Bab 1: Tidak Lolos
"Mustahil...
Mustahil! Periksa sekali lagi dengan benar! Mana mungkin aku tidak terpilih
jadi 『Pahlawan』! Tidak, jangankan Pahlawan, aku bahkan bukan
seorang 『Class Holder』...
Gagal terpilih, dan cuma seorang 『Rakyat Jelata』?"
Di dunia yang terus berada dalam
pertempuran panjang demi melindungi dunia dari invasi kaum iblis yang muncul
dari Dunia Iblis, banyak umat manusia yang terjun ke medan perang. Mereka yang
memiliki kekuatan sangat dihormati, hingga memicu lahirnya banyak sosok
pahlawan.
Bagi umat manusia, jalan untuk
mendapatkan kekuatan tersebut dan menjadi pahlawan tidak hanya satu.
Mereka
yang memiliki kekuatan fisik menjadi 『Ksatria』. Mereka yang berbakat dalam sihir menjadi 『Penyihir』.
Sementara mereka yang menguasai keduanya menjadi 『Ksatria
Sihir』.
Berbagai
jalan tempat Ksatria maupun Penyihir bernaung itu disebut sebagai 『Class
Holder』, dan pada awalnya, tidak ada seorang pun yang
tahu ke kelas mana mereka termasuk. Lalu, di antara banyaknya kelas tersebut,
hanya ada satu kelas yang memperbolehkan orang-orang dengan bakat pilihan dewa
untuk memasukinya. Itulah kelas tertinggi yang tiada duanya, puncak dari
seluruh kelas yang dimiliki umat manusia, 『Pahlawan』.
Di
sisi lain, ada pula banyak orang yang dinyatakan 『Gagal
Terpilih』 karena tidak memiliki bakat maupun kualifikasi
untuk masuk ke kelas mana pun. Orang-orang tersebut terpaksa menempuh jalan
yang disebut sebagai 『Rakyat Jelata』.
'Upacara
Pemilihan' yang menentukan jalan mereka diselenggarakan di bawah kesaksian para
『Saint』—utusan dari 『Kota
Suci Netral Abadi』, sebuah pihak yang tidak memihak negara mana pun
di dunia manusia, serta terkadang bertindak sebagai penengah atau saksi di
antara negara-negara.
Upacara ini diadakan setahun sekali untuk
manusia yang telah berusia lima belas tahun, dan hanya dilakukan sekali seumur
hidup. Hasil yang dijatuhkan dalam upacara ini bersifat mutlak dan didaftarkan
ke seluruh penjuru dunia.
"Aku ini yang terkuat di Sekolah
Akademi Ksatria Sihir Kekaisaran! Di Turnamen Perang Pedang Sihir Ibu Kota
Kekaisaran tahun ini pun aku juara dengan kekuatan mutlak! Aku bahkan menang
melawan para ksatria elit Kekaisaran yang masih aktif! Kenapa orang sepertiku
tidak terpilih jadi Pahlawan, coba?! Jangankan itu, Ksatria, Penyihir, Ksatria
Sihir, dan semua kelas lainnya malah dinilai di luar kualifikasi alias gagal
terpilih! Kelakuanku juga tidak buruk, kan! Aku menjalani hidup bertapa tanpa
hal-hal mesum! Yang paling penting, di hari libur aku melakukan kerja bakti
pembersihan dan bantu-bantu tanpa bayaran
demi
menaikkan impresi baik───"
Prosesi ini menentukan ke mana arah
seluruh jalan hidup seseorang.
Karena itulah, selalu ada orang-orang
yang bersorak kegirangan, berputus asa, dan di saat yang sama, melayangkan
protes keras atas hasilnya.
"Saya tidak tahu latar belakang Anda
selama ini. Oleh karena itu, saya hanya menyampaikan fakta tanpa prasangka apa
pun."
Upacara Pemilihan yang dilaksanakan hari
ini bertempat di katedral raksasa yang berada di Ibu Kota Kekaisaran—pemimpin
benua. Di sana disediakan empat ruang upacara di sisi timur, barat, selatan,
dan utara.
Empat Saint yang diutus dari Kota Suci
memproses pemilihan para
pemuda yang akan memikul masa depan satu
per satu. Di salah satu ruang upacara itulah keributan terjadi.
"『Cermin
Ajaib』 yang digunakan dalam Upacara Pemilihan ini
sanggup melihat potensi tersembunyi dari siapa pun yang terpantul di dalamnya
sebelum menentukan kelas orang tersebut. Dan hasil akhir Anda, jangankan
Pahlawan, untuk kelas lain pun Anda tidak memenuhi kualifikasi alias gagal
terpilih, hanya seorang 『Rakyat Jelata』."
Rambut perak berkilau yang panjang dan
indah. Terbalut pakaian suci berwarna putih, wanita itu memiliki kecantikan
tanpa noda yang sanggup memikat siapa saja tanpa memandang usia maupun jenis
kelamin. Sang Saint menyampaikan hal itu secara datar dengan raut wajah tanpa
emosi bagaikan boneka.
Pemuda yang memajukan tubuhnya dan
memprotes hasil pemilihan sang Saint dengan nada menantang itu adalah sosok
jenius yang masa depannya sangat diantisipasi oleh seluruh warga Kekaisaran
pada
Upacara Pemilihan kali ini.
"Oi, gawat nih! Di ruang upacara
utara, Damon dikabarkan gagal terpilih!"
"Oi oi, Damon gagal terpilih?
Jangankan Pahlawan, bahkan bukan
seorang Class Holder?"
"Bohong, tidak mungkin, kan! Dia itu
Damon, lho! Kalau soal kemampuan bertarung, jangankan di akademi, dia bahkan
tidak kalah dari kita yang di Pasukan Ksatria! Damon yang sudah dipastikan
bakal jadi Class Holder itu gagal terpilih? Apalagi cuma rakyat jelata?"
"T-Tapi,
kalau 『Cermin Ajaib』
sama sekali tidak bereaksi saat pemilihan sang Saint, berarti memang..."
Seluruh
Ksatria Kekaisaran yang hadir untuk mengawal Saint sekaligus menyaksikan
Upacara Pemilihan menjadi sangat terguncang. Begitu besarnya dampak fakta bahwa
pemuda jenius bernama 『Damon Gokua』 itu
tidak bisa menjadi Pahlawan, bahkan bukan seorang Class Holder—sebuah kejadian
besar yang sampai bisa mengguncang negara.
"Omong kosong! Anggaplah aku memang
tidak punya kualifikasi jadi Pahlawan, tapi kalau sampai bukan Class Holder
juga, itu tidak masuk akal, tahu! Aku bahkan tidak pernah kalah dari seorang
Class Holder! Kalau tidak begitu, woi Saint! Kau pasti salah menganalisis! Atau
cerminnya yang rusak! Yang benar dong, periksa yang teliti, Saint
abal-abal!"
Pemuda bernama Damon itu memiliki
kepercayaan diri yang jauh melebihi siapa pun, bahkan bersikap sombong dan
merasa tidak ada orang yang lebih hebat dari dirinya. Karena sudah tidak tahan
lagi, ia mencengkeram sang Saint.
Rambut emas berkilau. Tubuh yang terlihat
ramping namun tergembleng rapat, sekaligus memiliki kelenturan alami. Serta
mana dalam jumlah sangat besar yang tersembunyi di dalam dirinya. Sejak kecil
ia sudah dijuluki 'Anak Ajaib', dan bakatnya membuat semua orang menilai
dirinya sebagai 'Kandidat Pahlawan Terkuat' serta 'Pasti Jadi
Class Holder'.
Keputusan yang menyatakan dirinya hanya
rakyat jelata adalah hasil yang tidak pernah diduga oleh siapa pun.
Sangat wajar jika Damon mengajukan
keberatan. Ia mencengkeram pakaian suci sang Saint yang putih bersih secara
kasar dan memakinya dengan sengit. Tingkahnya benar-benar seperti orang yang
hendak melayangkan pukulan detik itu juga.
"Tunggu, Damon! Apa yang kau lakukan
pada Saint-sama?! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Saint-sama yang diutus dari
Kota Suci, seluruh Negara Kolaborasi bakal jadi musuh kita!"
Namun, para Ksatria Ibu Kota yang berada
di lokasi upacara langsung menyergap dan menahan Damon bersama-sama, menyadari
bahwa tindakan itu sudah kelewatan.
"Bohong bohong bohong bohong! Mana
mungkin aku gagal terpilih! Aku ini pria yang bakal jadi Pahlawan! Aku akan
pergi ke medan perang, jadi pahlawan besar, dan mengukir namaku dalam sejarah!
Bohong bohong bohong!"
Meski ditekan ke lantai, Damon tidak
peduli dan terus berteriak histeris.
Namun, terhadap Damon yang seperti itu,
sang Saint justru...
"Anda tidak memiliki wadah ataupun
bakat untuk itu. Jalani saja hidup biasa sebagai rakyat jelata."
Di detik berikutnya, amarah Damon
mencapai puncaknya.
"Jangan bercanda, bangsat!"
Meski ditindih oleh para ksatria, Damon
berdiri sambil mengangkat mereka semua di punggungnya.
"A-A-Apa? B-Bohong, kan? D-Dia
berdiri?"
"Kekuatan kaki dan pinggang macam
apa itu?!"
Para ksatria dibuat tercengang. Jumlah
mereka tidak sedikit, belum lagi beban tubuh ditambah baju besi yang mereka
kenakan. Damon berdiri sambil memikul semua beban itu, lalu mengamuk.
"Ugaruaaaaaaaa!"
Ia memelintir tubuhnya dengan bertenaga,
membuat seluruh ksatria terlempar ke udara karena terhempas olehnya. Para
ksatria yang terlempar hingga nyaris menyentuh langit-langit mulai jatuh
melayang. Bersamaan dengan itu, Damon mengangkat kaki kanannya santai.
"Juggling!"
Tanpa membiarkan para ksatria yang
berjatuhan menyentuh tanah, pergerakan kakinya yang lincah menendang mereka
semua kembali ke atas. Seluruh ksatria yang ditendang menghantam langit-langit
dengan keras, lalu jatuh bergelimpangan ke lantai tanpa sempat memasang posisi
mendarat.
"Aneh banget, kan! Ksatria
Kekaisaran yang merupakan Class Holder elit pilihan dari seluruh penjuru
Kekaisaran saja hasilnya menyedihkan begini! Bukan cuma mereka! Di sekolah
maupun di turnamen, tidak ada satu orang pun yang bisa menang melawanku! Tidak
ada satu orang pun! Orang sepertiku dibilang rakyat jelata? Jangan bikin
tertawa! Kalau kau tidak mencabut ucapanmu tadi, tidak peduli mau kau Saint
atau bukan, bakal kukubur kau dengan tendanganku!"
Damon melotot dan menatap tajam ke arah
para ksatria yang merangkak di lantai, lalu mengamuk hebat. Amarah yang
sesungguhnya. Niat membunuh yang sesungguhnya. Ia meraungkan semua itu secara
terbuka.
