Bab 7: Diriku di Dunia Paralel dan More Bad, More Hell
"Permisi~ Cuma bercanda kok."
Tsukino yang melangkah masuk ke dalam
kamarku sudah dalam balutan pakaian sehabis mandi. Dia mengenakan piyama warna
hijau muda, versi beda warna dari yang dipakainya semalam. Rambut hitamnya yang
sudah dikeringkan dengan sempurna tampak jauh lebih lurus dan rapi dibanding
saat siang hari.
Dia lalu menaruh kursi yang dibawanya
dari kamarnya tepat di samping kursi yang kududuki. Karena kedua kursi itu
sempat berbenturan pelan akibat dorongan saat menaruhnya, Tsukino memberi
sedikit jarak sebelum akhirnya duduk.
Aroma sehabis mandi yang menguar dari
sosok Tsukino yang berpiyama ini—padahal harusnya menggunakan perlengkapan
mandi rumahku—tetap saja belum bisa kubiasakan.
Aku sendiri sudah selesai mandi sewaktu
Tsukino menghabiskan waktu dengan berbagai ritual sehabis mandinya.
"Kalau begitu, tolong ya."
Di atas meja, laptop yang sudah kubuka
menampilkan naskah yang bakal kuserahkan untuk pertarungan novel besok.
"Sip. Bakal kubaca dulu ya.
Penasaran nih."
"Kalau kita keberadaan yang sama,
mungkin ini novel yang pernah kamu tulis juga."
"Kalau dari kalimat pembukanya sih,
yang ini belum pernah kubaca."
Saat Tsukino mencondongkan badannya ke
depan, cahaya dari layar laptop memantul di manik mata sipitnya.
"Jujur saja, dibaca sama diriku
sendiri pun tetap bikin gugup ya."
"Kalau bayangin tulisan sendiri
dibaca sama Asahi, rasanya aku juga bakal begitu sih. Penasaran tulisan kita
sudah oke atau belum itu pasti, tapi ada rasa malu seolah-olah seluruh isi diri
kita ditelanjangi."
"Padahal kita keberadaan yang sama
ya."
"Biarpun keberadaan yang sama,
kenyataannya kan tetap ada bedanya
sedikit demi sedikit."
Hal itu benar-benar kurasakan sepanjang
hari ini. Bukan cuma soal
perbedaan gender, tetapi perbedaan orang
tua hingga golongan darah mungkin bermuara pada pergeseran-pergeseran kecil.
Termasuk apakah kita menyadari suatu fetish atau tidak.
"Enak dibaca. Memang benar-benar
diriku. Walau yang menulis bukan aku sih."
"Pujian untuk diri sendiri yang
sangat terobosan baru. Pokoknya aku sudah bulatkan tekad, jadi tolong diperiksa
ya."
"Serahkan padaku," ucap Tsukino
sambil mulai membaca.
Aku memperhatikan raut wajahnya yang
serius serta jemarinya yang
menyapu teks dengan scroll yang lancar,
lalu berdiri dari kursi. Aku menunggunya berdiri di sana sampai dia selesai
membaca.
Tak lama kemudian, Tsukino mengembuskan
napas pelan, dan pergerakan teks pun terhenti. Dia mengoperasikan tetikus untuk
mengembalikan tampilan ke bagian awal naskah.
"Naskah ini memang sudah hampir
rampung ya. Oh, jadi genrenya
fantasi dunia lain. Sepertinya aku juga
sempat terpikir sampai ke ide ini deh."
Sambil berpikir, dia mencatat beberapa
hal di kertas memo yang sudah disiapkannya.
"Ceritanya seru, dan bad end-nya
mantap. Good bad."
Ekspresi seriusnya melonggar.
"Jalan ceritanya memang pembantaian
monster oleh petualang yang lumayan orisinal, tapi bagian pembantaian total
(wiped out) itu benar-benar gaya bad end khas Asahi banget. Secara level
harusnya mereka sanggup menang lawan musuh, tapi sebelum pertarungan bos mereka
malah kehabisan item pemulih status, ditambah ada perselisihan internal. Jadi
setelah diberi foreshadowing pembantaian total yang rapi, rasa putus asa saat
mereka dipojokkan pelan-pelan serta penggambaran adegan sadis (gore) yang agak
kelewat semangat itu bener-bener good bad banget."
Dia mengevaluasi bagian yang memang
sengaja kuincar secara sangat tepat.
"Tapi, fakta bahwa ini belum
dianggap rampung berarti ada bagian yang belum bikin kamu puas, kan?
Begitu?"
Ditambah lagi, tebakannya tepat sasaran.
"Memang benar-benar diriku. Tapi aku
tidak bisa yakin bagian mana yang kurang sreg."
"Kita kan memang tidak bisa menilai
novel sendiri secara dingin ya.
Cuma bisa meraba-raba sampai batas
'rasanya ada yang kurang pas deh'. Entah karena terlalu toleran sama diri
sendiri jadi melewatkan
kesalahan, atau karena menurut kita itu
hal yang wajar jadi kita menulis hal yang tidak dipahami pembaca. Tapi—"
Tsukino menambahkan beberapa catatan lagi
di lembar memonya.
"Hari ini kan ada aku. Karena aku
punya nilai estetika bad end yang sama dengan Asahi, aku paham apa yang
berusaha kamu tulis. Tapi karena aku bukan penulis naskahnya langsung, aku
tidak punya prasangka maupun keterikatan emosional yang berlebihan."
"Sosok diri sendiri yang bisa
menilai karya secara dingin ya. Teman diskusi yang paling sempurna."
Yang bisa melakukan hal seperti ini cuma
aku dan Tsukino.
"Tapi hal yang wajar buatku kan
wajar juga buat Asahi, jadi mungkin bagian itu bakal terlewat juga sih."
"Kalau yang itu sih mau bagaimana
lagi."
Kami berdua saling mengangkat bahu.
"Kalau begitu, balik duduk ke
sini."
Sesuai instruksinya, aku kembali duduk di
samping Tsukino.
Karena posisinya kami sama-sama mengintip
ke layar laptop, bahu kami hampir saling bersentuhan. Namun saat ini aku harus
fokus pada masukan dari Tsukino.
Bersama Tsukino, aku menyusuri deretan
teks dan pergerakan penunjuk tetikus.
"Pertama, penggambaran sadisnya
(gore) tidak malah jadi sajian utama? Menurutku bagian ini terlalu
panjang."
