NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-san Volume 3 Chapter 3

Bab 3: Bukan Berarti Aku Jadi Ingin Bersih-Bersih, Terutama Bersih-Bersih, Kan?


Keheningan. Saat ini, ruang tamu di sebuah apartemen dipenuhi oleh keheningan yang menyenangkan, hingga takkan ada yang menyangka bahwa di sana ada tiga murid SMA laki-laki yang sedang berada di puncak usia ingin bermain.

 

Hanya suara rintik hujan dan hembusan angin dari pendingin ruangan yang terdengar. Ditambah bunyi gesekan pelan dari pena yang menari di atas kertas. Hanya itu saja.

 

Suasana tenang yang memenuhi ruangan berpadu dengan kelembapan dan suhu nyaman yang diatur pendingin ruangan, hingga rasanya membuat orang ingin terkantuk-kantuk──

 

"Aku kurang penyegeran nih!!"

 

...Udara yang ada sebenarnya seperti itu. Namun, seorang pemuda yang mendadak berdiri──Takeshi──meraung, hingga merusak suasana tersebut dalam sekejap.

 

"Kenapa kamu mendadak begitu?"

 

"Menurutku, kurang sopan kalau menggebrak meja rumah orang sekuat tenaga, lho?"

 

Masachika dan Hikaru yang duduk di hadapannya mendongak menatap Takeshi sambil tersenyum kecut.

 

"Kenapa? Kamu tidak suka mode pengering udara? Mau kuganti ke pendingin biasa?"

 

"Ini bukan soal setelan pendingin ruangan! Bukan kesegaran yang itu maksudku!"

 

"Kalau begitu, kesegaran yang mana?"

 

"Yah, rasanya aku bisa menebaknya, sih..."

 

Meski mendapat pandangan hangat-hangat kuku dari dua sahabatnya, Takeshi sama sekali tidak gentar dan tetap meraung.

 

"Sedih banget gak sih, mumpung hari libur malah harus belajar bertiga sesama cowok! Kalapun mau bikin kelompok belajar, biasanya kan sekalian mengundang anak cewek juga!!"

 

"Ohoi, jangan bicara seperti aku, dong."

 

"Bukan, ini bukan pemikiran otaku! Ini murni hal umum secara general!"

 

"General yang kamu maksud itu cuma hal umum bagi segelintir riajuu yang menang banyak, kan? Jelas salah kalau menerapkan hal itu pada kita yang biasanya tidak nongkrong bareng cewek."

"Hoho~ kamu yakin mau ngomong begitu? Seseorang yang akrab dengan dua putri cantik di angkatan kita bilang kalau dirinya tidak nongkrong bareng cewek?!"

 

"Yah, bagaimana ya...?"

 

Dua putri cantik di akademi yang dimaksud Takeshi adalah sang "Putri Menyendiri" Alisa, dan sang "Putri Pingitan" Yuki.

 

Dari sudut pandang Takeshi, Alisa duduk di sebelah Masachika di kelas, dan mereka adalah pasangan yang berjanji untuk maju bersama dalam pemilihan ketua OSIS tahun depan. Yuki adalah sesama anggota OSIS yang akrab dengan Masachika sebagai teman masa kecil.

 

Murni kenyataannya Yuki adalah adik kandung Masachika, tetapi bagi Takeshi yang tidak mengetahui hal tersebut, posisi Masachika jelas terlihat sangat diberkahi.

 

"Kamu yang punya hubungan sangat akrab dengan Suou-san, ditambah lagi menjadi satu-satunya murid laki-laki yang punya interaksi dengan Putri Alya, bilang tidak nongkrong bareng cewek~? Minta maaf sana ke seluruh cowok non-riajuu di sekolah!!"

 

"Ya maaf deh kalau aku akrab sama gadis-gadis cantik. Iri, ya? Kamu iri, kan?"

 

"Kurang ajar kamu!!"

Sambil memelototi Masachika yang menyeringai memprovokasi seolah melihat musuh bebuyutan orang tuanya, Takeshi menggebrakkan kedua tangannya ke meja dengan keras.

 

"Aku iri banget! Makanya tolong panggil mereka berdua ke sini!!"

 

"Jujur banget, sih."

 

Melihat Takeshi yang menundukkan kepalanya sekuat tenaga memanfaatkan dorongan dari gebrakan tangannya, Masachika mengukir senyum kecut.

 

"Asal tahu saja, ya. Aku pun tidak bisa memanggil mereka berdua dengan santai di hari libur, tahu? Yuki pasti sibuk dengan les atau semacamnya, dan aku hampir tidak pernah bertukar pesan secara pribadi dengan Alya. Lagipula kalau memanggil mereka berdua, kamu pasti bakal gugup sampai tidak bisa fokus belajar, kan?"

 

"Yah, memang benar, sih..."

 

Sepertinya ia sadar diri, hingga Takeshi terduduk kembali di kursinya.

 

Sambil bertopang dagu di meja, ia menatap buku pelajaran di tangannya dengan tatapan kesal, lalu mendadak mendongak seolah menyadari sesuatu.

 

"Kalau begitu, bagaimana dengan gadis yang itu?"

 

"Gadis yang itu?"

"Itu lho, gadis yang kerja bareng Suou-san saat debat kemarin."

 

"Aah..."

 

Mendengar kata-kata Takeshi, Masachika menyadari bahwa ia sedang membicarakan Ayano yang merupakan pelayan Yuki sekaligus pasangannya di pemilihan ketua OSIS, lalu mengeluarkan suara tidak bersemangat.

 

"Sekilas kelihatannya tidak begitu mencolok, tapi kalau dilihat baik-baik dia imut banget, lho. Aku belum pernah melihatnya, apa dia murid pindahan saat SMA?"

