Bab 1:「Perawatan Mental untuk Heroine Favorit yang Baru Diputuskan」
"Makanya, aku bilang aku suka
padamu."
Di dalam ruang kelas di kala senja,
sebuah pernyataan cinta bagaikan di manga atau drama sedang terjadi tepat di
depan mataku.
Aku mati tertabrak truk demi melindungi
gadis yang mencampakkanku.
Hasilnya,
aku terlahir kembali sebagai karakter figuran dalam manga komedi romantis super
populer berjudul 『Tenichi!!』.
Pemandangan di depan mataku ini kembali
menyadarkan kenyataan itu padaku.
Gadis
yang sedang menyatakan cintanya adalah sang heroine, 『Nanase
Hiyori』.
Dia adalah teman sejak kecil sekaligus
sahabat sang protagonis.
Berkesan ramah dan lembut, dengan paras
wajah imut serta rambut pink muda berpotongan semi-long. Dan berpayudara besar.
Ceria dan polos, dia adalah gadis yang
sangat populer di sekolah karena baik kepada siapa saja. Dan, tidak perlu
ditutup-tutupi lagi, dia adalah 'heroine favoritku'.
Pria
yang sedang menerima pernyataan cinta dari Hiyori adalah protagonis dari karya
ini, 『Shindou Tenma』.
Setia, berkepribadian lurus, dan cukup
peka terhadap perasaan orang.
Pria baik yang terkadang berani mengambil
tindakan nekat.
Seorang
protagonis berelemen cahaya yang juga disukai oleh para pembaca. Justru karena
dia adalah protagonis yang baik, 『Tenichi!!』
bisa menjadi karya yang populer.
Lalu, aku yang sedang mengintip adegan
pernyataan cinta ini adalah sang karakter figuran, Tomida Bungaku.
Tidak punya pacar.
Tidak punya teman.
Penyendiri.
Sekian.
Dia adalah karakter figuran yang namanya
bahkan diragukan pernah muncul di cerita utama.
"Aku tahu kalau Tenma suka sama
Hana-chan. Tapi, aku pikir kalau tidak disampaikan, tidak akan ada yang
berubah."
'Hana-chan'
yang dimaksud adalah heroine utama dari karya ini, 『Ayabe
Ichika』.
Gadis jelita dengan paras cantik dan
rambut lurus warna flaks yang terawat serta berkilau. Berparas elok, pandai
dalam akademis maupun olahraga. Benar-benar seorang heroine utama.
『Tenichi!!』
adalah komedi romantis satu lawan satu antara sang protagonis dan sang heroine.
Sama sekali bukan genre harem, sehingga orang bisa menontonnya dengan tenang
karena sang protagonis dan heroine sama-sama memendam perasaan satu sama lain.
"Maaf. Aku tidak bisa membalas
perasaanmu, Hiyori. Karena aku menyukai Ichika."
『Tenichi!!』
adalah kisah cinta Tenma dan Ichika. 『Nanase Hiyori』
adalah heroine yang kekalahannya sudah dijanjikan sejak dari judulnya.
"Aku tidak minta jawabanmu sekarang
juga kok. Mulai sekarang—"
"Menunda jawaban padahal aku tidak
punya perasaan padamu itu salah."
Mendengar kata-kata Tenma, pupil mata
Hiyori bergetar hebat.
"Begitu ya, bahkan untuk menunggu
pun…… kamu tidak mau ya."
"Aku sangat senang dengan
perasaanmu, Hiyori. Jujur saja sekarang jantungku berdebar sangat kencang.
Justru karena itulah, aku berpikir harus menyampaikan perasaanku dengan
benar."
"………………Aduh, benar-benar serius ya.
Yah, tapi bagian itulah yang bikin aku jadi suka sih?"
"Hiyori……"
Mendengar kata-kata Hiyori, Tenma
memalingkan wajahnya dengan raut merasa bersalah.
"Aku sudah menyampaikannya dengan
benar. Berikutnya…… giliran Tenma."
Seolah-olah mendorong punggungnya, nada
suara Hiyori yang lembut membuat ekspresi Tenma menjadi mantap.
"B-setidaknya berusahalah buat
menyesal karena sudah menolakku ya!"
Sambil berkata begitu, Hiyori berlari
keluar dari ruang kelas. Aku bergegas menyembunyikan diri dan menatap
punggungnya yang makin menjauh.
Tenma tidak mengejar Hiyori yang berlari
pergi. Ini adalah tindakan yang sesuai dengan karya aslinya, dan pastinya
merupakan pilihan yang benar.
Mungkin karena itulah, aku mulai berlari
untuk mengejar Hiyori.
Aku hanyalah karakter figuran yang
kebetulan ada di sini karena ingin mengambil barang yang tertinggal.
Mengejarnya pun mungkin aku tidak bisa
melakukan apa-apa. Bahkan bukan hal aneh kalau dia malah curiga aku punya niat
lain.
Meski begitu, aku tidak peduli.
Saat membaca adegan di manga tempat
Hiyori berlari sambil berlinang air mata, itulah yang kupikirkan.
Seandainya
aku adalah penghuni dunia 『Tenichi!!』 dan
kebetulan berada di tempat ini……
Aku pasti akan mengejar gadis yang sedang
menangis itu.
◇
Sambil tersengal-sengal, tempat yang
kucapai adalah sebuah bangku di halaman belakang.
Hiyori sedang duduk di bangku itu sambil
menundukkan kepala.
"Uhk…… guhk."
Tubuhnya sedikit gemetaran, dan suara
isakannya terdengar jelas.
……G-g-g-gimana nih.
Gaya-gayaan mengejarnya, tapi aku sama
sekali tidak punya rencana.
Pikirkan. Sebelum mati, aku sudah
berulang kali menembak banyak gadis dan terus-terusan ditolak. Artinya, aku
sangat paham betul perasaan orang yang baru saja patah hati.
Saat aku baru saja ditolak, apa sih yang
sebenarnya aku inginkan dari orang lain?
Sebagai orang yang seumur hidup selalu
ditolak, pasti ada hal yang cuma bisa dilakukan olehku.
Aku menarik napas dalam-dalam sekali,
lalu memberanikan diri menyapa Nanase yang sedang menangis.
"Permisi……"
"……Eh?"
Nanase sedikit tersentak, lalu
perlahan-lahan mengangkat wajahnya.
Matanya agak memerah. Seperti dugaanku,
dia memang sedang menangis.
Aku duduk dan menatap wajah Nanase.
Bagus, kata-kata pertama yang diucapkan
itu sangat krusial. Pikirkan dengan benar. Pikirkan.
"K-kenapa? M-mau cerita?"
Setelah berpikir keras, yang keluar dari
mulutku malah kalimat yang paling pantas dihindari.
"……Eh."
Tingkat kewaspadaan Nanase langsung
melonjak drastis.
Gawat. Dari langkah pertama saja sudah
kacau.
T-tidak. Masih ada harapan. Seharusnya di
dalam tas ada tisu saku.
Kalau aku menyodorkannya dengan elegan di
sini, aku pasti bisa membalikkan keadaan!
"K-kalau mau, pakai ini—"
Srett! Yang kusodorkan pada Nanase adalah
tisu saku yang kondisinya sudah sangat kusut.
"………Anu, m-mau…… pakai?"
"Eh, a, u-ung. T-terima kasih."
Entah karena dia bersikap enggan atau
sekadar menjaga perasaanku, Nanase menerima tisu kusut itu.
…………Suasana di antara kami jadi makin
serba salah.
Begitu ya, pantas saja aku tidak pernah
laku.
"Anu, jangan-jangan…… kamu lihat
ya?"
"A, tidak, maksudku, itu,
e-etto~"
"Ah, ternyata benar-benar
kelihatan……"
Nanase makin terpuruk.
W-waah……
Saat aku mulai sedikit putus asa, Nanase
malah tertawa dengan raut agak serba salah.
"Ahaha. Kamu jadi lihat penampilanku
yang menyedihkan ya……"
"Keren kok."
"……Eh?"
"Menyampaikan perasaan sendiri itu
butuh keberanian yang sangat besar. Nanase-san yang saat itu benar-benar
kelihatan keren."
Menyampaikan perasaan sendiri lewat
kata-kata itu menakutkan. Rasa takut itu sudah dipahami betul olehku yang
berkali-kali menembak dan terus-terusan ditolak hingga rasanya menyakitkan.
"Makanya, aku tidak bakal
membiarkanmu bilang kalau itu menyedihkan."
……Ah, gawat. Tanpa sadar aku malah
langsung menyuarakan apa yang
ada di pikiranku, tidak apa-apa nih?
"T-terima kasih……"
Dengan wajah merona, Nanase memalingkan
pandangannya. Suasana di tempat ini pun entah bagaimana berubah menjadi sedikit
lebih lembut.
"Aku sudah tidak apa-apa kok. Kamu
Tomida-kun dari kelas yang sama, kan? Terima kasih ya sudah menyapaku."
Dengan mata yang masih berkaca-kaca,
Nanase berkata begitu.
Dia ingat nama orang sepertiku yang
hampir tidak punya interaksi dengannya ya, pikirku dengan rasa haru yang aneh,
meski di saat yang sama aku juga merasa sedang ditolak secara halus.
Cara bicara maupun nada suaranya memang
sangat lembut, tetapi kata
'tidak apa-apa' ini menyiratkan kalau dia
tidak ingin dicampuri lebih jauh lagi.
Namun,
"Sebenarnya, sampai sekarang aku
sudah ditolak lebih dari 10 kali oleh gadis yang kusukai."
Ngomong-ngomong, setelah orang ke-10……
aku sudah tidak menghitungnya lagi.
"Eh?"
Nanase tampak kebingungan dengan
pengakuan mendadak dariku.
