NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Oshi Heroine wa ~ Tensei Shita Mobu no Ore o Hitorijime Shitai Rashii ~ Shitsuren shita Hiroin o Sasaetara Jojo ni Omoku Natteitta ~ Volume 1 Prolog

Prolog:『Kenangan Kehidupan Sebelumnya』


"Kamu itu ya, terlalu baik."

 

Dalam kata-kata itu, bercampur berbagai emosi—antara khawatir dan heran.

 

"Padahal aku sudah mencampakkanmu dengan tega, terus menjadikannya bahan lelucon buat merundungmu, tapi kamu selalu saja menolong orang sepertiku."

 

Dia bergumam sambil menatap kosong ke arah bantaran sungai di kala senja.

 

"Hari ini juga…… kamu bantuin menghapus coretan di mejaku, bahkan sampai melindungiku meski wajahmu jadi memar-memar. Normalnya, waktu melihatku dirundung, orang-orang bakal mikir 'Rasaian tuh' atau 'Memang pantas kamu mendapat balasannya', hal-hal seperti itulah yang bakal dipikirkan."

 

Sambil berkata begitu, dia menatap wajahku yang penuh memar kebiruan.

 

Dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah dia bisa menangis kapan saja.

 

"Tapi, kamu tetap baik padaku. Kamu tidak berubah sedikit pun, padahal menolongku membuatmu ikut dijadikan target perundungan. Aku……… sudah melakukan hal yang jahat padamu, aku juga sudah mengatakan banyak hal yang kejam. Tapi, kenapa kamu sampai rela menanggung hal sesulit ini hanya demi menolongku?"

 

Itu pasti karena, kalau melihat wajahmu yang tampak menderita, aku juga ikut merasa menderita.

 

Mendengar jawabanku, matanya membelalak lebar dengan pupil yang bergetar.

 

Lalu, selang satu helaan napas, dia tertawa seolah merasa heran.

 

"Hahaha, kamu ini benar-benar ya. Pintar banget bikin cewek jatuh hati. Justru karena kamu seperti ini, aku jadi makin terobsesi padamu tahu……… Aku, kalau tidak ada kamu…… sudah…………"

 

Saat aku hendak menanyakannya kembali karena tidak bisa mendengar kalimat terakhirnya dengan jelas, dia membuka suara sambil melihat ponselnya.

 

"Ah, maaf. Aku harus segera pulang. Sebenarnya aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi, tapi hari ini, Papa dan Mama pulang setelah sekian lama."

 

Dia tertawa tampak sangat gembira.

 

"Aku mau makan malam bareng~ Entah sudah berapa lama tidak makan malam dengan keluarga lengkap. Ah, kamu mau ikut juga? Ahaha! Jangan panik begitu dong. Cuma bercanda kok. Tapi yaa, suatu saat nanti pasti."

Saat aku menatap kasa yang tertempel di pipinya, dia seolah menyadari apa yang sedang kupikirkan, lalu melepas kasa itu dan memperlihatkan kulitnya yang sudah mulus kembali.

 

"Aku baik-baik saja. Memang masih memakai kasa untuk berjaga-jaga, tapi sudah benar-benar sembuh. Lagipula belakangan ini kamu selalu melindungiku, jadi tidak ada luka baru. Terima kasih ya sudah mengkhawatirkanku."

 

Dia tersenyum tipis sambil sedikit menyipitkan matanya.

 

"Kalau begitu, sampai besok ya."

 

Meninggalkan bantaran sungai, dia menyeberangi penyeberangan jalan saat lampu lalu lintas berubah hijau.

 

Saat aku melambaikan tangan mengantarkannya pergi, sebuah truk yang menerobos lampu merah melaju kencang ke arah penyeberangan jalan.

 

Aku harus menolongnya. Pikirku.

 

Tubuhku pun bergerak secara alami.

 

Aku mendorongnya hingga terlempar, lalu diriku disambar oleh truk yang beratnya puluhan kali lipat dari tubuhku.

 

Sakit.

 

Sakit dan menyiksa.

Tubuhku mati rasa dan tidak bisa digerakkan.

 

Di dalam pandanganku yang perlahan-lahan mengabur, sosoknya yang sedang berbicara padaku dengan setengah mati sambil menangis masuk ke dalam penglihatanku.

 

……Padahal tidak perlu menangis demi orang sepertiku. Kalau kamu memasang ekspresi seperti itu, aku pun jadi ikut sedih.

 

Makanya, aku ingin kamu jangan menangis.

 

Sungguh ajaib, tanganku yang sampai tadi tidak bisa digerakkan sama sekali, tiba-tiba bergerak secara alami.

 

Saat aku mengusap air matanya dengan jari, Puk. Rasanya seperti ada sesuatu yang terputus.

 

Dengan begitu, aku mati demi melindungi dirinya dari truk.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close