"Kalau yang itu... aku paham sih.
Pas menulis bagian itu aku memang
merasa puas banget. Tapi kalau dilihat
secara dingin, tidak perlu juga sih pakai satu halaman penuh cuma buat
menggambarkan usus yang terburai."
"Pas membaca bagian itu, rasanya
ususnya terburai dengan sangat pelan, teliti, dan cermat banget tahu. Panjang
usus besar manusia kan kira-kira setinggi badan kita, tapi di tulisan ini
rasanya ada sekitar tiga meteran."
"Setelah ini, bagian kepala yang
dihancurkan tulisan teksnya juga terlalu panjang, terus kiasannya juga terlalu
berbelit-belit. Penggambaran di bagian ini terlalu sering pakai kiasan
memecahkan buah dan telur."
Begitu ditunjuk sekali saja, aku jadi
sangat sadar bagian mana yang kurang oke.
"Terus, aku baru sadar setelah
selesai membaca semuanya. Di babak akhir memang terjadi tragedi besar, tapi aku
tidak terlalu merasa kasihan. Mungkinkah karena aku belum begitu mengenal para
karakter utamanya?"
"Memang benar sih... Karena terlalu
fokus ke racikan pembantaian total dan penggambaran sadis, aku jadi kurang
menuliskan tentang para karakter utamanya. Berarti ini kejadian gara-gara belum
bisa memicu Dirty Resonance (Gema Kepedihan) ya."
"Memang benar-benar diriku. Ternyata
kamu pakai istilah Dirty Resonance (Gema Kepedihan) juga ya."
"Supaya pembaca bisa merasakan
tragedi yang menimpa karakter dan merasa itu menyakitkan, mereka harus bisa
berempati atau menyukai karakter tersebut. Tragedi yang menimpa karakter yang
tidak peduli atau tidak dikenal cuma bakal dianggap kejadian biasa yang tidak
berkesan bagi pembaca."
Misalnya, kalau ada bapak-bapak figuran
yang baru muncul lalu diserang zombie dan tewas, pembaca cuma bakal
menangkapnya sebatas kejadian, "Bapak-bapaknya mati. Daerah sekitar sini
bahaya nih."
"Tapi novel ini kan ceritanya pendek
ya... Karena porsi halamannya sudah terpakai buat racikan yang rapi, kita tidak
bisa memberikan porsi terlalu banyak buat penggambaran karakter."
Tsukino merangkum pendapat kami berdua ke
dalam catatan memo.
Namun beberapa saat kemudian, dia
menghentikan tangannya dan tampak berpikir keras.
"Asahi, laptopmu cuma ada ini
doang?"
"Laptop yang kupakai sebelumnya
seingatku masih bisa menyala sih. Walau mesinnya lumayan lemot."
Aku mengambil laptop lama yang kusimpan
di sudut kamar. Karena beberapa waktu lalu aku sempat memindahkan data penting
darinya, laptop itu sudah kubersihkan dan OS-nya pun sudah terbarui.
Saat aku menyejajarkan laptop itu di atas
meja, Tsukino membuka aplikasi layanan komputasi awan (cloud) lalu membuat
folder baru di sana.
"Salin naskah novelnya ke sini.
Dengan begini aku juga bisa langsung
mengedit naskahnya secara langsung."
"Oh, begitu. Jadi bisa menghemat
waktu."
Dia juga membuat berkas catatan memo
untuk merangkum ide revisi, jadi kami tidak perlu memakai catatan tangan lagi.
Sambil mengobrol kami bisa berbagi hasil, dan datanya bisa langsung terrefleksi
ke laptop masing-masing secara bersamaan.
Aku mencoba mengetikkan beberapa huruf di
berkas memo lalu menyimpannya untuk memastikan responnya.
"Sip. Kalau cuma buat menulis teks
sih laptop tua begini tidak masalah."
Aku pun mulai merangkum draf revisi
cerita di berkas memo terlebih dahulu.
"Supaya bisa memicu Dirty Resonance
(Gema Kepedihan), harus bagaimana ya... Sekarang dramanya kan terbagi ke empat
karakter, bagaimana kalau kita persempit ke hubungan antarmanusia di sekitar
karakter utama saja? Seolah-olah semua panah hubungan mengarah ke karakter
utama."
"Boleh juga. Itu masuk akal. Ayo
kita fokuskan rasa cinta maupun cemburu ke karakter utama saja. Terus
sisanya... tadi niat awalku mau bikin penokohan yang menonjolkan kekurangan
supaya terasa ada realitas kemanusiaan, tapi kurasa mending fokus utamanya
dijadikan orang baik saja."
"Aku paham banget! Kalau mau bikin
bad end, ketimbang orang menyebalkan yang kena nasib sial, kalau orang baik
yang kena nasib sial kan pembaca jadi makin merasa 'Hentikan! Tolong selamatkan
dia!'."
""More bad! More he... sempit
banget!""
Saat kami hendak melakukan fist bump,
jarak kami ternyata terlalu rapat. Posisi kami berdua malah jadi seperti patung
kucing pemanggil keberuntungan (Maneki-neko), hingga kami refleks tertawa
bersama.
"Kalau aku dan diriku berpikir
bersama, rasanya kita bisa menulis bad end yang jauh lebih luar biasa
deh."
"Ini adalah bad end porsi dua dunia.
Kita bikin muka Jun jadi jauh lebih
tertekuk dari biasanya."
"Benar banget! Ayo kita bikin makin
bad. Supaya hati orang yang
membacanya jadi hancur berkeping-keping.
Dan aku mau hati kita yang memikirkannya juga makin hancur
berkeping-keping."
"Bakal kubikin begitu. Luka di hati
yang tidak bisa sembuh selama
seminggu dan berbekas seumur hidup bakal
kumenancapkan di sini. Kita tumpuk kemalangan di atas kemalangan."
"Satu, dua, tiga!"
Kali ini sejak awal kami sudah mengambil
posisi patung kucing. Kami menepukkan kepalan tangan kami dengan pas.
""More bad! More
hell!""
Aku menatap layar laptop di depanku dari
jarak yang amat dekat hingga bahuku menyentuh bahu Tsukino, sementara rambut
hitamnya terurai samar. Berkas naskah yang kami bagikan terus diperbarui tanpa
henti.
Jalan menuju bad end serta rentetan
tragedi yang mengalir dari pikiran kami seolah tak ada habisnya.
