NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 1 Chapter 6

Bab 6: Baru Pertama Kali Ini Aku Melihat Tanda-Tanda Kematian


Taman yang berada di dekat rumah Kakek. Dalam perjalanan pulang dari sekolah dasar, aku berlari menuju ke sana seperti biasa.

 

Saat aku melihat ke sekeliling dari pintu masuk taman, aku melihatnya sedang duduk manis di atas alat permainan berbentuk kubah yang memiliki beberapa lubang.

 

O~i, ────!

 

Saat aku berlari menghampirinya sambil memanggil namanya, dia pun langsung berbalik ke arah sini, tersenyum lebar dengan gembira, lalu melambai-lambaikan tangannya.

 

Masaachika!

 

Makanya, namaku itu Masachika, tahu

 

Aku membetulkannya sambil tersenyum kecut seperti biasa, tetapi dia tidak tampak memikirkannya dan tertawa dengan gembira. Melihat senyuman itu, aku pun berujung jadi merasa "Yah, sudahlah".

 

Masaachika juga, naiklah ke sini!

 

Eee~?

 

Cepat, cepat!

 

Mau bagaimana lagi, ya

 

Pada alat permainan berbentuk kubah itu terpasang tangga di bagian sisinya, dan setelah meletakkan tas sekolahku di tempat itu, aku memanjatnya dengan sekuat tenaga menggunakan tangan dan kaki kecilku.

 

Ya~, sam~pai

 

Saat aku memanjat hingga ke puncak kubah, dia menyambutku sambil tertawa. Rambut emas panjangnya berkilauan diterpa sinar matahari terbenam. Mata birunya yang menyempit gembira ke arahku, sampai sekarang pun masih kuingat.

 

Lihat, lihat! Matahari terbenamnya cantik banget!

 

Beneran. Cantik, ya

 

Kami berdua duduk berdampingan sambil menatap matahari terbenam, kami terus melanjutkan obrolan yang biasa-biasa saja. Walau kubilang begitu, kurasa sebagian besar hanya aku saja yang berbicara secara sepihak.

 

Terus, katanya Sekolah Seirei itu dulu sekolahnya Ibu sama Ayah. Padahal sekolahnya susah banget, tapi katanya kalau nilaiku sih gampa~ng

 

Hebat ya. Masaachika itu, benar-benar bisa melakukan apa saja, ya!

 

Hehe, tidak juga kok

 

Terhadap cerita pamer khas anak laki-laki pun, dia membalasnya dengan pujian murni tanpa memasang wajah enggan sedikit pun. Aku menyukai senyumannya.

 

Saat dipuji olehnya aku merasa senang dan bangga, sehingga usaha seberat apa pun tidak terasa menyusahkan.

 

Belajar, olahraga, maupun musik, demi dirinya aku bisa berjuang seberapa banyak pun.

 

Ah, sudah harus pulang...

 

Saat matahari tenggelam, di sanalah kami berpisah. Itulah aturan kami berdua.

 

Kalau begitu, sampai besok ya. Masaachika

 

Yup, sampai besok. ────

 

Saat berpisah, dia merengkuhku dengan erat, lalu memberiku ciuman ke pipi secara ringan.

 

Meskipun aku merasa malu dan tidak bisa membalasnya, sebenarnya

aku merasa sangat senang. Dia yang melepaskan tubuhnya, sambil tertawa gembira──

"Dooom!"

 

"Uboahh!?"

 

Tiba-tiba, sebuah benturan dahsyat menghantam dari perut hingga ke dada, membuatku terbangun secara paksa

 

"Gohak! Ga, kahak"

 

"Gud morning, mai braza~"

 

"Uweh... Gara-gara kamu barusan, jadinya sudah tidak good lagi tahu!"

 

Setelah mengendalikan napasku sebisa mungkin, aku menatap tajam

Yuki yang mengulas senyum cengengesan di atas tubuhku. Lantas, Yuki menaikkan sebelah alisnya dengan raut merasa keberatan.

 

"Oi oi, kenapa kamu marah-marah? Ini kan body press saat bangun tidur oleh adik perempuan imut yang diidam-idamkan oleh seluruh anak cowok SMA di dunia. Berbahagialah"

 

"Jangan ngomong seolah-olah ini dokkiri bangun tidur dong. Ini mah murni DV (KDRT)"

 

"Murni Dear (tersayang) Venus (dewi)? Deuh~ Onii-chan ini beneran sis-con♡"

 

"Domestic Violence tahu! Interpretasi dari sudut mana coba!"

 

"Muu... Apanya yang tidak kamu sukai sampai segitunya?"

 

"Semuanya. Semuanya"

 

Saat aku mengatakan itu, Yuki mengerutkan dahi di antara kedua alisnya sambil memikirkan sesuatu, lalu mendadak memajang wajah

"Aah" dan menjentikkan jarinya.

 

"Yang itu ya. Bukannya tipe body press saat bangun tidur, melainkan tipe yang pengin adiknya menyusup ke samping saat bangun pagi"

 

"Yang begitu, kalau dilakukan secara riil rasanya lumayan mengerikan tahu?"

 

"Eh? Kalau begitu... jangan-jangan tipe yang pengin adiknya menyusup ke bawah tempat tidur? Mania~k banget"

 

"Itu mah murni horor tahu!"

