NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 13

Bab 13: Aku Tahu Apa yang Dipikirkan Diriku di Dunia Paralel tentang Diriku


"E-Eh, umm... Tsukino-chan. Haha, sudah lama tidak ketemu, ya."

 

"I-Iya. S-Sudah lama tidak ketemu. Soalnya, umm... maaf ya karena baru memberi kabar sekarang. Gimana ya, soalnya..."

 

"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Maaf juga ya karena pesannya jadi seperti tidak kubaca. Waktu menerima pesannya, saya sedang di atas motor, lalu sambil memikirkan bagaimana cara membalasnya, saya malah tidak menemukan ide apa-apa..."

 

"Tidak, umm, maaf! Aku sama sekali tidak memikirkannya kok, beneran

tidak apa-apa!"

 

Setelah Nanaha-senpai muncul dengan gaya yang amat memukau, dia dan Tsukino langsung memulai interaksi yang luar biasa canggung.

 

Yah, aku paham sih. Jarak antarpribadi dengan Nanaha-senpai memang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan Jun yang sudah terlalu lama berinteraksi. Ditambah lagi, meski tidak ada masalah besar yang terjadi di antara mereka, mustahil bagi dua orang yang sudah lama tidak bertemu dalam situasi canggung untuk bisa langsung bersikap normal seperti sedia kala.

 

Kalau dipikir-pikir lagi, saat berada di duniaku pun Tsukino sempat sengaja menghindari toko buku. Rupanya itu adalah psikologi enggan masuk ke toko yang mempekerjakan kenalan yang agak berjarak darinya.

 

Walau begitu, bukan berarti aku—yang hubungannya sangat tipis dengan Klub Sastra di dunia ini—bisa melakukan sesuatu. Lagipula aku pada dasarnya bukan tipe orang yang jago mengurai benang kusut hubungan antarmanusia.

 

"Hari ini cuacanya agak cerah, ya."

 

"Memang sih. Walau saat memasuki adegan bad end cuaca buruk biasanya terlihat lebih mendukung secara dramatisasi, dalam beberapa kasus, menggambarkan cuaca yang sangat cerah justru bisa memberikan kontras yang tajam dengan tragedi yang terjadi."

 

"Cuaca hari ini tidak sampai sedramatis itu juga, sih."

 

Gawat juga kalau topik obrolan ringan soal cuaca malah melenceng penuh ke pembahasan bad end.

 

"Aduh, kalian berdua jangan bikin gemas begini, dong!"

 

Yang memotong obrolan itu adalah Jun. Melihat mereka berdua yang berdiri kikuk dalam jarak canggung, Jun langsung bertindak.

 

Ia bergerak bermaksud memeluk mereka berdua sekaligus agar mereka saling berpelukan.

 

"Aduh-duh-duh! Kasar banget, kasar banget! Aduh, cewek yang satu ini sakit bang—!"

 

Tanpa membuang waktu sekejap pun, lengan Jun langsung dikunci oleh Tsukino hingga wajahnya menempel ke lantai.

 

Gerakan Tsukino bahkan tak sempat tertangkap oleh mataku. Tidak, lagipula kenapa dia sampai menguasai teknik kuncian segala? Apa yang dipelajarinya itu bukan sekadar karate biasa?

 

"Kan sudah kubilang berulang kali kalau jarak interaksimu itu aneh."

 

"Tapi tiap kali diingatkan dampaknya selalu se-ekstrem ini, tahu!"

 

"Interaksi seperti ini rasanya membuat saya bernostalgia dan senang."

 

Begitu, ya. Jadi seperti inilah dinamika Klub Sastra di dunia Tsukino.

 

Kerusakan fisik yang diterima Jun benar-benar berlebihan.

 

Bahkan setelah Tsukino melepaskan kuncian sendinya, Jun masih mengerang kesakitan di atas lantai untuk beberapa saat.

 

Tanpa memedulikan Jun, Tsukino dan Nanaha-senpai saling bertatap muka dengan malu-malu. Senyuman sungkan yang mengembang di wajah mereka berdua memang masih terasa agak kaku, tetapi berkat pengorbanan mulia dari Jun, aku bisa tahu kalau hubungan mereka sudah makin mendekati kondisi sedia kala.

 

"Jadi begini, Tsukino-chan. Secara garis besar saya sudah mendengar ceritanya dari Jun-kun."

 

"Walau aku sendiri sama sekali tidak percaya, sih."

 

Mengabaikan Jun yang sengaja menggerakkan bibirnya dengan raut masam, Nanaha-senpai mendorong kacamatanya ke atas. Matanya di balik kacamata memancarkan binar lembut dan ramah, namun berkilat dengan rasa ingin tahu yang sangat jelas.

 

"Artinya ada hal yang bisa saya bantu, kan!"

 

Suara Senpai melambung penuh semangat, persis seperti saat ia hendak memulai pertarungan duel novel.

 

◆ ◆ ◆

 

Dinding dan lantai beton, rak buku besi yang berjajar rapi, serta meja dan kursi gaya Barat yang terletak di tengah ruangan. Ruang perpustakaan pribadi keluarga Hananokorozuki di rumah Nanaha-senpai ternyata sangat berbeda dari bayanganku.

 

Rumah keluarga Hananokorozuki yang bahkan belum pernah kukunjungi di duniaku sendiri itu secara tampilan luar tampak seperti kediaman bergaya Jepang yang bersejarah. Namun, tampaknya rumah itu telah melewati berbagai proses renovasi berkali-kali, sehingga begitu masuk ke dalam, ada banyak ruangan yang didesain dengan gaya Barat nan elegan.

Ruang perpustakaan yang ditunjukkan kepada kami ini juga tampaknya merupakan hasil renovasi tersebut, menjelma menjadi ruang penyimpanan modern. Jujur saja, tadinya kubayangkan tempat ini akan berbentuk seperti gudang tradisional bertembok tanah.

 

Hanya saja, dokumen-dokumen sejarah daerah milik keluarga Hananokorozuki yang berjejer di rak buku sebagian besar memang berupa buku-buku kuno yang tidak akan aneh jika disimpan di dalam gudang tua.

 

Setelah bertemu dengan Nanaha-senpai di ruang klub, aku dan Tsukino menyampaikan keinginan kami untuk mengetahui lebih detail mengenai tanah terlarang di Himurogioka. Itu adalah hal yang sempat ingin kutanyakan pada Senpai di duniaku, namun belum sempat kudalami.

 

Setelah mengetahui bahwa kawasan tanah terlarang itu berkaitan dengan perpindahan antara kedua dunia, tidak ada pilihan selain menyelidikinya lebih jauh. Tsukino sendiri memang berniat menanyakan hal ini kepada Nanaha-senpai.

 

Hasilnya, Nanaha-senpai mengusulkan agar kami memeriksa ruang perpustakaan di rumahnya. Jun yang juga berniat membantu akhirnya ikut datang bersama kami.

 

"Maaf membuat kalian menunggu."