"Makanya aku tahu. Pasti, setelah
puas menangis…… bakal datang momen saat kamu tiba-tiba merasa hampa dan bingung
harus bagaimana."
"…………"
"Aku ada di sini untuk saat-saat
seperti itu. Makanya, mau dianggap mengganggu atau dianggap menjijikkan
sekalipun, aku tidak berniat beranjak dari sisi Nanase-san. Karena aku pikir,
orang sepertiku ini masih mending daripada tidak ada siapa-siapa."
Aku mengatakannya sambil cengengesan.
"Tapi kalau kamu memang benar-benar
risih, aku bakal menjauh kok. Aku bakal tetap di dekat sini, jadi kalau kamu
mau meluapkan kekesalan atau curhat, panggil saja aku santai. Aku bakal
mendengarkannya sebanyak apa pun."
Nanase tidak memberikan tanggapan apa pun
atas kata-kataku.
Etto, apa heningnya ini berarti sebuah
penolakan ya?
Berpikir begitu, aku beranjak berdiri dan
berbalik hendak meninggalkan bangku. Namun di saat itu juga, ujung bajuku
ditarik pelan.
"Eh?"
Nanase menatapku yang kebingungan dengan
lekat. Sambil ragu-ragu, dia menepuk-nepuk area di sebelah dirinya.
Rupanya, aku diizinkan untuk duduk di
sampingnya.
"E-etto, permisi……"
Dengan gerakan kaku, aku duduk di samping
Nanase.
Aku tidak tahu kenapa dia yang tadinya
waspada malah mengizinkanku duduk di sampingnya. Namun, ada satu hal yang bisa
kukatakan.
Di saat seperti ini, rasanya memang ingin
menyendiri, tetapi di saat yang sama, berada seorang diri juga terasa sangat
kesepian. Perasaan kontradiktif itulah yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.
Aku mengeluarkan tiga lembar tisu saku
lagi dari dalam tas, lalu
memamerkannya pada Nanase.
"Ada warna pink, kuning, dan biru
muda. Silakan pilih yang kamu suka."
"Ahaha…… semuanya kusut. Tapi,
terima kasih ya."
Sambil tertawa getir, dia menerima tisu
saku yang berwarna pink.
"U-uuh…………"
Sambil menangis, dia menyeka air matanya
dengan tisu. Namun, air mata itu tetap tidak mau berhenti.
Di samping Nanase yang menangis
terisak-isak seperti anak kecil, aku tidak mengatakan apa-apa dan hanya terus
duduk di sana.
◇
Mungkin berkat waktu yang terus berlalu,
Nanase juga mulai sedikit lebih tenang.
"Tisunya. Terima kasih ya."
"U-ung."
Aku menerima sisa tisu saku yang
jumlahnya tinggal sedikit dari Nanase.
"A-etto, perasaanmu sudah agak
mendingan?"
"Iya. Setelah puas menangis dan
mengeluarkan semuanya, perasaanku rasanya jadi jauh lebih lega. Terima kasih
ya, Tomida-kun."
"Aku memang tidak paham sama sekali
soal perasaan wanita, tapi kalau soal penanganan pasca-patah hati, serahkan
saja padaku."
"……Apaan sih itu."
Melihat diriku yang bicara dengan penuh
percaya diri, Nanase tertawa lepas seolah beban di pundaknya mendadak sirna.
Syukurlah. Akhirnya dia bisa tertawa
juga……
Heroine favoritku sudah menangis
sepuasnya, perasaannya sudah lega, dan pada akhirnya bisa tertawa. Bagi seorang
karakter figuran penyendiri hasil transmigrasi, ini sudah merupakan pencapaian
yang lebih dari cukup.
Nah, peranku sudah selesai, jadi mari
kita berpisah dengan kesan yang baik seperti ini.
"Nah, yuk pulang."
"…………Iya."
Mendengar usulanku, Nanase yang tampak
agak ragu berdiri dan mengambil tasnya.
"Etto, ada apa?"
Saat aku bertanya berhati-hati, Nanase
menatapku sambil menggenggam erat tali tas di bahunya.
"A-anu ya!"
"I-iya."
"Etto, bagaimana ya bilangnya.
Rasanya seperti takut kalau sendirian, atau lebih tepatnya tidak ingin
sendirian…… pasti, setelah ini bakal datang momen saat aku merasa hampa seperti
yang dibilang Tomida-kun tadi."
Sambil menghentak-hentakkan ujung
sepatunya ke tanah, Nanase berusaha mengatakan sesuatu. Dia tampak ragu apakah
harus menyampaikan kata-kata selanjutnya atau tidak.
Maksudnya, yang itu ya.
"A-ah ehto, kalau mau, kamu mau
pergi makan yang manis-manis atau semacamnya?"
"Ung! Mau!"
Hiyori tersenyum agak gembira.
Rupanya peranku masih belum berakhir.
◇
『Tenichi!!』
adalah komedi romantis yang berlatar tempat di Kyoto.
Toko-toko yang muncul di dalam karyanya
pun menjadi sangat populer sebagai tempat suci bagi para penggemar.
Tempat yang dikunjungi atas ajakan Hiyori
adalah Kawaramachi, kawasan perbelanjaan nomor satu di pusat kota. Tempat ini
adalah area luar biasa yang terkenal sebagai objek wisata dan menyediakan
berbagai titik wisata menarik untuk dinikmati.
Lalu,
tujuan kami adalah 『Karafune Coffee』
yang berada di
Kawaramachi.
Sambil membelalakkan mata melihat
banyaknya sampel parfe yang berjejer rapi di pintu masuk, pelayan mengarahkan
kami ke tempat
duduk.
Gawat nih. Jujur saja, aku sama sekali
tidak menyangka bakal ada perkembangan berupa makan parfe berdua.
Mana tempatnya modis, terus cuma berdua
saja dengan Hiyori Nanase lagi, aku bingung harus bicara apa.
Siapa pun tolong aku…… w-waah.
"Tomida-kun mau pesan apa?"
"Eh, apa ya……"
Aku terburu-buru melihat menu, tapi
jenisnya banyak sekali.
Benar-benar seperti museum parfe.
"Ngomong-ngomong Nanase-san mau
pesan apa?"
"Karena hari ini mau melampiaskan
emosi lewat makanan, aku mau pesan Parfe Jokki Cokelat saja deh."
Eh, di situ tertulis untuk porsi 1 sampai
3 orang lho.
"Ung. Aku pilih Parfe Jokki Cokelat
saja. Dari dulu aku sudah penasaran, dan hari ini aku mau makan yang
manis-manis sampai kenyang biar bahagia!"
Hmmp! Sambil memantapkan hatinya, Hiyori
menutup buku menu.
"Tempat ini bagus, kan? Agak jauh
sih dari sekolah, tapi modis dan menarik, suasananya juga enak buat
santai~"
"……Heer!!"
"Biasanya aku bersama Tenma dan
Hana-chan…… bertiga…… di sini…………"
A, a, a. Gawat, aura Hiyori mendadak
meredup dengan cepat……!!
"N-Nanase-san, aku pesan 'Parfe Udang Goreng
Terkuat☆' saja kali ya."
"Eh, tunggu. Baru kali ini aku
melihat orang yang benar-benar memesan parfe itu……"
"Atau 'Parfe Kentang Goreng
Melimpah!' boleh juga sih. Menurut Nanase-san bagaimana?"
"Kenapa dua pilihan itu sih? Tapi
ya, dua-duanya bikin penasaran juga ya……"
Bagus, rona kehidupan di wajah Hiyori
pelan-pelan mulai kembali.
Selesai memesan dan sembari menunggu
parfe datang, Hiyori meminum teh susu yang datang lebih awal sampai habis dalam
sekali teguk, lalu menaruhnya dengan keras ke atas meja!
"Tomida-kun!! Boleh tidak dengarkan
aku!!"
"Eh, a, iya."
"Tenma si bodoh itu!! Apa menurutmu
tidak bisa dipikirkan sebentar dulu!? Langsung menolak begitu menyakitkan tahu!
Langsung menolak!! Apa aku serendah itu ya daya tariknya!? Bikin drop
saja!"
"Tapi, bukannya sifatnya yang jujur
itu juga yang bikin kamu suka?"
"Suka banget~~~~~!!"
Sambil memegang kepalanya, Hiyori
berteriak sekadarnya agar tidak mengganggu orang lain.
Ya. Kalau sudah bisa berinteraksi seperti
ini, berarti tidak apa-apa.
"Memang sih Tenma itu keren…… tapi
aku pikir karena Hana-chan itu bunga di puncak gunung, jadi tidak
apa-apa……"
Tidak, aku pikir Hiyori sendiri juga
tergolong bunga di puncak gunung sih. Dia kan sangat populer.
Kalau dipikir-pikir, jangankan begitu,
bukannya jumlah orang yang menyatakan cinta padanya malah lebih banyak daripada
sang heroine utama, Ayabe Ichika?
"Uuh. Melihat mereka berdua yang
saling menyukai begitu terasa menyakitkan…… tapi, aku jadi benci pada diriku
sendiri yang seperti ini. Ada apa sih denganku ini…… aha, ahaha."
Gawat, gawat, Hiyori makin lama makin
kehilangan kendali.
"Maaf membuat Anda menunggu~! Ini 'Parfe Udang
Goreng Terkuat☆'-nya~!"
Bersamaan dengan suara ramah pelayan,
parfe yang kupesan diantarkan ke meja.
"B-beneran ditancapi udang goreng!!
Baru pertama kali ini aku lihat wujud aslinya! Hei hei, boleh aku foto!?"
"Boleh kok."
Dengan nada antusias, Hiyori mengambil
foto parfe udang gorengku
menggunakan ponselnya.
