NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 3

Bab 3: Meski Dia Diriku di Dunia Paralel, Tetap Saja Aku Gugup Berangkat Sekolah Bersamanya


Hal pertama yang dilakukan saat bangun tidur adalah mencuci muka.

 

Semalam aku sama sekali tidak bisa tidur, tetapi kurasa sebelum luar mulai terang, aku sempat kehilangan kesadaran sejenak.

 

 

Pokoknya kelopak mataku terasa berat dan badanku amat lemas.

 

Begitu masuk ke area wastafel yang bersebelahan dengan kamar mandi, Tsukin-… Tsukino ada di sana. Sepertinya dia baru saja selesai mencuci muka dan sedang mengeringkannya dengan handuk. Rambut panjangnya agak mencolok akibat bekas tidur.

 

Berbeda dari tatapan mata tajam bagaikan es saat pertama kali bertemu, maupun manik mata yang menyipit saat tertawa, mata yang menatap ke arahku kali ini terlihat agak sayu. Begitu tanpa pertahanan, bahkan terkesan sedikit kekanak-kanakan. Kerah bajunya yang agak berantakan dan basah oleh cipratan air saat mencuci muka bahkan memberi kesan rentan. Ini adalah sisi lain dari Tsukino yang belum pernah kulihat sebelumnya.

 

"Selamat pagi... Asahi-ku... Asahi."

 

"Selamat pagi... Tsukino."

 

Suaraku agak sedikit meninggi. Aku masih belum terbiasa.

 

"Tsukino juga tipe orang yang cuci muka dulu sebelum sarapan ya?"

 

"Iya. Hal-hal seperti ini pun ternyata kita sama ya."

 

Ujung bibirnya melonggar. Suaranya yang masih menyisakan rasa kantuk itu memiliki irama manja yang sedikit sengau.

 

Setelah itu Tsukino berkedip, lalu menatapku lekat-lekat. Matanya yang tadinya tampak mengantuk perlahan-lahan menghilang, berganti menjadi terbuka lebar.

 

Aku pun akhirnya mulai menyadari situasinya.

 

"...Dilihatin pas baru bangun tidur gini rasanya malu banget ya."

 

Tsukino buru-buru merapikan sedikit bekas tidurnya di rambut.

 

"Maaf. Aku tunggu di kamar deh."

 

Aku sendiri sampai ragu untuk sekadar mengembuskan napas. Baru bangun tidur begini, aku juga punya banyak hal yang mengusik pikiran.

 

"Maaf ya," ucap Tsukino sambil menangkupkan kedua tangannya. Aku membelakanginya dan kembali ke lantai dua sambil memikirkan... sepertinya mulai sekarang aku harus menata ulang rutinitas pagiku.

 

◆ ◆ ◆

Saat sarapan pagi, Tsukino sudah mengenakan seragam sekolah dengan sangat rapi.

 

Bekas tidur dan rambut yang berantakan sudah lenyap tanpa sisa dari rambut panjangnya, kemejanya pun tidak menyisakan satu lipatan kerut pun.

 

Aku sendiri tergolong orang yang sudah selesai berganti pakaian saat sarapan, tetapi dibanding Tsukino yang harusnya keberadaan yang sama denganku, penampilanku terasa terlalu biasa. Yah, walau kurasa aku sudah merapikan rambut bekas tidurku dengan benar sih.

 

Di keluarga Masumi, sudah menjadi kebiasaan untuk makan sarapan bersama seluruh anggota keluarga. Ibu dan Ayah yang sudah hampir selesai bersiap-siap pergi bekerja duduk di meja makan.

 

"Tsukino-san."

 

Yang memanggil adalah Ayah. Sorot matanya yang galak terasa sangat terwarisi padaku, tetapi tampak lumayan cocok dengan kemejanya yang rapi. Aku mendadak teringat percakapan semalam bahwa di dunia Tsukino, sosok ini adalah Ibu dan bukan Ayah. Mana mungkin, kan.

 

"Sudah sekitar dua bulan kamu tinggal di rumah kami, apa kamu sudah mulai terbiasa?"

 

Alis Tsukino sempat bergerak sedikit dalam sekejap, tetapi dia membuka suara dengan tenang tanpa tampak goyah.

 

"Iya. Rasanya sudah seperti tinggal di sini sejak awal."

