NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 3

Bab 3: Pergi ke Festival Kembang Api Bersama Sekretaris Cantik dengan Dalih Wawancara


(Sudut Pandang Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)

 

"Mumpung sudah ada kesempatan untuk riset lapangan, sebaiknya kita benar-benar mendalami peran sebagai tokoh utama dan heroine saat menjelajahi festival kembang api, kan?," ujar Himegi-san dengan penuh semangat begitu kami kembali dari supermarket dan masuk ke ruang tamu.

 

"Untuk sementara, mari cari yukata sebelum malam tiba. Sepertinya bisa disewa."

 

"Eh, sampai sengaja memakai yukata?"

 

Saat aku bertanya balik karena kaget, Himegi-san mengangguk dengan

ekspresi serius.

 

"Tentu saja. Perasaannya kan pasti berbeda dibanding melewatkannya dengan pakaian biasa, dan kalau dibilang wawancara lapangan harusnya dilakukan secara menyeluruh kan."

 

"Benar juga sih…… Kalau begitu, kucoba cari tahu."

 

Sembari meminta Himegi-san memasukkan barang-barang yang dibeli dari supermarket ke dalam kulkas, aku mencari toko persewaan yukata menggunakan ponsel. Lalu setelah beberapa toko muncul di hasil pencarian, toko di depan stasiun kelihatannya bagus jadi aku segera membuat reservasi kedatangan.

 

"Sepertinya proses mengenakan yukata bisa selesai dalam waktu sekitar 15 menit, jadi kubuat reservasi supaya dari sana bisa langsung menuju ke festival kembang api. Di situsnya tertulis lebih baik menentukan yukata seperti apa yang diinginkan terlebih dahulu."

 

Sambil menjelaskan, aku mengirimkan URL toko yang sudah dipesan ke Himegi-san. Di halaman utamanya terpampang daftar yukata yang bisa disewa.

 

"Sensei cekatan sekali ya. Kalau aku pasti bakal mencari toko yang paling murah sampai keteteran, dan cuma untuk menentukan mau pilih yang mana saja bisa makan waktu sekitar 1 jam."

 

"Kalau urusan memilih toko semacam ini, kalaupun gagal yang hilang kan cuma uang saja, jadi aku tidak begitu ragu. Daripada bingung sampai 1 jam, menggunakan waktu itu untuk bekerja bakal memberikan return yang lebih besar, secara cost-benefit, itu kurang efisien."

 

"Begitu ya……! Sangat menambah wawasan……!"

 

Setelah bergumam dengan ekspresi serius, Himegi-san mulai memilih yukata menggunakan ponselnya.

 

Sambil berpura-pura tenang, aku mencuri pandang ke wajah sampingnya.

Hari ini, setelah melihat pakaian kasual Himegi-san, aku juga bakal bisa menikmati penampilannya saat mengenakan yukata. Ada rasa kegembiraan yang mirip seperti saat kostum baru untuk karakter favorit dirilis di gim sosial ya……

 

"──Ah, aku lupa."

 

Tepat saat aku berpikir Himegi-san bergumam tanpa ditujukan ke siapa pun, dia mengeluarkan kacamata dari tasnya lalu memakainya. Itu adalah kacamata persegi berbingkai hitam yang berkesan cerdas.

 

Lebih jauh lagi, dia dengan cepat merapikan rambut belakangnya, memperlihatkan tengkuknya yang putih secara berani.

 

Pandanganku tanpa sadar tertarik olehnya.

 

"Himegi-san……?"

 

"Ini, penampilanku dalam mode sekretaris."

 

Himegi-san mengatakannya seperti bercanda.

 

"Aku kan tipe orang yang memulai dari bentuk luarnya dulu. Karena aku cuma menjadi mode sekretaris saat di rumah saja, aku berpikir untuk mencoba memakai kacamata tanpa minus agar mudah dipahami."

 

Berkata begitu, dia menaikkan gagang kacamata menggunakan jari telunjuknya.

 

Manik mata besar Himegi-san di balik lensa transparan terlihat sedikit lebih tajam.

 

"Bagaimana? Cocok?"

 

"E, iya."

 

Aku mengangguk secara refleks. Kacamatanya sangat cocok, dan dia terlihat matang secara tidak biasa.

 

Siapa sangka sebelum kostum baru, aksesori baru malah dibuka terlebih dahulu……

 

Selama ini aku tidak memahami kebaikan dari heroine yang memakai

kacamata, tetapi sekarang aku sudah memahami kebenaran dunia. Pada heroine baru yang bakal kukeluarkan di skenario berikutnya, mari buat

dia memakai kacamata.

