Chapter 3
Karena Saat Ini Semua Cuma Kesempatan
Semester baru
telah dimulai, dan beberapa waktu pun berlalu.
Matahari
belakangan ini terbit spanjang hari yang makin lambat. Walaupun pagi dan malam
mulai terasa dingin, hawa panas di siang hari masih saja menyengat.
Suasana di
sekitar Haruki ternyata jauh lebih tenang dari dugaan.
Dia tidak terlalu
menarik perhatian saat berangkat sekolah. Di sekolah sendiri, meski acara
pembukaan sempat membuat heboh, keadaan segera mereda setelahnya. Sekarang orang-orang memang masih
memperhatikannya, tetapi tidak ada lagi yang mengganggunya.
Haruki
sendiri menganggap orang-orang mungkin mulai bosan karena dia muncul di sekolah
setiap hari. Namun bagi Hayato, orang-orang di sekitarnya tampak memperlakukan
gadis itu seperti barang rapuh yang mudah pecah.
Sikap
Haruki sebagian besar masih sama seperti sebelumnya, padahal dia baru saja
kehilangan ibunya.
Kematian
Takura Mao disiarkan secara luas di media, jadi hal itu sudah menjadi
pengetahuan umum.
Karena alasan
itulah, orang lain mungkin merasa sungkan untuk mendekatinya.
Bahkan
Hayato dan yang lainnya juga berhati-hati mengenai hal tersebut.
Namun
anehnya, kehati-hatian itu justru mencegah suasana menjadi terlalu bising dan
membantu Haruki kembali ke rutinitas harian aslinya.
Suatu hari saat
istirahat makan siang.
Mereka
bertujuh—Hayato, Haruki, Saki, Minamo, Kazuki, Iori, dan Ema—berkumpul di
markas rahasia yang kini terasa semakin sempit.
Seperti biasa,
Iori dan Ema mulai bermesraan yang berlanjut sampai saling menyuapi, membuat
makan siang terasa sangat manis sampai tak tertahankan. Menunggu semua orang
selesai makan, Haruki memberikan sebuah usul.
"Hei,
bagaimana kalau libur berikutnya kita pergi ke kebun binatang?"
Hayato
langsung tahu kebun binatang mana yang dimaksud. Matanya terbelalak kaget saat
dia bertanya balik.
"Maksudmu
kebun binatang besar yang ada di dekat stasiun agak jauh dari sini?"
"Iya,
aku belum pernah ke sana."
"Ide
yang mendadak sekali. Aku
juga belum pernah, sih. Kurasa ini kesempatan bagus, tapi... Haruki, apa tidak
apa-apa kamu pergi ke tempat seperti itu?"
Mengingat Haruki
pernah kesulitan hanya untuk keluar beraktivitas di kota, Hayato menyuarakan
kekhawatirannya. Namun Haruki menjawab dengan santai.
"Rasanya
bakal baik-baik saja. Situasinya sudah berbeda dari yang dulu. Lagipula, publik
masih belum tahu kalau aku memotong rambutku, kan? Aku juga tidak membuat heboh
saat berangkat sekolah atau saat jalan-jalan, kan?"
"Hmm..."
"Jadi kalau
kita mau pergi bersenang-senang tanpa masalah, sekaranglah kesempatannya!"
Sembari berkata
demikian, Haruki memetikkan jarinya.
Perkataannya
memang terdengar meyakinkan.
Hayato lantas
meminta konfirmasi pada seseorang yang mengerti hal-hal seperti ini.
"Kazuki,
bagaimana menurutmu?"
"Iya, aku
juga berpikir begitu. Seperti yang dikatakan Nikaidou-san, ini mungkin
satu-satunya kesempatan untuk saat ini."
Setelah
mendapatkan persetujuan dari Kazuki yang juga berkecimpung di dunia hiburan,
Hayato yakin bahwa sekarang memang waktu yang tepat.
Banyak hal telah
terjadi belakangan ini, jadi perjalanan untuk menyegarkan pikiran akan sangat
bagus.
"Kalau
begitu sudah diputuskan. Bagaimana kalau kita janjian berkumpul?"
"Soal itu,
aku ada pekerjaan pemotretan model, jadi... maaf ya."
"Ah..."
Memang benar
Kazuki saat ini sedang berada di titik penting dalam pekerjaan modelnya dan
berusaha lebih keras dari sebelumnya. Hayato merasa kurang peka karena
melupakan hal itu.
Saat Hayato
memasang wajah serba salah, Iori dan Ema juga angkat bicara dengan nada
menyesal.
"Maaf, aku
ada bimbingan belajar hari itu."