 

Sekilas pandangan mata yang diarahkan padaku jelas-jelas menyampaikan pesan, "Kelihatannya memang begitu keadaannya."

 

Di televisi ruang tamu, berita pagi sedang menayangkan siaran. Ibu dan Ayah saling bertukar kata membahas liputan khusus dan prakiraan cuaca sambil menyantap makanan. Ini adalah pemandangan pagi yang biasa.

 

Di tengah-tengah itu, saat mengamati kondisi Tsukino, dia tampak menyipitkan mata menikmati roti tawar berlapis selai yang melimpah.

 

Senyuman yang tampak bahagia dari lubuk hatinya itu merupakan reaksi yang agak di luar dugaan. Jangan-jangan dia lebih suka makan dibanding diriku.

 

Setelah itu, setiap anggota keluarga berangkat pada waktunya masing-masing, itulah pagi di keluarga Masumi.

 

Setelah melepas kepergian Ibu dan Ayah yang berangkat kerja, aku dan Tsukino meninggalkan rumah di waktu yang sama.

 

Pertama-tama menyusuri jalan menanjak, melintasi terowongan, lalu menuju ke depan stasiun yang merupakan rute sekolah biasa.

 

Namun, hari ini Tsukino berjalan di sampingku.

 

Karena merupakan jam berangkat kerja dan sekolah, jalanan di sepanjang jalan nasional dipenuhi banyak orang. Ada murid dari SMA yang sama, murid-murid yang menuju sekolah lain via stasiun, hingga orang dewasa yang pergi bekerja.

 

Di antara mereka, ada juga pasangan sejoli laki-laki dan perempuan.

 

Mereka berjalan bersisian, dan entah apa yang dibicarakan tetapi terlihat sangat gembira. Tentu saja jarak di antara mereka sangat dekat.

 

Sebenarnya berapa jarak yang pas sih...?

 

Begitu dipikirkan, aku mendadak jadi makin tidak paham.

 

Kami baru saja bertemu kemarin dan tentu saja bukan pasangan kekasih. Namun, karena sepertinya kami adalah keberadaan yang sama dari dunia paralel, entah kenapa jarak di antara kami terasa lumayan dekat.

 

Tsukino berada tepat di sampingku. Tingginya sedikit lebih pendek dariku, tetapi karena postur tubuhnya sangat tegap, rasanya pandangan mata kami sejajar.

 

Punggungnya tegak lurus, melangkah dengan pijakan kaki yang ringan.

 

Rambut hitam panjangnya bertiup anggun, dan aksesori rambut hitam-peraknya berkilauan diterpa cahaya pagi. Sosoknya yang menatap lurus ke depan dengan mata yang jernih tampak begitu indah tanpa bisa terbantahkan.

Berjalan berdua saja dengan seorang gadis adalah hal yang hampir tidak pernah kualami. Kalaupun pernah bersama senpai di Klub Sastra, biasanya ada anggota klub lain yang ikut. Kemarin karena kami terus-menerus membicarakan bad end, aku tidak sempat memikirkannya, tetapi begitu dipikirkan sekarang, aku jadi merasa kecil hati.

 

"Asahi."

 

Suara itu menarikku kembali ke realita.

 

Mata Tsukino sedang memperhatikan pasangan murid sekolah yang bergandengan tangan. *Apa pikiranku ketahuan!?* batinku sambil refleks menahan napas.

 

"Menurutmu dalam kondisi begini, jarak yang pas itu seberapa jauh ya?"

 

Dengan tatapan mata yang tetap tenang, dia malah menanyakan hal yang sama persis dengan apa yang kupikirkan. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun, dia bergerak-gerak gelisah karena merasa serba salah.

 

"Jadi gitu. Ternyata kekhawatiran kita sama ya."

 

"Iya. Ternyata kita memang keberadaan yang sama."

 

Raut wajah yang terkesan sangat serius, ditambah percakapan dengan nada suara yang berat. Setelah itu, kami berdua terkekeh secara bersamaan.

Melihat raut wajah Tsukino yang melonggar dengan pipi menyisakan rona kemerahan, keteganganku pun ikut luntur.

 

"Habisnya, aku tidak tahu cara berangkat sekolah berdua sama cowok."

 

"Sayang sekali, aku juga sama. Nggak tahu apa-apa."

