Chapter 2
Sisi Lain dari Usami Chikage...?
Situasi berubah
secara mendadak setelah sekolah pada hari Jumat, 27 Mei, dua hari setelah dia
berbicara dengan Usami.
Sakuto beberapa
kali melihat Usami dari kejauhan sejak saat itu, tetapi dia tidak memiliki
kesempatan untuk mengobrol dengannya. Bahkan jika dia ingin membangun hubungan,
dia tidak ingin mendekatinya secara sembarangan dan membuat gadis itu berpikir
dia punya maksud terselubung.
Apakah kejadian
waktu itu cuma mimpi?
Sambil memikirkan
hal itu selagi berjalan menuju stasiun, dia keluar ke jalan besar yang berjajar
pohon-pohon.
Sakuranomachi di
Kota Yuki, tempat Akademi Arisuyama berada, adalah sebuah kota metropolitan
yang dipenuhi gedung perkantoran dan fasilitas komersial. Tempatnya praktis,
punya banyak hiburan, dan kamu bisa mendapatkan hampir apa saja yang kamu
inginkan.
Namun,
jam-jam sibuk di pagi dan sore hari sangat merepotkan.
Tampaknya,
sebagian besar anggota "Klub Pulang ke Rumah" seperti Sakuto
menyelesaikan tugas-tugas mereka setelah sekolah sebelum pulang, salah satunya
untuk menghindari rentang waktu ini.
Sakuto
terburu-buru pulang di rentang waktu yang merepotkan tersebut.
Itu
karena manga dan game sudah menunggunya di rumah, yang menjadi alasan
mengapa matanya selalu terlihat mengantuk. Kenyataan bahwa kebiasaannya
begadang bertambah sejak masuk SMA adalah rahasia yang disimpan dari ibunya,
yang tinggal terpisah darinya.
Kalau
dipikir-pikir, Mitsumi-san bilang dia bakal pulang terlambat hari ini...
Sakuto saat ini
menumpang di rumah adik perempuan ibunya—tantenya, Kisezaki Mitsumi.
Karena itulah dia
membantu pekerjaan rumah tangga dengan lumayan baik, tetapi Mitsumi memberi
tahu padanya, "Siswa harus bersikap seperti siswa." Singkatnya,
tantenya seolah ingin mengatakan bahwa belajar dan bermain adalah tugas seorang
siswa, dan saat dia berada di rumah, dia menolak bantuan Sakuto dalam urusan
rumah tangga.
Di sisi lain,
Mitsumi sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun sebagai pengacara berpenghasilan
tinggi, jam kerjanya panjang. Dia berbicara seolah-olah sudah setengah menyerah
pada pernikahan, menyebutnya sebagai mimpi di siang bolong.
Melihat kondisi
tersebut, sebagai orang yang menumpang, dia merasa melakukan hal-hal di sekitar
rumah adalah tindakan yang wajar. Justru, tidak melakukan apa-apa malah
membuatnya merasa bersalah.
Dia memang tidak
terlalu pandai memasak, tetapi dia memutuskan untuk menyiapkan makan malam hari
ini. Apa yang harus dia buat nanti malam? Bahan-bahan di dalam kulkas adalah...
Sambil memikirkan
hal-hal seperti itu, dia tiba di dekat stasiun.
—Lalu.
Matanya tertuju
pada seorang gadis yang memasuki arcade di depan stasiun.
Apakah
itu... Usami-san...? Tidak,
tapi...
Diserang
oleh rasa tidak selaras yang amat besar, dia mendadak berhenti.
Dua
wanita yang berjalan ke arahnya melihat tatapan liar di mata Sakuto dan, dengan
raut wajah ketakutan, segera bergeser ke samping untuk melewatinya.
Yang tadi
itu... pasti Usami-san, kan...?
Dia
mencoba membandingkannya dengan ingatan yang dia miliki.
Mengenakan
seragamnya dengan rapi, rambut samping kiri diikat dengan pita, dan memiliki
sikap bermartabat tanpa ada kesan mencolok sedikit pun—itulah sosok Usami
Chikage yang dikenal Sakuto.
Namun,
Usami Chikage yang baru saja dia lihat—mengenakan seragamnya secara longgar dan
berantakan, membiarkan rambutnya yang terikat terurai, dan, meski dia tidak
bisa memastikannya dari kejauhan apakah gadis itu memakai riasan, ada headphone
di lehernya.
