NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Oshi Heroine wa ~ Tensei Shita Mobu no Ore o Hitorijime Shitai Rashii ~ Shitsuren shita Hiroin o Sasaetara Jojo ni Omoku Natteitta ~ Volume 1 Short Story

Cerita Bonus Eksklusif BOOK☆WALKER: 「Sepulang Sekolah Bersama Serizawa-san」


Serizawa-san: 『Bun-bun. Sepulang sekolah hari ini, kumpul di tepi sungai ya』

 

Saat sedang makan siang, mendadak ada pesan masuk dari Serizawa-san.

 

Alasan kenapa harus berkumpul di tepi sungai tidak tertulis di sana, lagipula padahal orangnya berada tepat di depanku tapi kenapa coba harus repot-repot berkirim pesan……?

 

Serizawa-san terus menatapku sambil mengunyah roti cokelat batangnya pelan-pelan.

 

Yah, ajakan main dari Serizawa-san kan memang selalu begini.

 

Dipikirkan terlalu serius pun tidak akan ada gunanya.

 

Untuk saat ini, aku mengirimkan stiker kotoran (unchi-kun). Di antara aku dan Serizawa-san, ini punya arti kalau aku sudah mengerti.

 

Setelah memeriksa ponselnya, Serizawa-san tersenyum kecil dengan senang, lalu menendang sepatuku pelan.

 

◇

Sepulang sekolah, begitu aku menuruni tanggul, Serizawa-san ternyata sudah berada di sana. Dia turun sampai ke tepi sungai, berjongkok di atas kerikil sambil mencari sesuatu dengan raut wajah yang sangat serius.

 

"Serizawa-san."

 

"Ah, Bun-bun. Datang juga."

 

"Ung. Dipanggil makanya aku datang, tapi…… kamu lagi mencari apa?"

 

"Lagi mencari batu yang pas."

 

"Batu…… mau main lempar batu lempar air (mizukiri)?"

 

"Betul, lempar batu. Ayo kita adu taiman."

(Tl/N: Taiman itu adu satu lawan satu, biasanya bernuansa slang/preman (dalam bahasa Jepang btw)

 

Aku tidak paham kenapa nada bicaranya mendadak bergaya preman begitu, tapi sepertinya Serizawa-san ingin bertanding lempar batu denganku. Mungkin tidak ada alasan yang mendalam di baliknya.

 

Aku melipat lengan baju seragamku, memasuki mode siap tempur.

 

"Serizawa-san, kalau kamu kalah, harus traktir Yukimi Daifuku rasa matcha ya."

 

"Oho, percaya diri banget nih."

"Asal kamu tahu ya, di kampung halamanku aku ini dijuluki sebagai Raja Lempar Batu lho."

 

"Tidak apa-apa tuh? Bukannya itu cuma ejekan?"

 

Bukan ejekan, kok. Sepertinya.

 

Serizawa-san menatap sebuah batu pipih lalu berdiri.

 

Begitu ya, kelihatannya dia sudah memutuskan mau pakai batu yang itu.

 

Aku pun ikut berjongkok dan memilih batu secara asal-asalan.

 

"Eh, Bun-bun. Batu yang itu tidak apa-apa? Kelihatannya cuma tingkat

Tier B lho?"

 

"Fuh, cuma orang kelas tiga yang terlalu sibuk memedulikan batu."

 

"Ooh, kok rasanya kelihatan mirip profesional ya."

 

"Yah begitulah."

 

Mendapat tatapan mata penuh kekaguman darinya membuatku jadi sedikit melonjak senang. Habisnya aku kan jarang-jarang mendapat pujian, jadi mau bagaimana lagi.

 

"Kalau begitu, aku lempar duluan ya."

 

Serizawa-san melempar batunya ke arah sungai dengan gerakan cepat.

Batu itu memantul di permukaan air sebanyak 8 kali, lalu tenggelam.

 

"Fumu, 8 kali. Menurutku sendiri sih tidak buruk."

 

Serizawa-san mengangguk puas.

 

……8, 8 kali. Jago banget ternyata.

 

Eh, apa batu ini benar-benar tidak apa-apa ya? Kok aku jadi merasa ragu bakal bisa menang ya.

 

"Bun-bun, kalau mau ganti batu sekarang mumpung belum terlambat lho?"

 

"………………Seorang pria tidak akan menarik kembali kata-katanya!"

 

"Kelihatan banget lagi bimbang."

 

Sambil menghindari tatapan menyindirnya, aku melempar batu itu ke arah sungai.

 

"………Ooh. Memantul 8 kali. Seri…… alias draw ya."

 

"Aku tidak paham kenapa kamu harus memperbaiki kata-katamu, tapi kalau draw berarti Yukimi Daifuku-nya dibagi dua ya."

 

"Tidak ada keberatan. Ngomong-ngomong kalau pakai batu yang pas memangnya bisa memantul berapa kali?"

 

"Benar juga ya…… coba aku lempar sekali lagi ya."

 

"Ooh, jadi penasaran."

 

Memilih batu yang sekiranya pas, aku melemparnya kembali ke sungai.

 

Batu itu memantul sekitar 15 kali lalu tenggelam.

 

"Eh, hebat. Memantul lebih dari 10 kali lho. Hebat juga kamu Bun-bun.

Seperti yang diharapkan dari Raja Lempar Batu."

 

"Hehehe. Ah, ngomong-ngomong bukan cuma lempar batu saja, aku juga bisa membuat cincin dari bunga lho."

 

"Eh, Bun-bun ini ternyata cowok high-spec……?"

 

Bukannya standar high-spec-mu terlalu gampang, ya?

 

"Hei, Bun-bun."

 

"Nn? Ada apa?"

 

"Cincinnya. Coba buatkan."

 

"Eh? Dari sekarang?"

 

"Ung. Aku mau yang buatan Bun-bun."

 

"……Yah, boleh saja sih."

Sambil merasa terkejut oleh permintaan yang tak terduga ini, kami berdua bergeser ke lereng tanggul. Di sana ada rumput shirotsumekusa (semanggi putih) yang tumbuh, jadi aku memetik sebatang lalu merangkainya menjadi cincin dengan lihai.

 

"Bagaimana?"

 

"……Coba pasangkan."

 

"Eh."

 

"Cepat."

 

Dengan sedikit canggung, aku meraih tangan kiri Serizawa-san yang disodorkan, lalu memasangkan cincin itu di jari manisnya

 

Ngomong-ngomong, aku memasangkannya di jari manis semata-mata karena masalah ukuran cincin. Sama sekali tidak ada maksud lain.

 

Serizawa-san menatap jari manisnya sejenak, lalu tersenyum tipis.

 

"Tidak buruk juga."



Afterword | ToC

Post a Comment

Post a Comment

close