 

"Mau bagaimana lagi ya~ Kalau begitu lain kali aku bakal menyusup ke bawah tempat tidur dulu, lalu pas kamu turun dari tempat tidur bakal kupegang kakimu ya?"

 

"Kamu ini sebenarnya mengincar posisi apa coba..."

 

"Adik perempuan yang memasang jebakan horor saat bangun tidur, bukannya baru banget?"

 

"Kelewat baru sampai tidak bisa kuikuti tahu... Lagipula, cepat singkirkan badanmu"

 

Saat aku mengatakan itu kepada Yuki yang masih berada di atas tubuhku sambil menggerak-gerakkan kakinya, Yuki mengulas senyum nakal lalu memiringkan kepalanya sedikit.

 

"Kenapa? Gara-gara merespons ya?"

 

"Mati sana"

 

Aku menatap tajam adikku dari jarak dekat dengan tatapan sedingin es karena lelucon mesum yang dilontarkannya sejak pagi-pagi, tetapi Yuki malah terkekeh sambil turun dari atas tubuhku dan keluar dari kamar.

 

"Haah, beneran deh..."

 

Di sana aku akhirnya menegakkan tubuh, lalu duduk di tepi tempat tidur.

 

"..."

 

Sebuah mimpi yang dirindukan. Kenangan cinta pertama. Kenangan saat diriku paling bersinar dalam kehidupanku hingga saat ini. Aku bertemu dengannya di taman itu, dan bermain bersama secara puas.

 

Karena ingin mengobrol dengannya, aku belajar bahasa Rusia dengan serius.

 

Biarpun hubungan orang tuaku tidak harmonis, biarpun aku

ditinggalkan sendirian di rumah Kakek, karena ada dirinya aku tidak merasa kesepian.

 

Benar, aku memang benar-benar jatuh cinta pada anak itu. Tapi... sekarang ini wajah maupun namanya sudah tidak bisa kuingat dengan benar.

 

"...Cih"

 

Bagaimanapun juga, aku memang anak dari ibu yang seperti itu.

 

Seseorang yang pada suatu masa pernah kusukai dengan sungguh-sungguh pun bisa kulupakan dengan mudahnya sebagai manusia yang tidak punya perasaan.

 

Di dalam dadaku, hal yang dingin menumpuk sedikit demi sedikit.

 

Perasaan cinta dan motivasi yang membara pada masa itu, sudah tertimbun di bawahnya dan tidak bisa terlihat lagi.

 

Ada pemicu yang membuatku kehilangan motivasi. Aku bisa menyalahkan seseorang atas hal itu. Tapi, seberapa banyak pun alasan yang kubuat dan menyalahkan siapa pun, pada akhirnya akan berujung pada kesimpulan sederhana bahwa diriku sendiri hanyalah sampah pemalas yang menyukai kemudahan.

 

Mengagumi usaha, membenci usaha, dan menyadari bahwa dirinya adalah sampah sehingga merasa lebih mending daripada sampah yang tidak sadar diri, seorang sampah yang menghibur hatinya sendiri dengan kepuasan diri tingkat rendah. Itulah diriku.

 

"Orang seperti ini... mana mungkin pantas ikut OSIS, kan?"

 

Terlebih lagi, jika itu Wakil Ketua OSIS. Justru karena aku tidak bisa menolak permintaan Yuki lalu menjadi pasangannya dan berujung menjadi Wakil Ketua OSIS tingkat SMP, makanya aku tahu. Jabatan itu bukanlah barang yang boleh diisi tanpa adanya semangat maupun kesiapan apa pun.

 

Saat kemenangan pemilihan Yuki telah ditetapkan, aku melihat sosok calon lain yang menangis sesenggukan di belakang aula.

 

Bahwa dirinya telah mengecewakan harapan orang tuanya. Bahkan dirinya juga tidak tahu harus memasang wajah seperti apa saat pulang ke rumah.

 

Gadis yang membocorkan hal itu kepada teman-temannya sambil terisak adalah rekan yang pada tahun pertama bersama-sama beraktivitas sebagai pengurus OSIS.

 

Sosoknya yang tetap tegar di depan Yuki dan saling mengakui perjuangan satu sama lain meninggalkan guncangan hebat dan rasa bersalah yang begitu dalam di dalam diriku.

 

Memikul harapan kerabat itu Yuki pun sama saja. Tapi, bagaimana denganku? Aku yang menjadi Wakil Ketua hanya dengan alasan rasa sayang keluarga kepada Yuki serta rasa bersalah? Apakah aku benar-benar memiliki hak untuk menendang dan menjatuhkan gadis itu?

 

Selama satu tahun setelahnya, demi menghapus pemikiran tersebut, aku mengerahkan seluruh kemampuanku untuk menjalankan tugas-tugas OSIS.

 

Meski begitu, rasa bersalah di dalam diriku sama sekali tidak sirna sedikit pun.

 

Aku tidak ingin merasakan hal seperti itu lagi──

 

"Dokan! Woi kamu jangan tidur dua kali... Loh? Sudah bangun?"

 

"Kamu ini ya... Cepat hentikan kebiasaan menendang pintu sampai terbuka dong. Gara-gara kamu menendang di tempat yang sama terus, bagian situ sampai agak penyok tahu?"

