NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 2

Bab 2: Tinggal Serumah dengan Diriku di Dunia Paralel


"Nggak, nggak, nggak, tunggu sebentar."

 

Aku memeriksa rumah dan papan nama keluarga berulang kali, tidak cuma sekali dua kali. Tsukino-san juga melakukan hal yang sama.

 

"Tsukino-san, kamu tidak salah rumah, kan?"

 

"Mana mungkin orang bisa salah mengenali rumahnya sendiri, kan?

Tapi aku jadi agak ragu juga sih... Tapi, ya. Di sini memang rumahku."

 

Kami berdua mendongak menatap rumah tinggal yang biasa saja ini.

 

Termasuk rumah-rumah di sisi kiri, kanan, dan seberangnya, ini jelas-jelas rumahku.

 

Ini... aku harus bagaimana?

 

Agak berat rasanya kalau harus masuk begitu saja ke rumah yang diakui Tsukino-san sebagai rumahnya. Namun, tempat ini harusnya rumahku.

 

Meski begitu, aku sendiri juga jadi makin tidak yakin.

 

Saat kami berdua mulai kebingungan, pintu tiba-tiba terbuka.

 

"Kalian lagi ngapain sih, berdua?"

Wajah yang mengintip keluar adalah Ibu.

 

"Aduh. Minta izin sih iya, tapi ini kemalaman tahu."

 

Wajahnya agak bersungut-sungut. Raut wajah yang membulat—tidak mirip dengan mataku yang galak, pembawaannya yang agak kekanak-kanakan hingga usianya samar—ini benar-benar Ibu yang kukenal.

 

"Tsukino-chan juga kemalaman loh. Biar Asahi bareng juga tetap saja.

Anak ini kan ada bagian yang kurang bisa diandalkan... Ibu kan dititipi anak gadis tunggal yang berharga, jadi harus hati-hati."

 

Meski menegur Tsukino-san, Ibu tetap mengucapkannya sambil

tersenyum ramah.

 

"Ibu mau menghangatkan makanan dulu, cepat masuk sana."

 

Setelah mengatakannya, Ibu kembali masuk ke dalam rumah.

 

Kami berdua diam tak berkata, tetapi aku tahu kami sama-sama berusaha menata pikiran masing-masing. Antara percaya dan tidak, aku

mulai membuka suara.

 

"Ini... rumahku, kan? Maksudku, dari nuansanya."

 

"Kalau dari omongan tadi, berarti aku dititipkan di rumah ini?"

 

Aku baru sadar kalau gestur bersedekap kami saat berpikir ternyata

sama persis.

 

"Sekadar memastikan saja. Tsukino-san, apa ada alasan tertentu yang bikin kamu dijadwalkan tinggal bareng di rumahku mulai hari ini?"

 

"Aku sama sekali tidak ingat ada kejadian begitu..."

 

Tentu saja, aku pun belum pernah mendengarnya.

 

Kalau ini cuma lelucon Ibu, rasanya terlalu mendadak. Ibu juga bukan tipe orang yang punya selera humor seperti itu.

 

Untuk sementara, karena sudah pasti ini rumahku, setidaknya cuma aku yang bisa pulang ke rumah ini. Namun, aku tidak mungkin membiarkan Tsukino-san yang masih kebingungan memikirkan arti perkataan Ibu tadi.

 

"Untuk sementara, mau masuk dulu ke dalam?"

 

Aku mengucapkan kalimat yang biasanya tidak akan pernah kuucapkan kepada seorang gadis. Yah, mau bagaimana lagi. Kalau Ibu memang sedang melontarkan lelucon yang tidak lucu, yang bersalah di sini adalah Ibu.

 

"Kalau begitu... ya. Permisi... kali ya?"

 

Tsukino-san menurunkan alisnya dengan raut kebingungan. Tatapan matanya yang harusnya tajam itu, begitu menatap ke atas malah terlihat agak rapuh.

Untuk ukuran seorang gadis, badannya tergolong tinggi, tetapi dia tetap sedikit lebih pendek dariku. Aku baru menyadari hal itu sekarang.

 

◆ ◆ ◆

 

Tsukino-san yang baru kutemui dua jam lalu kini berada di kamarku.

 

Melihatnya duduk bersimpuh di kamar yang amat biasa—hanya berisi meja, rak buku, dan kasur—pikiran itu melintas begitu saja di benakku, tetapi ini memang kenyataan.

 

"Ah, maaf. Harusnya aku mengambilkan bantal kursi atau semacamnya."

 

"Eh, tidak usah. Jangan repot-repot."