Aku sangat yakin, saat ini kami mampu
melahirkan bad end paling memukau dan luar biasa yang belum pernah ada
sebelumnya.
◆
◆ ◆
Sepulang sekolah keesokan harinya, aku
mendadak di-kabe-don oleh Jun. Manik matanya yang memancarkan keliaran
menatapku dari jarak yang nyaris tanpa sela, menyeringai bak binatang pemangsa.
"Liat tuh mukamu, kelihatannya butuh
tidur banget."
"Jarakmu terlalu dekat. Lagi pula,
tidak usah menyematkan kiasan aneh begitu, bicara biasa saja."
"Kalau kondisimu lagi drop, jangan
dipaksain dong."
"Bisa-bisanya kamu perhatian dengan
cara seabsurd ini."
Setelah puas melancarkan aksinya, Jun
akhirnya menjauh. Dia menggaruk rambut cokelatnya yang berdiri tajam berkat
tatanan gel.
Ini adalah pemandangan yang amat familier
di ruang Klub Sastra. Demi menyaksikan pertarungan novel hari ini, jumlah
anggota yang hadir di ruang klub terbilang agak lebih banyak dari biasanya.
Namun, melihat aksi kabe-don tadi, mereka paling-paling hanya melirik sekilas.
Sudah terlalu terbiasa, rupanya.
"Yah, pokoknya jaga kesehatanmu
baik-baik."
Si pencinta light novel bergaya host klub
malam itu lalu duduk menyandar santai di kursinya dengan gaya agak angkuh.
"Makasih perhatiannya. Soal
pertarungan novel sih, aku tidak ada masalah sama sekali."
Aku pun mendaratkan diri di kursi yang
kosong. Karena merasa agak
canggung mengingat statusnya yang bukan
anggota resmi, Tsukino tadinya memilih tetap berdiri. Namun, setelah Jun
mengibaskan dagunya sambil berselutuk, "Duduk saja kali, pegal kan
kakimu?",
Tsukino akhirnya ikut duduk.
"Boleh juga kamu, Jun. Seperti biasa
selalu perhatian dan peka sama sekitar ya."
"Tinggal jarak fisik sama sikap
tengilmu itu saja yang perlu diperbaiki," timpalku.
Sambil mengobrol, aku dan Tsukino
sama-sama berusaha sekuat tenaga menahan kantuk yang membuncah. Pantas saja Jun
merasa cemas.
Semalam kami benar-benar terlalu terbawa
suasana. Padahal niat awalnya hanya ingin melakukan revisi seperlunya, tetapi
tiap kali aku dan Tsukino bertukar pikiran, ide-ide segar terus bermunculan dan
semuanya terasa begitu memikat, hingga rancangan ceritanya kian membengkak.
Rencana itu bisa berantakan kalau terus
dituruti. Begitu menyadarinya, kami baru mulai menyaring dan memangkas drafnya
sewaktu jarum jam sudah melompati tengah malam. Sudah pasti proses
penyelesaiannya pun berujung molor. Seingatku, pendar cahaya pagi bahkan sudah
mulai membayang di luar.
Alhasil, sepanjang jam pelajaran hari
ini, aku dan Tsukino mengikuti materi dengan kesadaran yang timbul tenggelam.
Kami sempat saling menyikut untuk saling membangunkan, tetapi pada akhirnya
kami berdua tetap saja tertidur lelap.
Dan begitulah kami sampai di titik ini.
"Anggota yang berencana ikut
sepertinya sudah berkumpul semua ya."
Para anggota klub yang tadinya sibuk
mengobrol atau membaca manuskrip novel langsung menoleh ke arah Nanaha-senpai
begitu mendengar suara lembutnya. Suaranya yang tenang itu entah bagaimana
selalu terdengar begitu jernih membelah ruangan. Rambut peraknya yang dikepang
rapi dengan poni tersusun presisi, dipadu senyuman hangat yang tak pernah
pudar, memancarkan pesona khas yang amat melekat pada dirinya.
"Datanya sudah kubagikan sebelumnya,
dan aku juga menyediakan beberapa salinan cetaknya. Apa ada yang belum memegang
berkasnya?"
Sepertinya tidak ada masalah. Peraturan
untuk membagikan data naskah terlebih dahulu sebelum ajang pertarungan
novel—atau sesi kritik-saran—sebenarnya diciptakan oleh Jun. Berkat kodifikasi
sistem tersebut, jalannya evaluasi di Klub Sastra kini menjadi jauh lebih
efektif dan teratur. Kalau soal hal-hal berbau teori begini, dia memang
ahlinya.
Anak-anak klub memegang naskah buatanku
dan buatan Jun dalam berbagai bentuk yang nyaman bagi mereka, baik melalui
layar ponsel maupun salinan kertas. Setelah memastikan hal itu, Nanaha-senpai
tersenyum cerah lalu menepuk tangannya kencang.
"Baiklah kalau begitu... Pertarungan
novel, ready, go!"
Nanaha-senpai mengepalkan tangannya
tinggi-tinggi ke udara, memicu para anggota klub untuk ikut mengacungkan tinju
mereka meski gerakan mereka tampak agak canggung dan terpisah-pisah. Mereka
benar-benar kooperatif.
"Nanaha-senpai otaknya beneran sudah
terkontaminasi anime hobi ya."
"Biar kata beda dunia, ternyata sisi
dirinya yang ini tetap sama. Menyenangkan sekali."
Nanaha-senpai masih mempertahankan posisi
tinjunya di udara. Alisnya terangkat, matanya di balik kacamata memancarkan
binar tegas yang lebih intens dari biasanya, sementara bibirnya terkatup rapat
penuh keseriusan.
"Ah, buat semuanya. Tolong
prioritaskan poin-poin yang bikin ceritanya terasa seru ya. Ketimbang saling
mengadu kesalahan atau bagian yang membosankan, bertanding lewat adu keseruan
karya bakal bikin kita semua menikmati prosesnya juga."
Di balik pose anime hobinya, dia
menyampaikan pesan yang sangat
berbobot sebagai seorang Ketua.
"Fokus mencari keunikan karakter
ketimbang sibuk menguliti kekurangan bakal jadi bekal yang jauh lebih berguna
buat proses berkarya ke depannya," timpal Jun, menyuarakan poin yang tak
kalah solid. Hal-hal inilah yang membuatku begitu menghormati mereka berdua.
