NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Oshi Heroine wa ~ Tensei Shita Mobu no Ore o Hitorijime Shitai Rashii ~ Shitsuren shita Hiroin o Sasaetara Jojo ni Omoku Natteitta ~ Volume 1 Chapter 1

Bab 1:「Perawatan Mental untuk Heroine Favorit yang Baru Diputuskan」


"Makanya, aku bilang aku suka padamu."

 

Di dalam ruang kelas di kala senja, sebuah pernyataan cinta bagaikan di manga atau drama sedang terjadi tepat di depan mataku.

 

Aku mati tertabrak truk demi melindungi gadis yang mencampakkanku.

 

Hasilnya, aku terlahir kembali sebagai karakter figuran dalam manga komedi romantis super populer berjudul 『Tenichi!!』.

 

Pemandangan di depan mataku ini kembali menyadarkan kenyataan itu padaku.

 

Gadis yang sedang menyatakan cintanya adalah sang heroine, 『Nanase Hiyori』.

 

Dia adalah teman sejak kecil sekaligus sahabat sang protagonis.

 

Berkesan ramah dan lembut, dengan paras wajah imut serta rambut pink muda berpotongan semi-long. Dan berpayudara besar.

 

Ceria dan polos, dia adalah gadis yang sangat populer di sekolah karena baik kepada siapa saja. Dan, tidak perlu ditutup-tutupi lagi, dia adalah 'heroine favoritku'.

 

Pria yang sedang menerima pernyataan cinta dari Hiyori adalah protagonis dari karya ini, 『Shindou Tenma』.

 

Setia, berkepribadian lurus, dan cukup peka terhadap perasaan orang.

 

Pria baik yang terkadang berani mengambil tindakan nekat.

 

Seorang protagonis berelemen cahaya yang juga disukai oleh para pembaca. Justru karena dia adalah protagonis yang baik, 『Tenichi!!』 bisa menjadi karya yang populer.

 

Lalu, aku yang sedang mengintip adegan pernyataan cinta ini adalah sang karakter figuran, Tomida Bungaku.

 

Tidak punya pacar.

 

Tidak punya teman.

 

Penyendiri.

 

Sekian.

 

Dia adalah karakter figuran yang namanya bahkan diragukan pernah muncul di cerita utama.

 

"Aku tahu kalau Tenma suka sama Hana-chan. Tapi, aku pikir kalau tidak disampaikan, tidak akan ada yang berubah."

 

'Hana-chan' yang dimaksud adalah heroine utama dari karya ini, 『Ayabe Ichika』.

 

Gadis jelita dengan paras cantik dan rambut lurus warna flaks yang terawat serta berkilau. Berparas elok, pandai dalam akademis maupun olahraga. Benar-benar seorang heroine utama.

 

『Tenichi!!』 adalah komedi romantis satu lawan satu antara sang protagonis dan sang heroine. Sama sekali bukan genre harem, sehingga orang bisa menontonnya dengan tenang karena sang protagonis dan heroine sama-sama memendam perasaan satu sama lain.

 

"Maaf. Aku tidak bisa membalas perasaanmu, Hiyori. Karena aku menyukai Ichika."

 

『Tenichi!!』 adalah kisah cinta Tenma dan Ichika. 『Nanase Hiyori』 adalah heroine yang kekalahannya sudah dijanjikan sejak dari judulnya.

 

"Aku tidak minta jawabanmu sekarang juga kok. Mulai sekarang—"

 

"Menunda jawaban padahal aku tidak punya perasaan padamu itu salah."

 

Mendengar kata-kata Tenma, pupil mata Hiyori bergetar hebat.

 

"Begitu ya, bahkan untuk menunggu pun…… kamu tidak mau ya."

 

"Aku sangat senang dengan perasaanmu, Hiyori. Jujur saja sekarang jantungku berdebar sangat kencang. Justru karena itulah, aku berpikir harus menyampaikan perasaanku dengan benar."

 

"………………Aduh, benar-benar serius ya. Yah, tapi bagian itulah yang bikin aku jadi suka sih?"

 

"Hiyori……"

 

Mendengar kata-kata Hiyori, Tenma memalingkan wajahnya dengan raut merasa bersalah.

 

"Aku sudah menyampaikannya dengan benar. Berikutnya…… giliran Tenma."

 

Seolah-olah mendorong punggungnya, nada suara Hiyori yang lembut membuat ekspresi Tenma menjadi mantap.

 

"B-setidaknya berusahalah buat menyesal karena sudah menolakku ya!"

 

Sambil berkata begitu, Hiyori berlari keluar dari ruang kelas. Aku bergegas menyembunyikan diri dan menatap punggungnya yang makin menjauh.

 

Tenma tidak mengejar Hiyori yang berlari pergi. Ini adalah tindakan yang sesuai dengan karya aslinya, dan pastinya merupakan pilihan yang benar.

 

Mungkin karena itulah, aku mulai berlari untuk mengejar Hiyori.

Aku hanyalah karakter figuran yang kebetulan ada di sini karena ingin mengambil barang yang tertinggal.

 

Mengejarnya pun mungkin aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan bukan hal aneh kalau dia malah curiga aku punya niat lain.

 

Meski begitu, aku tidak peduli.

 

Saat membaca adegan di manga tempat Hiyori berlari sambil berlinang air mata, itulah yang kupikirkan.

 

Seandainya aku adalah penghuni dunia 『Tenichi!!』 dan kebetulan berada di tempat ini……

 

Aku pasti akan mengejar gadis yang sedang menangis itu.

 

◇

 

Sambil tersengal-sengal, tempat yang kucapai adalah sebuah bangku di halaman belakang.

 

Hiyori sedang duduk di bangku itu sambil menundukkan kepala.

 

"Uhk…… guhk."




Tubuhnya sedikit gemetaran, dan suara isakannya terdengar jelas.

 

……G-g-g-gimana nih.

 

Gaya-gayaan mengejarnya, tapi aku sama sekali tidak punya rencana.

 

Pikirkan. Sebelum mati, aku sudah berulang kali menembak banyak gadis dan terus-terusan ditolak. Artinya, aku sangat paham betul perasaan orang yang baru saja patah hati.

 

Saat aku baru saja ditolak, apa sih yang sebenarnya aku inginkan dari orang lain?

 

Sebagai orang yang seumur hidup selalu ditolak, pasti ada hal yang cuma bisa dilakukan olehku.

 

Aku menarik napas dalam-dalam sekali, lalu memberanikan diri menyapa Nanase yang sedang menangis.

 

"Permisi……"

 

"……Eh?"

 

Nanase sedikit tersentak, lalu perlahan-lahan mengangkat wajahnya.

 

Matanya agak memerah. Seperti dugaanku, dia memang sedang menangis.

 

Aku duduk dan menatap wajah Nanase.

Bagus, kata-kata pertama yang diucapkan itu sangat krusial. Pikirkan dengan benar. Pikirkan.

 

"K-kenapa? M-mau cerita?"

 

Setelah berpikir keras, yang keluar dari mulutku malah kalimat yang paling pantas dihindari.

 

"……Eh."

 

Tingkat kewaspadaan Nanase langsung melonjak drastis.

 

Gawat. Dari langkah pertama saja sudah kacau.

 

T-tidak. Masih ada harapan. Seharusnya di dalam tas ada tisu saku.

 

Kalau aku menyodorkannya dengan elegan di sini, aku pasti bisa membalikkan keadaan!

 

"K-kalau mau, pakai ini—"

 

Srett! Yang kusodorkan pada Nanase adalah tisu saku yang kondisinya sudah sangat kusut.

 

"………Anu, m-mau…… pakai?"

 

"Eh, a, u-ung. T-terima kasih."

 

Entah karena dia bersikap enggan atau sekadar menjaga perasaanku, Nanase menerima tisu kusut itu.

 

…………Suasana di antara kami jadi makin serba salah.

 

Begitu ya, pantas saja aku tidak pernah laku.

 

"Anu, jangan-jangan…… kamu lihat ya?"

 

"A, tidak, maksudku, itu, e-etto~"

 

"Ah, ternyata benar-benar kelihatan……"

 

Nanase makin terpuruk.

 

W-waah……

 

Saat aku mulai sedikit putus asa, Nanase malah tertawa dengan raut agak serba salah.

 

"Ahaha. Kamu jadi lihat penampilanku yang menyedihkan ya……"

 

"Keren kok."

 

"……Eh?"

 

"Menyampaikan perasaan sendiri itu butuh keberanian yang sangat besar. Nanase-san yang saat itu benar-benar kelihatan keren."

Menyampaikan perasaan sendiri lewat kata-kata itu menakutkan. Rasa takut itu sudah dipahami betul olehku yang berkali-kali menembak dan terus-terusan ditolak hingga rasanya menyakitkan.

 

"Makanya, aku tidak bakal membiarkanmu bilang kalau itu menyedihkan."

 

……Ah, gawat. Tanpa sadar aku malah langsung menyuarakan apa yang

ada di pikiranku, tidak apa-apa nih?

 

"T-terima kasih……"

 

Dengan wajah merona, Nanase memalingkan pandangannya. Suasana di tempat ini pun entah bagaimana berubah menjadi sedikit lebih lembut.

 

"Aku sudah tidak apa-apa kok. Kamu Tomida-kun dari kelas yang sama, kan? Terima kasih ya sudah menyapaku."

 

Dengan mata yang masih berkaca-kaca, Nanase berkata begitu.

 

Dia ingat nama orang sepertiku yang hampir tidak punya interaksi dengannya ya, pikirku dengan rasa haru yang aneh, meski di saat yang sama aku juga merasa sedang ditolak secara halus.

 

Cara bicara maupun nada suaranya memang sangat lembut, tetapi kata

'tidak apa-apa' ini menyiratkan kalau dia tidak ingin dicampuri lebih jauh lagi.

 

Namun,

"Sebenarnya, sampai sekarang aku sudah ditolak lebih dari 10 kali oleh gadis yang kusukai."