"Aku ada
kerjaan..."
"Hmm, jadi
Kazuki, Iori, dan Isami-san tidak bisa ikut. Bagaimana kalau kita ganti
tanggal?"
Sayang
sekali waktunya tidak pas. Saat Hayato memasang wajah kecewa dan mengusulkan
untuk menjadwalkan ulang, Minamo mendadak maju dengan antusias dan mendesak.
"Jangan!
Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, jadi kalian harus tetap pergi!
Ah, aku juga kemungkinan besar ada urusan hari itu dan tidak bisa ikut!"
"Mi-Minamo...?"
Kewalahan oleh
kobaran semangat Minamo, Hayato menatap yang lainnya. Kazuki, Iori, dan Ema
kompak mengangguk dengan raut wajah serius, sementara Haruki dan Saki hanya
mengulas senyum kecut yang agak serba salah.
Dengan bingung,
Hayato akhirnya setuju untuk pergi ke kebun binatang akhir pekan ini.
"B-baiklah.
Akhir pekan ini aku akan mengajak Himeko dan kita pergi bersama."
"Haaah~"
Semua orang
menghela napas panjang seolah ingin berkata "dia benar-benar tidak
peka."
Malam harinya
saat makan malam di rumah keluarga Kirishima.
Sambil menyantap
pasta dingin rasa tomat dan tuna serta salad shabu-shabu dingin gaya Jepang
dengan parutan lobak, Hayato mengungkit obrolan makan siang tadi kepada Himeko.
"Hei Himeko,
mau pergi ke kebun binatang pada hari libur nanti?"
"Kebun
binatang? Yang besar di dekat stasiun agak jauh dari sini?"
"Iya.
Publik belum tahu kalau Haruki memotong rambutnya, jadi sepertinya kita bisa
pergi tanpa ketahuan dan membuat keributan."
Haruki
turut mengangguk sambil berkata "itu benar," dan mata Himeko pun
berbinar senang saat menyetujuinya.
"Aku mau
ikut! Aku selalu ingin pergi ke sana sekali saja! Oh ya, siapa lagi yang
ikut?"
"Soal
itu—Kazuki ada kerjaan model, Iori ada bimbel, Isami-san kerja, dan Minamo juga
bilang ada urusan, jadi cuma kita berempat saja."
"Eh, kalau
begitu bukannya lebih baik ganti tanggal saja?"
"Aku juga
berpikir begitu, tapi semuanya memaksa agar kita tetap pergi hari itu."
"Hmm."
Himeko tampak
bingung lalu melanjutkan makannya.
Setelah itu,
bukan hanya Minamo, tetapi yang lainnya juga membujuk Hayato dengan mengatakan
bahwa karena publik belum tahu Haruki telah memotong rambutnya, mereka harus
pergi tanpa khawatir—lagipula informasi mengenai rambut pendeknya bisa bocor
kapan saja.
Meskipun mengerti
maksud mereka, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Saat Hayato
memutar pasta di garpunya dengan ekspresi terganggu, Himeko mendadak bergumam
"ah" seolah baru menyadari sesuatu.
"Himeko?"
Ketika Hayato
bertanya ada apa, Himeko meletakkan garpunya sambil mengangguk paham. Kemudian
dengan wajah serius, dia menatap lurus ke arah Hayato dan berkata.
"Onii-chan,
Saki-chan dan aku tiba-tiba ada acara lain hari itu."
"Hah?"
"Eh?"
Bukan cuma
Hayato, Saki juga mengeluarkan suara kaget.
"Hime-chan..."
Haruki hendak
mengatakan sesuatu, tetapi tertahan oleh tatapan Himeko hingga dia menjadi
ragu.
Melihat perubahan
sikap adiknya yang mendadak dan terang-terangan ini, Hayato menuntut
penjelasan.
"Himeko, apa
maksudmu—"
"Pergi saja
berdua dengan Haru-chan, Onii-chan. Benar kan, Saki-chan?"
Saki yang diajak
bicara oleh Himeko menatap Himeko dan Hayato dengan ekspresi yang rumit.
Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke Haruki dan menghela napas pasrah
seolah berkata "mau bagaimana lagi."
"Begitulah
jalannya. Ini dihitung sebagai 'bantuan', tahu."
Akhir pekan pun
tiba.
Hari ini adalah
hari untuk pergi ke kebun binatang bersama Haruki.
Udaranya agak
dingin saat dia terbangun, tetapi langit tampak cerah dan indah dengan sinar
matahari yang memancar terang—cuaca yang sempurna untuk bepergian.
