Bab 4: Pergi ke Festival Kembang Api Bersama Siswa SMA Berkemampuan Tinggi dengan Dalih Wawancara
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku
sampai melakukan ciuman tidak langsung dengan lawan jenis.
Apalagi, dengan Sensei.
Aku sudah tidak bisa memikirkan hal lain
lagi. Seluruh sarafku terpusat pada tindakan makan permen apel secara
bergantian ini.
Aku makan bagian sambungan yang sudah
dimakan Sensei. Lalu Sensei makan bagian lanjutannya lagi. Bukankah ini secara
praktis sudah terhitung ciuman?
Tidak, malah aku merasa ini mungkin
merupakan tindakan yang menunjukkan kasih sayang yang lebih dalam daripada
sekadar ciuman.
Hari ini aku mungkin tidak akan bisa
tidur.
……Sensei sendiri, bagaimana ya
pemikirannya? Apakah dia menganggapku sebagai seorang lawan jenis?
Sensei sangat berbeda dari cowok biasa,
jadi aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya
Namun dari nada bicaranya tadi, Sensei
tampak menganggap ciuman tidak langsung sebagai tindakan yang spesial. Walau
mungkin dia hanya menyampaikan pandangan umum, ada kemungkinan yang cukup besar
bahwa Sensei sendiri juga menganggap ciuman tidak langsung dengan lawan jenis
sebagai sesuatu yang istimewa.
Kuharap, semoga memang begitu……
Saat pikiranku terus berputar memikirkan
hal-hal seperti itu, potongan terakhir permen apel itu pun masuk ke mulut
Sensei.
Pada saat itu, aku diserang oleh rasa
sedih yang tak terlukiskan. Rasa kehilangan seperti saat episode terakhir drama
favoritku berakhir.
Belum selesai sampai di situ, aku kembali
dihantam pukulan susulan. Sambil membungkus sisa stik kayu dengan tisu, Sensei
melontarkan hal seperti ini.
"Baguslah Himegi-san tipe orang yang
tidak memusingkan ciuman tidak langsung. Berkat itu aku jadi memikirkan event
yang bagus."
"……?"
Untuk sesaat, aku tidak paham apa yang
dikatakannya.
Setelah berlalu beberapa detik, aku baru
menyadari bahwa itu adalah tanggapan atas perkataanku tadi, "Sudah SMA
begini, ciuman tidak langsung kan tidak perlu terlalu dipusingkan kan……?".
"……A, tentu saja dong. Kan bukan
anak SD lagi."
Meskipun secara refleks aku membalas
dengan suara datar tanpa intonasi, di dalam hati aku berteriak histeris.
Jelas aku memusingkannya, donggg!?
Eh, tunggu sebentar. Jangan-jangan aku
dianggap cewek yang suka main dengan banyak cowok?
Aku benar-benar syok, tetapi aku juga
tidak mungkin mengoreksinya.
Habisnya, aku sudah telanjur menikmati
ciuman tidak langsung dengan
Sensei memakai wajah pura-pura tidak
peduli……
Lagipula, secara sengaja menyampaikan
bahwa ini pertama kalinya
buatku itu rasanya terlalu malu.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk
terus berpura-pura menjadi cewek yang tidak memusingkan ciuman tidak langsung.
Dan karena sudah terlanjur disalahpahami,
aku bertekad memanfaatkan situasi ini secara maksimal.
"Takahashi-kun, mumpung sudah datang
untuk riset lapangan, mari makan banyak-banyak di lapak pedagang. Karena aku
ingin mencoba banyak hal, bagaimana kalau kita beli satu per satu lalu berbagi
makan bersama?"
"Kalau aku sih tidak apa-apa……"
"Sepakat ya!"
Aku membuang rasa malu maupun gengsi,
lalu menerjang ke lapak pedagang lainnya. Kemudian aku memborong cumi panggang,
sosis frankfurter, arum manis, hingga pisang cokelat.
