Bab 4: Klub
Sastra di Dunia Paralel Ternyata Lumayan Aneh Juga
Hari-hari mulai terasa lebih panjang di
akhir bulan Mei. Bahkan saat jam pulang sekolah tiba, matahari masih membumbung
tinggi dan senja
masih teramat jauh.
Dari area ruang klub di lantai tiga
gedung barat, pemandangan ke arah
utara kota, termasuk taman observasi,
terlihat sangat jelas.
Di jajaran ruang klub kegiatan
kebudayaan, poster milik masing-masing klub tertempel di pintu-pintu yang mulai
berkarat. Di antara jajaran pintu itu, sebuah ilustrasi siswi SMA berambut
pirang dengan nuansa light novel yang kental (gambarnya lumayan bagus) sedang
memegang buku sambil menatap ke arah luar dengan pandangan menyipit; itulah
ruang Klub Sastra.
"Ini poster yang bikin adik kelas
marah gara-gara terlalu light novel, sampai anak-anak penyuka sastra murni jadi
tidak berani masuk, kan."
"Di tempat Tsukino ternyata begitu
juga?"
"Anak yang menggambarnya sendiri
beralih alasan kalau di karya hiburan umum pun, ilustrasi yang berfokus pada
karakter sudah lazim dipakai, jadi dia mengklaim itu masih dalam batas
toleransi."
"Cerita yang sangat
kufamiliar."
"Tapi rambut karakter di poster
sebelah sini warnanya merah muda ya."
"Kalau warna merah muda sih rasanya
tidak bakal lolos di karya hiburan umum."
"Tapi dia berhasil meloloskannya
tuh."
Bisa lolos ya, rambut merah muda? Yah,
bukannya tidak mungkin juga sih.
Bagaimanapun juga, karena dari dalam
terdengar suara-suara,
sepertinya pintunya tidak dikunci.
"Permisi," ucapku sambil membuka pintu.
"Kamu pasti sudah tidak bisa
melupakannya, kan? Katakan 'tambah lagi
dong'."
"Mana mungkin... tapi, aku sudah
tidak sanggup menahannya lagi."
Tepat di depan mata kami, seorang cowok
dengan penampilan gaul
mirip host klub malam sedang melakukan
kabe-don kepada seorang gadis cantik berambut perak.
"Ini bukan tontonan gratis,
Asahi."
Mata gaul itu kini terarah ke arah kami.
Begitu dia berhenti melakukan kabe-don
dan berdiri secara normal, tinggi badannya yang menjulang satu kepala di atas
diriku terasa begitu mencolok. Rambut cokelat pendeknya ditata dengan cermat
hingga membentuk tatanan yang agak tajam. Tatapan mata yang menatap ke bawah
itu terkesan liar, tetapi tidak seperti mataku yang sekadar galak, miliknya
memancarkan keceriaan yang liar dan cerah, bahkan dari balik seragamnya yang
bagian kerahnya dilonggarkan secara sedikit sembarangan, terlihat jelas kalau
bentuk tubuhnya berotot secara sehat.
Bagaimana pun dilihat, dia jelas-jelas
tipe anak olahraga. Dilihat dari sudut pandang paling moderat pun, dia jelas
anak yang sangat populer dan supel (yang-chia). Padahal masih anak SMA, tapi
gayanya sudah mirip host kelab malam.
Si cowok itu lalu melemparkan barang yang
dipegangnya ke arah kami.
"Itu buku terbitan baru bulan ini.
Nggak deng, itu judul Romcom of the Year."
Buku light novel bergenre komedi romantis
harem. Sampulnya menampilkan proporsi warna kulit yang cukup melimpah.
"Aku baru aja merekomendasikannya ke
senpai. Bikin mendebarkan
tahu. Kamu pasti mendebarkan juga,
kan?"
"Saya baru baca bagian introduksinya
saja, tapi rasanya sudah bagus sekali. Ini benar-benar tercium aroma karya
mahakarya. Walaupun baru akhir Mei, saya sangat paham kenapa ini dipanggil Of
the Year."
Gadis yang tadi di-kabe-don
mengangguk-angguk berkali-kali. Setiap kali dia mengangguk, poni rambutnya yang
tertata rapi beserta rambut peraknya yang dianyam dengan cermat ikut melambai
pelan. Di balik kacamata berbingkai bulat, matanya yang memberi kesan lembut
dan hangat berkilau penuh kegembiraan. Pita hijau menghiasi kerah seragamnya
yang terpakai sangat rapi, menandakan kalau dia adalah murid kelas tiga.
