Obrolan si Kembar! 1
Siapa Orang yang Mereka Sukai...?
27 Mei, dapur
kediaman keluarga Usami.
Chikage, yang
mengenakan pakaian santai dan celemek, mendesah napas panjang sambil mengaduk
sup miso di atas api dengan sendok sayur.
Aku ingin
berteman dengannya...
Dia mengingat
kembali hari ketika bagan peringkat ditempelkan di koridor—
Hari ini ada menu
spesial makan siang di kantin. Rasanya lumayan lezat. Lalu, bagaimana dengan
itu...? Kalau kamu mau, mau pergi bersama? Aku yang traktir.
Chikage
menyesalinya.
Kenapa aku tidak
bisa jujur saja kalau aku ingin pergi saat itu—...
Dengan pemikiran
tersebut, sendok sayur itu mulai berputar dua kali lebih cepat.
Takayashiki-kun
mungkin berpikir kalau dia ingin berteman denganku, kan? Kalau saja aku jujur
pergi ke kantin... Tapi kalau kami dianggap sebagai sepasang kekasih, aku
mungkin bakal menyusahkannya...
Chikage tahu
lewat rumor sampai batas tertentu tentang bagaimana dirinya dinilai oleh
orang-orang di sekitarnya. Dia juga sadar diri bahwa dirinya menonjol karena
nilai-nilainya yang berada di posisi teratas.
Namun, karena itu
adalah rumor tentang dirinya sendiri, hal tersebut adalah masalah yang bisa dia
tangani secara internal. Bahkan, itu sama sekali tidak layak dianggap sebagai
masalah; itu adalah sesuatu yang bisa dia abaikan.
Namun,
melibatkan orang-orang di sekitarnya adalah cerita yang berbeda.
Ketika
dia berpikir bahwa berada bersamanya mungkin bakal menyusahkan Sakuto, hal itu
membuatnya kesulitan untuk memperdalam hubungan mereka. Di sisi lain, Chikage
muak dengan dirinya sendiri yang tidak bisa bersikap jujur.
Tapi,
bahkan jika orang-orang di sekitar mereka salah paham dan menganggap mereka
sebagai sepasang kekasih—
Jika
Sakuto bilang kalau dia tidak terlalu keberatan, maka hal itu bakal berbeda.
Kalau...
Kalau kami benar-benar menjadi sepasang kekasih, itu tidak apa-apa, kan...!?
Khayalan
liar semacam itu mulai melayang jauh. Terlebih lagi—
...Jadi
kecuali kalau kita menjadi sepasang kekasih, aku tidak bisa mengajak Usami-san
ke kantin?
Kata-kata
tersebut, yang menyimpan sedikit harapan bahwa mungkin cowok itu memiliki niat
yang sama, terputar kembali di dalam otaknya. Dan puncaknya adalah—
...Fuu, hampir
saja. Kamu tidak apa-apa?
Dia telah
dipeluk. Meskipun itu adalah sebuah kecelakaan, kejadian mendadak itu terlalu
menstimulasi tanggapan bagi Chikage. Itu adalah pertama kalinya dia dipeluk
oleh seorang laki-laki selain ayahnya.
Mendengar
suara detak jantung Sakuto yang berdegup kencang, dia menjadi sangat gelisah.
Bahkan setelah Sakuto berjalan pergi, sensasi sisa kejadian itu begitu besar
hingga dia berdiri terpaku di tempat untuk beberapa saat.
Detak
jantungnya berdegup kencang waktu itu...
Dia
memejamkan matanya dan bertingkah gelisah dengan bahagia. Kemudian—
"—Kamu lagi
ngapain dari tadi~?"
Sebuah
suara terdengar dari balik meja konter dapur.
"Huehh!?
H-Hii-chan!? Sejak kapan kamu ada di sana!?"
"Baru saja.
Aku pulang, Chii-chan."
Mengintipkan
wajahnya di atas meja konter dengan senyuman adalah wajah yang sama dengan
Chikage—saudara kembar perempuannya, Hikari, yang lahir lima belas menit lebih
awal.
"S-Selamat
datang kembali... atau lebih tepatnya, kamu dari mana saja?"
"Hmm... Cuma
jalan-jalan di sekitar sini, mungkin?"
