Bab 13: Aku Tahu Apa yang Dipikirkan Diriku di Dunia Paralel tentang Diriku
"E-Eh, umm... Tsukino-chan. Haha,
sudah lama tidak ketemu, ya."
"I-Iya. S-Sudah lama tidak ketemu.
Soalnya, umm... maaf ya karena baru memberi kabar sekarang. Gimana ya,
soalnya..."
"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan.
Maaf juga ya karena pesannya jadi seperti tidak kubaca. Waktu menerima
pesannya, saya sedang di atas motor, lalu sambil memikirkan bagaimana cara
membalasnya, saya malah tidak menemukan ide apa-apa..."
"Tidak, umm, maaf! Aku sama sekali
tidak memikirkannya kok, beneran
tidak apa-apa!"
Setelah Nanaha-senpai muncul dengan gaya
yang amat memukau, dia dan Tsukino langsung memulai interaksi yang luar biasa
canggung.
Yah, aku paham sih. Jarak antarpribadi
dengan Nanaha-senpai memang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan Jun yang
sudah terlalu lama berinteraksi. Ditambah lagi, meski tidak ada masalah besar
yang terjadi di antara mereka, mustahil bagi dua orang yang sudah lama tidak
bertemu dalam situasi canggung untuk bisa langsung bersikap normal seperti
sedia kala.
Kalau dipikir-pikir lagi, saat berada di
duniaku pun Tsukino sempat sengaja menghindari toko buku. Rupanya itu adalah
psikologi enggan masuk ke toko yang mempekerjakan kenalan yang agak berjarak
darinya.
Walau begitu, bukan berarti aku—yang
hubungannya sangat tipis dengan Klub Sastra di dunia ini—bisa melakukan
sesuatu. Lagipula aku pada dasarnya bukan tipe orang yang jago mengurai benang
kusut hubungan antarmanusia.
"Hari ini cuacanya agak cerah,
ya."
"Memang sih. Walau saat memasuki
adegan bad end cuaca buruk biasanya terlihat lebih mendukung secara
dramatisasi, dalam beberapa kasus, menggambarkan cuaca yang sangat cerah justru
bisa memberikan kontras yang tajam dengan tragedi yang terjadi."
"Cuaca hari ini tidak sampai
sedramatis itu juga, sih."
Gawat juga kalau topik obrolan ringan
soal cuaca malah melenceng penuh ke pembahasan bad end.
"Aduh, kalian berdua jangan bikin
gemas begini, dong!"
Yang memotong obrolan itu adalah Jun.
Melihat mereka berdua yang berdiri kikuk dalam jarak canggung, Jun langsung
bertindak.
Ia bergerak bermaksud memeluk mereka
berdua sekaligus agar mereka saling berpelukan.
"Aduh-duh-duh! Kasar banget, kasar
banget! Aduh, cewek yang satu ini sakit bang—!"
Tanpa membuang waktu sekejap pun, lengan
Jun langsung dikunci oleh Tsukino hingga wajahnya menempel ke lantai.
Gerakan Tsukino bahkan tak sempat
tertangkap oleh mataku. Tidak, lagipula kenapa dia sampai menguasai teknik
kuncian segala? Apa yang dipelajarinya itu bukan sekadar karate biasa?
"Kan sudah kubilang berulang kali
kalau jarak interaksimu itu aneh."
"Tapi tiap kali diingatkan dampaknya
selalu se-ekstrem ini, tahu!"
"Interaksi seperti ini rasanya
membuat saya bernostalgia dan senang."
Begitu, ya. Jadi seperti inilah dinamika
Klub Sastra di dunia Tsukino.
Kerusakan fisik yang diterima Jun
benar-benar berlebihan.
Bahkan setelah Tsukino melepaskan kuncian
sendinya, Jun masih mengerang kesakitan di atas lantai untuk beberapa saat.
Tanpa memedulikan Jun, Tsukino dan
Nanaha-senpai saling bertatap muka dengan malu-malu. Senyuman sungkan yang
mengembang di wajah mereka berdua memang masih terasa agak kaku, tetapi berkat
pengorbanan mulia dari Jun, aku bisa tahu kalau hubungan mereka sudah makin
mendekati kondisi sedia kala.
"Jadi begini, Tsukino-chan. Secara
garis besar saya sudah mendengar ceritanya dari Jun-kun."
"Walau aku sendiri sama sekali tidak
percaya, sih."
Mengabaikan Jun yang sengaja menggerakkan
bibirnya dengan raut masam, Nanaha-senpai mendorong kacamatanya ke atas.
Matanya di balik kacamata memancarkan binar lembut dan ramah, namun berkilat
dengan rasa ingin tahu yang sangat jelas.
"Artinya ada hal yang bisa saya
bantu, kan!"
Suara Senpai melambung penuh semangat,
persis seperti saat ia hendak memulai pertarungan duel novel.
◆
◆ ◆
Dinding dan lantai beton, rak buku besi
yang berjajar rapi, serta meja dan kursi gaya Barat yang terletak di tengah
ruangan. Ruang perpustakaan pribadi keluarga Hananokorozuki di rumah
Nanaha-senpai ternyata sangat berbeda dari bayanganku.
Rumah keluarga Hananokorozuki yang bahkan
belum pernah kukunjungi di duniaku sendiri itu secara tampilan luar tampak
seperti kediaman bergaya Jepang yang bersejarah. Namun, tampaknya rumah itu
telah melewati berbagai proses renovasi berkali-kali, sehingga begitu masuk ke
dalam, ada banyak ruangan yang didesain dengan gaya Barat nan elegan.
Ruang perpustakaan yang ditunjukkan
kepada kami ini juga tampaknya merupakan hasil renovasi tersebut, menjelma
menjadi ruang penyimpanan modern. Jujur saja, tadinya kubayangkan tempat ini
akan berbentuk seperti gudang tradisional bertembok tanah.
Hanya saja, dokumen-dokumen sejarah
daerah milik keluarga Hananokorozuki yang berjejer di rak buku sebagian besar
memang berupa buku-buku kuno yang tidak akan aneh jika disimpan di dalam gudang
tua.
Setelah bertemu dengan Nanaha-senpai di
ruang klub, aku dan Tsukino menyampaikan keinginan kami untuk mengetahui lebih
detail mengenai tanah terlarang di Himurogioka. Itu adalah hal yang sempat
ingin kutanyakan pada Senpai di duniaku, namun belum sempat kudalami.
Setelah mengetahui bahwa kawasan tanah
terlarang itu berkaitan dengan perpindahan antara kedua dunia, tidak ada
pilihan selain menyelidikinya lebih jauh. Tsukino sendiri memang berniat
menanyakan hal ini kepada Nanaha-senpai.
Hasilnya, Nanaha-senpai mengusulkan agar
kami memeriksa ruang perpustakaan di rumahnya. Jun yang juga berniat membantu
akhirnya ikut datang bersama kami.
"Maaf membuat kalian menunggu."
