NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 4

Bab 4: Klub Sastra di Dunia Paralel Ternyata Lumayan Aneh Juga


Hari-hari mulai terasa lebih panjang di akhir bulan Mei. Bahkan saat jam pulang sekolah tiba, matahari masih membumbung tinggi dan senja

masih teramat jauh.

 

Dari area ruang klub di lantai tiga gedung barat, pemandangan ke arah

utara kota, termasuk taman observasi, terlihat sangat jelas.

 

Di jajaran ruang klub kegiatan kebudayaan, poster milik masing-masing klub tertempel di pintu-pintu yang mulai berkarat. Di antara jajaran pintu itu, sebuah ilustrasi siswi SMA berambut pirang dengan nuansa light novel yang kental (gambarnya lumayan bagus) sedang memegang buku sambil menatap ke arah luar dengan pandangan menyipit; itulah ruang Klub Sastra.

 

"Ini poster yang bikin adik kelas marah gara-gara terlalu light novel, sampai anak-anak penyuka sastra murni jadi tidak berani masuk, kan."

 

"Di tempat Tsukino ternyata begitu juga?"

 

"Anak yang menggambarnya sendiri beralih alasan kalau di karya hiburan umum pun, ilustrasi yang berfokus pada karakter sudah lazim dipakai, jadi dia mengklaim itu masih dalam batas toleransi."

 

"Cerita yang sangat kufamiliar."

 

"Tapi rambut karakter di poster sebelah sini warnanya merah muda ya."

"Kalau warna merah muda sih rasanya tidak bakal lolos di karya hiburan umum."

 

"Tapi dia berhasil meloloskannya tuh."

 

Bisa lolos ya, rambut merah muda? Yah, bukannya tidak mungkin juga sih.

 

Bagaimanapun juga, karena dari dalam terdengar suara-suara,

sepertinya pintunya tidak dikunci. "Permisi," ucapku sambil membuka pintu.

 

"Kamu pasti sudah tidak bisa melupakannya, kan? Katakan 'tambah lagi

dong'."

 

"Mana mungkin... tapi, aku sudah tidak sanggup menahannya lagi."

 

Tepat di depan mata kami, seorang cowok dengan penampilan gaul

mirip host klub malam sedang melakukan kabe-don kepada seorang gadis cantik berambut perak.

 

"Ini bukan tontonan gratis, Asahi."

 

Mata gaul itu kini terarah ke arah kami.




Begitu dia berhenti melakukan kabe-don dan berdiri secara normal, tinggi badannya yang menjulang satu kepala di atas diriku terasa begitu mencolok. Rambut cokelat pendeknya ditata dengan cermat hingga membentuk tatanan yang agak tajam. Tatapan mata yang menatap ke bawah itu terkesan liar, tetapi tidak seperti mataku yang sekadar galak, miliknya memancarkan keceriaan yang liar dan cerah, bahkan dari balik seragamnya yang bagian kerahnya dilonggarkan secara sedikit sembarangan, terlihat jelas kalau bentuk tubuhnya berotot secara sehat.

 

Bagaimana pun dilihat, dia jelas-jelas tipe anak olahraga. Dilihat dari sudut pandang paling moderat pun, dia jelas anak yang sangat populer dan supel (yang-chia). Padahal masih anak SMA, tapi gayanya sudah mirip host kelab malam.

 

Si cowok itu lalu melemparkan barang yang dipegangnya ke arah kami.

"Itu buku terbitan baru bulan ini. Nggak deng, itu judul Romcom of the Year."

 

Buku light novel bergenre komedi romantis harem. Sampulnya menampilkan proporsi warna kulit yang cukup melimpah.

 

"Aku baru aja merekomendasikannya ke senpai. Bikin mendebarkan

tahu. Kamu pasti mendebarkan juga, kan?"

 

"Saya baru baca bagian introduksinya saja, tapi rasanya sudah bagus sekali. Ini benar-benar tercium aroma karya mahakarya. Walaupun baru akhir Mei, saya sangat paham kenapa ini dipanggil Of the Year."

 

Gadis yang tadi di-kabe-don mengangguk-angguk berkali-kali. Setiap kali dia mengangguk, poni rambutnya yang tertata rapi beserta rambut peraknya yang dianyam dengan cermat ikut melambai pelan. Di balik kacamata berbingkai bulat, matanya yang memberi kesan lembut dan hangat berkilau penuh kegembiraan. Pita hijau menghiasi kerah seragamnya yang terpakai sangat rapi, menandakan kalau dia adalah murid kelas tiga.

