Chapter 4
Realitas Hayato
Suatu
hari setelah sekolah.
Hayato
dan Saki naik kereta menuju sudut kota yang terasa asing. Dengan ponsel di
tangan untuk memeriksa peta, mereka mendatangi sebuah studio latihan milik
agensi Twinkle yang berada di suatu tempat di Tokyo.
Mereka
datang ke sana karena sebelumnya Mari meminta mereka mengajarinya koreografi
yang bisa tetap terlihat menonjol meskipun dibawakan secara solo.
Peran
Saki sebagai penasihat sebenarnya hanyalah formalitas untuk pihak luar. Namun
saat Mari mendesaknya, terasa sulit untuk menolak.
Lagi
pula, mereka berutang budi pada pihak agensi yang telah menjadi tameng dari
perusahaan hiburan lainnya.
Kebetulan,
mereka juga sempat mengajak Haruki, tetapi gadis itu menolak karena sedang
dalam masa rehat.
Mari
menyapa mereka di pintu masuk studio dan mengantar mereka ke sebuah ruangan.
Luasnya sekitar seluas ruang kelas, dengan salah satu sisi dinding yang
dilapisi cermin penuh.
Saki
segera memperagakan koreografi ciptaannya sendiri diiringi musik, diamati oleh
Mari, Hayato, dan beberapa staf.
"─Dan
seperti itulah gerakannya."
"W-wah,
gerakan tangannya cukup rumit, ya."
Saat pipi Mari
berkedut, Saki tersenyum.
"Ya, ini
akan membuatnya lebih berkesan bagi para penonton."
"Mungkin
saja, tapi tetap saja! Coba kubikin... um, seperti ini?"
"Bukan, tapi
begini. Pada dasarnya, bayangkan kamu sedang menggambar lingkaran dari arah
dalam ke luar."
"Oh,
seperti ini. Cukup sibuk juga, ya."
"Langkah
kakinya sederhana, jadi kamu bisa menyesuaikannya dalam batas yang wajar."
"Benar,
versi yang sekarang agak polos. Sebagai contoh─woaa!?"
"Mari-san!?"
Mungkin karena
terlalu fokus pada gerakan tangannya, kaki Mari justru saling tersangkut.
Dia tersandung,
tetapi beruntung dia bisa bersandar pada Saki yang berada tepat di sampingnya
sehingga tidak sampai terjatuh.
Dan Hayato,
secara refleks, langsung memotret ekspresi wajah Mari yang tampak benar-benar
panik.
Mari menyadari
suara jepretan kamera dan langsung melayangkan tatapan kesal, membuat Hayato
menyeringai jahil seraya mengacungkan jempolnya.
"Dapat foto
'#KesalahanMari' yang bagus, nih."
"Jangan!
Lagian kenapa sih kamu selalu ambil foto sembarangan begitu!?"
"Hahahahaha!"
"Jangan
tertawa!"
Saat Hayato
menggodanya, wajah Mari memerah padam seraya menunjukkan taringnya, sementara
Saki mengerutkan dahi dan berusaha menangkannya.
"Yah, tapi
foto ini memperlihatkan betapa kerasnya usahamu untuk mempelajari koreografi
baru."
"Meskipun
tahu soal itu, tetap saja aku nggak bisa membiarkanmu mengunggahnya!"
Melihat Mari yang
menggerakkan giginya karena gemas, Hayato saling bertukar pandang dengan Saki
lalu terkekeh.
Saki dipanggil
untuk mengajari Mari koreografi, sementara tujuan Hayato adalah mengambil foto
di balik layar untuk klub penggemar tidak resmi Twinkle.
Hayato sudah
tersenyum puas karena berhasil mendapatkan foto yang bagus.
Mari, yang telah
menunjukkan kemampuan bernyanyi yang luar biasa di Early Summer Live, kini
sangat populer hingga tidak ada lagi orang yang menyebutnya sebagai "yang
satunya lagi" di Twinkle.
Foto-foto yang
diunggah di klub penggemar tidak resmi juga berkontribusi pada kepopulerannya.
Meski Mari sendiri merasa hal itu memalukan, tagar "#KesalahanMari"
tampaknya sangat krusial untuk menggaet penggemar baru.
Saat ini, Haruki
sedang rehat karena situasi ibunya, jadi Mari mendapatkan banyak pekerjaan
solo. Koreografi yang dia pelajari dari Saki ditujukan untuk keperluan
tersebut.
Mari kembali
tenang dan melanjutkan pemeriksaan koreografi.
Saat Mari
mengulangnya beberapa kali, beberapa staf perempuan yang tadinya menonton
dengan ekspresi serius mulai berbicara kepada Saki.
"Apakah
koreografi ini terinspirasi dari bunga yang sedang mekar?"
"Gerakan
mengembang itu membuatnya terlihat seperti itu."
Mendengar
hal tersebut, Saki membelalakkan matanya dan menjawab.
"Ya,
saat aku pulang ke kampung halaman, aku melihat bunga matahari mekar dan hal
itu menginspirasiku."
"Begitu
ya, kalau begitu di bagian ini─"
"Bagaimana
kalau kita melakukan ini─"
Para
staf, yang memahami maksud Saki, dengan cepat memberikan saran.
Mata Saki
berbinar senang, dan dia menjawab dengan antusias: "Nah, betul!" dan
"Paham, kalau begitu kita juga bisa melakukan ini di bagian sini!"
Dalam sekejap,
diskusi untuk meningkatkan kualitas koreografi menjadi sangat hidup.
Hayato mengamati
pemandangan itu dengan campuran rasa iri dan kagum seraya menyipitkan matanya.
Para staf
ini bertanggung jawab atas koreografi dan pengarahan panggung di agensi Mari.
Mereka terkesan oleh tarian Saki di Early Summer Live dan, setelah mendengar
sesi hari ini dari Mari, mereka meminta untuk berbicara dengan Saki.
Karena
Saki memang tidak akan naik ke atas panggung, dia pun menyetujuinya.
Dengan
demikian, saat berbagai pendapat saling berseliweran tentang koreografi
tersebut, Saki mampu mengimbangi mereka─membuktikan bahwa dia memiliki
keterampilan yang diakui bahkan di antara para profesional.
Dan saat
Saki berbicara secara serius tentang koreografi dan tarian, dia terlihat sangat
bersinar dan bahagia dari lubuk hatinya.
Wajahnya
tampak begitu memikat hingga Hayato secara tidak sadar mengambil fotonya.
"(─Ah.)"
Foto ini
mirip seperti jepretan tersembunyi.
Hayato
merasa panik sendiri dengan tindakannya yang impulsif itu.
Beruntung─atau
mungkin malah tidak─Saki dan para staf terlalu asyik dalam percakapan mereka
hingga tidak menyadarinya.
Dengan
lega, dia menatap layar ponselnya. Foto itu memperlihatkan Saki yang tampak
alami dan santai, menghadapi hal yang disukainya dengan ketulusan murni,
membuat jantungnya berdegup kencang.
Tepat
saat itu, Mari, yang tadi diabaikan oleh semua orang saat mereka berdiskusi
tentang koreografi, menghampiri dan mengintip foto di ponsel Hayato seraya
menghela napas jengkel.
"Sedang
apa kamu, ambil foto sembunyi-sembunyi begitu?"
Tertangkap
basah, Hayato berjuang menyembunyikan rasa terkejutnya dan memberikan alasan
asal-asalan.
"B-bukan
apa-apa kok. Ah, kamu tahu kan, cuma bagian dari foto proses pembuatan?"
"Tapi kamu
sudah janji nggak bakal mengunggah foto Saki, kan? Kamu belum pernah
memperlihatkan wajahnya sebelumnya."
"Yah, memang
sih, tapi cuma buat jaga-jaga saja─"
"Tapi aku
paham, sih. Penampilan Saki memang luar biasa. Kesannya berbeda dariku dan
Tante, dan kupikir dia pasti bakal sangat menonjol kalau bergabung dengan
Twinkle. Apa kamu nggak setuju?"
"Yah..."
Hayato kehabisan
kata-kata.
Seperti yang
dikatakan Mari, jika Saki bergabung dengan Twinkle dan berdiri berdampingan
bersama mereka berdua, dia jelas tidak akan kalah memikat.
Sebaliknya, dia
mungkin akan membuat Twinkle makin bersinar melalui sinergi mereka.
Dan dia memiliki
kekuatan uniknya sendiri: penampilan tari yang luar biasa.
Bahkan,
banyak suara di media sosial dan internet yang mendesak Saki untuk bergabung.
Namun
Hayato tidak bisa mengangguk setuju begitu saja.
Sebaliknya,
dia membalas dengan kata-kata yang menggemakan apa yang selalu dikatakan Saki
sendiri, bercampur dengan keinginannya sendiri.
"Mungkin
saja, tapi Saki tidak memiliki niat ke arah sana─atau lebih tepatnya, dia
bilang ingin memprioritaskan pendidikannya."
"Ehh, sayang
sekali."
"Jangan
katakan itu padaku. Lagi pula, mempertimbangkan masa depannya, dia tidak boleh
mengabaikan sekolahnya."
Mari
mengerucutkan bibirnya jengkel, dan Hayato menambahkan kalimat penenang.
Di tengah
pertukaran kata itu, Saki dan yang lainnya masih melanjutkan diskusi mereka.
Memerhatikan
mereka, Mari mengalihkan topik percakapan kembali kepada Hayato.
"Lalu,
bagaimana denganmu?"
"Maksudmu?"
"Tentang
fotografimu. Kamu mengunggah foto-foto kebun binatang itu di klub penggemar
tidak resmi, kan?"
"Ah,
foto-foto yang disebut '#EgoAdmin' itu?"
Beberapa
hari lalu, Hayato berkonsultasi dengan Mari tentang foto-foto yang diambilnya
bersama Haruki di kebun binatang, dan Mari dengan antusias berkata,
"Foto-foto ini menarik, ayo unggah!" Jadi mengikuti kata hatinya, dia
mencoba mengunggah satu foto dengan catatan "Ini berbeda dari
biasanya."
Pada
awalnya, para pengikut yang ada merasa bingung dengan foto hewan yang tidak ada
hubungannya tersebut, tetapi karena fotonya bagus, unggahan itu menjadi viral.
Foto-foto
hewan tambahan yang diunggahnya juga makin populer, tetapi karena tidak ada
hubungannya dengan Twinkle, para pengikut tiba-tiba mulai berbisik-bisik
seperti "Adminnya mulai memperlihatkan egonya!?" dan sebelum dia
menyadarinya, tagar "#EgoAdmin" telah dibuat.
Mari
berbicara dengan nada yang menyiratkan rasa kagum.
"Ya,
yang itu. Entah bagaimana foto itu dapat respon bagus dan menyebar melampaui
penggemar yang ada. Lalu foto itu mengalir ke '#KesalahanMari' dan mendapatkan
penggemar baru."
"Miskalkulasi
yang tidak terduga."
"Kamu
punya keterampilan sehebat itu untuk mengabadikan foto yang bagus─apa kamu
tidak pernah berpikir untuk mendalami jalur itu?"
"Tidak.
Aku tahu aku cuma mengambil foto untuk kalangan sendiri. Aku tidak bisa
membayangkan mencari nafkah dengan kamera, apalagi berada di dunia
profesional."
"Ehh, sayang
sekali."
"Jangan
katakan itu padaku."
Lagi pula, dia
baru mulai mengambil foto setelah memiliki ponsel─dan itu baru berlangsung
selama satu tahun lebih sedikit, berkat Haruki. Ini belum berlangsung lama.
Dia paham bahwa
keterampilan Saki, yang diasah melalui tarian kagura selama bertahun-tahun
sejak kecil, memang layak untuk tidak disia-siakan.
Sebaliknya,
pujian yang diterimanya saat ini hanyalah karena dia memiliki subjek foto yang
bagus.
Foto kebun
binatang itu kemungkinan besar menjadi viral karena dilihat oleh banyak orang
melalui ratusan ribu pengikut di klub penggemar tidak resmi. Jika dia
mengunggahnya dari akun yang benar-benar baru, dia ragu foto-foto itu bakal
mendapatkan respon sebanyak itu.
Ini
seperti sedang dipuji secara berlebihan. Hayato tidak setinggi itu menilai
dirinya sendiri.
Namun
Mari memasang wajah merajuk dan menyuarakan keinginannya seperti anak kecil
yang sedang mengamuk.
