Bab 2: Tinggal Serumah dengan Diriku di Dunia Paralel
"Nggak, nggak, nggak, tunggu
sebentar."
Aku memeriksa rumah dan papan nama
keluarga berulang kali, tidak cuma sekali dua kali. Tsukino-san juga melakukan
hal yang sama.
"Tsukino-san, kamu tidak salah
rumah, kan?"
"Mana mungkin orang bisa salah
mengenali rumahnya sendiri, kan?
Tapi aku jadi agak ragu juga sih... Tapi,
ya. Di sini memang rumahku."
Kami berdua mendongak menatap rumah
tinggal yang biasa saja ini.
Termasuk rumah-rumah di sisi kiri, kanan,
dan seberangnya, ini jelas-jelas rumahku.
Ini... aku harus bagaimana?
Agak berat rasanya kalau harus masuk
begitu saja ke rumah yang diakui Tsukino-san sebagai rumahnya. Namun, tempat
ini harusnya rumahku.
Meski begitu, aku sendiri juga jadi makin
tidak yakin.
Saat kami berdua mulai kebingungan, pintu
tiba-tiba terbuka.
"Kalian lagi ngapain sih,
berdua?"
Wajah yang mengintip keluar adalah Ibu.
"Aduh. Minta izin sih iya, tapi ini
kemalaman tahu."
Wajahnya agak bersungut-sungut. Raut
wajah yang membulat—tidak mirip dengan mataku yang galak, pembawaannya yang
agak kekanak-kanakan hingga usianya samar—ini benar-benar Ibu yang kukenal.
"Tsukino-chan juga kemalaman loh.
Biar Asahi bareng juga tetap saja.
Anak ini kan ada bagian yang kurang bisa
diandalkan... Ibu kan dititipi anak gadis tunggal yang berharga, jadi harus
hati-hati."
Meski menegur Tsukino-san, Ibu tetap
mengucapkannya sambil
tersenyum ramah.
"Ibu mau menghangatkan makanan dulu,
cepat masuk sana."
Setelah mengatakannya, Ibu kembali masuk
ke dalam rumah.
Kami berdua diam tak berkata, tetapi aku
tahu kami sama-sama berusaha menata pikiran masing-masing. Antara percaya dan
tidak, aku
mulai membuka suara.
"Ini... rumahku, kan? Maksudku, dari
nuansanya."
"Kalau dari omongan tadi, berarti
aku dititipkan di rumah ini?"
Aku baru sadar kalau gestur bersedekap
kami saat berpikir ternyata
sama persis.
"Sekadar memastikan saja.
Tsukino-san, apa ada alasan tertentu yang bikin kamu dijadwalkan tinggal bareng
di rumahku mulai hari ini?"
"Aku sama sekali tidak ingat ada
kejadian begitu..."
Tentu saja, aku pun belum pernah
mendengarnya.
Kalau ini cuma lelucon Ibu, rasanya
terlalu mendadak. Ibu juga bukan tipe orang yang punya selera humor seperti
itu.
Untuk sementara, karena sudah pasti ini
rumahku, setidaknya cuma aku yang bisa pulang ke rumah ini. Namun, aku tidak
mungkin membiarkan Tsukino-san yang masih kebingungan memikirkan arti perkataan
Ibu tadi.
"Untuk sementara, mau masuk dulu ke
dalam?"
Aku mengucapkan kalimat yang biasanya
tidak akan pernah kuucapkan kepada seorang gadis. Yah, mau bagaimana lagi.
Kalau Ibu memang sedang melontarkan lelucon yang tidak lucu, yang bersalah di
sini adalah Ibu.
"Kalau begitu... ya. Permisi... kali
ya?"
Tsukino-san menurunkan alisnya dengan
raut kebingungan. Tatapan matanya yang harusnya tajam itu, begitu menatap ke
atas malah terlihat agak rapuh.
Untuk ukuran seorang gadis, badannya
tergolong tinggi, tetapi dia tetap sedikit lebih pendek dariku. Aku baru
menyadari hal itu sekarang.
◆
◆ ◆
Tsukino-san yang baru kutemui dua jam
lalu kini berada di kamarku.
Melihatnya duduk bersimpuh di kamar yang
amat biasa—hanya berisi meja, rak buku, dan kasur—pikiran itu melintas begitu
saja di benakku, tetapi ini memang kenyataan.
"Ah, maaf. Harusnya aku mengambilkan
bantal kursi atau semacamnya."
"Eh, tidak usah. Jangan
repot-repot."