 

"Tidak, tuh? Dia murni lulusan SMP sini, kok."

 

"Eh? Benarkah? Berarti dia baru melakukan debut saat masuk SMA?"

 

"...Tidak, anak itu sejak SMP memang selalu seperti itu, kok."

 

"Hee~... Tunggu, cara bicaramu itu! Jangan-jangan kamu sudah berinteraksi dengan gadis itu sejak SMP!?"

 

"Bukan sejak SMP, sih... soalnya dia teman masa kecilku."

 

"Haaah~~!?"

 

Mendengar pengakuan Masachika, Takeshi mencondongkan tubuhnya ke depan dengan suara yang agak melengking, lalu memelototi Masachika dari jarak dekat.

"Kamu beneran keterlaluan, ya!? Seberapa banyak sih relasimu dengan gadis-gadis cantik!!?"

 

"Iri, ya?"

 

"Iri bangeeeet!"

 

Takeshi menepuk-nepuk meja dengan heboh dengan ekspresi seperti hendak menggigit saputangan, lalu mendongak tajam.

 

"Kalau begitu, kenalkan ke aku, dong?"

 

"Gak mau."

 

"Kenapa!"

 

"Mana ada orang yang mau mengenalkan teman masa kecilnya yang berharga ke monyet mesum?"

 

"Siapa yang kamu sebut monyet mesum!"

 

"Kamu, lah. Lagipula kalau kamu penasaran, datangi saja sendiri."

 

"Eh... tidak ah, bicara dengan cewek yang baru pertama kali ditemui... kan bikin gugup."

 

"Polos amat."

 

Masachika menancapkan pandangan mata menyipit tajam pada Takeshi yang memalingkan pandangannya dengan raut malu.

 

"Padahal kamu bisa bicara santai dengan cewek-cewek di kelas, kenapa untuk hal begini malah gugup?"

 

"Bukan begitu... Bicara dengan teman sekelas dan bicara dengan cewek tidak dikenal dari kelas lain itu kan beda banget. Lagipula..."

 

"Lagipula?"

 

"...Aku kan biasanya cuma mengajak bicara kelompok cewek, tidak pernah mengobrol secara pribadi..."

 

"...Begitu, ya? Jadi kalau ke kelompok cewek bilang 'Kalian~' itu tidak masalah, tapi kalau ke perorangan panggil 'Si A-san' begitu tidak bisa, ya."

 

"Kan bikin gugup."

 

"Makanya, polos amat."

 

Melihat sikap Takeshi yang tidak seperti biasanya—yang biasanya selalu agresif mendekati cewek—Masachika dan Hikaru menunjukkan ekspresi yang separuh heran dan separuh merasa gemas.

 

"Aduh, kalau tidak ada sifat pemalu yang aneh itu, menurutku kamu bisa saja punya satu atau dua pacar secara normal, lho."

 

"Iya, kan~"

 

"O, ohoi, ada apa nih mendadak..."

 

Mendengar kata-kata dari kedua sahabatnya yang diucapkan dengan penuh penghayatan, Takeshi tersipu malu dengan raut agak bingung.

 

"Habisnya, kepribadianmu itu ceria, komunikatif, dan bukan tipe yang dibenci orang. Wajahmu juga tidak jelek... walau agak kurang bisa membaca situasi, sih. Ditambah lagi kamu punya keinginan kuat untuk punya pacar, jadi kalau kamu menghilangkan sifat pemalu di saat penting itu dan jadi tipe cowok yang agresif soal urusan cinta, punya pacar mah gampang banget buatmu."

 

"Benar banget. Menurutku kepribadian yang jujur dan tanpa pura-pura itu punya nilai plus yang tinggi, lho. ...Walau agak kurang bisa membaca situasi, sih."

 

"Rasanya aku tidak sedang dipuji, nih! Apa-apaan, kalau mau membuatku senang sekalian dong! Kenapa harus pakai tambahan kalimat yang tidak perlu, sih!"

 

"Ya habisnya..."

 

"Iya, kan..."

 

Melihat mereka berdua bertukar pandangan sambil tersenyum kecut, Takeshi duduk kembali dengan ekspresi bersungut-sungut. Setelah bergumam "Terserah deh, toh aku memang tidak bisa membaca situasi~" sebentar, ia mengarahkan matanya yang tajam ke arah Masachika.

 

"...Kalau Masachika sendiri bagaimana? Kamu juga sebenarnya punya spesifikasi yang tinggi, kalau mau bukannya kamu juga bisa punya pacar?"

 

"Ahn? Aku?"

 

"Hikaru sih... kudengar dulu pernah ada kejadian macam-macam, jadi bisa dimaklumi kalau dia tidak mau punya pacar... Tapi kalau kamu sendiri bagaimana? Memangnya kamu tidak ada pikiran ingin punya pacar?"

 

"Huum..."

 

Mendengar pertanyaan Takeshi, Masachika melipat tangannya dan memikirkannya sejenak.

 

"...Aku sih tidak ada niat khusus buat bikin pacar."

 

"Kenapa? Jangan-jangan, kamu beneran cuma tertarik sama dunia dua dimensi?"

 

"Bukan, bukan berarti begitu juga, sih... Tapi kalau aku punya pacar, rasanya di luar kenyataan banget."

 

"Kenapa, coba. Rasanya agak malu kalau aku yang mengatakan ini, tapi bukannya kamu itu, kalau bukan karena sikap tak seriusmu, sebenarnya termasuk cowok yang nyaris sempurna? Penampilanmu juga, yah walau tidak sehebat Hikaru, tapi lumayan oke, lho."

 

"Bukan, ah, kalau soal wajah mah aku biasa-biasa saja..."