 

Kardigan yang dipakai di balik blazer, serta kaus kaki ketat hitam yang membungkus kakinya makin memperkuat citra dirinya sebagai seorang putri bangsawan yang anggun.

 

"Jangan ditahan. Rasakan debaran dadamu, Asahi."

 

"Ayo kita rasakan debaran dadanya sama-sama, Asahi-kun."

 

"Jun, Nanaha-senpai, tunggu sebentar. Aku kan baru banget sampai di sini."

 

Saat melirik Tsukino di sampingku, dia melemparkan pandangan yang seolah bilang, "Aku paham kok, memang biasanya begini kan". Benar-benar keberadaan yang sama, saling memahami tanpa perlu bicara.

 

Sosok pecinta light novel yang mirip host klub malam, Hikawa Jun, serta gadis cantik berambut perak mirip karakter fiksi sekaligus ketua Klub Sastra SMA Himurogioka, Hanazuki Nanaha-senpai.

Termasuk berbagi kesan novel dari jarak kabe-don, inilah keseharian di Klub Sastra kami. Buktinya, beberapa anggota klub lain yang ada di ruangan pun sama sekali tidak terganggu.

 

"Hari ini kamu datang lagi ya, Tsukino-chan. Aku senang banget."

 

Nanaha-senpai tersenyum ramah.

 

"Iya, habisnya rasanya saya tertarik juga sih~"

 

Tsukino membalas dengan nada bicara seolah-olah sedang melanjutkan obrolan kemarin dengan Nanaha-senpai.

 

Lagi-lagi saling memahami tanpa perlu bicara. Jadi perlakuan terhadap dirinya memang begitu ya... perasaan itulah yang tersampaikan dari Tsukino.

 

Oleh karena itu, aku berusaha bersikap senatural mungkin lalu berjalan menuju tempat duduk biasaku di ruang klub.

 

Ruang klub yang ukurannya seukuran ruang tamu rumahku ini terdesak

oleh rak buku yang mengelilingi ruangan, hingga rasanya jadi terasa makin menyempit. Di tengah ruangan ada meja-meja yang dirapatkan membentuk persegi panjang untuk dipakai rapat atau sesi kritik-saran, dan di sekelilingnya deretan kursi ditaruh secara sembarangan. Pendek kata, sempit.

 

Aku menarik kursi yang berada di dekat jendela lalu duduk. Tsukino pun berpura-pura sudah terbiasa lalu duduk di sampingku.

"Tsukino-chan ternyata tertarik ya. Bagaimana kalau sekalian jadi anggota resmi saja? Kalau begitu, aku pasti bakal jauh lebih senang lagi. Fasilitas di sini boleh kamu baca sepuasnya loh."

 

Nanaha-senpai terus melancarkan rekrutmennya. Yang dimaksud

"fasilitas" oleh Nanaha-senpai adalah deretan buku yang memenuhi rak.

 

Mulai dari karya pemenang penghargaan sastra yang dibeli klub, buku peninggalan alumni, hingga buku rekomendasi yang dibawa anggota klub saat ini—mulai dari light novel, sastra murni, hingga bahan referensi menumpuk melimpah ruah. Tidak, kenyataannya buku-buku itu memang meluap sampai ke atas meja, bahkan dijejalkan di atas rak buku dan kardus-kardus di sudut ruangan. Sempit.

 

"Aku masih mau memikirkannya sebentar lagi deh."

 

"Ah, Tsukino-chan. Jangan pakai bahasa formal dong. Walaupun aku sendiri pakai bahasa formal, aku tuh tidak mahir kalau dipanggil pakai

bahasa formal sama orang lain."

 

"Oh begitu ya... maksudku, oh iya ya."

 

Gara-gara itu, semua anggota klub dipaksa bicara dengan Sang Ketua menggunakan bahasa kasual seperti bicara ke teman seangkatan.

 

Peraturan aneh macam apa ini? Yah, meski dalam artian tertentu hal itu bikin suasana jadi lebih akrab sih.