 

☆ ☆

 

Dengan menyisakan sedikit kelonggaran waktu, kami keluar dari rumah.

 

Begitu masuk ke toko persewaan yukata yang ada di depan stasiun dan menyampaikan yukata yang sudah dipilih sebelumnya, stoknya ternyata ada jadi kami segera dipasangkan yukatanya.

 

Setelah mengenakan yukata dan merapikan bagian kerah, tali pinggang diikatkan. Setelah itu kerutan secara keseluruhan diratakan, dan area pinggang dikencangkan dengan sabuk obi. Karena aku tidak tahu satu pun hal tentang pemakaian baju tradisional, aku membiarkan diriku dipakaikan begitu saja sesuai instruksi.

 

Saat sabuk obi dikencangkan, aku merasa sedikit sesak. Lebih jauh lagi, ini pertama kalinya aku memakai barang bernama bakiak geta, dan itu sangat sulit untuk dipakai berjalan. Aku merasa jadi paham alasan mengapa pakaian tradisional Jepang memudar dan pakaian Barat menjadi populer.

 

Meski pegawai toko bilang "Kalau bakiak geta terasa sempit boleh pakai sandal kok", mumpung sudah ada kesempatan aku memutuskan untuk tetap pergi menggunakan bakiak geta.

 

Dengan begini proses pemakaian baju pun selesai, tetapi diriku yang terpantul di cermin terlihat seperti orang lain dibanding biasanya, membuatku merasa lebih segar dan bersemangat.

 

Saat menunggu beberapa saat, Himegi-san yang selesai dipasangkan bajunya menunjukkan diri, dan dia terlihat luar biasa cantik.

 

Motif yukatanya berupa bunga-bunga berwarna merah muda lembut yang tersebar di seluruh permukaannya. Namun, Himegi-san yang mengenakannya terlihat begitu menawan.

 

Kalau penampilannya sekarang difoto, hasilnya pasti sudah cukup bagus untuk langsung dijadikan sampul gim.

 

Tentu saja, aku tidak bisa meminta untuk mengambil fotonya sih……

 

Himegi-san mendekat ke arah sini, lalu tersenyum seperti anak nakal.

 

"Kita berdua mulai sekarang bakal mendalami peran sebagai sang tokoh utama dan heroine kan?"

 

"Be, benar begitu ya."

 

"Kalau begitu, dengan mempertimbangkan hal itu aku mau bertanya. Bagaimana penampilanku saat memakai yukata?"

 

"……Anu, cocok kok. Baguslah aku datang hari ini."

 

"──Hauu!"

 

Sambil menyesuaikan cara bicaraku dengan sang tokoh utama, aku melontarkan candaan ringan, Himegi-san menepuk dadanya seperti merasa kesakitan.

 

"Gawat nih…… Baru saja, dari sudut pandang heroine sang tokoh utama kelihatan jelas……!! Seperti yang diharapkan dari pengarang aslinya……!!"

 

"……Baguslah kalau kamu senang."

 

"Aku, hari ini jantungku mungkin tidak bakal sanggup menahannya……"

 

"Be, begitu ya."

 

Sambil berpikir bahwa hal itu dialami oleh kami berdua, aku membalas sambil berpura-pura tenang.

 

☆ ☆

 

Karena tampaknya tidak ada masalah khusus, kami keluar dari toko persewaan yukata lalu naik kereta menuju ke lokasi festival kembang api.

 

Padahal cuma naik kereta dengan memakai yukata, tetapi rasanya aneh karena rasanya seperti sedang menikmati masa muda sekaligus merasakan musim panas sepenuhnya.

 

Makin mendekati lokasi acara, jumlah wanita yang mengenakan yukata di dalam kereta semakin bertambah. Namun, tidak ada satu pun wanita cantik di tingkat Himegi-san.

 

Walau sangat kupahami bahwa ini adalah riset lapangan, aku berulang kali bersyukur kepada Tuhan karena bisa beraktivitas bersama Himegi-san.

 

Padahal waktu peluncuran kembang api masih 1 jam lagi, tetapi stasiun terdekat dari lokasi acara sudah sangat padat. Terlebih lagi, makin mendekati lokasi acara, kerumunannya semakin padat.

 

Begitu melangkahkan kaki lebih jauh, di kedua sisi jalan mulai terlihat lapak-lapak pedagang. Dijual takoyaki, sosis frankfurter, kue cubit baby castella, hingga pisang cokelat.

"──Nah. Dari sini riset lapangan yang sebenarnya bakal dimulai kan, tapi apakah di adegan ini hal yang mau dilakukan belum ditentukan sama sekali?"

 

Mendadak Himegi-san mengambil alih pembicaraan. Aku mengangguk.

