Bab 7: Sepertinya Itu 5M
Keesokan harinya, Masachika baru
terbangun saat waktu sudah lewat sedikit dari pukul sebelas.
"Seriusan, nih...? Ini mah terlalu
banyak tidur. Malahan kok bisa-bisanya aku tertidur selama ini."
Sedemikian seringnya ia mengalami kurang
tidur kronis hingga utang tidurnya bikin bangkrut secara finansial pun, tidur
hampir separuh hari jelas-jelas sudah keterlaluan. Jika menghitung waktu
tidurnya kemarin siang, bisa dibilang sebagian besar waktunya dalam sehari
dihabiskan hanya untuk tidur. Kalau sudah sampai di tahap ini, tubuhnya justru
terasa makin lemas dan berat. Ia sampai tidak bisa membedakan apakah rasa lemas
di kepala dan tubuhnya ini gara-gara flu atau gara-gara terlalu banyak tidur.
"Maksudku, kalau begini kan rasanya
aku jadi seperti membolos sekolah..."
Lantaran ketiduran tanpa memberi tahu
sekolah bahwa ia libur, rasa panik dan keringat dingin menyembur keluar di
dalam diri Masachika.
Namun tepat setelah itu, suara ketukan
pintu secara memaksa memutus jalan pikirannya.
"Masachika-sama, apakah Anda sudah
bangun?"
"A, iya..."
Saat ia membalas suara yang sangat
familier itu diiringi rasa bingung, sosok yang masuk adalah Ayano yang
berpakaian maid lengkap.
Sambil merapatkan kedua tangan di depan
perutnya, ia menundukkan kepalanya yang dihiasi head dress dengan postur tubuh
yang luar biasa anggun hingga membuat orang terkagum-kagum.
"Selamat pagi, Masachika-sama."
"Ooh, selamat pagi... Kamu sampai
ikut libur sekolah juga?"
"Iya. Sebab merawat Masachika-sama
jauh lebih penting daripada sekadar pengembalian lembar ujian. Soal
ketidakhadiran Masachika-sama juga sudah disampaikan oleh Tomohisa-sama, jadi
Anda tidak perlu khawatir."
"Dari Kakek... begitu, ya."
Mengamati seluruh tubuh Masachika yang
menghela napas lega secara cepat, Ayano menyodorkan termometer padanya.
"Silakan, Masachika-sama."
"Ah, terima kasih."
"Bagaimana kondisi tubuh Anda?"
"Sudah jauh mendingan... kayaknya
sih, tapi kali ini tubuhku lemas gara-gara terlalu banyak tidur... Terus,
tenggorokanku masih sakit. Yah, ini juga mungkin gara-gara tidur terus dan
belum minum air, sih."
"...Begitu, ya."
Di saat mereka saling melempar tanya
jawab terkait kondisi fisiknya, termometer berbunyi sehingga ia mencabutnya
untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Tiga puluh enam koma tujuh derajat.
Yah, sudah hampir suhu normal, sih."
"Itu adalah hal yang sangat baik.
Saya berniat menyiapkan makanan, antara bubur atau udon, manakah yang Anda
inginkan?"
"Kalau begitu, udon saja."
"Baik, saya mengerti."
Menyampaikan rasa terima kasih atas
perhatian Ayano, Masachika mencuci tangan dan berkumur, menyiram keringatnya
secara sigap dengan shower, lalu berganti pakaian santai dan kembali ke ruang
keluarga.
Ia menikmati udon kaya kuah kaldu yang
disiapkan oleh Ayano, lalu menghabiskan porsi satu setengah orang dengan lahap.
Pada saat itulah,
rasa lemas di tubuhnya akhirnya mulai
mereda.
"Fuu... terima kasih atas
makanannya."
"Sama-sama. Sepertinya nafsu makan
Anda juga sudah pulih sepenuhnya, ya."
"Iya, sudah hampir sembuh total.
Sakit tenggorokannya juga sudah agak mendingan."
