Bab 12: Membicarakan Bad Ending yang Baru Bersama Diriku di Dunia Paralel
Faktanya, baru lari sekitar dua menit saja aku sudah kehabisan napas dan terpaksa memelankan tempo. Itu pun begitu mencapai batas kemampuan, aku sempat mampir beristirahat di minimarket. Setelah berjalan santai dan pura-pura jalan cepat demi mengelabuhi rasa lelah, saat akhirnya menemukan ritme langkah yang teratur walau lambat, aku pun tiba di tempat tujuan.
Aku melangkahkan kaki melewati pintu gerbang SMA Himurogioka yang baru saja memasuki jam pulang sekolah. Beberapa siswa yang pulang lebih awal berpapasan denganku, tetapi karena aku mengenakan seragam, tidak ada satu pun yang menaruh curiga.
Napasku masih terengah-engah, dan kedua kakiku terasa begitu pegal dan berat. Keringat yang bercucuran sepanjang jalan membuat seluruh tubuhku terasa lengket dan tidak nyaman.
Terlepas dari seragam yang kukenakan, aku tentu saja tidak membawa sepatu dalam ruangan (uwabaki), jadi aku meminjam sandal untuk tamu lalu melangkah masuk ke area gedung sekolah. Tempat yang kutuju dengan tergesa-gesa adalah koridor ruang-ruang klub.
Apakah dia ada di sana? Apakah kami malah berpapasan? Lagipula, apakah dia adalah sosok yang persis seperti yang kukenal? Tanpa sempat memikirkan hal-hal itu terlalu dalam, sosoknya sudah berdiri tepat di depan ruang Klub Sastra.
Bahkan dari punggungnya yang dibalut jas almamater, terlihat jelas postur tubuhnya yang tinggi, berotot, dan tertata rapi, dipadukan dengan rambut cokelat mencuat yang memancarkan kesan liar.
Suaranya yang agak kasar tetapi terdengar sangat ceria terasa begitu cocok dengan penampilannya.
Orang yang ingin kutemui tak lain adalah Hikawa Jun.
Tsukino telah kehilangan banyak hal, bahkan sampai memutus hubungan dengan Klub Sastra. Namun, bukan berarti klub itu sendiri lenyap, ataupun sosok Jun menghilang. Walau Nanaha-senpai sudah lulus, dia yang kini menginjak kelas tiga masih bertahan di sini.
Jika aku bisa memperbaiki hubungan antara Tsukino dan Jun, dia tidak akan lagi menjadi sendirian—entah apakah nantinya aku bisa kembali ke duniaku yang asli atau tidak.
Mengenai Jun di dunia ini, aku hanya mengetahuinya secara tidak langsung lewat novel yang ditulis Tsukino. Karena tingkatan kelasnya sudah berubah, aku bahkan tidak tahu dia berada di kelas mana. Bisa saja perilakunya mengalami perubahan besar seperti halnya Nanaha-senpai.
Ada rasa cemas di dalam hatiku, tetapi melihat caranya berjalan diapit tiga orang siswi seolah-olah seorang host populer yang dikelilingi wanita, kecenderungannya yang memiliki jarak interaksi aneh dengan orang lain ternyata masih sama seperti biasanya. Hal itu membuatku sedikit lega, tetapi... apakah dia benar-benar masih sama seperti yang kukenal?
"Ada apa? Ini pertama kalinya kamu ke tempat seperti ini? Ruang Klub
Go ada di dua pintu setelah Klub Sastra, lho."
"Terima kasih banyak sudah repot-repot memberitahu di saat kami
sedang bingung, Senpai!"
Salah satu siswi itu rupanya murid kelas bawah yang sedang mencari ruang klub.
"Kenapa, sih? Wajahmu kelihatan menderita banget seperti orang yang ingin minta data naskah untuk evaluasi bersama. Kalau itu sih sudah kukirim ke folder bersama, dan draf cetaknya juga sudah kutaruh
beberapa di ruang klub."
"Luar biasa ya Ketua. Jangan terlalu memaksakan diri, bagikan saja tugasnya ke kami juga."
Yang satu lagi adalah adik kelas di Klub Sastra. Terlihat jelas kalau Jun menjalankan tugasnya sebagai Ketua Klub dengan sangat baik.
"Ngomong-ngomong... tulisanmu kemarin imut banget, lho. Karakter yang memikat itu adalah kekuatan yang sangat besar dalam light novel.
Bisa menulis sosok heroine seperti itu benar-benar hebat!"
"Pujiannya berlebihan. Nanti tolong beri kritik yang benar, ya."
Setelah meninggalkan pesan itu, sang adik kelas melangkah masuk lebih dulu ke ruang klub.
