NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 4

Bab 4: Pergi ke Festival Kembang Api Bersama Siswa SMA Berkemampuan Tinggi dengan Dalih Wawancara


Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sampai melakukan ciuman tidak langsung dengan lawan jenis.

 

Apalagi, dengan Sensei.

 

Aku sudah tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Seluruh sarafku terpusat pada tindakan makan permen apel secara bergantian ini.

 

Aku makan bagian sambungan yang sudah dimakan Sensei. Lalu Sensei makan bagian lanjutannya lagi. Bukankah ini secara praktis sudah terhitung ciuman?

 

Tidak, malah aku merasa ini mungkin merupakan tindakan yang menunjukkan kasih sayang yang lebih dalam daripada sekadar ciuman.

 

Hari ini aku mungkin tidak akan bisa tidur.

 

……Sensei sendiri, bagaimana ya pemikirannya? Apakah dia menganggapku sebagai seorang lawan jenis?

 

Sensei sangat berbeda dari cowok biasa, jadi aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya

 

Namun dari nada bicaranya tadi, Sensei tampak menganggap ciuman tidak langsung sebagai tindakan yang spesial. Walau mungkin dia hanya menyampaikan pandangan umum, ada kemungkinan yang cukup besar bahwa Sensei sendiri juga menganggap ciuman tidak langsung dengan lawan jenis sebagai sesuatu yang istimewa.

 

Kuharap, semoga memang begitu……

 

Saat pikiranku terus berputar memikirkan hal-hal seperti itu, potongan terakhir permen apel itu pun masuk ke mulut Sensei.

 

Pada saat itu, aku diserang oleh rasa sedih yang tak terlukiskan. Rasa kehilangan seperti saat episode terakhir drama favoritku berakhir.

 

Belum selesai sampai di situ, aku kembali dihantam pukulan susulan. Sambil membungkus sisa stik kayu dengan tisu, Sensei melontarkan hal seperti ini.

 

"Baguslah Himegi-san tipe orang yang tidak memusingkan ciuman tidak langsung. Berkat itu aku jadi memikirkan event yang bagus."

 

"……?"

 

Untuk sesaat, aku tidak paham apa yang dikatakannya.

 

Setelah berlalu beberapa detik, aku baru menyadari bahwa itu adalah tanggapan atas perkataanku tadi, "Sudah SMA begini, ciuman tidak langsung kan tidak perlu terlalu dipusingkan kan……?".

 

"……A, tentu saja dong. Kan bukan anak SD lagi."

 

Meskipun secara refleks aku membalas dengan suara datar tanpa intonasi, di dalam hati aku berteriak histeris.

 

Jelas aku memusingkannya, donggg!?

 

Eh, tunggu sebentar. Jangan-jangan aku dianggap cewek yang suka main dengan banyak cowok?

 

Aku benar-benar syok, tetapi aku juga tidak mungkin mengoreksinya.

 

Habisnya, aku sudah telanjur menikmati ciuman tidak langsung dengan

Sensei memakai wajah pura-pura tidak peduli……

 

Lagipula, secara sengaja menyampaikan bahwa ini pertama kalinya

buatku itu rasanya terlalu malu.

 

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk terus berpura-pura menjadi cewek yang tidak memusingkan ciuman tidak langsung.

 

Dan karena sudah terlanjur disalahpahami, aku bertekad memanfaatkan situasi ini secara maksimal.

 

"Takahashi-kun, mumpung sudah datang untuk riset lapangan, mari makan banyak-banyak di lapak pedagang. Karena aku ingin mencoba banyak hal, bagaimana kalau kita beli satu per satu lalu berbagi makan bersama?"

 

"Kalau aku sih tidak apa-apa……"

 

"Sepakat ya!"

 

Aku membuang rasa malu maupun gengsi, lalu menerjang ke lapak pedagang lainnya. Kemudian aku memborong cumi panggang, sosis frankfurter, arum manis, hingga pisang cokelat.