 

Tsukino-san mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Aku jadi cemas kalau-kalau ada barang aneh yang lupa kusembunyikan. Begitu menyadarinya, aku jadi agak gugup.

 

Namun, sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu.

 

"Tadi aku coba bicara halus sama Ibu."

 

Di saat Ibu sedang menyiapkan makan malam, aku menanyakannya secara kasual agar tidak terkesan aneh. Tingkat kesulitannya lumayan tinggi.

 

"Katanya Tsukino-san itu anak dari sahabat Ayah. Karena urusan pekerjaan keluargamu, kamu dititipkan sementara di rumah kami."

 

"Itu sih gimana ya... mirip Blue Box banget."

 

"Memang mirip banget, tapi seingatku cerita kita bukan Blue Box, kan?"

 

"Iya. Harusnya rumah yang kutinggali itu tempat ini. Hmmm."

 

Tsukino-san bergumam pelan sambil memiringkan kepalanya.

 

Begitu berdiri, dia kembali mengalihkan pandangan ke sekeliling kamar.

 

Dia lalu berjalan berkeliling di dalam kamar.

 

"Kamarku itu harusnya di posisi kamar Asahi-kun ini."

 

"Maksudmu barang-barangnya sama?"

 

"Bukan. Posisi kamarnya. Tata letak furniturnya memang mirip, barang-barang yang ditaruh juga mirip banget... bahkan rasanya hampir sama persis. Tapi, tetap ada detail kecil yang beda? Eh."

 

Dengan mata membulat, Tsukino-san mengulurkan tangannya ke rak buku.

 

"Buku ini. Ini penyebab penyimpangan selera bad end-ku."

 

Tidak mungkin aku tidak mengenali buku dengan sampul sederhana yang diambilnya itu.

 

"Ah, maaf ya main ambil saja. Ini antologi tulisan Klub Sastra, kan?"

 

"Ini antologi tulisan SMA Himurogioka, kan? Ini terbitan yang lumayan lama. Waktu SMP, aku mendapatkannya saat datang ke festival budaya."

 

"Aku juga. Novel berjudul Pagi Keberangkatan yang ada di dalam buku ini luar biasa banget. Ceritanya tentang dunia fantasi di ambang kehancuran, lalu ada raja muda dan permaisurinya yang berusaha mencegah hal itu. Demi anak tercinta, mereka berdua melintasi dunia yang mulai runtuh."

 

"Iya, benar. Walau dunianya terkesan tanpa harapan, karakternya tetap ceria dan temponya bagus. Situasinya padahal dunia yang terkikis sedikit demi sedikit, tapi karena mereka berdua selalu berpikiran positif dan berhasil melewati ujian dengan lancar, cerita petualangan ini bikin kita merasa semuanya bakal baik-baik saja."

 

"Tapi, tidak semulus itu, kan? Demi menyelamatkan nyawa

bawahannya, mereka malah gagal di ujian terakhir, dan dari sanalah kehancuran makin dipercepat."

 

"Raja dan Permaisuri tidak menyerah. Mereka tetap ceria dan positif. Itu adalah bentuk perlawanan terakhir mereka menuju kepunahan. Namun, rakyat tidak mengampuni mereka yang gagal dalam ujian. Ketakutan akan kemusnahan melahirkan kegilaan, dan tangan orang-orang yang dikuasai kegilaan itu mulai mengincar mereka berdua. Bahkan bawahan yang susah payah mereka selamatkan pun ikut tewas di tengah kekacauan itu."

 

"Di akhir cerita, sambil menyisakan sedikit titik harapan, Raja dan Permaisuri meloloskan anak mereka keluar dari dunia itu, kan? Tapi, orang-orang yang memberontak menangkap mereka berdua dan menyiksa mereka tanpa belas kasihan."

 

Tsukino membalik-balik halaman antologi tersebut.

 

"Adegan ini luar biasa banget kan. Penggambaran kekerasan pada mereka berdua begitu intens dan detail sampai rasanya tidak perlu ditulis sejauh itu. Aku sampai kena trauma gara-gara ini."

 

"Karena aku membacanya pas SMP, aku juga tidak bisa tidur nyenyak selama tiga hari."

 

"Tapi," Tsukino-san melanjutkan perkataannya. Kata-kata yang sama juga terlintas di benakku.

 

"Gara-gara bad end yang bikin menjerit hysteris itu, aku jadi masuk Klub Sastra Himurogioka."

 

"...Aku juga anggota Klub Sastra Himurogioka."

 

Tsukino-san tampak terkejut, tetapi reaksinya seolah-olah sudah menduga hal itu. Aku pun sama.