 

Ngomong-ngomong, setelah orang ke-10…… aku sudah tidak menghitungnya lagi.

 

"Eh?"

 

Nanase tampak kebingungan dengan pengakuan mendadak dariku.

 

"Makanya aku tahu. Pasti, setelah puas menangis…… bakal datang momen saat kamu tiba-tiba merasa hampa dan bingung harus bagaimana."

 

"…………"

 

"Aku ada di sini untuk saat-saat seperti itu. Makanya, mau dianggap mengganggu atau dianggap menjijikkan sekalipun, aku tidak berniat beranjak dari sisi Nanase-san. Karena aku pikir, orang sepertiku ini masih mending daripada tidak ada siapa-siapa."

 

Aku mengatakannya sambil cengengesan.

 

"Tapi kalau kamu memang benar-benar risih, aku bakal menjauh kok. Aku bakal tetap di dekat sini, jadi kalau kamu mau meluapkan kekesalan atau curhat, panggil saja aku santai. Aku bakal mendengarkannya sebanyak apa pun."

 

Nanase tidak memberikan tanggapan apa pun atas kata-kataku.

Etto, apa heningnya ini berarti sebuah penolakan ya?

 

Berpikir begitu, aku beranjak berdiri dan berbalik hendak meninggalkan bangku. Namun di saat itu juga, ujung bajuku ditarik pelan.

 

"Eh?"

 

Nanase menatapku yang kebingungan dengan lekat. Sambil ragu-ragu, dia menepuk-nepuk area di sebelah dirinya.

 

Rupanya, aku diizinkan untuk duduk di sampingnya.

 

"E-etto, permisi……"

 

Dengan gerakan kaku, aku duduk di samping Nanase.

 

Aku tidak tahu kenapa dia yang tadinya waspada malah mengizinkanku duduk di sampingnya. Namun, ada satu hal yang bisa kukatakan.

 

Di saat seperti ini, rasanya memang ingin menyendiri, tetapi di saat yang sama, berada seorang diri juga terasa sangat kesepian. Perasaan kontradiktif itulah yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

 

Aku mengeluarkan tiga lembar tisu saku lagi dari dalam tas, lalu

memamerkannya pada Nanase.

 

"Ada warna pink, kuning, dan biru muda. Silakan pilih yang kamu suka."

 

"Ahaha…… semuanya kusut. Tapi, terima kasih ya."

Sambil tertawa getir, dia menerima tisu saku yang berwarna pink.

 

"U-uuh…………"

 

Sambil menangis, dia menyeka air matanya dengan tisu. Namun, air mata itu tetap tidak mau berhenti.

 

Di samping Nanase yang menangis terisak-isak seperti anak kecil, aku tidak mengatakan apa-apa dan hanya terus duduk di sana.

 

◇

 

Mungkin berkat waktu yang terus berlalu, Nanase juga mulai sedikit lebih tenang.

 

"Tisunya. Terima kasih ya."

 

"U-ung."

 

Aku menerima sisa tisu saku yang jumlahnya tinggal sedikit dari Nanase.

 

"A-etto, perasaanmu sudah agak mendingan?"

 

"Iya. Setelah puas menangis dan mengeluarkan semuanya, perasaanku rasanya jadi jauh lebih lega. Terima kasih ya, Tomida-kun."

 

"Aku memang tidak paham sama sekali soal perasaan wanita, tapi kalau soal penanganan pasca-patah hati, serahkan saja padaku."

 

"……Apaan sih itu."

 

Melihat diriku yang bicara dengan penuh percaya diri, Nanase tertawa lepas seolah beban di pundaknya mendadak sirna.

 

Syukurlah. Akhirnya dia bisa tertawa juga……

 

Heroine favoritku sudah menangis sepuasnya, perasaannya sudah lega, dan pada akhirnya bisa tertawa. Bagi seorang karakter figuran penyendiri hasil transmigrasi, ini sudah merupakan pencapaian yang lebih dari cukup.

 

Nah, peranku sudah selesai, jadi mari kita berpisah dengan kesan yang baik seperti ini.

 

"Nah, yuk pulang."

 

"…………Iya."

 

Mendengar usulanku, Nanase yang tampak agak ragu berdiri dan mengambil tasnya.

 

"Etto, ada apa?"

 

Saat aku bertanya berhati-hati, Nanase menatapku sambil menggenggam erat tali tas di bahunya.

 

"A-anu ya!"

 

"I-iya."

 

"Etto, bagaimana ya bilangnya. Rasanya seperti takut kalau sendirian, atau lebih tepatnya tidak ingin sendirian…… pasti, setelah ini bakal datang momen saat aku merasa hampa seperti yang dibilang Tomida-kun tadi."

 

Sambil menghentak-hentakkan ujung sepatunya ke tanah, Nanase berusaha mengatakan sesuatu. Dia tampak ragu apakah harus menyampaikan kata-kata selanjutnya atau tidak.

 

Maksudnya, yang itu ya.

 

"A-ah ehto, kalau mau, kamu mau pergi makan yang manis-manis atau semacamnya?"

 

"Ung! Mau!"

 

Hiyori tersenyum agak gembira.

 

Rupanya peranku masih belum berakhir.

 

◇

 

『Tenichi!!』 adalah komedi romantis yang berlatar tempat di Kyoto.

 

Toko-toko yang muncul di dalam karyanya pun menjadi sangat populer sebagai tempat suci bagi para penggemar.

Tempat yang dikunjungi atas ajakan Hiyori adalah Kawaramachi, kawasan perbelanjaan nomor satu di pusat kota. Tempat ini adalah area luar biasa yang terkenal sebagai objek wisata dan menyediakan berbagai titik wisata menarik untuk dinikmati.

 

Lalu, tujuan kami adalah 『Karafune Coffee』 yang berada di

Kawaramachi.

 

Sambil membelalakkan mata melihat banyaknya sampel parfe yang berjejer rapi di pintu masuk, pelayan mengarahkan kami ke tempat

duduk.

 

Gawat nih. Jujur saja, aku sama sekali tidak menyangka bakal ada perkembangan berupa makan parfe berdua.

 

Mana tempatnya modis, terus cuma berdua saja dengan Hiyori Nanase lagi, aku bingung harus bicara apa.

 

Siapa pun tolong aku…… w-waah.

 

"Tomida-kun mau pesan apa?"

 

"Eh, apa ya……"

 

Aku terburu-buru melihat menu, tapi jenisnya banyak sekali.

 

Benar-benar seperti museum parfe.

 

"Ngomong-ngomong Nanase-san mau pesan apa?"

"Karena hari ini mau melampiaskan emosi lewat makanan, aku mau pesan Parfe Jokki Cokelat saja deh."

 

Eh, di situ tertulis untuk porsi 1 sampai 3 orang lho.

 

"Ung. Aku pilih Parfe Jokki Cokelat saja. Dari dulu aku sudah penasaran, dan hari ini aku mau makan yang manis-manis sampai kenyang biar bahagia!"

 

Hmmp! Sambil memantapkan hatinya, Hiyori menutup buku menu.

 

"Tempat ini bagus, kan? Agak jauh sih dari sekolah, tapi modis dan menarik, suasananya juga enak buat santai~"

 

"……Heer!!"

 

"Biasanya aku bersama Tenma dan Hana-chan…… bertiga…… di sini…………"

 

A, a, a. Gawat, aura Hiyori mendadak meredup dengan cepat……!!

 

"N-Nanase-san, aku pesan 'Parfe Udang Goreng Terkuat☆' saja kali ya."

 

"Eh, tunggu. Baru kali ini aku melihat orang yang benar-benar memesan parfe itu……"

 

"Atau 'Parfe Kentang Goreng Melimpah!' boleh juga sih. Menurut Nanase-san bagaimana?"

"Kenapa dua pilihan itu sih? Tapi ya, dua-duanya bikin penasaran juga ya……"

 

Bagus, rona kehidupan di wajah Hiyori pelan-pelan mulai kembali.

 

Selesai memesan dan sembari menunggu parfe datang, Hiyori meminum teh susu yang datang lebih awal sampai habis dalam sekali teguk, lalu menaruhnya dengan keras ke atas meja!

 

"Tomida-kun!! Boleh tidak dengarkan aku!!"

 

"Eh, a, iya."

 

"Tenma si bodoh itu!! Apa menurutmu tidak bisa dipikirkan sebentar dulu!? Langsung menolak begitu menyakitkan tahu! Langsung menolak!! Apa aku serendah itu ya daya tariknya!? Bikin drop saja!"

 

"Tapi, bukannya sifatnya yang jujur itu juga yang bikin kamu suka?"

 

"Suka banget~~~~~!!"

 

Sambil memegang kepalanya, Hiyori berteriak sekadarnya agar tidak mengganggu orang lain.

 

Ya. Kalau sudah bisa berinteraksi seperti ini, berarti tidak apa-apa.

 

"Memang sih Tenma itu keren…… tapi aku pikir karena Hana-chan itu bunga di puncak gunung, jadi tidak apa-apa……"

Tidak, aku pikir Hiyori sendiri juga tergolong bunga di puncak gunung sih. Dia kan sangat populer.

 

Kalau dipikir-pikir, jangankan begitu, bukannya jumlah orang yang menyatakan cinta padanya malah lebih banyak daripada sang heroine utama, Ayabe Ichika?

 

"Uuh. Melihat mereka berdua yang saling menyukai begitu terasa menyakitkan…… tapi, aku jadi benci pada diriku sendiri yang seperti ini. Ada apa sih denganku ini…… aha, ahaha."

 

Gawat, gawat, Hiyori makin lama makin kehilangan kendali.

 

"Maaf membuat Anda menunggu~! Ini 'Parfe Udang Goreng Terkuat☆'-nya~!"

 

Bersamaan dengan suara ramah pelayan, parfe yang kupesan diantarkan ke meja.

 

"B-beneran ditancapi udang goreng!! Baru pertama kali ini aku lihat wujud aslinya! Hei hei, boleh aku foto!?"

