NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume Chapter 5

Bab 5: Selera Fetis Diriku di Dunia Paralel Sama Denganku, Malah Aku yang Jadi Terbuka pada Hal-Hal Baru


Warna merah membara dari senja memudar dan merembes ke dalam langit biru yang diliputi awan tipis. Dari dataran tinggi tempat kami berdiri, kota Himurogioka yang berada di bawah tampak begitu samar terhampar di bawah naungan sinar matahari yang mulai tenggelam.


Tsukino berdiri membelakangi kota dan langit yang perlahan berganti warna menjadi merah muda keunguan. Berdiri menatap langit dengan mata sipitnya, dia memegang rambut hitamnya yang melambai ditiup angin. Rambut hitam itu berkibar bagaikan tinta yang ditumpahkan ke tengah senja. Seragam blazernya tampak kontras bersanding dengan warna langit, menciptakan pemandangan yang amat memukau.


Di saat yang sama, paras cantiknya yang dingin—terbingkai oleh latar belakang langit yang kian memerah mendalam sebelum akhirnya menggelap—memberikan kesan yang entah kenapa agak sinister.


Manik matanya yang menatap kota tampak kelam, sementara bibirnya yang tipis dan bergaris indah seolah-olah dihiasi oleh warna darah. 


Mawar berwarna hitam dan perak yang menghiasi rambutnya, serta aksesori perak yang melingkar kasual di pergelangan tangannya berkilauan secara sekilas diterpa cahaya senja.


Se-sosok gadis yang mengetahui awal mula dari sebuah tragedi. Dari titik inilah tirai bad end mulai tersingkap.


"Pertanda dari keputusasaan dan ketakutan... pemandangan yang seperti itu, kan?"


Tsukino mendadak memalingkan wajahnya ke arahku lalu menyeringai lebar.


"Asahi juga memikirkan hal yang sama, kan? Kalau aku sih tadi memberi kalimat narasi: 'Anak laki-laki itu tahu. Bahwa kota ini akan segera hancur'."


"Aku juga memikirkannya. Tapi sebatas 'Mengumumkan awal dari sebuah tragedi'. Tapi ya, beda dengan Tsukino, aku kan tidak cocok masuk ke dalam gambaran bad end."


Aku cuma siswa SMA berbadan kurus yang sorot matanya agak galak doang.


"Tidak juga kok."


Tsukino mengarahkan ponselnya padaku. Suara rana dari aplikasi kamera berbunyi.


"Aku kurang suka difoto sih."


Aku pun mengarahkan ponselku untuk membalas memotret Tsukino.


"Aku juga kurang suka. Soalnya mataku galak."


Dia menutupi separuh wajahnya dengan ponsel sebagai tameng.


"Tapi menurutku kelihatan keren kok."


"Aku juga berpikiran sama persis. Kelihatan keren dan mantap."


Tsukino kembali mengalihkan pandangannya ke arah kota. Aku pun ikut menatap ke bawah menyusuri kota yang sudah sangat kukenal ini.


Jujur saja, ini cuma caraku menutupi rasa malu, dan kurasa Tsukino pun... pasti sedang merasa malu juga.


Bagaimanapun, setelah keluar dari ruang Klub Sastra, aku dan Tsukino pergi ke Taman Observasi yang berada di sebelah utara kota.


Ini adalah taman ruang hijau yang terletak di titik tertinggi bagian utara 

Himurogioka. Sepertinya kontur tanah berbukit yang ditumbuhi banyak pepohonan ini dimanfaatkan secara langsung sebagaimana adanya. 


Bersama Green Mall, tempat ini menjadi salah satu area rekreasi bagi warga Himurogioka.


Tempat aku dan Tsukino berada saat ini adalah gardu pandang yang terletak di posisi paling atas. Tempat ini tidak memiliki menara tinggi atau fasilitas besar, melainkan hanya struktur sederhana yang dipasangi pagar pengaman, teropong koin, dan bangku-bangku di area yang agak menjorok ke arah kota.

"Melihat kotanya secara langsung, apa ada bedanya dengan duniaku Tsukino?"


"Tahulah ya..."


Dia memicingkan matanya menatap kota yang tersapu warna senja.