 

"Asahi-kun menulis novel di klub?"

"Di klub, aku tergolong yang paling produktif menulis."

 

"Sering ikut sesi kritik-saran yang sengit?"

 

"Sering, sering banget."

 

"...Tapi Asahi-kun, kamu tidak pernah melihatku di klub maupun di sekolah, kan?"

 

"Aku tidak pernah melihat Tsukino-san sekali pun. Padahal hampir setiap hari aku pergi ke ruang klub."

 

Kami berdua bungkam di hadapan antologi tulisan tersebut. Sebagai sebuah dugaan, jawaban yang rasanya tidak mungkin terjadi justru mulai mencuat.

 

"Asahi! Tsukino-chan!"

 

Pintu mendadak dibuka begitu saja, membuat kami berdua melonjak kaget.

 

Saat menoleh, Ibu kembali bersungut-sungut.

 

"Kalian berdua malah berduaan di kamar sempit begini. Bukannya kamar Tsukino-chan lebih luas?"

 

Ibu menunjuk ke arah kamar sebelah.

 

"Makan malamnya nanti dingin, cepat makan ya. Ibu masih harus beres-beres. Terus jangan lupa mandi."

 

Setelah menyampaikan tujuannya, Ibu langsung turun ke lantai satu.

 

Aku dan Tsukino-san saling berpandangan.

 

"Kamarku ada?"

 

Kami keluar ke koridor dan membuka pintu kamar sebelah yang harusnya merupakan gudang.

 

Begitu lampu dinyalakan, ruangan itu bukan lagi ruangan yang kukenal.

 

Kardus-kardus dan barang bekas yang tadinya menumpuk sembarangan, serta alat pel yang jarang dipakai sudah lenyap, menggantikannya adalah lantai kayu yang baru diolesi pelapis kilap dan memantulkan cahaya lampu plafon.

 

Meja, kasur, serta lemari kecil dan rak. Di sana tersedia furnitur yang pas untuk ukuran ruangan orang yang dititipkan sementara di rumah kami.

 

Secara realistis, katakanlah Ibu sedang mengerjai kami dengan rencana yang terkonsep matang. Untuk melakukan itu, selama aku pergi ke sekolah, Ibu harus membereskan gudang, membersihkannya, melapisi lantai dengan cairan kilap, lalu mengangkut furnitur baru ke dalamnya.

 

Rasanya tidak mungkin, kan?

Sambil diselimuti kebingungan, Tsukino-san membuka pintu lemari pakaian.

 

"Ada baju tidur yang pas sama ukuranku. Barang lainnya juga... iya, ada semua."

 

Sosoknya yang berdiri di kamar asing sambil memegang baju tidur berwarna biru muda pucat itu terlihat sangat menyatu secara alami.

 

"Asahi-kun, aku mau tanya sesuatu."

 

"Aku juga. Mungkin kita memikirkan hal yang sama."

 

Kami saling mengangguk.

 

"Maaf kalau ini agak mencampuri urusan pribadi... tapi boleh aku tanya-tanya soal masa SD dan SMP-mu?"

 

"Nggak apa-apa. Aku juga mau menanyakan hal yang sama."

 

Nama wali kelas, kenangan study tour, buku dan anime favorit, cerita film, insiden Kobayashi-kun yang bertindak heroik, sampai tentang Klub Sastra SMA.

 

"Di Klub Sastra, kamu pakai nama pena?"

 

"Mizukagami Owari."

 

"Aku juga pakai nama itu. Buat mewakili makna bad end."

Kami saling menyebutkan, lalu saling menimpali dengan, "Ada, ada!

Dulu pernah begitu!" atau "Sama, sama persis!"

 

"Di Precure, organisasi musuh favoritku itu Bad End Kingdom."

 

"Aku juga! Pas denger organisasi musuhnya Bad End Kingdom, aku sampai maraton nonton semua episodenya di layanan streaming, tapi ternyata akhirnya happy end."

 

"Ya kalau dipikir-pikir secara dingin, emang wajar begitu sih."

 

Meski ada perbedaan tipis, hampir semua peristiwa yang kualami juga dialami oleh Tsukino-san. Bahkan hal-hal yang tidak mungkin dialami kalau tidak berada di kelas yang sama atau tinggal di rumah yang sama.

 

"Kalau gitu, cinta pertamanya Asahi-kun siapa?"

 

"Guru TK... tapi ini beneran perlu diomongin?"

 

"Jujur aku cuma kepancing suasana aja pas nanya. Maaf. ...Tapi sekadar pengakuan, cinta pertamaku juga guru TK. Walau udah hampir nggak ingat, tapi rasanya beliau kelihatannya keren gitu."