Setelah sarapan
dan bersiap-siap, tepat saat Hayato hendak berangkat dengan waktu yang masih
sangat longgar, Himeko dengan napas terengah-engah menahannya dan berteriak
"Tunggu!" Dia mendudukkan Hayato di sofa ruang tamu lalu menata
rambut kakaknya dengan teliti.
Tidak seperti
saat pertama kali datang ke kota, Hayato sekarang mulai memperhatikan
penampilannya.
Seharusnya
penampilannya tidak buruk-buruk amat.
Tetap saja, jika
bicara soal selera fesyen, Himeko jelas jauh lebih unggul.
Dan berdasarkan
pengalaman, semuanya akan berjalan lebih baik jika dia tidak melawan dan
membuat adiknya kesal, jadi Hayato membiarkan Himeko melakukan sesukanya.
Akhirnya saat
waktu berkumpul makin dekat, Himeko mengeluarkan suara puas atas hasil karyanya
dan menyodorkan cermin.
"Sip,
ini sudah bagus. Bagaimana menurutmu?"
"Wah...
aku bahkan tidak tahu harus bilang apa, tapi kelihatannya bagus sekali?"
Himeko
bergumam bangga, sementara Hayato menghela napas kagum.
Sosok
dirinya di dalam cermin setelah sentuhan Himeko terlihat beberapa kali lipat
lebih rapi dari biasanya, walau dia sendiri tidak bisa menjelaskan alasannya. Ini sungguh mengejutkan. Keterampilan
fesyen Himeko pasti sudah makin meningkat.
Sekolahnya yang
sekarang adalah sekolah tua bergengsi yang diisi oleh banyak nona muda. Mungkin
kepekaannya telah terasah di sana.
Hayato
mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada Himeko.
"Terima
kasih sudah menatanya. Aku sangat menghargainya."
"Sama-sama.
Karena ini kencan dengan Haru-chan, sebagai adikmu, aku khawatir kamu bakal
kelihatan kusam kalau berdiri di sampingnya."
"Kencan
apanya. Ini cuma pergi jalan-jalan untuk bersenang-senang."
Hayato membalas
seperti biasa. Normalnya, Himeko akan memarahinya dengan kata-kata
"Biarpun kamu berpikir begitu, dari luar kelihatan seperti—!"
Namun hari ini,
adiknya justru memberikan tatapan serba salah yang tersirat rasa kesepian.
"Tapi
bagi Haru-chan, Onii-chan adalah orang yang spesial, kan?"
"Spesial?
Itu berlebihan."
Bagi
Haruki, Hayato adalah teman pertamanya sekaligus rekannya. Saat itu, hanya
Hayato yang tahu tentang penyamarannya dan rahasia kelahirannya—jadi ya, dia
memang bisa disebut orang yang spesial.
Namun hal
itu sudah tidak berlaku lagi sekarang.
Hayato
tertawa mengejek dirinya sendiri.
Melihat
kakaknya seperti itu, Himeko menepuk punggung Hayato dengan keras seolah sedang
memacunya.
"Ayolah,
kalau orang spesialnya kelihatan sedikit lebih tampan, Haru-chan juga pasti
akan senang."
"Aduh!
Begitu ya—tunggu, jadi ini demi Haruki, bukan demi aku?"
"Kurang
lebih begitu."
Hayato
meninggalkan rumah, berlari ke stasiun terdekat, lalu berganti kereta menuju
stasiun yang ada di depan kebun binatang.
Tidak seperti
biasanya, hari ini mereka berjanji berkumpul di lokasi tujuan, bukan di stasiun
lokal.
Mereka tinggal
berdekatan, jadi mereka sebenarnya bisa berangkat bersama sejak awal—tetapi
Himeko menyebut perjalanan ini sebagai kencan. Dan dia menyadari bahwa semua
orang memang telah mengondisikan situasi ini seperti sebuah kencan.
Bagi Hayato,
kencan berarti pergi keluar bersama, mempelajari sisi baru dari pasangan, dan
memperdalam hubungan. Dalam artian itu, dia sudah memiliki ikatan yang kuat
dengan Haruki dan tahu hampir segala hal tentang gadis itu, jadi memang benar
bahwa konsep tersebut tidak terlalu pas untuk mereka.
—Tetapi bagaimana
jika ada sesuatu tentang Haruki yang bahkan tidak diketahuinya?
Hal itu sangat
mungkin terjadi.
Saat ini, Haruki
bersikap sangat biasa hingga terasa terlalu biasa—seolah-olah kematian ibunya
tidak pernah terjadi. Kealamian sikapnya yang berlebihan itu justru terasa
tidak alami.