Nanaha-senpai yang sempat menghilang ke
ruangan lain kini kembali dengan pakaian yang sudah berganti sepenuhnya. Gaun
anggun berwarna putih yang dipadukan dengan kardigan biru muda serta stoking
putih tipis membuatnya terlihat sangat menawan bagaikan seorang putri
bangsawan. Pantas saja dia memakan waktu agak lama, ternyata gaya rambutnya
juga sudah diubah menjadi kepangan rumit seperti yang kukenal. Warna rambutnya
memang tetap hitam, tetapi sosok di hadapanku ini tak salah lagi adalah
Nanaha-senpai yang kukenal.
"Saya sengaja berdandan penuh
semangat, lho."
Sambil merapikan rambut kepangannya yang
tertata rapi dengan
tangan, ia membetulkan letak kacamatanya.
"Jadi, menurut cerita Tsukino-chan,
pemuda ini—Asahi-kun adalah 'keberadaan yang sama' dengan Tsukino-chan dari
dunia paralel, ya?"
"Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi
memang begitulah kenyataannya."
"Kalau aku sih tetap berpikir kalau
ini cuma kebohongan belaka."
Sambil duduk bersila di atas lantai ruang
perpustakaan, Jun mengangkat bahunya.
"Kalau saya pribadi sih merasa
hal-hal seperti itu justru sangat menyenangkan jika benar-benar ada. Kenyataan
yang terlalu biasa itu kan kurang seru."
Matanya di balik kacamata berbinar-binar,
lalu ia mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan penuh rasa penasaran.
"Dunia tempat Asahi-kun berasal itu
seperti apa? Apa bedanya dengan dunia di sini? Jangan-jangan saya di sana
adalah seorang laki-laki, lalu nama saya Nanao?"
"Tidak kok, jenis kelamin Jun dan
Nanaha-senpai di sana tetap sama."
"Yang benar saja? Padahal aku
penasaran banget dengan diriku versi adik kelas yang polos, ceria, dan
bertindak bagai little devil."
"Katanya tadi tidak percaya."
Walau begitu, mengingat Tsukino yang
merupakan keberadaan yang sama denganku memiliki penampilan yang sangat sesuai
dengan seleraku, timbul sedikit rasa canggung yang aneh. Tsukino sendiri tampak
memalingkan pandangannya sedikit. Yah... dalam kemungkinan yang tanpa batas,
harusnya memang ada dunia tempat keberadaan yang sama milik Jun sangat cocok
dengan selera spesifiknya.
"Artinya saya di sana juga tetap
sama, ya. Kalau ada selisih waktu satu tahun, berarti saya di sana adalah versi
satu tahun lalu... Apakah saya di sana terlihat bersenang-senang?"
"Soal itu..."
Akhir dari Klub Sastra di dunia Tsukino.
Nanaha-senpai yang berambut hitam jadi tidak bisa menulis novel lagi. Apa yang
dipikirkannya pada masa-masa itu? Apakah dia tetap bisa tersenyum ramah seperti
biasanya?
"Raut penderitaan itu...
Jangan-jangan, saya di dunia Asahi-kun malah mendirikan Klub Sastra Jahat lalu
menantangmu dalam duel novel!? Padahal novel itu bukan alat untuk menyakiti
orang lain, lho!"
"Pikiranmu terlalu terobsesi dengan
duel novel. Di sana kamu
menjalankan tugas sebagai Ketua Klub
dengan normal, lalu membantai aku dan Jun habis-habisan dalam duel novel."
"Fufufu, kalau itu sih sepertinya
seru sekali, ya. Masih ada banyak hal lain yang ingin saya tanyakan..."
Sampai di titik itu, Nanaha-senpai
mendadak menghentikan kalimatnya. Ia mengamatiku lekat-lekat. Matanya menyipit,
bahkan naik-turun membetulkan letak kacamatanya.
"...Lho? Saya merasa pernah bertemu
dengan Asahi-kun di suatu
tempat. Apakah ini déjà vu? Jangan-jangan
karena Asahi-kun melintasi batas dunia, terjadi sinkronisasi ingatan antara
saya dengan diri saya yang satunya lagi?"
"Tidak kok, kita tadi pagi baru saja
bertemu saat Senpai merekomendasikan buku Tsukino di toko buku."
Nanaha-senpai memiringkan kepalanya,
melempar pandangannya ke ruang hampa. Setelah terdiam beberapa saat, ia menepuk
tangannya.
"Ah! Orang yang kelihatan seperti
sedang membolos sekolah tadi pagi!"
Aku ditunjuk secara terang-terangan oleh
Nanaha-senpai yang secara nyata membolos kuliahnya sendiri.
"Lagipula, ternyata dari tadi Senpai
belum menyadarinya, ya?"
"Nanaha-senpai itu memang punya sisi
di mana dia tidak tertarik dengan orang lain selain teman dan anggota klubnya
sendiri, sih..."
Senpai tampak tersipu malu. Padahal kami
tidak sedang memujinya, dan walau dia adalah sosok yang berbeda dari Senpai di
duniaku, rasanya tetap cukup mengejutkan.
"Bagaimanapun juga, ada hal penting
yang harus kita kerjakan
sekarang."
Sambil berusaha mengalihkan pembicaraan
secara terang-terangan, ia melanjutkan.
"Meskipun kita belum tahu penyebab
mengapa Tsukino-chan dan Asahi-kun bisa berpindah dunia, kemungkinan besar
tanah terlarang itu memang terlibat di dalamnya, kan?"
"Iya. Nanaha-senpai di dunia sana
sempat bercerita soal Kamigakushi. Dan saat aku terlempar ke sana maupun saat
Asahi terlempar ke sini, kami berdua memang sama-sama melewati area yang
dulunya
merupakan tanah terlarang."
"Tapi tidak ada petunjuk pasti
mengenai titik mana yang menjadi persimpangan antar-dunia, atau tindakan apa
yang harus dilakukan agar kedua dunia bisa terhubung. Pasti ada syarat
tertentu."
"Kalau tidak ada syarat khusus dan
orang bisa berpindah dunia cuma dengan lewat begitu saja, orang-orang yang
tinggal di sekitar sana pasti sudah terlempar ke dunia paralel semua,
kan?"
"Nanaha-senpai di duniaku sempat
bercerita kalau dulu ada ritual khusus yang dilakukan untuk membawa kembali
orang yang terkena Kamigakushi."
Nanaha-senpai menyentuhkan tangannya ke
kacamata, tenggelam dalam pemikiran.
"Hal seperti itu memang terdengar
seperti sesuatu yang akan saya katakan. Dulu saya memang pernah meneliti soal
tanah terlarang... Tapi karena itu sudah cukup lama, ingatan saya agak
samar."
Nanaha-senpai menunjuk ke salah satu
sudut ruang perpustakaan.
"Ah, benar juga! Mari kita baca
bersama dokumen-dokumen di sekitar
sini secara sekaligus!"
Meskipun hanya sebagian kecil dari ruang
perpustakaan, area itu diisi oleh dua rak buku berukuran besar yang dipadati
oleh berbagai dokumen dari yang kecil hingga yang besar.
"Tidak mungkin, dong! Kalau begitu
sih bakal memakan waktu terlalu lama!"
Di saat kami berdua ternganga tak
percaya, Jun membuka suara dari
samping.
