Bab 1: Bukannya Rasanya Menyesal Banget Kalau Sampai Melewatkan Gacha Gratisan?
"Are?"
Setelah mengaduk-aduk bagian dalam meja,
dilanjutkan dengan mengintip ke dalam tas, dan sebagai pemungkas mengonfirmasi
bagian dalam loker di belakang kelas, Masachika mulai merasa agak panik.
Buku referensi yang akan digunakan untuk
pelajaran berikutnya tidak ditemukan.
Begitu mengonfirmasi jam dinding kelas,
waktu yang tersisa sampai pelajaran berikutnya dimulai kurang dari dua menit.
Mau pergi meminjam ke adik perempuan yang ada di kelas sebelah pun, rasanya
waktu yang tersisa sudah agak mengganggu.
Tak ada pilihan lain, Masachika perlahan
merapatkan badannya ke arah
Alisa di sebelah kirinya, lalu
mengatupkan kedua tangan sambil berbisik pelan.
"Sori, Alya. Boleh lihat buku
referensi Kimia milikmu?"
Mendengar ucapan itu, Alisa menoleh
dengan ekspresi separuh heran dan separuh terganggu.
"Apa? Lupa membawa lagi?"
"Ya, sepertinya ketinggalan di
rumah."
"Haah... Yah, boleh saja, sih."
"Makasih!"
Atas anggukan Alisa yang disertai hela
napas, Masachika dengan sigap merapatkan mejanya.
"Kuze-kun... kamu ini, bukankah
sudah keterlaluan terlalu sering lupa membawa barang? Padahal sudah jadi siswa
SMA tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda berkurang."
"Mau bagaimana lagi? Lagipula buku
pelajarannya terlalu banyak, tahu."
SMA Seirei ini, karena merupakan sekolah
swasta persiapan masuk
perguruan tinggi, jumlah buku teksnya
secara tidak wajar amat sangat banyak.
Sudah menjadi hal lumrah jika
masing-masing mata pelajaran memiliki beberapa buku pelajaran dan buku
referensi. Tergantung pelajarannya, bahkan ada yang sampai menggunakan buku
cetak orisinal buatan gurunya sendiri.
Padahal begitu, entah karena menjunjung
tinggi tradisi atau apa, standar tas sekolah tidak berubah sejak puluhan tahun
lalu, dan jika memasukkan buku teks serta buku catatan untuk satu hari secara
normal, tas itu sudah langsung penuh sesak.
Karena itu, para siswa semuanya melakukan
apa yang disebut okiben
(meninggalkan buku) di loker, tetapi dari
sudut pandang Masachika hal ini justru menjadi penyebab masalah.
"Kemarin karena tidak ada di atas
meja, aku pikir ada di loker... tapi tebakanku meleset."
"Itu karena kamu tidak
mengonfirmasinya dengan benar, kan? Karena kamu tidak paham secara pasti apa
yang kamu bawa pulang dan apa yang kamu tinggalkan, makanya jadi begitu."
"Tidak ada kata-kata untuk
membalasnya."
"Cuma manis di bibir saja."
"Uweeei, tajam bangeeet~"
Melihat Masachika yang mengatakan hal itu
dengan nada datar tanpa memperlihatkan raut penyesalan sedikit pun, Alisa
mengedikkan bahunya dengan raut benar-benar heran.
Alisa mengeluarkan seperangkat buku
pelajaran Kimia dari dalam meja,
lalu mengarahkan tatapan mata penuh
curiga ke arah Masachika.
"Jadi, buku pelajaran yang
mana?"
"Ah, yang itu, yang itu. Yang warna
biru itu."
Mendengar kata-kata Masachika, Alisa
membuka buku referensi tersebut lalu meletakkannya di antara meja mereka
berdua. Setelah mengucapkan terima kasih atas hal itu, Masachika mendengarkan
ceramah guru... seharusnya begitu, tetapi dari situlah pertarungan antara
Masachika dan kantuk dimulai.