Kardigan yang dipakai di balik blazer,
serta kaus kaki ketat hitam yang membungkus kakinya makin memperkuat citra
dirinya sebagai seorang putri bangsawan yang anggun.
"Jangan ditahan. Rasakan debaran
dadamu, Asahi."
"Ayo kita rasakan debaran dadanya
sama-sama, Asahi-kun."
"Jun, Nanaha-senpai, tunggu
sebentar. Aku kan baru banget sampai di sini."
Saat melirik Tsukino di sampingku, dia
melemparkan pandangan yang seolah bilang, "Aku paham kok, memang biasanya
begini kan". Benar-benar keberadaan yang sama, saling memahami tanpa perlu
bicara.
Sosok pecinta light novel yang mirip host
klub malam, Hikawa Jun, serta gadis cantik berambut perak mirip karakter fiksi
sekaligus ketua Klub Sastra SMA Himurogioka, Hanazuki Nanaha-senpai.
Termasuk berbagi kesan novel dari jarak
kabe-don, inilah keseharian di Klub Sastra kami. Buktinya, beberapa anggota
klub lain yang ada di ruangan pun sama sekali tidak terganggu.
"Hari ini kamu datang lagi ya,
Tsukino-chan. Aku senang banget."
Nanaha-senpai tersenyum ramah.
"Iya, habisnya rasanya saya tertarik
juga sih~"
Tsukino membalas dengan nada bicara
seolah-olah sedang melanjutkan obrolan kemarin dengan Nanaha-senpai.
Lagi-lagi saling memahami tanpa perlu
bicara. Jadi perlakuan terhadap dirinya memang begitu ya... perasaan itulah
yang tersampaikan dari Tsukino.
Oleh karena itu, aku berusaha bersikap
senatural mungkin lalu berjalan menuju tempat duduk biasaku di ruang klub.
Ruang klub yang ukurannya seukuran ruang
tamu rumahku ini terdesak
oleh rak buku yang mengelilingi ruangan,
hingga rasanya jadi terasa makin menyempit. Di tengah ruangan ada meja-meja
yang dirapatkan membentuk persegi panjang untuk dipakai rapat atau sesi
kritik-saran, dan di sekelilingnya deretan kursi ditaruh secara sembarangan.
Pendek kata, sempit.
Aku menarik kursi yang berada di dekat
jendela lalu duduk. Tsukino pun berpura-pura sudah terbiasa lalu duduk di
sampingku.
"Tsukino-chan ternyata tertarik ya.
Bagaimana kalau sekalian jadi anggota resmi saja? Kalau begitu, aku pasti bakal
jauh lebih senang lagi. Fasilitas di sini boleh kamu baca sepuasnya loh."
Nanaha-senpai terus melancarkan
rekrutmennya. Yang dimaksud
"fasilitas" oleh Nanaha-senpai
adalah deretan buku yang memenuhi rak.
Mulai dari karya pemenang penghargaan
sastra yang dibeli klub, buku peninggalan alumni, hingga buku rekomendasi yang
dibawa anggota klub saat ini—mulai dari light novel, sastra murni, hingga bahan
referensi menumpuk melimpah ruah. Tidak, kenyataannya buku-buku itu memang
meluap sampai ke atas meja, bahkan dijejalkan di atas rak buku dan
kardus-kardus di sudut ruangan. Sempit.
"Aku masih mau memikirkannya
sebentar lagi deh."
"Ah, Tsukino-chan. Jangan pakai
bahasa formal dong. Walaupun aku sendiri pakai bahasa formal, aku tuh tidak
mahir kalau dipanggil pakai
bahasa formal sama orang lain."
"Oh begitu ya... maksudku, oh iya
ya."
Gara-gara itu, semua anggota klub dipaksa
bicara dengan Sang Ketua menggunakan bahasa kasual seperti bicara ke teman
seangkatan.
Peraturan aneh macam apa ini? Yah, meski
dalam artian tertentu hal itu bikin suasana jadi lebih akrab sih.
