NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 1

Bab 1: Diriku di Dunia Paralel Ternyata Seorang Gadis Cantik


Aku tahu segalanya tentang dia.

 

Soalnya, dia adalah aku.

 

Bad end adalah yang terbaik.

 

Justru karena tidak terikat pada kepastian happy end yang naif dan klise, bad end bisa menyajikan ekspresi yang berani. Menggali hakikat manusia lebih dalam, mengguncang, mengaduk-aduk, hingga merobek-robek hati penikmatnya.

 

Oleh karena itu, bad end adalah yang paling puncak.

 

Dari film yang baru saja selesai kutonton, aku kembali menyadari keyakinan itu.

 

Sekilas tampak seperti film aksi hiburan, tetapi dari aroma bad end khas yang tercium sejak trailer, ditambah ulasan media sosial yang kubaca sambil memicingkan mata setelah perilisannya, aku sudah menduga kalau Infinity Heaven ini baunya bakal bad end.

 

Sebelum terkena spoiler, aku menyempatkan diri menontonnya sepulang sekolah, dan ternyata ini benar-benar bad end yang sempurna.

 

Indra penciuman bad end-ku memang tidak pernah salah.

Seandainya tidak ada penonton lain di dalam bioskop, aku pasti sudah berdiri memberikan standing ovation sambil menyerukan, "Good bad end! Best bad end!" berulang kali.

 

"Kenapa coba bukan happy end? Aneh banget, kan?"

 

"Penulis skripnya jelek banget. Dikira kalau bikin bad end bakal langsung bagus apa."

 

Padahal aku sampai lemas karena begitu terharu, tetapi penonton lain malah keluar dengan cepat sambil bersungut-sungut.

 

Untuk ukuran sore hari di hari kerja, jumlah penontonnya agak... tidak, bisa dibilang lumayan sepi. Lagipula, aku sudah melihat dengan mata memicing kalau di media sosial pun film ini dianggap agak kurang.

 

Namun, di antara sedikit orang terpilih yang datang menonton ini, tidak ada satu pun dari mereka yang paham indahnya bad end.

 

...Tapi ya, ini sudah biasa.

 

Kebanyakan orang memang mencari happy end. Konten yang katanya populer pun kalau berakhir bad end biasanya bakal langsung kena hujat.

 

Kalau aku bilang aku suka bad end, aku cuma bakal ditatap remeh dan diperlakukan seperti hewan langka sambil didatangi ucapan, "Aneh banget ya~ Tapi ya terserah deh." Bahkan ada juga yang mengejek, "Cuma sok beda, kan?" Kalau dilihat dari sudut pandangku, happy end justru yang sok beda dari kenyataan, tahu!? ...Tapi ya, tidak juga sih.

Bagaimanapun juga, fakta bahwa bad end sulit diterima orang-orang adalah hal yang sudah biasa, tetapi—

 

"Masa tidak bisa paham bagusnya bad end, sih..."

 

"Masa tidak bisa paham bagusnya bad end, ya..."

 

Aku bergumam pelan agar tidak terdengar.

 

"Malah bad end yang bikin seru tahu."

 

"Malah bad end yang bikin seru, tahu."

 

Suara gumaman lain terdengar bertumpukan dengan suaraku.

 

Tanpa sadar aku menoleh ke arah suara itu.

 

Beberapa kursi di sebelah sana, seorang gadis sedang menatap ke arahku dengan cara yang sama.

 

Tatapan matanya yang tajam seolah menembus, dingin hingga membuat gemetar, menancap lurus ke arahku.

 

Jika mataku yang sering diejek sekadar galak ini ibarat batu bersudut tajam, maka manik matanya adalah permata yang dipotong dengan artistik dan dipoles sempurna.

 

Rambut hitamnya yang seolah menyatu dengan kegelapan bioskop sejak tadi, terurai lurus dan panjang. Meski sama-sama rambut hitam, kalau milikku seperti rumput laut berwarna pekat, maka hitamnya yang berkilau adalah kedalaman samudra antariksa yang dihiasi kilau bintang.

 

Aksesori rambut berbentuk mawar berwarna hitam dan perak seolah menjadi simbol dari dirinya yang tajam, dingin, dan jelita.