"Rasanya hampir tidak ada yang berbeda. Green Mall maupun SMA Himurogioka juga sama saja. Tapi kalau ditanya apakah detail kecilnya ada yang beda, rasanya mungkin saja ada."


"Tanda tempat atau bangunan mencolok tidak ada yang bertambah atau hilang, kan?"


"Kalau perbedaannya sejelas itu, kita baru bisa bilang kalau hal itu mencurigakan."


Kami menuruni tangga yang landai lalu meninggalkan gardu pandang.


Taman Observasi yang kaya akan penghijauan ini ramai dikunjungi orang bahkan di sore hari pada hari kerja. Orang-orang yang melintas sangat beragam: murid-murid sekolah yang mampir sepulang sekolah seperti kami, orang-orang yang membawa hewan peliharaan, hingga lansia yang menjadikannya rute jalan-jalan rutin.


"Mumpung masih ada waktu, mau lanjut ke tempat berikutnya?"


"Boleh. Kalau aku memang tersesat ke dunia ini, mungkin di antara tempat-tempat yang kudatangi kemarin ada suatu petunjuk... walau bisa jadi tidak ada juga sih."


"Selain fakta kalau tempat ini terasa seperti dunia paralel, kita belum tahu apa-apa lagi, jadi mau tidak mau kita harus mencari petunjuk."


Oleh karena itulah kami mendatangi Taman Observasi yang letaknya paling jauh ini terlebih dahulu. Kemarin, Tsukino berangkat dari sini menuju Green Mall di depan stasiun, lalu bertemu denganku di bioskop yang berada di dalam mall tersebut.


"Tapi Asahi, apa kamu tidak perlu bersiap-siap untuk pertarungan novel? Jadwal buat besok itu bukannya terlalu padat?"


"Tidak kok, naskahku sudah hampir selesai. Cuma ada beberapa bagian yang mengganjal, jadi kalau itu diperbaiki bakal langsung rampung."


Meskipun secara alur mendadak jadi pertarungan novel, kalaupun tidak ada ajang itu, naskah itu tetap bakal kuserahkan ke sesi kritik-saran rutin. Lagipula di klub kami, hal-hal semacam ini memang sering 

berujung jadi pertarungan secara alami.


"Lagian, hal yang harus diprioritaskan kan urusannya Tsukino. Kalau aliran waktu di duniamu dan duniaku berjalan sama, bisa gawat."


"Soal itu... iya. Aku jadi agak cemas."

Tsukino mengotak-atik ponselnya, tetapi tampaknya tetap tidak bisa tersambung ke dunianya. Walau kalau berkirim pesan denganku bisa-bisa saja.


Kami mulai melangkah keluar dari Taman Observasi. Langkah kaki Tsukino yang berjalan di depan terasa jauh lebih ringan. Atau lebih tepatnya, napasku yang mulai terengah-engah dan kakiku terasa berat.


"Ah, maaf ya. Harusnya tadi kita istirahat dulu."


Tsukino yang sadar lalu berbalik menghampiriku sama sekali tidak menunjukkan raut wajah lelah.


Jujur saja, berjalan kaki lurus dari sekolah sampai ke tempat ini lumayan berat. Setelah melewati area pemukiman di sekitar sekolah, jalan menuju Taman Observasi ini berupa tanjakan yang lumayan curam dan panjang. Selain orang-orang yang tinggal di dekat sini, kebanyakan orang bakal memilih naik mobil pribadi atau bus.


Hanya untuk mengimbangi langkah kaki Tsukino yang jalannya cepat di luar dugaan saja sudah membuatku sangat terkuras.


"Tsukino stamina nya bagus juga ya. Kamu beneran keberadaan yang sama denganku bukan sih?"


"Kalau mau meragukan hal itu, golongan darah dan jenis kelamin kita saja sudah beda tahu."


Mendengar ajakannya, aku duduk di bangku terdekat. Besok sepertinya kakiku bakal pegal-pegal.


"Asahi, perhatikan ya."


Setelah menaruh tasnya di bangku, Tsukino berjalan ke area yang sedikit agak jauh.


Dia lalu berbalik menghadap ke arahku. Di belakang tubuhnya terhampar pemandangan kota dan langit senja.