"Pihak pertama! Giliran Jun-kun
dengan karya ‘Kisah Pahlawan senpai yang Serba Apes dan Si Gadis Bar-bar Bawaan
Cheat’!"
"Aku yang ambil giliran pertama ya,
Asahi."
Nanaha-senpai mengarahkan tangannya ke
posisi Jun, memperagakan gestur juri anime hobi yang khas.
Jun yang merespons ajakan itu makin
menenggelamkan tubuhnya di kursi dengan gaya jemawa.
"Dia beneran tertular gaya anime
hobi," batinku.
Aku mengalihkan pandanganku ke naskah
cetak tulisan Jun. Bersama
anggota klub lainnya, kami mulai
menelusuri tiap bait cerita. Di sela-sela dentang halus kertas yang dibalik,
sesekali terdengar tawa yang meletup dari beberapa anak. Aku sendiri pun dibuat
terkekeh beberapa kali.
Karena bentuknya cerita pendek, naskah
itu selesai dibaca dalam waktu yang tidak terlalu lama. Nanaha-senpai
mengonfirmasi apakah semua orang telah selesai membaca di waktu yang amat pas.
Dengan begini, panggung pertarungan telah
siap.
"Aku bakal mengamati saja dari sini.
Soalnya aku kan bukan anggota
resmi," ujar Tsukino.
"Toh pandangan kita kemungkinan
besar juga sama kok."
Di Klub Sastra kami, aturan pertarungan
novel mewajibkan pihak penantang untuk menyampaikan pandangannya terlebih
dahulu.
Naskah ‘Kisah Pahlawan senpai yang Serba
Apes dan Si Gadis Bar-bar Bawaan Cheat’ mengangkat tema berpindah ke dunia lain
dengan latar fantasi ala Eropa Abad Pertengahan. Formulanya terbilang klasik,
tetapi letak keunikan karya ini ada pada sosok karakter utamanya—seorang
petualang veteran yang pernah menumbangkan naga iblis dan menyelamatkan
kerajaan—yang kemudian dihinggapi oleh sang heroine yang mendadak berpindah
dari dunia lain.
Menolak alur yang terlalu mainstream
dengan memberi sedikit pergeseran unik adalah keahlian utama Jun.
"Padahal bukan bad end, tapi
ceritanya bisa se-seru ini. Boleh juga kamu."
"Standar penilaianmu ke karya yang
ada bad end-nya itu ketinggian tahu tidak!?"
"Justru sebaliknya. Kalau ada karya
yang membawakan bad end, standar penilaianku bakal jauh lebih ketat! 'Jangan
asal bikin bad end kalau cuma mau cari gampang! Memangnya kamu tahu apa soal
keindahan bad end!?', kurang lebih begitu. Nasibmu lagi bagus saja, Jun."
"Memang paling apes kalau harus
berhadapan sama penganut bad end garis keras."
Terlepas dari perdebatan itu, naskah
‘Kisah Pahlawan senpai yang Serba
Apes dan Si Gadis Bar-bar Bawaan Cheat’
menyajikan dinamika duet yang solid di antara kedua karakternya, sekaligus
dikemas sebagai komedi romantis yang manis.
Ceritanya berfokus pada petualangan
seorang pahlawan yang kehilangan motivasi akibat pemicu di masa lalu,
bersanding dengan sang heroine berenergi melimpah, menggebu-gebu, ceroboh, dan
punya kekuatan bertarung yang tergolong cheat.
"Tiap kali si karakter utama mencoba
bersikap apatis atau tenggelam dalam kenangan masa lalunya, si heroine selalu
datang mengacaukannya dengan tindakan yang di luar nalar. Itu poin yang sangat
hidup. Karakter yang harusnya berpotensi bikin jengkel justru kelihatan amat
menggemaskan, benar-benar ciri khas Jun yang rela
memangkas uang jajan demi memborong novel
komedi romantis."
"Aku memang rajin beli novel komedi
romantis dunia lain sih, tapi aku tetap makan siang teratur demi kesehatan
ya."
Meski biasanya karakter utamanya selalu
terseret ke dalam tingkah konyol, begitu sang heroine berada dalam bahaya, dia
bakal memancarkan aura ketegasan khas pahlawan sejati. Komedinya tidak sekadar
tempelan, dan kerennya eksekusi adegan pertarungannya di saat-saat krusial
benar-benar sanggup memacu detak jantung. Tidak sia-sia dia rajin melahap novel
genre aksi setelah komedi romantis.
"Poin saat karakter utamanya—yang
sepanjang cerita terus bersungut-sungut—akhirnya menyadari kalau keberadaan si
heroine-lah yang telah menyelamatkan jiwanya juga dieksekusi dengan sangat
apik. Ditambah lagi, fakta bahwa si karakter utama ternyata juga merupakan
orang yang dulu berpindah dari dunia lain menjadi sebuah kejutan yang sangat
manis."
Tsukino bersedekap sambil
mengangguk-angguk setuju secara intens.
Rupanya pandangan kami memang selaras. Di
luar itu, gestur tubuhnya saat ini benar-benar tampak seperti sosok petarung
veteran yang sedang mengamati pertandingan dari bangku penonton anime hobi.
Karya buatan Jun memang selalu seru. Baik
yang berlatar komedi romantis modern maupun dunia lain, atmosfernya selalu
cerah, sarat akan harapan, serta memiliki penokohan yang hidup dan berkarakter.
Dia selalu menyisipkan keunikan
tersendiri di dalam alur ceritanya.
"Tapi, ada beberapa poin yang
mengganjal. Hubungan di antara kedua
karakter utamanya memang terbangun dengan
baik, tetapi masalah utama yang mereka hadapi sama sekali belum terselesaikan.
Alur ceritanya baru sebatas menggambarkan momen pertemuan dan aktivitas
harian... pendeknya, ini baru sebatas introduksi. Lagian biarpun judulnya
membawa kata 'Gadis Bar-bar', sepanjang cerita istilah itu sama sekali tidak
pernah disebutkan sekalipun. Poin-poin itulah yang membuat puncaknya terasa
agak kurang menggigit."
"Kritikan yang sangat menohok! Dan
kamu seratus persen benar!"
Sambil tetap menyandar, Jun menutupi
wajahnya lalu mengerang tertahan.
"Pas lagi menulis di tengah jalan,
aku mendadak sadar... 'Loh, isi ceritanya kok kosong begini? Struktur alurnya
bahkan belum terbentuk sama sekali. Ini sih cuma mengandalkan seru doang!'.