 

Nanaha-senpai yang sempat menghilang ke ruangan lain kini kembali dengan pakaian yang sudah berganti sepenuhnya. Gaun anggun berwarna putih yang dipadukan dengan kardigan biru muda serta stoking putih tipis membuatnya terlihat sangat menawan bagaikan seorang putri bangsawan. Pantas saja dia memakan waktu agak lama, ternyata gaya rambutnya juga sudah diubah menjadi kepangan rumit seperti yang kukenal. Warna rambutnya memang tetap hitam, tetapi sosok di hadapanku ini tak salah lagi adalah Nanaha-senpai yang kukenal.

 

"Saya sengaja berdandan penuh semangat, lho."

 

Sambil merapikan rambut kepangannya yang tertata rapi dengan

tangan, ia membetulkan letak kacamatanya.

 

"Jadi, menurut cerita Tsukino-chan, pemuda ini—Asahi-kun adalah 'keberadaan yang sama' dengan Tsukino-chan dari dunia paralel, ya?"

 

"Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi memang begitulah kenyataannya."

 

"Kalau aku sih tetap berpikir kalau ini cuma kebohongan belaka."

 

Sambil duduk bersila di atas lantai ruang perpustakaan, Jun mengangkat bahunya.

 

"Kalau saya pribadi sih merasa hal-hal seperti itu justru sangat menyenangkan jika benar-benar ada. Kenyataan yang terlalu biasa itu kan kurang seru."

 

Matanya di balik kacamata berbinar-binar, lalu ia mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan penuh rasa penasaran.

 

"Dunia tempat Asahi-kun berasal itu seperti apa? Apa bedanya dengan dunia di sini? Jangan-jangan saya di sana adalah seorang laki-laki, lalu nama saya Nanao?"

 

"Tidak kok, jenis kelamin Jun dan Nanaha-senpai di sana tetap sama."

 

"Yang benar saja? Padahal aku penasaran banget dengan diriku versi adik kelas yang polos, ceria, dan bertindak bagai little devil."

 

"Katanya tadi tidak percaya."

 

Walau begitu, mengingat Tsukino yang merupakan keberadaan yang sama denganku memiliki penampilan yang sangat sesuai dengan seleraku, timbul sedikit rasa canggung yang aneh. Tsukino sendiri tampak memalingkan pandangannya sedikit. Yah... dalam kemungkinan yang tanpa batas, harusnya memang ada dunia tempat keberadaan yang sama milik Jun sangat cocok dengan selera spesifiknya.

 

"Artinya saya di sana juga tetap sama, ya. Kalau ada selisih waktu satu tahun, berarti saya di sana adalah versi satu tahun lalu... Apakah saya di sana terlihat bersenang-senang?"

 

"Soal itu..."

 

Akhir dari Klub Sastra di dunia Tsukino. Nanaha-senpai yang berambut hitam jadi tidak bisa menulis novel lagi. Apa yang dipikirkannya pada masa-masa itu? Apakah dia tetap bisa tersenyum ramah seperti biasanya?

"Raut penderitaan itu... Jangan-jangan, saya di dunia Asahi-kun malah mendirikan Klub Sastra Jahat lalu menantangmu dalam duel novel!? Padahal novel itu bukan alat untuk menyakiti orang lain, lho!"

 

"Pikiranmu terlalu terobsesi dengan duel novel. Di sana kamu

menjalankan tugas sebagai Ketua Klub dengan normal, lalu membantai aku dan Jun habis-habisan dalam duel novel."

 

"Fufufu, kalau itu sih sepertinya seru sekali, ya. Masih ada banyak hal lain yang ingin saya tanyakan..."

 

Sampai di titik itu, Nanaha-senpai mendadak menghentikan kalimatnya. Ia mengamatiku lekat-lekat. Matanya menyipit, bahkan naik-turun membetulkan letak kacamatanya.

 

"...Lho? Saya merasa pernah bertemu dengan Asahi-kun di suatu

tempat. Apakah ini déjà vu? Jangan-jangan karena Asahi-kun melintasi batas dunia, terjadi sinkronisasi ingatan antara saya dengan diri saya yang satunya lagi?"

 

"Tidak kok, kita tadi pagi baru saja bertemu saat Senpai merekomendasikan buku Tsukino di toko buku."

 

Nanaha-senpai memiringkan kepalanya, melempar pandangannya ke ruang hampa. Setelah terdiam beberapa saat, ia menepuk tangannya.

 

"Ah! Orang yang kelihatan seperti sedang membolos sekolah tadi pagi!"

Aku ditunjuk secara terang-terangan oleh Nanaha-senpai yang secara nyata membolos kuliahnya sendiri.

"Lagipula, ternyata dari tadi Senpai belum menyadarinya, ya?"

 

"Nanaha-senpai itu memang punya sisi di mana dia tidak tertarik dengan orang lain selain teman dan anggota klubnya sendiri, sih..."

 

Senpai tampak tersipu malu. Padahal kami tidak sedang memujinya, dan walau dia adalah sosok yang berbeda dari Senpai di duniaku, rasanya tetap cukup mengejutkan.

 

"Bagaimanapun juga, ada hal penting yang harus kita kerjakan

sekarang."

 

Sambil berusaha mengalihkan pembicaraan secara terang-terangan, ia melanjutkan.

 

"Meskipun kita belum tahu penyebab mengapa Tsukino-chan dan Asahi-kun bisa berpindah dunia, kemungkinan besar tanah terlarang itu memang terlibat di dalamnya, kan?"

 

"Iya. Nanaha-senpai di dunia sana sempat bercerita soal Kamigakushi. Dan saat aku terlempar ke sana maupun saat Asahi terlempar ke sini, kami berdua memang sama-sama melewati area yang dulunya

merupakan tanah terlarang."

 

"Tapi tidak ada petunjuk pasti mengenai titik mana yang menjadi persimpangan antar-dunia, atau tindakan apa yang harus dilakukan agar kedua dunia bisa terhubung. Pasti ada syarat tertentu."

 

"Kalau tidak ada syarat khusus dan orang bisa berpindah dunia cuma dengan lewat begitu saja, orang-orang yang tinggal di sekitar sana pasti sudah terlempar ke dunia paralel semua, kan?"

 

"Nanaha-senpai di duniaku sempat bercerita kalau dulu ada ritual khusus yang dilakukan untuk membawa kembali orang yang terkena Kamigakushi."

 

Nanaha-senpai menyentuhkan tangannya ke kacamata, tenggelam dalam pemikiran.

 

"Hal seperti itu memang terdengar seperti sesuatu yang akan saya katakan. Dulu saya memang pernah meneliti soal tanah terlarang... Tapi karena itu sudah cukup lama, ingatan saya agak samar."

 

Nanaha-senpai menunjuk ke salah satu sudut ruang perpustakaan.

 

"Ah, benar juga! Mari kita baca bersama dokumen-dokumen di sekitar

sini secara sekaligus!"

 

Meskipun hanya sebagian kecil dari ruang perpustakaan, area itu diisi oleh dua rak buku berukuran besar yang dipadati oleh berbagai dokumen dari yang kecil hingga yang besar.

 

"Tidak mungkin, dong! Kalau begitu sih bakal memakan waktu terlalu lama!"

 

Di saat kami berdua ternganga tak percaya, Jun membuka suara dari

samping.