Raut matanya makin memajam tajam. Postur tubuhnya berdiri dengan kedua kaki berbalut sepatu loafer yang sedikit agak menghadap ke dalam.


Kepalan tangan kirinya dibusungkan ke depan, sementara kepalan tangan kanannya ditarik ke area sekitar ketiak.


Tepat setelahnya, bersamaan dengan hembusan napas yang tajam, pukulan lurus kanan dilepaskan. Di saat yang sama, pijakan kakinya membentur tanah dengan suara yang berat.


Melangkah satu pijakan lagi, pukulan kiri membelah udara. Suara tinju 

yang menghantam udara benar-benar bergema dengan nyata.


Tsukino tidak berhenti di situ.


Dia memutar separuh badannya mengarahkan bahu ke arahku. Tepat saat kedua kakinya tampak bersilangan dalam sekejap, sebuah tendangan dilepaskan dengan kecepatan yang tidak sanggup dikejar oleh mata.


Rok bermotif kotak-kotak itu berkibar anggun, memperlihatkan kakinya yang panjang saat terayun ke atas. Gerakan yang melibas udara bagaikan sabetan bilah pedang. Kaki yang berhenti dengan stabil di udara itu lalu diturunkan dengan mulus.


Semua itu terjadi hanya dalam sekejap mata.


Gerakan yang sama sekali tidak bakal bisa kulakukan, pukulan lurus dan tendangan yang bagaimana pun dilihat sama sekali tidak tampak seperti gerakan seorang amatir. Gerakannya yang begitu indah sampai-sampai membuatku lupa bernapas.


"Sekian. Itu tadi karakternya karate."


Seketika itu juga, ekspresi Tsukino melonggar. Mata sipitnya membentuk kurva melengkung.


"G-Gimana maksudnya?"


"Artinya, Asahi tidak pernah ikut karate, kan?"


"Sepanjang hidupku tidak pernah terlintas pikiran buat ikut karate sekali pun."


"Aku paham banget perasaan itu."


Meskipun baru saja memperlihatkan gerakan yang luar biasa, dia malah terkekeh.


"Kalau tidak ada pemicunya, aku juga berpikir tidak bakal pernah ikut karate kok."


Tsukino memperagakan pukulan siku dengan gerakan yang alami dan sangat terlatih.


"Dulu ada masa-masa di mana banyak hal terjadi. Waktu itu, sekalian melampiaskan rasa putus asa, aku coba ikut les karate. Gimana ya... semacam perasaan ingin menyiksa diri sendiri gitu?"


"Cara melampiaskan stresmu ekstrem banget."


"Aku sendiri juga berpikiran begitu kok."


Tangannya mengibas dengan ketajaman tebasan tangan (shuto) yang kalau sampai kena bakal bikin urusannya tidak selamat.


"Masa-masa aku menggelutinya dengan fokus penuh itu cuma sebentar sih, tapi entah kenapa aku ternyata punya bakat alami di sana. Pelatihku juga bilang begitu. Dari rasanya di tubuhku sendiri pun, aku merasa punya bakat tiga kali lipat lebih besar dibanding bakat menulis novel."


"Jangan-jangan di dalam diriku juga ada bakat tersembunyi seperti itu?"


"Kalau kita memang keberadaan yang sama, harusnya begitu."

Dari pukulan lurus berlanjut ke tendangan, dia memperagakan serangkaian jurus secara mengalir, tetapi napasnya sama sekali tidak terengah-engah.


"Aku nggak terlalu tertarik sih, jadi sekarang aku sudah kembali latihan dengan intensitas biasa. Makanya, staminaku lebih kuat dan aku lebih jago karate."


"Ternyata postur berdirimu yang tampak amat anggun itu karena kamu melatih tubuh dan punya core muscle yang kuat ya."


"Masa sih? Aku baru tahu kalau postur berdiriku kelihatan anggun."


Dia kembali menegakkan punggungnya. Karena tubuhnya ramping dan memiliki lengan serta kaki yang panjang, postur tubuhnya yang tegap terasa makin menonjol.


Tanpa kusadari, Tsukino sudah menghapus senyumnya dan menatap lurus ke arahku. Dia menatapku lekat-lekat sambil sedikit memiringkan kepalanya. Gesturnya yang menyisakan kesan kepolosan anak-anak—padahal parasnya tampak dewasa—secara jujur terasa amat manis.