Bagaimanapun juga, tatapan mata Tsukino
yang membalas santai tadi menyampaikan banyak hal, dan tanpa perlu mengutarakan
kata-kata pun aku bisa memahaminya. Di Klub Sastra pun, Tsukino dianggap
sebagai murid yang sudah ada sejak dulu, dan gambaran hubungan kami di mata
mereka pun sama seperti teman-teman sekelas. Tapi, dia bukan berarti sudah jadi
anggota klub.
Terlepas dari itu, aku berbisik pelan ke
Tsukino.
"Di dunianya Tsukino, Jun sama
Nanaha-senpai juga pembawaannya begitu ya?"
"Iya, begitu banget. Jun selalu
kabe-don, mukanya selalu dekat banget tanpa jarak, kalau Nanaha-senpai selalu
paksain kehendaknya sambil
tersenyum-tersenyum."
"Asahi. Di antara kita berdua tidak
butuh kata-kata. Pokoknya kamu baca dulu deh."
Jun condong maju sekuat tenaga mendekat
ke arahku. Tetap saja wajahnya terlalu dekat.
Sambil membatin kalau sekarang bukan
waktunya buat hal begini, aku mendadak menyadari satu hal.
"Tsukino sudah pernah baca ini
belum?"
"Belum sih. Aku tertarik juga."
Apakah kejadian yang sama tidak terjadi,
atau karena momen Jun membawa light novel ini di dunia sana pun bertepatan
dengan timing saat ini, jadi secara alur waktu dia memang belum sempat
membacanya?
Bagaimanapun juga, kami tetap duduk
berdampingan sambil membalik-balik halaman buku. Mata Jun berbinar-binar penuh
semangat memperhatikan reaksi kami. Wajahnya terlalu dekat.
"Nggak, Jun, kamu mundur dikit napa.
Aku tidak bisa konsentrasi tahu."
"Hahaha! Lelaki yang menarik. Boleh
juga."
Kamu tuh lelaki yang mukanya terlalu
dekat tahu!
Begitu Jun menjauh, kami kembali membaca.
"Boleh balik ke halaman
berikutnya?"
"Boleh banget. Kecepatan membaca
kita sama juga ya."
Gara-gara itu, sejak halaman berikutnya
aku tidak perlu bertanya lagi.
Aku bisa merasakan kalau kami sedang
menyusuri deretan teks yang sama bersamaan.
Karena kami membaca buku berukuran
bunkobon ini bersama-sama, jarakku dengan Tsukino jadi sangat dekat. Malah
lebih dekat dibanding jarak kabe-don-nya Jun. Rambut hitam panjang milik
Tsukino menyentuh lengan atasku. Walau terhalang kain blazer, sensasi kelembutannya
jelas terasa. Suara gesekan rambut dan pakaian, serta hembusan napas halus
Tsukino terdengar samar di dekat telingaku.
Aroma yang mirip—tetapi sedikit
berbeda—dengan aroma saat kami di kamar setelah mandi kemarin malam mengusap
lembut ke hidungku.
Konsentrasiku dalam membaca jelas-jelas
jadi kacau. Jangan-jangan aku membaca lebih lambat darinya? batinku. Begitu
mengintip, mataku beradu dengan mata Tsukino, dan dari sana dia pelan-pelan
memalingkan pandangannya. Tidak ada desakan untuk segera membalik halaman.
Karena kami keberadaan yang sama dan
jalan pikirannya mirip, jangan-jangan tadi dia juga sedang memperhatikanku...
aku sempat berpikir begitu, tapi aku tidak bisa mengonfirmasinya dan Tsukino
pun tidak akan mengatakannya.
Malah hal itu bikin aku bisa kembali
fokus membaca.
Pokoknya, kami selesai membaca sampai
bagian introduksi seperti yang dikatakan Jun.
Saat aku mendongakkan kepala dari buku,
di seberang meja Jun menarik sudut bibirnya dan memperlihatkan deretan giginya
bagaikan binatang pemangsa.
"Gimana? Udah tidak bisa terlupakan
lagi, kan?"
"Baru bagian introduksi sih, belum
sampai ke tahap terlupakan atau tidak. Tapi dari awal ceritanya beneran
seru."
"Meskipun ceritanya komedi romantis
harem yang lugas, tapi fakta bahwa semua heroine-nya terikat janji gara-gara
diselamatkan secara ekstrem oleh karakter utama itu menarik banget ya. Langkah
awalnya
hiu, terus berlanjut ke gunung bersalju,
lalu teroris."
