Kata Penutup
Halo, dengan aku
Chikaramizu di sini!
Melanjutkan dari
volume kedua, aku merasa sangat bersyukur dan terharu bisa bertemu kalian lagi
di volume ketiga ini! Saat ini, aku baru saja menyerahkan naskah akhir untuk
volume tiga dan sedang bisa mengambil napas lega.
Volume tiga ini
adalah cerita yang benar-benar baru dan tidak ada di versi Web, tapi apakah
kalian bisa menikmatinya?
Pada volume
ketiga ini, aku menulis kisah tentang Girimekhala yang berusaha menyelamatkan
Mara, mantan majikan sekaligus temannya. Girimekhala percaya jika itu Kai, dia
pasti bisa menyadarkan Mara.
Berbekal
keyakinan itulah, Girimekhala mendatangkannya ke dunia ini. Harapan itu pun
terkabul, Mara berhasil mendapatkan kembali jati dirinya di saat-saat terakhir
dan menerima kekalahan dari Kai.
Lalu, dalam wujud
bayi dan tanpa ingatan, Mara kembali ke sisi temannya.
Tentu saja,
pertemuan antara Ash dan Kai, serta perkembangan Jignir sebagai seorang
pahlawan juga menjadi faktor yang penting.
Pada awalnya,
cerita ini jauh lebih kasar dan kaku, tetapi berkat saran tanpa kompromi dari
editor yang bertugas, aku menulis ulangnya berkali-kali hingga akhirnya
terbentuk seperti ini.
Hasilnya, secara
pribadi aku merasa karya ini telah diselesaikan dengan cukup memuaskan.
Di sini aku punya
sebuah pengumuman. Adaptasi komik dari seri "Cho Nankan Dungeon" ini
sedang dalam masa serialisasi di aplikasi "Manga GauGau" milik
Futabasha.
Aku akan sangat
senang jika kalian bersedia meluangkan waktu untuk membacanya!
Kalau begitu,
izinkan aku menyampaikan ucapan terima kasih di akhir ini!
Kepada
Runaria-sensei yang kembali menyajikan ilustrasi yang begitu indah dan keren! Untuk desain karakter karya ini,
aku benar-benar bergantung sepenuhnya kepada beliau.
Ide-ide
luar biasa dari Sensei benar-benar sangat membantuku. Terima kasih banyak!
Kepada
editorku, Tuan N, yang telah memberikan saran berharga tanpa ampun. Khususnya
karena kali ini adalah karya yang benar-benar baru, aku juga merasa cukup
cemas, tetapi berkat kerja keras Tuan N, aku bisa membuat sesuatu yang sangat
memuaskan.
Terima
kasih!
Kepada
pihak Futabasha yang telah menerbitkan volume ketiga ini ke dunia, dan bahkan
mengadaptasinya menjadi komik, aku mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya.
Dan di
atas segalanya, kepada para pembaca sekalian yang telah memegang volume ketiga
ini. Berkat dukungan kalian semualah aku bisa menerbitkan volume ketiga ini.
Alasan aku bisa
terus menulis setiap harinya adalah semata-mata karena ada kalian yang sedia
membaca karyaku. Hatiku benar-benar dipenuhi rasa syukur.
Terima kasih
banyak!
Kalau begitu, aku
sangat menantikan dari lubuk hati terdalam untuk bisa berjumpa dengan kalian
semua lagi di volume keempat.
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Petualangan Seru
Kai Menjelajahi Reruntuhan
Dengan
dimasukkannya penduduk Eldim sebagai rakyat, pengembangan East End yang
dipimpin oleh Rose kini bisa dilaksanakan secara nyata.
Hanya saja,
total populasi Eldim kurang dari seribu jiwa. Jumlah itu masih sangat kurang untuk bisa
membentuk sebuah kota.
