NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Chapter 3

Chapter 3

Karena Saat Ini Semua Cuma Kesempatan


Semester baru telah dimulai, dan beberapa waktu pun berlalu.

Matahari belakangan ini terbit spanjang hari yang makin lambat. Walaupun pagi dan malam mulai terasa dingin, hawa panas di siang hari masih saja menyengat.

Suasana di sekitar Haruki ternyata jauh lebih tenang dari dugaan.

Dia tidak terlalu menarik perhatian saat berangkat sekolah. Di sekolah sendiri, meski acara pembukaan sempat membuat heboh, keadaan segera mereda setelahnya. Sekarang orang-orang memang masih memperhatikannya, tetapi tidak ada lagi yang mengganggunya.

Haruki sendiri menganggap orang-orang mungkin mulai bosan karena dia muncul di sekolah setiap hari. Namun bagi Hayato, orang-orang di sekitarnya tampak memperlakukan gadis itu seperti barang rapuh yang mudah pecah.

Sikap Haruki sebagian besar masih sama seperti sebelumnya, padahal dia baru saja kehilangan ibunya.

Kematian Takura Mao disiarkan secara luas di media, jadi hal itu sudah menjadi pengetahuan umum.

Karena alasan itulah, orang lain mungkin merasa sungkan untuk mendekatinya.

Bahkan Hayato dan yang lainnya juga berhati-hati mengenai hal tersebut.

Namun anehnya, kehati-hatian itu justru mencegah suasana menjadi terlalu bising dan membantu Haruki kembali ke rutinitas harian aslinya.

Suatu hari saat istirahat makan siang.

Mereka bertujuh—Hayato, Haruki, Saki, Minamo, Kazuki, Iori, dan Ema—berkumpul di markas rahasia yang kini terasa semakin sempit.

Seperti biasa, Iori dan Ema mulai bermesraan yang berlanjut sampai saling menyuapi, membuat makan siang terasa sangat manis sampai tak tertahankan. Menunggu semua orang selesai makan, Haruki memberikan sebuah usul.

"Hei, bagaimana kalau libur berikutnya kita pergi ke kebun binatang?"

Hayato langsung tahu kebun binatang mana yang dimaksud. Matanya terbelalak kaget saat dia bertanya balik.

"Maksudmu kebun binatang besar yang ada di dekat stasiun agak jauh dari sini?"

"Iya, aku belum pernah ke sana."

"Ide yang mendadak sekali. Aku juga belum pernah, sih. Kurasa ini kesempatan bagus, tapi... Haruki, apa tidak apa-apa kamu pergi ke tempat seperti itu?"

Mengingat Haruki pernah kesulitan hanya untuk keluar beraktivitas di kota, Hayato menyuarakan kekhawatirannya. Namun Haruki menjawab dengan santai.

"Rasanya bakal baik-baik saja. Situasinya sudah berbeda dari yang dulu. Lagipula, publik masih belum tahu kalau aku memotong rambutku, kan? Aku juga tidak membuat heboh saat berangkat sekolah atau saat jalan-jalan, kan?"

"Hmm..."

"Jadi kalau kita mau pergi bersenang-senang tanpa masalah, sekaranglah kesempatannya!"

Sembari berkata demikian, Haruki memetikkan jarinya.

Perkataannya memang terdengar meyakinkan.

Hayato lantas meminta konfirmasi pada seseorang yang mengerti hal-hal seperti ini.

"Kazuki, bagaimana menurutmu?"

"Iya, aku juga berpikir begitu. Seperti yang dikatakan Nikaidou-san, ini mungkin satu-satunya kesempatan untuk saat ini."

Setelah mendapatkan persetujuan dari Kazuki yang juga berkecimpung di dunia hiburan, Hayato yakin bahwa sekarang memang waktu yang tepat.

Banyak hal telah terjadi belakangan ini, jadi perjalanan untuk menyegarkan pikiran akan sangat bagus.

"Kalau begitu sudah diputuskan. Bagaimana kalau kita janjian berkumpul?"

"Soal itu, aku ada pekerjaan pemotretan model, jadi... maaf ya."

"Ah..."

Memang benar Kazuki saat ini sedang berada di titik penting dalam pekerjaan modelnya dan berusaha lebih keras dari sebelumnya. Hayato merasa kurang peka karena melupakan hal itu.

Saat Hayato memasang wajah serba salah, Iori dan Ema juga angkat bicara dengan nada menyesal.