 

"Karena kami tidak tahu dokumen mana berisi informasi apa, sebaiknya Nanaha-senpai saja yang memilihkan bahan yang relevan untuk kami. Legenda tentang tanah terlarang, hal-hal terkait Kamigakushi dan ritualnya... lalu peta masa lalu dan peta sekarang, mungkin?"

 

"Iya. Kurasa hal-hal seperti itu bisa menjadi petunjuk bagi kita."

 

"Seperti yang kuduga dari Jun. Di dunia mana pun jalan pikiranmu selalu logis."

 

"Apa-apaan sih, kalau kamu memang suka padaku bilang saja langsung.

Pokoknya kita pakai cara itu. Kita bertiga bakal membaca dokumen yang dipilihkan oleh Nanaha-senpai. Karena mungkin ada banyak dokumen kuno yang sulit dibaca, dokumen-dokumen seperti itu nanti kita serahkan kepada Nanaha-senpai."

 

"Memang cocok jadi Ketua Klub Sastra yang sekarang, ya."

 

Nanaha-senpai mengulurkan tangannya ke rak buku sambil menyipitkan mata. Ia membetulkan posisi kacamatanya tiga kali. Itu dia pose khasnya.

 

"Kalau begitu... duel novel! Ready, GO!"

 

"Kan tidak sedang duel!"

 

"Walau sudah lama tidak bertemu, ternyata otak anime hobimu itu tidak berubah sama sekali ya, sampai bikin lega sedikit."

Meskipun lokasi mereka bertiga yang mulai bergerak ini bukan ruang klub, sosok mereka terlihat tidak ada bedanya dengan Klub Sastra yang kukenal. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum tipis, tetapi aku sendiri juga harus bergegas mencari petunjuk.

 

Tsukino sedang berjuang demi diriku. Di duniaku, ada Klub Sastra duniaku, serta Ayah dan Ibu yang menunggu.

 

Meskipun rasanya enggan untuk berpisah, bagaimanapun caranya aku harus kembali ke duniaku. Aku pun membuka dokumen-dokumen asing

di hadapanku dan mencoba membaca sesuatu dari sana.

 

◆ ◆ ◆

 

Saat kami mulai memeriksa ruang perpustakaan, hari memang sudah sore, sehingga tak lama kemudian matahari pun terbenam sepenuhnya.

 

Di tengah-tengah kegiatan, kami sempat keluar untuk makan malam, lalu segera melanjutkan pekerjaan begitu kembali. Sambil merasakan lelah yang menumpuk sepanjang hari, kami terus bekerja diselingi obrolan ringan sesekali.

 

"Kalau sedang seperti ini, saya jadi teringat masa-masa sebelum festival budaya saat Tsukino-chan dan Jun-kun masih kelas satu, ya."

 

Sambil membaca dokumen, Nanaha-senpai memicingkan matanya teringat masa lalu dengan nada nostalgia.

 

"Klub Sastra kan terkesan kurang mencolok. Jadi kita harus memutar otak supaya bisa menarik perhatian orang. Dekorasi pamerannya waktu itu benar-benar kita usahakan banget, kan~"

 

"Nanaha-senpai yang memberi ide secara garis besar, lalu Jun yang merapikannya jadi bentuk konkret, dan kami berdua berakhir terseret ke dalam rencana kalian."

 

Tiga orang anggota Klub Sastra di dunia ini tertawa bersama.

 

Musim gugur tahun pertama, di duniaku pun kami bertiga merancang pameran festival budaya dengan cara yang sama. Demi meramaikan pameran yang terkesan sepi, kami membuat poster (gadis berambut pirang yang cantik) dan pojok penjelasan majalah klub, serta mencetak majalah buatan sendiri (copibook) secara mendadak dengan melipat kertas secara manual. Masa-masa ketika kami mengajukan perpanjangan izin kegiatan ke sekolah, lalu terus melakukan pekerjaan sederhana di area ruang klub setelah matahari terbenam sambil mengucek mata yang mengantuk.

 

Bagi Tsukino, masa-masa Itu mungkin adalah keseharian Tsukino sebelum semuanya direnggut darinya. Sebuah pijakan awal menuju Uroboros the End.

 

Akan tetapi, Tsukino yang sekarang telah kembali ke masa-masa itu. Melihat ukiran senyum yang saling bertukar antara dirinya, Jun, dan Nanaha-senpai, aku refleks menghela napas tanpa tahu alasannya.

 

Mungkin itu adalah helaan napas lega.

Penyelidikan terus berlanjut.

 

Untungnya besok adalah hari Sabtu, sehingga Nanaha-senpai telah memberi penjelasan kepada keluarganya dan membiarkan ruang perpustakaan ini tetap terbuka untuk kami. Jun juga sudah menelepon keluarganya dan terus membantu kami padahal waktu sudah melewati pukul sebelas malam.

 

Meski begitu, raut lelah terlihat jelas di wajah semua orang, dan sebentar lagi tanggal pun akan berganti.

 

"Sudah makin malam. Bagaimana kalau kita rangkum dulu sekali?"

 

Jun mengusul sambil menepuk bahunya sendiri. Rambut cokelatnya yang mencuat kini tampak lebih lemas dari biasanya.

 

"Boleh juga. Padahal bakal lebih bagus kalau kita bisa menemukan

informasi yang menentukan terlebih dahulu..."

 

Tsukino melempar pandangan bersalah ke arahku, tetapi aku tidak bisa membiarkan Tsukino maupun Nanaha-senpai memaksakan diri terlalu jauh.

 

"Kalau saya pribadi sih tidak masalah kalau harus begadang, lho."

 

"Mau Nanaha-senpai tidak masalah pun, nanti malah merepotkan keluarga Senpai, kan?"

 

Teguran tegas dari Tsukino membuat Nanaha-senpai mengeluarkan suara erangan sedih.

 

"Tapi ya, merangkumnya saja bakal makan waktu sebentar, sih."

 

Kami menyingkirkan dokumen yang tidak diperlukan dan mengosongkan area meja. Di sana, beberapa peta dan lembaran catatan berisi tulisan detail dibeberkan. Catatan yang tersusun dengan tulisan tangan rapi itu adalah hasil kerja Jun yang mendedikasikan dirinya untuk merangkum informasi di tengah jalan. Seperti yang kuduga dari si fanatik happy end yang logis.

 

"Jangan terburu-buru dan serakah. Pertama-tama mari kita ulas kembali. Tanah terlarang di masa lalu itu secara garis besar berada di sebelah timur kota baru, yaitu di Himurogioka Higashimachi."

 

"Area di sekitar rumah Pamanku. Tempat lain yang kita datangi cuma pemakaman dan taman, kan?"

 

Meskipun tempat-tempat itu hanyalah sekadar patokan penanda.

 

Lokasi yang dianggap sebagai tanah terlarang di dunia ini tidak bergeser dari duniaku. Rumah keluarga Hananokorozuki tempat kami berada sekarang—sama seperti Kuil Himurogioka—terletak di Motomachi yang merupakan area kota tua, sehingga posisinya cukup jauh di luar kawasan tanah terlarang.

 

"Ada banyak legenda yang menyelimuti tanah terlarang. Waktu tanah terlarang itu masih berupa hutan, ada fenomena Kamigakushi di mana orang-orang yang masuk ke sana mendadak hilang tanpa jejak. Sebaliknya, walau jumlahnya sedikit, ditemukan juga cerita tentang munculnya orang asing tak dikenal dari dalam tanah terlarang.