Syukurlah. Tampaknya karena perhatiannya
teralih ke parfe, kegelapan di hatinya berhasil dihindari. Terima Kasih Parfe
Udang Goreng Terkuatku.
Bagaimana ya bilangnya, meski tidak
digambarkan di karya aslinya, ternyata keadaan tepat setelah ditolak itu cukup
labil juga ya.
Di karya aslinya, setelah Tenma dan
Ichika bersatu, kalau mengingat Hiyori yang perlahan-lahan mulai menghilang
dari cerita, dia pasti mengambil jarak dari mereka berdua.
Aku ingat betul bagaimana proses mereka
menjadi renggang terasa sangat realistis.
Ngomong-ngomong,
aku sendiri berhenti membaca 『Tenichi!!』
sejak Hiyori yang merupakan favoritku tidak muncul lagi.
"Maaf membuat Anda menunggu~! Ini
'Parfe Jokki Cokelat'-nya~!"
"Wah! H-hebat!! Pakai gelas jokki!!
Benar-benar parfe di gelas jokki, Tomida-kun!!"
Melihat 'Parfe Jokki Cokelat' yang
diantarkan sedikit terlambat, mata Hiyori berbinar-binar dan dia berhasil
bangkit sepenuhnya.
Memang ya, kekuatan parfe itu sangat luar
biasa.
Setelah itu, sambil menceritakan
perasaannya saat menyatakan cinta serta meluapkan kekesalannya sehari-hari,
kami berdua menikmati parfe dengan menyenangkan.
Meskipun tergolong menu yang aneh, Parfe Udang
Goreng Terkuat☆ ternyata memiliki perpaduan udang goreng dan whipped cream yang
pas, sehingga rasanya di luar dugaan enak.
Hati kecilku berguncang merasakan potensi
baru dari sebuah parfe.
Ah, ngomong-ngomong, aku tidak bakal
memesannya lagi sih. (Karena 'Parfe Jokki Cokelat' yang kuminta satu suap dari
Hiyori rasanya 10 kali lebih enak)
"Tomida-kun. Hari ini benar-benar
terima kasih ya. Sudah mau mendengarkan banyak hal dariku."
"Yah, kalau baru saja ditolak lalu
sendirian, kita bakal memikirkan macam-macam, jadi berbincang dengan orang lain
seperti ini untuk mengurangi waktu melamun adalah cara yang paling ampuh."
"Waah, rasanya seperti ucapan orang
yang sudah berpengalaman ya."
"Yah, kalau soal percintaan, aku kan
veteran yang sudah kenyang asam garam……"
Meskipun cuma veteran dalam hal kekalahan
sih.
"Sepertinya aku makin paham."
"Eh? Soal apa?"
"Kenapa Tomida-kun menyapaku tadi……
Jujur ya, awalnya aku ragu padamu. Jangan-jangan ada niat terselubung atau
semacamnya."
……Sudah kuduga.
"Tapi, saat kamu bilang kalau aku
kelihatan keren, aku merasa sangat senang…… benar-benar bikin kaget. Padahal
Tomida-kun tadi ragu-ragu, tapi bisa mengatakannya dengan begitu mantap dan
jelas."
"A, tidak, kalau itu sih"
"Tapi, justru karena itulah. Entah
kenapa, rasanya sangat membekas di hati."
Saat bergumam begitu, ekspresi Hiyori
tampak agak bahagia.
Tanpa sadar, nafasku sempat terhenti.
"Lalu, dari sana Tomida-kun
melakukan komunikasi yang sangat sempurna padaku, jadi aku tanpa sadar malah
bergantung padamu."
Eh, bohong kan? Hal seperti tadi itu
dinamakan komunikasi yang sempurna? Aku cuma menyuarakan apa yang ada di
pikiran dan cuma
duduk di sampingnya lho?
"Pasti Tomida-kun sebagai Senpai
yang paham pahitnya patah hati mau mendampingiku, kan?"
"……Ung! Yah, kurang lebih seperti
itulah!!"
Maafkan aku, itu bohong. Senpai yang
paham pahitnya patah hati atau semacamnya, aku sama sekali tidak punya ruang di
pikiran untuk memikirkan hal sejauh itu.
EH!? HIYORI NANASE FAVORITKU SEDANG
MENANGIS!? W-WAAAH……! Cuma hal seperti itu yang ada di pikiranku.
"Ternyata benar kan……!"
A, a, jangan. Jangan menatapku dengan
mata serba murni dan polos seperti itu.
"Anu ya, kalau tidak mengganggu……
nanti kalau ada hal yang menyakitkan lagi, boleh tidak aku bergantung pada
Tomida-kun lagi……?"
"A, tidak, sama sekali tidak
mengganggu kok. Yah, kalau cuma mendengarkan keluh kesah, kapan saja
bisa."
Jujur saja, diandalkan oleh heroine
favorit itu rasanya luar biasa sekali.
"Terima kasih ya. Aku sepertinya
lumayan suka pada Tomida-kun deh."
Eh, a, o, s-suka?
G-gawat, gawat. Jangan keburu kegeeran.
Hiyori mengatakannya cuma sebatas suka padaku sebagai sesama makhluk hidup,
bukan sebagai lawan jenis.
Kalau
di saat seperti ini aku malah menyatakan cinta, sudah terbayang jelas dia bakal
bilang 『Eh? Anu, aku tidak bermaksud ke arah sana, itu,
maaf…… ya』 lalu kami tidak akan bisa saling menyapa lagi
seumur hidup.
"Ah, benar juga. Tomida-kun! Ayo
tukaran kontak!"
A-ah, a-aah~, rasanya jadi hampir salah
paham!
Sambil menepis berbagai pikiran liar yang
bermunculan, kami pun
bertukaran kontak.
"Sip, hari ini mentalku sudah cukup
dipulihkan! Sekarang energiku sudah MAX! Yah, paling tidak malam ini aku bisa
melaluinya dengan baik!"
Hiyori menepuk dadanya dengan wajah
bangga. Dadanya benar-benar luar biasa.
Melihat sampel parfe super raksasa
setinggi kue pernikahan (untuk porsi 20–25 orang) di dekat pintu keluar, kami
pun meninggalkan Karafune Coffee dan berpisah.
◇
"……Fuu."
Sampai di rumah, aku makan malam ringan,
mandi, lalu merebahkan diri ke tempat tidur.
Rasanya, hari ini benar-benar ada banyak
hal yang terjadi ya. Melihat langsung adegan pernyataan cinta heroine favorit,
menenangkannya, makan parfe bareng, sampai bertukaran kontak.
Yah, bagaimana ya. Hubungan ini pasti
cuma bertahan sampai Hiyori bangkit kembali. Dia kan sangat populer, lambat
laun dia bakal menemukan cinta baru, punya pacar, lalu jadi renggang denganku.
……Gawat, kalau membayangkan masa depan
terus seperti ini, otakku bisa hancur.
Saat memikirkan hal itu, tiba-tiba nada
dering ponsel berbunyi.
Kaget,
aku mengambil ponsel dan melihat nama yang tertera di layar adalah 『Hiyori』.
Lho, bukannya tadi bilang energikannya
sudah MAX……?
"H-halo."
Saat mengangkat telepon dengan bingung,
suara lesu terdengar dari balik telepon.
『Maaf ya. Begitu sendirian, entah kenapa aku malah
memikirkan banyak hal.』
Begitu ya……
"Hari ini aku bakal menemanimu
sampai tuntas kok."
『Terima kasiiih~ Cuma Tomida-kun yang bisa diajak
bicara hal seperti ini……』
Sekarang jam 8 malam, ini pasti bakal
makan waktu 2 jam.
Aku di saat ini sama sekali tidak tahu
bahwa panggilan telepon ini bakal berlangsung sangat lama sampai melewati
pergantian hari……
◇
"…………Ngantuknya."
Pagi hari, begitu melangkah masuk ke
kelas, aku langsung menelungkupkan wajah ke meja dan berusaha tidur.
Memang ya, berangkat sekolah setelah
berteleponan sampai jam 2 subuh itu rasanya cukup menyiksa.
Tinggal 10 menit lagi…… mungkin tidak
bakal sempat tidur nyenyak, tapi aku harus tidur ayam sebentar……
"Selamat pagi~!"
Suara ceria nan polos terdengar. Suara
ini pasti milik Hiyori.
"Pagi Hiyori. Ada apa? Hari ini kok
agak terlambat."
"Ah, Hoshinon! Kemarin aku tidurnya
agak kemalaman, jadi tidak bisa bangun di waktu seperti biasanya."
Hoshinon adalah panggilan untuk gadis
yang merupakan sahabat Hiyori, Tsukimi Hoshino.
Hiyori memanggil teman dekatnya dengan
nama panggilan khusus, seperti pada sahabatnya, Tsukimi Hoshino, atau heroine
utama, Ayabe Ichika.
Dia sangat manja pada teman-teman yang
dipanggilnya dengan nama panggilan, dan mereka adalah sosok yang spesial bagi
Nanase Hiyori.
'Panggilan khusus' yang hanya diizinkan
untuk sosok spesialnya itu sampai sekarang belum pernah diberikan kepada anak
laki-laki mana pun.
Bahkan sang protagonis, Shindou Tenma,
cuma dipanggil 'Tenma'.
Dalam arti tertentu, sosok yang berbeda
dan spesial dibanding Tenma.
Makanya, anak-anak laki-laki seangkatan
di sekolah diam-diam mengincar posisi spesial itu dengan tajam.
Seandainya ada anak laki-laki yang
mendadak muncul sebagai sosok spesial seperti itu, 'anak laki-laki tersebut'
pasti bakal dihakimi oleh seluruh anak laki-laki di sekolah.
