Obrolan Si Kembar! 4
Sambil Belajar untuk Ujian...?
"Uugh...
menelepon atau tidak menelepon, itulah pertanyaannya..."
"...Hamlet?"
Sore hari
di Western-style Dining Canon.
Dua
saudari kembar, yang sedang belajar untuk ujian, memutuskan untuk mengambil
istirahat sejenak, tetapi Chikage sedang menudingkan jari telunjuknya keluar
dan menariknya kembali ke arah ponsel pintarnya yang diletakkan di atas meja.
"Apakah ini
indra penciumanku, aku penasaran... Entah bagaimana aku punya perasaan
buruk~..."
"Bukankah
kamu terlalu mirip anjing akhir-akhir ini, Chi-chan...? Kalau kamu penasaran,
kenapa tidak telepon saja dia?"
"Tapi, tapi!
Aku berpikir bagaimana jika Sakuto-kun menyebutku cewek posesif!"
"Kalau
begitu jangan telepon?"
"Uugh... itu
agak, bagaimana harus kukatakan, kesepian, atau lebih tepatnya, aku
penasaran..."
Mengatakan hal
itu, Chikage menghembuskan nafas "Haa."
"Kita selalu
bersama belakangan ini, jadi aku jadi cemas kalau kita tidak bertemu~..."
"Kita
bertemu di jalan pulang hari ini juga, kan?"
"Tapi kita
cuma saling menyapa dengan 'selamat tinggal,' dan arti dari 'selamat tinggal'
rasanya terlalu dalam, atau lebih tepatnya..."
"Um...
bukankah kamu berpikir terlalu jauh..."
Saat Hikari
merasa jengkel, mereka mendengar para gadis berbicara tentang cinta dari meja
di belakang mereka.
Mereka adalah
empat siswi dari Akademi Yuki—
"Yah,
terlepas dari penampilanku, aku adalah tipe orang yang bisa memaafkan
perselingkuhan."
"Katakan hal
itu setelah kamu punya pacar... soalnya itu membuatku penasaran siapa sih yang
lagi bicara..."
"Aku
mungkin bakal terkejut kalau diselingkuhi~... Aku mungkin bakal berkonsultasi sama kakak
laki-lakiku."
"Aku... yah,
selama dia kembali padaku pada akhirnya, aku rasa itu tidak apa-apa."
""De...
dewasa banget!""
Mereka
dengan senang hati berbicara tanpa henti tentang hal-hal semacam itu.
Orang
terakhir, si gadis tomboi itu, mungkin dekat dengan cara berpikirku...
Sambil
membandingkan pandangan orang lain tentang cinta dengan pandangannya sendiri,
Hikari menatap Chikage, yang masih menatap ponsel pintarnya.
Bahkan
sebagai saudara kembar yang jatuh cinta pada orang yang sama, pendirian mereka
tentang cinta itu berbeda.
Benar,
bahkan jika dia penasaran apa yang sedang cowok itu lakukan saat ini, itu tidak
cukup untuk membenarkan panggilan telepon.
Dia
mungkin mengirim pesan LIME, tetapi tidak bakal melangkah sejauh membatasi
tindakan orang lain.
Tahu
diri, posesif, dan ingin tahu adalah masalah yang berbeda. Memang, sejak dia
mulai berpacaran dengan Sakuto, Hikari mulai berpikir bahwa menyeimbangkan
hal-hal itu sulit.
Sakuto
itu baik. Jika dia memintanya untuk datang sekarang juga, dia berpikir cowok
itu pasti bakal datang. ...Bukan berarti dia bakal memintanya.
Sebenarnya,
dia ingin bersandar di bahunya dan memanjakan dirinya tanpa henti pada kebaikan
itu.
Ah,
jadi begini rasanya jatuh cinta—dia memarahi dirinya sendiri yang memerah, berpikir bahwa dia terlalu
gampang luluh.
"Awawa...
panggilan masuk!? —I-Iya! Halo, ini Chikage! —Eh? Saat ini, aku lagi belajar sama Hii-chan di
Canon... Eh!? Iya,
iya... K-Kami bakal menunggu..."
Chikage
menutup telepon.
"Hii-chan!
Sakuto-kun bilang dia ingin bergabung sama kita sekarang juga!
...Hii-chan?"
"...Eh?"
"Kikuk...
Hii-chan, kamu membuat wajah seperti itu juga..."
"Eh? Apakah
wajahku aneh...?"
"Tidak, kamu
kelihatan sangat senang. Lagipula, wajahmu merah padam, kamu tahu?"
Dia tergesa-gesa
menggunakan kamera bawaan ponsel pintarnya untuk memantulkan wajahnya sendiri.
Memang
benar, wajahnya merah padam.
Poni
rambutnya juga aneh, pikirnya, sambil tergesa-gesa merapikan rambutnya dengan
jari-jarinya.
"Apakah kamu
senang kalau Sakuto-kun mendadak datang?"
"Ah, um...
iya... aku senang."
Dia merasa sangat
malu saat wajahnya menjadi semakin merah padam.
"Aku juga
senang. Memikirkan kalau dia mau menyempatkan diri untuk datang menemui kita
meskipun dia sibuk, dia benar-benar baik."
"I-Iya,
ehehehe..."
Tertawa untuk
menutupi rasa malunya, dia mematikan kamera bawaan ponsel pintarnya. Tiba-tiba,
ada notifikasi pesan masuk di layar. Itu dari Sakuto.
Dia tidak
menyadarinya, tetapi tampaknya ada beberapa pesan masuk dari Sakuto.
Hikari secara
sembunyi-sembunyi mengirim pesan LIME tanpa sepengetahuan Chikage—
[Kamu
benar-benar datang buat menemui kami?]
[Iya]
[Ada apa
tiba-tiba?]
[Aku cuma merasa
ingin bertemu kamu]
—Hikari menutup
layar dan membenamkan wajahnya di atas meja.
"Hii-chan,
ada apa? Apa kamu lelah karena belajar? Hii-chan?"
Dia tidak bisa memperlihatkannya kepada adik perempuannya. Wajah yang tersenyum lebar tanpa bisa dikendalikan seperti ini.



Post a Comment