"Fakta bahwa tiga heroine langsung
muncul di awal tapi karakternya menonjol dan imut juga jadi poin kuatnya.
Karakter utamanya kerennya tidak masuk akal, tapi karena kegalauannya tergolong
wajar, jadinya terasa terhubung banget sama pembaca."
"Tepat sekali! Memang tidak salah
lagi Asahi sama Tsukino. Kalian paham banget ya!"
Jun duduk menyandar santai di kursinya
sambil bersikap jemawa. Cuma
gesturnya saja yang terkesan sombong.
"Biar nggak spoiler, bakal
kubilangin. Yang begini mah masih selevel
mainan anak TK. Bagian dewasanya baru
bakal mulai dari sini!"
"Maksudmu ceritanya bakal jadi jauh
lebih seru gila-gilaan, kan?"
"Nah, itu dia!"
"Paham. Aku bakal beli dan
baca."
Aku menutup bukunya lalu mengembalikannya
ke Jun.
"Tapi... karena ini cerita komedi
romantis ya mau bagaimana lagi, tapi ceritanya berujung happy end, kan?"
"Mulai lagi deh kamu! Kamu mau
bilang kalau bad end lebih bagus lagi,
gitu!? Mana ada bad end di cerita komedi
romantis!? Lagian, ngapain coba kamu nanya ending-nya duluan!"
"Bad end di komedi romantis itu bisa
banget masuk akal tahu. Apakah heroine-nya mati?"
"Kalau dari sudut pandang
perkembangan cerita yang tidak terduga, aku juga ingin lihat kalau dari sini
langsung meluncur ke bad end. Para heroine-nya kena nasib yang lebih buruk
daripada kematian ya?"
"Aku tidak sudi lihat yang begitu!
Tolong semuanya bahagia wahai para heroine!"
Setelah Jun menengadah menatap
langit-langit, bahunya terkulai lemas, dan Nanaha-senpai yang memperhatikannya
hanya menyipitkan mata.
Inilah suasana Klub Sastra yang seperti
biasa.
"Hei, Asahi," Ucap Jun dengan
nada bersungguh-sungguh. Di tangannya ada antologi tulisan klub yang
diterbitkan beberapa waktu lalu. Itu adalah antologi hasil karya novel anggota
klub yang diproduksi beberapa kali dalam setahun. Tentu saja, di dalamnya
memuat cerita pendek karya Nanaha-senpai, aku, dan Jun.
"Aku kemarin membaca ulang novelmu
yang kemarin itu."
Antologi itu adalah milik pribadi Jun,
dan terlihat bekas dibaca berulang kali.
Mata keliarannya menatap lurus ke arahku.
Karena badannya condong ke depan sekuat tenaga, jarak kami jadi terasa agak
dekat lagi.
"Aku suka banget sama kamu."
"Maksudmu sama novelku, kan?"
"Bukanlah! Kamu ini ngomong apa
sih!?"
Reaksi itu sudah seperti biasa, tetapi
jujur saja agak bikin jengkel.
"...Aku pernah dibilangi begini
tahu: 'Sama sekali tidak ada rasa tertarik sebagai lawan jenis, jadi jangan
salah paham ya', baru setelah kalimat pembuka itu dia menyampaikan pesan dan
kesannya tentang novelku,"
bisik Tsukino pelan.
"Kalau yang begitu sih halal buat
dipukul."
"Tentu saja refleks kupukul."
Dipukul ternyata...
Jun berdeham pelan, membuatku kembali
menatap ke arahnya.
"Intinya begini. Aku suka banget
sama novelmu. Seperti yang kamu lihat, aku sudah membaca ulangnya entah berapa
kali."
Alih-alih sekadar dibaca ulang, buku
antologi itu bahkan sudah sampai rombeng gara-gara terlalu sering dibaca.
"Agak bikin merinding sih."
"Tenang saja, aku sendiri juga
merinding karena terlalu suka. Tapi tetep tidak bisa menahannya tahu!"
"Malah makin menakutkan."
"Intinya begini! Pertama,
karakternya bagus. Walau ditulis memakai atribut yang gampang dipahami sebagai
hiburan, penokohannya benar-benar didukung oleh latar belakang dan kepribadian
yang matang.
Makanya terasa berisi. Penokohan yang
ekstrem, serta dialog yang rasanya tidak mungkin diucapkan di percakapan
sehari-hari pun terasa pas justru karena dialah yang mengucapkannya!"