 

"Nggak perlu dijelasin sejauh itu juga kali. Tapi aku juga ingat guruku kelihatannya lumayan keren sih."

 

Gara-gara topik itu, suasananya jadi agak aneh. Canggung rasanya saat mata kami beberapa kali saling beradu.

 

Lagian, Tsukino-san sendiri juga, gimana ya, keren—

 

"Ayo balik ke topik utama."

 

"Topik utamanya balik lagi ya."

 

Pipi kami berdua rasanya sama-sama merona merah, jadi kami buru-buru mengalihkan pembicaraan.

 

"Golongan darahku A."

 

"Loh. Kalau aku B."

 

"Ternyata ada bedanya juga. Nggak, harusnya emang wajar ada beda sih."

 

"Perbedaan ya... Anu, Asahi-kun."

 

Tsukino-san angkat bicara sambil terlihat ragu.

 

"Tadi aku sempat lihat ayahnya Asahi-kun juga... Mereka berdua mirip banget sama Ayah dan Ibuku."

 

"Ternyata dugaan kita sama."

 

Aku memang sudah menduga hal itu.

 

"Tapi, jenis kelaminnya kebalik."

 

Nah, yang itu benar-benar di luar dugaanku.

 

"Eh? Maksudmu, Ibu yang tipenya ramah dan awet muda, sama Ayah yang matanya galak, itu kebalik?"

 

"Iya, persis begitu. Ibuku matanya galak, kalau Ayahku awet muda."

 

Kami mencoba menerima situasi yang tidak masuk akal ini sebisanya.

 

"Aku merasa pikiran kita bener-bener terseret sama film tadi deh."

 

"Aku juga mikir gitu."

 

"Jangan-jangan kita ini keberadaan yang sama dari dunia paralel."

 

"Jangan-jangan kita ini keberadaan yang sama dari dunia paralel."

 

Kata-kata kami kembali bertumpukan.

 

Dunia paralel konon berjumlah tak terhingga. Di sana, ada dunia yang berdiri dengan hukum alam yang sama sekali berbeda, tapi ada juga dunia yang alur sejarahnya hampir mirip dengan duniaku. Singkatnya, keberadaan dunia dan sosok orang yang sama persis dengan dunia ini sangat mungkin ada. Lalu, ada juga dunia yang hampir identik dengan dunia ini, tetapi memiliki sedikit perbedaan.

 

Misalnya, sosok yang sama dengan Masumi Asahi, tetapi memiliki jenis kelamin yang berbeda.

Aku pernah membaca hal seperti itu di buku, dan di film Infinity Heaven juga sempat dibahas.

 

Meski berpikir mana mungkin ada hal sejelas itu, untuk saat ini membantahnya justru terasa lebih sulit.

 

Tapi—

 

"Asahi! Tsukino-chan! Cepat makan malam!"

 

Suara Ibu melengking cukup serius, membuat kami berdua refleks melonjak kaget.

 

"Itu nada suara Ibu sebelum beneran marah."

 

"Itu nada suara Ibu sebelum beneran marah ya."

 

Padahal tadi adalah bagian yang sangat penting, tetapi kami sepakat

kalau tidak segera menyelesaikan makan malam, situasinya bakal gawat.

 

Pemahaman kami terhadap pola perilaku Ibu rupanya juga garis besarnya sama.

 

◆ ◆ ◆

 

Kami sudah selesai makan malam dan mandi. Meskipun sekarang bukan saatnya santai, makan malamnya tetap enak seperti biasa, dan berkat berpikir tenang saat mandi, rasanya aku jadi bisa menata situasi ini dengan lebih jernih.

Setelah mandi, tempat berkumpul aku dan Tsukino-san tetaplah di kamarku.

 

Aku duduk di atas kasur, sementara Tsukino-san duduk di kursiku.

 

Tsukino-san mengenakan baju tidur yang tadi. Warna biru mudanya membuat rambut hitam panjangnya terlihat makin kontras dan indah.

 

Rambutnya yang telah dikeringkan sehabis mandi itu masih tampak lembap dan berkilau. Kesan di sekitar matanya yang terasa agak lebih lembut dari sebelumnya mungkin karena dia sudah menghapus riasannya.

 

Saat sadar kalau kaki telanjang mengintip dari balik celana piyama-nya, aku refleks memalingkan pandangan. Padahal aku tidak melakukan hal yang salah.