 

Bagaimanapun juga, tatapan mata Tsukino yang membalas santai tadi menyampaikan banyak hal, dan tanpa perlu mengutarakan kata-kata pun aku bisa memahaminya. Di Klub Sastra pun, Tsukino dianggap sebagai murid yang sudah ada sejak dulu, dan gambaran hubungan kami di mata mereka pun sama seperti teman-teman sekelas. Tapi, dia bukan berarti sudah jadi anggota klub.

 

Terlepas dari itu, aku berbisik pelan ke Tsukino.

 

"Di dunianya Tsukino, Jun sama Nanaha-senpai juga pembawaannya begitu ya?"

 

"Iya, begitu banget. Jun selalu kabe-don, mukanya selalu dekat banget tanpa jarak, kalau Nanaha-senpai selalu paksain kehendaknya sambil

tersenyum-tersenyum."

 

"Asahi. Di antara kita berdua tidak butuh kata-kata. Pokoknya kamu baca dulu deh."

 

Jun condong maju sekuat tenaga mendekat ke arahku. Tetap saja wajahnya terlalu dekat.

 

Sambil membatin kalau sekarang bukan waktunya buat hal begini, aku mendadak menyadari satu hal.

 

"Tsukino sudah pernah baca ini belum?"

 

"Belum sih. Aku tertarik juga."

Apakah kejadian yang sama tidak terjadi, atau karena momen Jun membawa light novel ini di dunia sana pun bertepatan dengan timing saat ini, jadi secara alur waktu dia memang belum sempat membacanya?

 

Bagaimanapun juga, kami tetap duduk berdampingan sambil membalik-balik halaman buku. Mata Jun berbinar-binar penuh semangat memperhatikan reaksi kami. Wajahnya terlalu dekat.

 

"Nggak, Jun, kamu mundur dikit napa. Aku tidak bisa konsentrasi tahu."

 

"Hahaha! Lelaki yang menarik. Boleh juga."

 

Kamu tuh lelaki yang mukanya terlalu dekat tahu!

 

Begitu Jun menjauh, kami kembali membaca.

 

"Boleh balik ke halaman berikutnya?"

 

"Boleh banget. Kecepatan membaca kita sama juga ya."

 

Gara-gara itu, sejak halaman berikutnya aku tidak perlu bertanya lagi.

 

Aku bisa merasakan kalau kami sedang menyusuri deretan teks yang sama bersamaan.

 

Karena kami membaca buku berukuran bunkobon ini bersama-sama, jarakku dengan Tsukino jadi sangat dekat. Malah lebih dekat dibanding jarak kabe-don-nya Jun. Rambut hitam panjang milik Tsukino menyentuh lengan atasku. Walau terhalang kain blazer, sensasi kelembutannya jelas terasa. Suara gesekan rambut dan pakaian, serta hembusan napas halus Tsukino terdengar samar di dekat telingaku.

 

Aroma yang mirip—tetapi sedikit berbeda—dengan aroma saat kami di kamar setelah mandi kemarin malam mengusap lembut ke hidungku.

 

Konsentrasiku dalam membaca jelas-jelas jadi kacau. Jangan-jangan aku membaca lebih lambat darinya? batinku. Begitu mengintip, mataku beradu dengan mata Tsukino, dan dari sana dia pelan-pelan memalingkan pandangannya. Tidak ada desakan untuk segera membalik halaman.

 

Karena kami keberadaan yang sama dan jalan pikirannya mirip, jangan-jangan tadi dia juga sedang memperhatikanku... aku sempat berpikir begitu, tapi aku tidak bisa mengonfirmasinya dan Tsukino pun tidak akan mengatakannya.

 

Malah hal itu bikin aku bisa kembali fokus membaca.

 

Pokoknya, kami selesai membaca sampai bagian introduksi seperti yang dikatakan Jun.

 

Saat aku mendongakkan kepala dari buku, di seberang meja Jun menarik sudut bibirnya dan memperlihatkan deretan giginya bagaikan binatang pemangsa.

 

"Gimana? Udah tidak bisa terlupakan lagi, kan?"

 

"Baru bagian introduksi sih, belum sampai ke tahap terlupakan atau tidak. Tapi dari awal ceritanya beneran seru."

 

"Meskipun ceritanya komedi romantis harem yang lugas, tapi fakta bahwa semua heroine-nya terikat janji gara-gara diselamatkan secara ekstrem oleh karakter utama itu menarik banget ya. Langkah awalnya

hiu, terus berlanjut ke gunung bersalju, lalu teroris."