Sifat Jun yang selalu memulai evaluasi bersama dari memberi pujian ternyata tidak berubah. Ia memberikan kritik yang logis tanpa meruntuhkan motivasi lawannya. Itu adalah gaya kritik yang sangat khas darinya.
Beberapa siswa dari klub lain yang lewat pun menyapa Jun. Bahkan ada yang mengajak high five. Sosok extrovert banget, ya. Benar-benar tipe anak gaul.
Dari cerita Tsukino, Jun dikabarkan sedang kehilangan performa dalam menulis novel, tetapi sebagai Ketua Klub, dia justru menjalankannya dengan sangat luar biasa.
"...Lalu, ada urusan apa kamu memperhatikan aku dari tadi? Jangan-jangan kamu suka padaku, ya?"
Ternyata perilakuku memandanginya dari tadi sudah ketahuan. Sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun, Jun melangkah lebar mendekatiku. Lengan kekuatannya mendadak dihantamkan tepat di samping wajahku, dan raut wajahnya yang menyeringai buas kini berada tepat di depan mataku.
Dengan kata lain, kabe-don.
"Boleh juga. Bakal kulayani. Ada urusan apa kamu dengan Klub Sastra?"
Pokoknya wajahnya dekat sekali. Terlepas dari itu, Jun di sini memang tidak mengenalku. Aku bisa merasakan dia sedang menyelidiki siapa diriku sebenarnya. Wajahnya dekat, dan dia bahkan tercium seperti aroma host (sesuai bayanganku).
Tetapi aku tidak boleh mundur. Bahkan jika Jun tidak mengenalku, aku harus menuntaskan tujuanku.
"Aku mau bicara soal Tsukino Masumi."
Setelah segala hal yang terjadi, memang sulit untuk mengembalikan hubungan mereka seperti sedia kala. Walau begitu, aku ingin dia mau bicara seperti dulu lagi—seperti Jun di duniaku. Aku ingin dia tetap menjadi teman dan rival bagi Tsukino.
"...Siapa kamu sebenarnya?"
Jun meregangkan badannya.
Aku menahan napas. Walau sudah terbebas dari kabe-don, rasa tertekan di sekitarku justru makin pekat. Tatapan matanya yang menatapku tajam belum pernah kulihat sebelumnya. Kehangatan yang biasa ada di sana telah sirna, berganti dengan sorot mata yang bukan sekadar menyelidiki, melainkan menyiratkan permusuhan yang nyata.
Memang benar aku datang secara nekat hanya mengandalkan dorongan emosi, tetapi aku tidak menyangka akan diwaspadai sampai sejauh ini.
Mungkin karena menganggapnya sebagai Jun, aku jadi terlalu meremehkannya.
Meski begitu, aku sudah menyiapkan sedikit alasan.
"Aku... kerabat Tsukino."
"Aku ini fans beratnya, tahu. Aku tidak pernah mendengar dia punya kerabat yang sekolah di sini."
Gagal total. Seperti yang kuduga dari orang yang sudah lama
mengenalnya.
"Tidak, aku baru saja pindah ke sini baru-baru ini..."
"Aku ini tipe orang yang jago mengingat wajah. Mana mungkin aku lupa dengan wajah murid pindahan. Lagipula kamu bahkan tidak memakai sepatu dalam ruangan."
"Ugh," aku refleks meringis pelan.
Memang benar, Jun sangat ahli mengingat wajah orang. Pada dasarnya dia memang punya sifat extrovert.
Menyadari bahwa setiap tindakan dan perkataanku sejauh ini adalah langkah yang salah, keringat dingin mulai merembes di pelipis.
"Kutanya sekali lagi. Kamu ini sebenarnya siapa?"
Kewaspadaannya kini telah berubah menjadi permusuhan yang eksplisit.
Ia memberi isyarat tangan agar anggota klub lain mundur, lalu menatapku tajam.
"Tunggu dulu. Aku cuma... ingin kamu mengontak Tsukino lagi. Cuma itu saja."
Alis Jun bergerak. Bibirnya terangkat membentuk garis masam.
"Kamu tahu banyak tentang kami, ya. Sebenarnya kamu ini siapa, sih?"
Rasanya apa pun yang kukatakan sekarang sudah tidak akan mempan lagi.
"Kalau kamu ngaku sebagai fans-nya sih masih masuk akal. Soalnya
kadang memang ada murid yang datang ke klub setelah membaca bukunya."
Jun melirik sekilas ke arah ruang klub.
Aku teringat poster yang kulihat di toko buku tadi. Aku tidak tahu seberapa jauh informasi mengenai Mizukagami Owari = Masumi Tsukino tersebar ke publik. Hanya saja, dengan cara promosi seperti itu, rasanya mustahil informasi pribadinya tidak terbongkar di zaman sekarang.