 

"Masa, sih? Menurutku juga, Masachika termasuk ke dalam kategori cowok ganteng, kok."

 

"Kalian seriusan omong begitu? Yah, kalau soal postur tubuh sih aku merasa tidak buruk-buruk amat..."

 

Kalau soal wajah, ia merasa dirinya benar-benar seperti orang pada umumnya. Maksudnya, kalau dibandingkan dengan orang seperti Hikaru, ada banyak hal yang ingin ia komentari tentang wajahnya sendiri... tapi karena ia berpikir hampir semua orang pasti merasakan hal yang sama, ia sengaja tidak mengatakan apa-apa.

 

"Meski begitu, kamu tidak menampilkan bagian 'manusia sempurna', ya."

 

"...Yah, kalau soal refleks olahraga dan kemampuan berpikirku memang jauh di atas rata-rata."

 

Mendapat teguran dari pandangan menyipit tajam Takeshi, Masachika mengangkat bahunya. Masachika sama sekali bukannya tidak menyadari bakatnya sendiri. Di hadapan teman-temannya ia membatasinya dengan ungkapan "lumayan", tetapi sebenarnya ia sadar betul bahwa bakat yang miliki berada di tingkat yang jauh dari sekadar "lumayan".

Oleh adiknya yang otaku (Yuki), ia memang dipanggil pemilik cheat "Pengalaman Didapat 10 Kali Lipat (Kecuali Olahraga Bola)" sambil bercanda, tetapi hal itu pun tidak bisa sepenuhnya ditampik karena Masachika memang memamerkan bakat luar biasa di berbagai bidang.

 

Berkat hal itu, dulu ia sampai dipanggil si anak ajaib oleh para pelayan di kediaman Suou.

 

Namun, hal itu...

 

"Pada dasarnya itu cuma bakat bawaan sejak lahir. Bukan sesuatu yang perlu dibanggakan juga."

 

"Bukan, kalau soal itu mah boleh-boleh saja dibanggakan..."

 

"Takeshi... kuberi tahu satu hal bagus, ya. Tidak ada karakter utama yang lebih dibenci pembaca daripada tipe cowok yang tidak berjuang keras tapi melancarkan aksi Ore-Tueee mengandalkan bakat (cheat) pemberian orang tua (orang lain). Lalu, para heroine yang bisa dengan mudahnya jatuh cinta pada cowok cheat-harem busuk macam itu bakal dicap sebagai Choroin lalu dihujat habis-habisan."

 

"Yah, kalau soal itu sih rasanya aku bisa paham... tapi kan kamu tidak sedang melancarkan aksi Ore-Tueee."

 

"Soalnya aku tahu kalau sok hebat nanti bakal dihujat, makanya aku hidup dengan rendah hati~"

 

Mengatakannya dengan nada tidak bersemangat, Masachika menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi secara lemas.

 

(Meski begitu, memang benar kalau aku sedang meremehkan hidup memanfaatkan bakat pemberian orang tua, sih.)

 

Memanfaatkan kecerdasan bawaan dan kelincahan berpikirnya yang di atas rata-rata, ia bisa masuk ke sekolah ternama nomor satu di Jepang tanpa perlu bersusah payah. Ia juga sudah mengumpulkan cukup banyak pencapaian di kegiatan OSIS, hingga pijakan untuk masa depannya sudah lebih dari cukup.

 

Ini benar-benar bentuk meremehkan hidup. Menganggap remeh

orang-orang yang berjuang keras dan hidup dengan sungguh-sungguh.

 

Kalau dalam kondisi begini ia bisa mendapatkan pacar yang luar biasa seperti para pahlawan wanita di dunia dua dimensi dengan mudah, itu sih benar-benar bakal memicu kecaman keras.

 

"'Dewi cinta hanya tersenyum pada mereka yang bergerak sendiri', lho..."

 

"Apaan tuh?"

 

"Kutipan dari komik, kah?"

 

"Bukan, tahu. Itu kalimat bijak kakekku? Atau mungkin kebiasaan bicaranya? Maksudnya, dalam urusan asmara, orang yang bergerak agresif sendirilah yang bakal sukses."

Ngomong-ngomong, yang dimaksud dengan "Kakek" di sini adalah kakek dari pihak ayah Masachika. Kakeknya sangat menyukai Rusia, dan merupakan tokoh utama yang menjejali Masachika kecil dengan sastra Rusia serta film-film Rusia. Di usianya yang sudah melewati tujuh puluh tahun saat ini pun, sang kakek adalah sosok yang eksentrik karena masih mengutarakan impiannya untuk minum vodka sambil diapit gadis-gadis cantik Rusia di kedua sisinya.

 

Hanya saja, cerita ini ditutup dengan fakta bahwa sang kakek adalah seorang penolak alkohol yang bakal langsung terkena keracunan alkohol akut jika nekat minum vodka.

 

"Huum, yah, itu bisa dibilang kebenaran juga, sih. ...Ngh? Tunggu. Kalau begitu Hikaru bagaimana?"

 

"Orang yang terlahir sudah dicintai oleh dewi cinta sejak lahir itu kan pengecualian."

 

"Sama sekali tidak membuatku senang, tuh."

 

Mendengar Hikaru yang menjawab secara instan dengan wajah tanpa ekspresi, sudut mulut Takeshi kedutan saat tertawa.

 

"Tidak, yah... Kalau untuk kasus Hikaru, entah kenapa rasanya dia dicintai oleh si dewi cinta itu dengan gaya yandere, ya, betul."

 

"Katanya dewi itu sering kali sangat cemburuan, kan... Jangan-jangan, di tahap saat Hikaru sudah sepenuhnya tidak percaya pada perempuan, si dewi bakal turun ke dunia sambil berkata 'Sekarang kamu cuma punya aku seorang, lho'?"