 

Yuki menerobos suasana serius dan masuk ke kamar. Aku pun berkata kepadanya dengan nada agak jengkel, meski tahu itu percuma.

 

Kenyataannya, pintu kamarku di bagian bawah gagang pintunya memang sedikit penyok, dan hanya bagian situ saja yang teksturnya jadi lebih halus dibanding sekelilingnya. Melirik sekilas ke arah itu, Yuki entah kenapa tersenyum gembira.

 

"Aku berpikir, beberapa tahun lagi sepertinya bakal tembus dengan rapi."

"Hentikan metode latihan ala tetesan air menembus batu begitu. Kamu ini pendekar bela diri dari mana coba."

 

"Meski banyak heroine dari zaman dulu sampai sekarang yang menendang pintu sampai hancur, heroine yang melubangi pintu menghabiskan waktu bertahun-tahun mungkin cuma aku yang pertama."

 

"Dari awal, di dunia nyata mana ada cewek yang menendang pintu sampai hancur se-sering itu."

 

Kenyataannya, Yuki pun bukan benar-benar membuka pintu hanya dengan menendang saja.

 

Setelah memutar gagang pintu dengan tangan, dia sengaja menendangnya memakai kaki untuk membuka. Kenapa dia melakukan hal seperti itu benar-benar sebuah misteri.

 

"Nah nah, cepat bangun~ Adik perempuanmu yang imut sudah membuatkan sarapan pagi, lho~?"

 

"Iya, iya."

 

Diperintah begitu aku melangkah ke ruang tamu, dan di sana memang benar sarapan sudah disiapkan. Tapi...

 

"..."

 

"? Ada apa, Kakanda."

"..."Ini?""

 

Sambil menunjuk ke arah masakan telur setengah padat yang membentuk beberapa lapisan di piring bagian tengah aku bertanya, Yuki

mengedipkan matanya lalu menjawab dengan wajah tidak tahu apa-apa.

 

"Eh? Scrambled egg."

 

"Jujur saja bilang kalau itu bentuk akhir dari telur gulung gagal sana."

 

"...Aku tidak paham apa yang Onii-chan bicarakan."

 

Aku menatap sinis ke arah belakang kepala Yuki yang sengaja memalingkan wajah secara terang-terangan.

 

Ngomong-ngomong, rasanya sendiri tidak enak-enak amat. Walau begitu setelah diberi saus tomat, rasanya jadi bercampur antara masakan Jepang dan Barat yang agak sulit dijelaskan, sih.

 

 

Sesuai rencana, Masachika dan Yuki yang selesai menonton film keluar dari bioskop mengikuti gelombang orang yang melangkah ke arah pintu keluar. Keluar dari bioskop yang berada di lantai paling atas fasilitas komersial besar tersebut, mereka langsung naik eskalator yang terhubung ke lantai bawah.

 

"Nnn~~..."

Di sana Yuki merenggangkan badannya lebar-lebar, lalu berkata sambil melepas tenaganya.

 

"Wah... meledak dengan dahsyat ya!"

 

"Bicara blak-blakan banget oi."

 

"Ranjau di luar dugaan~. Seperti dugaanku, idola yang berkilauan main fantasy berpandangan dunia dark itu memang mustahil ya~ Sampai detik terakhir kesan cosplay-nya luar biasa banget. Isinya sendiri juga cuma meluangkan waktu buat adegan pertarungan yang kelihatan keren, bagian menuju ke sana dibuat super asal-asalan. Yang begitu mah meninggalkan penonton yang tidak baca karya aslinya~"

 

"Yah begitulah. Tapi adegan aksinya sendiri dibuat lumayan niat kok, bagian itu lumayan enak dilihat."

 

Sambil tersenyum kecut kepada Yuki yang memberikan penilaian pedas dengan senyum cerah, Masachika menimpali. Karena masih agak kepagian untuk waktu makan siang, mereka membicarakan kesan film tersebut sambil berjalan-jalan seadanya di dalam fasilitas komersial.

 

"Ah, baju ini imut. Aku memang lagi pengin one-piece baru buat musim panas~ Tapi setelah ini kan ada rencana menghabiskan uang di Animade..."

 

"Nggak, lima belas ribu yen mah... ma~hal!"

 

"Onii-chan juga berdandanlah sedikit~ Punya uang, kan?"

"Aku tidak dapat uang jajan sebanyak kamu, tahu."

 

"Sebanding sama itu pengeluaranmu kan sedikit. Tidak seperti aku,

kamu kan tidak memakai uang buat kegiatan otaku."

 

Kata-kata Yuki memang benar. Kenyataan bahwa Masachika tidak seperti Yuki yang mengumpulkan merchandise, Masachika juga hampir tidak pernah membeli manga atau light novel sendiri.

 

Alasannya adalah karena Yuki yang menyembunyikan fakta bahwa dirinya adalah otaku kelas berat di keluarga Suou, membawa semua barang otaku yang dibelinya ke rumah Kuze.

 

Masachika meminjam dan membaca manga atau light novel yang menarik minatnya dari sana, jadi tidak ada kebutuhan untuk membeli sendiri.

 

Dari awal, Masachika menjadi otaku pun sebenarnya berkat Yuki yang dengan tekun ‘menyebarkan ajaran’ kepadanya.