Dia teringat saat
Himeko mengurung diri setelah syok karena ibu mereka pingsan.
Dia tidak bisa
membedakan apakah Haruki sedang memaksakan diri, berusaha tidak memikirkannya,
atau mencoba untuk melupakannya.
Padahal Haruki
sudah sangat terpaku pada ibunya sejak sekian lama.
Dan mereka baru
saja berdamai sebelum berpisah—tidak mungkin gadis itu tidak merasakan apa-apa.
Mungkinkah Haruki
sendiri bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang syok?
Sambil memikirkan
hal itu, dia tiba di stasiun tujuan.
Karena ini hari
libur, stasiun sudah sangat ramai. Tidak hanya kebun binatang, tetapi di dekat
sana juga terdapat taman, museum seni, gedung kebudayaan, dan museum umum,
membuat suasananya sangat hidup.
Dia menyadari
bahwa dirinya sedang membandingkan keramaian ini dengan konser terbesar yang
pernah dilihatnya, Early Summer Live—lalu mengulas senyum kecut melihat betapa
dirinya telah terpengaruh.
Nah, sekarang
Haruki ada di mana? Dia
harus bertemu dengannya terlebih dahulu.
Mengingat
situasinya saat ini, gadis itu kemungkinan besar tidak berpakaian mencolok.
Sembari
memikirkan hal itu, dia mengirim pesan: "Aku baru saja sampai."
Kemudian, saat
dia keluar dari pintu pemeriksa tiket, seseorang menepuk bahunya.
"Yo,
Hayato."
"Haru...
ki...?"
Berbalik ke arah
suara tersebut, Hayato seketika membeku.
Di sana berdiri
Haruki yang mengenakan kaus unisex longgar yang menyamarkan lekuk
tubuhnya, celana pendek, serta topi pet untuk melindungi diri dari sinar
matahari yang masih terik. Dia membawa barang-barangnya dalam tas selempang di
bahu kirinya.
Pakaiannya yang
sangat bergaya cowok hingga terasa berlebihan dan sama sekali tidak memancarkan
kesan kewanitaan itu entah bagaimana mirip dengan seorang anak laki-laki—tidak,
tampilannya tumpang tindih secara sempurna dengan sosok Haruki yang dulu.
Dan hal itu
kemungkinan besar memang sengaja dilakukan oleh Haruki.
Melihat Hayato
yang bungkam karena terkejut, Haruki menyeringai seolah kejahilannya telah
berhasil lalu memutar tubuhnya untuk memamerkan penampilannya.
"Bagaimana?"
Masih terjebak
dalam rasa terkejut, Hayato memberikan kesan jujurnya.
"Rasanya
sangat nostalgia—seperti Haruki yang dulu."
"Benar,
kan? Aku memang mengincar penampilan ini!"
"Kalau
begitu hari ini, ayo kita jalan-jalan seperti dulu."
"Ya!"
Diselimuti oleh
perasaan aneh seolah telah kembali ke masa lalu, mereka berdua saling memandang
lalu terkekeh.
Segala
pembicaraan tentang kencan dari Himeko mendadak terasa konyol.
Hari ini, dia
hanya akan bermain dengan Haruki seperti masa-masa lalu, seperti biasa.
Dengan tekad yang
diperbarui itu, mereka berjalan bersama menuju kebun binatang.
Mengikuti
petunjuk jalan dan arus kerumunan orang, mereka tiba tanpa tersesat—tetapi
keduanya sama-sama mengeluarkan suara helaan napas.
"Wah,
antriannya panjang sekali."
"Harusnya
kita beli tiketnya secara online."
"Tapi
walaupun orangnya banyak, antriannya bergerak cepat."
"Iya. Kalau
begitu ayo kita ikut mengantri."
Mereka bergabung
di ujung antrian loket tiket, dan kerumunan terurai lebih cepat dari perkiraan.
Di belakang mereka, makin banyak orang yang terus berbaris.
Sambil menunggu,
mereka mengobrol santai tentang bagaimana kebun binatang ini dibagi menjadi
area timur dan barat, harga tiket masuknya yang secara mengejutkan sangat
murah, serta skalanya yang sama sekali berbeda dari kebun binatang di taman
kastil tua di Hokuriku—dan tak lama kemudian, mereka sudah membeli tiket tanpa
menunggu lama.
Lalu, begitu
mereka memasuki area kebun binatang dengan rasa antusias, Haruki bersorak
melihat bangunan yang mencuri perhatiannya.
"Wah,
pagoda lima tingkat! Besar dan megah sekali! Hei, ayo kita lihat ke sana, Hayato!"