"Saya merasa lega. Namun untuk
berjaga-jaga, tolong istirahat dengan tenang untuk hari ini."
"Iya, lagipula sekolahnya juga sudah
selesai..."
Melihat ke arah jam, waktu menunjukkan
pukul dua belas tiga puluh lima menit. Jika biasanya ini adalah jam istirahat
makan siang, karena hari ini pelajarannya cuma sampai siang, berarti sekarang
sudah jam pulang sekolah. Besok para pengurus OSIS dijadwalkan untuk melakukan
persiapan upacara penutupan, tetapi hari ini sama sekali tidak ada urusan OSIS
yang masuk.
"Masachika-sama, ini obatnya."
"Ah, terima kasih...?"
Di saat ia sedang memastikan jadwal di
dalam kepalanya, obat dan air
disodorkan padanya, dan melihat hal itu
Masachika merasakan ada sesuatu yang mengganjal.
(Ngh? Ada apa? Apa yang mengganjal, nih?)
Perasaan ganjil yang amat tipis,
seolah-olah ada fakta penting di sana yang belum ia sadari. Namun, naluri
Masachika membisikkan peringatan bahwa ia tidak boleh mengabaikan rasa ganjil
ini.
(...Obat tablet, kah?)
Menatap lekat-lekat pada obat tablet yang
diletakkan di telapak tangan Ayano, Masachika merasa telah menemukan jawaban
atas rasa ganjil tersebut. Kemarin gara-gara linglung oleh demam ia tidak
begitu memedulikannya, tetapi ia merasa pernah melihat obat tablet ini.
"Ada apa, Masachika-sama?"
Ayano yang memiringkan kepalanya tetap
berwajah datar seperti biasanya. Namun, rasanya ia terlihat agak sedikit
tegang... sambil menatap mata itu lekat-lekat, Masachika berbicara dengan
tenang.
"Ayano. Perlihatkan kemasan obat ini
padaku."
"..."
Sama sekali tidak ada guncangan raut
wajah yang terlihat jelas. Namun, jawaban juga tidak langsung diutarakannya
secara instan. Atas keraguan diam yang diperlihatkan Ayano, rasa curiga di
dalam diri Masachika makin menguat.
"Ayano."
"...Baik, saya paham."
Merespons panggilan Masachika, Ayano
memejamkan matanya pasrah, lalu membawakan kemasan obatnya. Setelah melihat
nama produk dan daftar kandungannya di bagian belakang kemasan, Masachika
mendongakkan wajahnya dengan yakin.
"Ayano... obat ini memang bisa bikin
aku mengantuk karena kondisi tubuhku, kan?"
"...Benar, begitu."
Mendapat pembenaran dari Ayano, Masachika
menjadi paham. Wajar saja ia tertidur sangat lama. Itu bukan sekadar kurang
tidur biasa, melainkan gara-gara efek samping obat flu yang membuatnya
mengantuk.
Keraguan sudah terpecahkan. Obat yang
dibeli Alisa murni tidak cocok dengan konstitusi tubuh Masachika saja. Hanya
saja, yang membuat penasaran adalah... kenapa Ayano tetap meminumkan obat ini
padanya padahal ia sudah tahu. Bahkan sebelum itu, siapa yang memilih obat ini.
"Ayano, kamu sudah tahu kan kalau
obat ini bikin aku mengantuk? Kenapa kamu tidak memberi tahu satu kata
pun?"
"..."
Mendapat kejaran pertanyaan dari
Masachika, Ayano tidak memberikan jawaban... lalu lewat gerakan yang mengalir,
ia melakukan dogeza di tempat tersebut.
"Saya memohon maaf yang
sebesar-besarnya."
"..."
"Memberikan obat yang tidak sesuai
dengan kondisi tubuh Masachika-sama selaku tuan saya merupakan perbuatan yang
tidak termaafkan."
Menghadapi Ayano yang memamerkan dogeza
yang sangat indah di atas karpet, Masachika bertanya dengan tenang.