 

"Baju itu kan tahun lalu juga kamu pakai. Sudah waktunya beli yang baru sana."

 

"Nggak, kalau bicara begitu kan baju yang kamu pakai hari ini itu baju bekas milikku."

 

Yuki hari ini mengenakan pakaian dalam lengan panjang lalu memakai kemeja agak besar dan celana jins, sebuah penampilan yang cukup boyish.

Dan kenyataannya kemeja serta jins tersebut memang merupakan baju bekas milik Masachika.

 

"Yang begini kan modis dengan caranya sendiri jadi tidak apa-apa. Jeans itu makin sering dipakai kan makin keluar rasanya."

 

"Ooh begitu... Ngomong-ngomong wahai adikku."

 

"Ada apa, wahai Onii-chan-sama."

 

"...Sejak tadi di sudut penglihatanku seperti ada sesuatu yang berwarna perak yang melintas-lintas, apa cuma perasaanku saja?"

 

"Menurutku bukan perasaanmu saja wahai my brother."

 

"Kan. Tanpa disadari kamu juga sudah melepas kuncir kudamu. Gerak-gerikmu sudah berubah jadi mode putri bangsawan."

 

Sesuai kata-kata Masachika, rambut Yuki yang tadinya dikuncir kuda sudah dilepas, meski nada bicaranya tetap asli namun gerak-geriknya sudah menjadi anggun seperti yang diperlihatkannya di sekolah.

 

"Fuh, sebelum Kakanda menyadarinya, aku sudah menyadarinya dari tadi, tahu?"

 

"Seriusan. Sejak kapan?"

 

"Lumayan cepat sejak turun ke lantai ini."

 

"Dari sedari tadi toh... Hebat juga kamu sadar?"

 

"Fuh... Aku punya Hyper Sense yang bisa mendeteksi pandangan kenalan secara instan..."

 

"Seriusan... Kamu tidak malu mengatakannya sendiri?"

 

"Fuh... Malu banget."

 

"Jangan ngomong sambil pasang muka sok keren begitu, dong."

 

Di saat kakak-beradik ini melakukan komedi seperti ini pun, dari arah belakang samping terasa pandangan mata yang menatap mereka. Saat mencermati kaca yang terpasang di depan toko, di sana terpantul dengan jelas seorang gadis berambut perak yang sangat dikenali sedang menyembunyikan separuh badannya di balik bayangan pilar.

 

Ditambah lagi kalau bukan sekadar perasaan, di belakang punggungnya ada efek suara gogogogogo... yang menempel.

 

(Nah, harus bagaimana ya.)

 

Apakah dari pihak sini yang boleh menyapa, ataukah harus menunggu sampai pihak sana yang menyapa. Ataukah malah kabur menyesatkannya di suatu tempat. Mana yang merupakan jawaban benar, di saat Masachika sedang berpikir di sebelah.

 

"Ara, Alya-san?"

Yuki berbalik dengan santai, lalu mengeluarkan suara seolah baru menyadarinya saat ini.

 

(Adikkuuuuuーーーー!!)

 

Atas aksi menerobos dari depan yang di luar dugaan, Masachika

menjerit di dalam hati. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Pasrah lalu berbalik, dia membetulkan ekspresinya agar tampak terkejut.

 

"Loh? Alya, toh. Kebetulan sekali."

 

Masachika sendiri tidak percaya diri kalau aktingnya cukup bagus, tapi Alisa sedang tidak ada kelonggaran untuk memikirkan hal itu.

 

Mengotak-atik ponsel di tangannya tanpa arti, sambil mengarahkan pandangannya ke sana-kemari dia mendekat ke mari, lalu membuka mulutnya dengan kondisi kegugupan yang belum sepenuhnya terkendali.

 

"Ya, kebetulan sekali ya. Anu... dari tadi sebenarnya aku sudah menyadarinya, tapi tidak menemukan momen yang pas untuk menyapa..."

 

Kedua kakak-beradik itu kompak berkata dalam hati (Bukan dari tadi, kali...), tetapi tak satu pun menunjukkannya.

 

Meski begitu Masachika tidak bisa menghentikan pandangan matanya agar tidak menjadi mengambang, tapi Yuki yang sudah kembali sepenuhnya ke mode putri bangsawan mengangguk dengan wajah tidak tahu apa-apa, "Begitu ya".

 

"Alya-san, ada urusan apa ke mari?"

 

"Ya... mau beli baju sebentar."

 

"Begitu ya. Apakah sudah makan siang?"

 

"Tidak, belum sih."

 

"Kalau begitu mumpung bertemu, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Pas sekali──"

 

"Tunggu dulu."

 

Jelas-jelas tidak bisa dibiarkan begitu saja, Masachika memotong kata-kata Yuki. Lalu, sambil meringis dia melayangkan pertanyaan kepada Yuki yang memajang wajah tenang.

 

"Kamu, jangan-jangan berniat membawa Alya ke kedai itu?"

 

"Tidak boleh, ya? Masachika-kun juga bukannya menanti-nantikannya?"

 

"Nggak, jelas tidak boleh lah. Kalau Alya ikut harusnya kita pergi ke kedai lain."

 

"Apa? Apa yang jadi masalah?"

Karena kedua orang itu mengabaikannya dan terus membicarakan sesuatu yang tidak dipahaminya, Alisa pun menyela.

