Bab 6: Baru
Pertama Kali Ini Aku Melihat Tanda-Tanda Kematian
Taman yang berada di dekat rumah Kakek.
Dalam perjalanan pulang dari sekolah dasar, aku berlari menuju ke sana seperti
biasa.
Saat aku melihat ke sekeliling dari pintu
masuk taman, aku melihatnya sedang duduk manis di atas alat permainan berbentuk
kubah yang memiliki beberapa lubang.
【O~i, ────!】
Saat aku berlari menghampirinya sambil
memanggil namanya, dia pun langsung berbalik ke arah sini, tersenyum lebar
dengan gembira, lalu melambai-lambaikan tangannya.
【Masaachika!】
【Makanya, namaku itu Masachika, tahu】
Aku membetulkannya sambil tersenyum kecut
seperti biasa, tetapi dia tidak tampak memikirkannya dan tertawa dengan
gembira. Melihat senyuman itu, aku pun berujung jadi merasa "Yah,
sudahlah".
【Masaachika juga, naiklah ke sini!】
【Eee~?】
【Cepat, cepat!】
【Mau bagaimana lagi, ya】
Pada alat permainan berbentuk kubah itu
terpasang tangga di bagian sisinya, dan setelah meletakkan tas sekolahku di
tempat itu, aku memanjatnya dengan sekuat tenaga menggunakan tangan dan kaki
kecilku.
【Ya~, sam~pai】
Saat aku memanjat hingga ke puncak kubah,
dia menyambutku sambil tertawa. Rambut emas panjangnya berkilauan diterpa sinar
matahari terbenam. Mata birunya yang menyempit gembira ke arahku, sampai
sekarang pun masih kuingat.
【Lihat, lihat! Matahari terbenamnya cantik banget!】
【Beneran. Cantik, ya】
Kami berdua duduk berdampingan sambil
menatap matahari terbenam, kami terus melanjutkan obrolan yang biasa-biasa
saja. Walau kubilang begitu, kurasa sebagian besar hanya aku saja yang
berbicara secara sepihak.
【Terus, katanya Sekolah Seirei itu dulu sekolahnya
Ibu sama Ayah. Padahal sekolahnya susah banget, tapi katanya kalau nilaiku sih
gampa~ng】
【Hebat ya. Masaachika itu, benar-benar bisa
melakukan apa saja, ya!】
【Hehe, tidak juga kok】
Terhadap cerita pamer khas anak laki-laki
pun, dia membalasnya dengan pujian murni tanpa memasang wajah enggan sedikit
pun. Aku menyukai senyumannya.
Saat dipuji olehnya aku merasa senang dan
bangga, sehingga usaha seberat apa pun tidak terasa menyusahkan.
Belajar, olahraga, maupun musik, demi
dirinya aku bisa berjuang seberapa banyak pun.
【Ah, sudah harus pulang...】
Saat matahari tenggelam, di sanalah kami
berpisah. Itulah aturan kami berdua.
【Kalau begitu, sampai besok ya. Masaachika】
【Yup, sampai besok. ────】
Saat berpisah, dia merengkuhku dengan
erat, lalu memberiku ciuman ke pipi secara ringan.
Meskipun aku merasa malu dan tidak bisa
membalasnya, sebenarnya
aku
merasa sangat senang. Dia yang melepaskan tubuhnya, sambil tertawa gembira──
"Dooom!"
"Uboahh!?"
Tiba-tiba, sebuah benturan dahsyat
menghantam dari perut hingga ke dada, membuatku terbangun secara paksa
"Gohak! Ga, kahak"
"Gud morning, mai braza~"
"Uweh... Gara-gara kamu barusan,
jadinya sudah tidak good lagi tahu!"
Setelah mengendalikan napasku sebisa
mungkin, aku menatap tajam
Yuki yang mengulas senyum cengengesan di
atas tubuhku. Lantas, Yuki menaikkan sebelah alisnya dengan raut merasa
keberatan.
"Oi oi, kenapa kamu marah-marah? Ini
kan body press saat bangun tidur oleh adik perempuan imut yang diidam-idamkan
oleh seluruh anak cowok SMA di dunia. Berbahagialah"
"Jangan ngomong seolah-olah ini
dokkiri bangun tidur dong. Ini mah murni DV (KDRT)"
"Murni Dear (tersayang) Venus (dewi)? Deuh~
Onii-chan ini beneran sis-con♡"
"Domestic Violence tahu!
Interpretasi dari sudut mana coba!"
"Muu... Apanya yang tidak kamu sukai
sampai segitunya?"
"Semuanya. Semuanya"
Saat aku mengatakan itu, Yuki mengerutkan
dahi di antara kedua alisnya sambil memikirkan sesuatu, lalu mendadak memajang
wajah
"Aah" dan menjentikkan jarinya.
"Yang itu ya. Bukannya tipe body
press saat bangun tidur, melainkan tipe yang pengin adiknya menyusup ke samping
saat bangun pagi"
"Yang begitu, kalau dilakukan secara
riil rasanya lumayan mengerikan tahu?"
"Eh? Kalau begitu... jangan-jangan
tipe yang pengin adiknya menyusup ke bawah tempat tidur? Mania~k banget"
"Itu mah murni horor tahu!"
