Chapter 5
Ciuman di Ruang Klub...?
Malam setelah hari saat dia memutuskan untuk bekerja sama dengan Klub Surat Kabar.
Ketika Sakuto
pulang ke rumah lebih lambat dari biasanya, sepatu hak tinggi milik bibinya,
Kisezaki Mitsumi, tersusun rapi di area pintu masuk. Sepertinya bibinya itu
sudah pulang lebih dulu.
Aroma makan malam
tercium hingga ke pintu masuk. Sepertinya menu malam ini adalah olahan daging.
"Aku pulang,
Mitsumi-san."
"Selamat
datang kembali, Sakuto."
Mitsumi yang
tersenyum menyembulkan kepalanya dari arah dapur.
Penampilannya
tampak awet muda dan sama sekali tidak terlihat seperti wanita berkepala tiga.
Namun, suara seraknya terdengar tenang dan menyenangkan di telinga. Dia sendiri
seolah peduli bahwa "suaranya tidak imut", tetapi Sakuto menyukainya
karena terdengar dewasa.
"Kamu
pulang terlambat hari ini, ya? Apakah mampir ke suatu tempat?"
"Tidak,
aku ada kegiatan klub sebentar hari ini. Kami melakukan pembersihan
besar-besaran di ruang klub."
Mitsumi
menunjukkan ekspresi bertanya-tanya sambil bergumam "Eh?"
"Kamu
memutuskan untuk bergabung dengan klub?"
"Lebih
ke membantu daripada bergabung. Nanti aku jelaskan—" kata Sakuto, sambil berjalan lurus menuju
kamarnya.
Setelah berganti
pakaian santai dan kembali ke ruang makan, Sakuto menemukan hidangan yang
disiapkan Mitsumi sudah berjejer di atas meja. Apakah hanya perasaannya saja
bahwa makanan itu terlihat lebih mewah dari biasanya?
"Ada acara
apa hari ini? Perayaan untuk sesuatu?"
"Sudahlah,
tidak usah dipikirkan; duduk saja dulu, duduk."
Merasa ada
sesuatu yang mencurigakan, dia duduk berhadapan dengan Mitsumi, yang sedang
menatap wajah Sakuto dengan senyum berseri-seri.
"Kalau
begitu, mari kita makan..."
"Iya,
selamat menikmati."
Seperti dugaan,
suasana hati Mitsumi jauh lebih baik dari biasanya.
Hal itu sendiri
sebenarnya bagus, tetapi tetap saja terasa agak mencurigakan. Tanpa menyentuh
makanannya sendiri, dia memperhatikan Sakuto menyantap makan malam dengan
senyuman penuh di wajahnya.
"...Ada apa?
Kamu sepertinya sedang bersemangat sekali..."
"Begini, aku
akan bertanya langsung saja... apakah kamu sudah punya pacar?"
Ternyata hanya
hal itu. Dia sudah menduga bahwa hari seperti ini akhirnya akan datang. Untuk
saat ini, dia ingin melihat bagaimana reaksi Mitsumi terlebih dahulu.
Tanpa membantah
maupun membenarkan, Sakuto menatap Mitsumi dengan senyum kecut.
"Kenapa
bertanya hal seperti itu secara tiba-tiba?"
"Firasat
seorang wanita. Kamu menghabiskan lebih banyak waktu untuk merapikan diri, dan
waktu yang kamu habiskan untuk melihat ponsel pintarmu juga meningkat. Oh iya,
berbicara tentang ponsel pintar, kamu mulai meletakkannya menghadap ke bawah di
atas meja, dan kamu bahkan membawanya saat pergi ke kamar mandi... Jadi aku
berpikir mungkin ada sesuatu yang tidak bisa kamu ceritakan padaku, padahal
kita tinggal bersama."
Untuk seseorang
yang menyebutnya sebagai firasat wanita, pengamatannya begitu spesifik hingga
Sakuto bertanya-tanya apakah bibinya sedang melakukan penyelidikan
perselingkuhan. Sakuto merasa seperti seorang pria yang dicurigai berselingkuh
oleh pacar yang tinggal bersamanya.