"Hei, kita
datang ke kebun binatang, dan tempat pertama yang ingin kamu kunjungi adalah
itu?"
"Apa kamu
tidak merasa itu menarik, Hayato?"
"Tentu saja
menarik. Tapi kenapa ada pagoda lima tingkat di kebun binatang!?"
"Benar, kan?
Mengejutkan sekali!"
"Oh,
tunggu—menurut peta, ada area hewan dan burung khas Jepang tepat di
dekatnya."
"Benarkah!
Dan tepat di sebelah pagoda, sepertinya ada kambing hutan (serow)
juga!"
"Kalau
begitu ayo kita mulai dari sana."
Dengan
demikian, tur kebun binatang Hayato dan Haruki pun dimulai.
Mereka
dibuat kagum oleh pagoda, terkejut saat tahu kambing hutan masih berkerabat
dengan sapi, dan terpesona oleh warna bulu burung jay Lidth yang sangat cerah.
Berikutnya
adalah hewan wajib di kebun binatang—ukuran gajah yang luar biasa besar, aksi
mandi menyegarkan menggunakan belalai, serta gerakan-gerakan menggemaskan yang
memperlihatkan kepribadian tiap gajah, membuat mereka tersenyum.
Saat
memperhatikan beruang cokelat dan beruang hitam Asia, mereka berkomentar bahwa
jika beruang sebesar itu muncul di kota, pasti akan langsung menjadi berita
utama.
Harimau
hari itu, mungkin karena kelelahan oleh hawa panas, sedang tidur terlentang
dengan perut menghadap ke atas. Melihat penampilannya yang mirip kucing besar,
mereka tertawa dan berkata kalau hewan itu mirip sekali dengan Tsukushi.
Di area
burung pemangsa, perhatian mereka tertarik oleh sorot mata yang tajam dan
cerdas dari elang, rajawali, dan burung kondor.
Di gedung
hewan nokturnal dengan pencahayaan yang remang-remang, mereka mengamati primata
purba seperti kukang dan kelelawar dengan minat yang besar.
Merasakan
pengalaman melihat hewan-hewan yang tidak biasa ditemui dengan seluruh panca
indra, serta berbagi rasa terkejut dan kagum, melipatgandakan kenikmatan
perjalanan mereka.
Dan pada saat
mereka telah menjelajahi sebagian besar area timur, waktu makan siang pun tiba.
Berjalan-jalan ke
mana-mana telah membuat mereka cukup lelah.
Hayato memberi
isyarat ke arah area istirahat yang berjajar tempat jualan makanan lalu berkata
pada Haruki.
"Bagaimana
kalau kita makan siang sekarang? Sepertinya mereka menjual makanan di sebelah
sana."
"Sebenarnya,
aku sudah membuat bento. Aku
juga membawakan satu untukmu."
"Oh,
ya?"
"Iya, ada
sesuatu yang ingin kucoba buat. Aku akan mencari tempat duduk, jadi bisakah
kamu membelikan minuman untuk kita?"
"Paham."
Dia terkejut
Haruki telah membuat bento.
Setelah membeli
teh kemasan botol dari mesin penjual otomatis, Hayato memindai area istirahat
yang ramai dan mendapati Haruki melambai lebar ke arahnya.
Meskipun gadis
itu tampil mencolok, tidak ada yang mengenalinya sebagai Haruki dari Twinkle.
Dengan senyum kecut, Hayato menghampirinya dan meletakkan teh di atas meja.
Haruki menunggu
sampai Hayato duduk di hadapannya, lalu mengeluarkan bento dari tasnya dan
menatanya.
"Ta-da!"
Haruki
merentangkan tangannya dan memamerkan bento buatannya dengan bangga.
Ukurannya
sangat sederhana.
Hidangan
utamanya adalah nasi kepal yang dibungkus foil aluminium, dan lauknya—di dalam
wadah makanan sekali pakai—adalah telur gulung dan sosis berbentuk gurita.
Tusuk gigi juga sudah disediakan.
Melihat
bento tersebut, rasa antusias Hayato membumbung tinggi, dan dia tidak bisa
menahan diri untuk tidak berseru.
"Ini bento
tamasya sekolah!"
Melihat reaksi
Hayato, Haruki tersenyum kemenangan.
"Kamu suka
hal-hal seperti ini, kan?"
"Siapa yang
tidak suka? Atau lebih tepatnya, apa ada orang yang tidak suka!?"
"Benar, kan.
Waktu aku berpikir untuk pergi ke kebun binatang, aku teringat acara tamasya
sekolah. Aku tidak pernah ikut tamasya sekolah bersamamu, Hayato, jadi aku
ingin merasakan suasana seperti itu."
Haruki tampak
malu-malu, dan Hayato teringat bahwa hal itu memang benar, lalu tersenyum
lembut.
"Iya, akan
sangat menyenangkan kalau kita bisa melakukan hal-hal yang belum pernah kita
lakukan bersamamu."
Mereka menyeka
tangan dengan tisu basah, menyatukan kedua tangan dan mengucapkan "Selamat
makan," lalu menjangkau bento buatan Haruki.
Isian nasi
kepalnya adalah buah plum klasik. Setelah cukup banyak berkeringat, rasa asam
dari plum meresap ke dalam tubuhnya. Telur gulungnya terasa manis, sangat pas
dinikmati di sela-sela gigitan nasi kepal. Keberadaan sosis gurita saja sudah
membuat bento tersebut terasa sangat meriah.
Saat mereka makan
dengan lahap, Haruki memulai percakapan.
"Ngomong-ngomong,
Hayato, kamu mengambil banyak foto memakai ponselmu, ya."
"Iya,
seperti harimau yang kelihatan persis seperti kucing itu, beruang kutub yang
agak gagal saat menyelam ke kolam, dan elang laut Steller yang memasang pose
dengan sayap terbentang—aku refleks saja mengambil gambarnya. Coba lihat."
Hayato
mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto-fotonya. Haruki membelalakkan
mata lalu terkekeh.
"Ahaha, aku
ingat adegan-adegan itu—tapi kamu benar-benar mengambil gambarnya dengan bagus
ya?"
"Aku pikir
ini kesempatan untuk mengambil foto yang bakal bikin semua orang menyesal
karena tidak ikut dengan kita."
"Jelas saja,
kalau melihat foto-foto ini, mereka pasti berharap bisa melihatnya secara
langsung."
"Benar,
kan?"
"Iya, iya.
Aku ingat waktu melihat foto-foto yang kamu ambil di Tsukinose kemarin—seperti
foto yang viral dengan tagar '#KesalahanMari'."
"Foto
yang saat domba memakan jagung hasil panen?"
"Yang
itu! Dan foto-foto lain yang kamu kirim ke grup obrolan—seperti Saki-chan
berpakaian miko yang membawa papan pengumuman warga, atau Shinta-kun dan
Tsukushi-chan yang berdiri di atas pawai dengan wajah 'kamilah bintangnya',
atau Hime-chan yang gagal membuka ramune sampai tumpah. Melihat semua itu membuatku berpikir, 'Ah,
andaikan aku juga ikut pergi.'"
"Yah,
aku mengambil foto-foto itu justru supaya kamu berpikir begitu."
"Hmph,
kamu jahat sekali."
Haruki
merajuk, dan Hayato memasang wajah jahil seolah sedang mengejeknya.
Setelah saling
menatap selama beberapa saat, mereka berdua sama-sama meledak dalam tawa.
"Haha."
"Ahaha."
Setelah tertawa
sejenak, Haruki menyapu sudut matanya dengan punggung tangan lalu bergumam
dengan tulus.
"Hayato,
kamu sudah jadi terbiasa mengambil foto di setiap kesempatan, ya?"
"Sebenarnya,
aku sudah mengambil foto tanpa berpikir sejak dulu. Aku mulai melakukannya
secara sadar saat mulai membantu klub penggemar tidak resmi Twinkle."
"Oh, kalau
kamu mendapat beberapa foto bagus hari ini, apa kamu bakal mengunggahnya di
halaman tidak resmi?"
Hal itu tidak
terpikirkan olehnya. Hayato mengerutkan dahi lalu menjawab.
"Kalau kamu
belum mau publik tahu kamu memotong rambutmu, kita tidak bisa
mengunggahnya."
"Bukan,
maksudku foto hewan-hewannya, bukan fotoku."
"Tetap saja,
itu sudah menyimpang terlalu jauh dari tujuan klub penggemar tidak resmi."
"Tapi
kurasa foto-foto itu bakal viral—fotonya bagus-bagus sekali."
"Aku
mengambilnya bukan untuk bikin viral."
"Hmm,
tapi karena kamu dapat foto-foto yang menarik, aku cuma merasa ingin
membagikannya kepada banyak orang."
Ketika
Haruki bilang dirinya hanya ingin membagikan kesenangan dengan orang lain,
rasanya sulit untuk menolak secara mentah-mentah.
Hayato
berpikir sejenak, lalu mengangkat bahunya.