"Ayano... yang menyuruh Alya membeli
obat ini, apakah Yuki?"
"..."
Yang membalasnya adalah keheningan yang
membenarkan. Keheningan yang tercipta gara-gara ia tidak bisa menjual tuannya
(Yuki), tetapi juga tidak bisa membohongi tuannya (Masachika).
"Apa yang sedang direncanakan oleh
Yuki? Kalau tujuannya adalah membuatku libur sekolah hari ini, apa maksud di
baliknya?"
"..."
Mendapat pertanyaan dari Masachika, Ayano
murni mempertahankan keheningannya. Melihat sosok yang memantapkan tekad
memikul seluruh dosa seorang diri demi tuannya itu, Masachika menghela napas
pelan, lalu memperlunak nada bicaranya dan menyapa dengan lembut.
"Ayano."
"Iya."
"Kalau kamu mau menceritakan
semuanya secara jujur, urusan perawatan hari ini bakal kuserahkan sepenuhnya
padamu. Aku tidak bakal menyela sedikit pun, dan bakal memasrahkan diri pada
perawatanmu."
"!? Ti-, tidak... saya tidak bakal
kalah oleh godaan semacam itu."
"Enggak, aku sama sekali tidak
berniat menggodamu, tahu?"
Meski punggungnya tersentak pelan, Ayano
menepis tawaran itu sambil mempertahankan posisi dogeza-nya. Sambil menggaruk
kepalanya melihat responsnya yang agak melenceng itu, Masachika berucap dengan
agak pasrah.
"Kalau begitu... bagaimana dengan
ini. Kalau kamu mau menceritakan semuanya secara jujur, aku bakal memandangmu
dengan hinaan sejadi-jadinya sambil membatin 'Dasar sampah, berani-beraninya
menjual tuan sendiri'."
"Eh!?"
"Woi, barusan kamu agak goyah,
ya."
"! Tidak, mana ada hal semacam
itu."
"Bohong banget. Barusan keluar
reaksi paling hebat dalam tahun ini, tahu. Sudah lama aku tidak mendengar
suaramu yang seperti itu."
Mendapat pandangan mata yang melotot
terperangah diiringi rasa haram saat Ayano mendongak, sebelum akhirnya
mengedarkan pandangan dan kembali ke posisi dogeza, Masachika mengarahkan
pandangan mata menyipit tajam pada Ayano.
Saat itu, Ayano mendongakkan wajahnya
sedikit lalu membuka suara dengan ragu-ragu.
"Anu, Masachika-sama..."
"...Apaan, sih."
"Sebagai informasi saja... mengenai
memandang hina tadi, apakah
dilakukan sambil menginjak kepala
saya?"
"...Kamu mau diinjak?"
"Tidak, saya hanya berpikir apakah
secara korelasi posisi bakal jadi seperti itu. Berhubung di hadapan saya ada
kaki telanjang Masachika-sama, untuk memastikan saja apakah maksudnya bakal
jadi seperti itu."
"Jangan mengalihkan pembicaraan.
Jawab pertanyaanku. Kamu mau diinjak?"
"..."
"Malah diam, dong."
Dengan beralihnya penjelasan Ayano yang
secara tidak wajar mendadak cerewet demi membela diri sebelum akhirnya kembali
memilih bungkam, Masachika hanya bisa menatap jauh ke luar jendela dengan
pandangan hampa. Emm~ cuacanya cerah banget. Di luar, silau banget~.
Tindakan ini awalnya ia lakukan setengah
bercanda dan setengahnya lagi demi menguji dugaan apakah Ayano seorang
masokis... tapi respon yang didapat benar-benar melampaui perkiraannya.
Sepertinya, teman masa kecilnya ini bukan sekadar masokis biasa, melainkan
seorang super masokis. Pelayan M yang pendiam, tanpa suara, dan tanpa ekspresi.
Kalau semuanya digabungkan, jadinya 5M. Wah, mantap sekali!
"Haa..."
