NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 3 Prolog

Prolog: Suou


Di sebuah kawasan yang lazim disebut sebagai perumahan mewah oleh masyarakat umum, tempat rumah-rumah besar berdiri berjejer, kediaman itu berada.

 

Di balik taman yang tertata rapi, berdiri sebuah bangunan bergaya Barat dengan perawakan yang memancarkan kesan sejarah. Rumah yang tampak begitu megah bahkan jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya ini tidak lain adalah kediaman keluarga Suou, sebuah keluarga terpandang dengan sejarah ratusan tahun.

 

Di salah satu ruangannya saat ini, tiga anggota keluarga yang tinggal di kediaman tersebut sedang menikmati santap malam. Di ruang luas bertaraf anggun dan tenang secara keseluruhan itu, terdapat sebuah meja panjang. Seseorang yang duduk di kursi kehormatan dengan membelakangi perapian adalah tuan rumah kediaman ini. Kepala keluarga Suou saat ini, Suou Gensei.

 

Tubuhnya yang telah menginjak usia enam puluh sembilan tahun itu, bagaimanapun, sama sekali tidak memperlihatkan kemunduran akibat usia. Tubuh itu begitu tegap, berpadu dengan punggung yang tegak lurus, menciptakan perawakan yang benar-benar gagah. Kerutan yang terukir di wajahnya justru memberinya wibawa, tanpa memperlihatkan sedikit pun kesan lemah. Wibawanya tak ubahnya pohon tua raksasa yang telah mengukir lingkar tahun di tengah terpaan angin dan hujan yang ganas.

Duduk berjejer di hadapan Gensei adalah putrinya, Suou Yumi, dan cucu perempuannya, Suou Yuki. Kecuali perbedaan besar pada tinggi dan postur tubuh, pasangan ibu dan anak ini sangat mirip. Penampilan mereka begitu serupa hingga orang akan berpikir Yuki di masa depan akan menjadi seperti itu jika bertambah tua. Hanya saja, di tengah hidung, mulut, dan garis wajah yang sangat mirip tersebut, hanya mata merekalah yang berbeda.

 

Tak seperti Yuki, Yumi sang ibu memiliki mata yang agak terkulai ke bawah, dengan tahi lalat peninggalan air mata di bawah mata kanannya.

 

Mata itu dan ekspresinya yang entah mengapa terkesan suram memancarkan kesan agak penakut, bertolak belakang dengan sang ayah, Gensei.

 

"...Kabarnya, kemarin baru saja diadakan sidang Dewan Siswa, ya."

 

Setelah santap malam berjalan sampai tahap tertentu, Gensei perlahan membuka suara.

 

"Kalau tidak salah, pesertanya adalah Masachika dan putri dari Taniyama Heavy Industries."

 

"Iya. Tapi lebih tepatnya, Onii-sama hanya bertindak sebagai asisten Kujou-san."

 

Yuki memberikan pembetulan untuk formalitas, meski ia berpikir hal semacam itu pasti sudah disampaikan oleh Ayano yang saat ini sedang bersiap di belakang tubuhnya. Namun, seperti yang sudah diduga, Gensei mendengus seolah tidak berminat sama sekali pada hal sepele semacam itu.

 

"Padahal di SMP dia adalah lawan yang bertarung dengannya sampai akhir, tapi ternyata hanya selevel itu... Kudengar dia malah keluar di

tengah-tengah majelis, kan?"

 

"Benar. Sepertinya ada suatu alasan."

 

"Hmph! Bagaimanapun juga, hasilnya membuat Masachika berhasil

menambah gengsi sebagai kandidat ketua OSIS."

 

Sambil meneguk isi gelasnya dengan wajah tidak senang, ia meletakkan gelas kosong itu ke atas meja. Nenek Ayano yang bersiap di belakang Gensei dengan sigap menuangkan anggur ke dalam gelas yang kosong tersebut. Setelah menunggu hal itu selesai, Gensei mengarahkan pandangannya yang tajam menuju Yuki.

 

"Dengar, ya. Tak peduli siapa pun lawannya, kekalahan tidak akan diampuni. Kamu harus menjadi ketua OSIS Akademi Seirei."

 

"Saya mengerti, Kakek."

 

"Memang benar, dari segi bakat kamu tidak bisa menandingi Masachika. Namun, kamu tahu betul apa tanggung jawab dari seorang pemilik bakat. Dalam hal itu, si Masachika itu sama sekali tidak berguna. Walau memiliki bakat yang lebih unggul dari siapa pun dan berada di lingkungan yang diberkahi, dia malah membuangnya."

Yumi perlahan menundukkan pandangannya saat mendengar Gensei mengucapkannya dengan nada pahit seolah meludahkan kata-kata itu.

 

"Dengar? Dunia ini tidak adil. Kekayaan, silsilah keluarga, penampilan, dan juga bakat. Terbagi secara jelas antara mereka yang terlahir memiliki dan tidak memiliki. Yuki, kamu terlahir sebagai seorang yang memiliki dalam segala hal. Jika demikian, kamu harus mengembalikan bagian itu kepada dunia. Itulah tanggung jawab seorang pemilik."