 

Semua makanan itu kami bagi dan makan bersama. Jujur saja, aku merasa pasangan kekasih yang sudah lama berpacaran pun mungkin tidak akan berbagi makanan sebanyak ini, tetapi Tapi karena kami adalah Sensei dan sekretaris, dan ini juga merupakan riset lapangan, kuanggap tidak masalah.

 

"Takahashi-kun, bagaimana makanan dari lapak pedagang?"

 

"Semuanya sangat enak. ……Cuma, melapisi apel dengan permen gula, atau melapisi pisang dengan cokelat, kalau makan hal semacam ini terus bisa tidak sehat. Arum manis ini kan gumpalan gula…… Makan begini harus kujadikan yang terakhir dalam hidupku."

 

"Sisa umur kita masih ada sekitar 70 tahun lagi lho, apa tidak apa-apa?"

 

"Aku bakal berusaha bertahan. Bagaimanapun juga, dengan ini riset lapangan di lapak pedagang sudah sempurna. Kalau di skenario lain aku harus menulis festival kembang api lagi, aku pikir tidak bakal kesulitan. Mengorbankan sedikit kesehatan ada hasilnya juga."

 

"Baguslah kalau begitu~. ……Memang bagus kan?"

"Tentu saja. Karena kita datang kan memang untuk hal itu."

 

Mungkin karena aku kelihatan cemas, Sensei membalas sambil membusungkan dada.

 

"Omong-omong, selanjutnya bagaimana? Karena masih ada waktu sampai kembang api mulai, kalau Takahashi-kun tidak keberatan, selanjutnya mau coba permainan-permainan di festival?"

 

"Boleh juga. Tadi aku sempat melihat permainan menembak, dan jadi penasaran."

 

"Permainan menembak ya, bagus tuh. Ada juga lempar gelang sama serok bola kenyal kan."

 

"Kalau bola kenyal sih, walau dapat juga tidak ada gunanya ya."

 

"Anak-anak kecil bukankah bakal senang? Aku juga sewaktu kecil dulu, pernah menjatuhkannya dari balkon lantai 2 untuk bermain tahu. Walau setelah itu bolanya menggelinding hilang entah ke mana sih."

 

"Itu sih tidak boleh dong."

 

Sambil melakukan percakapan seperti itu, kami sampai di lapak permainan menembak. 1 kali main berisi 5 peluru dengan tarif 500 yen.

 

Hadiahnya didominasi oleh jajanan dan mainan kecil, tetapi sepertinya ada juga konsol gim terbaru sebagai hadiah utama.

"Kalau mendapatkan konsol gim di sini, berarti selama melihat kembang api kita bakal terus membawanya ya? Aku yakin itu sangat mengganggu sih."

 

"Takahashi-kun berpikir terlalu realistis ah. Harusnya orang-orang membidiknya tanpa terlalu banyak berpikir. Lagipula tidak usah cemas, toh tidak akan bisa dapat kok."

 

"Himegi-san juga bicara tanpa punya sedikit pun angan-angan… …"

 

Dengan begini, kami berdua yang realistis ini pun menantang permainan menembak. Sensei membayarkan tarif untuk 2 orang sebesar 1.000 yen, lalu kami masing-masing menerima senapan gabus.

 

Begitu peluru gabus dipasang di ujung senapan lalu pemicunya ditarik, suara 'pluk' yang ringan terdengar dan peluru pun meluncur.

 

Akan tetapi, pelurunya sama sekali tidak terbang ke tempat yang diincar.

 

Saat sedang mengisi peluru berikutnya, Sensei mulai melontarkan keluhan.

 

"Senapan ini akurasinya lumayan rendah ya. Sejak awal gabusnya bukan silinder yang sempurna, jadi tidak bakal bisa terbang lurus. Karena ringan, pengaruh hambatan udaranya juga pasti besar."

 

"Menganalisisnya terlalu tenang ah. Karena terlalu banyak mengeluh, kamu malah kelihatan jadi orang yang paling menikmati permainan menembak dibanding siapa pun tahu."

Setelah itu pun pelurunya terus terbang ke arah yang tidak jelas, dan kami berakhir tanpa mendapatkan apa pun.