 

Kami berdua cuma bisa mengubah tawa yang tersembur menjadi senyum canggung.

 

Entah ini hal baik atau buruk, ketidakberagaman kami dalam berbagai

hal rupanya juga sangat mencerminkan kalau kami adalah keberadaan yang sama.

 

"Ngomong-ngomong," Tsukino membuka suara seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

 

"Di tempat Asahi juga sarapannya barengan ya."

 

Sekadar obrolan santai untuk mengalihkan pembicaraan.

 

"Berarti di rumah Tsukino juga gitu?"

 

Karena ingin menutupi kekuranganku juga, aku membalasnya berpura-pura tidak terlalu memikirkannya.

 

"Meskipun jenis kelamin Ayah dan Ibu kebalik sih. Tapi kalau dipikir-pikir, sarapan bareng di pagi hari itu agak merepotkan tidak sih?"

"Kalau habis begadang semalaman, paginya ingin tidur sampai mepet, tapi kalau tidak bangun pagi-pagi nanti malah diomelin."

 

"Iya, benar banget. Ayah biasanya bawel banget."

 

"Kalau yang itu kebalik ya. Di rumahku Ibu yang bawel. ...Eh, tapi kan mereka keberadaan yang sama ya?"

 

Rupanya sifat seseorang tidak tergantung pada jenis kelamin, melainkan melekat pada individu itu sendiri.

 

Kalau dipikir-pikir lagi, fakta bahwa aku dan Tsukino sama-sama punya selera bad end juga mungkin gara-gara hal yang sama.

 

"Yang agak merepotkan lagi itu jalanan ini. Banyak tanjakannya bikin capek ya. Naik sepeda juga susah."

 

"Soalnya kota ini dibangun dengan meratakan bukit."

 

Makanya dinamai Himurogioka (Bukit Himurogi). Karena ini adalah kota baru yang dikembangkan di bukit bagian utara dan selatan stasiun, mau tidak mau memang banyak tanjakan dan terowongan. Karena SMA Himurogioka berada di Himurogioka Kita-machi, setelah melewati depan stasiun, kami harus mendaki tanjakan yang cukup curam.

 

"Ponselmu masih belum bisa menghubungi siapa pun ya?"

 

"Iya. Sudah kucoba berulang kali sih..."

 

Setelah mengatakannya dan mengoperasikan ponselnya sebentar, dia memasukkannya ke dalam saku.

 

"Melewati satu malam begini pasti bikin cemas ya."

 

"Sedikit sih. Soalnya aku masih belum tahu bagaimana aliran waktu di duniaku Asahi dan di duniaku."

 

"Hup," Tsukino membetulkan posisi tasnya sambil berjalan.

 

"Tujuan kita ke sekolah kan cuma buat memeriksa bagaimana kamu diperlakukan di sana, harusnya kamu tidak perlu membawa tas ransel sekolah, kan? Lagipula kita juga harus mencari cara agar kamu bisa pulang."

 

"Memang benar sih, tapi lebih baik membawa barang daripada tidak sama sekali. Lagi pula soal cara pulang pun kita masih belum tahu apa-apa, kan. Lagian aku penasaran apakah kota ini sama dengan Himurogioka yang kukenal atau tidak."

 

"Benar juga."

 

"Ah, benar juga. Yang kubawa sekarang ini adalah buku pelajaran yang dari awal memang milikku, tapi di kamarku ternyata ada buku pelajaran yang lain juga. Asahi tidak punya dua set buku pelajaran, kan?"

 

"Ngapain juga menyediakan dua set, tidak ada gunanya. Apakah itu juga bentuk penyesuaian dunia? Masa dunia sampai perhatian begitu ke hal-hal seperti buku pelajaran?"

Tsukino hanya mengangkat bahunya.

 

Meski terasa panik, kami memerlukan lebih banyak informasi. Kami perlu menyelidikinya satu per satu.

 

Sambil mengobrol, kami melewati kawasan depan stasiun. Sambil melirik orang-orang yang hendak naik kereta menghilang ke dalam stasiun, kami menyeberangi jalan raya utama berupa jembatan layang di atas rel.

