Bab 7: Kejadian yang Menyedihkan, Ya…..
"……Alya, tidak apa-apa?"
"……"
Masachika dengan ragu-ragu memanggil
Alisa yang terduduk lemas di bangku taman yang berada di dekat kedai ramen.
Tapi, tidak ada respons.
Tampaknya tekad untuk bersikap tangguh
pun sudah habis, dan dia telah berubah menjadi sesosok mayat biasa.
Bagaikan seorang cendekiawan yang
tenggelam dalam pikirannya, dia menopang siku di atas lutut, menekan dahi ke
kedua tangan yang saling bertaut, dan membisu. Masachika pun menggaruk
kepalanya sambil bingung harus bagaimana.
Namun, tak lama kemudian Alisa mengangkat
wajahnya perlahan-lahan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan lambat
dan mata yang hampa.
"……Yuki-san?"
"Ah, dia bilang ada barang yang mau
dibeli jadi pergi ke suatu tempat, tuh? Katanya nanti bakal menyusul."
"……Begitu."
Ke suatu tempat…… atau lebih tepatnya,
memanfaatkan kesempatan
saat Alisa sedang linglung untuk pergi
menghabiskan uang di Animade.
Biarpun sesama teman OSIS, tampaknya dia
tetap menghindari
ketahuan sebagai otaku pada tahap
sekarang.
"……Tidak apa-apa?"
"Apanya?"
"Nggak, apanya tuh……"
Tampaknya, walau sudah lemas begini pun
dia tidak berniat mengakui bahwa dirinya kalah oleh makanan super pedas.
Kenyataan bahwa dia berhasil menghabiskan ramen itu secara nekat memang benar,
jadi tidak bisa dibilang kalah juga sih…… Nggak, dari awal ini obrolan soal
bertarung lawan apa coba.
"Anu…… mau makan es krim atau
semacamnya?"
"……Makan."
Saat Masachika yang mengedarkan pandangan
ke taman dan
menemukan gerobak es krim bertanya, Alisa
mengangguk dengan kepolosan yang tidak biasanya. Lalu, mereka berdua membeli es
krim dan kembali ke bangku. Tapi……
"……"
Sambil menjilat es krim choco chip yang
dibelinya, Masachika menatap es krim Alisa di sebelahnya secara lekat-lekat.
Berbeda dengan Masachika, yang dipesannya
bukan cone melainkan cup. Lalu di atasnya ada vanila, cokelat, cheesecake, dan
cookies and cream.
Semua-semuanya benar-benar manis secara
luar biasa. Matcha?
Chocomint? Rasa pahit atau kesegaran sama
sekali tidak diperlukan pada es krim! Bukan, cone pun bahkan tidak diperlukan!
Pilihan super agresif yang seolah mengujarkan hal tersebut.
Pelayan toko pun sempat agak terkejut.
"Anu…… karena habis makan yang
pedas-pedas, ya."
"……Begitu ya."
Alisa menyadari tatapan Masachika yang
campuran antara terkejut dan heran, lalu berkata sambil sedikit memalingkan
wajah karena malu. Masachika mengangguk walau di dalam hati berpikir (Nggak,
tapi tetap saja).
Entah kenapa alasannya, Alisa memiliki
kecenderungan untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang sweet
tooth.
Mungkin dia berpikir bahwa hal itu tidak
cocok dengan karakternya.
(Padahal waktu minum oshiruko sekaligus
dalam satu tegukan sambil bilang nutrisi gula untuk otak dan energi untuk tubuh
itu sudah membuatku merasa 'baru sekarang bilang begitu' sih.)
Meski begitu, Masachika tidak akan
sengaja membongkar hal yang ingin disembunyikan oleh yang bersangkutan. Karena
meski sudah sangat jelas ketahuan pun, jika yang bersangkutan ingin bersikap
demikian maka hal itu harus dihormati.
(Beneran deh, watak yang menyusahkan ya.)
Sangat keras kepala dan suka menjaga
gengsi sampai akhir.
Sosok yang terus berusaha seorang diri,
dan secara teguh berusaha menjadi sosok ideal yang diimpikannya itu, bagi
Masachika terlihat sangat menyilaukan, dan di saat yang sama agak menggemaskan.