 

Sambil berjalan menjauhi toko, Sensei kembali bergumam gusar.

 

"Konsol gim itu lagipula sudah ada di rumah, jadi kalau dapat pun malah bikin repot. Maksudku semua yang jadi hadiah di sana, bisa kubeli berapa pun kalau mau."

 

Aku tanpa sadar menyemburkan tawa.

 

"Takahashi-kun ini ternyata tidak mau kalah ya."

 

"Ini bukan alasan orang kalah kok. Hanya sekadar fakta saja."

 

"Bukankah orang-orang menyebutnya sebagai alasan orang kalah……?"

 

Selama ini aku merasa Sensei begitu dewasa sampai-sampai sulit percaya kalau kami seumuran, bisa melihat sisi kekanak-kanakan seperti ini rasanya membuatku senang. Kalau pada umumnya mungkin nilainya bakal turun, tetapi justru membuatku semakin menyukainya.

 

Selanjutnya kami memutuskan untuk mencoba permainan serok bola kenyal. 1 kali main harganya 500 yen, dan di awal sepertinya mendapatkan 3 buah poi.

 

Saat kucoba dengan petunjuk seperti permainan serok ikan mas yang kulakukan tahun lalu, ternyata lumayan mudah dan aku bisa mendapatkan 5 buah bola kenyal ukuran agak kecil.

Di sisi lain, Sensei tidak berhasil menyerok 1 buah pun.

 

"……Seperti yang kubilang tadi, bola kenyal itu barang tidak berguna yang tidak ada fungsinya kan."

 

"Kenapa setiap kali selesai selalu melontarkan alasan orang kalah sih?"

Sambil tertawa aku menyodorkan bola kenyal.

 

"Bola kenyalnya kalau mau bakal kuberi 1 buah lho?"

 

"Mau."

 

"Mau ternyata……"

 

Aku tersenyum kecut, lalu menyerahkan bola kenyal biru itu yang kebetulan kudapat dua untuk Sensei.

 

Walau cuma sekadar bola kenyal, tapi rasanya seperti barang kembaran dengan Sensei, membuatku merasa senang.

 

Saat mencoba menggenggam bola kenyal biru itu secara sembunyi-sembunyi, rasanya keras tetapi memiliki elastisitas, memberikan sensasi yang unik.

 

Selanjutnya kami berpindah ke lapak permainan lempar gelang. 1 kali main harganya 300 yen, dengan kesempatan melempar sebanyak 5 kali.

 

Kita melempar dengan membidik botol yang berjarak sekitar 3 meter, dan bakal mendapat hadiah tergantung jumlah gelang yang berhasil tersangkut.

 

"Boneka itu imut ya."

 

Aku menunjuk ke arah boneka kelinci yang ukurannya sepertinya ada sekitar 1 meter.

 

"Ah, tapi itu hadiah yang bisa didapat kalau berhasil 5 kali berturut-turut ya……"

 

"Kira-kira seberapa sulit ya?"

 

Sensei menerima gelang yang terbuat dari plastik, lalu membidik botol yang diletakkan tepat di depannya dan melemparnya.

 

Gelang itu melayang membentuk lintasan parabola yang indah, lalu tersangkut di botol seolah-olah tertarik masuk.

 

"──Aku sudah paham semuanya. Aku jago permainan ini."

 

"Mendadak bangkit!?"

 

"Pengaruh hambatan udaranya kecil, jadi gelang ini hampir selalu terbang sesuai perkiraan. Kalau mengulang gerakan ideal sebanyak lima kali, pasti bisa."

Sambil berkata dengan bangga, Sensei terus melempar gelangnya, tetapi dia melakukan kesalahan 1 kali sehingga jumlah keberhasilannya adalah 4 kali.

 

"Hebat banget, Takahashi-kun! Mau pilih hadiah yang mana?"

 

"Aku mau main 1 kali lagi, jadi pilih saja sesukamu."