 

"Alya-san, apakah kamu tidak suka makanan pedas?"

 

"Makanan pedas? Nggak, bukannya tidak suka sih..."

 

"Kedai yang mau kita kunjungi setelah ini adalah kedai yang menyajikan ramen pedas, lho. Kalau Alya-san tidak bermasalah dengan makanan pedas──"

 

"Jangan bicara mengambang begitu. Alya, kubilang secara jelas ya. Bukan cuma sekadar pedas, itu kedai ramen super pedas. Aku juga belum pernah ke sana, tapi sepertinya itu kedai yang tidak akan bisa dinikmati kecuali oleh penyuka makanan super pedas. Makanya──"

 

"Aku ikut."

 

Menepis kata-kata Masachika yang berusaha membujuknya, Alisa mengatakannya secara tegas.

 

Melihat tatapan tegas itu sambil berpikir (Sudah tidak bisa dihentikan lagi ya), Masachika tetap melanjutkan kata-katanya.

 

"Jujur saja, menurutku lebih baik kamu tidak usah ikut, lho? Masih ada kedai lain kok, di sana juga..."

 

"Kamu menanti-nantikannya, kan? Kalau begitu aku ikut. Tidak enak juga kalau sampai membuat rencanamu berubah."

"Nggak, tidak usah memaksakan diri ikut..."

 

"Ara? Apa kalau ada aku malah mengganggu?"

 

"Bukan begitu maksudku... Kamu ini, memangnya jago makan pedas?"

 

"Bukannya tidak jago kok."

 

Meski dalam hati Masachika berpikir (Beneran nih~~?), Masachika juga tidak bisa menegaskan kalau itu kebohongan.

 

Menurut perkiraan Masachika, Alisa adalah seorang sweet tooth (penyuka manis) kelas berat. Walau tidak pernah bertanya langsung pada orangnya, potongan-potongan dari gerak-gerik dan bicaranya selama ini memperlihatkan hal tersebut.

 

Lantas, jika ditanya apakah dia tidak jago makan pedas, dia tidak tahu.

 

Dari awal Masachika tidak ingat pernah melihat Alisa makan makanan

pedas.

 

(Yah, orangnya sendiri bilang tidak apa-apa, lagipula siapa tahu ada menu yang tingkat kepedasannya rendah...)

 

Setelah meyakinkan dirinya kembali, Masachika melangkah menuju kedai tersebut meski memikul secercah rasa cemas.

 

 

"...Di sini?"

 

"Ya."

 

Mendongak menatap sebuah kedai ramen yang terletak di pinggir jalan kecil tempat berjalan kaki sedikit dari luar fasilitas komersial besar, ekspresi Alisa menjadi kedutan.

 

Masachika di dalam hati mengangguk memaklumi (Pasti bakal begitu), namun di sisi lain Yuki memajang senyum yang sangat manis.

 

"Nama kedainya Jigoku no Kama (Kawah Neraka)... ini, benar-benar

kedai ramen kan?"

 

"Ya, benar lho?"

 

"Tapi di namanya ada kata neraka...?"

 

"Tenang saja. Di nama menunya juga ada kok."

 

"...Begitu."

 

Dipikir bagaimanapun itu sama sekali bukan elemen yang bisa bikin tenang, tapi apakah karena guncangannya terlalu kuat hingga membuatnya agak mati rasa, Alisa mengangguk pelan sambil tetap membiarkan sudut mulutnya kedutan.

 

"...Ternyata, mau batal saja?"

Namun, saat Masachika memberikan perhatian padanya, Alisa dalam sekejap memasang ekspresi yang siap menanggung risiko, lalu menatap Masachika dengan tajam.

 

"Mana mungkin begitu. Aku cuma sedikit terkejut saja karena kedainya unik."

 

"Aah begitu..."

 

Melihat bagian pantang menyerah dari Alisa yang keluar sepenuhnya,

Masachika pasrah (Ini sih mau dikatakan apa pun tidak akan mempan), lalu melangkah masuk ke dalam kedai mengikuti Yuki.

 

"Selamat datang!"

 

Seketika itu juga, bersamaan dengan suara lantang dari pelayan, bau menyengat yang kuat langsung menghantam mata dan hidung. Di belakang Masachika, suara "Ugh!?" terdengar secara tipis.

 

"Berapa orang~?"

 

"Tiga orang."

 

"Iya~, silakan ke konter di sebelah sini~"

 

Diarahkan oleh pelayan, mereka duduk dengan urutan barisan yang sama.

 

Saat Masachika melirik ke bawah ke arah Alisa di sebelah kanannya, Alisa sedang menutup hidungnya dengan mata yang sedikit berair.

 

Masachika dan Yuki yang hobi berkeliling kedai super pedas sudah

terbiasa, tapi bagi Alisa yang kemungkinan besar adalah pemula, bau menyengat ini tampaknya menyiksa.

 

"...Tidak apa-apa?"

 

"Apanya?"

 

Dengan suara tertahan, Alisa jelas-jelas sedang berusaha terlihat tegar.

 

Sambil memejamkan matanya rapat-rapat untuk menarik kembali air matanya, dia berpura-pura tenang lalu mengulurkan tangan ke menu... dan membeku saat membukanya.

 

"...Nee."