Yah, kalau
kuserahkan pada rekan-rekan dari kelompok Buku Panduan Penaklukan yang
perfeksionis itu, pengembangan setingkat Cartel pun mungkin bisa
diselesaikan dalam beberapa hari.
Namun, East
End pada dasarnya adalah wilayah milik Rose. Jika aku ikut campur dari awal
sampai akhir, itu akan bertentangan dengan tujuan perang takhta ini.
Karena itu,
aku memutuskan agar bantuan dari rekan-rekan kelompok itu sebatas dukungan
tidak langsung saja.
Saat ini,
aku tengah mendengarkan laporan dari penduduk Eldim. Mereka baru saja
ditugaskan untuk menyelidiki lahan yang penting bagi pengembangan tersebut.
"Sebuah
kota reruntuhan di East End, ya. Kedengarannya memang ada sesuatu di
sana...."
Beberapa
tahun terakhir, keberadaan kota semacam itu sama sekali tidak pernah tercatat
dalam literatur. Kalau begitu, mungkinkah itu peninggalan zaman kuno?
Sejak
dahulu kala, East End merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Amelia. Pemerintah kerajaan pastinya sudah pernah
melakukan penyelidikan setingkat tertentu di masa lalu.
Setidaknya,
mustahil rasanya mereka melewatkan reruntuhan kuno yang berpotensi menyimpan
peninggalan yang sangat penting.
"Tolong
ceritakan secara rinci bagaimana kondisinya saat kalian menemukannya."
Mendengar
instruksi Rose, Gauss yang bertugas sebagai ketua tim penyelidik langsung
bangkit dari kursinya. Ia membetulkan posturnya dan memberi hormat.
"Saat kami
bergerak menuju timur laut East End, kabut putih pekat mendadak menyelimuti
sekeliling kami. Mengingat kemungkinan kami berada di dalam kekeji pembatas
musuh, kami melanjutkan pencarian dengan hati-hati hingga akhirnya tiba di kota
reruntuhan itu. Kami memutuskan untuk kembali karena menganggap penyelidikan
lebih lanjut akan terlalu berbahaya."
"Kabut putih
pekat dan kota reruntuhan, ya. Benar-benar menggugah selera! Biar aku saja yang
menyelidikinya!"
Hmm. Kemungkinan
besar, kabut itu memang sebuah kekeji pembatas. Sebuah kota reruntuhan yang
tersembunyi di baliknya. Menarik, sangat menarik.
Lagipula,
tujuanku berkeliling dunia sebagai seorang hunter memang untuk menjelajahi
tempat-tempat semacam itu.
"Kai, aku
mohon, tolong tahan dirimu sebisa mungkin, ya."
Rose memohon
padaku dengan raut wajah yang sangat serius.
"Jangan
khawatir. Misteri dan bahaya semacam ini adalah makanan favoritku."
"Siapa juga
yang mengkhawatirkan orang yang bisa mengalahkan Taotie sendirian! Bukan itu
maksudku. Yang kutakutkan adalah kamu akan membuat situasinya jadi makin
rumit!"
"Mana
mungkin penjelajahan reruntuhan akan memicu situasi yang rumit, kan? Benar
begitu, Asta?"
"Firasat
yang sangat bagus. Jika Tuan yang bergerak, 99% pasti akan mengundang
masalah."
Asta dengan
santainya melontarkan jawaban yang sama sekali tidak membantu itu.
Gara-gara ucapan
menyebalkan Asta itu, Rose terus saja menahan keberangkatanku hingga akhir.
Namun, tidak mungkin aku membatalkan keputusan yang sudah kubuat.
Dan sekarang, di
sinilah aku berada, mengunjungi titik lokasi yang disebutkan oleh Gauss tadi.
"Hahaha!
Benar-benar ada kabut yang muncul!"
Menarik! Ini
benar-benar menarik! Jika ucapan Gauss benar, seharusnya ada reruntuhan di
depan sana.