 

Apakah karena ingin menjaga sensasi yang tadi agar tidak hilang, Sensei membayar 300 yen kepada nenek pemilik toko dengan gerakan seminimal mungkin, lalu menerima 5 buah gelang lagi.

 

Akan tetapi, kali berikutnya dia juga melakukan kesalahan 1 kali, dan jumlah keberhasilannya kembali 4 kali.

 

Pada akhirnya, saat berhasil mencapai angka sempurna, Sensei sudah menghabiskan total 1.800 yen.

 

"Ini, Himegi-san. Kelinci yang ini kan?"

 

"Boleh buat aku?"

 

"Tentu saja. Karena sudah tahu kalau aku punya bakat lempar gelang, aku berniat mengincar posisi nomor 1 di dunia."

 

Sensei melontarkan candaan ringan dengan raut malu-malu.

 

Mengetahui bahwa dia berpura-pura begitu serius bermain lempar gelang demi menutupi rasa malunya membuatku tersenyum.

"Ehehe. Terima kasih ya. Bakal kujaga baik-baik."

 

Saat mendekap boneka kelinci itu, perasaan hangat perlahan-lahan menyebar di dalam dadaku.

 

Kenyataan bahwa Sensei sudah berusaha berkali-kali demi diriku membuatku senang bukan main. Aku pun kembali membulatkan tekad untuk berusaha lebih keras lagi.

 

☆ ☆

 

Tepat di saat barang bawaan kami menjadi lumayan banyak, jumlah pengunjung semakin bertambah.

 

Karena waktu peluncuran sudah dekat, saat kami berpindah ke lapangan utama, kerumunannya jauh lebih padat. Benar-benar mirip di dalam kereta yang penuh sesak, sampai-sampai kami hampir tidak bisa bergerak dengan leluasa.

 

"Makin padat ya…… Kita harus berhati-hati supaya tidak terpisah dari Takahashi-kun."

 

"Kalau sampai terpisah, mari kita masing-masing langsung pulang saja."

 

"Mana usaha untuk berkumpul kembalinya!?"

 

"Lagipula walau berkumpul kembali, toh ujung-ujungnya bakal berpisah di dalam kereta kan."

 

"Memang benar begitu sih……"

 

Aku mengerucutkan bibir sebagai tanda tidak puas.

 

"……Supaya tidak terpisah, aku pegangan ke Takahashi-kun ya."

 

Mengatakannya begitu, aku memegang ujung lengan yukata

Takahashi-kun menggunakan tanganku yang bebas. Aku sendiri sadar bahwa tindakan ini cukup genit.

 

Terlebih lagi saat ini aku terus mengerutkan bibir. Mana ada cowok yang tidak berdebar melihatku seperti ini.

 

Sambil berpikir begitu saat mengamati Sensei, dia memalingkan wajahnya seperti merasa malu. Sesuai rencana.

 

Saat menunggu di sudut lapangan seperti itu, peluncuran kembang api pun dimulai.

 

Suara gemuruh bergema berkali-kali di langit malam, dan kembang api berwarna-warni pun bermekaran. Warna merah yang cerah. Warna biru yang dalam. Warna emas yang megah. Cahaya yang berlapis-lapis menerangi langit malam selama beberapa detik, lalu perlahan-lahan melebur ke dalam kegelapan.

 

Setelah terpesona melihatnya beberapa saat, aku mencoba memotretnya dengan ponsel untuk dijadikan bahan materi, tetapi tidak bisa terpotret dengan baik. Terlihat hanya seperti titik-titik cahaya saja, dan keindahan kembang api aslinya sama sekali tidak tersampaikan. Mungkin memang harus menggunakan kamera yang lebih bagus.

 

"Gimana ya…… tidak terlalu bisa terpotret dengan bagus ya."

 

Sensei yang memegang ponsel di sampingku mengatakannya dengan nada kecewa. Sepertinya mengalami situasi yang sama denganku.

 

"Aku juga tidak bisa."

 

"Begitu ya. Kalau begitu, tidak ada pilihan selain melihat dan mengingatnya baik-back, lalu menjadikannya ilustrasi sambil mengingatnya kembali."