 

Padahal ini kamarku sendiri, tetapi aroma sampo yang tidak pernah ada di ruangan ini mulai tercium. Rasanya aku tidak boleh terlalu memikirkannya. Walau yang ini pun, aku tidak melakukan hal yang salah.

 

"Maaf ya. Mandiku agak lama."

 

"Eh, nggak apa-apa kok."

 

Begitu sadar kembali, aku gagal memberikan balasan yang terkesan keren.

 

"Terus gini. Aku udah coba merangkum pemikiranku."

 

Setelah sempat menghening sejenak, Tsukino-san mulai angkat bicara, walau nadanya terdengar ragu. Aku lumayan paham apa yang dirasakannya.

 

"Pikiran kalau ada dunia paralel itu rasanya nggak masuk akal banget. Kita cuma terlalu terpengaruh sama film. Tapi..."

 

"Malah itu yang terasa paling realistis, kan."

 

Saat Tsukino-san mengangguk, rambut hitamnya mengusap lembut

bagian dada baju tidurnya.

 

"Iya. Di tempat yang harusnya jadi rumahku, malah ada rumah Asahi-kun yang bentuknya hampir sama persis. Pas diajak ngobrol, perjalanan hidup kita berdua punya rekam jejak yang mirip, hubungan keluarga juga walau ada bedanya tapi mirip banget. Sekolah dan klub kita sama, tapi di sekolah kita nggak pernah ketemu."

 

Tsukino-san menempelkan tangan di bibirnya sambil berpikir. Dengan memberi pengantar, "Ini kedengarannya emang absurd banget sih," dia melanjutkan.

 

"Ini adalah duniaku Asahi-kun, dan aku yang tinggal di dunia paralel malah tersesat ke sini. Itu penjelasan yang paling masuk akal."

 

"Sekadar memastikan. Apa kamu punya hipotesis lain?"

"Teori kalau orang tua Asahi-kun lagi bohong, terus aku diajak kerja sama buat ngerjain kamu. Aku sengaja mengincar momen pas kamu lagi nonton film bad end. Kamu kena tipu deh."

 

"Punya kesan realistis sih, tapi nggak ada gunanya banget, belum lagi tingkat kesulitan dan biayanya terlalu tinggi."

 

"Bagaimana kalau gara-gara suatu hal, semua ini cuma halusinasi yang lagi kamu lihat?"

 

"Itu terlalu serba bisa, dan kalau begitu, nggak ada gunanya kita pikirkan."

 

"Kalau di komik atau novel, ini level ending cuma mimpi yang bikin pembaca berhak marah besar ya."

 

Kami berdua menyilangkan tangan sambil berpikir, tetapi pada akhirnya dunia paralel tetap terasa sebagai hipotesis yang paling mendingan.

 

"Sebenernya..." kata Tsukino-san sambil mengambil ponsel peraknya yang tergeletak di meja. Aku sendiri memakai ponsel tipe yang sama dengan warna deep blue. Padahal ini ponsel Android yang mereknya lumayan minor, tapi bisa-bisanya samaan lagi.

 

"Pas Asahi-kun lagi mandi, aku coba telepon dan kirim pesan LINE ke keluargaku."

 

"Begitu ya. Kalau bisa tersambung ke sana, kita bisa konfirmasi situasi secara objektif. Nggak... tunggu."

Kalau teleponnya tersambung, dia pasti sudah membahas hal itu dari tadi.

 

"Iya. Asahi-kun juga pasti sadar, dua-duanya nggak bisa tersambung. Nomor telepon maupun akun mereka nggak ada. Tapi sinyalnya ada kok."

 

Saat dia memperlihatkan layarnya padaku, sinyalnya memang tersambung. Sepertinya kartu dan akun miliknya sendiri masih aktif.

 

"Ponselmu nggak rusak, kan?"

 

"Soal itu kita harus tes lebih lanjut. Boleh minta bertukar nomor telepon?"

 

"A-Ah, iya."

 

Hal yang tadi di depan rumah sempat kukumpulkan keberaniannya setengah mati, malah terwujud begitu saja secara alami.

 

Tsukino-san yang tadinya berdiri, melangkah mendekat ke arahku yang masih duduk di kasur. Saat dia membungkukkan badan dan menyodorkan layar ponsel berisi nomor teleponnya ke depan mataku, helai rambut hitamnya yang terurai menyentuh lututku. Aroma wangi sehabis mandi menguar lembut secara tiba-tiba.

 

"Ah," desah Tsukino-san pelan.

 

"Ada apa?"

"E-Eh, anu."

 

Matanya bergerak gelisah. Pipinya yang menghangat sehabis mandi terasa makin merona sedikit lebih merah dari sebelumnya.

