Prolog:『Kenangan Kehidupan Sebelumnya』
"Kamu itu ya, terlalu baik."
Dalam kata-kata itu, bercampur berbagai emosi—antara khawatir dan heran.
"Padahal aku sudah mencampakkanmu
dengan tega, terus menjadikannya bahan lelucon buat merundungmu, tapi kamu
selalu saja menolong orang sepertiku."
Dia bergumam sambil menatap kosong ke
arah bantaran sungai di kala senja.
"Hari ini juga…… kamu bantuin
menghapus coretan di mejaku, bahkan sampai melindungiku meski wajahmu jadi
memar-memar. Normalnya, waktu melihatku dirundung, orang-orang bakal mikir
'Rasaian tuh' atau 'Memang pantas kamu mendapat balasannya', hal-hal seperti
itulah yang bakal dipikirkan."
Sambil berkata begitu, dia menatap
wajahku yang penuh memar kebiruan.
Dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah dia
bisa menangis kapan saja.
"Tapi, kamu tetap baik padaku. Kamu
tidak berubah sedikit pun, padahal menolongku membuatmu ikut dijadikan target
perundungan. Aku……… sudah melakukan hal yang jahat padamu, aku juga sudah
mengatakan banyak hal yang kejam. Tapi, kenapa kamu sampai rela menanggung hal
sesulit ini hanya demi menolongku?"
Itu pasti karena, kalau melihat wajahmu
yang tampak menderita, aku juga ikut merasa menderita.
Mendengar jawabanku, matanya membelalak
lebar dengan pupil yang bergetar.
Lalu, selang satu helaan napas, dia
tertawa seolah merasa heran.
"Hahaha, kamu ini benar-benar ya.
Pintar banget bikin cewek jatuh hati. Justru karena kamu seperti ini, aku jadi
makin terobsesi padamu tahu……… Aku, kalau tidak ada kamu…… sudah…………"
Saat aku hendak menanyakannya kembali
karena tidak bisa mendengar kalimat terakhirnya dengan jelas, dia membuka suara
sambil melihat ponselnya.
"Ah, maaf. Aku harus segera pulang.
Sebenarnya aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi, tapi hari ini, Papa dan
Mama pulang setelah sekian lama."
Dia tertawa tampak sangat gembira.
"Aku mau makan malam bareng~ Entah
sudah berapa lama tidak makan malam dengan keluarga lengkap. Ah, kamu mau ikut
juga? Ahaha! Jangan panik begitu dong. Cuma bercanda kok. Tapi yaa, suatu saat
nanti pasti."
Saat aku menatap kasa yang tertempel di
pipinya, dia seolah menyadari apa yang sedang kupikirkan, lalu melepas kasa itu
dan memperlihatkan kulitnya yang sudah mulus kembali.
"Aku baik-baik saja. Memang masih
memakai kasa untuk berjaga-jaga, tapi sudah benar-benar sembuh. Lagipula
belakangan ini kamu selalu melindungiku, jadi tidak ada luka baru. Terima kasih
ya sudah mengkhawatirkanku."
Dia tersenyum tipis sambil sedikit
menyipitkan matanya.
"Kalau begitu, sampai besok
ya."
Meninggalkan bantaran sungai, dia menyeberangi penyeberangan jalan saat lampu lalu lintas berubah hijau.
Saat aku melambaikan tangan
mengantarkannya pergi, sebuah truk yang menerobos lampu merah melaju kencang ke
arah penyeberangan jalan.
Aku harus menolongnya. Pikirku.
Tubuhku pun bergerak secara alami.
Aku mendorongnya hingga terlempar, lalu
diriku disambar oleh truk yang beratnya puluhan kali lipat dari tubuhku.
Sakit.
Sakit dan menyiksa.
Tubuhku mati rasa dan tidak bisa
digerakkan.
Di dalam pandanganku yang perlahan-lahan
mengabur, sosoknya yang sedang berbicara padaku dengan setengah mati sambil
menangis masuk ke dalam penglihatanku.
……Padahal tidak perlu menangis demi orang
sepertiku. Kalau kamu memasang ekspresi seperti itu, aku pun jadi ikut sedih.
Makanya, aku ingin kamu jangan menangis.
Sungguh ajaib, tanganku yang sampai tadi
tidak bisa digerakkan sama sekali, tiba-tiba bergerak secara alami.
Saat aku mengusap air matanya dengan
jari, Puk. Rasanya seperti ada sesuatu yang terputus.
Dengan begitu, aku mati demi melindungi dirinya dari truk.



Post a Comment