NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Ada yang Aneh...?


Pada awal bulan Juli, saat mereka mampir ke sebuah kafe di depan stasiun dalam perjalanan pulang sekolah, topik pembicaraan beralih ke liburan musim panas.

"Karena ini liburan musim panas yang sudah kita tunggu-tunggu, aku ingin menyelesaikan tugas-tugas kita dengan cepat~."

"Benarkah? Aku tipe orang yang menumpuknya sampai akhir liburan dan mengerjakannya sekaligus."

Di seberang Sakuto, Chikage dan Hikari sedang mengobrol dengan gembira.

"Kamu bilang begitu, tapi aku benar-benar tidak akan membantumu mulai tahun ini, ya?"

"Ehh~, jahatnya~... Ah, tapi kalau Sakuto-kun membantuku, kurasa aku bakal baik-baik saja♪"

"Apa katamu!? —Sakuto-kun! Kamu tidak boleh memanjakan Hii-chan!" protes Chikage.

Sakuto bisa dengan mudah membayangkan akhir liburan musim panas di kediaman Usami, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum kecut.

"Akademi Arisuyama sepertinya punya banyak tugas musim panas, jadi mungkin lebih baik untuk memulainya lebih awal, bukankah begitu?" Sakuto ikut menyela.

"Benar, sepertinya ini bakal berakhir menjadi liburan musim panas yang terendam tugas~..."

"Kalau begitu, aku ingin mengadakan kelompok belajar bertiga~. Aku ingin selesai lebih awal dan banyak bermain."

"Setuju! Sakuto-kun juga... —Sakuto-kun?"

Sakuto berkali-kali mencuri pandang ke luar jendela.

Di balik kaca jendela, dia bisa melihat orang-orang berlalu-lalang, tapi—

"Kamu sudah gelisah dari tadi, ada apa?"

"Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"

"...Ehh? Tidak," kata Sakuto, dengan cepat memasang senyum tipis saat melihat wajah polos mereka.

"Kalau soal gaya rambutmu, itu keren seperti biasanya, tahu?"

"Ah, ya... Aku bukan tipe orang yang sangat percaya diri sampai mengkhawatirkan gaya rambutku sendiri yang terpantul di kaca jendela..."

Sakuto menjawab Chikage dengan nada jengkel, tetapi perhatiannya kembali beralih ke luar jendela.

Akhir-akhir ini, dia merasakan tatapan seseorang.

Apakah sejak dia meraih peringkat pertama dalam ujian pemetaan kemampuan? Dia merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya, atau lebih sering merasakan tatapan yang tertuju padanya.

Jika itu cuma imajinasinya, hal itu akan baik-baik saja, tetapi dia benar-benar tidak bisa tenang.

Meskipun telah melakukan sesuatu untuk menonjol atas kemauannya sendiri, mengkhawatirkan lingkungan sekitarnya mungkin cuma karena dia terlalu percaya diri, tapi—

Sementara dia mengkhawatirkan bagian luar seperti itu, topik pembicaraan telah beralih ke topik berikutnya tanpa dia sadari.

"Juga, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan, cuma kita bertiga? Bagaimana kalau sesuatu seperti tiga hari dua malam?"

"Perjalanan bertiga... yang artinya...!?"

Wajah Chikage mendadak berubah merah.

"Sakuto-kun, apa pendapatmu tentang usulanku?"

"Jalan-jalan, ya... Apa alasan untuk membuatnya menginap?"

Saat dia bertanya balik, Hikari mulai berbicara dengan gembira.

"Aku pikir karena kita melakukannya, bakal menyenangkan untuk pergi ke suatu tempat di mana kita bisa bermain tanpa mengkhawatirkan orang-orang yang memperhatikan. Lagipula, bukankah kamu pikir kita bisa bersenang-senang bersama lebih banyak kalau kita punya banyak waktu?"

"Aku mengerti..."

Tepat saat dia hendak diyakinkan, dia mendadak berbalik ke arah Chikage.