 

"Kembang api yang sedang kita lihat sekarang, bakal direproduksi di dalam gim kan?"

 

"Tentu saja."

 

"Sensasinya terasa agak aneh ya…… Momen saat dunia 『Houkago Jihen』 meluas bisa kudampingi…… tapi, bagi orang sepertiku ini rasanya tidak tahu diri ya. Padahal yang membuatnya adalah Takahashi-kun."

 

"Tidak kok. Penentuan arah skenarionya, itu semua berkat Himegi-san tahu. Kalau cuma aku sendirian, aku tidak akan memikirkan apa pun dan saat ini mungkin sedang mengerang di depan komputer. Makanya, terima kasih ya."

 

"Sama-sama……"

Ucapan terima kasih dari Sensei membuat hatiku dipenuhi rasa puas.

 

Bisa berguna bagi orang yang kukagumi, lalu mendapat ucapan terima kasih darinya.

 

Sampai beberapa waktu lalu, aku tidak tahu kalau kebahagiaan seperti ini ternyata ada.

 

Jangan-jangan, menjadi sekretaris adalah pekerjaan yang paling cocok untukku.

 

☆ ☆

 

Namun, waktu yang menyenangkan tidak berlangsung selamanya.

 

Dalam sekejap, pertunjukan kembang api pun berakhir

 

Di tengah bubuk medou yang merebak, para pengunjung yang melihat mulai berjalan serentak menuju ke arah stasiun. Kami berdua pun ikut bergabung ke dalam gelombang itu.

 

……Namun, setelah berjalan beberapa saat, rasa sakit menjalar di kaki kananku.

 

"……Anu, Takahashi-kun. Boleh aku istirahat sebentar di bangku sana?"

 

"Boleh saja, tapi ada apa?"

 

"Tali geta-nya sakit……"

Aku duduk di bangku taman, lalu menerangi area kaki menggunakan ponsel.

 

Karena gelap tidak terlalu kelihatan jelas, tetapi pangkal ibu jari dan jari telunjuk sepertinya memerah.

 

Walau tidak berdarah, tetapi terasa sangat sakit. Aku mencoba mengelus bagian yang sakit, tetapi tentu saja tidak menjadi lebih baik. Setidaknya kalau ada plester……

 

Tanpa sadar aku mendakap erat-erat boneka kelinci yang tadi didapatkan untukku.

 

"Ini gara-gara aku memaksakan diri berjalan dengan geta yang belum biasa kupakai. Takahashi-kun, kamu boleh pulang duluan kok."

 

"Tidak, tidak, kamu bicara apa sih."

 

"Habisnya, kamu ingin segera bekerja kan? Mumpung sudah mendapatkan inspirasi, tanpa perlu memikirkanku, lahirkanlah karya yang luar biasa."

 

"Jangan-jangan, kamu mengira aku ini orang yang tidak punya perasaan?"

 

"Bukan begitu maksudku, Tapi kalau dipikir secara praktis, memang tidak ada yang bisa dilakukan lagi…… Ke stasiun masih harus berjalan lagi, dan keramaiannya sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat. Karena aku cuma jadi beban, kamu boleh meninggalkanku kok. Kalau istirahat di sini aku pikir bakal jadi lebih baik."

 

Begitulah maksudku menyampaikan keputusan yang rasional, tetapi Sensei mengernyitkan keningnya dengan raut tidak nyaman.

 

"......Kalau tidak bisa berjalan, kita selesaikan dengan bantuan teknologi modern. Tunggu sebentar sampai orang-orang berkurang, lalu kita berjalan ke jalan besar dan panggil taksi untuk pulang."

 

"Hal semacam itu, boros──"

 

"Karena bisa masuk biaya operasional, jadi tidak usah pikirkan ongkos taksinya. Berkat Himegi-san isi skenarionya jadi bagus, jadi biarkan aku melakukan hal sekelas ini."

 

Sensei mengatakannya dengan nada bicara yang sedikit keras.