Saat melihat Alisa berjuang sendirian,
tanpa sadar dia ingin menolongnya. Agar usaha itu membuahkan hasil, dia ingin
ulurkan tangan membantu.
Apakah hal itu didasari oleh rasa ingin
melindungi yang tidak tahu diri, ataukah hanya sekadar tindakan kompensasi
untuk menghibur ayahnya dulu atau dirinya sendiri. Hal itu bahkan tidak
dipahami oleh Masachika sendiri.
(Mau yang mana pun, itu dorongan yang
tidak benar kan.)
Sambil mengejek diri sendiri seperti itu,
Masachika mendadak teringat suatu hal.
"Nee, Alya."
"Apa?"
"Alya itu, kenapa sih ingin jadi
Ketua OSIS?"
"Karena ingin jadi makanya ingin
jadi. Kalau ada yang lebih tinggi maka diincar. Di situ perlu alasan?"
Jawaban yang diberikan terlalu sederhana
sampai-sampai Masachika sulit menyebutnya sebagai sebuah jawaban.
Namun, Masachika menyadari bahwa itulah
isi hati Alisa yang sebenarnya.
Yang bersangkutan pun mungkin tidak tahu
alasan yang jelas. Tapi, dia tidak bisa untuk tidak berlari.
Jika ada yang lebih tinggi, dia tidak
bisa untuk tidak mengincarnya.
Manusia bernama Alisa Mikhailovna Kujou
itu.
(Aah, hebat ya. Iri rasanya.)
Dia berpikir dari dasar hatinya. Betapa
indahnya orang yang mengejar cita-cita idealnya dan terus berusaha.
Tanpa mengandalkan orang lain, betapa
mulia dan berharganya sosok yang terus berlari hanya dengan dirinya sendiri.
Masachika dapat melihat dengan jelas pada
diri Alisa, kilau jiwa yang hanya mampu terpancar dari seseorang yang hidup
dengan penuh kebanggaan dan mengerahkan seluruh kemampuannya.
Yuki maupun Touya juga memiliki kilau
yang sama. Namun, milik Alisa terlihat lebih kuat dari milik mereka berdua,
padahal di saat yang sama terlihat berbahaya.
"Kalau mencalonkan diri dalam
pemilihan Ketua…… apa sudah ada calon Wakil Ketua?"
Mata Alisa sempat bergetar sesaat
mendengar pertanyaan Masachika…… tetapi segera setelahnya, seolah merasa malu
karena menunjukkan dirinya yang seperti itu, dia menghadap ke depan dan
menjawab dengan ekspresi tegas.
"Tidak ada. Tapi, tidak ada masalah
kok. Bagi saya Wakil Ketua itu tidak diperlukan."
"Nggak, tidak diperlukan bagaimana……
selama aturannya harus mencalonkan diri secara berpasangan, mana bisa
begitu."
"Asal ada Wakil Ketua di atas kertas
saja kan tidak apa-apa? Saya akan cari orang yang mau mengusung saya secara
seadanya."
Atas kata-kata itu, Masachika merasa
sangat sedih. Nah, ini dia. Karena hal inilah Alisa terlihat begitu berbahaya
baginya.
Tidak mencoba mengandalkan siapa pun.
Tidak berharap apa pun pada orang lain. Tanpa menuntut untuk diakui atau dipuji
oleh siapa pun, hanya menuntut hasil yang diidealkan dirinya sendiri dan
mengerahkan seluruh kemampuan.
Tidak, atau mungkin justru karena
berpikir semuanya adalah kepuasan dirinya sendiri, makanya dia berpikir tidak
boleh mengandalkan orang lain.
Masachika sama sekali tidak bisa
membiarkan Alisa yang seperti itu.
Justru karena tahu batas kekuatan satu
orang manusia. Dan karena tahu betapa sedih, sakit, dan hampanya saat usaha
tidak membuahkan hasil.
(Usaha itu…… harusnya membuahkan hasil.
Justru orang yang benar-benar berusaha yang harusnya meraih hasil yang
diinginkan.)
Justru karena berpikir demikian,
Masachika selama ini telah banyak membantu Alisa.