Blazer yang tampak tak asing itu berasal dari SMA yang sama dengannya, dan pita merah yang menghiasi kerah blusnya menandakan bahwa dia juga murid kelas dua.

 

Mata sipitnya yang menawan berkedip.

 

Bibirnya yang tipis namun lembap mengembuskan napas keraguan yang sangat tipis.

 

""Bad end yang bagus ya.""

 

Kata-kata yang terucap kali ini benar-benar bertumpukan sepenuhnya.

 

Aku juga sempat ragu apa yang harus kukatakan, tetapi waktu pengucapannya pun pas dan sama persis.

 

"Hahaha."

 

"Fufufu."

 

Kami berdua malah terkekeh bersamaan.

Senyumannya yang menurunkan alis, menyipitkan mata, dan melonggarkan pipi itu membuat kesan dingin tadi serasa bohong belaka, bahkan menyisakan kelembutan bagaikan kucing yang sedang bermanja.

 

"Ternyata kita bisa barengan gitu ya."

 

"Dari tadi kita ngomong hal yang sama mulu sih."

 

Aku dan dia sama-sama menunjukkan ekspresi serba salah.

 

"Filmnya bagus ya. Bad end-nya mantap banget."

 

"Perkembangan bad end-nya benar-benar tanpa ampun. Pas karakter utamanya menaikkan flag di pertengahan cerita, aku refleks mengepalkan tangan."

 

"Bagian saat dia menghabisi orang tak berdosa di pihak musuh, yang jadi pemicu petaka berikutnya itu, kan? Di bagian itu, aku juga sampai mengepalkan tangan erat-erat."

 

"Kamu paham?"

 

"Paham, paham banget!"

 

Sambil berkata begitu, dia membungkukkan badannya sekuat tenaga dari kursinya ke arahku, lalu menyodorkan kepalan tangannya.

 

Aku pun mengulurkan tanganku sama jauhnya, hingga kepalan tangan kami beradu tipis dengan pelan.

""More bad! More hell!""




Sambil memadukan suara, kami melakukan adu jempol—fist bump—sebanyak tiga kali. Pada benturan terakhir, kami menekannya agak lebih kuat dengan bunyi puk.

 

"Ahaha. Kamu beneran ngelakuinnya! Aku senang banget."

 

"Kalau nonton film ini, sudah wajar bakal ngelakuin itu."

 

Itu adalah gestur dan seruan yang dilakukan karakter utama dan heroine di momen-momen krusial. Sebuah sumpah balas dendam terhadap musuh bebuyutan, sekaligus wujud nyata dari ikatan mereka berdua yang penuh harapan. Namun, saat sang heroine tewas, tidak ada lagi balasan seperti biasanya, menjadi sebuah payoff yang sempurna secara bad end karena semakin memperjelas kesendirian sang karakter utama.

 

"Anu... Kita dari sekolah yang sama, kan? Sepertinya kita seangkatan juga."

 

Dia memegang pita merah di kerah bajunya.

 

"Boleh tidak kalau aku berhenti pakai bahasa formal?"

 

"Boleh saja... maksudku, ayo santai saja."

 

Meski bilang begitu, aku tetap merasa gugup. Bicara empat mata dengan seorang gadis adalah hal yang hampir tidak pernah kualami selain di Klub Sastra.

 

"Terima kas... makasih ya. Oh, kita harus segera keluar dari sini."

Karena staf bioskop mulai masuk untuk membersihkan studio demi pemutaran berikutnya, aku dan dia mengambil tas masing-masing lalu berdiri dari kursi.

 

Mata ini tanpa sadar tersita oleh gerakan rambut hitam panjangnya yang bergoyang dan mengalir indah.

 

Sebenarnya aku sudah menyadarinya sedikit demi sedikit, dan rasanya agak tak sopan memikirkan hal seperti ini saat baru pertama kali bertemu... tapi singkatnya, dia benar-benar tipeku banget.

 

Paras dan ekspresinya memadukan kesan dingin sekaligus ramah secara bersamaan, aksesori perak yang mengintip malu-malu dari ujung lengan blazer beserta jemari lentik di baliknya, kaki jenjangnya yang terulur dari balik rok motif kotak-kotak, hingga postur tubuhnya yang tegak lurus dan tampak sangat anggun saat berdiri... bagaimana ya bilangnya, semuanya benar-benar tepat menembus selera terdalamku.