 

"Boleh kok."

 

Dengan nada antusias, Hiyori mengambil foto parfe udang gorengku

menggunakan ponselnya.

 

Syukurlah. Tampaknya karena perhatiannya teralih ke parfe, kegelapan di hatinya berhasil dihindari. Terima Kasih Parfe Udang Goreng Terkuatku.

 

Bagaimana ya bilangnya, meski tidak digambarkan di karya aslinya, ternyata keadaan tepat setelah ditolak itu cukup labil juga ya.

 

Di karya aslinya, setelah Tenma dan Ichika bersatu, kalau mengingat Hiyori yang perlahan-lahan mulai menghilang dari cerita, dia pasti mengambil jarak dari mereka berdua.

 

Aku ingat betul bagaimana proses mereka menjadi renggang terasa sangat realistis.

 

Ngomong-ngomong, aku sendiri berhenti membaca 『Tenichi!!』 sejak Hiyori yang merupakan favoritku tidak muncul lagi.

 

"Maaf membuat Anda menunggu~! Ini 'Parfe Jokki Cokelat'-nya~!"

 

"Wah! H-hebat!! Pakai gelas jokki!! Benar-benar parfe di gelas jokki, Tomida-kun!!"

 

Melihat 'Parfe Jokki Cokelat' yang diantarkan sedikit terlambat, mata Hiyori berbinar-binar dan dia berhasil bangkit sepenuhnya.

 

Memang ya, kekuatan parfe itu sangat luar biasa.

 

Setelah itu, sambil menceritakan perasaannya saat menyatakan cinta serta meluapkan kekesalannya sehari-hari, kami berdua menikmati parfe dengan menyenangkan.

 

Meskipun tergolong menu yang aneh, Parfe Udang Goreng Terkuat☆ ternyata memiliki perpaduan udang goreng dan whipped cream yang pas, sehingga rasanya di luar dugaan enak.

 

Hati kecilku berguncang merasakan potensi baru dari sebuah parfe.

 

Ah, ngomong-ngomong, aku tidak bakal memesannya lagi sih. (Karena 'Parfe Jokki Cokelat' yang kuminta satu suap dari Hiyori rasanya 10 kali lebih enak)

 

"Tomida-kun. Hari ini benar-benar terima kasih ya. Sudah mau mendengarkan banyak hal dariku."

 

"Yah, kalau baru saja ditolak lalu sendirian, kita bakal memikirkan macam-macam, jadi berbincang dengan orang lain seperti ini untuk mengurangi waktu melamun adalah cara yang paling ampuh."

 

"Waah, rasanya seperti ucapan orang yang sudah berpengalaman ya."

 

"Yah, kalau soal percintaan, aku kan veteran yang sudah kenyang asam garam……"

 

Meskipun cuma veteran dalam hal kekalahan sih.

 

"Sepertinya aku makin paham."

"Eh? Soal apa?"

 

"Kenapa Tomida-kun menyapaku tadi…… Jujur ya, awalnya aku ragu padamu. Jangan-jangan ada niat terselubung atau semacamnya."

 

……Sudah kuduga.

 

"Tapi, saat kamu bilang kalau aku kelihatan keren, aku merasa sangat senang…… benar-benar bikin kaget. Padahal Tomida-kun tadi ragu-ragu, tapi bisa mengatakannya dengan begitu mantap dan jelas."

 

"A, tidak, kalau itu sih"

 

"Tapi, justru karena itulah. Entah kenapa, rasanya sangat membekas di hati."

 

Saat bergumam begitu, ekspresi Hiyori tampak agak bahagia.

 

Tanpa sadar, nafasku sempat terhenti.

 

"Lalu, dari sana Tomida-kun melakukan komunikasi yang sangat sempurna padaku, jadi aku tanpa sadar malah bergantung padamu."

 

Eh, bohong kan? Hal seperti tadi itu dinamakan komunikasi yang sempurna? Aku cuma menyuarakan apa yang ada di pikiran dan cuma

duduk di sampingnya lho?

 

"Pasti Tomida-kun sebagai Senpai yang paham pahitnya patah hati mau mendampingiku, kan?"

"……Ung! Yah, kurang lebih seperti itulah!!"

 

Maafkan aku, itu bohong. Senpai yang paham pahitnya patah hati atau semacamnya, aku sama sekali tidak punya ruang di pikiran untuk memikirkan hal sejauh itu.

 

EH!? HIYORI NANASE FAVORITKU SEDANG MENANGIS!? W-WAAAH……! Cuma hal seperti itu yang ada di pikiranku.

 

"Ternyata benar kan……!"

 

A, a, jangan. Jangan menatapku dengan mata serba murni dan polos seperti itu.

 

"Anu ya, kalau tidak mengganggu…… nanti kalau ada hal yang menyakitkan lagi, boleh tidak aku bergantung pada Tomida-kun lagi……?"

 

"A, tidak, sama sekali tidak mengganggu kok. Yah, kalau cuma mendengarkan keluh kesah, kapan saja bisa."

 

Jujur saja, diandalkan oleh heroine favorit itu rasanya luar biasa sekali.

 

"Terima kasih ya. Aku sepertinya lumayan suka pada Tomida-kun deh."

 

Eh, a, o, s-suka?

 

G-gawat, gawat. Jangan keburu kegeeran. Hiyori mengatakannya cuma sebatas suka padaku sebagai sesama makhluk hidup, bukan sebagai lawan jenis.

 

Kalau di saat seperti ini aku malah menyatakan cinta, sudah terbayang jelas dia bakal bilang 『Eh? Anu, aku tidak bermaksud ke arah sana, itu, maaf…… ya』 lalu kami tidak akan bisa saling menyapa lagi seumur hidup.

 

"Ah, benar juga. Tomida-kun! Ayo tukaran kontak!"

 

A-ah, a-aah~, rasanya jadi hampir salah paham!

 

Sambil menepis berbagai pikiran liar yang bermunculan, kami pun

bertukaran kontak.

 

"Sip, hari ini mentalku sudah cukup dipulihkan! Sekarang energiku sudah MAX! Yah, paling tidak malam ini aku bisa melaluinya dengan baik!"

 

Hiyori menepuk dadanya dengan wajah bangga. Dadanya benar-benar luar biasa.

 

Melihat sampel parfe super raksasa setinggi kue pernikahan (untuk porsi 20–25 orang) di dekat pintu keluar, kami pun meninggalkan Karafune Coffee dan berpisah.

 

◇

 

"……Fuu."

 

Sampai di rumah, aku makan malam ringan, mandi, lalu merebahkan diri ke tempat tidur.

 

Rasanya, hari ini benar-benar ada banyak hal yang terjadi ya. Melihat langsung adegan pernyataan cinta heroine favorit, menenangkannya, makan parfe bareng, sampai bertukaran kontak.

 

Yah, bagaimana ya. Hubungan ini pasti cuma bertahan sampai Hiyori bangkit kembali. Dia kan sangat populer, lambat laun dia bakal menemukan cinta baru, punya pacar, lalu jadi renggang denganku.

 

……Gawat, kalau membayangkan masa depan terus seperti ini, otakku bisa hancur.

 

Saat memikirkan hal itu, tiba-tiba nada dering ponsel berbunyi.

 

Kaget, aku mengambil ponsel dan melihat nama yang tertera di layar adalah 『Hiyori』.

 

Lho, bukannya tadi bilang energikannya sudah MAX……?

 

"H-halo."

 

Saat mengangkat telepon dengan bingung, suara lesu terdengar dari balik telepon.

 

『Maaf ya. Begitu sendirian, entah kenapa aku malah memikirkan banyak hal.』

 

Begitu ya……

 

"Hari ini aku bakal menemanimu sampai tuntas kok."

 

『Terima kasiiih~ Cuma Tomida-kun yang bisa diajak bicara hal seperti ini……』

 

Sekarang jam 8 malam, ini pasti bakal makan waktu 2 jam.

 

Aku di saat ini sama sekali tidak tahu bahwa panggilan telepon ini bakal berlangsung sangat lama sampai melewati pergantian hari……

 

◇

 

"…………Ngantuknya."

 

Pagi hari, begitu melangkah masuk ke kelas, aku langsung menelungkupkan wajah ke meja dan berusaha tidur.

 

Memang ya, berangkat sekolah setelah berteleponan sampai jam 2 subuh itu rasanya cukup menyiksa.

 

Tinggal 10 menit lagi…… mungkin tidak bakal sempat tidur nyenyak, tapi aku harus tidur ayam sebentar……

 

"Selamat pagi~!"

Suara ceria nan polos terdengar. Suara ini pasti milik Hiyori.

 

"Pagi Hiyori. Ada apa? Hari ini kok agak terlambat."

 

"Ah, Hoshinon! Kemarin aku tidurnya agak kemalaman, jadi tidak bisa bangun di waktu seperti biasanya."

 

Hoshinon adalah panggilan untuk gadis yang merupakan sahabat Hiyori, Tsukimi Hoshino.

 

Hiyori memanggil teman dekatnya dengan nama panggilan khusus, seperti pada sahabatnya, Tsukimi Hoshino, atau heroine utama, Ayabe Ichika.

 

Dia sangat manja pada teman-teman yang dipanggilnya dengan nama panggilan, dan mereka adalah sosok yang spesial bagi Nanase Hiyori.

 

'Panggilan khusus' yang hanya diizinkan untuk sosok spesialnya itu sampai sekarang belum pernah diberikan kepada anak laki-laki mana pun.

 

Bahkan sang protagonis, Shindou Tenma, cuma dipanggil 'Tenma'.

 

Dalam arti tertentu, sosok yang berbeda dan spesial dibanding Tenma.

 

Makanya, anak-anak laki-laki seangkatan di sekolah diam-diam mengincar posisi spesial itu dengan tajam.

Seandainya ada anak laki-laki yang mendadak muncul sebagai sosok spesial seperti itu, 'anak laki-laki tersebut' pasti bakal dihakimi oleh seluruh anak laki-laki di sekolah.