Lagipula dari nada bicara Tsukino sendiri, terlihat jelas bahwa sempat terjadi sesuatu padanya, termasuk di media sosial. Di dalam lingkungan sekolah, baik atau buruk, pasti ada banyak desas-desus yang beredar.
"Dengar ya. Aku ini menyukai Tsukino! Eh tunggu, salah...!"
Jun mengibaskan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia menolak anggapan itu dengan seluruh tubuhnya.
"Jangan salah paham! Menyukai di sini artinya beda! Ini menyukai dalam artian persahabatan, bukan perasaan cinta! Pertama, hubungan kami sudah terlalu lama sampai-sampai tidak ada lagi rasa tertarik secara romantis. Kalau di komedi romantis, dia itu masuk kategori figur kakak perempuan yang bukan objek cinta. Lagipula seleraku itu tipe adik kelas yang polos dan ceria! Tapi begitu sadar dengan perasaannya ke tokoh utama, dia bakal berubah jadi agresif dan bertindak seperti little devil! Dan mendadak memperlihatkan hasrat emosional yang liar seperti binatang! Nah, kalau dibanding itu, Tsukino itu tidak masuk kriteria sama sekali! Dia tipe yang kelihatan lebih tua dari usia aslinya, matanya tajam, dan setiap kali bicara selalu bahas bad end tanpa ada kesan polos dan ceria sedikit pun! Makanya dia sama sekali tidak menyentuh zona seleraku! Mengerti, kan!? Jangan salah paham!"
"Iya, aku paham. Aku paham, kok."
Nada bicaranya cepat sekali. Terlepas dari apakah Tsukino masuk seleranya atau tidak, aku sendiri sudah tahu sampai taraf membuat mual mengenai selera spesifik milik Jun.
"Pokoknya. Biarpun tidak ada perasaan cinta sedikit pun, aku sangat memedulikan Tsukino. Aku tidak bisa percaya pada orang yang berbohong!"
Jun mengepalkan kedua tinjunya erat-erat.
"Akan kudengarkan penjelasanmu sampai aku bisa menerimanya."
Ia melangkah maju mendekatiku. Aku belum pernah berhadapan dengannya dalam posisi berseberangan seperti ini, dan aku tidak menyangka bahwa sosoknya saat memperlihatkan amarah pada orang asing bisa terasa semenakutkan ini.
Tangan Jun terulur meraihku. Namun aku tidak boleh mundur. Biarpun
aku tidak dipercayai, bahkan biarpun aku harus dipukul sekalipun, jika hal ini bisa menjadi pemicu untuk sedikit saja memulihkan hubungan antara Jun dan Tsukino, maka tujuanku akan tercapai.
"Kumohon! Bicaralah dengan Tsukino! Cuma itu saja yang kuminta!"
"Makanya kuberitahu, kamu itu siapa, sih!? Apa yang kamu ketahui tentang kami!?"
Aku tidak mengalihkan pandangan dari Jun yang sedang meluap emosinya. Aku menatapnya lurus sambil menggertakkan gigi.
Dan pada saat itulah, aku menyadari suara langkah kaki dari arah belakang.
Sebuah bayangan menembus masuk ke antara kami, menangkis tangan
Jun lalu menyusup ke dalam posisinya. Suara benturan tumpul bergema, membuat Jun sempoyongan mundur hingga berlutut di lantai.
Di antara aku dan Jun, rambut hitam panjang menari-nari di udara, membuat aksesori hitam dan perak berkilauan. Sosok yang merapikan rambutnya dengan tangan lalu membalikkan badan itu, tak perlu dikatakan lagi, adalah Tsukino.
"...Aduhh, refleksmu berlebihan banget, tahu."
Sambil memegangi perutnya, Jun meringis dengan suara parau.
"E-Eh, ah. Maaf."
Tsukino yang tadinya berdiri dengan gaya keren mendadak menangkupkan kedua tangannya ke arah Jun dan meminta maaf secara polos.
Meski serangan dadakan, hantaman itu sanggup membuat Jun yang berotot ambruk. Kalau dilihat orang lain, itu murni pemukulan.
"Begitu kupikir bakal ada perkelahian, refleks karateku langsung keluar..."
"Bakal berantem tidak sampai sejauh itu, tahu! Ini soal norma! Kekerasan itu jelas-jelas dilarang!"
Di luar penampilannya yang bergaya chara, Jun selalu bertindak dengan akal sehat yang lurus.
Bukan, bukan itu poinnya! Walau aku sempat terperangah dengan
serangan karatenya yang mendadak, masalah utamanya bukan di situ.
"Tsukino... Kenapa kamu ada di sini?"
Aku refleks bertanya.