Semua makanan itu kami bagi dan makan
bersama. Jujur saja, aku merasa pasangan kekasih yang sudah lama berpacaran pun
mungkin tidak akan berbagi makanan sebanyak ini, tetapi Tapi karena kami adalah
Sensei dan sekretaris, dan ini juga merupakan riset lapangan, kuanggap tidak
masalah.
"Takahashi-kun, bagaimana makanan
dari lapak pedagang?"
"Semuanya sangat enak. ……Cuma,
melapisi apel dengan permen gula, atau melapisi pisang dengan cokelat, kalau
makan hal semacam ini terus bisa tidak sehat. Arum manis ini kan gumpalan
gula…… Makan begini harus kujadikan yang terakhir dalam hidupku."
"Sisa umur kita masih ada sekitar 70
tahun lagi lho, apa tidak apa-apa?"
"Aku bakal berusaha bertahan.
Bagaimanapun juga, dengan ini riset lapangan di lapak pedagang sudah sempurna.
Kalau di skenario lain aku harus menulis festival kembang api lagi, aku pikir
tidak bakal kesulitan. Mengorbankan sedikit kesehatan ada hasilnya juga."
"Baguslah kalau begitu~. ……Memang
bagus kan?"
"Tentu saja. Karena kita datang kan
memang untuk hal itu."
Mungkin karena aku kelihatan cemas,
Sensei membalas sambil membusungkan dada.
"Omong-omong, selanjutnya bagaimana?
Karena masih ada waktu sampai kembang api mulai, kalau Takahashi-kun tidak
keberatan, selanjutnya mau coba permainan-permainan di festival?"
"Boleh juga. Tadi aku sempat melihat
permainan menembak, dan jadi penasaran."
"Permainan menembak ya, bagus tuh.
Ada juga lempar gelang sama serok bola kenyal kan."
"Kalau bola kenyal sih, walau dapat
juga tidak ada gunanya ya."
"Anak-anak kecil bukankah bakal
senang? Aku juga sewaktu kecil dulu, pernah menjatuhkannya dari balkon lantai 2
untuk bermain tahu. Walau setelah itu bolanya menggelinding hilang entah ke
mana sih."
"Itu sih tidak boleh dong."
Sambil melakukan percakapan seperti itu,
kami sampai di lapak permainan menembak. 1 kali main berisi 5 peluru dengan
tarif 500 yen.
Hadiahnya didominasi oleh jajanan dan
mainan kecil, tetapi sepertinya ada juga konsol gim terbaru sebagai hadiah
utama.
"Kalau mendapatkan konsol gim di
sini, berarti selama melihat kembang api kita bakal terus membawanya ya? Aku
yakin itu sangat mengganggu sih."
"Takahashi-kun berpikir terlalu
realistis ah. Harusnya orang-orang membidiknya tanpa terlalu banyak berpikir.
Lagipula tidak usah cemas, toh tidak akan bisa dapat kok."
"Himegi-san juga bicara tanpa punya
sedikit pun angan-angan… …"
Dengan begini, kami berdua yang realistis
ini pun menantang permainan menembak. Sensei membayarkan tarif untuk 2 orang
sebesar 1.000 yen, lalu kami masing-masing menerima senapan gabus.
Begitu peluru gabus dipasang di ujung
senapan lalu pemicunya ditarik, suara 'pluk' yang ringan terdengar dan peluru
pun meluncur.
Akan tetapi, pelurunya sama sekali tidak
terbang ke tempat yang diincar.
Saat sedang mengisi peluru berikutnya,
Sensei mulai melontarkan keluhan.
"Senapan ini akurasinya lumayan
rendah ya. Sejak awal gabusnya bukan silinder yang sempurna, jadi tidak bakal
bisa terbang lurus. Karena ringan, pengaruh hambatan udaranya juga pasti
besar."
"Menganalisisnya terlalu tenang ah.
Karena terlalu banyak mengeluh, kamu malah kelihatan jadi orang yang paling
menikmati permainan menembak dibanding siapa pun tahu."