 

Kesadaranku pelan-pelan makin samar, dan sedikit lagi akan terlelap.

 

"Ah, Bun-kun!! Selamat pagi~!"

 

Pada saat itu juga, suasana kelas mendadak berubah, dan kesadaranku yang hampir terlelap langsung melesat bangun seketika.

 

……Bun-kun?

 

『Ha? Siapa tuh Bun-kun?』

 

『Nanase memberikan nama panggilan ke seseorang?』

 

『Mana sepertinya anak laki-laki lagi……』

 

Suara bisik-bisik terdengar di sekeliling. Dan dari suara itu, terasa luapan rasa iri.

 

……………Pasti ada anak laki-laki yang namanya Bunta. Makanya, cepat balas sapaannya, Bunta-kun.

 

"Hiyori? Bun-kun itu siapa?"

 

Pertanyaan yang pasti dipikirkan oleh seluruh murid di kelas itu disuarakan oleh Tsukimi-san kepada Hiyori.

"Eh? Tomida Bungaku-kun yang sedang tidur di sana itu."

 

Tomida Bungaku-kun yang sedang tidur di sana?

 

……

 

…………

 

………………

 

…………………………………………Ah, aku dong.

 

Rasanya tatapan seluruh murid di kelas langsung tertuju padaku seketika.

 

Mau muntah rasanya.

 

"Duh Bun-kun. Kalau tidak bangun, pelajarannya bakal keburu mulai lho?"

 

Hiyori menghampiriku, lalu mengguncang-guncang tubuhku pelan untuk membangunkanku.

 

Aah, aku tidak mau mengangkat wajahku……!!

 

Pasti, tatapan anak-anak sekelas sedang luar biasa mengerikan! Kalau mengangkat wajah, ini bakal jadi neraka!!

 

"Ah, benar juga. Kemarin kan aku sama—"

"Selamat pagi, Nanase-san. Hari ini sungguh cuaca yang sangat cerah ya."

 

Aku tidak boleh membiarkannya bicara lebih jauh dari itu. Soalnya ini menyangkut kelangsungan hidupku di sekolah ke depannya.

 

Berteleponan sampai larut malam dengan Nanase Hiyori…… cuma ada unsur-unsur yang bakal memicu keributan besar.

 

"P-pagi. Kaget aku, kamu mendadak bangun begitu."

 

"Bangun tidurku memang selalu seperti ini."

 

"……Oh, begitu?"

 

Pikirku sendiri, aku ini bicara hal yang tidak jelas, tetapi Hiyori tampaknya bisa menerima alasan itu.

 

"Daripada itu. Anu, Bun-kun itu maksudnya?"

 

"He? Karena Tomida Bungaku-kun, jadinya Bun-kun."

 

Bukan, bukan. Bukan begitu. Yang mau ditanyakan bukan di situnya.

 

"A-nama panggilan……"

 

"Aku kan memanggil teman-teman dekatku dengan nama panggilan. Ah, kalau anak laki-laki, mungkin Bun-kun yang pertama ya?"

 

Iya. Benar sekali.

 

"Etto, kita kan tidak sedekat itu sampai bisa disebut teman akrab ya?"

 

"Benar juga ya. Jujur saja, kalau sekarang mungkin kita memang belum seakrab itu sih."

 

Eeh……

 

"Kalau begitu kenapa?"

 

"Karena mulai sekarang, aku berpikir kalau aku ingin makin akrab dengan Bun-kun, makanya begitu."

 

Apa itu karena kejadian kemarin? Kalau memang karena itu, berarti……

 

"Padahal aku tidak melakukan hal yang seberapa."

 

"Masa sih? Kalau aku sih merasa cukup terselamatkan lho?"

 

Hiyori tertawa ahaha, lalu memasang ekspresi serius.

 

"……Aku benar-benar terselamatkan."

 

Mata Hiyori menatapku dengan lekat. Ketulusan yang terpancar darinya membuatku tanpa sadar menelan ludah.

 

"B-begitu ya."

"Iya dong. Bagi aku, Bun-kun itu sudah jadi sosok satu-satunya yang tidak tergantikan lho."

 

S-satu-satunya yang tidak tergantikan.

 

Pada akhirnya, aku yang tidak bisa melakukan apa-apa selain mengangguk pelan dibalas dengan senyuman oleh Hiyori.

 

"Bentar lagi homeroom pagi mau mulai, jadi tidak boleh tidur lagi ya?"

 

Meninggalkan kata-kata itu, Hiyori kembali ke tempat duduknya.

 

Tatapan teman-teman sekelas seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tetapi karena guru langsung datang tak lama kemudian, tidak ada yang menanyaiku lebih jauh.

 

Setelah itu, waktu berlalu dengan sangat cepat.

 

Biasanya waktu sampai jam istirahat siang terasa begitu lama, tetapi hari ini rasanya waktu berlalu begitu saja.

 

Normalnya, begitu jam istirahat siang tiba, kelompok-kelompok bakal langsung terbentuk dan teman-teman sekelas mulai menyantap makan siang mereka, tetapi entah kenapa hari ini mereka malah diam-diam

memperhatikanku.

 

……Di saat seperti ini, keluar kelas adalah pilihan yang paling benar.

 

Begitu aku bergegas keluar dari kelas dan menginjakkan kaki di koridor, Hiyori mendadak memanggilku.

 

"Ah, Bun-kun. Mau ke mana?"

 

"C-cuma mau pergi ke koperasi sebentar."

 

"Begitu ya. Aku juga……"

 

"Hiyori-chan."

 

Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar suara yang imut.

 

Mendengar suara itu, aku refleks berbalik.

 

Di sana, berdirilah heroine utama dari 『Tenichi!!』, Ayabe Ichika.

 

Seorang gadis cantik berparas elok dengan rambut lurus warna flaks yang terawat dan berkilau. Dia luar biasa imut. Tidak heran kalau dia dijuluki bunga di puncak gunung.

 

"Hana-chan! Ada apa?"

 

Ichika membungkuk pelan memberiku salam, lalu menatap Hiyori dengan mata berbinar-binar.

 

"Hiyori-chan. Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau hari ini kita makan bertiga bersama Tenma-kun?"

Rupanya dia datang untuk mengajak makan siang bersama. Padahal beda kelas…… tapi dia bela-belain datang sampai ke sini ya.

 

"Ah, e-etto. Itu……"

 

"……Jangan-jangan, Hiyori-chan tidak mau makan bersamaku ya?"

 

"Eh, a, tidak, m-maksudku bukan begitu……"

 

Melihat respons yang meragu itu, ekspresi Ichika perlahan-lahan meredup. Dan melihat reaksi itu, Hiyori mendadak pucat pasi.

 

Yah, kalau dipikir dari sudut pandang Ichika, dia kan cuma mengajak makan siang seperti biasa, jadi wajar saja kalau dia mengira sedang ditolak. Hiyori memang punya alasannya sendiri, tapi Ichika mana mungkin tahu soal itu.

 

Hiyori menggenggam erat roknya.

 

"Maaf Ayabe-san. Ini salahku."

 

"Eh?"

 

Dengan ekspresi terkejut, Ichika menatap ke arahku.

 

"Sebenarnya aku sedang…… c-curhat soal percintaan pada Nanase-san,

dan kami sudah ada janji dia mau mendengarkan ceritaku saat jam istirahat siang ini."

Tentu saja, kami tidak pernah membuat obrolan seperti itu. Itu murni kebohongan total.




"Ah, m-maafkan aku. Ternyata sudah ada janji ya."

 

"U-ung. Itu…… maaf ya, Hana-chan."

 

"Tidak apa-apa kok. Malah aku yang minta maaf. Nanti aku ajak lagi ya."

 

"Ung. Terima kasih!"

 

Sambil tersenyum, Ichika membungkuk memberi salam lalu berjalan pergi.

 

"A-etto, masih berat ya kalau harus berada di dekat Shindou? Tidak perlu merasa bersalah, itu wajar kok."

 

Aku sendiri pun, setelah ditolak oleh seorang gadis, rasanya selama sebulan tidak mau melihat wajahnya sama sekali.

 

"Aku ini benar-benar beruntung ya……"

 

Sambil mengucapkannya, Hiyori menarik pelan lengan bajuku.

 

Padahal baru saja ditolak oleh pria yang disukainya, tapi dia malah merasa dirinya beruntung…… betapa baiknya gadis ini.

 

Saat aku sedang kagum padanya, Hiyori menatapku dan entah kenapa malah tertawa jahil.

 

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku langsung dengarkan curhatan cinta Bun-kun sekarang?"

Sambil menyeringai, Hiyori menyenggolku dengan sikutnya.

 

"Jangan mengejekku dong. Kalau begitu aku mau pergi ke koperasi dulu."

 

"Ah, aku juga mau ikut. Aku mau ambil bekal dulu, tunggu sebentar ya."

 

"Eh? Kenapa?"

 

Saat refleks bertanya, Hiyori memalingkan wajahnya dengan agak malu-malu lalu berkata:

 

"Rasanya, hari ini aku ingin bersama Bun-kun terus~……"

 

Eh, itu artinya……

 

"Kalau selain curhat sih, aku mau dengar."

 

"Wah, jahatnya."

 

Sambil melayangkan pukulan imut yang tampak menyenangkan ke dadaku, Hiyori pun pergi mengambil bekalnya.

 

◇

 

Setengah bulan telah berlalu sejak Nanase Hiyori ditolak.

 

Setelah itu, hubungan kami terus berlanjut di tahap lebih dari sekadar kenalan, tetapi kurang dari teman akrab.

Saat di kelas, Hiyori memang sering mengajakku berbicara, tetapi karena dia punya kelompok bertemannya sendiri, kami tidak selalu bersama.

 

Interaksi dengannya sebagian besar dilakukan lewat panggilan telepon.