Wajahnya sudahlah dekat, bicaranya cepat
lagi. Nanaha-senpai di belakangnya mengangguk-angguk sambil bergumam,
"Benar, benar."
"Tidak cuma karakter, struktur
ceritanya juga luar biasa! Sambil memegang pola cerita dasar untuk membangun
alur yang kokoh, kamu menyiapkan beberapa perkembangan yang mengecoh ekspektasi
pembaca di dalam cerita. Ini adalah bukti kalau kamu membangun cerita dari
sudut pandang 'bagaimana pikiran pembaca nantinya?'!"
"Jun di tempatku juga menaikkan
nilai evaluasinya sampai ke tingkat yang agak menjijikkan begini nih,"
tambah Tsukino.
Rupanya Jun di dunia Tsukino juga sama
saja.
"Lalu, penggambarannya! Beragam
ekspresi keluar dari kosakata yang melimpah. Namun, kalimatnya tetap enak
dibaca tanpa tenggelam dalam gaya bahasa. Tidak sekadar menggambarkan
pemandangan atau penampilan fisik, kamu bisa mengekspresikan suasana hati
karakter, foreshadowing, hingga citra di setiap adegan secara bersamaan! Aku
iri banget sama selera seni semacam itu. Aku sendiri belum sampai ke tingkat
sana!"
"Anu... Terima kasih."
"TAPI!!"
Jun mendadak memukul meja dengan kedua
tangannya. Dia makin mendesak ke arahku sampai tubuhnya hampir naik ke atas
meja.
"Kenapa harus bad end coba!? Aku kan
lagi menikmati alur komedi romantis karena mikir Shizuka itu cewek yang
menarik, tapi gara-gara tragedi beruntun di babak kedua, dia malah putus asa
sama seluruh hidupnya lalu mati begitu saja, kan!?"
"Aku merasa membunuhnya adalah
sebuah kesalahan sih. Harusnya kalau dia dibiarkan tetap hidup, dia bakal makin
menderita."
"Darahmu warna hijau apa gimana sih,
hah!?"
Setelah berteriak histeris, dia menghela
napas sesal yang dalam.
"Tapi ya. Alasan aku menyuruhmu
berhenti bikin bad end itu bukan cuma gara-gara kasihan sama cewekku doang
tahu."
"Jangan seenaknya mengklaim karakter
orang lain jadi cewekmu dong."
"Biarin, apa salahnya!? Intinya
begini! Secara logika, novel buatan Asahi itu PASTI jauh lebih seru kalau tidak
berakhir bad end! Malah perkembangan bad end-nya itu terkesan mendadak,
sampai-sampai struktur cerita yang tadinya bagus banget malah jadi acak-acakan
di babak akhir!"
"Itu... memang jadi bahan evaluasiku
sih."
Saat memikirkan alur di babak kedua, aku
memang ingat kalau fokusku terlalu terserap pada 'bagaimana caranya agar jadi
bad end', dan aku sendiri sempat merasa alurnya agak dipaksakan.
"Kan sudah sering kubilang! Pembaca
itu tidak menginginkan bad end! Seberapa pun tragis nasib yang menimpa di awal
atau pertengahan cerita, pada akhirnya karakter utama bakal berkembang, makin
membaik, lalu cerita berakhir. Happy end seperti itulah bentuk dasar dari
sebuah cerita! Bad end cuma merusak hal itu, dan kenyataannya alurnya jadi
terasa dipaksakan, kan!"
Semangat berkobar menyala di kedalaman
mata Jun.
"Aku ini penganut setia Happy End
(Hapien). Dan itu adalah hukum
dasar hiburan!"
Meskipun Jun cuma kelihatan seperti cowok
supel yang dangkal dan gaul, dia sebenarnya jauh lebih giat meriset hiburan dan
bekerja keras dibanding siapa pun di Klub Sastra. Dia bahkan menjadi salah satu
penulis novel paling produktif di klub ini. Selain itu, bentuk tubuhnya yang
kekar sekarang ini ada karena dia terinspirasi oleh karakter utama light novel
favoritnya yang melatih diri di dalam cerita, lalu berlebihan melatih tubuhnya
sendiri.
Oleh karena itu, kata-katanya bukanlah
sekadar teori di atas kertas. Itu adalah teori berdasarkan praktik nyata.
