Epilog:「Heroine Favorit Ingin Memilikku Seorang Diri」
Aku menatap jari kelingking Bun-kun yang
berjalan di sampingku.
Jari kelingkingnya terikat erat dalam
genggaman tanganku.
Kamu tahu tidak? Menggenggam jari
kelingking erat-erat itu adalah psikologi tindakan yang berasal dari rasa ingin
memonopoli…… keinginan untuk tidak melepaskan, tidak mau menyerahkannya kepada
siapa pun, dan ingin menjadikannya milik sendiri sepenuhnya.
Makanya,
sebenarnya aku nggak menggenggamnya cuma karena 『entah
kenapa』, tahu?
Alasanku berbohong kepada Bun-kun adalah
karena aku tidak mau perasaan ini terbongkar.
Pasti kalau aku mengutarakan perasaan
ini, Bun-kun bakal menerima diriku meski dengan sedikit kebingungan.
Namun, bagaimana jika seandainya dia
malah membenciku? Begitu memikirkan kemungkinan itu, aku jadi takut. Takut
sekali sampai rasanya nggak tahan.
Selalu berusaha sekuat tenaga, begitu
jujur dan lurus hingga menyilaukan, selalu mengulurkan tangan kapan saja, dan
bersikap sangat perhatian.
Aku menyukai Bun-kun yang seperti itu.
Tetapi, tahu tidak? Melebihi dari perasaan itu……
Aku ingin memonopoli dirimu sendirian.
Habisnya, Bun-kun itu terlalu baik ke
semua orang.
Awalnya, kukira kebaikan itu cuma
ditujukan kepadaku. Kukira, setidaknya terhadapku, kamu bersikap spesial.
Karena itulah, saat kamu mendengarkan
keluh kesahku yang sedang terpukul karena patah hati, rela menyamar jadi cewek,
bahkan sampai membolos pelajaran cuma demi datang mencariku, selalu berdiri di
pihakku………… dan terus menopangku selama ini. Kukira memang
begitu kenyataannya.
Namun, ternyata hal itu salah.
Di
mata Bun-kun, aku ternyata cuma 『salah satu dari sekian banyak orang yang kamu
perlakukan dengan baik』. Saat melihatmu melompat masuk ke kolam comberan
tanpa ragu demi Sasahara-senpai, aku benar-benar disadarkan oleh kenyataan itu.
Senyuman lembut yang membuatku ingin
menangis itu, tangan yang selalu terulur kapan saja, serta kata-kata penuh
perhatian yang diucapkan dengan tulus. Semuanya ternyata bukan hanya milikku
seorang.
Bun-kun
memang menyebutku sebagai sosok 『oshi』, tetapi itu bukanlah perlakuan spesial yang aku
inginkan.
Aku…… ingin menjadi sosok yang paling
dekat dengan Bun-kun, yang paling berarti bagimu, yang menempati tempat paling
dalam di hatimu, hingga saat kamu hendak menolong orang lain pun keberadaanku
tetap terlintas di sudut pikiranmu…… Aku ingin menjadi sosok yang benar-benar
spesial bagimu.
Sebenarnya, aku ingin kamu cuma melihat
ke arahku saja…… Setiap kali Bun-kun berusaha sekuat tenaga demi orang lain,
aku selalu merasa cemas tak tenang.
Namun, melihat orang yang kesulitan lalu
berpura-pura tidak tahu, atau tidak mau berusaha sekuat tenaga demi seseorang,
Bun-kun yang seperti itu bukanlah Bun-kun yang mengenalku.
Aku menyukai dirimu yang bisa bersikap
baik dan bersungguh-sungguh kepada siapa saja.
Maaf ya? Perasaan ini terlalu berat, kan?
Merepotkan sekali, ya?
Tapi, alasanku sampai jadi begini kan
gara-gara Bun-kun sendiri, tahu?
Kamu sudah mengubah seluruh hidupku. Ini
sama sekali bukan hal yang berlebihan.
Perasaanku, begitu pula masa depanku……
Harus bagaimana ya? Kalau sudah sampai
begini…… Bun-kun harus bertanggung jawab, kan?
Dunia tanpa Bun-kun di sisiku…… aku nggak
akan sanggup menanggungnya.
Makanya, jari kelingking yang sudah
kugenggam ini tak akan pernah kulepaskan.
"Hei, Bun-kun."
"Nn?"
Mulai sekarang dan seterusnya……
bersamaku. Selalu, selalu, selalu.
“Selamanyaaa, teruslah bersamaku, ya?"



Post a Comment