 

Seolah-olah mengatakan bahwa dia tidak menerima bantahan.

 

"……Aku paham. Terima kasih ya."

 

Dengan begini kami duduk di bangku di sudut taman sambil memandangi orang-orang yang berlalu-lalang.

 

Setelah berlalu beberapa saat aku baru menyadarinya, Sensei sama sekali tidak melihat ponselnya dan malah melamun. Padahal biasanya dia selalu berusaha bekerja sambil menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu.

Jangan-jangan, dia sedang memperhatikanku?

 

"……Anu, Takahashi-kun. Karena pasti senggang, kamu boleh bekerja lho?"

 

"Tidak, situasi seperti ini kan jarang terjadi, jadi kupikir ini bisa jadi bahan wawancara lapangan tersendiri. Mengamati orang-orang yang pulang, serta mencari tahu emosi seperti apa yang bakal kurasakan."

 

"Begitu ya."

 

Aku tanpa sadar malah tertawa. Sensei ternyata bekerja dengan benar.

 

"……Anu, Takahashi-kun. Kalau heroine di dalam gim mengalami sakit kaki seperti aku begini, kira-kira tindakan seperti apa yang bakal diambil oleh sang tokoh utama?"

 

"Benar juga ya……"

 

Setelah berpikir sejenak, Takahashi-kun tertawa seperti mengejek diri sendiri.

 

"Setidaknya, pilihan taksi itu tidak ada sih. Soalnya daya tarik secara ceritanya sama sekali nol."

 

"Memang benar sih."

 

"Kalau membuat event seperti itu di gim…… menggendong heroine di punggung mungkin?"

"……Begitu ya."

 

Menggendong di punggung ya. Pemikiran itu tidak ada padaku.

 

Kaki sakit, lalu digendong di punggung. Kalau bisa, aku ingin dicoba digendong.

 

Tapi, pasti bakal mendapat tatapan mata penasaran dari orang-orang di

sekitar ya. Soalnya kalau aku sih pasti bakal melihatnya.

 

Tidak, atau justru mengalihkan pandangan supaya tidak bertatapan mata?

 

Aku mencoba membayangkannya sedikit. Dari seberang trotoar, si cowok berjalan mendekat sambil menggendong pacarnya di punggung.

 

──Ini, kalau dilihat dari luar bukankah bakal bikin iri? karena orang-orang bisa menebak bahwa dia sedang menggendong pacarnya yang cedera kaki, dan lagipula, bukan berarti tindakan itu sampai dianggap tidak pantas.

 

Bagaimana ini, apakah aku coba mengusulkannya ya. Di mata Sensei, aku sudah menjadi cewek yang santai dan tidak mempermasalahkan ciuman tidak langsung, jadi mungkin tidak terasa canggung kan……?

 

Setelah ragu-ragu beberapa saat, aku menggenggam erat boneka kelinci, lalu menguatkan tekad dan membuka mulut.

 

"Atas nama riset lapangan, mau coba melakukannya?"

"……? Melakukan apa?"

 

"Gendong."

 

"Hah……?"

 

Sensei tercengang sampai tidak bisa berkata-kata.

 

"Gendong, apakah terkesan tidak realistis ya?"

 

"Bagaimana ya…… Setidaknya kalau aku, di dunia nyata belum pernah melihatnya sih."

 

"Tapi sebagai cara menggendong orang cedera itu tepat kan? Seperti sekarang begini, walau tidak sampai perlu memanggil ambulans, tapi ada kan saat-saat di mana jadi tidak bisa berjalan."

 

"Kalau itu…… benar juga ya. Terutama di tempat di mana mobil tidak bisa masuk seperti ini, mungkin itu adalah solusi yang paling optimal. Karena tidak membutuhkan peralatan juga."

 

"Tapi kan di dunia nyata hampir tidak ada kesempatan untuk melihatnya kan? Bukankah yang seperti itu justru terasa menarik?"

 

"Memang benar. Mungkin bagus untuk dijadikan bahan event."