Kesadaranku pelan-pelan makin samar, dan
sedikit lagi akan terlelap.
"Ah, Bun-kun!! Selamat pagi~!"
Pada saat itu juga, suasana kelas
mendadak berubah, dan kesadaranku yang hampir terlelap langsung melesat bangun
seketika.
……Bun-kun?
『Ha? Siapa tuh Bun-kun?』
『Nanase memberikan nama panggilan ke seseorang?』
『Mana sepertinya anak laki-laki lagi……』
Suara bisik-bisik terdengar di
sekeliling. Dan dari suara itu, terasa luapan rasa iri.
……………Pasti ada anak laki-laki yang
namanya Bunta. Makanya, cepat balas sapaannya, Bunta-kun.
"Hiyori? Bun-kun itu siapa?"
Pertanyaan yang pasti dipikirkan oleh
seluruh murid di kelas itu disuarakan oleh Tsukimi-san kepada Hiyori.
"Eh? Tomida Bungaku-kun yang sedang
tidur di sana itu."
Tomida Bungaku-kun yang sedang tidur di
sana?
……
…………
………………
…………………………………………Ah, aku dong.
Rasanya tatapan seluruh murid di kelas
langsung tertuju padaku seketika.
Mau muntah rasanya.
"Duh Bun-kun. Kalau tidak bangun,
pelajarannya bakal keburu mulai lho?"
Hiyori menghampiriku, lalu
mengguncang-guncang tubuhku pelan untuk membangunkanku.
Aah, aku tidak mau mengangkat wajahku……!!
Pasti, tatapan anak-anak sekelas sedang
luar biasa mengerikan! Kalau mengangkat wajah, ini bakal jadi neraka!!
"Ah, benar juga. Kemarin kan aku
sama—"
"Selamat pagi, Nanase-san. Hari ini
sungguh cuaca yang sangat cerah ya."
Aku tidak boleh membiarkannya bicara
lebih jauh dari itu. Soalnya ini menyangkut kelangsungan hidupku di sekolah ke
depannya.
Berteleponan sampai larut malam dengan
Nanase Hiyori…… cuma ada unsur-unsur yang bakal memicu keributan besar.
"P-pagi. Kaget aku, kamu mendadak
bangun begitu."
"Bangun tidurku memang selalu
seperti ini."
"……Oh, begitu?"
Pikirku sendiri, aku ini bicara hal yang
tidak jelas, tetapi Hiyori tampaknya bisa menerima alasan itu.
"Daripada itu. Anu, Bun-kun itu
maksudnya?"
"He? Karena Tomida Bungaku-kun,
jadinya Bun-kun."
Bukan, bukan. Bukan begitu. Yang mau
ditanyakan bukan di situnya.
"A-nama panggilan……"
"Aku kan memanggil teman-teman
dekatku dengan nama panggilan. Ah, kalau anak laki-laki, mungkin Bun-kun yang
pertama ya?"
Iya. Benar sekali.
"Etto, kita kan tidak sedekat itu
sampai bisa disebut teman akrab ya?"
"Benar juga ya. Jujur saja, kalau
sekarang mungkin kita memang belum seakrab itu sih."
Eeh……
"Kalau begitu kenapa?"
"Karena mulai sekarang, aku berpikir
kalau aku ingin makin akrab dengan Bun-kun, makanya begitu."
Apa itu karena kejadian kemarin? Kalau
memang karena itu, berarti……
"Padahal aku tidak melakukan hal
yang seberapa."
"Masa sih? Kalau aku sih merasa
cukup terselamatkan lho?"
Hiyori tertawa ahaha, lalu memasang
ekspresi serius.
"……Aku benar-benar
terselamatkan."
Mata Hiyori menatapku dengan lekat.
Ketulusan yang terpancar darinya membuatku tanpa sadar menelan ludah.
"B-begitu ya."
"Iya dong. Bagi aku, Bun-kun itu
sudah jadi sosok satu-satunya yang tidak tergantikan lho."
S-satu-satunya yang tidak tergantikan.
Pada akhirnya, aku yang tidak bisa
melakukan apa-apa selain mengangguk pelan dibalas dengan senyuman oleh Hiyori.
"Bentar lagi homeroom pagi mau
mulai, jadi tidak boleh tidur lagi ya?"
Meninggalkan kata-kata itu, Hiyori
kembali ke tempat duduknya.
Tatapan teman-teman sekelas seolah-olah
ingin mengatakan sesuatu, tetapi karena guru langsung datang tak lama kemudian,
tidak ada yang menanyaiku lebih jauh.
Setelah itu, waktu berlalu dengan sangat
cepat.
Biasanya waktu sampai jam istirahat siang
terasa begitu lama, tetapi hari ini rasanya waktu berlalu begitu saja.
Normalnya, begitu jam istirahat siang
tiba, kelompok-kelompok bakal langsung terbentuk dan teman-teman sekelas mulai
menyantap makan siang mereka, tetapi entah kenapa hari ini mereka malah
diam-diam
memperhatikanku.
……Di saat seperti ini, keluar kelas
adalah pilihan yang paling benar.
Begitu aku bergegas keluar dari kelas dan
menginjakkan kaki di koridor, Hiyori mendadak memanggilku.
"Ah, Bun-kun. Mau ke mana?"
"C-cuma mau pergi ke koperasi
sebentar."
"Begitu ya. Aku juga……"
"Hiyori-chan."
Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar
suara yang imut.
Mendengar suara itu, aku refleks
berbalik.
Di
sana, berdirilah heroine utama dari 『Tenichi!!』,
Ayabe Ichika.
Seorang gadis cantik berparas elok dengan
rambut lurus warna flaks yang terawat dan berkilau. Dia luar biasa imut. Tidak
heran kalau dia dijuluki bunga di puncak gunung.
"Hana-chan! Ada apa?"
Ichika membungkuk pelan memberiku salam,
lalu menatap Hiyori dengan mata berbinar-binar.
"Hiyori-chan. Kalau tidak keberatan,
bagaimana kalau hari ini kita makan bertiga bersama Tenma-kun?"
Rupanya dia datang untuk mengajak makan
siang bersama. Padahal beda kelas…… tapi dia bela-belain datang sampai ke sini
ya.
"Ah, e-etto. Itu……"
"……Jangan-jangan, Hiyori-chan tidak
mau makan bersamaku ya?"
"Eh, a, tidak, m-maksudku bukan
begitu……"
Melihat respons yang meragu itu, ekspresi
Ichika perlahan-lahan meredup. Dan melihat reaksi itu, Hiyori mendadak pucat
pasi.
Yah, kalau dipikir dari sudut pandang
Ichika, dia kan cuma mengajak makan siang seperti biasa, jadi wajar saja kalau
dia mengira sedang ditolak. Hiyori memang punya alasannya sendiri, tapi Ichika
mana mungkin tahu soal itu.
Hiyori menggenggam erat roknya.
"Maaf Ayabe-san. Ini salahku."
"Eh?"
Dengan ekspresi terkejut, Ichika menatap
ke arahku.
"Sebenarnya aku sedang…… c-curhat
soal percintaan pada Nanase-san,
dan kami sudah ada janji dia mau
mendengarkan ceritaku saat jam istirahat siang ini."
Tentu saja, kami tidak pernah membuat obrolan seperti itu. Itu murni kebohongan total.
"Ah, m-maafkan aku. Ternyata sudah
ada janji ya."
"U-ung. Itu…… maaf ya,
Hana-chan."
"Tidak apa-apa kok. Malah aku yang
minta maaf. Nanti aku ajak lagi ya."
"Ung. Terima kasih!"
Sambil tersenyum, Ichika membungkuk
memberi salam lalu berjalan pergi.
"A-etto, masih berat ya kalau harus
berada di dekat Shindou? Tidak perlu merasa bersalah, itu wajar kok."
Aku sendiri pun, setelah ditolak oleh
seorang gadis, rasanya selama sebulan tidak mau melihat wajahnya sama sekali.
"Aku ini benar-benar beruntung
ya……"
Sambil mengucapkannya, Hiyori menarik
pelan lengan bajuku.
Padahal baru saja ditolak oleh pria yang
disukainya, tapi dia malah merasa dirinya beruntung…… betapa baiknya gadis ini.
Saat aku sedang kagum padanya, Hiyori
menatapku dan entah kenapa malah tertawa jahil.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku
langsung dengarkan curhatan cinta Bun-kun sekarang?"
Sambil menyeringai, Hiyori menyenggolku
dengan sikutnya.
"Jangan mengejekku dong. Kalau
begitu aku mau pergi ke koperasi dulu."
"Ah, aku juga mau ikut. Aku mau
ambil bekal dulu, tunggu sebentar ya."
"Eh? Kenapa?"
Saat refleks bertanya, Hiyori memalingkan
wajahnya dengan agak malu-malu lalu berkata:
"Rasanya, hari ini aku ingin bersama
Bun-kun terus~……"
Eh, itu artinya……
"Kalau selain curhat sih, aku mau
dengar."
"Wah, jahatnya."
Sambil melayangkan pukulan imut yang
tampak menyenangkan ke dadaku, Hiyori pun pergi mengambil bekalnya.
◇
Setengah bulan telah berlalu sejak Nanase
Hiyori ditolak.
Setelah itu, hubungan kami terus
berlanjut di tahap lebih dari sekadar kenalan, tetapi kurang dari teman akrab.
Saat di kelas, Hiyori memang sering
mengajakku berbicara, tetapi karena dia punya kelompok bertemannya sendiri,
kami tidak selalu bersama.
Interaksi dengannya sebagian besar
dilakukan lewat panggilan telepon.
Baik pada malam hari di hari kerja maupun
sesekali di akhir pekan, telepon darinya sering masuk. Aku mendengarkan
berbagai keluh kesah dan masalahnya, sekaligus terus membantunya memulihkan
mental setelah patah hati.