"Maaf, aku ada bimbingan belajar hari itu."

"Aku ada kerjaan..."

"Hmm, jadi Kazuki, Iori, dan Isami-san tidak bisa ikut. Bagaimana kalau kita ganti tanggal?"

Sayang sekali waktunya tidak pas. Saat Hayato memasang wajah kecewa dan mengusulkan untuk menjadwalkan ulang, Minamo mendadak maju dengan antusias dan mendesak.

"Jangan! Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, jadi kalian harus tetap pergi! Ah, aku juga kemungkinan besar ada urusan hari itu dan tidak bisa ikut!"

"Mi-Minamo...?"

Kewalahan oleh kobaran semangat Minamo, Hayato menatap yang lainnya. Kazuki, Iori, dan Ema kompak mengangguk dengan raut wajah serius, sementara Haruki dan Saki hanya mengulas senyum kecut yang agak serba salah.

Dengan bingung, Hayato akhirnya setuju untuk pergi ke kebun binatang akhir pekan ini.

"B-baiklah. Akhir pekan ini aku akan mengajak Himeko dan kita pergi bersama."

"Haaah~"

Semua orang menghela napas panjang seolah ingin berkata "dia benar-benar tidak peka."

Malam harinya saat makan malam di rumah keluarga Kirishima.

Sambil menyantap pasta dingin rasa tomat dan tuna serta salad shabu-shabu dingin gaya Jepang dengan parutan lobak, Hayato mengungkit obrolan makan siang tadi kepada Himeko.

"Hei Himeko, mau pergi ke kebun binatang pada hari libur nanti?"

"Kebun binatang? Yang besar di dekat stasiun agak jauh dari sini?"

"Iya. Publik belum tahu kalau Haruki memotong rambutnya, jadi sepertinya kita bisa pergi tanpa ketahuan dan membuat keributan."

Haruki turut mengangguk sambil berkata "itu benar," dan mata Himeko pun berbinar senang saat menyetujuinya.

"Aku mau ikut! Aku selalu ingin pergi ke sana sekali saja! Oh ya, siapa lagi yang ikut?"

"Soal itu—Kazuki ada kerjaan model, Iori ada bimbel, Isami-san kerja, dan Minamo juga bilang ada urusan, jadi cuma kita berempat saja."

"Eh, kalau begitu bukannya lebih baik ganti tanggal saja?"

"Aku juga berpikir begitu, tapi semuanya memaksa agar kita tetap pergi hari itu."

"Hmm."

Himeko tampak bingung lalu melanjutkan makannya.

Setelah itu, bukan hanya Minamo, tetapi yang lainnya juga membujuk Hayato dengan mengatakan bahwa karena publik belum tahu Haruki telah memotong rambutnya, mereka harus pergi tanpa khawatir—lagipula informasi mengenai rambut pendeknya bisa bocor kapan saja.

Meskipun mengerti maksud mereka, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Saat Hayato memutar pasta di garpunya dengan ekspresi terganggu, Himeko mendadak bergumam "ah" seolah baru menyadari sesuatu.

"Himeko?"

Ketika Hayato bertanya ada apa, Himeko meletakkan garpunya sambil mengangguk paham. Kemudian dengan wajah serius, dia menatap lurus ke arah Hayato dan berkata.

"Onii-chan, Saki-chan dan aku tiba-tiba ada acara lain hari itu."

"Hah?"

"Eh?"

Bukan cuma Hayato, Saki juga mengeluarkan suara kaget.

"Hime-chan..."

Haruki hendak mengatakan sesuatu, tetapi tertahan oleh tatapan Himeko hingga dia menjadi ragu.

Melihat perubahan sikap adiknya yang mendadak dan terang-terangan ini, Hayato menuntut penjelasan.

"Himeko, apa maksudmu—"

"Pergi saja berdua dengan Haru-chan, Onii-chan. Benar kan, Saki-chan?"

Saki yang diajak bicara oleh Himeko menatap Himeko dan Hayato dengan ekspresi yang rumit. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke Haruki dan menghela napas pasrah seolah berkata "mau bagaimana lagi."

"Begitulah jalannya. Ini dihitung sebagai 'bantuan', tahu."

Akhir pekan pun tiba.

Hari ini adalah hari untuk pergi ke kebun binatang bersama Haruki.

Udaranya agak dingin saat dia terbangun, tetapi langit tampak cerah dan indah dengan sinar matahari yang memancar terang—cuaca yang sempurna untuk bepergian.