Sambil masih memegangi perutnya, Jun menatap Tsukino dengan sorot mata heran yang sama.
"Lagipula, timing keluarmu pas banget. Kamu sengaja menguping, kan?"
Berseberangan dengan penampilannya yang gagah saat muncul tadi,
Tsukino justru memalingkan wajah dengan raut sangat canggung. Ini jelas-jelas kelakuan orang yang habis menguping.
"Soalnya... ya mau bagaimana lagi. Waktu aku sampai di sini, Asahi sudah ada dan mulai bicara duluan, jadi aku kehilangan momen buat keluar..."
"Jangan-jangan, kamu mendengarkan semuanya?"
Tsukino makin memalingkan wajahnya.
"...Maaf. Tapi, dibanding itu..."
Sambil menundukkan bahu tanpa bisa mengembalikan pandangannya, ia bergumam.
"Asahi, soal yang tadi, aku benar-benar minta maaf. Dan... terima kasih sudah melakukannya demi aku."
"Tidak, aku yang bertindak sembarangan. Kukira cuma ini yang bisa kubuat, tapi ternyata malah tidak berjalan lancar..."
Semua niatku yang terbaca jelas ini rasanya memalukan bukan main. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Pada akhirnya, aku dan Tsukino sama-sama membisu.
"Sebenarnya kalian ini kenapa, sih? Kalian beneran saling kenal?"
Sambil bangkit berdiri dengan sempoyongan, Jun mengerutkan
wajahnya. Tangannya masih mengelus perut.
"E-Eh, umm... Karate yang tadi, tidak apa-apa?"
"Mana bisa 'tidak apa-apa'! Itu serangan paling menyiksa yang pernah
kurasakan seumur hidup! Tapi ya sudahlah. Aku juga sempat emosi tadi. Tapi..."
Jun melirik ke arahku, lalu beralih menatap Tsukino.
"Kalian ini sebenarnya punya hubungan apa? Lagipula... kenapa kamu
mendadak datang ke sini? Padahal kamu sudah keluar dari klub dan tidak pernah mendekat lagi ke sini."
Separuh dari pertanyaan itu ditujukan khusus untuk Tsukino seorang.
"Asahi itu... seperti yang kukatakan tadi, dia sepupuku—"
"Jangan bohong dengan alasan yang gampang terbongkar, dong! Dia tidak pernah muncul di ceritamu! Dia juga bukan murid sekolah ini! Setidaknya katakan yang sejujurnya padaku!"
Suaranya yang meninggi menyiratkan keperihan yang mendalam.
Sesosok orang mencurigakan muncul membicarakan Tsukino, lalu Tsukino yang baru pertama kali ditemuinya setelah sekian lama malah melindungi orang itu dengan kebohongan. Sangat wajar jika Jun merasa tersakiti.
Tapi, kami harus menjawab apa? Lagipula, kenapa Tsukino sampai datang ke tempat ini?
Sebelum aku sempat menanyakannya, Tsukino membuka mulut dengan raut mantap seolah telah menetapkan hatinya.
"Aku tahu kamu mungkin tidak akan percaya. Tapi dengarkan dulu."
Tsukino yang akhirnya mengembalikan pandangannya mengutarakannya secara tenang. Mata tajamnya menatap lurus ke arah
Jun tanpa ada keraguan.
"Asahi adalah keberadaan yang sama denganku dari dunia paralel. Aku ingin mengembalikan dia yang terlempar ke dunia ini karena suatu alasan kembali ke dunianya yang semula. Untuk itu, aku ingin minta bantuan Jun. Kalau memungkinkan, aku juga ingin minta bantuan
Nanaha-senpai, makanya..."
"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu! Jangan bercanda! Kita ini sedang tidak bertukar ide novel, tahu!"
Aku tidak melewatkan raut wajah Tsukino yang tampak menyesal, seolah membatin 'gawat'. Aku yang merupakan keberadaan yang sama dengannya paham betul apa yang dipikirkannya saat ini: "Kukira cara ini bakal berhasil," atau "Aduh, aku bicara tanpa berpikir panjang karena terbawa suasana."
Aku sendiri tidak menyangka dia bakal mendadak melontarkan hal soal dunia paralel.
"Tapi ini beneran kenyataan! Percayalah!"
"Jangan minta hal yang mustahil, dong! Mana bisa percaya begitu saja! Hei kamu yang di sana, katakan sesuatu juga!"
Saat pembicaraan dilimpahkan padaku, aku sendiri masih terperanjat.
Pandanganku beradu dengan Tsukino. Dia kelihatan sangat terdesak dari lubuk hatinya.
Walau dipandangi dengan raut seperti itu membuatku bingung... aku bisa tahu bahwa sama seperti aku yang ingin melakukan sesuatu untuknya, Tsukino pun memikirkan diriku dengan sungguh-sungguh.