Melibatkan orang-orang di sekeliling
Alisa agar Alisa mau bekerja sama dengan sekeliling, atau dengan dirinya
sendiri yang mempelopori memanggilnya memakai nama panggilan kesayangan, dia
mencoba melunakkan sikap Alisa yang sulit didekati.
Meski kalau melihat keadaan ini,
tampaknya tidak terlalu membawa efek, sih.
"……Begitu ya."
"……"
Alisa tidak mengatakan apa-apa. Tanpa
memperlihatkan emosi yang jelas, dia membisu sambil menyuap es krim ke
mulutnya.
Apakah merupakan rasa percaya diri
Masachika yang terlalu berlebihan jika merasakan keheningan itu seperti semacam
tuntutan tanpa suara.
Saat berpisah kemarin, kata-kata yang
sempat hendak diujarkan Alisa adalah……
Pada saat itu, Alisa yang selesai makan
es krim berbisik seolah membenarkan dugaan Masachika.
【あなたが一緒に……】(Kamu
bersamaku…..)
Apakah melontarkan lebih dari itu dalam
bahasa Rusia pun terasa
sungkan, Alisa mengatupkan mulutnya di
sana. Namun bagi Masachika, itu saja sudah jauh lebih dari cukup.
(Tapi, aku kan……)
Tidak memiliki kilau jiwa yang dimiliki
oleh Alisa, Yuki, maupun Touya.
Tidak memiliki kemauan untuk menentukan
tujuannya sendiri, tidak pula memiliki semangat untuk terus berusaha
mencapainya.
Kapan pun tujuan selalu diserahkan pada
orang lain. Kapan pun antusiasme selalu tergantung pada orang lain.
Bahkan pada masa saat Masachika paling
bersinar dulu pun, hal itu tidak berubah.
Tujuan "Menjadi manusia yang pantas
sebagai penerus keluarga Suou" adalah hal yang diberikan oleh ibu dan
kakek.
Antusiasme menuju tujuan itu, adalah hal
yang diberikan oleh ibu dan anak perempuan itu. Bukan ditentukan oleh diri
sendiri.
Hanya dilakukan karena ingin diakui oleh
ibu, dan ingin dipuji oleh anak perempuan itu.
Hanya berlari di atas rel yang diberikan
orang lain, dengan bahan bakar yang diberikan oleh orang lain pula.
Dan saat kehilangan keduanya sekarang,
dia hanya bisa berdiri terpaku tanpa bisa pergi ke mana-mana.
(Aku, tidak pantas.)
Masachika bersyukur karena kata-kata
Alisa dibisikkan dalam bahasa Rusia. Karena jika diucapkan dalam bahasa Jepang
pun... pada akhirnya Masachika pasti hanya bisa memilih bungkam secara licik.
Lantas, di sana Alisa mengangkat suaranya
seolah ingin mengubah suasana.
"Kuze-kun, setelah ini ada
urusan?"
"Nng? Nggak, tidak ada urusan khusus
sih."
"Kalau Yuki-san?"
"Nnn~~... yah, kurasa nanti tinggal
menyusul seadanya saja."
"Begitu, kalau begitu temani
urusanku."
"Urusan... bukannya tadi bilang mau
beli baju?"
"Memang kenapa?"
"Nggak, kenapa bagaimana... kalau
cowok menemani cewek memilih baju, kurasa itu jenis acara yang tidak bakal
terjadi kalau tidak ada keakraban yang lumayan, lho?"
"Masa?"
Melihat Alisa yang memiringkan kepalanya
sedikit, Masachika mendadak tersadar.
(Begitu toh... Alya tidak punya teman
yang bisa diajak pergi beli baju bareng, makanya tidak paham seluk-beluk hal
semacam itu... Uuh!)
Karena Masachika tanpa sadar merasa amat
kasihan sampai matanya berkaca-kaca, dia menggigit gigi gerahamnya rapat-rapat,
lalu memajang ekspresi yang entah kenapa penuh dengan kasih sayang.
"Nggak... benar juga. Aku ikut
kok."
Melihat Masachika yang mendadak jadi
sangat pengertian, Alisa mengerutkan dahinya.
"Ada apa? Kok tiba-tiba."
"Nggak, soalnya kita kan teman.
Yup."