(Gawat, ngantuk bangeeet.)
Selain kurang tidur, fakta bahwa
pelajaran jam kedua adalah olahraga semakin memperparah hal tersebut.
Meski begitu, saat guru sedang menulis di
papan tulis dia masih bisa melawan rasa kantuknya, tetapi begitu guru mulai
menunjuk siswa untuk menjawab soal, rasa kantuknya langsung dipercepat secara
drastis.
Interaksi antara guru dan teman sekelas
terdengar bagaikan lagu pengantar tidur atau semacamnya, hingga tanpa sadar dia
terkantuk-kantuk...
"Ngguk!?"
...saat moment itu terjadi, ujung pensil
mekanik ditusukkan dengan kuat ke pinggang Masachika.
(A-tulang rusuk... di antara, tulang
rusuk...!!)
Sambil menahan rasa sakit luar biasa
akibat serangan mendadak itu tanpa suara, dia mengarahkan pandangan protes ke
samping... lalu disambut oleh pandangan celaan kemurnian seratus persen,
membuat lehernya serta-merta menciut.
Sebab mata biru yang menyempit itu
mengatakannya dengan amat sangat jelas melebihi kata-kata: "Sudah
dipinjami buku pelajaran malah tertidur, berani sekali kamu, ya."
"(Maaf...)"
"Hmph."
Masachika yang rasa kantuknya sudah
terbang sepenuhnya,
menyampaikan permohonan maaf dengan suara
pelan sambil tetap mengarahkan pandangannya ke depan.
Namun balasan yang diterimanya hanyalah
embusan napas dari hidung
yang dipenuhi rasa celaan.
"Kalau begitu, yang masuk ke dalam
kolom kosong berikutnya? Ya, Kuze."
"Eh, a, iya."
Mendadak ditunjuk oleh guru di saat
seperti itu, Masachika terburu-buru berdiri.
Namun, karena sampai sesaat sebelumnya
dia nyaris tertidur, tidak mungkin dia tahu jawabannya.
Jangankan itu, soal bagian mana pun dia
tidak tahu. Mencari pertolongan, dia melirik sekilas ke arah samping, tetapi
Alisa memasang wajah tidak tahu apa-apa dan sama sekali tidak sudi menoleh ke
arah Masachika.
"Ada apa? Cepat."
"A, itu..."
Jujur saja bilang tidak tahu. Saat
pikiran itu terlintas di kepalanya, Alisa mengembuskan napas pelan lalu
mengetuk-ngetuk salah satu bagian
buku pelajaran dengan jarinya.
"!
Nomor ②, tembaga!"
Sambil mengucapkan terima kasih kepada
Alisa di dalam hati, Masachika menjawab opsi yang ditunjukkan. Namun...
"Salah."
"Eeh?"
Ditolak dengan jawaban instan, Masachika
mengeluarkan suara konyol.
(Salah, woi!)
Sambil menjerit di dalam hati dia dengan
cepat menatap ke samping, tetapi Alisa tetap memasang wajah tidak tahu apa-apa
seperti sebelumnya. Tidak, kalau dilihat baik-baik sudut mulutnya sedikit
tersenyum.
"Kalau begitu, yang di sebelahnya,
Kujou."
"Iya,
nomor ⑧, nikel."
"Jawaban benar. Kuze, dengarkan
pelajaran dengan benar, ya?"
"A, iya..."
Atas teguran dari guru, Masachika duduk
kembali di kursinya dengan lesu, namun dia segera menyampaikan protes dengan
suara pelan kepada Alisa.
"(Jangan mengajari jawaban yang
salah dong!)"
"(Aku kan cuma memberi tahu soal
yang mana?)"
"(Bohong!
Jelas-jelas kamu menunjuk nomor ② tadi, kan!)"
"(Tuduhan yang kejam sekali)"
"(Matamu itu tersenyum, tahu!)"
