
tepat setelah pindah sekolah, harapan tipis Alisa hancur berkeping-keping
secara menyedihkan.
Peringkat satu seangkatan. Kembali ke
Jepang setelah lima tahun. Murid pindahan dari luar yang bahkan tidak tahu
kecenderungan soal tes.
Bahkan dengan semua tuduhan yang di cap
itu, dia tetap mendapat peringkat satu seangkatan.
(Apa-apaan, di sini juga ternyata cuma
sampai tingkat ini ya.)
Pada akhirnya di sini pun, aku tetap
sendiri.
Di saat kepasrahan seperti itu hendak
memenuhi dadanya, Alisa mengetahui tentang dirinya. Pertemuan pertama mereka
adalah pada hari pertama pindah sekolah. Pagi hari tanggal satu April.
"Kujou-san, bahasa Jepangmu pintar
ya. Sebelumnya pernah tinggal di Jepang?"
"Cantik banget. Rambut perak baru
pertama kali kulihat, lho."
"Nee nee, beneran kamu menembus
ujian pindahan yang katanya super sulit itu dengan mudah?"
Para teman sekelas berkumpul memamerkan
rasa ingin tahu mereka secara terang-terangan. Sambil merasa agak enggan di
dalam hati, Alisa menanggapinya seadanya agar tidak terlalu tidak sopan.
Menjadikan diri sendiri yang meremehkan
orang-orang di sekeliling menjadi akrab dengan seseorang tidak akan membawa hal
baik bagi kedua belah pihak.
Pihak lawan pasti akan merasa tidak
menyenangkan, dan dirinya sendiri pun akan merasa buruk saat menyadari hal
tersebut pada dirinya.
Karena itu, di sini pun Alisa tidak
berniat untuk menjadi akrab dengan siapa pun.
"Ah, bel persiapan."
"Loh, sudah ya? Mau bagaimana lagi.
Sampai nanti ya, Kujou-san."
"Di istirahat berikutnya ceritakan
lagi ya."
"Ya."
Setelah mengantar para teman sekelas yang
kembali ke kursi masing-masing dengan raut kecewa, Alisa menjatuhkan
pandangannya ke kursi sebelah.
"......, ............"
Di sana, meskipun ada keributan sebesar
itu, terdapat sosok seorang siswa laki-laki yang menelungkupkan badan di meja
tanpa tampak terganggu sedikit pun.
Atas sosok yang terlalu bebas tersebut,
rasa ingin tahu Alisa cukup terstimulasi. Tanpa disadari dia menggoyangkan bahu
siswa tersebut secara ringan, dan untuk pertama kalinya menyapa teman sekelas
atas inisiatif sendiri.
"Anu... bel persiapan, sudah
berbunyi, lho?"
"Uu... Nng-a?"
Siswa laki-laki berpenampilan biasa
dengan wajah tampak belum sepenuhnya sadar itu mengangkat kepalanya perlahan
atas suara Alisa.
Dia adalah Kuze Masachika. Kuze dan
Kujou. Siswa laki-laki yang menjadi tetangga duduknya hanya karena alasan nama
belakang mereka berdekatan.
Masachika menatap Alisa dengan ekspresi
samar, mengedipkan matanya beberapa kali, lalu miringkan kepalanya sedikit.
"Aaah~~... murid pindahan yang waktu
upacara pembukaan memberi sambutan?"
"Ya, Alisa Mikhailovna Kujou. Mohon
bimbingannya."
"Ooh... aku Kuze Masachika. Mohon
bimbingannya."
Setelah hanya mengatakan itu, Masachika
menghadap kembali ke depan dan meregangkan badannya lebar-lebar. Kemudian,
begitu menyadari sesuatu, dia mencolek-colek punggung siswa laki-laki di kursi
depannya.
"O~h Hikaru. Kamu ada juga
toh."
"Ada kok... ngomong-ngomong Takeshi
juga ada, lho?"
"Oh, benar juga. Karena tadi tidur
aku tidak sadar."
Melihat Masachika yang setelah itu mulai
mengobrol dengan seru tanpa memedulikan Alisa sedikit pun, Alisa merasa agak
terkejut.
Alisa menyadari bahwa dirinya memiliki
penampilan yang jauh lebih unggul dari orang lain.
Memahami bahwa kecantikan adalah salah
satu senjata dalam hubungan antarmanusia, Alisa yang bijak tentu saja tidak
pernah absen menggembleng dirinya. Walau tidak memakai riasan karena akan
melanggar peraturan sekolah, dia tetap percaya diri memiliki kecantikan yang
tidak akan kalah dari artis-artis di luar sana.
Meski tidak tertarik untuk menarik
perhatian lawan jenis, dia tahu bahwa penampilannya, terutama rambut perak ini,
menarik perhatian orang-orang.
Karena itulah, Masachika yang hampir
menjadi satu-satunya orang yang tidak menunjukkan ketertarikan padanya menjadi
berkesan di matanya.
Namun, setelah mulai memperhatikan
Masachika, Alisa segera menyadarinya.
Masachika bukannya tidak tertarik pada
anak cewek, bukannya tidak tertarik pada orang lain. Dia hanya seorang pemuda
yang tidak ada motivasi terhadap segala hal.
Lupa membawa buku pelajaran. Tertidur
lelap di tengah pelajaran. Baru mengerjakan tugas dengan sangat panik saat jam
istirahat tepat sebelumnya. Menjalani pelajaran olahraga seadanya agar tidak
mencolok. Sikap tak berdaya yang sama sekali tidak terasa memiliki yang namanya
motivasi.