Setelah sarapan dan bersiap-siap, tepat saat Hayato hendak berangkat dengan waktu yang masih sangat longgar, Himeko dengan napas terengah-engah menahannya dan berteriak "Tunggu!" Dia mendudukkan Hayato di sofa ruang tamu lalu menata rambut kakaknya dengan teliti.

Tidak seperti saat pertama kali datang ke kota, Hayato sekarang mulai memperhatikan penampilannya.

Seharusnya penampilannya tidak buruk-buruk amat.

Tetap saja, jika bicara soal selera fesyen, Himeko jelas jauh lebih unggul.

Dan berdasarkan pengalaman, semuanya akan berjalan lebih baik jika dia tidak melawan dan membuat adiknya kesal, jadi Hayato membiarkan Himeko melakukan sesukanya.

Akhirnya saat waktu berkumpul makin dekat, Himeko mengeluarkan suara puas atas hasil karyanya dan menyodorkan cermin.

"Sip, ini sudah bagus. Bagaimana menurutmu?"

"Wah... aku bahkan tidak tahu harus bilang apa, tapi kelihatannya bagus sekali?"

Himeko bergumam bangga, sementara Hayato menghela napas kagum.

Sosok dirinya di dalam cermin setelah sentuhan Himeko terlihat beberapa kali lipat lebih rapi dari biasanya, walau dia sendiri tidak bisa menjelaskan alasannya. Ini sungguh mengejutkan. Keterampilan fesyen Himeko pasti sudah makin meningkat.

Sekolahnya yang sekarang adalah sekolah tua bergengsi yang diisi oleh banyak nona muda. Mungkin kepekaannya telah terasah di sana.

Hayato mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada Himeko.

"Terima kasih sudah menatanya. Aku sangat menghargainya."

"Sama-sama. Karena ini kencan dengan Haru-chan, sebagai adikmu, aku khawatir kamu bakal kelihatan kusam kalau berdiri di sampingnya."

"Kencan apanya. Ini cuma pergi jalan-jalan untuk bersenang-senang."

Hayato membalas seperti biasa. Normalnya, Himeko akan memarahinya dengan kata-kata "Biarpun kamu berpikir begitu, dari luar kelihatan seperti—!"

Namun hari ini, adiknya justru memberikan tatapan serba salah yang tersirat rasa kesepian.

"Tapi bagi Haru-chan, Onii-chan adalah orang yang spesial, kan?"

"Spesial? Itu berlebihan."

Bagi Haruki, Hayato adalah teman pertamanya sekaligus rekannya. Saat itu, hanya Hayato yang tahu tentang penyamarannya dan rahasia kelahirannya—jadi ya, dia memang bisa disebut orang yang spesial.

Namun hal itu sudah tidak berlaku lagi sekarang.

Hayato tertawa mengejek dirinya sendiri.

Melihat kakaknya seperti itu, Himeko menepuk punggung Hayato dengan keras seolah sedang memacunya.

"Ayolah, kalau orang spesialnya kelihatan sedikit lebih tampan, Haru-chan juga pasti akan senang."

"Aduh! Begitu ya—tunggu, jadi ini demi Haruki, bukan demi aku?"

"Kurang lebih begitu."

Hayato meninggalkan rumah, berlari ke stasiun terdekat, lalu berganti kereta menuju stasiun yang ada di depan kebun binatang.

Tidak seperti biasanya, hari ini mereka berjanji berkumpul di lokasi tujuan, bukan di stasiun lokal.

Mereka tinggal berdekatan, jadi mereka sebenarnya bisa berangkat bersama sejak awal—tetapi Himeko menyebut perjalanan ini sebagai kencan. Dan dia menyadari bahwa semua orang memang telah mengondisikan situasi ini seperti sebuah kencan.

Bagi Hayato, kencan berarti pergi keluar bersama, mempelajari sisi baru dari pasangan, dan memperdalam hubungan. Dalam artian itu, dia sudah memiliki ikatan yang kuat dengan Haruki dan tahu hampir segala hal tentang gadis itu, jadi memang benar bahwa konsep tersebut tidak terlalu pas untuk mereka.

—Tetapi bagaimana jika ada sesuatu tentang Haruki yang bahkan tidak diketahuinya?

Hal itu sangat mungkin terjadi.

Saat ini, Haruki bersikap sangat biasa hingga terasa terlalu biasa—seolah-olah kematian ibunya tidak pernah terjadi. Kealamian sikapnya yang berlebihan itu justru terasa tidak alami.