Tsukino-san mengalihkan pandangannya ke
sekeliling. Aku jadi cemas kalau-kalau ada barang aneh yang lupa kusembunyikan.
Begitu menyadarinya, aku jadi agak gugup.
Namun, sekarang bukan waktunya memikirkan
hal itu.
"Tadi aku coba bicara halus sama
Ibu."
Di saat Ibu sedang menyiapkan makan
malam, aku menanyakannya secara kasual agar tidak terkesan aneh. Tingkat
kesulitannya lumayan tinggi.
"Katanya Tsukino-san itu anak dari
sahabat Ayah. Karena urusan pekerjaan keluargamu, kamu dititipkan sementara di
rumah kami."
"Itu sih gimana ya... mirip Blue Box
banget."
"Memang mirip banget, tapi seingatku
cerita kita bukan Blue Box, kan?"
"Iya. Harusnya rumah yang kutinggali
itu tempat ini. Hmmm."
Tsukino-san bergumam pelan sambil
memiringkan kepalanya.
Begitu berdiri, dia kembali mengalihkan
pandangan ke sekeliling kamar.
Dia lalu berjalan berkeliling di dalam
kamar.
"Kamarku itu harusnya di posisi
kamar Asahi-kun ini."
"Maksudmu barang-barangnya
sama?"
"Bukan. Posisi kamarnya. Tata letak
furniturnya memang mirip, barang-barang yang ditaruh juga mirip banget...
bahkan rasanya hampir sama persis. Tapi, tetap ada detail kecil yang beda?
Eh."
Dengan mata membulat, Tsukino-san
mengulurkan tangannya ke rak buku.
"Buku ini. Ini penyebab penyimpangan
selera bad end-ku."
Tidak mungkin aku tidak mengenali buku
dengan sampul sederhana yang diambilnya itu.
"Ah, maaf ya main ambil saja. Ini
antologi tulisan Klub Sastra, kan?"
"Ini antologi tulisan SMA
Himurogioka, kan? Ini terbitan yang lumayan lama. Waktu SMP, aku mendapatkannya
saat datang ke festival budaya."
"Aku juga. Novel berjudul Pagi
Keberangkatan yang ada di dalam buku ini luar biasa banget. Ceritanya tentang
dunia fantasi di ambang kehancuran, lalu ada raja muda dan permaisurinya yang
berusaha mencegah hal itu. Demi anak tercinta, mereka berdua melintasi dunia
yang mulai runtuh."
"Iya, benar. Walau dunianya terkesan
tanpa harapan, karakternya tetap ceria dan temponya bagus. Situasinya padahal
dunia yang terkikis sedikit demi sedikit, tapi karena mereka berdua selalu
berpikiran positif dan berhasil melewati ujian dengan lancar, cerita
petualangan ini bikin kita merasa semuanya bakal baik-baik saja."
"Tapi, tidak semulus itu, kan? Demi
menyelamatkan nyawa
bawahannya, mereka malah gagal di ujian
terakhir, dan dari sanalah kehancuran makin dipercepat."
"Raja dan Permaisuri tidak menyerah.
Mereka tetap ceria dan positif. Itu adalah bentuk perlawanan terakhir mereka
menuju kepunahan. Namun, rakyat tidak mengampuni mereka yang gagal dalam ujian.
Ketakutan akan kemusnahan melahirkan kegilaan, dan tangan orang-orang yang
dikuasai kegilaan itu mulai mengincar mereka berdua. Bahkan bawahan yang susah
payah mereka selamatkan pun ikut tewas di tengah kekacauan itu."
"Di akhir cerita, sambil menyisakan
sedikit titik harapan, Raja dan Permaisuri meloloskan anak mereka keluar dari
dunia itu, kan? Tapi, orang-orang yang memberontak menangkap mereka berdua dan
menyiksa mereka tanpa belas kasihan."
Tsukino membalik-balik halaman antologi
tersebut.
"Adegan ini luar biasa banget kan.
Penggambaran kekerasan pada mereka berdua begitu intens dan detail sampai
rasanya tidak perlu ditulis sejauh itu. Aku sampai kena trauma gara-gara
ini."
"Karena aku membacanya pas SMP, aku
juga tidak bisa tidur nyenyak selama tiga hari."
"Tapi," Tsukino-san melanjutkan
perkataannya. Kata-kata yang sama juga terlintas di benakku.
"Gara-gara bad end yang bikin
menjerit hysteris itu, aku jadi masuk Klub Sastra Himurogioka."
"...Aku juga anggota Klub Sastra
Himurogioka."