Sambil memegangi dahi seolah kepalanya
mendadak pusing, Masachika menghela napas panjang, lalu berdiri dan melangkah
menuju kamarnya.
"Aku mau berangkat ke sekolah.
Lagipula aku tidak berniat menyalahkanmu untuk hal sepele begini, jadi cepat
berdiri."
"Tidak, saya tidak bisa melakukan
itu. Sebuah kesalahan sudah sepatutnya mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Kalau begitu, selama aku pergi ke
sekolah, bersihkan rumah ini sampai mengilap. Itu hukuman dariku untukmu."
"...Baik. Saya mengerti."
Mendengar hal itu, Ayano akhirnya
berdiri, lalu mengarahkan tatapan cemas pada Masachika.
"Apakah Anda benar-benar akan
berangkat ke akademi? Bukankah sebaiknya Anda beristirahat saja..."
"Demamku sudah turun, jadi tidak ada
masalah."
"Setidaknya, biarkan saya menyiapkan
mobil untuk Anda?"
"Ketimbang menunggu mobil disiapkan,
bakal jauh lebih cepat kalau aku
berjalan kaki, kan."
"Namun, berjalan di bawah terik
matahari yang menyengat saat baru saja pulih dari sakit itu... Lagipula,
anu..."
"Ada apa?"
Merespons pertanyaan Masachika, Ayano
mengedarkan pandangannya dengan ragu-ragu, lalu membuka suara dengan nada yang
terkesan berat untuk diutarakan.
"Bagaimanapun juga, jika Anda
berangkat sekarang... sepertinya, sudah terlambat."
"...Apa?"
◇
Didesak rasa cemas akibat kata-kata tidak
menyenangkan dari Ayano, Masachika bersiap-siap dengan kecepatan penuh, lalu
mengabaikan cegahan Ayano dan langsung melesat menuju akademi.
Di tengah sengatan sinar matahari yang
membakar, ia memecut tubuhnya yang baru saja pulih dari sakit untuk terus
berlari. Saat ia tiba di akademi, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang
lewat sedikit.
Beberapa murid yang keluar dari gerbang
utama satu per satu kemungkinan adalah mereka yang baru selesai makan siang di
kantin. Di tengah deretan murid yang pulang agak terlambat untuk ukuran sekolah
setengah hari, Masachika berlari menembus arus mereka menuju gedung sekolah
diiringi tatapan heran dari sekitar.
"Alya, Yuki... kalian di mana?"
Sambil menghembuskan napas yang
terengah-engah, Masachika mengganti sepatunya lalu memikirkan ke mana ia harus
melangkah. Ia memutuskan untuk memeriksa kelas terlebih dahulu, baru kemudian
menuju ruang OSIS.
Sambil menelan sesuatu yang lengket di
tenggorokannya, Masachika berjalan cepat menuju ruang kelas.
Saat itulah, terdengar percakapan heboh
dari tiga orang murid laki-laki yang berjalan searah darinya.
"Uwah~ Putri Suou benar-benar luar
biasa, ya. Aku sudah tahu sih, tapi kemampuan bicaranya beneran beda
kelas."
"Putri Alya juga kelihatannya sudah
berjuang keras, sih~ Tapi ya, memang beda kelas, beda kelas."
"Waktu melihat debat kemarin aku
sempat berpikir Kujou-san lumayan juga... tapi kemampuan adlib-nya ternyata
tidak ada apa-apanya, ya. Saat debat kemarin dia cuma bicara sesuai naskah
saja, kan?"
"Aah~ bisa jadi, tuh~"
"Paham banget."
Melewati ketiga orang yang mengobrol
tanpa menyadari keberadaannya itu, Masachika merasakan rasa cemas di dalam
dadanya makin membuncah.
(Apa-apaan? Kemampuan bicara?
Jangan-jangan debat? Tidak, tidak mungkin mereka menggelar debat tepat sehari
setelah kejadian kemarin...)