Dia teringat saat Himeko mengurung diri setelah syok karena ibu mereka pingsan.

Dia tidak bisa membedakan apakah Haruki sedang memaksakan diri, berusaha tidak memikirkannya, atau mencoba untuk melupakannya.

Padahal Haruki sudah sangat terpaku pada ibunya sejak sekian lama.

Dan mereka baru saja berdamai sebelum berpisah—tidak mungkin gadis itu tidak merasakan apa-apa.

Mungkinkah Haruki sendiri bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang syok?

Sambil memikirkan hal itu, dia tiba di stasiun tujuan.

Karena ini hari libur, stasiun sudah sangat ramai. Tidak hanya kebun binatang, tetapi di dekat sana juga terdapat taman, museum seni, gedung kebudayaan, dan museum umum, membuat suasananya sangat hidup.

Dia menyadari bahwa dirinya sedang membandingkan keramaian ini dengan konser terbesar yang pernah dilihatnya, Early Summer Live—lalu mengulas senyum kecut melihat betapa dirinya telah terpengaruh.

Nah, sekarang Haruki ada di mana? Dia harus bertemu dengannya terlebih dahulu.

Mengingat situasinya saat ini, gadis itu kemungkinan besar tidak berpakaian mencolok.

Sembari memikirkan hal itu, dia mengirim pesan: "Aku baru saja sampai."

Kemudian, saat dia keluar dari pintu pemeriksa tiket, seseorang menepuk bahunya.

"Yo, Hayato."

"Haru... ki...?"

Berbalik ke arah suara tersebut, Hayato seketika membeku.

Di sana berdiri Haruki yang mengenakan kaus unisex longgar yang menyamarkan lekuk tubuhnya, celana pendek, serta topi pet untuk melindungi diri dari sinar matahari yang masih terik. Dia membawa barang-barangnya dalam tas selempang di bahu kirinya.

Pakaiannya yang sangat bergaya cowok hingga terasa berlebihan dan sama sekali tidak memancarkan kesan kewanitaan itu entah bagaimana mirip dengan seorang anak laki-laki—tidak, tampilannya tumpang tindih secara sempurna dengan sosok Haruki yang dulu.

Dan hal itu kemungkinan besar memang sengaja dilakukan oleh Haruki.

Melihat Hayato yang bungkam karena terkejut, Haruki menyeringai seolah kejahilannya telah berhasil lalu memutar tubuhnya untuk memamerkan penampilannya.

"Bagaimana?"

Masih terjebak dalam rasa terkejut, Hayato memberikan kesan jujurnya.

"Rasanya sangat nostalgia—seperti Haruki yang dulu."

"Benar, kan? Aku memang mengincar penampilan ini!"

"Kalau begitu hari ini, ayo kita jalan-jalan seperti dulu."

"Ya!"

Diselimuti oleh perasaan aneh seolah telah kembali ke masa lalu, mereka berdua saling memandang lalu terkekeh.

Segala pembicaraan tentang kencan dari Himeko mendadak terasa konyol.

Hari ini, dia hanya akan bermain dengan Haruki seperti masa-masa lalu, seperti biasa.

Dengan tekad yang diperbarui itu, mereka berjalan bersama menuju kebun binatang.

Mengikuti petunjuk jalan dan arus kerumunan orang, mereka tiba tanpa tersesat—tetapi keduanya sama-sama mengeluarkan suara helaan napas.

"Wah, antriannya panjang sekali."

"Harusnya kita beli tiketnya secara online."

"Tapi walaupun orangnya banyak, antriannya bergerak cepat."

"Iya. Kalau begitu ayo kita ikut mengantri."

Mereka bergabung di ujung antrian loket tiket, dan kerumunan terurai lebih cepat dari perkiraan. Di belakang mereka, makin banyak orang yang terus berbaris.

Sambil menunggu, mereka mengobrol santai tentang bagaimana kebun binatang ini dibagi menjadi area timur dan barat, harga tiket masuknya yang secara mengejutkan sangat murah, serta skalanya yang sama sekali berbeda dari kebun binatang di taman kastil tua di Hokuriku—dan tak lama kemudian, mereka sudah membeli tiket tanpa menunggu lama.

Lalu, begitu mereka memasuki area kebun binatang dengan rasa antusias, Haruki bersorak melihat bangunan yang mencuri perhatiannya.

