NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Side Story

Pertemuan Kecil


Tempat yang didatangi ibuku ini adalah daerah pedesaan yang luar biasa terpencil.

Di sekeliling tidak ada apa-apa selain gunung dan ladang, dan sesekali domba melintas di jalanan.

Jangankan toko yang layak untuk membeli barang, minimarket pun tidak ada—paling banyak hanya ada beberapa mesin penjual otomatis yang fungsinya meragukan.

Aku jujur bertanya-tanya apakah tempat ini benar-benar masih bagian dari Jepang! Ada satu toko di fasilitas penginapan tempat kami menginap, tetapi semua yang mereka jual hanyalah barang-barang oleh-oleh khas daerah.

Ini jelas bukan tempat di mana anak-anak sepertiku bisa bersenang-senang.

Aku merasa seperti orang bodoh karena sempat menantikan perjalanan ini setelah mendengar bakal ada festival. Kalau tahu desanya membosankan begini, aku tidak akan mau ikut.

Sementara itu, ibuku tampak girang bukan main sejak kami tiba, sibuk berceloteh soal idola favoritnya yang bakal tampil di festival.

Dan tampaknya, kami bakal menginap di sini selama beberapa hari.

Ibuku tampak menikmati waktunya seperti turis biasa, tetapi bagiku, ini tidak ada bedanya dengan siksaan.

Dia pergi sendirian untuk melakukan apa yang dia sebut sebagai "wisata ziarah tempat suci".

Orang-orang lain di sekitar sini sepertinya juga melakukan hal yang sama.

Hanya aku satu-satunya anak kecil di sekitar sini.

Tampaknya mereka datang bukan demi festival itu sendiri, melainkan untuk melihat sang idola.

Ugh, tidak ada gunanya sama sekali.

Memangnya apa yang hebat dari seorang idola?

Semua ini terasa begitu konyol sampai membuatku mual.

Lagipula, ibuku mungkin memang tidak tertarik padaku.

Di rumah pun dia hampir tidak pernah mengusikku.

Dia selalu berjiwa bebas dan egois.

Itu mungkin alasan kenapa ayahku pergi meninggalkannya.

Karena situasi keluargaku yang tidak biasa, di sekolah pun rasanya seperti harus selalu berhati-hati saat melangkah.

Aku sudah terbiasa diabaikan oleh ibuku. Dan aku sudah terbiasa menyendiri.

Lagi pula, membuang-buang waktu saja berinteraksi dengan anak laki-laki yang selalu heboh sendiri gara-gara video pendek, atau anak perempuan yang selalu berusaha saling mengungguli satu sama lain.

Meskipun begitu, karena tidak ada pekerjaan, aku memutuskan untuk keluar rumah.

Aku menuju ke pusat desa, tepat di depan kotak pos. Itu adalah tempat yang cukup mencolok. Aku memutuskan untuk bermain konsol gim yang kubawa dari rumah.

Anak kecil yang sendirian pasti bakal mencolok, kan?

Aku bakal jadi bahan pembicaraan di desa, orang-orang bakal bertanya-tanya apa yang dilakukan orang tuaku, dan ibuku akan merasa malu. Itu balasan yang setimpal untuknya.

Aku memainkan gimku sebentar sambil memikirkan hal itu, ketika tiba-tiba ada yang menyapaku.

"Hei, kamu sendirian?"

"Kamu lagi main gim apa?"

"……Eh?"

Aku mendongak dan melihat seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang seumuran denganku—jenis anak-anak yang tampak sangat cocok dengan kata "petualang" dan "tomboy".

Merekalah tipe anak-anak yang tidak pernah ada di sekitarku.

Fitur wajah mereka juga cukup menawan, sangat berbanding terbalik dengan penampilanku yang kusam.

Saat aku kebingungan dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana, anak laki-laki dan perempuan itu terus tersenyum dan mengajakku bicara.