Terlebih
lagi, dia pergi ke arcade, yang mana peraturan sekolah melarang untuk
dikunjungi setelah pulang sekolah.
Sakuto berpikir
kalau dia pasti salah lihat.
Sulit untuk
membayangkan bahwa Usami yang serius dan pekerja keras akan melanggar aturan
sekolah dan pergi ke arcade. Dia benar-benar tidak bisa percaya kalau
gadis itu memiliki sisi seperti itu.
Tapi apa mungkin
dia salah mengenali orang?
Lagipula, seragam
itu milik Akademi Arisuyama—
Tapi, soal gadis
itu... kayaknya dia kelihatan punya sisi tersembunyi tidak, sih?
Sebenarnya, ada
rumor lucu...
Kata-kata dari
kelompok empat gadis di kantin terlintas di pikirannya. Bahkan jika Usami
memiliki sisi tersembunyi, itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, tetapi
jika yang tadi itu benar-benar dia—
Kurasa aku bakal
memastikannya...
Rasa penasaran
menggerakkan kaki Sakuto ke depan.
* * *
Peraturan sekolah
Akademi Arisuyama melarang memasuki fasilitas hiburan seperti karaoke atau arcade
dalam perjalanan pulang sekolah.
Namun,
begitu berada di luar lingkungan sekolah, hal itu berada di luar cakupan
diskresi pendidikan. Tidak ada hukum yang melarangnya juga.
Meski
begitu, tidak ada yang melanggar aturan tersebut.
Pada
dasarnya, siswa yang mendaftar memang memiliki sifat serius, dan mereka tahu
bakal merepotkan jika tertangkap oleh guru yang berpatroli. Oleh karena itu,
kesepakatan umum di antara para siswa yang menuntut ilmu di Akademi Arisuyama
adalah bahwa mereka mematuhi aturan begitu saja karena menghindari masalah
adalah jalan terbaik.
Mendobrak
kesepakatan tidak tertulis itu, Sakuto melangkah ke dalam arcade.
Tempat itu sudah
dipadati oleh siswa-siswi SMA dari sekolah lain.
Proporsi siswi
yang sangat tinggi kemungkinan disebabkan karena mesin purikura
membentang dari lantai satu hingga ke ruang bawah tanah.
Dia tidak bisa
melihat seragam Akademi Arisuyama di dalam kerumunan. Apakah dia pergi ke ruang
bawah tanah?
Saat dia melihat
sekeliling dengan gelisah, sepasang siswi SMA yang mencolok mendekatinya.
Salah satu dari
mereka, seorang gadis jangkung dan langsing dengan rambut bergelombang panjang
berhiaskan sorotan warna smoky gray, melangkah mendekati Sakuto. Dia
beraroma parfum musk.
"Heh, langka
banget nih."
Gadis itu menatap
wajah Sakuto seolah sedang menilainya. Dia tidak tampak sedang menggodanya;
kalau ada, dia kelihatan tertarik.
"Maaf, maaf,
cuma saja kami jarang melihat orang dari Arisuyama di sini."
"Begitu
ya."
Sakuto mengukir
senyum pahit dan melirik ke arah gadis yang satunya lagi.
Gadis berpotongan
rambut wolf cut yang bersamanya memiliki lapisan dalam rambut yang dicat
warna merah muda cerah. Dia agak pendek, tetapi merupakan gadis yang imut
dengan fitur wajah yang tegas.
"Kami kelas
dua. Kalau kamu?"
"...Aku
kelas satu."
"Hei, jangan
mendadak kaku begitu dong! Bicara santai saja~"
Gadis bertali
rambut smoky gray itu berbicara dengan cara yang ramah.
"...Kalau
begitu, aku bakal begitu."
"Bisa
foto bareng buat Insta tidak? Ya, sebagai kenang-kenangan... Ah, sebelum itu, namamu—"
"Tidak,
aku lebih baik tidak melakukan itu. Sekolahku cukup ketat soal hal-hal
begitu."
Sakuto
menyela dengan senyum kecut sebelum gadis itu sempat menanyakan namanya.
Bakal sangat
merepotkan jika hal itu menyebar ke mana-mana. Dia ingin menghindari rumor
kalau dia pergi ke arcade dengan seragamnya dalam perjalanan pulang
sekolah dan sedang bermain dengan gadis-gadis dari sekolah lain.