"Mau bagaimana lagi ya~ Kalau begitu
lain kali aku bakal menyusup ke bawah tempat tidur dulu, lalu pas kamu turun
dari tempat tidur bakal kupegang kakimu ya?"
"Kamu ini sebenarnya mengincar
posisi apa coba..."
"Adik perempuan yang memasang
jebakan horor saat bangun tidur, bukannya baru banget?"
"Kelewat baru sampai tidak bisa
kuikuti tahu... Lagipula, cepat singkirkan badanmu"
Saat aku mengatakan itu kepada Yuki yang
masih berada di atas tubuhku sambil menggerak-gerakkan kakinya, Yuki mengulas
senyum nakal lalu memiringkan kepalanya sedikit.
"Kenapa? Gara-gara merespons
ya?"
"Mati sana"
Aku menatap tajam adikku dari jarak dekat
dengan tatapan sedingin es karena lelucon mesum yang dilontarkannya sejak
pagi-pagi, tetapi Yuki malah terkekeh sambil turun dari atas tubuhku dan keluar
dari kamar.
"Haah, beneran deh..."
Di sana aku akhirnya menegakkan tubuh,
lalu duduk di tepi tempat tidur.
"..."
Sebuah mimpi yang dirindukan. Kenangan
cinta pertama. Kenangan saat diriku paling bersinar dalam kehidupanku hingga
saat ini. Aku bertemu dengannya di taman itu, dan bermain bersama secara puas.
Karena ingin mengobrol dengannya, aku
belajar bahasa Rusia dengan serius.
Biarpun hubungan orang tuaku tidak
harmonis, biarpun aku
ditinggalkan sendirian di rumah Kakek,
karena ada dirinya aku tidak merasa kesepian.
Benar, aku memang benar-benar jatuh cinta
pada anak itu. Tapi... sekarang ini wajah maupun namanya sudah tidak bisa
kuingat dengan benar.
"...Cih"
Bagaimanapun juga, aku memang anak dari
ibu yang seperti itu.
Seseorang yang pada suatu masa pernah
kusukai dengan sungguh-sungguh pun bisa kulupakan dengan mudahnya sebagai
manusia yang tidak punya perasaan.
Di dalam dadaku, hal yang dingin menumpuk
sedikit demi sedikit.
Perasaan cinta dan motivasi yang membara
pada masa itu, sudah tertimbun di bawahnya dan tidak bisa terlihat lagi.
Ada pemicu yang membuatku kehilangan
motivasi. Aku bisa menyalahkan seseorang atas hal itu. Tapi, seberapa banyak
pun alasan yang kubuat dan menyalahkan siapa pun, pada akhirnya akan berujung
pada kesimpulan sederhana bahwa diriku sendiri hanyalah sampah pemalas yang
menyukai kemudahan.
Mengagumi usaha, membenci usaha, dan
menyadari bahwa dirinya adalah sampah sehingga merasa lebih mending daripada
sampah yang tidak sadar diri, seorang sampah yang menghibur hatinya sendiri
dengan kepuasan diri tingkat rendah. Itulah diriku.
"Orang seperti ini... mana mungkin
pantas ikut OSIS, kan?"
Terlebih lagi, jika itu Wakil Ketua OSIS.
Justru karena aku tidak bisa menolak permintaan Yuki lalu menjadi pasangannya
dan berujung menjadi Wakil Ketua OSIS tingkat SMP, makanya aku tahu. Jabatan
itu bukanlah barang yang boleh diisi tanpa adanya semangat maupun kesiapan apa
pun.
Saat kemenangan pemilihan Yuki telah
ditetapkan, aku melihat sosok calon lain yang menangis sesenggukan di belakang
aula.
Bahwa dirinya telah mengecewakan harapan
orang tuanya. Bahkan dirinya juga tidak tahu harus memasang wajah seperti apa
saat pulang ke rumah.
Gadis yang membocorkan hal itu kepada
teman-temannya sambil terisak adalah rekan yang pada tahun pertama bersama-sama
beraktivitas sebagai pengurus OSIS.
Sosoknya yang tetap tegar di depan Yuki
dan saling mengakui perjuangan satu sama lain meninggalkan guncangan hebat dan
rasa bersalah yang begitu dalam di dalam diriku.
Memikul harapan kerabat itu Yuki pun sama
saja. Tapi, bagaimana denganku? Aku yang menjadi Wakil Ketua hanya dengan
alasan rasa sayang keluarga kepada Yuki serta rasa bersalah? Apakah aku
benar-benar memiliki hak untuk menendang dan menjatuhkan gadis itu?
Selama satu tahun setelahnya, demi
menghapus pemikiran tersebut, aku mengerahkan seluruh kemampuanku untuk
menjalankan tugas-tugas OSIS.
Meski begitu, rasa bersalah di dalam
diriku sama sekali tidak sirna sedikit pun.
Aku
tidak ingin merasakan hal seperti itu lagi──
"Dokan! Woi kamu jangan tidur dua
kali... Loh? Sudah bangun?"
"Kamu ini ya... Cepat hentikan
kebiasaan menendang pintu sampai terbuka dong. Gara-gara kamu menendang di
tempat yang sama terus, bagian situ sampai agak penyok tahu?"