"Ah,
aku berharap saat Tante kembali dan Saki bergabung, lalu kamu menjadi
fotografer resminya, kita semua bisa bekerja sama─pasti bakalan seru."
"─Hah."
─Bekerja
sama di industri hiburan bersama semua orang.
Satu
kalimat dari Mari itu menghantam kepalanya seperti sebuah pukulan keras.
Dia tidak
memiliki bakat alami, tidak ada keterampilan yang diasah. Hal itu adalah
sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Namun pada saat
itu, wajah temannya, Kazuki, mendadak terlintas di pikirannya.
Kazuki pernah
berkata bahwa masuk ke industri hiburan adalah sebuah pertarungan yang mustahil
dimenangkan.
Memang benar jika
dibandingkan dengan orang lain, Kazuki diberkahi dengan penampilan yang tampan
dan koneksi seperti kakaknya, MOMO.
Namun jika bicara
tentang bertahan hidup di dunia hiburan, dia tidak lebih unggul dalam hal bakat
atau keterampilan.
Oleh karena itu,
ini adalah pertarungan yang mustahil dimenangkan.
Namun biarpun
begitu, Kazuki terus berjuang dan meraih hasil yang cukup bagus.
Saat ditanya
mengapa dia berusaha begitu keras, dia berkata bahwa dia telah menemukan
sesuatu yang tidak bisa dia kompromikan.
Bahkan saat
menyadari kurangnya bakat yang dimiliki, dia tetap menerobos maju di jalan yang
sulit dengan kemauan yang kuat.
Saat Hayato
sedang tertegun, pintu studio diketuk.
Seseorang
mengucapkan "Masuk," dan seorang pria paruh baya dengan ekspresi
serba salah─Seiji─masuk ke ruangan.
"Maaf aku
terlambat."
Suasana yang
tadinya santai mendadak berubah menjadi tegang.
Seiji
adalah manajer sekaligus produser untuk Mari dan Haruki. Dia datang untuk
memeriksa koreografi Saki.
Tidak
masalah jika Saki melakukannya demi Mari, Mari saat ini adalah seorang idola
populer.
Jika
koreografi ini ditujukan untuk aktivitas idola Mari, sebagai produser, Seiji
perlu melihat bagaimana hasilnya nanti.
Meskipun
sudah mendapatkan persetujuan Mari setelah kesuksesan Early Summer Live, Saki
masih terlihat gugup.
Seiji tersenyum
lembut pada Saki.
"Bolehkah
aku melihat koreografinya sekarang?"
"Ya."
Saki mengangguk
kaku, saling bertukar pandang dengan staf yang diajaknya berdiskusi, lalu
menarik napas dalam-dalam.
Kemudian, saat
musik mulai mengalun, dia mulai menari.
"──Hmm"
Gerakannya
berbeda dari yang sebelumnya.
Tampaknya, dia
telah memasukkan saran dari para staf dan meningkakan kualitasnya.
Dan hasilnya
terasa lebih halus dari versi pertama.
Seolah seekor
bunga besar yang akan mekar dengan megah, tarian itu terasa indah dan
bertenaga, memikat siapa saja yang melihatnya.
Mata Mari
membelalak, dan Seiji mengeluarkan suara kagum "Oh." Hayato juga
tidak bisa menahan diri untuk tidak menekan tombol jepretan kamera.
Saat lagu
berakhir, Seiji memberikan tepuk tangan tanpa ragu.
"Luar biasa.
Aku pikir ini sudah cukup bagus, tapi kamu memperlihatkan sesuatu yang
melampaui ekspektasiku."
"S-saya
merasa terhormat."
Menerima pujian
dari Seiji, Saki dengan malu-malu membungkukkan bahunya.
Seiji tersenyum
padanya, lalu berbalik ke arah Mari.
"Mari-kun,
gerakannya terlihat agak sulit─apa kamu sanggup?"
"Tentu saja
aku sanggup! Aku sendiri yang meminta Saki melakukan ini untukku!"
"Apa kamu
bisa menyiapkannya untuk rekaman di akhir bulan nanti?"
"Aku akan
membuatnya sempurna!"
Pertanyaan
memprovokasi dari Seiji memantik respons penuh semangat dari Mari.
Para staf juga
menjadi penuh dengan motivasi.
Seiji mengangguk
setuju dan kembali menatap Saki.
"Aku punya
pertanyaan kecil. Jika Haruki-kun hadir, bisakah kami memintamu untuk mengatur
bagian untuknya juga?"
"Ya, saya
bisa. Sebenarnya, saya sudah memikirkan bagaimana caranya."
"Itu sangat
menenangkan. Dan satu hal lagi… jika itu kalian bertiga─termasuk kamu,
Saki-kun─bisakah kamu mengatur koreografi untuk bertiga?"
"Saya bisa,
tapi saya tidak berniat untuk menjadi idola."
Saki menolak
dengan halus, memperjelas bahwa dia tidak memiliki niat untuk menjadi seorang
idola.
Seiji tersenyum
kecut, mengangkat kedua tangannya dengan gestur menyerah, dan berkata dengan
nada melebih-lebihkan.
"Aku tahu,
aku cuma bertanya. Di luar hal itu, mengenai pembayaran untuk koreografi
ini..."
Saat Seiji
menyebutkan nominalnya, mata Saki membelalak dan dia mengeluarkan suara
terkejut.
"Eh,
sebanyak itu!? S-saya tidak bisa menerima uang sebanyak ini!"
Sangat wajar jika
Saki merasa panik.
Hayato, yang
mendengarkan di dekat sana, juga merasa nominal tersebut─lebih dari sepuluh
kali lipat gaji paruh waktunya per bulan─sangat sulit untuk dipercaya.
Namun ekspresi
Seiji sangat serius saat dia mendesak Saki.
"Terimalah.
Koreografi yang kamu ciptakan telah secara resmi diadopsi oleh Twinkle.
Nilainya memang sebesar itu. Mari-kun sama sekali tidak murah, jadi kami
memiliki kewajiban untuk membayar secara layak. Apa tidak apa-apa menggunakan
rekening yang sama dengan biaya penampilanmu di Early Summer Live? Seperti yang
kukatakan waktu itu, keterampilanmu layak dinilai secara pantas."
"Uuu..."
Saki merasa
bingung dan kewalahan.
Seiji kemungkinan
besar benar.
Tetapi tetap
saja, ditawari jumlah uang yang tidak realistis seperti itu sebagai seorang
siswa SMA sangatlah mengejutkan. Dia hanya membantu seorang teman, jadi sangat
bisa dimaklumi jika dia merasa panik.
Namun di sisi
lain, Hayato berpikir Seiji benar─keterampilan menari Saki, yang diasah sejak
kecil, layak mendapatkan penilaian yang pantas.
Tepat saat itu,
Mari, yang terlihat agak jengkel, memberikan tepukan keras di punggung Saki
yang sedang membungkuk.
"Saki,
terimalah dengan bangga. Kamu adalah temanku yang sudah kuakui─sudah sewajarnya
kamu pantas mendapatkan sebanyak itu!"
"Mari-san..."
"Atau apa?
Apa temanku ini semurah itu?"
"...Hehe,
kamu benar. Sakurajima-san, saya akan menerimanya dengan senang hati."
Saat Mari berkata
begitu, Saki tidak punya pilihan selain mengangguk.
Dari sudut
pandang Hayato, Saki memiliki apa yang dibutuhkan untuk berdiri berdampingan
bersama Mari.
Seiji juga
tersenyum.
Hayato, yang
berpikir kalau masalah sudah selesai, berseloroh.
"Anggap saja
ini sebagai pekerjaan paruh waktu unik yang tidak bisa dilakukan orang
lain."
"Ya, kurasa
begitu."
Saki memberikan
senyum kecut yang agak terpaksa.
Kemudian Mari
memetikkan jarinya seolah baru saja mendapat ide cemerlang.
"Benar juga,
pekerjaan paruh waktu! Saki, bagaimana kalau menjadi penari untuk Twinkle
sebagai pekerja paruh waktu, bukan anggota tetap? Cuma ikut bergabung sesekali
saja!"
"Oh, itu
terdengar bagus. Aku akan menyambutnya dengan senang hati."
Seiji segera
menyetujuinya, seolah itu adalah ide yang sangat bagus.
"Um,
itu..."
"Aku ingin
berdiri di panggung bersama Saki dan Tante, cuma kita bertiga, setidaknya
sekali saja. Bayangkannya saja sudah membuatku bersemangat─dan aku ingin
mengalahkan Tante bersama dengan Saki! Hei, saat Tante kembali nanti, sekali
saja, Saki, apa kamu mau bergabung sebagai pekerja paruh waktu?"
"Ugh...
kalau cuma sekali sebagai pekerja paruh waktu, mungkin tidak apa-apa...?"
Pada awalnya,
Saki terlihat enggan, tetapi saat diberi tahu "paruh waktu, cuma
sekali," dia sepertinya mulai goyah.
Jujur saja,
Hayato juga ingin melihat mereka bertiga tampil bersama. Dia yakin bisa
mendapatkan beberapa foto yang luar biasa.
Kemudian Mari,
dengan nada setengah bercanda, menyuarakan ambisi lainnya.
"Dan
kalau kamu yang mengambil foto poster untuk acara itu, Hayato, aku bakal super
bersemangat!"
Biasanya, Hayato
akan mengabaikannya begitu saja.
Bahkan, semua
orang menganggapnya sebagai lelucon dan tidak memperhatikannya.
Namun Hayato
telah memikirkannya selama beberapa waktu, jadi dia mencoba terdengar santai
dan bertanya pada Seiji, mengikuti ucapan Mari.
"Jadi,
apa hal itu benar-benar memungkinkan? Aku, mengambil foto poster itu?"
Saat
Mari, Saki, dan para staf tampak tertarik, Seiji bergumam berpikir, lalu
memberikan senyum serba salah dan menjawab.
"Hal
itu mungkin agak sulit."
"──"
Mendengar
penolakan Seiji, pikirannya mendadak kosong sejenak.
Dia
menyadari dirinya merasa lebih syok dari yang diperkirakannya.
Secara
diam-diam, dia berharap hal itu mungkin saja terjadi.
Bahkan
jika itu berkat subjek foto yang bagus, foto-fotonya telah menerima pujian
tinggi di klub penggemar tidak resmi. Tidak hanya itu, dia juga mendengar dari
Haruki bahwa Seiji sendiri mengakui pengamatan fotografi Hayato.
Namun mengapa?
Memikirkan hal
yang sama, Mari membalas perkataan Seiji atas nama Hayato.
"Hei, kenapa
tidak!? Anda sendiri memuji foto-fotonya karena punya sudut pandang yang
bagus!"
"Ya, tapi
Hayato-kun berada di sisi yang sama denganku."
"Hah!? Apa
maksudnya itu?"
Mari menyuarakan
ketidakpuasannya atas jawaban Seiji yang berbelit-belit.
Hayato
menyetujuinya. Bahkan Saki, meski diam, memperlihatkan raut tidak senang di
wajahnya.
Seiji berbicara
seolah ingin menenangkan Mari.
"Ini
berbeda denganmu, Mari-kun, yang berdiri di atas panggung. Kami berada di
belakang panggung. Ini bukan cuma tentang mengambil foto yang bagus sesuai
keinginanmu. Bahkan jika kamu memotret, kamu membutuhkan kualitas yang sesuai,
dan kamu harus mencerminkan apa yang kami, pihak klien, inginkan. Kemudian
perancang akan memproses dan mengarahkannya, dan banyak orang bekerja sama
untuk menciptakannya. Dan
Hayato-kun cuma seorang siswa SMA tanpa pengalaman."
"Tapi...
semua orang harus memulainya dari suatu tempat..."
Mari masih
mendesak, dan Seiji memberinya tatapan serba salah seolah sedang menenangkan
anak kecil yang keras kepala, lalu berbalik menatap Hayato dengan sebuah
pertanyaan.
"Pada
dasarnya, kamu hanya pernah mengambil foto menggunakan ponselmu, kan? Biar
kutanya: apa kamu punya kepercayaan diri untuk menggunakan kamera yang
sebenarnya, menguasai fungsi seperti bukaan lensa, ISO, kecepatan rana, dan
menghasilkan foto yang memenuhi spesifikasi kami?"
"Tidak, aku
tidak punya..."
Hayato menjawab
dengan sedikit rasa frustrasi.
Bahkan jika klub
penggemar tidak resmi menilai tinggi foto-fotonya, keterampilan teknisnya
berada sedikit saja di atas amatisir.
Dia tidak
memiliki keterampilan untuk memenuhi standar profesional.
Seiji benar-benar
tepat.
Dunia hiburan,
dunia yang ditinggali Haruki, Mari, dan Saki, terasa sangat jauh.
Namun sebagian
dari dirinya tidak ingin mengakuinya, dan suara putus asa terlepas dari
hatinya.
"Kalau
begitu apa yang harus kulakukan..."
"Sederhana.
Belajarlah."
"...Belajar?"
"Ya. Teknik
dan pengetahuan selalu bisa didapatkan belakangan. Tapi insting untuk
mengabadikan momen krusial, kepekaan atas komposisi─hal-hal itu adalah bakat
alami. Hayato-kun, jika kamu belajar dengan benar, kamu bisa menjadi fotografer
yang bagus."
"Begitu
ya... Dan saat Anda bilang belajar, secara spesifiknya seperti apa?"
"Sekolah
kejuruan, dan universitas juga memiliki jurusan fotografi atau media visual.
Mempertimbangkan rekam jejakmu, aku menyarankan─"
Saat Seiji
memaparkan jalur karir untuk seorang fotografer, wajah Hayato terlihat makin
cemas.
"Tapi
tempat-tempat itu cukup jauh dari sini. Aku tidak bisa pulang pergi dari rumahku yang
sekarang."
"Meskipun
begitu, jika kamu bertujuan untuk mempelajari jalur itu, tempat itu adalah
lingkungan yang sangat bagus. Secara praktis, aku juga bisa memperkenalkan
pekerjaan paruh waktu yang bagus. Idealnya, kamu mulai mempelajari hal dasarnya di sana lalu mengincar
universitas seperti yang kukatakan."
"Tawaran itu
sangat menarik, tapi aku harus meninggalkan orang tuaku, dan aku tidak bisa
memutuskannya sendiri."
Tampaknya jalur
profesional jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan Hayato.
Dia harus tinggal
sendiri untuk pendidikan lebih lanjut, dan dia akan terpisah dari
teman-temannya yang akhirnya berhasil dia dapatkan.
Terlebih lagi,
bahkan jika Seiji menghargai karyanya, mempelajari fotografi tidak menjamin dia
bisa menjadi seorang profesional.
Dia juga
akan bersaing dengan orang-orang yang datang secara serius untuk menjadi
fotografer.
Dia tahu
betul dari memerhatikan Mari betapa banyaknya usaha dan rasa putus asa yang
dikeluarkan oleh orang-orang yang benar-benar mengejar impian mereka.
Hayato,
yang hanya mengikutinya karena tertarik atau gagasan yang samar, sama sekali
tidak mendekati tingkat tekad dan intensitas mereka.
Dia tidak
bisa membayangkan bisa mengalahkan mereka.
Jika dia
berfokus pada fotografi dan gagal, akan sulit untuk mencari pekerjaan lain.
Risikonya terlalu
besar untuk mempertaruhkan hidupnya di sana.
Jika ditanya
apakah Hayato memiliki tekad sebesar itu, fakta bahwa dia tidak bisa langsung
mengangguk pada saran Seiji sudah memberikan jawabannya.
Saat Hayato
memperlihatkan keraguannya, Seiji berbicara dengan nada menenangkan.
"Kamu masih
seorang siswa SMA. Anggap saja ini sebagai salah satu opsi untuk masa depanmu,
sebuah referensi."
"Ya,
kurasa begitu."
Hayato
memberikan senyum samar dan mengelak.
Seiji
sempat memperlihatkan ekspresi mencemooh diri sendiri, tetapi kemudian berkata
dengan wajah yang mengejutkan cerahnya.
"Tapi
membuat mereka yang berdiri di atas panggung bersinar dengan tanganmu
sendiri—hal itu sangat menyenangkan."
"…………"
Sekilas,
itu adalah pujian biasa yang memuji keunggulan industrinya yang ditujukan
kepada Hayato.
Namun kata-kata
itu menghantam jauh ke dalam hati Hayato.



Post a Comment