"Karena kami tidak tahu dokumen mana
berisi informasi apa, sebaiknya Nanaha-senpai saja yang memilihkan bahan yang
relevan untuk kami. Legenda tentang tanah terlarang, hal-hal terkait
Kamigakushi dan ritualnya... lalu peta masa lalu dan peta sekarang,
mungkin?"
"Iya. Kurasa hal-hal seperti itu
bisa menjadi petunjuk bagi kita."
"Seperti yang kuduga dari Jun. Di
dunia mana pun jalan pikiranmu selalu logis."
"Apa-apaan sih, kalau kamu memang
suka padaku bilang saja langsung.
Pokoknya kita pakai cara itu. Kita
bertiga bakal membaca dokumen yang dipilihkan oleh Nanaha-senpai. Karena
mungkin ada banyak dokumen kuno yang sulit dibaca, dokumen-dokumen seperti itu
nanti kita serahkan kepada Nanaha-senpai."
"Memang cocok jadi Ketua Klub Sastra
yang sekarang, ya."
Nanaha-senpai mengulurkan tangannya ke
rak buku sambil menyipitkan mata. Ia membetulkan posisi kacamatanya tiga kali.
Itu dia pose khasnya.
"Kalau begitu... duel novel! Ready,
GO!"
"Kan tidak sedang duel!"
"Walau sudah lama tidak bertemu,
ternyata otak anime hobimu itu tidak berubah sama sekali ya, sampai bikin lega
sedikit."
Meskipun lokasi mereka bertiga yang mulai
bergerak ini bukan ruang klub, sosok mereka terlihat tidak ada bedanya dengan
Klub Sastra yang kukenal. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum tipis, tetapi
aku sendiri juga harus bergegas mencari petunjuk.
Tsukino sedang berjuang demi diriku. Di
duniaku, ada Klub Sastra duniaku, serta Ayah dan Ibu yang menunggu.
Meskipun rasanya enggan untuk berpisah,
bagaimanapun caranya aku harus kembali ke duniaku. Aku pun membuka
dokumen-dokumen asing
di hadapanku dan mencoba membaca sesuatu
dari sana.
◆
◆ ◆
Saat kami mulai memeriksa ruang
perpustakaan, hari memang sudah sore, sehingga tak lama kemudian matahari pun
terbenam sepenuhnya.
Di tengah-tengah kegiatan, kami sempat
keluar untuk makan malam, lalu segera melanjutkan pekerjaan begitu kembali.
Sambil merasakan lelah yang menumpuk sepanjang hari, kami terus bekerja
diselingi obrolan ringan sesekali.
"Kalau sedang seperti ini, saya jadi
teringat masa-masa sebelum festival budaya saat Tsukino-chan dan Jun-kun masih
kelas satu, ya."
Sambil membaca dokumen, Nanaha-senpai
memicingkan matanya teringat masa lalu dengan nada nostalgia.
"Klub Sastra kan terkesan kurang
mencolok. Jadi kita harus memutar otak supaya bisa menarik perhatian orang.
Dekorasi pamerannya waktu itu benar-benar kita usahakan banget, kan~"
"Nanaha-senpai yang memberi ide
secara garis besar, lalu Jun yang merapikannya jadi bentuk konkret, dan kami
berdua berakhir terseret ke dalam rencana kalian."
Tiga orang anggota Klub Sastra di dunia
ini tertawa bersama.
Musim gugur tahun pertama, di duniaku pun
kami bertiga merancang pameran festival budaya dengan cara yang sama. Demi
meramaikan pameran yang terkesan sepi, kami membuat poster (gadis berambut
pirang yang cantik) dan pojok penjelasan majalah klub, serta mencetak majalah
buatan sendiri (copibook) secara mendadak dengan melipat kertas secara manual.
Masa-masa ketika kami mengajukan perpanjangan izin kegiatan ke sekolah, lalu
terus melakukan pekerjaan sederhana di area ruang klub setelah matahari
terbenam sambil mengucek mata yang mengantuk.
Bagi Tsukino, masa-masa Itu mungkin
adalah keseharian Tsukino sebelum semuanya direnggut darinya. Sebuah pijakan
awal menuju Uroboros the End.
Akan tetapi, Tsukino yang sekarang telah
kembali ke masa-masa itu. Melihat ukiran senyum yang saling bertukar antara
dirinya, Jun, dan Nanaha-senpai, aku refleks menghela napas tanpa tahu
alasannya.
Mungkin itu adalah helaan napas lega.
Penyelidikan terus berlanjut.
Untungnya besok adalah hari Sabtu,
sehingga Nanaha-senpai telah memberi penjelasan kepada keluarganya dan
membiarkan ruang perpustakaan ini tetap terbuka untuk kami. Jun juga sudah
menelepon keluarganya dan terus membantu kami padahal waktu sudah melewati
pukul sebelas malam.
Meski begitu, raut lelah terlihat jelas
di wajah semua orang, dan sebentar lagi tanggal pun akan berganti.
"Sudah makin malam. Bagaimana kalau
kita rangkum dulu sekali?"
Jun mengusul sambil menepuk bahunya
sendiri. Rambut cokelatnya yang mencuat kini tampak lebih lemas dari biasanya.
"Boleh juga. Padahal bakal lebih
bagus kalau kita bisa menemukan
informasi yang menentukan terlebih
dahulu..."
Tsukino melempar pandangan bersalah ke
arahku, tetapi aku tidak bisa membiarkan Tsukino maupun Nanaha-senpai
memaksakan diri terlalu jauh.
"Kalau saya pribadi sih tidak
masalah kalau harus begadang, lho."
"Mau Nanaha-senpai tidak masalah
pun, nanti malah merepotkan keluarga Senpai, kan?"
Teguran tegas dari Tsukino membuat
Nanaha-senpai mengeluarkan suara erangan sedih.
"Tapi ya, merangkumnya saja bakal
makan waktu sebentar, sih."
Kami menyingkirkan dokumen yang tidak
diperlukan dan mengosongkan area meja. Di sana, beberapa peta dan lembaran
catatan berisi tulisan detail dibeberkan. Catatan yang tersusun dengan tulisan
tangan rapi itu adalah hasil kerja Jun yang mendedikasikan dirinya untuk
merangkum informasi di tengah jalan. Seperti yang kuduga dari si fanatik happy
end yang logis.
"Jangan terburu-buru dan serakah.
Pertama-tama mari kita ulas kembali. Tanah terlarang di masa lalu itu secara
garis besar berada di sebelah timur kota baru, yaitu di Himurogioka
Higashimachi."
"Area di sekitar rumah Pamanku.
Tempat lain yang kita datangi cuma pemakaman dan taman, kan?"
Meskipun tempat-tempat itu hanyalah
sekadar patokan penanda.
Lokasi yang dianggap sebagai tanah
terlarang di dunia ini tidak bergeser dari duniaku. Rumah keluarga
Hananokorozuki tempat kami berada sekarang—sama seperti Kuil
Himurogioka—terletak di Motomachi yang merupakan area kota tua, sehingga
posisinya cukup jauh di luar kawasan tanah terlarang.
"Ada banyak legenda yang menyelimuti
tanah terlarang. Waktu tanah terlarang itu masih berupa hutan, ada fenomena
Kamigakushi di mana orang-orang yang masuk ke sana mendadak hilang tanpa jejak.
Sebaliknya, walau jumlahnya sedikit, ditemukan juga cerita tentang munculnya
orang asing tak dikenal dari dalam tanah terlarang.
Sepertinya ada juga yang mengaku bukan
berasal dari daerah ini."
"Informasi baru, ya."
"Orang-orang yang terlempar ke dunia
paralel seperti aku dan Tsukino pasti akan merasa begitu, sih."
"Meskipun catatannya tidak banyak,
frekuensinya terlalu sering untuk sekadar dianggap sebagai kebetulan. Lalu...
ada juga beberapa cerita yang tersisa soal orang-orang yang melihat sosok
bayangan yang persis seperti diri mereka sendiri di dalam hutan."
"Kalau alurnya begini, bukannya itu
artinya mereka melihat diri mereka sendiri dari dunia paralel? Walau aku
sendiri tetap tidak percaya, sih."
Begitu ya. Penafsiran Jun memang sangat
masuk akal.
"...Ini mungkin cuma perasaan saya
saja, tapi saya pernah melihat hantu di tanah terlarang, lho."
"Nanaha-senpai di duniaku juga
sempat mengatakan hal yang sama."
"Eh? Eh? Kalau begitu, hal-hal
misterius seperti itu memang beneran ada, ya! Seru banget!"
"Kalau hal-hal misterius itu tidak
benar-benar ada, aku tidak bakal terlempar ke dunia lain dan Asahi juga tidak
bakal bisa pulang, tahu."
Setelah mengelak dengan tawa
"Ufufu", Nanaha-senpai berdeham lalu
melanjutkan.
"Mari kita lanjutkan pembahasannya
sedikit lagi. Ritual untuk
membawa kembali orang yang terkena
Kamigakushi itu memang benar-benar ada. Hal ini bahkan tercatat di berbagai
daerah di seluruh negeri."
Buku yang dibuka oleh Nanaha-senpai
menampilkan gambar orang-orang yang sedang melangkah masuk ke dalam gunung.
Banyak dari mereka yang tampak menabuh alat musik seperti gendang sambil
meneriakkan sesuatu.
"Konon katanya sanak saudara dan
kerabat berkumpul untuk menyisir gunung. Mereka berjalan mengelilingi area
sambil menabuh alat musik dan memanggil nama orang yang hilang. Menurut
dokumen, dengan cara itu orang yang terkena Kamigakushi sering kali berhasil
ditemukan kembali, lho."
"Bukannya itu cuma menemukan orang
yang cuma sekadar tersesat di dalam hutan? Tapi ya sudahlah, untuk sekarang
kita susun faktanya saja dulu."
"Menurutku ada aturan tertentu untuk
bisa terhubung dengan dunia paralel. Mirip seperti legenda internet lift menuju
dunia lain, di mana ada urutan tombol tertentu yang harus ditekan. Kalau tidak
begitu, orang-orang yang tinggal di sekitar sini pasti sudah hilang
semua."
"Kalau begitu, misalnya saja, apakah
ada rute berjalan tertentu yang sudah ditentukan dalam ritual itu?"
"Hmm. Rute detailnya sih tidak
tersisa di catatan. Hanya saja... sepertinya mereka berjalan mengelilingi
Iwakura."
"Iwakura?"
Mendengar kata yang baru pertama kali
muncul itu, aku menatap Tsukino, tetapi dia juga menggelengkan kepala.
"Singkatnya, itu adalah batu yang
dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Dewa. Dalam kepercayaan Jepang, ada
Yaoyorozu no Kami, para dewa yang jumlahnya tak terhitung, dan Dewa dipercaya
dapat bersemayam dalam berbagai macam benda. Sejak zaman dahulu, batu-batu
besar di pegunungan pun telah dijadikan objek pemujaan. Nah, Goshintai, tempat
bersemayamnya Dewa yang dipuja di kuil keluarga kami, adalah Iwakura
tersebut."
Peta kuno yang ditunjuk oleh
Nanaha-senpai memang terukir kata Iwakura di atasnya.
"Bukannya Dewa yang dipuja di Kuil
Himurogioka itu Sarutahiko no Okami? Lagipula letak kuil juga agak jauh dari
Iwakura yang ada di peta ini."
"Karena Sarutahiko no Okami adalah
Dewa pelindung perbatasan, sepertinya kepercayaannya bercampur dengan
kepercayaan tanah terlarang yang berpusat pada Iwakura. Demi menjaga agar
manusia tidak menyeberang ke sisi sana, dan agar tidak ada sesuatu dari sana
yang datang ke sini... Hal seperti ini sangat umum terjadi."
"Kenapa Iwakura-nya dipisah dari
kuil? Harusnya didekap sekalian saja, dong."
"Lokasi tempat beribadah dan objek
kepercayaannya sedikit terpisah itu juga hal yang sangat umum terjadi, kok.
Contoh terkenal seperti Kuil Omiwa di Nara yang menjadikan Gunung Miwa sebagai
objek pemujaannya, tetapi masyarakat beribadah melalui kuil yang berada di kaki
gunung untuk menyampaikan salam kepada Gunung yang merupakan Dewa itu
sendiri."
Nanaha-senpai menangkupkan kedua
tangannya memperagakan gerakan beribadah.
"Kuil keluarga kami juga aula
utamanya dibangun menghadap ke arah Iwakura, jadi saat kita beribadah di kuil,
sebenarnya kita sedang menyembah ke arah Iwakura tersebut."
"Jadi begitu rupanya."
Kalau begitu, saat aku dan Tsukino berdoa
di kuil waktu itu, kami sebenarnya sedang menyampaikan permohonan kepada
Iwakura yang berada jauh di sana—kepada Dewa yang bersemayam di dalamnya, atau
batu itu sendiri.
"Tapi Senpai, aku tidak ingat pernah
melihat sesuatu yang mirip Iwakura di Higashimachi, lho."
"Benar juga. Kalau itu adalah batu
atau tempat tempat Dewa bersemayam, harusnya ada semacam altar kecil (hokora)
yang tersisa, kan?"
Aku teringat pernah melihat foto di mana
di beberapa tempat ada altar kecil atau pohon suci yang tidak bisa dipindahkan
berdiri tepat di tengah jalan raya. Di Higashimachi sama sekali tidak ada
tempat seperti itu.
"Altar kecil sih memang tidak ada,
tapi tempat itu dipasangi Shimenawa (tali suci). Hanya saja, orang biasa
rasanya tidak bakal punya kesempatan untuk melihatnya."
Nanaha-senpai menunjuk ke salah satu
sudut pada peta masa kini.
Aku dan Tsukino refleks membelalakkan
mata.
"Terowongan yang kita lewati saat
pergi dari Kuil Himurogioka menuju Higashimachi. Terowongan Pertama
Himurogioka. Iwakura itu ada di atas sana."
"Kenapa mereka malah membuat
terowongan di tempat seperti itu?"
"Justru karena tempatnya di situ.
Saat meratakan tanah terlarang untuk membangun kota baru, mereka tidak bisa
memindahkan Iwakura tersebut, jadi mau tidak mau mereka melubangi bagian
bawahnya dan membuat terowongan."