 

"Soal bertukar kontak sama cowok... selain di Klub Sastra, ini pertama kalinya buatku, jadi rasanya malu dalam berbagai arti. ...Jangan ditanya-tanya dong."

 

"M-Maaf. Nggak, maksudku... buatku ini juga pertama kalinya..."

 

Aku bisa memahami kalau rasanya agak beda dibanding bertukar kontak untuk urusan klub biasa. Lagipula, kalau diutarakan begitu, aku malah jadi makin kepikiran.

 

Dia bilang ini yang pertama ya? Padahal dia secantik ini... pikirku.

 

"Aduh. Pokoknya telepon cepat," keluhnya.

 

Raut wajahnya yang bersungut-sungut harusnya tidak cocok dengan parasnya yang dewasa, tetapi justru kelihatan amat manis. Sambil membatin begitu, aku menuruti perkataannya dan mulai menelepon.

 

"Halo," suara balasan langsung terdengar di dekat telingaku. Suara Tsukino yang terdengar dari ponsel dan suara Tsukino yang terucap dari tenggorokannya saling berpadu.

 

"Lancar tersambung ya," ujarnya lalu mematikan telepon dan kembali ke arah kursi. Di saat itulah aku baru menyadari kalau sejak tadi aku hampir menahan napas. Rasanya bersalah saja kalau sampai menghirup aroma wangi di dekatnya.

 

Sambil berusaha keras mengembalikan ketenangan diri, Tsukino mengecek ponselnya sedikit lebih jauh. Aku pun memeriksa ponselku sendiri, meski kami berdua sama-sama terkesan sedang menutupi kekurangan dari interaksi tadi.

 

Pokoknya, ponsel Tsukino cuma tidak bisa menghubungi nomor-nomor yang terdaftar saja, sisanya hampir bisa digunakan secara normal.

 

"Game ponsel juga bisa dimainkan. Rasanya janggal banget hampir semua aplikasi bisa dipakai normal, tapi keanehan ini mirip-mirip sama fakta kalau kamarku ada di rumah Asahi-kun secara alami sih."

 

"Kenyataan kalau Tsukino berada di posisi anak sahabat Ayah juga sama. Kamu punya ide soal logika di balik ini?"

 

"...Dari sudut pandangku, ada jawaban yang sama sekali tidak meyakinkan. Kalau Asahi-kun bagaimana?"

 

"Meskipun ini terlalu terseret sama film Infinity Heaven lagi... tapi aku

memikirkan konsep di film itu, pas ada keberadaan ireguler yang muncul, pihak dunia akan melakukan penyesuaian secara otomatis. Untuk sementara aku memikirkannya lewat konsep itu."

 

"Ternyata pemikiran kita sama lagi ya. Tapi mungkin ini gara-gara kita nonton film yang sama sih."

Di dalam film, saat karakter utama berpindah ke dunia lain, ada adegan di mana dia diperlakukan seolah-olah memang sudah ada di dunia itu sejak awal. Misalnya menjadi saudara dari seseorang di dunia tersebut, atau kalau di dunia fantasi, dia sudah terdaftar sebagai petualang.

 

"Teori dunia paralel maupun teori penyesuaian dunia, kita tidak bakal bisa dapat kepastian kalau tidak menyelidiki situasinya lebih lanjut."

 

"Benar juga. Tapi yang pasti, tempat ini beda dari tempat asalku."

 

Tsukino melirik ke arah lemari pakaian. Di sana tergantung blazer milikku.

 

"Besok, boleh aku ikut pergi ke sekolah bareng?"

 

"Maksudmu buat menyelidiki bagaimana kamu diperlakukan di sekolah?"

 

"Iya, tepat sekali. Kalau cuma reaksi keluarga, masih ada kemungkinan semua orang bekerja sama buat berbohong, jadi aku mau lihat reaksi orang lain dan lingkungan sosial juga."

 

"Boleh juga. Kita harus mencari petunjuk."

 

Aku tidak tahu apakah Tsukino benar-benar datang dari dunia paralel.

 

Secara realitas, hal seperti itu mana mungkin terjadi. Namun, sosok dirinya benar-benar terlalu mirip denganku.

"Lalu... kalau tempat ini memang dunia paralel, mari kita cari cara agar Tsukino bisa pulang."

 

Mata sipitnya membulat sesaat, lalu perlahan menyipit kembali.

 

"Terima kasih, Asahi-kun."

 

"Eh, tidak..."

 

Aku bingung harus merespons bagaimana.

 

Saat hening tercipta, aku kembali sadar akan penampilan baju tidurnya dan aroma wangi yang menguar dari dirinya.