 

"Nng?"

 

"Walau melihat menu, aku sama sekali tidak paham mana yang apa, nih?"

 

"...Iya ya."

 

Melihat Alisa yang membeku, Masachika mengangguk dengan ekspresi rumit. Tapi mau bagaimana lagi.

Alasannya karena di sana berderet nama-nama berbahaya yang sama sekali tidak terlihat seperti nama masakan, seperti Chinoike Jigoku (Neraka Kolam Darah) atau Hariyama Jigoku (Neraka Gunung Jarum).

 

Di sana, Yuki yang mengikat rambut di belakang lehernya menggunakan ikat rambut, memberikan penjelasan dengan wajah sok tahu.

 

"Chinoike Jigoku sesuai namanya memiliki ciri khas kuah merah membara seperti darah, dan kepedasannya paling rendah. Berikutnya adalah Hariyama Jigoku. Yang ini juga sesuai namanya, katanya kepedasannya seperti lidah yang ditusuk oleh jarum tak terhitung jumlahnya."

 

"Be, begitu... kalau begitu"

 

Sambil membiarkan pipinya kedutan atas penjelasan Yuki, Alisa menjatuhkan pandangannya pada nama masakan yang tertulis dengan gaya tulisan mengerikan di bagian paling bawah menu.

 

"Kalau yang Mugen Jigoku (Neraka Tanpa Batas) ini?"

 

Atas pertanyaan Alisa yang ragu-ragu itu, Yuki memajang senyum yang sangat manis seolah bilang "Bagus sekali kamu menanyakannya".

 

"Katanya kepedasannya sampai berputar satu putaran dan membuat tidak merasakan apa-apa lagi!"

 

"Itu sih, bukannya sarafnya yang tewas?"

Akhirnya paham kalau ini benar-benar kedai yang gawat, di samping Alisa yang memasang ekspresi panik, Masachika kembali mengonfirmasi menu dan memejamkan mata setelah sadar bahwa tidak ada masakan aman yang kepedasannya ditahan.

 

"...Kalau begitu, aku pesan Chinoike Jigoku saja kali ya. Tempat yang baru pertama kali dikunjungi, pada dasarnya kan memang memesan yang standar dulu."

 

"Be, benar ya. Yang mendasar itu penting ya."

 

"Ara? Apakah kalian berdua memesan hal yang sama? Kalau begitu, saya juga pesan yang sama saja."

 

Saat Masachika mengulurkan bantuan minimum, Alisa langsung menyambut uluran bantuan itu. Yuki pun ikut menumpang di sana, dan pada akhirnya mereka bertiga memesan menu yang sama.

 

"Ngomong-ngomong, Yuki-san hari ini pakaiannya cukup boyish, ya. Aku sedikit terkejut."

 

"Fufufu, karena ini hari libur. Saya coba sedikit mengubah suasana hati."

 

"Begitu. Memang suasananya terasa cukup berubah, tapi menurutku sangat cocok padamu."

 

"Terima kasih banyak. Pakaian kasual Alya-san juga sangat cocok padamu. Saya pikir kamu seorang model profesional."

 

"Begitu? Terima kasih."

 

Sambil merasakan kehangatan sekaligus ketidaknyamanan atas percakapan khas anak cewek yang berlangsung mengapit dirinya,

Masachika meneteskan keringat dingin atas pandangan yang diarahkan oleh para pria di sekeliling.

 

Terutama pandangan pelayan pria yang seumuran yang sepertinya anak

part-time, gawat banget.

 

Dia benar-benar ditatap dengan mata yang melihat musuh. Tapi mau bagaimana lagi, terlepas dari fakta sebenarnya, jika dilihat dari luar kondisi ini memang benar-benar bunga di kedua tangan, jadi tidak bisa bilang apa-apa.

 

Ditambah lagi bukan sekadar bunga biasa. Keduanya adalah gadis cantik di tingkat yang tetap membuat orang mengangguk walau diberi sebutan "tiada dua".

 

Jika ada pria berwajah biasa yang membawa dua orang seperti ini, Masachika pun pasti bakal memperhatikan.

 

Lalu bakal bersemangat (Eh? Tokoh utama komedi romantis? Apa dia tokoh utama komedi romantis jenis harem!?). Itu sudah menjadi sifat alami seorang otaku.

 

(Yah kenyataannya, mereka berdua bukannya sedang memperebutkan aku, dan kalau melihat pemandangan ini kan harusnya paham kalau ini cuma dua teman cewek yang akrab sama satu orang pembawa barang.)

 

Sesuai pemikiran Masachika, melihat dua gadis cantik yang mengobrol dengan seru tanpa memedulikan pria di tengah, sepertinya mereka paham (Aah, si cowok cuma bonusan toh), sehingga pandangan penuh rasa ingin tahu dari dalam kedai pun menipis.

 

Pelayan part-time yang sejak tadi menatap Masachika dengan pandangan penuh iri dan kebencian pun akhirnya melunak dan kembali bekerja… pada saat itulah, Yuki melempar bom.

 

"Sebenarnya, kemeja dan jins ini baju bekas milik Masachika-kun, lho."

 

Senyum Alisa membeku seketika, dan atmosfer di dalam kedai pun ikut membeku.

 

(Adikkuuuuuーーーー!!)