 

"Fakta bahwa tiga heroine langsung muncul di awal tapi karakternya menonjol dan imut juga jadi poin kuatnya. Karakter utamanya kerennya tidak masuk akal, tapi karena kegalauannya tergolong wajar, jadinya terasa terhubung banget sama pembaca."

 

"Tepat sekali! Memang tidak salah lagi Asahi sama Tsukino. Kalian paham banget ya!"

 

Jun duduk menyandar santai di kursinya sambil bersikap jemawa. Cuma

gesturnya saja yang terkesan sombong.

 

"Biar nggak spoiler, bakal kubilangin. Yang begini mah masih selevel

mainan anak TK. Bagian dewasanya baru bakal mulai dari sini!"

"Maksudmu ceritanya bakal jadi jauh lebih seru gila-gilaan, kan?"

 

"Nah, itu dia!"

 

"Paham. Aku bakal beli dan baca."

 

Aku menutup bukunya lalu mengembalikannya ke Jun.

"Tapi... karena ini cerita komedi romantis ya mau bagaimana lagi, tapi ceritanya berujung happy end, kan?"

 

"Mulai lagi deh kamu! Kamu mau bilang kalau bad end lebih bagus lagi,

gitu!? Mana ada bad end di cerita komedi romantis!? Lagian, ngapain coba kamu nanya ending-nya duluan!"

 

"Bad end di komedi romantis itu bisa banget masuk akal tahu. Apakah heroine-nya mati?"

 

"Kalau dari sudut pandang perkembangan cerita yang tidak terduga, aku juga ingin lihat kalau dari sini langsung meluncur ke bad end. Para heroine-nya kena nasib yang lebih buruk daripada kematian ya?"

 

"Aku tidak sudi lihat yang begitu! Tolong semuanya bahagia wahai para heroine!"

 

Setelah Jun menengadah menatap langit-langit, bahunya terkulai lemas, dan Nanaha-senpai yang memperhatikannya hanya menyipitkan mata.

Inilah suasana Klub Sastra yang seperti biasa.

 

"Hei, Asahi," Ucap Jun dengan nada bersungguh-sungguh. Di tangannya ada antologi tulisan klub yang diterbitkan beberapa waktu lalu. Itu adalah antologi hasil karya novel anggota klub yang diproduksi beberapa kali dalam setahun. Tentu saja, di dalamnya memuat cerita pendek karya Nanaha-senpai, aku, dan Jun.

 

"Aku kemarin membaca ulang novelmu yang kemarin itu."

Antologi itu adalah milik pribadi Jun, dan terlihat bekas dibaca berulang kali.

 

Mata keliarannya menatap lurus ke arahku. Karena badannya condong ke depan sekuat tenaga, jarak kami jadi terasa agak dekat lagi.

 

"Aku suka banget sama kamu."

 

"Maksudmu sama novelku, kan?"

 

"Bukanlah! Kamu ini ngomong apa sih!?"

 

Reaksi itu sudah seperti biasa, tetapi jujur saja agak bikin jengkel.

 

"...Aku pernah dibilangi begini tahu: 'Sama sekali tidak ada rasa tertarik sebagai lawan jenis, jadi jangan salah paham ya', baru setelah kalimat pembuka itu dia menyampaikan pesan dan kesannya tentang novelku,"

bisik Tsukino pelan.

 

"Kalau yang begitu sih halal buat dipukul."

 

"Tentu saja refleks kupukul."

 

Dipukul ternyata...

 

Jun berdeham pelan, membuatku kembali menatap ke arahnya.

 

"Intinya begini. Aku suka banget sama novelmu. Seperti yang kamu lihat, aku sudah membaca ulangnya entah berapa kali."

 

Alih-alih sekadar dibaca ulang, buku antologi itu bahkan sudah sampai rombeng gara-gara terlalu sering dibaca.

 

"Agak bikin merinding sih."

 

"Tenang saja, aku sendiri juga merinding karena terlalu suka. Tapi tetep tidak bisa menahannya tahu!"

 

"Malah makin menakutkan."

 

"Intinya begini! Pertama, karakternya bagus. Walau ditulis memakai atribut yang gampang dipahami sebagai hiburan, penokohannya benar-benar didukung oleh latar belakang dan kepribadian yang matang.

Makanya terasa berisi. Penokohan yang ekstrem, serta dialog yang rasanya tidak mungkin diucapkan di percakapan sehari-hari pun terasa pas justru karena dialah yang mengucapkannya!"