Meski begitu, perdebatan antara penganut
Hapien dan penganut Badoen tetap seperti biasa.
Aku membuka mulut hendak membalas, tetapi
kata-kata mendadak menyumbat di tenggorokan.
Rasa tidak puas yang ditunjukkan penonton
lain usai pemutaran Infinity
Heaven kembali terngiang di benakku:
"Kenapa coba bukan happy end? Aneh banget, kan?", "Dikira kalau
bikin bad end bakal langsung bagus apa."
Aku mencintai bad end, tetapi dunia tidak
menginginkan bad end. Aku sadar kalau diriku adalah kaum minoritas.
Mengejar hal yang tidak diinginkan siapa
pun, dan berusaha menulis hal yang tidak dicari siapa pun. Apakah kegiatan
berkarya seperti itu ada artinya?
"Asahi. Kamu nurut saja sama
perkataanku, tulislah komedi romantis yang berakhir happy end saja."
Jun bahkan mulai mengucapkan hal-hal yang
mirip pacar tipe tidak benar.
Namun, sejujurnya... aku memang memendam
pergulatan batin itu.
Terkadang, menulis happy end pun mungkin—
"Soal itu, apa iya begitu?"
Suara tajam itu berasal dari tepat di
sampingku.
Rambut hitam panjangnya sama sekali tidak
bergoyang. Bunga mawar berhias warna hitam dan perak berkilau tenang diterpa
pencahayaan ruang klub. Pandangan matanya yang tajam dan dingin menembus manik
mata Jun yang dipenuhi keliaran dan gairah.
Tsukino berdiri. Sambil bersedekap
ringan, postur tubuhnya yang tegak lurus tampak sangat anggun. Dia melirikku
sekilas dalam sekejap, lalu menarik sudut bibirnya yang berwarna tipis.
"Yang jadi masalah sekarang ini kan
cuma gara-gara perkembangannya terlalu mendadak akibat Sudden Strike (Bencana
Tak Terduga), kan?"
"Sadd... Sadden apa? Apaan
tuh?"
"Perkembangan mendadak menuju bad
end. Kami menyebutnya Sudden Strike (Bencana Tak Terduga). Bisa dibilang ini
pengetahuan umum."
"Mendadak pakai istilah buatan
sendiri begini, kamu bukannya kelewatan sebagai cewek yang menarik, hah!?"
"Ini memang teknik yang bisa
dibilang tingkat dasar bagi kami."
"Di luar tempat ini, aku sama sekali
tidak bisa membayangkan kapan istilah itu bisa dipakai tahu!?"
Meski Jun panik, Tsukino tidak
memedulikannya dan terus melanjutkan.
"Aku mengakui kalau Asahi sering
kali terlalu mengincar Sudden Strike
(Bencana Tak Terduga), sampai-sampai
bikin perkembangan mendadak dari pertengahan ke babak akhir yang tidak bisa
diikuti pembaca."
Dia malah mengakuinya. Tidak, maksudnya
karena Tsukino adalah aku, berarti dia punya kebiasaan buruk yang sama.
"Tapi itu masalah struktur cerita.
Masih ada cara untuk memperbaikinya. Ya... dengan Ouroboros the End
(Sebab-Akibat Mutlak)!"
"Bohong kan!? Ada istilah tak
dikenal lagi!?"
"Biar kujelaskan pada pemula bad end
agar mudah dipahami. Ouroboros the End (Sebab-Akibat Mutlak) adalah
foreshadowing yang disiapkan dengan cermat sebelum perkembangan bad end
terjadi. Artinya, tindakan yang dilakukan oleh karakter utama saling terikat
hingga memicu bad end di fase terakhir."
"Benar sekali. Misalnya dari sudut
pandang pembaca, pertanda petaka yang akan menimpa karakter utama telah
digambarkan dengan kokoh.
Atau ada alur di mana karakter utama
melompati batas etika yang tidak boleh dilanggar. Kalau perkembangan bad
end-nya berawal dari sana, struktur ceritanya tidak bakal terasa
dipaksakan."
"...Begitu ya. Memang benar-benar
begitu sih!"
"Kalau foreshadowing-nya dibuat
lihai, kita bahkan bisa menghiasi bad end bersama dengan Sudden Strike (Bencana
Tak Terduga). Saat petaka mendadak menyerang karakter utama, pembaca bakal
sadar kalau itu bukanlah hal yang tiba-tiba, melainkan sebab-akibat yang
mutlak!"