 

"Apa yang mau dilakukan memang belum ditentukan, tetapi aku ingin memperlihatkan kedekatan yang pas antara tokoh utama dan heroine. Di mana mereka berdua yang tingkat keakrabannya sudah lumayan bertambah di skenario sebelumnya, di kencan kali ini jarak hubungannya terasa semakin dekat. Hanya saja kalau sampai berpacaran itu pasti tidak boleh."

 

"Maksudmu ingin melakukan event yang cukup bikin berdebar."

 

"Iya."

 

"Contohnya, karena lokasi acara sangat padat, lalu bergandengan tangan supaya tidak terpisah?"

 

"Aah…… Kalau itu rasanya perkembangan hubungannya terlalu jauh ya?"

 

"Begitu ya…… Kalau begitu mari tidak usah bergandengan tangan."

 

Himegi-san mengatakannya dengan raut wajah yang entah kenapa terlihat agak kecewa.

"……Omong-omong, jika di dalam karya mereka berdua bergandengan tangan sambil melihat kembang api, apakah kita berdua juga berakhir bakal bergandengan tangan……?"

 

"……Bukankah memang harusnya begitu? Kan kita melakukan riset lapangan sambil mendalami peran berdua……"

 

Terhadap pertanyaanku, Himegi-san membalas sambil merasa malu.

 

Seberapa pun besarnya dia sebagai penggemar karya ini, apakah dia mau bekerja sama sampai sejauh itu……? Kalau begitu mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau kucari alasan tertentu supaya sang tokoh utama dan yang lainnya bergandengan tangan……?

 

"Selain itu jika bicara soal event yang menaikkan tingkat keakraban…… bagaimana kalau makan permen apel bersama?"

 

Di tengah-tengah aku sedang berpikir keras, Himegi-san melontarkan usulan lain.

 

"Be, benar juga ya."

 

Untuk menyembunyikan kepanikanku, aku langsung menyetujuinya, tetapi kenapa makan permen apel bersama bisa membuat makin akrab ya? Apa seperti teman yang pernah makan dari periuk yang sama?

 

Tanpa terlalu memahami tujuannya, untuk sementara kami mengantre di lapak permen apel.

 

"Apakah di dalam permen apel itu ada buah apelnya?"

 

"Iya. Rasanya seperti seluruh bagian apel dilapisi oleh permen gula.

Takahashi-kun kan bilang belum pernah pergi ke festival, jadi belum pernah memakannya?"

 

"Iya. Ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung."

 

"Begitu ya. Selain permen apel, apakah ada makanan lain yang ingin kamu makan?"

 

"Hmm……"

 

Aku melihat ke sekeliling lapak-lapak pedagang, lalu membalas dengan suara pelan.

 

"Semuanya kelihatan tidak bagus untuk kesehatan ya."

 

"……Memang benar sih."

 

"Kalau di lapak begini, kita juga tidak bisa melihat tabel kandungan gizi makanannya."

 

"Buat orang yang peduli kesehatan, mungkin agak susah makan di lapak begini ya."

 

"Meski begitu, karena hari ini riset lapangan, aku berniat makan tanpa memikirkannya."

 

"Sikap yang bagus."

 

Di tengah-tengah percakapan seperti itu, giliran kami pun tiba.

 

"Permen apelnya satu ya!"

 

Himegi-san langsung memesannya seperti itu hal yang biasa.

 

Padahal tadi bilang mau makan bersama, kenapa cuma pesan satu……?

 

"Ini, Takahashi-kun."

 

Karena Himegi-san menyodorkannya, Meski masih bertanya-tanya, aku tetap menerimanya dengan menggigit permen apel itu.

 

Sensasi lapisan permen tipis yang pecah dengan bunyi renyah, berpadu dengan tekstur apel yang segar juicy.

 

Sambil berhati-hati agar pecahan gulanya tidak jatuh saat digigit, rasa manis dan asamnya menyebar di mulut dengan keseimbangan yang pas.

 

"Kukira cuma menang tampilannya saja yang bagus, tapi ternyata beneran enak ya."

 

"Kan? Kalau begitu, bagi aku juga dong."

 

Belum sempat perkataannya selesai, Himegi-san sudah merebut permen apel itu.

 

Lalu, dia menggigit bagian sisi yang berlawanan dari yang kumakan tadi.

 

"Emm~. Manis dan enak~"

 

Wajah Himegi-san langsung cerah, lalu dia berseru kecil kegirangan.

 

Ini sungguh mengejutkan. Aku sama sekali tidak menyangka kami akan berbagi satu permen apel untuk dimakan berdua.