 

Mata kami saling beradu.

 

Gawat, ketahuan kalau aku sedang memperhatikannya dari atas sampai bawah.

 

"E-Eh, bukan gitu maksudku—"

 

"Bukan gitu, bukan gitu kok."

 

Bahkan kata-kata pembelaan diri kami pun bertumpukan lagi.

Dia sendiri memalingkan wajahnya dengan rasa bersalah. Pipinya merona agak kemerahan.

 

Apakah dia juga sedang memperhatikanku? Memperhatikan cowok yang cuma sekadar kurus seperti diriku ini? Ah, aku saja yang terlalu percaya diri.

 

"Anu..."

 

Namun, mataku kembali beradu saat dia memanggil.

 

"Soal film tadi. Soal bad end juga... aku masih ingin ngobrol lebih banyak lagi."

 

"Ah, mmm. Aku juga. Mikir gitu."

 

Terlepas dari apa yang kupikirkan tentang dirinya, itu memang murni dari lubuk hatiku. Ini pertama kalinya aku bertemu seseorang yang punya selera bad end sepasang ini denganku.

 

"Syukurlah. Kalau begitu, yuk mampir ke suatu tempat."

 

Dengan nada suara yang terdengar gembira, dia mulai melangkah, dan aku pun berjalan di sampingnya. Kami meninggalkan area kursi penonton lalu melintasi lobi bioskop.

 

"Ngomong-ngomong... kita belum saling kenalan ya."

 

"Bener juga. Aku Masumi Asahi."

"Eh? Aku Masumi Tsukino loh... Beneran samaan?"

 

Aku dan dia sama-sama terperangah.

 

"Padahal marga Masumi itu rasanya lumayan langka."

 

"Masa kita seangkatan tapi tidak pernah sadar, ya?"

 

Harusnya setidaknya pernah lihat di suatu tempat.

 

Meski begitu, kenyataannya aku sendiri memang tidak punya ketertarikan pada orang lain selain teman atau kenalan. Aku sama sekali tidak tahu tentang murid-murid yang tidak pernah sekelas denganku.

 

"Kalau memanggil 'Masumi-san', rasanya bakal aneh ya."

 

"Bener juga. Kalau begitu, boleh tidak aku panggil nama depan saja? Asahi-kun."

 

"Boleh kok. Hmmm... Tsukino-san."

 

Aku dan Tsukino-san mendadak sama-sama bungkam.

 

"Fufu. Langsung panggil nama depan memang bikin canggung ya. Harus cepat-cepat terbiasa nih."

 

Kami berdua terang-terangan merasa malu hingga tanpa sadar tertawa canggung.

 

"Iya. Aku bakal coba biasakan. Tsukino-san."

 

"Aku juga bakal berusaha deh. Mohon bantuannya ya, Asahi-kun."

 

Saat sengaja menyebutkan nama depanku dengan nada dibuat-buat, Tsukino-san memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil tersenyum jahil, bagaikan bocah yang baru saja ketahuan melakukan jahil.

 

"Kalau begitu, yuk kita mulai bad end-nya?"

 

Jujur saja, ekspresinya yang itu juga sangat sesuai dengan selera favoritku.

 

◆ ◆ ◆

 

Singkat cerita, setelah itu kami benar-benar melakukan bad end gila-gilaan.

 

Aku tidak pernah menyangka bakal membicarakan bad end sampai dua jam penuh.

 

Dimulai dari obrolan tentang bagian mana saja di Infinity Heaven yang terasa bad, berlanjut ke analisis foreshadowing bad end, sampai mendiskusikan pembangunan karakter yang berujung pada bad end.

 

Pembicaraan terus bergulir ke karya-karya bad end lainnya, bahkan kami meluapkan pendapat tentang novel dan komik yang penilaiannya turun secara tidak adil hanya gara-gara berakhir bad end. Aku biasanya bicara dengan tempo cepat, tetapi Tsukino-san pun terus bicara sama cepatnya. Tidak diragukan lagi, hari ini adalah hari di mana aku paling banyak mengucapkan kata bad end sepanjang hidupku. Kalau memperhitungkan singkatan bad end, mungkin ini bisa masuk Guinness World Records, walau sepertinya memang belum pernah ada rekor seperti itu sebelumnya.