 

Sambil tetap duduk, Tsukino tampak agak serba salah; dia menyatukan kedua tangannya lalu menggoyangkan kakinya pelan. Padahal sudah lumayan lama sejak keluar dari kamar mandi, rona merah di pipinya tak kunjung pudar.

 

"Anu... kalau dipikir-pikir, pakai piyama begini bikin agak malu ya."

 

Tsukino melingkarkan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri.

 

Gesturnya yang seolah hendak menyembunyikan diri beserta tatapan matanya yang agak berkaca-kaca justru makin menonjolkan kesan manisnya.

 

Mendadak Tsukino terkekeh pelan.

 

"Asahi-kun juga ngelakuin hal yang sama tuh."

 

Saat mengikuti arah pandangnya, tanpa sadar aku juga dalam posisi memeluk diri sendiri. Lebih tepatnya bersedekap, tapi malah kelihatan seperti gadis pemalu. Sama sekali tidak ada manis-manisnya.

 

"Karena kita keberadaan yang sama dari dunia paralel, mungkin pola pikir kita juga mirip."

 

Entah ini cuma pengalihan atau perasaan sejujurnya, aku sendiri tidak tahu saat menjawabnya, tetapi rasanya ada desiran darah yang menjalar naik di sepanjang tulang belakangku.

 

Tanpa sadar kami berdua sama-sama memalingkan pandangan.

 

◆ ◆ ◆

 

Bagaimana rencana kami saat benar-benar pergi ke sekolah besok?

 

Setelah itu, meski sempat melantur ke mana-mana, kami memeriksa kamar Tsukino dan mendiskusikan alur detailnya. Hasilnya, kami memutuskan untuk mencoba pergi secara biasa dulu.

 

Karena kami pulang sudah larut, begitu selesai berdiskusi jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kami harus segera tidur, jadi aku kembali ke kamar dan menyusup ke dalam selimut.

 

Sepulang sekolah tadi aku menonton film, lalu diterjang rangkaian kejadian yang begitu luar biasa setelahnya. Harusnya aku sangat lelah.

"Nggak bisa... mata ini malah segar banget."

 

Rasa lelah sama sekali tidak berpengaruh, mataku tetap saja melek.

 

Padahal baru saja aku berada di kamar Tsukino. Penampilannya yang memakai baju tidur membuatku gugup, dan dari awal penampilan Tsukino memang benar-benar tipe favoritku. Biarpun teori keberadaan yang sama itu benar, mana bisa aku tidak kepikiran ada seorang gadis di rumah yang sama.

 

Ngomong-ngomong... aku membalikkan badan. Di hadapanku ada dinding kamar. Hanya terhalang satu dinding ini, kasur Tsukino berada di seberangnya.

 

Apakah Tsukino sudah tidur? Atau dia juga sedang gundah, maksudku, matanya juga masih segar seperti diriku?

 

"Nggak... beda cerita ya."

 

Biarpun ini dunia paralel atau bukan, fakta bahwa Tsukino tersesat di dunia ini adalah hal yang pasti selama aku memercayai ceritanya.

 

Dia memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi dia pasti merasa cemas.

 

Kalau aku jadi dia, aku pasti tidak bakal bisa tidur.

 

Tok, tok, tok. Mendadak terdengar suara ketukan. Suara itu berasal dari balik dinding.

Saat aku merasa heran, sekali lagi dengan tempo yang sama, tok, tok, tok, dinding itu berbunyi.

 

Tsukino sedang mengetuk dinding.

 

"Ah, begitu ya."

 

Aku mengepalkan tangan, lalu mengetuk dinding dengan cara yang sama.

 

Tok, tok, tok.

 

"Fufu."

 

Suara terkekeh Tsukino terdengar menembus dinding.

 

Ketukan dinding sebanyak tiga kali dengan irama itu sama persis dengan tempo saat karakter utama dan heroine menepuk kepalan tangan mereka di Infinity Heaven. Itu adalah fist bump yang aku dan Tsukino lakukan di bioskop tadi.

 

"Asahi-kun, tidak bisa tidur?"

 

"Iya. Terlalu banyak hal yang bikin kaget."

 

Aku merahasiakan fakta kalau aku sedang memikirkan dirinya di balik dinding.

 

"Aku juga tidak bisa tidur. Habisnya semua ini terlalu tidak masuk akal. Aku tidak tahu harus bagaimana."

 

Memang benar sih.

 

"Tapi tahu tidak, Asahi-kun kan tadi bilang mau bantu cari cara buat pulang."

