Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 4.1
Pergeseran
Walaupun aku nekat berlari keluar tanpa berpikir panjang, setidaknya ada hal yang berhasil kuketahui.
Baik saat mendatangi kediaman Nanjou maupun kediaman Shinonome, semua orang telah melupakan keberadaanku.
Orang-orang yang muncul di depan pintu rumah sama-sama menunjukkan raut wajah yang serupa. Raut wajah saat menatap orang yang tidak dikenal. Wajah asing yang dipenuhi perpaduan antara rasa waspada dan kebingungan.
Jika hanya sebatas itu, masih tidak masalah. Aku sudah terbiasa dilupakan oleh orang lain. Meskipun aku sama sekali tidak ingin terbiasa, aku sudah berkali-kali merasakannya. Namun masalah utamanya bukan terletak di sana. Baik di kediaman Nanjou maupun Shinonome, keberadaan mereka berdua telah dianggap tidak pernah ada sejak awal.
Saat kusebutkan nama mereka, orang-orang hanya memiringkan kepala kebingungan. Begitu hendak kuperlihatkan foto mereka, sosok mereka berdua justru telah lenyap dari dalam ponselku. Di dalam ingatan pihak keluarga sekalipun, tidak tersisa satu pun jejak bahwa mereka berdua pernah hidup di dunia ini.
"『Daya Paksa Dunia』..."
Aku sudah berkali-kali merasakan fenomena ini. Sebuah daya paksa demi mematuhi jalurnya skenario. Sebuah kekuatan yang menghapus, memutarbalikkan, dan mengubah segala hal yang tidak menguntungkan bagi jalan cerita seolah-olah memang sudah seperti itu sejak awal.
Sekarang, skenario yang harus dilindungi adalah 5th ROUTE yang ditulis oleh Hibise.
"Oi... tunggu dulu."
Setelah Shino dan Shuna tewas, jalan pikiranku yang sempat mati perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Kata-kata yang tadinya terombang-ambing oleh perasaan tiba-tiba terlintas di dalam benakku.
『『Empat Arah Angin Gadis Cantik』 Semuanya Tewas BAD END』
"Satsuki dan Reine juga──akan dibunuh!"
Pada detik kalimat itu kuucapkan, bagian dalam perutku rasanya seperti akan terpilin putus. Rasa mual dan amarah menguasai dadaku secara bersamaan. Keringat dingin merembes menelusuri punggungku. Ujung-ujung jariku gemetaran hingga aku kesulitan mengeluarkan ponsel.
Meskipun begitu, aku tetap berusaha menghubungi Hibise. Hanya nada panggil monoton yang terus berbunyi tanpa henti. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa panggilan itu akan diangkat.
"Sialan... cepat angkat!"
Tanpa sadar aku meremas rambutku sendiri. Kuku-kukuku menancap ke kulit kepala dan menimbulkan rasa sakit, namun rasa amarahku tetap tak kunjung reda. Sebuah ketidakadilan yang tak tertandingi. Rasa ketidakberdayaan terburuk karena tidak sanggup melakukan apa pun.
Aku sudah gagal menyelamatkan Shuna dan Shino. Karena itulah, setidaknya aku harus menyelamatkan Satsuki dan Reine. Namun kenyataannya, aku tidak bisa melakukan apa-apa.
"Setidaknya. Setidaknya, kalau saja aku tahu skenarionya...!"
Informasi yang diberikan kepadaku hanyalah satu kalimat terakhir itu saja. Aku sama sekali tidak tahu apa isi dari 5th ROUTE.
• Apa yang akan terjadi?
• Siapa yang akan bergerak?
• Di mana mereka akan tewas?
• Bagaimana cara menghindarinya?
Setidaknya, jika aku tahu penyebab kematian mereka berempat, masih ada jalan yang bisa kuupayakan.
"Panasnya..."
Saat mencoba menengadah menatap langit, aku menyipitkan mata seketika. Sinar matahari langsung terasa terlalu menyengat hingga membuat pandanganku putih membakar.
Secara refleks aku menutupi wajah dengan telapak tangan. Dari sela-sela jariku, matahari terlihat membias redup. Baik di kehidupan sebelum ini maupun saat ini, matahari akan selalu ada di sana.
"Satoshi-kun!"
"...Ngg?"
Satsuki sedang melambaikan tangannya dengan heboh ke arahku. Dengan peluh yang membasahi dahi, ia tetap berlari menghampiriku membawa raut wajah ceria seperti biasanya. Di belakangnya, Reine berjalan menyusul dengan sedikit terlambat.
"Jangan langsung pergi begitu saja dong," ujar Reine yang tampak sedikit kesal sambil menata napasnya.
"A, ah. Maaf ya," aku meminta maaf dengan jujur.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?"
"Emm, firasat!"
"Begitu ya..."
Aku menghela napas panjang. Jawabannya sama sekali tidak masuk akal dan tidak menjelaskan apa-apa. Namun jika itu Satsuki, aku merasa ia memang bisa sampai ke sini hanya karena alasan itu. Aku merasa sedikit terselamatkan oleh keceriaannya yang tanpa batas tersebut. Napasku terasa sedikit lebih ringan.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ayo kita pergi."
"Eh?"
Satsuki mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menatap tangan itu dan merasa bingung tanpa sadar.