Sepertinya ada juga yang mengaku bukan berasal dari daerah ini."

 

"Informasi baru, ya."

 

"Orang-orang yang terlempar ke dunia paralel seperti aku dan Tsukino pasti akan merasa begitu, sih."

 

"Meskipun catatannya tidak banyak, frekuensinya terlalu sering untuk sekadar dianggap sebagai kebetulan. Lalu... ada juga beberapa cerita yang tersisa soal orang-orang yang melihat sosok bayangan yang persis seperti diri mereka sendiri di dalam hutan."

 

"Kalau alurnya begini, bukannya itu artinya mereka melihat diri mereka sendiri dari dunia paralel? Walau aku sendiri tetap tidak percaya, sih."

 

Begitu ya. Penafsiran Jun memang sangat masuk akal.

 

"...Ini mungkin cuma perasaan saya saja, tapi saya pernah melihat hantu di tanah terlarang, lho."

 

"Nanaha-senpai di duniaku juga sempat mengatakan hal yang sama."

 

"Eh? Eh? Kalau begitu, hal-hal misterius seperti itu memang beneran ada, ya! Seru banget!"

 

"Kalau hal-hal misterius itu tidak benar-benar ada, aku tidak bakal terlempar ke dunia lain dan Asahi juga tidak bakal bisa pulang, tahu."

 

Setelah mengelak dengan tawa "Ufufu", Nanaha-senpai berdeham lalu

melanjutkan.

 

"Mari kita lanjutkan pembahasannya sedikit lagi. Ritual untuk

membawa kembali orang yang terkena Kamigakushi itu memang benar-benar ada. Hal ini bahkan tercatat di berbagai daerah di seluruh negeri."

 

Buku yang dibuka oleh Nanaha-senpai menampilkan gambar orang-orang yang sedang melangkah masuk ke dalam gunung. Banyak dari mereka yang tampak menabuh alat musik seperti gendang sambil meneriakkan sesuatu.

 

"Konon katanya sanak saudara dan kerabat berkumpul untuk menyisir gunung. Mereka berjalan mengelilingi area sambil menabuh alat musik dan memanggil nama orang yang hilang. Menurut dokumen, dengan cara itu orang yang terkena Kamigakushi sering kali berhasil ditemukan kembali, lho."

 

"Bukannya itu cuma menemukan orang yang cuma sekadar tersesat di dalam hutan? Tapi ya sudahlah, untuk sekarang kita susun faktanya saja dulu."

 

"Menurutku ada aturan tertentu untuk bisa terhubung dengan dunia paralel. Mirip seperti legenda internet lift menuju dunia lain, di mana ada urutan tombol tertentu yang harus ditekan. Kalau tidak begitu, orang-orang yang tinggal di sekitar sini pasti sudah hilang semua."

 

"Kalau begitu, misalnya saja, apakah ada rute berjalan tertentu yang sudah ditentukan dalam ritual itu?"

 

"Hmm. Rute detailnya sih tidak tersisa di catatan. Hanya saja... sepertinya mereka berjalan mengelilingi Iwakura."

 

"Iwakura?"

 

Mendengar kata yang baru pertama kali muncul itu, aku menatap Tsukino, tetapi dia juga menggelengkan kepala.

 

"Singkatnya, itu adalah batu yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Dewa. Dalam kepercayaan Jepang, ada Yaoyorozu no Kami, para dewa yang jumlahnya tak terhitung, dan Dewa dipercaya dapat bersemayam dalam berbagai macam benda. Sejak zaman dahulu, batu-batu besar di pegunungan pun telah dijadikan objek pemujaan. Nah, Goshintai, tempat bersemayamnya Dewa yang dipuja di kuil keluarga kami, adalah Iwakura tersebut."

 

Peta kuno yang ditunjuk oleh Nanaha-senpai memang terukir kata Iwakura di atasnya.

 

"Bukannya Dewa yang dipuja di Kuil Himurogioka itu Sarutahiko no Okami? Lagipula letak kuil juga agak jauh dari Iwakura yang ada di peta ini."

"Karena Sarutahiko no Okami adalah Dewa pelindung perbatasan, sepertinya kepercayaannya bercampur dengan kepercayaan tanah terlarang yang berpusat pada Iwakura. Demi menjaga agar manusia tidak menyeberang ke sisi sana, dan agar tidak ada sesuatu dari sana yang datang ke sini... Hal seperti ini sangat umum terjadi."

 

"Kenapa Iwakura-nya dipisah dari kuil? Harusnya didekap sekalian saja, dong."

 

"Lokasi tempat beribadah dan objek kepercayaannya sedikit terpisah itu juga hal yang sangat umum terjadi, kok. Contoh terkenal seperti Kuil Omiwa di Nara yang menjadikan Gunung Miwa sebagai objek pemujaannya, tetapi masyarakat beribadah melalui kuil yang berada di kaki gunung untuk menyampaikan salam kepada Gunung yang merupakan Dewa itu sendiri."

 

Nanaha-senpai menangkupkan kedua tangannya memperagakan gerakan beribadah.

 

"Kuil keluarga kami juga aula utamanya dibangun menghadap ke arah Iwakura, jadi saat kita beribadah di kuil, sebenarnya kita sedang menyembah ke arah Iwakura tersebut."

 

"Jadi begitu rupanya."

 

Kalau begitu, saat aku dan Tsukino berdoa di kuil waktu itu, kami sebenarnya sedang menyampaikan permohonan kepada Iwakura yang berada jauh di sana—kepada Dewa yang bersemayam di dalamnya, atau batu itu sendiri.

"Tapi Senpai, aku tidak ingat pernah melihat sesuatu yang mirip Iwakura di Higashimachi, lho."

 

"Benar juga. Kalau itu adalah batu atau tempat tempat Dewa bersemayam, harusnya ada semacam altar kecil (hokora) yang tersisa, kan?"

 

Aku teringat pernah melihat foto di mana di beberapa tempat ada altar kecil atau pohon suci yang tidak bisa dipindahkan berdiri tepat di tengah jalan raya. Di Higashimachi sama sekali tidak ada tempat seperti itu.

 

"Altar kecil sih memang tidak ada, tapi tempat itu dipasangi Shimenawa (tali suci). Hanya saja, orang biasa rasanya tidak bakal punya kesempatan untuk melihatnya."

 

Nanaha-senpai menunjuk ke salah satu sudut pada peta masa kini.

Aku dan Tsukino refleks membelalakkan mata.

 

"Terowongan yang kita lewati saat pergi dari Kuil Himurogioka menuju Higashimachi. Terowongan Pertama Himurogioka. Iwakura itu ada di atas sana."

 

"Kenapa mereka malah membuat terowongan di tempat seperti itu?"

 

"Justru karena tempatnya di situ. Saat meratakan tanah terlarang untuk membangun kota baru, mereka tidak bisa memindahkan Iwakura tersebut, jadi mau tidak mau mereka melubangi bagian bawahnya dan membuat terowongan."

 

"Pasti ada kutukan yang terjadi! Banyak orang mati mendadak!"