Setelah itu pun pelurunya terus terbang
ke arah yang tidak jelas, dan kami berakhir tanpa mendapatkan apa pun.
Sambil berjalan menjauhi toko, Sensei
kembali bergumam gusar.
"Konsol gim itu lagipula sudah ada
di rumah, jadi kalau dapat pun malah bikin repot. Maksudku semua yang jadi
hadiah di sana, bisa kubeli berapa pun kalau mau."
Aku tanpa sadar menyemburkan tawa.
"Takahashi-kun ini ternyata tidak
mau kalah ya."
"Ini bukan alasan orang kalah kok.
Hanya sekadar fakta saja."
"Bukankah orang-orang menyebutnya
sebagai alasan orang kalah……?"
Selama ini aku merasa Sensei begitu
dewasa sampai-sampai sulit percaya kalau kami seumuran, bisa melihat sisi
kekanak-kanakan seperti ini rasanya membuatku senang. Kalau pada umumnya
mungkin nilainya bakal turun, tetapi justru membuatku semakin menyukainya.
Selanjutnya kami memutuskan untuk mencoba
permainan serok bola kenyal. 1 kali main harganya 500 yen, dan di awal
sepertinya mendapatkan 3 buah poi.
Saat kucoba dengan petunjuk seperti
permainan serok ikan mas yang kulakukan tahun lalu, ternyata lumayan mudah dan
aku bisa mendapatkan 5 buah bola kenyal ukuran agak kecil.
Di sisi lain, Sensei tidak berhasil
menyerok 1 buah pun.
"……Seperti yang kubilang tadi, bola
kenyal itu barang tidak berguna yang tidak ada fungsinya kan."
"Kenapa setiap kali selesai selalu
melontarkan alasan orang kalah sih?"
Sambil tertawa aku menyodorkan bola
kenyal.
"Bola kenyalnya kalau mau bakal
kuberi 1 buah lho?"
"Mau."
"Mau ternyata……"
Aku tersenyum kecut, lalu menyerahkan
bola kenyal biru itu yang kebetulan kudapat dua untuk Sensei.
Walau cuma sekadar bola kenyal, tapi
rasanya seperti barang kembaran dengan Sensei, membuatku merasa senang.
Saat mencoba menggenggam bola kenyal biru
itu secara sembunyi-sembunyi, rasanya keras tetapi memiliki elastisitas,
memberikan sensasi yang unik.
Selanjutnya kami berpindah ke lapak
permainan lempar gelang. 1 kali main harganya 300 yen, dengan kesempatan
melempar sebanyak 5 kali.
Kita melempar dengan membidik botol yang
berjarak sekitar 3 meter, dan bakal mendapat hadiah tergantung jumlah gelang
yang berhasil tersangkut.
"Boneka itu imut ya."
Aku menunjuk ke arah boneka kelinci yang
ukurannya sepertinya ada sekitar 1 meter.
"Ah, tapi itu hadiah yang bisa
didapat kalau berhasil 5 kali berturut-turut ya……"
"Kira-kira seberapa sulit ya?"
Sensei menerima gelang yang terbuat dari
plastik, lalu membidik botol yang diletakkan tepat di depannya dan melemparnya.
Gelang itu melayang membentuk lintasan
parabola yang indah, lalu tersangkut di botol seolah-olah tertarik masuk.
"──Aku
sudah paham semuanya. Aku jago permainan ini."
"Mendadak bangkit!?"
"Pengaruh hambatan udaranya kecil,
jadi gelang ini hampir selalu terbang sesuai perkiraan. Kalau mengulang gerakan
ideal sebanyak lima kali, pasti bisa."
Sambil berkata dengan bangga, Sensei
terus melempar gelangnya, tetapi dia melakukan kesalahan 1 kali sehingga jumlah
keberhasilannya adalah 4 kali.
"Hebat banget, Takahashi-kun! Mau
pilih hadiah yang mana?"
"Aku mau main 1 kali lagi, jadi
pilih saja sesukamu."