Dunia ini
dipenuhi oleh orang-orang kuat. Bisa jadi, aku bahkan harus mempertaruhkan
nyawaku kali ini.
"Buatlah aku
bersenang-senang."
Aku menghunuskan
pedang Raikiri dan mulai melangkah maju.
◇◆◇
Ada tiga hawa
keberadaan yang terasa di dalam reruntuhan itu.
"Ada yang
masuk ke dalam Domain Kutukan miliknya?"
Seorang kesatria
zombi busuk berbalut zirah usang memekik kaget.
"Ya,
sepertinya ada bocah tengil yang menginjakkan kakinya ke sana."
Sang
pendekar pedang tengkorak mengangguk mantap untuk menjawabnya.
"Bukannya
Tuan Putri sudah merapal ulang sihirnya?"
Kesatria zombi
itu bertanya dengan nada jengkel kepada seorang gadis berjubah putih bersih.
"Benar.
Karena sebelumnya pernah diterobos, aku sudah memasang kembali sihir ilusi
berlapis-lapis. Seharusnya tidak mungkin ada yang bisa mencapai Domain
Kutukan miliknya, tapi...."
Gadis itu tampak
ragu-ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Ternyata
berhasil diterobos, ya...."
Pendekar pedang
tengkorak itu meraba dagunya dengan tangan kanan.
"Benar
sekali. Mungkin dia memiliki kekebalan terhadap sihirku."
"Sialan!
Berani-beraninya dia menyia-nyiakan usaha Tuan Putri! Padahal persediaan Mana
kita juga ada batasnya!"
Kesatria zombi
itu meninggikan suaranya dengan penuh amarah.
"Marah-marah
juga tidak ada gunanya. Bakal gawat jadinya kalau dia sampai menyentuh dan
melepas segel itu. Kita tidak punya pilihan selain menakut-nakuti dan
mengusirnya. Anda tidak keberatan kan, Tuan Putri?"
Pendekar
pedang tengkorak menegur kesatria zombi itu dengan nada tegas. Ia kemudian meminta persetujuan pada sang
gadis yang matanya tertutup kain putih.
"Tentu saja!
Tapi, ingat, hanya menakut-nakuti saja. Kalian sama sekali tidak boleh
melukainya!"
"Kami
paham!"
Kesatria zombi
meninju telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanan.
"Sesuai
kehendak Anda, Tuanku!"
Sahut
sang pendekar pedang tengkorak tua. Keduanya lalu membungkuk hormat kepada
gadis berpakaian putih itu sebelum akhirnya menghilang.
"Aku
takkan pernah membiarkan makhluk itu bertindak sesukanya!"
Gadis itu
mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, lalu menggumamkan tekadnya.
◇◆◇
"Hmm.
Ternyata ini memang sebuah reruntuhan."
Sepanjang
jalan batu yang usang ini, berjejer rapi bangunan-bangunan unik yang sudah
setengah hancur. Usianya
pasti sangat tua, namun skalanya benar-benar luar biasa.
"Tuanku,
bolehkah hamba menghancurkan Domain Kutukan yang tidak sopan ini?"
Tiba-tiba
terdengar suara Girimekhala bergema di dalam kepalaku. Jika dinilai dari nada
bicaranya, tampaknya ia sangat murka.
"Hmm? Jadi
ini yang dimaksud dengan Domain Kutukan?"
Domain Kutukan adalah salah satu teknik kekeji pembatas
ofensif untuk mengurung target di wilayah buatan pengguna, lalu memaksa target
tunduk pada aturan di dalamnya. Tampaknya aku sama sekali tidak menyadarinya
karena domain ini terlalu lemah.
"Untuk bisa
menyerang sosok agung seperti Anda, setidaknya dibutuhkan kekuatan yang
mumpuni! Ini benar-benar terlalu kekanak-kanakan!"