Yuki menerobos suasana serius dan masuk
ke kamar. Aku pun berkata kepadanya dengan nada agak jengkel, meski tahu itu
percuma.
Kenyataannya, pintu kamarku di bagian
bawah gagang pintunya memang sedikit penyok, dan hanya bagian situ saja yang
teksturnya jadi lebih halus dibanding sekelilingnya. Melirik sekilas ke arah
itu, Yuki entah kenapa tersenyum gembira.
"Aku berpikir, beberapa tahun lagi
sepertinya bakal tembus dengan rapi."
"Hentikan metode latihan ala tetesan
air menembus batu begitu. Kamu ini pendekar bela diri dari mana coba."
"Meski banyak heroine dari zaman
dulu sampai sekarang yang menendang pintu sampai hancur, heroine yang melubangi
pintu menghabiskan waktu bertahun-tahun mungkin cuma aku yang pertama."
"Dari awal, di dunia nyata mana ada
cewek yang menendang pintu sampai hancur se-sering itu."
Kenyataannya, Yuki pun bukan benar-benar
membuka pintu hanya dengan menendang saja.
Setelah memutar gagang pintu dengan
tangan, dia sengaja menendangnya memakai kaki untuk membuka. Kenapa dia
melakukan hal seperti itu benar-benar sebuah misteri.
"Nah nah, cepat bangun~ Adik
perempuanmu yang imut sudah membuatkan sarapan pagi, lho~?"
"Iya, iya."
Diperintah begitu aku melangkah ke ruang
tamu, dan di sana memang benar sarapan sudah disiapkan. Tapi...
"..."
"? Ada apa, Kakanda."
"..."Ini?""
Sambil menunjuk ke arah masakan telur
setengah padat yang membentuk beberapa lapisan di piring bagian tengah aku
bertanya, Yuki
mengedipkan matanya lalu menjawab dengan
wajah tidak tahu apa-apa.
"Eh? Scrambled egg."
"Jujur saja bilang kalau itu bentuk
akhir dari telur gulung gagal sana."
"...Aku tidak paham apa yang
Onii-chan bicarakan."
Aku menatap sinis ke arah belakang kepala
Yuki yang sengaja memalingkan wajah secara terang-terangan.
Ngomong-ngomong, rasanya sendiri tidak
enak-enak amat. Walau begitu setelah diberi saus tomat, rasanya jadi bercampur
antara masakan Jepang dan Barat yang agak sulit dijelaskan, sih.
◇
Sesuai rencana, Masachika dan Yuki yang
selesai menonton film keluar dari bioskop mengikuti gelombang orang yang
melangkah ke arah pintu keluar. Keluar dari bioskop yang berada di lantai
paling atas fasilitas komersial besar tersebut, mereka langsung naik eskalator
yang terhubung ke lantai bawah.
"Nnn~~...っ"
Di sana Yuki merenggangkan badannya
lebar-lebar, lalu berkata sambil melepas tenaganya.
"Wah... meledak dengan dahsyat
ya!"
"Bicara blak-blakan banget oi."
"Ranjau di luar dugaan~. Seperti
dugaanku, idola yang berkilauan main fantasy berpandangan dunia dark itu memang
mustahil ya~ Sampai detik terakhir kesan cosplay-nya luar biasa banget. Isinya
sendiri juga cuma meluangkan waktu buat adegan pertarungan yang kelihatan
keren, bagian menuju ke sana dibuat super asal-asalan. Yang begitu mah
meninggalkan penonton yang tidak baca karya aslinya~"
"Yah begitulah. Tapi adegan aksinya
sendiri dibuat lumayan niat kok, bagian itu lumayan enak dilihat."
Sambil tersenyum kecut kepada Yuki yang
memberikan penilaian pedas dengan senyum cerah, Masachika menimpali. Karena
masih agak kepagian untuk waktu makan siang, mereka membicarakan kesan film
tersebut sambil berjalan-jalan seadanya di dalam fasilitas komersial.
"Ah, baju ini imut. Aku memang lagi
pengin one-piece baru buat musim panas~ Tapi setelah ini kan ada rencana
menghabiskan uang di Animade..."
"Nggak, lima belas ribu yen mah...
ma~hal!"
"Onii-chan juga berdandanlah
sedikit~ Punya uang, kan?"
"Aku tidak dapat uang jajan sebanyak
kamu, tahu."
"Sebanding sama itu pengeluaranmu
kan sedikit. Tidak seperti aku,
kamu kan tidak memakai uang buat kegiatan
otaku."
Kata-kata Yuki memang benar. Kenyataan
bahwa Masachika tidak seperti Yuki yang mengumpulkan merchandise, Masachika
juga hampir tidak pernah membeli manga atau light novel sendiri.
Alasannya adalah karena Yuki yang
menyembunyikan fakta bahwa dirinya adalah otaku kelas berat di keluarga Suou,
membawa semua barang otaku yang dibelinya ke rumah Kuze.
Masachika meminjam dan membaca manga atau
light novel yang menarik minatnya dari sana, jadi tidak ada kebutuhan untuk
membeli sendiri.
Dari awal, Masachika menjadi otaku pun
sebenarnya berkat Yuki yang dengan tekun ‘menyebarkan ajaran’ kepadanya.