"Rasanya agak tidak masuk akal,
sih?"
"Tidak usah dipikirkan."
Sambil memujuk Alisa yang tampak heran
seadanya, Masachika kembali ke fasilitas komersial tempat mereka berada sebelum
makan siang tadi.
Berpindah ke lantai tempat toko-toko
pakaian berkumpul, mereka berjalan-jalan seadanya.
Di sisi lain, Alisa justru salah paham ke
arah yang tidak-tidak terhadap Masachika yang mendadak jadi lembut.
(Jangan-jangan... dia berpikir kalau aku
tidak bisa jadi Ketua OSIS?
Makanya,
tiba-tiba jadi lembut? っ, Berani-beraninya dia meremehkanku!)
Melihat Masachika yang bertindak seolah
orang tua yang membujuk anak kecil, di dalam hati dia menggemertakkan gigi.
Alisa sejak dulu tidak tahan dengan sikap
Masachika yang seolah mengawasi dari satu tingkat di atas seperti ini. Tapi
kalau di sini dia menentang dari depan, itu justru malah kekanak-kanakan.
(Sesuatu... sesuatu, aku ingin
membalasnya! Aku ingin mencabut kelonggaran sikapnya itu!)
Gunununu, sambil
mengerang di dalam hati dia memutar otak... lalu Alisa teringat kejadian pada
pagi hari beberapa waktu lalu.
(Kalau sudah begini, aku bakal bikin dia
serba salah dengan fashion show penuh kemampuanku!)
Di bawah tekad berlebihan yang lahir dari
kesalahpahaman di luar dugaan, Alisa masuk ke toko yang menarik perhatiannya,
lalu membawa berbagai baju yang ada di dalam toko dan menyusup ke dalam kamar
ganti.
"Kalau begitu, aku mau ganti baju
dulu. Minta pendapatmu, ya."
"Iya deh."
Menyuruh Masachika menunggu di depan
kamar ganti, Alisa menarik tirai lalu memilah-milah baju.
(Pertama-tama... yang ini kali ya.)
Yang pertama kali diambil oleh Alisa dari
baju-baju yang dibawanya masuk adalah one-piece putih bersih yang terkesan pas
untuk musim panas.
(Kalau yang ini tidak bakal salah kan.
Masha kan pernah bilang kalau anak cowok pasti suka yang seperti ini!)
Berseberangan dengan tekad menantangnya,
dia tanpa sadar memilih hal yang aman, mengikuti informasi dari kakaknya yang
berotak komik remaja yang tidak pasti bisa diandalkan atau tidak itu.
Lalu, saat hendak berganti pakaian dan
tangannya memegang kancing blus... mendadak tangannya terhenti.
(...Tunggu sebentar? Ini, suara saat
berganti pakaian bukannya bisa terdengar ke luar?)
Saat ini, yang memisahkan dirinya dan
Masachika yang ada di luar hanyalah selembar tirai. Ditambah lagi, di bagian
bawah ada sedikit celah. Begitu menyadarinya, rasa malu seketika membuncah di
dalam diri Alisa.
"Kuze-kun! Agak menjauh
sedikit!"
Karena tidak tahan dia mengangkat suara
ke balik tirai, dan bersamaan dengan suara lesu "I~ya", terdengar
suara langkah sepatu yang menjauh.
Sambil merasa agak lega atas hal itu...
Alisa merasa panik karena suara langkah sepatu itu terdengar lebih jelas dari
dugaannya.
(Eh? Jarak yang sampai suara langkah
sepatu saja terdengar... bukannya suara gesekan kain juga bakal terdengar?)
Rasanya seperti dirinya sedang melakukan
hal yang sangat memalukan, sehingga dia menjadi tidak tenang. Kata-kata
"Kalau cowok menemani cewek memilih baju, kurasa itu jenis acara yang
tidak bakal terjadi kalau tidak ada keakraban yang lumayan~~" yang
dikatakan Masachika tadi, rasanya baru dipahami artinya belakangan.
(Nggak, tidak apa-apa. Di dalam toko kan
terdengar musik juga... suara dari sini harusnya tidak bakal mudah terdengar.)
Alisa merasa ingin kabur karena rasa malu
yang luar biasa, namun hal semacam itu tidak diizinkan oleh harga dirinya.