Namun, apakah
seseorang benar-benar bisa tahu sebanyak itu hanya dari ponsel pintar? Dia
harus lebih berhati-hati mulai sekarang.
"Lalu,
pembicaraan tentang pergi berlibur saat liburan musim panas. Aku penasaran apa
yang membuatmu tiba-tiba ingin pergi berlibur."
"Iya, jadi
aku ingin pergi bersama dua teman sekelasku..."
"Kelihatan
kok, kelihatan banget~... Jumlah aura merah muda di belakang punggungmu semakin
bertambah, Sakuto~."
"Ah, iya...
kenapa tiba-tiba kamu bangkit kemampuan spiritualnya...?"
Ketika Sakuto
bertanya sambil setengah jengkel, Mitsumi tertawa sambil berkata "Cuma
bercanda."
"Sebenarnya,
aku kebetulan melihatmu berjalan pulang bersama dua orang gadis di depan
stasiun hari ini."
"Eh!?"
"Kalian
merangkul lengan dengan erat dan pergi ke kafe di depan stasiun, kan? Ah,
indahnya menjadi muda~, ufufu."
Dia
merasa seperti baru saja mendapat pukulan telak.
Namun, masih
terlalu dini untuk menyerah. Pada tahap ini, dia bisa membuat alasan bahwa dia
hanya mampir ke kafe bersama saudari kembar yang dekat dengannya.
Meskipun
begitu, Mitsumi terlihat bersenang-senang saat menatap wajah Sakuto.
"Merek
gadis kembar yang sangat imut, kan~? Apakah salah satu dari mereka calon pacarmu?"
"Tidak,
mereka bukan calon pacar..."
Sebenarnya,
keduanya sudah menjadi pacarku—hal itu tentu saja tidak bisa dia ucapkan.
"Begitukah?
Kalau begitu sepertinya 'si hantu pembuang kesempatan' bakal muncul
nih..." kata Mitsumi menggantung, sambil meletakkan tangannya di dagu
seolah sedang berpikir keras.
Untuk saat ini,
tampaknya dia puas melihat keponakannya diapit oleh saudari kembar.
"Jadi,
siapa gadis-gadis kembar itu?"
"Merek
Usami bersaidara, dan mereka gadis-gadis yang sangat pintar. Kepribadian mereka
berbeda, tetapi mereka berdua orang yang baik, tekun, dan dapat
diandalkan."
Lalu
Mitsumi tersenyum jahil.
"Sorot
mata gadis-gadis itu adalah sorot mata yang kamu tunjukkan saat melihat anak
laki-laki yang kamu sukai, tahu."
"M-Masa
sih...?"
"Duh,
tidak peka itu tidak bagus, tahu? Dan pura-pura tidak tahu padahal kamu tahu
juga buruk, kan? Apalagi
karena mereka kembar, kalau kamu sampai salah paham dan salah menyebut nama
mereka, mereka bisa sakit hati. Jadi berhati-hatilah saat berinteraksi dengan
mereka, oke?"
Bagi Sakuto, yang
tidak hanya salah mengenali nama mereka tetapi juga orang yang dia jawab
pernyataan cintanya, dan lebih dari itu, orang yang dia cium, kata-kata Mitsumi
menancap telak di hatinya berulang kali.
Sakuto merasa dia
harus bersyukur atas toleransi Hikari dan Chikage.
"Tentang hal
itu, yah, tidak apa-apa... Pada awalnya aku salah paham 'beberapa hal', tapi
aku tidak akan salah paham lagi."
Mendengar
hal itu, Mitsumi terkekeh.
"Itulah hal
baik darimu, Sakuto. Kamu
tidak menyamaratakan orang; kamu benar-benar melihat setiap orang saat
berbicara. Mungkin itulah hal yang disukai gadis-gadis kembar itu darimu?"
"Kamu
pikir begitu?"
"Tentu
saja. —Jadi, siapa nama gadis-gadis kembar itu?"