 

Pandangan penuh rasa ingin tahu dari seluruh kedai kembali terpusat.

 

Pelayan part-time menatap Masachika dan Yuki secara bergantian dengan mata seolah melihat sesuatu yang tidak dipercayai.

 

"...Baju bekas?"

 

"Ya, kalau di rumah saya diperintahkan untuk memakai pakaian yang pantas sebagai seorang gadis anggun… Tapi saya juga ingin mencoba berpenampilan boyish seperti ini, jadi saya meminta bantuan Masachika-kun."

 

"Hee... begitu."

 

Alisa mengubah senyum lembut di sudut bibirnya menjadi senyum tipis yang agak menyeramkan, lalu menatap tajam Masachika.

 

"Yang namanya teman masa kecil itu, jaraknya terbilang sangat dekat, ya. Aku tidak menyangka kalau Kuze-kun punya hobi menyuruh gadis memakai bajunya sendiri."

 

"Nggak, bukan hobi kok."

 

"Benar, lho. Bukan hobi tapi fetish."

 

"Kamu diamlah."

 

Kepada Masachika yang menatapnya tajam seolah bilang jangan bicara hal yang tidak perlu lagi, Yuki memasang wajah heran.

 

"Ara? Padahal waktu saya sebelumnya memakai kare-shirt (kemeja pacar), seingat saya kamu terlihat sangat senang..."

 

"Kenyataan seperti itu tidak ada!"

 

Dengan ekspresi tanpa dosa Yuki kembali memasukkan bom tambahan.

 

Suasana kedai langsung riuh. Ngomong-ngomong "kenyataan" yang dimaksud Masachika adalah bagian Masachika yang terlihat senang, sedangkan bagian memakai kare-shirt itu sendiri kenyataannya memang benar.

 

Yuki terkadang datang ke rumah Kuze begitu saja tanpa membawa baju ganti. Kalau sudah begitu, dia biasanya memakai kemeja lama Masachika sebagai pengganti piyama.

 

Saat pertama kali mengenakan kemeja itu, Yuki-lah yang heboh berkata, “Ini kare-shirt, kare-shirt,” sementara Masachika hanya menatapnya dengan tatapan heran. Tentu saja, hal itu tidak diketahui orang lain.

 

"...Kare-shirt?"

 

Namun beruntungnya, Alisa yang awam dengan sub-culture tampaknya tidak memahami apa itu kare-shirt.

 

Yuki hendak membisikkan penjelasan itu dengan senyum bagaikan malaikat, tetapi Masachika buru-buru mencoba menghentikannya.

 

Masachika buru-buru mencoba menghentikannya, namun lebih cepat dari itu pelayan part-time mengantarkan ramen sambil menatap Masachika dengan mata seolah melihat musuh bebuyutan orang tuanya.

 

"Terima kasih sudah menunggu~ tiga Chinoike Jigoku~"

Menjatuhkan pandangan pada ramen yang sampai, Alisa membusungkan badannya "Ugh!".

Selain dampak penampilannya yang dipenuhi kuah merah kehitaman yang tidak mengkhianati namanya, uap yang membumbung tinggi tampaknya menyengat selaput lendirnya.

 

Mengabaikan Alisa yang pada tahap ini sudah agak tersedak, dua kakak-beradik penyuka makanan super pedas itu bahkan menyunggingkan senyum di sudut mulut sambil meraih sumpit.

 

"Kalau begitu, mari kita makan sebelum lembek."

 

"Ya."

 

"Be, benar ya."

 

Setelah mereka bertiga mengucapkan selamat makan bersama, Masachika dan Yuki tanpa ragu sedangkan Alisa dengan ragu-ragu menyendok mi.

 

"Nnn! Enak ya!"

 

"Ya, pantas saja sampai jadi bahan pembicaraan."

 

Menyeruput satu gigitan, kakak-beradik itu tertawa puas. Lantas, saat Masachika melirik ke samping mengamati keadaan Alisa...

 

"..."

 

Di sana terdapat Alisa yang mengencangkan seluruh tubuhnya, membelalakkan mata tanpa berkedip sambil terus mengunyah. Tangan kiri yang diletakkan di atas meja mengepal dengan kekuatan luar biasa, hingga tinjunya gemetaran.

 

"...Alya, tidak apa-apa?"

 

"..., Ya, enak, kok."

 

Setelah menelan makanan di dalam mulutnya, di sanalah Alisa akhirnya kembali berkedip sambil memajang ekspresi tenang.

 

Melihat dirinya yang masih bersikap tegar dalam situasi seperti ini, sambil merasa heran sekaligus kagum, Masachika untuk sementara menyodorkan tisu kertas.

 

"Setiap kali makan satu gigitan, lebih baik usap bibirmu pakai tisu kertas, tahu? Soalnya bibirmu bisa bengkak gara-gara pedas."

 

"...Terima kasih."

 

Setelah memastikan Alisa mengusap bibirnya dengan polos, Masachika kembali menghadapi ramennya.

 

Setiap kali menyeruput mi, rasa pedas cabai yang kuat memenuhi bagian dalam mulut.

 

Pedas yang rasanya sampai membuat keringat membumbung keluar.

 

Namun, rasa pedas itu justru mengeluarkan kelezatan bahan-bahannya, membuat diri makin dan makin menginginkannya.

