NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 1 Chapter 10

Chapter 10

Apakah Ini Takdir...?


Mulai minggu setelah kencannya bersama si kembar, kehidupan sekolah Sakuto yang seperti karakter figuran berubah total.

Saat istirahat makan siang, dia pergi ke kantin seperti biasa, tetapi Chikage juga ada di sana—

"Atau lebih tepatnya, bukankah kamu membawa bekal, Chikage?"

"Apakah salah jika aku ingin makan bersama pacarku?"

"Tidak salah, sih, tapi... bukankah awalnya kamu bilang khawatir bakal disalahpahami oleh orang lain?"

"A-Aku sebenarnya tidak keberatan kalau disalahpahami! Aku cuma sedang menguji keteguhan hatimu, Sakuto-kun!"

Chikage yang gusar sambil mengatakan hal itu terlihat sangat imut. Cara marahnya tidak memiliki duri—atau lebih tepatnya, dia tidak benar-benar marah, hanya merasa malu.

"Namun, kita harus memastikan agar hal ini tidak ketahuan oleh orang-orang di sekitar kita."

"Fufuhn, langkah-langkah pencegahan sudah diambil."

"...Seperti apa?"

"Aku tidak akan menyuapimu 'aahn'. Aku akan menahan diri."

"Bukan, bukan, bukan, bukan itu maksudku..."

Bukan itu poin utamanya, pikir Sakuto sambil melihat ke sekeliling. Bagaimanapun juga, mungkin nilai nama Usami Chikage cukup berdampak besar; Sakuto menyadari bahwa dirinya juga ikut menjadi pusat perhatian.

"Aku benar-benar jadi mencolok, ya..."

"Karena kita belum mengumumkan secara terbuka kalau kita berpacaran, seharusnya tidak apa-apa."

"Kekuatan mentalmu mengagumkan juga... Jika ada yang bertanya apakah kita berpacaran, apa yang akan kamu jawab?"

"Pada saat itu, aku berencana menjawab dengan sesuatu seperti, 'E-Err... itu sih~, ra-rahasia?'"

"Ketahuan, ketahuan, ketahuan... atau lebih tepatnya, kamu memang berniat penuh untuk membocorkannya dengan jawaban begitu, kan?"

Itu bukanlah sesuatu yang seharusnya dikatakan sambil merona dan gelisah.

"Cuma bercanda, kamu tidak perlu sejauh itu mengkhawatirkannya. Ada pepatah yang bilang 'rumor hanya bertahan selama tujuh puluh lima hari', kan? Dengan kata lain, biarpun timbul rumor, tidak akan ada lagi yang menunjukkan ketertarikan setelah tujuh puluh lima hari."

Dengan logika seperti itu, berarti dia harus mengkhawatirkan tatapan orang-orang di sekitar dan rumor selama dua setengah bulan.

Namun, karena Chikage memberitahunya bahwa terlalu khawatir justru lebih buruk, Sakuto memutuskan untuk bersikap santai, biarpun sedikit merasa ragu.

Lalu, ketika sekolah usai—

"Aku sudah menunggumu, Sakuto-kun!"

Dalam perjalanan pulang sekolah, sosok yang mendadak menggandeng lengannya di stasiun dan mendongak menatapnya adalah Hikari.

Gadis itu masih terus membolos seperti biasa, tidak bisa datang ke sekolah. Namun, Chikage memberitahunya bahwa saat Hikari mengenakan seragamnya, gadis itu sebenarnya memiliki niat untuk berangkat.

"Hikari, hei..."

"Hei, hei, apakah kamu lapar?"

"Yah, lumayan... tunggu, hei..."

"Aku ingin makan yang manis-manis~... Kalau begitu, kencan sepulang sekolah dimulai!"

Gadis itu terlihat ceria dan bebas seperti biasa, tetapi dia pernah mendengar bahwa Chikage selalu dibuat pusing oleh kepribadian Hikari. Adapun Chikage sendiri—

"Hei, Hii-chan..."