"Menginap... kita bertiga, banyak... yang pada dasarnya berarti, melakukan hal itu banyak-banyak bertiga...—"

Gadis itu bergumam pelan seolah-olah sedang membaca mantra sementara wajahnya berubah merah padam, menyebabkan Sakuto tanpa sadar mengeluarkan suara "Ugh." Gadis itu memasuki kondisi biasanya—mode delusi.

Dia mungkin bisa menebak isinya—dia punya gambaran kasarnya, tetapi Sakuto hanya memasang wajah jengkel dan tidak menyuarakannya.

Sebalinya, Hikari menatap Chikage dengan seringai.

"Chi-chan, delusi macam apa yang kamu pikirkan?"

"A-Aku tidak sedang berdelusi atau semacamnya! Aku bukan gadis kotor seperti itu! Aku tidak melakukan hal itu, memiliki delusi mesum seperti itu!" seru Chikage, mengeluh dalam kepanikan.

Tidak ada yang mengatakan "kotor" atau "mesum."

Tidak, kamu pasti begitu, kan? —Sakuto membalas di dalam hatinya.

Kapan terakhir kali aku pergi jalan-jalan...

Setelah mereka bertiga meninggalkan toko, Sakuto mendadak memikirkan hal itu.

Mengingat kembali, terakhir kali adalah pada bulan Mei di tahun ketiganya di SMP, selama perjalanan sekolah ke Kyoto, Osaka, dan Nara.

Saat itu, dia masih menjadi seorang "robot," hanya bergerak sesuai jadwal untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitarnya.

Dia tidak punya keterikatan emosional padanya, kesannya samar, dan dia cuma pergi lalu pulang—itulah perjalanan sekolah bagi Sakuto.

Namun, mengenai perjalanan tiga hari dua malam yang diusulkan Hikari, dia merasa bahwa hal itu terdengar agak menyenangkan.

Perjalanan seperti apa yang akan terjadi jika pergi bersamanya—tidak, bersama 'mereka'?

Hal itu pasti akan menyenangkan, tetapi sebelum itu, ada satu kekhawatiran.

"Melanjutkan apa yang kita katakan sebelumnya, aku tidak akan tahu apakah aku bisa pergi jalan-jalan sampai aku berbicara dengan ibuku dan bibiku," kata Sakuto.

"Bibi? ...Ah, benar. Kamu tinggal di rumah bibimu sekarang, kan, Sakuto-kun?" kata Chikage dari sebelah kanannya, seolah baru teringat.

"Ya. Aku akan berbicara dengan bibiku untuk saat ini. Dan ibuku juga, untuk jaga-jaga..."

Meskipun begitu, jika dia memberi tahu bibinya—yang merupakan seorang pememasrah—bahwa dia pergi jalan-jalan bersama seorang gadis—apalagi dua orang—bibinya mungkin tidak akan memberikan izin. Memberi tahunya bahwa itu adalah dua orang gadis juga agak meragukan...

Dia merasa enggan untuk membohongi keluarganya, tetapi mungkin akan lebih baik untuk mengatakan bahwa dia pergi bersama teman-teman laki-laki.

Adapun ibunya—beliau mungkin akan setuju dengan sangat mudah di luar dugaan.

Ibunya, yang menunjukkan pemahaman yang luar biasa terhadapnya, percaya bahwa dia tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh, dan membiarkannya melakukan apa pun yang dia inginkan. Sikap ibunya adalah bahwa orang tua mengambil tanggung jawab jika terjadi sesuatu, jadi beliau selalu memberi tahu Sakuto, "Lakukan sesukamu."

"Kalau Sakuto-kun tidak apa-apa, maka yang tersisa hanyalah kita mendapatkan izin dari Ayah dan Ibu, kan?" kata Hikari dengan langkah kaki yang melompat gembira.

Chikage kelihatan sedikit kesulitan.

"Hii-chan, apakah kita bakal jujur memberi tahu Ayah dan Ibu kalau kita pergi bersama pacar kita?"

"Hmm... itu mungkin tidak bakal jadi masalah, tapi mungkin lebih baik bilang 'teman-teman' untuk jaga-jaga?"