"Jangan
berkata begitu. Kitalah yang menyusup tanpa izin. Kalau masih bisa diajak
bicara, setidaknya kita harus mencobanya lebih dulu."
Kalau aku
seenaknya menindas yang lemah dengan kekuatan, aku tak ada bedanya dengan para
bangsawan kelas atas Kerajaan Amelia yang brengsek itu.
"Semuanya
terserah pada kehendak Anda."
Girimekhala
merespons demikian, lalu terdiam. Sepertinya dia sama sekali belum puas, tapi
setidaknya dia mau mengalah untuk saat ini.
Seandainya
pemilik Domain Kutukan ini hanyalah sampah yang tidak bisa diajak
bicara, barulah kuserahkan urusan ini padanya. Selain itu, sepertinya ada tamu
yang datang.
"Apakah
kalian yang membuat kekeji pembatas ini?"
"Enyahlah!"
Pendekar pedang
tengkorak itu berteriak seraya mengarahkan ujung pedangnya padaku.
"Benar!
Ini bukan tempat untuk bocah tengil sepertimu! Cepat pergi dari sini!"
Kesatria
zombi juga ikut membentak sambil menggenggam pedang dengan kedua tangannya.
"Gagal,
ya...."
Sudah
kuduga mereka tidak bisa diajak bicara.
"Apanya
yang gagal!?"
Dengan
sekali tolakan kaki, aku bergerak ke samping kesatria zombi yang sedang
marah-marah itu. Aku mengunci lehernya dengan lengan kananku, lalu mengarahkan
ujung pedang Raikiri ke leher sang tengkorak.
"Artinya,
kalian ini bukanlah tandinganku."
Ujarku
dengan penuh keyakinan.
"M-Mustahil...."
Pendekar
pedang tengkorak itu menggigil ketakutan.
"Bagaimana?
Apakah kalian berniat meladeni perbincangan ini sekarang?"
Aku memberikan
tawaran yang menyelamatkan nyawa mereka. Sejak awal aku sama sekali tidak
merasakan niat membunuh dari kedua makhluk ini.
Mengingat mereka
terus mendesakku agar segera pergi, sepertinya mereka memiliki alasan
tersendiri. Berdasarkan firasatku, kurasa mereka akan menuruti ajakanku.
"Bagaimana
jika kami menolak?"
"Aku takkan
melakukan apa-apa. Kalian
hanya perlu tertidur sebentar di sini."
Sekalipun
mereka adalah undead, mereka punya niat baik dengan tidak melukaiku yang sudah
menyusup ke tempat ini. Membunuh lawan yang tak memancarkan hawa permusuhan
sangatlah bertentangan dengan prinsipku.
"Begitu,
ya.... Aku ingin kamu menemui Tuan Putri."
Mendengar
ucapan pendekar pedang tengkorak tersebut,
"Oi!"
Kesatria zombi
seketika melontarkan protes. Namun,
"Pria ini
sangatlah kuat. Terlebih lagi, ia sama sekali tidak berniat membasmi kita
meskipun tahu bahwa kita ini undead. Bisa jadi, ia bersedia mengulurkan
tangannya untuk kita."
Pendekar pedang
tengkorak meresponsnya dengan sungguh-sungguh.
"...."
Kesatria zombi
itu mencampakkan pedangnya ke tanah, lalu menundukkan kepalanya sedikit.
"Sepertinya
sudah sepakat, ya. Kalau begitu, tolong pandu aku ke tempat Tuan Putri
itu."
Aku
mendesak mereka seraya menutupi hatiku yang berdebar kegirangan.
Mereka
berdua membawaku ke hadapan seorang gadis cantik berkulit pucat pasi. Gadis
berambut putih yang mengenakan jubah putih bersih itu menutup kedua matanya
dengan kain berwarna senada.
"Tuan Putri,
orang ini sangatlah kuat! Jika itu dia, pasti bisa menjadi secercah harapan
untuk memecahkan situasi terburuk ini. Hamba sangat yakin akan hal itu!"