 

"Tadinya kukira ini kisah nonfiksi mengharukan tentang pembangunan kota baru, ternyata di tengah-tengah para pekerja mati mendadak satu per satu jadi nonfiksi bad end, ya!"

 

"Dewa kuil keluarga saya malah dijadikan Dewa terkutuk, tapi dinamika pembahasan ini rasanya seru sekali, ya!"

 

"Yah, lagipula waktu pembangunan dulu tidak ada korban jiwa, kok. Senpai juga harusnya ikutan marah, dong."

 

Interaksi mereka bertiga seakan bertumpang tindih dengan sosok Klub Sastra di duniaku. Di antara Tsukino, Jun, dan Nanaha-senpai pasti masih ada rasa canggung dan jarak yang mengganjal. Walau begitu, asal mereka bisa saling mengobrol seperti ini, meski mungkin tidak akan kembali persis seperti dulu, mereka seharusnya masih bisa kembali menjadi Klub Sastra.

 

"Kembali ke topik utama ya~"

 

Perhatian kami teralih pada suara tepukan tangan Jun.

 

"Intinya, Terowongan Pertama Himuroki-oka ini adalah pusat dari

tanah terlarang, kan?"

 

Jun menunjukkan dokumen sebelum dan sesudah proyek pembangunan.

 

"Kalau begitu, secara tidak sadar aku selalu melewati tengah-tengah tanah terlarang. Lalu setelahnya, aku bertemu dengan Asahi."

 

"Saat aku terlempar ke dunia Tsukino pun, aku melewati terowongan ini. Hari ini waktu ponselku sempat terhubung secara singkat, walau tidak melewati terowongan, aku memang sedang berada di taman yang ada di dekat situ."

 

Setelah bertemu Tsukino, aku memang baru sekali melewati  Terowongan Pertama ini. Selebihnya aku selalu bergerak melewati rute lain.

 

"Kalau lewat situ, Asahi bisa kembali ke duniamu yang semula, kan!"

 

"Jangan terburu-buru, dong!"

 

Jun mencondongkan tubuhnya mendesak Tsukino, tetapi lengannya langsung dikunci hingga ia kembali berguling mengerang di atas lantai.

 

"...Maksudmu 'jangan terburu-buru' itu bagaimana?"

 

Sambil masih mengunci lengan Jun yang mengerang rendah, Tsukino bertanya. Jun yang sadar hari sudah malam berusaha setengah mati menahan suaranya agar tidak berteriak—anak yang sangat bertenggang rasa.

 

"Tadi kan kamu sendiri yang bilang. Kalau terlempar ke dunia paralel tanpa aturan tertentu, orang-orang di sekitar sini pasti sudah hilang semua. Aduh-duh-sakit!"

 

Begitu Tsukino melepaskan kunciannya, Jun mengelus tangannya sambil meringis, lalu melanjutkan.

 

"Kalau cuma gara-gara melewati terowongan saja orang bisa berpindah

ke dunia lain, ini pasti sudah jadi gempar besar."

 

"Soal itu... memang benar sih."

 

"Argumenmu terlalu masuk akal."

 

"Fufufu. Karena itulah, sebenarnya masih ada satu informasi lagi, lho."

 

Nanaha-senpai kembali menunjukkan sebuah dokumen. Itu adalah dokumen kuno yang hampir tidak bisa dibaca oleh kami.

 

"Pada kurun waktu tertentu, memasuki atau bahkan mendekati tanah terlarang sangat dilarang keras."

 

"Ada aturan sedetail itu?"

 

"Di daerah lain pun ada tradisi serupa. Misalnya pada Hari Dewa

Gunung, orang tidak boleh masuk ke gunung atau melakukan pekerjaan di gunung. Kurasa ini mirip dengan itu. Dan kurun waktu yang dimaksud adalah... saat ini! Wah, makin seru!"

 

"Hari di mana batas dengan dunia lain terhubung. Masa-masa di mana orang mudah terkena Kamigakushi... bisa dianggap begitu, ya."

 

"Tapi terowongan itu kan dilewati orang setiap hari. Tetap saja, itu tidak masuk akal."

 

Sambil mengangkat alisnya penuh keraguan, jemari Jun tetap sigap menggerakkan pena mencatat poin-poinnya.

 

"Kita harus mempersempit syaratnya lagi."

 

Lokasinya adalah Iwakura, di sekitar Terowongan Pertama Himurogioka. Waktunya adalah saat ini.

 

"Tapi, syarat mengenai 'tindakan apa yang memicu Kamigakushi' tentu

saja tidak tertulis di sini, ya."

 

"Kalau tertulis sejelas itu, orang-orang pasti sudah dari dulu menyadarinya."

 

"Pokoknya, jejerkan saja semua informasi yang sudah kita dapat sejauh ini. Siapa tahu bisa jadi petunjuk."

 

Aku melipat tangan dan berpikir keras. Mencoba mencari sesuatu yang menyerupai syarat dari berbagai catatan yang sudah dirangkum oleh Jun.

 

"Saat mencari orang yang terkena Kamigakushi, pencarian berpusat pada orang-orang terdekat korban."

 

"Kalau ada anggota keluarga yang hilang terkena Kamigakushi, wajar

saja kalau kerabatnya cemas dan mencari, kan?"

"Tapi, kenyataan bahwa hal itu sengaja ditulis dalam bentuk catatan

rasanya cukup menarik perhatian, ya."

 

Kalau itu hal yang sewajarnya, tidak mungkin sengaja dituangkan ke

dalam tulisan.

 

"Apakah keberadaan orang yang memiliki hubungan dekat saat berada

bersama-sama bisa memicu terciptanya hubungan dengan dunia lain?"

 

"Rasanya pemikiran itu terlalu melompat jauh."

 

"Tapi coba bayangkan, misalnya saja kisah soal melihat sosok yang mirip dengan diri sendiri. Bukankah hal itu bisa terjadi karena di saat yang bersamaan, versi diri kita dari dunia lain sedang berada di lokasi yang sama di dunianya masing-masing, sehingga kedua dunia itu saling bertaut?"

 

Sambil mengatakannya, Tsukino menggelengkan kepala.

 

"Tidak bisa. Hari itu, aku dan Asahi pertama kali bertemu di Green Mall. Asahi tidak pergi ke Higashimachi maupun ke terowongan. Di situ saja sudah timbul kontradiksi."

 

"—Tidak."

 

Suara terperangahku seketika menarik perhatian Tsukino dan yang

lainnya.

 

Ada satu hal yang sama sekali tidak pernah kupikirkan sampai detik ini.

"Mungkin memang itu pemicunya. Hari itu, aku pergi ke tanah terlarang di Higashimachi dan melewati terowongan tersebut."

 

"Yang benar? Eh, tapi..."

 

"Selama ini, kita berdua cuma memikirkan ke mana arah tujuan Tsukino."

 

Mengenai rute pergerakanku sendiri, baru dipikirkan setelah aku terlempar ke dunia Tsukino ini.

 

"Hari saat kita bertemu, aku mengecek toko buku bekas di Higashimachi, lalu menuju ke Green Mall. Terowongan itu kulewati di tengah perjalanan."

 

Mata Tsukino membelalak lebar, lalu tangannya menutupi mulut.