"Yang
kakak namanya Hikari, dan yang adik namanya Chikage. Mereka berdua murid kelas satu. Tapi kelas kami
berbeda—"
Saat Sakuto
berbicara tentang Usami bersaudara, dia mulai merasa tidak baik membiarkan
bibinya menggali lebih dalam.
Mitsumi
juga seorang pengacara yang menyusun argumen secara logis dan teratur di
pengadilan. Jika dia menyelipkan sesuatu yang ceroboh, bibinya mungkin akan
mencapai kebenaran dari sana. Bahkan saat berbicara seperti ini, dia berniat memilih kata-katanya dengan
sangat hati-hati, tetapi dia merasa mungkin saja akan kelepasan pada akhirnya.
Sudah waktunya
untuk mengubah topik pembicaraan.
"Yang lebih
penting, kenapa kamu dalam suasana hati yang baik hari ini, Mitsumi-san?
Makanannya juga mewah begini."
"Kasus yang
kutangani akhirnya selesai. Ini perayaan untuk hal itu, dan perayaan untuk
Sakuto-kun yang mendapatkan dua teman yang imut."
"Ah, terima
kasih..."
Melihat Mitsumi
yang tersenyum, hatinya sedikit sakit.
Terhadap Mitsumi
yang selalu mengkhawatirkannya, dia tidak bisa memberi tahu bahwa mereka adalah
pacarnya, dan dia berbohong bahwa mereka hanyalah teman.
"Oh, aku
tahu! Bisakah kita mengundang Hikari-chan dan Chikage-chan ke rumah kita?"
"Eh?"
"Karena ada
kesempatan, aku ingin bertemu dan mengobrol dengan mereka. Hei, bagaimana
menurutmu?" tanya Mitsumi dengan gembira.
Di sisi Sakuto
juga ada keadaan yang membuatnya ingin mengenalkan saudari kembar itu kepada
Mitsumi.
"Mitsumi-san,
ada sesuatu yang ingin kukonsultasikan padamu mengenai hal itu...—"
* * *
—Mundur sekitar
satu jam yang lalu.
Karena waktu
untuk pulang semakin dekat, tepat di saat Hikari selesai membaca terbitan lama
dan Sakuto beserta yang lainnya selesai membersihkan ruang klub, ketika mereka
berlima mengadakan rapat tentang masa depan, Kosaka Matori mengajukan sebuah
usulan—
"—Eh?
Aku, membuat artikel wawancara profesi?"
"Yap. Karena
kamu bekerja sama dengan kami, aku pikir kami bisa menyerahkan bagian itu
padamu."
Menurut Matori,
Surat Kabar Arigaku yang diterbitkan oleh Klub Surat Kabar menampilkan artikel
wawancara profesi di setiap edisinya, yang mereka isi dengan bertanya kepada
wali atau kenalan anggota klub.
"Tidak, tapi
kalaupun kamu bilang kenalan orang dewasa..."
Ibu
Sakuto sibuk dan jarang punya waktu. Berbicara tentang seseorang yang terlintas
di pikirannya—
"Ah...
Mitsumi-san, mungkin..."
"Hmm?
Siapa Mitsumi-san?"
"Orang
yang tempatnya kutumpangi, bibiku."
"Heeh,
pekerjaan apa yang dia lakukan?"
"Dia seorang
pengacara."
Lalu ekspresi
Matori menjadi cerah.
"Kalau
begitu dia sempurna! Ada orang-orang yang masuk ke fakultas hukum dari Akademi
Arisuyama, jadi kalau dia seorang pengacara, kamu mungkin bisa menulis artikel
yang bagus!"
Dan begitulah,
Sakuto berakhir mengerjakan wawancara profesi tersebut.
Namun masalahnya
datang setelah itu.
Itu terjadi
setelah dia meninggalkan ruang klub bersama Hikari dan bertemu dengan Chikage—
"—Heeh, jadi
Klub Surat Kabar bakal melakukan kegiatan secara benar?"