Hikari meletakkan jari telunjuk kanannya di bibirnya dan menatap ke arah langit.

Bagaimana mereka harus memberi tahu orang tua mereka...

Jaga kerahasiaan fakta bahwa kita bertiga berpacaran.

Karena aturan yang mengikat ini, mereka tidak bisa berbicara secara jujur kepada keluarga mereka juga. Meskipun begitu, penemuan mendadak dari orang tua bukanlah apa yang mereka bertiga inginkan. Haruskah mereka melonggarkan aturannya sedikit di sini?

Perjalanan tiga hari dua malam.

Selama mereka masih di bawah umur, mereka tidak bisa begitu saja pergi ke mana pun yang mereka suka tanpa izin orang tua—

"Ayah dan Ibu mungkin bakal terkejut, bukankah begitu? Kalau mereka tahu aku dan Hii-chan berpacaran dengan orang yang sama..."

Malahan, mereka kemungkinan besar akan keberatan.

Bahkan Hikari memasang ekspresi canggung di wajahnya.

"Aku pikir Ayah bakal baik-baik saja, tapi Ibu, kamu tahu sendiri..."

"Ya... Ibu kan, kamu tahu sendiri..."

Saudara kembar di kedua sisinya mendesah secara bersamaan.

Aku penasaran orang tua seperti apa mereka?

Dia punya sedikit informasi.

Saat dia pergi ke rumah Usami, Hikari telah berbicara sambil tersenyum tentang ayahnya yang memberinya planetarium rumah sebagai hadiah.

Saat dia bertanya kepada Chikage, gadis itu mengatakan bahwa mereka dekat dengan kebebasan, tetapi gadis itu juga mengatakan bahwa mereka percaya pada Hikari. Menebak dari hal itu, ayah mereka adalah sosok yang baik dan penuh pemahaman bagi Hikari, dan kemungkinan besar adalah orang yang baik dan luar biasa.

Di sisi lain, Sakuto berpikir ibu mereka mungkin adalah seseorang dengan sisi yang tegas.

"Ngomong-ngomong, orang seperti apa bibimu, Sakuto-kun?" tanya Hikari.

"Namanya Kisezaki Mitsumi, dan beliau tujuh tahun lebih muda dari ibuku. Beliau seorang pengacara."

Kemudian Chikage dan Hikari membuka mata mereka lebar-lebar.

"Apakah beliau tipe orang yang bilang 'Keberatan!'!?"

"Apakah beliau benar-benar mengatakan hal-hal seperti 'Pembalasan berlipat ganda!'!?"

"Ah, yah... Aku tidak pernah mendengar kalimat-kalimat itu di rumah, tahu? Lagipula Hikari, bukankah itu kalimat dari seorang bankir...?"

Hikari kemungkinan mencampuradukkan satu drama dengan drama lainnya. ...Meskipun, secara teknis, aktor yang menjadi bersemangat tentang urusan hukum adalah orang yang sama di kedua drama tersebut.

"Beliau adalah orang yang menyelamatkanmu saat kamu mengacaukan sesuatu, kan?" goda Hikari.

"Ah, ya... kenapa premisnya adalah aku bakal mengacaukan sesuatu?"

Hikari berhenti, dan sengaja meletakkan kedua tangannya di pipinya yang memerah, bertingkah malu-malu.

Alasannya adalah, sementara mereka berbicara seperti ini, mereka baru saja tiba di Stasiun Yuki Sakuranomachi, tetapi ini adalah tempat di mana kenangan yang kuat tertinggal—tempat di mana Sakuto telah mengacau.

Memahami alasan mengapa Hikari bertingkah malu-malu, Sakuto berubah merah padam karena malu.

"Aku penasaran apakah kamu lupa kalau kamu mendadak meremasku dan menciumku tepat di sini?"

"I-Itu cuma kesalahpahaman...!"

"Kalau itu bukan aku—"

"A-Aku sudah bilang padamu, aku tidak bakal melakukan hal itu pada sembarang orang...!"