(Biarpun dibilang sekolah ternama,
ternyata murid seperti ini ada di mana-mana ya.)
Sejak saat itu, Alisa kehilangan
ketertarikan pada tetangga duduknya ini.
Yang mengubah hal itu adalah festival
budaya di bulan September.
Festival budaya terakhir di SMP. Bagi
banyak anak SMP itu adalah
masa-masa sibuk dengan ujian, tetapi
karena murid di sekolah ini hampir semuanya naik ke SMA secara eskalator,
belajar untuk ujian tidak terlalu mendesak.
Malah, berawal dari ide Takeshi yang
menjadi panitia pelaksana festival budaya karena ingin melakukan hal besar
untuk yang terakhir kalinya, stan kelas mereka ditetapkan menjadi rumah hantu.
Namun, suasana penuh semangat itu hanya
terjadi di awal saja. Di tahap rapat perencanaan semua orang memang
bersemangat, tetapi begitu pekerjaan persiapan yang sebenarnya dimulai,
kesederhanaan dan kerepotan pekerjaan itu membuat motivasi kelas makin lama
makin merosot.
Merasakan atmosfer tersebut, Alisa sejak
awal sudah bersiap untuk mengambil alih sebagian besar pekerjaan tersebut
seorang diri.
"Aduh!"
Setelah jam sekolah usai. Alisa yang
tersisa seorang diri di kelas sedang membuat kostum. Tanpa sengaja jarinya
tertusuk jarum, lalu dengan cepat dia melepaskan tangannya.
Dia menyentuhkan ujung jarinya yang
mengeluarkan darah ke mulut untuk menghentikannya, lalu menekannya kuat-kuat
agar pendarahan berhenti. Agar tidak meneteskan darah pada kostum yang sedang
dibuat, dia menempelkan plester luka pada lukanya.
Ini bukan pertama kalinya jarinya terluka
karena pekerjaan menjahit yang tidak terbiasa. Plester luka yang terbalut di
jari Alisa sudah mencapai lembar kelima.
Namun, meski meringis menghadapi jari
yang memancarkan rasa sakit berdenyut-denyut, Alisa tetap melanjutkan
pekerjaannya.
Dia tidak boleh menyerah hanya karena hal
sebesar ini. Selama dirinya ikut berpartisipasi, tidak mungkin dia mengeluarkan
stan yang setengah-setengah. Dengan tekad bulat itu, dia kembali menghadapi
kostum tersebut.
"Ah, ternyata masih ada di sini,
ya."
Tepat saat itu. Pintu kelas terbuka
dengan suara berderit, dan Masachika yang tadi mendadak menghilang begitu
homeroom usai kini melangkah masuk.
"Kuze-kun... ada apa?"
"Terima kasih atas kerja kerasnya.
Yah, ada sedikit urusan."
Sambil menyamarkan kata-katanya,
Masachika melirik sekilas ke beberapa lembar dokumen di tangannya. Terpancing
oleh hal itu Alisa ikut melihatnya, tetapi tidak tahu itu dokumen apa.
"Yah, Kujou-san juga pulang saja
hari ini. Pekerjaan di sekitar situ besok kan bisa dikerjakan ramai-ramai lagi
sama yang lain."
Mendengar Masachika yang mengatakannya
sambil mengedikkan bahu, Alisa merasa agak jengkel.
(Kalau bicara santai begitu mana bakal
keburu... Lagipula, dari awal aku yang kerjakan kan karena semua orang tidak
mau mengerjakan.)
Mengubah kejengkelan itu menjadi
penolakan yang jelas, Alisa menepisnya dengan memperkuat nada bicaranya.
"Tidak usah dipikirkan. Aku bakal
pulang setelah mengerjakan sedikit lagi. Jangan hiraukan aku."
"...Aaa~ yah, umm."
Sambil duduk di kursinya Masachika
mengarahkan pandangannya ke sana-kemari sejenak, lalu menggaruk-garuk kepalanya
dan mengucapkannya dengan nada bicara seolah bukan hal besar.
"Mengenai pembuatan kostum, aku
sudah bicara sama klub kerajinan tangan untuk minta bantuan, jadi serahkan saja
sepenuhnya ke sana."
"Eh...?"
Kepada Alisa yang tercengang oleh
kata-kata di luar dugaan itu, Masachika menyodorkan dokumen yang dipegangnya.
"Ini izin penggunaan penginapan.
Kalau acaranya menginap, anak-anak yang motivasinya turun pasti bakal
bersemangat lagi, kan."
"A... yang begini, bagaimana
caranya..."
"Nng~ yah, ke pihak OSIS sedikit
lah. Lalu minta tolong mantan wakil... bukan, mantan Ketua OSIS, terus pakai
koneksinya buat mengurus ini-itu sedikit."
Kepada Masachika yang mendadak
terbata-bata Alisa mengarahkan mata curiga, tetapi Masachika melanjutkan
obrolan seolah menghindari ceceran tersebut.
"Ya... yah, begitu lah
penjelasannya. Sama klub kerajinan tangan sudah sepakat kalau kita bakal
meminjamkan tenaga anak cowok. Kalau dibilang ini kesempatan memperlihatkan
sisi yang bisa diandalkan ke anak cewek klub kerajinan tangan, sebagian anak cowok
pasti bakal senang hati menerimanya, kan. Kalau soal kamp persiapan... yah,
mulai dari sini kerjaannya Takeshi, sih."
"Eh?"
"Pokoknya, hari ini pulang saja
sana. Kujou-san berjuang sendirian pun tidak ada gunanya, kan?"
Atas kata-kata santai Masachika itu,
emosi Alisa yang ditampungnya selama ini meledak secara sengit.