 

Itu adalah ajaran yang telah ditanamkan sejak masa kecil Yuki dan kakaknya. Nilai absolut bagi seorang Suou Gensei.

 

"Ketahuilah bahwa seorang pemilik bakat yang tidak memanfaatkannya dan membiarkannya membusuk adalah sebuah dosa. Orang yang berbakat memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkannya demi dunia. Kamu kalah dari orang yang telah membuang tanggung jawab itu adalah hal yang mutlak tidak boleh terjadi. Kamu paham, kan, Yuki?"

 

Mendengar kata-kata yang keras terhadap kakak tercintanya, hati Yuki bergejolak. Namun, tanpa memperlihatkan isi hatinya sedikit pun, Yuki tetap mempertahankan senyuman anggunnya.

 

"Iya, Kakek."

 

Begitulah, ia mengangguk dengan tenang.

 

 

"Yuki-san."

"? Ibu?"

 

Selesai makan dan hendak kembali ke kamarnya, Yuki berbalik dengan rasa terkejut karena jarang sekali ibunya memanggilnya.

 

"Ada apa?"

 

"..."

 

Meski ditanya tujuannya, Yumi hanya terus menatap ke arah bawah serong tanpa kunjung angkat bicara. Tetap menunggu dengan sabar, tidak lama kemudian Yumi pun bergumam pelan.

 

"Apakah... hubunganmu dengan Masachika baik-baik saja?"

 

"Iya. Tentu saja."

 

"...Gitu, ya."

 

Melihat Yuki yang menjawab sambil tersenyum cerah, Yumi mengangguk sambil memalingkan pandangannya.

 

"Anu, ada apa dengan Onii-sama?"

 

"Tidak, tidak apa-apa. ...Setelah ini, jadwalmu pelajaran bahasa Mandarin, kan?"

 

"Iya. Secara daring."

 

"Begitu... Berjuanglah."

 

"Iya."

 

Yuki membungkuk dengan anggun, lalu melangkah menuju kamarnya ditemani Ayano. Yumi menatap punggung itu dengan lekat.

 

"Haaa..."

 

Menutup pintu kamarnya, Yuki menghela napas kecil. Kemudian, sambil tetap menghadap ke depan, ia memanggil Ayano yang bersiap di

belakangnya.

 

"...Ayano."

 

"Iya, Yuki-sama."

 

"Bisa jadi guling sebentar?"

 

"Dengan senang hati."

 

Mendengar perintah yang bakal membuat orang yang tidak tahu

meragukan telinganya sendiri itu, Ayano malah mengangguk seolah sudah terbiasa, lalu berbaring di atas tempat tidur sambil berkata, "Permisi."

 

Di sana, Yuki langsung menindihnya tanpa suara, memeluknya dari depan, lalu membenamkan wajahnya di dada Ayano.

Sambil terus memeluk Ayano seperti itu, Yuki berguling ke kanan dan ke kiri, lalu menggosok-gosokkan kepalanya ke dada Ayano. Sementara itu, Ayano pasrah begitu saja diperlakukan seperti itu. Ia sama sekali tidak melingkarkan tangannya ke tubuh Yuki ataupun mengelus kepalanya.

 

Sebab, hal itu bakal melukai harga diri Yuki sebagai majikan. Justru karena memahami hal itulah, Ayano tidak mengatakan hal yang tidak perlu dan hanya berfokus menjadi guling. Lalu beberapa menit kemudian, Yuki menegakkan wajahnya dengan sigap, berlutut di atas tempat tidur, lalu mengembuskan napas dari hidungnya dengan penuh semangat.

 

"Sip, sudah pulih!"

 

"Apakah sudah cukup?"

 

"Yup, makasih ya. Duh~ memang dada itu luar biasa banget, ya."

 

Sambil mengucapkan hal itu dengan penuh penghayatan, ia turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju komputer.

 

"Mari saya rapikan rambut Anda."

 

"Yup, tolong ya~"

 

Ayano merapikan rambut Yuki yang berantakan akibat berguling-guling di tempat tidur menggunakan sisir. Gerakan tangannya begitu lembut, dan matanya memancarkan rasa kasih sayang yang tak terhingga.

"Secukupnya saja, kok? Lagian cuma kelihatan dari bahu ke atas ini. Daripada itu, tolong ambilkan minuman."

 

"Baik. Apakah tidak apa-apa kopi?"

 

"Yup, soalnya malam ini ada Burehaza sama Yume itu. Apalagi Burehaza sudah pasti episode dewa~ Hehehe~ Malam ini takkan kubiarkan kamu tidur~ Onii-chaa~n!"

 

Membayangkan anime larut malam dan sesi kesan-pesan yang sudah menjadi tradisi setelahnya, Yuki memamerkan senyuman riang. Sambil merasa lega dalam hati karena sang majikan telah kembali ke watak aslinya, Ayano meninggalkan ruangan tanpa bersuara.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close