"Asahi, tadi kamu memperhatikan gerak-gerik karatekubanget kan."


"Soal itu, yah... aku memang melihatnya sih."


"Jangan-jangan... kamu punya fetish sama yang begini?"

"Guh," keluhan yang menandakan kalau aku bungkam total tanpa bisa membalas pun terlepas begitu saja. Sempat terlintas pikiran untuk mengelak, tetapi keberadaan yang sama denganku ini jelas-jelas sudah merasa yakin. Faktualnya, aku memang tertangkap basah sedang menatapnya dengan tatapan seperti itu. Tidak, tunggu, tatapan seperti apa maksudnya?


"Fetish."



Secara sederhana dan jujur, aku memuntahkan isi hatiku.


"Sosok gadis yang kelihatan keren itu... memang fetish-ku. Pedang atau pistol itu sudah umum sih, tapi memang gaya bertarung bela diri itu paling mantap. Ah! Tepat sasaran! Memang begitu kenyataannya!"


"G-Gitu ya... Kalau dibilang blak-blakan di depan muka begini, rasanya agak..."


Tsukino memalingkan wajahnya. Dia sendiri yang memancing, tapi dia 

sendiri yang malah malu.


"...Lagian, aku juga punya fetish sama orang yang punya gerakan keren sih. Makanya aku memikirkan apa Asahi juga bakal begitu."


"Memang benar-benar diriku. Paham banget ya."


"Di Infinity Heaven juga, pas karakter utamanya melancarkan lompatan tendangan dengan jarak terbang yang tidak masuk akal, itu keren banget tahu. Aku juga suka adegan bertarung pergulatan bawah (ground fighting) yang intens."


"Kalau aku paling suka pas heroine-nya dapat kekuatan dari dunia paralel, terus mulai bertarung pakai kapak dan pedang."


"Topik yang kemarin sudah puas kita bahas ya, tapi akhirnya ketahuan 

juga kalau fetish kita sama."


"Jujur saja, dari awal aku sudah merasa lumayan curiga sih."


Untuk sementara, kami melakukan fist bump yang sudah menjadi tradisi kami. Kami kembali melakukan more bad, more hell.


"Ah, benar juga."


Tsukino kembali memperhatikanku dari atas ke bawah secara lekat-lekat. Dia menempelkan tangannya di bibir sambil berpikir keras. 


Perasaan seolah-olah seluruh rahasia di dalam diriku diterobos masuk mulai membayang.


Setelah memikirkannya sejenak, dia membungkukkan badannya ke arahku. Wajah Tsukino yang berdiri mendadak berada tepat di hadapanku yang sedang duduk di bangku. Lebih tepatnya, jaraknya sudah sedekat jarak host ala Jun.


"Soal masa-masa di mana banyak hal terjadi yang kubilang tadi..."


Dia menempelkan telunjuknya di bibirnya sendiri.


"Sekalian melampiaskan rasa putus asa, aku juga mencabut gigi bungsu tahu."


Dia lalu membuka mulutnya lebar-lebar.


Tulang belakangku seketika bergetar hebat.


Jantungku berdegup amat kencang, menghadirkan ilusi seolah-olah seluruh darah dari tubuh meluncur deras naik ke kepala.


Di balik bibirnya yang merona halus, aku baru pertama kali menyadari kalau warna menawannya berasal dari polesan pelembap bibir. Deretan giginya tampak putih dan tersusun rapi, dengan gigi taring yang sedikit lebih panjang dan tajam. Gigi geraham dalamnya tampak besar di luar dugaan, berkilau basah diterpa cahaya matahari senja yang menyelinap masuk. 


Warna di dalam rongga mulutnya merupakan warna merah muda yang lembut, memancarkan kilau bagaikan permata saat bergerak-gerak. Setiap kali dia mengembuskan napas, lidahnya yang terasa lebih panjang dari dugaanku berdenyut bagaikan makhluk hidup tersendiri.


"Kelihatan tidak?"


Tsukino menjauhkan badannya, dan di titik itulah aku baru benar-benar kembali ke alam sadar. Ujung jemariku bergetar akibat sisa guncangan yang hebat.