 

Area stasiun Himurogioka adalah pusat dari kota ini. Green Mall

Himurogioka, pusat perbelanjaan yang menampung bioskop tempat kami menonton kemarin, berada tepat di dekat sini. Pertokoan di depan stasiun pun belum sepenuhnya sepi, jadi tempat ini masih bisa dibilang lumayan bernuansa perkotaan. Meskipun kalau mau pergi ke pusat kota sungguhan, butuh waktu hampir satu jam.

 

Begitu memasuki area utara kota, sebagian besar orang yang berjalan di sekitar sini adalah murid-murid SMA Himurogioka. Tanjakan dari titik ini lumayan terik dan curam, apalagi di akhir bulan Mei begini, begitu angin berhenti berembus, hawa langsung terasa panas.

 

Tsukino mendaki tanjakan dengan langkah ringan, jadi aku berusaha sekuat tenaga untuk berjalan sejajar di sampingnya.

 

"Padahal harusnya ini sekolah yang sama denganku, tapi aku jadi agak penasaran."

 

"Kalau buatku sih tidak ada bedanya."

Hanya saja, fakta bahwa ada Tsukino di sampingku hari ini jelas membuat pemandangan ini berbeda dari biasanya.

 

Sembari berjalan, bangunan gedung SMA Himurogioka mulai terlihat.

 

Sekolah ini dibangun setelah proyek kota baru, tetapi karena statusnya sekolah negeri, gedung sekolahnya mulai menunjukkan kesan tua yang cukup mencolok.

 

Di hadapan para murid yang mulai memasuki gerbang sekolah, Tsukino menghentikan langkahnya.

 

Dari posisiku yang sedikit berada di belakangnya, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya dari balik punggungnya, tetapi aku bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.

 

"Bukannya tadi bilang penasaran?"

 

"Aku baru kepikir, jangan-jangan nanti aku disangka penyusup yang tidak punya hak siswa. Apa tidak menakutkan kalau ada orang tidak dikenal mengenakan seragam sekolah dengan wajah tanpa dosa duduk

di dalam kelas?"

 

"Kalau dibayangkan ke diri sendiri, rasanya memang bikin merinding sih. Nanti bakal jadi rumor 'Siapa si dia?', terus begitu ketahuan kalau

bukan siswa sekolah ini, ujung-ujungnya pasti urusan polisi."

 

"Aku tidak minta kamu memperjelas dampaknya sampai sejauh itu. Duh, harus bagaimana ya? Di sekolah ini aku diperlakukan sebagai apa ya?"

 

"Kalau begitu, buat apa kamu ikut datang...?"

 

Tsukino memalingkan pandangannya. Dia memanyunkan bibirnya dengan raut serba salah. Ternyata dia bisa menunjukkan ekspresi seperti ini juga.

 

"Kalau Asahi adalah aku, harusnya kamu paham kan. Setelah bertindak menuruti dorongan sesaat, begitu dipikir-pikir lagi ternyata kita sama sekali tidak mempertimbangkan apa-apa. Dan itulah yang biasanya jadi pemicu kegagalan."

 

"Nggak ah. Harusnya aku mau bilang begitu, tapi aku paham banget."

 

Aku sendiri lumayan sering bertindak bodoh seperti itu. Malah, interaksi kami di bioskop kemarin dan obrolan bad end selama dua jam itu juga terlalu menuruti dorongan sesaat. Kalau lawanku bukan Tsukino

(keberadaan yang sama), bukannya itu bakal jadi bencana besar?

 

"Tapi ya, karakter yang bertindak menuruti dorongan sesaat lalu

membikin kekacauan itu rasanya kurang menyenangkan di karya bergenre bad end."

 

"Aku paham banget itu! Kalau penyebab bad end-nya adalah kesalahan konyol akibat kebodohan sendiri, kita malah jadi lemes kan."

"Nah, benar itu. Kalau karakter yang luar biasa sudah berusaha mati-matian tapi tetap tidak sampai pada tujuan akhir, atau banyak pilihan terbaik saling bertabrakan hingga memicu bad end, itu baru bisa diterima. Tapi kalau bertindak tanpa berpikir lalu gagal, tanggapan penonton biasanya cuma berhenti di 'Nih orang bego apa gimana sih?'."

 

"Jangan-jangan... kita tidak bakat menghadapi bad end?"

 

"Untuk urusan dunia nyata, bukannya begitu malah bagus?"

 

Bad end itu indah justru karena berada di dunia fiksi. Di dunia nyata, tentu saja kita ingin happy end.