Informasi yang ada terlalu sedikit untuk
menarik kesimpulan. Namun, meskipun detailnya masih belum jelas, ia bisa
memahami bahwa Yuki telah melancarkan sebuah pergerakan, dan hasilnya telah
tercipta jurang perbedaan antara dirinya dengan Alisa.
(Sial, aku lengah! Aku terlalu yakin
tidak bakal ada apa-apa sampai upacara penutupan... Siapa sangka, dia bakal
melancarkan pergerakan di timing seperti ini!)
Sambil merutuki kecerobohannya sendiri,
Masachika mengintip ke dalam kelasnya. Dan di sana... ia menemukan sosok Alisa
yang sedang duduk sendirian di kursinya.
"Alya..."
Saat ia membuka pintu kelas, Alisa yang
tadinya menatap lurus ke permukaan meja mendongak pelan, lalu membelalakkan
matanya saat menyadari keberadaan Masachika.
"Kuze-kun...!? Kenapa kamu...!"
"...Aku mendengar dari Ayano kalau
Yuki melancarkan sesuatu."
"Begitu... Kondisi tubuhmu tidak
apa-apa?"
"Demamku sudah turun jadi tidak ada
masalah. Daripada itu... sebenarnya apa yang terjadi?"
Saat Masachika duduk di kursinya
menghadap ke arah Alisa, Alisa
menggigit bibirnya lalu menundukkan
kepala.
"...Maafkan aku."
"Alya?"
"Aku, sudah gagal. Padahal kamu
sudah mau bekerja sama denganku, tapi aku...!"
"Tenanglah. Tenang, lalu jelaskan
padaku apa yang sebenarnya terjadi."
Melihat kedua tangan Alisa yang saling
mengepal di atas paha gemetar sambil membocorkan suara yang dipenuhi
penyesalan, Masachika menenangkannya dengan lembut, hingga Alisa perlahan mulai
menceritakan apa yang telah terjadi.
◇
Kejadiannya berawal dari kemarin pagi
sebelum jam wali kelas dimulai.
Dipanggil oleh Yuki yang mendatangi ruang
kelas satu B, Alisa berdiri berhadapan dengan Yuki di ruang OSIS.
"Alya-san, maaf mendadak, tapi
bisakah hari ini Anda pergi membawakan obat ke rumah Masachika-kun?"
Permintaan mendadak dari Yuki membuat
Alisa merasa bingung.
Namun, Yuki tidak begitu memedulikannya
dan melanjutkan pembicaraan sambil menempelkan tangan di pipinya dengan raut
wajah prihatin.
"Sebenarnya Masachika-kun demam
gara-gara flu dan tidak bisa bergerak."
"Eh, benarkah?"
"Iya. Seharusnya saya yang pergi
menjenguknya, tapi kebetulan saya ada urusan... Karena itulah, saya berpikir
apakah bisa meminta bantuan pada Alya-san selaku pasangannya dalam pertarungan
pemilihan."
"Begitu... yah, boleh saja,
sih?"
Meskipun merasa agak ganjil gara-gara
dimintai tolong oleh Yuki terkait urusan Masachika, daripada menolak lalu
dibilangi "Kalau begitu biar saya saja yang...", itu justru bakal
terasa menyebalkan, sehingga Alisa memutuskan untuk menerima permintaan
tersebut. Saat itulah, Yuki yang seolah-olah sudah menduga respons tersebut
mengeluarkan selembar catatan dari sakunya.
"Syukurlah. Kalau begitu, di sini
tertulis obat flu yang biasa digunakan Masachika-kun beserta alamat rumah
Masachika-kun, jadi saya serahkan pada Anda, ya?"
"Eem."
Mendapat informasi tentang Masachika yang
tidak dia ketahui kembali memicu rasa ganjil di dalam dirinya, tetapi Alisa
tetap menerima catatan tersebut.
"Kalau begitu, sepulang sekolah
nanti aku bakal mencoba ke sana."
Saat Alisa hendak kembali ke kelas
setelah mengatakan hal itu, langkahnya terhenti oleh panggilan Yuki.