"Wah, pagoda lima tingkat! Besar dan megah sekali! Hei, ayo kita lihat ke sana, Hayato!"

"Hei, kita datang ke kebun binatang, dan tempat pertama yang ingin kamu kunjungi adalah itu?"

"Apa kamu tidak merasa itu menarik, Hayato?"

"Tentu saja menarik. Tapi kenapa ada pagoda lima tingkat di kebun binatang!?"

"Benar, kan? Mengejutkan sekali!"

"Oh, tunggu—menurut peta, ada area hewan dan burung khas Jepang tepat di dekatnya."

"Benarkah! Dan tepat di sebelah pagoda, sepertinya ada kambing hutan (serow) juga!"

"Kalau begitu ayo kita mulai dari sana."

Dengan demikian, tur kebun binatang Hayato dan Haruki pun dimulai.

Mereka dibuat kagum oleh pagoda, terkejut saat tahu kambing hutan masih berkerabat dengan sapi, dan terpesona oleh warna bulu burung jay Lidth yang sangat cerah.

Berikutnya adalah hewan wajib di kebun binatang—ukuran gajah yang luar biasa besar, aksi mandi menyegarkan menggunakan belalai, serta gerakan-gerakan menggemaskan yang memperlihatkan kepribadian tiap gajah, membuat mereka tersenyum.

Saat memperhatikan beruang cokelat dan beruang hitam Asia, mereka berkomentar bahwa jika beruang sebesar itu muncul di kota, pasti akan langsung menjadi berita utama.

Harimau hari itu, mungkin karena kelelahan oleh hawa panas, sedang tidur terlentang dengan perut menghadap ke atas. Melihat penampilannya yang mirip kucing besar, mereka tertawa dan berkata kalau hewan itu mirip sekali dengan Tsukushi.

Di area burung pemangsa, perhatian mereka tertarik oleh sorot mata yang tajam dan cerdas dari elang, rajawali, dan burung kondor.

Di gedung hewan nokturnal dengan pencahayaan yang remang-remang, mereka mengamati primata purba seperti kukang dan kelelawar dengan minat yang besar.

Merasakan pengalaman melihat hewan-hewan yang tidak biasa ditemui dengan seluruh panca indra, serta berbagi rasa terkejut dan kagum, melipatgandakan kenikmatan perjalanan mereka.

Dan pada saat mereka telah menjelajahi sebagian besar area timur, waktu makan siang pun tiba.

Berjalan-jalan ke mana-mana telah membuat mereka cukup lelah.

Hayato memberi isyarat ke arah area istirahat yang berjajar tempat jualan makanan lalu berkata pada Haruki.

"Bagaimana kalau kita makan siang sekarang? Sepertinya mereka menjual makanan di sebelah sana."

"Sebenarnya, aku sudah membuat bento. Aku juga membawakan satu untukmu."

"Oh, ya?"

"Iya, ada sesuatu yang ingin kucoba buat. Aku akan mencari tempat duduk, jadi bisakah kamu membelikan minuman untuk kita?"

"Paham."

Dia terkejut Haruki telah membuat bento.

Setelah membeli teh kemasan botol dari mesin penjual otomatis, Hayato memindai area istirahat yang ramai dan mendapati Haruki melambai lebar ke arahnya.

Meskipun gadis itu tampil mencolok, tidak ada yang mengenalinya sebagai Haruki dari Twinkle. Dengan senyum kecut, Hayato menghampirinya dan meletakkan teh di atas meja.

Haruki menunggu sampai Hayato duduk di hadapannya, lalu mengeluarkan bento dari tasnya dan menatanya.

"Ta-da!"

Haruki merentangkan tangannya dan memamerkan bento buatannya dengan bangga.

Ukurannya sangat sederhana.

Hidangan utamanya adalah nasi kepal yang dibungkus foil aluminium, dan lauknya—di dalam wadah makanan sekali pakai—adalah telur gulung dan sosis berbentuk gurita. Tusuk gigi juga sudah disediakan.

Melihat bento tersebut, rasa antusias Hayato membumbung tinggi, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berseru.

"Ini bento tamasya sekolah!"

Melihat reaksi Hayato, Haruki tersenyum kemenangan.

"Kamu suka hal-hal seperti ini, kan?"

"Siapa yang tidak suka? Atau lebih tepatnya, apa ada orang yang tidak suka!?"