"Tidak ada gunanya... maksudmu
apa?"
Di saat stres menumpuk karena kesulitan
bertarung dengan pekerjaan menjahit yang tidak biasa, solusi justru disodorkan
oleh orang yang selama ini di dalam hatinya diremehkan sebagai orang tanpa
motivasi, lalu usahanya ditampik secara mentah-mentah.
Fakta tersebut menghancurkan benteng
pertahanan di dalam hati Alisa.
Tanpa disadari Alisa menghempaskan kostum
setengah jadi yang dipegangnya ke atas meja dengan keras.
Dengan momentum yang sama dia bangkit
berdiri, lalu menatap Masachika dengan tajam.
"Aku...っ!
Selama aku ikut berpartisipasi, aku ingin menjadikan stan ini hal yang bagus!
Menyambut hari H dengan bentuk yang setengah-setengah, aku tidak akan pernah
mau! Kompromi atau semacamnya, aku sama sekali tidak mau!!"
Alisa sendiri sadar kalau sebagian besar
ini adalah pelampiasan amarah, namun kata-katanya tidak bisa berhenti.
"Tapi... yang begitu, aku tahu kalau
itu cuma kemauanku sendiri! Aku tahu kalau semua orang tidak seserius
tingkatanku! Makanya, aku berusaha keras untuk menutupinya! Apa yang kulakukan
ini ada yang salah!?"
Meluapkan emosi lalu melabrak seseorang.
Bagi Alisa, itu adalah hal pertama yang dilakukannya sejak masa SD.
Gejolak emosi telanjang yang
diperlihatkan oleh Alisa yang biasanya baik atau buruk tidak pernah
memperlihatkan emosinya ke luar.
Terhadap hal itu, mata Masachika
membelalak lebar, namun dia mengatakannya dengan amat sangat jelas.
"Arah usahamu yang salah, kan."
"Eh──?"
Atas bantahan langsung dari depan yang di
luar dugaan itu, Alisa menjadi linglung. Menatap Alisa tersebut secara lurus,
Masachika melanjutkan dengan tenang.
"Stan festival budaya itu bukan
barang yang dibuat seorang diri. Itu kan barang yang dibuat dengan menyatukan
kekuatan bersama semua orang, kan? Kalau ingin menjadikannya stan yang bagus,
bukannya berpasrah diri menganggap semua orang tidak ada motivasi, melainkan
harusnya berpikir bagaimana caranya membuat semua orang jadi bersemangat,
kan?"
"..."
Kepada mata yang menatap lurus itu.
Kepada argumen benar yang tidak bisa dibantah itu. Alisa tanpa sadar ingin
memalingkan wajahnya.
Namun, hal semacam itu tidak diizinkan
oleh harga diri Alisa. Tidak sudi kalah tanpa perlawanan, dia menatap balik
Masachika dengan sekuat tenaga. Namun, sebelum Alisa mengatakan hal lain lebih
jauh,
Masachika mengalihkan pandangannya secara
pelan.
"...Tapi yah, kalau dikatakan dengan
cara begitu pasti bakal jengkel, ya.
Maaf ya. Aku tahu kok kalau Kujou-san
sudah berusaha keras, dan tidak ada niat untuk menampik hal itu."
"A──"
Diberi permohonan maaf sambil menundukkan
kepala secara ringan, Alisa menjadi tidak tahu harus bagaimana.
Pelampiasan amarah dibalas dengan
permohonan maaf, membuat tinju
yang diangkatnya kehilangan arah.
Lebih dari apa pun, "Aku tahu kok
kalau Kujou-san sudah berusaha keras". Kata-kata itu rasanya begitu
menghujam dadanya hingga membuatnya tidak bisa bernapas.
"...Aku pulang."
Pada akhirnya, setelah hanya sanggup
memeras kata-kata itu, Alisa mencengkeram tasnya lalu keluar dari kelas dengan
langkah cepat.
(Ada apa sih... Ada apa coba, ah!)
Berbagai emosi berkecamuk membuat dadanya
bergejolak, berusaha ditenangkannya mati-matian sambil melangkah di dalam
lingkungan sekolah. Berpura-pura tidak menyadari rasa tidak puas, penyesalan,
dan kegembiraan samar yang tersembunyi di baliknya.
◇
──Keesokan
harinya.
"Teman-teman sekalian! Kamp
persiapaaan!!"
Rapat menuju festival budaya dimulai
dengan teriakan lantang Takeshi yang semangatnya meledak-ledak.
Kepada para teman sekelas yang bingung
tanpa tahu apa yang terjadi,
Takeshi dengan nada suara bersemangat
menjelaskan bahwa Masachika telah berhasil mendapatkan izin penggunaan
penginapan.
"Sambil
melanjutkan persiapan festival budaya, malam harinya kita manfaatkan gedung
sekolah buat main petak sempetik sama uji nyali! Dilengkapi dengan berbagai
macam rekreasi, ini adalah festival pra-pra-pra-pesta khusus buat kita semuaa!!
Uwoooーーーー!!"
Melihat Takeshi yang hilang kendali,
teman-teman sekelas mengulas senyum kecut sambil menuturkan "Jangankan
pra-pra-pra, ini kan seminggu sebelumnya" atau "Bukannya mainnya yang
malah jadi menu utama daripada persiapannya?", namun seolah terseret oleh
semangat tersebut mereka memperlihatkan sikap berantusias.
Tanpa disadari jadwal untuk hari H pun
disusun, dan saat rapat berakhir semua orang membicarakan tentang hari H dengan
tampak menyenangkan.