Apakah karena ingin menjaga sensasi yang
tadi agar tidak hilang, Sensei membayar 300 yen kepada nenek pemilik toko
dengan gerakan seminimal mungkin, lalu menerima 5 buah gelang lagi.
Akan tetapi, kali berikutnya dia juga
melakukan kesalahan 1 kali, dan jumlah keberhasilannya kembali 4 kali.
Pada akhirnya, saat berhasil mencapai
angka sempurna, Sensei sudah menghabiskan total 1.800 yen.
"Ini, Himegi-san. Kelinci yang ini
kan?"
"Boleh buat aku?"
"Tentu saja. Karena sudah tahu kalau
aku punya bakat lempar gelang, aku berniat mengincar posisi nomor 1 di
dunia."
Sensei melontarkan candaan ringan dengan
raut malu-malu.
Mengetahui bahwa dia berpura-pura begitu
serius bermain lempar gelang demi menutupi rasa malunya membuatku tersenyum.
"Ehehe. Terima kasih ya. Bakal
kujaga baik-baik."
Saat mendekap boneka kelinci itu,
perasaan hangat perlahan-lahan menyebar di dalam dadaku.
Kenyataan bahwa Sensei sudah berusaha
berkali-kali demi diriku membuatku senang bukan main. Aku pun kembali
membulatkan tekad untuk berusaha lebih keras lagi.
☆ ☆
Tepat di saat barang bawaan kami menjadi
lumayan banyak, jumlah pengunjung semakin bertambah.
Karena waktu peluncuran sudah dekat, saat
kami berpindah ke lapangan utama, kerumunannya jauh lebih padat. Benar-benar
mirip di dalam kereta yang penuh sesak, sampai-sampai kami hampir tidak bisa
bergerak dengan leluasa.
"Makin padat ya…… Kita harus
berhati-hati supaya tidak terpisah dari Takahashi-kun."
"Kalau sampai terpisah, mari kita
masing-masing langsung pulang saja."
"Mana usaha untuk berkumpul
kembalinya!?"
"Lagipula walau berkumpul kembali,
toh ujung-ujungnya bakal berpisah di dalam kereta kan."
"Memang benar begitu sih……"
Aku mengerucutkan bibir sebagai tanda
tidak puas.
"……Supaya tidak terpisah, aku
pegangan ke Takahashi-kun ya."
Mengatakannya begitu, aku memegang ujung
lengan yukata
Takahashi-kun menggunakan tanganku yang
bebas. Aku sendiri sadar bahwa tindakan ini cukup genit.
Terlebih lagi saat ini aku terus
mengerutkan bibir. Mana ada cowok yang tidak berdebar melihatku seperti ini.
Sambil berpikir begitu saat mengamati
Sensei, dia memalingkan wajahnya seperti merasa malu. Sesuai rencana.
Saat menunggu di sudut lapangan seperti
itu, peluncuran kembang api pun dimulai.
Suara gemuruh bergema berkali-kali di
langit malam, dan kembang api berwarna-warni pun bermekaran. Warna merah yang
cerah. Warna biru yang dalam. Warna emas yang megah. Cahaya yang berlapis-lapis
menerangi langit malam selama beberapa detik, lalu perlahan-lahan melebur ke
dalam kegelapan.
Setelah terpesona melihatnya beberapa
saat, aku mencoba memotretnya dengan ponsel untuk dijadikan bahan materi,
tetapi tidak bisa terpotret dengan baik. Terlihat hanya seperti titik-titik
cahaya saja, dan keindahan kembang api aslinya sama sekali tidak tersampaikan.
Mungkin memang harus menggunakan kamera yang lebih bagus.
"Gimana ya…… tidak terlalu bisa
terpotret dengan bagus ya."
Sensei yang memegang ponsel di sampingku
mengatakannya dengan nada kecewa. Sepertinya mengalami situasi yang sama
denganku.
"Aku juga tidak bisa."
"Begitu ya. Kalau begitu, tidak ada
pilihan selain melihat dan mengingatnya baik-back, lalu menjadikannya ilustrasi
sambil mengingatnya kembali."