 

Baik pada malam hari di hari kerja maupun sesekali di akhir pekan, telepon darinya sering masuk. Aku mendengarkan berbagai keluh kesah dan masalahnya, sekaligus terus membantunya memulihkan mental setelah patah hati.

 

Saat ini jam 9 malam. Berdasarkan tren sejauh ini, kalau terjadi sesuatu pada Hiyori, kemungkinan besar pesan akan dikirimkan di rentang waktu seperti ini.

 

Saat aku sedang santai makan camilan sambil menonton anime, sebuah notifikasi muncul di layar ponselku.

 

Hiyori: 『Bun-kun. Sudah bangun?』

 

Pasti telah terjadi sesuatu.

 

Saat aku mengoperasikan ponsel dan mengetuk ikon panggilan, panggilannya diangkat hanya dalam satu kali nada dering.

 

Eh, cepat sekali.

 

『Bun-kun』

 

"S-selamat malam, Nanase-san. Etto, ada apa?"

 

『Bun-kun, Bun-kun, Bun-kun, Bun-kun-~!!』

 

"I-iya…… ini Bungaku."

 

『Besok saat jam istirahat siang, aku berpikir untuk makan bersama Tenma dan Hana-chan.』

 

"Oho."

 

Sungguh mengejutkan, Hiyori yang awalnya enggan bahkan hanya untuk bertemu saja, kini justru ingin menemui mereka berdua atas inisiatifnya sendiri.

 

"Artinya, kamu sudah bisa move on?"

 

『Sama sekali belum move on tahu. Malah sampai sekarang pun aku masih belum bisa melupakannya!』

 

"Eeh……"

 

『Meski begitu, aku harus berjuang sekarang. Rasanya kalau tidak berjuang di sini, aku tidak akan bisa terlibat lagi dengan mereka berdua…… Dan hal itu agak tidak mau kualami. Aku mau bisa berbicara dengan mereka berdua…… seperti dulu lagi.』

 

"……Begitu ya."

 

Mungkin dia sedang berusaha untuk melangkah maju dengan caranya sendiri.

 

『Lalu ya, aku punya permintaan untuk Bun-kun. Aku mau kamu melihatku saat pergi ke tempat mereka berdua. Maksudnya, supaya aku tidak kabur.』

 

Suara yang terdengar agak segan sampai ke telingaku.

 

Artinya, dia memintaku untuk menjadi pengawas, kan?

 

"Yah, kalau cuma sebatas itu sih dengan senang hati."

 

『Terima kasih~! Siip, besok aku bakal berjuang~! Bagaimanapun juga, hari ini aku sudah makan tonkatsu lho!』

 

Rupanya, usaha mencari keberuntungannya sudah sempurna.

 

"Ah, benar juga. Kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita adakan rapat strategi untuk besok?"

 

『Ah! Boleh juga tuh! Bun-kun, hari ini aku tidak bakal membiarkanmu tidur ya?』

 

"Ahaha, tolong bersikap lembut ya."

 

Saat itu aku mengira hal itu cuma bercanda dan tertawa menanggapinya, tetapi panggilan telepon dengan Hiyori benar-benar berlangsung sampai matahari terbit.

◇

 

"Simulasi di dalam otak?"

 

"Sempurna!!"

 

"Langkah pertamanya dulu?"

 

"Menyapa dengan senyuman terbaik!"

 

"H-Hiyori-chan!? Ada apa nih? (dengan suara falsetto)"

 

"Aku pikir mau makan siang bareng kalian berdua lagi setelah sekian lama!"

 

"Bagus, pergi sana!! Nanase-san!"

 

"Ung!! Aku pergi dulu!"

 

Saat jam istirahat siang, sesuai janji, aku mengawasi Hiyori pergi.

 

Dengan langkah yang hati-hati, Hiyori berjalan menuju bangku di taman tengah tempat Tenma dan Ichika sedang menyantap bekal mereka.

 

"……Ah."

 

Mendadak langkahnya terhenti, dan Hiyori berbalik menatapku.

 

"U, uuh."

Ohoi, dia malah kembali sambil hampir menangis.

 

"Ehto, ada apa?"

 

"M-mereka berdua makan bekal sambil suap-suapan……"

 

Uwah. Waktunya buruk sekali ya……

 

Beruntung, pihak sana sepertinya tidak menyadarinya, jadi kalau mencoba sekali lagi seharusnya tidak masalah, tetapi……

 

"Jangan-jangan, mereka berdua sudah pacaran ya……"

 

"Tidak, belum tentu begitu…… Sahabat dekat yang seakrab itu sih wajar saja."

 

"Masa sih?"

 

"Iya tahu!"

 

Nggak tahu juga, sih.

 

"Tunggu sebentar. Apa aku harus menerobos masuk ke dalam suasana seperti itu sendirian? Menyiksa banget tahu!"

 

Hiyori duduk memegangi kepalanya. Situasinya benar-benar tampak putus asa.

 

Ke depannya, apakah dia akan terus terlibat dengan Shindou Tenma?

Atau justru memilih memutus hubungan sekalian? Pilihan yang diambil oleh Hiyori Nanase dalam karya aslinya adalah pilihan yang kedua.

 

Aku tidak berpikir kalau pilihan itu salah.

 

Namun, Hiyori yang ada di depanku saat ini berusaha memilih opsi yang pertama. Kalau begitu, peranku adalah mendukungnya dengan sekuat tenaga.

 

"Aku mengerti. Tunggu sebentar ya."

 

Jujur saja, aku benar-benar tidak ingin menggunakan cara ini, tetapi…… apa boleh buat.

 

Kantong kertas yang sudah kusiapkan untuk jaga-jaga.

 

Isinya adalah wig rambut panjang, serta rok cadangan, pita, dan stoking hitam milik Hiyori yang disiapkannya untukku.

 

Rencana rahasiaku adalah menyamar sebagai perempuan, lalu bersama Hiyori menerobos makan siang sang protagonis dan sang heroine

(ngomong-ngomong, aku belum membicarakannya pada Hiyori).

 

Kalau dalam kondisi seperti ini aku dan Hiyori mendadak muncul di depan mereka berdua, pasti bakal timbul kesalahpahaman yang aneh.

 

Justru karena itulah aku harus menyamar jadi perempuan.

 

Aku masuk ke kelas kosong terdekat, lalu mengeluarkan roknya.

……Memakai rok milik heroine favorit.

 

"………………"

 

Ini benar-benar sudah melewati batas, tapi mau bagaimana lagi. Tidak, tapi tetap saja agak……

 

S-serahkan saja pada dorongan momentum. Kalau tidak, aku bakal berpikir jernih. Kalau sampai begitu, selesailah sudah. Cuma sekali, iya cuma sekali ini saja. Bakal selesai dalam kurun waktu sekitar 40 menit.

 

Aku bukan penyimpang, aku bukan penyimpang, aku bukan penyimpang.

 

Sambil menanamkan hal itu pada diriku sendiri, aku melepas celana, memakai stoking hitam serta rok, lalu mengenakan wig.

 

Waktu yang dibutuhkan cuma 30 detik.

 

Kebetulan ada cermin berdiri, aku pun melihat penampilan diriku yang sedang menyamar sebagai perempuan.

 

Aku ini sebenarnya sedang melakukan apa sih. Yang seperti ini kan cuma penyimpang belaka.

 

Ah, bukan. Sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu.

 

Sambil menepis berbagai pikiran liar yang bermunculan, aku bergegas menghampiri Hiyori.

"Ah, Bun-kun. Lagi ngapain sih…… EEEEEEEEEEEH!?"

 

Wajar saja kalau Hiyori kaget. Aku sendiri pun kaget. Kenapa aku sampai melakukan hal seperti ini coba.

 

Tidak, beneran deh, kenapa bisa jadi begini?

 

"Anu, itu kan rok cadanganku……"

 

"Tenang saja, aku pakai stoking kok."

 

"Bukan, masalahnya bukan di situ……"

 

"Sudah, ayo pergi! Ikuti aku! Hiyori-chan!"

 

"Tunggu sebentar Tomida-kun, jangan-jangan kamu berniat bicara pakai bahasa wanita dengan suara seperti itu!?"

 

"Tenang saja. Pengaturanku sekarang adalah gadis polos yang pemalu dan antisosial karena tidak pandai bicara dengan orang lain, jadi semua percakapan berniat kulakukan lewat tulisan di ponsel."

 

"Pengaturannya dibuat-buat sampai sedetail itu secara sia-sia……"

 

Sambil menarik tangan Hiyori yang terus mengoceh, aku melangkah menuju taman tengah.

 

Tadi Hiyori memanggilku 'Tomida-kun' bukannya 'Bun-kun', rasanya seolah dia menarik diri satu langkah yang membuatku agak nyesek, tetapi hal seperti itu sekarang tidak penting.

 

Tidak, sebenarnya penting sih.

 

Sambil menarik Hiyori dengan nekat, pasangan Tenma dan Ichika terlihat sedang menyantap makan siang bersama dengan akrab di meja bangku taman tengah.

 

Melihat kami, mereka berdua seketika menyadarinya dan memasang ekspresi terkejut.

 

"Hiyori-chan?"

 

"……Hiyori."

 

"A, etto. A, ahaha…… k-kalian berdua, sudah lama ya! Kebetulan sekali ketemu di tempat seperti ini!"

 

Sambil panik, Hiyori melambaikan tangannya.

 

"Hiyori. Anak itu siapa?"

 

"Etto, anak ini teman sekelas…… Tomida Fumika-chan! Anak polos yang pemalu dan antisosial karena tidak pandai bicara dengan orang lain…… begitu!"

 

Sambil celingukan panik, Hiyori memperkenalkan Tomida Fumika-chan (diriku).

 

"E, etto. Lalu ya! Kami berdua sedang mencari tempat buat makan siang. Boleh kami bergabung? Kalau boleh, aku mau kalian akrab dengan Fumika-chan."

 

"Tentu saja! Kalau memang Fumika-san tidak keberatan. Bagaimana

denganmu, Ichika?"