Hal itu merupakan keseruan yang melebihi
saat perencanaan stan festival budaya pertama kali dilakukan.
Dan, menyambut hari H kamp persiapan.
Ditambah dengan rekreasi malam hari, para anak cowok yang dipancing umpan
berupa masakan buatan para anak cewek memperlihatkan kerja keras yang luar
biasa, membuat pekerjaan berlangsung dengan kecepatan tinggi.
Tingginya semangat bertempur tersebut
terus berlanjut hingga seusai kamp, dan pada hari H festival budaya stan rumah
hantu dengan kualitas yang menjadi target Alisa... tidak, kualitas yang
melebihi hal tersebut telah selesai dibuat.
Pada akhirnya jumlah penjualan menjadi
yang tertinggi di antara seluruh stan yang ada, hingga berujung meraih
penghargaan.
"Ah..."
"Aaah, terima kasih atas kerja
kerasnya. Kujou-san."
Pasca-festival setelah semuanya berakhir.
Di saat para siswa membuat lingkaran dan menari folk dance di halaman sekolah,
Alisa yang melangkah menuju gedung sekolah sambil melirik hal tersebut,
berpapasan dengan Masachika yang sedang duduk di tangga depan pintu masuk.
Masachika bertopang dagu di atas
lututnya, sambil menatap ke arah halaman sekolah dengan ekspresi agak tersenyum
kecut.
Saat Alisa mengikuti arah pandangan
tersebut, di sana terdapat sosok
Takeshi yang tampaknya sedang menyapa
para siswi secara serampangan, dan berlawanan dengannya terdapat sosok Hikaru
yang diajak menari secara bergantian oleh para siswi.
"Haha, mereka berdua juga merepotkan
ya."
"...Kamu tidak pergi?"
Ditanya oleh Masachika yang tertawa
seolah hal itu sepenuhnya urusan orang lain, Masachika menaikkan sebelah
alisnya lalu mengedikkan bahu.
"Nng? Yah soalnya aku tidak punya
pasangan menari sih... Lagipula, sekolah ini dalam hal begini berasa zaman
Showa banget ya. Zaman sekarang pasca-festival pakai folk dance... yah,
untungnya tidak sampai ada api unggun, sih."
"...Bolehkah aku duduk di
sebelahmu?"
"Nng? Ah, boleh saja... Tidak
apa-apa tidak menari? Kalau Kujou-san kan pasti banyak yang mengantre? Ah,
jangan-jangan tidak bisa menari folk dance?"
"Tidak sopan ya. Biarpun begini
waktu kecil aku pernah ikut balet, tahu? Kalau cuma tarian sekelas itu bisa
langsung kutarikan. Yah, karena malas jadi kubilang tidak bisa menari lalu
kutolak ajakannya."
Sambil mendenguskan napas dari hidung dan
menyapu rambutnya ke belakang, Alisa duduk di samping Masachika.
"Kalau begitu... terima kasih atas
kerja kerasnya."
"Tidak juga? Karena sudah biasa jadi
bukan hal besar kok."
"Begitu toh. Seperti yang diharapkan
dari Putri yang Menyendiri."
"Apa-apaan itu?"
Melihat Alisa yang menaikkan alisnya
dengan raut heran, Masachika mengatakannya dengan wajah terkejut.
"Eh? Kamu tidak tahu? Kujou-san
akhir-akhir ini dipanggil begitu lho sama siswa lain."
"...Huu~um."
"Kok, kelihatannya tidak terlalu
senang?"
"Ya, rasanya tidak terlalu
senang."
"Kenapa? Karena diusili gara-gara
menyendiri?"
"Bukan yang itu. Lalu, bisakah kamu
menghentikan cara bicara yang meremehkan itu?"
"Maaf."
Ditatap tajam, Masachika menciutkan
lehernya. Kepada Masachika yang bercanda sambil memajukan bibir bawahnya seolah
bilang "Aku dimarahi nih", Alisa menghela napas lalu berkata.
"Yang tidak kusukai itu, bagian
'Putri'-nya."
"Kenapa? Padahal itu pujian biasa,
kan."
"Masa sih? Kalau bagiku itu
terdengar seperti penghuni di dalam mimpi yang tidak tahu rasanya
berjuang."
"Aaa~ yah, ada juga ya sudut pandang
seperti itu."
"Memang benar aku terlahir dengan
penampilan dan bakat yang melebihi orang pada umumnya. Tapi, aku tidak pernah
sekalipun memangku tangan di atas hal itu. Mengatakan usahaku selama ini
seolah-olah cuma karena kelahiranku yang bagus itu sungguh tidak
menyenangkan."
"Paham."
Mendengar Alisa yang menegaskannya secara
mantap bahwa hal itu tidak menyenangkan, Masachika menunjukkan kepahamannya.
"Kalau begitu, aku tidak akan
memanggilmu dengan sebutan seperti itu lagi."
"Baguslah."
Setelah mengatakannya seolah tidak
peduli, Alisa berkata dengan tenang sambil tetap mengarahkan pandangannya ke
depan.
"...Terima kasih ya, Kuze-kun."
"Nng? Untuk apa?"
"Aku... mungkin baru pertama kali
ini mengakhiri festival budaya dengan perasaan yang semenyenangkan ini."
Stan kelas itu, selalu menjadi hal yang
menyusahkan bagi Alisa.
Selalu saja dirinya yang harus mengcover
anggota lainnya, dan saat berakhir rasa lelah jauh lebih tersisa daripada rasa
pencapaian.
Tapi, kali ini berbeda. Persiapan yang
dikerjakan bersama dengan bekerja sama di kelas itu sangat menyenangkan.