Gadis
bertali rambut smoky gray itu cemberut.
"Kalau
begitu paling tidak kita tukaran Insta?"
"Maaf,
aku tidak main Insta."
"Ehh?
Kalau begitu bagaimana kalau LIME?"
"Um...
sebelum itu, boleh aku bertanya sesuatu? Aku sedang mencari seseorang... Apa
kamu melihat seorang gadis yang memakai seragam Akademi Arisuyama?"
Gadis
dengan lapisan dalam rambut merah muda mengangkat tangannya sambil berkata,
"Ya, ya."
"Aku mungkin
tahu gadis itu! Aku
memang belum melihatnya hari ini, tapi aku kadang-kadang melihatnya. Gadis yang
pakai headphone, kan?"
"Ah,
ya..."
Dia tidak
tahu apakah itu Usami atau bukan, tetapi tampaknya, seorang gadis Akademi
Arisuyama yang memakai headphone memang sesekali datang ke sini.
"Kamu tahu
dia mungkin ada di mana?"
"Mungkin
lantai dua? Dia selalu pergi ke sana."
Setelah
mendapatkan informasi sebanyak itu, gadis bertali rambut smoky gray
berbicara dengan raut wajah tidak senang.
"Apa gadis
itu pacarmu atau semacamnya?"
"Tidak,
bukan kok."
"Hmmm...
Tapi kamu kelihatan kepikiran banget buat ukuran orang yang bukan
pacarnya?"
"Tidak,
aku rasa tidak begitu..." kata Sakuto dengan senyum pahit dan membelakangi
mereka.
"Kalau
begitu, terima kasih. Aku bakal pergi mengecek lantai dua—"
"Eh...
ah, tunggu! Bagaimana dengan
tukaran LIME!?"
"Maaf, kalau
ada kesempatan, lain kali ya!"
Maka, Sakuto pun
menuju lantai dua seolah-olah sedang melarikan diri.
* * *
Lantai dua
berjejer dengan kabinet arcade—game teka-teki, game
pertarungan, mahjong, dan sejenisnya. Sangat kontras dengan lantai satu, rasio
laki-laki meningkat secara drastis.
Namun, apakah
Usami benar-benar ada di sini?
Melihat
sekeliling, dia melihat sudut di mana kabinet-kabinet berjejer di tengah yang
secara aneh dipadati oleh orang-orang.
"Sialan...!
Aku kalah lagiii!"
Pria yang tampak
seperti mahasiswa dengan topi rajut berdiri dengan kasar dari kursinya.
Apa yang
dimainkan Si Topi Rajut adalah kabinet untuk End of the Samurai 3 (disingkat
Ensamu 3). Pilihan yang cukup berselera tinggi.
Seri Ensamu
adalah game pertarungan dengan latar belakang Jepang pada era Bakumatsu.
Daftar
karakternya berpusat pada anggota Shinsengumi, tetapi juga menampilkan jajaran
Ryoma Sakamoto, Izo Okada, dan ahli pedang lain yang agak khusus.
Mungkin karena
pengaruh esports, kepopulerannya tampaknya kembali berkobar baru-baru
ini. Permainan daring dimungkinkan pada konsol rumah, memungkinkan pertandingan
melawan pemain di seluruh dunia kapan saja.
Namun, penggemar
setia arcade masih ingin bertarung di kabinet seperti ini. Sakuto, yang
pernah memainkan Ensamu 3 secara ekstensif selama beberapa waktu, bisa memahami
perasaan para ahli ini.
Bahkan, jika dia
punya waktu dan tidak sedang memakai seragamnya, dia sendiri ingin memainkan
satu pertandingan.
"Payah, kamu
kalah."
"Diam kamu!
Kenapa kamu tidak coba main saja kalau begitu!"
Si Topi Rajut
membalas dengan nada kesal. Seorang pria berrambut panjang yang tampaknya
adalah temannya berpura-pura menggulung lengan bajunya, duduk di kursi, dan
memasukkan koin.
"Baiklah.
Sekarang giliranku—"
Tampaknya
tebakannya meleset, dan Sakuto menghela napas. Tepat saat dia hendak berbalik—
"Tapi tetap
saja, JK yang memainkan Koto-kyun itu luar biasa..."
Terdorong oleh
komentar yang dibuat seseorang, kaki Sakuto terhenti seketika.