"Baju itu kan tahun lalu juga kamu
pakai. Sudah waktunya beli yang baru sana."
"Nggak, kalau bicara begitu kan baju
yang kamu pakai hari ini itu baju bekas milikku."
Yuki hari ini mengenakan pakaian dalam
lengan panjang lalu memakai kemeja agak besar dan celana jins, sebuah
penampilan yang cukup boyish.
Dan kenyataannya kemeja serta jins
tersebut memang merupakan baju bekas milik Masachika.
"Yang begini kan modis dengan
caranya sendiri jadi tidak apa-apa. Jeans itu makin sering dipakai kan makin
keluar rasanya."
"Ooh begitu... Ngomong-ngomong wahai
adikku."
"Ada apa, wahai
Onii-chan-sama."
"...Sejak tadi di sudut
penglihatanku seperti ada sesuatu yang berwarna perak yang melintas-lintas, apa
cuma perasaanku saja?"
"Menurutku bukan perasaanmu saja
wahai my brother."
"Kan. Tanpa disadari kamu juga sudah
melepas kuncir kudamu. Gerak-gerikmu sudah berubah jadi mode putri
bangsawan."
Sesuai kata-kata Masachika, rambut Yuki
yang tadinya dikuncir kuda sudah dilepas, meski nada bicaranya tetap asli namun
gerak-geriknya sudah menjadi anggun seperti yang diperlihatkannya di sekolah.
"Fuh, sebelum Kakanda menyadarinya,
aku sudah menyadarinya dari tadi, tahu?"
"Seriusan. Sejak kapan?"
"Lumayan cepat sejak turun ke lantai
ini."
"Dari sedari tadi toh... Hebat juga
kamu sadar?"
"Fuh... Aku punya Hyper Sense yang
bisa mendeteksi pandangan kenalan secara instan..."
"Seriusan... Kamu tidak malu
mengatakannya sendiri?"
"Fuh... Malu banget."
"Jangan ngomong sambil pasang muka
sok keren begitu, dong."
Di saat kakak-beradik ini melakukan
komedi seperti ini pun, dari arah belakang samping terasa pandangan mata yang
menatap mereka. Saat mencermati kaca yang terpasang di depan toko, di sana
terpantul dengan jelas seorang gadis berambut perak yang sangat dikenali sedang
menyembunyikan separuh badannya di balik bayangan pilar.
Ditambah lagi kalau bukan sekadar
perasaan, di belakang punggungnya ada efek suara gogogogogo... yang
menempel.
(Nah, harus bagaimana ya.)
Apakah dari pihak sini yang boleh
menyapa, ataukah harus menunggu sampai pihak sana yang menyapa. Ataukah malah
kabur menyesatkannya di suatu tempat. Mana yang merupakan jawaban benar, di
saat Masachika sedang berpikir di sebelah.
"Ara, Alya-san?"
Yuki berbalik dengan santai, lalu
mengeluarkan suara seolah baru menyadarinya saat ini.
(Adikkuuuuuーーーー!!)
Atas aksi
menerobos dari depan yang di luar dugaan, Masachika
menjerit di dalam hati. Tapi nasi sudah
menjadi bubur. Pasrah lalu berbalik, dia membetulkan ekspresinya agar tampak
terkejut.
"Loh? Alya, toh. Kebetulan
sekali."
Masachika sendiri tidak percaya diri
kalau aktingnya cukup bagus, tapi Alisa sedang tidak ada kelonggaran untuk
memikirkan hal itu.
Mengotak-atik ponsel di tangannya tanpa
arti, sambil mengarahkan pandangannya ke sana-kemari dia mendekat ke mari, lalu
membuka mulutnya dengan kondisi kegugupan yang belum sepenuhnya terkendali.
"Ya, kebetulan sekali ya. Anu...
dari tadi sebenarnya aku sudah menyadarinya, tapi tidak menemukan momen yang
pas untuk menyapa..."
Kedua kakak-beradik itu kompak berkata
dalam hati (Bukan dari tadi, kali...), tetapi tak satu pun
menunjukkannya.
Meski begitu Masachika tidak bisa
menghentikan pandangan matanya agar tidak menjadi mengambang, tapi Yuki yang
sudah kembali sepenuhnya ke mode putri bangsawan mengangguk dengan wajah tidak
tahu apa-apa, "Begitu ya".
"Alya-san, ada urusan apa ke
mari?"
"Ya... mau beli baju sebentar."
"Begitu ya. Apakah sudah makan
siang?"
"Tidak, belum sih."
"Kalau
begitu mumpung bertemu, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Pas
sekali──"
"Tunggu dulu."
Jelas-jelas tidak bisa dibiarkan begitu
saja, Masachika memotong kata-kata Yuki. Lalu, sambil meringis dia melayangkan
pertanyaan kepada Yuki yang memajang wajah tenang.
"Kamu, jangan-jangan berniat membawa
Alya ke kedai itu?"
"Tidak boleh, ya? Masachika-kun juga
bukannya menanti-nantikannya?"
"Nggak, jelas tidak boleh lah. Kalau
Alya ikut harusnya kita pergi ke kedai lain."
"Apa? Apa yang jadi masalah?"