Tsukino-san tampak terkejut, tetapi
reaksinya seolah-olah sudah menduga hal itu. Aku pun sama.
"Asahi-kun menulis novel di
klub?"
"Di klub, aku tergolong yang paling
produktif menulis."
"Sering ikut sesi kritik-saran yang
sengit?"
"Sering, sering banget."
"...Tapi Asahi-kun, kamu tidak
pernah melihatku di klub maupun di sekolah, kan?"
"Aku tidak pernah melihat
Tsukino-san sekali pun. Padahal hampir setiap hari aku pergi ke ruang
klub."
Kami berdua bungkam di hadapan antologi
tulisan tersebut. Sebagai sebuah dugaan, jawaban yang rasanya tidak mungkin
terjadi justru mulai mencuat.
"Asahi! Tsukino-chan!"
Pintu mendadak dibuka begitu saja,
membuat kami berdua melonjak kaget.
Saat menoleh, Ibu kembali
bersungut-sungut.
"Kalian berdua malah berduaan di
kamar sempit begini. Bukannya kamar Tsukino-chan lebih luas?"
Ibu menunjuk ke arah kamar sebelah.
"Makan malamnya nanti dingin, cepat
makan ya. Ibu masih harus beres-beres. Terus jangan lupa mandi."
Setelah menyampaikan tujuannya, Ibu
langsung turun ke lantai satu.
Aku dan Tsukino-san saling berpandangan.
"Kamarku ada?"
Kami keluar ke koridor dan membuka pintu
kamar sebelah yang harusnya merupakan gudang.
Begitu lampu dinyalakan, ruangan itu
bukan lagi ruangan yang kukenal.
Kardus-kardus dan barang bekas yang
tadinya menumpuk sembarangan, serta alat pel yang jarang dipakai sudah lenyap,
menggantikannya adalah lantai kayu yang baru diolesi pelapis kilap dan
memantulkan cahaya lampu plafon.
Meja, kasur, serta lemari kecil dan rak.
Di sana tersedia furnitur yang pas untuk ukuran ruangan orang yang dititipkan
sementara di rumah kami.
Secara realistis, katakanlah Ibu sedang
mengerjai kami dengan rencana yang terkonsep matang. Untuk melakukan itu,
selama aku pergi ke sekolah, Ibu harus membereskan gudang, membersihkannya,
melapisi lantai dengan cairan kilap, lalu mengangkut furnitur baru ke dalamnya.
Rasanya tidak mungkin, kan?
Sambil diselimuti kebingungan,
Tsukino-san membuka pintu lemari pakaian.
"Ada baju tidur yang pas sama
ukuranku. Barang lainnya juga... iya, ada semua."
Sosoknya yang berdiri di kamar asing
sambil memegang baju tidur berwarna biru muda pucat itu terlihat sangat menyatu
secara alami.
"Asahi-kun, aku mau tanya
sesuatu."
"Aku juga. Mungkin kita memikirkan
hal yang sama."
Kami saling mengangguk.
"Maaf kalau ini agak mencampuri
urusan pribadi... tapi boleh aku tanya-tanya soal masa SD dan SMP-mu?"
"Nggak apa-apa. Aku juga mau
menanyakan hal yang sama."
Nama wali kelas, kenangan study tour,
buku dan anime favorit, cerita film, insiden Kobayashi-kun yang bertindak
heroik, sampai tentang Klub Sastra SMA.
"Di Klub Sastra, kamu pakai nama
pena?"
"Mizukagami Owari."
"Aku juga pakai nama itu. Buat
mewakili makna bad end."
Kami saling menyebutkan, lalu saling
menimpali dengan, "Ada, ada!
Dulu pernah begitu!" atau
"Sama, sama persis!"
"Di Precure, organisasi musuh
favoritku itu Bad End Kingdom."
"Aku juga! Pas denger organisasi
musuhnya Bad End Kingdom, aku sampai maraton nonton semua episodenya di layanan
streaming, tapi ternyata akhirnya happy end."
"Ya kalau dipikir-pikir secara
dingin, emang wajar begitu sih."
Meski ada perbedaan tipis, hampir semua
peristiwa yang kualami juga dialami oleh Tsukino-san. Bahkan hal-hal yang tidak
mungkin dialami kalau tidak berada di kelas yang sama atau tinggal di rumah
yang sama.
"Kalau gitu, cinta pertamanya
Asahi-kun siapa?"
"Guru TK... tapi ini beneran perlu
diomongin?"
"Jujur aku cuma kepancing suasana
aja pas nanya. Maaf. ...Tapi sekadar pengakuan, cinta pertamaku juga guru TK.