"Koto-kyun"
mengacu pada karakter wanita bernama Nakazawa Koto yang muncul dalam seri
Ensamu. Dipanggil dengan penuh kasih sayang sebagai Koto-kyun, dia sangat
populer dan dicirikan oleh kecepatannya serta gerakannya yang triki.
Dia adalah
seorang ahli pedang wanita di dunia nyata yang bergabung dalam kelompok
Rōshigumi yang disebut Shinchōgumi, dan tampaknya bertarung dengan pakaian pria
meskipun dia seorang wanita.
Seorang JK yang
memainkan Koto-kyun... Tidak
mungkin...
Dia
berputar ke sisi berlawanan dari kabinet tempat Si Rambut Panjang dan yang
lainnya berada. Para penonton berkumpul dalam bentuk setengah lingkaran,
menatap ke satu titik. Dia terburu-buru mengintip dari sela-sela mereka.
Benar
saja, gadis yang dicarinya sedang mengoperasikan pengontrol dengan tangan yang
sangat terlatih.
"...!?
Usami-san...!?"
Saat dia melihat
profil wajahnya, sebuah suara terlepas dari mulut Sakuto.
Namun, gadis itu
bahkan tidak melihat ke arah Sakuto. Dia hanya menggerakkan tangannya dalam
diam, berfokus pada layar di depannya tanpa berkedip—tetapi mulutnya bergerak
sedikit.
"...?
Maaf, tapi aku sedang di tengah-tengah pertandingan..."
"Maaf,
tidak, yang lebih penting lagi—"
"Kalau kamu
mau main, pergi ke sisi sebelah sana. Kalau kamu tidak mau, jangan bicara
padaku."
Dia merasa
seperti diberi tahu untuk tidak mengganggunya. Para penonton di sekitarnya juga
menatapnya dengan tajam, jadi Sakuto mengatupkan mulutnya. Namun, segudang hal
yang ingin dia tanyakan padanya bermunculan.
Pakaian kasual
ini, cara terlatihnya mengoperasikan pengontrol, dan hawa yang jelas-jelas
terbiasa sering mengunjungi arcade—ada apa dengan semua ini? Bahkan nada
bicaranya berbeda dari biasanya.
Dia ingin
menanyakan banyak hal, tetapi menilai dari kondisi ini, gadis itu tidak akan
selesai dalam waktu dekat.
Kalau aku mau
main, ya... Begitu ya.
Sakuto
menghembuskan napas.
"...Paham.
Kalau begitu, kalau aku main dan menang, mau ngobrol sebentar?"
"Apa ini
usaha buat PDKT?"
"Tidak, aku
tidak berniat begitu, tapi ada sesuatu yang ingin kutanyakan—"
Tepat
saat itu, efek-efek mencolok meledak di layar. Jurus Super Spesial dari
karakter Usami, Nakazawa Koto, telah diaktifkan.
"Hmm...
Boleh juga, kedengarannya menarik. Itu pun kalau kamu bisa mengalahkanku."
Meskipun
terhalang oleh rambut sampingnya dan tidak terlihat jelas, gadis itu tampak
mengukir senyuman.
* * *
Pria berambut
panjang dari sebelumnya kalah dengan mudah, dan giliran Sakuto pun tiba.
Sakuto duduk di
depan kabinet, memasukkan koin, dan segera berpindah ke layar pemilihan
karakter.
Menilai dari
diagram adu kekuatan, seseorang biasanya akan memilih Perry, yang sulit dilawan
oleh Nakazawa Koto, atau Okita Souji, yang menggunakan gerakan triki yang
serupa. Namun, Sakuto memberanikan diri untuk memilih Kondō Isami yang
bergeraknya lambat dan bertipe kekuatan.
"Heh...
apa cowok ini pemula...? Itu
kebalikan, benar-benar kebalikan. Apa gunanya memilih tipe kekuatan?"
Sebuah
suara ejekan terdengar dari belakang. Dalam Ensamu, tipe Kecepatan kesulitan
melawan tipe Keseimbangan, yang memiliki perpaduan kecepatan dan kekuatan yang
baik.
Dengan
kata lain, melawan Nakazawa Koto milik Usami, Kondō Isami yang bertipe kekuatan
bakal sangat dirugikan—tetapi Sakuto tidak memedulikannya dan berfokus pada apa
yang ada di depannya.
Akhirnya,
pertandingan dimulai.