Kalau begitu, aku juga harus menyambutnya. Meskipun terasa tidak masuk akal.
"...Aku tahu kamu tidak akan percaya, tapi aku adalah keberadaan yang sama dengan Tsukino dari dunia paralel—"
"Bisa diam tidak!? Jangan cuma bisa omong hal-hal yang tidak bisa dipercayai terus, dong!"
Padahal aku sudah memantapkan hati saat mengucapkannya, tetapi langsung dipotong begitu saja. Aku paham sih perasaannya. Hanya saja, raut wajah Tsukino yang tampak kecewa seolah menuntut 'harusnya kamu bisa membeberkannya dengan lebih baik' rasanya agak menyebalkan. Mana mungkin keberadaan yang sama bisa memikirkan cara yang brilian secara mendadak? Bagaimanapun juga, dia kan aku.
Jun memegang dahinya lalu menggelengkan kepala.
"Main-main saja. Padahal wajah kalian berdua kelihatan serius banget
seolah itu fakta. Mana mungkin aku bisa percaya."
Jun memandang ke sekeliling. Tanpa disadari, beberapa anggota klub lain tampak mengintip karena mendengar percekcokan kami yang berisik.
Jun memegang gagang pintu ruang Klub Sastra. Melihat poster gadis berambut merah muda menempel di sana membuatku agak tersentuh.
"Masuk dulu ke dalam. Kalau berisik di luar begini bakal mengganggu klub lain."
Kami mengikutinya melangkah masuk ke ruang klub. Desain ruangan maupun rak bukunya hampir tidak ada bedanya dengan yang ada di duniaku, hanya saja posisi duduk yang diambil Jun adalah tempat yang biasa diduduki oleh Nanaha-senpai.
Anggota klub lainnya menatap kami dengan raut canggung, tetapi mereka menyapa Tsukino begitu menyadari keberadaannya. Di sana, aku bisa merasakan jarak yang saling menahan diri satu sama lain.
Setibanya di atas kursi, Jun menatap tajam aku dan Tsukino yang berdiri membelakangi pintu.
"Kalau memang ini bukan kebohongan dan kalian sampai bicara sejauh itu, coba buktikan dong kalau kalian itu beneran keberadaan yang sama."
"...Bagaimana caranya?"
"Mana aku tahu! Justru aku yang mau tanya!"
"Masuk akal." "Memang masuk akal, sih."
"Ini bukan urusan orang lain, tahu!"
Jun mengacak rambutnya dengan kasar. Lalu setelah sadar tatanan rambutnya berantakan, ia merapikannya kembali. Anggota klub lain kelihatannya sudah biasa dan tidak terlalu memedulikannya. Dia memang terlalu santai.
"...Tidak, tunggu. Ada satu cara. Ini dia."
Setelah memainkan rambutnya sejenak, Jun kelihatannya memikirkan
sesuatu, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum percaya diri.
"Kalau kalian bilang kalian itu sama, berarti jalan pikiran kalian juga pasti sama, kan?"
"Belum tentu semuanya." "Tidak semuanya, sih."
"Suara kalian bisa kompak begitu, tuh! Pokoknya, ini adalah Klub Sastra. Aku yang bakal memberi topik. Kamu yang di sana, coba pikirkan ide novelnya! Aku sebagai fans berat novel Tsukino bakal menilai apakah kamu beneran 'keberadaan yang sama' atau bukan!"
Sambil duduk dengan gaya menantang, ia mengangkat dagunya.
"Komedi romantis sekolah. Tokoh utama dan sang heroine semakin dekat setelah mereka membagi sebuah rahasia bersama. Coba eksekusi!"
"Begitu, ya. Cara yang bagus. Kalau begitu, pertama-tama kita harus menentukan bad end seperti apa yang mau dipakai. Mulainya dari sana, kan?"
"Benar. Apa kita fokus pada dampak Sudden Strike, atau berpusat pada Uroboros the End untuk menciptakan bad end yang berkesinambungan secara logis?"
"Cuma itu saja belum cukup. Kita butuh Eternal Inferno. Kita harus memanfaatkan evaluasi dari kompetisi novel waktu itu. Terus-menerus memberikan penderitaan dan sensasi lewat tragedi kepada pembaca."
"Tentu saja. Tapi bagaimanapun ini adalah komedi romantis. Sensasi awalnya harus dibuat enak dinikmati. Target kita adalah death sauce yang saat melewati tenggorokan terasa seperti Coca-Cola. Tingkat kepedasannya 10.000 Scoville."
"Kalau bisa, pedasnya baru terasa belakangan itu jauh lebih bagus. Mirip seperti kari super pedas yang mengerikan."
"Tunggu, tunggu! Arti komedi romantis itu kan kisah romansa yang humoris!"
"Tentu saja. Kami bakal membuatnya tetap bisa memicu gelak tawa, kok. Bad end yang membuat pembaca tertawa lalu jatuh cinta."
"Terus menyajikan komedi dari awal sampai akhir, sembari menjaga karakter agar tidak out of character, lalu ditutup dengan bad end yang persuasif. Ini bisa diharapkan menjadi Sudden Strike tingkat tinggi."
Aku dan Tsukino saling melakukan fist bump tiga kali.
""More bad! More hell!""
"Jangan mendadak kompak begitu, dong! Komedi dan bad end itu tidak bakal bisa menyatu! Pembaca juga bakal kebingungan setengah mati!"
"Tidak juga. Ini cerita dari sebuah komik sih, tapi ada karya yang awalnya terus menyajikan komedi ala pahlawan bertopeng yang ringan, lalu di babak akhir serialisasinya mendadak berubah drastis menjadi sangat kelam."
"Aku juga pernah membaca yang itu. Manusia modifikasi aneh yang kelihatannya tidak bakal mati, sampai makhluk raksasa yang diperlakukan seperti maskot mendadak dibunuh secara brutal, lalu gadis yang dari awal jadi karakter reguler ternyata adalah mata-mata musuh yang menyamar, lalu dieksekusi... Dampak guncangan itu adalah Sudden Strike berkadar tinggi yang ditopang secara apik oleh Uroboros the End lewat petunjuk-petunjuk terselubung yang cerdas."
"Yah, walau karya yang itu bukan bad end sih." "Bukan bad end sih, memang."
"Jangan malah kompak menjawab begitu! Bahas soal romansa dan komedinya, dong!"
"Tentu saja kami menjawab topik darimu. Maksud kami, bahkan dalam komedi romantis sekalipun, wajar saja kalau ada kenyataan mengejutkan yang terbongkar lalu menghadirkan alur cerita yang serius di babak akhir."
"Lagipula secara regulasi, asal masih memenuhi kriteria komedi romantis, tidak ada masalah kan kalau ending-nya jadi bad end?"
"Kalian ini tipe yang suka menang sendiri lewat celah kata-kata, ya!? Terus sekolahnya mana!? Bikin komedi romantis sekolah, dong!"
"Iya juga. Kalau begitu, siswi teman sekelas yang ditaksir tokoh utama ternyata monster pemakan manusia."
"Boleh juga. Jadi mereka membagi rahasia itu bersama, ya. Gadisnya kita buat agak ceroboh saja. Karena kalau dibiarkan wujud aslinya bisa terbongkar, tokoh utama berusaha keras menyembunyikannya."
"Bagus tuh. Benar-benar komedi romantis sekolah. Awalnya kita buat komedi saat menyembunyikan identitas aslinya, lalu kalau dia benar-benar harus makan manusia, bagaimana kalau dia disuruh memangsa orang-orang jahat yang mati pun tidak akan bikin penyesalan?"
"Di pertengahan cerita, situasinya perlahan berubah. Kasus pemangsaan manusia mulai terjadi di tempat yang tidak diketahui tokoh utama. Sang heroine semakin tidak bisa menahan impuls untuk memangsa, hingga akhirnya malapetaka tiba."
"Beberapa ribu orang tewas! Semua gara-gara ego tokoh utama yang menyukai sang heroine!"
"Ini malah jadi monster panic komedi romantis sekolah, tahu! Stop! Stop!"
Jun mengibaskan kedua tangannya lebar-lebar.
"Justru dari sini bagian serunya!"
"Karena alur di babak akhir sudah agak terbayang, kita harus memasang foreshadowing yang cerdik agar bisa mencabik-cabik perasaan pembaca di sana."
"Mana ada begitu! Lagipula walau mengusung tema heroine ternyata monster, tidak perlu dipaksa sampai bad end juga, kan!"
Jun memegang wajahnya lalu menghela napas dalam-dalam. Ketika anggota klub lain bersuara menyindir, "Padahal biarkan saja mereka melanjutkannya," Jun langsung membentak, "Bisa diam tidak!" Jun melemaskan tubuhnya dan menyandarkan diri sepenuhnya di atas kursi yang didudukinya secara dangkal.
"Tapi ya..."
Ia bergumam lalu melanjutkan.
"Sisi Tsukino yang sebagai cewek selalu menarik itu ya di situ. Mau bikin apa pun ujung-ujungnya pasti dibawa ke bad end, dan lucunya itu malah bikin iri karena ceritanya beneran seru. Ide-idenya ugal-ugalan sampai bikin aku merasa bodoh sendiri karena serius memikirkan alur happy end. Aku suka sisi itu dari kamu—walau perasaan cintanya nol besar, ya."
Jun bangkit berdiri lalu berjalan mendekati kami. Seperti biasa, aku kembali kena kabe-don.
Dari jarak sedekat ini hingga rambut cokelatnya yang mencuat hampir menusukku, ia mengangkat sebelah alisnya, mata liarnya berbinar terang, dan bibirnya terangkat membentuk garis miring. Keraguan di matanya belum sepenuhnya sirna.
"Aku memang suka light novel, tapi aku tidak pernah berpikir hal-hal seperti di light novel bisa terjadi di dunia nyata. Kisah kalian berdua soal dunia paralel mana mungkin bisa kupercaya begitu saja."
Setelah melontarkan hal itu, Jun meregangkan badannya.
Ia memperlihatkan giginya dan menyeringai ke arahku dan Tsukino.
"Tapi ya, aku mengakui kalau kamu dan Tsukino memang akrab dan punya banyak kemiripan. Lagipula—"
Sambil berjalan menuju pintu, ia mengeluarkan ponselnya.
"Aku senang bisa melihat sisi Tsukino yang menikmati bad end seperti ini lagi setelah sekian lama."
Walau mengatakan itu, urat biru tampak menyembul di dahinya.
"Tapi ingat ya! Jangan semuanya dijadikan bad end! Happy end itu jelas-jelas jauh lebih baik, jangan main-main! Aku bakal ikut membantu kalian, dan aku juga bakal menelepon Nanaha-senpai."
Sampai di titik itu, Jun mendadak merasa heran.
"Lagipula, kenapa Tsukino tidak mencoba mengontak Nanaha-senpai secara langsung dari awal?"
"Soal itu... umm..."
Mata Tsukino beredar canggung.
"Aku sempat pergi ke toko buku tempat Senpai kerja paruh waktu, kok. Tapi shift-nya hari ini sudah selesai jadi dia sudah tidak ada. Lalu aku coba kirim LINE juga, tapi tidak dibaca-baca. Tidak dibaca... artinya aku dihindari, kan? Makanya mau menelepon langsung pun rasanya... canggung..."
"Itu sih jelas-jelas kamu saja yang terlalu kepikiran!"
Jun tertawa canggung.
"Yah, karena sudah lama kenal, aku paham sih kalau Tsukino memang suka memikirkan hal-hal seperti itu. Tunggu sebentar, ya."
Jun melambaikan tangannya ringan lalu keluar dari ruang klub. Seperti biasa, di luar jarak interaksinya yang aneh, dia adalah pria yang sangat bisa diandalkan.
Melihat kelakuannya, anggota klub lain ikut tertawa. Aku dan Tsukino pun tanpa sadar mengendurkan pipi kami.
Jarak antara anggota klub dan Tsukino terasa menjadi sedikit lebih alami dari sebelumnya. Harapanku terwujud.
Bagaimanapun juga, sebelum Jun kembali, kami tidak punya pekerjaan lain. Walau ruang klub ini terasa sangat kukenal, tempat ini bukanlah duniaku, jadi aku memutuskan untuk duduk di kursi yang berada di sudut ruangan.
Tsukino duduk di sebelahku.
Rasanya agak sulit untuk saling bertatapan. Terlewatkan gara-gara interaksi dengan Jun tadi, perselisihan kami di taman sebenarnya belum terselesaikan.
Aku jadi bingung bagaimana biasanya aku menatap wajahnya. Canggung sekali. Kenyataan bahwa Tsukino juga tidak menatap ke arahku menandakan kalau dia pun merasa canggung. Hal ini bisa kupahami justru karena kami adalah keberadaan yang sama.
Kami berdua sama-sama menatap ke arah dalam ruang klub, tetapi bagiku yang tidak kenal dengan anggota Klub Sastra di dunia ini, beradu pandang dengan mereka pun terasa canggung. Keberadaan yang sama dengan Tsukino apanya? Bagaimanapun dipikirkan, keberadaanku di sini terasa terlalu mencurigakan.
Suara gesekan kain terdengar. Di sudut pandanganku, rambut hitam Tsukino menyelinap masuk.
Saat melirik pelan, jarak di antara kami telah bergeser sedikit lebih dekat. Suara tarikan napasnya yang halus terdengar samar di telingaku.
"Soal yang tadi aku tidak sengaja dengar sih... tapi kenapa Asahi berusaha keras menjembatani hubunganku dengan Jun?"
Ia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya padaku.
"Aku merasa Klub Sastra itu tempat yang sangat menyenangkan. Setelah membaca buku milik Tsukino dan tahu bahwa hal itu telah lenyap dari hidupmu, aku baru tersadar akan keberadaan hal yang selama ini kuanggap biasa."
Padahal setiap hari aku merasa muak dengan dorongan happy end serta argumen kreatif Jun yang teoritis, ditambah lagi kena bantai habis-habisan oleh si berserker sastra, tetapi membayangkan hari-hari tanpa semua itu terasa tak terbayangkan.
"Hubungan di dunia Tsukino memang sudah rusak. Tapi kalau Jun dan Nanaha-senpai yang kukenal, mereka pasti menyesali hubungan yang rusak ini. Walau tidak bisa kembali seperti semula, setidaknya mereka pasti ingin tetap berada di sisimu. Makanya aku mencoba melakukanya... walau sama sekali tidak berjalan lancar, sih."
Kalau saja Tsukino tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Aku tertawa canggung mengingatnya.
Namun, Tsukino menggelengkan kepalanya.
"...Seperti yang kuduga dari diriku. Di dalam hatiku, aku sebenarnya juga berpikiran sama. Tapi aku tidak sanggup mengambil langkah itu."
Bahu kami saling bersentuhan. Saat aku refleks menoleh ke arahnya, mata tajamnya juga sedang menatap ke arahku.
"Terima kasih, Asahi."
Di sudut mata Tsukino yang tersenyum tanpa beban itu, tampak sedikit kilatan yang berkilau.
"Tapi..."
Mendadak, ia mengangkat alisnya dengan raut yang dibuat-buat.
"Pikiranku bahwa Asahi harus kembali ke duniamu yang semula tidak akan berubah. Walau rasanya akan sangat kesepian. Walau rasanya tersiksa seperti saat hatiku dicabik-cabik oleh bad end terburuk sekalipun."
Pandangan Tsukino menyapu sekeliling ruang klub. Para anggota klub saat ini sedang menikmati waktu mereka masing-masing, ada yang
membaca buku dan ada yang menulis novel.
"Di dunia Asahi ada Klub Sastra milik Asahi, dan ada keluarga juga. Membuang semua itu... bagaimanapun juga aku sangat tidak mau."
Aku tidak bisa membusungkan dada dan bilang kalau aku memahami seluruh situasi penderitaan Tsukino. Namun, aku bisa mengerti mengapa ia berpikir demikian.
Makanya, aku mengangguk.
"Aku akan berusaha sebisa mungkin agar bisa pulang. Untuk itu, Tsukino sudah mengambil satu langkah maju yang tadinya tidak sanggup kamu lakukan, kan?"
Menyapa Jun dan Nanaha-senpai yang sudah lama tidak ditemui jelas membutuhkan keberanian yang sangat besar. Jika aku di posisinya, aku pasti merasakan hal yang sama.
"...Cuma sedikit kok."
"Padahal tujuan kita berdua berbeda, tapi kita sama-sama berakhir datang ke Klub Sastra, ya."
"Kalau itu sih memang seperti yang kuduga dari kita."
Sudut bibir Tsukino terangkat sedikit membentuk senyuman.
"Dari aku juga... terima kasih, ya, Tsukino."
"Kalau begitu, sama-sama."
Secara alami kami sama-sama mengepalkan tangan. Dan saat kami hendak melakukan fist bump seperti biasanya—
"Maaf membuat kalian menunggu semuanya sudah lama tidak berjumpa apakah kalian bersenang-senang! Apakah kalian sedang bertumpah darah dan saling membunuh lewat novel!"
Suara pintu yang dibuka dengan sangat keras beserta celetukan cepat yang tenang namun mengerikan bergema di seluruh ruang klub.
Tak salah lagi, itu adalah Nanaha-senpai.
Sama seperti yang kulihat di toko buku tadi pagi, rambut hitamnya yang dikepang satu masih tetap sama. Mungkin karena habis berlari dan cerocosannya yang cepat, napasnya terengah-engah dengan sebaris keringat mengalir di pipinya yang merona merah.
Dari belakangnya, Jun memunculkan wajahnya dengan raut kelelahan.
Terlepas dari diriku, Tsukino sendiri kelihatannya sampai kehilangan kata-kata atas kejadian yang mendadak ini, walau ia akhirnya berhasil membuka mulut.
"Datangnya cepat sekali?"
Perasaan belum lama sejak Jun keluar untuk mengontaknya.
"Soalnya saya membolos kuliah, jadi begitu tancap gas naik motor
langsung sampai deh."
Kalau diperhatikan, ia memang mengenakan jaket rider berpelindung, dan memeluk helm full-face di samping badannya.
"Tidak boleh membolos kuliah, dong."
"Aku juga sudah bilang begitu padanya..."
Di luar pakaiannya, Senpai yang berpenampilan seperti putri bangsawan anggun ini terlihat jauh lebih bersemangat dibanding saat aku melihatnya di toko buku tadi.



Post a Comment