Itu adalah kekacauan yang terjadi karena mereka kembar, tetapi secara alami, dia tidak akan mendadak memeluk dan mencium siapa pun dan semua orang. Jika dia melakukan hal seperti itu, dia akan dikeluarkan dari Akademi Arisuyama.

"Benar sekali! Awalnya, itu seharusnya adalah aku, kamu tahu?" kata Chikage sambil membusungkan pipinya.

"............Aku minta maaf."

Sakuto menundukkan kepalanya secara apologetis.

"Yah, itu juga salahku karena berpura-pura menjadi Chi-chan, kan?"

"Kalau begitu renungkanlah sedikit lagi."

"Ehehehe, maaf, maaf..." jawab Hikari kepada Chikage yang cemberut dengan senyum kecut.

Meskipun begitu, mengira Hikari sebagai Chikage dan menciumnya adalah kecerobohan seumur hidup. Itu adalah insiden besar yang kemungkinan akan tetap berada dalam ingatannya selamanya, dan bagi Sakuto, ini adalah tempat di mana kenangan itu bersemayam.

Alasan Hikari sengaja menggali hal itu di depan Chikage kemungkinan adalah untuk memicu api kecemburuan Chikage.

"Tapi besoknya, Chi-chan dapat pelukan romantis dan ciuman di bianglala, kan?"

"Y-Ya... dapat sih, tapi..."

"...Sayang sekali kamu tidak bisa mengambil 'istirahat' dalam perjalanan pulang~?"

"T-Tunggu, Hii-chan...!?"

Melihat Chikage berubah merah padam karena malu, Hikari tertawa dengan ceria.

Mencampakkan mereka, lalu mengangkat mereka kembali—sesuatu seperti itu. Hal itu berjalan sepenuhnya sesuai rencana Hikari; seperti yang diharapkan dari sang kakak, dia sangat terampil dalam menangani adiknya, pikir Sakuto dengan jengkel.

"Ah, omong-omong... sehari setelah Sakuto-kun dan aku pergi berkencan, apa yang kamu lakukan bersama Sakuto-kun di kamarmu, Hii-chan? Aku melihatmu memeluknya saat kamu cuma pakai pakaian dalam."

""............—""

Hikari dan Sakuto saling menatap dan berubah merah padam.

"Eh... reaksi apa itu!? Apa yang terjadi!?"

Bukannya tidak ada hal yang terjadi.

Namun, tidak perlu bagi Chikage untuk bereaksi berlebihan. Faktanya, itu lebih sederhana daripada apa yang terjadi pada Chikage; dia cuma menerima beberapa ciuman di pipi dari Hikari di atas tempat tidur. Tidak lebih dari itu—

—Ugh...

Pada saat itu, gambaran si kembar dalam pakaian dalam mereka muncul dengan jelas di pikiran Sakuto. Apakah karena Chikage baru saja menyebutkannya?

Dia telah berakhir melihat Hikari dalam pakaian dalamnya, tetapi karena dia juga pernah berpapasan dengan adegan ganti baju Chikage sebelumnya, hal itu pasti seimbang. Mungkin.

Namun, dengan pipinya yang masih merona, Hikari terkikik dan menatap Chikage.

"Eh? Kamu bertanya apa... Aku tidak memberi tahu kamu, Chi-chan, tapi itu luar biasa, tahu? Sakuto-kun yang bersemangat mendorongku ke atas tempat tidur dan... fufu."

"!! —...!? Dan apa yang terjadi setelah itu!?"

"Tunggu tunggu tunggu! Hikari, itu benar-benar jahat, tahu! Aku tidak mendorongmu, aku mencoba menghentikanmu...!"

Hikari terkikik, menikmati reaksi dari Chikage yang merah padam.

Seperti yang diharapkan, Hikari tampaknya menikmati menekan tombol delusi Chikage seperti ini.

"Hii-chan, beri tahu aku detailnya secara detail!"

"Chikage? Itu seperti mengatakan 'sakit kepalaku sakit,' apakah kamu baik-baik saja...?"