Di babak
pembuka, Kondō Isami dipermainkan oleh gerakan triki Nakazawa Koto.
Dia
berhasil menunjukkan pertahanan yang kokoh meskipun berada dalam posisi yang
sangat terdesak, tetapi seperti yang diharapkan semua orang di sekitar,
Nakazawa Koto tampil mendominasi.
Pertandingan
berbalik dalam sekejap.
Tersudut
ke tepi layar, Kondō Isami melakukan pertahanan berdiri.
Dalam
sekian detik itu, Nakazawa Koto merunduk. Kondō Isami mencoba merunduk untuk
menyamai, tetapi dia terlambat beberapa bingkai—momen singkat itu adalah
segalanya.
Wah...
Perasaan ini... Usami-san sangat terbiasa dengan ini...
Sakuto
menyerah dan melepaskan tangannya dari pengontrol. Begitu serangan ini
mendarat, semuanya sudah terlambat.
Tendangan
lemah bagian bawah dari Nakazawa Koto mendarat, dan dari sana, jurus-jurus
berantai terhubung satu demi satu. Akhirnya, Jurus Super Spesial Nakazawa Koto,
"Gaya Kedua: Seribu Bunga Bermekaran dengan Indah," diaktifkan, dan
dengan sinematik yang mencolok, Kondō Isami terlempar ke udara.
Itu
benar-benar alur kombo yang sesuai dengan buku petunjuk.
Tanpa
adanya kesalahan input, hasilnya adalah enam puluh persen dari tolok ukur
kesehatannya tercuri.
Namun, tepat saat
Kondō Isami mulai jatuh ke tanah—
—Nah, sekarang
mari kita mulai.
Mata Sakuto
terbuka lebar, dan tangannya segera kembali ke pengontrol.
Memulai input
perintah kecepatan tinggi tepat saat itu, Kondō Isami, yang seharusnya jatuh ke
tanah dan tetap terkapar, memantul sekali dan berdiri dengan cepat.
"Apaaa!?
'Pantulan Kondō'...!?"
Tepat saat
seseorang berteriak, Kondō Isami sudah berputar ke belakang Nakazawa Koto.
Dari pukulan kuat
saat berdiri, jurus-jurus terhubung berturut-turut, membuat Nakazawa Koto
menari-nari di udara di tepi layar.
Kemudian, sebelum
Nakazawa Koto sempat menyentuh tanah, Kondō Isami mengeksekusi Tackle
Kuat. Nakazawa Koto terlempar ke udara sambil menerima kerusakan. Tackle
Kuat milik Kondō Isami—Nakazawa Koto melayang di udara—Tackle
Kuat—melayang—tidak ada tanda-tanda alur ini bakal berakhir.
Sebuah
keributan meletus di belakang Sakuto.
"'Tackle
Curang' dari sebuah 'Pantulan Kondō'...!?"
"Serius...!?
Pertama kalinya aku melihatnya di pertandingan nyata!"
"Bukankah
cowok ini pemula...!?"
Sebenarnya,
benih-benihnya sudah ditabur sejak awal.
Sakuto
bersikap seolah-olah dia terdesak ke dinding sambil memastikan tolok ukur
kesehatannya tidak terkikis terlalu banyak. Dengan kata lain, dia menerima
kombo tadi secara sengaja. Untuk memancing kecerobohan dan celah pada lawannya.
Dan kemudian,
gerakan pemulihan yang dikenal oleh para ahli sebagai "Pantulan
Kondō." Disebut juga pemulihan darat; tidak seperti karakter lain, Kondō
Isami bisa melakukan ini bahkan setelah menerima Jurus Super Spesial.
Namun, mungkin
karena beberapa orang menganggap ini sebagai hal yang licik atau bug,
gerakan ini sudah diperbaiki dalam versi konsol rumah. Ini adalah teknik yang
unik untuk kabinet arcade mandiri.
Selain itu, Kondō
Isami memiliki jebakan jerat sudut yang umumnya dikenal sebagai "Tackle
Curang." Begitu terjebak dalam hal ini, itu adalah akhir cerita. Kecuali
ada kesalahan operasi, hal itu tidak akan berakhir sampai tolok ukur kesehatan
mencapai nol.
...Maaf ya, tapi
aku punya alasan untuk menang juga...
Kata
"MENANG!" ditampilkan dengan sangat besar di layar.