Melihat Masachika yang tampak seolah
hendak berteriak "Ugaaa--!" saat itu juga, Alisa mengulas senyum
meremehkan lalu tertawa kecil dari hidungnya. Kemudian, dia berbisik pelan
dalam bahasa Rusia.
【かわいい】(Imut)
Atas sikap dere yang mendadak itu,
Masachika berusaha mati-matian menahan pipinya agar tidak kedutan. Sambil
menahan tangannya agar tidak gemetaran akibat efek baliknya, dia berusaha
sebisa mungkin bersikap tidak tahu.
"(Bicara apa tadi?)"
"(Aku cuma bilang 'dasar
bodoh')"
Di dalam hati dia berteriak "Bohong
banget daaah--!!", tetapi hal itu tidak bisa diperlihatkannya ke luar.
Fakta bahwa Masachika mengerti bahasa
Rusia adalah karena pengaruh kakek dari pihak ayahnya yang sangat menyukai
Rusia.
Saat masih SD, ketika dia dititipkan di
rumah kakeknya untuk beberapa waktu, hal itu berawal dari kakeknya yang
terus-terusan mengolahnya dengan menonton film-film Rusia.
Masachika sendiri belum pernah pergi ke
Rusia, dan tidak ada kerabat yang orang Rusia.
Di sekolah pun dia tidak pernah
mengatakannya secara khusus, jadi orang di sekolah ini yang tahu kalau
Masachika mengerti bahasa Rusia hanyalah adik perempuannya yang ada di kelas
sebelah.
Dan karena dia juga sudah menyuruh adik
perempuannya itu untuk bungkam, tidak ada orang lain lagi yang mengetahuinya.
Kalau dipikir-pikir sekarang, seharusnya
dia melakukan caming out lebih awal, tetapi menyesal pun sudah terlambat.
Permainan shame play misterius berupa
disikapi dere dalam bahasa Rusia hanya oleh gadis cantik di kursi sebelah ini,
semuanya adalah benih yang ditaburnya sendiri, jadi tidak ada pilihan selain
menerimanya dengan pasrah.
Rasa malu tak tertahankan yang membuncah
dari balik dadanya ditahannya mati-matian sambil memerah wajahnya, mengatupkan
bibirnya rapat-rapat, lalu menghembuskan napas perlahan. Kemudian,
Alisa yang salah paham mengira keadaan
itu sebagai bentuk menahan amarah, berbisik dengan raut yang terlihat
benar-benar merasa terhibur.
【赤ちゃんみたい】(Seperti bayi
kecil)
Di dalam kepala Masachika, terbayang
sosok dirinya yang diubah menjadi balita sedang dicolek-colek pipinya oleh
Alisa yang tersenyum cengengesan.
(Oh, jadi rupanya ingin perang, ya.)
Setelah menyadari bahwa dirinya
benar-benar dipandang rendah dan dipermainkan, Masachika seketika memasang raut
muka serius.
(Sia~pa yang kamu sebut bayi, bajingan
ini... Mau kutunjukkan
keseriusanku, hah?)
Aku melirik sekilas ke arah jam,
mengonfirmasi sisa waktu hingga
pelajaran berakhir.
(Jam sebelas lewat empat puluh. Masih ada
sepuluh menit... Selama waktu itu, aku harus membalasnya...)
Tepat saat itu, Masachika menyadari
sebuah fakta yang luar biasa hingga matanya membelalak.
(Gawat! Aku belum memutar gacha gratisan
buat sesi pagi!!)
Sebuah kesalahan fatal. Harusnya aku
memutarnya sebelum berangkat dari rumah atau sebelum homeroom, tapi pagi ini
karena terlalu mengantuk, otakku tidak sampai berpikir ke sana.
(Hampir saja, baguslah aku sadar. Mau
bagaimana lagi, kuputar pas jam istirahat berikutnya saja.)