 

"Kalau begitu coba lihat, kamu boleh melakukan wawancara lapangan menggunakanku lho."

 

Saat aku mengatakannya sambil bercanda, Sensei memalingkan pandangan mata seperti merasa malu.

 

Namun dia segera bangkit dari bangku, membelakangiku lalu berjongkok sedikit.

 

"……Kalau Himegi-san tidak keberatan sih."

 

Sensei mengatakannya dengan suara pelan yang seolah-olah hampir menghilang.

 

Aku berniat membalasnya, tetapi karena organ dalam rasanya mau melompat keluar dari mulut aku jadi tidak sanggup. Tubuhku berdenyut 'deg-deg' dengan kencang, seakan-akan seluruh tubuhku telah berubah menjadi jantung.

 

Akan tetapi, aku tidak boleh membuat Sensei menunggu. Aku pun bangkit tanpa suara, lalu perlahan-lahan menyandarkan tubuhku ke punggungnya yang sudah berada tepat di depanku.

 

Begitu tubuh kami bersentuhan, aku merasakan suhu tubuh Sensei dan kerasnya otot-ototnya.

 

Menerima kenyataan bahwa saat ini aku sedang menempelkan tubuh secara rapat dengan pria idamanku, membuat kepalaku terasa pusing melayang.

 

Punggung Sensei ternyata lumayan lebar. Lalu dari lehernya tercium aroma khas anak cowok……

"……Anu, aku tidak berat kan?"

 

"Tidak apa-apa. Aku coba berdiri, jadi berpeganglah."

 

"Iya……"

 

Aku melingkarkan kedua tanganku ke leher Sensei.

 

Baru sekarang aku menyadarinya, bahwa dengan posisi seperti ini dada milikku bakal tertekan ke Sensei, tetapi karena ini force majeure jadi mau bagaimana lagi.

 

Aku sempat berpikir untuk menyelipkan boneka di antara kami sebagai penyangga, tetapi kalau sampai kehilangan keseimbangan, itu bisa berbahaya. Lagi pula, aku ingin Sensei merasakan keberadaanku dengan jelas, jadi aku mengurungkan niat itu.

 

Kesempatan untuk berdekatan seperti ini dengan gadis seusianya kan jarang terjadi, jadi dia pasti bakal menyadarinya.

 

Tepat pada saat aku sedang memikirkan hal tidak sopan seperti itu, kedua tangan Sensei menyelinap masuk ke belakang lututku.

 

Sensei mengerahkan tenaga lalu berdiri, lalu berjalan maju sekitar dua meter.

 

"Sepertinya bisa berjalan secara normal. Mau pindah ke jalan besar

seperti ini saja?"

Sensei mengajukan pertanyaan sambil tetap menghadap ke depan. Dia mungkin berniat berpura-pura tenang, tetapi suaranya yang meninggi membuat kepanikannya terbongkar jelas.

 

Aku jujur saja merasa senang karena mengetahui dia juga gugup.

 

"……Mohon bantuannya ya."

 

Saat aku mengangguk, Sensei mulai berjalan dengan perlahan.

 

Keluar dari taman, menyusuri jalan sempit ke arah stasiun. Berkat waktu yang sudah berlalu sejak festival kembang api berakhir, pejalan kaki menjadi lumayan berkurang.

 

Lampu jalan berwarna kuning menerangi aspal dengan jarak yang teratur. Jalan yang dilewati tanpa memikirkan apa pun saat datang tadi, sekarang terasa sangat puitis dan berkesan.

 

Orang-orang yang sesekali berpapasan mengamati kami berdua dengan penuh rasa ingin tahu. Apakah mereka sedang tertawa mengejek kami berdua, ataukah merasa iri.

 

Yah, terserah saja lah.

 

Sambil terguncang-guncang di punggung Sensei, aku merasa seperti heroine dalam sebuah film, sampai rasanya ingin berlari.

 

Walau tentu saja, karena kakiku sakit jadi tidak mungkin bisa sih.



Chapter 3 | ToC | Chapter 5

Post a Comment

Post a Comment

close