NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 2 Chapter 6

Chapter 6

Di Rumah sang Pacar...?


—Sabtu, 9 Juli.

Sekitar pukul 11, saat dia sedang menghabiskan waktu di ruang keluarga bersama Mitsumi, bel pintu berbunyi.

Ketika Sakuto membuka pintu depan, Usami bersaudara sudah berdiri di sana.

—Waktunya akhirnya tiba.

"Yo, Sakuto-kun! Mohon bantuannya hari ini, ya?"

"H-Halo~... Permisi, kami menumpang bertamu~..."

Hikari yang tersenyum berseri-seri dan Chikage yang sedikit gugup dengan ekspresi kaku.

Pakaian yang dikenakan mereka berdua hari ini memberikan kesan yang agak sopan, atau lebih tepatnya, rapi dan bersih.

Mungkin mereka membuatnya lebih tenang dari biasanya agar bisa bertemu dengan Mitsumi.

Mitsumi menghampiri mereka.

"Senang bertemu dengan kalian; aku bibinya Sakuto, Kisezaki Mitsumi. Panggil saja aku Mitsumi, ya?"

"S-Senang bertemu denganmu..."

"Um... h-h-halo..."

Saudari kembar itu tampak seperti terkejut.

Dan itu wajar saja, karena Mitsumi berdandan sampai pada tingkat yang menakutkan.

Riasan dan gaya rambutnya sempurna, dan semua yang dia kenakan dari ujung kepala hingga ujung kaki adalah barang bermerek.

Berhadapan dengan Mitsumi yang meluap dengan pesona wanita dewasa, saudari kembar itu tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka.

Mungkin karena dia tahu bagaimana Mitsumi biasanya, Sakuto merasa agak malu. Bibinya itu biasanya lebih sederhana dan memprioritaskan fungsionalitas, tetapi hari ini dia terlalu bersemangat.

Menurut Mitsumi, itu karena dia akan difoto untuk wawancara, dan dia ingin mengenakan sesuatu yang tidak memalu-malukan meskipun dia dilihat sebagai bibinya Sakuto. Memang benar dia bahkan lebih cantik dari biasanya, tapi—.

Suasana sempat hampir membeku sejenak, tetapi kemudian Hikari tersenyum ramah.

"Aku Usami Hikari. Aku si kakak. Kalau ini—"

"Aku Usami Chikage. Aku si adik..."

Rasa gugup Chikage belum sepenuhnya memudar.

Di sisi lain, Hikari sungguh mengagumkan. Entah dia tidak gugup sama sekali atau hanya berusaha untuk tidak memperlihatkannya memang sulit diukur, tetapi dia mengukir senyum yang menawan.

"Aku sudah mendengar rumor dari Sakuto, tapi kalian berdua benar-benar imut! —Benar kan, Sakuto?"

"Ahahaha... benar kok~..."

Berkeringat deras, Sakuto perlahan mulai merasakan firasat buruk.

Mengatakan tidak baik berdiri mengobrol di pintu masuk, dia mengarahkan mereka berdua ke ruang keluarga untuk sementara waktu.

Dia meminta mereka berdua duduk di sofa tiga dudukan, dan Sakuto, yang biasanya duduk di antara mereka, duduk di kursi makan.

Sambil menyiapkan teh, Mitsumi berbicara kepada Usami bersaudara dari balik meja dapur.

"Sakuto biasanya tidak pernah bicara soal sekolah di rumah. Bagaimana dia biasanya?"

Menelan ludahnya, Chikage bertukar anggukan dengan Hikari.

Merek pasti sudah berdiskusi sebelumnya untuk mengatakan sesuatu yang aman—

"Dia sangat keren!"

""...Eh?""

Mitsumi dan Sakuto refleks membeku.

"Ah... tidak, maksudku! Dia lebih jago belajar dan olahraga daripada yang lain, dan saat ini dia sedang membantu kegiatan Klub Surat Kabar, jadi maksudku bagian-bagian dirinya yang itu sangat baik dan keren!"

Saat dia menjelaskan dengan panik, Sakuto juga merasa gugup karena suatu alasan.