"A-Apaannya yang diomongin?"


"Maksudku bekas cabut gigi bungsuku."


Begitu diberitahu, memang benar kalau di area yang lebih dalam dari geraham kanan belakang, rasanya ada bekas cekungan daging yang tersisa. Tidak, pemandangan itu bahkan sudah membekas amat kuat di dalam mataku.


"Kelihatan. Ah, kelihatan kok."


Maksud hati ingin berpura-pura bersikap alami, tetapi suaraku malah melengking naik secara tidak terkontrol.


Saat aku mendongak, Tsukino kembali menempelkan tangan di bibirnya dan memperlihatkan bagian dalam mulutnya sekali lagi. Walaupun jaraknya kali ini lebih jauh dari yang tadi, mataku tetap saja refleks mengikutinya.


"Aku penasaran apa ini juga termasuk fetish-mu. Fufu. Ternyata memang fetish-mu ya."


"Nggak ah, tidak tahu! Aku sama sekali tidak tahu kalau punya fetish seperti ini!"


"Masa sih? Padahal wajahmu merah padam begitu."


"Sampai separah itu!?"

Telingaku memang terasa amat panas, pandangan di depanku terasa agak berkunang-kunang, dan detak jantungku berpacu seperti seusai lari jarak jauh. Aku mencoba menempelkan tangan ke wajah, tetapi aku sudah tidak bisa memahami apa-apa lagi.


"Kenapa kamu bisa mengira kalau itu fetish-ku?"


"Habisnya... di komik atau anime kan kadang-kadang ada adegan seperti 

ini?"


Dia memperagakan gestur melebarkan bibirnya dengan tangan.


"Terus, pas adegan makan yang di-zoom in, atau pas adegan menggigit, atau pas sikat gigi..."


Suaranya perlahan-lahan makin mengecil.


"...Yang seperti itu kan lumayan jadi fetish-ku. Makanya, selain bad end yang fetish-nya sama, Asahi yang punya fetish karakter beraksi juga sama denganku, jadi kiraku bakal begitu juga... Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memperlihatkan bagian dalam mulut begini kan terkesan tidak 

sopan ya..."


Dia memalingkan wajahnya lalu menutupi mukanya dengan kedua tangan. Katanya telingaku merah, tetapi telinga Tsukino sendiri pun sudah merah membara. Ini jelas bukan cuma ulah dari cahaya matahari senja.


"Sampai detik ini, aku sama sekali tidak pernah punya fetish seperti itu. 

Tapi..."


Mulut Tsukino yang terbuka lebar, gigi taringnya yang tajam, bekas gigi bungsunya, serta segalanya tidak bisa lepas dari dalam kepalaku. 


Perasaan euforia yang membumbung tinggi—seperti saat menyadari novel yang kubaca mulai mengarah ke bad end—mulai bergejolak hebat di dalam diri.


" Fetish-ku justru baru saja dibukakan gerbangnya olehmu! Kamu mau tanggung jawab bagaimana, hah!? Ini bakal terbawa seumur hidup tahu!"


"Masa aku malah disuruh tanggung jawab..."


Ini sih namanya memancing. Padahal dia sendiri terang-terangan merasa malu, tetapi dia malah terkekeh mengejek lewat hidungnya.


Aku refleks berdiri.


"Kalau begitu, aku juga bakal memicu fetish-mu!"


"He~ Gimana caranya?"


"Ajari aku karate yang tadi! Kalau kita punya fetish aksi yang sama, kamu pasti bakal goyah melihat gerakanku saat berkarate, kan!"


"Logikanya sih masuk akal, tapi dalam alur begini kamu malah minta diajari sama aku? Yaudah deh, boleh saja."

Tsukino merapatkan tubuhnya mendekat.


"Kalau begitu, mulai dari pukulan lurus dulu. Kuda-kudanya begini—"


Saat aku mencoba menirukan kuda-kuda Tsukino yang tadi, 

"Kuda-kudanya begini", "Kakinya agak menghadap ke dalam", "Beri 

tenaga di bagian sini", petunjuk demi petunjuk terus dikoreksi olehnya secara berturut-turut.