Di kursi meja
kafe, Chikage yang duduk di seberangnya berbicara sambil tampak agak lega.
"Yah,
begitulah... Untuk saat ini, sebagai langkah awal, kurang lebih aku berhasil
membuat mereka berutang budi. Sesuai rencana, kamu bisa lanjut mengaudit secara
ketat, Chikage."
"Dimengerti!
Serahkan saja padaku!"
Sementara
Chikage meluap dengan motivasi, kali ini Hikari yang duduk di sebelah Sakuto
membuka mulutnya.
"Ngomong-ngomong,
soal wawancara profesi..."
"Ah,
iya. Ada apa?"
"Aku
mau mewawancarai bibinya Sakuto-kun~."
"............Har?"
Hikari
tersenyum berseri-seri. Adalah
hal yang bagus bahwa dia memiliki motivasi, tapi—
"Kenapa
denganmu tiba-tiba!?"
"Ehehehe,
saat aku membaca terbitan lama, artikel wawancaranya menarik."
"Ah,
iya... Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menulis artikel wawancara yang
menarik, oke?"
"Masa
sih? Mungkinkah ada alasan kamu tidak ingin aku dan bibimu bertemu~?"
"T-Tidak
ada...? Tidak ada, tapi kamu tahu sendiri..."
Mengenalkan
mereka kepada keluarganya entah bagaimana terasa memalukan.
Sakuto juga
merasa malu tentang hal itu. Karena dia hanya seorang yang menumpang, apakah
benar-benar boleh membawa gadis ke rumah?
Tapi, ini
Mitsumi-san, jadi...
Mitsumi pasti
akan mengizinkannya, dan malah, dia mungkin akan bilang ingin bertemu dengan
mereka.
Namun dia tidak
bisa memberi tahu bibinya bahwa mereka adalah pacarnya.
Meskipun begitu,
jika dia mengundang seorang gadis—apalagi dua orang—ke rumah, dia tidak bisa
tidak memikirkan betapa merepotkannya hal itu nanti.
"—Aku ikut
dalam pembicaraan itu."
Sakuto
tersentak merespons suara yang terdengar lembut itu.
"...Chikage?"
"Tidak
adil! Kenapa cuma Hii-chan yang bertemu dengan bibinya Sakuto-kun!"
"Bukan,
ini bukan masalah adil atau tidak, dan lagipula aku belum memberi izin—"
"Kamu
mau bertemu dengan bibinya Sakuto-kun juga, kan, Chi-chan~?"
"Iya.
Bertemu dengannya... bertemu dengannya? Hah... hawawawa—!?"
Ah,
semacam sakelar aneh telah tertekan, pikir Sakuto.
"Kalau
aku bertemu dengan bibimu, Sakuto-kun, ceritaku secara alami akan sampai ke
orang tuamu juga, kan!?"
"Ah,
iya... daripada secara alami, aku pikir itu bakal tersampaikan secara
pasti..."
"Yang
artiiiinyaaaa—!?"
"Nishishi,
kamu menyadarinya juga, Chi-chan?"
Apa maksudnya
itu?
Saat Sakuto
memiringkan kepalanya tanpa paham sama sekali, Hikari membuka mulutnya dengan
senyum berseri-seri.
"Sakuto-kun,
kamu tahu apa artinya bertemu dengan kerabat pacarmu?"
"...Tidak,
apa artinya?"
Hikari
mengayunkan jari telunjuknya yang terangkat ke kiri dan ke kanan dengan nada ck
ck ck.
"Kamu pernah
bermain permainan bisik berantai?"
"Yah, waktu
SD..."
"Bertemu
kerabatmu berarti hal itu akan disampaikan kepada orang tuamu dalam beberapa
bentuk setelahnya, Sakuto-kun. Kamu bisa menyebutnya 'Permainan Bisik Berantai
Variabel' di mana kesan tentang kami disampaikan, baik atau buruk,
kurasa?"
"Variabel...?"
Memang
benar saat bermain bisik berantai, hal-hal terkadang tidak disampaikan secara
akurat, tapi—
—Ah, begitu ya.