Karena kedua orang itu mengabaikannya dan
terus membicarakan sesuatu yang tidak dipahaminya, Alisa pun menyela.
"Alya-san, apakah kamu tidak suka
makanan pedas?"
"Makanan pedas? Nggak, bukannya
tidak suka sih..."
"Kedai
yang mau kita kunjungi setelah ini adalah kedai yang menyajikan ramen pedas,
lho. Kalau Alya-san tidak bermasalah dengan makanan pedas──"
"Jangan
bicara mengambang begitu. Alya, kubilang secara jelas ya. Bukan cuma sekadar
pedas, itu kedai ramen super pedas. Aku juga belum pernah ke sana, tapi
sepertinya itu kedai yang tidak akan bisa dinikmati kecuali oleh penyuka
makanan super pedas. Makanya──"
"Aku ikut."
Menepis kata-kata Masachika yang berusaha
membujuknya, Alisa mengatakannya secara tegas.
Melihat tatapan tegas itu sambil berpikir
(Sudah tidak bisa dihentikan lagi ya), Masachika tetap melanjutkan
kata-katanya.
"Jujur saja, menurutku lebih baik
kamu tidak usah ikut, lho? Masih ada kedai lain kok, di sana juga..."
"Kamu menanti-nantikannya, kan?
Kalau begitu aku ikut. Tidak enak juga kalau sampai membuat rencanamu
berubah."
"Nggak, tidak usah memaksakan diri
ikut..."
"Ara? Apa kalau ada aku malah
mengganggu?"
"Bukan begitu maksudku... Kamu ini,
memangnya jago makan pedas?"
"Bukannya tidak jago kok."
Meski dalam hati Masachika berpikir
(Beneran nih~~?), Masachika juga tidak bisa menegaskan kalau itu kebohongan.
Menurut perkiraan Masachika, Alisa adalah
seorang sweet tooth (penyuka manis) kelas berat. Walau tidak pernah bertanya
langsung pada orangnya, potongan-potongan dari gerak-gerik dan bicaranya selama
ini memperlihatkan hal tersebut.
Lantas, jika ditanya apakah dia tidak
jago makan pedas, dia tidak tahu.
Dari awal Masachika tidak ingat pernah
melihat Alisa makan makanan
pedas.
(Yah, orangnya sendiri bilang tidak
apa-apa, lagipula siapa tahu ada menu yang tingkat kepedasannya rendah...)
Setelah meyakinkan dirinya kembali,
Masachika melangkah menuju kedai tersebut meski memikul secercah rasa cemas.
◇
"...Di sini?"
"Ya."
Mendongak menatap sebuah kedai ramen yang
terletak di pinggir jalan kecil tempat berjalan kaki sedikit dari luar
fasilitas komersial besar, ekspresi Alisa menjadi kedutan.
Masachika di dalam hati mengangguk
memaklumi (Pasti bakal begitu), namun di sisi lain Yuki memajang senyum yang
sangat manis.
"Nama kedainya Jigoku no Kama (Kawah
Neraka)... ini, benar-benar
kedai ramen kan?"
"Ya, benar lho?"
"Tapi di namanya ada kata
neraka...?"
"Tenang saja. Di nama menunya juga
ada kok."
"...Begitu."
Dipikir bagaimanapun itu sama sekali
bukan elemen yang bisa bikin tenang, tapi apakah karena guncangannya terlalu
kuat hingga membuatnya agak mati rasa, Alisa mengangguk pelan sambil tetap
membiarkan sudut mulutnya kedutan.
"...Ternyata, mau batal saja?"
Namun, saat Masachika memberikan
perhatian padanya, Alisa dalam sekejap memasang ekspresi yang siap menanggung
risiko, lalu menatap Masachika dengan tajam.
"Mana mungkin begitu. Aku cuma
sedikit terkejut saja karena kedainya unik."
"Aah begitu..."
Melihat bagian pantang menyerah dari
Alisa yang keluar sepenuhnya,
Masachika pasrah (Ini sih mau
dikatakan apa pun tidak akan mempan), lalu melangkah masuk ke dalam kedai
mengikuti Yuki.
"Selamat datang!"
Seketika itu juga, bersamaan dengan suara
lantang dari pelayan, bau menyengat yang kuat langsung menghantam mata dan
hidung. Di belakang Masachika, suara "Ugh!?" terdengar secara tipis.
"Berapa orang~?"
"Tiga orang."
"Iya~, silakan ke konter di sebelah
sini~"
Diarahkan oleh pelayan, mereka duduk
dengan urutan barisan yang sama.
Saat Masachika melirik ke bawah ke arah
Alisa di sebelah kanannya, Alisa sedang menutup hidungnya dengan mata yang
sedikit berair.
Masachika dan Yuki yang hobi berkeliling
kedai super pedas sudah
terbiasa, tapi bagi Alisa yang
kemungkinan besar adalah pemula, bau menyengat ini tampaknya menyiksa.
"...Tidak apa-apa?"
"Apanya?"
Dengan suara tertahan, Alisa jelas-jelas
sedang berusaha terlihat tegar.
Sambil memejamkan matanya rapat-rapat
untuk menarik kembali air matanya, dia berpura-pura tenang lalu mengulurkan
tangan ke menu... dan membeku saat membukanya.
"...Nee."