 

"……Di kepalaku, skenario untuk adegan ini sudah terbentuk. Rasa-rasanya aku sudah bisa langsung pulang sekarang lho."

 

"Eh!? Kembang apinya kan belum mulai!?"

 

Himegi-san membuka matanya lebar-lebar.

 

"Maaf, kalau bilang selesai itu berlebihan sih. Tapi aku yakin sudah bisa

menuliskannya."

 

"Be, benarkah……?"

 

"Iya. Setelah ini, sang tokoh utama dan heroine makan permen apel secara bergantian, dan pada akhirnya terjadi ciuman tidak langsung di antara mereka.. Meski sama-sama merasa malu, mereka berdua merasa bahwa kalau orangnya adalah dia, mungkin tidak masalah. Ini event yang bagus untuk menunjukkan perubahan yang benar-benar berlawanan dengan saat mereka dulu mencurigai akan diberi racun."

 

Begitulah aku menceritakan rancanganku dengan cepat.

Kukira dia bakal senang, tetapi entah kenapa Himegi-san justru mengalihkan pandangannya ke sana kemari.

 

"……Ci, ciuman tidak langsung ya~. Memang benar sih, pada akhirnya mungkin bakal jadi begitu ya~"

 

Himegi-san mengatakannya dengan nada yang agak datar.

 

"? Apakah Himegi-san memperhitungkan sampai sejauh itu makanya cuma memesan satu permen apel?"

 

"Ti, tidak, bukannya aku sengaja mengincar ciuman tidak langsung dengan Takahashi-kun kok…… Cuma berpikir karena mau makan yang lain juga, jadi pesan satu saja sudah cukup kan……"

 

"Be, benar juga ya. Maaf ya sudah mengatakan hal yang aneh."

 

"Tidak apa-apa kok. Yang bilang mau mendalami peran sebagai tokoh utama dan heroine kan aku sendiri……"

 

Himegi-san menundukkan mata dengan malu-malu, lalu menatap

permen apel yang dipegang di tangan kanannya.

 

"……Omong-omong, permen apel ini bagaimana?"

 

"Bagaimana…… maksudnya?"

 

"Mau sisanya kumakan sendiri, atau dimakan Takahashi-kun, bagaimanapun juga kan tetap bakal jadi ciuman tidak langsung……"

"──!"

 

Aku ceroboh, ini situasi yang cukup gawat.

 

Di saat masing-masing sudah memakannya satu gigitan, menjadi begini adalah hal yang tak terelakkan. Pikiranku kurang panjang.

 

"……Anu, kalau kamu keberatan makan di bagian yang sudah kumakan, biar kuambil alih…… Ah tapi, kalau begitu berarti aku bakal makan bagian yang sudah dimakan Himegi-san, dan itu membuatmu keberatan juga……?"

 

"Sa, sama sekali tidak keberatan kok, tidak ada halangan juga……"

 

Sambil tetap menunduk, Himegi-san memainkan rambutnya lalu melanjutkan dengan suara pelan.

 

"Gimana ya, sudah SMA begini, ciuman tidak langsung kan tidak perlu terlalu dipusingkan kan……? Makanya itu…… Ini usul sih, bagaimana kalau kita makan sedikit demi sedikit berdua saja??"

 

"Kalau Himegi-san tidak keberatan sih……"

 

"Kalau begitu…… sepakat ya……"

 

Setelah kami berdua menyetujuinya dengan volume suara yang mirip gumaman sendiri, Himegi-san seolah sudah membulatkan tekadnya lalu menggigit permen apel itu satu gigitan lagi. Kali ini gigitannya jauh lebih kecil daripada tadi.




Pada saat itu, aku yakin bahwa inilah yang dinamakan masa muda.

 

Nuansa masa muda yang kurasakan saat naik kereta mengenakan yukata tadi, jauh lebih kuat sampai tidak bisa dibandingkan dengan nuansa masa muda yang kurasakan tadi.

 

Dan──pada saat yang sama, dadaku terasa mengganjal. Himegi-san tadi bilang, "sudah SMA begini, ciuman tidak langsung kan tidak perlu terlalu dipusingkan kan……?"

 

Dengan kata lain, dia mungkin pernah melakukan ciuman tidak langsung dengan cowok lain di masa lalu. Bahkan sampai berkali-kali, hingga dia jadi kebal terhadapnya.

 

Pagi tadi dia bahkan menyebut dirinya sebagai ahli festival kembang api……

 

Semakin kupikirkan, emosi gelap yang pekat semakin berkecamuk di dalam dadaku, hingga aku merasakan sensasi berat di dalam tenggorokanku.



Chapter 2 | ToC | Chapter 4

0

Post a Comment

close