 

Wajahnya sudahlah dekat, bicaranya cepat lagi. Nanaha-senpai di belakangnya mengangguk-angguk sambil bergumam, "Benar, benar."

 

"Tidak cuma karakter, struktur ceritanya juga luar biasa! Sambil memegang pola cerita dasar untuk membangun alur yang kokoh, kamu menyiapkan beberapa perkembangan yang mengecoh ekspektasi pembaca di dalam cerita. Ini adalah bukti kalau kamu membangun cerita dari sudut pandang 'bagaimana pikiran pembaca nantinya?'!"

 

"Jun di tempatku juga menaikkan nilai evaluasinya sampai ke tingkat yang agak menjijikkan begini nih," tambah Tsukino.

Rupanya Jun di dunia Tsukino juga sama saja.

 

"Lalu, penggambarannya! Beragam ekspresi keluar dari kosakata yang melimpah. Namun, kalimatnya tetap enak dibaca tanpa tenggelam dalam gaya bahasa. Tidak sekadar menggambarkan pemandangan atau penampilan fisik, kamu bisa mengekspresikan suasana hati karakter, foreshadowing, hingga citra di setiap adegan secara bersamaan! Aku iri banget sama selera seni semacam itu. Aku sendiri belum sampai ke tingkat sana!"

 

"Anu... Terima kasih."

 

"TAPI!!"

 

Jun mendadak memukul meja dengan kedua tangannya. Dia makin mendesak ke arahku sampai tubuhnya hampir naik ke atas meja.

 

"Kenapa harus bad end coba!? Aku kan lagi menikmati alur komedi romantis karena mikir Shizuka itu cewek yang menarik, tapi gara-gara tragedi beruntun di babak kedua, dia malah putus asa sama seluruh hidupnya lalu mati begitu saja, kan!?"

 

"Aku merasa membunuhnya adalah sebuah kesalahan sih. Harusnya kalau dia dibiarkan tetap hidup, dia bakal makin menderita."

 

"Darahmu warna hijau apa gimana sih, hah!?"

 

Setelah berteriak histeris, dia menghela napas sesal yang dalam.

 

"Tapi ya. Alasan aku menyuruhmu berhenti bikin bad end itu bukan cuma gara-gara kasihan sama cewekku doang tahu."

 

"Jangan seenaknya mengklaim karakter orang lain jadi cewekmu dong."

 

"Biarin, apa salahnya!? Intinya begini! Secara logika, novel buatan Asahi itu PASTI jauh lebih seru kalau tidak berakhir bad end! Malah perkembangan bad end-nya itu terkesan mendadak, sampai-sampai struktur cerita yang tadinya bagus banget malah jadi acak-acakan di babak akhir!"

 

"Itu... memang jadi bahan evaluasiku sih."

 

Saat memikirkan alur di babak kedua, aku memang ingat kalau fokusku terlalu terserap pada 'bagaimana caranya agar jadi bad end', dan aku sendiri sempat merasa alurnya agak dipaksakan.

 

"Kan sudah sering kubilang! Pembaca itu tidak menginginkan bad end! Seberapa pun tragis nasib yang menimpa di awal atau pertengahan cerita, pada akhirnya karakter utama bakal berkembang, makin membaik, lalu cerita berakhir. Happy end seperti itulah bentuk dasar dari sebuah cerita! Bad end cuma merusak hal itu, dan kenyataannya alurnya jadi terasa dipaksakan, kan!"

 

Semangat berkobar menyala di kedalaman mata Jun.

 

"Aku ini penganut setia Happy End (Hapien). Dan itu adalah hukum

dasar hiburan!"

Meskipun Jun cuma kelihatan seperti cowok supel yang dangkal dan gaul, dia sebenarnya jauh lebih giat meriset hiburan dan bekerja keras dibanding siapa pun di Klub Sastra. Dia bahkan menjadi salah satu penulis novel paling produktif di klub ini. Selain itu, bentuk tubuhnya yang kekar sekarang ini ada karena dia terinspirasi oleh karakter utama light novel favoritnya yang melatih diri di dalam cerita, lalu berlebihan melatih tubuhnya sendiri.

 

Oleh karena itu, kata-katanya bukanlah sekadar teori di atas kertas. Itu adalah teori berdasarkan praktik nyata.