Chikage sering mulai berbicara Bahasa Indonesia yang aneh saat dia memasuki mode ngamuk. Di saat-saat seperti ini, jika dia tidak dibuat tenang, dia cenderung terus mengamuk tanpa henti, jadi—

"Yah, kembali ke perjalanan—apakah kalian berdua punya preferensi ke mana kalian ingin pergi?" tanya Sakuto, secara mendadak mengarahkan kembali pembicaraan.

"Hal itu sudah diputuskan~. —Benar kan, Chi-chan?"

"Ya. Tempat yang benar-benar berteriak 'musim panas', kan~?"

Sakuto menatap mereka berdua yang berbicara sambil tersenyum, berpikir "Oh," dengan penuh kekaguman.

Seperti yang diharapkan dari saudara kembar yang dekat. Bahkan tanpa menyuarakan secara keras, tempat yang ingin mereka tuju tampaknya sama.

"Kalau begitu, haruskah kita mengumumkannya dalam hitungan ketiga?"

"Ya. Satu, dua..."

"Pantai!"—"Gunung!"

Sakuto tanpa sadar mengeluarkan suara "Ugh."

J-Jadi bahkan saudara kembar punya perbedaan di sini, ya~...

Terhadap Chikage yang cemberut, Hikari menatap balik dengan senyum yang agak tegang. Di sudut stasiun yang meluap dengan kesibukan jam sibuk, suasana yang agak tidak tenang mulai berhembus.

"...Hii-chan, apakah kamu baru saja bilang pantai?"

"Aku bilang begitu, tapi apakah kamu bilang gunung, Chi-chan?"

"Ya. Karena kalau kamu bilang musim panas, itu adalah gunung."

"Ck ck ck. Bukankah pantai adalah klasik yang standar?"

""Bagaimana denganmu, Sakuto-kun!?"" tuntut si kembar secara serempak, berbalik padanya tepat saat dia tersenyum kecut.

"Eh!? Aku!?"

Tiba-tiba ditempatkan di posisi yang sulit, dan dengan tekanan yang begitu intens, Sakuto menarik diri, terkejut.

"Karena kita bertiga pergi, kami ingin mendengar pendapatmu juga, Sakuto-kun! Jadi itu adalah gunung, kan!?"

Kamu sama sekali tidak berniat mendengarkan, kan? pikir Sakuto.

"Kalau secara pribadi, aku ingin memperlihatkan baju renang yang sangat seksi kepada Sakuto-kun~?"

Hal itu cukup menarik, Sakuto mulai mempertimbangkan.

"Hii-chan, mengarahkannya seperti itu tidak adil! —Sa-Sakuto-kun, kamu adalah penggemar kaus kaki ketat pendukung yang basah oleh keringat daripada baju renang, kan!?"

"Chikage, aku tidak punya fetisisme aneh seperti itu, tahu...? Atau lebih tepatnya, topiknya melenceng..."

Pantai dan gunung—sejujurnya, yang mana pun baik-baik saja. Bukannya dia tidak peduli, tetapi jika dia bisa pergi jalan-jalan bersama mereka bertiga, dia merasa hal itu pasti akan menyenangkan ke mana pun mereka pergi—

—Tidak, tunggu...

"Hmm," gumam Sakuto, meletakkan tangannya di dagunya.

Tergantung bagaimana dia memikirkannya, bukankah mungkin untuk menggabungkan kedua pendapat menjadi satu—?

Memang, tidak baik memutuskan bahwa segala sesuatunya tidak mungkin sejak awal.

Para pendahulu yang disebut jenius mengejar kemungkinan tanpa menyerah dalam situasi sulit apa pun dan meninggalkan pencapaian luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Saat Thomas Edison, yang dikenal sebagai Raja Penemuan, mengembangkan lampu pijar—yang dikatakan melibatkan sepuluh atau dua puluh ribu kegagalan—bahan yang dia gunakan untuk filamen adalah bambu madake dari Iwashimizu Hachiman di Gunung Otokoyama di Kyoto.

Itu benar-benar momen saat dua negara yang dipisahkan oleh lautan, Amerika dan Jepang, dihubungkan oleh tangan seorang jenius tunggal—

Begitu ya, singkatnya, ini adalah sebuah kombinasi...