"Ini bukanlah kehendak saya.
Kehendak Dewa yang menyampaikannya."
Menghadapi Damon yang seperti itu, sang
Saint tetap merangkai kata secara datar tanpa goyah sedikit pun. Dengan mata
dingin tanpa emosi seolah memandang rendah manusia bodoh yang tidak menarik
perhatiannya, ia menyampaikan hal tersebut pada Damon. Dan lebih
dari itu...
"Gawat!
Di ruang upacara selatan, kelas 『Pahlawan』 telah lahir!"
Dari luar ruangan, sorakan bergema keras
bercampur dengan suara yang tercengang.
"Sekund dari Sekolah Akademi Ksatria
Sihir Kekaisaran jadi Pahlawan!"
"Beneran?! Pahlawan lahir! Ini
pertama kalinya dalam dua puluh tahun Pahlawan lahir di Kekaisaran!"
"Hidup! Pahlawan lahir! Hidup!"
Di tengah rasa syok yang melanda, suara
penuh suka cita itu terdengar di telinga Damon dari luar. Fakta bahwa dirinya
gagal terpilih dan orang lain terpilih sebagai Pahlawan, serta fakta utama
bahwa orang tersebut adalah sahabat Damon sendiri. Saat itu, pikiran Damon
bukannya memberi selamat atas terpilihnya sang sahabat sebagai Pahlawan,
melainkan...
"T-Tunggu dulu! Sekund?! K-Kenapa,
kenapa dia yang jadi Pahlawan dan aku malah gagal?! Aku tidak pernah kalah
sekalipun dari dia di pertarungan simulasi! Bahkan di pertarungan simulasi
baru-baru ini aku yang menang! Tapi kenapa dia yang jadi Pahlawan dan aku cuma
rakyat jelata?! Maksudnya apa ini, woi Saint! Ini pasti penipuan! Pasti ada
yang salah, sudah pasti!"
Pikirannya hanya tertuju pada pertanyaan
kenapa dirinya gagal terpilih,
sementara orang yang lebih lemah darinya
justru menjadi Pahlawan.
Namun, sang Saint tetap menyampaikan hal
itu kepada Damon secara datar tanpa emosi.
"Inilah kenyataannya. Tidak ada
kesalahan dalam Pemilihan Suci.
Terimalah kenyataan ini. Yang paling
penting, saya tidak akan membiarkan Anda menodai Upacara Pemilihan yang suci
ini lebih jauh lagi."
Begitulah—kata-kata yang seharusnya
diucapkan oleh sang Saint, tetapi beberapa hari kemudian...
"Saya mohon maaf yang
sebesar-besarnya! Bagaimana caranya saya harus meminta maaf! Saya sangat paham
kalau permintaan maaf saja tidak akan cukup untuk diampuni, tetapi saya
benar-benar memohon maaf!"
Sang Saint yang tadinya selalu tenang
dalam situasi apa pun dan terlihat tanpa emosi bagaikan boneka, kini bersujud
meminta maaf kepada Damon dengan mata berkaca-kaca dan terguncang hebat
layaknya gadis biasa.
"Saya sendiri tidak mengetahuinya,
tetapi sepertinya Cermin Ajaib yang digunakan dalam Upacara Pemilihan mengalami
error dan tidak berfungsi saat berhadapan dengan pemilik bakat yang
sangat luar biasa hingga tidak terukur... Ka-Karena itulah, Anda... tidak, Anda
ternyata adalah pemilik Class Holder dari kelas yang jauh melampaui
Pahlawan yang dikatakan muncul dua puluh tahun sekali, seorang genius tiada
tanding yang muncul seribu tahun sekali... kelas legendaris yang konon
hanya
ada satu dalam sejarah, 『Pahlawan Tengen』!"
Dan fakta itu baru terungkap setelah
Damon kehilangan segalanya.
"Tolong, berikan hukuman apa pun
pada tubuh ini. Saya bukan lagi seorang Saint, melainkan hanya boneka yang
bernapas. Membunuh saya dalam sekali tebas, menyiksa saya tanpa batas hingga
hancur, atau mempermainkan tubuh ini sesuka hati Anda, semuanya adalah hak
Anda. Saya akan menerima segala permintaan maupun perintah Anda, serta
mempersembahkan tubuh, hati, dan jiwa saya sepenuhnya untuk menebus kesalahan
ini... Tolong... My Master..."
Di hadapan sang Saint yang bersujud,
Damon yang tadinya tertegun mulai mengenang kembali kejadian beberapa hari yang
lalu.
Masa depan yang hancur.
Tempat bernaung yang sirna.
Dan cinta yang terenggut.
Itu adalah kejadian hingga beberapa hari
yang lalu.
Dulu, pemuda itu adalah pusat sekaligus
perwakilan dari anak-anak muda seusianya.
"Guwahahaha, kerja bagus, para
bawahan! Pertempuran simulasi kali ini, kelas kita menang mutlak! Aku cinta
kalian semua! Para bawahan tanpa bakat sudah berjuang dengan keras, ya!"
Ia berbicara dengan angkuh, memiliki
harga diri tinggi, dan tanpa ragu memandang rendah orang lain.
"Sialan~ kalah lagi dari Damon...
Padahal aku pikir strategiku hari ini bakal berhasil."
"Guwahahaha, masih kepagian seratus
tahun buatmu, Sekund! Tidak, bahkan setelah seribu tahun pun kau tidak bakal
bisa menang!
S-S-Soalnya, aku ini genius luar biasa
terhebat sepanjang sejarah umat manusia yang dipastikan bakal jadi Pahlawan,
Damon-sama! Yah, untuk ukuran orang biasa~ kau sudah lumayan berjuang sih~
Guwahahahahaha!"
"Astaga... Iya iya, aku mengaku
kalah. Tapi sebenarnya tadi agak berbahaya juga, kan?"
"Nuh... Y-Yah, cuma sediki~t saja.
Lagipula kau juga mengincar posisi Pahlawan walau tidak selevel denganku, jadi
harus ada perlawanannya sedikit, dong."
Namun, lawan yang bertarung dengannya
tidak menyimpan perasaan negatif pada Damon, melainkan memuji perjuangannya
dengan ekspresi lega.
"Damon-senpai~ keren banget~!"
"Kyaa~ Day-cchi hari ini juga keren
banget!"
"Sudah kuputuskan, aku juga mau jadi
wanitanya Damon-kun! Aku mau dihamili oleh Damon-kun yang sudah jadi
Pahlawan!"
"Bicara apa sih kau, benihnya
Damon-kun itu antrenya panjang, tahu?"
"Benar benar, dengar-dengar bahkan
para bangsawan dan putri raja di seluruh negeri juga ikut antre, lho?"
Setelah pertarungan selesai, para siswi
yang menonton langsung
mengerubungi Damon dan bersorak dengan
mata berbinar-binar penuh gairah.
"Ternyata kelompok Damon yang menang
lagi ya, Wakil Kepala
Sekolah."
"Benar, Kepala Sekolah. Tampaknya
kelompok Sekund juga hampir menyusul."
Ada orang-orang dewasa yang mengawasi
anak-anak muda itu dengan tatapan hangat.
Di sana adalah area latihan Akademi
Ksatria Sihir Kekaisaran. Mereka
baru saja menyelesaikan simulasi
pertempuran antartim.
"Ehei, jangan mengerubung begitu,
para kucing betina! Kalian mau benihku~? Guwahahaha, tentu saja begitu, kan!
Tentu saja bakal kuberi! Itu adalah tugas seorang Pahlawan! Bakal kubagi
sebanyak apa pun secara cuma-cuma! Berdedikasi tanpa imbalan adalah sikap yang
harus dimiliki seorang Pahlawan! T-Tapi, dari sebelum masuk sekolah aku sudah
punya pendaftar pertama... Tapi tenang saja! Setelah mesra-mesraan dengannya,
lalu pakai wewenang Pahlawan buat punya istri dan selir sebanyak apa pun secara
legal~ bakal kucumbu kalian semua! Mau dada besar, dada kecil, pantat besar,
pantat kecil, semuanya bakal jadi milikku, guwahahahahaha!"
Sekolah Akademi Ksatria Sihir Kekaisaran
adalah sekolah bergengsi yang hanya memperbolehkan anak-anak dari kalangan
bangsawan kaya atau anak-anak berbakat pilihan untuk mendaftar.
Pada dasarnya, sebagian besar murid
berasal dari keluarga terpandang yang memiliki tata krama, tetapi Damon yang
merupakan yatim piatu korban perang berhasil masuk hanya berkat bakatnya tanpa
memiliki norma yang wajar, sehingga ia kurang memiliki kesopanan. Meski ada
banyak masalah saat awal masuk, kini tidak ada lagi yang menegur Damon soal hal
itu. Malah, mereka menanggapinya secara positif.
"Walau begitu, Damon itu mesum
sekali tapi tetap populer seperti biasa, ya."
"Kelihatannya memang begitu.
Nyatanya, dia bukan cuma omong besar,
tapi memang punya bakat yang sangat
menonjol. Dia disebut-sebut sebagai yang terkuat dalam sejarah akademi, dan
wajar saja kalau orang-orang bilang dia bukan cuma pasti jadi Class Holder,
tapi bahkan bakal jadi Pahlawan. Bakal calon dan masa depannya itulah yang
menarik orang-orang untuk mendekat."
"Hohoho, memang benar kalau dilihat
dari sudut pandang para gadis...
Mereka berusaha mendekat demi masa
depannya... Tapi..."
Sebagai pimpinan para pengajar di akademi
yang telah melahirkan banyak pahlawan, sang Kepala Sekolah tersenyum sambil
mengamati Damon dan yang lainnya.
"Oi, Bude! Karena mereka semua tidak
mengawasimu, ekspresi Sekund waktu kau serang mendadak sebagai pasukan
penyergap benar-benar mahakarya!"
"Iya,
aku juga merasa puas banget! Semuanya sesuai dengan strategi Damon-kun!
Gara-gara hari ini nilai individuku naik! Sebagai rasa terima kasih karena
sudah menggunakanku dalam strategi, di kantin nanti bakal aku───"
"Tidak usah, tidak usah! Pahlawan
itu melayani masyarakat dan teman secara cuma-cuma, priceless! Lagian,
justru karena kau yang menentukan kemenangan, bukannya mereka semua yang harus
mentraktirmu? Utang satu, kan?"
"Ooi, Damon. Kalau begitu peranku
juga utang satu, dong?"
"Ooh, Ponno! Kemampuan pelacakanmu
memang penentu kemenangan di akhir! Assist yang bagus! Seperti yang kau
bilang, utang satu!"
"Tapi bagian enaknya di akhir
disambar Damon semua, ya. Padahal aku juga sudah berjuang~"
"Guwahahaha, jangan bicara begitu,
Seifre! Begitu aku jadi Pahlawan... bakal kujadikan kau selir secara
cuma-cuma!"
Orang-orang berkumpul di sekitar Damon,
dan tawa terus mengalir tanpa henti.