 

"Bukankah itu mah iblis?"

 

"Benar juga."

 

"Terlepas dari dewi yandere atau iblis, bagiku sih sama sekali tidak masalah, tahu! Maksudku! Sekali saja aku ingin didesak oleh cewek!!"

 

Melihat Takeshi yang membeberkan keinginannya tanpa goyah, Masachika dan Hikaru memamerkan senyum kecut.

 

"Yah, tapi menurutku berbahaya kalau cuma pasif berharap didesak... Katanya kakekku, sikap menyerang itu penting, lho?"

 

"Sikap menyerang, ya... Paham! Aku bakal mencoba jadi cowok pemangsa sungguhan! Lalu gencar melancarkan serangan ke cewek-cewek!"

 

"Ooh, berjuanglah~"

 

"Secukupnya saja, ya..."

 

Karena pada dasarnya ini adalah urusan orang lain, Masachika memberikan dukungan pada Takeshi secara asal-asalan. ...Tanpa mengetahui bahwa di kemudian hari, pernyataan tidak bertanggung jawab itu bakal kembali menimpa dirinya sendiri dalam bentuk tanggung jawab.

 

"...Fuh."

 

Setelah Takeshi dan Hikaru pulang, Masachika melanjutkan belajar di kamarnya sendiri untuk persiapan ujian besok. Namun...

 

"Motivasiku tidak naik-naik, nih..."

 

Bahkan ia sendiri bisa merasakan dengan jelas bahwa konsentrasinya tidak bertahan lama. Ia memang sedang belajar. Namun, tidak ada yang masuk ke dalam kepalanya sama sekali. Ia bisa merasakan matanya hanya berselancar di atas buku pelajaran, dan meski ia berusaha menjejalinya karena sadar hal ini tidak benar, ia tidak bisa mempertahankannya di dalam kepala hingga pengetahuan itu menguap begitu saja setelah dimasukkan. Ini adalah kondisi di mana efisiensinya turun secara jelas.

 

"Aah... sudah jam sebelas, ya..."

 

Setelah selesai mandi ia sudah belajar sekitar dua jam, tetapi hanya membuang-buang waktu saja tanpa ada kemajuan belajar sama sekali.

 

"Burehaza sebentar lagi mulai, nih..."

 

Waktu penayangan anime larut malam yang ditunggu-tunggu setiap minggu makin mendekat, membuat hati Masachika bergoyang.

(Belajar dalam kondisi efisiensi yang sudah turun sejauh ini cuma buang-buang waktu saja, bukannya lebih baik istirahat sebentar lalu belajar lagi dari awal?)

 

Pemikiran seperti itu muncul, tetapi Masachika sendiri tahu betul bahwa jika ia melarikan diri ke anime di sini, ia pasti tidak bakal kembali belajar lagi.

 

(Tapi ya... bukan berarti kalau menghabiskan waktu lama itu hebat, kan. Materi ujian secara garis besar sudah kupelajari semua, sisanya tinggal mengulang lagi besok pagi... Maksudku, saat memikirkan hal begini saja sudah jelas kalau aku tidak konsentrasi.)

 

Sambil menyandarkan tubuhnya secara lemas di sandaran kursi, di saat ia sedang memutar-mutar berbagai alasan di dalam kepalanya, waktu penayangan anime pun tiba.

 

"Sudah mulai, ya..."

 

...Namun pada akhirnya, Masachika tidak menyalakan televisi. Setelah menunggu sekitar lima menit, ia berbalik menghadap meja belajarnya seolah sudah menyerah.

 

"Haaa... Tekadku sudah berkurang sejauh ini, ya..."

 

Masachika menghela napas pada dirinya sendiri yang baru bisa mengambil keputusan setelah menunggu animenya dimulai. Padahal dulu, demi ibunya dan demi gadis itu, berjuang keras sama sekali tidak terasa menyiksa baginya. Selama beberapa tahun menjadi orang tidak berguna, sepertinya ia telah melupakan cara untuk berjuang keras.

 

Ia punya perasaan ingin membalas harapan Alisa dan... Sayaka. Demi mereka berdua, ia punya rasa tanggung jawab bahwa ia harus menjadi kandidat wakil ketua yang tidak memalukan bagi siapa pun. ...Ia punya rasa itu. Setidaknya sampai satu minggu yang lalu.

 

(Tapi... walau nilaiku naik sedikit pun bakal dibilang 'lalu kenapa?'. Lagipula target menaikkan nilai ini kan cuma aku sendiri yang menentukan, bukan janji dengan siapa-siapa juga.)

 

Namun saat ini, perasaan itu sudah memudar hingga pemikiran seperti ini bisa muncul. Pada dasarnya, semangat Masachika saat ini memang hanya sejauh itu.

 

(Pada akhirnya ini cuma kepuasan diri sendiri, kan... Yah, berjuang keras itu sebagian besar memang murni gengsi dan kepuasan diri sendiri, sih. Musuh terbesar adalah diri sendiri... yang seperti itulah. Bisa melakukan hal ini secara terus-menerus, memang Alya itu hebat banget, ya.)

 

Menuju target yang ditetapkan sendiri, demi menjadi sosok diri yang diimpikan, melakukan perjuangan tanpa akhir itu bukanlah hal yang bisa dilakukan secara biasa. Jika diekspresikan dalam satu kata mungkin adalah ambisi untuk maju, tetapi Alisa memiliki kilau menyilaukan yang tidak bisa dibereskan hanya dengan kata semacam itu.

 

"Yah, kalau aku sih tidak punya keinginan untuk berkembang sedikit pun... Maksudku, aku memang tidak punya ambisi begitu."