Dia telah berada di samping mereka sepanjang waktu, tetapi dia tampak tidak senang karena Hikari menempel pada Sakuto seolah sedang pamer.

"A-Apakah kamu tidak terlalu menempel pada Sakuto-kun...?"

"Bukankah kamu juga menempel padanya saat di sekolah, Chi-chan?"

"A-Aku tidak begitu! Atau lebih tepatnya, jika ada kenalan yang melihatmu menempel sedekat itu, mereka akan tahu kalau kita berpacaran, kan!?"

"Jika itu kenalan, bukankah tidak apa-apa kalau bilang 'Ini hubungan rahasia'?"

"Ketahuan, ketahuan, ketahuan! Kamu memang berniat penuh untuk membocorkannya, kan!?"

Aku ingin mengembalikan kalimat itu persis seperti apa adanya kepada Chikage, pikir Sakuto sambil memegang kepalanya.

Namun, poin yang disampaikan Chikage ada benarnya. Hikari jelas-jelas menempel terlalu dekat di tempat umum. Apakah orang-orang di sekitar mereka benar-benar hanya akan menganggap mereka sebagai teman dekat lawan jenis?

"Kalau begitu, kenapa kamu tidak ikut menempel juga, Chi-chan? Karena hanya aku yang menempel padanya, jadinya kelihatan seperti kami yang berpacaran."

"Ah, benar juga! Kalau begitu keseimbangannya bakal—"

"Hei, tunggu! Chikage, jangan setuju! Dan Hikari, memancing seperti itu juga tidak baik!"

Pada akhirnya, Chikage juga ikut menggandeng lengan kanan Sakuto.

Namun, bagaimana dengan hal ini? Si kembar yang dekat dan seorang karakter figuran yang diapit di antara mereka—apakah ini akan dilihat sebagai susunan tiga orang teman baik?

"Kalau begitu, karena kita bertiga sudah ada di sini, ayo kita buat rencana untuk kencan Sabtu depan!"

"Uwa! H-Hikari!"

"Tunggu... Hii-chan!?"

Saat Hikari menariknya, Chikage ikut tertarik bersamanya.

Pergi ke toko hamburger terdekat begitu saja, sebuah rencana bagi mereka bertiga untuk pergi jalan-jalan jarak jauh Sabtu depan pun terbentuk.

"Bukankah hanya pergi ke tempat pemandian air panas untuk merendam kaki terasa agak mengecewakan?"

"Tapi kalau kita membuatnya jadi menginap... Awawawa...! Tidak boleh...!"

"...Chikage? Apa yang membayang di pikiranmu...?"

"Mungkin Chi-chan membayangkan kita bertiga—aku, Sakuto-kun, dan dia—"

"Hikari, ayo kita diam sebentar..."

—Dan seperti inilah, kehidupan sehari-hari Sakuto yang bagaikan karakter figuran berubah total.

Kehidupan yang penuh komedi situasi, dengan momen-momen yang mendebarkan dan mengocok perut, serta terkadang momen yang menenangkan. Jika diungkapkan dalam satu kata, itu adalah "seru."

Tentu saja, kenyataan bahwa mereka bertiga berpacaran tetap menjadi rahasia, tetapi rasa sayang dan sikap yang ditujukan kepadanya dari kedua gadis itu makin meningkat.

Sakuto tidak punya pilihan selain menerimanya. Bagaimanapun juga, si kembar ini sangat mirip—tampak fleksibel tetapi sebenarnya berpendirian teguh. Plus, ketika bersama, mereka cukup tangguh.

Hikari dan Chikage berada dalam hubungan kerja sama, tetapi dalam artian tertentu, mereka adalah rival, jadi percikan api menyiram tanpa ampun ke arah Sakuto yang diapit di antara mereka.

Namun, mungkin karena mereka kembar, berjalan sambil bergandengan tangan bertiga menarik beberapa tatapan cemburu, tetapi anehnya, orang-orang tidak melihat mereka sebagai "pasangan kekasih."