"Benar, kan. Waktu aku berpikir untuk pergi ke kebun binatang, aku teringat acara tamasya sekolah. Aku tidak pernah ikut tamasya sekolah bersamamu, Hayato, jadi aku ingin merasakan suasana seperti itu."

Haruki tampak malu-malu, dan Hayato teringat bahwa hal itu memang benar, lalu tersenyum lembut.

"Iya, akan sangat menyenangkan kalau kita bisa melakukan hal-hal yang belum pernah kita lakukan bersamamu."

Mereka menyeka tangan dengan tisu basah, menyatukan kedua tangan dan mengucapkan "Selamat makan," lalu menjangkau bento buatan Haruki.

Isian nasi kepalnya adalah buah plum klasik. Setelah cukup banyak berkeringat, rasa asam dari plum meresap ke dalam tubuhnya. Telur gulungnya terasa manis, sangat pas dinikmati di sela-sela gigitan nasi kepal. Keberadaan sosis gurita saja sudah membuat bento tersebut terasa sangat meriah.

Saat mereka makan dengan lahap, Haruki memulai percakapan.

"Ngomong-ngomong, Hayato, kamu mengambil banyak foto memakai ponselmu, ya."

"Iya, seperti harimau yang kelihatan persis seperti kucing itu, beruang kutub yang agak gagal saat menyelam ke kolam, dan elang laut Steller yang memasang pose dengan sayap terbentang—aku refleks saja mengambil gambarnya. Coba lihat."

Hayato mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto-fotonya. Haruki membelalakkan mata lalu terkekeh.

"Ahaha, aku ingat adegan-adegan itu—tapi kamu benar-benar mengambil gambarnya dengan bagus ya?"

"Aku pikir ini kesempatan untuk mengambil foto yang bakal bikin semua orang menyesal karena tidak ikut dengan kita."

"Jelas saja, kalau melihat foto-foto ini, mereka pasti berharap bisa melihatnya secara langsung."

"Benar, kan?"

"Iya, iya. Aku ingat waktu melihat foto-foto yang kamu ambil di Tsukinose kemarin—seperti foto yang viral dengan tagar '#KesalahanMari'."

"Foto yang saat domba memakan jagung hasil panen?"

"Yang itu! Dan foto-foto lain yang kamu kirim ke grup obrolan—seperti Saki-chan berpakaian miko yang membawa papan pengumuman warga, atau Shinta-kun dan Tsukushi-chan yang berdiri di atas pawai dengan wajah 'kamilah bintangnya', atau Hime-chan yang gagal membuka ramune sampai tumpah. Melihat semua itu membuatku berpikir, 'Ah, andaikan aku juga ikut pergi.'"

"Yah, aku mengambil foto-foto itu justru supaya kamu berpikir begitu."

"Hmph, kamu jahat sekali."

Haruki merajuk, dan Hayato memasang wajah jahil seolah sedang mengejeknya.

Setelah saling menatap selama beberapa saat, mereka berdua sama-sama meledak dalam tawa.

"Haha."

"Ahaha."

Setelah tertawa sejenak, Haruki menyapu sudut matanya dengan punggung tangan lalu bergumam dengan tulus.

"Hayato, kamu sudah jadi terbiasa mengambil foto di setiap kesempatan, ya?"

"Sebenarnya, aku sudah mengambil foto tanpa berpikir sejak dulu. Aku mulai melakukannya secara sadar saat mulai membantu klub penggemar tidak resmi Twinkle."

"Oh, kalau kamu mendapat beberapa foto bagus hari ini, apa kamu bakal mengunggahnya di halaman tidak resmi?"

Hal itu tidak terpikirkan olehnya. Hayato mengerutkan dahi lalu menjawab.

"Kalau kamu belum mau publik tahu kamu memotong rambutmu, kita tidak bisa mengunggahnya."

"Bukan, maksudku foto hewan-hewannya, bukan fotoku."

"Tetap saja, itu sudah menyimpang terlalu jauh dari tujuan klub penggemar tidak resmi."

"Tapi kurasa foto-foto itu bakal viral—fotonya bagus-bagus sekali."

"Aku mengambilnya bukan untuk bikin viral."

"Hmm, tapi karena kamu dapat foto-foto yang menarik, aku cuma merasa ingin membagikannya kepada banyak orang."

Ketika Haruki bilang dirinya hanya ingin membagikan kesenangan dengan orang lain, rasanya sulit untuk menolak secara mentah-mentah.

Hayato berpikir sejenak, lalu mengangkat bahunya.