Walau udah hampir nggak ingat, tapi rasanya beliau kelihatannya keren
gitu."
"Nggak perlu dijelasin sejauh itu
juga kali. Tapi aku juga ingat guruku kelihatannya lumayan keren sih."
Gara-gara topik itu, suasananya jadi agak
aneh. Canggung rasanya saat mata kami beberapa kali saling beradu.
Lagian, Tsukino-san sendiri juga, gimana
ya, keren—
"Ayo balik ke topik utama."
"Topik utamanya balik lagi ya."
Pipi kami berdua rasanya sama-sama merona
merah, jadi kami buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Golongan darahku A."
"Loh. Kalau aku B."
"Ternyata ada bedanya juga. Nggak,
harusnya emang wajar ada beda sih."
"Perbedaan ya... Anu,
Asahi-kun."
Tsukino-san angkat bicara sambil terlihat
ragu.
"Tadi aku sempat lihat ayahnya
Asahi-kun juga... Mereka berdua mirip banget sama Ayah dan Ibuku."
"Ternyata dugaan kita sama."
Aku memang sudah menduga hal itu.
"Tapi, jenis kelaminnya
kebalik."
Nah, yang itu benar-benar di luar
dugaanku.
"Eh? Maksudmu, Ibu yang tipenya
ramah dan awet muda, sama Ayah yang matanya galak, itu kebalik?"
"Iya, persis begitu. Ibuku matanya
galak, kalau Ayahku awet muda."
Kami mencoba menerima situasi yang tidak
masuk akal ini sebisanya.
"Aku merasa pikiran kita bener-bener
terseret sama film tadi deh."
"Aku juga mikir gitu."
"Jangan-jangan kita ini keberadaan
yang sama dari dunia paralel."
"Jangan-jangan kita ini keberadaan
yang sama dari dunia paralel."
Kata-kata kami kembali bertumpukan.
Dunia paralel konon berjumlah tak
terhingga. Di sana, ada dunia yang berdiri dengan hukum alam yang sama sekali
berbeda, tapi ada juga dunia yang alur sejarahnya hampir mirip dengan duniaku.
Singkatnya, keberadaan dunia dan sosok orang yang sama persis dengan dunia ini
sangat mungkin ada. Lalu, ada juga dunia yang hampir identik dengan dunia ini,
tetapi memiliki sedikit perbedaan.
Misalnya, sosok yang sama dengan Masumi
Asahi, tetapi memiliki jenis kelamin yang berbeda.
Aku pernah membaca hal seperti itu di
buku, dan di film Infinity Heaven juga sempat dibahas.
Meski berpikir mana mungkin ada hal
sejelas itu, untuk saat ini membantahnya justru terasa lebih sulit.
Tapi—
"Asahi! Tsukino-chan! Cepat makan
malam!"
Suara Ibu melengking cukup serius,
membuat kami berdua refleks melonjak kaget.
"Itu nada suara Ibu sebelum beneran
marah."
"Itu nada suara Ibu sebelum beneran
marah ya."
Padahal tadi adalah bagian yang sangat
penting, tetapi kami sepakat
kalau tidak segera menyelesaikan makan
malam, situasinya bakal gawat.
Pemahaman kami terhadap pola perilaku Ibu
rupanya juga garis besarnya sama.
◆
◆ ◆
Kami sudah selesai makan malam dan mandi.
Meskipun sekarang bukan saatnya santai, makan malamnya tetap enak seperti
biasa, dan berkat berpikir tenang saat mandi, rasanya aku jadi bisa menata
situasi ini dengan lebih jernih.
Setelah mandi, tempat berkumpul aku dan
Tsukino-san tetaplah di kamarku.
Aku duduk di atas kasur, sementara
Tsukino-san duduk di kursiku.
Tsukino-san mengenakan baju tidur yang
tadi. Warna biru mudanya membuat rambut hitam panjangnya terlihat makin kontras
dan indah.
Rambutnya yang telah dikeringkan sehabis
mandi itu masih tampak lembap dan berkilau. Kesan di sekitar matanya yang
terasa agak lebih lembut dari sebelumnya mungkin karena dia sudah menghapus
riasannya.
Saat sadar kalau kaki telanjang mengintip
dari balik celana piyama-nya, aku refleks memalingkan pandangan. Padahal aku
tidak melakukan hal yang salah.
Padahal ini kamarku sendiri, tetapi aroma
sampo yang tidak pernah ada di ruangan ini mulai tercium. Rasanya aku tidak
boleh terlalu memikirkannya. Walau yang ini pun, aku tidak melakukan hal yang
salah.