Dengan kata lain, 'Masalah Pantai atau Gunung' ini akan mengungkapkan jawabannya secara alami jika seseorang menghubungkan titik-titik menjadi garis lurus. Baju renang atau gadis gunung—jika seseorang menggabungkan hal-hal tersebut—

"—Aku tahu...!?"

Bohlam lampu berkedip di atas kepala Sakuto.

Itu benar-benar satu persen kilatan kejeniusan—

"Bagaimana kalau memakai baju renang di gunung!?"

""Terlalu aneh!""

"K-Kalau begitu, pakaian gadis gunung di pantai..."

""Terlalu aneh!""

"Kalau begitu mari kita pakai kaus kaki ketat pendukung saja di bawah baju renang..."

""Sudah kubilang, terlalu aneh!""

—Tampaknya, itu aneh.

Dalam satu artian, itu belum pernah terjadi sebelumnya. Atau lebih tepatnya, percakapan tersebut sepenuhnya melenceng dari jalurnya.

"Mengesampingkan fetisisme aneh itu untuk nanti, untuk saat ini, tolong pilih apakah kamu ingin pergi ke pantai atau ke gunung, Sakuto-kun."

"Tentu saja, pilihan lain juga tidak apa-apa. Kami akan mengikuti pendapatmu, Sakuto-kun."

Dalam hal ini, Sakuto berpikir mereka harus pergi ke pantai dan gunung sekaligus, tetapi tidak ada tempat yang langsung terlintas di pikirannya, tidak juga kandidat ketiga.

Untuk sementara waktu, dia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan ini sebelum mencapai kesimpulan—

"Ngomong-ngomong, apakah kalian berdua kubu Tunas Bambu? Atau kubu Jamur?"

""Tunas Bambu.""

"Ah, kalian sama untuk yang satu itu...?"

Secara kebetulan, Sakuto adalah kubu Jamur.

Saudara kembar tersebut masing-masing menginsistensikan pantai atau gunung, tidak menunjukkan tanda-tanda mengalah sama sekali.

Bagi Sakuto, karena ini adalah perjalanan tiga hari dua malam yang dihabiskan sebagai kekasih, dia juga punya keinginan untuk menjadikannya kenangan terbaik bagi masing-masing saudara kembar.

Oleh karena itu, dia terpaksa berjuang cukup keras dengan bagaimana cara menyintesis kedua pendapat dan di mana menemukan kompromi.

Dan begitulah, tanpa mencapai kesimpulan, mereka memutuskan untuk membeberkannya lagi di kemudian hari, dan untuk hari ini, mereka membubarkan diri untuk sementara waktu.

Satu malam berlalu, dan itu adalah istirahat makan siang keesokan harinya.

Chikage sepertinya dipanggil oleh Tachibana lagi karena suatu alasan, dan dia mengirim pesan LIME yang meminta Sakuto untuk makan siang lebih dulu. Sementara Hikari—entah mengapa, Sakuto tidak bisa mengontaknya.

Karena pesan LIME dari Sakuto bahkan tidak dibaca, dia menyerah dan berjalan ke kantin sendirian.

Yah, terkadang memang ada hari-hari seperti ini...

Mau bagaimana lagi untuk urusan Chikage karena Sakuto tidak tahu kapan pembicaraannya dengan Tachibana akan selesai, tetapi dia penasaran apa yang terjadi pada Hikari. Sambil berjalan dan memikirkan hal-hal seperti itu, dia melihat sosok Chikage di sepanjang koridor.

"Ehh?"

"Ah... Sakuto-kun, halo. Apakah kamu mau ke kantin sekarang? Mau pergi bersama?"

Gadis itu tersenyum berseri-seri.

"Apakah urusanmu dengan Tachibana-sensei sudah selesai? Bukankah kamu dipanggil?"

"Ya. Aku memutuskan untuk mengabaikannya sepenuhnya demi kamu."

"Kamu tidak boleh melakukan itu... Kalau Tachibana-sensei mendengar hal itu, beliau bakal murka..."

"Aku pikir beliau mungkin tipe orang yang menyukai permainan pengabaian seperti itu."

