NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Interlude II

Interlude 2

Kuharap Hari-Hari Seperti Ini Bisa Bertahan Selamanya


Waktu ketika langit barat mulai diwarnai rona merah keemasan juga terasa datang jauh lebih cepat dari biasanya.

Himeko merasakannya dari pemandangan yang terlihat di balik jendela kereta lalu mengembuskan napas pendek.

Perjalanan ke sekolah barunya memakan waktu sekitar satu jam—tidak terlalu lama.

Namun fakta bahwa dia tidak bisa menyamakan jadwalnya dengan kakak dan sahabatnya yang tinggal sejauh jarak tempuh berjalan kaki, memberinya sedikit rasa terasing.

Tetap saja, ini adalah jalan yang telah dipilihnya. Lagipula dia bukannya terisolasi di sekolah—dia telah mendapatkan teman-teman baru, dan melalui interaksi tersebut, dunianya telah makin meluas. Dia sama sekali tidak memiliki keluhan.

Setibanya di stasiun lokal, tepat saat Himeko melewati pintu pemeriksa tiket, sebuah suara yang sangat familier memanggilnya dari samping.

"Hime-chan, selamat datang kembali."

Berbalik ke arah suara tersebut, dia melihat Haruki yang berpenampilan seperti baru saja pulang sekolah.

Belakangan ini, rambut pendek Haruki sempat mengingatkan Himeko pada sosok Haruki yang dulu, membuat jantungnya berdegup kencang. Tampaknya dia masih belum terbiasa dengan gaya rambut Haruki yang sekarang.

Berusaha keras agar rasa paniknya tidak terlihat, Himeko membalas dengan suara seceria mungkin.

"Haru-chan, apa aku membuatmu menunggu?"

"Mm, aku juga baru saja sampai kok. Tadi aku ikut kegiatan klub bersama Minamo-chan di sekolah. Klub berkebun─kami baru saja menanam kentang."

Haruki menyeringai senang, dan Himeko membalas senyumannya seraya berkata "Baguslah kalau begitu."

"Begitu ya. Kalau begitu, ayo kita jalan."

"Ya. Sebenarnya, janjian berkumpul bersamamu seperti ini terasa agak aneh."

"Iya, memang terasa aneh."

"Tapi mungkin memang seperti inilah jadinya mulai sekarang."

"Karena aku pergi ke sekolah yang berbeda."

Mengobrol santai tentang hal-hal seperti itu, mereka berjalan bersama menuju supermarket.

Tentu saja, tujuannya adalah untuk membeli bahan-bahan makan malam.

Hari ini, Hayato dan Saki akan pulang terlambat karena mereka sedang mengajari Mari koreografi.

Karena dua orang yang biasanya memasak sedang tidak ada, mereka tadinya berencana untuk membeli makanan siap saji saja, tetapi Haruki mengusulkan agar mereka menyiapkan makan malam bersama secara mandiri.

Himeko sempat terkejut oleh usulan yang tidak terduga itu, tetapi saat Haruki berkata, "Aku ingin memasak bersamamu, Hime-chan," tidak ada alasan baginya untuk menolak.

Bersama dengan Haruki, Himeko menyusuri lorong supermarket yang masih terasa asing, menemukan bahan-bahannya, membelinya, lalu kembali ke apartemen keluarga Kirishima.

Menu makan malam nanti adalah okonomiyaki.

Haruki yang memilihnya, berkata bahwa dengan tepung okonomiyaki buatan toko dan kol yang sudah diiris halus, akan sangat sulit untuk membuatnya gagal.

Dia juga menambahkan bahwa meskipun bentuknya nanti jelek, rasanya tidak akan terpengaruh─dan hal itu langsung menuntaskan keputusannya.

Bahkan, satu-satunya pekerjaan yang membutuhkan pisau hanyalah memotong daun bawang dan acar jahe merah.

Setelah itu, mereka cukup mencampur parutan uam dan remahan tempura dengan telur serta tepung okonomiyaki, dan adonannya pun selesai dibuat.

Adonan itu jadi begitu mudah hingga Himeko terlihat seperti orang yang baru saja ditipu seraya berseru.

"Lho, apa ini sudah selesai?"

"Iya, aku sudah mencarinya terlebih dahulu, tapi aku sendiri juga kaget waktu benar-benar membuatnya. Oh, ayo kita tunggu sampai Hayato dan Saki-chan pulang sebelum memasaknya."