Apakah Mitsumi merasa senang karena penilaian keponakannya begitu tinggi,

"B-Begitu ya! —Sakuto, bagus buatmu! Dipanggil keren dan semacamnya~"

Dia mengoper bola ke Sakuto, yang sedang mengukir senyum kecut.

"Ahahaha... masa sih..."

Melihat Chikage, gadis itu sedang menunduk, merah padam. Itu adalah reaksi yang sangat mudah dipahami, tetapi menjadi mudah dipahami sangatlah buruk untuk hari ini.

Mungkin lebih baik baginya untuk tidak terlalu banyak membuka mulut.

"Bagaimana Sakuto dari sudut pandangmu, Hikari-san?"

"Coba kita lihat... Seperti yang dikatakan Chikage, dia memang keren, tapi aku pikir itu pasti karena dia tinggal bersamamu, Mitsumi-san."

"Maksudnya?"

"Cara dia berinteraksi dengan anak perempuan itu sopan, dan rasanya nyaman berada bersamanya. Karena itulah aku dan Chikage akhirnya sama-sama jadi manja padanya..."

Sesuai dugaan, dia hebat juga, pikir Sakuto.

Malah, jika dia bisa berbicara sehebat itu, dia penasaran apakah gadis itu tidak bisa melakukannya sedikit lebih baik saat berpura-pura menjadi Chikage.

"Heeh~, dimanjakan oleh dua gadis seimut ini—kamu pasti bahagia kan, Sakuto?"

"Ahahaha... iya, mungkin ya~..."

Dioper bola lagi, Sakuto mengukir senyum kecut.

"Jadi, yang mana tipemu, Sakuto?"

"Ahahaha... Ehhhhhh!?"

Ditanya hal aneh secara tiba-tiba, Sakuto berubah menjadi merah padam.

"Ah, aku pasti ingin mendengar hal itu juga. —Maukah kamu memberi tahu kami, Sakuto-kun?"

"Yang mana tipemu, Sakuto-kun!?"

Hikari mungkin sengaja ikut menumpang pada pertanyaan Mitsumi, tetapi Chikage bertanya sambil praktis membungkuk dari meja.

Dengan reaksi Chikage yang seperti ini, kita bakal ketahuan, kita bakal ketahuan...

Sakuto menenangkan diri sejenak dan dengan lembut membuka mulutnya.

"Mitsumi-san, hal semacam itu agak sulit dijawab..."

Saat dia menjawab dengan serius, Mitsumi dan Hikari terkekeh.

"Yang tadi itu cuma lelucon keluarga. Aku cuma mengetes reaksimu, Sakuto."

"Aku tidak akal berpikir kamu benar-benar mempertimbangkannya secara serius. Maaf ya sudah menggodamu, Sakuto-kun."

Hikari juga tertawa kegirangan, sama seperti Mitsumi.

"Eh? Itu cuma lelucon..."

Tidak hanya Sakuto, tetapi Chikage juga berubah menjadi merah padam karena malu dan menunduk.

Meskipun begitu, jahat sekali. Yah, biasanya dia mungkin sadar itu lelucon, tapi ritmenya benar-benar berantakan hari ini.

"Yah bagaimanapun juga, aku sebagian besar sudah paham. Hikari-chan dan Chikage-chan, kalian menyukai Sakuto?"

""!?...""

Tepat di saat Sakuto berpikir seharusnya dia tidak mengenalkan mereka satu sama lain,

"Iya, kami menyukainya. Karena Chikage dan aku menyegani Sakuto-kun."

Sesuai dugaan Hikari. Dia mengalihkannya dari "suka" sebagai lawan jenis menjadi "suka" sebagai seorang manusia.

"Heeh, jadi kamu menyukainya juga, Chikage-chan?"

"I-Iya! Aku menyukainya dari lubuk hatiku yang paling dalam...!"

Chikage menjawab secara alami. Meskipun Hikari sudah bersusah payah mengalihkannya, orang hampir bisa merasakan semangatnya untuk mengembalikannya ke makna semula.

"Ah, jadi, maksudku dalam artian disegani, jadi maaf jika membuat salah paham!"

"Fufu, begitu ya~... Baguslah kalau kamu cukup disukai, Sakuto."

