NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 2 Interlude III

Obrolan Si Kembar! 3

Percakapan Orang Dewasa...?


"Aku sudah tidak sabar untuk pergi liburan, Hii-chan!"

"Iya! Aku juga sudah tidak sabar."

Pada malam hari setelah destinasi perjalanan diputuskan, di kamar Hikari, si kembar sedang membicarakan tentang liburan tersebut.

"Tapi kita punya terlalu banyak hal yang harus dilakukan sebelum itu~..."

"Minggu ini ada ujian akhir, dan setelah itu ada audit... Hii-chan, bagaimana perkembangan di Klub Surat Kabar?"

"Untuk sementara waktu, aku rasa semuanya berjalan lancar~..."

"Untuk sementara waktu?"

Ketika Chikage bertanya dengan cemas, Hikari tersenyum tanpa mengatakan apa pun.

"Bagaimana dengamu, Chi-chan, apakah auditnya berjalan lancar?"

"Eh? Aku? Kalau untukku, tidak ada yang khusus... Pekerjaannya lebih sedikit dari yang kubayangkan."

"Kalau begitu itu melegakan untuk kali ini. Aku ingin menanyakan berbagai hal tentang audit, tapi itu tidak akan adil bagi klub-klub lain, jadi aku akan menahan diri untuk tidak bertanya lagi."

Chikage merasa dirinya telah dihindari, tetapi jalan pikiran Hikari tetap tidak dapat dibaca seperti biasanya. Namun, mengatakan "untuk sementara waktu" mungkin berarti memang ada sesuatu yang sulit pada akhirnya.

Gadis itu ingin bertanya, tetapi dia telah didahului. Mengatakan bahwa dia tidak akan bertanya tentang audit karena tidak adil, sebaliknya berarti Chikage juga tidak boleh bertanya tentang urusan internal Klub Surat Kabar.

Kapan dia akan bisa mengejar kakaknya yang satu ini?

Ketika hal itu tidak hanya mencakup urusan sehari-hari tetapi juga pacar mereka Sakuto, Chikage merasa entah bagaimana tertinggal dan menjadi cemas.

"Ngomong-ngomong, soal Sabtu lalu, apa yang kamu bisikkan dengan Sakuto-kun?"

"Fuffu~n... Aku penasaran apakah itu percakapan o-r-a-n-g d-e-w-a-s-a~♪"

"Tunggu...!? Ceritakan seluruh detailnya padaku!"

"Bukankah Sakuto-kun menyanggah hal itu...? Mengatakan bahwa itu terdengar seperti 'kepalaku sakit'..."

Hikari mengukir senyum kecut.

"Tapi kamu tahu, aku pikir kamu harus lebih proaktif, Chi-chan."

"Uugh... Aku tahu soal itu, tapi ini memalu-malukan..."

"Kan sudah kubilang, tidak apa-apa! Karena kamu itu imut, Chi-chan~."

"Hii-chan lebih imut! Aku yakin Sakuto-kun berpikir Hii-chan itu..."

Akhir-akhir ini, Chikage akan langsung menjadi seperti ini setiap kali terjadi sesuatu.

Hikari tersenyum kecut, berpikir bahwa adiknya itu harusnya lebih percaya diri saja pada dirinya sendiri.

"Dada Chi-chan juga lebih besar."

"Hal itu tidak ada hubungannya dengan keimutan... Hyah!?"

"Aku penasaran kapan kamu melampaui kakakmu ini? Lihat di sini, lihat di sini~..."

"Tunggu...! Hentikan, Hii-cha... Hyan!?"

Chikage berbaring di tempat tidur, terburu-buru menutupi dadanya, tetapi kejailan Hikari tidak berhenti. Gadis itu memanjat ke atasnya, mengangkanginya dan menatap ke bawah pada Chikage.

Dengan wajah merah padam, Chikage tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Wajah Hikari ada tepat di sana.

Dia tadinya menutupi dadanya dengan kedua lengan untuk melindungi diri, tetapi kedua lengannya ditangkap, memaksanya mengambil posisi angkat tangan.

"Hii-chan... a-apa yang kamu..."

"Uji coba. Jadi kamu akan siap kapan pun Sakuto-kun melakukan ini padamu."

"S-Sakuto-kun tidak akan melakukan sesuatu yang sefaktual ini...!"

"Kamu tidak pernah tahu. Dia mungkin benar-benar terpikat oleh pesonamu, Chi-chan, dan akhirnya melakukan ini padamu."

"H-Hal seperti itu tidak akan...—"

Itu adalah hal yang tak terbayangkan. Namun dia malah akhirnya memikirkannya.

Jika Sakuto tiba-tiba mendekatinya dengan paksa, dia mungkin tidak akan mampu menolak. Membayangkan adegan itu, Chikage merasa suhu tubuhnya tiba-tiba melonjak naik.

"—Apakah hal itu akan sampai ke tahap itu...?"

"Kamu tidak bisa mengatakan secara pasti kalau itu tidak akan terjadi. Jadi aku pikir lebih baik menyiapkan dirimu secara mental?"

"Tapi kita baru berciuman dua kali."

"Aku sudah melakukannya kemarin lusa~? Di ruang Klub Surat Kabar..."

"!?..."

Pada saat itu, Chikage tiba-tiba mengerahkan tenaga.

Kali ini dia berganti posisi dengan Hikari, mengambil posisi menatap ke bawah padanya.

"Itu dari dirimu sendiri, Hii-chan, kan!?"

"Iya, dariku... karena Sakuto-kun sepertinya menahan diri untuk hal semacam itu."

Hikari tersenyum provokatif.

"Mengebelakangkan hal itu, bagaimana dengan postur ini? Bukankah ini memuaskan keinginanmu untuk mendominasi?"

"...M-Mendominasi, aku tidak..."

"Bisa berada di bawah dan di atas, kamu benar-benar mesum, Chi-chan."

"!?— Aduh! Bukan begitu!"

Saying that, Chikage berubah merah padam dan kembali ke kamarnya sendiri.

"Upsie~... Apakah aku bertindak terlalu jauh..."

Hikari mengukir senyum kecut sambil berkata tehehe.

Meskipun begitu, betapa imutnya adikku ini...

Meskipun biasanya dia memiliki sikap yang bermartabat, dia akan berubah merah padam jika digoda, dan sebuah pemicu akan membalikkan sakelar fantasinya.

Gadis itu memang bengkok sebagai seorang kakak. Dia tahu betul hal itu, tetapi dia ingin membuat Chikage yang lurus itu menjadi jauh lebih imut lagi.

Apakah Chikage yang mendesak Sakuto akan menjadi jauh lebih memikat dan berani?

Pada saat itu, akan menjadi seperti apa Sakuto, laki-laki yang seperti sekumpulan akal sehat itu?

Hanya dengan membayangkannya saja, nafasnya sudah menjadi kasar sebelum dia menyadarinya.

Kalau begini terus, aku tidak ada bedanya dengan Chi-chan... Rasanya sia-sia kalau hanya menikmatinya dalam khayalan saja.

Kembali ke senyuman alaminya, kali ini rasa cemas tiba-tiba menghampirinya.

Kalau dipikir-pikir, aku... masih belum membuat Sakuto-kun memberi tahu kalau dia menyukaiku secara layak dan berhadapan langsung...



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close