Pertemuan Kecil
Tempat
yang didatangi ibuku ini adalah daerah pedesaan yang luar biasa terpencil.
Di
sekeliling tidak ada apa-apa selain gunung dan ladang, dan sesekali domba
melintas di jalanan.
Jangankan
toko yang layak untuk membeli barang, minimarket pun tidak ada—paling banyak
hanya ada beberapa mesin penjual otomatis yang fungsinya meragukan.
Aku jujur
bertanya-tanya apakah tempat ini benar-benar masih bagian dari Jepang! Ada satu
toko di fasilitas penginapan tempat kami menginap, tetapi semua yang mereka
jual hanyalah barang-barang oleh-oleh khas daerah.
Ini jelas
bukan tempat di mana anak-anak sepertiku bisa bersenang-senang.
Aku
merasa seperti orang bodoh karena sempat menantikan perjalanan ini setelah
mendengar bakal ada festival. Kalau tahu desanya membosankan begini, aku tidak
akan mau ikut.
Sementara
itu, ibuku tampak girang bukan main sejak kami tiba, sibuk berceloteh soal
idola favoritnya yang bakal tampil di festival.
Dan tampaknya,
kami bakal menginap di sini selama beberapa hari.
Ibuku tampak
menikmati waktunya seperti turis biasa, tetapi bagiku, ini tidak ada bedanya
dengan siksaan.
Dia pergi
sendirian untuk melakukan apa yang dia sebut sebagai "wisata ziarah tempat
suci".
Orang-orang lain
di sekitar sini sepertinya juga melakukan hal yang sama.
Hanya aku
satu-satunya anak kecil di sekitar sini.
Tampaknya mereka
datang bukan demi festival itu sendiri, melainkan untuk melihat sang idola.
Ugh, tidak ada
gunanya sama sekali.
Memangnya
apa yang hebat dari seorang idola?
Semua ini terasa
begitu konyol sampai membuatku mual.
Lagipula, ibuku
mungkin memang tidak tertarik padaku.
Di rumah pun dia
hampir tidak pernah mengusikku.
Dia selalu
berjiwa bebas dan egois.
Itu mungkin
alasan kenapa ayahku pergi meninggalkannya.
Karena situasi
keluargaku yang tidak biasa, di sekolah pun rasanya seperti harus selalu
berhati-hati saat melangkah.
Aku sudah
terbiasa diabaikan oleh ibuku. Dan aku sudah terbiasa menyendiri.
Lagi
pula, membuang-buang waktu saja berinteraksi dengan anak laki-laki yang selalu
heboh sendiri gara-gara video pendek, atau anak perempuan yang selalu berusaha
saling mengungguli satu sama lain.
Meskipun begitu,
karena tidak ada pekerjaan, aku memutuskan untuk keluar rumah.
Aku
menuju ke pusat desa, tepat di depan kotak pos. Itu adalah tempat yang cukup
mencolok. Aku memutuskan
untuk bermain konsol gim yang kubawa dari rumah.
Anak
kecil yang sendirian pasti bakal mencolok, kan?
Aku bakal
jadi bahan pembicaraan di desa, orang-orang bakal bertanya-tanya apa yang
dilakukan orang tuaku, dan ibuku akan merasa malu. Itu balasan yang setimpal
untuknya.
Aku
memainkan gimku sebentar sambil memikirkan hal itu, ketika tiba-tiba ada yang
menyapaku.
"Hei, kamu
sendirian?"
"Kamu lagi
main gim apa?"
"……Eh?"
Aku mendongak dan
melihat seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang seumuran
denganku—jenis anak-anak yang tampak sangat cocok dengan kata
"petualang" dan "tomboy".
Merekalah tipe
anak-anak yang tidak pernah ada di sekitarku.
Fitur wajah
mereka juga cukup menawan, sangat berbanding terbalik dengan penampilanku yang
kusam.
Saat aku
kebingungan dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana, anak laki-laki dan
perempuan itu terus tersenyum dan mengajakku bicara.
"Ah, aku
punya gim itu juga! Seru
banget, kan!"