"...Ke mana?"
"Ke mana lagi kalau bukan ke rumah orang tuaku."
Saat melihat ke sekeliling setelah ia mengatakannya, tempat ini ternyata memang berada di dekat rumah orang tua Satsuki. Tampaknya saat berjalan mengitari kawasan ini tanpa arah demi mencari jejak Shuna dan Shino, tanpa sadar aku telah sampai ke tempat seperti ini.
"Aku juga ingin memberi salam kepada orang tua Satsuki kok," ujar Reine sambil membusungkan dadanya tanpa alasan yang jelas.
Melihat hal itu, Satsuki menatapnya dengan pandangan picik.
"Kena~pa Reine yang malah kepikiran tegang begitu?"
"Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku harus bilang bahwa anak gadis tercinta kalian berdua akan diambil olehku dan Satoshi?"
"Kalau sampai bicara begitu, kamu bakal dilarang masuk. Lebih baik jadi sahabat biasa saja, kan?"
"Sahabat... Ya, mau bagaimana lagi."
"Jangan mendadak tersipu malu begitu dong... Aku yang malah jadi malu sendiri melihatnya."
Melihat interaksi antara Reine dan Satsuki, rasa tegang di tubuhku perlahan surut.
"Benar juga. Kalau begitu, mari kita menumpang di rumah Satsuki."
Aku berdiri perlahan dari bangku taman, lalu mengibas debu yang menempel di celana.
Rumah Satsuki terletak tidak jauh dari stasiun. Baik saat kami masih berada di dalam alur 【LoD】 maupun setelah lulus SMA, aku sudah beberapa kali berkunjung ke sana.
Setelah melewati kawasan perumahan padat, kami sampai di area pemukiman yang dipenuhi rumah-rumah berderet serupa.
"Ah, benar juga. Karena aku dan Satoshi-kun bakal tidur berdua, Reine di kamar lain ya."
"Kenapa begitu!?"
Satsuki mendadak mencetuskan hal itu, dan Reine langsung menyambar tak terima.
"Tentu saja karena aku pemilik rumahnya. Mumpung lagi di rumah orang tuaku, aku ingin pisah kamar dari Reine tahu."
"Ka-kalau begitu, karena Satoshi dan aku akan berada di kamar yang sama, Satsuki saja yang diam di kamarmu sendiri."
"Kena~pa aku harus menahan diri melihat Reine dan Satoshi-kun bermesraan di rumahku sendiri!"
Aku tersenyum ketir.
Entah bagaimana, rencana menginap ini mendadak terkonfirmasi begitu saja. Lagipula, aku berpikir bukankah lebih baik jika Reine dan Satsuki saja yang berada di kamar yang sama?
Namun, mendengarkan percekcokan mereka berdua membuat beban di dadaku sedikit terasa lebih ringan.
"Ah, sudah kelihatan tuh."
Satsuki menunjuk ke arah depan, memperlihatkan sebuah rumah tinggal yang tampak biasa saja. Pintu depan yang sudah berkali-kali kulihat, serta papan nama bertuliskan 'Saionji' yang sudah sangat familier.
Tepat saat Satsuki dan Reine hendak melangkah masuk.
Terdorong oleh hembusan angin, pandanganku tanpa sadar bergulir ke arah lain.
"Ah..."
Langkah kakiku terhenti.
"Ada apa, Satoshi?"
Suara Reine terdengar, tetapi aku tidak memiliki kelonggaran untuk membalasnya. Sesuatu yang tenggelam di dasar ingatanku mendadak mencuat naik ke permukaan.
"──Kenapa, kenapa aku bisa melupakannya?"
Bahkan jika dunia menghapus Shuna dan Shino serta merekayasa ingatan kami, tetap ada hal-hal yang tidak akan pernah berubah. Berjarak tidak sampai 300 meter dari rumah Satsuki.
Aku berjalan melewati rumah Satsuki begitu saja.
"Hei~! Tunggu!"
Mereka berdua mengejar dari belakang. Namun, aku terus melangkah lurus tanpa berbalik menatap ke belakang. Debaran jantungku berpacu makin cepat. Tempo langkah kakiku meningkat sedikit demi sedikit. Rasa lelah yang kurasakan hingga saat ini sirna dari kedalaman kepalaku.
Aku terus berjalan dengan langkah cepat, lalu berhenti di depan sebuah rumah.
"Tempat inilah yang seharusnya kucari..."
Pada papan nama rumah itu──tertera tulisan 'Sanou'. Teman masa kecil Satsuki, sekaligus tokoh utama dari 【LoD】.
Rumah Sano Yuuto.
Di dalam alur 【LoD】, ini adalah rumah yang bisa dikatakan paling familiar.
Tepat di belakangku, terdengar dua pasang langkah kaki menapak kerikil.
"──Kenapa ke rumah orang itu?"
Satsuki mengerutkan wajahnya. Reine pun menatapku dengan pandangan penuh rasa curiga.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku menekan bel pintu.
Hening.
Aku menekannya sekali lagi.
Tetapi tidak ada tanggapan.
Aku menekan bel dua kali lagi.
Meskipun begitu, tidak terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.
"Percuma saja. Kalau jam segini, paman dan bibi pasti sedang bekerja."