"Ahahaha... iya, memang..."

Dia tidak merasa tenang sama sekali.

Hikari melakukannya dengan baik, tetapi dia merasa Chikage benar-benar tidak cocok untuk hal semacam ini.

"Jadi, bagian apa dari Sakuto yang kalian segani?"

Ketika Mitsumi bertanya, seolah memberi waktu pada Chikage untuk berpikir, Hikari membuka mulutnya terlebih dahulu.

"Aku dulunya sering membolos sekolah, tapi berkat Sakuto-kun, aku jadi bisa hadir. Bagaimana menyatakannya ya... kami berdua bersaudara selalu dibantu olehnya, jadi Sakuto-kun adalah penolong kami. Aku ingin kami bertiga terus akur mulai dari sekarang."

Lalu kali ini Chikage juga membuka mulutnya, setelah menjadi lebih tenang.

"Aku sudah mengagumi Sakuto-kun sejak SMP. Dia jago belajar, dia tidak menyombongkannya, dan dia banyak membantuku saat acara hari itu. —Dia dapat diandalkan saat aku dalam kesulitan, dan aku senang bisa bersamanya seperti ini."

Saat Chikage mengatakan hal itu, Hikari juga mengangguk sambil tersenyum.

Yang barusan—entah sebagai kekasih atau sebagai teman—cara mereka berdua berbicara, yang bisa ditangkap dengan arti mana pun, mengandung 'kebenaran', tapi bagaimana hal itu tersampaikan pada Mitsumi?

Setidaknya, sebuah senyuman mengembang di wajah Sakuto.

"Terima kasih, kalian berdua. Karena kalian berdua ada di sini, aku menikmati pergi ke sekolah setiap hari. Akulah yang justru lebih banyak dibantu oleh kalian berdua, jadi akan sangat membantu jika kalian terus akur denganku."

Lalu Mitsumi terkekeh, seolah mengerti.

"Melihat kalian bertiga entah bagaimana membuatku merasa bahagia. Oh iya, apa yang rencananya mau kalian lakukan untuk makan siang, Chikage-chan dan Hikari-chan?"

"Kami tadi berbicara tentang makan siang di suatu tempat bersama Sakuto-kun setelah mewawancaraimu, Mitsumi-san. Setelah itu, karena ini sebelum ujian akhir, kami berbicara tentang mengadakan belajar kelompok bersama," jawab Hikari dengan segera.

"Kalau begitu, aku akan menyiapkan sesuatu, jadi mari kita lakukan wawancaranya setelah itu, ya? Karena ada kesempatan, kalau belajar kelompok, kalian bisa melakukannya di rumah kami, kan?" kata Mitsumi dengan gembira.

Usami bersaudara tampaknya sepenuhnya disukai, jadi untuk saat ini, Sakuto merasa lega.

"Pertama, tolong beri tahu aku apa yang menginspirasimu untuk menjadi seorang pengacara."

"Coba kita lihat. Aku terpengaruh oleh sebuah drama yang kutonton dulu sekali—"

Setelah mereka bertiga makan siang, wawancara Hikari dengan Mitsumi dimulai.

Dia terkejut dengan nada suara Hikari yang berbeda dari biasanya, tetapi gadis itu berkomunikasi dengan terampil dan mengajukan pertanyaan sambil sesekali tertawa bersama.

Dia tampak seperti seseorang yang sudah sepenuhnya terbiasa dengan hal semacam ini, dan Sakuto merasa seperti telah melihat sisi baru dari Hikari.

Tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran, dia menuju ke dapur.

Karena Chikage telah menawarkan diri untuk mencuci piring, dia memutuskan untuk membantu karena sedang punya waktu senggang.

"Padahal aku bilang akan melakukanya nanti."

"Tidak usah dipikirkan. Aku terbiasa dengan pekerjaan rumah, dan aku suka melakukannya."

"Begitu ya... Tapi biarkan aku membantumu juga."

Sakuto mengambil lap piring, berdiri di samping Chikage, dan mulai mengeringkan barang-barang yang selesai dicuci gadis itu.

"Hikari seperti orang yang berbeda, ya."