Jika penampilan dan kepribadian mereka disampaikan secara lisan...
Dia akhirnya
memahami apa yang coba dikatakan oleh keduanya.
"Jika
Mitsumi-san mendapatkan kesan yang sangat baik tentang kalian, itu akan
disampaikan lebih baik lagi kepada ibuku sebagai pendapat yang objektif. Karena
ada rasa percaya di antara kerabat, mereka akan berpikir tidak ada salahnya
jika Mitsumi-san berkata begitu."
"Tepat
sekali. Sebaliknya, jika kami memberikan kesan buruk pada bibimu—" Hikari
berhenti di situ, membuat Chikage menunjukkan ekspresi keputusasaan.
"Awawa,
tekanannya! Aku jadi gugup~...!"
"Tidak,
seperti yang kukatakan, aku belum bilang akan mengundang kalian—"
"Aku
tidak percaya diri dengan sup miso buatanku... Apakah dia akan berkata padaku, 'Ini bukan rasa
rumah kami. Kenapa kamu tidak pergi berlatih dari awal?'?"
"Ah, iya...
Aku sangat meragukan kenapa kamu harus membuat sup miso, tapi Mitsumi-san tidak
seketat itu soal rasa, jadi tenang saja... Lalu, kenapa pakai dialek
Kyoto?"
Saat Sakuto
menatap Chikage dengan jengkel, Hikari menatap Sakuto dengan mata mendongak.
"Hei, apakah
kamu benar-benar tidak ingin aku dan Chi-chan bertemu dengannya sejauh
itu...?"
"Meskipun
kamu mengatakannya dengan imut~... —"
—Tidak, tapi
tunggu dulu.
Jika hanya
Hikari, Mitsumi mungkin akan mengoreknya lebih dalam setelah itu.
Tetapi jika
Chikage ada bersamanya, dia mungkin bisa mengalihkannya sebagai hubungan teman
baik seperti biasa.
Struktur seorang
keponakan dan saudari kembar yang dekat—selama hal ini solid, dia bisa
membayangkan hal itu akan merepotkan nanti, tetapi seperti yang diduga, bahkan
Mitsumi tidak akan bermimpi bahwa mereka bertiga sedang berkencan.
"...Dimengerti.
Kalau begitu, karena Mitsumi-san bilang dia libur kerja hari Sabtu, bagaimana
dengan hari itu? Aku tidak tahu sampai aku bertanya apakah dia punya rencana,
tapi..."
"Iya! Aku
tidak masalah!"
Lalu Chikage
melihat ponsel pintarnya dan mulai panik.
"Ah,
tinggal dua hari lagi! Apa
yang harus kulakukan!? Aku belum memesan salon kecantikan! Dan kukuku, klinik estetika, lalu
barium dan sinar-X juga!?"
"Bukankah
kamu menuju ke arah yang tidak relevan di paruh kedua? Lagipula, aku pikir
aspek dalam dirimu yang akan dilihat, bukan organ dalammu, jadi tenang
saja..."
"Kesehatan
itu penting!"
"Ah, iya...
itu memang benar, sih..."
Khayalan Chikage
telah sepenuhnya mulai tak terkendali.
—Lalu.
Tiba-tiba, dia
merasakan nafas di telinganya, dan suara Hikari bergema seperti bisikan manis.
"...Aku akan
berusaha sebaik mungkin agar bibimu menyukaiku, oke."
Hikari terkikik
dan menarik diri dari Sakuto, tetapi senyum berseri-serinya yang biasa
mengembang di wajahnya.
Dia terlihat
tenang, pikir Sakuto.
Dia selalu
menikmati situasi yang tidak biasa.
Secara
tidak langsung, bukankah itu berarti dia menghabiskan hari-harinya dengan
bosan? Dia bahkan mulai berpikir bahwa gadis itu mungkin sedang mencari sesuatu
yang lebih merangsang.
Lalu,
tangan Sakuto yang tergeletak di atas meja digenggam erat.