Tsukino mengarahkan telunjuknya tepat ke
hadapan Jun.
"Itulah Ouroboros the End
(Sebab-Akibat Mutlak)!"
Jun menahan napas dan terperanjat mundur.
Anggota klub lain yang tanpa sadar ikut menyimak melontarkan gumaman,
"Ooh...", sementara
Nanaha-senpai menepuk tangan dengan mata
di balik kacamatanya yang berbinar-binar.
Selama ini aku selalu kalah berdebat
dengan Jun. Selain karena argumen
Jun berlandaskan teori, di klub ini juga
tidak ada anggota lain yang setuju dengan bad end.
Setiap saat, penyuka bad end itu cuma aku
seorang.
Namun sekarang, Tsukino berdiri
berdampingan denganku. Dia menyukai hal yang sama denganku.
"Ya. Aku paham masukan dari Jun.
Terima kasih, ini sangat membantu. Makanya kali ini aku bakal memanfaatkan
Ouroboros the End (Sebab-Akibat Mutlak) untuk menulis bad end dengan struktur
yang bisa diterima pembaca."
Atas deklarasi itu, Jun mengatupkan
bibirnya lalu merenggangkan tubuhnya mundur.
"Luar biasa banget! Bikin cerita itu
jadi tidak terlupakan buatku ya!"
Sambil menyisir rambut pendeknya yang
tajam, dia memperlihatkan senyuman seperti binatang yang memperlihatkan
taringnya.
"Tapi terlepas dari itu semua ya.
Hal tadi belum menjawab perdebatan kalau pembaca jauh lebih menginginkan happy
end daripada bad end tahu."
""Guh.""
Kami berdua mengerang bersamaan. Aku
sangat paham. "Guh" yang barusan benar-benar mewakili rasa bungkam
total sampai-sampai suara keluhan pun tidak sanggup terucap.
"Tuh kan, lihat sendiri! Tapi ya,
aku juga tidak berpikir kalau semua bad end itu buruk kok. Contohnya di antara
bad end kan ada yang namanya Merry Bad End, kan? Secara situasi itu bad end,
tapi karakter utamanya sendiri merasa puas."
""Hah?""
Suaraku dan suara Tsukino melengking padu
secara bersamaan.
""Itu bukan bad
end!""
"Mana boleh karakter utamanya merasa
puas! Garis start bad end itu antara menyesal atau putus asa!"
Tsukino tiba-tiba mengamuk, dan aku pun
ikut mengamuk.
"Lagi pula, definisi Merry Bad End
sendiri kan masih ambigu."
"Bahkan di antara orang-orang yang
sering pakai istilah Merry Bad End,
perdebatan soal seberapa jauh batasannya
itu masih pecah."
"Hah...... Seram banget. Penganut
setia bad end ini benar-benar menarik ya... Kalau gitu, bagaimana dengan cerita
bertema penyakit parah yang di akhir ceritanya menyuguhkan tragedi, tapi bisa
bikin terharu?"
""Hahhh?""
"Itu juga bukan bad end!"
"Pembaca itu tidak boleh merasa
terharu! Guncangan, kesedihan, dan kemarahan sampai-sampai membuat hati hancur
berkeping-keping. Itulah garis start dari bad end."
Tsukino dan aku kembali mengamuk.
"Betul. Aku ingin hatiku
disobek-sobek berkeping-keping oleh bad end."
"Aku juga mau guncangan yang cukup
bikin aku tidak bisa bangkit selama beberapa hari."
"Seriusan? Fetish kalian berdua
khusus banget. Aku jadi ngeri sampai mau nangis nih."
Jun merinding sambil mencondongkan
tubuhnya ke belakang.
"Tapi ya, walau begitu..."
"Fufu, ufufu. Fufufufufu."
Suara tawa itu memotong percakapan antara
kami dan Jun.
Seseorang yang sedang menutupi mulutnya
sambil mengguncang-guncangkan punggungnya adalah Nanaha-senpai. Bahkan ada air
mata di sudut matanya. Dia tertawa terlalu keras.
"Maaf ya. Ini seru banget. Rasanya
tidak tertahankan."
Nanaha-senpai menyipitkan mata di balik
kacamatanya dengan rasa senang yang terpancar dari lubuk hatinya. Pipi putihnya
merona cerah.