Kalau dari awal niatku memang cuma bikin introduksi sih tidak masalah, tapi
naskah begini kan jatuhnya belum rampung! Mana gara-gara memaksakan ada penutup
di bagian akhir, alur menuju tamatnya jadi terkesan terburu-buru lagi! Arghhh,
dasar aku! Padahal sering menguliti struktur cerita orang lain, tapi struktur buatanku
sendiri malah kacau begini!"
Inilah dinamika yang kerap dialami para
penulis. Penulis sendiri biasanya sudah menyadari celah dalam karyanya, dan
bagian itulah yang hampir selalu diangkat saat dievaluasi. Aku sangat memahami
perasaan frustrasinya. Tsukino di sampingku pun tampak memeluk tubuhnya
sendiri. Memang benar-benar keberadaan yang sama.
"Asahi-kun, terima kasih banyak atas
masukannya. Kalau begitu, mari kita dengar pandangan dari teman-teman yang lain
secara bergiliran ya."
Anggota klub lainnya pun memberikan
respons yang sebagian besar bernada positif. Alur cerita maupun penokohannya
mendapat banyak pujian. Hanya saja, mereka menyayangkan skala ceritanya yang
terasa kurang lengkap. Karena mengusung formula happy end yang klasik, beberapa
orang juga menilai alurnya agak terlalu gampang ditebak.
"Hahaha! Masukan kalian seru-seru
banget. Ini benar-benar bisa jadi bahan evaluasi buatku. Terima kasih ya."
Usai menyimak seluruh pandangan yang
masuk, raut wajah Jun tampak agak lelah, tetapi porsi pujian yang diterimanya
pun cukup banyak sehingga dia tetap kelihatan senang. Biarpun posisinya masih
menyandar, jemarinya tetap cekatan mencatat setiap poin masukan ke dalam
laptopnya.
Nanaha-senpai menyimak jalannya diskusi
dengan senyuman hangat, tetapi dia belum menyuarakan pandangannya sendiri.
Sebagai pemandu acara, dia selalu memilih untuk menyampaikan rangkuman
menyeluruh usai kedua belah pihak selesai membedah naskah masing-masing.
"Terima kasih untuk semuanya ya.
Buat Jun-kun juga! Kalau begitu, sekarang giliran pihak kedua! Asahi-kun dengan
karya Akhir dari Seorang Petualang, turn-mu!"
Aku menyiapkan naskah tulisan sendiri
yang sudah dicetak. Walau sudah berulang kali melakukan sesi evaluasi bernuansa
pertarungan novel ini, rasa gugupnya tetap saja tidak pernah berubah. Tsukino
yang duduk di sampingku mengarahkan pandangannya yang tenang ke arah Jun,
tetapi aku bisa melihat leher putihnya bergerak pelan saat dia menahan napas.
Dia juga merasa sama gugupnya. Hanya
dengan menyadari fakta itu saja, entah kenapa rasanya dadaku jadi sedikit lebih
lapang.
Aku kembali menatap Jun secara lurus. Dia
memegang naskah cetak dengan raut santai dan senyuman tipis; sekilas terlihat
seperti tidak niat, tetapi seperti biasa, itu cuma luarnya saja. Kalimat
"Hehe, dia mencoba memancingku nih" yang digumamkannya menandakan
kalau dia pasti sudah membaca alur foreshadowing-nya.
Sementara itu, Nanaha-senpai entah sudah
membacanya terlebih dahulu atau membacanya dengan super cepat, kini dia kembali
membalik kertas dari halaman pertama. Jemarinya saat membalik halaman tergolong
sangat lincah, dan pergerakan matanya menyusuri teks pun teramat cepat. Orang
ini beneran lagi baca putaran kedua deh.
Begitu Jun selesai membaca, anggota klub
lainnya menyusul untuk menyisihkan naskah kertas maupun ponsel mereka.
"Kalau begitu, mulai dari aku dulu
ya."
Sudut bibir Jun terangkat membentuk
senyuman penuh percaya diri.
"Pertama-tama... ini keren banget!
Alur ceritanya simpel, cuma tentang
para petualang yang menantang Basilisk,
monster merepotkan yang hobi menebar debuff. Tapi ya, dari awal ceritanya sudah
langsung seru gila!"
Jun menepuk naskah kertasnya dengan
bertenaga. Untuk merangkum pandangannya, dia menempelkan banyak kertas post-it
dan mencoretkan banyak catatan hingga naskah itu tampak memerah.
Saking tekunnya, hari ini pun dia
kelihatan agak mengerikan.
"Pembukanya langsung dimulai dari
tengah pertempuran melawan Basilisk, di mana mereka berada dalam kondisi
terdesak gara-gara terkena racun tanpa ada obatnya. Rasa tegangnya langsung
menyengat! Dari sana alurnya mundur memperlihatkan perjalanan mereka, lalu di
dalam kilas balik, dinamika hubungan antarmanusianya terungkap. Dan rasanya...
pelik banget, kan!?"
"Di bagian itu kami memang melakukan
banyak revisi sih."
"Iya. Kami membangun ulang hubungan
antarmanusia dengan berpusat
pada si karakter utama. Semuanya punya
perasaan yang amat berat ke karakter utama."
"Saking semangatnya bikin ceritanya
makin pelik, alurnya sempat agak lepas kendali tahu."
"Aksi penusukan di awal cerita itu
sebenarnya agak blunder sih. Aku bahkan sempat menumpuknya dengan membunuh
gadis kedai yang tidak ada hubungannya."
Setelah itu kami baru tersadar lalu
merevisinya dengan benar.
"Penyihirnya dan si karakter utama
sebenarnya saling suka, tapi mereka sama-sama tidak bisa jujur. Rasanya gemas
banget! Si gadis Penyembuh juga suka sama karakter utama dan dia
terang-terangan menunjukkan perasaannya, tapi lamarannya ditolak. Meski begitu
dia tetap bertahan menyukainya, bikin ingin mendukungnya banget! Ditambah lagi
si Pencuri. Dia suka sama karakter utama, tapi yang paling utama, dia terobsesi
banget sama ship karakter utama dan si Penyembuh. Dia marah besar pas tahu
lamarannya gagal, sampai-sampai berusaha sekuat tenaga buat menjodohkan mereka
berdua... Dasar penganut shipper (kapu-chuu)! Bisa-bisanya kamu menyajikan
semua ini di dalam cerita pendek, luar biasa banget sih!"
