NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Short Story

Bonus E-Book: Cerita Pendek Baru “Kisah Setelah Gadis Terxantik Seangkatan Dilihat Telanjang oleh Siswa SMA Berkemampuan Tinggi”


(Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

 

Saking bodohnya, aku bukan cuma mengundang Sensei masuk ke ruang ganti saat aku hanya berbalut selembar handuk mandi, tetapi malah melakukan kesalahan fatal dengan memperlihatkan tubuh telanjang bulatku kepadanya.

 

Setelah insiden itu, aku terduduk lemas di lantai ruang ganti sambil terus mengerang tanpa henti.

 

Meski begitu, aku tidak bisa terus-terusan terpuruk selamanya.

 

Kupaksakan diri untuk bangkit, segera mandi shower, lalu mengenakan piyama.

 

Sambil dilanda rasa canggung yang rasanya nyaris membuatku mati, dengan ragu-ragu dan takut kulangkahkan kaki keluar dari ruang ganti, dan di ruang tamu hanya ada Kagurazaka-san seorang.

 

"Ah, Iori-san. Ada pesan dari Haruto. Katanya, 'Aku sama sekali tidak melihat apa pun'."

 

Kagurazaka-san menyampaikannya sebagai kalimat pembuka.

 

Melihat Sensei memilih menghilang dan meminta Kagurazaka-san menyampaikan pesannya, aku bisa merasakan kebaikan hatinya.

 

Akan tetapi, luka di dalam hatiku ini tidaklah sedangkal itu sampai bisa pulih hanya dengan hal tersebut.

 

"……Pesan itu, pasti bohong kan."

 

"Kayaknya sih iya. Soalnya bagian bawahnya bereaksi kok."

 

"…………"

 

Aku baru saja menerima laporan yang kelewat vulgar.

 

Ini, bagaimana caraku harus membalasnya coba……?

 

Karena pertanyaannya terlalu sulit, kuputuskan untuk menyerah memikirkan jawabannya, dan untuk sementara memilih mengeringkan rambut terlebih dahulu.

 

Begitu pengering rambut kumatikan, keheningan seketika menguasai seisi ruangan.

 

"……Anu, soal tempat tidur, Kagurazaka-san mau──"

 

"Sudah, tenang dulu. Iori-san, lagipula kamu pasti tidak bisa tidur kan?

Mau main poker?"

"……Kamu mau menemaniku?"

 

"Iya. Lagipula aku juga belum mengantuk kok."

 

Kagurazaka-san mengatakannya dengan santai seolah hal itu bukan masalah besar. Sikapnya yang membuatku sulit menebak apakah dia sedang bersimpati atau tidak justru terasa sangat melegakan.

 

Kami duduk di kedua ujung sofa tiga dudukan, lalu menggunakan dudukan di tengah sebagai meja darurat dan mulai bermain poker.

 

Meski begitu, aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada permainan, dan isi kepalaku hanya berputar-putar memikirkan insiden tadi.

 

"──Pasti malu banget ya, aku paham kok."

 

Mungkin karena menyadari pikiranku melayang entah ke mana, Kagurazaka-san bergumam seperti itu.

 

"Sekarang kamu pasti lagi mikir kalau Haruto sedang menjadikanmu bahan untuk itu, kan?"

 

"Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu tahu!?"

 

Orang ini, benar-benar keterlaluan ya!?

 

"Eeh~ padahal dia pasti lagi masturbasi lho~"

"Tolong jangan asal menyimpulkan sendiri! Menurutku dia tidak bakal melakukan hal seperti itu!"

 

"Polos banget sih. Kalau begitu mau coba kita grebek kamar Haruto sekarang?"

 

"Tidak mau!!"

 

Kalau dia benar-benar sedang melakukannya bakal canggung setengah mati, dan seandainya pun tidak, kami tetap harus bertatapan muka dengannya dan itu luar biasa canggung. Singkatnya, cuma ada kerugian tanpa keuntungan sama sekali.

 

"Palingan dia lagi masturbasi sambil melihat fotonya Iori-san tuh."

 

"Kan sudah kubilang tidak!! Tolong jangan mengatakan hal-hal yang terdengar realistis begitu!!"

 

Memang benar di komputer maupun ponsel Sensei tersimpan banyak sekali fotoku saat mengenakan baju renang.

 

Tapi, Sensei pasti tidak akan pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu……!!

 

Setelah itu, sekitar pukul dua pagi Kagurazaka-san tertidur pulas, dan permainan poker pun berakhir.

 

Namun, kendati lampu ruangan sudah dipadamkan dan aku mencoba berbaring, mataku justru tetap terjaga sepenuhnya.

Padahal tanpa semua itu pun aku sudah merasa tidak bakal bisa tidur, ditambah lagi perkataan aneh Kagurazaka-san tadi……

 

Sambil membawa ponsel aku bangkit berdiri, lalu berpindah ke dapur dan menyalakan lampu kecil. Kuputuskan untuk memikirkan cara mengatasi masalah yang sedang dihadapi Sensei.

 

Aku mencari tahu apa yang bisa dilakukan ketika pekerjaan mulai terasa monoton, serta apa yang harus dilakukan ketika seseorang sudah tidak lagi merasa bahwa karyanya sendiri benar-benar menarik.

 

Rasa kantuk sama sekali tak kunjung menghampiri setelahnya, hingga tanpa sempat memejamkan mata walau sekejap pun, waktu akhirnya menyentuh pukul enam pagi. Sudah tidak aneh jika sewaktu-waktu Sensei terbangun dan turun ke bawah.

 

Bakal sangat memalukan kalau sampai ketahuan aku tidak bisa tidur gara-gara insiden memalukan itu. Fakta bahwa aku begadang semalaman harus dirahasiakan rapat-rapat.

 

Lalu, karena bakal terasa canggung jika berdiam diri tanpa melakukan apa-apa, kuputuskan untuk bersandiwara seolah-olah sedang di tengah-tengah menyiapkan sarapan. Kusiapkan pisau dapur dan daun bawang di atas talenan, lalu memasang telinga baik-baik agar segera tahu ketika Sensei menuruni anak tangga.

 

Hingga akhirnya, pukul tujuh pun tiba, dan Sensei turun dari lantai dua.

 

Aku buru-buru berdiri di depan talenan, lalu berpura-pura sedang memasak.

 

Di tengah jantung yang berdebar kencang, pintu ruang tamu terbuka, dan aku memanggil Sensei sambil tersenyum.

 

"Takahashi-kun, pagi~"



Afterword | ToC

1 comment

1 comment

  • Proxy
    Proxy
    23/9/26 20:40
    Lumayan lah nih novel
    Reply
close