 

"Kita kan menonton film yang sama, jadi wajar saja kalau di dunia kita masing-masing, kita melewati terowongan itu di jam yang persis sama!"

 

"Yang benar saja. Yah, walau ini masih sebatas hipotesis, sih."

Meskipun begitu, lokasi, waktu, serta syarat terdekat berupa keberadaan diri yang sama telah terpenuhi.

 

"Saat aku dan Tsukino datang ke dunia ini, kami berdua jelas-jelas melewati terowongan itu bersama. Sangat layak untuk dicoba: melewati terowongan itu sekali lagi bersama Tsukino."

 

"Karena untuk saat ini cuma ini petunjuk yang kita punya. Ayo kita mampir ke sana saat pulang."

 

"Ah!" Nanaha-senpai mendadak bersuara. Untuk ukuran dirinya, itu adalah suara erangan yang terdengar berat.

 

Pandangan kami tertuju pada halaman yang ditunjuk oleh Senpai. Tentu saja kami tidak bisa membacanya dengan lancar, tetapi halaman itu menunjukkan angka tanggal.

 

"Mengenai hari di mana orang dilarang masuk ke tanah terlarang yang saya katakan tadi... Yang artinya periode di mana dunia ini mungkin sedang terhubung dengan dunia lain adalah saat ini..."

 

Ujung jari putihnya menunjuk ke angka tersebut.

 

"Tentu saja yang tertulis di sini mengandalkan penanggalan kalender lama. Tapi kalau dikonversi ke kalender Masehi sekarang... periode itu

berakhir hari ini."

 

Secara refleks kami semua langsung melihat ke arah jam masing-masing.

 

Tanpa disadari, waktu terus bergulir di tengah-tengah kami merangkum

dokumen, dan kini berada tepat di ambang pergantian hari. Tersisa lima belas menit sebelum tanggal berganti dan periode yang dimaksud Senpai

berakhir.

 

"Bahkan kalau tanggalnya berganti, apa mungkin titik terhubungnya langsung lenyap begitu saja?"

 

"Mungkin saja. Malah kalau batas waktunya memang seakurat ini,

hal-hal yang tidak kita pahami selama ini jadi masuk akal. Waktu aku terlempar ke dunia Asahi, kondisiku disesuaikan sedemikian rupa oleh dunia sana."

 

Aku paham apa yang ingin disampaikan Tsukino.

 

"Tapi waktu aku datang ke sini, hal semacam itu tidak terjadi. Artinya pengaruh dari sisi dunia ini sudah makin tipis?"

 

"Mungkin saja... walau aku cuma bisa menduga-duga. Tapi!"

 

Tsukino melemparkan tas milikku padaku.

 

"Daripada nanti menyesal dan membatin 'seandainya waktu itu kita

berlari pasti kita bisa pulang'...! Kamu tidak mau berpikiran begitu, kan!"

 

Sambil bersusah payah menangkap tas itu, aku menganggukkan kepala.

 

"Maaf ya, Senpai! Jun! Ayo pergi, Asahi!"

 

Tanpa menunggu jawaban, Tsukino langsung berlari kencang.

 

Setelah membungkuk singkat ke arah Senpai dan Jun, aku bergegas menyusul dari belakang.

Sambil melontarkan kalimat terima kasih yang tergesa-gesa, aku dan Tsukino melesat keluar dari rumah Nanaha-senpai.

 

"Tunggu dulu, kami juga ikut!"

 

"Sialan! Walau aku tetap tidak percaya, kalian berdua beneran orang-orang yang seru ya! Jelas saja aku bakal ikut!"

 

Suara langkah kaki mereka berdua yang menyusul terdengar dari arah belakang.

 

Di bawah naungan malam kawasan kota tua, di antara bayangan pepohonan yang terhampar dari rumah-rumah kuno, Tsukino, aku, Senpai, dan Jun terus memacu langkah.

 

Di kawasan Himurogioka Motomachi yang minim penerangan jalan ini, pendar pualam cahaya bulan menyinari jalan yang kami tempuh secara teramat terang.

 

Di ambang tengah malam menuju pukul nol, tak ada sesosok manusia pun di jalanan selain kami. Di tengah malam hening saat suara kehidupan warga dari dalam rumah pun telah senyap, hanya suara derap empat pasang langkah kaki kami yang bergema ramai.

 

Kami melintasi bagian samping Kuil Himurogioka. Aula utamanya konon dibangun menghadap ke arah Iwakura yang berada di atas terowongan, walau secara kasatmata tidak terlihat jelas.

 

Meskipun Tsukino mungkin sudah memelankan kecepatannya agar bisa dikejar, langkah kakinya tetap saja sangat kencang. Aku berusaha setengah mati menempel di belakangnya, tetapi tubuhku sudah mulai kehabisan stamina. Tenggorokanku terasa panas membakar, sedang dada dan pinggangku terasa nyeri bukan main. Napasku tersengal-sengal.

 

Aku bahkan tidak punya kelonggaran untuk mengecek ponsel sehingga tidak tahu apakah waktu sudah melewati pukul nol atau belum, tetapi secara sensasi tubuh, waktunya benar-benar sudah di ujung tanduk.

Sama sekali tidak ada jaminan kalau aku bisa pulang. Hipotesis kami bahkan belum sepenuhnya teruji secara pasti.

 

Berbagai alasan untuk menghentikan langkah terus membelit pikiranku.

 

Pada dasarnya aku tidak ingin pulang. Aku tidak bisa meninggalkan Tsukino sendirian di sini. Tidak, aku hanya ingin tetap berada di sisi Tsukino.

 

Tubuhku terasa begitu berat. Rasanya ingin berhenti melangkah saat itu juga. Namun, tanpa memedulikan rambut hitamnya yang berantakan tertiup angin, Tsukino terus berlari memimpin di depanku. Karena itulah, aku pun terus mengerahkan kaki untuk berlari.

 

Tepat di ambang batas staminaku runtuh, terowongan itu akhirnya memunculkan wujudnya di depan mata. Sebuah terowongan pendek yang sisi seberangnya bahkan bisa terlihat samar-samar. Terowongan Pertama Himurogioka.

 

Area di sekitar terowongan yang menghubungkan kawasan kota tua dengan Higashimachi ini berada di pinggiran kompleks perumahan. Sepi tanpa jiwa, dan pendar lampu jalan terasa semakin redup. Di atas terowongan membentang hutan pekat yang gelap, dan kini setelah tahu bahwa di sanalah Iwakura berada, tepat di pusat tanah terlarang, pemandangan itu terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.

 

"Masih tersisa dua menit lagi! Kita sempat!"

 

Sambil menggenggam ponselnya, Tsukino menoleh ke belakang. Keringat yang membasahi dahinya berhamburan saat ia menoleh.

 

Aku menyamai posisi Tsukino yang memelankan kecepatannya. Dari belakang, derap langkah kaki Nanaha-senpai dan Jun juga terdengar mendekat.

 

Menguras sisa tenaga terakhir yang tersisa, aku dan Tsukino melangkah masuk ke dalam terowongan bersama-sama.