"Kalau dipikir-pikir, benar juga..."
Aku merasa heran dengan kecerobohanku sendiri.
"Aku terlalu terburu-buru..."
Aku menghela napas panjang. Lalu, aku mendongak menatap kamar Sano di lantai dua.
"Dia pergi ke mana, ya?"
"..."
"..."
Keheningan itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana perasaan mereka berdua terhadap Sano.
Aku pun membenci pemuda itu.
Namun saat ini, aku harus menemukan keberadaan Sano. Kunci untuk menghancurkan 5th ROUTE rasanya berada pada diri Sano.
"──Mau bagaimana lagi ya..."
"Eh?"
Satsuki menghembuskan napas pelan, lalu mengulurkan tangannya ke arah pot tanaman di samping pintu depan. Ia menggeser sedikit pot yang berisi tanah itu, lalu mengambil sebuah kunci dari bawahnya.
Itu adalah gerakan yang teramat sangat terbiasa.
"...Boleh memangnya kita melakukan hal seperti ini?"
"Tidak apa-apa kok."
Satsuki memasukkan kunci lalu membuka pintu depan. Kemudian, ia berbalik menatap kami berdua.
"Kami ini teman masa kecil. Karena hubungan keluarga kami sangat dekat, kami sudah diizinkan untuk masuk sesuka hati."
Aku dan Reine mengikuti langkah Satsuki masuk ke dalam rumah Sano. Udara di dalam area masuk terasa sangat dingin, amat berbeda dengan udara di luar.
Ada keheningan khas dari sebuah rumah yang tidak berpenghuni.
Satsuki melangkah ke area dalam tanpa ragu.
Kami pun mengekor di belakangnya.
Koridor.
Tangga.
Lantai dua.
Satsuki berbalik di area koridor penghubung lantai dua.
"Silakan."
Lalu, Satsuki melangkah masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
Reine dan aku menyusul masuk tak lama setelahnya.
"Sudah berapa puluh tahun ya..."
Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku melangkah masuk ke dalam kamar Sano sejak datang ke dunia ini.
Berbagai novel ringan favoritnya memenuhi rak buku, tertata rapi sesuai dengan label penerbitnya. Warna bagian punggung buku, urutan nomor jilidnya, hingga buku-buku tua yang tertutup tipisnya debu. Semua pemandangan itu saling bertumpuk persis dengan kenangan yang pernah kulihat di dalam gim.
Di atas meja, terdapat tumpukan buku pelajaran dan kertas rangkuman materi. Lalu, ada pula konsol gim yang sama sekali tidak dibutuhkan untuk belajar tergeletak di sana. Belajar di tempat yang seperti ini rasanya tidak akan pernah bisa membuat fokus.
Kasurnya tertata dengan sangat rapi. Kasurnya tidak berantakan, dan posisi meja pun tampak teratur. Seolah-olah kamar ini telah disiapkan agar sang pemilik rumah bisa kembali kapan saja.
"Terasa mengharukan ya..."
"Tapi bagiku ini memori terburuk sih."
Tentu saja wajar jika rasa benci Satsuki jauh lebih mendominasi.
"Lalu, apa yang ingin dilakukan Satoshi sampai-sampai bersusah payah masuk ke rumah orang itu?" tanya Reine penasaran seolah ingin menggalinya.
"Aku ingin menemukan Sano dan menuntut tanggung jawab atas kamera pengintai itu."
Itu bukan kebohongan, tetapi aku tidak menyampaikan semuanya. Tujuan utamaku yang sebenarnya adalah menemukan Sano dan mengawasinya.
【LoD】 adalah kisah tentang Sano Yuuto.
Selama Sano menjadi sang karakter utama, 『Daya Paksa Dunia』 pasti akan bergerak berpusat di sekitarnya. Karena itu, tergantung pada tindakan dan tujuan Sano, aku seharusnya bisa membayangkan seperti apa jalan cerita dari 5th ROUTE.
Di sanalah pasti terdapat petunjuk untuk menyelamatkan Satsuki dan Reine.
──Jika saja aku bisa mengambil keputusan ini lebih cepat, mungkin Shino dan Shuna bisa terselamatkan.
Rasa penyesalan seperti itu menekan dadaku dengan teramat berat. Namun, saat ini aku tidak boleh terus memikirkan hal itu.
"Meskipun dia menyembunyikan keberadaannya, aku tidak bisa memaafkan apa yang telah dilakukannya. Aku pasti akan menemukannya."
Aku mulai menggeledah kamar Sano. Meski ini kamar orang lain, rasanya teramat familier bagaikan kamarku sendiri.
"...Untuk saat ini mari kita cari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk keberadaan orang itu."
"Benar. Kalau menemukan barang yang mencurigakan, aku akan memberitahumu, Satoshi."
"Tolong ya..."
Aku segera membuka pintu lemari pakaian. Di dalamnya masih tersisa seragam sekolah dan buku pelajaran masa SMA dulu.
Aku merasa heran karena ia ternyata belum membuangnya. Namun di saat yang sama, rasa rindu yang aneh mendadak membuncah di dalam dada.
"Ah, yang ini!"
"Ada apa, Satsuki!?"
Aku berbalik dengan terburu-buru.
Satsuki mengeluarkan beberapa buah majalah dari dalam laci meja.