 

Setelah menghabiskan dua jam obrolan bad end di sebuah kafe dalam mall tempat bioskop berada, aku dan Tsukino-san kini berjalan berdampingan menyusuri jalanan malam. Suara langkah sepatu loafer kami berbunyi dengan irama yang serasi.

 

Dari mal yang terletak di dekat Stasiun Himurogioka menuju rumah kami di Himurogioka Higashimachi, terdapat jalan menanjak yang cukup panjang dan landai. Meski berada di sepanjang jalan nasional yang ramai lalu lintasnya, begitu memasuki pukul sembilan malam, pejalan kaki yang melintas sudah bisa dihitung dengan jari.

 

Biarpun sudah bulan Mei, jam segini hawa udara terasa agak dingin.

 

Lebih tepatnya, kami memang sudah terlalu larut mengobrol.

 

"Rasanya masih belum puas ngobrol ya. Aku masih mau bad end lagi deh."

 

"Aku juga mikir gitu. Ini pertama kalinya aku bisa bad end se-all out ini."

 

"Sama, aku juga. Boleh juga kamu, Asahi-kun."

 

"Tsukino-san yang lebih hebat. Biasanya kalau aku bicara bad end pakai tempo cepat, lawan bicaraku tidak bakal bertahan lewat dari satu menit."

 

Rentang waktu sampai lawan bicara menyerah dan berkata, "Aduh, tidak paham ah, udah cukup," maksudku.

 

"Ngomong-ngomong balik ke topik tadi, Infinity Heaven beneran bagus banget ya. Perkembangan bad end di babak akhir itu, aku sempat lihat opini di media sosial yang bilang terkesan mendadak, tapi justru karena mendadak itulah efek bad end-nya jadi makin berasa, kan?"

 

"Tepat sekali. Aku biasanya menyebut perkembangan bad end yang serba mendadak itu dengan istilah Sudden Strike (Bencana Tak Terduga)."

 

"Eh!? Ini pertama kalinya aku ketemu orang selain diriku yang pakai istilah Sudden Strike (Bencana Tak Terduga). Maksudnya perkembangan mendadak yang benar-benar mengkhianati ekspektasi penikmatnya, kan? ...Jangan-jangan kamu juga pakai furigana kanji buat istilah itu?"

 

"Bohong, kan? Maksud hati bikin istilah buatan sendiri, masa sampai ke furigananya pun bisa jadi bahasa yang sama?!"

 

"Luar biasa. Ini sih namanya takdir."

 

Tepat setelah mengucapkannya dengan penuh antusias, Tsukino-san mendadak menutup mulutnya.

 

"...Kata 'takdir' mungkin terlalu sok akrab ya."

 

"Tidak kok, aku juga sempat berpikir ini seperti takdir... walau kalau diucapkan keras-keras memang terasa sok akrab sih."

 

"Kalau kita berdua sama-sama memikirkannya, untuk kali ini anggap saja aman... bercanda deh."

 

Kami refleks tertawa bersama untuk mencairkan suasana canggung.

 

Rasa terbawa suasana ini, ditambah keraguan dan jarak khas orang anti-sosial... sebenarnya memang ada kemiripan yang terasa seperti takdir di antara kami.

 

Kami berdua sempat bungkam sejenak sambil melintasi salah satu terowongan yang banyak dijumpai di kawasan Himurogioka. Karena kendaraan yang lewat sangat sedikit, suara langkah kaki kami yang sejajar bergema dengan lumayan nyaring.

 

"Ah, balik lagi ke topik Sudden Strike (Bencana Tak Terduga) tadi."

 

Istilah itu sudah benar-benar menjadi bahasa bersama kami.

 

"Film itu, kalau kita lihat keseluruhan ceritanya dari sudut pandang luas, foreshadowing menuju perkembangan bad end-nya sebenarnya sudah ditanam dengan sangat rapi sejak awal cerita, kan?"