"Nng?"
"Walau melihat menu, aku sama sekali
tidak paham mana yang apa, nih?"
"...Iya ya."
Melihat Alisa yang membeku, Masachika
mengangguk dengan ekspresi rumit. Tapi mau bagaimana lagi.
Alasannya karena di sana berderet
nama-nama berbahaya yang sama sekali tidak terlihat seperti nama masakan,
seperti Chinoike Jigoku (Neraka Kolam Darah) atau Hariyama Jigoku (Neraka
Gunung Jarum).
Di sana, Yuki yang mengikat rambut di
belakang lehernya menggunakan ikat rambut, memberikan penjelasan dengan wajah
sok tahu.
"Chinoike Jigoku sesuai namanya
memiliki ciri khas kuah merah membara seperti darah, dan kepedasannya paling
rendah. Berikutnya adalah Hariyama Jigoku. Yang ini juga sesuai namanya,
katanya kepedasannya seperti lidah yang ditusuk oleh jarum tak terhitung
jumlahnya."
"Be, begitu... kalau begitu"
Sambil membiarkan pipinya kedutan atas
penjelasan Yuki, Alisa menjatuhkan pandangannya pada nama masakan yang tertulis
dengan gaya tulisan mengerikan di bagian paling bawah menu.
"Kalau yang Mugen Jigoku (Neraka
Tanpa Batas) ini?"
Atas pertanyaan Alisa yang ragu-ragu itu,
Yuki memajang senyum yang sangat manis seolah bilang "Bagus sekali kamu
menanyakannya".
"Katanya kepedasannya sampai
berputar satu putaran dan membuat tidak merasakan apa-apa lagi!"
"Itu sih, bukannya sarafnya yang
tewas?"
Akhirnya paham kalau ini benar-benar
kedai yang gawat, di samping Alisa yang memasang ekspresi panik, Masachika
kembali mengonfirmasi menu dan memejamkan mata setelah sadar bahwa tidak ada
masakan aman yang kepedasannya ditahan.
"...Kalau begitu, aku pesan Chinoike
Jigoku saja kali ya. Tempat yang baru pertama kali dikunjungi, pada dasarnya
kan memang memesan yang standar dulu."
"Be, benar ya. Yang mendasar itu
penting ya."
"Ara? Apakah kalian berdua memesan
hal yang sama? Kalau begitu, saya juga pesan yang sama saja."
Saat Masachika mengulurkan bantuan
minimum, Alisa langsung menyambut uluran bantuan itu. Yuki pun ikut menumpang
di sana, dan pada akhirnya mereka bertiga memesan menu yang sama.
"Ngomong-ngomong, Yuki-san hari ini
pakaiannya cukup boyish, ya. Aku sedikit terkejut."
"Fufufu, karena ini hari libur. Saya
coba sedikit mengubah suasana hati."
"Begitu. Memang suasananya terasa
cukup berubah, tapi menurutku sangat cocok padamu."
"Terima kasih banyak. Pakaian kasual
Alya-san juga sangat cocok padamu. Saya pikir kamu seorang model
profesional."
"Begitu? Terima kasih."
Sambil merasakan kehangatan sekaligus
ketidaknyamanan atas percakapan khas anak cewek yang berlangsung mengapit
dirinya,
Masachika meneteskan keringat dingin atas
pandangan yang diarahkan oleh para pria di sekeliling.
Terutama pandangan pelayan pria yang
seumuran yang sepertinya anak
part-time, gawat banget.
Dia benar-benar ditatap dengan mata yang
melihat musuh. Tapi mau bagaimana lagi, terlepas dari fakta sebenarnya, jika
dilihat dari luar kondisi ini memang benar-benar bunga di kedua tangan, jadi
tidak bisa bilang apa-apa.
Ditambah lagi bukan sekadar bunga biasa.
Keduanya adalah gadis cantik di tingkat yang tetap membuat orang mengangguk
walau diberi sebutan "tiada dua".
Jika ada pria berwajah biasa yang membawa
dua orang seperti ini, Masachika pun pasti bakal memperhatikan.
Lalu bakal bersemangat (Eh? Tokoh
utama komedi romantis? Apa dia tokoh utama komedi romantis jenis harem!?).
Itu sudah menjadi sifat alami seorang otaku.
(Yah kenyataannya, mereka berdua bukannya
sedang memperebutkan aku, dan kalau melihat pemandangan ini kan harusnya paham
kalau ini cuma dua teman cewek yang akrab sama satu orang pembawa barang.)
Sesuai pemikiran Masachika, melihat dua
gadis cantik yang mengobrol dengan seru tanpa memedulikan pria di tengah,
sepertinya mereka paham (Aah, si cowok cuma bonusan toh), sehingga
pandangan penuh rasa ingin tahu dari dalam kedai pun menipis.
Pelayan part-time yang sejak tadi menatap
Masachika dengan pandangan penuh iri dan kebencian pun akhirnya melunak dan
kembali bekerja… pada saat itulah, Yuki melempar bom.
"Sebenarnya, kemeja dan jins ini
baju bekas milik Masachika-kun, lho."
Senyum Alisa membeku seketika, dan
atmosfer di dalam kedai pun ikut membeku.
(Adikkuuuuuーーーー!!)