"Pasti ada kutukan yang terjadi!
Banyak orang mati mendadak!"
"Tadinya kukira ini kisah nonfiksi
mengharukan tentang pembangunan kota baru, ternyata di tengah-tengah para
pekerja mati mendadak satu per satu jadi nonfiksi bad end, ya!"
"Dewa kuil keluarga saya malah
dijadikan Dewa terkutuk, tapi dinamika pembahasan ini rasanya seru sekali,
ya!"
"Yah, lagipula waktu pembangunan
dulu tidak ada korban jiwa, kok. Senpai juga harusnya ikutan marah, dong."
Interaksi mereka bertiga seakan
bertumpang tindih dengan sosok Klub Sastra di duniaku. Di antara Tsukino, Jun,
dan Nanaha-senpai pasti masih ada rasa canggung dan jarak yang mengganjal.
Walau begitu, asal mereka bisa saling mengobrol seperti ini, meski mungkin
tidak akan kembali persis seperti dulu, mereka seharusnya masih bisa kembali
menjadi Klub Sastra.
"Kembali ke topik utama ya~"
Perhatian kami teralih pada suara tepukan
tangan Jun.
"Intinya, Terowongan Pertama
Himuroki-oka ini adalah pusat dari
tanah terlarang, kan?"
Jun menunjukkan dokumen sebelum dan
sesudah proyek pembangunan.
"Kalau begitu, secara tidak sadar
aku selalu melewati tengah-tengah tanah terlarang. Lalu setelahnya, aku bertemu
dengan Asahi."
"Saat aku terlempar ke dunia Tsukino
pun, aku melewati terowongan ini. Hari ini waktu ponselku sempat terhubung
secara singkat, walau tidak melewati terowongan, aku memang sedang berada di
taman yang ada di dekat situ."
Setelah bertemu Tsukino, aku memang baru
sekali melewati Terowongan Pertama ini.
Selebihnya aku selalu bergerak melewati rute lain.
"Kalau lewat situ, Asahi bisa
kembali ke duniamu yang semula, kan!"
"Jangan terburu-buru, dong!"
Jun mencondongkan tubuhnya mendesak
Tsukino, tetapi lengannya langsung dikunci hingga ia kembali berguling
mengerang di atas lantai.
"...Maksudmu 'jangan terburu-buru'
itu bagaimana?"
Sambil masih mengunci lengan Jun yang
mengerang rendah, Tsukino bertanya. Jun yang sadar hari sudah malam berusaha
setengah mati menahan suaranya agar tidak berteriak—anak yang sangat
bertenggang rasa.
"Tadi kan kamu sendiri yang bilang.
Kalau terlempar ke dunia paralel tanpa aturan tertentu, orang-orang di sekitar
sini pasti sudah hilang semua. Aduh-duh-sakit!"
Begitu Tsukino melepaskan kunciannya, Jun
mengelus tangannya sambil meringis, lalu melanjutkan.
"Kalau cuma gara-gara melewati
terowongan saja orang bisa berpindah
ke dunia lain, ini pasti sudah jadi
gempar besar."
"Soal itu... memang benar sih."
"Argumenmu terlalu masuk akal."
"Fufufu. Karena itulah, sebenarnya
masih ada satu informasi lagi, lho."
Nanaha-senpai kembali menunjukkan sebuah
dokumen. Itu adalah dokumen kuno yang hampir tidak bisa dibaca oleh kami.
"Pada kurun waktu tertentu, memasuki
atau bahkan mendekati tanah terlarang sangat dilarang keras."
"Ada aturan sedetail itu?"
"Di daerah lain pun ada tradisi
serupa. Misalnya pada Hari Dewa
Gunung, orang tidak boleh masuk ke gunung
atau melakukan pekerjaan di gunung. Kurasa ini mirip dengan itu. Dan kurun
waktu yang dimaksud adalah... saat ini! Wah, makin seru!"
"Hari di mana batas dengan dunia
lain terhubung. Masa-masa di mana orang mudah terkena Kamigakushi... bisa
dianggap begitu, ya."
"Tapi terowongan itu kan dilewati
orang setiap hari. Tetap saja, itu tidak masuk akal."
Sambil mengangkat alisnya penuh keraguan,
jemari Jun tetap sigap menggerakkan pena mencatat poin-poinnya.
"Kita harus mempersempit syaratnya
lagi."
Lokasinya adalah Iwakura, di sekitar
Terowongan Pertama Himurogioka. Waktunya adalah saat ini.
"Tapi, syarat mengenai 'tindakan apa
yang memicu Kamigakushi' tentu
saja tidak tertulis di sini, ya."
"Kalau tertulis sejelas itu,
orang-orang pasti sudah dari dulu menyadarinya."
"Pokoknya, jejerkan saja semua
informasi yang sudah kita dapat sejauh ini. Siapa tahu bisa jadi
petunjuk."
Aku melipat tangan dan berpikir keras.
Mencoba mencari sesuatu yang menyerupai syarat dari berbagai catatan yang sudah
dirangkum oleh Jun.
"Saat mencari orang yang terkena
Kamigakushi, pencarian berpusat pada orang-orang terdekat korban."
"Kalau ada anggota keluarga yang
hilang terkena Kamigakushi, wajar
saja kalau kerabatnya cemas dan mencari,
kan?"
"Tapi, kenyataan bahwa hal itu
sengaja ditulis dalam bentuk catatan
rasanya cukup menarik perhatian,
ya."
Kalau itu hal yang sewajarnya, tidak
mungkin sengaja dituangkan ke
dalam tulisan.
"Apakah keberadaan orang yang
memiliki hubungan dekat saat berada
bersama-sama bisa memicu terciptanya
hubungan dengan dunia lain?"
"Rasanya pemikiran itu terlalu
melompat jauh."
"Tapi coba bayangkan, misalnya saja
kisah soal melihat sosok yang mirip dengan diri sendiri. Bukankah hal itu bisa
terjadi karena di saat yang bersamaan, versi diri kita dari dunia lain sedang
berada di lokasi yang sama di dunianya masing-masing, sehingga kedua dunia itu
saling bertaut?"
Sambil mengatakannya, Tsukino
menggelengkan kepala.
"Tidak bisa. Hari itu, aku dan Asahi
pertama kali bertemu di Green Mall. Asahi tidak pergi ke Higashimachi maupun ke
terowongan. Di situ saja sudah timbul kontradiksi."
"—Tidak."
Suara terperangahku seketika menarik
perhatian Tsukino dan yang
lainnya.
Ada satu hal yang sama sekali tidak
pernah kupikirkan sampai detik ini.
"Mungkin memang itu pemicunya. Hari
itu, aku pergi ke tanah terlarang di Higashimachi dan melewati terowongan
tersebut."
"Yang benar? Eh, tapi..."
"Selama ini, kita berdua cuma
memikirkan ke mana arah tujuan Tsukino."
Mengenai rute pergerakanku sendiri, baru
dipikirkan setelah aku terlempar ke dunia Tsukino ini.
"Hari saat kita bertemu, aku
mengecek toko buku bekas di Higashimachi, lalu menuju ke Green Mall. Terowongan
itu kulewati di tengah perjalanan."