Dengan si kembar yang dekat dan seorang anak laki-laki, tidak ada yang berpikir bahwa mereka bertiga sebenarnya berpacaran.

Ditarik oleh si kembar ini, Sakuto menikmati hari-hari yang mendebarkan dan penuh kejutan ini.

—Namun, hal-hal yang terjadi tidak hanya berupa kesenangan saja; insiden kerap terjadi pada saat-saat seperti ini.

Selasa, 7 Juni, beberapa hari memasuki musim hujan—

"Maaf ya... Kencan Sabtu depan... aku tidak bisa ikut lagi..."

"Eh...?"

—Awan gelap berkumpul.

"Festival Bunga Hortensia milik TK Arisuyama? Kamu ikut berpartisipasi, Chi-chan?"

Selasa, 7 Juni—sepulang sekolah hari itu, mereka bertiga berkumpul dengan Hikari di Restoran Gaya Barat Canon untuk mendiskusikannya.

Hikari juga tampak agak bingung, seolah-olah kabar ini datang bagaikan petir di siang bolong.

"Ya... Tampaknya, itu adalah acara bersama untuk TK yang berafiliasi dengan Akademi Arisuyama..."

"Kenapa harus kamu, Chi-chan?"

"Tachibana-sensei memohon padaku, bilang kalau dia benar-benar membutuhkanku..."

Chikage tersenyum getir.

"Kenapa harus kamu, Chikage? Kamu kan tidak ikut OSIS atau semacamnya."

"Awalnya, acara bersama ini adalah proyek kolaborasi dari para sukarelawan yang terkumpul dari setiap SMA. OSIS hanya menyediakan anggarannya, sementara perencanaan dan operasionalnya kabarnya dilakukan oleh organisasi yang disebut Komite Eksekutif Festival Bunga Hortensia."

"Kolaborasi artinya... merencanakan dan mengoperasikannya secara bersama-sama dengan SMA lain?"

"Ya. Sepertinya pada awalnya ini adalah proyek untuk membangun relasi horizontal."

"Ah, begitu ya..."

Salah satu dari hal-hal berjiwa sosial tinggi semacam itu, pikirnya. Dari kata "pada awalnya," dia bisa menebak situasi saat ini secara samar-samar.

"Namun, skalanya makin lama makin mengecil, dan sepertinya berakhir hanya menjadi bantuan untuk acara TK. —Yah, rasanya seperti membantu, seperti kegiatan sukarela."

Awalnya, itu mungkin proyek kolaborasi/acara bersama yang dimulai oleh para sukarelawan—dengan kata lain, orang-orang berjiwa sosial tinggi itu.

Namun, seiring berjalannya tahun, motivasinya makin menyurut. Pada akhirnya, hal itu menetap menjadi sesuatu seperti membantu acara TK.

—Ini adalah kisah yang umum terjadi.

Bahkan jika motivasinya tinggi pada awalnya, karena orang-orang berganti setiap tahunnya, motivasi awal itu perlahan-lahan memudar.

Karena tidak bisa berhenti begitu saja, hal itu terseret hingga tahun ini, dan perannya kemungkinan besar jatuh kepada Chikage, yang perilakunya baik dan nilainya sangat cemerlang.

"...Aku paham alasannya, tapi apakah benar-benar harus kamu, Chi-chan?"

"Tapi Tachibana-sensei juga kelihatan kesulitan, dan begitu aku memutuskan untuk melakukan sesuatu, aku akan berusaha sebaik mungkin, tahu?"

"Itu mungkin benar untukmu, Chi-chan... Lalu, SMA mana lagi yang ikut?"

"Akademi Yuki. Tempat berkumpulnya ada di Akademi Arisuyama."

Mendengar hal itu, ekspresi Sakuto berubah.

Akademi Yuki—Tidak, tidak mungkin, pikirnya, tetapi dia menanyakan satu hal yang mengganggunya.

"Meskipun begitu, kenapa Chikage, atau lebih tepatnya, anak kelas satu? Bagaimana dengan kelas dua dan kelas tiga?"