"Aku
jago banget main itu!"
"Kapan-kapan
kita bertarung, ya!"
"Tapi
sekarang, ayo kita pergi ke sungai!"
"Ehh, ayo ke
gunung aja. Kata Ayah, di gunung ada buah beri gunung."
"Kalau gitu
ke gunung juga boleh!"
"Makanya
ayo, kamu ikut kita!"
"Ayo pergi,
ayo pergi!"
Sembari berkata
begitu, anak laki-laki dan perempuan itu menggenggam tanganku dan menarikku.
Terkejut oleh
tindakan yang mendadak itu, secara refleks aku menghempaskan tangan mereka.
"Bising.
Pergi sana, jangan ganggu!"
Itu
buruk.
Aku
terlanjur mengucapkannya, dan melihat mata anak laki-laki dan perempuan itu
membelalak terkejut, aku langsung diliputi rasa penyesalan.
Aku tidak
bermaksud mengucapkannya secara serius.
Tapi aku tahu
kata-kata itu pasti menyakiti siapa pun yang mendengarnya.
Aku tahu aku ini
muram dan buruk dalam berkata-kata.
Dan aku tahu aku
juga tidak begitu ramah.
Karena itulah aku
tidak punya teman.
Ingatan
tentang teman-teman sekelas yang datang mengajakku bicara lalu dengan cepat
pergi meninggalkanku berkelebat di benakku.
Namun,
dua orang di depanku ini seolah tidak peduli—mereka menggenggam tanganku lagi.
"Udah,
ayo ikut main! Aku tahu tempat yang bagus!"
"Ada markas
rahasia, markas rahasia!"
"……Ah……"
Mengecualikan
keraguanku, mereka menarikku lagi, dan kali ini aku pun mulai ikut berlari.
Dan mereka
menyeretku ke berbagai tempat.
Sungai, jalan
setapak di sawah, hutan.
Lubang di pohon
besar, tumpukan kayu bekas, kuil kecil di pegunungan.
Ini adalah
petualangan nyataku yang pertama.
Setiap tempat
yang kami kunjungi tampak bersinar.
Mungkin karena
senyuman anak laki-laki dan perempuan ini memancar begitu cerah.
Ini rasanya jauh
lebih menyenangkan daripada apa pun yang pernah kurasakan sepanjang hidupku.
Aku baru
menyadari kalau desa ini, yang tadinya tampak sangat kosong, ternyata merupakan
harta karun tempat bermain.
Aku tidak
pernah mengetahui hal-hal seperti ini sebelumnya.
Dan untuk
pertama kalinya, aku mempelajari indahnya bermain bersama seseorang dan berbagi
kebahagiaan.
Aku
benar-benar orang bodoh karena tidak mengetahui semua ini sebelumnya.
Jadi saat senja
tiba hari itu, ketika tiba waktunya untuk berpisah—
Aku
memberanikan diri dan bertanya kepada mereka.
"Anu,
nama kalian siapa...?"
Anak
laki-laki dan perempuan itu bertukar pandang, seolah baru menyadari kalau
mereka juga belum saling menanyakan nama masing-masing, lalu tersenyum.
"Aku
Masaki!"
"Aku
Rio!"
"A-aku—"
Ini adalah
pertemuan pertamaku dengan teman-teman.
Teman sejati
pertamaku, yang bersamanya aku bisa membicarakan apa saja tanpa harus menahan
diri.
Aku yakin aku
tidak akan pernah melupakan hari ini, bahkan ketika aku dewasa nanti.
Meskipun kami
tinggal berjauhan, setelah musim panas itu kami mempererat hubungan kami
melalui gim dan obrolan daring.
Dan ketika aku
bertemu kembali dengan Masaki dan Rio di sekolah baruku, ketika mereka
mengetahui kalau aku sebenarnya adalah seorang gadis, dan ketika kami tahu
kalau mereka adalah anak kembar dari aktris hebat Nikaidou Haruki—itu adalah
cerita untuk nanti.
(Tamat)



Post a Comment