NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 3 chapter 4

Bab 4: Ja, Jadi Ini yang Namanya Perbedaan Budaya…..


"Selesaiii~~~!"

 

Melewati ujian akhir semester yang berlangsung selama seminggu penuh, Masachika meregangkan tubuhnya lebar-lebar karena diliputi rasa pencapaian.

 

Saat mengalihkan pandangan ke sekeliling kelas, meskipun jam wali kelas masih tersisa, terlihat para murid di berbagai sudut kelas tengah menikmati rasa bebas atau berdiskusi tentang rencana sepulang sekolah.

 

Sementara itu, Masachika tidak punya rencana khusus seperti bermain dengan teman karena hari ini ia berniat mengejar tontonan anime yang menumpuk selama masa ujian. Tidak ada, tapi... ada satu hal yang sangat mengganggunya. Yaitu...

 

"Alya juga, kerja kerasnya."

 

"Ya, terima kasih."

 

...Entah kenapa, rasanya sungguh entah kenapa, sikap Alisa terasa agak asing atau terkesan ketus.

 

Rasa ganjil itu sebenarnya sudah dirasakan sejak hari Senin, tetapi karena selama masa ujian ia harus berkonsentrasi pada ujian, ditambah lagi ada kemungkinan itu hanyalah perasaannya saja, ia pun membiarkannya. Namun, memasuki liburan tanpa menyelesaikan rasa ganjil ini terasa sangat tidak nyaman.

 

"Ehm, Alya ada rencana apa sepulang sekolah?"

 

"Tidak, tidak ada yang khusus."

 

"Begitu ya. Kalau begitu, mau pulang bersama sampai separuh jalan? Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan soal upacara penutupan nanti."

 

"...Boleh."

 

"Oke, kalau begitu sampai jumpa nanti ya."

 

"Ya."

 

Percakapan ini sendiri adalah percakapan biasa. Sikap Alisa pun tampak tidak berbeda dari biasanya. Namun, rasa ganjil itu sungguh ada. Yaitu...

 

(Dia tidak bermanja-manja dalam bahasa Rusia, ya... entah kenapa)

 

Ya, selama lima hari ini. Bahasa Rusia Alisa benar-benar meredup total.

 

Yah, bagi Masachika hal itu sebenarnya bagus. Ungkapan manja berbahasa Rusia yang dilempar secara tiba-tiba sangat tidak baik bagi jantung Masachika, dan setelah itu biasanya Alisa selaku pihak yang mengucapkannya akan melirik-lirik malu, yang membuat otot-otot wajahnya terlatih. Jadi, kalau dibilang bagus ya bagus sih... tapi ia tetap merasa penasaran. Dan begitu mulai dipedulikan, ia malah merasa sikap Alya semakin terkesan ketus.

 

(Hmm~... Yah, kalau itu cuma perasaanku saja ya syukurlah kalau memang cuma perasaanku...)

 

Hari Sabtu minggu depan telah menanti sebuah acara besar dalam pertarungan pemilihan, yaitu pidato sambutan upacara penutupan. Ia ingin menyingkirkan faktor-faktor yang bisa mengacaukan kerja sama pasangan mereka mumpung masih ada waktu. Lalu, yah...

 

(...Apa aku telah berbuat sesuatu yang membuatku dibenci?)

 

Meskipun tidak ingat pernah berbuat apa-apa, tetap saja ia tidak bisa tidak merasa khawatir, karena ada sisi kehalusan hati seorang lelaki yang mudah kepikiran.

 

 

Setelah jam wali kelas selesai, Masachika dan Alisa keluar kelas bersama sesuai janji. Saat berjalan berdampingan, ia merasakan perhatian yang terkumpul jauh lebih banyak dari sebelumnya. Sejak awal Alisa memang tidak bisa tidak menarik perhatian berkat penampilannya yang serba dunia lain, tetapi sekarang tatapan orang-orang juga tertuju ke arah Masachika. Rupanya, melalui debat minggu lalu, pasangan keduanya ini telah dikenali oleh banyak murid sebagai pasangan untuk pemilihan ketua OSIS.

 

"Mengenai... itu? Apa soal pembicaraan pidato upacara penutupan?"

"Ah, sebenarnya memang benar begitu, tapi..."

 

Seperti biasa, Alisa berbicara dengan tenang seolah tidak ada tatapan yang tertuju pada mereka. Menanggapi hal itu, Masachika ragu sejenak sebelum bertanya secara langsung.

 

"Sebelum itu... Hei, Alya. Ada apa?"

 

"Ada apa maksudnya?"

 

"Enggak, dari tadi aku terus memikirkannya... Sejak hari Senin, rasanya sikapmu agak berbeda dari biasanya, ya?"

 

Mendengar pertanyaan Masachika, Alisa berhenti melangkah seketika, lalu menatap Masachika lekat-lekat dengan ekspresi terkejut.

 

"Reaksi itu... jadi, beneran ada apa-apa, ya."

 

"..."

 

Menanggapi perkataan Masachika yang diucapkan sambil tersenyum kecut, Alisa langsung berbalik menghadap ke depan dan kembali melangkah. Lalu, ia berpura-pura bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan berkata.

 

"...Hanya perasaaanmu saja, kan."

 

"Enggak, alasan mengelak itu terlalu dipaksakan, tahu?"

 

"..."

 

Menghadapi Alisa yang sikapnya begitu keras kepala, Masachika sengaja mengarahkan pandangannya ke depan dan berbicara tanpa melihat ke arah Alisa.

 

"Apa aku telah berbuat sesuatu? Kalau iya, aku ingin kamu

mengatakannya."

 

"...Aku tidak mau bilang."

"Hmm, begitu ya..."

 

"Huu... Aku bakal berusaha semaksimal mungkin agar tidak kelihatan di luar, kok. Begitu awal minggu depan, aku bakal kembali seperti biasanya... Jadi begitu saja tidak boleh?"

 

Setelah menghela napas pelan, Alisa mengatakannya sambil melirik dari bawah seolah mengintip. Ekspresi kekanak-kanakan yang tampak sedikit gelisah itu begitu menggemaskan hingga membuatnya ingin spontan berkata, "Enggak, kok, boleh banget, kok~?" lalu mengusap kepalanya, tetapi Masachika menepis pikiran-pikiran mengganggu itu dan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi serius.

 

"Hmm~~ meskipun kamu bilang begitu... Kamu sudah bersikap begitu selama lima hari, kan? Kalau kamu beneran bisa kembali seperti biasa

sih tidak apa-apa..."

 

"...Apa sebegitu mudah dipahaminya?"

 

"Yah, begitulah..."

 

"Begitu ya... Padahal aku berniat tidak memperlihatkannya ke luar."

 

Yah, memang hampir tidak kelihatan di luar, sih. Hanya saja, bahasa Rusia-nya juga tidak keluar. Walau sepertinya dia sendiri tidak menyadarinya.

 

"Yah, kenyataannya memang hampir tidak tampak dari sikapmu, dan pemahamanmu itu sepertinya benar. Tapi aku menyadarinya, sih."

 

"H, huu~m?"

 

Sambil mengangkat bahu dan berkata begitu, Alisa sedikit menaikkan alisnya sambil mempermainkan rambutnya.

 

"Artinya, kamu sebegitu memperhatikan diriku? Padahal sedang masa ujian?"

 

Menanggapi Alisa yang mengatakannya dengan nada agak memprovokasi, Masachika membalas dengan wajah serius.

 

"Tentu saja aku memperhatikannya. Kan kamu partner pentingku."

 

"H, huuu~m?"

 

Kan kamu partner pentingku. Kan kamu partner pentingku. Kan kamu partner pentingku... Kalimat Masachika berputar-putar di dalam kepala

Alisa. Gerakan tangan Alisa yang mempermainkan rambutnya makin menjadi-jadi. Gerakannya semakin cepat hingga membuat ujung rambutnya nyaris menjadi keriting.

 

Namun, begitu jarinya mendadak berhenti bergerak, Alisa memasang ekspresi kesal dengan tajam.

 

"Kalau begitu, kenapa..."

 

"Ngh?"

 

"..."

 

Kepada Masachika yang memiringkan kepala, Alisa memalingkan wajahnya ke samping dalam diam dengan ketus. Memikirkan harus bersikap bagaimana menghadapi sikap merajuk yang begitu kentara itu,

Masachika mengganti sepatunya. Lalu, mereka mulai berjalan berdampingan menuju gerbang utama... dan beberapa saat kemudian,

Alya akhirnya bergumam pelan.

 

"...Ulang tahun."

 

"Eh?"

 

"Pesta ulang tahun, kenapa kamu tidak mengundangku?"

 

Alisa mengatakannya dengan nada tidak puas sambil tetap memalingkan wajahnya. Namun... Masachika sama sekali tidak paham apa maksudnya.

"Pesta ulang tahun? Bahas apa, sih?"

 

"Bahas apa maksudnya..."

 

Mengira Masachika pura-pura tidak tahu, Alisa menoleh dengan cepat dan merapatkan alisnya dengan rasa tidak senang. Namun, meskipun ia menunjukkan wajah seperti itu, hal yang tidak dia ketahui tetaplah tidak dia ketahui.

 

"Eh? Pesta ulang tahun? Ulang tahunku?"

 

"...Iya, lah."

 

"...Enggak, aku tidak pernah mengadakan hal semacam itu, kok... Dapat info dari mana?"

 

"Tidak pernah mengadakan, mana mungkin..."

 

"T-, tidak, aku beneran tidak pernah mengadakannya! Lagian kita ini bukan anak SD lagi, mana mungkin mengadakan pesta ulang tahun semacam itu?!"

 

"Eh...?"

 

Di situlah Alisa akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak sinkron, lalu ia memiringkan kepalanya sambil merapatkan alisnya.

 

Dan di saat yang sama, Masachika pun langsung mengerti.

"Eh, a, aah~... Jangan-jangan, di Rusia mengadakan pesta saat ulang tahun itu memang hal yang umum?"

 

"E, iya... Di Jepang berbeda, ya?"

 

"Yah, kalau di Jepang mah paling-paling anak SD... enggak, kalau di sekolah ini sih lumayan banyak yang begitu, ya. Beneran ada yang sampai mengadakan pesta di rumah segala... yah, terlepas dari itu. Setidaknya kalau aku, tidak pernah mengadakan pesta sejak lepas dari SD, tahu?"

 

"Be, begitu, ya..."

 

"Maksudku, kesempatan buat menyadari hal semacam itu selama ini kan ada-...... maaf."

 

"Kenapa malah minta maaf?"

 

"Yah, begitulah. Kan?"

 

Mana mungkin ia tega berterus terang bahwa ia sama sekali tidak punya teman untuk diundang ke pesta... jadi Masachika memilih mengemburkan kata-katanya. Namun, tak berapa lama kemudian ia mengukir senyuman menyeringai, lalu mengarahkan tatapan bermakna

ke arah Alisa.

 

"Tapi ngomong-ngomong, hum?"

 

"...Apaan, sih."

"Enggak? Cuma berpikir, sebegitunya kah kamu ingin merayakan ulang tahunku~?"

 

"!"

 

Dengan ekspresi seperti baru menelan cacing pahit, Alisa kembali berpaling dengan cepat. Namun terlambat sekilas, pipi putihnya yang mendadak merona merah terlihat sangat jelas oleh mata Masachika.

 

"...Di Rusia, tidak memberi tahu hari ulang tahun itu berarti

menunjukkan niat bahwa 'Tahun ini aku tidak mau berhubungan baik

lagi denganmu', tahu."

 

"Hum?"

 

"Apaan, sih."

 

"Enggak? Ya sudah, kuanggap begitu saja deh?"

 

"Bikin kesel...!"

 

Melihat Alisa yang benar-benar tampak jengkel, Masachika memutuskan untuk berhenti menggodanya dan mencoba memperbaiki suasana hatinya.

 

"Kalau begitu, yah... bagaimana kalau kamu merayakannya untukku? Meskipun sudah lewat tiga bulan, sih..."

 

"Eh?"

"Soalnya aku juga ingin berhubungan baik denganmu tahun ini. Hari Senin besok kan pelajarannya cuma sampai siang, bagaimana kalau kita pergi makan siang berdua ke suatu tempat? Sekalian, di sana kita juga bisa membicarakan banyak hal soal upacara penutupan... Atau jangan-jangan, di Rusia ada adat kalau tidak boleh merayakan ulang tahun yang sudah terlambat?"

 

Menanggapi pertanyaan Masachika, Alisa memiringkan kepalanya sejenak, lalu menggeleng.

 

"Tidak... Merayakan lebih awal memang tidak bagus, tapi kalau terlambat sih ya..."

 

"Sip, fix ya. Kalau begitu, minggu depan... ehem, karena aku akan menggelar pesta ulang tahunku walau agak terlambat, bersenang-hatilah untuk datang, ya."

 

"Apa-apaan itu."

 

Mendengar Masachika yang mengatakannya dengan gaya sok serius yang tidak ada gunanya, Alisa terkekeh pelan. Melihat ekspresi itu, Masachika merasa lega karena sepertinya suasana hati gadis itu sudah agak membaik. Namun, saat melihat ekspresi lega Masachika, Alisa kembali merapatkan alisnya.

 

Rupanya ia menyadari bahwa setelah dipermainkan sesuka hati, situasi mendadak berbalik dan ia malah dibujuk seperti sedang menenangkan anak kecil. Sambil melirik wajah Masachika dari samping, Alisa memasang raut tidak puas.

Tepat saat mereka tiba di persimpangan jalan, Masachika berbalik menatap Alisa.

 

"Kalau begitu, sampai di sini saja... Sampai ketemu hari Senin...?"

 

Di saat yang sama, Alisa dengan cepat mengedarkan pandangannya ke sekeliling, membuat Masachika memiringkan kepala.

 

(Mencari apa...?)

 

Di tengah rasa herannya, Masachika ikut celingukan hendak melihat sekeliling──namun saat melihat Alisa yang berbalik menghadapnya dengan senyuman menyeringai, kewaspadaannya langsung melonjak tajam.

 

(Gawat, ada sesuatu yang datang──?)

 

Masachika melangkah mundur secara refleks, tetapi Alisa mengikis jarak dengan kecepatan yang jauh melebihi itu. Dalam sekejap, ia mendekat hingga ke jarak tempat napas mereka bisa saling terasa, lalu menaruh tangannya di bahu Masachika yang mematung, kemudian menempelkan pipinya ke pipi Masachika. Lalu, ia membisikkan satu kalimat di telinga Masachika.

 

Aku tidak sabar♡

 

Begitu selesai mengatakannya, Alisa langsung menarik diri, lalu berbicara sambil menatap Masachika dengan mata yang tajam.

 

"Nah, kalau begini kita sudah berbaikan, kan. Kalau begitu, sampai nanti."

 

"O, oh..."

 

Setelah mengatakannya dengan cepat, Alisa berbalik dan berlari pergi dengan sigap. Masachika menatap punggung yang menjauh itu dengan terperangah. Lalu, dengan gerakan kaku seperti otomatis, ia mulai melangkah ke arah berlawanan... dan tepat saat memutari sudut jalan, ia menyandarkan tangannya ke tembok lalu lemas terduduk.

 

(He, heheh... Bahasa Rusia setelah empat hari... nendang banget, kan.)

 

Sambil memegangi dadanya dengan tangan, Masachika mengukir senyuman kedutan sambil membatin, Kalau sekarang sih aku percaya diri bisa muntah darah beneran.

 

(Maksudku, rasanya tolok ukurnya malah dinaikkan tinggi banget...?)

 

Jika sudah dibilangi seperti itu, tidak mungkin ia bisa membereskannya secara asal-asalan di restoran keluarga biasa. Sepertinya ia harus merayakannya dengan layak di tempat yang lumayan modis.

 

(Sabtu-Minggu ini, aku harus meriset tempat yang oke, nih...)

 

Bagi dirinya yang tidak paham hal-hal semacam itu, ini adalah misi yang terbilang cukup sulit, batin Masachika sambil tersenyum kecut.

Namun, ia lega karena setidaknya penyebab dari sikap ketus Alisa sudah terungkap. Ia memilih untuk bersyukur soal itu. Tapi, yang jauh lebih ia pahami melebihi hal tersebut adalah...

 

(Bisikan langsung di telinga secara nyata... benar-benar bisa bikin mati.)

 

Begitulah kenyataannya.

 

 

Hari Senin di awal minggu. Lima hari setelah masa ujian berakhir pada dasarnya dialokasikan untuk pengembalian lembar ujian dan wawancara tiga pihak. Kegiatan di pagi hari diisi dengan pengembalian lembar ujian, penjelasan tugas tiap mata pelajaran untuk libur musim panas, dan sesekali pelajaran biasa, lalu di sore hari diadakan wawancara tiga pihak di masing-masing kelas. Wawancara tiga pihak dilakukan sesuai urutan nomor absen, jadi Alisa dan Masachika mendapatkan jadwal besok.

 

"Jadi, bagaimana hasil ujianmu?"

 

"Emm~ yah, semua mata pelajaran tembus di atas nilai rata-rata, kok?"

 

Dalam perjalanan pulang dari sekolah. Menanggapi pertanyaan dari Alisa, Masachika menjawab sambil memiringkan kepalanya. Setidaknya untuk hari ini, lembar nilai sementara yang mencantumkan nilai pribadi dan nilai rata-rata untuk seluruh mata pelajaran sudah dibagikan.

Karena nilai bisa saja berubah akibat kesalahan pengoreksian selama proses pengembalian ujian, kepastian peringkat resmi baru akan diumumkan pada hari Sabtu. Namun, lembar nilai sementara dibagikan lebih awal untuk digunakan dalam wawancara tiga pihak.

 

Sebagai informasi, di Akademi Seirei pelajaran setengah hari diadakan tiap dua minggu sekali pada hari Sabtu, dan untuk semester ini pengumuman nilai serta upacara penutupan akan dilaksanakan pada Sabtu pagi.

 

"Yah, aku belum tahu apakah peringkatku sudah mencapai target atau belum... tapi yang jelas jauh lebih bagus dari sebelumnya, sih."

 

"Begitu, ya. Kamu sudah berjuang keras."

 

"Hebat, kan."

 

"Hebat, hebat."

 

"...Kamu ini makin lama makin tahu cara memperlakukanku, ya."

 

Melihat Alisa yang menanggapi dengan nada datar, Masachika mengarahkan pandangan mata menyipit tajam. Namun, Alisa melaluinya begitu saja seolah tidak tahu apa-apa.

 

"Hiks, Alya-chan dingin banget."

 

"Kalau berniat menirukan Masha, tolong hentikan karena itu beneran

menjijikkan."

"Baik."

 

Ditanggapi dengan mata yang sama sekali tidak tersenyum membuat Masachika mendadak berwajah datar. Kemudian, ia memalingkan pandangannya dan secara terang-terangan mengalihkan topik.

 

"Aah~... Terlepas dari itu, kalau jalan-jalan di siang bolong begini tetap saja panas, ya. Hari ini teriknya juga tajam..."

 

Sambil berkata begitu, Masachika menarik bagian dada seragamnya lalu mengibaskan angin ke dalam, kemudian menunduk menatap pakaiannya sendiri dengan wajah cemberut.

 

"Yang paling parah, seragam ini panas banget... Kenapa di zaman sekarang seragam musim panas bentuknya malah lengan panjang biasa, sih."

 

"Ah, ternyata hal seperti ini memang tidak biasa, ya..."

 

"Sama sekali tidak biasa, tahu? Sekolah lain mah rata-rata seragam musim panasnya lengan pendek, bahkan di zaman sekarang pegawai kantor pun pakai lengan pendek, lho?"

 

Memang sih bahannya lebih tipis ketimbang seragam musim dingin, tapi selama bentuknya lengan panjang, hawa panas pasti bakal terperangkap.

 

Kalau ditanya kenapa di zaman sekarang seragamnya tetap kukuh bertangan panjang... alasannya sama seperti tas sekolah, yaitu "tradisi".

Seragam Akademi Seirei sangat terkenal, hingga hanya dengan memakainya saja orang-orang di jalan bakal memperhatikan sambil membatin, Oh, murid Akademi Seirei. Bisa dibilang, seragam itu sendiri sudah menjadi semacam merek terkenal, dan mengenakannya merupakan sebuah kebanggaan bagi para murid Akademi Seirei.

 

Di saat yang sama, kesadaran bahwa diri ini selalu diperhatikan juga terhubung pada sikap murid Akademi Seirei yang berusaha menjaga perilaku yang pantas... katanya sih begitu. Tapi bagi Masachika,

 

"Jangan meremehkan pemanasan global, dong... Kalau blazer ini bisa dilepas kan rasanya bakal jauh lebih ringan."

 

"Tapi bukannya ada kabar kalau Ketua berniat mengubah bagian itu?"

 

"Itu kan salah satu janji kampanyenya saat terpilih~... tapi sepertinya mengalami cukup banyak hambatan. Mau terwujud pun, bukannya baru tahun ajaran depan?"

 

Saat ini, Touya yang memiliki pemikiran sama dengan Masachika sepertinya sedang bergerak demi perubahan seragam, tetapi tampaknya cukup sulit. Di antara para murid pun ada sejumlah kelompok yang beranggapan, "Seragam ini keren! Panas? Modis itu butuh pengorbanan!", ditambah lagi penolakan yang cukup kuat dari ikatan alumni, dengan kepemimpinan salon yang diisi oleh para mantan ketua dan wakil ketua OSIS dari generasi ke generasi.

 

Terkait hal ini, Masachika sempat curiga, "Bukan, ini mah cuma bentuk pelampiasan kekesalan ke adik kelas, 'Kami dulu tahan panas, jadi kalian juga harus tahan', kan...?"

 

"Yah, aku sangat berharap Ketua mau berjuang keras... demi kita para murid kelas menengah yang tidak diantar jemput mobil."

 

"Apa kamu cuma mau melihat para siswi pakai pakaian tipis saja?"

 

"Perhatian orang-orang justru makin panas saat pakaian makin tipis, tahu? Kamu paham banget, ya...!"

 

"..."

 

"Enggak, aku beneran tidak berpikiran begitu, kok? Yah, secara pandangan otaku sih acara perubahan seragam itu event yang cukup penting, tapi berhubung dari dulu aku di sekolah ini terus, rasanya agak kurang paham..."

 

Alisa menatap Masachika yang memberikan alasan agak melenceng itu dengan pandangan dingin, tetapi begitu mengukir senyuman memprovokasi secara mendadak, ia mengibaskan rambutnya dan mengarahkan tatapan tajam ke arah Masachika.

 

"Ara, kamu tidak mau melihatnya? Diriku yang berpakaian lengan pendek."

 

"Kalau ditanya tidak mau melihat sih, mau tidak mau harus kuakui kalau aku penasaran."

"Fufun, begitu ya?"

 

Kalau mau jujur lagi, ia sangat penasaran dengan hal yang dirumorkan

kerap terjadi pada kemeja lengan pendek, yaitu kutang menerawang.

 

Sebagai remaja laki-laki di masa pubertas.

 

(Tapi hal semacam itu kan punya citra terjadi pada siswi yang duduk di kursi depan, ya... Meskipun punggung Hikaru menerawang pun aku sama sekali tidak bakal senang.)

 

"Kamu sedang memikirkan hal aneh, ya?"

 

"Enggak? Cuma... kalau Ketua pakai kemeja lengan pendek, rasanya bakal kelihatan makin gerah saja."

 

"Kalau itu... yah, benar juga, sih?"

 

Dari ekspresi penuh kemenangan berubah menjadi mata menyipit tajam, Alisa yang memikirkan perkataan Masachika yang diucapkan tanpa rasa bersalah itu pun spontan mengangguk. Bagi Touya, ini benar-benar pencemaran nama baik.

 

"Terus, Sarashina-senpai juga rasanya bakal jadi luar biasa, ya... bagian lengan sama bahunya. Orang itu biasanya tidak mencolok, tapi kelihatannya punya postur tubuh atletis banget."

 

"Ah, benar juga."

Mengangguk kembali, Alisa menatap tubuh Masachika dari atas ke bawah, lalu memamerkan senyuman yang terkesan agak meremehkan.

 

"Dibandingkan dengan itu, kamu rasanya bakal kelihatan lembek banget, ya."

 

"Eh, kenapa mendadak diremehkan? Walau begini aku punya lumayan banyak otot, tahu?"

 

"Huu~m?"

 

"Jangan meremehkan kaum indoor, ya? Mau kuperlihatkan tubuh seksi berotot ramping milikku ini?"

 

Mencapai titik itu, Masachika mendadak membayangkannya sendiri.

 

Berbaring di atas beach bed, membuka bagian depan kemeja lengan pendeknya lalu memamerkan otot dada dan otot perutnya...

 

Membayangkan hal itu membuat dirinya spontan menutupi mulutnya dengan tangan.

 

"? Ada apa?"

 

"Enggak... waktu kubayangkan sendiri rasanya jijik banget. Otot ramping yang seksi itu pada akhirnya juga 'hanya berlaku bagi cowok ganteng', ya..."

 

Sambil menepis gambaran narsis aneh di dalam kepalanya, Masachika berbicara dengan penuh penghayatan. Di situ, Alisa mengarahkan pandangannya ke atas sedikit... lalu entah membayangkan apa, sambil mempermainkan rambutnya ia bergumam pelan.

 

Padahal tidak jijik juga, kok.

 

"Kamu bilang apa?"

 

"Aku bilang 'Jangan suruh membayangkan hal aneh, dong'."

 

"O-oh gitu... Tidak usah jujur-jujur amat di bagian itu juga tidak apa-apa, lho?"

 

"Soalnya kamu bertanya, kan."

 

Alisa mendengkus lalu mengibaskan rambutnya. Melihat hal itu dengan mata menyipit tajam, pandangan Masachika menjadi agak jauh.

 

(Sebenarnya di mata Alya, aku ini kelihatan seperti apa, sih~?)

 

Lagipula ka-kamu kan cowok ganteng.

 

(Fuguh! B, beneran deh, kelihatan seperti apa, ya...?)

 

Merasakan sensasi gatal di lubuk dadanya, Masachika berusaha setengah mati agar mulutnya tidak kedutan. Namun beruntung, tepat di timing tersebut lokasi tujuan mereka makin dekat, hingga Masachika mengalihkan kesadarannya ke sana.

Lokasi yang mereka datangi adalah sebuah toko pakaian besar untuk anak muda di dekat stasiun. Kalau ditanya kenapa sebelum makan malah datang ke toko pakaian, jawabannya simpel, yaitu untuk berganti pakaian. Masachika sebenarnya merasa pakai seragam saja tidak masalah, tetapi karena Alya menunjukkan rasa enggan sambil berkata, "Mana pantas pergi makan siang-siang begini pakai seragam?", mereka memutuskan untuk berganti pakaian sebelum makan. Walau begitu, bukan berarti mereka bakal membeli pakaian dan berganti di sini.

 

Masachika juga saat pertama kali mendengarnya sempat kagum sambil membatin, Pintar juga pemikirannya... Toko ini menyediakan kamar ganti yang dibuka secara gratis khusus untuk murid Akademi Seirei.

 

Bahkan bagi murid Akademi Seirei, selama mereka adalah remaja laki-laki dan perempuan, mereka tetap ingin mampir ke suatu tempat bersama teman-teman sepulang sekolah. Namun, berhubung mampir ke suatu tempat memakai seragam itu dilarang oleh peraturan sekolah, kalau sekadar restoran keluarga sih masih mending, tetapi jelas tidak mungkin pergi ke karaoke atau game center memakai seragam.




Apalagi mengingat seragam sekolah ini lumayan terkenal, kalau sampai ceroboh, ada kemungkinan warga sekitar bakal melapor ke pihak akademi, dan jika itu terjadi, sanksi sudah pasti tak terelakkan.

 

Kalau begitu tidak ada pilihan lain selain berganti dari seragam ke pakaian bebas di suatu tempat, tetapi di antara para murid Akademi Seirei yang didominasi kalangan berada, ada pula yang enggan berganti pakaian di tempat seperti toilet umum. Demi memfasilitasi para murid itulah toko ini membuka kamar gantinya.

 

Bagi toko pakaian anak muda, pelajar dari kalangan berada yang royal belanja adalah konsumen yang sangat menggiurkan. Kalau hanya dengan meminjamkan kamar ganti sebentar saja murid-murid Akademi Seirei bakal berdatangan sendiri dengan senang hati, meminjamkan kamar ganti sebanyak apa pun jelas bukan masalah bagi mereka.

 

(Tapi kalau dipikir-pikir, rasanya ini agak berlebihan, sih...)

 

Di bagian dalam toko, mendapati jajaran kamar ganti yang jumlahnya

gampang saja menembus dua puluh unit, Masachika mengukir senyum kecut. Sebenarnya rombongan pengunjung seperti apa yang mereka bayangkan? Tidak, mungkin ini justru membuktikan betapa mereka tak ingin melepas para murid Akademi Seirei.

 

"Kalau begitu, aku ganti baju di sini, ya."

 

"Aah, iya."

Sambil mengagumi jiwa berdagang sang manajer toko yang tangguh, Masachika memasuki kamar ganti yang jaraknya agak jauh dari Alisa, lalu segera melepas seragamnya.

 

"Aah~ panas banget tadi."

 

Sambil menikmati rasa bebas, ia mengusap keringatnya dengan handuk secara sigap, lalu mengeluarkan pakaian bebas dari tas sekunder yang biasanya dipakai menyimpan baju olahraga untuk berganti pakaian.

 

Setelah itu, seragamnya ia masukkan ke dalam tas sekunder, lalu dilemparkan ke dalam tas belanja berukuran agak besar bersama tas sekolahnya. Dengan begini, proses penyamaran selesai.

 

"Aah~ ademnya~"

 

Menikmati sejuknya kemeja lengan pendek dan pendingin ruangan sambil menunggu beberapa saat, Alisa akhirnya keluar dari kamar ganti.

 

"Maaf membuatmu menunggu."

 

"A, ah..."

 

Pakaian Alisa saat keluar adalah... gaun one-piece putih bersih yang pernah dicobanya saat mereka pergi berbelanja dulu. Mengenakan pakaian ini ke lokasi sekarang, apakah benar-benar ada maksud tertentu di baliknya atau tidak? Namun terlepas dari itu semua, sebagai seorang yang mengaku ksatria, ia harus memuji pakaian sang patron.

 

"Pakaian itu memang cocok banget sama kamu, ya."

 

"Fufun, begitu ya? Terima kasih."

 

Mendapat pujian dari Masachika, Alisa mengibaskan rambutnya dengan puas. Melihat bagaimana ia sengaja mengganti sepatunya dengan sandal biru muda yang serasi dengan pakaiannya, terlihat jelas kalau ia bertindak cukup serius... Apakah perasaan bahwa dirinya berdandan secara maksimal ini murni hanya perasaannya saja?

 

"Kalau begitu, jalan sekarang?"

 

"Eem, iya."

 

Sambil mengangguk dan menyampaikan terima kasih pada pegawai

toko, Masachika dan Alisa melangkah keluar.

 

(Gimana ya... ini rasanya suasana kencannya kuat banget, gak sih?)

 

Kalau dipikir-pikir, rasanya ini pertama kalinya ia berjalan di tengah kota pada siang bolong berdua saja dengan Alisa yang berpakaian bebas.

 

(Luar biasa, orang-orang di jalanan beneran pada menoleh.)

 

Pemandangan orang-orang yang berpapasan—baik laki-laki maupun perempuan—menatap Alisa lekat-lekat seolah jiwa mereka baru saja dicabut adalah hal yang cukup menakjubkan. Yuki memang sering ditatap lekat-lekat oleh orang yang berpapasan dengannya, tetapi jarang ada yang sampai menoleh secara terang-terangan seperti ini.

(Yah, kalau punya penampilan semencolok ini sih wajar saja.)

 

Rambut perak yang berkilau disiram sinar matahari musim panas, serta kulit putih yang begitu menyilaukan hingga tiap helai bulu halusnya seakan menampung cahaya. Ini saja sudah lebih dari cukup untuk menarik perhatian orang, apalagi ditambah dengan wajah dan postur tubuh yang luar biasa, wajar saja kalau orang-orang jadi tidak bisa memalingkan mata.

 

"...Apa?"

 

"Enggak... cuma merasa kalau kamu dapat banyak perhatian banget."

 

"Dipikirkan juga tidak ada gunanya. Ini kan takdir orang cantik."

 

Alisa mengatakannya tanpa beban, tetapi Masachika tidak bisa membantahnya.. Jika melihat ke sekeliling, tatapan yang terarah padanya adalah bukti terbaik yang membenarkan fakta tersebut.

 

"Hari ini ada aku jadi masih mending... tapi kalau kamu sendirian, bukannya kamu bakal sering banget digoda cowok?"

 

"Benar, kok. Kalau hari libur aku sering disapa orang."

 

"Ah, ternyata benar? Kalau lagi begitu, apa yang kamu lakukan?"

 

"Aku cuma bakal cerocos pakai bahasa Rusia terus-terusan sampai orangnya menyerah."

 

"...O-oh begitu."

 

Di mata Masachika, wajah Alisa agak berbeda dari orang Rusia murni.

 

Di beberapa bagian ada elemen yang mirip orang Jepang, tetapi kalau dengan penampilan seperti ini ia mengobrol menggunakan bahasa Rusia yang fasih, orang awam pasti bakal ciut duluan.

 

(Enggak, tapi syukurlah... kukira dia bakal membalasnya dengan kata-kata pedas dan kekerasan.)

 

"Kamu sedang memikirkan hal yang tidak sopan, kan."

"Sama sekali enggak, tuh? Cuma berpikir syukurlah Alya tidak pernah kena masalah gara-gara penggoda jalanan yang tidak benar."

 

Mendengar Masachika yang mengatakannya tanpa rasa bersalah, Alisa menaikkan salah satu alisnya lalu memamerkan senyuman memprovokasi.

 

"Ara, rasa memiliki? Kamu berakting seperti pacar saja, ya."

 

"Maaf ya. Saat lagi kencan, rasanya orang memang jadi ingin berakting sedikit seperti pacar."

 

"A-, begitu... kencan... be-, benar juga, ya..."

 

Namun, dibalas dengan santai oleh Masachika membuat wajahnya langsung berubah datar. Setelah mengedipkan matanya berkali-kali, ia menyusutkan bahunya karena malu, lalu mulai merapikan rambutnya dengan gelisah. Kemudian, setelah melirik pelan ke arah Masachika, ia bergumam.

 

...Pertama kali.

 

(Iya, benar begitu~ kencan denganku memang baru pertama kali ini,

kan~?)

 

Serangan super mematikan yang jumlah pengunaannya terbatas

mendadak dilancarkan! Jurus serangan pamungkas Pertama kali yang hanya bisa digunakan beberapa kali saja seumur hidup oleh seorang gadis, ditahan oleh Masachika dengan meredam daya rusaknya menggunakan jurus andalan Tafsir Menguntungkan!

 

Biar dijelaskan! Jika jurus andalan Pura-Pura Tak Dengar adalah jurus menepis kelas atas yang dilancarkan dari kalimat "Eh? Kamu bilang apa?", maka jurus andalan Tafsir Menguntungkan adalah jurus pertahanan kelas atas yang dilancarkan dari kalimat "Aah, maksudnya begitu, ya"!

 

(HAHAHA, mana mungkin gadis secantik ini baru pertama kali kencan, tidak mungkin kan.)

 

Demi menjaga kedamaian jiwanya, Masachika berusaha keras menyakinkan dirinya sendiri. Masachika sama sekali tidak punya keberanian untuk memikul beban seberat kencan pertama dari seorang gadis yang begitu sempurna. Sebut saja dia pengecut kalau mau.

(Maksudku, kata "kencan" tadi kan bukan berarti aku serius mengucapkannya? Cuma kiasan kata atau semacamnya... masa iya Alya menganggapnya serius?)

 

Sambil ragu-ragu Masachika mengintip ke arah Alisa, tetapi tepat saat mata mereka bertemu, Alisa langsung memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. Lalu, sambil terus memalingkan pandangannya, ia berbicara dengan suara sekecil dengungan nyamuk.

 

Ka-, kalau begitu... coba kita... pegangan tangan...?

 

Melihat Alisa yang pipinya agak merona sambil melirik gelisah, pandangan Masachika menjadi jauh.

 

(Aah, emm............ dia beneran menganggapnya serius banget, nih...)

 

Rasanya benar-benar membuat gatal. Sensasi gatal yang menjalar di punggungnya hingga membuat dirinya spontan ingin gemetar.

 

Namun beruntung, di saat itu toko yang dituju mulai kelihatan, hingga Masachika mengalihkan kesadarannya menggunakan jurus andalan Menunda. Istilah umumnya yaitu "soal itu disampingkan dulu untuk sementara". Tentu saja, hal yang sudah disampingkan tidak akan diungkit kembali. Teguran seperti "itu bukan menunda tapi membiarkan" tidak boleh diucapkan.

 

"Ah, sudah kelihatan. Toko yang itu."

 

"...Toko yang memajang daging itu?"

"Iya, benar."

 

Lokasi yang mereka datangi adalah restoran spesialis daging matang (aged meat) yang berada agak jauh dari stasiun.

 

Toko ini termasuk toko mahal yang agak berat bagi dompet pelajar karena saat malam pada dasarnya menyediakan menu course seharga lima ribu yen ke atas (walau di Akademi Seirei tetap ada sejumlah murid yang tidak keberatan dengan nominal segitu), tetapi sebenarnya khusus di jam makan siang, mereka bisa menikmati berbagai daging matang hanya dengan seribu yen lebih sedikit.

 

Ini adalah pilihan sepenuh hati dari Masachika yang seorang pemula dalam hal kencan, yang ia cari menggunakan internet dan kakinya sendiri sepanjang hari Sabtu dan Minggu kemarin.

 

(Gimana nih! Lumayan oke, kan!? Alya juga harusnya tidak benci daging, jadi ini pilihan yang punya selera lumayan bagus, kan! Aku tidak melarikan diri ke pilihan gampang seperti kedai ramen, kari, atau yakiniku! Hebat kan aku!)

 

Sambil mengepalkan tangan dalam hati di depan toko, Masachika melirik ke arah Alisa. Namun, Masachika tidak menyadari... bahwa Alisa juga seorang pemula dalam hal kencan. Ya, justru karena Alisa juga seorang pemula... ia mengatakan hal ini secara jujur.

 

"Aah, toko ini enak, lho. Dulu aku pernah kemari bersama keluargaku."

Satu kalimat tanpa niat jahat dari Alisa langsung menghantam Masachika! Sosok Masachika di dalam hatinya yang sedang mengepalkan tangan langsung membeku menjadi batu!

 

(A, iya... tidak, yah setidaknya masih mending ketimbang dibilangi "dulu pernah kemari tapi rasanya biasa saja", kan...)

 

Meski tubuh batunya mulai retak-retak, ia berusaha menyemangati dirinya sendiri untuk bangkit. Namun, sebuah bardiche (semacam senjata berat dari Rusia) diayunkan tepat ke arahnya tanpa niat jahat sedikitpun.

 

"Seingatku, daging rusanya enak, lho."

 

Membeku menjadi batu x senjata berat = hancur berkeping-keping.

 

Mental Masachika pada titik ini resmi hancur berkeping-keping.

 

Rasa bangga seperti, “Seleraku lumayan oke juga, kan!?” lenyap tak bersisa. Yang tersisa hanyalah rasa tak berdaya yang begitu kuat.

 

Sebab...

 

"...Maaf, menu makan siang tidak menyediakan daging rusa..."

 

"A... begitu ya."

 

Melihat sikap Masachika yang tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, Alisa yang akhirnya menyadari bahwa dirinya telah salah bicara pun terburu-buru menghiburnya.

 

"Tapi, daging lainnya juga enak, kok, jadi aku tetap senang. Nah, ayo masuk?"

 

"...Boleh, deh."

 

Membatin dalam hati, Loh? Kenapa malah aku yang dipandu begini?, Masachika melangkah masuk ke restoran. Setelah duduk di kursi meja yang diarahkan lalu memesan menu makan siang dan minuman,

Masachika segera mengalihkan topik ke pembahasan upacara penutupan demi mengubah suasana hati.

 

"Anu... kalau begitu, soal upacara penutupan."

 

"E, iya."

 

"Yah, soal detailnya paling dijelaskan oleh Ketua atau yang lainnya saat persiapan H-1, tapi aku jelaskan garis besarnya dulu, ya? Kalau sesuai tahun-tahun sebelumnya, Ketua bakal jadi pembawa acara dan membacakan nama tiap pengurus satu per satu, lalu sesuai urutan kita berdiri di podium dan menyampaikan sepatah kata. Urutannya..."

 

Masachika mengangkat tangan kanannya, lalu melipat jarinya satu per satu sambil berbicara.

 

"Kandidat ketua, kandidat wakil ketua yang jadi pasangannya, lalu kandidat ketua lainnya, dan kandidat wakil ketua yang jadi pasangannya... seperti itu, pasangan bakal dipanggil satu set tanpa memedulikan jabatannya. Kandidat ketua bakal menyampaikan intisari tekadnya menghadapi pemilihan ketua OSIS dulu, baru setelah itu pasangannya menyampaikan alasan kenapa dia mendukung dia sebagai ketua."

 

"Begitu..."

 

"Dan ini yang penting... sebenarnya acara ini tidak ada pemungutan suara, tapi ada hal yang mirip seperti itu."

 

"Eh?"

 

Melihat Alisa yang membelalakkan matanya terkejut, Masachika

memberi tahu dengan raut wajah serius.

 

"Setelah sapaan dari tiap pasangan selesai, audiens bakal memberikan tepuk tangan hanya untuk pasangan yang ingin mereka dukung.

Memang tidak ada aturan kalau cuma boleh menepuk tangan untuk satu pasangan saja, tapi bisa dibilang ini adalah bisa dibilang ini adalah pemungutan suara dalam bentuk lain."

 

"Itu artinya... anu."

 

Di situ Alisa menelan ludahnya, lalu bertanya dengan ragu-ragu.

 

“Apakah pernah ada kasus di mana tidak ada yang memberikan tepuk tangan sama sekali, sampai gedung olahraga mendadak sunyi...?”

 

"Ada, lho? Malahan, ada cerita soal pasangan yang berada di kondisi seperti itu pada masa lalu sampai-sampai tidak pernah datang lagi ke OSIS sejak semester dua."

 

"Uwaa..."

 

Mendengar cerita yang sungguh tragis itu, Alisa mengeringis.

 

Menanggapi hal itu, Masachika juga menggaruk kepalanya sambil mengangguk seolah paham perasaannya.

 

"Ada acara semacam eliminasi begini itu memang sisi merugikan dari pengurus OSIS, ya... Kalau di tahun seperti sekarang di mana ada kandidat kuat yang berkuasa mutlak, menurutku menantang pemilihan tanpa perlu menjadi pengurus OSIS adalah salah satu opsi yang bagus... yah, walau sudah terlambat, sih."

 

Mungkin sadar kalau ia membicarakan hal yang tidak ada gunanya, Masachika menggelengkan kepalanya lalu mengembalikan pembicaraan.

 

"Pembahasannya melenceng, ya. Makanya, kita juga harus menghindari skenario di mana Yuki dan Ayano mendapat tepuk tangan riuh, sementara kita cuma dapat 'hening' saja."

 

"Benar juga, ya... Kalau sampai ada perbedaan jumlah tepuk tangan yang terlalu jauh, itu bakal berdampak pada pertarungan ke depannya."

"Benar banget~ Manusia itu unik, ya. Walau dirinya berpikiran 'Bagus nih!', kalau orang-orang di sekitarnya tidak mendukung, dia tidak bakal bisa mendukung secara jujur, lho~ Yah, walau hal sebaliknya juga berlaku, sih."

 

"Aah... rasanya aku pernah mendengar hal itu. Soal adanya kecenderungan kuat untuk ikut menyukai hal yang dibilang 'suka' oleh orang-orang di sekitarnya... kalau tidak salah begitu, kan?"

 

"Iya, iya, yang itu tuh."

 

Mengangguk pada kata-kata Alisa, Masachika memamerkan ekspresi yang agak serius.

 

"Jujur saja... aku tidak berpikiran kalau kita saat ini bakal bisa mendapatkan tepuk tangan sebanyak Yuki. Tapi meski begitu, tidak mendapat tepuk tangan sama sekali itu gawat. Kalau sampai tercipta atmosfer bahwa kita sama sekali tidak didukung di sini, bakal sangat sulit untuk membalikkannya nanti."

 

"Ternyata... sulit, ya."

 

"Sulit, lho. Jumlah dan kekuatan pendukung kita saja sudah jauh berbeda. Makanya, walau agak kurang enak dibilang... target kita adalah bertahan agar tidak tertinggal jauh. Tidak perlu berusaha untuk menang. Asal tidak kalah dalam bentuk yang bisa dilihat jelas oleh siapa pun, itu sudah cukup."

 

"Bukankah itu agak terlalu pasif?"

Melihat Alisa yang merapatkan alisnya dengan agak tidak puas, Masachika mengangkat bahunya dengan tenang.

 

"Ini adalah keputusan yang diambil setelah mempertimbangkan perbedaan kekuatan antara kita dan lawan secara tenang pada saat ini, kok. Upacara penutupan semester pertama itu masih terhitung awal dari pertarungan pemilihan. Asal tidak diberi jarak yang fatal, dari sini kita bisa membalikkannya sejauh apa pun."

 

"...Benar juga. Aku paham."

 

Mendengar perkataan Masachika yang tenang dan berpandangan jauh ke depan, Alisa menarik kembali ekspresi tidak puasnya lalu mengangguk. Kemudian, seolah baru menyadarinya, ia memiringkan kepala sambil mengarahkan pandangannya ke atas serong.

 

"Ngomong-ngomong, antara Yuki-san dan aku, siapa yang bakal menyampaikan sapaan lebih dulu?"

 

"Aah, kalau soal itu harus didiskusikan dulu, sih. Waktu kita di SMP dulu diputuskan pakai pusingan batu-gunting-kertas."

 

"Huum, di bagian itu juga jabatan tidak berpengaruh, ya."

 

Menanggapi kata-kata Alisa, Masachika menaikkan tangan kanannya ke atas lalu menggerakkan bahunya ke atas dan ke bawah.

 

"Pada dasarnya tidak ada hubungan atasan-bawahan di antara jabatan selain ketua dan wakil ketua, kok. Tidak ada aturan kalau sekretaris itu lebih hebat atau seksi umum itu tidak hebat. Lagipula kalau bicara soal itu, jabatan seksi publikasi dulu kan tidak ada."

 

"Eh? Benarkah?"

 

"Loh? Bukannya aku sudah pernah bilang?"

 

Sambil mengedipkan mata dengan wajah heran, Masachika menunjuk ke wajahnya sendiri.

 

"Yang membuat jabatan seksi publikasi itu secara praktis adalah aku, lho?"

 

"Eh!?"

 

"Kalau boleh jujur, itu adalah jabatan yang kubuat demi meningkatkan kepopuleran Yuki semasa SMP... Tuh, kamu tahu kan kalau dia pinjam siaran dalam sekolah setiap dua minggu sekali saat jam makan siang untuk menyampaikan laporan kegiatan OSIS?"

 

"E, iya... memang benar dia melakukannya, sih."

 

"Itu, secara teknis penggagasnya adalah aku."

 

"Benarkah!?"

 

Laporan kegiatan yang dimaksud Masachika adalah acara mirip siaran radio yang dilakukan Yuki dua minggu sekali saat istirahat makan siang.

Yuki bakal membawakan percakapan dengan mengangkat kegiatan yang dilakukan OSIS selama dua minggu terakhir ini, serta pendapat para murid yang dikirimkan ke kotak saran (alias kotak pengaduan).

 

Dan acara ini mendapat sambutan yang sangat bagus dari para murid.

 

Selain karena kemampuan bicara Yuki yang sangat luar biasa, fakta bahwa Yuki yang biasanya tidak merusak sikapnya sebagai seorang ojou-sama yang sempurna mendadak sesekali bicara dengan gaya santai saat siaran ini juga menjadi rahasia kepopulerannya.

 

Bahkan kalau boleh jujur, tingkat perhatiannya jauh lebih tinggi daripada siaran makan siang yang biasanya dilakukan oleh klub penyiaran, sampai-sampai ada cerita kalau klub penyiaran cuma bisa tersenyum kecut.

 

"Aslinya, Yuki itu sama denganku, cuma seksi umum. Lalu demi meningkatkan kesadaran nama dan meningkatkan kepopulerannya Yuki, aku merencanakan siaran itu lalu menyuruh Yuki melakukannya. Setelah hal itu menetap sebagai acara rutinitas, 'Kalau begitu sekalian saja, buatkan jabatan khusus ketimbang seksi umum' dan pekerjaan seperti pembuatan majalah publikasi dialihkan ke sana, hingga terbentuklah jabatan seksi publikasi."

 

"Artinya, kegiatan yang dilakukan Yuki-san diakui secara resmi sebagai

pekerjaan pengurus OSIS dalam bentuk seksi publikasi, ya."

 

"Yah, kurang lebih begitu. Aduh... walau aku sendiri yang mengatakannya, itu agak curang, ya. Ketua OSIS saja pada dasarnya cuma muncul di depan umum saat ada event, tapi Yuki punya panggung untuk berbicara sebagai wajah OSIS setiap dua minggu sekali, lho? Wajar saja kalau ada perbedaan kepopuleran dengan kandidat ketua lainnya."

 

Setelah mengatakannya sambil tersenyum kecut, Masachika merapikan ekspresi wajahnya lalu melanjutkan.

 

"Yah, mengomentari hal itu sekarang juga tidak ada gunanya, sih.

Kembali ke topik... soal sapaan, seperti yang kubilang sebelumnya kamu bebas bicara sesukamu. Bagian yang kurang kata-kata bakal kubantu lewat sapaanku."

 

"Paham... Tolong bantuannya, ya."

 

"Sip. Lalu... benar juga. Kalau mau mengincar hasil imbang, kita harus mengambil giliran pertama saat sapaan. Giliran pertama bakal menjadi tolok ukur bagi giliran selanjutnya, jadi mau tidak mau tepuk tangan bakal cenderung tertahan. Karena ada pemahaman bersama soal hal itu, kalaupun giliran kedua memberikan jarak, kita punya alasan yang masuk akal."

 

"Mmm..."

 

Melihat Alisa yang memasang raut tidak puas secara jelas, Masachika tersenyum kecut.

 

"Jangan memasang wajah begitu, dong... Tentu saja kalau tidak memilih cara, masih ada hal yang bisa dilakukan, sih..."

"Contohnya?"

 

"Eeh~? ...Seperti mengguncang mental Yuki dan Ayano? Tapi permainan

kotor seperti itu kan tidak sesuai dengan prinsipmu, kan?"

 

"Benar juga, sih..."

 

Melihat Alisa yang merengut hanya dengan mendengarnya saja, Masachika mengangkat bahunya sambil membatin, Pasti begitu, kan.

 

"Yah, kalau pihak sana yang mulai duluan sih beda cerita... tapi mereka juga tidak bakal melakukan hal sejauh itu, kok. Ini kan bukan debat."

 

"...Sebaliknya, kalau saat debat baru kamu katakan?"

 

"Jika memang diperlukan."

 

Menjawab pertanyaan Alisa, Masachika memberikan tanggapan singkat.

 

Lalu, ia menatap Alisa seolah sedang menguji kesiapannya.

 

"Kamu merasa jijik padaku?"

 

"...Tidak. Menurutku itu hal yang sulit buat kulakukan, tapi taktik semacam itu kan juga keterampilan yang dibutuhkan oleh pengurus OSIS... Aku sama sekali tidak merasa jijik, kok."

 

"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."

 

Mengangguk pelan, sudut bibir Masachika terangkat.

 

"Yah, tenang saja karena aku tidak bakal melakukan hal sekejam itu, kok. Aku kan bukan Miyamae."

 

"? Maksudnya?"

 

"Ah bukan, itu... Nah, makanannya sudah datang."

 

Masachika memotong pembicaraan tepat saat makanan yang dipesan diantarkan ke meja. Bagaimanapun juga... cerita soal Nonoa yang pernah mencuci otak beberapa orang pada masa lalu jelas tidak bisa dibocorkan kepada Alisa. Demi menghindari pandangan heran Alisa, ia mengambil minumannya lalu mengangkatnya sedikit untuk melakukan toast ala kadarnya.

 

"Anu, kalau begitu sekalian demi memperingati hari ulang tahunku, ya? Cheers~"

 

"...Cheers."

 

Sambil memamerkan ekspresi agak canggung, mereka saling mengadukan gelas dengan denting pelan, meminumnya seteguk, lalu segera menikmati hidangan.

 

Di atas piring tersaji sayuran tumis dan beberapa jenis daging yang masing-masing diiris dua potong, yang kabarnya bisa dinikmati dengan membandingkan tiga jenis garam berbeda.

Masachika mencoba mencicipi daging sapi (ia sempat melewatkan nama brand dan bagian dagingnya) dengan menaburkan garam berwarna merah yang disebut garam anggur.

 

"Mmm, enak banget ini."

 

"Iya, benar ya."

 

Mendapati rasanya yang jauh di atas perkiraan, Masachika benar-benar melupakan pembicaraan tadi untuk sementara waktu dan menikmati perbandingan rasa tiap sajian sepuasnya.

 

(Garam ini enak banget... Bisa dibeli di mana, ya?)

 

Saat Masachika sedang memikirkan jenis garam unik yang belum pernah ia cicipi sebelumnya itu, Alisa mendadak bergumam pelan.

 

"Rumor soal Miyamae-san itu... ulah Kuze-kun?"

 

"Ngh?"

 

Masachika memikirkan maksudnya sejenak... lalu menyadarinya dengan cepat. Sambil sedikit merengut, Masachika mengangkat bahunya.

 

"Aah... yang itu, ya. Bukan, itu rumor yang dipikirkan dan disebarkan

sendiri oleh Miyamae, kok. Aku memang sempat berdiskusi dengannya, tapi... aku tidak pernah mendengar kalau dia bakal memakai cara seperti itu."

 

"Begitu ya..."

 

Rumor yang disebarkan Nonoa merebak ke seluruh sekolah selama masa ujian, dan saat ini pandangan terkait debat tersebut utamanya terbagi menjadi dua kubu: "Pasangan Sayaka dan Nonoa kalah gara-gara diskualifikasi/pelanggaran", serta "Enggak ah, kalau diteruskan sampai akhir juga belum tentu tahu bagaimana hasilnya".

 

"Yah, pada akhirnya rumor yang menyudutkan Taniyama berhasil diredam, kan... Meski di saat yang sama, sesuai dugaan, hasil akhir debatnya jadi menggantung."

 

"..."

 

Alisa tidak memberikan balasan atas perkataan Masachika, ia hanya menundukkan pandangannya menatap piringnya sendiri dalam diam. Ia tampak sedang memikirkan hal lain... dan Masachika tahu betul apa "hal lain" yang dimaksud.

 

Saat ini di sekolah, muncul sedikit nada kritikan yang mengarah pada Nonoa gara-gara tindakannya yang menyusupkan penonton bayaran saat debat. Mengingat bahwa ia sendiri yang membongkarnya, ditambah lagi kepribadian Nonoa yang biasanya, sebagian besar murid hanya sebatas merasa heran sambil membatin "Duh, ada-ada saja", tetapi... memang benar bahwa ada sebagian murid yang memasang raut tidak suka.

 

"Aah~... Biar kupertegas, menurutku kamu tidak perlu kepikiran soal Miyamae, lho? Ini seriusan. Itu kan hal yang sengaja dilakukan oleh dirinya sendiri, dan anak itu punya mental baja yang tidak bakal goyah sedikit pun mau dibilang apa pun oleh orang lain."

 

Masachika memberi tahu Alisa yang tampak menyembunyikan rasa cemasnya. Lalu setelah berpikir sejenak, ia berbicara dengan tenang.

 

"...Maaf ya. Harusnya mungkin masih ada cara lain."

 

"Eh..."

 

"Gara-gara aku menyerahkan semuanya pada Miyamae, penyelesaiannya jadi berakhir seperti ini. Kalau saja aku mengulik apa yang berniat ia lakukan lalu memikirkannya bersama, harusnya masih──"

 

"Tidak, tidak apa-apa, kok."

 

Alisa menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk memotong perkataan Masachika.

 

"Pada akhirnya, aku sendiri tidak melakukan apa pun dan tidak bisa melakukan apa pun, kan. Orang sepertiku tidak punya hak untuk mengomentari hasil ini."

 

Setelah mengatakannya dengan nada agak kesepian, Alisa mengukir senyuman lembut.

 

"Makanya... terima kasih ya, Kuze-kun. Sudah mau bergerak demi aku."

Melihat senyuman manis yang terkesan rapuh itu, Masachika merasa sangat serba salah.

 

"Sip... tidak usah dipikirkan."

 

Lalu setelah bersusah payah membalas sebatas itu, ia menundukkan pandangannya dan kembali makan. Melihat sikap Masachika yang seperti itu, Alisa mengukir senyuman menyeringai di bibirnya.

 

"Ara, ada apa? Kamu merasa malu?"

 

"...Bisa diam tidak."

 

Namun, gara-gara merasa sangat goyah, Masachika tidak bisa memberikan balasan yang bagus. Melihat Masachika yang membalas seperti anak SD, senyuman Alisa justru semakin mendalam.

 

"Imutnya."

 

Aduh, anak ini akhirnya mulai mengucapkannya dalam bahasa Jepang.

 

Sambil memasang senyuman cengengesan, Alisa memicingkan matanya bak seekor kucing yang baru menemukan mainan. Lalu, ia menjepit sepotong daging dengan sumpitnya, menaburkan garam batuan, lalu menyodorkannya ke hadapan Masachika.

 

"Nah, ini sebagai tanda terima kasih. Aaa~n."

 

Siapa sangka adegan "aaa~n" bakal terulang kembali. Berbeda dari restoran keluarga, di restoran ini tidak ada sekat pemisah di antara kursi meja, hingga Masachika bisa merasakan dengan jelas tatapan orang-orang yang terkumpul dari sana-sini. Namun, Alisa menyodorkan sumpitnya tanpa merasa terganggu sedikit pun.

 

(Anak ini beneran lagi melunjak banget, ya... Tahu orang lagi goyah, dia malah gencar melancarkan serangan... Apa dia lupa kalau gara-gara hal ini terakhir kali dia jadi tidak bisa memakai sendoknya sendiri?)

 

Mengingat kejadian sebelumnya, saat Alisa sempat kebingungan dan serba salah karena tidak bisa menggunakan sendok setelah melakukan "aaa~n", Masachika menyipitkan matanya. Lalu, demi memberi sedikit pelajaran kepada pasangannya yang mulai melunjak itu, ia membulatkan tekad dan menggigit daging tersebut.

 

Tanpa keraguan sedikit pun, ia meraup daging yang disodorkan beserta sumpitnya ke dalam mulut. Kemudian sambil menatap lurus ke arah Alisa seolah sedang memelototinya, ia menelannya bulat-bulat, lalu tertawa memprovokasi.

 

"Terima kasih, rasanya enak banget."

 

"Begitu, ya."

 

Namun, Alisa justru kembali tertawa dengan santai... lalu secara mengejutkan melanjutkan makan menggunakan sumpit tersebut secara biasa.

 

(A-, tidak goyah, dong...!?)

 

Pipinya memang terkesan agak merona, tetapi senyumannya sama sekali tidak goyah. Malahan, Masachika yang melihat pemandangan di mana sumpit yang baru saja menyentuh bibirnya kini masuk ke dalam mulut Alisa justru merasa goyah di luar dugaan.

 

(Uh, g-, gimana ya, gawat nih. Entah kenapa, rasanya alurnya beneran direbut total.)

 

Ia berusaha memandang piringnya sendiri demi menata kembali pikirannya, tetapi makanan yang tersisa sudah hampir habis. Makanan itu habis hanya dalam beberapa suapan, dan saat ia mendongak, Alisa juga baru saja selesai makan.

 

"Terima kasih atas makanannya."

 

"...Terima kasih atas makanannya."

 

"Kalau begitu, ini hadiahnya."

 

"Eh?"

 

Alisa yang memamerkan senyuman mengeluarkan sebuah kotak berbingkus kado dari dalam barang bawaannya, membuat Masachika teringat bahwa acara ini pada dasarnya adalah peringatan hari ulang tahunnya.

 

"Nah, silakan."

"Aah, seriusan? Kamu sampai repot-repot menyiapkan hadiah ulang tahun untukku... Terima kasih, ya."

 

Menerima kotak itu dan mem bukanya sesuai dorongan Alisa, barang yang keluar dari dalam adalah sebuah cangkir mug dari porselen putih.

 

Desainnya melengkung anggun, dengan ukiran motif tumbuhan berwarna biru di bagian sisinya.

 

"Ooh... cangkir mug yang seleranya bagus banget, ya..."

 

"Fufu, benar, kan?"

 

Baik desain maupun sentuhan permukaannya yang halus memancarkan kesan mewah yang sangat kuat, membuat Masachika terkagum-kagum secara jujur. Bukan sekadar basa-basi, ia beneran menyukai cangkir mug ini.

 

"Terima kasih, ya. Bakal kupakai baik-baik."

 

"Iya, harus dipakai, ya?"

 

Mendengar Masachika yang menyampaikan terima kasih secara jujur, Alisa mengangguk dengan anggun. Sambil memasukkan kembali cangkir mug itu ke dalam kotaknya seperti semula, Masachika mendadak membatin.

 

(Tapi ngomong-ngomong, barang kebutuhan sehari-hari, ya... Kukira hadiah semacam ini biasanya berupa barang yang bisa habis dikonsumsi...)

 

Mana memilih barang pecah belah pula... tidak, apakah mungkin di Rusia ada kebiasaan memberikan barang pecah belah saat ulang tahun...? Saat Masachika mengarahkan pandangannya dengan penuh tanda tanya, Alisa memiringkan kepalanya sedikit.

 

"? Ada apa?"

 

"Tidak... cuma berpikir, bukannya barang pecah belah begini biasanya dibeli sepasang oleh sepasang kekasih~?"

 

Masachika mengajukan pertanyaan itu dengan sedikit niat membalas, tetapi Alisa sama sekali tidak gentar dan justru mengukir senyuman.

 

"Ara... ternyata kamu tahu betul, ya. Barang ini tentu saja kubeli sepasang. Bagian milikku sudah kupakai di rumah, lho."

 

"Seriusan!?"

 

"...Lalu, kalau kubilang begitu kamu mau bagaimana?"

 

Sambil memamerkan senyuman cengengesan, Alisa balik bertanya.

 

Masachika yang telak dibuat goyah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan hanya bisa memalingkan wajah. Entah kenapa, hari ini ia merasa sama sekali tidak punya peluang untuk menang.

"Ngomong-ngomong, Kuze-kun."

 

"...Apa?"

 

Saat menolehkan pandangannya pelan, Alisa mengukir senyuman manis lalu berbicara.

 

"Di Rusia, pesta ulang tahun itu penyelenggaranya adalah sang tokoh utama... tapi kalau untuk pembayaran di sini, bolehkah aku berharap padamu?"

 

"T, tentu saja, dong!"

 

Meskipun sejak awal memang berniat begitu, gara-gara goyah jawaban Masachika jadi agak aneh.

 

(Tidak, tenang... Tambah minuman pun, paling per orang sekitar dua ribu lima ratus yen. Yup, sama sekali tidak masalah.)

 

Saat ia menghitung ulang di dalam kepalanya secara sigap dan hendak mengangguk kembali pada Alisa... lebih cepat dari itu, Alisa yang mengukir senyuman tipis langsung mengambil nota pembayarannya.

 

"Cuma bercanda, kok. Bagian ini biar aku yang traktir."

 

"Aah, tidak... seriusan tidak apa-apa, kok?"

 

"Tidak apa-apa. Sebagai gantinya, lain kali gantian kamu yang traktir aku, ya?"

Tepat setelah mengatakannya, Alisa mengambil barang bawaannya lalu berdiri dan bergegas menuju kasir. Dan saat Masachika terburu-buru memasukkan hadiahnya lalu menyusul dari belakang, proses pembayarannya sudah selesai.

 

"Terima kasih banyak~"

 

Dilepas oleh pegawai toko, mereka berdua keluar dari restoran. Alurnya sudah sepenuhnya dikendalikan oleh Alisa.

 

(Aduh, tidak bisa. Hari ini aku tidak bakalan bisa menang dari Alya.)

 

Iramanya direbut total, membuat Masachika mendongak menatap langit dengan pandangan hampa. Melihat sikap Masachika yang seperti itu, Alisa menyapa dengan nada yang terkesan agak mengkhawatirkan.

 

"...Sebegitunya kamu memikirkan pembayarannya?"

 

"Eh? ...Aah, yah, begitulah."

 

"Begitu, ya..."

 

Seketika itu juga, senyuman Alisa berbalik menjadi senyuman yang sangat manis. Senyuman luar biasa yang membuat orang yang melihatnya ikut tersenyum secara alami... namun, firasat buruk justru menjalar di punggung Masachika.

 

"Ngomong-ngomong, kalau ulang tahun kan sudah sewajarnya butuh kue, kan?"

"Eh? Yah... begitu, ya?"

 

Kepada Masachika yang mengangguk sambil memalingkan pandangannya, senyuman Alisa makin mendalam. Senyuman itu membuat kata-kata Alisa sebelumnya kembali terbayang di dalam benak Masachika.

 

Tidak apa-apa. Sebagai gantinya, lain kali gantian kamu yang traktir aku, ya?

 

Firasat buruk Masachika berubah menjadi kepastian... dan menjadi kenyataan.

 

"Kuze-kun, di dekat sini ada toko kue yang rasanya enak bangeeet, lho."

 

Kena jebak...! Menyadari dirinya telah dikerjai habis-habisan, Masachika gemas sendiri dalam hati. Namun, menunjukkan sikap kekanak-kanakan di situasi yang sudah terlanjur basah begini jelas tidak ksatria. Karena itulah, Masachika memilih untuk bersikap gentleman, membusungkan dada lalu memamerkan senyuman yang luar biasa.

 

"Kalau begitu, mari kita pergi ke sana? Kali ini biar aku yang traktir."

 

"Benarkah? Aku tidak sabar."

 

Lalu, mereka berdua pun melangkah menuju toko kue sambil memamerkan senyuman yang berasal dari emosi yang berbeda dari satu sama lain.

 

...Sebagai informasi, Alisa menghabiskan lima potong kue seorang diri.

 

Dan total harganya, termasuk biaya minuman, dengan mudahnya menembus angka tiga ribu yen.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close