"Nanti
kutanyakan pada Mari dan biarkan dia yang memutuskan."
"Oke."
Setelah
menyelesaikan makan siang, mereka memutuskan untuk menjelajahi area barat.
Di tengah jalan,
mereka melewati bekas stasiun monorail yang dulu menghubungkan area timur dan
barat, lalu mengobrol tentang betapa mereka ingin sekali menaikinya.
Pertama-tama,
mereka berinteraksi dengan hewan-hewan yang sudah tak asing seperti kuda,
kambing, dan kelinci, namun tertawa karena hewan-hewan itu tidak terlihat di
Tsukinose. Mereka mengagumi sifat alpaka yang suka berubah-ubah dan terkejut
oleh ukuran serta keramahan burung emu.
Selanjutnya,
mereka mengunjungi panda merah dan terpesona oleh keimutannya yang berbulu
lebat—seperti boneka hidup. Di dekat sana, warna-warni burung kuau yang
mencolok mencuri perhatian mereka.
Di area hewan
Afrika, mereka dibuat kagum oleh tinggi jerapah dan terpukau oleh penampilan
badak yang tampak seperti mengenakan baju besi. Kuda nil yang berenang dengan malas di kolam
membuat hati mereka terasa hangat.
Di antara
pameran hewan kecil, yang paling menarik perhatian mereka adalah kucing Pallas.
Keimutannya yang berbulu lebat bercampur dengan keganasan liar yang tak
terbantahkan membuat mereka terpikat.
Mereka
juga memasuki bangunan yang menampilkan hewan amfibi dan reptil.
Mereka
menemukan salamander raksasa yang tampak seperti menyatu dengan batu, buaya
muara yang memiliki kehadiran lebih kuat dari mereka sendiri, penyu raksasa
yang bergerak lamban, dan ular piton yang gagah—makhluk-makhluk dengan jenis
daya tarik yang berbeda dari mamalia, yang mereka pandangi dengan penuh minat.
Dihadapkan
dengan makhluk-makhluk unik ini, Hayato dan Haruki kembali menjadi seperti anak
kecil dan merasa sangat antusias.
Setelah
menjelajahi sebagian besar area barat, mereka mengunjungi kembali hewan-hewan
yang ingin mereka lihat lagi—harimau, beruang kutub, gajah, jerapah, dan kuda.
Kemudian mereka
menuju ke toko suvenir.
Di sana terdapat
barang-barang standar seperti boneka, maskot, dan gantungan kunci yang
menampilkan berbagai hewan, bersama dengan kaus, kaus kaki, alat tulis,
barang-barang umum, serta makanan ringan—hal yang bisa dilihat seolah tidak ada
habisnya.
Saat mereka
mendongak, sinar matahari sudah sangat meredup.
Karena mereka
tinggal agak jauh, Hayato dan Haruki memutuskan untuk pulang lebih awal.
Di dalam kereta
saat perjalanan pulang, mereka melihat-lihat foto yang diambil Hayato—kuda nil
yang menguap dan memperlihatkan taring yang mengejutkan besarnya, alpaka yang
menatap polos saat anak-anak menyemut di sekitarnya—lalu tertawa saat mengenang
kejadian hari itu. Tak lama kemudian mereka tiba di stasiun lokal yang biasa.
Melewati pintu
pemeriksa tiket, langit barat sudah mulai berwarna sedikit kemerahan.
Sudah waktunya
untuk mulai menyiapkan makan malam.
Setiap kali
mereka pergi keluar untuk bermain, mereka sering mampir ke supermarket dalam
perjalanan pulang.
Haruki
yang teringat hal itu bertanya.
"Apakah kita
mampir belanja dalam perjalanan pulang hari ini?"
"Tidak,
Himeko bilang dia dan Saki yang akan menyiapkannya hari ini."
"Hime-chan?
Jarang sekali."
"Dia bilang
mau buat kari. Kalau ada Saki-san, tidak mungkin bakal gagal."
Hayato berkata
dengan nada bercanda, dan Haruki tertawa, "Iya."
Mereka berjalan
menyusuri area pemukiman yang makin familiar sejak mereka datang ke kota,
bayangan mereka yang memanjang mengekor di belakang.
Sisa-sisa
keseruan dari kebun binatang masih berbekas.
Mereka merasa
lelah dan langkah kaki mereka agak berat, tetapi itu bukan perasaan yang buruk.
Berjalan pulang
berdampingan dengan Haruki, dia menatap matahari terbenam yang membangkitkan
rasa nostalgia yang kuat.
Hari itu, di
penghujung musim panas.