"Ah, aku punya gim itu juga! Seru banget, kan!"

"Aku jago banget main itu!"

"Kapan-kapan kita bertarung, ya!"

"Tapi sekarang, ayo kita pergi ke sungai!"

"Ehh, ayo ke gunung aja. Kata Ayah, di gunung ada buah beri gunung."

"Kalau gitu ke gunung juga boleh!"

"Makanya ayo, kamu ikut kita!"

"Ayo pergi, ayo pergi!"

Sembari berkata begitu, anak laki-laki dan perempuan itu menggenggam tanganku dan menarikku.

Terkejut oleh tindakan yang mendadak itu, secara refleks aku menghempaskan tangan mereka.

"Bising. Pergi sana, jangan ganggu!"

Itu buruk.

Aku terlanjur mengucapkannya, dan melihat mata anak laki-laki dan perempuan itu membelalak terkejut, aku langsung diliputi rasa penyesalan.

Aku tidak bermaksud mengucapkannya secara serius.

Tapi aku tahu kata-kata itu pasti menyakiti siapa pun yang mendengarnya.

Aku tahu aku ini muram dan buruk dalam berkata-kata.

Dan aku tahu aku juga tidak begitu ramah.

Karena itulah aku tidak punya teman.

Ingatan tentang teman-teman sekelas yang datang mengajakku bicara lalu dengan cepat pergi meninggalkanku berkelebat di benakku.

Namun, dua orang di depanku ini seolah tidak peduli—mereka menggenggam tanganku lagi.

"Udah, ayo ikut main! Aku tahu tempat yang bagus!"

"Ada markas rahasia, markas rahasia!"

"……Ah……"

Mengecualikan keraguanku, mereka menarikku lagi, dan kali ini aku pun mulai ikut berlari.

Dan mereka menyeretku ke berbagai tempat.

Sungai, jalan setapak di sawah, hutan.

Lubang di pohon besar, tumpukan kayu bekas, kuil kecil di pegunungan.

Ini adalah petualangan nyataku yang pertama.

Setiap tempat yang kami kunjungi tampak bersinar.

Mungkin karena senyuman anak laki-laki dan perempuan ini memancar begitu cerah.

Ini rasanya jauh lebih menyenangkan daripada apa pun yang pernah kurasakan sepanjang hidupku.

Aku baru menyadari kalau desa ini, yang tadinya tampak sangat kosong, ternyata merupakan harta karun tempat bermain.

Aku tidak pernah mengetahui hal-hal seperti ini sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya, aku mempelajari indahnya bermain bersama seseorang dan berbagi kebahagiaan.

Aku benar-benar orang bodoh karena tidak mengetahui semua ini sebelumnya.

Jadi saat senja tiba hari itu, ketika tiba waktunya untuk berpisah—

Aku memberanikan diri dan bertanya kepada mereka.

"Anu, nama kalian siapa...?"

Anak laki-laki dan perempuan itu bertukar pandang, seolah baru menyadari kalau mereka juga belum saling menanyakan nama masing-masing, lalu tersenyum.

"Aku Masaki!"

"Aku Rio!"

"A-aku—"

Ini adalah pertemuan pertamaku dengan teman-teman.

Teman sejati pertamaku, yang bersamanya aku bisa membicarakan apa saja tanpa harus menahan diri.

Aku yakin aku tidak akan pernah melupakan hari ini, bahkan ketika aku dewasa nanti.

Meskipun kami tinggal berjauhan, setelah musim panas itu kami mempererat hubungan kami melalui gim dan obrolan daring.

Dan ketika aku bertemu kembali dengan Masaki dan Rio di sekolah baruku, ketika mereka mengetahui kalau aku sebenarnya adalah seorang gadis, dan ketika kami tahu kalau mereka adalah anak kembar dari aktris hebat Nikaidou Haruki—itu adalah cerita untuk nanti.

(Tamat)


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close