"Kami memang berjuang keras supaya
ceritanya tidak kepanjangan tahu."
"Padahal aku masih ingin menulis
lebih banyak lagi. Mengingat fakta kalau setelah ini hal mengerikan bakal
terjadi dan hubungan mereka bakal hancur, bikin para karakter akrab di awal
terasa menyenangkan
banget ya."
Aku bisa melihat anak-anak klub agak
terperangah, tetapi reaksi seperti
itu sudah jadi makanan sehari-hari.
"Gara-gara hubungan yang rumit ini,
masing-masing dari mereka melakukan kesalahan kecil. Si karakter utama gagal
menyadari perubahan rekannya walau dia seorang pemimpin, cuma gara-gara
pertengkaran sepele dengan si Penyihir yang saling menyukai dengannya. Si
Pencuri penganut shipper sengaja merusak item pemulih debuff demi menciptakan
momen supaya si Penyembuh dan karakter utama bisa makin dekat. Si Penyihir kena
guncangan emosional gara-gara jarak si Penyembuh dan karakter utama makin
rapat, sampai-sampai dia melakukan blunder saat bertarung... Pelik banget!
Bikin mereka bahagia sedikit napa!"
"Biarpun kamu bilang begitu, dasar
penganut hapien."
"Bagaimanapun juga, pertarungan
melawan Basilisk harusnya berjalan
dengan persiapan matang. Tapi hal itu
hancur cuma gara-gara kesalahan kecil di hubungan mereka. Melanjutkan dari
adegan pembuka, kelompok itu makin terdesak. Satu per satu rekan tumbang. Di
tengah situasi itu pun, si karakter utama dan si Penyembuh tidak menyerah,
menyerahkan kartu kartu truf terakhir ke si Penyihir. Tapi begitu si Penyembuh
tewas, si Pencuri yang terobsesi pada hubungan mereka langsung putus asa lalu
mematahkan tongkat si Penyihir! Harapan pun lenyap!"
Setitik air mata berkilau di mata Jun.
Dia memang selalu mendalami emosi dengan sekuat tenaga.
"Penggambaran kehancuran tubuh di
bagian akhir yang bikin agak merinding itu jujur saja bikin hilang rasa, tapi
dari sana kelihatan banget kalau penggambaran itu adalah wujud dari penyesalan
si karakter utama. Seru banget! Di dalam naskah pendek begini, kamu berhasil
menuntaskan takdir para petualang sesuai judulnya. Ini benar-benar novel yang
seru!"
Di titik itu Jun menghela napas panjang.
Sambil tetap duduk di kursinya, dia menengadah menatap langit-langit lalu
menutupi wajahnya dengan tangan.
"Tapi terlepas dari itu semua, kesan
akhirnya benar-benar buruk banget,
kan!? Tidak ada satu pun hal baik yang
terjadi! Padahal berawal dari krisis lalu melewati berbagai rintangan, harusnya
di akhir cerita ada pembalikan keadaan dong! Aku kan suka sama si Penyembuh dan
si Penyihir, terus aku juga sudah mendalami emosi ke si Pencuri sebagai posisi
sahabat! Aku menumpukkan hubungan kita berdua ke sana tahu!"
"Hatinya benar-benar tersobek
berkeping-keping ya."
"Benar, Jun. Wajah itulah yang ingin
kulihat. Tapi jangan coba-coba menumpukkan hal itu ke dunia nyata dong."
"Dasar penganut bad end! Yah,
terlepas dari kualitas isinya sih..."
Sambil menyapu air matanya dengan
saputangan, Jun melanjutkan dengan suara yang agak sengau.
"Secara cerita tidak ada alur yang
cacat, dan aku sampai nangis
gara-gara terlalu mendalami emosi. Tapi
perkembangan di mana mereka saling melakukan kesalahan di pertengahan cerita
itu... rasanya menyakitkan banget pas dibaca. Membayangkan kesalahan itu bakal
berujung pada petaka bikin rasanya makin menyakitkan!"
Banyak anggota klub yang mengangguk
setuju.
"Menurut saya adegan pembuka dan
akhirnya sudah oke, tapi bagian
pertengahan yang dibilang Jun-senpai tadi
agak..."
"Kalau saya pribadi sih tidak kuat
sama bad end dan adegan sadis di bagian akhirnya."
Usai Jun menyelesaikan pandangannya,
anggota klub lain yang menyampaikan masukan berikutnya pun melontarkan rasa
tidak puas yang senada.
Setelah semua pendapat terkumpul,
Nanaha-senpai mengangguk paham.
"Terima kasih semuanya. Buatku
pribadi, dua-duanya terasa sangat menyenangkan. Aku memang paling tidak bisa
kalau disuruh memilih ya."
Nanaha-senpai menurunkan alisnya.
"Kelemahan karya Jun-kun yang
terkesan belum rampung secara alur cerita, serta kelemahan karya Asahi-kun yang
kurang punya daya tarik di bagian pertengahan... menurutku semua masukan tadi
memang benar adanya. Tapi... aku menyukai dan menikmati keduanya! Bagaimana
dengan kalian?"
Fakta bahwa Sang Ketua tidak mahir
memberi penilaian menang-kalah memang benar adanya. Makanya setelah
menyampaikan pandangannya, pada akhirnya dia menyerahkan keputusan akhir pada
kesan para anggota.
"Kalau begitu, mari kita umumkan
pemenang pertarungan novel kali ini. Seperti biasa, tolong angkat tangan kalian
ya. Kita tunggu selama tiga puluh detik."
Nanaha-senpai melirik jam dinding.
Sebagai penulis, aku dan Jun tidak ikut
memilih. Tsukino pun menggelengkan kepalanya. Karena statusnya bukan anggota
dan merasa penilaiannya pasti bakal condong padaku, dia memilih untuk menahan
diri. Menurutku itu keputusan yang tepat.
"Kalau begitu... judgement!"
Nanaha-senpai mulai mengumpulkan suara
untuk masing-masing karya.
Rasa gugup tentu ada. ...Namun, aku sudah
bisa menebak hasilnya. Tsukino perlahan memejamkan matanya.
Seluruh anggota klub memilih karya Jun,’
Kisah Pahlawan senpai yang Serba Apes dan Si Gadis Bar-bar Bawaan Cheat’.