Pendekar pedang
tengkorak itu mendeklarasikannya dengan lantang seraya mengarahkan tangan
kanannya kepadaku.
"Orang
ini...."
Gadis berambut
putih itu masih tak percaya. Ia bergumam sambil memandangiku dengan
kebingungan.
"Kalau
begitu, mari langsung saja bicarakan tentang kota ini. Berhubung aku tidak
punya banyak waktu, tolong jelaskan sesingkat mungkin."
Menanggapi
permintaanku, gadis berambut putih itu beralih menatap si pendekar pedang
tengkorak yang langsung mengangguk mantap. Gadis itu lalu melirik si kesatria
zombi.
"Aku juga
tidak keberatan!"
Jawab kesatria
zombi itu dengan nada setengah kesal.
"Baiklah.
Aku akan menceritakannya."
Gadis itu mulai
berbicara dengan raut wajah penuh tekad.
Cerita sang gadis
berakhir. Isinya benar-benar sangat sulit dipercaya.
Katanya, gadis
bernama Lucile ini adalah putri dari Kerajaan Atlan yang runtuh dua ribu tahun
silam. Kerajaan Atlan pernah berjaya sebagai peradaban ilmu sains sihir dan
berhasil menguasai dunia.
Ironisnya,
kejayaan itulah yang justru mengundang malapetaka. Mereka memanggil sesosok
dewa dari dunia lain menggunakan sihir khusus yang pada masa itu dianggap tabu.
Dewa tersebut kemudian meluluhlantakkan dunia ini tanpa ampun.
Umat manusia saat
itu berusaha melawan menggunakan sains sihir. Namun, pada akhirnya mereka tak
mampu mengalahkan dewa tersebut dan malah terus-terusan diserang oleh para
utusannya. Menghadapi ancaman kepunahan, Atlan pun mengambil sebuah keputusan.
Keputusan itu
adalah menggunakan hal tabu untuk melawan yang tabu, alias melakukan
pemanggilan dewa sekali lagi. Dan kali ini, agar bisa dikendalikan, mereka
memutuskan untuk memanggil dewa tersebut ke dalam wadah manusia.
Entah itu adalah
sebuah keberuntungan atau kesialan, ritual itu berhasil. Sang dewa pun melebur
ke dalam tubuh gadis tersebut.
Gadis itu beserta
entitas dewa yang menyatu bersamanya, berhasil memanfaatkan kelengahan sang
dewa dari dunia lain dan menyegelnya.
Hanya saja, Domain
Kutukan yang dipasang makhluk itu saat proses penyegelan, telah merenggut
nyawa para keluarga kerajaan Atlan, termasuk raja dan ratu, serta jiwa-jiwa
penduduk ibu kota. Mereka semua ikut terkurung bersama sang dewa dunia lain
itu.
"Aku
mengerti sebagian besar ceritanya. Jadi, alasan kenapa kamu bisa tetap hidup
sampai sekarang adalah berkat dewa yang melebur denganmu itu?"
"Ya.
Ketika melebur denganku, dia sepenuhnya menyatu dengan kesadaranku. Aku adalah
dirinya, dan dia adalah diriku. Di dalam segel yang diaktifkan oleh kekuatannya
ini, aku bebas bergerak semauku. Karena itulah, meski di dalam Domain
Kutukan yang tak tertandingi ini, kami bisa berpindah-pindah tanpa ada
batasan sedikit pun."
Intinya,
dewa dari dunia lain itu menciptakan sebuah Domain Kutukan, dan nyawa
para raja serta rakyat ibu kota Atlan terkurung di dalamnya.
Lalu,
Lucile dan yang lainnya mengaktifkan segel untuk menutupi domain tersebut,
sehingga makhluk itu tak bisa melarikan diri, begitu, kan.
"Jadi
maksudmu, aku hanya perlu melenyapkan dewa dari dunia lain itu, kan?"
Dewa atau iblis
semacam itu tidak ada di dunia ini. Besar kemungkinan, itu hanyalah sejenis
monster yang sangat keji.
Terlepas dari
semua itu, jika monster itu dimusnahkan, maka jiwa-jiwa ini akan dibebaskan.
Aku sangat yakin akan hal itu.
"Tidak, dia
itu adalah seorang dewa! Tidak mungkin seorang manusia mampu mengalahkan dewa!
Bantuan yang kami harapkan dari Anda hanyalah sebatas membebaskan rakyat ibu
kota saja! Aku akan membuka celah pada bagian Domain Kutukan yang tipis
miliknya, lalu memandu jiwa-jiwa rakyat ke luar! Aku ingin Anda membasmi
utusan-utusannya yang akan bermunculan saat itu terjadi!"
Itu sungguh
sangat merepotkan. Lagipula, itu sama saja dengan lari ketakutan sambil
menyelipkan ekor di antara kedua kaki hanya karena musuhnya lebih kuat.
Itu adalah opsi
yang sama sekali tidak bisa kupilih. Terlebih lagi—.
"Menarik."
Sudut bibirku
terangkat secara alami. Seekor monster setingkat bencana yang sanggup
meruntuhkan sebuah peradaban kuno. Kalau aku tidak merasa bergairah
mendengarnya, aku bukanlah seorang ahli pedang sejati.
Aku kembali
menyarungkan Raikiri, menarik Murasame dari sarung di punggungku, lalu memasang
kuda-kuda atas.
"T-Tunggu
sebentar! Apa yang hendak Anda lakukan!?"
Aku mengabaikan
teriakkan Lucile yang diliputi rasa panik. Menggunakan Murasame, kutebas dan
kulenyapkan Domain Kutukan serta segel yang terpasang di tempat ini.
"T-Tidak
mungkin... kekeji pembatasku... hancur hanya dengan sekali tebas...."
Lucile
jatuh berlutut di tanah dengan suara gemetar.
"Brengsek!
Apa kamu sadar dengan apa yang barusan kamu perbuat!? Kamu baru saja melepas
segel dewa yang akan menghancurkan dunia ini!"
Kesatria
zombi itu mencengkeram kerah bajuku dan meraung marah.
Aku pun seketika
menepis tangannya.
"Tentu saja
aku sadar. Saat ini wilayah ini adalah daerah kekuasaan kami. Kami harus bisa
memanfaatkannya tanpa sisa. Aku sama sekali tidak punya alasan untuk
menyerahkan tempat ini pada monster antah-berantah semacam itu."
Aku menyuarakan
kesimpulan yang sudah sewajarnya. East End ini adalah markas baru kami.
Bakal repot
jadinya kalau dunia sampai tahu bahwa ada monster setingkat bencana berbahaya
yang tersegel di sini. Kalau sampai salah langkah, akses menuju East End bisa
ditutup sepenuhnya. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini secara rahasia.
"Sudah
kubilang, makhluk itu bukanlah monster melainkan dewa—!? Gawat, mereka
datang!"
Sesaat
setelah Lucile berteriak histeris, sebuah lingkaran sihir raksasa muncul dari
tanah. Dari dalamnya, menyembur monster-monster berbentuk gurita dalam jumlah
tak terhingga.
Lalu, di
pusat lingkaran itu berdirilah seekor monster raksasa berkepala gurita,
menggenggam sesuatu yang menyerupai tombak.
"Makhluk
apa... kamu ini...?"
Karena tak mampu
memercayai fenomena di depan mataku ini, tanpa sadar aku melontarkan pertanyaan
itu.
"Kan sudah
kubilang! Itu adalah dewa dari dunia lain! Makhluk itu bukanlah lawan yang bisa
dikalahkan oleh manusia kerdil seperti kita!"
Kesatria zombi
itu memekik ngeri.
Monster raksasa
berkepala gurita itu memandangi kami seolah tengah mempermainkan kami, lalu
mengarahkan ujung tombaknya.
"Dasar
makhluk rendahan! Berani-beraninya kalian mengurung aku sang Kraken ini dalam
kurun waktu yang sangat lama! Aku takkan membunuh kalian begitu saja! Segala
penderitaan dan penghinaan—"
"Konyol!"
Aku menyela
ocehan konyolnya itu dengan seruan penuh amarah yang luar biasa. Tentu saja.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali harapanku dihancurkan sedemikian rupa
seperti ini.
"Ngh,
ngggh!?"
Mendengar suara
lengkinganku yang memancarkan aura pertarungan, Kraken sang monster gurita itu
sedikit tersentak ke belakang.
Bahkan, sebagian
dari hewan lunak yang sepertinya merupakan anak buahnya itu langsung meledak
berhamburan ke segala arah akibat aura pertarunganku.
"Makhluk
seperti ini yang disebut sebagai monster tingkat bencana yang telah meruntuhkan
peradaban kuno!? Kecoa lemah yang tenaganya bahkan tak setara dengan Goblin
ini!? Tidak, tidak mungkin! Oh, aku tahu! Kamu pasti sedang menyembunyikan
kekuatan aslimu, kan!? Ya! Pasti begitu!"
Sungguh tak bisa
kupercaya peradaban kuno bisa hancur oleh kecoa lemah yang bisa lenyap hanya
dengan sekali tiup ini.
Mungkin saja dia
memang sengaja menyembunyikan kekuatannya. Jika tidak, semuanya tidak akan masuk akal.
"B-Bunuh
dia!"
Mendengar
perintah bosnya, sekumpulan makhluk lunak yang sepertinya adalah bawahan
Kraken, maju menyerangku dengan suara buas. Aku menargetkan seluruh kawanan
itu, meraih sarung pedang Murasame dengan tangan kiriku, memasukkan kembali
mata pedangnya, dan meletakkan tangan kananku pada gagangnya.
"Aliran
Pedang Shinkai Gaya Satu Pedang, Bentuk Keempat: Jaring Laba-Laba Beracun
Arachne!"
Pedang
dihunus bersamaan dengan rapalan jurus. Dalam sekejap, garis berbentuk salib
membelah seluruh kawanan makhluk lunak itu, membuat mereka hancur menjadi debu.
"Hah?"
Kraken
melontarkan kebingungannya sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun,
begitu pandangannya bertemu denganku, ia langsung gemetaran hebat.
"Nah,
seluruh bawahanmu sudah mati. Tunjukkan padaku kekuatan aslimu!"
Aku meraung
sembari mengarahkan mata pedang Murasame kepadanya.
"M-Monsteeerrr!?"
Kraken menjerit
melengking, lalu berbalik arah dan terbang ke udara demi melarikan diri secepat
mungkin.
"Pada
akhirnya, jadinya malah seperti ini, ya...."
Lawan
yang kuharapkan menjadi petarung kuat, justru melarikan diri dengan sangat
menyedihkan. Rasa amarahku memudar, berganti dengan kehampaan yang sulit
diungkapkan. Aku melesat ke arahnya dan menebasnya tepat dari ubun-ubun hingga
terbelah menjadi dua secara vertikal, bahkan sampai ke dasar jiwanya.
"Gigagugagagagaga!"
Bersamaan
dengan jeritan sakaratul mautnya, tubuh Kraken hancur menjadi debu. Aku
mendarat dan kembali menyarungkan Murasame. Pada saat yang sama, tak terhitung
jumlahnya bola-bola emas kecil membumbung ke angkasa, lalu lenyap.
"S-Semuanya
telah terbebaskan."
"Tak
bisa dipercaya. Dia menghabisi makhluk itu dengan begitu mudah...."
Kesatria
zombi dan pendekar pedang tengkorak bergumam dengan wajah tercengang. Kemudian, cahaya keemasan itu menjelma
menjadi sosok pria dan wanita di hadapan Lucile.
"Ayah,
Ibu!"
Keduanya
langsung mendekap Lucile yang berteriak memanggil mereka.
"Lucile,
berbahagialah."
Usai
mengucapkan kalimat itu, mereka menunduk hormat kepadaku. Tubuh mereka kemudian
berubah menjadi bola-bola emas yang terbang tinggi ke udara sebelum akhirnya
menghilang.
Monster dari
dunia lain itu ternyata sangat lemah sampai-sampai membuatku muak. Tapi,
sudahlah. Selama akhirnya bahagia, semuanya takkan jadi masalah.
Baru saja aku
membalikkan badan dan hendak melangkah meninggalkan Lucile dan yang lainnya,
"Tunggu
sebentar!"
"Hmm?"
Aku menoleh
melewati bahuku. Tampak Lucile dan kawan-kawannya sedang bersujud dan
menempelkan dahi mereka ke tanah.
"Anda
pastilah sosok Dewa Agung yang ternama! Kumohon, sudi kiranya Anda memberi tahu nama dewata Anda kepada kami!"
Lucile
melontarkan ucapan tak masuk akal itu kepadaku dengan suara melengking.
"Kalian
juga, ya...."
Lucile telah
melebur dengan bentuk kehidupan spiritual yang katanya merupakan dewa,
menjadikannya tak lagi bisa disebut manusia seutuhnya. Makanya, seperti entitas
non-manusia lainnya, dia melontarkan kebohongan konyol itu padaku. Ya, pasti
begitu kenyataannya.
"Namaku Kai
Heineman. Aku ini manusia, tahu."
Tepat ketika aku
membalas ucapannya dengan nada setengah putus asa,
"Tuanku!"
Di belakangku
mendadak muncul sesosok wanita yang mengenakan pakaian merah nan terbuka,
Nemesis. Muncul lagi
orang yang luar biasa merepotkan ini....
"N-Nemesis-sama!"
Lucile memekik
keheranan.
"Ya, lama
tak jumpa, ya. Siapa sangka kamu malah melebur dengan seorang manusia. Pantas
saja pada awalnya aku tak mengenalimu, karena terlalu lemah, sih."
Sahut
Nemesis seraya mengedikkan bahu.
"Kalian
saling kenal?"
"Tentu saja!
Dia adalah pelayan di istanaku."
Pelayan, ya.
Sebuah kebetulan yang menarik.
"Lalu? Apa
maumu?"
Yah, tanpa
ditanya pun sebenarnya aku sudah tahu.
"Aku ingin
memohon izin Anda untuk menjadikan mereka semua sebagai bawahanku."
Sudah kuduga, hal
itu yang akan dikatakannya.
"Aku sih
tidak masalah. Oh ya, kalian semua juga tidak keberatan, kan?"
"Kami tak
memiliki keberatan apa pun."
Girimekhala
menampakkan wujudnya di belakangku seraya berlutut.
"Tuh,
denger sendiri, kan? Kalian juga setuju dengan hal itu?"
"Tentu
saja!"
Lucile
menjawabnya sebagai wakil dari mereka seraya menempelkan kembali dahinya ke
tanah. Hal itu juga diikuti oleh kesatria zombi dan sang pendekar pedang
tengkorak.
"Kalau
begitu, dengan ini masalahnya telah selesai."
Saat aku
melangkahkan kaki dan hendak pulang,
"Kai-sama!"
"Hmm?"
Lucile memanggil
dan menghentikan langkahku. Aku menoleh melewati bahuku, lalu melihatnya
berdiri dengan pipi merona merah.
"Terima
kasih."
Ia menyampaikan
rasa terima kasihnya itu dari lubuk hatinya.



Post a Comment