 

"Aku juga sama seperti Tenma-kun. Fumika-chan, silakan duduk di sini."

 

Mereka menyambut dengan sangat hangat ya. Pasangan protagonis dan

heroine berelemen cahaya ini.

 

Saat hendak duduk di bangku, entah kenapa Ichika menatapku dengan tajam.

 

"Hana-chan? Ada apa? Kok menatap Fumika-chan seperti itu?"

 

"He? A, tidak…… Rasanya akhir-akhir ini aku pernah bertemu dengan

Fumika-chan di suatu tempat."

 

Eh, jangan-jangan ketahuan?

 

"A, bukannya yang itu ya? Kalau cuma papasan di koridor atau semacamnya…… mungkin saja kan?"

Saat Hiyori menyela dengan panik, Ichika menepuk tangannya seolah tersadarkan.

 

A, bahaya, bahaya. Nice follow dari Hiyori.

 

Menetralkan suasana kembali, aku dan Hiyori duduk di hadapan mereka berdua. Lalu, aku mengetik layar ponsel dengan gencar dan menyodorkan layarnya ke hadapan mereka berdua.

 

『Saya sangat gagap berkomunikasi, jadi saya berbicara lewat tulisan

seperti ini』

 

"I-iya! Makanya kalian berdua tolong agak sabar ya kalau bicara dengan Fumika-chan."

 

『Maaf ya. Saya terkesan seperti orang aneh ya……』

 

"Sama sekali tidak kok. Fumika-chan cuma menyampaikan perasaan lewat tulisan, bukan lewat suara. Tidak ada yang aneh sama sekali."

Ichika-san melemparkan senyuman bagaikan malaikat padaku.

 

Gawat nih. Rasanya aku bisa sedikit kepikat. Dia anak yang sangat baik ya…… tidak, aku memang sudah tahu sih? Tapi rasanya seperti

disadarkan kembali.

 

Tanpa sadar, aku memalingkan pandanganku untuk menyembunyikan rasa malu, lalu Hiyori yang ada di sebelahku menyenggol sepatusku

pelan.

 

Pada saat itu juga, sebuah pesan dari Hiyori masuk.

 

『Jangan kegeeran sama Hana-chan dong~』

 

…………Iya, maaf ya.

 

◇

 

Aku, Nanase Hiyori, baru saja menyatakan cinta kepada orang yang kusukai dan ditolak. Pria itu adalah Shindou Tenma. Teman masa kecil sekaligus sahabatku.

 

Jujur saja…… sampai sekarang pun rasanya masih menyakitkan jika melihat wajah Tenma. Aku belum bisa move on, dan masih teringat-ingat terus.

 

Saat ini, aku sedang makan siang bersama orang tersebut.

 

Sebenarnya aku masih butuh sedikit waktu lagi, tetapi aku tidak bisa terus bersikap seperti ini. Soalnya, aku rasa tinggal menunggu waktu saja sampai Tenma dan Hana-chan berpacaran.

 

Kalau aku terus melarikan diri dan menghindari Tenma karena kepikiran masalah penolakan ini…… lalu di saat yang sama mereka berdua jadian, kali ini aku benar-benar tidak akan bisa menyapanya lagi.

 

Jika sudah begitu, aku dipastikan tidak akan terlibat lagi dengan mereka berdua di masa depan.

 

Hal itu rasanya…… agak kesepian.

 

Karena itulah, aku memutuskan untuk melangkah maju dan berada di sini demi menghadapi Tenma.

 

Meski begitu, aku tidak bisa berbicara seperti biasa dengan Tenma.

 

Padahal aku bisa mengobrol dengan Hana-chan, tetapi aku bingung harus membicarakan apa dengan Tenma.

 

Hana-chan pun mulai menyadari jarak kecanggungan yang ada di antara aku dan Tenma.

 

Gawat. Aku harus membicarakan sesuatu…… seperti dulu lagi, seperti biasanya.

 

…………Lho?

 

Aku biasanya mengobrol seperti apa ya dengan Tenma?

 

"Hyak!?"

 

Di saat pikiranku hampir mendadak kosong, pinggangku dicubit pelan dari samping.

 

Saat aku menoleh ke samping, tampak Bun-kun yang sedang menyamar sebagai perempuan menatapku dengan lekat. Dengan wajah bangga seolah berkata 'serahkan saja padaku', dia mengetik sesuatu di ponsel lalu memperlihatkannya kepada Tenma.

『Bagaimana awal mula Shindou-kun dan Nanase-san bisa saling kenal?』

 

"Nn? Cerita waktu aku dan Hiyori pertama kali kenal?"

 

Eh, Bun-kun. Kenapa menanyakan hal seperti itu……?

 

"Bagaimana ya. Awal mula aku mulai akrab dengan Hiyori itu…… kalau tidak salah gara-gara kami berdua ketahuan tidur siang saat pelajaran lalu dihukum ikut kelas remedial ya."

 

Ah, pernah ada kejadian seperti itu ya. Rasanya sangat merindukan masa-masa itu.

 

"Ah, ngomong-ngomong…… soal-soal remedial saat itu sangat sulit ya."

 

"Nah kan, benar!! Kita berdua sampai memegang kepala gara-gara

kebingungan~"

 

"Tapi aku kaget waktu Tenma bilang kalau soal pilihan ganda dengan 5 opsi itu punya kemungkinan paling tinggi benar di nomor 4."

 

"L-lah, Hiyori juga ikut-ikutan memilih nomor 4 dan jawabanmu benar

juga kan~"

 

……Lho? Kok rasanya aku jadi bisa mengobrol seperti biasanya?

 

Saat aku menoleh ke samping, tampak Bun-kun mendengarkan obrolan kami dengan ekspresi puas. Lalu Hana-chan yang ada di sampingnya menatap Bun-kun dengan tatapan kagum.

 

"Fumika-chan."

 

『Iya?』

 

"Fumika-chan ini…… hebat sekali ya."

 

『A, terima kasih?』

 

……Jangan-jangan, Bun-kun sudah tahu bakal jadi seperti ini makanya dia mengalihkan obrolan ke Tenma?

 

Kalau memang begitu, aku benar-benar selalu dibantu oleh Bun-kun.

 

Selalu saja, saat aku sedang kesulitan atau merasa berat, dia selalu menopangku.

 

………………Meskipun saat ini dia sedang menyamar sebagai perempuan sih.

 

"Tomida-san, ternyata lumayan akrab ya dengan Hiyori."

 

Tiba-tiba Tenma bergumam sambil menatapku dan Bun-kun secara bergantian.

 

"Iya dong. Kami ini akrab banget tahu. Iya kan, Fumika-chan?"

"Kyaa!?"

 

Saat aku memeluk Bun-kun untuk memamerkan keakraban kami, dia mengeluarkan jeritan aneh lalu membeku dengan wajah memerah padam.

 

Reaksinya itu agak lucu.

 

"Aku juga mau akrab dengan Tomida-san deh."

 

"Aku juga ingin akrab dengan Fumika-chan."

 

He? Hana-chan juga?

 

Entah kenapa, pelukanku pada Bun-kun makin kukencangkan.

 

Setelah itu, kami bertiga bisa mengobrol seperti biasanya. Meski belum bisa dibilang pulih sepenuhnya, rasanya kebiasaan kami yang dulu perlahan-lahan mulai kembali.

 

Waktu makan siang yang terasa panjang tetapi juga singkat itu akhirnya diakhiri oleh suara bel penanda masuk.

 

"Kalau begitu, aku dan Fumika-chan kembali ke kelas bareng ya."

 

Saat aku hendak meninggalkan taman tengah bersama Bun-kun,

 

"Anu, Fumika-chan. Kalau tidak keberatan, bisakah makan siang bersama kami lagi?"

"……He?"

 

Mendengar usulan mendadak dari Hana-chan, Bun-kun refleks kaget hingga mengeluarkan suara falsetto.

 

"Aku sama seperti Fumika-chan yang tidak punya banyak teman…… jadi, hari ini rasanya sangat menyenangkan. Makanya, saat Fumika-chan berkenan saja tidak apa-apa, aku ingin kamu datang lagi…… bagaimana?"

 

Jujur saja, aku kaget. Hana-chan itu tipe orang yang memperhatikan sekitar dan punya kewaspadaan yang tinggi. Makanya dia jarang sekali menawarkan hal seperti ini atas inisiatifnya sendiri. Paling-paling cuma kepada Tenma atau aku saja.

 

Bagaimana ya jawaban Bun-kun……?

 

Saat aku menoleh ke samping,

 

"A, aah…… waah……"

 

Wajah Bun-kun mendadak tegang! Benar juga ya. Berarti kedepannya dia harus terus menyamar sebagai perempuan dong?

 

"……Tidak boleh ya?"

 

H-Hana-chan…… ekspresi lesu seperti itu curang banget tahu!

 

"…………………………………………………………………………Kalau orang sepertiku tidak masalah."

 

"Fumika-chan!"

 

Menanggapi senyuman yang tenang dan murni dari Hana-chan, wajah Bun-kun mendadak pucat pasi seolah hendak pingsan saat itu juga.

 

Melihat mereka berdua, Tenma mengangguk dengan wajah yang tampak puas.

 

"Kalau bisa, aku senang sekali kalau kamu datang 2 kali seminggu."

 

"Eh, a, o-oh. D-dua kali seminggu."

 

Dilepas oleh senyuman lebar Hana-chan dan senyuman lembut Tenma, kami pun berjalan menuju kelas.

 

"……Etto, Bun-kun. Tidak apa-apa?"

 

"……Hu!!"

 

Dengan wajah pucat dan pipi tegang, Bun-kun mengacungkan ibu jarinya.

 

◇

 

Sabtu siang.

Hati kecilku sedang bergejolak hebat. Alasannya tidak lain karena Hiyori mengajakku menonton bioskop bersama.

 

Jujur saja, sejak semalam aku terlalu gugup hingga tidak bisa tidur semalaman.