Tangan Tsukino memegang lenganku, menepuk paha atas milikku, lalu 

menekan pinggangku untuk merapikan posisi kuda-kuda. Di tengah proses itu, rambut hitamnya mengusap pipiku, dan hembusan napas halusnya melintas tepat di dekat earphone-ku. Di dalam manik matanya, terbayang pantulan wajahku yang sorot matanya galak ini.


"Selesai, segini oke. Bagaimana rasanya?"


"Anehnya rasanya pas banget. Apa karena aku punya bakat ya?"


"Artinya memang benar-benar diriku ya."


Sama seperti Tsukino tadi, aku mengambil posisi kuda-kuda dengan membusungkan kepalan tangan kiri dan menarik kepalan tangan kanan ke bawah ketiak.


"Sambil menarik tangan kiri, tembakkan tangan kananmu."


Sesuai instruksinya, aku melepaskan pukulan lurus. Pukulanku membelah udara dengan begitu mulus sampai-sampai aku sendiri kaget. Setelah sensasi menyenangkan yang berlangsung sekejap itu, rasa pegal dari otot yang biasanya tidak pernah dipakai mulai membalas perlahan.


"Gimana, sudah benar kan?"


Tsukino tidak menjawab. Seolah core muscle-nya yang kuat tadi adalah bohong belaka, dia malah terhuyung sempoyongan melangkah mundur.


"...Rasanya lemas sampai mau jatuh."


"Sampai segitunya!?"


"Tunggu sebentar. Tunggu, sekarang aku lagi tidak bisa berpikir jernih."


Sambil mengingat gerakan Tsukino tadi, aku mencoba melepaskan 

tebasan tangan (shuto). Mungkin karena ini yang kedua kalinya, aku merasa yakin kalau gerakanku kelihatan lumayan luwes dan mahir.


"...gh!"


Tsukino mendadak bergidik gemetar.


"Kenapa malah dipraktikkan sekali lagi sih!? Jantungku juga ada 

batasnya tahu!"


"Aku tidak menyangka bakal diomeli begini."


Setelah menatapku lekat-lekat, dia melangkah mendekat.


"...Sudah deh. Aku mau lihat sedikit lagi. Sekarang bakal kutanamkan 

ilmu karatenya ya."


"Main tanamkan sendiri saja, minta persetujuan dulu dong."


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia memegang lenganku dan berusaha menarikku kembali ke posisi kuda-kuda pukulan lurus.


Di tengah-tengah gerakan itu, Tsukino mendadak menghentikan gerakannya.


Dia tampak menatap lekat-lekat ke arah tanganku yang digenggam oleh kedua tangannya, tetapi karena terhalang oleh rambut hitamnya, ekspresi dan arah pandangnya tidak bisa kulihat dengan jelas.


"Tsukino?"


"Pintu gerbangku... baru saja dibuka juga," bisiknya pelan. Saat dia mendongak menatapku, matanya entah kenapa tampak sedikit berkaca-kaca.


Jemari Tsukino menyentuh tonjolan pembuluh darah yang menyembul di dekat pangkal ibu jari pada kepalan tangan kiri yang masih kurentangkan. Sensasi usapan kuku jarinya terasa menggelitik.


" ...Sepertinya aku suka pembuluh darah deh."


"Seriusan? Kalau yang itu sih rasanya fetish kita sudah beda..."


Aku mendadak bungkam. Secara alami, mataku terhipnotis dan terseret ke satu titik.


Di balik acakan rambut hitamnya, leher putihnya mengintip samar. Di celah antara kerah blus dan helai rambutnya, terdapat tonjolan pembawa kehidupan. Mataku tidak bisa berpaling dari pembuluh darah di leher itu.


Sesuatu yang sama sekali tidak pernah kusedari sebelumnya, kini mendadak kusadari sepenuhnya lewat gerbang yang dibukakan oleh Tsukino.


"Kalau aku sih lebih suka yang di leher."


"Eh. Bukannya itu sudah level tingkat lanjut banget? Beneran?"


Tsukino menarik kerah bajuku ke bawah dengan agak kuat. Dia lalu mendekatkan wajahnya untuk memastikan hal itu. Di depan mataku, hiasan mawar hitam dan perak berkilauan, menyatukan aroma Tsukino ke dalam udara musim semi.