"Pada saat-saat seperti ini dalam setahun, anak kelas dua dan kelas tiga kabarnya sibuk belajar. ...Aku tidak bisa mengatakan ini keras-keras, tapi tugasnya jatuh kepada Tachibana-sensei yang bertanggung jawab atas anak-anak kelas satu, dan yah, sepertinya jadinya seperti itu..."

Menilai dari keragu-raguannya, sepertinya Tachibana juga telah dilimpahi tugas itu oleh seseorang. Mungkin Chikage, yang tidak tega melihatnya, menyetujuinya karena situasi tersebut.

Mereka sempat berselisih beberapa hari yang lalu, tetapi bagaimanapun juga Tachibana mengakui Chikage.

Chikage juga tampaknya mempertimbangkan situasi Tachibana dan menyetujuinya saat diminta.

"Begitu ya... yah, kalau kamu sudah menerimanya, mau bagaimana lagi..."

"Jadi, tolong pergi kencan tanpa mengkhawatirkanku, ya kalian berdua."

““......””

"Sebagai gantinya, jika ada hari di mana Sakuto-kun dan aku bisa pergi keluar hanya berdua saja, itu pasti akan menyenangkan... Tidak apa-apa, kan? Aku memesannya dari sekarang!"

Melihat Chikage tersenyum bercanda, Sakuto menahan rasa ingin menghela napas, sambil berpikir "ya ampun."

Sepertinya Hikari merasakan hal yang sama, dan Sakuto serta Hikari saling bertukar pandang dengan cemberut.

Saat istirahat makan siang keesokan harinya, Sakuto mencari orang yang bertanggung jawab atas diundangnya Chikage ke dalam proyek kolaborasi ini.

Tachibana berada di tempat yang tenang di samping gedung sekolah yang mengarah ke area parkir staf.

Dia tidak sering datang ke sini, tetapi bunga hortensia berwarna biru dan ungu sedang bermekaran di sudut jalan. Tachibana sedang menyiramnya.

"Tachibana-sensei, apakah Anda ada waktu sebentar?"

"...Apakah ini tentang Usami Chikage?"

"Ugh... Aku belum mengatakan apa-apa, kan?"

"Apakah aku salah?"

"Anda tidak salah, tapi..."

Itu cepat, tetapi membuat tidak nyaman. Apakah beliau tahu kalau mereka berdua berpacaran? Dia merasa kehidupan pribadinya sedang diusik.

Mengabaikan keadaan Sakuto, Tachibana melanjutkan menyiram dengan ekspresi tenang.

"Saat aku mengundang Usami Chikage ke proyek kolaborasi ini, dia keceplosan menyebut namamu. Kelihatannya dia punya rencana. Lagipula, aku sesekali melihat kalian berdua bersama di lingkungan sekolah, tahu?"

Jantung Sakuto berdegup kencang sejenak.

"Apakah kamu akan pergi ke suatu tempat bersamanya dalam waktu dekat?"

"...Yah, tidak cuma dengan Chikage, sih."

Saat dia mengatakan hal itu untuk berjaga-jaga, Tachibana meletakkan tangannya di dagu seolah sedang berpikir.

"Hmm... Kalau begitu mungkin aku yang terlalu banyak berpikir... Tidak, yang lebih penting, apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"

"Ah, ya... kenapa Anda mengundang Chikage?"

Tachibana tersenyum tipis dan menatap Bunga Bunga Hortensia.




"Jujur, seorang murid teladan, nilai-nilainya teratas—selain itu, dia adalah tipe pekerja keras sejak lahir."

"Eh?"

"Nilai-nilainya pada musim semi kelas tiga SMP sepertinya tergolong lumayan, tetapi tidak secemerlang nilainya yang sekarang..."

"Um, apa yang sedang Anda bicarakan...?"

Tachibana mulai menyiram kembali.

"Dengarkan saja dulu. —Namun, sejak sekitar musim panas kelas tiga, nilai-nilainya melonjak drastis sekaligus. Mungkin dia mengikuti tempat bimbingan belajar yang sangat bagus—atau mungkin, pertemuan dengan seseorang di sana menjadi motivasinya."