Pemenang
babak pertama adalah Kondō Isami yang dikendalikan oleh Sakuto.
Ketika
babak kedua juga berakhir dengan kemenangan Sakuto, sorak-sorai meletus di
belakangnya.
* * *
"Aku kalah.
Kamu kuat ya? Aku tidak pernah berpikir bakal dikalahkan oleh Kondō-san."
"Terima
kasih..."
Usami mendekati
Sakuto yang masih duduk di kursi. Meskipun telah kalah, dia menawarkan tangan
kanannya dengan senyum ceria. Sakuto mencoba membalas genggaman tangannya—
—Hei? Mau bermain
bersama?
Tiba-tiba, sebuah
ingatan dari masa sekolah dasarnya terpanggil kembali, dan dia secara tidak
sadar menarik kembali tangan kanannya.
"...? Ada
apa? Kamu tidak suka berjabat tangan?"
"Ah...—tidak,
bukan apa-apa..."
Sakuto
mengarahkan senyum santai pada Usami yang tampak bingung.
Usami merona dan
menarik kembali tangan yang ditawarkannya. Kemudian dia sedikit memalingkan
wajahnya, memainkan poninya sambil mencuri pandang ke arah Sakuto dengan satu
mata.
"Jadi—...
apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"
Dia tadi berfokus
pada permainan dan tidak memikirkan hal itu sama sekali. Apa yang harus dia
tanyakan terlebih dahulu? Sebelum itu, ada satu hal yang mutlak ingin dia
pastikan.
"Suasananya
entah bagaimana berbeda dari sekolah, tapi... apakah ini Usami-san yang
'sebenarnya'?"
Kemudian, Usami
tampak bingung lagi.
"Ah, benar! Ehem...! Umm... ini bukan diriku
yang sebenarnya, memang!"
"...Memang?
Ada apa dengan cara bicara seperti itu...?"
Ketika
Sakuto menatapnya dengan mata curiga, Usami mulai panik.
"Eh,
itu salah ya? Kalau begitu... urusan apa yang mungkin dimiliki pria di sana
dengan 'diriku', gerangan?"
"Umm...
apa kamu sedang bercanda?"
"Tidak,
aku tidak punya niat begitu, boleh dikatakan?"
"Ah,
ya. Kamu sedang bercanda, kan?"
"Uhuk,
uhuk...! Wah, penyesuaian itu sulit... Ehem! Bagaimana biasanya ya... Ah, benar...
Uhuk, uhuk!"
Usami
bergumam pada dirinya sendiri sambil berdehem.
Karena
dia begitu sering terbatuk, Sakuto mulai mengkhawatirkan pendingin udara di arcade
ini. Kualitas udara yang buruk di sini mungkin memengaruhi otaknya atau cara
bicaranya.
"...Jadi,
apa yang ingin kamu tanyakan pada 'diriku'?"
Dia akhirnya
kembali ke cara bicaranya yang biasa.
"Kalau
begitu, pertama... kenapa kamu ada di arcade? Aku merasa kalau kamu
sudah terbiasa datang ke sini..."
"Hmm...
Teori dan Praktik, mungkin?"
"...Dari
apa?"
"Pelepasan
stres... atas nama Teori dan Praktik."
"Ah,
kalau begitu itu cuma pelepasan stres..."
Sakuto
merasa sangat jengkel.
"Lalu,
bagaimana dengan headphone itu? Aku tidak pernah melihatnya
sebelumnya..."
"Ah,
ini 'KAN-01V,' model awal dari seri KANON. Fitur peredam bising tentu saja ada,
tapi strukturnya dirancang agar telingamu tidak sakit—"
"Maaf,
aku menanyakannya dengan buruk... Bukan model atau fungsinya, tapi apa kamu
biasanya membawanya ke mana-mana?"
"Yah...
kadang-kadang? Mungkin, yah... lumayan sering?"
"Kenapa
pakai tanda tanya? Kamu sedang membicarakan dirimu sendiri, kan?"
Sakuto
tetap merasa jengkel, tetapi Usami penuh dengan senyuman, tampak seperti
menikmati percakapan itu. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Cara
bicaranya, ya, tapi juga—
"Senyummu
imut..."
"Ah,
soal itu—...Huehh!? A-Apa
yang kamu katakan barusan!?"
"Ah,
tidak..."