Dalam posisi itu, Tsukino menatap leherku lekat-lekat. Dengan kerah baju yang tersingkap begini, aku sama sekali tidak bisa bergerak. Tidak bisa melawan. Dan tidak punya niat untuk melawan.


Setelah beberapa menit berlalu, Tsukino perlahan menjauh.


"Aku paham," desahnya pelan.


"Mana pernah kukira kalau di dalam diriku... di dalam diri kita, masih tersisa potensi dan frontier baru seperti ini."


"Padahal situasinya sudah terlanjur gawat, tapi bisanya kamu ngomong puitis begitu."


Bagian tubuh Tsukino yang bikin aku salah fokus jadi bertambah lagi. 


Pakai istilah bagian tubuh segala lagi.


"Hei, Asahi. Mumpung sudah begini sekalian saja..."


Dia menggesek-gesekkan jemarinya dengan gelisah. Saat tubuhnya bergoyang canggung, roknya berdesir pelan.


"Boleh aku lihat bagian dalam mulutmu?"


"Ngomong apa sih kamu."


"Kan aku sudah duluan memperlihatkan bagian yang bikin malu?"


"Ngomongnya makin sembarangan saja."


Yah, walau kalau tidak kuperlihatkan ganti, rasanya agak kurang adil. 


Namun, aku jadi cemas kalau-kalau ada sisa makanan yang tertinggal.


Aku menggunakan kamera depan ponsel untuk memeriksa bagian dalam mulutku sendiri. Tampaknya tidak ada kotoran yang mencolok.


"Kalau cuma sebentar saja boleh deh."


Seperti yang dilakukan Tsukino tadi, aku menarik bibirku dengan jari lalu membuka mulut lebar-lebar. Rasa gugup mulai menyerang.


"Permisi."


Baru kali ini aku mendengar salam permisi sebelum mengintip mulut orang. Karena dia makin memajukan badannya ke arahku, aku jadi makin gugup setengah mati.


"Aaa. Gigi bungsunya masih utuh. Hati-hati ya, nanti bisa berlubang 

loh."


Ingin rasanya kubalas 'jangan mendoakan yang jelek-jelek dong', tapi sayang sekali mulutku sedang terbuka lebar.


Ekspresi Tsukino yang sedang mengintip ke dalam tidak bisa kulihat dari posisiku.


Usai menggodaku, dia tidak mengucapkan apa-apa lagi, hanya menahan napas dan bergeming.


Sensasi menggelitik nan misterius merayap naik dan berdesir hebat di sepanjang tulang belakangku.


Begitu mendengar suara langkah kaki dan percakapan orang yang mendekat ke arah kami, kami berdua refleks merenggangkan jarak.


Sepasang murid SMA Himurogioka dari tingkat lain—tampaknya sejoli 

kekasih—berjalan melintas sambil bersenda gurau. Mereka berdua sama sekali tidak memedulikan keberadaan aku dan Tsukino.


Namun, kehadiran mereka sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan kesadaran kami ke alam nyata.


"Istirahatnya sudah cukup."


"Kalau gitu, ayo kita lanjut ke tempat berikutnya."


Kepalaku masih terasa agak panas. Padahal udara senja mulai berganti dingin, tetapi tubuhku malah terasa membara dari dalam.


Kami berdua mulai berjalan menuruni jalan menanjak.


Percakapan antara aku dan Tsukino jadi makin sedikit. Kami hanya bertukar kata seperlunya saja sambil melangkah ke tujuan berikutnya.


Selain bad end, selera dan fetish kami rupanya sangat mirip. Bahkan fetish yang selama ini tidak kusadari pun ternyata sama persis.


Gara-gara fetish ini, pembuktian bahwa kami adalah keberadaan yang sama memang makin maju. Namun saat ini, di dalam diri gadis ini, aku dengan sangat jelas merasakan sesuatu yang sama sekali berbeda dari sekadar 'diriku sendiri'. Dari awal aku memang sudah menyukai penampilannya dan menganggapnya cantik.


Lirikan mata yang kulemparkan secara sekilas, sekali lagi beradu tepat dengan pandangan mata Tsukino.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close