 

Namun, tidak boleh kegeeran dulu.

 

Ini bukan kencan, melainkan cuma sebatas jalan-jalan antar teman!

 

Sisa 15 menit menuju waktu janjian.

 

Ahaha. Rasa senang dan gugup bercampur aduk sampai rasanya mau muntah!!

 

"Ah, Bun-kun! Maaf ya. Sudah lama menunggu?"

 

"Tidak apa-apa! Aku juga baru sampai kok!"

 

Bohong. Saking senangnya, aku sudah standby dari jam 7 pagi.

 

Ah, tidak, ini bukan waktunya buat bersenang-senang. Pertama-tama aku harus memuji pakaian yang dikenakan oleh seorang gadis.

 

Pikirkan dengan benar, wahai diriku.

 

"Nanase-san. Etto, baju itu. Menurutku bagus. Ung…… bagus banget. Gimana ya."

 

Setelah kupikirkan baik-baik, yang keluar malah kalimat tadi.

 

Bukannya kemampuan bicaraku ini payah banget, ya?

 

"Bun-kun sepertinya harus belajar lebih banyak kata-kata pujian deh. Tapi, terima kasih ya."

 

Hiyori tersenyum manis menanggapi kata-kataku.

 

"Ayo, berangkat?"

 

Pergelangan tanganku ditarik oleh Hiyori, lalu kami mulai berjalan.

 

…………Jangan-jangan ini yang dinamakan kencan?

 

Mendadak tersadar kembali, aku mengusap keringat yang mengucur pelan dengan saputangan.

 

Gawat nih. Dia tersenyum padaku, menyentuhku, dan memujiku. Kalau begini terus, bisa-bisa aku malah menyatakan cinta pada Hiyori.

 

"Anu, Nanase-san. Terima kasih banyak karena sudah mengajakku hari ini."

 

"Eh, kenapa? Kok pakai bahasa formal begitu?"

 

Kenapa ya…… kenapa ya.

 

"Kenapa kamu mengajakku?"

"Sebenarnya film yang mau kita tonton ini film romantis sih. Aku sudah lama penasaran sama film ini, lalu aku ajak Hana-chan…… tapi sepertinya dia mau pergi nonton bareng Tenma."

 

Ah. Paham.

 

"Aku juga mengajak Hoshinon dan yang lainnya, tapi langsung ditolak mentah-mentah karena mereka tidak tertarik. Aku juga nggak mau pergi sama cowok sembarangan. Itu, aku pikir kalau Bun-kun pasti mau datang."

 

"………………………………Mari kita nikmati. Filmnya."

 

"Ung!! Ehehe. Sebenarnya ya, aku lumayan menantikannya lho?"

 

Entah kenapa, semua rasa kegeeranku tadi langsung lenyap.

 

Hiyori saat ini mentalnya sedang agak lemah. Kalau begitu,

mengupayakan penanganan mentalnya adalah hal yang harus kulakukan.

 

Saat aku mengalihkan perasaanku seperti itu, tanpa sadar kami sudah

sampai di bioskop.

 

Membeli minuman dan popcorn di food court, lalu menggunakan tiket pesanan untuk masuk ke dalam studio.

 

Film yang ingin ditonton oleh Hiyori adalah film live-action yang diadaptasi dari manga shoujo.

Menonton film sambil makan popcorn.

 

『Saya Taniguchi Misaki yang baru pindah sekolah. Mohon bantuannya ya』

 

『Gadis yang cantik』

 

Saat menontonnya, sepertinya jalan ceritanya berputar pada heroine utama yang baru pindah sekolah, 『Taniguchi Misaki』, yang menjadi akrab dan akhirnya bersatu dengan anak laki-laki populer di kelas, 『Ichinose Masato』.

『Maaasato~!!』

 

『Uwa, apa-apaan sih, Koharu』

 

Mendadak muncul gadis yang jelas-jelas berperan sebagai heroine

kalah……

 

Nama heroine itu adalah Sakurai Koharu. Sepertinya, dia teman masa kecil sekaligus sahabat Masato-kun yang sudah terikat sejak lama, dan diam-diam menyukainya

 

Pengaturan ini, rasanya pernah kulihat di suatu tempat……

 

Sambil memendam perasaan yang agak tidak tenang, aku terus menonton. Misaki yang baru pindah sekolah dan belum punya tempat hinggap mulai mempererat hubungannya dengan Masato dan Koharu, hingga mereka bertiga menjadi sangat akrab.

Lalu, di tengah-tengah itu muncullah perasaan cinta antara Misaki dan Masato. Menyadari hal itu, perasaan Koharu pun mulai meredup.

 

Kenapa ya. Melihat adegan dua pemeran utama yang bikin berdebar-debar itu malah membuat perutku melilit perih.

 

T-tidak apa-apa kan? Hiyori, tidak memproyeksikan dirinya sendiri kan?

 

"Ung. Aku paham kok, Koharu-chan. P-pasti jadi cemas kan……!"

 

Dia benar-benar meresapi perasaannya……

 

Melihat reaksi Hiyori di sebelahku, aku jadi malah lebih meresapi perasaan Koharu dibanding Misaki yang merupakan heroine utama.

 

Cerita berlanjut, dua orang itu berhasil bersatu dengan selamat, sementara Koharu menangis sendirian di bangku taman belakang.

 

Aku melirik pelan ke arah Hiyori di sebelahku.

 

"Guhk…… u, uweeh…… Koharu…… chan"

 

Uwaaaaah. Dia menangis sesenggukan. Benar-benar menangis serius kan.

 

"S-menyakitkan ya……!! U, uuh…… berju……ang. Koharu-chan sudah berjuang kok"

 

Kenapa ya. Melihatnya begini membuatku yang menonton juga ikut merasa menderita.

 

『Koharu-chan. Tidak apa-apa?』

 

O-orang ini adalah…… Si anak cowok pemikat yang merupakan karakter figuran di kelas yang sama!!

 

Yang mengulurkan tangan pada Koharu yang sedang menangis adalah si anak cowok pemikat tipe gaul yang sering menggoda Koharu selama film berlangsung (tanpa nama).

 

Jujur saja, dia itu karakter yang menyebalkan jadi aku tidak begitu menyukainya. Malah di saat seperti ini, tega-teganya orang yang mengulurkan tangan pada Koharu-chan kami adalah si cowok ini……

 

『Aku tuh ya, selalu memperhatikan seberapa keras usaha Koharu-chan selama ini tahu』

 

Sambil memasang senyuman lembut, si cowok pemikat itu berkata begitu…… lalu diam dan tetap berada di samping Koharu.

 

Ha? Si cowok pemikat, kamu…… ternyata anak yang baik banget!!

 

"S-si cowok…… pemikat!"

 

Hiyori merasa terharu seolah-olah pandangannya terhadap tindakan si cowok pemikat mendadak berubah total. Ini pasti momen saat tensiku dan Hiyori berada di puncak tertinggi sepanjang film berlangsung.

Film berakhir dengan selamat, kami pun keluar dari studio sambil menikmati sisa-sisa kesannya.

 

"……Syukurlah ya, Koharu-chan."

 

"……Ung."

 

Aku dan Hiyori saling bertukar kesan.

 

Jujur saja, daripada obrolan tentang sang protagonis dan sang heroine, obrolan tentang Koharu-chan dan si cowok pemikat justru jauh lebih heboh.

 

"Si cowok pemikat itu anak yang baik ya. Padahal tadinya karakter menyebalkan."

 

"Beneran! Jujur ya, di akhir-akhir aku jadi respek banget sama dia. Si cowok pemikat saat itu tanpa diragukan lagi sudah jadi penopang hatinya Koharu-chan!"

 

Si cowok pemikat. Siapa sangka di detik-detik terakhir nilai favorability-nya di mata Hiyori malah melonjak drastis.

 

"……Mungkin saja, cinta yang baru bagi Koharu-chan ternyata ada di tempat yang sangat dekat ya."

 

Sambil merasa haru, Hiyori bergumam begitu.

 

"Setelah berdamai dengan perasaannya terhadap Masato-kun, dan di saat itu pun si cowok pemikat tetap berada di sisinya….. lalu dari sana perasaannya perlahan-lahan beralih ke si cowok pemikat…… aku pikir itu bukan hal yang aneh."

 

Hiyori yang pasti sangat memahami betul perasaan Koharu-chan mengatakannya seperti itu.

 

Di masa depan yang dekat, Koharu mungkin akan menyukai si cowok pemikat. Maksudnya seperti itu kan?

 

"Ngomong-ngomong si cowok pemikat itu. Agak mirip seperti Bun-kun ya."

 

Sambil terkikik, Hiyori mengejekku.

 

"Tidak ah, aku tidak pemikat seperti itu."

 

Mendengar ucapanku yang cepat, Hiyori menggembungkan pipinya seolah merasa tidak seru lalu memalingkan wajah.

 

"………………Maksudku bukan ke arah sana sih."

 

◇

 

Pagi hari, aku terbangun sambil masih terkabut rasa kantuk.

 

Aku harus pergi ke sekolah…… pikirku sambil beranjak bangun.

 

"Hiyori~ sarapan~"

 

"Iyaa~"

 

Sambil membalas panggilan Ibu, aku berjalan menuju wastafel.

 

Menyantap sarapan, berganti ke seragam sekolah, merapikan penampilan, mengambil tas, lalu berangkat ke sekolah.

 

Satu bulan telah berlalu sejak aku mengalami patah hati.

 

Sejak ditolak, sedikit demi sedikit aku merasa sudah mulai bisa bangkit kembali

 

Luka akibat patah hati sering kali dikatakan akan sembuh seiring berjalannya waktu, tetapi dalam kasusku, keberadaan Bun-kun

memegang peranan yang sangat besar.

 

"Bun-kun, selamat pagi~"

 

"Nanase-san, selamat pagi."

 

Begitu sampai di kelas, aku langsung menyapa Bun-kun yang sedang menyendiri.