 

Meski begitu, perdebatan antara penganut Hapien dan penganut Badoen tetap seperti biasa.

 

Aku membuka mulut hendak membalas, tetapi kata-kata mendadak menyumbat di tenggorokan.

 

Rasa tidak puas yang ditunjukkan penonton lain usai pemutaran Infinity

Heaven kembali terngiang di benakku: "Kenapa coba bukan happy end? Aneh banget, kan?", "Dikira kalau bikin bad end bakal langsung bagus apa."

 

Aku mencintai bad end, tetapi dunia tidak menginginkan bad end. Aku sadar kalau diriku adalah kaum minoritas.

 

Mengejar hal yang tidak diinginkan siapa pun, dan berusaha menulis hal yang tidak dicari siapa pun. Apakah kegiatan berkarya seperti itu ada artinya?

 

"Asahi. Kamu nurut saja sama perkataanku, tulislah komedi romantis yang berakhir happy end saja."

 

Jun bahkan mulai mengucapkan hal-hal yang mirip pacar tipe tidak benar.

 

Namun, sejujurnya... aku memang memendam pergulatan batin itu.

 

Terkadang, menulis happy end pun mungkin—

 

"Soal itu, apa iya begitu?"

 

Suara tajam itu berasal dari tepat di sampingku.

 

Rambut hitam panjangnya sama sekali tidak bergoyang. Bunga mawar berhias warna hitam dan perak berkilau tenang diterpa pencahayaan ruang klub. Pandangan matanya yang tajam dan dingin menembus manik mata Jun yang dipenuhi keliaran dan gairah.

 

Tsukino berdiri. Sambil bersedekap ringan, postur tubuhnya yang tegak lurus tampak sangat anggun. Dia melirikku sekilas dalam sekejap, lalu menarik sudut bibirnya yang berwarna tipis.

 

"Yang jadi masalah sekarang ini kan cuma gara-gara perkembangannya terlalu mendadak akibat Sudden Strike (Bencana Tak Terduga), kan?"

 

"Sadd... Sadden apa? Apaan tuh?"

 

"Perkembangan mendadak menuju bad end. Kami menyebutnya Sudden Strike (Bencana Tak Terduga). Bisa dibilang ini pengetahuan umum."

 

"Mendadak pakai istilah buatan sendiri begini, kamu bukannya kelewatan sebagai cewek yang menarik, hah!?"

 

"Ini memang teknik yang bisa dibilang tingkat dasar bagi kami."

 

"Di luar tempat ini, aku sama sekali tidak bisa membayangkan kapan istilah itu bisa dipakai tahu!?"

 

Meski Jun panik, Tsukino tidak memedulikannya dan terus melanjutkan.

 

"Aku mengakui kalau Asahi sering kali terlalu mengincar Sudden Strike

(Bencana Tak Terduga), sampai-sampai bikin perkembangan mendadak dari pertengahan ke babak akhir yang tidak bisa diikuti pembaca."

 

Dia malah mengakuinya. Tidak, maksudnya karena Tsukino adalah aku, berarti dia punya kebiasaan buruk yang sama.

 

"Tapi itu masalah struktur cerita. Masih ada cara untuk memperbaikinya. Ya... dengan Ouroboros the End (Sebab-Akibat Mutlak)!"

 

"Bohong kan!? Ada istilah tak dikenal lagi!?"

 

"Biar kujelaskan pada pemula bad end agar mudah dipahami. Ouroboros the End (Sebab-Akibat Mutlak) adalah foreshadowing yang disiapkan dengan cermat sebelum perkembangan bad end terjadi. Artinya, tindakan yang dilakukan oleh karakter utama saling terikat hingga memicu bad end di fase terakhir."

 

"Benar sekali. Misalnya dari sudut pandang pembaca, pertanda petaka yang akan menimpa karakter utama telah digambarkan dengan kokoh.

Atau ada alur di mana karakter utama melompati batas etika yang tidak boleh dilanggar. Kalau perkembangan bad end-nya berawal dari sana, struktur ceritanya tidak bakal terasa dipaksakan."

 

"...Begitu ya. Memang benar-benar begitu sih!"

 

"Kalau foreshadowing-nya dibuat lihai, kita bahkan bisa menghiasi bad end bersama dengan Sudden Strike (Bencana Tak Terduga). Saat petaka mendadak menyerang karakter utama, pembaca bakal sadar kalau itu bukanlah hal yang tiba-tiba, melainkan sebab-akibat yang mutlak!"