"Sakuto-kun,
tolong pegang tanganku seperti ini saat kita bertemu bibimu...! Tolong! Jangan
lepaskan tanganku~..."
"Ah, iya...
itu mungkin tidak mungkin di depan Mitsumi-san~... —"
* * *
—Dan begitulah,
dengan hal itu telah terjadi, Sakuto meskipun merasa canggung membawa
konsultasi tersebut kepada Mitsumi.
"Konsultasinya
adalah, Hikari dan Chikage bilang mereka ingin datang ke rumah kita lain kali,
dan jika memungkinkan, bagaimana kalau Sabtu ini?"
"Kalau
begitu waktunya pas sekali! Jika sudah diputuskan, aku harus bersemangat untuk
menyambut mereka—"
"Ah,
tapi tunggu. Konsultasinya adalah tentang Klub Surat Kabar..."
Sakuto
menjelaskan tentang wawancara profesi tersebut.
"—Begitu
ya. Jadi aku hanya perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan Hikari-chan?"
"Iya. Boleh
aku minta tolong?"
"Tentu saja.
Sebagai alumni Arigaku, aku dengan senang hati membantunya."
"...Eh?
Apakah Mitsumi-san dari Arigaku?"
"Lho?
Bukankah aku sudah memberitahumu sebelumnya? Lulusan Arigaku, dan lulus dari fakultas hukum
Universitas Yuki. Meskipun
begitu, ini membawa kembali kenangan~... Aku benar-benar bekerja keras belajar
saat itu."
"Aku
mendengar dari Ibu, nilai-nilaimu sangat bagus, kan, Mitsumi-san?"
"Yah,
begitulah. Tapi aku selalu berada di peringkat kedua. Ada seseorang yang
kusukai saat itu, dan aku tidak bisa mengalahkan orang itu tidak peduli
bagaimana pun~..."
Melihat
Mitsumi berbicara dengan penuh kenangan, Sakuto berpikir dengan manis bahwa
bibinya itu pernah jatuh cinta juga.
"Dan
kamu tahu, aku bertemu kembali dengan orang itu setelah dewasa. Secara kebetulan lewat pekerjaan~"
"Heeh, jadi
di mana orang itu sekarang? Apakah kamu menghubunginya atau semacamnya?"
"...Dia
sedang dalam masa percobaan. Aku membelanya—"
"Ah,
iya... Aku tidak akan bertanya lebih jauh, dan aku tidak ingin
bertanya..."
Tampaknya ada
juga pertemuan kembali yang seperti itu.
* * *
Sehari setelah
sekolah, dia bertemu dengan Hikari dan Wakana di koridor, dan mereka bertiga
menuju ke ruang Klub Surat Kabar.
Saat Sakuto
membuka pintu, ruang klub yang kemarin remang-remang dan lembap kini terang dan
rapi.
Ayaka dan Matori
sudah menunggu.
"Osu,
selamat bekerja~."
"Karena
semuanya sudah ada di sini, mari kita mulai kegiatan hari ini. Lalu, sekali
lagi—"
Saat Ayaka
berbicara dengan nada lembut, dia menatap Sakuto dengan wajah penuh penyesalan.
"Takayashiki-kun,
aku minta maaf soal kemarin... Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu
terjadi lagi..."
"Tidak,
tidak, aku tidak memikirkannya lagi."
"Memintamu
membersihkan ruang klub, dan menerima kerja samamu seperti ini, aku tidak tahu
bagaimana cara berterima kasih yang cukup..."
Lalu Ayaka
berbalik menuju Matori.
"Matori-chan,
kamu tidak boleh menyusahkan orang lain lagi, oke? Ayo, minta maaf."
"Aku
tahu, aku tahu... Maaf soal kemarin, Takayashiki."
"Aku juga...
minta maaf."
Wakana juga
menundukkan kepalanya.
"Permintaan
maaf tidak apa-apa, jadi untuk saat ini, mari kita selesaikan surat kabarnya.
Dan..."
Sakuto bertukar
pandang dengan Hikari.