 

Jabatan maupun kehormatan, uang maupun wanita, sama sekali tidak ada yang terbersit ingin ia dapatkan. Esok hari tidak berbeda dari hari ini, jika kehidupan sehari-hari yang terbilang cukup damai dan cukup menyenangkan bisa terus berlanjut, baginya itu sudah lebih dari cukup.

 

Bahkan, daripada kehilangan kedamaian itu, ia tidak membutuhkan jabatan atau kehormatan, dan ia sama sekali tidak berniat merusak kedamaiannya sendiri demi mengejar uang atau wanita.

 

Begitulah landasan dasar pemikiran Masachika.

 

Alasan Masachika yang seperti itu pada akhirnya memutuskan untuk maju dalam pencalonan bersama Alisa adalah... berkat adanya rasa cemas yang samar-samar bahwa ia tidak boleh terus-terusan seperti ini, serta murni karena ia tidak bisa membiarkan Alisa begitu saja.

 

"Tapi, demi bisa mencapai itu... setidaknya aku harus berjuang setengahnya dari perjuangan Alya..."

 

Sambil merebahkan tubuhnya ke meja dan menggosok-gosokkan dahinya ke buku pelajaran, Masachika bergumam.

 

"Semangatlah wahai diriku... Setidaknya agar reputasiku tidak sampai menarik turun posisi Alya..."

 

Masachika saat ini hanyalah seorang murid rendahan yang memiliki sikap belajar maupun nilai yang buruk, tetapi jika nilainya naik... secara spesifik, jika ia berhasil masuk ke dalam peringkat 30 besar murid berprestasi yang namanya dipajang di koridor, penilaian orang-orang dipastikan bakal berubah.

 

(Benar, targetku adalah posisi pahlawan di komik shoujo yang kerjanya cuma tidur saat pelajaran tapi nilainya tinggi bukan main! Tipe yang selalu dimusuhi oleh pemeran utama wanita yang merupakan pekerja keras yang lurus!)

 

Manusia itu cenderung lebih mengagumi bakat yang luar biasa ketimbang perjuangan yang luar biasa. Cukup menyedihkan memang, sebagian besar orang di dunia ini lebih suka mengagung-agungkan orang yang kelihatan tidak belajar sama sekali tetapi nilainya bagus dengan sebutan luar biasa atau genius, ketimbang orang yang selalu belajar dan mendapat nilai bagus.

 

Jika dilihat dari sudut pandang Masachika, ia ingin sekali mengumandangkan, "Ha? Orang yang berjuang keras itu jelas-jelas jauh lebih hebat dan patut dipuji, tahu?", tapi... mau bagaimana lagi, itu adalah kenyataan. Ditambah lagi, melihat karakternya sendiri, posisi seperti itulah yang paling cocok untuknya. Alasan ia belajar di ruang OSIS yang tidak menarik perhatian orang-orang sebenarnya juga demi hal tersebut.

 

"Karena itulah, berjuanglah... sedikit lagi."

 

Menyemangati dirinya sendiri, tepat saat ia menegakkan wajahnya secara mendadak, ponsel yang diletakkan di atas meja bergetar.

 

"Ngh? Telepon?"

 

Mendengar getaran beruntun bzzt, bzzt, Masachika terburu-buru mengambil ponselnya... dan langsung membeku saat melihat nama yang tertera di layar.

 

"Eh... Alya!?"

 

Ia berpikir telepon itu paling-paling dari ayahnya atau dari Yuki,

sehingga nama yang tertera ini membuatnya sangat terkejut. Bagaimana tidak, jangankan menelepon, bertukar pesan saja ia sangat jarang melakukannya dengan Alisa. Lagipula ini sudah larut malam. Bagi Alisa yang merupakan murid teladan, ini adalah waktu yang terlalu larut untuk menelepon.

 

"Ah, mati."

 

Namun, di saat ia dilanda kebingungan, sambungan telepon terputus.

 

Mengingat sambungannya terputus hanya dalam waktu sepuluh detik lebih sedikit, sepertinya Alisa sendiri yang memutuskannya. Kalau begitu, mungkinkah ini bukan urusan yang sangat penting... tapi untuk sementara waktu, Masachika memutuskan untuk menelepon balik.

 

Tepat setelah ia menelepon, sambungan langsung terhubung bahkan sebelum nada panggil berbunyi dua kali.

"A, halo?"

 

...Selamat malam, Kuze-kun.

 

"Ooh, selamat malam... Ada apa? Ada urusan?"

 

Tidak juga, kalau dibilang ada urusan sih...

 

Mendengar Alisa yang menggantungkan kata-katanya, Masachika menyeringai lalu bermaksud untuk langsung menggodanya.

 

"Ada apa? Apa mendadak kamu ingin mendengar suaraku?"

 

...

 

Saat ia mengucapkannya dengan nada suara cowok ganteng yang sengaja dibikin agak berat, yang kembali justru keheningan. Keheningan yang membuat Masachika bisa membayangkan dengan jelas pandangan mata dingin milik Alisa itu membuat dirinya tidak tahan, hingga ia bermaksud berdeham demi mengalihkan pembicaraan──

 

...Memangnya tidak boleh?

 

...Namun, mendengar bahasa Rusia yang terdengar tepat sebelum ia sempat melakukannya, kepala Masachika membentur meja hingga berbunyi Gonk!.

 

...? Suara apa itu?

 

"Tidak... Ngomong-ngomong barusan kamu bilang apa?"

 

Aku cuma bilang "Dasar bodoh", tahu.

 

"O-oh gitu... Terus, ada urusan apa?"

 

...Itu, bukannya kamu bilang kalau sendirian bakal bolos belajar? Aku cuma berpikir, apakah belajarmu baik-baik saja.

 

"..."

 

Mendapat teguran yang sangat tepat sasaran itu membuat Masachika kehabisan kata-kata. Kemudian dari seberang telepon, terdengar suara yang nadanya turun beberapa tingkat.

 

...Jangan-jangan.

 

"Tidak, aku tidak bolos, kok? Tadi sempat tergoda oleh anime sejenak, tapi aku berhasil mengalahkannya. Beneran, seriusan."

 

...

 

Setelah keheningan yang sangat meragukan berlangsung beberapa detik, terdengar helaan napas kecil.

 

Ujiannya kan besok, lho? Bukannya sekarang ini saat-saat pentingnya?

 

"Yah, memang begitu, sih... Maaf ya, aku ini memang tidak punya tekad."

 

Aku tidak bilang begitu, tapi...

 

"Motivasiku tidak mau naik sama sekali, nih... Malahan, kalau kamu sendiri di saat seperti ini bagaimana cara mempertahankan motivasinya?"

 

...Jangankan mempertahankan motivasi, aku tidak pernah kehilangan motivasiku jadi aku tidak tahu.

 

"...Seriusan? Luar biasa sekali."

 

Mendengar pernyataan luar biasa yang keluar begitu saja, pipi Masachika kedutan. Setelah memberikan jeda sejenak untuk berpikir, Alisa mulai berbicara perlahan.

 

Bagaimana ya... kalau aku sih malahan selalu merasa dikejar oleh

waktu. Kalau terus berpikir apakah masih ada hal yang terlewat, apakah masih ada bagian yang bisa dioptimalkan, aku tidak punya waktu untuk memikirkan yang namanya motivasi.

 

"...Kamu beneran luar biasa, ya."

 

Bisa dibilang dia memang seorang perfeksionis sejati. Terhadap sikapnya yang secara penuh mengejar idealisme dirinya sendiri, Masachika murni angkat topi. Di saat yang sama, ia menjadi agak malu pada dirinya sendiri yang tadinya berpikiran "sisanya tinggal diulang besok pagi saja~".

 

"Kalau begitu ya sudah, ketimbang aku mengganggu... aku juga bakal meniru Alya untuk berjuang sedikit lagi. Terima kasih banyak, ya."

 

Eh, a...

 

"Ngh?"

 

Tepat saat ia hendak mematikan telepon terdengar suara yang agak panik, hingga Masachika menempelkan kembali ponselnya ke telinga.

 

"Ada apa?"

 

...

 

"?"

 

Di tengah kebingungan Masachika memikirkan apa yang terjadi, yang terdengar di telinganya adalah bahasa Rusia yang memancarkan nada yang sangat emosional.

 

Masih... belum boleh...

 

Mendengar bisikan itu, Masachika melengkungkan badannya ke belakang seolah-olah dahinya baru saja ditembak peluru, lalu merosot jatuh ke atas kursi. Suara bisikan yang mendadak masuk di saat ia sedang memasang telinganya tajam-tajam membuat telinga hingga otaknya bergetar hebat.

 

(A, anak ini mendadak membisikkan hal semacam apa di dekat telingaku!! Maksudku, 'masih belum boleh' itu maksudnya apa!? Tidak, mungkin maksudnya 'masih belum boleh mematikan telepon', sih! Tapi itu terlalu abstrak hingga memancing khayalan yang tidak-tidak, tahu-tahuuu--!?)

 

Bisikan yang membuat telinganya merinding gemetar membuat otak otaku Masachika lepas kendali! Di dalam otaknya, terpampang ilustrasi Alisa yang memalingkan pandangan dengan ekspresi malu-malu, lalu bisikan tadi terputar kembali di dalam kepalanya!

 

(Masih... belum boleh... itu bukannya bener-bener adegan ciuman~! Tipe adegan yang saat wajah didekatkan lalu mulut ditahan pakai tangan, kan~! Suasana saat berpisah di kencan ketiga setelah pacaran, kan~! ......Ah, setelah ini mereka berdua bakal jadi agak canggung, lalu memanfaatkan momen itu karakter baru bakal datang membawa prahara, nih.)

 

...Kuze-kun?

 

"Lagipula, karakter baru yang seperti itu biasanya tahu rahasia masa lalu salah satu dari mereka berdua, lalu memberikan petunjuk-petunjuk tersembunyi. Semakin cerah dan segar kesan pertama seseorang, semakin tidak boleh dipercaya, tahu."

 

...Kamu lagi omong apa, sih?

"Eh? Bukannya murid pindahan di komik shoujo itu punya niat jahat yang jauh lebih banyak ketimbang murid pindahan di komik shounen? Itu lho pembahasannya?"

 

...Aku paham baaaik-baik kalau kamu sama sekali tidak bisa fokus belajar.

 

"A, tidak... iya."

 

Masachika yang bungkam gara-gara canggung setelah menyadari khayalan anehnya disikapi dengan helaan napas ringan oleh Alisa, sebelum akhirnya berbicara dengan nada mengalihkan suasana hati.

 

Begitu, ya... Kalau begitu, kalau motivasimu tidak naik, bagaimana kalau kita bertaruh?

 

"Bertaruh?"

 

Ngomong-ngomong, targetmu kali ini apa?

 

"Target? Ujian?"

 

Iya.

 

"...Rencananya sih masuk 30 besar di angkatan."

 

...Memasang target tinggi juga, ya. Yah tidak apa-apa. Kalau kamu berhasil mencapai target itu, aku bakal mengabulkan satu permintaanmu, apa pun itu.

"Ngh? Barusan kamu bilang 'apa pun'?"

 

...Tentu saja, selama masih dalam batas wajar, ya.