"Maaf ya. Mandiku agak lama."
"Eh, nggak apa-apa kok."
Begitu sadar kembali, aku gagal
memberikan balasan yang terkesan keren.
"Terus gini. Aku udah coba merangkum
pemikiranku."
Setelah sempat menghening sejenak,
Tsukino-san mulai angkat bicara, walau nadanya terdengar ragu. Aku lumayan
paham apa yang dirasakannya.
"Pikiran kalau ada dunia paralel itu
rasanya nggak masuk akal banget. Kita cuma terlalu terpengaruh sama film.
Tapi..."
"Malah itu yang terasa paling
realistis, kan."
Saat Tsukino-san mengangguk, rambut
hitamnya mengusap lembut
bagian dada baju tidurnya.
"Iya. Di tempat yang harusnya jadi
rumahku, malah ada rumah Asahi-kun yang bentuknya hampir sama persis. Pas
diajak ngobrol, perjalanan hidup kita berdua punya rekam jejak yang mirip,
hubungan keluarga juga walau ada bedanya tapi mirip banget. Sekolah dan klub
kita sama, tapi di sekolah kita nggak pernah ketemu."
Tsukino-san menempelkan tangan di
bibirnya sambil berpikir. Dengan memberi pengantar, "Ini kedengarannya
emang absurd banget sih," dia melanjutkan.
"Ini adalah duniaku Asahi-kun, dan
aku yang tinggal di dunia paralel malah tersesat ke sini. Itu penjelasan yang
paling masuk akal."
"Sekadar memastikan. Apa kamu punya
hipotesis lain?"
"Teori kalau orang tua Asahi-kun
lagi bohong, terus aku diajak kerja sama buat ngerjain kamu. Aku sengaja
mengincar momen pas kamu lagi nonton film bad end. Kamu kena tipu deh."
"Punya kesan realistis sih, tapi
nggak ada gunanya banget, belum lagi tingkat kesulitan dan biayanya terlalu
tinggi."
"Bagaimana kalau gara-gara suatu
hal, semua ini cuma halusinasi yang lagi kamu lihat?"
"Itu terlalu serba bisa, dan kalau
begitu, nggak ada gunanya kita pikirkan."
"Kalau di komik atau novel, ini
level ending cuma mimpi yang bikin pembaca berhak marah besar ya."
Kami berdua menyilangkan tangan sambil
berpikir, tetapi pada akhirnya dunia paralel tetap terasa sebagai hipotesis
yang paling mendingan.
"Sebenernya..." kata
Tsukino-san sambil mengambil ponsel peraknya yang tergeletak di meja. Aku
sendiri memakai ponsel tipe yang sama dengan warna deep blue. Padahal ini
ponsel Android yang mereknya lumayan minor, tapi bisa-bisanya samaan lagi.
"Pas Asahi-kun lagi mandi, aku coba
telepon dan kirim pesan LINE ke keluargaku."
"Begitu ya. Kalau bisa tersambung ke
sana, kita bisa konfirmasi situasi secara objektif. Nggak... tunggu."
Kalau teleponnya tersambung, dia pasti
sudah membahas hal itu dari tadi.
"Iya. Asahi-kun juga pasti sadar,
dua-duanya nggak bisa tersambung. Nomor telepon maupun akun mereka nggak ada.
Tapi sinyalnya ada kok."
Saat dia memperlihatkan layarnya padaku,
sinyalnya memang tersambung. Sepertinya kartu dan akun miliknya sendiri masih
aktif.
"Ponselmu nggak rusak, kan?"
"Soal itu kita harus tes lebih
lanjut. Boleh minta bertukar nomor telepon?"
"A-Ah, iya."
Hal yang tadi di depan rumah sempat
kukumpulkan keberaniannya setengah mati, malah terwujud begitu saja secara
alami.
Tsukino-san yang tadinya berdiri,
melangkah mendekat ke arahku yang masih duduk di kasur. Saat dia membungkukkan
badan dan menyodorkan layar ponsel berisi nomor teleponnya ke depan mataku,
helai rambut hitamnya yang terurai menyentuh lututku. Aroma wangi sehabis mandi
menguar lembut secara tiba-tiba.
"Ah," desah Tsukino-san pelan.
"Ada apa?"
"E-Eh, anu."
Matanya bergerak gelisah. Pipinya yang
menghangat sehabis mandi terasa makin merona sedikit lebih merah dari
sebelumnya.