"Bagus kok. Menurutku ini
benar-benar bagus. Pertukaran teori kepenulisan yang berapi-api begini
benar-benar terasa seperti Klub Sastra."
Ucapannya terdengar begitu terpesona.
"Aku paham kalau happy end itu luar
biasa, dan aku juga paham kecintaan kalian terhadap bad end. Ada banyak karya
bad end yang disebut sebagai karya agung, dan aku juga punya karya favorit.
Tapi..."
Nanaha-senpai melanjutkan perkataannya
sambil tersenyum lebar.
"Terlepas dari apakah kalian
menerapkan teori kepenulisan itu atau
tidak, entah itu happy end maupun bad
end, bukankah ada hukum mutlak?"
Dia mendorong kacamatanya ke atas.
Gerakan itu berulang hingga tiga kali.
"Wah. Nanaha-senpai mengeluarkan
jurus itu lagi."
"Nanaha-senpai di sana juga
melakukan hal itu ya."
Jurus yang bisa dibilang sudah menjadi
tradisi di Klub Sastra. Jun dan anggota klub lainnya memasang ekspresi
"Wah, mulai lagi nih".
"Novel mana yang jauh lebih seru?
Itulah hukum mutlak dari kebenaran! Ayo kita bandingkan novel buatan Asahi-kun
dan Jun-kun, lalu kita bedah lewat sesi kritik-saran untuk menentukan mana yang
lebih seru dan tentukan pemenangnya!"
Nanaha-senpai bertepuk tangan dengan
kencang.
"Pertarungan novel! Kita mulai
dengan semangat 'Saling bunuhlah kalian semua!'!"
Dia menyemangati dirinya sendiri dengan
antusias. Kedua tangannya mengepal erat sambil berputar-putar melakukan tarian
kecil yang imut.
Anggota klub yang lain pun ikut bertepuk
tangan meski terdengar sporadis.
"Nanaha-senpai ini cewek yang
menarik banget... Hari ini pun otaknya masih seperti anime hobi."
"senpai kita itu kadang-kadang
memperlakukan novel seperti permainan kartu atau Beyblade, sih."
"Ternyata di sini pun kalau sedikit
berdebat langsung mulai ya,
pertarungan novel."
Aku tidak menyangka pertarungan novel
ternyata juga dikobarkan di alam semesta yang berbeda. Rasanya kalau diberi
kesempatan, dia bahkan sanggup mempertaruhkan nasib seluruh umat manusia demi
bertarung lewat novel.
"Anu... senpai memutuskan ini secara
sepihak, tapi apa benar tidak apa-apa pakai semangat 'saling bunuh'? Sesi
kritik-saran kan aslinya bukan ajang untuk saling bertarung."
Tolong jangan mendadak kembali bersikap
normal begitu. Yah, pemicu
Nanaha-senpai mencetuskan ide pertarungan
novel ini adalah karena aku dan Jun terus-menerus meributkan soal hapien dan
badoen di setiap kesempatan, dan di klub ini yang biasanya hobi bertarung lewat
cerita cuma aku, Jun, dan Nanaha-senpai. Anggota klub yang lain biasanya
melakukan sesi kritik-saran atau sekadar diskusi kesan-pesan secara normal.
"Aku sudah tidak tahan lagi.
Kebetulan aku baru saja menyelesaikan sebuah novel."
Jun memperlihatkan taringnya dengan nada
menantang.
"Aku juga punya bad end yang
sebentar lagi rampung."
Begitu mengatakannya, aku langsung merasa
menyesal.
Bukankah Tsukino harus mencari cara agar
bisa kembali ke dunianya?
Memangnya ada waktu untuk hal seperti
ini?
Sebuah ketukan pelan menyentuh tanganku.
Tsukino yang berdiri di sampingku
membenturkan kepalan tangannya ke tanganku, dan aku tahu dia diam-diam sedang
melakukan fist bump ala Infinity Heaven.
Pandangan kami saling bertemu. Sorot
matanya yang tegas—meski sekilas terlihat dingin—menyampaikan pesan, "Kita
harus menang, ya."
Seperti yang dilakukan Tsukino padaku
tadi, aku juga mengetukkan kepalan tanganku secara perlahan ke tangan Tsukino.
More bad, more hell.



Post a Comment