 

"Soal itu, yah, sudah sewajarnya kan."

 

Meskipun dinding membatasi suara, gesekan kain tetap terdengar halus.

 

Karena ruangan itu tadinya gudang, aku tidak pernah memikirkan betapa tipisnya dinding ini.

 

"Makanya, aku jadi merasa agak tenang... dan sekarang malah jadi lumayan ngantuk."

 

Di balik nadanya yang terkesan bercanda, terdengar samar suara uap menguap.

 

"Ngomong-ngomong, aku baru kepikiran sesuatu."

 

Kalimatnya terhenti di sana. Aku menunggu kelanjutan kata-katanya.

 

Namun tak kunjung terdengar.

 

"Tsukino-san?"

 

"A... aku kira kamu sudah tidur."

 

Caranya bicara terdengar agak panik, seperti sedang mengalihkan pembicaraan.

 

"Aku punya usul. Bukan masalah besar sih, cuma... mmm, gimana ya. Kalau kita memang keberadaan yang sama, memanggil 'Asahi-kun' atau

'Tsukino-san' rasanya terlalu kaku tidak sih?"

 

"Masa sih? Yah, mungkin saja."

 

Padahal bagiku, memanggil nama depan dan bukan nama keluarga di hari pertama bertemu itu sudah merupakan cara mendekatkan jarak yang sangat drastis.

 

"Boleh tidak kalau aku panggil... Asahi saja? Kamu juga boleh panggil

aku Tsukino kok."

 

Hanya dengan dipanggil "Asahi", jantungku mendadak berdegup kencang.

 

"Boleh. Bebas saja."

 

Aku berusaha menjawab setenang mungkin, tetapi rasanya suaraku sempat agak meninggi.

 

Hening sejenak. Dari balik dinding, kecanggungan yang seolah menantikan kata-kata berikutnya terasa begitu menyerap.

 

Kalau memang kami keberadaan yang sama dari dunia paralel, bagaimana dia bakal berpikir? Tidak, aku tidak tahu. Hal yang baru saja terlintas di kepalaku ini mungkin cuma fantasi belaka. Padahal kalau soal teori *bad end*, aku bisa membeberkannya sepanjang apa pun.

 

"Tsukino."

 

Suara itu terperas keluar dari tenggorokanku.

 

"Iya. Asahi."

 

Balasan suara itu datang tanpa jeda.

 

Setelahnya, tawa kecil yang tertahan meluncur begitu saja.

 

"Malu juga ya."

 

"Y-Ya, kan belum terbiasa."

 

Apa setelah ini kami bakal terbiasa? Apa hal semacam itu memang bisa dilakukan? Aku tidak tahu apa-apa.

 

Lagipula, merasa gugup hanya gara-gara memanggil nama depan keberadaan yang sama tanpa honorifik itu mungkin agak aneh.

 

Bagaimanapun, dia adalah aku. Namun, di saat yang sama, jenis kelaminnya berbeda, dan penampilannya sangat pas dengan seleraku sampai di tingkat yang mengkhawatirkan.

 

Aku harus menganggapnya sebagai diriku sendiri, atau memandangnya sebagai seorang gadis? Pikiran aneh mulai meracuni kepalaku. Aku menggelengkan kepala untuk mengusirnya, tetapi sekali terpikirkan, rasanya sulit untuk dihilangkan.

 

Setelah itu, beberapa menit berlalu, atau mungkin rasanya jauh lebih lama dari itu.

 

Di dalam kamar yang lampunya telah dipadamkan, hanya terdengar suara gesekan tubuh yang bergerak gelisah. Suara itu berpadu dengan suara dari kamar sebelah, sampai-sampai aku tidak tahu lagi mana suara yang kutimbulkan sendiri dan mana suara yang ditimbulkannya.

 

"Selamat tidur. Asahi."

 

"Selamat tidur. Tsukino."

 

Pada akhirnya kata-kata itu terucap juga.

 

Wajah dan tubuhku terasa panas. Meski selimut sudah kusingkap, rasa panasnya tak kunjung hilang. Padahal baru akhir Mei, tetapi hawa malam ini terasa begitu menyengat.

 

Aku bangun pelan-pelan lalu membuka jendela, dan dari kamar sebelah, suara yang sama persis ikut terdengar.

 

Berlatarkan langit malam, rambutnya yang bahkan jauh lebih pekat dari kegelapan itu melambai dimainkan angin.

 

Aku dan dia, yang sama-sama menongolkan wajah di luar jendela, saling melempar senyum canggung.

 

Rasa kantukku sudah benar-benar menguap tanpa sisa.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close