 

Penerangan di dalam terowongan terasa jauh lebih terang dibanding di luar, memperjelas pemandangan di sekeliling dengan amat nyata. Di tengah aroma lembap yang mengendap, biarpun mencoba mencari presensi atau hawa aneh, yang tertangkap mata hanyalah coretan-coretan dinding belaka.

 

Memantulkan gema dari empat pasang langkah kaki, kami terus berlari melintasi bagian dalam terowongan.

 

Dan kemudian—kami menghentikan langkah.

 

Aku berhasil tetap berdiri tanpa sampai berjongkok, lalu terengah-engah mencari udara.

 

Keringat mengalir deras dari pipi menuju leher.

 

Saat mendongak, kulihat Tsukino sudah berbalik menghadap terowongan yang baru saja kami lewati.

 

Di sudut pandanganku, taman itu juga masih terlihat samar dari kejauhan.

 

Tak lama kemudian, Jun dan Nanaha-senpai keluar dari terowongan.

 

Keduanya terengah-engah, tetapi masih terlihat punya banyak tenaga tersisa. Yang paling lemah secara fisik memang aku.

 

Aku dan Tsukino masing-masing mengecek ponsel. Waktu tepat menunjukkan pukul dua belas malam, dan hari baru saja berganti.

 

Ponsel Tsukino masih mendapatkan sinyal, sementara ponselku tetap dalam keadaan tidak memiliki kontrak. Dengan kata lain, kami masih berada di dunia Tsukino.

 

“...Tidak terjadi apa-apa, ya.”

 

Meskipun sudah mencari berbagai informasi dari dokumen-dokumen itu, semuanya tetap hanya sebatas hipotesis. Justru akan terasa aneh kalau semuanya langsung berhasil begitu saja.

 

“Maaf.”

 

Suara Tsukino terdengar serak. Tatapannya yang tertuju pada terowongan tampak sedih, dan punggungnya yang biasanya tegak lurus kini terlihat sedikit membungkuk.

 

Belum. Aku belum mau menyerah.

 

Apa masih ada sesuatu yang bisa dilakukan? Apa ada sesuatu yang kami lewatkan? Apa ada kejanggalan yang belum kami sadari?

 

Walaupun aku sendiri tidak ingin pulang, aku tetap ingin membalas perasaan dan usaha Tsukino serta yang lainnya.

 

Aku menyipitkan mata, berpikir keras sambil mencari petunjuk apa pun, lalu melangkah menuju terowongan.

 

Saat itulah, ponsel yang masih kugenggam erat bergetar. Sinyalnya memang belum tersambung, tetapi sebuah notifikasi LINE masuk.

 

Dan kemudian, samar-samar, aku mendengar suara yang begitu kukenal bergema di dalam terowongan.

 

Di balik Tsukino yang tertunduk serta Jun dan Nanaha-senpai yang berdiri membelakangi terowongan, di ujung cahaya lampu yang samar dalam kegelapan, di sisi kota tua tempat kami tadi masuk, tampak sesuatu seperti kabut.

 

Dua buah... tidak, dua sosok manusia.

 

Aku teringat perkataan Nanaha-senpai bahwa ia pernah melihat hantu di tanah terlarang.

 

Bayangan itu tampak seolah terhalang kaca buram. Wujudnya begitu samar sampai-sampai keberadaannya pun sulit dipastikan, sesuatu yang seharusnya terasa menakutkan. Namun, gerakan mereka sangat kukenal. Begitu pula suara lirih yang terdengar dari tempat yang jauh melampaui panjang terowongan ini.

 

Kedua sosok itu sedang memanggil nama Masumi Asahi. Gerakan mereka sama persis dengan orang-orang yang kukenal. Kalau kupikirkan seperti itu, bayangan samar tersebut seakan memiliki rambut yang mencuat, sementara sosok satunya lagi tampak berambut perak.

 

Saat aku melangkah menuju terowongan, Tsukino juga menyadari keberadaan mereka.

 

“Itu... Jun dan Nanaha-senpai dari dunia Asahi?”

 

Mendengar ucapan Tsukino, Jun dan Nanaha-senpai dari dunia ini pun ikut menoleh ke arah bayangan di seberang terowongan, lalu mengeluarkan gumaman kecil.

 

“Dalam ritual itu, orang-orang yang dekat dengan korban Kamigakushi masuk ke gunung...”

 

Aku tidak tahu apa sebenarnya makna dari fakta tersebut. Namun, situasi yang sedang terjadi di depan mata kami mungkin sangat mirip dengan kejadian pada masa lalu.

 

Ada aku dan Tsukino sebagai keberadaan yang sama, lalu ada Jun dan Nanaha-senpai. Apakah kedua sosok di seberang terowongan itu hanya ilusi, atau benar-benar Jun dan Nanaha-senpai dari duniaku?

 

Meskipun tidak memiliki hubungan darah, dua Klub Sastra dari dunia yang berbeda, yang memiliki ikatan begitu erat, kini berkumpul di tempat ini.

 

“Tsukino, Jun, Nanaha-senpai. Terima kasih. Aku akan mencobanya.”

 

Tsukino tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi yang keluar dari bibirnya hanyalah helaan napas.

 

Karena merasa bahwa kesempatan ini mungkin hanya datang sekali, aku melangkah menuju terowongan. Entah hanya perasaanku atau bukan, kedua bayangan itu perlahan-lahan tampak memudar.

 

Tidak. Mereka benar-benar semakin memudar.

 

“Asahi-kun, semangat! Terima kasih banyak atas semuanya!”

 

“Gue masih nggak percaya soal dunia paralel, tapi gue berterima kasih padamu!”

 

Aku terus melangkah dengan membelakangi suara mereka. Kalau aku menoleh, mungkin aku akan berhenti berjalan.

 

“Aku juga!”

 

Suara Tsukino terdengar begitu dekat. Ia berlari kecil lalu berjalan sejajar di sampingku.

 

“Aku juga ikut...! Tapi cuma sampai pertengahan jalan.”

 

Tsukino tetap tidak menatapku. Tatapannya yang separuh tersembunyi di balik rambut hitamnya yang berantakan tampak begitu tidak percaya diri, sesuatu yang belum pernah kulihat darinya sebelumnya. Pandangannya tertuju pada aspal yang diterangi lampu jalan.

 

“Itu membantu. Aku agak takut kalau harus pergi sendirian. Kamu pasti mengerti, kan?”

 

Bibir Tsukino membentuk lengkungan tipis. Mawar hitam dan perak yang menghiasi rambutnya berkilau sesaat.

 

“Begitu, ya. Aku memang kamu.”

 

Kami berjalan berdampingan. Ujung jari Tsukino menyentuh tanganku, dan jari-jariku pun menyentuh tangannya. Jari-jari kami saling bertaut. Sambil bergandengan tangan, kami kembali menyusuri terowongan yang baru saja kami lewati beberapa menit lalu. Telapak tangannya yang begitu lembut terasa lebih hangat daripada malam itu.

 

Terowongan Pertama Himurogioka tidak berubah sedikit pun sejak beberapa menit lalu. Suara langkah kaki bergema, sementara udara lembap menyentuh kulit kami. Dari seberang, suara lirih kedua sosok samar itu terdengar semakin dekat.

 

Kami melewati pertengahan terowongan. Kedua bayangan yang perlahan memudar itu kini semakin dekat.