"Begitu
ya..."
Melihat Hikari
mengenakan seragamnya, Chikage menahan keinginan untuk mendesah.
Hikari memiliki
kecenderungan untuk membolos sekolah sejak beberapa waktu lalu.
Hal itu terus
berlanjut sejak sekitar kelas empat sekolah dasar, dan tampaknya tetap sama
bahkan setelah masuk SMA; meskipun dia keluar rumah mengenakan seragamnya,
kakinya sering kali tidak membawanya ke sekolah.
Dalam satu arti,
Hikari tampak hidup dengan bebas, tetapi dia menyimpan suatu kecemasan.
Mengetahui hal
itu, Chikage tidak merasa ingin terlalu menyalahkan Hikari.
Namun, kondisinya
berbeda dari SMP. Mereka berdua sudah menjadi siswa SMA sekarang.
"Tidak
seperti SMP, kalau kamu terus membolos, kamu bakal tinggal kelas, tahu?"
"Tidak
apa-apa, aku memperhitungkan hari kehadiranku dengan benar kok."
"Bukan
itu yang dimaksud dengan 'benar'... Jadi, kamu pergi ke mana?"
"Ehehehe,
cuma ke perpustakaan buat penyegaran suasana—"
"Ke arcade,
kan?"
Ketika Chikage
mengatakan hal itu tanpa melewatkan satu ketukan pun, Hikari menunjukkan wajah
terkejut.
"Kenapa kamu
tahu!?"
"Karena kita
kembar... atau lebih tepatnya, aku tahu polamu. Kamu kelihatan lagi gemar main game
belakangan ini, jadi aku mengajukan pertanyaan jebakan."
Tampak
terkesan, Hikari tersenyum dan bertepuk tangan.
"Seperti
yang diharapkan dari seorang kembaran. Kamu bisa melihat menembus diriku."
"Aku
tidak senang diberi tahu begitu olehmu, Hii-chan... Ampun deh..."
Chikage
mematikan kompor, merasa sangat jengkel.
Sebagai
adik perempuan yang lahir lima belas menit kemudian, dia telah memperingatkan
Hikari untuk tidak membolos sekolah.
Dia ingin
saudaranya paling tidak mendapatkan kualifikasi kelulusan SMA, untuk
berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di masa depan. Itulah harapan mendesak
Chikage untuk saudaranya yang lahir lima belas menit lebih awal.
Normally,
hal ini adalah sesuatu yang diharapkan oleh orang tua. Namun pendapat orang tua mereka adalah bahwa
Hikari harus melakukan apa yang dia sukai.
Entah itu disebut
pengertian atau pemurah, Chikage saat ini telah menyerah untuk meminta orang
tua mereka membujuknya.
Terlepas dari
itu, memperhatikan saudaranya seperti ini, ada kalanya dia mengaguminya.
Berpikir bahwa
tidak seperti dirinya, mungkin suatu hari nanti, saudaranya bakal mencapai
sesuatu yang luar biasa—
Sambil menata
makanan ke atas piring, Chikage melihat ke arah Hikari yang sedang bersantai di
ruang tamu.
Hikari berbaring
telentang di sofa tiga dudukan, memeluk boneka mewah besar dengan ekspresi
kebahagiaan.
"Hii-chan?
Apa ada hal baik yang terjadi?"
"Hmm... Aku
tidak terlalu tahu, tapi sesuatu yang mendebarkan... Hauuu~..."
Hikari mengingat
sesuatu, menghentakkan kakinya ke sana kemari, lalu menatap Chikage dengan
wajah merah padam.
"Hei,
Chii-chan. Apa ada cowok yang dekat denganku?"
"Eh...?"
Tiba-tiba,
hanya satu orang yang terlintas di pikirannya—bukan cowok yang dekat dengannya,
melainkan cowok yang ingin dia dekati.
"Tidak,
tidak ada... Tapi ada seseorang yang pernah kubicara dengannya..."
"Siapa
namanya?"
"Um,
Takayashiki-kun. Takayashiki Sakuto-kun..."
Saat mendengar
nama itu, entah mengapa, Hikari mulai mengelus pipi kirinya sendiri dengan
gembira.



Post a Comment