Pandangan penuh rasa ingin tahu dari
seluruh kedai kembali terpusat.
Pelayan part-time menatap Masachika dan
Yuki secara bergantian dengan mata seolah melihat sesuatu yang tidak
dipercayai.
"...Baju bekas?"
"Ya, kalau di rumah saya
diperintahkan untuk memakai pakaian yang pantas sebagai seorang gadis anggun…
Tapi saya juga ingin mencoba berpenampilan boyish seperti ini, jadi saya
meminta bantuan Masachika-kun."
"Hee... begitu."
Alisa mengubah senyum lembut di sudut
bibirnya menjadi senyum tipis yang agak menyeramkan, lalu menatap tajam
Masachika.
"Yang namanya teman masa kecil itu,
jaraknya terbilang sangat dekat, ya. Aku tidak menyangka kalau Kuze-kun punya
hobi menyuruh gadis memakai bajunya sendiri."
"Nggak, bukan hobi kok."
"Benar, lho. Bukan hobi tapi
fetish."
"Kamu diamlah."
Kepada Masachika yang menatapnya tajam
seolah bilang jangan bicara hal yang tidak perlu lagi, Yuki memasang wajah
heran.
"Ara? Padahal waktu saya sebelumnya
memakai kare-shirt (kemeja pacar), seingat saya kamu terlihat sangat
senang..."
"Kenyataan seperti itu tidak
ada!"
Dengan ekspresi tanpa dosa Yuki kembali
memasukkan bom tambahan.
Suasana kedai langsung riuh.
Ngomong-ngomong "kenyataan" yang dimaksud Masachika adalah bagian
Masachika yang terlihat senang, sedangkan bagian memakai kare-shirt itu sendiri
kenyataannya memang benar.
Yuki terkadang datang ke rumah Kuze
begitu saja tanpa membawa baju ganti. Kalau sudah begitu, dia biasanya memakai
kemeja lama Masachika sebagai pengganti piyama.
Saat pertama kali mengenakan kemeja itu,
Yuki-lah yang heboh berkata, “Ini kare-shirt, kare-shirt,” sementara Masachika
hanya menatapnya dengan tatapan heran. Tentu saja, hal itu tidak diketahui
orang lain.
"...Kare-shirt?"
Namun beruntungnya, Alisa yang awam
dengan sub-culture tampaknya tidak memahami apa itu kare-shirt.
Yuki hendak membisikkan penjelasan itu
dengan senyum bagaikan malaikat, tetapi Masachika buru-buru mencoba
menghentikannya.
Masachika buru-buru mencoba
menghentikannya, namun lebih cepat dari itu pelayan part-time mengantarkan
ramen sambil menatap Masachika dengan mata seolah melihat musuh bebuyutan orang
tuanya.
"Terima kasih sudah menunggu~ tiga
Chinoike Jigoku~"
Menjatuhkan pandangan pada ramen yang
sampai, Alisa membusungkan badannya "Ugh!".
Selain dampak penampilannya yang dipenuhi
kuah merah kehitaman yang tidak mengkhianati namanya, uap yang membumbung
tinggi tampaknya menyengat selaput lendirnya.
Mengabaikan Alisa yang pada tahap ini
sudah agak tersedak, dua kakak-beradik penyuka makanan super pedas itu bahkan
menyunggingkan senyum di sudut mulut sambil meraih sumpit.
"Kalau begitu, mari kita makan
sebelum lembek."
"Ya."
"Be, benar ya."
Setelah mereka bertiga mengucapkan
selamat makan bersama, Masachika dan Yuki tanpa ragu sedangkan Alisa dengan
ragu-ragu menyendok mi.
"Nnn! Enak ya!"
"Ya, pantas saja sampai jadi bahan
pembicaraan."
Menyeruput satu gigitan, kakak-beradik
itu tertawa puas. Lantas, saat Masachika melirik ke samping mengamati keadaan
Alisa...
"..."
Di sana terdapat Alisa yang mengencangkan
seluruh tubuhnya, membelalakkan mata tanpa berkedip sambil terus mengunyah.
Tangan kiri yang diletakkan di atas meja mengepal dengan kekuatan luar biasa,
hingga tinjunya gemetaran.
"...Alya, tidak apa-apa?"
"...っ,
Ya, enak, kok."
Setelah menelan makanan di dalam
mulutnya, di sanalah Alisa akhirnya kembali berkedip sambil memajang ekspresi
tenang.
Melihat dirinya yang masih bersikap tegar
dalam situasi seperti ini, sambil merasa heran sekaligus kagum, Masachika untuk
sementara menyodorkan tisu kertas.
"Setiap kali makan satu gigitan,
lebih baik usap bibirmu pakai tisu kertas, tahu? Soalnya bibirmu bisa bengkak
gara-gara pedas."
"...Terima kasih."
Setelah memastikan Alisa mengusap
bibirnya dengan polos, Masachika kembali menghadapi ramennya.
Setiap kali menyeruput mi, rasa pedas
cabai yang kuat memenuhi bagian dalam mulut.
Pedas yang rasanya sampai membuat
keringat membumbung keluar.
Namun, rasa pedas itu justru mengeluarkan
kelezatan bahan-bahannya, membuat diri makin dan makin menginginkannya.