"Novel Asahi-senpai seru juga sih,
tapi saya rasa happy end masih jauh lebih oke..."
"Maaf ya, saya tidak kuat sama yang
sadis-sadis."
Saat para anggota membaca tadi, dari raut
wajah mereka aku sudah bisa membaca arah hasilnya. Di luar guncangan bad end
pada hati mereka, rasa suka dan tidak suka yang murni tetap saja terpancar
dengan jelas.
Nanaha-senpai menyampaikan hasilnya
dengan lembut namun tegas.
"Pertarungan novel Klub Sastra!
Pemenangnya adalah Hikawa Jun-kun! Selamat ya!"
Tepuk tangan bergema di ruang klub yang
sempit. Aku dan Tsukino pun ikut bertepuk tangan.
"Terima kasih semuanya! Tapi ini
masih belum ada apa-apanya. Poin buruknya masih banyak. Aku bakal bikin yang
jauh lebih oke lagi!"
"Memang tidak salah lagi Jun-kun.
Lagipula, novel buatan Asahi-kun juga benar-benar menyenangkan kok. Teman-teman
yang lain pun berpikir begitu di luar bagian yang kurang mereka sukai."
Saat Nanaha-senpai melemparkan
pandangannya, anggota yang lain mengangguk setuju. Karena aku mengenal
kepribadian mereka, aku tahu mereka tidak sekadar ikut-ikutan Sang Ketua. Hal
itu cukup menjadi penawar bagiku.
"Ah, tapi... menyenangkan sekali ya.
Bisa membaca dua karya seseru ini sekaligus..."
Sang Ketua bergeliut pelan dengan raut
wajah penuh pesona.
"Dada ini sampai mendebarkan. Aku
juga mau menyelesaikan novel yang sedang kutulis, lalu menantang Jun-kun dan
Asahi-kun dalam pertarungan novel! Setelah itu, bakal kulindas kalian berdua
sekaligus!
Tolong bertarunglah denganku lewat novel,
aku mohon!"
"Ternyata di sini pun dia bersikap
seperti berserker berkarya ya," bisik Tsukino pelan dari lubuk hatinya.
"Kalau sampai kalah lagi dari
Nanaha-senpai kali ini, berarti ini bakal
jadi kekalahanku yang kedelapan kali
berturut-turut tahu. Beneran cewek yang mengerikan banget!"
"Aku bakal menyambut tantangannya
sih, tapi rasanya tidak ada bayangan kalau aku bisa menang."
"Wahhh! Motivasi kalian luar biasa
banget! Jantungku sekarang rasanya mau meledak nih!"
Nanaha-senpai mendorong kacamatanya yang
hampir meluncur jatuh.
Membaca buku sealami menghirup udara, dan
melahirkan karya se-alamiah menghembuskan napas; itulah sosok Hanazuki Nanaha.
Jenis jenius yang menjadikan kegiatan
berkarya sebagai bagian dari keseharian, hingga tidak merasakan penderitaan di
balik usahanya. Dia adalah sosok terkuat di Klub Sastra yang telah menyabet
banyak penghargaan di berbagai ajang lomba kecil.
Di Klub Sastra ini, senpai seperti itulah
yang selalu mendadak menerjang kami di setiap kesempatan. Dan aku bersama Jun
selalu menyambutnya hanya untuk berujung gugur setiap kalinya.
"Hei, Asahi," panggil Jun
sekali lagi.
"Secara kualitas tulisan, aku
jelas-jelas kalah darimu. Makanya... gimana ya... bukannya sebaiknya kamu coba
bikin cerita selain bad end juga?"
Untuk ukuran Jun, kata-katanya terdengar
agak menahan diri. Rambut tajamnya pun rasanya kelihatan sedikit lesu, dan
jarak duduknya pun agak jauh. Padahal dia Jun, tapi dia sama sekali tidak
melakukan kabe-don.
"Bahkan dalam pertarungan novel pun,
hal itu bikin kamu langsung berada di posisi rugi. Kamu ini cowok yang sanggup
bertahan walau bikin happy end tahu! Nggak deng, malah aku ingin banget membaca
happy end buatanmu!"
Beberapa anggota klub lainnya mengangguk
pelan dengan rasa sungkan.
Tsukino menundukkan pandangannya. Di
pertarungan novel kali ini, dialah yang mendorongku untuk tetap menulis bad
end. Dia pasti merasa bertanggung jawab atas hal itu.
"Apa yang dibilang Jun memang benar.
Terima kasih," aku mengangguk, lalu melanjutkan,
"Tapi, aku akan tetap menulis bad
end."
Ucapanku terucap dengan sangat tegas.
Tsukino mendongak, matanya berkedip
heran. Jun yang seolah sudah menduga perkataanku menarik sudut bibirnya
membentuk senyuman tipis. Sementara itu, Nanaha-senpai mengangguk-angguk
berkali-kali.
Aku mengedarkan pandangan menatap ketiga
orang itu beserta para anggota klub lainnya.
"Aku... suka bad end. Aku bahkan
masih ingat jelas kenapa aku bisa menyukainya."
Atau lebih tepatnya, selama beberapa hari
terakhir ini aku mengingatnya kembali dengan jauh lebih jernih.
Di salah satu sudut rak buku ruang klub,
berjejer antologi tulisan karya anggota Klub Sastra dari masa ke masa hingga
era kami sekarang. Di sana, antologi yang ada di kamarku—maupun di dunia
sebelah, di kamar Tsukino—turut bersemayam.
"Novel karya Klub Sastra lama yang
kubaca di festival budaya sekolah ini
waktu aku masih SMP. Bad end di dalam
cerita itu membuat tubuhku gemetaran. Hatiku diaduk-aduk dan dirobek-robek.
Tapi, guncangan itu... bekas luka itu sama sekali tidak bisa kulupakan."
Guncangan hebat yang membuatku tidak bisa
tidur selama tiga hari.
Kenangan yang kubagi bersama Tsukino
(keberadaanku sendiri).
"Aku juga ingin menancapkan bekas
luka seperti itu di dada seseorang. Alasanku menulis bad end bukan supaya
disukai orang-orang, melainkan karena aku ingin memberikan luka yang tidak akan
pernah bisa terhapus."
Perasaan yang selama ini mengambang samar
akhirnya menjelma menjadi kata-kata yang utuh. Berkat hadirnya diriku yang satu
lagi, aku sendiri jadi bisa memahaminya.
"Aku juga... merasa bad end sudah
paling benar."
Sebuah suara jernih mengalun. Tsukino
telah berdiri.
"Anu. Walau aku cuma orang luar
sih."
Sadar kalau dia asal menyela gara-gara
terbawa suasana, tatapan matanya yang sedingin puncak musim dingin mendadak
terlempar jauh ke balik jendela.
"Jangan dipikirkan, lanjutkan saja.
Aku ingin mendengarnya kok."
Nanaha-senpai menangkupkan kedua
tangannya dengan raut wajah yang amat antusias. Jun beserta anggota klub
lainnya pun tidak berniat menghentikan.
"Terima kasih banyak. Kalau begitu,
izinkan aku mengulangnya."
Punggung Tsukino menegak lurus. Di balik
tatapan matanya yang sebeku es, memancar kehangatan yang amat pasti. Dengan
manik mata itu, dia menatap Jun, lalu menatap anggota klub lainnya.
Dia memutar tubuhnya dengan anggun.
Rambut hitam panjangnya melambai menyusul sekejap kemudian.
Di dalam matanya yang dingin namun
membara itu, bayangan diriku terpantul. Cuma siswa SMA dengan sorot mata yang
agak galak, tetapi jelas memiliki kemiripan sebagai keberadaan yang sama dengan
Tsukino.
"Alasanku sederhana saja. Aku sama
seperti Asahi. Aku ingin menulis bad end. Apa pun yang dikatakan orang, aku
ingin menghancurkan hati penikmatnya. Makanya, aku ingin mendukung Asahi yang
menulis bad end."
Atas perkataan dari keberadaanku yang
satu lagi, aku membalasnya
dengan anggukan penuh rasa terima kasih
dan simpati, lalu kembali berhadapan dengan Jun.
"Maaf ya, Jun. Singkatnya, aku ini
penganut setia bad end garis keras."
Jun mengangkat bahunya secara berlebihan
lalu terkekeh canggung.
"Dasar tidak ada obatnya. Tapi ya...
bagian dirimu yang seperti itu justru yang kupikir keren."
"Aku juga suka banget sama bad end
buatan Asahi-kun. Saking sukanya, rasanya aku ingin menulis cerita yang jauh
lebih seru untuk melindasnya sampai hancur. Sikap egois penulis seperti
Asahi-kun inilah yang bikin novel buatanku jadi makin seru."
Nanaha-senpai yang menggeser-geser
kacamatanya kini hanya bisa menghela napas gelisah.
"Padahal kenyataannya aku yang
selalu dilindas sampai hancur tiap saat."
Jun pun mengangguk kuat-kuat menyetujui
kalimatku.
"Tapi kan tiap kali dilindas sampai
hancur, Asahi-kun dan Jun-kun selalu bangkit lagi jadi lebih kuat dan makin
seru. Melihat hal itu bikin aku berpikir kalau aku juga harus berjuang lebih
keras lagi."
Faktualnya, seberapa pun aku atau Jun
berkembang melahirkan karya yang lebih seru, orang ini selalu berada satu
langkah di depan kami, sungguh mengerikan. Sosok jenius yang punya ambisi
berkembang tinggi itu terlalu menakutkan.
"Karya kalian berdua kali ini
benar-benar sangat menyenangkan. Kalian berkembang makin kuat lagi. Jun-kun
berhasil bikin karakternya jadi jauh lebih hidup sampai-sampai aku
tersenyum-tersenyum sendiri pas membacanya. Kalau Asahi-kun berhasil menutupi
bagian struktur cerita yang sempat dipertanyakan dengan sangat kokoh. Kalian
ini mau berkembang kuat sampai sejauh apa sih?"
"Soal itu... terima kasih."
Anggota klub yang lain pun ikut
mengangguk setuju. Dipuji terang-terangan di depan muka begini rasanya
menggelitik luar biasa.
Naskah ‘Akhir dari Seorang Petualang’
yang jadi jauh lebih seru ini bukanlah karya yang sanggup kutulis seorang diri.
Itu semua berkat masukan tajam dari Jun. Dan juga—
Pandanganku bertaut dengan Tsukino.
Berkat kehidirannyalah, dalam waktu singkat ini aku bisa melangkah satu tahap
lebih maju.
Aku jadi tidak perlu ragu lagi tentang
apa yang ingin kutulis.
Cahaya yang menyelinap masuk dari jendela
membuat manik mata hitam milik Tsukino berkilauan.
Di titik itulah aku baru tersadar. Kami
sudah menghabiskan terlalu banyak waktu. Walau hari-hari sedang panjang,
matahari perlahan-lahan mulai miring ke barat.
Hal paling krusial saat ini adalah
menemukan cara agar Tsukino bisa kembali ke dunia asalnya.
"Ah, benar juga. Nanaha-senpai.
Seingatku Senpai lumayan paham soal legenda atau asal-usul daerah sekitar sini,
kan?"
"Tidak sampai bisa dibilang paham
banget kok. Cuma karena tertarik saja aku sempat mencari tahu sedikit."
Orang yang benar-benar tahu banyak
biasanya memang selalu merendah begitu. Bahwa novel buatan Nanaha-senpai tidak
akan bisa terwujud tanpa didasari pengetahuan sejarah, legenda lokal, serta
wawasan luas yang melimpah, hal itu langsung tersampaikan begitu kita membaca
karyanya.
"Di sekitar area sini, misalnya...
tempat yang punya cerita mistis, atau legenda tentang tempat yang terhubung ke
dunia lain. Apa Senpai pernah mendengar cerita semacam itu?"
Meskipun ya, pertanyaan ini diajukan
sekadar mencoba keberuntungan.
Mana mungkin petunjuk yang terkesan pas
dengan dunia paralel bisa muncul begitu saja secara kebetulan.
"Ada banyak kok."
""Eh?""
Suaraku dan suara Tsukino bertumpukan
secara bersamaan.
"Kalau bicara soal Himurogioka,
kawasan ini kan memang terkenal dengan fenomena Kamigakushi (diculik
dewa)."
Cara menyampaikannya sesantai bilang
kalau manusia bakal mati kalau tidak bernapas.
Jun beserta anggota klub lainnya
sama-sama menggelengkan kepala sambil memandangnya heran, "Baru pertama
kali dengar tuh."
"Loh?"
Nanaha-senpai membelalakkan matanya di balik kacamata.



Post a Comment