Pikirannya sudah sepenuhnya beralih ke
arah otaku, dan hal tentang dirinya yang diperlakukan seperti bayi oleh Alisa
pun sudah tidak dipedulikannya lagi. Sifat sederhananya itu rasanya wajar saja
kalau disebut selevel bayi, tetapi yang bersangkutan tidak memiliki kesadaran
akan hal itu.
Setelah menjalani sisa pelajaran
seadanya, aku memperhatikan guru yang keluar dari kelas... Begitu mengonfirmasi
guru sudah pergi, tanpa sempat mengembalikan meja ke posisi semula dengan
benar, aku dengan cekatan mengeluarkan ponsel dan menjalankan aplikasi gim
dengan kecepatan tertinggi.
Melihat hal itu, Alisa menaikkan alisnya
dan menegur.
"Kecuali untuk keadaan darurat dan
digunakan untuk belajar, penggunaan ponsel di dalam lingkungan sekolah adalah
pelanggaran peraturan sekolah. Berani sekali kamu melakukannya di depan
pengurus OSIS seperti aku."
"Kalau begitu, ini bukan pelanggaran
peraturan sekolah. Soalnya sedang keadaan darurat."
"...Aku tanya untuk memastikan, tapi
belah mananya yang darurat?"
Melihat Alisa yang menatapku dengan mata
sipit karena yakin alasannya pasti tidak bermutu, Masachika menegaskannya
dengan wajah sok keren tanpa guna.
"Gacha gratisan tinggal sepuluh
menit lagi selesai."
"Kamu mau ponselmu disita?"
"Aku percaya kamu tidak akan melakukan hal
semacam itu ZE☆"
"Bagaimana kalau sekali-kali
benar-benar kusita saja."
Kepada Masachika yang mengacungkan jempol
sambil memberikan kedipan mata yang sangat payah, Alisa mengarahkan pandangan
yang semakin sinis. Namun, Masachika tidak merasa terganggu sedikit pun dan
berkata sambil menatap layar ponsel di tangannya.
"Nah~ kalau dapat barang langka sih
bersyukur banget... Lagian, kedipan mata begitu sudah lama banget tidak
kulakukan. Ternyata
lumayan tinggi ya tingkat kesulitannya,
kedipan mata itu."
"Tiba-tiba bicara apa, sih..."
"Tidak, idola atau semacamnya kan
kadang suka melakukan itu, tapi bahkan di antara kalangan artis pun jarang ada
orang yang bisa berkedip
dengan cantik, ya."
"Masa sih?"
"Eh? Bukannya sulit? Mau bagaimana
juga pipi atau sudut mulut pasti ketarik aneh, bukannya terlihat mengedip pas
tapi malah kelihatan
mengkerut."
"Tidak juga, tuh."
"...Hou? Kalau begitu coba tunjukkan
padaku, yang namanya kedipan
mata yang benar-benar cantik itu."
Mengangkat wajahnya, Masachika mengulas
senyum menantang yang
nakal. Alis Alisa yang bermuka masam
bergerak sedikit, dan teman-teman sekelas di sekitar yang mendengarkan
percakapan itu mulai berbisik-bisik ringan.
Sambil merasakan pandangan seketika
terpusat dari sekeliling, Alisa dengan ekspresi jengkel menghadap kembali ke
arah Masachika, lalu menghembuskan napas panjang sekali.
"Haah... Nih, begini kan?"
Lalu, sambil memiringkan kepalanya
sedikit, dia memperagakan sebuah kedipan mata yang sangat memukau.
Tanpa memberi tekanan ekstra sedikit pun
pada bagian wajah yang lain,
dia mengedipkan sebelah matanya secara
alami.
Sebuah adegan berharga berupa kedipan
mata dari Putri yang
Menyendiri itu membuat suara di
sekeliling bergemuruh antara seruan kagum dan sorakan, bahkan ada yang bertepuk
tangan secara
terpisah-pisah.