Mata Tsukino membelalak lebar, lalu
tangannya menutupi mulut.
"Kita kan menonton film yang sama,
jadi wajar saja kalau di dunia kita masing-masing, kita melewati terowongan itu
di jam yang persis sama!"
"Yang benar saja. Yah, walau ini
masih sebatas hipotesis, sih."
Meskipun begitu, lokasi, waktu, serta
syarat terdekat berupa keberadaan diri yang sama telah terpenuhi.
"Saat aku dan Tsukino datang ke
dunia ini, kami berdua jelas-jelas melewati terowongan itu bersama. Sangat
layak untuk dicoba: melewati terowongan itu sekali lagi bersama Tsukino."
"Karena untuk saat ini cuma ini
petunjuk yang kita punya. Ayo kita mampir ke sana saat pulang."
"Ah!" Nanaha-senpai mendadak
bersuara. Untuk ukuran dirinya, itu adalah suara erangan yang terdengar berat.
Pandangan kami tertuju pada halaman yang
ditunjuk oleh Senpai. Tentu saja kami tidak bisa membacanya dengan lancar,
tetapi halaman itu menunjukkan angka tanggal.
"Mengenai hari di mana orang
dilarang masuk ke tanah terlarang yang saya katakan tadi... Yang artinya
periode di mana dunia ini mungkin sedang terhubung dengan dunia lain adalah
saat ini..."
Ujung jari putihnya menunjuk ke angka
tersebut.
"Tentu saja yang tertulis di sini
mengandalkan penanggalan kalender lama. Tapi kalau dikonversi ke kalender
Masehi sekarang... periode itu
berakhir hari ini."
Secara refleks kami semua langsung
melihat ke arah jam masing-masing.
Tanpa disadari, waktu terus bergulir di
tengah-tengah kami merangkum
dokumen, dan kini berada tepat di ambang
pergantian hari. Tersisa lima belas menit sebelum tanggal berganti dan periode
yang dimaksud Senpai
berakhir.
"Bahkan kalau tanggalnya berganti,
apa mungkin titik terhubungnya langsung lenyap begitu saja?"
"Mungkin saja. Malah kalau batas
waktunya memang seakurat ini,
hal-hal yang tidak kita pahami selama ini
jadi masuk akal. Waktu aku terlempar ke dunia Asahi, kondisiku disesuaikan
sedemikian rupa oleh dunia sana."
Aku paham apa yang ingin disampaikan
Tsukino.
"Tapi waktu aku datang ke sini, hal
semacam itu tidak terjadi. Artinya pengaruh dari sisi dunia ini sudah makin
tipis?"
"Mungkin saja... walau aku cuma bisa
menduga-duga. Tapi!"
Tsukino melemparkan tas milikku padaku.
"Daripada nanti menyesal dan
membatin 'seandainya waktu itu kita
berlari pasti kita bisa pulang'...! Kamu
tidak mau berpikiran begitu, kan!"
Sambil bersusah payah menangkap tas itu,
aku menganggukkan kepala.
"Maaf ya, Senpai! Jun! Ayo pergi,
Asahi!"
Tanpa menunggu jawaban, Tsukino langsung
berlari kencang.
Setelah membungkuk singkat ke arah Senpai
dan Jun, aku bergegas menyusul dari belakang.
Sambil melontarkan kalimat terima kasih
yang tergesa-gesa, aku dan Tsukino melesat keluar dari rumah Nanaha-senpai.
"Tunggu dulu, kami juga ikut!"
"Sialan! Walau aku tetap tidak
percaya, kalian berdua beneran orang-orang yang seru ya! Jelas saja aku bakal
ikut!"
Suara langkah kaki mereka berdua yang
menyusul terdengar dari arah belakang.
Di bawah naungan malam kawasan kota tua,
di antara bayangan pepohonan yang terhampar dari rumah-rumah kuno, Tsukino,
aku, Senpai, dan Jun terus memacu langkah.
Di kawasan Himurogioka Motomachi yang
minim penerangan jalan ini, pendar pualam cahaya bulan menyinari jalan yang
kami tempuh secara teramat terang.
Di ambang tengah malam menuju pukul nol,
tak ada sesosok manusia pun di jalanan selain kami. Di tengah malam hening saat
suara kehidupan warga dari dalam rumah pun telah senyap, hanya suara derap
empat pasang langkah kaki kami yang bergema ramai.
Kami melintasi bagian samping Kuil
Himurogioka. Aula utamanya konon dibangun menghadap ke arah Iwakura yang berada
di atas terowongan, walau secara kasatmata tidak terlihat jelas.
Meskipun Tsukino mungkin sudah memelankan
kecepatannya agar bisa dikejar, langkah kakinya tetap saja sangat kencang. Aku
berusaha setengah mati menempel di belakangnya, tetapi tubuhku sudah mulai
kehabisan stamina. Tenggorokanku terasa panas membakar, sedang dada dan
pinggangku terasa nyeri bukan main. Napasku tersengal-sengal.
Aku bahkan tidak punya kelonggaran untuk
mengecek ponsel sehingga tidak tahu apakah waktu sudah melewati pukul nol atau
belum, tetapi secara sensasi tubuh, waktunya benar-benar sudah di ujung tanduk.
Sama sekali tidak ada jaminan kalau aku
bisa pulang. Hipotesis kami bahkan belum sepenuhnya teruji secara pasti.
Berbagai alasan untuk menghentikan
langkah terus membelit pikiranku.
Pada dasarnya aku tidak ingin pulang. Aku
tidak bisa meninggalkan Tsukino sendirian di sini. Tidak, aku hanya ingin tetap
berada di sisi Tsukino.
Tubuhku terasa begitu berat. Rasanya
ingin berhenti melangkah saat itu juga. Namun, tanpa memedulikan rambut
hitamnya yang berantakan tertiup angin, Tsukino terus berlari memimpin di
depanku. Karena itulah, aku pun terus mengerahkan kaki untuk berlari.
Tepat di ambang batas staminaku runtuh,
terowongan itu akhirnya memunculkan wujudnya di depan mata. Sebuah terowongan
pendek yang sisi seberangnya bahkan bisa terlihat samar-samar. Terowongan
Pertama Himurogioka.
Area di sekitar terowongan yang
menghubungkan kawasan kota tua dengan Higashimachi ini berada di pinggiran
kompleks perumahan. Sepi tanpa jiwa, dan pendar lampu jalan terasa semakin
redup. Di atas terowongan membentang hutan pekat yang gelap, dan kini setelah
tahu bahwa di sanalah Iwakura berada, tepat di pusat tanah terlarang,
pemandangan itu terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.
"Masih tersisa dua menit lagi! Kita
sempat!"
Sambil menggenggam ponselnya, Tsukino
menoleh ke belakang. Keringat yang membasahi dahinya berhamburan saat ia
menoleh.
Aku menyamai posisi Tsukino yang
memelankan kecepatannya. Dari belakang, derap langkah kaki Nanaha-senpai dan
Jun juga terdengar mendekat.
Menguras sisa tenaga terakhir yang
tersisa, aku dan Tsukino melangkah masuk ke dalam terowongan bersama-sama.