"Ya ampun, prasangka macam apa itu...?"

Sakuto menggaruk bagian belakang lehernya dengan jengkel.

"...Atau lebih tepatnya, apa yang sedang kamu lakukan, Hikari?"

"Hueh!? A-Astaga~, apa yang mungkin membuatmu salah paham, gerangan? Ohohoho..."

"Aku tidak pernah melihat Chikage tertawa 'ohohoho' sebelumnya... tidak juga orang lain..."

Itu adalah Hikari, seperti yang dia duga.

Hikari tidak memakai aksesori rambutnya yang biasa, melainkan pita favorit Chikage. Pilihan kata dan cara tertawanya cukup mencurigakan, tetapi cara berjalan dan pembawaannya meniru Chikage, dan dia tidak menggantungkan headphone di lehernya. Sepintas, beberapa murid mungkin akan mengiranya sebagai Chikage.

Namun, ada satu bagian, cuma satu, yang tidak terelakkan bukan milik Chikage—

"Jadi, apa yang kamu lakukan, Hikari? Berencana untuk mengerjaiku lagi?"

"...Haaa~... Kenapa kamu bisa tahu?"

"Kenapa, kamu bertanya? Yah—"

Sakuto menunjuk ke arah dadanya, kelihatan seolah-olah hal itu sulit untuk dikatakan. Hikari adalah satu-satunya orang yang akan berpakaian seberantakan ini. Jika ini adalah Chikage, itu akan berada di tingkat di mana Sakuto khawatir ada yang salah dengannya.

"Ah, benar!" seru Hikari, menyadari kesalahannya dan terburu-buru mencoba mengancingkan kancing di dadanya, meskipun dia cukup kesusahan.

Apakah karena dadanya menonjol dengan kuat, atau cuma karena ukuran kemejanya yang tidak pas, Sakuto tidak tahu, tetapi mengancingkan kancing itu tampaknya menjadi sebuah perjuangan.

Tidak sanggup hanya menonton dalam diam, Sakuto memalingkan pandangannya dan menunggu.

Akhirnya, gadis itu selesai mengancingkannya. Dengan ini, 'Usami Chikage' telah sempurna.

"Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan perhatianmu pada detail sangat kurang atau apa..."

"Hmm... Aku masih punya jalan yang panjang untuk ditempuh, ya."

Hikari tertawa 'tehehe' seolah-olah jahilnya telah ketahuan.

Mengesampingkan hal itu, kenapa dia berpura-pura menjadi Chikage? Padahal dia pernah dimarahi oleh Chikage karena hal itu sebelumnya.

"...Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Sebenarnya, kamu tahu... —Ah, gawat!"

Hikari melihat ke belakang Sakuto, terburu-buru menegakkan postur tubuhnya, dan berdehem dengan ehem ehem.

Sakuto menjadi penasaran dan ikut berbalik—

"Ketemu kamu! Usami Hikari!"

Mendekat dengan tatapan murka adalah seorang gadis berkuncir dua.

Seorang murid tahun pertama yang namanya tidak Sakuto ketahui. Dia telah melihatnya beberapa kali di area sekolah, tetapi mereka berada di kelas yang berbeda; Sakuto tidak pernah berbicara dengannya, dan satu-satunya ingatannya adalah "ada seorang gadis berkuncir dua."

Tanpa memedulikan keberadaan Sakuto di sana, gadis berkuncir dua itu mendekati Hikari, yang menyamar sebagai Chikage.

"Dengar ya, hari ini secara pasti—"

"Ehem! ...Anu, 'Aku' adalah Usami Chikage, tapi apakah kamu punya urusan denganku?"

"Eh? ...Ehh!? Usami Chikage...!?"

Segera setelah dia membawa-bawa nama Chikage, gadis berkuncir dua itu menjadi sangat panik. Mungkin dia merasa terintimidasi oleh Chikage; dia mundur dua, tiga langkah, wajahnya mengencang.

"Itu benar, kamu tahu? Kalau kamu sudah mengerti, bagaimana kalau kamu dengan senang hati pergi dari sana?"

