Interlude 2
Kuharap Hari-Hari Seperti Ini Bisa Bertahan
Selamanya
Waktu ketika
langit barat mulai diwarnai rona merah keemasan juga terasa datang jauh lebih
cepat dari biasanya.
Himeko
merasakannya dari pemandangan yang terlihat di balik jendela kereta lalu
mengembuskan napas pendek.
Perjalanan ke
sekolah barunya memakan waktu sekitar satu jam—tidak terlalu lama.
Namun fakta bahwa
dia tidak bisa menyamakan jadwalnya dengan kakak dan sahabatnya yang tinggal
sejauh jarak tempuh berjalan kaki, memberinya sedikit rasa terasing.
Tetap saja, ini
adalah jalan yang telah dipilihnya. Lagipula dia bukannya terisolasi di
sekolah—dia telah mendapatkan teman-teman baru, dan melalui interaksi tersebut,
dunianya telah makin meluas. Dia sama sekali tidak memiliki keluhan.
Setibanya di
stasiun lokal, tepat saat Himeko melewati pintu pemeriksa tiket, sebuah suara
yang sangat familier memanggilnya dari samping.
"Hime-chan,
selamat datang kembali."
Berbalik ke arah
suara tersebut, dia melihat Haruki yang berpenampilan seperti baru saja pulang
sekolah.
Belakangan ini,
rambut pendek Haruki sempat mengingatkan Himeko pada sosok Haruki yang dulu,
membuat jantungnya berdegup kencang. Tampaknya dia masih belum terbiasa dengan
gaya rambut Haruki yang sekarang.
Berusaha keras
agar rasa paniknya tidak terlihat, Himeko membalas dengan suara seceria
mungkin.
"Haru-chan,
apa aku membuatmu menunggu?"
"Mm, aku
juga baru saja sampai kok. Tadi aku ikut kegiatan klub bersama Minamo-chan di
sekolah. Klub berkebun─kami baru saja menanam kentang."
Haruki
menyeringai senang, dan Himeko membalas senyumannya seraya berkata
"Baguslah kalau begitu."
"Begitu ya.
Kalau begitu, ayo kita jalan."
"Ya.
Sebenarnya, janjian berkumpul bersamamu seperti ini terasa agak aneh."
"Iya, memang
terasa aneh."
"Tapi
mungkin memang seperti inilah jadinya mulai sekarang."
"Karena aku
pergi ke sekolah yang berbeda."
Mengobrol santai
tentang hal-hal seperti itu, mereka berjalan bersama menuju supermarket.
Tentu saja,
tujuannya adalah untuk membeli bahan-bahan makan malam.
Hari ini, Hayato
dan Saki akan pulang terlambat karena mereka sedang mengajari Mari koreografi.
Karena dua orang
yang biasanya memasak sedang tidak ada, mereka tadinya berencana untuk membeli
makanan siap saji saja, tetapi Haruki mengusulkan agar mereka menyiapkan makan
malam bersama secara mandiri.
Himeko sempat
terkejut oleh usulan yang tidak terduga itu, tetapi saat Haruki berkata,
"Aku ingin memasak bersamamu, Hime-chan," tidak ada alasan baginya
untuk menolak.
Bersama dengan
Haruki, Himeko menyusuri lorong supermarket yang masih terasa asing, menemukan
bahan-bahannya, membelinya, lalu kembali ke apartemen keluarga Kirishima.
Menu makan malam
nanti adalah okonomiyaki.
Haruki yang
memilihnya, berkata bahwa dengan tepung okonomiyaki buatan toko dan kol yang
sudah diiris halus, akan sangat sulit untuk membuatnya gagal.
Dia juga
menambahkan bahwa meskipun bentuknya nanti jelek, rasanya tidak akan
terpengaruh─dan hal itu langsung menuntaskan keputusannya.
Bahkan,
satu-satunya pekerjaan yang membutuhkan pisau hanyalah memotong daun bawang dan
acar jahe merah.
Setelah itu,
mereka cukup mencampur parutan uam dan remahan tempura dengan telur serta
tepung okonomiyaki, dan adonannya pun selesai dibuat.
Adonan itu jadi
begitu mudah hingga Himeko terlihat seperti orang yang baru saja ditipu seraya
berseru.
"Lho, apa
ini sudah selesai?"
"Iya, aku
sudah mencarinya terlebih dahulu, tapi aku sendiri juga kaget waktu benar-benar
membuatnya. Oh, ayo kita tunggu sampai Hayato dan Saki-chan pulang sebelum
memasaknya."