 

"Kemarin saat jam istirahat siang terima kasih ya sudah mau datang bersama. Hana-chan juga sangat senang lho."

 

"Tidak juga, yah…… ung."

Belakangan ini, Bun-kun mau menyamar sebagai perempuan dan menghabiskan waktu istirahat siang bersama kami berempat, aku, Hana-chan, dan Tenma.

 

"Ngomong-ngomong, Hana-chan itu sepertinya lumayan manja pada Bun-kun ya."

 

"Eh, masa sih?"

 

"Iya tahu. Soalnya dia selalu memanggil 'Fumika-chan~ Fumika-chan~' dengan wajah yang tampak gembira. Bagaimana kalau frekuensi makan siang bersamanya ditingkatkan saja?"

 

"Kalau yang itu mohon diampuni ya."

 

Hana-chan itu kalau sudah membuka hatinya, dia punya kecenderungan untuk sangat manja pada orang tersebut. Mungkin bagi Hana-chan, keberadaan Bun-kun sudah berada di tingkat yang sama sepertiku.

 

Yah, itu cuma tolok ukur kegeeranku saja sih……

 

Bel berbunyi, aku melambaikan tangan pada Bun-kun lalu kembali ke tempat dudukku sendiri.

 

Hari yang sama seperti biasanya pun dimulai.

 

◇

 

Jam istirahat siang. Selesai menyantap makanan, aku keluar dari kelas karena ingin membeli minuman.

 

Lalu, aku menemukan sosok Tenma di depan mesin penjual otomatis.

 

……Kalau dulu aku pasti tidak bakal berani melangkah, tetapi kalau

sekarang tidak apa-apa.

 

"Tenma!"

 

"Ooh…… Hiyori ya."

 

Sambil menepuk punggungnya pelan, aku menyapa Tenma.

 

Un. Tidak apa-apa…… melihat wajah Tenma pun sudah tidak terasa menyakitkan.

 

Saat mau membeli teh susu, aku memeriksa dompet koin.

 

……Kurang 10 yen lagi.

 

"……Tenma?"

 

Aku melirik pelan ke arah wajah Tenma.

 

Lalu dengan ekspresi 'ya ampun……', dia mengeluarkan dompet dari saku celananya.

 

"Terima kasih~"

"Dasar kamu ini……"

 

Tenma tertawa dengan raut agak serba salah seperti biasanya.

 

Sip, sip, aku sudah bisa mengobrol seperti dulu lagi. Meski sedikit demi sedikit, semuanya mulai kembali.

 

Keseharianku yang seperti biasanya…… sudah kembali.

 

"……Anu, Hiyori."

 

"Nn? Apa?"

 

"Sebenarnya…… aku dan Ichika sudah jadian."

 

"……Eh."

 

Satu kalimat itu seketika menghancurkan ‘keseharianku yang seperti biasanya’ yang sudah susah payah kubangun.

 

"A, e, b-begi……tu ya. A, ahaha. B-begitu ya……"

 

Lho, pikiranku mendadak kosong. Menyiksa sekali. Aku tidak bisa bernapas dengan baik.

 

"E-etto…… a-aku mau ke toilet sebentar!"

 

Tanpa mendengarkan jawaban Tenma maupun melihat wajahnya, aku langsung berlari kencang. Pokoknya, aku ingin pergi dari tempat ini secepat mungkin.

 

"Haa…… haah."

 

Tempat yang kucapai di akhir larianku adalah bangku di halaman belakang. Alasan aku datang ke sini pasti karena ini adalah tempat yang kukunjungi tepat setelah ditolak oleh Tenma.

 

Begitu sampai, bel penanda berakhirnya jam istirahat siang pun berbunyi.

 

"……Biarlah. Membolos saja deh."

 

Jujur saja, aku tidak ingin kembali ke kelas. Aku juga tidak punya energi untuk kembali. Kalau sampai ketahuan guru atau murid lain, ya biarlah bagaimana nanti.

 

Aku duduk sendirian terdiam.

 

……Tenma. Dia menyatakan cinta pada Hana-chan ya. Aku tidak tahu.

 

Sejak kapan.

 

"…………"

 

Air mata pelan-pelan mulai mengalir.

Tidak boleh. Tidak boleh kalah. Nanase Hiyori…… berjuanglah, berjuanglah.

 

Harus bisa melampauinya, harus melangkah maju, harus

menjadikannya sekadar kenangan.

 

Lagipula, aku kan sudah tahu. Sudah tahu kan dari awal.

 

Saat ditolak dulu, aku tahu bakal jadi seperti ini…… dan aku juga sudah bersiap. Atas dasar itulah aku menyatakan cinta, dan aku bahkan berjuang agar bisa berbicara dengan Tenma sampai merepotkan Bun-kun berkali-kali.

 

……Tapi,

 

"……Uhk, guhk."

 

Rasa sakit itu tetap saja terasa sakit.

 

"Nanase-san, tidak apa-apa?"

 

"……Eh?"

 

Saat mengangkat wajahku, di sana berdiri Bun-kun yang napasnya tersengal-sengal.

 

"Eh, k-kenapa……?"

 

"Soalnya Nanase-san pergi membeli minuman tapi tidak kunjung kembali, jadi aku berpikir jangan-jangan terjadi sesuatu."

 

Bun-kun duduk di sampingku seolah hendak menghela napas lega.

 

"P-pelajarannya bagaimana?"

 

"Membolos."

 

"Eh, a…… k-kalau ketahuan guru, nanti kamu dimarahi lho?"

 

"Kalau begitu nanti dimarahi bareng-bareng."

 

Sambil tertawa begitu, dia menyodorkan teh susu kesukaanku.

 

……Beneran deh, perilakunya yang seperti itulah.

 

Setelah itu, Bun-kun tidak mengatakan apa-apa lagi, dia cuma diam dan berada di sampingku. Cuma dengan hal sepele seperti itu, air mataku berhenti mengalir.

 

Tanpa alasan yang jelas, aku mengusap tutup botol teh susu.

 

"……Tenma dan Hana-chan. Katanya mereka berdua sudah jadian."

 

"……Begitu ya."

 

"Padahal aku pikir sudah bisa move on, tapi begitu mereka berdua benar-benar jadian, rasanya menyiksa, sakit, pedih…… benar-benar yang terburuk deh."

 

"Aku paham. Terus, diri sendiri yang tidak bisa merestui secara tulus itu rasanya jadi terlihat seperti sosok yang menjijikkan, kan?"

 

"Benar……!! Beneran deh, Bun-kun itu hebat ya. Semua yang ada di pikiranku bisa ditebak semuanya."

 

"Yah, kalau soal mental pasca-patah hati, aku membanggakan diri tidak ada yang bisa menandingiku sih."

 

Bun-kun membusungkan dadanya dengan wajah bangga.

 

"……Kalau Bun-kun. Waktu orang yang kamu sukai berpacaran dengan orang lain, bagaimana perasaanmu?"

 

"Eh, bagaimana ya. Pasti terasa menyiksa sih. Tetap saja ya, meskipun sudah tahu, meskipun sudah bersiap-siap…… begitu saatnya tiba, rasanya tetap pedih dan menyiksa. Bukan berarti teringat-ingat terus sih, tapi itu dua hal yang berbeda kan?"

 

"Nah! Nah kan benar! Seperti yang diharapkan dari veteran yang kenyang pengalaman. Kamu paham banget ya……!"

 

Aku menyenggol lengan Bun-kun dengan sikutku sekitar tiga kali.

 

"……Kok rasanya aku tidak sedang dipuji ya."

Bun-kun memalingkan wajahnya seolah sedang merajuk.

 

Entah kenapa rasanya lucu, hingga tanpa sadar senyuman mengembang di bibirku.

 

……Lho. Padahal sampai tadi aku sedang menangis, tapi sekarang aku malah tertawa.

 

"Nanase-san kenapa? Mukamu kelihatan bingung banget."

 

"……Tidak. Bukan apa-apa."

 

………Benar-benar, benar-benar orang yang ajaib.

 

"Bun-kun kalau di saat seperti ini biasanya melakukan apa?"

 

"Uumm. Kurang lebih sama seperti sekarang sih. Duduk di bangku taman sambil bercengkrama dengan alam. Terutama kalau melihat rumput liar, entah kenapa rasanya jadi agak tenang."

 

Bun-kun bercerita dengan pandangan mata yang menerawang jauh.

 

Pasti, Bun-kun juga sama sepertiku, pernah menyukai seseorang, perasaannya tidak terbalaskan, dan harus menanggung rasa sakit.

 

Mungkin karena itulah. Kepadanya, aku tanpa sadar sampai meluapkan perasaan yang tadinya tidak berniat kuungkapkan.

 

"Hei. Entah kenapa, situasi sekarang mirip seperti di film yang kita tonton kemarin ya? Adegan si cowok pemikat dan Koharu-chan."

 

"Yah, cuma situasinya saja sih."

 

"Eeh tidak kok? Bun-kun tanpa ragu lagi sudah menjadi penyelamatku

lho."

 

Saat ini mungkin masih butuh sedikit waktu lagi. Tapi, kalau aku sudah bisa berdamai dengan perasaanku terhadap Tenma dan siap untuk cinta yang baru, saat itu……

 

"……Mungkin saja, cinta baruku juga ada di tempat yang sangat dekat."

 

"……Hhmm?"

 

Dengan wajah yang tidak begitu paham, dia memiringkan kepalanya.

 

Sambil tertawa melihat Bun-kun yang seperti itu, aku meminum teh susuku.

 

Bangku di halaman belakang, membolos pelajaran berdua saja. Tidak ada obrolan khusus, yang terdengar hanyalah kicauan burung kecil.

 

Namun entah kenapa, tidak terasa kecanggungan sama sekali, justru terasa sangat nyaman. Malah waktu yang terus berlalu ini rasanya agak sangat disayangkan untuk diakhiri.

 

Ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam diriku.

Saat ini aku belum tahu apa itu, tapi pasti kedepannya akan terus berkembang.



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close