 

Tsukino mengarahkan telunjuknya tepat ke hadapan Jun.

 

"Itulah Ouroboros the End (Sebab-Akibat Mutlak)!"

 

Jun menahan napas dan terperanjat mundur. Anggota klub lain yang tanpa sadar ikut menyimak melontarkan gumaman, "Ooh...", sementara

Nanaha-senpai menepuk tangan dengan mata di balik kacamatanya yang berbinar-binar.

 

Selama ini aku selalu kalah berdebat dengan Jun. Selain karena argumen

Jun berlandaskan teori, di klub ini juga tidak ada anggota lain yang setuju dengan bad end.

Setiap saat, penyuka bad end itu cuma aku seorang.

 

Namun sekarang, Tsukino berdiri berdampingan denganku. Dia menyukai hal yang sama denganku.

 

"Ya. Aku paham masukan dari Jun. Terima kasih, ini sangat membantu. Makanya kali ini aku bakal memanfaatkan Ouroboros the End (Sebab-Akibat Mutlak) untuk menulis bad end dengan struktur yang bisa diterima pembaca."

 

Atas deklarasi itu, Jun mengatupkan bibirnya lalu merenggangkan tubuhnya mundur.

 

"Luar biasa banget! Bikin cerita itu jadi tidak terlupakan buatku ya!"

 

Sambil menyisir rambut pendeknya yang tajam, dia memperlihatkan senyuman seperti binatang yang memperlihatkan taringnya.

 

"Tapi terlepas dari itu semua ya. Hal tadi belum menjawab perdebatan kalau pembaca jauh lebih menginginkan happy end daripada bad end tahu."

 

""Guh.""

 

Kami berdua mengerang bersamaan. Aku sangat paham. "Guh" yang barusan benar-benar mewakili rasa bungkam total sampai-sampai suara keluhan pun tidak sanggup terucap.

 

"Tuh kan, lihat sendiri! Tapi ya, aku juga tidak berpikir kalau semua bad end itu buruk kok. Contohnya di antara bad end kan ada yang namanya Merry Bad End, kan? Secara situasi itu bad end, tapi karakter utamanya sendiri merasa puas."

 

""Hah?""

 

Suaraku dan suara Tsukino melengking padu secara bersamaan.

 

""Itu bukan bad end!""

 

"Mana boleh karakter utamanya merasa puas! Garis start bad end itu antara menyesal atau putus asa!"

 

Tsukino tiba-tiba mengamuk, dan aku pun ikut mengamuk.

 

"Lagi pula, definisi Merry Bad End sendiri kan masih ambigu."

 

"Bahkan di antara orang-orang yang sering pakai istilah Merry Bad End,

perdebatan soal seberapa jauh batasannya itu masih pecah."

 

"Hah...... Seram banget. Penganut setia bad end ini benar-benar menarik ya... Kalau gitu, bagaimana dengan cerita bertema penyakit parah yang di akhir ceritanya menyuguhkan tragedi, tapi bisa bikin terharu?"

 

""Hahhh?""

 

"Itu juga bukan bad end!"

"Pembaca itu tidak boleh merasa terharu! Guncangan, kesedihan, dan kemarahan sampai-sampai membuat hati hancur berkeping-keping. Itulah garis start dari bad end."

 

Tsukino dan aku kembali mengamuk.

 

"Betul. Aku ingin hatiku disobek-sobek berkeping-keping oleh bad end."

 

"Aku juga mau guncangan yang cukup bikin aku tidak bisa bangkit selama beberapa hari."

 

"Seriusan? Fetish kalian berdua khusus banget. Aku jadi ngeri sampai mau nangis nih."

 

Jun merinding sambil mencondongkan tubuhnya ke belakang.

 

"Tapi ya, walau begitu..."

 

"Fufu, ufufu. Fufufufufu."

 

Suara tawa itu memotong percakapan antara kami dan Jun.

 

Seseorang yang sedang menutupi mulutnya sambil mengguncang-guncangkan punggungnya adalah Nanaha-senpai. Bahkan ada air mata di sudut matanya. Dia tertawa terlalu keras.

 

"Maaf ya. Ini seru banget. Rasanya tidak tertahankan."

 

Nanaha-senpai menyipitkan mata di balik kacamatanya dengan rasa senang yang terpancar dari lubuk hatinya. Pipi putihnya merona cerah.

