NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 1 Interlude II

Obrolan si Kembar! 2

Sosok yang Masing-Masing Mereka Sukai...?


"—Aku pulang."

Ketika Hikari kembali ke rumah, Chikage, yang mengenakan celemek, berlari kecil dengan langkah berderap menuju ke pintu masuk.

"Hei, Hii-chan! Kamu pergi ke arcade lagi, kan!?"

Berdiri dengan kaki terpisah dan satu tangan memegang centong sayur, Chikage menatap tajam ke arah Hikari.

"Cuma buat menyegarkan pikiran kok."

"Menyegarkan pikiran... Huh? Hii-chan?"

"...Ada apa?"

"Kamu kenapa? Kok kelihatan nggak bersemangat gitu. Kamu nggak apa-apa...?"

Chikage berbicara padanya dengan cemas, tetapi Hikari tidak memiliki energi untuk tertawa dan mengabaikannya saat ini.

Rasanya lebih seperti sedang linglung daripada merasa sedih. Sampai dia tiba di rumah, dia terus mengingat pertukaran kata dengan Sakuto di dalam stasiun sepanjang waktu.

Ini adalah sensasi yang pertama kali dirasakan oleh Hikari juga, dan dia tidak menyadari bahwa dirinya terlihat tidak bersemangat sampai Chikage mengkhawatirkannya.

"Aku nggak terlalu tahu, tapi ya... kurasa aku nggak apa-apa..."

"Beneran?"

"Iya... Yang lebih penting lagi, Chi-chan, maaf ya buat semuanya sampai sekarang."

Mendadak dimintai maaf, Chikage menjadi makin cemas. Itu tidak terlihat seperti lelucon. Gadis itu terlihat benar-benar menyesal. Merasakan udara yang bakal menjadi berat, Chikage terburu-buru memasang senyuman.

"Eh? Buat apa? Ada terlalu banyak hal yang terlintas di pikiranku, jadi aku nggak tahu mana yang kamu maksud..."

"Nahahaha... banyak hal kok. Terutama, pergi ke arcade, aku beneran merenungkan hal itu."

"Begitu ya, jadi kamu udah merenung."

"Iya... Hari ini aku dengar kalau rumor aneh menyebar di sekolah, dan aku bener-bener merenungkannya."

"Rumor aneh...?"

Mereka berdua pindah ke ruang tamu, duduk di sofa, dan berbicara secara menyeluruh.

Setelah mendengar cerita lengkap dari Hikari, Chikage tersenyum lembut.

"—Begitu ya... Jadi Hii-chan yang pergi ke arcade malah menyebar sebagai rumor tentang diriku, ya?"

"Iya, maaf ya..."

"Nggak kok, pada akhirnya, itu berarti itu bukan rumor tentang diriku, jadi aku nggak masalah, tahu? Lagipula dari awal aku nggak peduli soal rumor dan hal-hal semacam itu."

Sudah agak lama sejak dia melihat Hikari sedepresi ini, jadi Chikage berbicara dengan penuh perhatian.

"Beneran? Kalau gitu apa aku boleh pergi ke arcade mulai besok?"

"...Tadi bilang apa?"

"Aku minta maaf, aku beneran merenung kok..."

Hikari menyusut kembali saat melihat tatapan tajam Chikage. Dia tahu kalau membuat adiknya marah itu beneran menakutkan.

"Terus, dari mana kamu tahu rumor itu?"

"Soal itu, ada cowok yang belakangan ini dekat sama aku."

"Eh? Beneran?"

"Iya. Kita baru ketemu sekitar dua kali sih, tapi orang itu yang kasih tahu aku."

Sambil mengatakan hal itu, pipi Hikari merona. Kemungkinan besar, "cowok yang dekat dengannya" itu adalah seseorang yang penting bagi Hikari.

Meskipun Chikage tidak bisa terlalu proaktif dengan kehidupan cintanya sendiri, dia tidak membenci pembicaraan romansa semacam ini.

Terutama karena ini adalah seseorang yang berhasil membuat Hikari—yang bahkan tidak pernah menoleh pada cowok sampai sekarang—kemungkinan besar jatuh cinta. Sebagai adik perempuannya, Chikage cukup penasaran. Siapa sebenarnya yang berhasil memikat kakak perempuannya ini?

"Hei, orangnya kayak gimana?"

"Hmm... Seseorang yang tahu rasa sakit di hati, mungkin?"

"Eh?"

"Seseorang yang bisa bikin aku merasa tenang waktu kita lagi barengan."

Karena orang itu tahu rasa sakit di hati, dia bisa berempati, dan gadis itu bisa merasa tenang. Karena itulah dia ingin bersamanya, dan ingin menyentuhnya lebih banyak.

Hikari berpikir daripada hubungan yang saling memahami dengan kepala mereka, dia ingin menyentuh dengan hatinya.

"Kalau kamu gimana, Chi-chan?"

"Huh...? Aku!?"

Terkena pukulan balasan, Chikage berubah menjadi merah padam sepenuhnya.

"Itu seseorang yang kamu temui di tempat bimbingan belajar, kan? Karena kamu mengubah jalur akademikmu buat mengejar dia, bukankah aneh kalau nggak ada kemajuan sebentar lagi?"

"K-Kemajuan, ada kok... mungkin ada..."

"Eh!? Kayak gimana, kayak gimana!?"

"Umm... Aku dipeluk?"

—Meskipun itu adalah sebuah kecelakaan.

"Apa lagi, apa lagi!?"

"Umm... Dia melindungiku? Dan bilang sama aku kalau dia nggak bisa membiarkanku sendirian?"

—Meskipun itu adalah cowok yang hampir dicekiknya dengan dasi.

"Kenapa semuanya pakai tanda tanya?"

"Ughh... soalnya fakta sama kenyataan itu beda... kurasa..."

"Ah, iya... aku agak bisa nebak sih. Nahahaha—..."

Tampaknya, hal-hal tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkannya. Selain itu, Hikari menyadari kalau dia mungkin membuat beberapa kesalahan besar.

"Aku harus berusaha sebaik mungkin juga..."

"Kamu itu imut, Hii-chan, jadi kamu bakal baik-baik aja..."

"Kamu lebih imut, Chi-chan, jadi kamu bakal baik-baik aja! Ini, ini~!"

Mengatakan hal itu, Hikari secara jahil mencakar-cakar Chikage.

"H-Hentikaaan!"

Chikage mencoba melarikan diri dari sensasi geli itu, tetapi sebelum dia menyadarinya, dia sudah tersenyum.

Kakaknya memang merepotkan dengan skinship yang berlebihan bahkan setelah menjadi siswa SMA, tetapi Chikage tidak membencinya.

Kemudian, Hikari mendadak menghentikan tangannya.

"Ah, benar juga...!"

"...? Ada apa?"

"Orang yang aku pikir baik saat ini, dia mungkin populer..."

"Terus, memangnya kenapa...?"

"Dia orang yang luar biasa! Pasti ada cewek-cewek lain yang jatuh cinta sama dia sama kayak aku, kan!? Jadi aku harus makin, makin dekat!"

Melihat Hikari yang panik, Chikage tertawa jengkel.

"Aku pikir itu penting, tapi apa yang bakal kamu lakukan buat makin dekat?"

"Lima kali lipat skinship dibanding output biasanya!"

"Hentikan itu... Kamu bakal bikin dia ilfil..."

"Begitu ya? Hmm..."

Chikage merasa konyol untuk mengkhawatirkannya secara serius, tetapi poin Hikari ada benarnya.

Sebelumnya, dia telah menetapkan pembatasan dengan Sakuto bahwa menyentuh hanya diizinkan setelah menjadi sepasang kekasih.

Taktik itu mungkin sebuah kegagalan. Seorang wanita yang terlalu waspada mungkin tidak bakal populer.

"Kalau kamu nggak dapetin orang yang kamu sukai lebih awal juga, Chi-chan, seseorang bakal mengambil dia, tahu!"

"P-Paham! Aku bakal coba pergi dengan sekitar dua kali lipat dari jumlah biasanya...!"

—Dan dengan begitu, sang kembar masih belum tahu bahwa, pada akhirnya, mereka sedang memikirkan orang yang sama.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close