"Kembang api yang sedang kita lihat
sekarang, bakal direproduksi di dalam gim kan?"
"Tentu saja."
"Sensasinya
terasa agak aneh ya…… Momen saat dunia 『Houkago
Jihen』 meluas bisa kudampingi…… tapi, bagi orang
sepertiku ini rasanya tidak tahu diri ya. Padahal yang membuatnya adalah
Takahashi-kun."
"Tidak kok. Penentuan arah
skenarionya, itu semua berkat Himegi-san tahu. Kalau cuma aku sendirian, aku
tidak akan memikirkan apa pun dan saat ini mungkin sedang mengerang di depan
komputer. Makanya, terima kasih ya."
"Sama-sama……"
Ucapan terima kasih dari Sensei membuat
hatiku dipenuhi rasa puas.
Bisa berguna bagi orang yang kukagumi,
lalu mendapat ucapan terima kasih darinya.
Sampai beberapa waktu lalu, aku tidak
tahu kalau kebahagiaan seperti ini ternyata ada.
Jangan-jangan, menjadi sekretaris adalah
pekerjaan yang paling cocok untukku.
☆ ☆
Namun, waktu yang menyenangkan tidak
berlangsung selamanya.
Dalam sekejap, pertunjukan kembang api
pun berakhir
Di tengah bubuk medou yang merebak, para
pengunjung yang melihat mulai berjalan serentak menuju ke arah stasiun. Kami
berdua pun ikut bergabung ke dalam gelombang itu.
……Namun, setelah berjalan beberapa saat,
rasa sakit menjalar di kaki kananku.
"……Anu, Takahashi-kun. Boleh aku
istirahat sebentar di bangku sana?"
"Boleh saja, tapi ada apa?"
"Tali geta-nya sakit……"
Aku duduk di bangku taman, lalu menerangi
area kaki menggunakan ponsel.
Karena gelap tidak terlalu kelihatan
jelas, tetapi pangkal ibu jari dan jari telunjuk sepertinya memerah.
Walau tidak berdarah, tetapi terasa
sangat sakit. Aku mencoba mengelus bagian yang sakit, tetapi tentu saja tidak
menjadi lebih baik. Setidaknya kalau ada plester……
Tanpa sadar aku mendakap erat-erat boneka
kelinci yang tadi didapatkan untukku.
"Ini gara-gara aku memaksakan diri
berjalan dengan geta yang belum biasa kupakai. Takahashi-kun, kamu boleh pulang
duluan kok."
"Tidak, tidak, kamu bicara apa
sih."
"Habisnya, kamu ingin segera bekerja
kan? Mumpung sudah mendapatkan inspirasi, tanpa perlu memikirkanku, lahirkanlah
karya yang luar biasa."
"Jangan-jangan, kamu mengira aku ini
orang yang tidak punya perasaan?"
"Bukan begitu maksudku, Tapi kalau
dipikir secara praktis, memang tidak ada yang bisa dilakukan lagi…… Ke stasiun
masih harus berjalan lagi, dan keramaiannya sepertinya tidak akan berkurang
dalam waktu dekat. Karena aku cuma jadi beban, kamu boleh meninggalkanku kok.
Kalau istirahat di sini aku pikir bakal jadi lebih baik."
Begitulah maksudku menyampaikan keputusan
yang rasional, tetapi Sensei mengernyitkan keningnya dengan raut tidak nyaman.
"......Kalau tidak bisa berjalan,
kita selesaikan dengan bantuan teknologi modern. Tunggu sebentar sampai
orang-orang berkurang, lalu kita berjalan ke jalan besar dan panggil taksi
untuk pulang."
"Hal
semacam itu, boros──"
"Karena bisa masuk biaya
operasional, jadi tidak usah pikirkan ongkos taksinya. Berkat Himegi-san isi
skenarionya jadi bagus, jadi biarkan aku melakukan hal sekelas ini."