Namun, Masachika yang meminta hal itu
sendiri...
"Yesss! SSR Tsukuyomi dapettt!
...Eh, ah maaf. Aku tadi tidak
melihatnya."
"Sita."
"Nooo!"
Ponselnya diambil tanpa ampun, Masachika
pun menjerit. Alisa
menatapnya dari atas sambil berkacak
pinggang.
Pipinya yang sedikit memerah itu, apakah
karena marah atau rasa malu?
Tanpa disengaja rasanya ini menjadi
balasan atas godaannya saat pelajaran tadi, tetapi Masachika tidak bermaksud
begitu. Justru karena tidak ada niat jahat itulah yang membuatnya makin parah.
Tiba-tiba, di telinga Alisa terdengar
suara tiga siswa laki-laki yang saling
merapatkan kepala dan berbisik-bisik.
"(O-oi, yang tadi kefoto
tidak?)"
"(Nggak, sudutnya agak...)"
"(Fuh, serahkan padaku. Momen
kedipan matanya berhasil kutangkap dengan pas banget)"
"(Ooo! Serius kamu, super berfaedah
banget dah!)"
"(Bagi gambarnya dong! Sampai seribu
yen pun bakal kubayar!)"
"Sita."
"""Geee!?
Kujou-san!?"""
Ponsel yang digunakan untuk memotret
secara diam-diam diambil, dan ketiga siswa laki-laki itu menjerit bersamaan.
"Ada
apa Kujou-san! Kami tidak melakukan apa──"
"Tidak melakukan?"
"A, tidak, tidak ada apa-apa
kok..."
Meski mencoba bersikap tidak tahu malu
dan mengelak, siswa itu seketika menciut saat tatapan mata tajam di arahkan
padanya.
Tapi, itu hal yang wajar. Faktanya, sosok
Alisa yang mengangkat dagunya dan menatap tajam dari atas dengan mata
membelalak memiliki tekanan yang sanggup membuat pria dewasa sekalipun gentar.
Pandangannya yang dingin dan keras itu
benar-benar selevel tundra.
Dengan tekanan seolah badai salju sedang
berhembus kencang di belakangnya, teman-teman sekelas lain yang tadinya heboh
dengan kedipan mata Alisa pun semuanya dengan cepat memalingkan pandangan,
menahan napas agar dampaknya tidak mengenai diri mereka.
Bagaikan berjalan di padang salju tanpa
penghuni, Alisa kembali ke kursinya dengan memegang empat buah ponsel.
Sambil menunduk, teman-teman sekelas
menunggu badai salju berlalu.
Namun, ada sekitar satu siswa laki-laki
yang sama sekali tidak gentar di hadapan sosok menakutkan itu.
"Ampuni hamba~ berilah kemurahan
hati~"
Masachika melemparkan dirinya di kaki
Alisa yang baru kembali, mengatupkan kedua tangan sambil memohon dengan melas.
Kepada Masachika yang masih belum membuang atmosfer santainya bahkan dalam
situasi seperti ini, pandangan seperti melihat seorang pahlawan (si bodoh)
diarahkan padanya dari sekeliling.
"Mau bagaimana lagi~ Kalau dapat SSR
dari gacha gratisan, ya jelas mataku bakal kearah sana~"
Ditambah lagi, Masachika malah membela
diri. Di saat pandangan seperti "orang ini seriusan?" berkumpul pada
Masachika dari sekeliling, Alisa dengan ekspresi tundra yang tetap sama
menjatuhkan pandangannya pada ponsel yang disitanya dari Masachika.
"...SSR, Tsukuyomi? Tsukuyomi itu
bukannya dewi bulan dalam mitologi
Jepang, ya? Kenapa bukannya rambut hitam
tapi malah rambut perak?"
"Eh... entah ya? Bukannya karena
citra bulan? Yah, yang penting kan
cantik, tidak usah mempermasalahkan hal
kecil."