Makin ingin mengintip lebih dalam ke dasar laut merah ini. (※Ini murni kesan pribadi).

 

"Yup, enak."

 

Masachika menghembuskan napas puas. Di telinga Masachika tersebut...

 

【いたいよぉ】(Sakiiit)

 

...dari sebelah terdengar rengekan yang begitu menyedihkan.

 

Saat melirik sekilas, di sana terdapat Alisa yang sumpitnya sudah berhenti sepenuhnya.

 

Sebisa mungkin ekspresinya memang dipertahankan tetap tenang, tapi tampaknya sumpitnya sudah tidak bisa bergerak lagi lebih jauh dari itu.

 

Lantas, Alisa yang menyadari pandangan Masachika di sana, seolah terdorong oleh pandangan tersebut mengulurkan sumpitnya ke mangkuk.

 

"Nggak, Alya. Beneran tidak usah memaksakan diri, tahu?"

 

"Kenapa? Kan sudah kubilang kalau ini enak."

 

Padahal kamu bilang sakit, pakai bahasa Rusia.

 

"Nggak... yah, umm. Begitu ya."

 

Sambil berpikir apakah dia tidak apa-apa ya, tapi karena tahu Alisa yang sudah jadi begini akan sia-sia walau dihentikan, Masachika memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.

 

Minum air dan menyisipkan istirahat sejenak, saat hendak mengarahkan sumpit kembali menuju dasar laut merah──

 

【もうやだ……(Aku nggak tahan lagi……)

 

Konsentrasi, tidak bisa!!

 

Suara yang terdengar dari sebelah terlalu lemah, mengundang rasa iba.

 

Meski begitu dia mencoba tidak memikirkannya dan melanjutkan makan. Tapi...

 

【おかあさん……(Ibu)

 

Saat akhirnya dia mulai bersandar pada ibu gaib, Masachika tidak sanggup menahannya lagi dan melihat ke arah Alisa.

 

(Ah, tidak bisa ini. Pupil matanya membesar.)

 

Yang mengejutkan, pada tahap ini ekspresi Alisa tidak berubah. Hanya saja... aura kematian tipis mulai keluar darinya.

 

Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Tadi pikirnya ingin membiarkannya melakukan sesukanya sampai yang bersangkutan menyerah sendiri, tapi ini sudah harus dihentikan. Ini sudah doctor stop.




“A──”

 

Tepat saat Masachika hendak menghentikan Alisa, Yuki lebih dulu menyapanya dari sisi seberang.

 

“Alya-san, bagaimana?”

 

Mendengar suara rivalnya dalam perebutan kursi Ketua OSIS berikutnya, tatapan Alisa yang sempat kehilangan fokus kembali terarah.

 

Terdorong oleh rasa persaingannya terhadap Yuki, Alisa membangkitkan kembali semangat juangnya dan bahkan menampilkan senyum tipis di sudut bibirnya.

 

“Ya, enak kok.”

 

“Baguslah kalau begitu. Ternyata Alya-san juga penyuka makanan super pedas, ya.”

 

Kepada Alisa yang memasang senyum garang yang entah kenapa terasa mengerikan, Yuki membalas dengan senyum polos. Lalu, sambil tetap tersenyum polos, dia menyodorkan sebuah kendi kecil kepada Alisa.

 

“Sepertinya kedai ini menyediakan bumbu bernama Oni no Namida yang bisa digunakan untuk menambah kepedasan. Kalau Alya-san mau, silakan.”

 

Yuki malah melancarkan serangan susulan yang tak terduga. Ujung bibir Alisa berkedut.

Ngomong-ngomong bumbu penyedap bernama Oni no Namida ini.

 

Nama resminya adalah Oni no Me ni mo Namida (Iblis pun Meneteskan Air Mata), dan sesuai namanya ini adalah bumbu penyedap asli kedai ini yang begitu pedas hingga membuat iblis sekalipun menangis.

 

(Sudah, hentikan! Nyawa Alya-san sudah nol tahu!)

 

Sambil menjerit di dalam hati, Masachika menyadarinya.

 

(Begitu toh. Karena bahasa Rusia, Yuki jadi tidak sadar kalau Alya sedang mengeluhkan tangisan)

 

Jika sudah paham begitu, mari kuberitahu dengan berbisik secara diam-diam... tepat saat menoleh ke arah Yuki, Masachika menyadarinya.

 

Di dalam mata Yuki yang sekilas memajang senyum polos, terdapat kilau kesadaran sadis yang bersemayam.

 

(Anak ini, sudah tahu tapi tetap melakukan...!?)

 

Masachika yang gemetaran ketakutan. Dari sebelahnya tangan putih terulur, meraih kendi kecil yang disodorkan oleh Yuki.

 

"Cuma meneteskan beberapa tetes saja, rasanya bakal jauh lebih enak, lho?"

 

"Nggak, Alya!? Beneran lebih baik dihentikan saja tahu!?"

Nasihat Masachika pun sia-sia, Alya yang membuka tutup kendi kecil tersebut, menyendok cairan merah membara di dalamnya memakai sendok kecil, lalu meneteskannya secara titik-titik di atas ramen. Lalu...

 

"~~~~~~!?"

 

Beberapa detik kemudian, jeritan tanpa suara Alisa bergema di dalam kedai.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close