Cerita Bonus Eksklusif BOOK☆WALKER: 「Sepulang Sekolah Bersama Serizawa-san」
Serizawa-san:
『Bun-bun. Sepulang sekolah hari ini, kumpul di
tepi sungai ya』
Saat sedang makan siang, mendadak ada
pesan masuk dari Serizawa-san.
Alasan kenapa harus berkumpul di tepi
sungai tidak tertulis di sana, lagipula padahal orangnya berada tepat di
depanku tapi kenapa coba harus repot-repot berkirim pesan……?
Serizawa-san terus menatapku sambil
mengunyah roti cokelat batangnya pelan-pelan.
Yah, ajakan main dari Serizawa-san kan
memang selalu begini.
Dipikirkan terlalu serius pun tidak akan
ada gunanya.
Untuk saat ini, aku mengirimkan stiker
kotoran (unchi-kun). Di antara aku dan Serizawa-san, ini punya arti kalau aku
sudah mengerti.
Setelah memeriksa ponselnya, Serizawa-san
tersenyum kecil dengan senang, lalu menendang sepatuku pelan.
◇
Sepulang sekolah, begitu aku menuruni
tanggul, Serizawa-san ternyata sudah berada di sana. Dia turun sampai ke tepi
sungai, berjongkok di atas kerikil sambil mencari sesuatu dengan raut wajah
yang sangat serius.
"Serizawa-san."
"Ah, Bun-bun. Datang juga."
"Ung. Dipanggil makanya aku datang,
tapi…… kamu lagi mencari apa?"
"Lagi mencari batu yang pas."
"Batu…… mau main lempar batu lempar
air (mizukiri)?"
"Betul, lempar batu. Ayo kita adu
taiman."
(Tl/N: Taiman itu adu satu lawan satu,
biasanya bernuansa slang/preman (dalam bahasa Jepang btw)
Aku tidak paham kenapa nada bicaranya
mendadak bergaya preman begitu, tapi sepertinya Serizawa-san ingin bertanding
lempar batu denganku. Mungkin tidak ada alasan yang mendalam di baliknya.
Aku melipat lengan baju seragamku,
memasuki mode siap tempur.
"Serizawa-san, kalau kamu kalah,
harus traktir Yukimi Daifuku rasa matcha ya."
"Oho, percaya diri banget nih."
"Asal kamu tahu ya, di kampung
halamanku aku ini dijuluki sebagai Raja Lempar Batu lho."
"Tidak apa-apa tuh? Bukannya itu
cuma ejekan?"
Bukan ejekan, kok. Sepertinya.
Serizawa-san menatap sebuah batu pipih
lalu berdiri.
Begitu ya, kelihatannya dia sudah
memutuskan mau pakai batu yang itu.
Aku pun ikut berjongkok dan memilih batu
secara asal-asalan.
"Eh, Bun-bun. Batu yang itu tidak
apa-apa? Kelihatannya cuma tingkat
Tier B lho?"
"Fuh, cuma orang kelas tiga yang
terlalu sibuk memedulikan batu."
"Ooh, kok rasanya kelihatan mirip
profesional ya."
"Yah begitulah."
Mendapat tatapan mata penuh kekaguman
darinya membuatku jadi sedikit melonjak senang. Habisnya aku kan jarang-jarang
mendapat pujian, jadi mau bagaimana lagi.
"Kalau begitu, aku lempar duluan
ya."
Serizawa-san melempar batunya ke arah
sungai dengan gerakan cepat.
Batu itu memantul di permukaan air
sebanyak 8 kali, lalu tenggelam.
"Fumu, 8 kali. Menurutku sendiri sih
tidak buruk."
Serizawa-san mengangguk puas.
……8, 8 kali. Jago banget ternyata.
Eh, apa batu ini benar-benar tidak
apa-apa ya? Kok aku jadi merasa ragu bakal bisa menang ya.
"Bun-bun, kalau mau ganti batu
sekarang mumpung belum terlambat lho?"
"………………Seorang pria tidak akan
menarik kembali kata-katanya!"
"Kelihatan banget lagi
bimbang."
Sambil menghindari tatapan menyindirnya,
aku melempar batu itu ke arah sungai.
"………Ooh. Memantul 8 kali. Seri……
alias draw ya."
"Aku tidak paham kenapa kamu harus
memperbaiki kata-katamu, tapi kalau draw berarti Yukimi Daifuku-nya dibagi dua
ya."
"Tidak ada keberatan.
Ngomong-ngomong kalau pakai batu yang pas memangnya bisa memantul berapa
kali?"
"Benar juga ya…… coba aku lempar
sekali lagi ya."
"Ooh, jadi penasaran."
Memilih batu yang sekiranya pas, aku
melemparnya kembali ke sungai.
Batu itu memantul sekitar 15 kali lalu
tenggelam.
"Eh, hebat. Memantul lebih dari 10
kali lho. Hebat juga kamu Bun-bun.
Seperti yang diharapkan dari Raja Lempar
Batu."
"Hehehe. Ah, ngomong-ngomong bukan
cuma lempar batu saja, aku juga bisa membuat cincin dari bunga lho."
"Eh, Bun-bun ini ternyata cowok
high-spec……?"
Bukannya standar high-spec-mu terlalu
gampang, ya?
"Hei, Bun-bun."
"Nn? Ada apa?"
"Cincinnya. Coba buatkan."
"Eh? Dari sekarang?"
"Ung. Aku mau yang buatan
Bun-bun."
"……Yah, boleh saja sih."
Sambil merasa terkejut oleh permintaan
yang tak terduga ini, kami berdua bergeser ke lereng tanggul. Di sana ada
rumput shirotsumekusa (semanggi putih) yang tumbuh, jadi aku memetik sebatang
lalu merangkainya menjadi cincin dengan lihai.
"Bagaimana?"
"……Coba pasangkan."
"Eh."
"Cepat."
Dengan sedikit canggung, aku meraih
tangan kiri Serizawa-san yang disodorkan, lalu memasangkan cincin itu di jari
manisnya
Ngomong-ngomong, aku memasangkannya di
jari manis semata-mata karena masalah ukuran cincin. Sama sekali tidak ada
maksud lain.
Serizawa-san menatap jari manisnya
sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Tidak buruk juga."



Post a Comment