Saat ini jam 9 malam. Berdasarkan tren
sejauh ini, kalau terjadi sesuatu pada Hiyori, kemungkinan besar pesan akan
dikirimkan di rentang waktu seperti ini.
Saat aku sedang santai makan camilan
sambil menonton anime, sebuah notifikasi muncul di layar ponselku.
Hiyori:
『Bun-kun. Sudah bangun?』
Pasti telah terjadi sesuatu.
Saat aku mengoperasikan ponsel dan
mengetuk ikon panggilan, panggilannya diangkat hanya dalam satu kali nada
dering.
Eh, cepat sekali.
『Bun-kun』
"S-selamat malam, Nanase-san. Etto,
ada apa?"
『Bun-kun, Bun-kun, Bun-kun, Bun-kun-~!!』
"I-iya…… ini Bungaku."
『Besok saat jam istirahat siang, aku berpikir
untuk makan bersama Tenma dan Hana-chan.』
"Oho."
Sungguh mengejutkan, Hiyori yang awalnya
enggan bahkan hanya untuk bertemu saja, kini justru ingin menemui mereka berdua
atas inisiatifnya sendiri.
"Artinya, kamu sudah bisa move
on?"
『Sama sekali belum move on tahu. Malah sampai
sekarang pun aku masih belum bisa melupakannya!』
"Eeh……"
『Meski begitu, aku harus berjuang sekarang.
Rasanya kalau tidak berjuang di sini, aku tidak akan bisa terlibat lagi dengan
mereka berdua…… Dan hal itu agak tidak mau kualami. Aku mau bisa berbicara
dengan mereka berdua…… seperti dulu lagi.』
"……Begitu ya."
Mungkin dia sedang berusaha untuk
melangkah maju dengan caranya sendiri.
『Lalu ya, aku punya permintaan untuk Bun-kun. Aku
mau kamu melihatku saat pergi ke tempat mereka berdua. Maksudnya, supaya aku
tidak kabur.』
Suara yang terdengar agak segan sampai ke
telingaku.
Artinya, dia memintaku untuk menjadi
pengawas, kan?
"Yah, kalau cuma sebatas itu sih
dengan senang hati."
『Terima kasih~! Siip, besok aku bakal berjuang~!
Bagaimanapun juga, hari ini aku sudah makan tonkatsu lho!』
Rupanya, usaha mencari keberuntungannya
sudah sempurna.
"Ah, benar juga. Kalau begitu
bagaimana kalau sekarang kita adakan rapat strategi untuk besok?"
『Ah! Boleh juga tuh! Bun-kun, hari ini aku tidak
bakal membiarkanmu tidur ya?』
"Ahaha, tolong bersikap lembut
ya."
Saat itu aku mengira hal itu cuma
bercanda dan tertawa menanggapinya, tetapi panggilan telepon dengan Hiyori
benar-benar berlangsung sampai matahari terbit.
◇
"Simulasi di dalam otak?"
"Sempurna!!"
"Langkah pertamanya dulu?"
"Menyapa dengan senyuman
terbaik!"
"H-Hiyori-chan!? Ada apa nih?
(dengan suara falsetto)"
"Aku pikir mau makan siang bareng
kalian berdua lagi setelah sekian lama!"
"Bagus, pergi sana!!
Nanase-san!"
"Ung!! Aku pergi dulu!"
Saat jam istirahat siang, sesuai janji,
aku mengawasi Hiyori pergi.
Dengan langkah yang hati-hati, Hiyori
berjalan menuju bangku di taman tengah tempat Tenma dan Ichika sedang menyantap
bekal mereka.
"……Ah."
Mendadak langkahnya terhenti, dan Hiyori
berbalik menatapku.
"U, uuh."
Ohoi, dia malah kembali sambil hampir
menangis.
"Ehto, ada apa?"
"M-mereka berdua makan bekal sambil
suap-suapan……"
Uwah. Waktunya buruk sekali ya……
Beruntung, pihak sana sepertinya tidak
menyadarinya, jadi kalau mencoba sekali lagi seharusnya tidak masalah, tetapi……
"Jangan-jangan, mereka berdua sudah
pacaran ya……"
"Tidak, belum tentu begitu…… Sahabat
dekat yang seakrab itu sih wajar saja."
"Masa sih?"
"Iya tahu!"
Nggak tahu juga, sih.
"Tunggu sebentar. Apa aku harus
menerobos masuk ke dalam suasana seperti itu sendirian? Menyiksa banget
tahu!"
Hiyori duduk memegangi kepalanya.
Situasinya benar-benar tampak putus asa.
Ke depannya, apakah dia akan terus
terlibat dengan Shindou Tenma?
Atau justru memilih memutus hubungan
sekalian? Pilihan yang diambil oleh Hiyori Nanase dalam karya aslinya adalah
pilihan yang kedua.
Aku tidak berpikir kalau pilihan itu
salah.
Namun, Hiyori yang ada di depanku saat
ini berusaha memilih opsi yang pertama. Kalau begitu, peranku adalah
mendukungnya dengan sekuat tenaga.
"Aku mengerti. Tunggu sebentar
ya."
Jujur saja, aku benar-benar tidak ingin
menggunakan cara ini, tetapi…… apa boleh buat.
Kantong kertas yang sudah kusiapkan untuk
jaga-jaga.
Isinya adalah wig rambut panjang, serta
rok cadangan, pita, dan stoking hitam milik Hiyori yang disiapkannya untukku.
Rencana rahasiaku adalah menyamar sebagai
perempuan, lalu bersama Hiyori menerobos makan siang sang protagonis dan sang
heroine
(ngomong-ngomong, aku belum
membicarakannya pada Hiyori).
Kalau dalam kondisi seperti ini aku dan
Hiyori mendadak muncul di depan mereka berdua, pasti bakal timbul
kesalahpahaman yang aneh.
Justru karena itulah aku harus menyamar
jadi perempuan.
Aku masuk ke kelas kosong terdekat, lalu
mengeluarkan roknya.
……Memakai rok milik heroine favorit.
"………………"
Ini benar-benar sudah melewati batas,
tapi mau bagaimana lagi. Tidak, tapi tetap saja agak……
S-serahkan saja pada dorongan momentum.
Kalau tidak, aku bakal berpikir jernih. Kalau sampai begitu, selesailah sudah.
Cuma sekali, iya cuma sekali ini saja. Bakal selesai dalam kurun waktu sekitar
40 menit.
Aku bukan penyimpang, aku bukan
penyimpang, aku bukan penyimpang.
Sambil menanamkan hal itu pada diriku
sendiri, aku melepas celana, memakai stoking hitam serta rok, lalu mengenakan
wig.
Waktu yang dibutuhkan cuma 30 detik.
Kebetulan ada cermin berdiri, aku pun
melihat penampilan diriku yang sedang menyamar sebagai perempuan.
Aku ini sebenarnya sedang melakukan apa
sih. Yang seperti ini kan cuma penyimpang belaka.
Ah, bukan. Sekarang bukan waktunya
memikirkan hal itu.
Sambil menepis berbagai pikiran liar yang
bermunculan, aku bergegas menghampiri Hiyori.
"Ah, Bun-kun. Lagi ngapain sih……
EEEEEEEEEEEH!?"
Wajar saja kalau Hiyori kaget. Aku
sendiri pun kaget. Kenapa aku sampai melakukan hal seperti ini coba.
Tidak, beneran deh, kenapa bisa jadi
begini?
"Anu, itu kan rok cadanganku……"
"Tenang saja, aku pakai stoking
kok."
"Bukan, masalahnya bukan di
situ……"
"Sudah, ayo pergi! Ikuti aku!
Hiyori-chan!"
"Tunggu sebentar Tomida-kun,
jangan-jangan kamu berniat bicara pakai bahasa wanita dengan suara seperti
itu!?"
"Tenang saja. Pengaturanku sekarang
adalah gadis polos yang pemalu dan antisosial karena tidak pandai bicara dengan
orang lain, jadi semua percakapan berniat kulakukan lewat tulisan di
ponsel."
"Pengaturannya dibuat-buat sampai
sedetail itu secara sia-sia……"
Sambil menarik tangan Hiyori yang terus
mengoceh, aku melangkah menuju taman tengah.
Tadi Hiyori memanggilku 'Tomida-kun'
bukannya 'Bun-kun', rasanya seolah dia menarik diri satu langkah yang membuatku
agak nyesek, tetapi hal seperti itu sekarang tidak penting.
Tidak, sebenarnya penting sih.
Sambil menarik Hiyori dengan nekat,
pasangan Tenma dan Ichika terlihat sedang menyantap makan siang bersama dengan
akrab di meja bangku taman tengah.
Melihat kami, mereka berdua seketika
menyadarinya dan memasang ekspresi terkejut.
"Hiyori-chan?"
"……Hiyori."
"A, etto. A, ahaha…… k-kalian
berdua, sudah lama ya! Kebetulan sekali ketemu di tempat seperti ini!"
Sambil panik, Hiyori melambaikan
tangannya.
"Hiyori. Anak itu siapa?"
"Etto, anak ini teman sekelas……
Tomida Fumika-chan! Anak polos yang pemalu dan antisosial karena tidak pandai
bicara dengan orang lain…… begitu!"
Sambil celingukan panik, Hiyori
memperkenalkan Tomida Fumika-chan (diriku).
"E, etto. Lalu ya! Kami berdua
sedang mencari tempat buat makan siang. Boleh kami bergabung? Kalau boleh, aku
mau kalian akrab dengan Fumika-chan."
"Tentu saja! Kalau memang Fumika-san
tidak keberatan. Bagaimana
denganmu, Ichika?"