 

Aku dan Tsukino terus berjalan dalam diam, sesekali saling bertukar pandang.

 

Ujung terowongan yang pendek itu sudah terlihat di depan mata. Tinggal sekitar sepuluh meter lagi, dan aku akan mencapai kedua sosok tersebut.

 

Aku berhenti melangkah.

 

Di sinilah aku harus berpisah dengan Tsukino. Aku harus melepaskan tangan ini dan melangkah sendirian ke depan. Setelah itu, aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.

 

Tiba-tiba, aku merasa seolah pijakan di bawah kakiku runtuh. Perasaan yang selama ini kutahan akhirnya meluap.

 

Aku tidak ingin berpisah dengan Tsukino. Aku ingin tetap bersamanya. Membicarakan bad end, pergi menonton film, dan menulis novel bersama. Aku tahu, kalau aku mengajaknya datang ke duniaku, dia pasti akan menerimanya.

 

Ayo pergi bersamaku.

 

Kata-kata yang sudah hampir keluar dari tenggorokan itu berhasil kutahan.

 

Lalu――

 

Semua terjadi begitu tiba-tiba hingga aku tidak sempat memahami apa yang sedang terjadi.

 

Tsukino melepaskan tanganku, lalu memelukku erat dengan kedua lengannya.

 

Kedua lengannya yang melingkari punggungku mengerahkan tenaga hingga terasa sedikit sakit. Tubuh kami saling berdekatan, merasakan kelembutan dan kekuatan satu sama lain, suhu tubuh yang meningkat, serta helaan napas dari jarak sedekat ini. Semuanya bercampur menjadi satu.

 

Tsukino menyembunyikan wajahnya di leherku. Hembusan napasnya menyentuh pipi hingga leherku, disusul setetes air mata hangat yang jatuh perlahan.

 

“Aku... ingin tetap berada di dunia tempat aku berada sekarang. Aku memang sudah kehilangan banyak hal. Aku bahkan sempat mengira dunia ini adalah Eternal Inferno. Tapi Asahi dan dunia Asahi mengajariku bahwa dunia ini bukan hanya itu. Mereka juga mengingatkanku kembali.”

 

Tsukino mengangkat wajahnya. Matanya yang dipenuhi air mata tampak begitu hangat.

 

“Aku menyukai Asahi.”

 

Wajah Tsukino berada begitu dekat hingga kami bisa merasakan napas satu sama lain. Saat aku perlahan memejamkan mata, setetes air mata kembali mengalir dari sudut matanya. Poni yang berantakan oleh keringat, bulu mata yang basah, serta bibir merah yang tampak jelas dalam remang-remang malam... semuanya terlihat begitu indah.

 

“Asahi juga begitu, kan? Aku tahu.”

 

Ia mendekat.

 

Bibir kami bertemu.

 

Sentuhannya lembut dan sedikit dingin. Dalam sekejap, seolah sesuatu meledak di depan mataku, sensasi bergetar dan kebas menjalar dari dalam tubuh hingga ke kepala.




Ciuman itu hanya berlangsung sekejap. Tanpa sempat memejamkan mata, senyumannya telah terpatri begitu jelas di ingatanku.

 

Saat bibir kami terpisah dan pelukannya terlepas, Tsukino mengambil satu langkah mundur.

 

Suara langkah kakinya yang menjejak aspal bergema begitu berat, lalu sebuah hantaman keras menjalar tepat di pusat tubuhku.

 

Baru setelah menyadari tubuhku melayang terlempar, aku sadar ia baru

saja mendaratkan dorongan telapak tangan (shoutei).

 

Menyadari keraguanku, ia akhirnya mendorongku pergi.

 

Di tengah tubuhku yang melayang tanpa sanggup memberi perlawanan sedikit pun, pikiran itu melintas.

 

Aku berguling, berguling, berguling, berguling, dan berguling di atas permukaan aspal—

 

"Kuat banget, kuat, kuat banget!!"

 

Aku berguling sampai jauh sekali. Entah sudah berapa kali tubuhku berputar. Hanya saja, dada yang terkena hantaman tadi sama sekali tidak terasa sakit, dan saat berguling pun kulitku tidak lecet sedikit pun, menandakan dia tetap mengontrol tenaganya... Tapi tetap saja ini tidak masuk akal! Bakatnya beneran tidak main-main.

 

"Bercandanya keterlaluan...!"

Sudah tidak ada siapa-siapa di sana.

 

Saat putaran tubuhku akhirnya berhenti, sambil menahan pusing aku menoleh ke belakang. Yang tersisa hanyalah lorong terowongan yang diterangi pendar lampu terang. Lebih jauh di seberang sana, di pintu keluar menuju Higashimachi, sosok Jun maupun Nanaha-senpai sudah tidak terlihat lagi.

 

"Asahi!" "Asahi-kun!"

 

Suara panggilan itu terdengar dari arah belakang, sangat dekat dari pintu keluar menuju kawasan kota tua.

 

Jun dan Nanaha-senpai berlari menghampiriku. Mereka berdua mengenakan seragam SMA Himuroki-oka, dan rambut Nanaha-senpai berwarna perak yang sangat indah.

 

"Kenyataannya beneran seperti yang dikatakan Nanaha-senpai, kan! Soal tanah terlarang dan ritualnya!"

 

"Asahi-kun, kamu tidak apa-apa? Kami sama sekali tidak bisa menghubungimu. Kami cemas sekali. Lalu teringat waktu terakhir kali bertemu kamu sempat membahas tanah terlarang, jadi kami mencoba menelitinya..."

 

Aku membalas bahwa aku baik-baik saja.

 

Jun dan Nanaha-senpai di duniaku mencemaskanku secara tulus sebagai seorang teman. Dan hal itulah yang menjadi jembatan hingga momen ini bisa terwujud. Karena kehadiran mereka berdua, titik temu antara kedua dunia berhasil tercipta. Aku hanya bisa menguapkan rasa terima kasih yang mendalam dari lubuk hati yang paling dalam.

 

Dan, keberadaan mereka berdua di sini menjadi bukti nyata bahwa tempat ini bukanlah dunia milik Tsukino lagi.

 

Sambil tetap terduduk di atas permukaan aspal, aku menoleh sekali lagi ke arah terowongan yang sunyi tanpa jiwa.

 

"...Aku juga sama."

 

Gumamanku terlepas secara alami. Ditujukan untuk kota ini, namun di tempat yang bukan di sini.

 

"Bahwa duniaku adalah hal yang teramat berharga... kamu yang mengajarkannya, dan mengingatkanku kembali akan hal itu."Aku mengepalkan tangan lalu mengangangkatnya ke udara. Fist bump yang berkali-kali kami lakukan karena dengan mudahnya terpengaruh oleh film.

 

"Aku menyukai Tsukino."

 

Pandanganku mendadak mengabur. Aku tahu betul alasannya bukan karena terhubungnya dua dunia.

 

"Tsukino juga begitu, kan? Aku tahu, kok."

 

More bad, more hell.

Aku tahu bahwa tidak akan ada jawaban yang kembali kepadaku, baik dari kepalan tangan ini maupun dari kata-kata yang baru saja kuucapkan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close