"Uh..."

"Manusia berubah melalui pertemuan dengan orang lain. Dia pasti telah membentuk tujuan yang mantap di tahun ketiga SMP-nya. —Bukankah kamu juga pernah mengalami pertemuan semacam itu dalam hidupmu?"

Karena Tachibana mendadak mengarahkan pandangannya ke arahnya, Sakuto memalingkan wajahnya.

"...Yah, aku rasa aku pernah."

"Karena itulah. Aku mengundang Usami Chikage kali ini untuk membantunya mencapai tingkat yang lebih tinggi. Dia memiliki kecenderungan untuk terlalu terobsesi pada satu hal. Aku ingin dia melihat jangkauan hal yang lebih luas, memiliki berbagai macam pengalaman, menjadi makin lembut dalam bersikap, serta membidik target yang lebih tinggi. Itulah yang kupikirkan—"

Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang membuat seseorang percaya padanya.

Entah karena beliau seorang guru, seorang dewasa, atau pengalaman hidupnya yang memberikan bobot pada kata-katanya, dia sendiri tidak tahu, tetapi ucapan itu memiliki daya bujuk yang cukup untuk meyakinkan Sakuto.

"Demi kebaikannya sendiri... Jadi bukan hanya karena Chikage adalah seorang murid teladan yang serius?"

"Jika hanya sekadar murid teladan yang serius, ada orang lain. —Namun, memang benar ini juga demi kebaikanku sendiri. Bagaimanapun juga, tugas ini dilimpahkan padaku oleh guru-guru kelas atas, ya ampun..."

Setelah mengatakan hal itu dengan santai, Tachibana terkekeh ringan dan menatap bunga-bunga hortensia lagi.

Sakuto paham bahwa itu hanyalah dalih. Beliau mungkin sengaja mengatakan tugas itu dilimpahkan oleh guru-guru lain dengan dugaan bahwa Chikage akan bilang ingin melakukannya. Karena Chikage memiliki kepribadian yang baik hati—.

Dan perasaan pribadi turut campur di sana. Namun, itu bukanlah perasaan pribadi yang buruk.

Perasaan khas seorang guru yang melakukannya "demi muridnya"—dia merasakan kebaikan di sana—bukan sesuatu yang transparan, melainkan kebaikan seorang dewasa yang mengawasi pertumbuhan seorang anak.

Berpikir bahwa mau bagaimana lagi kalau begitu, Sakuto mencoba meninggalkan tempat itu, tetapi pada saat itu—

"—Kusanagi Yuzuki dan Matsukaze Shun."

Saat Tachibana secara tiba-tiba mengucapkan nama-nama itu, jantungnya mendadak tercekat.

"...Dua orang itu datang sebagai perwakilan dari Akademi Yuki."

"Eh...?"

"Aku dengar keduanya berasal dari SMP Kita, sama seperti dirimu. Apakah mereka kenalanmu?"

"...Ya, yah, mereka adalah mantan teman sekelas."

Sakuto menjawab secara samar, suaranya terdengar seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

"Mereka berdua akan datang mulai besok."

"Um, Sensei... kenapa Anda memberitahukan hal itu padaku?"

"...Sekadar ingin saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya—"

Sambil mengatakan itu, Tachibana mengembuskan napas, "Fuuuh." Beliau memasang raut wajah yang seolah berkata, "Sudah kuduga."

Dua hari setelah terakhir kali dia berbicara dengan Tachibana, Chikage, yang duduk di seberangnya di kantin, mengembuskan napas berat yang tidak biasa, "Haaah~." Gadis itu sepertinya sedang dipusingkan oleh sesuatu.

"Ada apa?"

"Ah, tidak... cuma berbagai macam hal."

"Berbagai macam hal?"

"Pada rapat kemarin... Ah, tapi tidak apa-apa! Tolong jangan mengkhawatirkannya!"

Chikage tersenyum, tetapi dia hanya terlihat seolah-olah sedang memaksakannya.