Hikari
mengaduk-aduk tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu SD.
"Matori-senpai,
aku berhasil memulihkan data foto kemarin."
"Ooh,
benarkah!? Luar biasa!?"
"Tapi, aku
menghapus data yang berkaitan denganku, Sakuto-kun, dan adikku, jadi itu tidak
bisa dipulihkan."
"A-Ahahaha...
kamu tipe yang sama seperti Takayashiki juga, ya~..."
Menanggapi senyum
kecut Matori, Hikari mengarahkan senyum berseri-seri yang tampak formal
padanya.
Sekarang setelah
segalanya agak tenang, Ayaka mengukir senyum dan bertepuk tangan dengan bunyi tep.
"Iya! Kalau
begitu, mari kita putuskan tugas masing-masing dan pergi mengumpulkan bahan
berita."
Sakuto berpikir
dia entah bagaimana terlihat seperti seorang guru SD yang akan muncul di anime
atau manga.
Jika dia seorang
guru SD di dunia nyata, dia merasa kelasnya mungkin akan kacau.
Klub Surat Kabar
hingga kemarin memang persis seperti itu, jadi dia mungkin tidak salah dalam
penilaian itu.
"Baiklah!
Kalau begitu Wakana, ayo kita pergi?"
"Iya! Mohon
bantuannya, Matori-senpai!"
Matori
dan Wakana meninggalkan ruang klub terlebih dahulu. Apa pun yang orang katakan,
keduanya tampaknya akur dengan baik.
"Maaf
ya, tapi aku akan tetap di ruang klub. Masih ada beberapa tempat yang belum
selesai kurapikan, dan aku ingin merapikan bahan-bahan."
"Dimengerti.
Kalau begitu aku serahkan
merapikan ruang klub padamu, Takayashiki-kun, ya? —Hikari-chan, mari kita
bekerja sama."
"Iya, mari
kita bekerja sama."
Dan
begitulah, setelah mengantar Ayaka dan Hikari pergi, Sakuto segera mulai
merapikan ruang klub.
Namun, belum ada
beberapa menit sebelum Hikari kembali.
"Ada
apa?"
"Ehehehe~,
ada yang ketinggalan—"
Tiba-tiba, Hikari
memeluk dadanya, dan...
"—...!?
Hika—"
Saat tangannya
melingkar di lehernya, Hikari berjinjit dan menciumnya.
Itu terlalu
mendadak. Sebagian karena terkejut, mata Sakuto tetap terbuka lebar.
Lalu, saat ciuman
itu berakhir, Hikari dengan tenang melepaskan kekuatannya dan mundur satu, dua
langkah.
"...Ada apa
denganmu tiba-tiba?"
"Ehehehe,
ciuman 'sampai jumpa nanti'!"
Saying that
with satisfaction, Hikari berlari kecil keluar dari ruang klub.
"...Apa-apaan
itu tadi..."
Ditinggalkan
sendirian, Sakuto menatap kosong ke arah pintu setelah Hikari pergi, tetapi
berpikir 'ini tidak benar' dan mulai merapikan ruang klub lagi.
Namun,
dia tidak bisa menghilangkan rasa aneh itu.
Apakah Hikari
kembali hanya untuk hal itu...?
Apakah dia ingin
mencoba berciuman di tempat seperti ruang klub, atau ada alasan lain?
Apakah aku
terlalu mencari alasan di setiap kata dan tindakan Hikari...
Pendingin
ruangan tidak bekerja dengan baik, dan dia mulai berkeringat.
Memutuskan
untuk membersihkan filter pendingin ruangan terlebih dahulu, dia berdiri di
atas kursi lipat.
Lalu, dia
bisa melihat langsung ke luar jendela. Sebuah lapangan olahraga terbentang di
depan gedung klub. Dia bisa melihat Hikari dan Ayaka di dekat klub sepak bola.
Pada saat itu, entah mengapa, punggung Hikari terlihat lebih kecil daripada Ayaka yang berbadan mungil.



Post a Comment