Penerangan di dalam terowongan terasa
jauh lebih terang dibanding di luar, memperjelas pemandangan di sekeliling
dengan amat nyata. Di tengah aroma lembap yang mengendap, biarpun mencoba
mencari presensi atau hawa aneh, yang tertangkap mata hanyalah coretan-coretan
dinding belaka.
Memantulkan gema dari empat pasang
langkah kaki, kami terus berlari melintasi bagian dalam terowongan.
Dan kemudian—kami menghentikan langkah.
Aku berhasil tetap berdiri tanpa sampai
berjongkok, lalu terengah-engah mencari udara.
Keringat mengalir deras dari pipi menuju
leher.
Saat mendongak, kulihat Tsukino sudah
berbalik menghadap terowongan yang baru saja kami lewati.
Di sudut pandanganku, taman itu juga
masih terlihat samar dari kejauhan.
Tak lama kemudian, Jun dan Nanaha-senpai
keluar dari terowongan.
Keduanya terengah-engah, tetapi masih
terlihat punya banyak tenaga tersisa. Yang paling lemah secara fisik memang
aku.
Aku dan Tsukino masing-masing mengecek
ponsel. Waktu tepat menunjukkan pukul dua belas malam, dan hari baru saja
berganti.
Ponsel Tsukino masih mendapatkan sinyal,
sementara ponselku tetap dalam keadaan tidak memiliki kontrak. Dengan kata
lain, kami masih berada di dunia Tsukino.
“...Tidak terjadi apa-apa, ya.”
Meskipun sudah mencari berbagai informasi
dari dokumen-dokumen itu, semuanya tetap hanya sebatas hipotesis. Justru akan
terasa aneh kalau semuanya langsung berhasil begitu saja.
“Maaf.”
Suara Tsukino terdengar serak. Tatapannya
yang tertuju pada terowongan tampak sedih, dan punggungnya yang biasanya tegak
lurus kini terlihat sedikit membungkuk.
Belum. Aku belum mau menyerah.
Apa masih ada sesuatu yang bisa
dilakukan? Apa ada sesuatu yang kami lewatkan? Apa ada kejanggalan yang belum
kami sadari?
Walaupun aku sendiri tidak ingin pulang,
aku tetap ingin membalas perasaan dan usaha Tsukino serta yang lainnya.
Aku menyipitkan mata, berpikir keras
sambil mencari petunjuk apa pun, lalu melangkah menuju terowongan.
Saat itulah, ponsel yang masih kugenggam
erat bergetar. Sinyalnya memang belum tersambung, tetapi sebuah notifikasi LINE
masuk.
Dan kemudian, samar-samar, aku mendengar
suara yang begitu kukenal bergema di dalam terowongan.
Di balik Tsukino yang tertunduk serta Jun
dan Nanaha-senpai yang berdiri membelakangi terowongan, di ujung cahaya lampu
yang samar dalam kegelapan, di sisi kota tua tempat kami tadi masuk, tampak
sesuatu seperti kabut.
Dua buah... tidak, dua sosok manusia.
Aku teringat perkataan Nanaha-senpai
bahwa ia pernah melihat hantu di tanah terlarang.
Bayangan itu tampak seolah terhalang kaca
buram. Wujudnya begitu samar sampai-sampai keberadaannya pun sulit dipastikan,
sesuatu yang seharusnya terasa menakutkan. Namun, gerakan mereka sangat
kukenal. Begitu pula suara lirih yang terdengar dari tempat yang jauh melampaui
panjang terowongan ini.
Kedua sosok itu sedang memanggil nama
Masumi Asahi. Gerakan mereka sama persis dengan orang-orang yang kukenal. Kalau
kupikirkan seperti itu, bayangan samar tersebut seakan memiliki rambut yang
mencuat, sementara sosok satunya lagi tampak berambut perak.
Saat aku melangkah menuju terowongan,
Tsukino juga menyadari keberadaan mereka.
“Itu... Jun dan Nanaha-senpai dari dunia
Asahi?”
Mendengar ucapan Tsukino, Jun dan
Nanaha-senpai dari dunia ini pun ikut menoleh ke arah bayangan di seberang
terowongan, lalu mengeluarkan gumaman kecil.
“Dalam ritual itu, orang-orang yang dekat
dengan korban Kamigakushi masuk ke gunung...”
Aku tidak tahu apa sebenarnya makna dari
fakta tersebut. Namun, situasi yang sedang terjadi di depan mata kami mungkin
sangat mirip dengan kejadian pada masa lalu.
Ada aku dan Tsukino sebagai keberadaan
yang sama, lalu ada Jun dan Nanaha-senpai. Apakah kedua sosok di seberang
terowongan itu hanya ilusi, atau benar-benar Jun dan Nanaha-senpai dari
duniaku?
Meskipun tidak memiliki hubungan darah,
dua Klub Sastra dari dunia yang berbeda, yang memiliki ikatan begitu erat, kini
berkumpul di tempat ini.
“Tsukino, Jun, Nanaha-senpai. Terima
kasih. Aku akan mencobanya.”
Tsukino tampak hendak mengatakan sesuatu,
tetapi yang keluar dari bibirnya hanyalah helaan napas.
Karena merasa bahwa kesempatan ini
mungkin hanya datang sekali, aku melangkah menuju terowongan. Entah hanya
perasaanku atau bukan, kedua bayangan itu perlahan-lahan tampak memudar.
Tidak. Mereka benar-benar semakin
memudar.
“Asahi-kun, semangat! Terima kasih banyak
atas semuanya!”
“Gue masih nggak percaya soal dunia
paralel, tapi gue berterima kasih padamu!”
Aku terus melangkah dengan membelakangi
suara mereka. Kalau aku menoleh, mungkin aku akan berhenti berjalan.
“Aku juga!”
Suara Tsukino terdengar begitu dekat. Ia
berlari kecil lalu berjalan sejajar di sampingku.
“Aku juga ikut...! Tapi cuma sampai
pertengahan jalan.”
Tsukino tetap tidak menatapku. Tatapannya
yang separuh tersembunyi di balik rambut hitamnya yang berantakan tampak begitu
tidak percaya diri, sesuatu yang belum pernah kulihat darinya sebelumnya.
Pandangannya tertuju pada aspal yang diterangi lampu jalan.
“Itu membantu. Aku agak takut kalau harus
pergi sendirian. Kamu pasti mengerti, kan?”
Bibir Tsukino membentuk lengkungan tipis.
Mawar hitam dan perak yang menghiasi rambutnya berkilau sesaat.
“Begitu, ya. Aku memang kamu.”
Kami berjalan berdampingan. Ujung jari
Tsukino menyentuh tanganku, dan jari-jariku pun menyentuh tangannya. Jari-jari
kami saling bertaut. Sambil bergandengan tangan, kami kembali menyusuri
terowongan yang baru saja kami lewati beberapa menit lalu. Telapak tangannya
yang begitu lembut terasa lebih hangat daripada malam itu.
Terowongan Pertama Himurogioka tidak
berubah sedikit pun sejak beberapa menit lalu. Suara langkah kaki bergema,
sementara udara lembap menyentuh kulit kami. Dari seberang, suara lirih kedua
sosok samar itu terdengar semakin dekat.
Kami melewati pertengahan terowongan.