 

"Bagus kok. Menurutku ini benar-benar bagus. Pertukaran teori kepenulisan yang berapi-api begini benar-benar terasa seperti Klub Sastra."

 

Ucapannya terdengar begitu terpesona.

 

"Aku paham kalau happy end itu luar biasa, dan aku juga paham kecintaan kalian terhadap bad end. Ada banyak karya bad end yang disebut sebagai karya agung, dan aku juga punya karya favorit. Tapi..."

 

Nanaha-senpai melanjutkan perkataannya sambil tersenyum lebar.

 

"Terlepas dari apakah kalian menerapkan teori kepenulisan itu atau

tidak, entah itu happy end maupun bad end, bukankah ada hukum mutlak?"

 

Dia mendorong kacamatanya ke atas. Gerakan itu berulang hingga tiga kali.

 

"Wah. Nanaha-senpai mengeluarkan jurus itu lagi."

 

"Nanaha-senpai di sana juga melakukan hal itu ya."

 

Jurus yang bisa dibilang sudah menjadi tradisi di Klub Sastra. Jun dan anggota klub lainnya memasang ekspresi "Wah, mulai lagi nih".

"Novel mana yang jauh lebih seru? Itulah hukum mutlak dari kebenaran! Ayo kita bandingkan novel buatan Asahi-kun dan Jun-kun, lalu kita bedah lewat sesi kritik-saran untuk menentukan mana yang lebih seru dan tentukan pemenangnya!"

 

Nanaha-senpai bertepuk tangan dengan kencang.

 

"Pertarungan novel! Kita mulai dengan semangat 'Saling bunuhlah kalian semua!'!"

 

Dia menyemangati dirinya sendiri dengan antusias. Kedua tangannya mengepal erat sambil berputar-putar melakukan tarian kecil yang imut.

 

Anggota klub yang lain pun ikut bertepuk tangan meski terdengar sporadis.

 

"Nanaha-senpai ini cewek yang menarik banget... Hari ini pun otaknya masih seperti anime hobi."

 

"senpai kita itu kadang-kadang memperlakukan novel seperti permainan kartu atau Beyblade, sih."

 

"Ternyata di sini pun kalau sedikit berdebat langsung mulai ya,

pertarungan novel."

 

Aku tidak menyangka pertarungan novel ternyata juga dikobarkan di alam semesta yang berbeda. Rasanya kalau diberi kesempatan, dia bahkan sanggup mempertaruhkan nasib seluruh umat manusia demi bertarung lewat novel.

"Anu... senpai memutuskan ini secara sepihak, tapi apa benar tidak apa-apa pakai semangat 'saling bunuh'? Sesi kritik-saran kan aslinya bukan ajang untuk saling bertarung."

 

Tolong jangan mendadak kembali bersikap normal begitu. Yah, pemicu

Nanaha-senpai mencetuskan ide pertarungan novel ini adalah karena aku dan Jun terus-menerus meributkan soal hapien dan badoen di setiap kesempatan, dan di klub ini yang biasanya hobi bertarung lewat cerita cuma aku, Jun, dan Nanaha-senpai. Anggota klub yang lain biasanya melakukan sesi kritik-saran atau sekadar diskusi kesan-pesan secara normal.

 

"Aku sudah tidak tahan lagi. Kebetulan aku baru saja menyelesaikan sebuah novel."

 

Jun memperlihatkan taringnya dengan nada menantang.

 

"Aku juga punya bad end yang sebentar lagi rampung."

 

Begitu mengatakannya, aku langsung merasa menyesal.

 

Bukankah Tsukino harus mencari cara agar bisa kembali ke dunianya?

 

Memangnya ada waktu untuk hal seperti ini?

 

Sebuah ketukan pelan menyentuh tanganku.

 

Tsukino yang berdiri di sampingku membenturkan kepalan tangannya ke tanganku, dan aku tahu dia diam-diam sedang melakukan fist bump ala Infinity Heaven.

 

Pandangan kami saling bertemu. Sorot matanya yang tegas—meski sekilas terlihat dingin—menyampaikan pesan, "Kita harus menang, ya."

 

Seperti yang dilakukan Tsukino padaku tadi, aku juga mengetukkan kepalan tanganku secara perlahan ke tangan Tsukino.

 

More bad, more hell.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close