"...Huuuh."
Melihat Masachika yang mengulas senyum
sangat puas, Alisa perlahan menyempitkan matanya.
Di saat yang sama, atmosfer yang
menyelimuti Alisa suhunya turun beberapa tingkat menjadi selevel kutub utara,
membuat Masachika berbisik di dalam hati (Eh? Kenapa?) sambil tersenyum kecut.
"...Pokoknya, ini akan kumatikan
dayanya dan kusimpan sampai pulang sekolah."
"Tunggu dulu!! Kalau langsung
dimatikan dayanya ada kemungkinan tidak tersimpan!?"
Melihat Alisa yang hendak mematikan daya
tanpa belas kasihan, Masachika benar-benar panik.
"Yang tidak menyenang kan buatmu itu
aku, kan!? Dia tidak bersalah! Aku tidak peduli apa yang terjadi padaku, jadi
bebaskan dia saja!"
"Kenapa aku malah jadi kelihatan
seperti penjahatnya, sih."
Dengan keseriusan seolah kekasih
tercintanya disandera, Masachika mengeluarkan seluruh kata-kata agar Alisa
membatalkan niatnya.
Menatapnya dengan pandangan yang penuh
rasa jijik, Alisa sambil menghela napas mengembalikan ponsel itu dengan
sentakan kuat.
"Terima kasih banyak, terima kasih
banyak."
"...Hmph."
Melihat Masachika yang menerima ponsel
dengan kedua tangan sambil menyembah-nyembah, Alisa mendengus tanpa mencoba
menyembunyikan rasa tidak senangnya, lalu mengembalikan tiga ponsel lainnya
kepada pemiliknya masing-masing.
Setelah memastikan dengan pasti bahwa
foto yang diambil secara diam-diam itu dihapus, dia duduk di kursinya dengan
kasar.
"Uwaaa~ beneran Tsukuyomi-sama.
Padahal aku pikir tidak bakal dapet..."
"..."
Sambil memutar-mutar rambutnya dengan
jari dan memainkannya, Alisa melirik sekilas ke arah Masachika yang menatap
layar ponsel dengan mata berbinar-binar, lalu memajukan bibirnya dengan
cemberut.
【私だって銀髪なのに】(Padahal aku juga
berambut perak)
Cemburu mendadak yang terbang tanpa
diduga itu membuat Masachika seketika membeku.
"...Bicara apa tadi?"
Karena benar-benar tidak bisa
mengabaikannya, Masachika mengangkat wajahnya dengan ekspresi kecut. Alisa yang
melirik ke arah sana dengan pandangan dingin, menghentikan kegiatannya
memainkan rambut lalu mengucapkannya seolah membuang ludah.
"Cuma bilang 'dasar pecandu
gim'."
"Oi, cara bicaramu itu agak tidak
sopan, kan."
"A-apa."
Melihat Masachika yang mengeluarkan suara
tajam dengan ekspresi serius yang tidak biasa, Alisa agak gentar. Namun, dia
segera membalas tatapan itu dengan gigih seolah bilang "Aku tidak
mengatakan hal yang salah". Di saat atmosfer yang dipenuhi ketegangan
kembali menarik pandangan sekeliling, Masachika menegurnya dengan wajah sangat
serius.
"Menyebut aku yang kaum non-cash ini
sebagai pecandu, bukannya tidak sopan bagi pecandu sejati yang merupakan kaum
heavy spender?"
"Benar juga, ya, siapa pun itu pasti
tidak sudi disamakan denganmu."
"Tajam bangeeet!?"
Kepada Masachika yang mengatakan hal
bodoh dengan wajah sok keren tanpa guna, pandangan Alisa yang seolah melihat
sampah menusuk tajam. Masachika memegang dadanya seolah hal itu menusuk secara
fisik.
Melihat Masachika yang terus
mempertahankan sikap penuh drama hingga akhir, Alisa menghela napas panjang
seolah sudah tidak sanggup lagi melayaninya.