Setelah menahan rasa malu rapat-rapat,
dia meyakinkan diri lalu mulai melepas pakaiannya.
Berusaha tidak memikirkan pemuda yang ada
di luar, dia berganti
pakaian dengan tenang dan cepat, lalu
sambil tahu bahwa itu tidak ada gunanya dia memasang telinga dan mengamati
keadaan di luar.
(Tidak apa-apa... sepertinya.)
Lalu, setelah meyakinkan diri seorang
diri karena tidak ada reaksi khusus, dia kembali menghadap ke cermin.
Di sisi lain, yang bersangkutan yang tadi
dipasang telinga oleh Alisa, menghadapi pandangan hangat dari para wanita di
sekelilingnya yang seolah bilang "Ara, sepasang siswa? Apa sedang menunggu
pacarnya? Imutnya~", sambil memasang wajah hampa dia melarikan diri dari
kenyataan (Ini mah kejadian yang sering ada di romcom...).
Sama sekali tidak ada suara gesekan kain
di dalam kesadarannya, sehingga hal yang dikhawatirkan Alisa hanyalah
kekhawatiran yang sia-sia.
Meskipun kenyataan bahwa Masachika lebih
memedulikan pandangan orang sekeliling daripada Alisa yang sedang berganti
pakaian mungkin merupakan hal yang tidak diinginkan oleh Alisa.
(Yup, ini cocok untukku. Seperti yang
diharapkan dariku.)
Memasang pose di depan cermin, Alisa
memuji dirinya sendiri. Lalu, setelah yakin akan kemenangan (entah sejak
kapan hal ini jadi pertarungan), saat hendak menarik tirai sampai terbuka,
dia mendadak merasa cemas.
Bagaimana kalau sama sekali tidak ada
reaksi? Bagaimana kalau sambil mengotak-atik ponsel dia cuma bilang "O~h
bukannya bagus?" secara asal-asalan? ...Bisa-bisa dia menangis.
Memikirkannya saja sudah membuat jantungnya tersentak.
(F-funn! Kalau dia sampai melakukan hal
seperti itu, bakal kutampar
dengan sekuat tenaga!)
Namun, Alisa membangkitkan semangat
juangnya dan menekan rasa gentar, lalu menarik tirai dengan cepat dan penuh
semangat.
"Bagaimana?"
Menaruh tangan di pinggang dan
menumpukkan berat badan pada satu kaki, sambil memasang pose seperti model
Alisa menatap Masachika secara menantang.
Kenyataannya, berpadu dengan lekuk tubuh
dan kecantikannya yang luar biasa, penampilannya menjadi luar biasa bergaya
hingga membuat terkejut.
Desahan napas kagum meluncur dari jajaran
wanita di dalam toko yang tanpa sengaja melihat ke arah sana. Masachika pun
bukan pengecualian.
(Yang begitu mah kalau cowok pasti
jelas-jelas suka!!)
Sambil menjerit keras di dalam hati, dia
menghempaskan tinjunya ke atas meja imajiner. Tampaknya khusus untuk kali ini
informasi dari Masha memang benar.
Tapi, kalau di sini dia kelihatan gugup
secara jelas maka akan sesuai dengan keinginan Alisa. Masachika sangat paham
bahwa pada saat seperti ini siapa yang merasa malu maka dialah yang kalah.
Karena itulah, di sini dia tidak akan
berada di posisi bertahan melainkan melancarkan serangan!
"Ah, sangat cocok kok. One-piece
putih bersih pas sekali dengan kulit putih Alya. Kesan anggun dan kecewekannya
makin tertekankan, jadi terasa lebih imut dari biasanya."
"U, e? A, begitu...?"
Atas serangan balasan Masachika, Alisa
menjadi bingung. Dipuji dari
depan dengan wajah datar, membuatnya
merasa agak tidak tenang.
"Kalau begitu, berikutnya..."
Setelah menggumamkan hal itu dengan
berbisik-bisik, Alisa menarik tirai seolah melarikan diri.
Tirai menghalangi pandangan mereka
berdua... tepat setelahnya, Alisa dan Masachika meringkuk secara bersamaan di
dalam dan luar tirai.