"Soal bertukar kontak sama cowok...
selain di Klub Sastra, ini pertama kalinya buatku, jadi rasanya malu dalam
berbagai arti. ...Jangan ditanya-tanya dong."
"M-Maaf. Nggak, maksudku... buatku
ini juga pertama kalinya..."
Aku bisa memahami kalau rasanya agak beda
dibanding bertukar kontak untuk urusan klub biasa. Lagipula, kalau diutarakan
begitu, aku malah jadi makin kepikiran.
Dia bilang ini yang pertama ya? Padahal dia
secantik ini... pikirku.
"Aduh. Pokoknya telepon cepat,"
keluhnya.
Raut wajahnya yang bersungut-sungut
harusnya tidak cocok dengan parasnya yang dewasa, tetapi justru kelihatan amat
manis. Sambil membatin begitu, aku menuruti perkataannya dan mulai menelepon.
"Halo," suara balasan langsung
terdengar di dekat telingaku. Suara Tsukino yang terdengar dari ponsel dan
suara Tsukino yang terucap dari tenggorokannya saling berpadu.
"Lancar tersambung ya," ujarnya
lalu mematikan telepon dan kembali ke arah kursi. Di saat itulah aku baru
menyadari kalau sejak tadi aku hampir menahan napas. Rasanya bersalah saja
kalau sampai menghirup aroma wangi di dekatnya.
Sambil berusaha keras mengembalikan
ketenangan diri, Tsukino mengecek ponselnya sedikit lebih jauh. Aku pun
memeriksa ponselku sendiri, meski kami berdua sama-sama terkesan sedang
menutupi kekurangan dari interaksi tadi.
Pokoknya, ponsel Tsukino cuma tidak bisa
menghubungi nomor-nomor yang terdaftar saja, sisanya hampir bisa digunakan
secara normal.
"Game ponsel juga bisa dimainkan.
Rasanya janggal banget hampir semua aplikasi bisa dipakai normal, tapi keanehan
ini mirip-mirip sama fakta kalau kamarku ada di rumah Asahi-kun secara alami
sih."
"Kenyataan kalau Tsukino berada di
posisi anak sahabat Ayah juga sama. Kamu punya ide soal logika di balik
ini?"
"...Dari sudut pandangku, ada
jawaban yang sama sekali tidak meyakinkan. Kalau Asahi-kun bagaimana?"
"Meskipun ini terlalu terseret sama
film Infinity Heaven lagi... tapi aku
memikirkan konsep di film itu, pas ada
keberadaan ireguler yang muncul, pihak dunia akan melakukan penyesuaian secara
otomatis. Untuk sementara aku memikirkannya lewat konsep itu."
"Ternyata pemikiran kita sama lagi
ya. Tapi mungkin ini gara-gara kita nonton film yang sama sih."
Di dalam film, saat karakter utama
berpindah ke dunia lain, ada adegan di mana dia diperlakukan seolah-olah memang
sudah ada di dunia itu sejak awal. Misalnya menjadi saudara dari seseorang di
dunia tersebut, atau kalau di dunia fantasi, dia sudah terdaftar sebagai
petualang.
"Teori dunia paralel maupun teori
penyesuaian dunia, kita tidak bakal bisa dapat kepastian kalau tidak
menyelidiki situasinya lebih lanjut."
"Benar juga. Tapi yang pasti, tempat
ini beda dari tempat asalku."
Tsukino melirik ke arah lemari pakaian.
Di sana tergantung blazer milikku.
"Besok, boleh aku ikut pergi ke
sekolah bareng?"
"Maksudmu buat menyelidiki bagaimana
kamu diperlakukan di sekolah?"
"Iya, tepat sekali. Kalau cuma
reaksi keluarga, masih ada kemungkinan semua orang bekerja sama buat berbohong,
jadi aku mau lihat reaksi orang lain dan lingkungan sosial juga."
"Boleh juga. Kita harus mencari
petunjuk."
Aku tidak tahu apakah Tsukino benar-benar
datang dari dunia paralel.
Secara realitas, hal seperti itu mana
mungkin terjadi. Namun, sosok dirinya benar-benar terlalu mirip denganku.
"Lalu... kalau tempat ini memang
dunia paralel, mari kita cari cara agar Tsukino bisa pulang."
Mata sipitnya membulat sesaat, lalu
perlahan menyipit kembali.
"Terima kasih, Asahi-kun."
"Eh, tidak..."
Aku bingung harus merespons bagaimana.
Saat hening tercipta, aku kembali sadar
akan penampilan baju tidurnya dan aroma wangi yang menguar dari dirinya.