"Ah, tunggu sebentar. Sebenarnya
masih ada satu urusan lagi."
"? Apa lagi?"
"Jika Alya-san berkenan, maukah Anda
hadir sebagai tamu dalam siaran dalam sekolah besok siang?"
"Eh?"
Kepada Alisa yang kebingungan, Yuki
merapatkan jari-jari kedua tangannya sambil tersenyum manis.
"Anda pasti sudah tahu kan kalau
saya sebagai seksi publikasi OSIS menggunakan siaran dalam sekolah setiap dua
minggu sekali untuk menyampaikan laporan kegiatan OSIS? Mumpung ada kesempatan,
besok saya berpikir untuk mengangkat topik tentang debat dua minggu lalu.
Karena itulah, saya ingin meminta Alya-san selaku pihak yang terlibat untuk
hadir sebagai tamu..."
"Eh, besok...?"
"Iya. Bagi Alya-san sendiri,
bukankah ini kesempatan bagus untuk memberi kesan kemenangan dalam debat kepada
lebih banyak murid? Tahu kan, seperti dalam olahraga yang suka ada wawancara
pemenang?"
"Yah..."
Alisa dilanda keraguan. Sebab ada rasa
enggan di dalam dirinya apakah pantas jika dirinya sendiri yang mengungkit
kejadian itu.
Rumor buruk tentang Sayaka akibat debat
tersebut telah berhasil diredam berkat kerja keras Masachika dan Nonoa. Memang
ada sebagian kritik yang mengarah pada Nonoa gara-gara menyusupkan penonton
bayaran, tetapi berhubung Nonoa sendiri sama sekali tidak memedulikannya, dalam
hal ini sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Alisa.
(Padahal Kuze-kun dan Miyamae-san sudah
bersusah payah membereskan situasinya... Apakah pantas kalau aku malah
mengaduk-aduknya belakangan?)
Sejak awal ia memang tidak berniat
menyampaikan deklarasi kemenangan, tetapi jika mengatakannya sebagai
pertandingan tidak sah, hal itu juga terasa kurang pas. Justru itu bakal
menjadi hal yang sempat dikatakan Masachika, yaitu "Tindakan pihak pemenang
yang mengasihani pihak yang kalah lalu mengulurkan tangan".
(Benar juga... sebaiknya aku memang tidak
membocorkan hal yang tidak-tidak, ya.)
Dalam urusan hubungan antarmanusia,
Masachika dan Nonoa jauh lebih lihai daripada dirinya. Ia tidak boleh
mengacaukan situasi yang telah dibangun oleh mereka berdua hanya karena
pemikirannya yang dangkal.
Selesai memikirkannya, Alisa menyampaikan
jalan pikirannya pada Yuki.
"...Mohon maaf, tapi aku tidak
merasa menang saat debat kemarin. Aku tidak punya niat untuk melakukan hal
seperti wawancara pemenang, dan aku juga tidak berniat mengungkit-ungkit
masalah itu lagi sekarang."
"Ara, begitu kah?"
"Iya."
Saat Alisa mengangguk, Yuki memiringkan
kepalanya seolah terkejut sebelum akhirnya tersenyum manis.
"Kalau begitu, bagaimana jika Anda
tetap hadir sebagai tamu tanpa membahas masalah debat?"
"Eh?"
"Ini bakal jadi laporan kegiatan
terakhir di semester pertama, jadi tidak ada salahnya jika kita buat sedikit
acara spesial, kan? Iya, kan? Boleh, ya?"
"E, emm... benar juga. Kalau cuma
sejauh itu..."
"Uwaa, terima kasih banyak!"
Mendapat bujukan dengan merapatkan kedua
tangan di depan wajah dari Yuki membuat Alisa spontan mengangguk. Setelah
menyuarakan rasa gembira diiringi senyuman polos, Yuki mendadak menurunkan nada
suaranya.
"Meskipun begitu... jika melihat
sikap Anda, Alya-san dan Masachika-kun sepertinya benar-benar berniat
menyia-nyiakan kemenangan saat debat kemarin, ya."