(Eh? Eh? Apa? Eeh? Kok mendadak dipuji
sampai segitunya!)
(Malu banget! Sialan malu banget! Kok
bisa-bisanya aku bilang tanpa tertawa! Gawat banget ini. Dipuji dere dari depan
itu benar-benar malu banget! Anak itu, kok bisa-bisanya selalu melakukan hal
seperti ini coba. Yah walau dia melakukannya karena berpikir tidak tersampaikan
dalam bahasa Rusia sih!)
Tanpa ada kelonggaran untuk memedulikan
pandangan senyum hangat dari para wanita di sekeliling, Masachika merengkuh
kepalanya menahan rasa malu. Tepat di sebelahnya, Alisa juga menahan kedua
pipinya dengan kedua tangan menahan rasa malu.
(Eh?
Nggak, eeh? Ma, masa, dipanggil imut... dipanggil imut! ~~~~っ,
Ah! Ah!)
Meski begitu karena tidak sanggup
menahannya, dia menginjak-nginjak lantai kamar ganti, dan buru-buru
menghentikannya karena suaranya ternyata lebih keras dari dugaannya.
Sambil berdeham tanpa arti, dia menghadap
kembali ke depan, dan melihat ekspresi wajahnya yang tersenyum hancur terpantul
di cermin, tanpa sadar dia membenturkan dahinya ke cermin.
Dia menekan dahinya kuat-kuat ke cermin,
lalu memaksa dirinya kembali tenang dengan rasa sakit dan sensasi dingin itu.
(Fuuuu~~... Tidak apa-apa. Kalau
dipikir-pikir, bukannya dia cuma menyampaikan hal yang wajar dengan cara yang
wajar. Benar, Kuze-kun ternyata orang yang bisa memuji gadis dengan baik, ya.
Kagum rasanya.)
Sambil memberikan penilaian dengan sudut
pandang dari atas yang misterius, tepat saat dia menyapu rambutnya ke belakang,
sebuah kesan bahwa Masachika sudah terbiasa melakukannya terlintas di benak
Alisa.
(Terbiasa? Dalam hal apa?)
Tidak perlu dipikirkan lagi. Dalam hal
Masachika memuji seorang gadis.
Lalu, dia terbiasa karena memuji siapa?
Hanya satu jawaban yang
terlintas di pikirannya.
(Yuki-san, kah...?)
Kepalanya seketika dingin. Sosok keduanya
yang melakukan window shopping dengan menyenangkan yang dilihatnya baru
beberapa jam lalu terbayang di benaknya, dan hal yang mengganjal meluas di dada
Alisa.
"..."
Setelah perlahan menjauhkan badannya dari
cermin, Alisa memindahkan pandangannya ke baju-baju yang dibawanya masuk. Lalu,
dari sana dia mengambil celana jins dan kemeja, kemudian kembali berganti
pakaian.
Pilihan itu, terutama kemeja hitam
bertuliskan bahasa Inggris yang terkesan maskulin, terasa seperti dipilih
dengan mempertimbangkan sesuatu. Tapi, mungkin itu cuma perasaannya saja.
Jika Alisa bilang tidak ada maksud lain,
maka memang begitulah adanya.
"Bagaimana? Kalau ini."
Seolah ingin bilang "Tidak ada hal
yang perlu merasa bersalah, tahu?",
Alisa membuka tirai dengan ekspresi penuh
percaya diri.
Tapi, Masachika bukannya terlalu sensitif
sampai tidak bisa menyadari
apa pun setelah melihat penampilan itu.
Namun, dia juga tidak terlalu tidak sopan untuk sengaja menunjuk hal tersebut.
Bisa dibilang dia bukannya tidak takut juga.
"Kali ini kesannya jadi jauh lebih
keren, ya. Alya kan ketimbang tipe imut lebih ke tipe cantik, jadi yang seperti
itu juga cocok menurutku. Ketimbang rok kalau celana jins kan bagusnya lekuk
tubuhmu juga jadi makin menonjol."
"Fu, fu~n. Begitu? Terima
kasih."
Mendapat pujian habis-habisan untuk kedua
kalinya, kali ini Alisa menerimanya tanpa merasa bingung. Tanpa mencoba
menyembunyikan senyumnya yang tidak merasa keberatan, dia bahkan mengutarakan
ucapan terima kasih dengan senyuman yang tidak biasanya.
