NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 3 Chapter 1

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 1

Pengganggu

Suara jangkrik yang berdengung di dekat telinga terdengar sangat nyaring, hingga mengusik saraf.


"Panasnya..."


Hawa panas yang terpancar dari beton membumbung dari telapak kaki, secara perlahan menguras tenaga.


Rasa sakit yang menyengat menjalar di lengan yang terbuka, dan terasa jelas kulit yang kian terbakar matahari.


Saat memindahkan pandangan ke samping tanpa sengaja,


"Ujiannya! Selesai!!!!"


Hibise merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah langit biru yang memenuhi jarak pandang.


Seolah sedang mendengungkan deklarasi kemenangan kepada dunia itu sendiri, ia memancarkan rasa bebas dengan seluruh tubuhnya. Para siswa lain yang baru saja keluar dari gedung secara bersamaan menoleh ke arah kami.


Di tengah atmosfer yang bercampur antara rasa lelah dan kebebasan, ia tampak paling mencolok bagaikan bintang pertama di malam hari.


"Berisik. Pikirkan juga kenyamanan orang lain."


Sebagai senior, aku mencoba menegurnya sekadar formalitas.


Namun.


"Iya, iya, dimengeertii!"


Menyebalkan....


Hibise sama sekali tidak merasa bersalah dan justru mengacungkan kedua jempolnya. Dengan senyum kemenangan yang mengembang di wajahnya, ia sengaja mengibaskan bahunya.


Bagi Hibise, selain karena ujian telah usai, ia juga baru saja begadang seharian. Sangat jelas terlihat kalau suasana hatinya sedang tidak terkendali, sampai-sampai rasa menyebalkan dan konyolnya sudah menembus batas.


"Kalau begitu, mari kita pergi merayakan!"


"Aku masih ada ujian besok..." 


Kataku dengan nada heran.


"Tidak apa-apa! Kalaupun gagal di ujian besok, tinggal diperbaiki saja di semester kedua!"


"Bicara seenaknya saja.... Lagipula, karena kamu tidak belajar sama sekali, rasa lelahku jadi berlipat dua... tidak, empat kali lipat, loh?"


Aku melayangkan pandangan dingin ke arah Hibise.



Malam sebelumnya.


『Aku tidak mengerti matematikanyaaa. Ajari aku, Sayaaang!』


Saat melihat pesan yang muncul di layar ponsel itu, aku langsung berpura-pura tidak melihatnya.


"Kenapa! Kenapa diabaikan! Tolong bantu junior kesayanganmu ini!"


Namun, mengabaikannya tidak ada gunanya.


Beberapa puluh menit kemudian, bel pintu depan berbunyi tanpa ragu, dan aku berakhir harus mengajarinya. Akibat terus-menerus diteriaki "Aku tidak mengerti!" di sampingku, waktu tidurku melayang begitu saja.



"Yah, berkat itu, semuanya jadi mantap! ...Mungkin."


Jika bukan karena kalimat terakhir itu, aku mungkin akan merasa sedikit terhibur.


Aku menghela napas perlahan.


"Meskipun begitu, panas sekali ya."


Ia menyapu keringat yang mengalir di dahi dengan punggung tangannya, lalu melepas kacamata yang dikenakannya.


Begitu dilepas, ia memicingkan mata seolah pandangannya menjadi sedikit kabur. Kemudian, dengan gerakan terampil yang sudah terbiasa, ia melingkarkan fon kepala khasnya yang dikeluarkan dari tas ke lehernya.


"Lho? Bukannya tadi pagi kamu pakai lensa kontak?"


"Ah, ini kacamata tanpa minus."


"Hmm, tren seperti itu sedang populer ya."


Tampaknya aku tidak akan pernah bisa mengikuti tren anak perempuan seumur hidupku.


Begitu masuk tahun kedua kuliah, aku menyerah pada banyak hal.


"Bukan. Ini untuk membawa keberuntungan."


"Ha?"


Tanpa sadar suara polos terlepas dari mulutku.


"Kalau pakai kacamata, rasanya aku jadi lebih pintar. Saat ujian juga, rasanya ada kekuatan tak kasatmata yang bekerja, kan?"


Sambil berkata demikian, ia memperagakan gerakan mendorong bingkai kacamata ke atas dengan jarinya.


"...Kamu pasti tidak lulus. Tahun depan aku tidak mau membantumu lagi, ya?"


"Kenapa!?"


Mungkin lebih baik dia berusaha keras tahun depan demi mencari tahu alasannya.


Hibise menyeka kacamatanya dengan cermat agar tidak meninggalkan satu sidik jari pun, lalu menyimpannya perlahan ke dalam wadah. Hanya gerakan itu saja yang terlihat sangat rapi.


"Daripada itu, Senpaiii~~! Ayo kita pergi minum!"


Sensasi lembut mendadak terjalin erat di lenganku. 


Namun.


"Sudah kubilang, aku masih ada ujian besok..."


"Jahatnya! Padahal semalam kita menghabiskan malam yang begitu membara, tapi setelah urusannya selesai, aku dibuang begitu saja!?"


"Jaga kata-katamu!"


Pandangan orang-orang di sekitar langsung tertancap tajam ke arah kami. Aku merasa kenyataan bahwa aku hanya membantunya belajar telah diputarbalikkan menjadi arti yang sama sekali berbeda.


"──Cuma bercanda, kok."


"Memangnya itu lucu, kah?"


"Ehem."


Saat aku menatapnya dengan pandangan dingin, Hibise berdeham.


"Aku cuma ingin berterima kasih pada Senpai. Lagipula semalam aku tiba-tiba datang mengganggu..."


Pada saat itu, pita di kepalanya yang tadinya berdiri tegak mendadak terkulai layaknya kehilangan tenaga. Kegaduhan hingga beberapa saat lalu seolah hanya bohong belaka, nada suaranya pun sedikit menurun.


"Bukan cuma itu. Aku terlalu pengecut hingga harus menunggu dua tahun, tapi aku juga ingin merayakan kesembuhan Senpai."


──Kalau dia sudah bilang begitu, aku tidak bisa berkutik.


Hingga 2 minggu yang lalu, karena masalah [LoD], aku sempat mencurigai Hibise secara sepihak. 


Lalu, aku mengetahui kenyataan. 


Bahwa dia adalah 'korban dari pemaksaan'. Dan pada saat yang sama, aku disadarkan.


Tentang kenyataan amnesia itu. Hari-hari saat tertawa bersamanya. Momen-momen ketika aku ditopang olehnya berulang kali. Serta perasaan tulus yang pernah ditujukan kepadaku.


Semuanya.


Telah lenyap tanpa sisa.


Aku yang menikmati kedamaian dengan wajah tak tahu apa-apa telah menghempaskan Hibise sekali lagi ke dasar jurang. Bagian dalam dadaku berderit pilu.


Namun.


"Lagipula Senpai pernah bilang, kan? Suruh aku melakukan sesukaku."


Hibise menegakkan wajahnya dengan mantap. Pita yang tadinya terkulai kini melompat tegak kembali.


"Makanya, tidak peduli seberapa terganggu pun Senpai, aku sudah memutuskan untuk terus mengejarmu sampai akhir!"


Matanya, berbeda dengan saat ia menangis merana di kamarku waktu itu, adalah mata lurus yang telah menepis segala keraguan.


Dia kuat sekali.


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya mengembuskan napas pendek.


"...Baiklah. Tapi, sebentar saja loh?"


"Yeiii!"


Hibise mengepalkan tangannya pelan. Sikapnya itu sangat jujur dan polos bagaikan anak kecil, hingga tanpa sadar pipiku agak menyunggingkan senyum.


"Kalau begitu—!


"Benar-benar tidak ada kapoknya, ya..."


...Fugyu!?"


Sebuah tangan menjulur licin dari belakang Hibise. Sebelum sempat melarikan diri, jari-jari itu mencubit pipi Hibise sampai menggembung, lalu mendekapnya erat seolah hendak mencekiknya.


Orang yang berada di sana adalah Satsuki.


Ia mendongakkan kepalanya, mengintip dari samping Hibise yang pipinya masih terdesak ke atas. Matanya terlihat gelap dan keruh, sementara pandangannya tertuju lurus ke arteri karotis di leher Hibise.


"...Selamat atas kerja kerasmu."


Aku menyapa Satsuki seolah tidak terjadi apa-apa.


Satsuki mengumbar senyum gembira lalu menatapku.


"Selamat atas kerja kerasmu juga, Satoshi-kun! Bagaimana ujiannya?"


"Yah, lumayanlah... Satsuki sendiri bagaimana?"


"Mungkin aku gagal. Sepertinya harus ujian susulan..."


"Kalau ada yang bisa kubantu, bilang saja ya? Selagi aku mampu, aku pasti akan bantu."


"Benarkah!? Satoshi-kun, aku sayang sekali sama kamu!"


Wajahnya merekah gembira bagaikan bunga sakura yang bermekaran.


Hanya saja, pemandangan saat itu adalah yang terburuk. 


Satsuki menebarkan senyum meleleh ke arahku sambil meremas dan memeluk adik kelasnya dengan erat. Sementara itu, Hibise yang berada di dalam dekapan lengannya berusaha meminta bantuan padaku dengan raut wajah kesakitan. Pandangan penuh rasa penasaran dari orang-orang sekitar tertancap tajam ke arah kami, mengalirkan tekanan tanpa kata yang sangat terasa.


Meski aku sudah terbiasa dengan sebagian besar hal aneh, pipiku tetap saja kedutan.


"Ja-Jangan mesra-mesraan di depanku, dong!"


Hibise yang berhasil melepaskan diri dari dekapan lengan Satsuki berteriak dengan wajah yang memerah padam.


Namun.


"──Hah?"


Suara yang seolah merayap keluar dari dasar bumi terdengar, membuat udara di sekitar kami seketika membeku.


Aku dan Hibise saling berpandangan.


"──Ano."


"Fuaaii!"


Hibise secara refleks menegakkan punggungnya.


Satsuki langsung mendekatkan wajahnya ke arah Hibise lalu berbisik di dekat telinganya.


Dengan lembut.


Sangat lembut.


"1% rasa simpati untuk Hibise. 1% untuk menjaga harga diri Satoshi-kun. Dan 98% kemurahan hati kami. Kamu masih ingat kan kalau kami memberimu izin khusus untuk bersama Satoshi-kun?"


"I-Iya, benar sekali! Ya ampun, terima kasih banyak ya!"


Jawab Hibise dengan tawa kering.



Sehari setelah Hibise menggertak Satsuki dan yang lainnya, dia datang lagi ke kamarku.


Lalu──.


『Aku yang salah! Mohon maaf yang sebesar-besarnyaaaaa!』


Dia melakukan dogeza yang sangat sempurna dengan dorongan kuat, sampai-sampai dahinya kelihatan seperti hampir pecah.


Saking luar biasanya aksi itu, Shino saja sampai dibuat kagum. Kemudian, berkat bujukanku juga, mereka berempat akhirnya mau menerima keadaan, setidaknya di permukaan.


Hanya saja.



"──Lantas, apa maksudnya kamu datang ke rumah setiap hari?"


Suara yang dingin itu menyuarakan fakta tanpa basa-basi.


"Saat kami sedang bermesraan-mesraan-mesraan-mesraan-mesraan-mesraan-mesraan-mesraan──"


Lama amat...


"──kamu sengaja datang di saat-saat seperti itu, kan?"


Keringat dingin mulai mengucur di pelipis Hibise.


"Memang benar kami mengizinkan Hibise berinteraksi dengan Satoshi-kun sebagai 'teman', tapi kami tidak pernah mengizinkanmu untuk mengganggu kami, kan?"


"M-Masa?"


"Kemarin malam juga kamu mengganggu waktu malam kami, kan?"


"──"


"Aku tidak akan membantumu, loh?"


"Huwaaa, Senpai jahat banget, guhe!?"


Saat Hibise mencoba mendekat ke arahku untuk meminta pertolongan, Satsuki tanpa bersuara langsung mencengkeram kerah bajunya. Karena ditarik secara mendadak, wajah Hibise menjadi seperti katak yang tenggorokannya terhimpit.


Bagaimana ya bilangnya... kasihan sekali.


Tapi, apa yang dikatakan Satsuki memang benar.


Gara-gara aku memberitahunya untuk melakukan sesuka hati, Hibise menjadikan hal itu sebagai pembenaran untuk benar-benar tidak tahu diri. Dia terus menerus datang tanpa peduli siang atau malam, dan setiap kali dia datang, suasana hati Satsuki dan yang lainnya dipastikan makin memburuk.


Aku seharusnya menghentikannya, tetapi rasa bersalah karena sempat melupakannya membuat langkahku tertahan.