"! Kamu... paham betul, ya..."
"Tentu saja saya paham. Rumor yang
beredar belakangan ini soal Nonoa-san yang melakukan kecurangan saat debat.
Fakta bahwa kalian membiarkan rumor itu begitu saja sudah cukup untuk membuat
saya paham. Soalnya kalau benar-benar berpegang teguh pada kemenangan saat
debat, Masachika-kun pasti akan jauh lebih cerdik dalam memanipulasi
informasi."
"..."
Fakta bahwa jalan pikirannya dibaca
secara mutlak membuat Alisa merasa agak goyah. Memanfaatkan celah tersebut,
jenis senyuman Yuki mendadak berubah.
"Fufu, astaga... Alisa-san santai
sekali, ya? Sampai-sampai melepaskan kemenangan saat debat atas kemauan
sendiri... Apakah Anda beneran berniat menang dari saya?"
"A, apa...?"
Aura yang dipancarkan Yuki berubah, dan
dari balik wajah seorang wanita anggun yang sempurna itu, tampak sisi dirinya
yang sama sekali berbeda. Melihat Yuki memamerkan senyuman mengerikan yang
belum pernah ia lihat sebelumnya, Alisa membelalakkan matanya terperangah.
"Lagipula, melangkah masuk ke
kandang saya begitu saja tanpa kewaspadaan sedikit pun... bukankah pertahanan
Anda terlalu longgar?
Gara-gara Anda sama sekali tidak punya
rasa waspada, fufu, saya sampai harus memberi tahu peringatan begini,
kan."
Sambil tertawa seolah merasa sangat lucu,
Yuki menatap Alisa secara dingin dari balik matanya yang melengkung.
Merasakan sensasi merinding atas senyuman
mengerikan itu, Alisa memutar otaknya secara cepat.
Lalu, ia menyadarinya. Ia tidak boleh
tertipu oleh kata-kata seperti hadir sebagai tamu. Ini adalah... sebuah
undangan menuju pertarungan adu bicara memanfaatkan siaran dalam sekolah.
"Anda akhirnya menyadarinya? Fufu,
Anda tidak boleh lengah hanya karena menganggap ini undangan dari seorang
teman, lho? Sebab ini adalah undangan dari kandidat lawan dalam pertarungan
pemilihan... Di timing tempat penasihat yang bisa diandalkan sedang absen
gara-gara sakit begini, harusnya Anda jauh lebih waspada saat saya menyodorkan
pembicaraan ini."
"Jangan-jangan... kamu memang
sengaja memilih waktu ini?"
"Iya, di kesempatan emas saat tidak
ada penasihat yang bisa diandalkan ini, saya berniat menekan Alisa-san sejauh
yang saya bisa."
Sambil tetap memamerkan senyuman, Yuki
mengatakan hal yang begitu kejam secara santai. Melihat sosok temannya yang
seperti itu membuat Alisa merasa cukup syok, tetapi ia berusaha membakar
semangat perlawanannya.
"Artinya... kalau cuma aku
sendirian, kamu merasa bisa mengolahku sesukamu di kandangmu sendiri,
begitu?"
"Yah, kurang lebih begitu.
Sebenarnya saya tidak perlu repot-repot memberi tahu peringatan seperti ini,
sih... tapi kalau lawannya cuma Alisa-san seorang diri, saya tidak perlu
melakukan serangan kejutan. Lagipula..."
Menahan ucapannya sejenak di sana, Yuki mendongak menatap Alisa dengan mata yang terkesan mencemooh.
"Kalau dikalahkan secara berhadapan
setelah ditantang bertarung dari depan, pihak sana kan jadi tidak bisa membuat
alasan apa-apa, benar bukan?"
"Ugh! ...Kamu meremehkanku sekali,
ya."
"Ara ara, padahal sedang
dipermainkan oleh saya dalam arti sebenarnya saat ini juga, tapi Anda masih
bisa mengutarakan hal seperti itu... iya kan?"