"Mengejutkan, kan? Dia selalu seperti itu pada orang dewasa. Dibandingkan dengannya, aku... Haa~... Aku tidak berguna~..."

Karena Chikage menunjukkan ekspresi muram, Sakuto mengeluarkan suara "Haha" dan tersenyum.

"Kamu sama sekali tidak begitu. Kamu hanya gugup, kan?"

"Aku iri pada Hii-chan yang bisa berbicara tanpa merasa gugup..."

"Mungkin begitu. Tapi Chikage yang gugup itu agak imut, tahu."

"!?..."

Hampir menjatuhkan piring karena tidak sengaja, Chikage terburu-buru menangkapnya.

"S-Sakuto-kun...! Lelucon seperti itu saat ini..."

"Ini bukan lelucon. Reaksimu besar, dan kalau untukku, aku suka karena itu mudah dipahami, tahu?"

"A-Aduh... tolong katakan hal-hal seperti itu lebih banyak lagi!"

"Ah, iya... Aku pikir respons yang berbeda akan keluar..."

Saat mereka berdua terkekeh bersama secara bercanda, mereka mendengar suara sengaja dari Hikari yang mengatakan, "Aduh, aduh?"

"Di sebelah sana, suasananya sangat menyenangkan ya~."

"Hmm... dilihat dari sudut ini... Pengantin baru?"

Hikari dan Mitsumi sedang tersenyum jahil. Melihat Chikage berubah merah padam, keduanya giggled. Sepertinya mereka menikmati menggodanya.

"Bukankah adikku imut?"

"Dia memang sangat imut. Dan dia tekun, jadi kamu mungkin tidak akan bosan bersamanya. Lagipula, kamu juga imut, Hikari-chan."

"Eh? Benarkah? Terima kasih banyak!"

Penanganan Hikari benar-benar seperti orang dewasa.

Sampai pada tingkat yang membuat orang ragu apakah sisi polos dan kekanak-kanakannya yang biasa adalah sisi yang sengaja dibuat-buat.

"Kalau begitu aku akan lanjut ke pertanyaan berikutnya, ya? Konsultasi seperti apa yang paling banyak kamu dapatkan di kantor hukum tempatmu bernaung, Mitsumi-san?"

"Coba kita lihat~..."

Mitsumi membuat gestur berpikir sejenak.

"Yang paling umum adalah tindakan perselingkuhan seperti main belakang, dan juga perceraian; aku rasa konsultasi antara pria dan wanita seperti itu~?"

""!?...""

Ketegangan menjalar pada Sakuto, Chikage, dan Hikari.

"Ada juga kasus yang tidak bisa diselesaikan secara perdata saja. Dalam kasus baru-baru ini, dua wanita memperebutkan satu pria—"

"Aah, sudah cukup! Lagipula aku tidak bisa menulis hal-hal spesifik tentang itu!"

Hikari terburu-buru menyuruh berhenti.

Sakuto berpikir hal itu memang tidak baik untuk jantungnya.

Setelah wawancara Hikari selesai, Mitsumi akhirnya pergi keluar, mengatakan ada urusan dengan seorang teman, dan mereka mengantarnya di pintu masuk.

"Aku benar-benar senang bisa bertemu kalian berdua. Aku pergi dulu, tapi kalian bisa tinggal selambat yang kalian mau. Maukah kalian datang main ke rumah kami lagi?"

""Iya!""

"Fufu, dikelilingi oleh dua gadis seimut ini, keponakanku benar-benar penakluk wanita."

"Ugh... Mitsumi-san!"

Mitsumi terkekeh, tetapi tiba-tiba menatap Hikari seolah mengingat sesuatu.

"Hikari-chan."

"...? Ada apa?"

Hikari mengukir senyum menawan.

"...Kamu tidak lelah?"

"Eh...?"

"Lain kali kita bertemu, kamu bisa lebih merilekskan bahumu, oke?"

"Um, apa maksudmu dengan hal itu...?"

"Jika kamu tidak bisa menunjukkan emosimu di luar, hatimu akan lelah. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menyamaiku. Sangat tidak apa-apa untuk lebih rileks, sama seperti bagaimana kamu biasanya berinteraksi dengan Sakuto, oke? Lain kali kita bertemu, tunjukkan dirimu yang sebenarnya padaku."

Saying that, Mitsumi tersenyum berseri-seri, sementara Hikari menunjukkan ekspresi bingung.

"U-Um, Mitsumi-san, aku tidak bermaksud membohongimu atau..."

"Fufu, aku tahu. Karena kamu sangat mirip dengan Sakuto."

"Aku, mirip dengan Sakuto-kun...?"

"Iya. Jadi kamu tidak perlu menahan diri. Cobalah mengekspresikan emosimu dengan lebih jujur. —Kalau begitu, Sakuto, jaga mereka berdua, ya?"

Meninggalkan kata-kata itu, Mitsumi berjalan pergi, suara sepatu hak tingginya bergema klak klak.

"...Dia melihat menembus diriku. Perjalananku masih panjang, ya..."

Saying that, Hikari mengukir senyum kecut dan menunduk.

Melirik ke arah Hikari, Sakuto memikirkan tentang Mitsumi.

"Dia seorang pengacara, dan lagipula Mitsumi-san menyukai orang-orang. Jadi, dia mengamati orang lain dengan cermat, dan dia mungkin merasakan kejanggalan saat berbicara denganmu, Hikari."

"Iya, mungkin begitu... Tapi aku benar-benar senang bisa berbicara dengan Mitsumi-san..."

Melihat Hikari yang berbicara dengan lembut seolah bergumam lega, Sakuto bertukar pandang dengan Chikage.

Kenyataan bahwa Chikage mengangguk sambil tersenyum pasti berarti persis seperti itu.

Yang barusan adalah perasaan Hikari yang sebenarnya. Dia berpikir gadis itu merasa lega dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Lalu Hikari meregangkan tubuhnya lebar-lebar dengan suara "Mmm."

"Bahuku agak kaku karena menjawab dengan begitu serius~... Jadi, Sakuto-kun, maukah kamu memberiku pijatan di kamarmu setelah ini?"

"Iya, tentu saja tidak apa-apa, tapi..."

"Itu tidak adiii... Sakuto-kun! Tolong lakukan perawatan padaku juga!"

"Ah, iya... Chikage, aku pikir aku tidak bisa melakukan sesuatu yang seprofesional itu~..."

Dan begitulah, mereka bertiga kembali ke diri mereka yang biasa dan menuju ke kamar Sakuto.

"Jadi ini kamarnya Sakuto-kun~."

"Entah bagaimana ini persis seperti yang kubayangkan!"

Sambil melihat saudari kembar yang sedang bersenang-senang, Sakuto berpikir dia tidak pernah menyangka akan memperlihatkan kamarnya sendiri kepada mereka.

Meminta mereka duduk di meja rendah di tengah ruangan, mereka melihat sekeliling dengan gelisah.

"Ini dirapikan dengan sangat baik. Apakah kamu merapikannya karena berpikir kami akan datang?"

"Tidak, aku cuma menyedot debu. Aku berusaha hanya menyimpan barang-barang kebutuhan pokok saja."

Chikage mengerang dengan suara "Ugh."

"Ini agak mirip punya Hii-chan..."

"Ah, ini mungkin memang mirip dengan kamarnya Hikari."

"Karena kamarnya Chi-chan penuh dengan boneka kain, kan~?"

"H-Hii-chan! Kamu berjanji untuk tidak memberi tahu Sakuto-kun soal itu!?"

"Eh? Kenapa?"

Sakuto memiringkan kepalanya.

"K-Karena... aku tidak ingin dianggap kekanak-kanakan..."

Chikage berubah merah padam. Lalu, Hikari tiba-tiba pergi ke belakang Chikage dan mengangkat dada Chikage dari belakang dengan bunyi puk.

"Tunggu...!? Hii-chan!?"

"Menggantung barang sebesar iniii, aku tidak berpikir ada hal yang kekanak-kanakan dari dirimu~?"

"Aku sedang bicara soal hobi sekarang!"

"Mufuu... Tunggu, lho? Apakah mereka bertambah besar lagi?"

"Kan sudah kubilang, hentikaaaan...!"

Terhadap Hikari yang bermain-main, Chikage berubah merah padam dan berusaha melawan.

Tidak bisa melihat mereka secara langsung, Sakuto berkata,

"Aku akan menyeduh teh, jadi anggap saja rumah sendiri..."

dan dengan tenang meninggalkan ruangan.

Ini mungkin sebuah keuntungan dari menjadi pacar yang berkencan dengan saudari kembar, tetapi ini cukup canggung.

"Fuaaa~... Aku lelaaah~..."

Setelah sekitar dua jam belajar kelompok, Hikari meregangkan tubuhnya lebar-lebar.

"Sakuto-kun, bolehkah aku meminjam tempat tidurmu...?"

"Boleh saja, tapi..."

Sempoyongan, Hikari menuju ke tempat tidur dan menjatuhkan wajahnya ke bantal.

"Aah, baunya seperti Sakuto-kuuun..."

"Hikari, hentikan; ini memalukan..."

"Hii-chan, tukar tempat denganku!"

"Tuh kan, Chikage juga bilang begitu... eh?"

Sementara mereka melakukan percakapan itu, Hikari berhenti bergerak sama sekali.

"Ahahaha... Sepertinya Hii-chan tertidur."

"Eh!? Cepat sekali!?"




Memang benar, dia bisa mendengar nafas Hikari saat tidur. Meskipun begitu, kecepatannya memang mengejutkan.

"Hii-chan kalau tidur cepat sekali, tapi dia juga cepat bangun. Sejak dulu, waktu tidurnya cuma sekitar dua atau tiga jam saja..."

"Seorang short sleeper, ya... Kalau begitu aku penasaran bagaimana dia bisa mempertahankan tingkat energinya?"

"Karena dia seorang jenius..."

Chikage mengukir senyum kecut. Apakah nuansa dari hal yang barusan lebih dekat ke rasa jengkel daripada sindiran?

"Menganggap kita membiarkan Hikari tidur seperti itu, bagaimana denganmu, Chikage?"

"Kalau begitu, aku juga ingin istirahat sebentar..."

Chikage dengan lembut menyandarkan kepalanya di bahu Sakuto. Saat aroma manis khas bunga mencapai lubang hidung Sakuto, jantungnya refleks berdegup kencang.

"Ada apa, kok tiba-tiba...?"

"Ini balasan."

"Apakah aku melakukan sesuatu padamu, Chikage...?"

Dia tidak bisa memikirkan apa pun, tetapi apa maksud gadis itu bahwa ini adalah sebuah balasan?

"Aku tahu kamu dan Hii-chan terkadang diam-diam membicarakan sesuatu."

"Ah, kamu menyadarinya...?"

"Tentu saja aku sadar. Kalau kamu memamerkannya seperti itu, aku bakal cemberut."

Saying that, dia semakin mengusapkan kepalanya. Singkatnya, dia mungkin ingin menyampaikan bahwa dia cemburu, bukannya ini sebuah balasan.

"Aku ingin Sakuto-kun memberi lebih banyak perhatian padaku juga..."

"Ah, iya... kalau itu yang kamu mau, Chikage—"

"Bukan itu, aku ingin tahu apa yang ingin kamu lakukan padaku, Sakuto-kun."

Gadis itu entah bagaimana sedang menggoda, tidak seperti Chikage yang biasanya. ...Bukannya dia membencinya, sih.

"Um... Daripada memberi perhatian, aku ingin tetap seperti ini lebih lama."

"...Spesifiknya?"

Chikage tiba-tiba menatap Sakuto dengan mata mendongak. Itu adalah ekspresi yang serius.

"Sekarang ini, um... Hikari ada tepat di sana, jadi..."

"Tidak apa-apa. Dia tidak akan bangun cuma karena hal kecil—"

Itu seperti percakapan antara sepasang suami istri setelah menidurkan anak mereka.

Dia bisa mendengar suara jarum jam analog, gesekan pakaian, dan nafas tidur Hikari. Dia merasa seolah bahkan bisa mendengar suara kedipan mata dan detak jantung Chikage, tetapi momen keheningan tiba-tiba datang.

Sakuto dan Chikage berciuman—.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close