"Nanti kutanyakan pada Mari dan biarkan dia yang memutuskan."

"Oke."

Setelah menyelesaikan makan siang, mereka memutuskan untuk menjelajahi area barat.

Di tengah jalan, mereka melewati bekas stasiun monorail yang dulu menghubungkan area timur dan barat, lalu mengobrol tentang betapa mereka ingin sekali menaikinya.

Pertama-tama, mereka berinteraksi dengan hewan-hewan yang sudah tak asing seperti kuda, kambing, dan kelinci, namun tertawa karena hewan-hewan itu tidak terlihat di Tsukinose. Mereka mengagumi sifat alpaka yang suka berubah-ubah dan terkejut oleh ukuran serta keramahan burung emu.

Selanjutnya, mereka mengunjungi panda merah dan terpesona oleh keimutannya yang berbulu lebat—seperti boneka hidup. Di dekat sana, warna-warni burung kuau yang mencolok mencuri perhatian mereka.

Di area hewan Afrika, mereka dibuat kagum oleh tinggi jerapah dan terpukau oleh penampilan badak yang tampak seperti mengenakan baju besi. Kuda nil yang berenang dengan malas di kolam membuat hati mereka terasa hangat.

Di antara pameran hewan kecil, yang paling menarik perhatian mereka adalah kucing Pallas. Keimutannya yang berbulu lebat bercampur dengan keganasan liar yang tak terbantahkan membuat mereka terpikat.

Mereka juga memasuki bangunan yang menampilkan hewan amfibi dan reptil.

Mereka menemukan salamander raksasa yang tampak seperti menyatu dengan batu, buaya muara yang memiliki kehadiran lebih kuat dari mereka sendiri, penyu raksasa yang bergerak lamban, dan ular piton yang gagah—makhluk-makhluk dengan jenis daya tarik yang berbeda dari mamalia, yang mereka pandangi dengan penuh minat.

Dihadapkan dengan makhluk-makhluk unik ini, Hayato dan Haruki kembali menjadi seperti anak kecil dan merasa sangat antusias.

Setelah menjelajahi sebagian besar area barat, mereka mengunjungi kembali hewan-hewan yang ingin mereka lihat lagi—harimau, beruang kutub, gajah, jerapah, dan kuda.

Kemudian mereka menuju ke toko suvenir.

Di sana terdapat barang-barang standar seperti boneka, maskot, dan gantungan kunci yang menampilkan berbagai hewan, bersama dengan kaus, kaus kaki, alat tulis, barang-barang umum, serta makanan ringan—hal yang bisa dilihat seolah tidak ada habisnya.

Saat mereka mendongak, sinar matahari sudah sangat meredup.

Karena mereka tinggal agak jauh, Hayato dan Haruki memutuskan untuk pulang lebih awal.

Di dalam kereta saat perjalanan pulang, mereka melihat-lihat foto yang diambil Hayato—kuda nil yang menguap dan memperlihatkan taring yang mengejutkan besarnya, alpaka yang menatap polos saat anak-anak menyemut di sekitarnya—lalu tertawa saat mengenang kejadian hari itu. Tak lama kemudian mereka tiba di stasiun lokal yang biasa.

Melewati pintu pemeriksa tiket, langit barat sudah mulai berwarna sedikit kemerahan.

Sudah waktunya untuk mulai menyiapkan makan malam.

Setiap kali mereka pergi keluar untuk bermain, mereka sering mampir ke supermarket dalam perjalanan pulang.

Haruki yang teringat hal itu bertanya.

"Apakah kita mampir belanja dalam perjalanan pulang hari ini?"

"Tidak, Himeko bilang dia dan Saki yang akan menyiapkannya hari ini."

"Hime-chan? Jarang sekali."

"Dia bilang mau buat kari. Kalau ada Saki-san, tidak mungkin bakal gagal."

Hayato berkata dengan nada bercanda, dan Haruki tertawa, "Iya."

Mereka berjalan menyusuri area pemukiman yang makin familiar sejak mereka datang ke kota, bayangan mereka yang memanjang mengekor di belakang.

Sisa-sisa keseruan dari kebun binatang masih berbekas.

Mereka merasa lelah dan langkah kaki mereka agak berat, tetapi itu bukan perasaan yang buruk.

Berjalan pulang berdampingan dengan Haruki, dia menatap matahari terbenam yang membangkitkan rasa nostalgia yang kuat.

Hari itu, di penghujung musim panas.

Saat dia bertukar kata perpisahan dengan Haruki muda, suasananya persis seperti ini.

Kenangan itu mendadak muncul kembali, membuat dadanya terasa sesak.

Mengapa hal itu terlintas di pikirannya?

Hayato tahu, secara samar-samar.

Tetapi dia tidak ingin mengakuinya.

Saat itulah, Haruki tersenyum.

"Bagaimanapun juga, hari ini menyenangkan sekali, ya?"

Hayato merenungkan hari ini dan bertanya pada dirinya sendiri.

Dia telah dibuat antusias dan terharu oleh hewan karnivora yang gagah dari dekat, hewan herbivora yang tangguh dengan tubuh besarnya, serta berbagai hewan menggemaskan lainnya, dan dia telah terbawa suasana bersama Haruki melihat penampilan mereka yang kontras—sangat menikmatinya hingga dia secara tidak sadar terus mengambil foto.

Jadi dia bisa menjawab pertanyaannya dengan senyuman lebar.

"Iya, hari ini benar-benar menyenangkan."

"Aku ingin pergi lagi, lain kali bersama semuanya."

"Tentu saja. Bukan cuma hewan-hewannya, tapi aku juga penasaran dengan reaksi yang lainnya. Aku bahkan mungkin bisa dapat foto bagus untuk '#KesalahanMari'."

"Hari ini kamu sendiri kelihatan seperti anak kecil, Hayato, matamu berbinar-binar."

Haruki menggodanya dengan tatapan jahil, dan Hayato mengerutkan dahi.

"Apa aku benar-benar seperti itu?"

"Iya. Persis seperti saat kamu memamerkan kumbang rusa Miyama pertamamu deng bangga, atau saat kita berburu harta karun di gunung dan menemukan kuil tua, atau saat kamu menemukan batu bulat yang berkilau di tepi sungai. Aku adalah pengamat ekspresi Hayato nomor satu, jadi aku bisa menjaminnya."

"Yang bener saja..."

Itu adalah percakapan penuh gurauan yang telah mereka bagikan selama bertahun-tahun.

Hari ini, berada hanya berdua dengan Haruki setelah sekian lama membuatnya sangat menyadari masa lalu.

Kemudian Haruki bergumam pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

"Kehidupan sehari-hari seperti ini memang sangat bagus. Aku senang bisa kembali."

Hayato berpura-pura tidak menyadari ucapan tulus itu dan menjawab.

"Begitu ya."

"Dan ada makanan yang menunggu di rumah juga rasanya menyenangkan."

"Iya, menyenangkan karena tidak perlu repot-repot menyiapkannya."

"Bukan, bukan itu maksudku—maksudku ada seseorang yang menunggumu."

"Oh, itu. Ibu pulangnya malam, tahu."

"Kerja paruh waktu?"

"Iya, disesuaikan dengan jadwal Ayah yang pulang malam. Kami yang masih anak-anak tumbuh berkembang tidak bisa menunggu sedemikian lamanya."

"Kita juga sedang kelaparan setengah mati sekarang, kan?"

Sembari berkata demikian, Haruki bergumam riang, dan Hayato mengangguk, "Iya."

Namun percakapan mereka terasa agak hampa.

Melihat Haruki berjalan di depan dengan langkah ringan, dia mengeluarkan ponselnya dan membuka foto-foto yang diambilnya di kebun binatang.

Foto-foto itu semuanya adalah bahan yang sempurna untuk menggoda yang lain saat makan malam nanti.

Dia pikir dia telah mengabadikan banyak foto yang mengesankan.

Hanya dengan membayangkan reaksi Himeko dan Saki saja sudah membuatnya tersenyum.

Namun di antara semua foto yang dia ambil hari ini, tidak ada satu pun foto Haruki.

Bukan karena dia bersikap tenggang rasa terhadap potongan rambut barunya.

Jika gadis itu menunjukkan momen yang memikat seperti yang sering dia lakukan di masa lalu, Hayato pasti akan mengambil fotonya secara alami.

Namun dia tidak mengambil satu pun.

Haruki tidak menunjukkan ekspresi wajah yang membuatnya ingin mengabadikannya dalam foto.

Bahkan sekarang, gadis itu sedang tersenyum, tetapi rasanya entah bagaimana seperti palsu.

"…………"

Hayato mengembuskan napas perlahan dan mengakuinya dalam hati.

—Haruki tidak sedang tersenyum dengan sungguh-sungguh.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close