Sambil tetap duduk, Tsukino tampak agak
serba salah; dia menyatukan kedua tangannya lalu menggoyangkan kakinya pelan.
Padahal sudah lumayan lama sejak keluar dari kamar mandi, rona merah di pipinya
tak kunjung pudar.
"Anu... kalau dipikir-pikir, pakai
piyama begini bikin agak malu ya."
Tsukino melingkarkan kedua tangannya
memeluk dirinya sendiri.
Gesturnya yang seolah hendak
menyembunyikan diri beserta tatapan matanya yang agak berkaca-kaca justru makin
menonjolkan kesan manisnya.
Mendadak Tsukino terkekeh pelan.
"Asahi-kun juga ngelakuin hal yang
sama tuh."
Saat mengikuti arah pandangnya, tanpa
sadar aku juga dalam posisi memeluk diri sendiri. Lebih tepatnya bersedekap,
tapi malah kelihatan seperti gadis pemalu. Sama sekali tidak ada
manis-manisnya.
"Karena kita keberadaan yang sama
dari dunia paralel, mungkin pola pikir kita juga mirip."
Entah ini cuma pengalihan atau perasaan
sejujurnya, aku sendiri tidak tahu saat menjawabnya, tetapi rasanya ada desiran
darah yang menjalar naik di sepanjang tulang belakangku.
Tanpa sadar kami berdua sama-sama
memalingkan pandangan.
◆
◆ ◆
Bagaimana rencana kami saat benar-benar
pergi ke sekolah besok?
Setelah itu, meski sempat melantur ke
mana-mana, kami memeriksa kamar Tsukino dan mendiskusikan alur detailnya.
Hasilnya, kami memutuskan untuk mencoba pergi secara biasa dulu.
Karena kami pulang sudah larut, begitu
selesai berdiskusi jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kami harus
segera tidur, jadi aku kembali ke kamar dan menyusup ke dalam selimut.
Sepulang sekolah tadi aku menonton film,
lalu diterjang rangkaian kejadian yang begitu luar biasa setelahnya. Harusnya
aku sangat lelah.
"Nggak bisa... mata ini malah segar
banget."
Rasa lelah sama sekali tidak berpengaruh,
mataku tetap saja melek.
Padahal baru saja aku berada di kamar
Tsukino. Penampilannya yang memakai baju tidur membuatku gugup, dan dari awal
penampilan Tsukino memang benar-benar tipe favoritku. Biarpun teori keberadaan
yang sama itu benar, mana bisa aku tidak kepikiran ada seorang gadis di rumah
yang sama.
Ngomong-ngomong... aku membalikkan badan.
Di hadapanku ada dinding kamar. Hanya terhalang satu dinding ini, kasur Tsukino
berada di seberangnya.
Apakah Tsukino sudah tidur? Atau dia juga
sedang gundah, maksudku, matanya juga masih segar seperti diriku?
"Nggak... beda cerita ya."
Biarpun ini dunia paralel atau bukan,
fakta bahwa Tsukino tersesat di dunia ini adalah hal yang pasti selama aku
memercayai ceritanya.
Dia memang tidak mengatakan apa-apa,
tetapi dia pasti merasa cemas.
Kalau aku jadi dia, aku pasti tidak bakal
bisa tidur.
Tok, tok, tok. Mendadak
terdengar suara ketukan. Suara itu berasal dari balik dinding.
Saat aku merasa heran, sekali lagi dengan
tempo yang sama, tok, tok, tok, dinding itu berbunyi.
Tsukino sedang mengetuk dinding.
"Ah, begitu ya."
Aku mengepalkan tangan, lalu mengetuk
dinding dengan cara yang sama.
Tok, tok, tok.
"Fufu."
Suara terkekeh Tsukino terdengar menembus
dinding.
Ketukan dinding sebanyak tiga kali dengan
irama itu sama persis dengan tempo saat karakter utama dan heroine menepuk
kepalan tangan mereka di Infinity Heaven. Itu adalah fist bump yang aku dan
Tsukino lakukan di bioskop tadi.
"Asahi-kun, tidak bisa tidur?"
"Iya. Terlalu banyak hal yang bikin
kaget."
Aku merahasiakan fakta kalau aku sedang
memikirkan dirinya di balik dinding.
"Aku juga tidak bisa tidur. Habisnya
semua ini terlalu tidak masuk akal. Aku tidak tahu harus bagaimana."
Memang benar sih.
"Tapi tahu tidak, Asahi-kun kan tadi
bilang mau bantu cari cara buat pulang."