 

"A, tidak, maaf. Sekadar respon refleksif dari seorang otaku yang harus menanggapi kata 'apa pun' tadi."

 

Begitu Masachika mencoba menggigit kata "apa pun", balasan dingin langsung terdengar, membuatnya memalingkan pandangan sambil memberikan pembelaan.

 

...Aku tidak paham apa yang kamu bicarakan, tapi terserah deh. Bagaimana tawaran tadi?

 

"Emm, tentu saja kalau aku gagal mencapai target..."

 

Tentu saja, kamu harus mendengarkan permintaanku.

 

"...Kalau yang itu justru bikin aku sedikit penasaran, sih."

 

Kuze-kun?

 

"A, tidak! Yang tadi itu bukan pemikiran masokis yang ingin diperintah atau semacamnya, lho!? Murni karena aku cuma penasaran kira-kira kamu bakal minta apa ke aku!?"

 

Saat ia terburu-buru meluruskan kesalahpahaman, Alisa kembali bungkam dengan penuh rasa curiga sejenak, lalu bergumam pelan dalam bahasa Rusia.

...Nama.

 

"Eh?"

 

Itu petunjuk.

 

"...Tidak, tahu. Diberi petunjuk pakai bahasa Rusia pun aku tidak paham."

 

Aku tahu, kok.

 

Masachika disahuti dengan suara yang menyelipkan tawa, "Heheh", sampai-sampai Masachika membatin, Tidak, aku mengerti bahasa Rusia-nya, tahu?. Namun, meski paham bahasa Rusia-nya, ia tetap tidak mengerti apa maksud petunjuk tersebut, hingga Masachika memiringkan kepalanya.

 

Kalau begitu, sepakat dengan syarat tadi, kan?

 

"A, iya, yah... kalau berhasil masuk 30 besar kamu bakal mendengarkan permintaanku. Kalau gagal, aku yang bakal mendengarkan permintaanmu. Begitu, kan?"

 

Ya, benar.

 

"Boleh juga. Guehehe, bakal kubuat kamu menyesal sudah memberikan penawaran ini ke aku..."

 

Yah, berjuanglah sekuat tenaga.

"...Alya, skill mengabaikanmu makin meningkat, ya. Aku sebagai kakak jadi merasa sedikit kesepian..."

 

Sejak kapan kamu jadi kakakku. Kita kan seumuran.

 

Mendengar kata-kata Alisa yang terkesan heran, Masachika memiringkan kepalanya.

 

"Tidak... memang benar kita seangkatan, tapi usiaku kan lebih tua dari kamu."

 

Eh?

 

"Eh?"

 

Dari seberang telepon, terdengar suara cengangan yang agak janggal

hingga membuat raut terkejutnya terbayang di ruang hampa. Setelah membalas dengan tanda tanya yang sama, Masachika bertanya untuk memastikan.

 

"...Ulang tahunmu tanggal 7 November, kan?"

 

Benar, tapi... kenapa kamu bisa tahu?

 

"Bukannya waktu baru pindah kemari kamu pernah membicarakannya di kelas? Seingatku aku mendengarnya di sana... yah, terlepas dari itu. Hari ulang tahunku itu tanggal 9 April, tahu."

 

...

"Usiaku sekarang sudah 16 tahun, lho...?"

 

...

 

Keheningan yang tak terlukiskan menyelimuti mereka, hingga Masachika berdeham demi menyamarkan rasa canggungnya dan berniat mengakhiri telepon secepatnya.

 

"A~ ehem, kalau begitu sudah dulu, ya..."

 

...Benar juga.

 

"Terima kasih banyak ya, Alya."

 

Sama-sama... tidak apa-apa, kok.

 

"Sip, kalau begitu sampai besok."

 

Ya, sampai besok.

 

Lalu, tanpa ada yang memulai, sambungan telepon pun terputus, dan Masachika merenggangkan tubuhnya sekuat tenaga.

 

"Emm... sip, mantap!"

 

Membawa semangat baru, ia kembali menghadap ke buku pelajaran.

 

Motivasi yang beberapa menit lalu merosot hingga ke dasar bumi, kini telah pulih sepenuhnya setelah mengobrol lewat telepon dengan Alisa.

Ia sama sekali tidak terpancing oleh taruhan Alisa. Ia murni merasa senang akan keberadaan sang pasangan yang rela memotong waktu belajarnya sendiri di larut malam begini hanya demi menelepon dan mengkhawatirkannya. Mau tidak mau, ia merasa ingin membalas perhatian tersebut.

 

(Tapi ya, siapa sangka kalau motivasiku yang lagi merosot ini bisa ketahuan sampai sejauh itu...)

 

Kenyataan bahwa hal itu sampai ketahuan membuat dirinya merasa malu, tetapi di saat yang sama juga merasa senang. Kata kontak batin mendadak melintas di dalam benaknya secara alami, membuat dada Masachika terasa hangat dan menggelitik.

 

"Terima kasih ya, Alya."

 

Sambil memamerkan senyum malu-malu, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada pasangannya secara perlahan. Lalu, Masachika pun memasuki tahap perjuangan terakhirnya.

 

 

Di saat yang bersamaan, Alisa sang pasangan...

 

"Tidak apa-apa... tidak apa-apa..."

 

Saat membuka pintu kamarnya, ia membisikkan kata-kata itu pada dirinya sendiri secara pelan.

Jika ditanya sedang melakukan apa, sebenarnya bukan hal besar. Ia hanya ingin pergi ke ruang keluarga untuk minum air.

 

Mengenai kenapa ia harus se-senang dan setegang ini hanya demi minum air... penyebabnya berasal dari beberapa jam lalu, tepatnya saat makan malam.

 

Keberadaan tak kasat mata yang bersembunyi di dunia ini. Fenomena supranatural mengerikan yang mereka timbulkan... Malam ini, kami akan mengundang Anda ke dunia horor...

 

Bersamaan dengan musik latar yang mencekam, tayangan video meresahkan yang diselingi suara noise terputar di televisi.

 

Di meja makan saat itu televisi kebetulan sedang menyala, dan bertepatan dengan musim panas, acara spesial fenomena supranatural pun dimulai.

 

Maria yang tidak suka horor langsung merapikan makan malamnya sejak tahap awal lalu kembali ke kamar... tetapi Alisa yang memiliki sifat pantang menyerah justru menunjukkan wajah seolah berkata, "Dasar, Masha ini penakut banget, sih... Aku? Aku sih tidak masalah sama sekali?", lalu menikmati makan malamnya dengan santai, dan kembali ke kamar dengan sikap tenang seolah berkata, "Yah, tidak ada yang spesial, sih." Lalu, seperti pola yang sudah-sudah, saat larut malam tiba dia menjadi ketakutan. Ketakutan hingga sampai pada tahap mematung di hadapan koridor yang gelap gulita.

 

(J, jangan-jangan di suatu tempat ada wajah putih yang melayang...)

Video supranatural yang ditontonnya di televisi tadi terbayang kembali di dalam kepalanya, membuat Alisa tidak bisa melangkah keluar kamarnya sama sekali.

 

Namun, dalam keadaan seperti ini, Alisa jelas tidak mungkin meminta bantuan keluarganya. Setelah sempat kebingungan, ia akhirnya menelepon Masachika untuk meredakan rasa takutnya, meski sadar bahwa meneleponnya selarut ini jelas tidak wajar. Soal belajar untuk ujian dan sebagainya hanyalah alasan asal-asalan yang spontan terpikir olehnya saat itu.

 

Seseorang di seberang sana sempat memamerkan senyum malu-malu karena mengira ada kontak batin, padahal kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. Pada dasarnya, dunia memang berjalan seperti itu.

 

"Tidak apa-apa... sip, mantap!"

 

Menyemangati dirinya sendiri, ia memeluk ponsel yang baru saja dipakainya untuk menelepon Masachika bak sebuah jimat di dadanya, lalu Alisa berlari kecil berjinjit menuju koridor yang gelap.

 

Agar matanya tidak melihat ke arah kegelapan di sekitarnya, ia hanya menatap lurus ke depan dan berlari melintasi ruang keluarga, lalu meneguk segelas air di bak cuci piring, kemudian berlari kembali ke kamarnya dengan cepat.

 

"Fuuuu~~..."

 

Kembali ke kamarnya yang terang, Alisa menghela napas panjang karena merasa lega.

 

Lalu begitu rasa takutnya mulai memudar, yang meluap justru rasa tidak puas. Mengenai rasa tidak puas apa, yaitu rasa tidak puas karena Masachika tidak memberi tahu hari ulang tahunnya.

 

"Apa-apaan... kalau memberi tahu kan setidaknya aku bisa ikut merayakannya."

 

Jika Masachika ada di tempat ini, ia pasti bakal membalas, "Bukan, kalau mendadak memberi tahu hari ulang tahun sendiri kan terkesan seperti menuntut 'rayakan dong, kasih hadiah dong'..." Namun, hal ini mau bagaimana lagi. Sebab, ini murni merupakan perbedaan budaya.

 

Di Jepang, merayakan hari ulang tahun secara umum dilakukan oleh teman atau keluarga yang merayakannya untuk yang berulang tahun, tetapi berbeda dengan Rusia tempat Alisa lahir. Di Rusia, orang yang menyambut hari ulang tahun secara umum bakal mengadakan pesta ulang tahun sendiri, lalu mengundang keluarga dan teman-teman untuk merayakannya bersama. Benar-benar dilakukan dengan gaya seperti, "Hari ini ulang tahunku! Makan dan minumlah sepuasnya, lalu rayakan hari ulang tahunku!".

 

Dengan kata lain, dalam pikiran Alisa terbentuk sebuah pola: ‘Tidak diberi tahu hari ulang tahun’ = ‘Tidak diundang ke pesta ulang tahun’ = ‘Aku cuma dianggap sejauh itu olehnya’.

 

"Padahal katanya teman."

Kalau mau membicarakan hal itu, Alisa sendiri juga tidak mengundang Masachika di hari ulang tahunnya tahun lalu. Tapi, itu kan beda cerita.

 

Tidak, jujur saja bukannya ia tidak punya keinginan untuk mengundangnya... tetapi jika ia hanya mengundang Masachika seorang, sudah jelas ia bakal diejek oleh keluarganya, sementara ia tidak punya teman lain yang bisa diundang, jadi ia membatalkannya.

 

...Bukan berarti ia sampai menangis, kok. Dia sama sekali tidak merasa sedih saat membandingkan dirinya dengan pesta ulang tahun Maria yang meriah. Sama sekali tidak. Mau bagaimana lagi kalau ulang tahun

Maria bertepatan dengan malam Natal. Perbedaan kemeriahan itu muncul gara-gara hal tersebut, ia sama sekali tidak sedang menghibur dirinya sendiri, lho! Sama sekali tidak!

 

"...Hmph, terserah deh."

 

Menggumamkan hal itu dengan rasa tidak puas, Alisa melemparkan tubuhnya ke tempat tidur seolah hendak meluapkan kekesalannya. Ia memeluk bantalnya erat-erat di dada, membenamkan bibirnya di sana.

 

Lalu, begitu ia melemaskan tubuhnya, ia mengerutkan bibirnya dan bergumam pelan.

 

"...Kuze-kun bodoh."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close