"Baiklah, kalian boleh kembali ke
kelas duluan! Aku mau merapikan area latihan dulu! Ya, pelayanan tanpa imbalan
adalah tugas Pahlawan! Dengan begini impresi baik dan nilai sikapku bakal naik,
lalu pasti bakal ditambahkan saat Upacara Pemilihan nanti!"
"Mumu, ucapan itu tidak bisa
didiamkan. Semuanya, kita juga ikut merapikan! Jangan biarkan nilai sikap Damon
naik lebih banyak lagi!"
"OOOOOOOO!"
"Aah, dasar bodoh! Kalian yang cuma
orang biasa dan lemah begitu tidak usah sok-sokan kerja tanpa imbalan! Kerja
tanpa imbalan itu tugas orang kuat sepertiku... Aah, jangan dirapikan!"
Damon memperlakukan semua orang tanpa
membeda-bedakan, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa memandang status sosial
apa pun.
"Tidak ada rasa sungkan dalam
perkataannya. Karena itulah dia tidak bermuka dua. Dia menyampaikan niat
tersembunyinya secara terang-terangan. Bisa dikatakan, dia memperlihatkan
dirinya yang sebenarnya kepada siapa saja. Karena itulah murid-murid lain bisa
bersikap apa adanya tanpa perlu canggung menganggapnya sebagai calon Pahlawan
masa depan."
"Kepala Sekolah..."
"Bukan cuma kemampuan fisik dan mana
yang luar biasa. Daya pikat untuk menarik orang lain. Itu adalah bukti nyata
dari sosok luar biasa yang pantas menjadi Pahlawan. Seperti dugaanku, dialah...
sosok yang akan menjadi Pahlawan pertama yang lahir di Kekaisaran setelah dua
puluh tahun! Tidak, bahkan jika dia bukan Pahlawan sekalipun, ke kelas mana pun
dia masuk, dia pasti akan menjadi pahlawan yang mengukir namanya dalam
sejarah!"
Karena telah melihat begitu banyak murid,
sang Kepala Sekolah memuji
Damon dengan penuh percaya diri. Bahwa
Damon adalah sosok yang istimewa.
"Memang benar. Selain itu, walau
tersembunyi di balik bayang-bayang Damon, Sekund juga sosok yang istimewa.
Nilai akademisnya bahkan melampaui Damon, dan kemampuan lainnya juga berada di
tingkat tertinggi sepanjang sejarah. Mungkinkah Damon dan Sekund... akan
menjadi pasangan Pahlawan ganda pertama di tahun yang sama
sepanjang sejarah dunia!"
"Bisa jadi. Berpusat pada mereka
berdua, anak-anak itu akan memimpin Kekaisaran di generasi berikutnya, lalu...
di generasi merekalah... masa-masa perang panjang melawan kaum iblis dari Dunia
Iblis mungkin akan berakhir!"
Sambil mengatakan hal itu, dadanya
berdebar membayangkan masa depan yang cerah. Tanpa menyadari bahwa masa depan
tersebut sebentar lagi akan berubah menjadi kegelapan.
Seusai
sekolah. Di sudut area latihan, seorang murid sedang membentangkan 『Surat
Sihir』 sambil tersenyum.
『Sekund. Bagaimana kabarmu di sekolah? Aku dengar
sebentar lagi Upacara Pemilihan, tapi apa pun hasilnya, pulanglah ke desa
sekali-sekali!』
『Kak, cepat pulang ya! Ayah dan Ibu menunggu
kepulanganmu! Mbak Najimi sudah tidak sabar menunggu, bisa-basa dia malah
menikah dengan pria lain, lho? Tapi, tenang saja. Kalau itu terjadi, aku yang
akan jadi istrinya Kakak~』
『E-Eh, Shesta, a-a-apa-apaan yang kau katakan,
sih! Kau kan adiknya Sekund! A-Ehem, Sekund! Dengar, ya? Aku bakalan
menunggumu... Jadi, pulanglah dengan selamat! Lagipula, aku tidak peduli mau
kau jadi Pahlawan atau bukan, mau kelas apa pun, atau bahkan cuma Rakyat Jelata
sekalipun!』
『Tapi, kalau Kakak jadi Pahlawan, aku juga bisa
jadi istrinya Kakak, kan? Kalau Pahlawan kan bisa sama siapa saja?』
『Awas ya, Shesta!』
Bukan sekadar tulisan, Surat Sihir yang
sanggup merekam dan memproyeksikan wujud pengirimnya itu memunculkan dua orang
wanita. Keduanya memiliki penampilan sederhana layaknya gadis desa, sangat
berbeda dengan anak muda Ibu Kota. Namun, kecantikan dan keimutan memancar dari
mereka, dan seorang murid sedang menatap proyeksi kedua sosok itu dengan penuh
kasih sayang.
"Fufufu... Najimi... Shesta... Maaf
ya. Hari ini aku juga tidak bisa menang melawan Damon."
Pria yang membiarkan rambut cokelatnya
berkibar, mengukir senyum pahit dengan mata penuh kerinduan sembari melamun itu
adalah Sekund.
Seorang murid teladan kelas atas di
Sekolah Akademi Ksatria Sihir
Kekaisaran. Berwajah rupawan dan
menduduki peringkat pertama dalam hal akademis di angkatannya. Berbeda dengan
Damon yang bertubuh tegap, ia sedikit lebih kecil. Namun, kemampuan bertarung
dan kemampuan sihirnya menduduki peringkat kedua di generasinya tepat di bawah
Damon.
Ia memiliki bakat dan kemampuan tingkat
atas bahkan jika dibandingkan dengan murid-murid dari generasi sebelumnya.
Semua orang di sekitarnya sangat berharap ia bakal terpasti jadi Class Holder
layaknya Damon, atau bahkan terpilih ke dalam kelas Pahlawan.
Akan tetapi, meski menjadi murid yang
sangat berbakat, ia tidak pernah menang sekalipun melawan Damon dalam
pertarungan.
"Guwahahaha, lagi disemangati sama
teman masa kecil dari kampung halaman dan adik imutmu, ya? Kasihan banget sih,
dasar orang biasa yang suram."
"Eh? Wa, D-Damon!"
Damon yang diam-diam mendekati Sekund
dari belakang mendadak mengejutkan dan menggodanya.
"Dia gadis teman masa kecilmu, kan?
Lumayan cantik juga. Dadanya juga besar! Adiknya walau dadanya kecil, tapi imut
juga, kan."
"Damo~n?"
"Aah, sudah, jangan melotot begitu,
dong! Mau sebesar apa pun wewenang yang diberikan padaku kalau jadi Pahlawan
buat mesra-mesraan sama banyak wanita, aku tidak se-bajingan itu sampai tega
menyentuh wanita milik orang lain atau keluarganya, tahu."
"Fufufu, benar juga. Lagipula kau
sudah diantre oleh banyak wanita, kan."
Damon duduk di samping Sekund sambil
tertawa bersama. Dua orang terkuat nomor satu dan nomor dua di sekolah akademi.
Dari luar, mereka berdua terlihat memiliki hubungan rival. Namun, Damon tidak
menganggapnya begitu, dan bagi Sekund, Damon terasa seperti salah satu
temannya.
Di sisi lain, terhadap Damon, selain
menjadikannya sebagai target pencapaian, Sekund merasa cocok dengan kepribadian
dan ketegasannya yang tidak dimiliki dirinya, sehingga ia tidak menyimpan
perasaan negatif apa pun.
"Guwahahaha, memang benar! Malah
kemarin ada tuan tanah dari daerah yang membawa putrinya yang cantik, mintanya
setidaknya disembur benihku saja. Guwahahaha, mau punya benih sebanyak apa pun
tidak bakal cukup, tahu! Yah, ini juga bagian dari tugas Pahlawan! Aku
mengangguk dan bilang bakal kubagi secara cuma-cuma! Guwahahahahaha!"
Class Holder Pahlawan. Konon dari Upacara
Pemilihan yang diadakan di seluruh dunia setiap tahunnya, Pahlawan yang lahir
hanyalah satu orang dalam lima hingga sepuluh tahun. Bahkan Kekaisaran yang
dikatakan sebagai pemimpin dunia pun sudah dua puluh tahun tidak melahirkan
Pahlawan baru. Karena itulah, jika sampai terpilih sebagai Class Holder
Pahlawan, seluruh jalan hidup orang tersebut akan dijamin seumur hidup.
Mendapatkan posisi petinggi militer tanpa
syarat. Hadiah ganti rugi yang sangat besar. Selain itu, berbagai keistimewaan
dan wewenang khusus juga akan diberikan. Salah satunya adalah...
"Kalau jadi Pahlawan, demi
menyisakan keturunan yang unggul, kita diizinkan punya istri dan selir sebanyak
apa pun. Wanita yang hamil beserta keluarganya bakal dapat perlindungan dan
bantuan berlimpah dari Kekaisaran seumur hidup. Benar-benar jalan hidup harem
bebas main perempuan yang diakui resmi oleh Kekaisaran dan pasti menang!
Gara-gara semua orang mikir aku bakal jadi Pahlawan, mereka pada antre
reservasi, bikin repot saja!"
Hal itu bertujuan untuk menyisakan
sebanyak mungkin keturunan yang unggul. Kelak, itu akan menjadi kekuatan bagi
Kekaisaran dan Umat Manusia. Di sisi lain, keluarga yang berhasil mendapatkan
benih Pahlawan dan melahirkan anaknya akan terjamin hidupnya seumur hidup jika
mereka Rakyat Jelata, dan akan memiliki pengaruh besar di dalam maupun luar
negeri jika mereka bangsawan.
Oleh karena itu, terhadap Damon yang
terkenal sebagai kandidat Pahlawan terkuat, banyak wanita dan kaum bangsawan
kerajaan yang mengerubunginya sebelum Upacara Pemilihan agar tidak ketinggalan
menandai dirinya lebih awal.
"Lagipula, bukannya kau juga sama?
Karena tempatku sudah jadi ajang perebutan, aku dengar banyak keluarga yang
beralih mengincarmu, lho?"
"Hahaha, aku tidak paham hal-hal
seperti itu... Lagipula, aku... sudah punya orang yang kutentukan di dalam
hatiku. Aku belum bisa memikirkan hal lain selain dia. Aku ingin menjadi pria
yang bisa melindungi dia, adikku, Ayah, Ibu, dan desa kami. Aku cuma butuh itu
saja."
"Caaah, picik banget, cuma puas
mesra-mesraan sama satu tunangan di
kampung halaman? Membosankan banget sih,
dasar Si Tekun."
"Oya
oya, bicara begitu padahal kau sendiri juga sama, kan? Walau digoda oleh banyak
wanita dan bangsawan, alasanmu gigih tidak mau menyentuh mereka kan karena
gadis di kedai Ibu Kota────"
"B-B-Bicara apa, sih! Bukan begitu,
tahu! A-Aku ini kan, ya buat jaga-jaga saja, peraturan sekolah bilang kalau
melakukan hal-hal mesum bakal kena skors atau dikeluarkan, jadi sebelum jadi
Pahlawan aku bertapa dulu supaya tidak bikin skandal! Nanti kalau pelarangan
sudah dicabut, tiap hari aku bakal main sama banyak wanita!"