"Aku juga sama seperti Tenma-kun.
Fumika-chan, silakan duduk di sini."
Mereka menyambut dengan sangat hangat ya.
Pasangan protagonis dan
heroine berelemen cahaya ini.
Saat hendak duduk di bangku, entah kenapa
Ichika menatapku dengan tajam.
"Hana-chan? Ada apa? Kok menatap
Fumika-chan seperti itu?"
"He? A, tidak…… Rasanya akhir-akhir
ini aku pernah bertemu dengan
Fumika-chan di suatu tempat."
Eh, jangan-jangan ketahuan?
"A, bukannya yang itu ya? Kalau cuma
papasan di koridor atau semacamnya…… mungkin saja kan?"
Saat Hiyori menyela dengan panik, Ichika
menepuk tangannya seolah tersadarkan.
A, bahaya, bahaya. Nice follow dari
Hiyori.
Menetralkan suasana kembali, aku dan
Hiyori duduk di hadapan mereka berdua. Lalu, aku mengetik layar ponsel dengan
gencar dan menyodorkan layarnya ke hadapan mereka berdua.
『Saya sangat gagap berkomunikasi, jadi saya
berbicara lewat tulisan
seperti
ini』
"I-iya! Makanya kalian berdua tolong
agak sabar ya kalau bicara dengan Fumika-chan."
『Maaf ya. Saya terkesan seperti orang aneh ya……』
"Sama sekali tidak kok. Fumika-chan
cuma menyampaikan perasaan lewat tulisan, bukan lewat suara. Tidak ada yang
aneh sama sekali."
Ichika-san melemparkan senyuman bagaikan
malaikat padaku.
Gawat nih. Rasanya aku bisa sedikit
kepikat. Dia anak yang sangat baik ya…… tidak, aku memang sudah tahu sih? Tapi
rasanya seperti
disadarkan kembali.
Tanpa sadar, aku memalingkan pandanganku
untuk menyembunyikan rasa malu, lalu Hiyori yang ada di sebelahku menyenggol
sepatusku
pelan.
Pada saat itu juga, sebuah pesan dari
Hiyori masuk.
『Jangan kegeeran sama Hana-chan dong~』
…………Iya, maaf ya.
◇
Aku, Nanase Hiyori, baru saja menyatakan
cinta kepada orang yang kusukai dan ditolak. Pria itu adalah Shindou Tenma.
Teman masa kecil sekaligus sahabatku.
Jujur saja…… sampai sekarang pun rasanya
masih menyakitkan jika melihat wajah Tenma. Aku belum bisa move on, dan masih
teringat-ingat terus.
Saat ini, aku sedang makan siang bersama
orang tersebut.
Sebenarnya aku masih butuh sedikit waktu
lagi, tetapi aku tidak bisa terus bersikap seperti ini. Soalnya, aku rasa
tinggal menunggu waktu saja sampai Tenma dan Hana-chan berpacaran.
Kalau aku terus melarikan diri dan
menghindari Tenma karena kepikiran masalah penolakan ini…… lalu di saat yang
sama mereka berdua jadian, kali ini aku benar-benar tidak akan bisa menyapanya
lagi.
Jika sudah begitu, aku dipastikan tidak
akan terlibat lagi dengan mereka berdua di masa depan.
Hal itu rasanya…… agak kesepian.
Karena itulah, aku memutuskan untuk
melangkah maju dan berada di sini demi menghadapi Tenma.
Meski begitu, aku tidak bisa berbicara
seperti biasa dengan Tenma.
Padahal aku bisa mengobrol dengan
Hana-chan, tetapi aku bingung harus membicarakan apa dengan Tenma.
Hana-chan pun mulai menyadari jarak
kecanggungan yang ada di antara aku dan Tenma.
Gawat. Aku harus membicarakan sesuatu……
seperti dulu lagi, seperti biasanya.
…………Lho?
Aku biasanya mengobrol seperti apa ya
dengan Tenma?
"Hyak!?"
Di saat pikiranku hampir mendadak kosong,
pinggangku dicubit pelan dari samping.
Saat aku menoleh ke samping, tampak
Bun-kun yang sedang menyamar sebagai perempuan menatapku dengan lekat. Dengan
wajah bangga seolah berkata 'serahkan saja padaku', dia mengetik sesuatu di
ponsel lalu memperlihatkannya kepada Tenma.
『Bagaimana awal mula Shindou-kun dan Nanase-san
bisa saling kenal?』
"Nn? Cerita waktu aku dan Hiyori
pertama kali kenal?"
Eh, Bun-kun. Kenapa menanyakan hal
seperti itu……?
"Bagaimana ya. Awal mula aku mulai
akrab dengan Hiyori itu…… kalau tidak salah gara-gara kami berdua ketahuan
tidur siang saat pelajaran lalu dihukum ikut kelas remedial ya."
Ah, pernah ada kejadian seperti itu ya.
Rasanya sangat merindukan masa-masa itu.
"Ah, ngomong-ngomong…… soal-soal
remedial saat itu sangat sulit ya."
"Nah kan, benar!! Kita berdua sampai
memegang kepala gara-gara
kebingungan~"
"Tapi aku kaget waktu Tenma bilang
kalau soal pilihan ganda dengan 5 opsi itu punya kemungkinan paling tinggi
benar di nomor 4."
"L-lah, Hiyori juga ikut-ikutan
memilih nomor 4 dan jawabanmu benar
juga kan~"
……Lho? Kok rasanya aku jadi bisa
mengobrol seperti biasanya?
Saat aku menoleh ke samping, tampak
Bun-kun mendengarkan obrolan kami dengan ekspresi puas. Lalu Hana-chan yang ada
di sampingnya menatap Bun-kun dengan tatapan kagum.
"Fumika-chan."
『Iya?』
"Fumika-chan ini…… hebat sekali
ya."
『A, terima kasih?』
……Jangan-jangan, Bun-kun sudah tahu bakal
jadi seperti ini makanya dia mengalihkan obrolan ke Tenma?
Kalau memang begitu, aku benar-benar
selalu dibantu oleh Bun-kun.
Selalu saja, saat aku sedang kesulitan
atau merasa berat, dia selalu menopangku.
………………Meskipun saat ini dia sedang
menyamar sebagai perempuan sih.
"Tomida-san, ternyata lumayan akrab
ya dengan Hiyori."
Tiba-tiba Tenma bergumam sambil menatapku
dan Bun-kun secara bergantian.
"Iya dong. Kami ini akrab banget
tahu. Iya kan, Fumika-chan?"
"Kyaa!?"
Saat aku memeluk Bun-kun untuk memamerkan
keakraban kami, dia mengeluarkan jeritan aneh lalu membeku dengan wajah memerah
padam.
Reaksinya itu agak lucu.
"Aku juga mau akrab dengan
Tomida-san deh."
"Aku juga ingin akrab dengan
Fumika-chan."
He? Hana-chan juga?
Entah kenapa, pelukanku pada Bun-kun
makin kukencangkan.
Setelah itu, kami bertiga bisa mengobrol
seperti biasanya. Meski belum bisa dibilang pulih sepenuhnya, rasanya kebiasaan
kami yang dulu perlahan-lahan mulai kembali.
Waktu makan siang yang terasa panjang
tetapi juga singkat itu akhirnya diakhiri oleh suara bel penanda masuk.
"Kalau begitu, aku dan Fumika-chan
kembali ke kelas bareng ya."
Saat aku hendak meninggalkan taman tengah
bersama Bun-kun,
"Anu, Fumika-chan. Kalau tidak
keberatan, bisakah makan siang bersama kami lagi?"
"……He?"
Mendengar usulan mendadak dari Hana-chan,
Bun-kun refleks kaget hingga mengeluarkan suara falsetto.
"Aku sama seperti Fumika-chan yang
tidak punya banyak teman…… jadi, hari ini rasanya sangat menyenangkan. Makanya,
saat Fumika-chan berkenan saja tidak apa-apa, aku ingin kamu datang lagi……
bagaimana?"
Jujur saja, aku kaget. Hana-chan itu tipe
orang yang memperhatikan sekitar dan punya kewaspadaan yang tinggi. Makanya dia
jarang sekali menawarkan hal seperti ini atas inisiatifnya sendiri.
Paling-paling cuma kepada Tenma atau aku saja.
Bagaimana ya jawaban Bun-kun……?
Saat aku menoleh ke samping,
"A, aah…… waah……"
Wajah Bun-kun mendadak tegang! Benar juga
ya. Berarti kedepannya dia harus terus menyamar sebagai perempuan dong?
"……Tidak boleh ya?"
H-Hana-chan…… ekspresi lesu seperti itu
curang banget tahu!
"…………………………………………………………………………Kalau
orang sepertiku tidak masalah."
"Fumika-chan!"
Menanggapi senyuman yang tenang dan murni
dari Hana-chan, wajah Bun-kun mendadak pucat pasi seolah hendak pingsan saat
itu juga.
Melihat mereka berdua, Tenma mengangguk
dengan wajah yang tampak puas.
"Kalau bisa, aku senang sekali kalau
kamu datang 2 kali seminggu."
"Eh, a, o-oh. D-dua kali
seminggu."
Dilepas oleh senyuman lebar Hana-chan dan
senyuman lembut Tenma, kami pun berjalan menuju kelas.
"……Etto, Bun-kun. Tidak
apa-apa?"
"……Hu!!"
Dengan wajah pucat dan pipi tegang,
Bun-kun mengacungkan ibu jarinya.
◇
Sabtu siang.
Hati kecilku sedang bergejolak hebat.
Alasannya tidak lain karena Hiyori mengajakku menonton bioskop bersama.
Jujur saja, sejak semalam aku terlalu
gugup hingga tidak bisa tidur semalaman.