Rasa pencapaian yang diraih bersama semua
orang jauh lebih besar daripada rasa pencapaian yang dituntaskan seorang diri,
dan saat ini di dalam rasa lelah ada semacam rasa segar yang menyegarkan.
"Memang benar, aku yang salah. Kalau
aku mencoba mengerjakannya sendiri, aku tidak akan bisa menghabiskan festival
budaya dengan perasaan seperti ini... Lalu, maaf ya. Waktu itu aku melampiaskan
amarah padamu."
Mendengar Alisa yang meminta maaf secara
jelas meski sambil memalingkan pandangan, Masachika mengibaskan tangannya
karena merasa tidak nyaman.
"Tidak usah dipikirkan. Lagipula,
aku cuma mengurus prosedur ringan saja, tidak bekerja dua kali lipat seperti
Takeshi atau Kujou-san."
Memang benar, yang secara nyata menarik
dan menggerakkan teman sekelas adalah Takeshi. Tapi, yang menggerakkan Takeshi
dan menyiapkan seluruh panggungnya adalah Masachika.
Ditambah lagi, meski kelihatan
berkeliaran tanpa motivasi, kenyataannya dia merapikan lingkungan agar semua
orang di kelas mudah bekerja, dan setiap saat selalu memberikan follow up.
Yang bersangkutan memang bilang tidak
melakukan hal besar, tetapi Alisa tahu bahwa Masachika-lah sosok yang paling
berjasa.
"Aku yang memikirkannya. Sebagai
permintaan maaf karena sudah melampiaskan amarah... dan sekaligus ucapan terima
kasih untuk kali ini, aku ingin melakukan sesuatu. Apa kamu punya
permintaan?"
"Ucapan terima kasih... ucapan
terima kasih, yaa?"
"Jawaban seperti tidak perlu itu
tidak berlaku, ya."
"Uuu~m..."
Kepada Masachika yang jalan kaburnya
sudah ditutup terlebih dahulu oleh Alisa, dia sempat memutar otak sejenak, lalu
mendadak melempar
pertanyaan tanpa hubungan sebab-akibat.
"Ngomong-ngomong, di Rusia kan ada
kebiasaan saling memanggil dengan nama panggilan kesayangan yang khusus, kan?
Alisa kalau di Rusia nama panggilan kesayangannya apa?"
"Apa? Tiba-tiba sekali."
"Alisha? Nggak, Alishka, Alichka
gitu? Rasanya nama panggilan kesayangan Rusia itu seperti itu, kan?"
"...Alya. Kalau sama keluarga
dipanggil Alya."
"Begitu ya... kalau begitu, sebagai
ganti permintaan maaf dan ucapan terima kasih, bolehkah aku minta hak untuk
memanggilmu Alya?"
"Apa-apaan itu. Di belah mananya
yang ucapan terima kasih?"
Melihat Alisa yang menaikkan alisnya
karena tidak memahami
maksudnya, Masachika mengulas senyum
nihilistik.
"Seorang pria yang memanggil idola
kelas yang diidam-idamkan semua orang dengan nama panggilan kesayangan seorang
diri. Nikmat bangett!!"
"Kamu bodoh, ya?"
"Terima kasih banyak!!"
"Jijik."
Mendengar Masachika yang mendadak mulai
mengatakan hal bodoh, Alisa melontarkan kata-kata dengan ekspresi ilfil. Di
sana, salah satu siswa laki-laki yang sejak tadi berkumpul di sekitar
menyapanya.
"A-anu, Kujou-san. Kalau tidak
keberatan maukah menari denganku?"
"Ah, kamu jangan mendahului dong!
Alisa-san, sebenarnya sejak dulu
aku selalu tertarik padamu. Menarilah
denganku!"
"Jangan
menyatakan cinta di tengah kesempatan begini dong! Kalau gitu aku juga──"
Diawali oleh seorang siswa laki-laki yang
menyapa, seketika lima atau enam siswa laki-laki berkumpul mengerubungi Alisa.
Tampaknya, karena sudah waktunya last
dance, mereka memberanikan diri.
"Maaf. Saya tidak bisa menari."
"Tidak apa-apa. Aku pandai menari
kok, nanti kuajari."
"Haa? Aku yang lebih pandai. Iya
kan, lebih baik sama aku saja?"
"Bukan begitu, beneran deh, cuma
perlu menggerakkan tubuh mengikuti musik saja kok!"
Meski Alisa menolaknya secara tegas
sambil meminta maaf, para siswa yang bersemangat merasa dirinya paling bisa itu
sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mundur.
Menghadapi para siswa yang sedikit demi
sedikit makin mendekat, Alisa menyempitkan matanya lalu berdiri.
"Kalian
ini──"
Dan, tepat saat Alisa hendak menebas dan
membuang mereka dengan kata-kata tanpa ampun.
Tiba-tiba, tangan kanan Alisa ditarik
dengan kuat ke samping.
", dia sudah ada janji duluan. Ayo
pergi, Alya."
Masachika mengatakannya agar terdengar
oleh para siswa itu, lalu
sambil tetap menggenggam tangan Alisa dia
mulai melangkah ke arah halaman sekolah.
"Tun-tunggu...!"
Meskipun melayangkan suara protes atas
keputusannya yang terlalu paksa, Alisa berburu-buru mengikutinya dari belakang.
Harusnya, jika biasanya dia akan
memaksakan diri mengibaskan tangan lalu melempar satu tamparan, tetapi Alisa
saat itu mengikutinya dari belakang Masachika dengan sangat penurut hingga
membuat dirinya sendiri merasa heran.
Jantungnya berdegup kencang. Matanya
tidak bisa lepas dari punggung lebar Masachika yang berjalan di depan.
Kalau dipikir-pikir, pengalaman pegangan
tangan dan ditarik secara paksa oleh lawan jenis itu sendiri merupakan
pengalaman pertama bagi Alisa.
(Benar, ini cuma karena baru pertama kali
jadi aku sedikit bingung.
Tidak ada arti yang lebih dari itu kok!)
Tepat saat Alisa meyakinkan dirinya
sendiri seperti itu, Masachika
berhenti di antara lingkaran para siswa,
dan di saat yang sama lagu terakhir mulai mengalun.
"Nah nah, bukannya tadi kamu bilang?
Karena pernah ikut balet, kalau cuma folk dance mah begitu lihat pasti
bisa."
"Eh... ya, lalu kenapa?"
Kepada Alisa yang bertanya balik sambil
berusaha keras menata kembali pikirannya, Masachika mengulas senyum provokatif.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kutonton kebolehanmu? Pu・tri・san?"
Cara bicara yang menggoda. Mengingat
percakapan sebelumnya, maksud hal itu sangatlah jelas.
"...Boleh juga keberanianmu. Jangan
sampai memperlihatkan wujud yang menyedihkan, berusaha keraslah sekuat tenaga
buat mengimbangiku ya."
"Jangan terlalu bersemangat sampai
menginjak kakiku, ya? Alya-chan?"
"...っ,
Siapa takut!"
Melihat Masachika yang mengulas senyum
memprovokasi yang bikin jengkel, Alisa menaikkan alisnya dengan pipi kedutan.
Terhadap last dance yang seharusnya
ditarikan oleh sepasang orang yang saling menyukai, kedua orang ini justru
menghadapinya dengan atmosfer yang sama sekali tidak ada manis-manisnya. Pada
awalnya mereka memang menari sama seperti sekeliling, namun sedikit demi
sedikit langkah tarian Alisa mulai keluar dari teori dasar.
Sambil merentangkan lengan dan kakinya
yang panjang secara anggun, Alisa menari dengan ringan di halaman sekolah malam
hari. Meski pas dengan lagunya, tarian itu sudah bukan lagi barang yang bisa
dijuluki folk dance.
Namun, Masachika menyamakan gerakannya
dengan tepat terhadap keliaran pasangannya tersebut. Bukannya mengimbangi
secara sejajar.
Namun, dia juga tidak terseret.
Agar tidak mengganggu pasangannya, tetapi
di saat yang sama mengatur pergerakan dengan baik agar tidak terlalu liar.
Pertarungan mereka berdua, dengan membagi peran secara jelas sebagai pemeran
utama dan pemeran pembantu, secara ajaib terwujud sebagai sebuah tarian.
(Aah, begitu... kamu itu, orang yang
seperti itu ya.)
Di saat sedang menari seperti itu, ada
hal yang berhasil dipahami Alisa
dengan mengendap di dalam dadanya. Tarian
ini, cara mengatur pergerakan inilah sosok Masachika yang sebenarnya.
Dirinya tidak maju ke depan, melainkan
membantu orang lain. Dirinya
fokus berada di bayang-bayang, membuat
orang lain bersinar. Begitulah sosok manusia bernama Masachika.
"Fufu... Ahahaha!"
Tanpa disadari, Alisa tertawa. Tarian
yang dimulainya sebagai sebuah pertarungan, tanpa disadari dinikmati Alisa dari
dasar hatinya.
Namun, waktu itu tidak berlangsung lama.
Tak lama kemudian lagu berakhir, dan tarian pun usai. Sambil merasakan
keengganan untuk berpisah, begitu melepaskan tangan dari Masachika dia
membungkuk memberi hormat.
"Yah, seperti yang diharapkan kamu
hebat ya. Mengimbangimu saja sudah batas maksimal bagiku."
"Ya, sangat menyenangkan."
Atas kata-kata jujur dari Alisa,
Masachika mengedipkan matanya dengan ekspresi terkejut.
"...Kalau begitu, yah aku mau balik
duluan."
"Ara? Kamu tidak mau
mengawalku?"
"Ampuni aku. Kalau melakukan hal
seperti itu aku bisa dibunuh sama anak-anak cowok yang gila karena
cemburu."
"Huu~um, begitu. Itu informasi yang
bagus."
Kepada Masachika yang menciutkan
lehernya, Alisa mengulas senyum cengengesan, lalu dengan luwes menggamitkan
tangannya ke lengan Masachika.
"Tung-apa──"
"Kalau begitu, tolong kawal aku
ya?"
"...Maksudmu, menyuruhku mati?"
"Ini hukuman karena sudah
memanggilku putri."
"Ugeeh..."
Sambil memasang ekspresi lemas, namun
tanpa mengibaskan tangannya Masachika mulai melangkah, melihat hal itu Alisa
tertawa bersemangat karena merasa akhirnya berhasil membalasnya.
Baru sekarang rasa malu atas tindakannya
sendiri mulai terasa, tapi saat ini
perasaannya jauh lebih menyenangkan dari itu. Berjalan berdampingan bersama
seseorang. Hal itu membuatnya merasa sangat senang.
Di dalam perjalanan singkat menuju gedung
sekolah. Alisa merasakan bahwa rasa kesepian dan rasa terasing secara samar
yang dirasakannya sejak masa SD dulu, sedikit demi sedikit meleleh dan
menghilang...
...Begitulah yang Alisa rasakan. Namun,
keesokan harinya.
"Selamat pagi. Alya, sori. Boleh
lihat buku pelajaran Bahasa Jepang Modern milikmu?"
Masachika kembali menjadi Masachika yang
tidak ada motivasi seperti biasa.
"..."
"O-oh, ada apa? Alya. Kenapa
tatapanmu seperti sedang melihat sampah begitu?”
"Dasar sampah."
"Galak amat!?"
"...Haah."
Mendengar Masachika yang menjerit sambil
tersenyum kecut, Alisa sengaja menghela napas panjang untuk diperlihatkan, lalu
memalingkan wajahnya.
Lalu, sambil tetap memalingkan wajah dia
menyodorkan buku pelajaran Bahasa Jepang Modern secara kasar, lalu membisikkan
satu kata dalam bahasa Rusia.
【昨日はかっこよかったのに】(Kemarin kamu keren, padahal)
Begitulah, dia berbisik pelan.
Setelah itu pun, Masachika tidak berubah.
Selalu saja tidak ada motivasi dan
membuat Alisa heran, padahal saat
situasi darurat dia jauh lebih bisa
diandalkan daripada siapa pun.
Dengan wajah seolah bukan hal besar, dia
membantu dengan santai.
Bagi Alisa yang menganggap semua orang di
sekelilingnya sebagai saingan, gerak-gerik Masachika tersebut terlihat aneh...
namun di saat yang sama, membuatnya merasa tenang.
Fakta bahwa dirinya tidak perlu bersaing
dengan orang ini. Tidak perlu memperebutkan siapa yang lebih unggul, membuat
hati Alisa menjadi ringan. Sejak saat itu, Alisa menjadi bisa berhubungan
dengan Masachika tanpa perlu merasa terbebani sedikit pun.
Kemarahan karena merasa gemas dengan
kurangnya motivasi sehari-harinya, atau menggodanya karena merasa kesal dengan
sikapnya yang selalu santai. Merasa jengkel dengan posisinya yang seolah
mengawasi dari satu tingkat di atas, memperlihatkan celah dalam bahasa Rusia,
lalu tertawa melihat konyolnya Masachika yang tidak menyadari hal itu.
Di saat menghabiskan hari-hari seperti itu, tanpa disadari…
◇
"Kamu jadi suka padanya, ya~
Romantisnya!"
Melihat Maria yang menepuk-nepuk
tangannya sambil bersuara gembira, Alisa menghela napas.
"Makanya... sudah kubilang bukan.
Kamu dengar cerita aku tidak, sih?"
"Eee~? Didengar seperti apa pun itu
terdengar seperti cerita bagaimana kalian berdua bisa saling menyukai,
tahu?"
"Jangan bicara dengan istilah yang
aneh-aneh. Tadi kan sudah kubilang kalau kami ini teman?"
"Yup yup, dari teman menjadi
kekasih. Alur utama yang klasik ya~. Aku dan Saa-kun juga dulu begitu kok~. Iya
kan~? Saa-kun."
Sambil menarik liontin emas dari belahan
dadanya yang sangat dalam itu, Maria berbicara kepada foto yang ada di dalamnya
dengan ekspresi yang sangat cengengesan.
Jika ini komik, rasanya simbol hati sudah
berhamburan dari kepalanya.
Melihat kakaknya yang sudah sepenuhnya
masuk ke mode gadis kasmaran, Alisa mengarahkan pandangan yang dingin.
"Tapi yah... benar juga. Mengenai
kemampuannya... aku mengakuinya, dan aku juga memercayainya."
Kepada Alisa yang menyampaikannya seolah
enggan sambil memalingkan pandangan, Maria mengangguk sambil menatap foto
kekasihnya.
"Yup
yup, anak cowok yang bertindak saat dibutuhkan itu keren ya. Saa-kun juga
begitu. Dulu, penampakan punggung Saa-kun saat menolongku yang diserang anjing!
Saat itu benar-benar──"
"Kalau mau pamer kemesraan bisakah
kamu keluar saja?"
"Ih, Alya-chan dingin sekali!"
Kepada Maria yang menggembungkan pipinya,
Alisa mengarahkan pandangan dingin.
"Lalu, aku dari dulu lebih menyukai
orang yang pekerja keras."
"Alya-chan tidak paham deh. Sisi
maskulin yang diperlihatkannya pada momen tak terduga oleh dia yang biasanya
tidak bersemangat! Justru itu yang bagus tahu~!"
"Itu perbedaan pandangan, ya. Kalau
aku, lumayan buat aku jengkel dari dasar hati terhadap Kuze-kun yang biasanya
tidak ada motivasi itu."
Apakah karena mengingat berbagai hal saat
sedang berbicara, Alisa melanjutkan dengan memperkuat nada bicaranya.
"Beneran deh, dia sering lupa
membawa barang, tertidur di tengah pelajaran, lagipula! Seberapa sering pun
ditegur sama sekali tidak merasa bersalah! Selalu saja tersenyum-senyum lalu
mengelak dengan santai... yah, tapi justru karena itulah aku jadi bisa merasa
tenang mengatakan apa pun yang kusukai padanya, sih..."
"Yup yup. Artinya, di antara kalian
berdua ada hubungan saling percaya yang pasti, kan?"
"Kenapa bisa menyimpulkan
begitu?"
"Mau dikatakan apa pun, kalau
Kuze-kun pasti tidak akan pernah pergi menjauh. Justru karena paham hal itulah
Alya-chan jadi bisa berbicara tanpa beban dengan Kuze-kun, kan? Lalu, Kuze-kun
juga mengizinkan hal itu. Bukankah itu hubungan saling percaya yang luar
biasa?"