Yang terpenting, alasan utamanya adalah karena aku sendiri yang terlanjur menyuruh Hibise bertindak sesukanya, sehingga rasanya sulit bagiku untuk melarangnya sekarang. Meskipun semuanya ini adalah kesalahanku, berada di posisi serba salah seperti ini jujur saja membuat perutku mulas.


"Haah..."


Malam kemarin juga sama saja. Di saat waktu malam baru akan dimulai, dia tiba-tiba muncul di kamar. 


Sambil dihujani niat membunuh yang murni dari mereka berempat, dia malah duduk di sampingku dan bermanja-manja dengan senyuman, "Senior, aku tidak mengerti bagian ini~".


Sepanjang malam itu, aku terus-menerus dihujani pandangan dari yang lain yang seolah berkata, “Kapan bocah ini mau pulang?”.


"Nee, Hibise."


"I-Iya."


Satsuki bertanya kepada Hibise dengan lembut.


"Apa mengganggu kami itu menyenangkan?"


"Iya! Rasakan itu... Maksudku, tidak kok, aku benar-benar merasa bersalah setiap saat! Aku sayang banget sama Satsuki-senpai♡"


"Kuhancurkan kamu, ya?"


"Eh? Bo-Bohong, kan? Sakit, sakit! Se-Senpai!? Jangan cuma melihat saja, tolooong!"


Karena hubungan ini bisa dimaklumi dengan syarat aku tidak boleh ikut campur dalam tindakan apa pun terhadap Hibise, aku memilih untuk menutup telinga dan memalingkan pandangan.


Sayang sekali. Sungguh.


Meski begitu, memang benar bahwa rasa sakit di pinggangku berangsur pulih berkat Hibise.


Hanya untuk hal itu, aku benar-benar──.


"Mulai sekarang bakal menyenangkan, ya."


Tiba-tiba terasa sentuhan dingin yang menyapu daun telingaku. Suara dingin yang anehnya terdengar manis bertiup tepat di sisiku.


Saat menoleh, Reine sudah berdiri di sana.


"Iya kan~ Akhirnya kita punya waktu cuma berdua saja~"


Napas hangat berembus perlahan mengenai telingaku. Suara lembut yang seolah memeluk erat.


Itu Shuna.


Suara dingin yang melelehkan.


Suara hangat yang seakan mengurung.


Kemanisan yang bertolak belakang mengalir masuk dari kiri dan kanan, membuat telingaku meremang──.


"──Bukan itu masalahnya, kalian bagaimana dengan ujiannya?"


Aku memaksa kesadaranku kembali ke realitas.


""Kami membolos (loh~).""


"Eh!?"


Tanpa sadar suaraku terpekik tinggi.


"Kalau membolos ujian, kalian tidak bakal dapat SKS, loh!? Kalian bodoh, kah!?"


"Ucapanmu ada benarnya, tapi Hibise mending diam saja."


Itu bukan kalimat yang pantas diucapkan oleh orang yang baru saja menyuruhku membolos.


"Hibise-san."


"Hya-Yaa!?"


...Seperti biasa, bagaimana bisa Shino mengambil posisi di belakang tanpa bersuara maupun meninggalkan hawa keberadaan sama sekali?


Tahu-tahu wajahnya sudah menyembul dari sisi yang berlawanan dengan Satsuki.


"Gara-gara Anda, kami jadi kekurangan 'kebahagiaan puncak'."


"I-Iya."


"Lagipula, apa coba yang dimaksud 'kebahagiaan puncak' itu?"


"Bahkan tidak hanya itu."


Sanggahan kecilku diabaikan begitu saja seperti biasa.


"Manfaatkan celah saat kami terikat ujian untuk membawa lari Satoshi-san, aksi perebutan macam apa itu? Apa maksud Anda melakukan hal ini?"


Suara itu tidak bernada menuduh ataupun memojokkan, melainkan sekadar menutup rapat jalan keluar.


"L-Lalu, bukankah lebih baik kalian mengikuti ujian dengan benar?"


Ia mencoba mengalihkan pembicaraan secara terang-terangan menggunakan argumen masuk akal. Meski taktiknya sangat mudah terbaca, aku setuju dengan ucapan Hibise. Menolak SKS demi Hibise, bagaimana pun dipikirkan──benar-benar konyol.


Aku memegangi pelipisku.


Namun.


"Fufu, karena sepertinya Anda salah paham, biarkan saya luruskan. Kami sama sekali tidak masalah meski tidak lulus, tahu."


""Eh?""


Suaraku dan Hibise berbenturan tepat di waktu yang sama.


Tetapi pada detik berikutnya, keempat perempuan itu tersenyum tipis.


"Malahan, bakal lebih bagus kalau Satoshi-kun langsung putus kuliah sekarang juga~"


"Tidak bagus, tidak bagus sama sekali!"


Aku refleks membantah perkataan Satsuki.


Tepat setelahnya, hembusan napas mengenai kedua telingaku dari kiri dan kanan.


Reine dan Shuna mendekatkan wajah mereka secara bersamaan.


"Aku tidak tahu apakah Satoshi memang benar-benar ingin belajar atau cuma butuh waktu sendiri, tapi gara-gara ego egois itu, kamu jadi membiarkan si pengganggu Hibise ini mendekat, kan?"


"Egois bagaimana..."


"Apakah tadi menyebutku pengganggu?"


"Kalau begitu, lebih baik berhenti sekolah saja, lalu dikurung... maksudku~ tinggal di ruangan 1LDK yang sempit itu selamanya sambil menjalani hidup tenang yang hangat dan intim, bukankah bakal lebih membahagiakan~? Sekarang kan ada pekerjaan dari rumah juga~"


Barusan sepertinya aku mendengar kata 'dikurung' keluar dari mulut Shuna...


"Singkatnya, Hibise-san ini terlalu mengganggu. Saya tidak ingin Anda mendekati Satoshi-san lagi untuk selamanya."


"Huwaaa! Shino-senpai jahat sekali, guhee!?"


Pergerakan Hibise yang hendak melarikan diri mendadak terhenti total.


Satsuki mencengkeram kerah bajunya.


Shino memegang pita kepalanya.


Keduanya menahan Hibise secara bersamaan, menguncinya sepenuhnya.


Pemandangan yang terjadi untuk kedua kalinya hari ini.


"Oleh karena itu, Satoshi-san. Ayo kita pergi berlibur."


"Oleh karena itu bagaimana maksudnya..."


Kalian tahu kan kalau aku masih ada ujian besok?


"Aku sudah..."


Satsuki melepaskan tangannya dari Hibise. Lalu, ia melangkah maju mendekatiku secara perlahan dan lurus.


"...tidak bisa menahannya lagi."


Begitu kata-kata itu terucap, kedua lenganku langsung dicengkeram dari kiri dan kanan oleh Reine dan Shuna.


"Eh? Eh?"


Tanpa memahami situasinya, pandanganku meluncur ke kiri dan kanan.


"Kalau begitu, Satoshi-kun!"


Tanpa disadari, Satsuki yang memasang senyum mekar penuh sudah berdiri di depanku.


"Satsuki, mmmgh!?"


Pada saat berikutnya, sensasi hangat mendarat di bibirku. Sepasang mata berwarna merah sakura berada tepat di depan mataku. Mata itu diselimuti rasa hangat, terdistorsi seolah terbakar oleh sesuatu.


"Nm, mu..."


Lidah menyusup masuk, menginvasi bagian dalam mulutku.


Napas terenggut, rasa hangat disalurkan paksa. Bahkan ketika mencoba melarikan diri, kepalaku dicengkeram erat hingga tidak bisa bergerak.


Kemudian, sesuatu didorong masuk ke dalam mulutku.


Benda asing yang kecil namun terasa nyata.


Begitu menyentuh bagian dalam tenggorokan, aku refleks menelannya.


"Apa yang kalian lakukan! Ini di kampus, loh!? Bukannya cemburu, tapi permainan menyimpang macam apa ini!"


Suara Hibise terdengar dari kejauhan.


Namun.


Suara itu semakin lama semakin menjauh.


Pandanganku mengabur.


Pijakan kakiku merubuh.


Kedua lenganku kehilangan tenaga.


Kelu lidahku membuat kata-kata tak sanggup terucap.


Kesadaranku perlahan tenggelam seolah ditarik ke dalam air.


Hal terakhir yang terlihat adalah senyuman puas dari mereka berempat. Dan tepat di samping telingaku, suara manis dan lembut yang menggerogoti jalan pikiranku berbisik.



──Selamat tidur?


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close