"Kalau begitu, berikutnya ya."
"O~u."
Lalu, Alisa sama sekali lupa akan tujuan
awalnya untuk membuat Masachika serba salah, dan mulai menikmati fashion show
secara murni.
Dia berganti baju satu demi satu, bahkan
memasang pose di depan cermin dan memamerkannya kepada Masachika. Terhadap hal
itu Masachika juga memanfaatkan penuh kosakata pujian mematikan untuk cewek
yang dipelajarinya dari dunia dua dimensi untuk memujinya habis-habisan.
Lama-kelamaan rasa malu Masachika menjadi
mati rasa, sementara Alisa justru semakin menikmatinya. Sesuai dugaan
Masachika, Alisa tidak punya teman untuk diajak berbelanja, sementara kakaknya
yang sesekali berbelanja bersamanya hanya selalu berkata, "Alya-chan
imutnya~". Karena itu, dipuji secara spesifik dan habis-habisan seperti
ini merupakan pengalaman pertama bagi Alisa.
(Berikutnya~~ nnn~~♪ Be, ri, kut, nyaa~~♪)
Tampak sangat bersemangat, dia memilih
baju sambil bergumam lagu di
dalam hati.
Jika Yuki ada di tempat ini pastinya dia
bakal bilang "Gampang banget", tapi yang bersangkutan tidak sadar
diri.
Lalu, sambil mempertahankan perasaannya
yang melayang, sambil berpikir "Yang ini mungkin tidak bakal kupakai sih,
tapi yah buat jaga-jaga" dia mengulurkan tangan ke baju yang dibawanya
masuk.
(Apakah agak terlalu berani... ya? Tapi
kalau Kuze-kun pasti memujiku kan.)
Yang dipilihnya adalah kamisol yang
memperlihatkan bahu dan rok mini. Tingkat keterbukaannya cukup tinggi, terutama
untuk bagian rok mini, jika Alisa yang dari awalnya memiliki kaki panjang
memakainya maka akan berujung pada keadaan yang membuat orang ingin bilang
"Nng? Di atas lutut? Bukannya jauh
lebih dekat ke bawah selangkangan?".
Jika Alisa yang biasanya pastinya tidak
akan pernah memakai, dan kalaupun memakai tidak akan pernah diperlihatkannya
kepada lawan jenis, tapi Alisa yang sudah sepenuhnya terbawa suasana oleh
pujian mematikan Masachika, mengabaikan suara akal sehat yang tersisa sedikit
lalu membuka tirai.
Ya, tanpa menyadari kalau hawa keberadaan
di balik tirai tersebut sudah bertambah menjadi dua orang.
"Kalau ini bagai, ma..."
Membungkukkan tubuh bagian atasnya ke
depan, menaruh jari telunjuk kanan di pipi sambil melakukan wink... pada saat
itulah, Alisa menyadari Yuki yang berdiri di sebelah Masachika.
Pandangan mereka berdua saling beradu
dari depan, dan Alisa membeku seketika dengan satu mata yang terpejam.
Di sisi lain, Yuki yang memegang kantong
kertas berisi berbagai barang otaku, melihat Alisa yang seperti itu sambil
mengedipkan matanya beberapa kali...
"Uwao, Alya-san berani
bangeet."
"...Iya ya."
Yuki yang bersiul dengan ekspresi murni,
dan Masachika yang memalingkan mata dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Melihat mereka berdua, Alisa seketika
menjadi tenang.
Wajahnya seketika pucat, lalu beberapa
saat kemudian memerah.
"...Benar juga ya."
Alisa yang pipinya memerah mengulas
senyum kedutan sambil menutup tirai perlahan, lalu membisu dan meringkuk di
tempat itu.
【……消えたい】(……Aku ingin
menghilang)
Lalu, dia kembali mengonfirmasi
penampilannya sendiri saat ini di cermin, kemudian berbisik dengan suara yang
seolah ingin menghilang sesuai kata-katanya.
"Alya-san, bilang apa?"
"...Katanya, ingin menghilang."
"Fuh, baby yang polos banget."