Atas teguran tajam yang di luar dugaan
itu, Alisa sempat bungkam sejenak. Namun, dia segera menata diri lalu membalas
dengan penolakan.
"Bukan begitu. Kuze-kun itu dari
sudut pandang siapa pun adalah murid yang sepantasnya ditegur, jadi aku bisa
menegurnya tanpa ragu. Memang... dalam artian tertentu, aku mengakui kalau dia
adalah lawan bicara yang tidak perlu membuatku canggung. Tapi, bukan berarti
hal itu langsung terhubung dengan perasaan cinta, kan? Lagipula, yang namanya
suka itu kan yang seperti itu, kan? Yang... ingin kencan, ingin ciuman, yang
seperti itu, kan? Aku tidak pernah memikirkan hal semacam itu kok..."
Melihat Alisa yang memalingkan matanya
dengan malu-malu saat mengucapkannya sendiri, Maria mengatupkan kedua tangannya
lalu mengulas senyum lembut.
"Alya-chan, imutnya."
"Apa-apaan itu... kamu
meremehkanku?"
"Mana ada begitu? Begini ya,
Alya-chan. Kencan atau ciuman, tidak perlu hal-hal spesial seperti itu. Kalau
sama orang yang disukai, cuma ngobrol atau saling bersentuhan saja sudah bikin
perasaan jadi spesial kok."
Sambil membusungkan dadanya yang besar
itu dengan bangga, Maria berbicara dengan wajah sok tahu. Atas kata-kata itu,
alis Alisa bergerak sedikit.
"...Spesifiknya seperti apa?"
Kepada Alisa yang tidak biasanya
terpancing bertanya, Maria yang berpikir akan diabaikan seadanya seperti biasa,
mengedipkan matanya seolah agak terkejut lalu memasang mata seolah menatap jauh
ke depan.
"Huu~m,
benar juga ya... Yang paling mudah dipahami itu, berpegangan tangan mungkin?
Tanpa perlu sampai sejauh itu pun, cuma tangan dan tangan saling bersentuhan
saja kalau sama orang yang disukai pasti bikin berdebar-debar lho. Rasanya malu
sampai ingin berteriak wah begitu, tapi tidak merasa benci. Rasanya seperti
perasaan bahagia, lalu dengan begitu──"
"...Malu, sampai ingin
berteriak..."
Apakah karena makin bersemangat saat
berbicara, Maria berbicara tentang apa itu cinta dengan ekspresi gadis remaja
seorang diri sambil terjerit-jerit gembira, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya
sambil menatap foto kekasihnya.
Di depannya, Alisa menatap lurus ke arah
kakinya sendiri, lalu tanpa ragu menyodorkan kaki kanannya ke depan Maria.
"? Apa? Ada apa? Alya-chan."
"Maaf. Boleh tolong lepaskan ini
sebentar?"
"Eh? Kenapa?"
Meskipun Maria mengedipkan matanya atas
permintaan mendadak yang tidak dapat dipahami ini, apakah karena merasakan
sesuatu dari ekspresi Alisa, dia perlahan berpindah di atas karpet lalu
memegang kaki kanan Alisa.
"Nng..."
Tangan Maria perlahan melepas knee-high
socks milik Alisa. Alisa memperhatikan hal itu dengan ekspresi yang agak tajam.
"Nih, sudah kulepas, tapi... kaki
kiri juga?"
Maria yang mengarahkan pandangannya ke
kaki kiri Alisa dengan ekspresi heran, Alisa berkata sambil mengerutkan dahi.
"...Nggak, tolong pakaikan sekali
lagi."
"Eh? Maksudnya bagaimana?"
"Sudah pakaikan saja."
"...I~ya deh."
Dengan ekspresi tidak paham, tangan Maria
kembali memakaikan knee-high socks yang tadi dilepasnya. Sambil memperhatikan
hal itu dengan cermat, ekspresi Alisa makin lama makin tajam.
"Nih, sudah kupakaikan. ...Tapi ada
apa?"
Maria mendongak menatap wajah Alisa
dengan ragu dan hati-hati.
Tanpa memedulikan pandangan itu, Alisa
yang menatap kakinya sendiri dengan ekspresi tajam mendadak menghembuskan napas
pelan lalu bangkit dari duduknya.
"...Tidak bisa. Ternyata Maria tidak
bisa dijadikan referensi."
"Maksudnya bagaimana!? Aku tidak
tahu apa yang terjadi tapi Onee-chan agak sakit hati lho!"
"Iya iya, sudah selesai kan? Aku mau
ganti baju jadi keluarlah."
"Uu... Alya-chan, Lagi masa memberontak ya? Bagaimana ini
Saa-kun. Alya-chan masuk masa pembangkangan."
Setelah mengusir Maria yang menjatuhkan
bahunya dengan ekspresi lesu ke luar kamar, Alisa kembali menjatuhkan
pandangannya ke kaki kanan sendiri, lalu dengan perlahan menyapukan jarinya di
pahanya sendiri.
Merasa agak malu dia mengangkat wajahnya,
dan di sana terdapat cermin berdiri yang besar. Alisa yang terpantul di sana,
pipinya tampak memerah tipis.
"Mmh..."
Seolah menolak dirinya yang seperti itu,
Alisa memasang wajah masam.
Lalu, kepada seorang pemuda yang
terbayang di dalam kepalanya, dia berbisik dengan ekspresi tajam.
【違うから】(Bukan begitu)
Bahasa Rusia yang dibisikkannya secara pelan itu, meleleh dan menghilang ke udara kamar tanpa sampai ke telinga siapa pun.



Post a Comment