 

"Paham banget. Sampai-sampai kerasa 'bukannya bagian ini dan itu di awal cerita juga foreshadowing?'. Adegan bapak-bapak tidak dikenal yang memiringkan kepalanya itu juga foreshadowing. Cuma ya, menurutku cara penyampaiannya memang agak sulit disadari kalau bukan oleh orang yang biasa menikmati jalan cerita."

 

"Mungkin begitu. Soalnya dari awal sampai pertengahan cerita, plotnya berfokus melintasi berbagai dunia paralel, mendapatkan kemampuan di tiap dunia, lalu menyelamatkan dunia tersebut. Bentuknya lebih terasa seperti hiburan happy end ketimbang bad end, jadi orang-orang makin tidak sadar sama foreshadowing bad end-nya."

 

Tema utama di dalam Infinity Heaven adalah dunia paralel.

 

Dunia atau alam semesta itu tidak cuma ada satu, melainkan berjumlah tak terhingga. Walau kedengarannya seperti pemikiran yang tidak masuk akal, konsep ini kabarnya cukup masuk akal dalam fisika teoritis.

 

Terlepas dari nyata atau tidaknya, di dalam film tersebut digambarkan sosok yang lalu lalang melintasi berbagai dunia dengan hukum alam yang berbeda-beda.

 

Konsep ini menjadi sangat umum terutama setelah diangkat menjadi tema dalam film-film pahlawan super Marvel. Aku sendiri suka hal-hal seperti Spider-Verse, terlepas dari akhir ceritanya yang happy end. Kalau soal dunia paralel, sepertinya itu memang sudah menjadi konsep yang familier di komik Amerika sejak dulu.

 

"Melintasi dan menyelamatkan banyak dunia. Seseorang yang harusnya melakukan hal yang benar, justru membukakan pintu bad end akibat pembalasan dendam dari lawan yang dulunya musuh... bagian itu beneran bikin merinding."

 

"Aku juga sampai merinding."

 

Aku masih ingin terus mengobrol. Walau sudah bicara selama dua jam dan lanjut mengobrol di sepanjang jalan pulang, aku tetap merasa begitu.

 

Namun, perjalanan ini sudah hampir sampai di penghujungnya.

 

Begitu meninggalkan jalan nasional, rumahku sudah amat dekat. Meski jalur pulang kami sama sampai di sini, tentu saja pada akhirnya kami harus berpisah di suatu titik.

 

Setiap kali melangkah, akhir dari percakapan ini terasa kian mendekat.

 

Kami bersekolah di tempat yang sama dan duduk di tingkat yang sama, jadi kami pasti bisa bertemu lagi. Kesempatan untuk mengobrol sepuasnya masih ada melimpah. Meski begitu, rasa kesepian menjelang perpisahan tetap tidak bisa ditepis.

 

Aku dan Tsukino-san belok menyusuri jalan di luar jalan raya utama.

 

Rute pulang kami ternyata masih bertumpukan.

 

Setidaknya aku harus mengajak bertukar kontak. Jarak ini mungkin

terasa terlalu sok akrab, tetapi aku bertaruh pada takdir ikatan bad end kami.

Baru saja aku hendak membuka mulut, Tsukino-san mendadak menghentikan langkahnya, dan aku pun ikut berhenti.

 

"Ini rumahku—"

 

"Ini rumahku—"

 

Kata-kata kami kembali bertumpukan.

 

Suara "Eh?" yang terucap pun saling tumpang tindih, lalu kami memalingkan wajah ke arah rumah yang berdiri di hadapan kami, rumahku sendiri.

 

Itu adalah rumah tinggal berdinding tunggal dengan desain seragam yang tidak memiliki keunikan khusus, tetapi tentu saja aku tidak mungkin salah mengenali rumahku sendiri.

 

Pada papan nama keluarga, jelas-jelas tertulis marga "Masumi".

 

Bahkan ritme kedipan dari mata kami yang membulat pun terasa sama persis.

 

"Masumi Asahi."

 

"Masumi Tsukino."

 

Saling sebut nama yang kembali terucap secara alami itu pun terjadi secara bersamaan.

 

Hal yang baru kuketahui setelah kejadian ini adalah:

 

Aku dan dia merupakan keberadaan yang sama dari dunia paralel.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close