Kedua bayangan yang perlahan memudar itu kini semakin dekat.
Aku dan Tsukino terus berjalan dalam
diam, sesekali saling bertukar pandang.
Ujung terowongan yang pendek itu sudah
terlihat di depan mata. Tinggal sekitar sepuluh meter lagi, dan aku akan
mencapai kedua sosok tersebut.
Aku berhenti melangkah.
Di sinilah aku harus berpisah dengan
Tsukino. Aku harus melepaskan tangan ini dan melangkah sendirian ke depan.
Setelah itu, aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.
Tiba-tiba, aku merasa seolah pijakan di
bawah kakiku runtuh. Perasaan yang selama ini kutahan akhirnya meluap.
Aku tidak ingin berpisah dengan Tsukino.
Aku ingin tetap bersamanya. Membicarakan bad end, pergi menonton film, dan
menulis novel bersama. Aku tahu, kalau aku mengajaknya datang ke duniaku, dia
pasti akan menerimanya.
Ayo pergi bersamaku.
Kata-kata yang sudah hampir keluar dari
tenggorokan itu berhasil kutahan.
Lalu――
Semua terjadi begitu tiba-tiba hingga aku
tidak sempat memahami apa yang sedang terjadi.
Tsukino melepaskan tanganku, lalu
memelukku erat dengan kedua lengannya.
Kedua lengannya yang melingkari
punggungku mengerahkan tenaga hingga terasa sedikit sakit. Tubuh kami saling
berdekatan, merasakan kelembutan dan kekuatan satu sama lain, suhu tubuh yang
meningkat, serta helaan napas dari jarak sedekat ini. Semuanya bercampur
menjadi satu.
Tsukino menyembunyikan wajahnya di
leherku. Hembusan napasnya menyentuh pipi hingga leherku, disusul setetes air
mata hangat yang jatuh perlahan.
“Aku... ingin tetap berada di dunia
tempat aku berada sekarang. Aku memang sudah kehilangan banyak hal. Aku bahkan
sempat mengira dunia ini adalah Eternal Inferno. Tapi Asahi dan dunia Asahi
mengajariku bahwa dunia ini bukan hanya itu. Mereka juga mengingatkanku
kembali.”
Tsukino mengangkat wajahnya. Matanya yang
dipenuhi air mata tampak begitu hangat.
“Aku menyukai Asahi.”
Wajah Tsukino berada begitu dekat hingga
kami bisa merasakan napas satu sama lain. Saat aku perlahan memejamkan mata,
setetes air mata kembali mengalir dari sudut matanya. Poni yang berantakan oleh
keringat, bulu mata yang basah, serta bibir merah yang tampak jelas dalam
remang-remang malam... semuanya terlihat begitu indah.
“Asahi juga begitu, kan? Aku tahu.”
Ia mendekat.
Bibir kami bertemu.
Sentuhannya lembut dan sedikit dingin.
Dalam sekejap, seolah sesuatu meledak di depan mataku, sensasi bergetar dan
kebas menjalar dari dalam tubuh hingga ke kepala.
Ciuman itu hanya berlangsung sekejap.
Tanpa sempat memejamkan mata, senyumannya telah terpatri begitu jelas di
ingatanku.
Saat bibir kami terpisah dan pelukannya
terlepas, Tsukino mengambil satu langkah mundur.
Suara langkah kakinya yang menjejak aspal
bergema begitu berat, lalu sebuah hantaman keras menjalar tepat di pusat
tubuhku.
Baru setelah menyadari tubuhku melayang
terlempar, aku sadar ia baru
saja mendaratkan dorongan telapak tangan
(shoutei).
Menyadari keraguanku, ia akhirnya
mendorongku pergi.
Di tengah tubuhku yang melayang tanpa
sanggup memberi perlawanan sedikit pun, pikiran itu melintas.
Aku berguling, berguling, berguling,
berguling, dan berguling di atas permukaan aspal—
"Kuat banget, kuat, kuat
banget!!"
Aku berguling sampai jauh sekali. Entah
sudah berapa kali tubuhku berputar. Hanya saja, dada yang terkena hantaman tadi
sama sekali tidak terasa sakit, dan saat berguling pun kulitku tidak lecet
sedikit pun, menandakan dia tetap mengontrol tenaganya... Tapi tetap saja ini
tidak masuk akal! Bakatnya beneran tidak main-main.
"Bercandanya keterlaluan...!"
Sudah tidak ada siapa-siapa di sana.
Saat putaran tubuhku akhirnya berhenti,
sambil menahan pusing aku menoleh ke belakang. Yang tersisa hanyalah lorong
terowongan yang diterangi pendar lampu terang. Lebih jauh di seberang sana, di
pintu keluar menuju Higashimachi, sosok Jun maupun Nanaha-senpai sudah tidak
terlihat lagi.
"Asahi!" "Asahi-kun!"
Suara panggilan itu terdengar dari arah
belakang, sangat dekat dari pintu keluar menuju kawasan kota tua.
Jun dan Nanaha-senpai berlari
menghampiriku. Mereka berdua mengenakan seragam SMA Himuroki-oka, dan rambut
Nanaha-senpai berwarna perak yang sangat indah.
"Kenyataannya beneran seperti yang
dikatakan Nanaha-senpai, kan! Soal tanah terlarang dan ritualnya!"
"Asahi-kun, kamu tidak apa-apa? Kami
sama sekali tidak bisa menghubungimu. Kami cemas sekali. Lalu teringat waktu
terakhir kali bertemu kamu sempat membahas tanah terlarang, jadi kami mencoba
menelitinya..."
Aku membalas bahwa aku baik-baik saja.
Jun dan Nanaha-senpai di duniaku
mencemaskanku secara tulus sebagai seorang teman. Dan hal itulah yang menjadi
jembatan hingga momen ini bisa terwujud. Karena kehadiran mereka berdua, titik
temu antara kedua dunia berhasil tercipta. Aku hanya bisa menguapkan rasa
terima kasih yang mendalam dari lubuk hati yang paling dalam.
Dan, keberadaan mereka berdua di sini
menjadi bukti nyata bahwa tempat ini bukanlah dunia milik Tsukino lagi.
Sambil tetap terduduk di atas permukaan
aspal, aku menoleh sekali lagi ke arah terowongan yang sunyi tanpa jiwa.
"...Aku juga sama."
Gumamanku terlepas secara alami.
Ditujukan untuk kota ini, namun di tempat yang bukan di sini.
"Bahwa duniaku adalah hal yang
teramat berharga... kamu yang mengajarkannya, dan mengingatkanku kembali akan
hal itu."Aku mengepalkan tangan lalu mengangangkatnya ke udara. Fist bump
yang berkali-kali kami lakukan karena dengan mudahnya terpengaruh oleh film.
"Aku menyukai Tsukino."
Pandanganku mendadak mengabur. Aku tahu
betul alasannya bukan karena terhubungnya dua dunia.
"Tsukino juga begitu, kan? Aku tahu,
kok."
More bad, more hell.
Aku tahu bahwa tidak akan ada jawaban yang kembali kepadaku, baik dari kepalan tangan ini maupun dari kata-kata yang baru saja kuucapkan.



Post a Comment