Kata-kata itu
terlepas begitu saja dari mulutnya, tetapi tidak seperti biasanya, gadis itu
banyak tersenyum. Dan itu imut. Dia bahkan berpikir bakal menyenangkan jika
gadis itu selalu tersenyum seperti ini biasanya.
"Aku tidak
benci basa-basi, tapi dikatakan secara langsung di depan wajahku begitu
membuatku malu, seperti yang kamu bayangkan."
"Maaf,
lupakan saja... Jadi, untuk pelepasan stres, kamu cukup serius soal itu,
kan?"
"Yah,
begitulah. ...Apa kamu jadi ilfil denganku?"
"Tidak,
aku suka orang yang melakukan segala hal dengan segenap tenaga mereka,
tahu?"
"Nahahaha—...
haha... S-Suka...?"
Mengabaikan
Usami yang telah berubah merah padam, Sakuto menaruh tangan di dagunya untuk
memikirkan pertanyaan berikutnya.
"Kalau
begitu, untuk pertanyaan berikutnya—"
Tepat saat
itu, wajah gadis itu mendadak berada sangat dekat dengan pipi Sakuto.
"Hei!
Apa yang kamu—"
"Sstt...
Lihat ke belakangmu, pelan-pelan..."
Mulutnya
berbisik lembut tepat di samping telinga Sakuto.
Sakuto
merasakan napas dan hangat tubuhnya di kulitnya dan jantungnya berdebar
kencang, tetapi dia dengan tenang berbalik untuk melihat ke belakangnya.
Di sana
ada seorang wanita cantik yang tampak galak dalam setelan celana yang pernah
dia lihat sebelumnya. Wanita itu sedang melihat sekeliling dengan gelisah.
"Geh!?
Guru pembina siswa, Tachibana-sensei...!?"
"Giga-giga...
Sayang sekali. Kurasa kencan
kita berakhir di sini untuk hari ini..."
Saat Usami
membisikkan hal itu, Sakuto berbalik kembali menghadap ke depan.
Wajah gadis itu
masih ada di sana.
Rambutnya yang
lembut secara ringan mengusap pipi Sakuto, dan aroma manis menggoda lubang
hidungnya. Itu adalah aroma dari saat dia menangkapnya dua hari yang
lalu—tetapi dia merasa kalau aroma itu entah bagaimana, hanya sedikit saja,
berbeda.
Usami
mengambil tangan kanan Sakuto begitu saja.
Kemudian dia
menariknya ke samping wajahnya sendiri dan menekan tepat di pipinya. Ketika
rambut lembutnya menggelitik punggung tangannya, Sakuto bertambah merah dari
sensasi geli itu atau mungkin rasa malu.
"—Ya.
Kamu benar-benar orang yang baik..."
"A-Apa yang
kamu lakukan...?"
"Menandai.
Aku pikir aku bakal meninggalkan aromaku padamu."
Gadis itu
mengusapkan pipinya ke tangan kanan Sakuto. Ujung jarinya menyentuh telinga
kecilnya.
"Ehehe,
bukankah cuping telingaku lembut?"
"Y-Yah..."
Usami secara
sengaja membuatnya menyentuhnya. Ketika dia mencubitnya sedikit, rasanya memang
lembut.
"Apa kamu
sudah menghafal teksturnya dengan ini juga? ...Kamu bisa menyentuhnya kapan
saja, oke?"
"Atau lebih
tepatnya, apa-apaan ini...?"
"Fufuhn,
jimat supaya kamu tidak salah mengenali diriku dengan orang lain—kalau begitu,
salam perpisahan... pelukan!"
"Tunggu...!?"
Dia dipeluk
dengan erat untuk sesaat, tetapi Usami segera menarik diri dengan cepat.
Akhirnya, dia menunjukkan senyum berseri-seri dan memberikan lambaian kecil
sambil berkata "Daa-daa."
Sakuto menatap
sosok Usami yang menjauh dengan tatapan kosong saat gadis itu diam-diam menuju
tangga darurat di lantai dua.
Jantungnya
berdebar kencang. Tubuhnya panas, seolah-olah membara.
Pada saat itu,
Sakuto berpikir.
Mungkinkah
perasaan ini adalah—
"Kamu, kamu
siswa Akademi Arisuyama, kan!? Nama dan kelas!"
"Hieeh!?
Tachibana-sensei...!?"
—dari rasa takut
karena hampir tertangkap... Dan kemudian, dia tertangkap.



Post a Comment