Makin ingin mengintip lebih dalam ke
dasar laut merah ini. (※Ini murni kesan pribadi).
"Yup, enak."
Masachika menghembuskan napas puas. Di
telinga Masachika tersebut...
【いたいよぉ】(Sakiiit)
...dari sebelah terdengar rengekan yang
begitu menyedihkan.
Saat melirik sekilas, di sana terdapat
Alisa yang sumpitnya sudah berhenti sepenuhnya.
Sebisa mungkin ekspresinya memang
dipertahankan tetap tenang, tapi tampaknya sumpitnya sudah tidak bisa bergerak
lagi lebih jauh dari itu.
Lantas, Alisa yang menyadari pandangan
Masachika di sana, seolah terdorong oleh pandangan tersebut mengulurkan
sumpitnya ke mangkuk.
"Nggak, Alya. Beneran tidak usah
memaksakan diri, tahu?"
"Kenapa? Kan sudah kubilang kalau
ini enak."
Padahal kamu bilang sakit, pakai bahasa
Rusia.
"Nggak... yah, umm. Begitu ya."
Sambil berpikir apakah dia tidak apa-apa
ya, tapi karena tahu Alisa yang sudah jadi begini akan sia-sia walau
dihentikan, Masachika memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.
Minum
air dan menyisipkan istirahat sejenak, saat hendak mengarahkan sumpit kembali
menuju dasar laut merah──
【もうやだ……】(Aku nggak tahan
lagi……)
Konsentrasi, tidak bisa!!
Suara yang terdengar dari sebelah terlalu
lemah, mengundang rasa iba.
Meski begitu dia mencoba tidak
memikirkannya dan melanjutkan makan. Tapi...
【おかあさん……】(Ibu)
Saat akhirnya dia mulai bersandar pada
ibu gaib, Masachika tidak sanggup menahannya lagi dan melihat ke arah Alisa.
(Ah, tidak bisa ini. Pupil matanya
membesar.)
Yang mengejutkan, pada tahap ini ekspresi
Alisa tidak berubah. Hanya saja... aura kematian tipis mulai keluar darinya.
Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Tadi pikirnya ingin membiarkannya melakukan sesukanya sampai yang bersangkutan menyerah sendiri, tapi ini sudah harus dihentikan. Ini sudah doctor stop.
“A──”
Tepat saat Masachika hendak menghentikan
Alisa, Yuki lebih dulu menyapanya dari sisi seberang.
“Alya-san, bagaimana?”
Mendengar suara rivalnya dalam perebutan
kursi Ketua OSIS berikutnya, tatapan Alisa yang sempat kehilangan fokus kembali
terarah.
Terdorong oleh rasa persaingannya
terhadap Yuki, Alisa membangkitkan kembali semangat juangnya dan bahkan
menampilkan senyum tipis di sudut bibirnya.
“Ya, enak kok.”
“Baguslah kalau begitu. Ternyata Alya-san
juga penyuka makanan super pedas, ya.”
Kepada Alisa yang memasang senyum garang
yang entah kenapa terasa mengerikan, Yuki membalas dengan senyum polos. Lalu,
sambil tetap tersenyum polos, dia menyodorkan sebuah kendi kecil kepada Alisa.
“Sepertinya kedai ini menyediakan bumbu
bernama Oni no Namida yang bisa digunakan untuk menambah kepedasan. Kalau
Alya-san mau, silakan.”
Yuki malah melancarkan serangan susulan
yang tak terduga. Ujung bibir Alisa berkedut.
Ngomong-ngomong bumbu penyedap bernama
Oni no Namida ini.
Nama resminya adalah Oni no Me ni mo
Namida (Iblis pun Meneteskan Air Mata), dan sesuai namanya ini adalah bumbu
penyedap asli kedai ini yang begitu pedas hingga membuat iblis sekalipun
menangis.
(Sudah, hentikan! Nyawa Alya-san sudah
nol tahu!)
Sambil menjerit di dalam hati, Masachika
menyadarinya.
(Begitu toh. Karena bahasa Rusia, Yuki
jadi tidak sadar kalau Alya sedang mengeluhkan tangisan)
Jika sudah paham begitu, mari kuberitahu
dengan berbisik secara diam-diam... tepat saat menoleh ke arah Yuki, Masachika
menyadarinya.
Di dalam mata Yuki yang sekilas memajang
senyum polos, terdapat kilau kesadaran sadis yang bersemayam.
(Anak ini, sudah tahu tapi tetap
melakukan...!?)
Masachika yang gemetaran ketakutan. Dari
sebelahnya tangan putih terulur, meraih kendi kecil yang disodorkan oleh Yuki.
"Cuma meneteskan beberapa tetes
saja, rasanya bakal jauh lebih enak, lho?"
"Nggak, Alya!? Beneran lebih baik
dihentikan saja tahu!?"
Nasihat Masachika pun sia-sia, Alya yang
membuka tutup kendi kecil tersebut, menyendok cairan merah membara di dalamnya
memakai sendok kecil, lalu meneteskannya secara titik-titik di atas ramen.
Lalu...
"~~~~~~!?"
Beberapa detik kemudian, jeritan tanpa
suara Alisa bergema di dalam kedai.



Post a Comment