"Tapi,
pasangan pertamamu mau Mbak 『Riiya』 yang di kedai itu, kan? Walau Rakyat Jelata,
katanya dia wanita tercantik nomor satu di Ibu Kota, lho."
"B-Bodoh, Mbak Riiya itu kan begini
dan begitu, tidak, yah begini dan begitu jadi begitu!"
Di sana tidak ada Damon yang selalu
percaya diri, bodoh, mesum, dan tegas, melainkan seorang pria yang agak
pengecut dengan wajah memerah karena malu. Sekund tertawa sembari menggodanya.
Kedua orang itu, tanpa memedulikan status Pahlawan, pahlawan besar, atau
Class Holder, terlihat tak ubahnya
seperti pemuda pubertas biasa yang bisa ditemukan di mana saja.
"Ehehe, Damon-senpai~ kalau mau main~ main
sama aku saja yuk~♥"
"Sebentar, Day-cchi kan mau main sama aku!
Hei~ ayo main~♥"
Jalan utama Ibu Kota. Damon berjalan
gagah di kota sembari membawa para siswi di sisi kiri dan kanannya.
"Oi, kalian ini bikin susah jalan
saja! Kalau cuma menempelkan dada ke
tanganku sih tidak masalah, tapi samakan
langkah kalian! Lagipula, habis ini aku ada urusan penting. Nanti kalian berdua
juga bakal kuberi hal-hal mesum dan benihku, jadi diamlah, hush hush."
Yang berjalan menempel ketat di samping
Damon sembari menjepit lengannya di belahan dada adalah adik kelas perempuan di
sekolahnya.
Dan seorang lagi yang melakukan hal
serupa di lengan Damon yang satunya sembari memperlihatkan rasa persaingan
adalah teman sekelas perempuan. Kedua gadis itu tidak peduli dengan pandangan
sekitar, terus merapat ke Damon dan secara agresif memamerkan pesona demi
membangun hubungan.
Dan yang mengerubungi Damon bukan hanya
mereka berdua.
"Ooh, Damon-kun, mampirlah ke
tempatku! Ada daging bagus yang baru masuk, nih!"
"Damon-kun, datanglah lagi buat
makan di tempatku!"
"Damon-kun, bagaimana kalau sama
putriku saja?"
"Damon-kun, buat mbak hamil, dong♥"
Hanya dengan berjalan di sepanjang jalan
saja ia sudah menarik perhatian semua orang, disapa dan diberi salam oleh siapa
saja. Namun, terhadap suara-suara yang mengerubunginya itu, Damon hanya
merespons dengan mengangkat tangan ringan tanpa menghentikan langkahnya.
Sebab, tempat yang dituju Damon setelah
pulang sekolah sudah ditentukan.
Tempat itu adalah kedai ramai yang suara
bisingnya terdengar hingga ke luar. Seharusnya, tempat itu bukan tempat yang
cocok didatangi Damon yang masih murid dan dilarang minum alkohol, tetapi
berkedok datang untuk makan malam...
"Arah, selamat datang~
Damon-kun!"
"S-Selamat malam, Mbak Riiyaaa!
Ha-Hari ini juga makin cantik sajaaa!"
Gadis maskot kedailah yang menyambut
Damon yang mendadak sangat panik. Dua tahun lebih tua dari Damon. Mengikat
rambut ungu indahnya yang panjang di belakang kepala, menggoyangkan dadanya
yang pejal berisikan secara mencolok, ia adalah mbak-mbak lebih tua idaman
Damon yang memikat banyak pria dengan tubuh molek dan senyumannya.
Dan juga, cinta pertama Damon.
"Hari ini ada simulasi pertempuran,
kan~? Kerja keras tidak, ya~?"
"T-Tidak, mana ada pakai kerja keras
segala. Saya ini kan genius, jadi tidak butuh usaha! Taktik licik para orang
biasa yang mengerubung langsung dilibas habis oleh timku!"
"Nfhfufu, keren banget~♥"
Damon duduk di konter seperti biasa
menduduki kursi langganannya.
Lalu, Riiya yang tadinya sedang mengantar
makanan menghentikan pekerjaannya, menarik kursi mendekat hingga menempel ketat
pada Damon, lalu menjepit lengan Damon di belahan dadanya dengan erat.
Khusus saat momen ini terjadi, para siswi teman sekelas dan adik kelasnya menahan diri walau iri. Banyak pria lain yang mengawasi pemandangan itu dengan iri, tetapi tidak ada yang memprotes. Sebab mereka tidak ingin mengganggu waktu menyenangkan Damon hingga dibenci atau dimarahi olehnya.
"Selamat datang, Damon-kun. Hari ini
pesanan seperti biasa, kan?"
"Ooh, Paman."
"Ya. L-Lalu ya, anu... Kalau kau
tidak keberatan, di ruang khusus bagian
dalam, anu, bagaimana kalau menikmati
waktu 'dengan santai' bersama Riiya?"
"Guwahahaha, i-itu sih nanti saja
setelah Upacara Pemilihan selesai, Paman!"
Pemilik kedai sekaligus ayah Riiya muncul
sambil tersenyum ramah. Ia mengobrol dengan ceria seolah tingkah putrinya dan
Damon adalah 'hal biasa'. Ya, hanya saat Damon datang, semenumpuk apa pun
pelanggan di kedai, Riiya akan menempel ketat khusus untuk melayani Damon saja.
"Dengarkan, Damon-kun, Ayah juga
bilang begitu... Lagipula tidak masalah walau dari sekarang... Setelah Upacara
Pemilihan selesai, aku merasa Damon-kun justru tidak bakal punya waktu
senggang... M-Mumpung sekarang ada waktu, kan? Sekali saja makan dengan sa~ngat
santai di ruang dalam, bukannya bagus?"
Riiya mencoba memikat Damon dengan
lirikan mata penuh pesona feminin yang menggoda. Makan di ruang dalam. Walau
dibilang ruang dalam, tempat itu hanyalah ruangan privat biasa.
Di sana cuma ada meja dan sebuah 'tempat
tidur'. Singkatnya, alasan pemilik kedai dan Riiya ingin membawa Damon ke
ruangan itu adalah demi 'hal tersebut'.
"Kuh, tolong tunggu sebentar lagi,
Mbak Riiya. Aku sendiri juga ingin cepat-cepat memadu kasih dengan Mbak Riiya.
Tapi, sebagai murid yang belum jadi Pahlawan, aku dilarang mesra-mesraan oleh
peraturan sekolah. Aku tidak mau bikin masalah sampai Upacara Pemilihan
ditunda, dan Mbak Riiya juga tidak mau hal itu terjadi, kan!"
"Y-Ya sih... Tapi~ Damon-kun ini rajin di
hal-hal yang aneh, ya. Ufufufu, apa itu artinya kau sudah sedikit dewasa? Atau
malah penakut, nih? Dasar♪"
Selama masih menjadi murid, hubungan
lawan jenis yang tidak murni memang tidak diizinkan oleh peraturan sekolah.
Namun, kalau ditanya apakah semua murid laki-laki dan perempuan di usia
pubertas mematuhinya, jawabannya tidak juga.
Melakukannya diam-diam secara
sembunyi-sembunyi bukanlah hal yang langka, dan para pengajar juga tidak bakal
memberikan hukuman berat seperti langsung mengeluarkan murid gara-gara hal itu.
Hanya saja, Damon berusaha untuk tidak membuat masalah sebisa mungkin demi
menjadi Pahlawan.
"Padahal sebelum masuk sekolah kau
cuma anak nakal yang sukanya berkelahi... Tapi sekarang kau benar-benar tumbuh
besar dan kuat... Dan sebentar lagi hari takdir itu akan tiba ya,
Damon-kun."
"E-Eh, itu semua karena Mbak Riiya
selalu mendukungku, lho!"
"Oah~ mulutmu manis sekali ya, Si
Genius. Walau cuma rayuan, aku senang mendengarnya. Tapi, kalau kau sudah jadi
Pahlawan, aku takut wanita Rakyat Jelata sepertiku tidak bakal dilirik lagi,
makanya aku jadi cemas."
"T-Tidak mungkin begitu! Mulai
sekarang, mau muncul putri raja atau dewi seperti apa pun, Mbak Riiya-lah dewi
dan putri raja terhebat bagiku!"
Saat ini seluruh Ibu Kota memberikan
perlakuan khusus pada Damon karena masa depannya yang menjanjikan. Namun bagi
Damon yang aslinya bukan dari kalangan bangsawan melainkan yatim piatu korban
perang, ia punya keinginan untuk tidak membuat masalah saat ini demi bisa
sukses.
Selain itu, ia juga punya prinsip untuk
merelakan keperjakaannya secara gagah setelah menjadi Pahlawan. Karena itulah
ia menolak ajakan dari Riiya maupun para siswi di sekolah.
"Makanya, kalau aku sudah jadi
Pahlawan, tolong puaskan aku! Y-Ya, oho, dada dan pantat Mbak Riiya bakal
kurenggut semuanya tanpa sisa
sebagai yang pertama!"
"Aha, mesumnya~ Jadi begitu~ pada akhirnya aku
bakal disantap oleh Damon-kun, ya♪"
Asalkan sudah jadi Pahlawan, ia tidak
akan menahan diri lagi. Damon mengatakan hal itu dengan napas memburu.
"Kalau begitu~ kalau sekarang... *Sret*♥"
Riiya menyibak sedikit rok pendek di
balik celemeknya agar tidak terlihat oleh pelanggan lain. Paha putih mulus yang
padat berisikan serta pakaian dalam renda berwarna mint masuk ke dalam
pandangan Damon.
"Supaya kapan pun Damon-kun mau, aku
selalu siap, tahu... Ini pakaian dalam aduanku?"
"R-R-R-Mbak Riiya!"
"Kalau sudah jadi Pahlawan, bakal
kuperlihatkan semuanya padamu♪"
"Howaa, a-a-apa-apaan ini! Kuh, aku
yang bakal jadi Pahlawan ini mendapatkan c-c-celana dalam Mbak Riiya yang lebih
berharga dari harta karun emas dan perak secara cuma-cuma... Tidak boleh, Mbak
Riiya! Aku memang bakal melakukan apa pun secara cuma-cuma, tapi kalau menerima
sesuatu secara cuma-cuma itu tidak boleh, tahu!"
"Eeeh? Kalau begitu, bayar di
depan?"
"Tidak boleh! Uoooooooo, Paman! Aku
mau bantu-bantu pekerjaan serabutan! Berapa pun bakal kulakukan! Walau tidak
bisa bikin lunas, berikan aku kesempatan untuk membayar imbalannya walau
sedikit sajaaa!"