Tepat saat melihat sampulnya, wajahnya seketika berbinar cerah.
"Rindunya, ini kan buku fotoku!"
Sano pasti membelinya untuk mendukung Satsuki dari balik layar. Setidaknya, pasti pernah ada masa di mana ia mendukung Satsuki secara tulus.
Namun.
"Cih, kotornya..."
Pada detik berikutnya, sambil menunjukkan rasa jijik yang mendalam, Satsuki mulai merobek halaman demi halaman majalah itu.
Suara robekan kertas yang garing terdengar nyaring.
"Kasihan juga kalau sampai begitu..."
Halaman-halaman yang tersobek berjatuhan ke dalam tong sampah.
Saat aku menatapnya heran, ia memandangku dengan raut bersalah.
"Maaf ya, padahal Satoshi-kun sudah bersusah payah mengirimkan buku foto ini kepadanya demi menolongku..."
"Eh? Ah, begitu ya."
Karena tiket jabat tangan itu berada di dalam buku foto Satsuki, aku memang mengirimkannya begitu saja waktu itu.
...Yah, aku sempat melupakannya. Kalau dipikir-pikir, itu kan barang yang kukirimkan sendiri. Rugi rasanya sempat menilai Sano dengan sedikit lebih baik.
"Lagipula ya," Satsuki menatap ke arah tong sampah dengan raut penuh penghinaan.
"Sudah mengering begini."
"──"
Ya ampun, benar-benar sudah tidak berdaya lagi kamu ini...
Baik Satsuki maupun Reine yang sedang mencari barang-barang lain menunjukkan raut wajah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Aku mengerti. Aku bisa memahami perasaan Satsuki dan yang lainnya hingga terasa menyakitkan.
Jujur saja, memang terasa menjijikkan.
Hanya saja, aku ini juga seorang laki-laki. Ketahuan melakukan hal seperti itu menggunakan buku foto gadis yang disukai adalah hal yang amat sangat memalukan bagi seorang pria. Meskipun Sano adalah sosok yang tidak bisa kumaafkan, aku ingin melindungi harga dirinya yang tersisa.
Yah, walau sudah terlambat sih.
"Ngomong-ngomong, kalau Satoshi-kun bagaimana?"
"Ya?"
Satsuki menatapku dengan mata yang berbinar-binar.
"Waktu kita pindah rumah dulu kamu membuang semua barang yang berhubungan dengan 【LoD】, tetapi sebenarnya bagaimana?"
"Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu...?"
"Eh?"
Waktu itu aku sangat nekat demi bisa bertahan hidup.
Di batas antara hidup dan mati seperti itu, aku sama sekali tidak memiliki kelonggaran untuk melakukan hal semacam itu.
"Heeem, heeem, heeeeem!"
"Apaan dah..."
"Tidak ada apa-apa kok!"
Pipinya menggembung, secara terang-terangan menunjukkan bahwa ia sedang merajuk.
"Tapi karena aku mendadak kesal, aku mau memelukmu sekarang juga!"
"Kamu sudah gila ya!?"
Ini rumah orang lain lho?
"Justru aku sudah membawa banyak baju renang dari zamanku jadi model gravure di dalam tas, jadi aku bakal memberimu pelajaran!"
"Kamu sebenarnya berniat mau melakukan apa di rumah orang tuamu!? Lagipula, orang tuamu ada di rumah, kan!?"
"Tidak apa-apa! Orang tuaku sangat paham kok soal pernikahan di masa sekolah, ya kan?"
Satsuki mengelus perutnya. Gerakan itu terasa aneh dan begitu dramatis. Keringat dingin mendadak mengucur deras.
Masa sih, Satsuki-san...
Jangan-jangan, berpura-pura mengkhawatirkanku itu cuma kedok, dan rencana aslimu sebenarnya mau mengurungku di rumah orang tuamu...?
"Sudah, hentikan sampai di situ."
Suara tegas dan anggun dari Reine memotong ketegangan di dalam kamar.
Saat aku berbalik, Reine sedang membalik-balik halaman novel ringan di rak buku tanpa menatap ke arah kami.
"Lagipula, berat badanmu naik sampai sebagian besar baju renang itu tidak muat lagi, kan? Itu cuma barang tak berguna."
"Siapa yang berat badannya naik!? Jangan coba-coba membuatku jadi karakter perempuan gendut begitu!"
"Padahal kamu sendiri sampai pucat pasi waktu melihat angka di timbangan."
"Itu cuma perasaanmu, cuma kebetulan, cuma fungsionalitas saja kok!"
"Kamu terlalu panik sampai akhiran katamu jadi aneh begitu."
Satsuki tampak panik karena digoda oleh Reine.
Berkat percekcokan mereka berdua, ketegangan di bahuku sedikit demi sedikit melonggar.
"Gara-gara Satoshi-kun sering meremasnya, pantat dan payudaraku jadi makin besar tahu!"
"Jangan berteriak kencang-kencang begitu!?"
Tiba-tiba saja percikannya menyambar kepadaku, membuatku refleks berteriak. Dengan pipi merona merah, Satsuki menatapku dengan pandangan penuh kekesalan sambil menutupi tubuhnya.
"Padahal aku tidak ingin ukurannya bertambah besar lagi, tetapi setiap hari, setiap hari kamu selalu──"
"Maaf, ini memang salahku, jadi tolong diamlah! Aku mohon, aku mohon banget!"
Aku langsung melakukan dogeza.
Begitu ya. Ukuran pakaiannya sudah tidak pas lagi, toh.
Tidak, itu sih urusan lain...
Bukan itu masalahnya, bodoh!
Sekarang ini aku bukan sedang memikirkan hal-hal seperti itu.
Aku menepuk kedua pipiku dengan telapak tangan. Suara tepukan garing terdengar, disusul rasa hangat yang menjalar di wajah. Kesadaranku yang sempat melayang kini sedikit terhela kembali ke realitas.
"Reine, apa kamu menemukan sesuatu?"
Reine sama sekali tidak terkejut dengan kegaduhan kami dan terus membalik halaman buku dengan santai.
"Entahlah."
"Jangan mengatakannya dengan seandal itu dong..."
Reine memang jenius dalam membangun suasana.
Aku sempat berharap dia benar-benar menemukan sebuah petunjuk.
"Hanya saja, pria ini benar-benar menjijikkan ya," gumam Reine dengan nada benci sambil menatap rak buku.
"Terasa sekali kalau dia sok membenci hal-hal yang sedang tren, benar-benar bikin mual."
Pedas sekali.
"Buku-buku yang dibacanya cuma karya-karya yang sok idealis dan ekstrem. Terasa sekali kalau dia memandang rendah karya-karya yang ada di daftar peringkat. Ketidakmampuannya untuk jujur pada selera masyarakat umum cuma membuat dirinya kelihatan norak."
Sangat pedas.
"Karyanya sendiri tidak bersalah, tahu? Hanya saja, saat melihat rak buku ini, yang terasa cuma niat sok keren 'Lihat nih, aku beda dari yang lain!'. Benar-benar membuatku ingin muntah."
"Eh, bukankah Satoshi-kun juga pernah membaca buku yang mirip seperti itu?"
"Aku tidak pernah membacanya!?"
Jangan melempar percikan api kepadaku terus-menerus, Satsuki-san! Itu benar-benar tuduhan tanpa dasar.
"Benar, Satsuki. Di rak buku Satoshi tidak ada buku-buku sejenis itu──"
"E~mm, tetapi bukankah kamu membelinya dalam bentuk digital?"
"Aku tidak membacanya, dan jangan katakan hal itu!"
"──Hah?"
Aku berusaha membekap mulut Satsuki, tetapi semuanya sudah terlambat.
Saat aku berbalik dengan ragu, Reine sedang menatapku dengan mata yang dingin mematikan.
"Bisa jelaskan apa artinya ini?"
"E, ee, anu, begini..."
Reine adalah sosok yang sangat anti-buku digital.
Dulu, saat aku membeli buku digital, dia berceramah:
『Begitu ya... jadi akhirnya kamu menjadi budak kapitalisme. Demi kepraktisan, kemudahan, dan efisiensi tempat, kamu tega membuang esensi fisik dalam membaca, kenikmatan membalik halaman, dan aroma tinta yang khas. Begitu ya. Jadi kamu memang manusia yang seperti itu ya, Satoshi.』
...Dia mencelaku terus-menerus selama hampir seminggu penuh dengan gaya seperti itu.
Yah, alasan utamanya ternyata karena kami jadi tidak bisa membaca buku yang sama bersama-sama, sebuah alasan yang sebenarnya cukup menggemaskan.
Soal Shuna dan Shino yang membisikkan hal itu diam-diam kepadaku hingga membuatku berpikir Reine sangat imut adalah cerita di kali lain.
"Aku ini wanita yang toleran. Aku akan memaafkanmu sampai dua kali."
"Baik..."
"Mulai dari yang berikutnya, itu sudah dihitung berselingkuh."
"Baik..."
Apakah membaca buku digital itu terhitung selingkuh...? Bukankah poin utamanya sama-sama menikmati sebuah cerita?
Jalan pikiran pencinta buku cetak benar-benar sulit kupahami.
"Ngomong-ngomong," Satsuki menyela pembicaraan.
"Di rak buku Reine juga makin banyak Shoujo Manga, kan?"
"Eh? Yah, memangnya kenapa."
"Jangan-jangan kamu sedang membayangkan hal-hal mesra bersama Satoshi-kun?"
"...Mana mungkin begitu."
Telinga Reine merona merah saat dia memalingkan wajahnya.
Mudah sekali dibaca...
Aku sempat ingin menggodanya sedikit, tetapi dia langsung memberikan tatapan tajam.
Aku kapok.
"...Sudah, jangan membeberkan privasi orang lain lagi. Aku merasa ini cuma bakal berkembang jadi percekcokan yang tidak ada gunanya."
"Benar juga ya..."
"...Mari kita lanjutkan pekerjaannya."
Reine, Satsuki, aku, serta Sano yang tidak ada di sini. Kami hanya saling melukai satu sama lain tanpa ada kemajuan sedikit pun. Tidak ada waktu yang tak efisien selain saat-saat seperti ini.
"Lalu, yang bisa jadi petunjuk berikutnya mungkin ini ya."
Aku duduk di depan meja, lalu menyalakan komputer.