Sensei mengatakannya dengan nada bicara
yang sedikit keras.
Seolah-olah mengatakan bahwa dia tidak
menerima bantahan.
"……Aku paham. Terima kasih ya."
Dengan begini kami duduk di bangku di
sudut taman sambil memandangi orang-orang yang berlalu-lalang.
Setelah berlalu beberapa saat aku baru
menyadarinya, Sensei sama sekali tidak melihat ponselnya dan malah melamun.
Padahal biasanya dia selalu berusaha bekerja sambil menyingkirkan hal-hal yang
tidak perlu.
Jangan-jangan, dia sedang
memperhatikanku?
"……Anu, Takahashi-kun. Karena pasti
senggang, kamu boleh bekerja lho?"
"Tidak, situasi seperti ini kan
jarang terjadi, jadi kupikir ini bisa jadi bahan wawancara lapangan tersendiri.
Mengamati orang-orang yang pulang, serta mencari tahu emosi seperti apa yang
bakal kurasakan."
"Begitu ya."
Aku tanpa sadar malah tertawa. Sensei
ternyata bekerja dengan benar.
"……Anu, Takahashi-kun. Kalau heroine
di dalam gim mengalami sakit kaki seperti aku begini, kira-kira tindakan
seperti apa yang bakal diambil oleh sang tokoh utama?"
"Benar juga ya……"
Setelah berpikir sejenak, Takahashi-kun
tertawa seperti mengejek diri sendiri.
"Setidaknya, pilihan taksi itu tidak
ada sih. Soalnya daya tarik secara ceritanya sama sekali nol."
"Memang benar sih."
"Kalau membuat event seperti itu di
gim…… menggendong heroine di punggung mungkin?"
"……Begitu ya."
Menggendong di punggung ya. Pemikiran itu
tidak ada padaku.
Kaki sakit, lalu digendong di punggung.
Kalau bisa, aku ingin dicoba digendong.
Tapi, pasti bakal mendapat tatapan mata
penasaran dari orang-orang di
sekitar ya. Soalnya kalau aku sih pasti
bakal melihatnya.
Tidak, atau justru mengalihkan pandangan
supaya tidak bertatapan mata?
Aku mencoba membayangkannya sedikit. Dari
seberang trotoar, si cowok berjalan mendekat sambil menggendong pacarnya di
punggung.
──Ini,
kalau dilihat dari luar bukankah bakal bikin iri? karena orang-orang bisa
menebak bahwa dia sedang menggendong pacarnya yang cedera kaki, dan lagipula,
bukan berarti tindakan itu sampai dianggap tidak pantas.
Bagaimana ini, apakah aku coba
mengusulkannya ya. Di mata Sensei, aku sudah menjadi cewek yang santai dan
tidak mempermasalahkan ciuman tidak langsung, jadi mungkin tidak terasa
canggung kan……?
Setelah ragu-ragu beberapa saat, aku
menggenggam erat boneka kelinci, lalu menguatkan tekad dan membuka mulut.
"Atas nama riset lapangan, mau coba
melakukannya?"
"……? Melakukan apa?"
"Gendong."
"Hah……?"
Sensei tercengang sampai tidak bisa
berkata-kata.
"Gendong, apakah terkesan tidak
realistis ya?"
"Bagaimana ya…… Setidaknya kalau
aku, di dunia nyata belum pernah melihatnya sih."
"Tapi sebagai cara menggendong orang
cedera itu tepat kan? Seperti sekarang begini, walau tidak sampai perlu
memanggil ambulans, tapi ada kan saat-saat di mana jadi tidak bisa
berjalan."
"Kalau itu…… benar juga ya. Terutama
di tempat di mana mobil tidak bisa masuk seperti ini, mungkin itu adalah solusi
yang paling optimal. Karena tidak membutuhkan peralatan juga."
"Tapi kan di dunia nyata hampir
tidak ada kesempatan untuk melihatnya kan? Bukankah yang seperti itu justru
terasa menarik?"
"Memang benar. Mungkin bagus untuk
dijadikan bahan event."
"Kalau begitu coba lihat, kamu boleh
melakukan wawancara lapangan menggunakanku lho."
Saat aku mengatakannya sambil bercanda,
Sensei memalingkan pandangan mata seperti merasa malu.
Namun dia segera bangkit dari bangku,
membelakangiku lalu berjongkok sedikit.
"……Kalau Himegi-san tidak keberatan
sih."
Sensei mengatakannya dengan suara pelan
yang seolah-olah hampir menghilang.
Aku berniat membalasnya, tetapi karena
organ dalam rasanya mau melompat keluar dari mulut aku jadi tidak sanggup.
Tubuhku berdenyut 'deg-deg' dengan kencang, seakan-akan seluruh tubuhku telah
berubah menjadi jantung.
Akan tetapi, aku tidak boleh membuat
Sensei menunggu. Aku pun bangkit tanpa suara, lalu perlahan-lahan menyandarkan
tubuhku ke punggungnya yang sudah berada tepat di depanku.
Begitu tubuh kami bersentuhan, aku
merasakan suhu tubuh Sensei dan kerasnya otot-ototnya.
Menerima kenyataan bahwa saat ini aku
sedang menempelkan tubuh secara rapat dengan pria idamanku, membuat kepalaku
terasa pusing melayang.
Punggung Sensei ternyata lumayan lebar.
Lalu dari lehernya tercium aroma khas anak cowok……
"……Anu, aku tidak berat kan?"
"Tidak apa-apa. Aku coba berdiri,
jadi berpeganglah."
"Iya……"
Aku melingkarkan kedua tanganku ke leher
Sensei.
Baru sekarang aku menyadarinya, bahwa
dengan posisi seperti ini dada milikku bakal tertekan ke Sensei, tetapi karena
ini force majeure jadi mau bagaimana lagi.
Aku sempat berpikir untuk menyelipkan
boneka di antara kami sebagai penyangga, tetapi kalau sampai kehilangan
keseimbangan, itu bisa berbahaya. Lagi pula, aku ingin Sensei merasakan
keberadaanku dengan jelas, jadi aku mengurungkan niat itu.
Kesempatan untuk berdekatan seperti ini
dengan gadis seusianya kan jarang terjadi, jadi dia pasti bakal menyadarinya.
Tepat pada saat aku sedang memikirkan hal
tidak sopan seperti itu, kedua tangan Sensei menyelinap masuk ke belakang
lututku.
Sensei mengerahkan tenaga lalu berdiri,
lalu berjalan maju sekitar dua meter.
"Sepertinya bisa berjalan secara
normal. Mau pindah ke jalan besar
seperti ini saja?"
Sensei mengajukan pertanyaan sambil tetap
menghadap ke depan. Dia mungkin berniat berpura-pura tenang, tetapi suaranya
yang meninggi membuat kepanikannya terbongkar jelas.
Aku jujur saja merasa senang karena
mengetahui dia juga gugup.
"……Mohon bantuannya ya."
Saat aku mengangguk, Sensei mulai
berjalan dengan perlahan.
Keluar dari taman, menyusuri jalan sempit
ke arah stasiun. Berkat waktu yang sudah berlalu sejak festival kembang api
berakhir, pejalan kaki menjadi lumayan berkurang.
Lampu jalan berwarna kuning menerangi
aspal dengan jarak yang teratur. Jalan yang dilewati tanpa memikirkan apa pun
saat datang tadi, sekarang terasa sangat puitis dan berkesan.
Orang-orang yang sesekali berpapasan
mengamati kami berdua dengan penuh rasa ingin tahu. Apakah mereka sedang
tertawa mengejek kami berdua, ataukah merasa iri.
Yah, terserah saja lah.
Sambil terguncang-guncang di punggung
Sensei, aku merasa seperti heroine dalam sebuah film, sampai rasanya ingin
berlari.
Walau tentu saja, karena kakiku sakit
jadi tidak mungkin bisa sih.



Post a Comment