 

"Makanya ya. Mulai dari sini biar aku yang tenang, dingin, tepat, dan membantu tanpa perlu gegabah. Bagaimanapun juga, ini kan duniaku."

 

Karena kalau aku yang tersesat di dunia paralel, aku pasti akan merasa sangat cemas.

 

Mata Tsukino membulat. Setelah itu, dia terkekeh pelan.

 

"Memang benar-benar diriku ya. Kalau begitu, ayo!"

 

Tsukino menggenggam tanganku lalu menariknya. Dengan posisi seperti

itu, kami berdua melangkah melewati gerbang sekolah.

 

Meskipun kami pernah menepukkan kepalan tangan, ini pertama kalinya aku menyentuh telapak tangannya secara langsung; terasa dingin, lembut, halus, namun membawa kehangatan dan kelembapan khas kulit manusia. Dengan jemari yang saling bertumpuk, dia membimbingku dengan kekuatan yang tak terduga.

 

Tanpa kusadari, aku tidak lagi mempermasalahkan jarak di antara kami.

 

Apakah karena kami keberadaan yang sama, atau sekadar sudah

terbiasa?

 

Terlepas dari itu, posisi saling bergandengan tangan begini sejujurnya

membuatku sangat malu.

 

Begitu menginjakkan kaki di area lapangan sekolah, Tsukino menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangannya.

 

Saat dia menoleh, tatapan matanya tampak goyah. Itu adalah raut wajah seseorang yang baru saja menyadari kalau dia telah melakukan kesalahan.

 

Dalam sekejap, pipinya yang putih merona merah. Seakan menyadarinya, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tetapi karena telinganya pun ikut memerah, tidak ada yang bisa dia sembunyikan.

 

"Aku tahu kamu melakukannya karena dorongan sesaat lagi."

 

"Aku tidak punya kata-kata untuk membela diri. Mending sekarang jangan lihat wajahku dulu."

 

Kalau memang dia keberadaan yang sama dariku di dunia paralel, apa aku juga selalu terlihat seperti ini? Sepertinya aku harus introspeksi diri.

 

◆ ◆ ◆

 

Usaha introspeksi diri itu sia-sia, sebab belum sampai sepuluh menit berlalu, aku sendiri malah melakukan kesalahan gara-gara menuruti dorongan sesaat.

 

"Kalian kenal sama Tsukino Masumi tidak, ya~?"

 

"Yang tahu soal itu kan Masumi-kun sendiri. Lagian kalian tinggal bareng kan?"

 

"Y-Yah. Bener sih. Tapi bukan tinggal bareng yang seperti itu..."

 

Sebelum Tsukino masuk ke dalam kelas, aku mencoba bertanya kepada teman sekelas di sekitar untuk mencari tahu bagaimana status Tsukino di sini, dan inilah hasilnya. Aku memilih anak yang supel karena berpikir dia akan merespons dengan santai, tetapi langkah itu justru berbalik menyerangku.

 

Tentu saja tidak ada pertanyaan yang lebih aneh dan membingungkan dari ini. Dari sudut pandang mereka, orang yang tinggal serumah dengan Tsukino malah bertanya apakah mereka kenal dengan Tsukino atau tidak. Jelas-jelas mencurigakan. Aku benar-benar dicurigai.

 

"Maksudmu itu kesan kamu soal Tsukino-chan? Kenapa nanya begitu?"

Aku cuma bisa bungkam seribu bahasa. Tergantung cara pandangnya, ini bisa ditangkap seolah-olah aku sedang mencari-cari kejelekan

Tsukino. Mereka adalah orang-orang baik yang bakal marah demi Tsukino jika ditangkap seperti itu, tetapi posisiku jadi sangat menyudutkan.

 

Pada dasarnya, aku memang tidak pandai berbicara dengan anak perempuan.

 

Pemilihan diriku sebagai penyampai pesan maupun pertanyaan yang

kuajukan, dua-duanya sepenuhnya salah. Ini bakal jadi bad end kelas D di mana seseorang gagal gara-gara bertindak gegabah.

 

Di luar kelas, Tsukino membuat tanda silang dengan kedua tangannya.

 

Bukan silang kecil nan lucu dengan jari, melainkan silang penuh dengan kedua lengan. Aku pun berpikiran sama dengannya.

 

Saat aku menggelengkan kepala, Tsukino melangkah maju.

 

Sekejap sebelumnya dia menunjukkan raut wajah "aduh gawat", tetapi ekspresinya langsung berubah total. Dengan tatapan mata yang anggun sekaligus dingin, dia masuk ke dalam kelas secara kasual seolah baru saja tiba di sekolah.

 

"Selamat pagi," sapanya, membuat dua orang tadi menoleh dan

membalas, "Pagi~"

 

"Maaf ya. Soal itu tadi sebenarnya topik yang sempat kami bahas berdua. Kami penasaran kapan pertama kali kalian berdua kenal sama aku. Asahi cuma bantu menanyakannya, tapi cara menyampaikannya agak gimana gitu..."

 

"Kan kita beda SMP, jadi ya pas masuk SMA lah. Lagian Masumi-kun, padahal anak Klub Sastra tapi bahasa Indonesianya kacau banget sih."

 

"Lagian kenapa bisa sampai bahas topik begitu?"

 

"Alur obrolannya tidak penting banget kok. Cuma seputar 'Siapa orang di kelas ini yang pertama kali kamu temui?'. Maaf ya."

 

Setelah bertukar dua-tiga patah kata lagi, Tsukino berjalan menuju

kursinya yang sudah dipastikan sebelumnya. Karena masalah penyamaran sudah teratasi, aku pun kembali ke kursiku yang berada tepat di sampingnya.

 

Dua orang yang ditanyai soal Tsukino sepertinya sudah tidak memikirkannya lagi dan mulai mengobrolkan video yang baru mereka tonton.

 

"Penyelamatku. Ternyata aku juga orang yang gampang terbawa

dorongan sesaat."

 

"Kamu jadi bisa melihat kembali dirimu sendiri, kan."

 

"Tolong sekarang jangan lihat wajahku dulu."

Sambil duduk, Tsukino terkekeh canggung dan dengan sengaja memalingkan pandangannya dariku. Dasar orang baik.

 

"Tapi kalau dipikir-pikir lagi, pertanyaan 'apa kalian kenal aku atau tidak' itu tingkat kesulitannya memang ketinggian sih."

 

"Nanti aku bakal memikirkan cara bertanya yang lebih baik."

 

Sambil memperhatikan dua siswi populer yang sedang tertawa terbahak-bahak...

 

"Tapi ya, caramu merespons tadi luwes banget. Apa kemampuan komunikasimu jauh lebih tinggi dariku?"

 

"Mungkin karena lawan bicaranya sama-sama perempuan? ...Lagian temanku kan cuma anak-anak Klub Sastra. Asahi bagaimana?"

 

"Aku juga sama. Begitu ya. Kalau lawan bicaranya sesama cowok, mungkin aku juga tidak bakal terlalu canggung."

 

Terlepas dari itu, rasanya melegakan tahu kalau Tsukino tidak punya kemampuan komunikasi yang luar biasa tinggi atau punya sangat banyak teman cowok dan cewek. Karena rasanya menyedihkan kalau memikirkannya, aku memilih menyembunyikan perasaan lega itu.

 

"Kalau aku bilang cowok yang paling gampang diajak ngobrol saat ini itu Asahi, kamu senang tidak?"

 

"Itu kan cuma karena kita keberadaan yang sama. ...Tapi ya, senang sih."

 

Dibandingkan kata-kata yang kubalaskan, rasa senang di dalam dadaku jauh lebih besar hingga rasanya jantungku mau melompat keluar.

 

Singkat kata, ini gawat banget.

 

Bisa-bisanya dia mengerjaiku! batinku, tetapi sang pelaku sendiri jelas-jelas terlihat malu hingga menundukkan pandangannya sambil memainkan rambut hitamnya. Dia malah membakar dirinya sendiri.

 

" ...Tapi ya, kenyataan kalau kita tinggal bareng ternyata sudah diketahui

satu kelas ya. Bukannya hal seperti ini biasanya disembunyikan?"

 

"Penyesuaian dunianya lumayan serampangan ya."

 

"Penyesuaian ya. Apa dua orang tadi juga ada di kelasnya Tsukino?

Bagaimana dengan komposisi murid di kelasmu?"