Saat dia bertukar
kata perpisahan dengan Haruki muda, suasananya persis seperti ini.
Kenangan itu
mendadak muncul kembali, membuat dadanya terasa sesak.
Mengapa hal itu
terlintas di pikirannya?
Hayato tahu,
secara samar-samar.
Tetapi dia tidak
ingin mengakuinya.
Saat itulah,
Haruki tersenyum.
"Bagaimanapun
juga, hari ini menyenangkan sekali, ya?"
Hayato
merenungkan hari ini dan bertanya pada dirinya sendiri.
Dia telah
dibuat antusias dan terharu oleh hewan karnivora yang gagah dari dekat, hewan
herbivora yang tangguh dengan tubuh besarnya, serta berbagai hewan menggemaskan
lainnya, dan dia telah terbawa suasana bersama Haruki melihat penampilan mereka
yang kontras—sangat menikmatinya hingga dia secara tidak sadar terus mengambil
foto.
Jadi dia
bisa menjawab pertanyaannya dengan senyuman lebar.
"Iya,
hari ini benar-benar menyenangkan."
"Aku ingin
pergi lagi, lain kali bersama semuanya."
"Tentu saja.
Bukan cuma hewan-hewannya, tapi aku juga penasaran dengan reaksi yang lainnya.
Aku bahkan mungkin bisa dapat foto bagus untuk '#KesalahanMari'."
"Hari ini
kamu sendiri kelihatan seperti anak kecil, Hayato, matamu berbinar-binar."
Haruki
menggodanya dengan tatapan jahil, dan Hayato mengerutkan dahi.
"Apa aku
benar-benar seperti itu?"
"Iya. Persis
seperti saat kamu memamerkan kumbang rusa Miyama pertamamu deng bangga, atau
saat kita berburu harta karun di gunung dan menemukan kuil tua, atau saat kamu
menemukan batu bulat yang berkilau di tepi sungai. Aku adalah pengamat ekspresi
Hayato nomor satu, jadi aku bisa menjaminnya."
"Yang bener
saja..."
Itu adalah
percakapan penuh gurauan yang telah mereka bagikan selama bertahun-tahun.
Hari ini, berada
hanya berdua dengan Haruki setelah sekian lama membuatnya sangat menyadari masa
lalu.
Kemudian Haruki
bergumam pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Kehidupan
sehari-hari seperti ini memang sangat bagus. Aku senang bisa kembali."
Hayato
berpura-pura tidak menyadari ucapan tulus itu dan menjawab.
"Begitu
ya."
"Dan ada
makanan yang menunggu di rumah juga rasanya menyenangkan."
"Iya,
menyenangkan karena tidak perlu repot-repot menyiapkannya."
"Bukan,
bukan itu maksudku—maksudku ada seseorang yang menunggumu."
"Oh, itu.
Ibu pulangnya malam, tahu."
"Kerja paruh
waktu?"
"Iya,
disesuaikan dengan jadwal Ayah yang pulang malam. Kami yang masih anak-anak
tumbuh berkembang tidak bisa menunggu sedemikian lamanya."
"Kita
juga sedang kelaparan setengah mati sekarang, kan?"
Sembari
berkata demikian, Haruki bergumam riang, dan Hayato mengangguk,
"Iya."
Namun percakapan
mereka terasa agak hampa.
Melihat Haruki
berjalan di depan dengan langkah ringan, dia mengeluarkan ponselnya dan membuka
foto-foto yang diambilnya di kebun binatang.
Foto-foto itu
semuanya adalah bahan yang sempurna untuk menggoda yang lain saat makan malam
nanti.
Dia pikir
dia telah mengabadikan banyak foto yang mengesankan.
Hanya
dengan membayangkan reaksi Himeko dan Saki saja sudah membuatnya tersenyum.
Namun di
antara semua foto yang dia ambil hari ini, tidak ada satu pun foto Haruki.
Bukan
karena dia bersikap tenggang rasa terhadap potongan rambut barunya.
Jika
gadis itu menunjukkan momen yang memikat seperti yang sering dia lakukan di
masa lalu, Hayato pasti akan mengambil fotonya secara alami.
Namun dia
tidak mengambil satu pun.
Haruki
tidak menunjukkan ekspresi wajah yang membuatnya ingin mengabadikannya dalam
foto.
Bahkan
sekarang, gadis itu sedang tersenyum, tetapi rasanya entah bagaimana seperti
palsu.
"…………"
Hayato
mengembuskan napas perlahan dan mengakuinya dalam hati.
—Haruki
tidak sedang tersenyum dengan sungguh-sungguh.



Post a Comment