"Iya, memang
lebih enak dimakan hangat-hangat. Memanggangnya di atas panggangan listrik
bersama-sama pasti bakalan seru."
"Nanti
kepribadian semua orang juga pasti bakal kelihatan waktu kita memasaknya."
"Ha-ru-chan?"
"Hehe."
"Ya
ampun!"
Saat Haruki
menggodanya, Himeko memberinya tatapan datar, dan Haruki menjulurkan lidahnya
seraya memperagakan gestur "teehee".
Menghela napas
pada reaksi sahabat yang berusia satu tahun lebih tua darinya itu, Himeko
berjalan ke dapur untuk mengambil panggangan listrik, lalu menanyakan sesuatu
yang membuatnya penasaran.
"Ngomong-ngomong,
Haru-chan, kenapa mendadak mengusulkan untuk memasak makan malam bersama?"
Haruki pernah
membantu menyiapkan makan malam sebelumnya, tetapi hanya sebatas asisten.
Dan dengan
aktivitas idolanya, sempat ada jeda waktu yang cukup lama.
Gadis itu
kemungkinan besar juga tidak terlalu mahir dalam memasak.
Bahkan saat dia
memotong daun bawang dan acar jahe merah tadi, gerakan pisaunya tidak terlihat
begitu terbiasa.
Haruki bergumam
"Ah~" lalu berkata dengan sedikit malu-malu.
"Waktu kita
pergi ke kebun binatang kemarin, kamu dan Saki-chan membuat makan malam dan
menunggu kami pulang, kan?"
"Iya,
benar."
"Pulang ke
rumah dan menemukan seseorang yang sudah menyiapkan makanan serta menungguku
pulang─hal itu membuatku sangat bahagia. Kari waktu itu adalah kari terlezat
yang pernah kumakan. Jadi kali ini, aku ingin mencoba berada di posisi orang
yang memasak dan menyambut seseorang pulang."
"Haru-chan..."
Melihat senyum
malu-malu Haruki, hati Himeko terasa sakit.
Bagi Haruki, yang
telah kehilangan ibunya, tidak ada lagi siapapun di rumah yang menyambutnya
kembali, tidak ada lagi orang yang menunggunya pulang. Hal sesederhana dan
sebiasa itu tidak akan pernah bisa didapatkan oleh Haruki lagi.
Mungkin karena
itulah, entah secara sadar atau tidak, gadis itu mengusulkan untuk menyiapkan
makan malam hari ini.
Hal itu pasti
menjadi caranya untuk mengisi kekosongan di dalam hatinya.
Namun Haruki,
yang sama sekali tidak memperlihatkan sedikit pun rasa kesepian itu, justru
terlihat makin menyedihkan.
Tetap saja,
Himeko tidak tahu harus melakukan apa. Masalahnya berakar terlalu dalam. Dan dia
merasa sangat tidak berdaya.
(Onii-chan...)
Dia
memanggil kakaknya di dalam hati, seolah sedang bersandar padanya.
Sementara
itu, Haruki bergerak gelisah dan bergumam pelan.
"Kapan
ya Hayato dan Saki-chan bakal pulang. Hmm, aku sangat menantikannya, tapi aku
juga merasa gugup─apa ya yang bakal mereka katakan soal masakan kita?"
"Entahlah.
Tapi kalau mereka berkomplain, ayo kita pukul saja mereka."
"Ahaha,
iya."
Sembari berkata
begitu, Haruki tertawa lepas.
Setelah tertawa
sejenak, suara Haruki berubah menjadi lembut dan penuh ketulusan.
"Kuharap
hari-hari seperti ini bisa bertahan selamanya."
"...Iya. Aku
juga merasakan hal yang sama."
Memerhatikan
Haruki berbicara seraya menatap ke suatu tempat yang jauh, Himeko secara
samar-samar memahami alasan mengapa Haruki tidak pergi bersama Hayato dan Saki
hari ini.
Dan juga fakta
bahwa gadis itu sama sekali tidak memiliki niat untuk kembali ke dunia hiburan,
yang secara tak terhindarkan akan mengingatkannya pada Takura Mao.
Haruki pasti
telah menimbang antara menjadi seorang idola dengan kehidupan yang dimilikinya
saat ini, dan memilih untuk kembali ke kehidupan sehari-hari ini.
Namun apakah
pilihan itu adalah pilihan yang baik, Himeko sendiri tidak bisa memastikannya.



Post a Comment