"Iya, memang lebih enak dimakan hangat-hangat. Memanggangnya di atas panggangan listrik bersama-sama pasti bakalan seru."

"Nanti kepribadian semua orang juga pasti bakal kelihatan waktu kita memasaknya."

"Ha-ru-chan?"

"Hehe."

"Ya ampun!"

Saat Haruki menggodanya, Himeko memberinya tatapan datar, dan Haruki menjulurkan lidahnya seraya memperagakan gestur "teehee".

Menghela napas pada reaksi sahabat yang berusia satu tahun lebih tua darinya itu, Himeko berjalan ke dapur untuk mengambil panggangan listrik, lalu menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.

"Ngomong-ngomong, Haru-chan, kenapa mendadak mengusulkan untuk memasak makan malam bersama?"

Haruki pernah membantu menyiapkan makan malam sebelumnya, tetapi hanya sebatas asisten.

Dan dengan aktivitas idolanya, sempat ada jeda waktu yang cukup lama.

Gadis itu kemungkinan besar juga tidak terlalu mahir dalam memasak.

Bahkan saat dia memotong daun bawang dan acar jahe merah tadi, gerakan pisaunya tidak terlihat begitu terbiasa.

Haruki bergumam "Ah~" lalu berkata dengan sedikit malu-malu.

"Waktu kita pergi ke kebun binatang kemarin, kamu dan Saki-chan membuat makan malam dan menunggu kami pulang, kan?"

"Iya, benar."

"Pulang ke rumah dan menemukan seseorang yang sudah menyiapkan makanan serta menungguku pulang─hal itu membuatku sangat bahagia. Kari waktu itu adalah kari terlezat yang pernah kumakan. Jadi kali ini, aku ingin mencoba berada di posisi orang yang memasak dan menyambut seseorang pulang."

"Haru-chan..."

Melihat senyum malu-malu Haruki, hati Himeko terasa sakit.

Bagi Haruki, yang telah kehilangan ibunya, tidak ada lagi siapapun di rumah yang menyambutnya kembali, tidak ada lagi orang yang menunggunya pulang. Hal sesederhana dan sebiasa itu tidak akan pernah bisa didapatkan oleh Haruki lagi.

Mungkin karena itulah, entah secara sadar atau tidak, gadis itu mengusulkan untuk menyiapkan makan malam hari ini.

Hal itu pasti menjadi caranya untuk mengisi kekosongan di dalam hatinya.

Namun Haruki, yang sama sekali tidak memperlihatkan sedikit pun rasa kesepian itu, justru terlihat makin menyedihkan.

Tetap saja, Himeko tidak tahu harus melakukan apa. Masalahnya berakar terlalu dalam. Dan dia merasa sangat tidak berdaya.

(Onii-chan...)

Dia memanggil kakaknya di dalam hati, seolah sedang bersandar padanya.

Sementara itu, Haruki bergerak gelisah dan bergumam pelan.

"Kapan ya Hayato dan Saki-chan bakal pulang. Hmm, aku sangat menantikannya, tapi aku juga merasa gugup─apa ya yang bakal mereka katakan soal masakan kita?"

"Entahlah. Tapi kalau mereka berkomplain, ayo kita pukul saja mereka."

"Ahaha, iya."

Sembari berkata begitu, Haruki tertawa lepas.

Setelah tertawa sejenak, suara Haruki berubah menjadi lembut dan penuh ketulusan.

"Kuharap hari-hari seperti ini bisa bertahan selamanya."

"...Iya. Aku juga merasakan hal yang sama."

Memerhatikan Haruki berbicara seraya menatap ke suatu tempat yang jauh, Himeko secara samar-samar memahami alasan mengapa Haruki tidak pergi bersama Hayato dan Saki hari ini.

Dan juga fakta bahwa gadis itu sama sekali tidak memiliki niat untuk kembali ke dunia hiburan, yang secara tak terhindarkan akan mengingatkannya pada Takura Mao.

Haruki pasti telah menimbang antara menjadi seorang idola dengan kehidupan yang dimilikinya saat ini, dan memilih untuk kembali ke kehidupan sehari-hari ini.

Namun apakah pilihan itu adalah pilihan yang baik, Himeko sendiri tidak bisa memastikannya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close