 

Aku mencoba memelankan suara saat bicara, tetapi karena suasana kelas memang sedang bising, sepertinya tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

 

"Hampir tidak ada bedanya. Tapi ada beberapa orang yang jenis kelaminnya berbeda."

 

"Sama seperti kasus keluargaku ya. Sepertinya kita sudah bisa berasumsi kalau ini memang dunia paralel."

 

"Benar. Kalau tidak begitu, malah makin banyak hal yang tidak bisa dijelaskan alasannya."

 

"Setelah ini kita mau bagaimana?"

 

"Aku harus mencari tahu kapan dan di mana aku berpindah ke dunia ini."

 

"Kita pertama kali bertemu di bioskop, tapi karena kamu sedang menonton film, tidak mungkin kan kamu mendadak muncul begitu saja di sana."

 

Setelah film selesai, kami memang tidak punya kontak sampai topik bad end terangkat, tetapi seingatku sepanjang pemutaran film dia sudah berada di kursinya.

 

"Jujur saja, aku sama sekali tidak sadar kapan tepatnya aku berpindah

ke dunia lain. Bakal lebih gampang kalau ada portal yang jelas-jelas terbuka lalu menyedotku masuk."

 

"Kalau itu sih benar-benar kelihatan banget lintas dunianya."

 

Di film Infinity Heaven memang ada adegan seperti itu.

 

"Makanya, menurutku lebih baik kalau kita mendatangi lagi tempat-tempat yang kukunjungi kemarin. Kalau bisa menemukan tempat yang aneh di sana, urusannya bakal lebih cepat selesai."

 

"Kalau gitu ayo pergi sekarang."

 

Sebentar lagi wali kelas bakal masuk untuk jam wali kelas, jadi kalau mau bolos sekolah, sekarang adalah waktunya.

 

Aku belum tahu bagaimana aliran waktu antara dunia ini dengan dunia

Tsukino. Apakah berjalan bersamaan, atau begitu kembali ke sana dia akan kembali ke titik waktu saat dia meninggalkan dunianya. Atau malah berbeda jauh. Tergantung situasinya, bisa jadi di sana sedang gempar gara-gara berita dia menghilang.

 

"Anu... soal mendatangi tempat-tempat yang kucurigai itu, menurutku dilakukan setelah pulang sekolah saja tidak apa-apa kok."

 

"Tapi sekarang bukan waktunya mengikuti pelajaran, kan? Aku juga bakal bantu."

 

Tsukino menggelengkan kepalanya lalu mulai menyiapkan buku pelajaran.

 

"Tempat yang kudatangi cuma terbatas kok, jadi kalau dicari setelah pulang sekolah pun bakal sangat cukup."

 

Wali kelas melangkah masuk ke dalam kelas. Jam wali kelas akan segera

dimulai.

 

"Lagipula mumpung ada di sini, aku juga ingin melihat bagaimana keadaan Klub Sastra di dunia ini. Siapa tahu di tempat yang punya ikatan erat dengan kita ada petunjuk yang bisa didapatkan."

 

"Masa sih? Yah, kalau kamu bilang begitu..."

 

Sambil mendengarkan suara wali kelas dengan samar-samar, aku ikut menyiapkan buku pelajaran.

 

Misalnya kalau aku yang tersesat di dunia paralel, bagaimana ya?

 

Mencari cara untuk kembali ke dunia asal tentu jadi prioritas utama, tetapi rasa penasaran terhadap dunia yang mirip tetapi berbeda ini tentu bakal ada. Kalau begitu, aku bisa memahami keinginan Tsukino yang ingin mengintip Klub Sastra di dunia ini. Malah, aku sendiri penasaran dengan Klub Sastra di dunianya.

 

"Ngomong-ngomong Asahi, aku salah membawa buku pelajaran nih. Boleh lihat punya kamu?"

 

Tsukino menggeser mejanya mendekat ke mejaku.

 

"Padahal tadi sudah bersiap-siap serapi itu..."

 

"Jadwal pelajarannya kan agak beda sedikit, tapi gara-gara kebiasaan tangan, aku malah menyiapkan jadwal yang biasa."

 

Beberapa teman sekelas menyadari kami yang menggeser kursi mendekat dan mulai melirik-lirik.

 

Biarpun kami keberadaan yang sama dari dunia paralel, dilihat orang lain dalam posisi sedekat ini tetap saja membuatku malu.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter 

0

Post a Comment

close