Namun, tidak boleh kegeeran dulu.
Ini bukan kencan, melainkan cuma sebatas
jalan-jalan antar teman!
Sisa 15 menit menuju waktu janjian.
Ahaha. Rasa senang dan gugup bercampur
aduk sampai rasanya mau muntah!!
"Ah, Bun-kun! Maaf ya. Sudah lama
menunggu?"
"Tidak apa-apa! Aku juga baru sampai
kok!"
Bohong. Saking senangnya, aku sudah
standby dari jam 7 pagi.
Ah, tidak, ini bukan waktunya buat
bersenang-senang. Pertama-tama aku harus memuji pakaian yang dikenakan oleh
seorang gadis.
Pikirkan dengan benar, wahai diriku.
"Nanase-san. Etto, baju itu.
Menurutku bagus. Ung…… bagus banget. Gimana ya."
Setelah kupikirkan baik-baik, yang keluar
malah kalimat tadi.
Bukannya kemampuan bicaraku ini payah
banget, ya?
"Bun-kun sepertinya harus belajar
lebih banyak kata-kata pujian deh. Tapi, terima kasih ya."
Hiyori tersenyum manis menanggapi
kata-kataku.
"Ayo, berangkat?"
Pergelangan tanganku ditarik oleh Hiyori,
lalu kami mulai berjalan.
…………Jangan-jangan ini yang dinamakan
kencan?
Mendadak tersadar kembali, aku mengusap
keringat yang mengucur pelan dengan saputangan.
Gawat nih. Dia tersenyum padaku,
menyentuhku, dan memujiku. Kalau begini terus, bisa-bisa aku malah menyatakan
cinta pada Hiyori.
"Anu, Nanase-san. Terima kasih
banyak karena sudah mengajakku hari ini."
"Eh, kenapa? Kok pakai bahasa formal
begitu?"
Kenapa ya…… kenapa ya.
"Kenapa kamu mengajakku?"
"Sebenarnya film yang mau kita
tonton ini film romantis sih. Aku sudah lama penasaran sama film ini, lalu aku
ajak Hana-chan…… tapi sepertinya dia mau pergi nonton bareng Tenma."
Ah. Paham.
"Aku juga mengajak Hoshinon dan yang
lainnya, tapi langsung ditolak mentah-mentah karena mereka tidak tertarik. Aku
juga nggak mau pergi sama cowok sembarangan. Itu, aku pikir kalau Bun-kun pasti
mau datang."
"………………………………Mari kita nikmati.
Filmnya."
"Ung!! Ehehe. Sebenarnya ya, aku
lumayan menantikannya lho?"
Entah kenapa, semua rasa kegeeranku tadi
langsung lenyap.
Hiyori saat ini mentalnya sedang agak
lemah. Kalau begitu,
mengupayakan penanganan mentalnya adalah
hal yang harus kulakukan.
Saat aku mengalihkan perasaanku seperti
itu, tanpa sadar kami sudah
sampai di bioskop.
Membeli minuman dan popcorn di food
court, lalu menggunakan tiket pesanan untuk masuk ke dalam studio.
Film yang ingin ditonton oleh Hiyori
adalah film live-action yang diadaptasi dari manga shoujo.
Menonton film sambil makan popcorn.
『Saya Taniguchi Misaki yang baru pindah sekolah.
Mohon bantuannya ya』
『Gadis yang cantik』
Saat
menontonnya, sepertinya jalan ceritanya berputar pada heroine utama yang baru
pindah sekolah, 『Taniguchi Misaki』,
yang menjadi akrab dan akhirnya bersatu dengan anak laki-laki populer di kelas,
『Ichinose Masato』.
『Maaasato~!!』
『Uwa, apa-apaan sih, Koharu』
Mendadak muncul gadis yang jelas-jelas
berperan sebagai heroine
kalah……
Nama heroine itu adalah Sakurai Koharu.
Sepertinya, dia teman masa kecil sekaligus sahabat Masato-kun yang sudah
terikat sejak lama, dan diam-diam menyukainya
Pengaturan ini, rasanya pernah kulihat di
suatu tempat……
Sambil memendam perasaan yang agak tidak
tenang, aku terus menonton. Misaki yang baru pindah sekolah dan belum punya
tempat hinggap mulai mempererat hubungannya dengan Masato dan Koharu, hingga
mereka bertiga menjadi sangat akrab.
Lalu, di tengah-tengah itu muncullah
perasaan cinta antara Misaki dan Masato. Menyadari hal itu, perasaan Koharu pun
mulai meredup.
Kenapa ya. Melihat adegan dua pemeran
utama yang bikin berdebar-debar itu malah membuat perutku melilit perih.
T-tidak apa-apa kan? Hiyori, tidak
memproyeksikan dirinya sendiri kan?
"Ung. Aku paham kok, Koharu-chan.
P-pasti jadi cemas kan……!"
Dia benar-benar meresapi perasaannya……
Melihat reaksi Hiyori di sebelahku, aku
jadi malah lebih meresapi perasaan Koharu dibanding Misaki yang merupakan
heroine utama.
Cerita berlanjut, dua orang itu berhasil
bersatu dengan selamat, sementara Koharu menangis sendirian di bangku taman
belakang.
Aku melirik pelan ke arah Hiyori di
sebelahku.
"Guhk…… u, uweeh…… Koharu……
chan"
Uwaaaaah. Dia menangis sesenggukan.
Benar-benar menangis serius kan.
"S-menyakitkan ya……!! U, uuh……
berju……ang. Koharu-chan sudah berjuang kok"
Kenapa ya. Melihatnya begini membuatku
yang menonton juga ikut merasa menderita.
『Koharu-chan. Tidak apa-apa?』
O-orang ini adalah…… Si anak cowok
pemikat yang merupakan karakter figuran di kelas yang sama!!
Yang mengulurkan tangan pada Koharu yang
sedang menangis adalah si anak cowok pemikat tipe gaul yang sering menggoda
Koharu selama film berlangsung (tanpa nama).
Jujur saja, dia itu karakter yang
menyebalkan jadi aku tidak begitu menyukainya. Malah di saat seperti ini,
tega-teganya orang yang mengulurkan tangan pada Koharu-chan kami adalah si
cowok ini……
『Aku tuh ya, selalu memperhatikan seberapa keras
usaha Koharu-chan selama ini tahu』
Sambil memasang senyuman lembut, si cowok
pemikat itu berkata begitu…… lalu diam dan tetap berada di samping Koharu.
Ha? Si cowok pemikat, kamu…… ternyata
anak yang baik banget!!
"S-si cowok…… pemikat!"
Hiyori merasa terharu seolah-olah
pandangannya terhadap tindakan si cowok pemikat mendadak berubah total. Ini
pasti momen saat tensiku dan Hiyori berada di puncak tertinggi sepanjang film
berlangsung.
Film berakhir dengan selamat, kami pun
keluar dari studio sambil menikmati sisa-sisa kesannya.
"……Syukurlah ya, Koharu-chan."
"……Ung."
Aku dan Hiyori saling bertukar kesan.
Jujur saja, daripada obrolan tentang sang
protagonis dan sang heroine, obrolan tentang Koharu-chan dan si cowok pemikat
justru jauh lebih heboh.
"Si cowok pemikat itu anak yang baik
ya. Padahal tadinya karakter menyebalkan."
"Beneran! Jujur ya, di akhir-akhir
aku jadi respek banget sama dia. Si cowok pemikat saat itu tanpa diragukan lagi
sudah jadi penopang hatinya Koharu-chan!"
Si cowok pemikat. Siapa sangka di
detik-detik terakhir nilai favorability-nya di mata Hiyori malah melonjak
drastis.
"……Mungkin saja, cinta yang baru
bagi Koharu-chan ternyata ada di tempat yang sangat dekat ya."
Sambil merasa haru, Hiyori bergumam
begitu.
"Setelah berdamai dengan perasaannya
terhadap Masato-kun, dan di saat itu pun si cowok pemikat tetap berada di
sisinya….. lalu dari sana perasaannya perlahan-lahan beralih ke si cowok
pemikat…… aku pikir itu bukan hal yang aneh."
Hiyori yang pasti sangat memahami betul
perasaan Koharu-chan mengatakannya seperti itu.
Di masa depan yang dekat, Koharu mungkin
akan menyukai si cowok pemikat. Maksudnya seperti itu kan?
"Ngomong-ngomong si cowok pemikat
itu. Agak mirip seperti Bun-kun ya."
Sambil terkikik, Hiyori mengejekku.
"Tidak ah, aku tidak pemikat seperti
itu."
Mendengar ucapanku yang cepat, Hiyori
menggembungkan pipinya seolah merasa tidak seru lalu memalingkan wajah.
"………………Maksudku bukan ke arah sana
sih."
◇
Pagi hari, aku terbangun sambil masih
terkabut rasa kantuk.
Aku harus pergi ke sekolah…… pikirku
sambil beranjak bangun.
"Hiyori~ sarapan~"
"Iyaa~"
Sambil membalas panggilan Ibu, aku
berjalan menuju wastafel.
Menyantap sarapan, berganti ke seragam
sekolah, merapikan penampilan, mengambil tas, lalu berangkat ke sekolah.
Satu bulan telah berlalu sejak aku
mengalami patah hati.
Sejak ditolak, sedikit demi sedikit aku
merasa sudah mulai bisa bangkit kembali
Luka akibat patah hati sering kali
dikatakan akan sembuh seiring berjalannya waktu, tetapi dalam kasusku,
keberadaan Bun-kun
memegang peranan yang sangat besar.
"Bun-kun, selamat pagi~"
"Nanase-san, selamat pagi."
Begitu sampai di kelas, aku langsung
menyapa Bun-kun yang sedang menyendiri.