"Kamu siapa coba."
Meski begitu, bisikan itu pun
tersampaikan kepada kakak-beradik ini.
◇
Setelah itu, Alisa yang sudah menjadi
sangat penurut membeli dua stel dari baju yang dicobanya, lalu bergegas pulang
bersama Masachika dan Yuki.
Bahkan setelah naik kereta pun suasana
hatinya tidak membaik, dan apakah karena mempertimbangkan Alisa yang seperti
itu, Masachika dan Yuki juga mengotak-atik ponsel tanpa mengobrol.
"Kalau begitu sampai hari Senin ya,
Alya."
"Hari ini sangat menyenangkan. Mari
pergi bersama lagi ya?"
"Ya, sampai nanti."
Tak lama kemudian, Masachika dan Yuki
turun dari kereta lebih dulu, dan Alisa mengantar punggung mereka lalu
tenggelam lemas di kursi kereta.
【ありえない……】(Nggak
mungkin…..)
Mengingat kembali tindakan memalukan
(standar Alisa) yang diperlihatkannya tadi, dia diserang oleh dorongan ingin
menggeliat kesakitan.
【あんな、短いスカート……絶対はしたない女だって思われた……】(Rok sependek
itu…… Mereka pasti menganggapku perempuan yang nggak sopan……)
Menampar wajahnya ke kantong kertas yang
diletakkan di atas lutut, Alisa sempat membakar dirinya dalam rasa malu dan
penyesalan... namun, mendadak dia menyadari sebuah hal yang aneh.
"...Loh?"
Benar, ada yang aneh. Kenapa tadi mereka
berdua turun di stasiun yang sama?
Rumah Masachika dan Yuki, kalau dihitung
dari stasiun seharusnya berselisih tiga stasiun. Jika dipikir secara normal,
tidak mungkin mereka
turun di stasiun yang sama.
"...Eh? Eh?"
Kalau begitu, hal yang bisa dipikirkan
cuma satu. Mereka berdua, masih belum berniat pulang ke rumah. Nggak, atau
jangan-jangan berniat pergi ke rumah salah satu dari mereka...?
"Eh──?"
Kenyataannya, dugaan itu benar. Karena
Yuki tidak mungkin membawa pulang barang otaku ke rumah keluarga Suou, jadi dia
berniat menikmati barang hasil buruannya di rumah keluarga Kuze.
Tapi, situasi seperti itu tidak diketahui
oleh Alisa.
"Jangan-jangan, mereka
berdua...?"
Kecurigaan yang mencuat di dalam dadanya,
berusaha ditekan dari atas sebisa mungkin.
(Nggak. Masih ada kemungkinan kalau
mereka cuma punya kedai lain yang mau dikunjungi, kan.)
Saat meyakinkan dirinya sendiri seperti
itu... mendadak dia teringat suatu hal, lalu Alisa mengeluarkan ponselnya.
(Tadi bilang apa ya... kalau tidak salah,
kare-shirt?)
Mencari dengan mengandalkan ingatannya,
Alisa membelalakkan matanya melihat gambar yang muncul di hasil pencarian.
"Ap──!?"
Atas suara aneh yang mendadak meluncur,
pandangan dari sekeliling
berkumpul, tapi Alisa tidak punya
kelonggaran untuk memedulikan hal itu.
Itu adalah gambar yang tampaknya memotong
satu adegan dari komik remaja.
Pria dan wanita duduk berhadapan di atas
satu tempat tidur, pihak wanita mengenakan kemeja yang kebesaran sambil
tersenyum malu-malu, dan pihak pria... bertelanjang dada.
(A-apa-apaan ini!?)
Kecurigaan yang tadi mati-matian ditekan
itu akhirnya lepas dan menembus atap.
(Eh?
Eeh? Eeeeーー!?)
Atas gambar yang memancarkan atmosfer
sangat mesum itu, Alisa membelalakkan mata. Pria dan wanita di dalam gambar itu
seketika tergantikan oleh sosok Masachika dan Yuki dalam benaknya… dan dia
buru-buru menghapusnya.
(Maksudnya
bagaimana iniーーーーっ!?)
Sendirian di dalam kereta, Alisa terus
memikirkan pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawabannya.



Post a Comment