Damon panik hingga wajahnya memerah padam
dan kepalanya seolah mengeluarkan uap. Riiya menyipitkan mata dan mengelus
kepala
Damon dengan penuh kasih sayang layaknya
melihat adik laki-laki yang imut. Melihat mereka berdua, para siswi sekolah
yang sudah tidak tahan lagi akhirnya...
"Uhh, Damon-senpai~ Daripada celana
dalam wanita tua begitu, menurutku celana dalamku yang dihiasi motif hati yang
imut ini jauh lebih bagus, lho."
"Day-cchi! Punya milikku selalu
kubeli di toko mewah, tahu? Bagaimana dengan renda seksi yang dihias seperti
ini?"
Mereka menyibak rok di depan Damon seolah
saling bersaing. Tentu saja mereka menyingkap rok seragam sekolah sendiri hanya
untuk diperlihatkan pada Damon agar tidak terlihat pelanggan lain, lalu merayu
Damon dengan suara manja.
"Kuhhh~ jangan terburu-buru, kalian!
Setelah aku jadi Pahlawan dan main sampai pagi sama Mbak Riiya, kalian berdua
juga pasti bakal kunikmati!"
""Kyaaaaa♥""
"Tapi sebelum itu... Oraaa! Para
pemabuk di kedai! Mau pekerjaan kedai, kerja kasar di lapangan, atau
bersih-bersih, katakan saja apa pun padaku! Sekarang waktunya pelayanan tanpa
imbalan!"
"OOOOO!"
Ia menjadi sangat kegirangan hingga
berteriak seperti itu karena tidak mampu menahan gairahnya.
Padahal begitu...
"Jangan bercanda, jangan bercanda,
jangan bercanda! Aku gagal terpilih? Aku cuma Rakyat Jelata? Mana bisa aku
terimaaa!"
Hari takdir. Hari Upacara Pemilihan.
Rencana hidup Damon hancur lebur hingga ke akarnya. Sang Saint mengumumkan
bahwa ia gagal terpilih, sementara Sekund yang ia anggap lebih lemah darinya
justru terpilih menjadi Pahlawan.
Damon yang sama sekali tidak bisa
menerima kenyataan itu mengamuk total.
"Kau tidak berniat mencabut ucapanmu
sebelumnya, ya... Saint. Kalau begitu, apa aku harus memukuli seluruh ksatria
di katedral ini... atau sekalian memukuli Sekund yang terpilih jadi Pahlawan
agar kau mau paham, hah?!"
Ia tidak sudi mengakui. Ia tidak akan
menerima kalau dirinya gagal terpilih.
"Soalnya ini benar-benar aneh! Mana
mungkin aku gagal terpilih! Ini tidak masuk akal! Bakal kukatakan berapa kali
pun! Mau kau Saint, atau bahkan Raja Suci sekalipun!"
"Bodohnya... Menentang kehendak Dewa
dan bahkan menolak Yang Mulia Raja Suci... Anda seharusnya tahu malu."
"Kau sendiri, lihat aku lebih
teliti! Bukan sebagai Dewa, bukan sebagai alat, tapi lihat aku dengan matamu
sendiri!"
"Tidak ada yang berubah."
"K-Kaaauuuu!"
Damon berteriak.
"Bukan bukan bukan! Mana mungkin aku
gagal terpilih! Soalnya, padahal akhirnya aku demi negara, demi dunia dan
sesama, demi wanita yang kucintai... Mbak Riiya sudah menungguku sampai hari
ini... Dan demi menjawab harapan banyak orang yang mengandalkanku... aku hidup
sampai hari ini! Aku sudah mengumpulkannya! Menahannya! Aku bahkan sudah
memberikan hasil! Tapi bilang kalau aku tidak berguna... Lalu, kau menilai
berdasarkan standar apa, coba?! Mengkhianati harapan semua orang...
Aku...!"
Mendengar teriakan yang sanggup
mengguncang tanah itu, orang-orang yang tadinya gembira atas lahirnya Pahlawan
kini mengubah raut wajah mereka.
"Ada apa dengan suara tadi?! Dengar
dari arah sini, lho? Hei, ada kejadian apa..."
"Kau, apa yang kau lakukan! L-Lalu,
semuanya! Damon, apa kau yang melakukan ini?!"
Ksatria lain berbondong-bondong datang
dengan tergesa-gesa ke ruang upacara tempat Damon berada. Begitu melihat para
ksatria yang tumbang ditendang Damon bergelimpangan di ruangan, mereka langsung
mencabut pedang.
Menghadapi para ksatria itu, Damon
menatap mereka dengan tatapan tajam...
"Diam kalian, para kroco. Aku cuma
mau bikin Saint sialan ini paham kalau Upacara Pemilihan ini benar-benar aneh,
tahu!"
Ia sudah tidak bisa dihentikan lagi.
"Bicara apa kau, heh! Kepada
Saint-sama yang diutus dari Kota Suci Netral Abadi... tidak, sebelum itu,
kekacauan apa ini... Kami tidak menerima alasan apa pun, dasar bocah
sialan!"
"Bocah ini berani menodai hari
bersejarah lahirnya Pahlawan baru!"
"Akhirnya kau memperlihatkan sifat
aslimu! Sejak awal aku memang tidak suka pada bocah lancang ini!"
Para Ksatria Kekaisaran terus berdatangan
ke ruang upacara satu demi satu. Di dunia atas, Kekaisaran adalah negara
raksasa yang disebut sebagai pemimpin umat manusia. Di Kekaisaran tersebut,
para ksatria yang ditempatkan di Ibu Kota adalah ksatria-ksatria unggul yang
terpilih melalui persaingan sengit dari seluruh penjuru Kekaisaran.
"Diam kalian, para kroco. Bakal
kukubur kalian dengan tendanganku, mau?"
Siapa pun mereka adalah Class Holder yang
penuh bakat. Apalagi mereka telah melalui banyak pertempuran sungguhan dan
latihan keras.
"Membaralah! Fire Shoot!"
Ia menghempaskan para ksatria itu hanya
dengan satu tendangan.
"Gugaah, t-tendangan yang diselimuti
api, gua, aaaa!"
"B-Bocah ini, aku sudah tidak tahan
lagi, kubunuh kau!"
"Hei, apa tidak apa-apa?
Bagaimanapun dia ini bagi Kekaisaran..."
"Tapi aku dengar dia gagal terpilih,
kan?! Kalau begitu semuanya sudah
batal, dong!"
"Minta bantuan dari istana juga!
Dengar ya, kita tidak boleh membiarkan masalah terjadi di hari lahirnya
Pahlawan! Kirim utusan ke
『Jenderal Besar Bushin』
juga! Saint-sama, silakan mundur!"
Para ksatria memasang posisi dengan
pedang, tombak, dan tongkat sihir masing-masing.
""Kami Ksatria Kekaisaran atas
nama keadilan bakal menghabisi penjahat ini!""
Ini bukan lagi di tingkat menahan anak
nakal yang sedang 'nakal'.
Mereka semua bersungguh-sungguh dengan
tatapan mata yang hendak membereskan orang berbahaya yang merugikan negara.
"Ha? Memangnya kenapa... dasar
sampah sialan! Gatling Fire Shoot!"
Di sisi lain, Damon yang sama sekali
tidak berniat berhenti menciptakan bola api dengan sihir lalu menendangnya
dengan bertenaga. Gumpalan api yang terkonsentrasi sangat pekat.
Ia menendangnya dengan pinggang dan kaki
yang kuat, memberikan kecepatan dan daya hancur yang jauh melampaui sihir
biasa. Damon melancarkan jurus itu bertubi-tubi tanpa jeda.
"Cepat sekali! Padahal cuma Fire
Ball, tapi daya hancur tiap apinya...!"
"Kecepatan dan daya hancurnya
bertambah lewat tendangan, guha!"
Sepuluh, dua puluh ksatria berdatangan
satu demi satu, tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa mendekati
Damon. Para ksatria itu terkapar satu demi satu dilalap api.
"Thunder Shoot!"
Mau Ksatria, Ksatria Sihir, maupun
Penyihir, ia melibas para ksatria tanpa peduli kelas apa pun.
"Padahal aku bisa menang... Padahal
aku tidak bakal kalah... Bahkan ksatria yang aktif bertugas sebagai Class
Holder saja bisa kulibas... Kenapa aku tidak berguna, woi Saint!"
"Bermukimlah, wahai api! Tebas dan
bakarlah dengan pedang sihirku! Flame Saber!"
"Api suam-suam kuku dan pedang
tumpul begitu... bakal kutebas sampai putus... Razor Shoot!"
Para ksatria pilihan ditendang,
ditumbangkan, dan dihempaskan.
Tendangan yang diselimuti sihir, kaki
yang menendang langsung sihir lawan, dan terkadang hanya dengan tendangan biasa
saja ia menunjukkan kekuatan yang sanggup mematahkan dan menghancurkan
perlengkapan senjata para ksatria.
"K-Kuat
sekali... Inilah, 『Penendang Sihir』...
Damon!"
Semua orang sudah tahu. Bahwa Damon
adalah manusia super berbakat dari lahir. Para ksatria yang tumbang dipaksa
menyadari hal itu sekali lagi dengan tubuh mereka sendiri.
"T-Tapi, k-kenapa orang dengan
kekuatan sebesar ini... malah cuma Rakyat Jelata?"
"Ah, anggaplah dia memang bukan
Pahlawan, tapi kalau sampai gagal terpilih di kelas apa pun..."
"Tapi katanya Cermin Ajaib tidak
bereaksi... Tapi ini benar-benar aneh, kan?"
Ya, justru karena dipaksa menyadari
kembali kekuatan Damon, para ksatria juga mulai berpikir bahwa terasa aneh jika
orang dengan kekuatan sebesar ini malah gagal terpilih.
Lalu Damon menoleh kembali ke arah sang
Saint.
"Bagaimana, Saint... hah? Melihat
ini, melihat kekuatanku, kau masih mau menceramahi kalau aku ini cuma Rakyat
Jelata? Hah?!"
Damon melancarkan tendangan atas yang
tajam. Tendangan itu berhenti tepat di depan mata sang Saint.
"T-T-Tunggu, hei, Damon, kurang ajar
kau! Semenghina apa pun, kepada Saint-sama... Kau, kalau sampai terjadi sesuatu
pada Saint-sama, kau tidak bakal..."
Jika terjadi sesuatu pada Saint yang
diutus dari Kota Suci, itu bukan lagi
masalah Damon seorang, tetapi para
ksatria di tempat ini dan bahkan Kekaisaran pun akan dimintai
pertanggungjawaban. Semua orang paham betapa seriusnya hal itu, tetapi Damon
yang sekarang sudah sangat mengamuk hingga tidak peduli lagi.
"Berikutnya, bakal kuhancurkan muka
itu..."
"Barbar... Namun... justru karena
itulah mungkin."
Meski menyaksikan tendangan Damon yang
berhenti tepat di depan
matanya, sang Saint tetap mempertahankan
raut wajah tanpa emosi, walau sedikit keringat mengalir di pipinya. Wanita
cantik bagaikan boneka. Namun, usia penampilannya tidak jauh berbeda dari
Damon.