Aku memasukkan kata sandinya. Beruntung sistemnya belum berubah menjadi pemindai sidik jari.
"Satoshi-kun..."
"──"
"Eh? Apa?"
"...Tidak ada apa-apa kok."
Satsuki dan Reine tampak sedikit heran, tetapi saat ini aku tidak punya waktu untuk memikirkannya. Perasaan bingung muncul hanya karena mereka menatapku heran padahal aku cuma menyalakan komputer.
Aku membuka folder dan memeriksa riwayatnya.
Berkas video, folder gambar, hingga folder yang tampak seperti folder tersembunyi pun sudah kuperiksa. Namun, di sana tidak ada rekaman kamera pengintai maupun jejak keberadaannya yang melarikan diri.
Jika disimpan di dalam rumah, berkas itu pasti menjadi hal pertama yang diperiksa saat dia menghilang.
Aku menelan kembali decakan lidahku.
"Tolong geser sebentar."
Aku melepaskan tangan dari komputer, lalu berlutut di depan tempat tidur.
Saat mendekat ke lantai, aroma debu dan kain lembap terasa makin menyengat.
Aku mengulurkan tangan ke bawah tempat tidur.
Di dalam kegelapan, ujung-ujung jariku meraba-raba lantai.
Debu, kabel, botol plastik kosong. Lalu, terdengar suara gesekan kertas.
"Apa-apaan ini..."
Ujung jariku menyentuh sesuatu.
Aku mengulurkan lengan lebih dalam lagi, lalu menggenggamnya.
Saat ditarik keluar, benda itu ternyata selembar kertas yang sudah remuk. Terdapat bekas lipatan dan kerutan seolah-olah kertas itu telah dilipat dan dibuka berulang kali.
Aku membukanya perlahan-lahan.
"Ini..."
Pada detik aku melihat apa yang tertulis di sana, jantungku berdegup kencang.
Ini tak salah lagi adalah tulisan tanganku.
"Dengar, boleh aku menanyakan satu hal saja sekarang?"
Suara Satsuki bergema tenang. Ia menyandarkan punggungnya di dinding dekat pintu masuk sambil menatap ke arahku. Seolah-olah ia tidak akan membiarkanku melarikan diri.
"Sebenarnya kamu sedang terseret ke dalam masalah apa?"
Sambil mengabaikan perkataan Satsuki, aku menggenggam kertas itu di tangan kanan lalu berdiri.
Aku butuh satu bukti lagi.
Aku meminta Reine menyingkir sebentar, lalu berdiri di depan rak buku.
Baris pertama tidak ada.
Baris kedua tidak ada.
Baris ketiga tidak ada.
Baris paling bawah pun tidak ada.
Aku merasakan tatapan mata di punggungku, tetapi aku mengabaikannya.
Aku mengulurkan tangan ke bagian paling atas rak. Ujung jariku mengusap debu, lalu di balik sana menyentuh sesuatu yang keras.
Aku merabanya lalu menariknya keluar.
"Ternyata benar-benar ada di sini ya..."
Aku tidak tahu alasan mengapa Sano menyimpannya, tetapi aku memang sudah menduga barang ini ada di sini.
Reine memperhatikannya dengan penuh rasa ingin tahu, tetapi aku mengabaikannya dan membalik-balik halaman buku itu.
"Padahal sampai kemarin kamu masih biasa saja, tapi sejak tadi pagi kamu terus-terusan linglung. Seperti orang kesetanan tahu."
Sambil membiarkan perkataan Satsuki berlalu begitu saja, aku memeriksa isinya.
Halaman pertama.
Halaman berikutnya.
Yang ada di sana adalah tulisan tangan milikku. Rasa tegang di bahuku mendadak surut seketika. Aku tidak tahu bagaimana cara Sano mendapatkan barang ini, tetapi meskipun begitu, barang ini tetaplah──
"Kalau ada sesuatu yang terjadi, aku ingin kamu mengatakannya. Kami juga ingin membantu──"
"5th ROUTE."
"Eh?"
Terdengar suara napas yang tertahan.
Aku menutup buku 『Rinne』, lalu menatap mereka berdua.
"Harusora Hibise sang penulis cerita telah menuliskan 5th ROUTE. Gara-gara hal itu, 『Daya Paksa Dunia』 bangkit kembali."
Suasana di dalam ruangan berubah drastis dalam sekejap.
Percakapan konyol hingga tadi, aroma berdebu, suara mesin komputer, semuanya terasa makin menjauh.
Mata mereka berdua terbelalak lebar.
"Apa yang sedang kamu bicarakan? ...Mana mungkin hal seperti itu terjadi!"
"Benar! Soalnya, sejak awal 【LoD】 itu kan...!"
Suara mereka berdua sama-sama bergetar. Namun, mereka mendadak ragu untuk melanjutkan perkataannya. Sikap itu sedikit mengusik pikiranku, tetapi sekarang bukan saatnya untuk mendalaminya.
Mumpung mereka berdua sedang terguncang, aku memperlihatkan lembar jawaban di tangan kanan serta buku 『Rinne』 di tangan kiriku.
"Ini adalah──buktinya."
"Itu lembar jawaban dan 『Rinne』, kan...?"
"Ya. Lalu ada satu hal yang ingin kuperjelas."
Aku menatap lurus ke arah Satsuki dan Reine.
"Lembar jawaban ini adalah saat aku menjadi joki ujian dan menggantikan Sano untuk meraih peringkat pertama──ini demi siapa?"
"Tentu saja demi aku," ujar Reine seolah-olah hal itu sudah semestinya.
"Satoshi kan berjuang keras supaya bisa berdiri di sampingku yang merupakan murid peringkat pertama di angkatan kita."
Begitu ya. Jadi alur ceritanya telah direkayasa menjadi seperti itu.
"Nilai akademis Reine kan tidak sebagus itu."
"Hah? Kamu sedang menghina?" jawabnya dengan raut wajah yang sedikit bersungut-sungut.
"Kalau begitu, kenapa nilai kuliah Reine tidak sebanding dengan yang dulu?"
Reine mengerutkan wajahnya.
"I-itu karena cara belajar di perguruan tinggi dan di SMA kan berbeda..."
"Reine itu tidak punya settingan sebagai si jenius. Peran itu sejak awal milik Shino."
"Eh? ...Shino?"
"Lagi pula, mana mungkin Hisui-san tertarik dengan nilai akademismu? Dilihat dari sudut mana pun, beliau bukan tipe ibu yang menuntut pendidikan anaknya, kan?"
"Ka-kalau begitu, aku──"
Reine memegangi dahinya. Lalu saat menatap Satsuki, pandangannya tertuju pada buku 『Rinne』.
"Bukankah buku 『Rinne』 itu ditulis untuk menghasilkan uang demi membantuku yang terlilit utang pekerjaan...?"
"Aku menulisnya demi menyelamatkan Shuna."
"Sh-shuna?"
Bibir Satsuki sedikit terbuka.
"Karena rumah orang tua Shuna adalah perusahaan percetakan. Kalau aku menulis banyak novel ringan, perusahaannya bisa terhindar dari kebangkrutan."
Aku mengatakannya dengan nada suara selembut mungkin.
"Lagipula, mana ada alasannya untuk menyelamatkan perusahaan Shuna yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Satsuki, kan?"
"──Itu..."
Satsuki pun menundukkan pandangannya.
Tampaknya mereka berdua merasa bingung dengan celah perbedaan dari alur 【LoD】 yang mereka ketahui.
Sebagai sebuah fenomena, tidak ada yang aneh dari sikap Satsuki dan Reine. Faktanya, area apartemen kami kini memang hanya tersisa kamarku, kamar Satsuki, dan kamar Reine. Area yang tadinya merupakan kamar Shuna dan Shino kini telah ditempati oleh orang lain. Bahkan orang tua Shuna maupun keluarga Shinonome sama sekali tidak merasakan adanya kejanggalan atas hilangnya putri mereka. Malahan, mereka memasang raut wajah seolah-olah sejak awal memang tidak pernah memiliki anak perempuan.
Namun, Satsuki dan Reine sudah terlanjur mengetahui tentang 『Daya Paksa Dunia』. Karena itulah, mereka akhirnya menyadari betapa mengerikannya makna di balik perkataanku barusan.
"Ternyata pada alur ceritanya, kejadian yang melibatkan Sano memang tidak bisa dihapus ya..."
Alih-alih membuat buku 『Rinne』 maupun lembar ujian dianggap tidak pernah ada, dunia justru mengacak-acak ingatan untuk menjaga keselarasan cerita. Persis seperti zaman SMA dulu.
Yang tidak terkena dampak dari 『Daya Paksa Dunia』 mungkin hanyalah Sano sang karakter utama.
Landasan pemikiranku adalah percakapan pertamaku dengan Sano saat di perguruan tinggi.
Awalnya kuduga ia hanya menaruh dendam karena 4 gadis itu direbut oleh pria tak dikenal yang muncul tiba-tiba, tetapi ternyata bukan cuma itu.
Saat SMA dulu, pernah ada masa di mana aku menggunakan pengetahuan kehidupan laluku untuk merencanakan cara agar bisa mendekati mereka berempat. Jika semua gadis itu direbut di perguruan tinggi oleh pria yang seperti itu, perasaan Sano tentu tidak akan bisa tenang.
Sudah tak perlu dipertanyakan lagi kalau Hibise tetap menyimpan ingatannya. Mana mungkin seorang penulis cerita tidak melindungi karya aslinya, lagipula sang pengarang sejak awal adalah pihak yang menciptakan.
Jangankan lupa, pihak yang merebut jalan cerita mana mungkin terkena dampak dari 『Daya Paksa Dunia』.
"Kita... telah melupakan seseorang lagi ya..."
Kata-kata itu terucap pelan.
"Padahal kita sudah berjanji tidak akan melupakan siapa pun lagi."
"Benar-benar ya. Menyedihkan sekali."
"Kalian berdua..."
Kalimat itu menusuk dalam ke dadaku.
Satsuki tidak bisa mengingat mereka berdua. Bahkan setelah tahu kalau ini semua adalah ulah 『Daya Paksa Dunia』, bukan berarti ingatannya akan kembali begitu saja.
Hal semacam itu sudah terbukti sejak zamanku dulu. Meskipun begitu, rasa sakit karena telah melupakan tetap terpahat dengan jelas di dalam diri mereka.
"...Mau bagaimana lagi."
Aku menyapa mereka dengan suara sehalus mungkin.
Adalah hal yang salah jika menimpakan kesalahan pada diri mereka sendiri atas apa yang telah direbut oleh 『Daya Paksa Dunia』.
"Ngomong-ngomong, ke mana pergi mereka berdua?"
"Mereka dibunuh."
Mendengar perkataanku, Reine dan Satsuki tertahan napasnya. Mereka berdua lantas menunduk dengan raut wajah serba salah.
"Maafkan kami..."
"Bukankah tadi sudah kukatakan? Ini mau bagaimana lagi..."
Untuk saat ini, aku harus merelakannya. Merasa sedih, berteriak menangis, ataupun marah, semuanya bisa dilakukan nanti.
Pertama-tama, aku harus menyelamatkan Satsuki dan Reine terlebih dahulu. Setelah itu, barulah aku akan meratapi kematian Shino dan Shuna.
"Ayo kita pergi."
"Ya."
"Benar."
Satsuki dan Reine melangkah keluar kamar.
Jika kamu ingin menyelamatkan Satsuki-san dan Reine-san, kejarlah Hibise-san dan Sano Yuuto.
Tiba-tiba saja, aku teringat kembali pesan dari Shino hingga langkah kakiku terhenti. Lalu, aku menoleh menatap kembali kamar Sano.
Sama sekali tidak ada petunjuk yang ditemukan di kamar ini. Tidak ada pula hal yang menunjukkan di mana Sano berada dan apa yang sedang dilakukannya sekarang.
Kami kembali ke titik awal lagi.
"Bahkan saat kamu menghilang pun, kamu masih saja merepotkan kami..."
Tanpa sadar aku menghela napas panjang.
Aku teringat kembali masa-masa SMA dulu, saat aku membantu Sano dari balik layar.
Kalau kamu memang menyukai mereka, seharusnya kamu segera muncul di sini dan menolong mereka.
Tepat pada detik pemikiran itu terlintas, sesuatu yang dingin menancap di dasar dadaku.
Aku tahu betul.
Sano bukanlah pria yang seperti itu. Ia tidak akan mempertaruhkan tubuhnya demi orang yang disukai.
Ia tidak bisa bertindak. Dia adalah seorang penakut.
"──Kalau begitu, bukankah ini terasa aneh...?"
Jalan pikiranku mendadak tersangkut.
Tanpa sadar aku memegangi wajahku sendiri.
Sano seharusnya berhasrat untuk mendapatkan Satsuki dan yang lainnya. Keberadaan kamera pengintai yang dipasangnya di rumah kami untuk mengawasi mereka selama 1 tahun penuh adalah bukti nyatanya. Ia ingin merebut mereka kembali sebagai para heroine di dalam ceritanya sendiri.
Sebaliknya, Hibise berbeda.
Hibise mengatakan bahwa ia menulis 5th ROUTE demi bisa mendapatkan diriku. Karena itulah, keberadaan mereka berempat dianggap mengganggu. Ia berniat menyiksaku dengan mendapatkan diriku setelah membunuh mereka berempat terlebih dahulu.
Keinginan Sano adalah mendapatkan mereka berempat.
Keinginan Hibise adalah menyingkirkan mereka berempat demi mendapatkan diriku.
Kedua hal ini sama sekali tidak akan pernah bisa selaras.
"Keinginan sang karakter utama dan sang penulis cerita saling bertolak belakang..." gumamku pelan.
Pada detik itu juga, rasa dingin menjalar menelusuri punggungku.
Kedua keinginan itu tidak mungkin bisa menyatu. Namun, 『Daya Paksa Dunia』 masih terus bergerak hingga saat ini.
Artinya, skenario itu memang benar-benar ada.
Keinginan Sano, dan keinginan Hibise.
Ada sesuatu yang memaksa dua hasrat bertolak belakang ini agar tetap terwujud sebagai satu kesatuan cerita.
Di dalam kontradiksi itulah, pasti terdapat jalan pintasnya.
"Satoshi-ku~n, masih lama ya?"
Suara Satsuki terdengar dari lantai bawah.
Saat itulah kesadaranku ditarik kembali ke realitas.
"Ma-maaf! Aku datang sekarang!"
Aku berlari menuruni tangga. Mereka berdua tampak menggembungkan pipi, memperlihatkan rasa tidak puas.
"Kamu sedang apa sih?"
"Maaf, aku cuma merapikan kamarnya sebentar!"
──Pokoknya, aku harus mencari Hibise dan Sano sekaligus.
Tidak bisa jika hanya salah satu dari mereka.
Hanya setelah berhasil menangkap keduanya, wujud utuh dari 5th ROUTE baru bisa terlihat.
"Satsuki, maaf ya tetapi hari ini kita pulang saja."
"Eh!? Padahal makan malamnya sudah──"
"Maaf, nanti pasti aku ganti kesempatan ini!"
Aku merasa bersalah kepada keluarga Saionji, tetapi saat ini setiap detik terasa teramat berharga.
Di balik penyelesaian kontradiksi inilah, pasti ada cara untuk menyelamatkan mereka berdua.
Dengan memegang teguh keyakinan itu, aku melangkah pergi meninggalkan rumah Sano.



Post a Comment