Sakuto mendengarkan dengan jengkel kata-kata Chikage palsu itu, tidak yakin apakah kata-kata itu sopan atau kasar.

Sesuatu seperti ini akan terbongkar secara langsung—atau begitulah yang dia pikirkan, tetapi gadis berkuncir dua itu tampaknya percaya sepenuhnya bahwa itu adalah Chikage. Ke mana hilangnya momentumnya yang tadi? Dia terguncang dan pucat.

Sebagai seseorang yang pernah mengacau sekali sebelumnya, Sakuto agak memahami perasaan gadis berkuncir dua itu saat ini.

Kemudian—

Prak—Plak!

"Aduh, sakit...!? Apa itu tadi...!?"

Gadis berkuncir dua itu terburu-buru menekan tangannya ke dahinya.

Kemudian, sesuatu bergulir dengan suara klotak-klotak ke kaki Sakuto, mengenai sepatu dalam ruangannya, dan berhenti.

Saat dia mengambilnya—

"—Sebuah kancing?"

"Wah, upsies..."

Dia berbalik ke arah suara tersebut. Bagian depan kemeja Chikage—tidak, Hikari, yang baru saja dia kancingkan beberapa saat yang lalu, telah terbuka lebar, dan belahan dada seperti buah pir putih menyembul keluar untuk menyapa "Halo."

Mereka bertiga membeku di tempat untuk sesaat, tapi...

"Ahahaha... kancingnya melayang~."

Melihat Hikari tertawa seperti itu...

"Reaksi itu... itu benar-benar Hikari, kan!?"

Gadis berkuncir dua itu akhirnya menyadari.

"Gawat!? Kalau begitu, Sakuto-kun... aku cinta kamu—"

Hikari, membisikkan bagian terakhir itu secara rahasia ke telinganya, memamerkan senyum jahil dan pergi dengan cepat.

"Ah!? Tunggu! Hikariiii—!"

Saat gadis berkuncir dua itu mengejarnya sambil berteriak, Hikari melarikan diri dengan sebuah "Uh-oh."

"—Ah, Sakuto-kun. Apakah kamu melihat Hii-chan?" tanya Chikage, tiba tepat saat Sakuto sedang menonton adegan itu dengan jengkel, menggenggam kancing yang telah dia ambil.

Baru saja berpapasan dengan Hikari, Chikage—yang asli—tiba.

"Ah, dia ada di sini beberapa saat yang lalu, tapi dia pergi ke suatu tempat..."

Melihat lebih dekat, Chikage tampaknya berada dalam suasana hati yang buruk karena suatu alasan.

"Ada apa? Apakah Tachibana-sensei mengatakan sesuatu kepadamu?"

"Tidak. Saat aku mencoba pergi ke ruang guru, Hii-chan mendadak merebut pitaku di koridor dan pergi ke suatu tempat... sejujurnya..."

"Ah, begitu ya... itu menjelaskannya~..."

"Ini, kamu bisa memiliki ini," kata Sakuto dengan desahan dalam hati, mengulurkan kancing yang telah dia ambil.

"Mungkinkah ini... kancing kedua Sakuto-kun!?"

Mata Chikage mendadak berbinar-binar.

"Tolong jangan buat aku lulus sendirian... Ini memang kancing kedua, tapi ini kancing milik orang lain..."

"Eh... kalau begitu aku tidak mau..."

Dan kali ini, rasa semangatnya turun secara instan. Dia adalah orang yang sangat mudah dipahami.

"Tidak, aku pikir kamu akan membutuhkannya pada akhirnya... Ngomong-ngomong, kamu belum makan siang, kan? Mau pergi ke kantin bersama?"

"...Ehh? A-Aku ikut! Yey!" seru Chikage, melompat dengan gembira saat dia berjalan menuju kelasnya untuk mengambil bekalnya.

...Meskipun begitu, kenapa Hikari dikejar?

Sakuto memiringkan kepalanya, tetapi pada saat ini, dia tidak punya cara untuk mengetahui bahwa dia sudah terlibat dalam insiden tersebut.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close