"Astaga…… Tidak biasanya kamu
memajang ekspresi serius, padahal kupikir ada apa……"
"Oi oi, tega sekali. Aku ini selalu
serius, tahu? Tidak berlebihan kalau kubilang keseriusan adalah
keunggulanku."
"Itu kebohongan terbesar abad
ini."
"Abad ini masih sisa delapan puluh
persen lagi, lho!?"
"Haah…… Sudah lah, cepat simpan
ponselmu itu."
Sambil menghela napas dia mengedikkan
bahunya, lalu bertopang dagu dengan ekspresi lelah.
Melihat hal itu, Masachika pun ikut
mengedikkan bahu sambil berpikir,
(Apa aku agak terlalu banyak bercanda,
ya.) Begitu berniat untuk menyimpannya sampai di sini saja dan hendak
memasukkan ponselnya…… detik berikutnya, gerakan Masachika terhenti oleh bahasa
Rusia yang merambat ke telinganya.
【真面目にしてればかっこいいのに】(Padahal kalau
kamu bersikap serius, kamu kelihatan keren)
Atas bisikan yang benar-benar membuat
tengkuk kegelian itu, dia refleks menoleh.
"Bicara apa tadi?"
"Cuma bilang 'kecewa sudah berharap
banyak'."
"……Oh, begitu."
"Ya, memang begitu."
Tanpa mengucapkannya secara langsung, di
dalam hati Masachika berteriak (Bohong
banget daaahーー!!), sementara Alisa menjulurkan lidahnya seolah
bilang (Dasar bodoh. Hmph.). Berhasil menangkap suara hati itu secara
tepat, pipi Masachika pun menjadi kedutan.
(Se,
mu, a, nya, kerasa dan nyampe ke aku, tahuーーー!!)
Betapa leganya jika bisa berteriak
sekeras itu secara gamblang. Namun, jika dibeberkan sekarang, yang rugi justru
dirinya sendiri.
(Nuu, guugh……)
Meski tahu tidak bisa membeberkannya,
tetap saja rasanya sangat mengganjal. Sambil meratapi nasib karena ingin sekali
membuat gadis tsundere tersembunyi ini terkaget-kaget…… tepat saat itu, pintu
depan kelas mendadak terbuka.
"Yooos,
agak kepagian sih tapi kita mulai pelajarannya yaー……
Eh, Kuze. Kenapa kamu mengeluarkan ponsel?"
"Ah……"
Ditegur oleh guru yang baru masuk,
Masachika baru menyadari kalau dirinya masih memegang ponsel saat ini.
"Bukan, ini tadi aku lagi nyari
bahan buat tugas..."
"Kujou, apa itu benar?"
"Tidak, Kuze-kun tadi sedang main
gim di ponselnya."
"Woi!?"
"Sudah kuduga. Sini kamu Kuze!
Ponselmu disita!"
"Bukan, sudah kuduga apanya coba,
sudah kuduga itu!"
Sambil enggan melangkah menuju mimbar
guru, Masachika melayangkan protes kepada gurunya. Mengamati punggung
Masachika,
Alisa menghembuskan napas pasrah.
"Haah... dasar bener-bener
bodoh."
Dia berbisik dengan nada suara yang
benar-benar heran, tetapi berlawanan dengan suara tersebut, senyum tipis
terukir di sudut mulutnya. Namun, tidak ada satu pun teman sekelas termasuk
Masachika yang menyadarinya.
"(Uwoh! Putri Alya lagi
tersenyum!?)"
"(Uwooo! Kesempatan ambil
foto!)"
"(Jepret, jepret! Sialan, kameranya
nggak mau kebuka!)"
"Sensei, tiga orang di sana itu juga
sedang pakai ponsel."
"""NOOO!!"""
...kecuali sekitar tiga orang yang benar-benar bodoh.



Post a Comment