Ada hal lain yang turut membebani pikiran Sakuto.

Kusanagi Yuzuki dan Matsukaze Shun—bagaimana kabar mantan teman sekelasnya di SMP itu sekarang.

Namun, membangunkan ular yang sedang tidur bukanlah hal yang menyenangkan.

Sakuto tidak menanyakan apa-apa lagi kepada Chikage yang bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi dia tidak bisa menahan rasa khawatirnya karena gadis itu tampak lebih murung dari biasanya.

Dan hari Sabtu pun tiba.

Prakiraan cuaca menunjukkan bahwa hujan akan turun selama sekitar seminggu mulai hari ini, membuat keinginan untuk pergi keluar terasa menyusahkan.

Selama waktu itu, beberapa pesan LIME masuk dari Hikari.

Tampaknya, Chikage mengurung diri di kamarnya di rumah untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Festival Bunga Hortensia.

Gadis itu sepertinya berjuang lebih keras daripada yang diperkirakan, dan pesan-pesan tersebut menyuarakan rasa khawatir apakah tidak apa-apa membiarkannya begitu saja.

Tidak ada LIME khusus yang datang dari Chikage.

Dia mencoba mengirimkan beberapa pesan, tetapi balasannya lambat, dan gadis itu bersikap mengelak mengenai urusan Festival Bunga Hortensia.

Apakah Chikage benar-benar baik-baik saja?

Selagi merasa khawatir, nama kedua orang dari Akademi Yuki itu tak terelakkan terlintas di dalam benaknya—

—Kusanagi Yuzuki, Matsukaze Shun.

Kenangan yang tidak ingin dia ingat kembali mencuat ke permukaan.

Intensitas hujan makin meningkat, menimpa atap dan jendela dengan keras.

Senin, 13 Juni, awal minggu.

Hari ini hujan juga turun sejak pagi.

Chikage bilang dia memiliki sesuatu yang harus dilakukan saat istirahat makan siang, jadi Sakuto datang ke kantin seorang diri.

Menu spesial harian hari ini adalah set babi jahe. Makanan itu lezat, memang, tetapi ada sesuatu yang terasa kurang—

"Apakah salah jika aku ingin makan bersama pacarku?"

—Ah, benar juga.

Sakuto merasa sedikit kesepian. Pada hari ketika dia pertama kali mengundangnya ke kantin—

"M-Maksudmu Takayashiki-kun berniat untuk menjadi pasangan denganku!?"

Chikage, yang pernah mengatakan hal-hal seperti itu, kini adalah pacarnya.

Sejak awal, keinginan untuk menjadi pasangan datang dari pihak Chikage. Meskipun hal itu membuatnya bahagia, kini dia merasa tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa pun sebagai pacarnya.

Dan entah bagaimana, dia bisa membayangkan Chikage yang sedang berjuang keras sendirian—

"Aku benci kekalahan. Mungkin karena aku pernah mendengar dulu sekali kalau 'paku yang terlalu menonjol tidak akan dipukul turun'?"

Chikage pernah bilang kalau dia memiliki kepribadian semacam itu, tetapi di sisi lain, dia juga bilang kalau dirinya merasa "takut"—

"Yah, memang ada kepribadian asliku, tapi—"

Bayangan Chikage yang mengelus ujung pita yang mengikat rambut sampingnya terlintas di dalam benak.

"Saat ini, ada seseorang yang sangat aku harapkan untuk melihat kerja kerasku."

Sakuto meletakkan sumpitnya perlahan tanpa suara.

Apakah tidak ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk gadis itu? Bukankah dia seharusnya berada lebih dekat, memperhatikan kerja kerasnya, sebagai pacarnya—sebagai seorang laki-laki?

Ini mungkin terasa melampaui batas, tetapi—demi Chikage, mungkin dia juga harus menghadapi masa lalunya, dan melakukan sesuatu. Bagaimanapun caranya.

Saat dia merenungkan hal ini di dalam kepalanya, kantin telah menjadi hampir kosong melompong.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close