Karena itulah, instingnya tanpa sadar
merasa gentar menghadapi niat
membunuh yang sesungguhnya dan kekerasan
mutlak dari Damon.
Walau merasa gentar, ia tetap tidak
mengubah jawabannya bahwa 'hasil pemilihan tidaklah salah'.
"Saya
tidak mengenal Anda. Namun sekarang saya telah menyaksikan kekuatan dan mana
Anda yang luar biasa dengan mata kepala sendiri. Kekuatan yang tidak bisa
ditandingi walau para ksatria aktif dan Class Holder berkumpul jadi satu...
Anda memang sosok yang luar biasa. Namun... tetap saja Cermin Ajaib tidak
pernah salah... Asalkan itu 『Manusia』, sedengki apa pun hatinya, cermin akan
menentukan kelasnya... Ya, asalkan itu 『Manusia』."
"...Ha? ...Hah? ...Emm?"
Saat itu, Damon sempat tidak paham apa
yang dikatakan sang Saint.
Namun, begitu ia mengulangi kata-kata
yang diucapkan sang Saint sekali lagi di dalam kepalanya, ia tersentak.
"Hah? Tidak, t-tunggu dulu... Tidak
tidak, tunggu tunggu tunggu! Kau, jangan-jangan!"
Terhadap Damon yang mendesak bahwa hasil
pemilihan itu salah, sang Saint mengambil kesimpulan yang sama sekali tidak
diduga oleh Damon berdasarkan situasi yang ada.
"Anda mungkin adalah Kaum Iblis.
Atau orang yang memiliki darah mereka."
"Tidak bisa ditoleransi lagi nih
orang... Mana mungkin begitu, bangsat! Beneran bakal kubunuh kau!"
Atas perkataan sang Saint yang 'mana
mungkin begitu', rasa heran dan amarah Damon kini telah mencapai batasnya.
Namun bagaimanapun juga, perkataan sang Saint sangat berbobot, dan bagi para
ksatria yang merangkak di tempat itu, alasan tersebut sangat masuk akal untuk
menjelaskan kenapa Damon tidak terpilih ke dalam kelas mana pun.
Dan, pada saat itulah—
"Bocah... Di tempat upacara yang
suci ini... Apa yang kau lakukaaan!"
Tekanan kuat dan suara yang sanggup
meredam raungan Damon bergema.
Damon menoleh. Di sana, para ksatria yang
memancarkan aura yang jauh melampaui para ksatria yang baru saja ia libas
berbaris rapi.
"Kurang ajar... Yang terkuat di
Kekaisaran... Jenderal Besar Bushin dan Pasukan Ksatria Penyihir Tingkat
Tinggi..."
Itulah kemunculan para ksatria terkuat di
Kekaisaran, yang juga merupakan kelas terkuat di dunia. Dan yang berdiri di
paling depan adalah pria terkuat.
"Damon Gokua. Hasil Upacara
Pemilihan sudah sampai ke istana dengan cepat. Saat ini istana sedang sangat
kacau akibat laporan itu dan laporan lahirnya Pahlawan selain dirimu.
Sepertinya kau tidak bisa menerima hal ini, tapi untuk sementara mari kita
selesaikan dulu."
Tubuh raksasa di luar nalar. Aura
keperkasaan mutlak dan pengalaman ratusan pertempuran dipamerkan secara
terang-terangan. Jenderal besar terkuat di Kekaisaran. Hanya dengan satu
lirikannya dan satu patah kata darinya saja, atmosfer di tempat itu langsung
menegang.
Menghadapi tekanan mutlak itu, sang Saint
pun tanpa sadar meneteskan keringat dingin.
Namun, Damon tidak tinggal diam.
"Bising amat, justru karena aku
tidak terima makanya kubuktikan pakai kekuatan, dasar pria otot sampah!"
Bagi Damon yang sekarang, teguran dari
orang terkuat di Kekaisaran pun tidak mempan.
"Benar juga... Daripada para ksatria
kroco setengah matang begini, kalau aku menumbangkanmu, bukannya itu saja sudah
cukup buat membuktikan semuanya!"
Malah, ia menjadikannya sebagai bahan
untuk membuktikan bahwa hasil Upacara Pemilihan ini salah.
"Bakal kuhajar kau!"
"Bocah ingusan!"
Namun, sehebat apa pun Damon, orang
terkuat di Kekaisaran bukanlah lawan yang mudah.
Yang paling utama, ia kalah jumlah.
Amukan
hebat Damon baru bisa diredam satu jam kemudian──dan ia dipenjarakan.
Beberapa hari setelah Upacara Pemilihan
berlangsung. Bushin, sang jenderal besar terkuat di Kekaisaran, berjalan di
antara puing-puing bangunan dengan satu tangan terbalut perban dan digantung di
lehernya.
"Mengenaskan sekali... Sepertinya
tempat ini tidak bisa dipakai lagi untuk Upacara Pemilihan tahun depan..."
Di sana adalah katedral raksasa nan suci
di Ibu Kota tempat Upacara
Pemilihan berlangsung. Akibat keributan
dengan Damon beberapa hari lalu, tempat itu hancur separuh. Langit-langit,
dinding, dan lantai retak di mana-mana, bahkan karya seni ukir bersejarah pun
hancur secara mengenaskan. Kerusakan itu benar-benar mengingatkan pada tragedi
perang. Mengamati sisa-sisa kerusakan itu, Bushin berada dalam perasaan yang
campur aduk.
"Pria yang dijuluki Anak Ajaib, yang
benihnya sudah diantre dan diperebutkan oleh sang putri raja dan banyak putri
bangsawan. Pria yang diharapkan oleh istana akan lahir sebagai Pahlawan baru.
Menyebabkan separuh dari Pasukan Ksatria Penyihir Tingkat Tinggi terkuat di
Kekaisaran luka berat seorang diri, dan bahkan mematahkan satu tanganku.
Ternyata dia monster sejauh itu... Tapi meski begitu, dia tetap bukan seorang
Class Holder..."
Damon yang menantang Bushin dan yang
lainnya berhasil diringkus, lalu dipenjarakan dalam keadaan pingsan. Namun, hal
itu sama sekali tidak mudah. Ksatria bawahan langsung yang dipimpin oleh Bushin
sang terkuat di Kekaisaran berjumlah tidak sampai seratus orang.
Namun orang-orang tersebut adalah ksatria
elit di antara yang elit, yang berhasil lolos dari seleksi ketat dari seluruh
penjuru Kekaisaran yang luas dan telah mengukir banyak pencapaian militer di
medan perang.
Tetapi menghadapi Damon yang bahkan belum
lulus dari sekolah akademi ksatria, sekitar tiga puluh ksatria mengalami luka
berat, dan Bushin sendiri patah satu tangannya akibat tendangan Damon.
"Kekuatan sejauh itu, tidak mungkin
dia cuma Rakyat Jelata. Tapi, berhubung Cermin Ajaib tidak bereaksi, seperti
kata Saint, tidak ada teori lain yang masuk akal selain dia sendiri, orang
tuanya, atau leluhurnya... singkatnya, dia memiliki darah Kaum Iblis. Tapi itu
juga aneh. Pihak istana seharusnya sudah menyelidiki latar belakangnya secara
mendalam saat memesan benihnya. Karena itulah, teori kalau dia Kaum Iblis pun
tidak mungkin. Lalu sebenarnya apa yang terjadi?"
Di balik sukacita lahirnya Pahlawan,
kenyataan bahwa Damon—sosok yang paling diantisipasi—gagal terpilih, tentu saja
tidak bisa ditutupi sepenuhnya. Lalu saat mempertanyakan kenapa pria sehebat
Damon bisa gagal terpilih, pada akhirnya semua orang merasa masuk akal dengan
teori 'bukannya dia memiliki darah Kaum Iblis?'.
Banyak orang yang terkejut dan bingung,
sementara mereka yang dulunya mengerubungi Damon hanya bisa memegang kepala.
Hal itu bahkan sampai menyeret banyak bangsawan kerajaan. Namun, walau Damon
tidak berguna lagi, setidaknya lahirnya Sekund sebagai Pahlawan adalah sebuah
keberuntungan.
"Kepanikan warga juga mulai mereda
sedikit demi sedikit karena perhatian mereka beralih ke kabar gembira lahirnya
Pahlawan Sekund. Sisanya, begitu Damon sadar, aku harus memikirkan jalan keluar
untuk masa depannya. Walau bukan seorang Class Holder, kehilangan kekuatan
sejauh itu tetap saja sangat disayangkan."
Damon bukanlah Pahlawan. Namun, fakta
bahwa Damon adalah sosok yang luar biasa sama sekali tidak berubah, dan Bushin
yang menderita luka-luka memahami hal itu dengan sangat baik. Bushin merasa
bahwa sekalipun dia bukan seorang Class Holder, dan sekalipun sikap masyarakat
terhadap Damon berubah akibat kejadian ini, kehilangan kekuatan tersebut tetap
menjadi kerugian besar bagi Kekaisaran maupun Umat Manusia.
"Laporan mendesak! Jenderal Besar
Bushin, gawat!"
"Ada apa?"
Seorang ksatria berlari dengan
tergesa-gesa.
Sambil terengah-engah, ksatria itu
berlutut di hadapan Bushin dan memberi tahu.
"Damon Gokua yang dipenjara...
dikabarkan telah kabur dari penjara!"
"...Apa?"
Bagi Kekaisaran, kerugian yang tak
tertolong baru saja dimulai.
Setelah sadar dan meloloskan diri dari
sel tempatnya dikurung dengan kekuatannya sendiri, Damon melangkah ke Ibu Kota.
Namun, matanya langsung kehilangan cahaya kehidupan begitu menginjakkan kaki di
sana. Alasannya sangat jelas.
"Sip, semuanya! Sudah pegang gelas
masing-masing, kan? Kalau begitu hari ini juga, demi lahirnya Pahlawan
Sekund~~"
"""""Bersulang~~~!"""""
Sebab Ibu Kota tidak lagi membicarakan
Damon, melainkan diselimuti sukacita atas lahirnya Pahlawan Sekund.
"Hei, besok katanya ada parade, lho!
Sekund-kun sudah jadi Pahlawan!"
"Lahirnya Pahlawan setelah dua puluh
tahun... Wah, dari awal aku sudah yakin dia pasti bisa!"
"Iya. Punya kekuatan hebat tapi
tidak sombong, rendah hati, segar, dan berkelakuan baik. Bagaimanapun juga,
Pahlawan itu harusnya orang yang jujur tanpa perhitungan seperti dia, ya."
"Tapi dengar-dengar, setelah pesta
besar di istana kemarin, dia sampai lanjut 'bersenang-senang' sama para putri
raja dan pelayan di dalam
kastil, lho."
"Yah, itu juga bagian dari tugas
Pahlawan. Tapi hari ini dia bakal
memunculkan diri di Ibu Kota, kan?"
"Sip, aku pasti bakal minta benih
darinya!"
Menyaksikan keadaan dan atmosfer para
warga secara langsung, untuk pertama kalinya dalam hidup, hati Damon terasa
berlubang. Bukannya amarah, hanya rasa mengenaskan yang mengiris dadanya. Damon
yang linglung dengan mata tanpa jiwa berjalan menyusuri kota seolah sedang
bersembunyi. Damon yang hingga beberapa hari lalu berjalan dengan gagah dan
menarik perhatian semua orang, kini menutupi telinganya dari suara-suara di
seluruh Ibu Kota.
"Kenapa... aku... padahal aku...
Pahlawan itu aku... Aku bukan Kaum Iblis atau semacamnya... Pemilihan itu pasti
ada yang salah... A-Ah... Mbak Riiya..."
Di dasar kekecewaan yang paling dalam,
sambil berjalan sempoyongan tanpa sadar, langkah kaki Damon secara alami
mengarah ke tempat yang paling disukainya. Ke tempat wanita cinta pertamanya
berada. Demi menjadi penopang hatinya dan agar bisa bersatu dengannya, Damon
menahan berbagai hasrat dan membidik posisi Pahlawan.
Wanita itu juga percaya bahwa dirinya
akan menjadi Pahlawan. Mereka telah berjanji. Dan Damon telah mengingkarinya.
Merasa menyedihkan dan bersalah, Damon menuju ke kedai dengan air mata yang
menetes deras. Tidak, mungkin dia hanya ingin disembuhkan. Bagaimanapun juga,
Damon tidak ingin bertatap muka dengan siapa pun, hingga untuk pertama kalinya
dia berjalan mengendap-endap di gang belakang Ibu Kota.
"Mbak Riiya..."
Dan Damon pun sampai di pintu belakang
kedai yang seharusnya selalu dia masuki dari pintu depan.
Pada saat itulah—
"Sekund-kun, Sekund-kun~~♥"
"Mbak Riiya, luar biasa... Tubuh
yang sungguh indah! Aku tidak tahan lagi!"
"Ya ampun, wajahnya saja yang imut tapi
ternyata mesum juga~♥ Tapi tidak apa-apa, lho? Ayo sini lagi~♥"
"Sungguh tidak sopan betapa seksi
dan mesumnya dirimu! Dan lagi, walau kemarin aku sudah meniduri belasan wanita,
kau ini benar-benar kelas atas! Walau tidak bisa kujadikan istri sah, kau harus
jadi salah satu istriku!"
Suara manja pria dan wanita yang sanggup
menghempaskan Damon ke dasar jurang—tidak, ke dalam keputusasaan yang lebih
dalam tanpa dasar—terdengar jelas.
Keputusasaan.
Jurang.
Neraka.
Mimpi buruk.
Ya, dia berpikir ini adalah mimpi. Dia
ingin percaya ini cuma mimpi.
Ruangan di dekat pintu belakang kedai
adalah ruangan yang selalu ditawarkan padanya namun selalu dia tolak. Dia sudah
menetapkan hati untuk baru memasukinya setelah menjadi Pahlawan. Dari ruangan
itulah terdengar suara wanita cinta pertamanya dan suara sahabatnya.
Tidak, bukan cuma mereka berdua.
"Aduh, Sekund-senpai~ mau main
sampai kapan sih~?"
"Sek-cchi~ kami juga mau satu ronde
lagi, dong~"
Bahkan suara adik kelas dan teman sekelas
perempuan yang hingga
beberapa hari lalu mengerubungi Damon pun
ikut terdengar.
"Hah, hah, aduh, aku tidak tahan
lagi... Padahal aku sama sekali bukan pria seperti ini, tapi kenapa..."
Sekund bergumam dengan napas
terputus-putus seolah sedang terangsang.
"Padahal di hatiku sudah ada orang
yang kutentukan... Tapi ini juga bagian dari tugas Pahlawan... Katanya
membagikan benih ke sebanyak mungkin wanita di negara ini adalah tugas
Pahlawan... Ahh, kenapa aku malah... milik Damon... Nmh! Nh, nmh."
"Sudah, hentikan pembicaraan itu... Nchuu,
mulut Pahlawan nakal seperti itu harus disumpal pakai ciuman, kan? Biarkan aku
melupakan semuanya... Mau bagaimana lagi. Soalnya dia tidak bisa jadi Pahlawan.
Lagipula dia cuma Rakyat Jelata yang bahkan bukan Class Holder... Kalau sudah begitu, Ayah pun tidak akan mengizinkannya lagi... Pengobatan Ibu juga... Ah, bukan apa-apa. Nhh♥ Makanya sudah ya... Puaskan aku banyak-banyak, buat aku melupakannya♥"
"Benar sekali. Aku juga kecewa. Padahal
dulunya Damon-senpai cuma Rakyat Jelata... Tapi tidak apa-apa! Karena sudah
ditaksir Sekund-senpai, aku akan menjadi wanita khusus milik Tuan
Pahlawan~♥"
"Makanya tiduri kami lebih banyak,
Sek-cchi. Tidak, Tuan Pahlawan!
Tiduri kami sesukamu, buat kami hamil,
lalu makmurkan negara ini!"
Para wanita itu menyergap Sekund yang
tampak sedikit bingung secara bersamaan. Saling membelit dalam keadaan
telanjang, mereka mendesak Sekund sang Pahlawan secara pekat tanpa mengizinkan
adanya sedikit pun keraguan. Dan pada saat itulah, keraguan serta akal sehat
Sekund hancur lebur.
"Uoooooooo, masa bodoh sudah! Ya,
aku adalah Pahlawan! Karena aku Pahlawan, ini adalah tugas! Kalian semua
milikku, aku, akuuuh! Damon tidak menyentuh kalian, jadi ini bukan merebut atau
semacamnya!
Momen pertama kalian semua sudah
kudapatkan, jadi sejak awal kalian memang wanitaku! Makanya tidak ada yang
perlu dipikirkan lagi! Rasakan ini, bakal kucurahkan benih Pahlawan tanpa
tersisa satu orang pun! Tidak tahan lagi, dada yang lezat sekali... pantat ini,
aah, milikku, milikku!"
"Aaaahn, benar, ini milikmu,
Sekund-kun, kenyutlah, jilatlah, curahkan, dan buatlah kami hamil!"
Di detik berikutnya, Damon muntah di gang
belakang.
"Uwek, eh, ewek, o, owek, ga,
ewehk..."
Wanita yang paling dicintainya, bersama
wanita-wanita lain, sedang berhubungan dengan pria selain dirinya sembari
mendesah dan mengeluarkan suara manja. Dan wanita itu merasa bahagia atas hal
tersebut.
"Aga-aga, aaah, aaaaaaaa!"
Pada saat itu, seluruh kenangan dalam
hidupnya berputar di dalam kepala. Semuanya hancur berkeping-keping, dan
hatinya sudah sangat patah hingga rasa amarah pun tidak sanggup membumbung
lagi.
"Nhh, a-apa itu!"
"Kyaa, tidak, siapa itu, mengintip
ya!"
"Aduh, siapa sih! A..."
"Sebentar, mesum, eh, lho?"
Mendengar suara Damon, Sekund, Riiya, dan
yang lainnya panik sambil menampakkan wajah dari dalam ruangan. Tentu saja
tidak ada satu pun dari mereka yang mengenakan pakaian. Dan mereka semua
mengerutkan alis melihat wujud Damon yang merangkak dan muntah-muntah di atas
tanah gang belakang.
"Damon... Apa yang kau lakukan di
tempat seperti ini... Harusnya kau masih dipenjara... Mengintip tugas suci
seorang Pahlawan, apa yang kau lakukan sambil mengendap-endap di sana, hah?!
Jangan-jangan, kau kabur dari penjara demi dendam dan mau menyerangku?"
"Damon-kun..."
"Damon-senpai... Uwah,
joroknya..."
"Day-cchi... Apa-apaan, tidak keren
banget..."
Dan tidak ada satu orang pun yang memberi
kata-kata lembut pada Damon.
"Oi, suara apa tadi! Dari pintu
belakang... Uwah, kau kan..."
"Tuan Pahlawan, apa terjadi sesuatu!
Kau ini..."
Lalu, mendengar suara Damon, pemilik
kedai, para pelanggan, Rakyat
Jelata di jalan utama, dan bahkan para
ksatria yang bersiaga untuk mengawal sang Pahlawan ikut muncul dan mengepung
Damon secara bersamaan.
"Damon... Kau..."
Padahal aslinya Damon bisa melibas mereka
semua dengan mudah.
"Sekund... Mbak Riiya... A, u, a...
Aah..."
Namun, Damon yang sekarang hatinya telah
hancur dalam keputusasaan terlihat seperti raganya tak memiliki jiwa lagi.
"Damon... A... Ah... Kau... A-Aku...
Aku..."
Melihat wujud yang teramat kasihan itu,
Sekund yang tadinya lupa diri dan tenggelam dalam hawa nafsu merasakan sedikit
rasa sakit di dadanya.
"Berani-beraninya kabur dari
penjara... Dan lagi, apa yang mau kau
lakukan pada Tuan Pahlawan, heh?!"
"Dua puluh tahun, tahu?!
Berani-beraninya kau mengganggu tugas Tuan Pahlawan yang baru lahir setelah dua
puluh tahun, dasar kurang ajar!"
"Kelihatannya dia bocah yang sangat
diharapkan, tapi gara-gara iri pada Tuan Pahlawan dia malah melakukan hal
bodoh. Ayo ikut. Tidak peduli mau kau Rakyat Jelata atau punya darah Kaum
Iblis, kau tidak akan lolos dari hukuman mati!"
Damon dicengkeram dan ditarik paksa oleh
para ksatria. Wujudnya benar-benar seperti penangkapan penjahat. Tidak, bahkan
lebih dari itu.
"Bocah sialan, jangan mengganggu
putriku yang sedang menerima benih dari Tuan Pahlawan! Sialan, tidak disangka
kau cuma Rakyat Jelata atau keturunan Kaum Iblis... Dasar penipu! Hehehe, Tuan
Pahlawan, tolong jangan pedulikan dia dan hamililah Riiya sesuka Anda."
Pemilik kedai—ayah Riiya yang berlari
menghampiri—melotot ke arah Damon dan meludah. Melihat perubahan sikap pria
yang biasanya selalu tersenyum ramah dan menggosok-gosokkan tangan itu, Damon
tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
Para ksatria menyeret Damon. Dan hal yang
menanti Damon saat diseret keluar dari gang belakang menuju jalan utama adalah
neraka yang jauh lebih kelam.
"Oi, itu bocah nakal itu! Bocah
penipu yang ternyata bukan Class Holder atau semacamnya!"
"Orang yang mau mencelakai
Saint-sama, dan bahkan melakukan hal
mengerikan pada Pasukan Ksatria dan
Jenderal Besar Bushin, masa tega melakukan hal seperti itu pada Tuan Pahlawan
juga?!"
"Kau sadar tidak apa yang mau kau
lakukan! Mengamuk cuma gara-gara iri pada Tuan Pahlawan!"
"Dari dulu aku sudah berpikir kalau
dia itu sok hebat, tidak disangka ternyata cuma penipu, kecewa banget
deh."
"Dasar bajingan penipu!"
Hingga beberapa hari lalu, seluruh suara
di kota adalah suara-suara yang menghormati Damon. Namun sekarang berbeda.
"""""Penipu!
Penipu! Penipu! Penipu! Penipu! Penipu! Penipu!"""""
Semua orang menolak keberadaan Damon.
"Damon..."
Sekund berlari keluar dari ruangan sambil
merapikan pakaiannya. Dan melihat cemoohan yang dilayangkan secara serentak
oleh para warga Ibu Kota, serta wujud Damon yang lunglai tak sanggup menegakkan
kepala saat menerimanya, Sekund refleks berteriak.
"T-Tunggu!"
Sekund menahan para warga.
"Tunggu, bagaimanapun juga dia
dulunya temanku. Lagipula, saat ini dia cuma sedang panik... Jangan sampai
dijatuhi hukuman mati..."
"Tuan Pahlawan, t-tapi..."
"Toh sekarang dia cuma Rakyat
Jelata... Tidak punya kekuatan, wewenang, ataupun masa depan yang cerah. Jadi
setidaknya... dengan syarat dia tidak boleh menginjakkan kaki di tanah ini
lagi, setidaknya..."
Itu adalah sedikit rasa kasihan yang
tersisa dari Sekund. Apa dia merasa bakal mengganjal jika harus dipenjara atau
dieksekusi, makanya setidaknya dengan syarat tidak boleh muncul lagi...
"Atas nama wewenang Pahlawan, aku
memerintahkan. Mari kita buang dia dari Kekaisaran."
Ia memutuskan untuk membuang Damon.
"Tuan Pahlawan... T-Tapi, hal
seperti itu harus dikonfirmasikan dulu pada Yang Mulia Baginda atau Jenderal
Besar Bushin..."
"Ini keputusan Pahlawan. Jadi, aku
tidak mengizinkan siapa pun menyentuhnya lebih jauh lagi."
Saat itu, Damon sudah tidak sanggup
melihat wajah Sekund maupun
Riiya lagi. Simpati Sekund. Belas
kasihan. Empati. Atau rasa bersalah.
Apa pun itu, hal ini secara mutlak telah
memisahkan jalan hidup mereka berdua.
"Damon. Ini sedikit rasa kasihan
dariku. Walau ini tugas Pahlawan yang
harus terus kulakukan, tadi aku juga
sedikit tenggelam di dalamnya."
"............"
"Aku beri tahu ya, jangan coba-coba
punya niat bodoh. Kalau terjadi sesuatu padaku, kau bakal menjadikan
Kekaisaran, tidak, bahkan seluruh negara anggota aliansi sebagai musuhmu. Kalau
sudah begitu, tentu saja aku pun tidak bisa melindungimu lagi. Sampai di sini
saja, Damon."
Damon hanya merasa sangat menderita,
hatinya telah patah hingga rasa ingin membalas dendam pun tidak muncul, dan
setelahnya ia menutupi telinganya tanpa memahami apa pun lagi.
"UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Ia lari meninggalkan tempat itu, lari
dari Ibu Kota tanpa berpaling sedikit pun sembari kehilangan kesadaran dirinya.
Lalu beberapa hari kemudian, sang Saint
muncul di hadapan Damon dan bersujud.
Kejadian itu terjadi beberapa hari
setelah Damon gagal terpilih, wanita-wanitanya direbut, dibuang, dan
menyaksikan neraka yang bertubi-tubi.
Dan, berlanjut hingga sekarang.
"Saint... Kau, baru saja... bilang
apa?"
Setelah kehilangan segalanya dan diusir
dari Ibu Kota tanpa tahu sebabnya, Damon hanya menggelandang ke sana kemari
sebatang kara.
Ia sendiri tidak tahu sudah lari sampai
sejauh mana. Tempat ini ada di mana pun ia tidak tahu. Semuanya benar-benar
tidak masuk akal.
Semuanya sudah tidak memedulikan apa pun
lagi. Malah lebih baik mati saja. Di hadapan Damon yang telah terdesak hingga
ke batas akhir itulah sang Saint yang mengumumkan kegagalannya muncul. Lalu
menyampaikan kebenaran dan bersujud.
"Oi... Bicara apa kau... Bicara apa
kau, heh..."
Damon sama sekali tidak bisa memahaminya.
"Ya, ini adalah kesalahan teramat
besar yang tidak akan pernah bisa ditebus walau saya mati sekalipun... Karena
kebodohan saya ini... Saya benar-benar memohon maaf sebesar-besarnya."
Meski begitu, dengan dahi yang
ditempelkan ke tanah dan mengotori pakaian suci berwarna putih bersih dengan
debu, sang Saint terus meminta maaf sambil meneteskan air mata.
"Anda
bukanlah seorang Rakyat Jelata. Orang kedua dalam sejarah... Pahlawan di antara
para Pahlawan... Manusia super terlahir berbakat dengan bakat tanpa batas yang
bahkan tidak sanggup diukur oleh batasan Cermin Ajaib buatan Dewa... 『Pahlawan
Tengen』... Itulah kelas Anda yang sebenarnya."
Ia tidak bisa langsung memahaminya.
Keberadaan kelas yang melampaui Pahlawan pun belum pernah didengar oleh Damon.
Anggaplah kelas seperti itu memang ada,
dikatakan bahwa dialah orangnya pun tidak langsung masuk ke akalnya. Namun,
walau ia tidak tahu kelas apa itu, walau menganggapnya berbeda dari Pahlawan
'biasa', ada satu hal yang bisa ia pahami secara pasti.
"Artinya, hasil pemilihanmu memang
salah... Aku bukannya Rakyat Jelata, kan?! Aku ini seorang Class Holder,
kan?!"
"Tepat seperti yang Anda
katakan."
"Kau bilang alasan aku bukan Class
Holder itu karena aku Kaum Iblis lah, punya darah Kaum Iblis lah, kau bicara
macam-macam, kan?!"
"Itu juga merupakan kesalahan mutlak
saya. Saya telah memeriksa catatan masa lalu, kedua orang tua Anda memiliki
catatan pernah mengikuti Upacara Pemilihan secara resmi, dan saat menelusuri
garis keturunan Anda, sama sekali tidak ada darah Kaum Iblis sedikit pun."
Diri sendiri bukanlah seorang Rakyat
Jelata. Melainkan Class Holder sejati. Bukannya tidak bisa menjadi Pahlawan,
melainkan seharusnya menjadi kelas yang bahkan melampaui Pahlawan itu sendiri.
"Seharusnya
pengumuman ralat dan permohonan maaf segera dipublikasikan kepada Baginda
Kaisar Kekaisaran serta seluruh negara aliansi, tetapi karena Anda telah
dibuang dari Ibu Kota, saya bergegas menemui Anda terlebih dahulu... Tolong,
kembalilah bersama saya ke Ibu Kota sekali lagi. Lalu, atas nama Saint saya
akan mengumumkan kembali kelas Anda───"
Lalu,
membetulkan hal itu dan sekali lagi───
『Makanya sudah ya, buat aku melupakannya♥』
Namun,
wanita yang dicintainya sudah───
"...Jangan bercanda. Jangan...
bercanda kau, ya? Aku... sudah bilang, kan... kalau ini salah. Pasti ada yang
salah, berulang kali berulang kali berulang kali."
"Tepat seperti yang Anda
katakan."
"Tepat seperti yang Anda katakan,
ini kesalahan saya, tidak bisa selesai cuma dengan kata maaf saja,
bangsat!"
Di detik berikutnya, sesuatu di dalam
diri Damon yang tadinya seperti cangkang kosong mendadak putus dan mengamuk. Ia
mencengkeram dan menarik berdiri sang Saint yang sedang bersujud, lalu
menyemburkan amarahnya yang sangat hebat.
"Jangan bercanda kau, bangsat! Kau
sadar tidak apa yang sudah kau lakukan, hah?! Kau sudah melakukan hal yang sama
sekali tidak bisa diperbaiki lagi, tahu! Seluruh hidupku selama ini, hal-hal
yang sudah kutahan, wanita yang kucintai, segalanya hilang gara-gara
kesalahanmu, tahu!"
"Ya...
Semuanya adalah tanggung jawab saya... Saya tidak tahu apakah ini bisa menjadi
penebusan dosa, tetapi berbarengan dengan publikasi pengumuman ini saya akan
mengundurkan diri dari posisi Saint──"
"Bukan itu masalahnya,
bangsat!"
Sang Saint meneteskan air mata yang
menetes deras seperti gadis cilik.
Namun bagi Damon yang sekarang, hal itu
sama sekali tidak penting.
"Makanya sudah kubilang, kan! Aku
berulang kali! Periksa sekali lagi! Pasti ada yang aneh! Berulang kali
kubilang! Tapi kau tidak mau melakukannya! Dan karena kata-kata seorang Saint
itu mutlak, tidak ada orang lain, tidak ada satu orang pun, satu orang
pun!"
"Ya..."
"Saint apanya, sok hebat banget!
Seberapa berat kata-katamu itu... Menjerumuskan hidup orang ke dasar neraka,
mana bisa selesai cuma dengan kata 'salah', bangsat!"
Damon menghempaskan sang Saint yang
dicengkeramnya ke tanah saat itu juga, lalu menyemburkan kata-kata dendam
sekuat tenaganya.
"Aku ini harusnya jadi Pahlawan!
Harusnya aku menumbangkan Raja Iblis, mengakhiri perang, dan jadi pahlawan
besar... Tapi kenapa! Kenapa aku malah jadi begini! Orang-orang di Ibu Kota
yang tadinya memujiku sebagai Anak Ajaib dan pasti jadi Pahlawan, sekarang
mereka semua cuma Sekund Sekund Sekund, membalikkan telapak tangan dan
menyebutku penipu, dan pada akhirnya Mbak Riiya... Mbak Riiya... A, aaaaaaaaa,
aaaaaAAAAA, jangan bercandaaaaa!"
Dari dasar tubuhnya yang telah kehilangan
keinginan untuk hidup dan melemah, ia terus meneriakkan kata-kata yang diperas
sekuat tenaga.
Sampai tenggorokannya rusak dan suaranya
serak, ia berteriak tanpa hirau.
"KUBUNUH KUBUNUH KUBUNUH! Bakal
kuperkosa dan kukubur dengan tendanganku, Kota Suci bahkan Raja Suci yang
mengutus Saint tidak berguna sampah sepertimu bakal kuhancurkan! Semuanya,
semuanya, semuanyaaaaa!"
"Mohon... maaf... Mohon maaf
sebesar-besarnya."
"───────!
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... Aah..."
Kepada Damon yang seperti itu, sang Saint hanya bisa meminta maaf. Di dalam kepala Damon yang melontarkan makian pada sang Saint, benang batas kemampuannya terputus. Ditambah dengan kondisinya yang memang sudah lemas, ia kelelahan berteriak dan pingsan begitu saja.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment