Bonus E-Book: Cerita Pendek Baru “Kisah Setelah Gadis Terxantik Seangkatan Dilihat Telanjang oleh Siswa SMA Berkemampuan Tinggi”
(Sudut Pandang
Gadis Tercantik Seangkatan)
Saking bodohnya, aku bukan cuma
mengundang Sensei masuk ke ruang ganti saat aku hanya berbalut selembar handuk
mandi, tetapi malah melakukan kesalahan fatal dengan memperlihatkan tubuh
telanjang bulatku kepadanya.
Setelah insiden itu, aku terduduk lemas
di lantai ruang ganti sambil terus mengerang tanpa henti.
Meski begitu, aku tidak bisa
terus-terusan terpuruk selamanya.
Kupaksakan diri untuk bangkit, segera
mandi shower, lalu mengenakan piyama.
Sambil dilanda rasa canggung yang rasanya
nyaris membuatku mati, dengan ragu-ragu dan takut kulangkahkan kaki keluar dari
ruang ganti, dan di ruang tamu hanya ada Kagurazaka-san seorang.
"Ah, Iori-san. Ada pesan dari
Haruto. Katanya, 'Aku sama sekali tidak melihat apa pun'."
Kagurazaka-san menyampaikannya sebagai
kalimat pembuka.
Melihat Sensei memilih menghilang dan
meminta Kagurazaka-san menyampaikan pesannya, aku bisa merasakan kebaikan
hatinya.
Akan tetapi, luka di dalam hatiku ini
tidaklah sedangkal itu sampai bisa pulih hanya dengan hal tersebut.
"……Pesan itu, pasti bohong
kan."
"Kayaknya sih iya. Soalnya bagian
bawahnya bereaksi kok."
"…………"
Aku baru saja menerima laporan yang
kelewat vulgar.
Ini, bagaimana caraku harus membalasnya
coba……?
Karena pertanyaannya terlalu sulit,
kuputuskan untuk menyerah memikirkan jawabannya, dan untuk sementara memilih
mengeringkan rambut terlebih dahulu.
Begitu pengering rambut kumatikan,
keheningan seketika menguasai seisi ruangan.
"……Anu,
soal tempat tidur, Kagurazaka-san mau──"
"Sudah, tenang dulu. Iori-san,
lagipula kamu pasti tidak bisa tidur kan?
Mau main poker?"
"……Kamu mau menemaniku?"
"Iya. Lagipula aku juga belum
mengantuk kok."
Kagurazaka-san mengatakannya dengan
santai seolah hal itu bukan masalah besar. Sikapnya yang membuatku sulit
menebak apakah dia sedang bersimpati atau tidak justru terasa sangat melegakan.
Kami duduk di kedua ujung sofa tiga
dudukan, lalu menggunakan dudukan di tengah sebagai meja darurat dan mulai
bermain poker.
Meski begitu, aku sama sekali tidak bisa
berkonsentrasi pada permainan, dan isi kepalaku hanya berputar-putar memikirkan
insiden tadi.
"──Pasti
malu banget ya, aku paham kok."
Mungkin karena menyadari pikiranku
melayang entah ke mana, Kagurazaka-san bergumam seperti itu.
"Sekarang kamu pasti lagi mikir
kalau Haruto sedang menjadikanmu bahan untuk itu, kan?"
"Aku sama sekali tidak memikirkan
hal itu tahu!?"
Orang ini, benar-benar keterlaluan ya!?
"Eeh~ padahal dia pasti lagi
masturbasi lho~"
"Tolong jangan asal menyimpulkan
sendiri! Menurutku dia tidak bakal melakukan hal seperti itu!"
"Polos banget sih. Kalau begitu mau
coba kita grebek kamar Haruto sekarang?"
"Tidak mau!!"
Kalau dia benar-benar sedang melakukannya
bakal canggung setengah mati, dan seandainya pun tidak, kami tetap harus
bertatapan muka dengannya dan itu luar biasa canggung. Singkatnya, cuma ada
kerugian tanpa keuntungan sama sekali.
"Palingan dia lagi masturbasi sambil
melihat fotonya Iori-san tuh."
"Kan sudah kubilang tidak!! Tolong
jangan mengatakan hal-hal yang terdengar realistis begitu!!"
Memang benar di komputer maupun ponsel
Sensei tersimpan banyak sekali fotoku saat mengenakan baju renang.
Tapi, Sensei pasti tidak akan pernah
melakukan hal menjijikkan seperti itu……!!
Setelah itu, sekitar pukul dua pagi
Kagurazaka-san tertidur pulas, dan permainan poker pun berakhir.
Namun, kendati lampu ruangan sudah
dipadamkan dan aku mencoba berbaring, mataku justru tetap terjaga sepenuhnya.
Padahal tanpa semua itu pun aku sudah
merasa tidak bakal bisa tidur, ditambah lagi perkataan aneh Kagurazaka-san
tadi……
Sambil membawa ponsel aku bangkit
berdiri, lalu berpindah ke dapur dan menyalakan lampu kecil. Kuputuskan untuk
memikirkan cara mengatasi masalah yang sedang dihadapi Sensei.
Aku mencari tahu apa yang bisa dilakukan
ketika pekerjaan mulai terasa monoton, serta apa yang harus dilakukan ketika
seseorang sudah tidak lagi merasa bahwa karyanya sendiri benar-benar menarik.
Rasa kantuk sama sekali tak kunjung
menghampiri setelahnya, hingga tanpa sempat memejamkan mata walau sekejap pun,
waktu akhirnya menyentuh pukul enam pagi. Sudah tidak aneh jika sewaktu-waktu
Sensei terbangun dan turun ke bawah.
Bakal sangat memalukan kalau sampai
ketahuan aku tidak bisa tidur gara-gara insiden memalukan itu. Fakta bahwa aku
begadang semalaman harus dirahasiakan rapat-rapat.
Lalu, karena bakal terasa canggung jika
berdiam diri tanpa melakukan apa-apa, kuputuskan untuk bersandiwara seolah-olah
sedang di tengah-tengah menyiapkan sarapan. Kusiapkan pisau dapur dan daun
bawang di atas talenan, lalu memasang telinga baik-baik agar segera tahu ketika
Sensei menuruni anak tangga.
Hingga akhirnya, pukul tujuh pun tiba,
dan Sensei turun dari lantai dua.
Aku buru-buru berdiri di depan talenan,
lalu berpura-pura sedang memasak.
Di tengah jantung yang berdebar kencang,
pintu ruang tamu terbuka, dan aku memanggil Sensei sambil tersenyum.
"Takahashi-kun, pagi~"



1 comment