"Kemarin saat jam istirahat siang
terima kasih ya sudah mau datang bersama. Hana-chan juga sangat senang
lho."
"Tidak juga, yah…… ung."
Belakangan ini, Bun-kun mau menyamar
sebagai perempuan dan menghabiskan waktu istirahat siang bersama kami berempat,
aku, Hana-chan, dan Tenma.
"Ngomong-ngomong, Hana-chan itu
sepertinya lumayan manja pada Bun-kun ya."
"Eh, masa sih?"
"Iya tahu. Soalnya dia selalu
memanggil 'Fumika-chan~ Fumika-chan~' dengan wajah yang tampak gembira.
Bagaimana kalau frekuensi makan siang bersamanya ditingkatkan saja?"
"Kalau yang itu mohon diampuni
ya."
Hana-chan itu kalau sudah membuka
hatinya, dia punya kecenderungan untuk sangat manja pada orang tersebut.
Mungkin bagi Hana-chan, keberadaan Bun-kun sudah berada di tingkat yang sama
sepertiku.
Yah, itu cuma tolok ukur kegeeranku saja
sih……
Bel berbunyi, aku melambaikan tangan pada
Bun-kun lalu kembali ke tempat dudukku sendiri.
Hari yang sama seperti biasanya pun
dimulai.
◇
Jam istirahat siang. Selesai menyantap
makanan, aku keluar dari kelas karena ingin membeli minuman.
Lalu, aku menemukan sosok Tenma di depan
mesin penjual otomatis.
……Kalau dulu aku pasti tidak bakal berani
melangkah, tetapi kalau
sekarang tidak apa-apa.
"Tenma!"
"Ooh…… Hiyori ya."
Sambil menepuk punggungnya pelan, aku
menyapa Tenma.
Un. Tidak apa-apa…… melihat wajah Tenma
pun sudah tidak terasa menyakitkan.
Saat mau membeli teh susu, aku memeriksa
dompet koin.
……Kurang 10 yen lagi.
"……Tenma?"
Aku melirik pelan ke arah wajah Tenma.
Lalu dengan ekspresi 'ya ampun……', dia
mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Terima kasih~"
"Dasar kamu ini……"
Tenma tertawa dengan raut agak serba
salah seperti biasanya.
Sip, sip, aku sudah bisa mengobrol
seperti dulu lagi. Meski sedikit demi sedikit, semuanya mulai kembali.
Keseharianku yang seperti biasanya……
sudah kembali.
"……Anu, Hiyori."
"Nn? Apa?"
"Sebenarnya…… aku dan Ichika sudah
jadian."
"……Eh."
Satu kalimat itu seketika menghancurkan
‘keseharianku yang seperti biasanya’ yang sudah susah payah kubangun.
"A, e, b-begi……tu ya. A, ahaha.
B-begitu ya……"
Lho, pikiranku mendadak kosong. Menyiksa
sekali. Aku tidak bisa bernapas dengan baik.
"E-etto…… a-aku mau ke toilet
sebentar!"
Tanpa mendengarkan jawaban Tenma maupun
melihat wajahnya, aku langsung berlari kencang. Pokoknya, aku ingin pergi dari
tempat ini secepat mungkin.
"Haa…… haah."
Tempat yang kucapai di akhir larianku
adalah bangku di halaman belakang. Alasan aku datang ke sini pasti karena ini
adalah tempat yang kukunjungi tepat setelah ditolak oleh Tenma.
Begitu sampai, bel penanda berakhirnya
jam istirahat siang pun berbunyi.
"……Biarlah. Membolos saja deh."
Jujur saja, aku tidak ingin kembali ke
kelas. Aku juga tidak punya energi untuk kembali. Kalau sampai ketahuan guru
atau murid lain, ya biarlah bagaimana nanti.
Aku duduk sendirian terdiam.
……Tenma. Dia menyatakan cinta pada
Hana-chan ya. Aku tidak tahu.
Sejak kapan.
"…………"
Air mata pelan-pelan mulai mengalir.
Tidak boleh. Tidak boleh kalah. Nanase
Hiyori…… berjuanglah, berjuanglah.
Harus bisa melampauinya, harus melangkah
maju, harus
menjadikannya sekadar kenangan.
Lagipula, aku kan sudah tahu. Sudah tahu
kan dari awal.
Saat ditolak dulu, aku tahu bakal jadi
seperti ini…… dan aku juga sudah bersiap. Atas dasar itulah aku menyatakan
cinta, dan aku bahkan berjuang agar bisa berbicara dengan Tenma sampai
merepotkan Bun-kun berkali-kali.
……Tapi,
"……Uhk, guhk."
Rasa sakit itu tetap saja terasa sakit.
"Nanase-san, tidak apa-apa?"
"……Eh?"
Saat mengangkat wajahku, di sana berdiri
Bun-kun yang napasnya tersengal-sengal.
"Eh, k-kenapa……?"
"Soalnya Nanase-san pergi membeli
minuman tapi tidak kunjung kembali, jadi aku berpikir jangan-jangan terjadi
sesuatu."
Bun-kun duduk di sampingku seolah hendak
menghela napas lega.
"P-pelajarannya bagaimana?"
"Membolos."
"Eh, a…… k-kalau ketahuan guru,
nanti kamu dimarahi lho?"
"Kalau begitu nanti dimarahi
bareng-bareng."
Sambil tertawa begitu, dia menyodorkan
teh susu kesukaanku.
……Beneran deh, perilakunya yang seperti
itulah.
Setelah itu, Bun-kun tidak mengatakan
apa-apa lagi, dia cuma diam dan berada di sampingku. Cuma dengan hal sepele
seperti itu, air mataku berhenti mengalir.
Tanpa alasan yang jelas, aku mengusap
tutup botol teh susu.
"……Tenma dan Hana-chan. Katanya
mereka berdua sudah jadian."
"……Begitu ya."
"Padahal aku pikir sudah bisa move
on, tapi begitu mereka berdua benar-benar jadian, rasanya menyiksa, sakit,
pedih…… benar-benar yang terburuk deh."
"Aku paham. Terus, diri sendiri yang
tidak bisa merestui secara tulus itu rasanya jadi terlihat seperti sosok yang
menjijikkan, kan?"
"Benar……!! Beneran deh, Bun-kun itu
hebat ya. Semua yang ada di pikiranku bisa ditebak semuanya."
"Yah, kalau soal mental pasca-patah
hati, aku membanggakan diri tidak ada yang bisa menandingiku sih."
Bun-kun membusungkan dadanya dengan wajah
bangga.
"……Kalau Bun-kun. Waktu orang yang
kamu sukai berpacaran dengan orang lain, bagaimana perasaanmu?"
"Eh, bagaimana ya. Pasti terasa
menyiksa sih. Tetap saja ya, meskipun sudah tahu, meskipun sudah bersiap-siap……
begitu saatnya tiba, rasanya tetap pedih dan menyiksa. Bukan berarti
teringat-ingat terus sih, tapi itu dua hal yang berbeda kan?"
"Nah! Nah kan benar! Seperti yang
diharapkan dari veteran yang kenyang pengalaman. Kamu paham banget ya……!"
Aku menyenggol lengan Bun-kun dengan
sikutku sekitar tiga kali.
"……Kok rasanya aku tidak sedang
dipuji ya."
Bun-kun memalingkan wajahnya seolah
sedang merajuk.
Entah kenapa rasanya lucu, hingga tanpa
sadar senyuman mengembang di bibirku.
……Lho. Padahal sampai tadi aku sedang
menangis, tapi sekarang aku malah tertawa.
"Nanase-san kenapa? Mukamu kelihatan
bingung banget."
"……Tidak. Bukan apa-apa."
………Benar-benar, benar-benar orang yang
ajaib.
"Bun-kun kalau di saat seperti ini
biasanya melakukan apa?"
"Uumm. Kurang lebih sama seperti
sekarang sih. Duduk di bangku taman sambil bercengkrama dengan alam. Terutama
kalau melihat rumput liar, entah kenapa rasanya jadi agak tenang."
Bun-kun bercerita dengan pandangan mata
yang menerawang jauh.
Pasti, Bun-kun juga sama sepertiku,
pernah menyukai seseorang, perasaannya tidak terbalaskan, dan harus menanggung
rasa sakit.
Mungkin karena itulah. Kepadanya, aku
tanpa sadar sampai meluapkan perasaan yang tadinya tidak berniat kuungkapkan.
"Hei. Entah kenapa, situasi sekarang
mirip seperti di film yang kita tonton kemarin ya? Adegan si cowok pemikat dan
Koharu-chan."
"Yah, cuma situasinya saja
sih."
"Eeh tidak kok? Bun-kun tanpa ragu
lagi sudah menjadi penyelamatku
lho."
Saat ini mungkin masih butuh sedikit
waktu lagi. Tapi, kalau aku sudah bisa berdamai dengan perasaanku terhadap
Tenma dan siap untuk cinta yang baru, saat itu……
"……Mungkin saja, cinta baruku juga
ada di tempat yang sangat dekat."
"……Hhmm?"
Dengan wajah yang tidak begitu paham, dia
memiringkan kepalanya.
Sambil tertawa melihat Bun-kun yang
seperti itu, aku meminum teh susuku.
Bangku di halaman belakang, membolos
pelajaran berdua saja. Tidak ada obrolan khusus, yang terdengar hanyalah
kicauan burung kecil.
Namun entah kenapa, tidak terasa
kecanggungan sama sekali, justru terasa sangat nyaman. Malah waktu yang terus
berlalu ini rasanya agak sangat disayangkan untuk diakhiri.
Ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam
diriku.
Saat ini aku belum tahu apa itu, tapi pasti kedepannya akan terus berkembang.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment