NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 3 SS

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


SS Edisi Spesial Terbatas Digital

Kebenaran

"...Menjijikkan."


Kata-kata yang terucap pelan dari mulut seseorang itu adalah kesepakatan kami bersama.


Nama pelakunya adalah──tidak perlu dipertanyakan lagi.


Kamera pengawas dipasang masing-masing di ruang tamu, loteng, dan juga ruang bilas kamar Satoshi-kun. Baru beberapa jam yang lalu kami menyadari keberadaan hal tersebut. Tanpa menyentuh kamera sama sekali, kami langsung berpindah ke kamarku──Saionji Satsuki.


Untuk berjaga-jaga, kami memeriksa setiap sudut kamar kami masing-masing, tetapi yang dipasangi kamera pengawas murni hanya kamar Satoshi-kun.


"Syukurlah hal ini ditemukan saat Satoshi-kun sedang tidak ada ya~"


"Lagipula di saat luka akibat kecelakaannya baru saja membaik, kita tentu tidak ingin membuat hal yang tidak perlu menjadi beban pikirannya kan."


Sebentar lagi sembuh total. Hal itu benar-benar sesuatu yang sangat menggembirakan.


Selamat ya, Satoshi-kun. Dengan begini kamu akhirnya terbebas dari rasa sakit, dan kehidupan yang penuh keterbatasan itu pun akan berakhir.


Padahal seharusnya merasa senang, tetapi di dasar dada bersemayam rasa kesepian dan kecemasan. Hingga saat ini kami bisa merawatnya dengan alasan cedera, tetapi alasan bagi kami untuk terus berada di sisinya akan lenyap.


Begitu kami membicarakan masa depan terburuk semacam itu kepada Satoshi-kun, kamu selalu tertawa getir tampak serba salah.


『Mana mungkin bakal seperti itu. 』


Katamu.


Kami ini benar-benar takut jika sampai dibuang tahu?


Kami sadar bahwa kami adalah wanita yang merepotkan, tetapi kami ingin kepastian bahwa kami boleh tetap berada di sisimu.


"Bagaimana kalau sebentar lagi──kita bunuh saja?"


Suara dingin Reine menarik kami kembali ke kenyataan.


Di dalam kata-kata itu terselip niat membunuh yang teramat jelas hingga tak bisa dianggap sekadar gurauan belaka. Tak ada seorang pun yang menyanggah, dan tak ada alasan untuk menghentikannya.


Perampas yang telah mempermainkan hati kami dan merebut seluruh pencapaian Satoshi-kun.


Yang paling utama, kami hampir saja dibunuh olehnya. Bahkan jangankan begitu, hingga saat ini pun ia terus menumpuk dosa-dosanya.


"...Sungguh ya, benar-benar tidak ada ampun lagi."


Fakta bahwa dulu pernah jatuh cinta pada orang itu hingga saat ini pun tetap menjadi sejarah kelam yang ingin kuhapus.


"Ah, benar juga~"


Di tengah-tengah atmosfer yang menakutkan itu, kami tertarik oleh kata-kata Shuna. Sang 【Saint】 mengukir senyuman jahat yang sama sekali tidak sepantasnya ia tunjukkan.


"Mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau kita memanfaatkan kamera pengawas yang dipasang itu untuk bermain-main sedikit~?"


"Bermain-main?"


"Iya, benar~. Kalau barang yang paling tidak ingin dilihat oleh orang itu terpantul di kamera──bagaimana?"


Beberapa detik.


Pada detik aku memahami maksudnya, tanpa sadar aku hampir saja menyemburkan tawa.


"Itu bagus! Mari kita tunjukkan padanya betapa saling mencintainya kita dan Satoshi-kun!"


"Karena ia sudah sembuh total, kita tidak perlu menahan diri lagi. Dengan kata lain, bebas melakukan sesuka hati."


"Kalian memikirkan cara yang sangat kejam ya... Semuanya. Benar-benar bikin heran."


Meskipun mengucapkan demikian, Reine mengukir senyuman yang tak kalah jahatnya dari Shuna.


Tidak, kita yang sekarang pasti sedang memasang raut wajah yang persis sama.


"Sudah diputuskan ya. Mari kita perlihatkan banyak hal yang tidak ingin ia lihat!"


Sebab-akibat dan pembalasan, mari kita buat ia menerima seluruh balasannya.



Musim panas telah berlalu, dan musim beralih menuju musim gugur. Angin yang mengelus kulit mulai bercampur dengan sedikit rasa dingin.


"Ngomong-ngomong, lama sekali ya. Satoshi masih belum datang?"


"Mungkin perkuliahan berlanjut lebih lama."


"Ia menghadiri kelas dengan tertib, hebat sekali ya."


"...Melihat gaya bicaramu, kamu membolos lagi ya."


"Mana mungkin begitu."


"Tolong jangan memalingkan pandangan mata."


"Tidak boleh tahu~. Satsuki-chan. Kamu harus mengikuti kelas dengan sungguh-sungguh~"


"Habisnya... Perkuliahan itu terlalu lama sih."


Di area tempat duduk teras kantin, aku menelungkupkan badan ke atas meja sambil membusungkan pipi.


Saat SMA durasinya 50 menit, tetapi saat kuliah menjadi 90 menit. Mana mungkin konsentrasiku bisa bertahan terus-menerus.


Bagi diriku yang tidak terlalu menyukai belajar, waktu-waktu ini terasa teramat menyiksa.


"Batas waktu pengumpulan laporan minggu ini besok kan? Kami tidak akan membantumu tahu."


"Aku bakal minta tolong pada Satoshi-kun kok!"


"Tidak boleh." 

"Tidak akan kuizinkan." 

"Tidak boleh loh~"


"Kejamnya!?"


Tanpa sadar aku memajukan tubuhku.


Sambil melakoni percakapan konyol semacam itu kami menunggu Satoshi-kun, tetapi bagaimanapun juga kami sangat mencolok.


Jika sedikit mengalirkan pandangan mata, ada beberapa mahasiswa yang sedang mengintai ke arah kami.


Di antara mereka, bahkan ada mahasiswa laki-laki yang kelihatan seperti bakal menyapa kapan saja.


"...Satoshi-kun ada di tempat seperti biasanya kan?"


"Benar ya."


"Kalau begitu mari kita jemput dia!"


3 orang lainnya sepertinya tidak keberatan, lalu langsung bangkit dari kursi.


Kami meninggalkan area depan kantin dan berjalan lurus menerobos di antara gedung-gedung perkuliahan.


Tepat pada saat itu, rombongan besar mahasiswa keluar secara bersamaan. 


Seolah menentang arus tersebut, kami berempat berjalan berdampingan. Tentu saja hal itu menarik perhatian banyak pasang mata, tetapi kami mengabaikannya. Namun, pada detik berikutnya, pergerakan kaki kami berempat melambat secara hampir bersamaan.


"...Sangat buruk."


4 orang dengan cara masing-masing mengekspresikan rasa tidak nyaman mereka.


Di arah tujuan kami, di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang berdiri adalah──orang itu.


Jika memungkinkan, kami bahkan tidak ingin saling bertatap mata, tetapi rasanya menyebalkan jika kami yang harus memalingkan pandangan mata terlebih dahulu.


"Yo, sudah lama ya."


Ia mengukir senyuman yang terkesan ramah.


Raut wajah orang itu yang kulihat kembali setelah sekian lama──area matanya tertutup oleh rambut hingga tidak terlalu kelihatan jelas. Meskipun begitu, hanya dengan senyuman yang mengapung di bibirnya saja sudah teramat cukup.


Menjijikkan, murni hanya hal itu.


Kalau dipikir-pikir, sepertinya sejak SMP ia memang sudah memanjangkan rambutnya.


Aku mencoba menggali ingatan secara samar-samar, tetapi secara tak alami, aku tidak bisa mengingat wajah lamanya. Terasa kabur seolah-olah tertutupi oleh kabut.


Yah, terserahlah.


Kami mengabaikan sosok mencurigakan itu dan berjalan melewatinya begitu saja.


"......Kalian masih ditipu oleh Iriya ya?"


Suara sesuatu yang terputus bergema di dasar dadaku. Sensasinya sudah melampaui rasa tidak nyaman dan berubah menjadi luapan niat membunuh. Namun, kami tidak boleh memicu keributan di sini.


Kami membunuh ekspresi wajah kami bagaikan sebuah boneka. Rasa senang, marah, sedih, maupun gembira──segala bentuk emosi terlampau berharga jika harus ditunjukkan kepada orang ini.


"Hei, kalau kalian kembali ke sisiku, aku bakal memaafkan kalian tahu?"


Tanpa sadar rasanya ingin tertawa mengejek dari hidung. Bahwa yang seharusnya memohon ampunan itu adalah dirimu sendiri.


Tepat pada saat aku berpikir demikian.


"──Sudahlah. Mati saja sana."


"Eh?"


Sebuah suara yang teramat dingin terdengar dari arah belakang, hingga membuat kakiku hampir saja terhenti secara tak sengaja.


Itu adalah emosi yang untuk pertama kalinya diarahkan kepada kami. Meskipun orang itu selalu merasa benar sendiri, egois, dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri, di dasar hatinya memang secara pasti terdapat rasa kasih sayang terhadap kami.


Saat aku berbalik, orang itu bahkan sama sekali tidak sedang melihat ke arah kami. Ia hanya berjalan lurus ke depan menuju pintu gerbang barat. Namun, rasa janggal yang teramat sepele semacam itu──sudah tidak penting lagi.


"Jadi ternyata begitu ya~"


Sebuah pembuktian jawaban yang teramat konyol hingga memicu rasa mual.


"Sebaliknya, kenapa kita sampai tidak menyadarinya hingga saat ini ya..."


"Fufu, ini benar-benar sangat menarik. Sungguh tidak membuat bosan ya."


"Kan~~. Menarik sekali ya~~. ──Sangat konyol."


Dari atas atap gedung, kawanan burung gagak terbang membumbung secara bersamaan. 


Bersamaan dengan kepakan sayap, sehelai bulu hitam melayang di udara.


Sambil ternoda warna merah pekat oleh terpaan sinar matahari terbenam, bulu itu melayang dan jatuh perlahan di hadapanku. Suara seruan burung yang membawa pertanda buruk menjauh pergi.


Setelah beberapa saat, barulah timbul sensasi seolah-olah alur waktu kembali bergerak. Tepat pada detik saat mengayunkan satu langkah maju.


"Lho, kenapa kalian bisa ada di sini?"


Saat aku berbalik, Satoshi-kun berdiri di sana.


Satoshi-kun yang memegang tas di salah satu tangannya. Rasa lelah merembes di raut wajahnya yang selalu ramah seperti biasa. Namun, seolah menyadari sesuatu saat melihat kami berempat, ia sedikit memiringkan kepalanya.


"Ada apa?"


Tepat pada detik ia menyipitkan alisnya tampak heran.


"Lama sekali sih~~"


Shino memproyeksikan suara bermanja-manja sambil melingkarkan tubuhnya di lengan kanan Satoshi-kun.


"Kalau begitu, aku lengan kiri~"


"Aaaaaah! Curang, curang, curang!"


"Bukannya sudah kubilang tidak boleh mendahului secara diam-diam!?"


"Dunia ini menerapkan hukum rimba tahu."


"Benar, benar~. Yang kalah tidak akan mendapatkan apa-apa~"


"Ggrrr...!"


"Kalian semua, tolong lepaskan. Tatapan mata orang-orang terasa menyakitkan..."


Tanpa disadari, sejumlah besar pasang mata telah tertuju kepada kami. Rasa penasaran dari para gadis. Niat membunuh murni dari para pria.


Kami pun melepaskan cengkeraman dengan enggan.


"Sekali lagi."


Satoshi-kun berdeham pelan. Setelah itu, ia mengukir senyuman yang tenang.


"Mari kita pulang, semuanya. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini."


Padahal hanya sebatas kata-kata itu saja, tetapi rasa dingin yang tersisa di dasar dada perlahan meleleh sepenuhnya. Kami pun ikut tersenyum secara alami.


"Iya!"


──Keberadaan bersama antara sang tokoh utama dan sang penulis skenario. Fenomena yang tak masuk akal semacam itu sedang terjadi tepat di hadapan kami. Justru karena itulah, kata-kata itu mengapung naik ke dalam kepala secara alami.


──【Love mencintaiku or atau Dead dibunuh olehku】


Previous Chapter | ToC | 

Post a Comment

Post a Comment

close