"Soal itu, yah, sudah sewajarnya
kan."
Meskipun dinding membatasi suara, gesekan
kain tetap terdengar halus.
Karena ruangan itu tadinya gudang, aku
tidak pernah memikirkan betapa tipisnya dinding ini.
"Makanya, aku jadi merasa agak
tenang... dan sekarang malah jadi lumayan ngantuk."
Di balik nadanya yang terkesan bercanda,
terdengar samar suara uap menguap.
"Ngomong-ngomong, aku baru kepikiran
sesuatu."
Kalimatnya terhenti di sana. Aku menunggu
kelanjutan kata-katanya.
Namun tak kunjung terdengar.
"Tsukino-san?"
"A... aku kira kamu sudah
tidur."
Caranya bicara terdengar agak panik,
seperti sedang mengalihkan pembicaraan.
"Aku punya usul. Bukan masalah besar
sih, cuma... mmm, gimana ya. Kalau kita memang keberadaan yang sama, memanggil
'Asahi-kun' atau
'Tsukino-san' rasanya terlalu kaku tidak
sih?"
"Masa sih? Yah, mungkin saja."
Padahal bagiku, memanggil nama depan dan
bukan nama keluarga di hari pertama bertemu itu sudah merupakan cara
mendekatkan jarak yang sangat drastis.
"Boleh tidak kalau aku panggil...
Asahi saja? Kamu juga boleh panggil
aku Tsukino kok."
Hanya dengan dipanggil "Asahi",
jantungku mendadak berdegup kencang.
"Boleh. Bebas saja."
Aku berusaha menjawab setenang mungkin,
tetapi rasanya suaraku sempat agak meninggi.
Hening sejenak. Dari balik dinding,
kecanggungan yang seolah menantikan kata-kata berikutnya terasa begitu
menyerap.
Kalau memang kami keberadaan yang sama
dari dunia paralel, bagaimana dia bakal berpikir? Tidak, aku tidak tahu. Hal
yang baru saja terlintas di kepalaku ini mungkin cuma fantasi belaka. Padahal
kalau soal teori *bad end*, aku bisa membeberkannya sepanjang apa pun.
"Tsukino."
Suara itu terperas keluar dari
tenggorokanku.
"Iya. Asahi."
Balasan suara itu datang tanpa jeda.
Setelahnya, tawa kecil yang tertahan
meluncur begitu saja.
"Malu juga ya."
"Y-Ya, kan belum terbiasa."
Apa setelah ini kami bakal terbiasa? Apa
hal semacam itu memang bisa dilakukan? Aku tidak tahu apa-apa.
Lagipula, merasa gugup hanya gara-gara
memanggil nama depan keberadaan yang sama tanpa honorifik itu mungkin agak
aneh.
Bagaimanapun, dia adalah aku. Namun, di
saat yang sama, jenis kelaminnya berbeda, dan penampilannya sangat pas dengan
seleraku sampai di tingkat yang mengkhawatirkan.
Aku harus menganggapnya sebagai diriku
sendiri, atau memandangnya sebagai seorang gadis? Pikiran aneh mulai meracuni
kepalaku. Aku menggelengkan kepala untuk mengusirnya, tetapi sekali
terpikirkan, rasanya sulit untuk dihilangkan.
Setelah itu, beberapa menit berlalu, atau
mungkin rasanya jauh lebih lama dari itu.
Di dalam kamar yang lampunya telah
dipadamkan, hanya terdengar suara gesekan tubuh yang bergerak gelisah. Suara
itu berpadu dengan suara dari kamar sebelah, sampai-sampai aku tidak tahu lagi
mana suara yang kutimbulkan sendiri dan mana suara yang ditimbulkannya.
"Selamat tidur. Asahi."
"Selamat tidur. Tsukino."
Pada akhirnya kata-kata itu terucap juga.
Wajah dan tubuhku terasa panas. Meski
selimut sudah kusingkap, rasa panasnya tak kunjung hilang. Padahal baru akhir
Mei, tetapi hawa malam ini terasa begitu menyengat.
Aku bangun pelan-pelan lalu membuka
jendela, dan dari kamar sebelah, suara yang sama persis ikut terdengar.
Berlatarkan langit malam, rambutnya yang
bahkan jauh lebih pekat dari kegelapan itu melambai dimainkan angin.
Aku dan dia, yang sama-sama menongolkan
wajah di luar jendela, saling melempar senyum canggung.
Rasa kantukku sudah benar-benar menguap tanpa sisa.



Post a Comment