"Ugh!!"
Atas kata-kata Yuki yang memprovokasi,
Alisa beralih mode secara penuh. Sosok yang berada di hadapannya saat ini
bukanlah seorang teman yang bergerak bersama di OSIS. Melainkan musuh yang
harus ditumbangkan dalam pertarungan pemilihan.
Mungkin menyadari perubahan kesadaran
Alisa, Yuki akhirnya tak lagi menyembunyikan senyuman menyeringai yang terukir
di bibirnya sambil berbicara.
"Aah, tentu saja Anda boleh
mengandalkan Masachika-kun, lho? Mumpung hari ini hendak membawakan obat, Anda
sekalian bisa meminjam pemikirannya."
...Alisa tahu kalau ia sedang
diprovokasi. Namun, untuk mengandalkan Masachika setelah dibilangi seperti ini
adalah hal yang tidak diizinkan oleh harga dirinya.
"Tidak perlu. Aku sama sekali tidak
bakal melakukan hal yang memberi beban pada Kuze-kun yang sedang tumbang karena
sakit."
"Ara, begitu kah? Anda tidak perlu
memaksakan diri, lho?"
Dari kata-kata serta matanya, sangat
jelas terpancar pesan bahwa
"Karena kamu tidak bisa melakukan
apa-apa sendirian, cepat menangislah pada Masachika". Hal ini tak ayal
membuat Alisa akhirnya merengut kesal.
"F-fufu, Yuki-san sendiri... apa
tidak apa-apa tanpa bantuan Kuze-kun?"
Secara tersirat Alisa menuding
"Bukannya kita sama-sama mengandalkan Kuze-kun?", tetapi Yuki tidak
sedikit pun goyah.
"Iya, tentu saja tidak apa-apa. Saya
justru menantikan kiprah dari Alya-san yang sangat cocok dengan julukan 'Tuan
Putri nan Menyendiri', lho?"
"Ugh! Aku pasti... tidak bakal
kalah...!"
Menghadapi Alisa yang memelototi Yuki
dengan semangat bertarung yang berkobar, Yuki membalasnya dengan senyuman yang
penuh percaya diri.
"Fufu, saya sangat menantikan hari
esok."
Begitulah, pertarungan langsung antara
dua orang "Putri Cantik Tingkat Satu" mendadak digelar. Dan setelah
itu, Alisa melakukan berbagai persiapan menghadapi pertarungan melawan Yuki.
Ia memeriksa isi kotak saran terlebih
dahulu untuk menebak surat mana yang bakal diangkat. Selain itu, di sela-sela
merawat Masachika, ia mengingat kembali laporan kegiatan Yuki pada masa lalu
sebanyak mungkin, lalu mensimulasikan secara mendalam interaksi seperti apa
yang bakal terjadi.
Lalu... sepulang sekolah hari ini.
Setelah melakukan persiapan sebisa yang ia lakukan dalam sehari, Alisa
melangkah menuju ruang penyiaran.
"Permisi."
Ketukan pintu dilakukan dan ia melangkah
masuk ke ruang penyiaran, di mana Yuki sudah masuk terlebih dahulu dan sedang
menunggu.
"Halo, Alya-san. Anda cepat sekali,
ya."
"...Iya, hari ini mohon
bantuannya."
"Saya juga mohon bantuannya."
Meskipun alisnya terangkat sedikit
melihat panggilan namanya kembali seperti semula, Alisa tidak mengendurkan
semangat bertarungnya dan duduk di kursi sebelah Yuki.
Namun... di sana terjadi situasi yang
sama sekali tidak terduga bagi
Alisa.
"Masih ada waktu sebelum siaran
dimulai... Alya-san."
"Apa?"
"Saya memohon maaf."
Mendadak, Yuki menundukkan kepalanya
dalam-dalam ke arah Alisa.
Tindakan tak terduga dari Yuki itu
membuat Alisa membelalakkan matanya terperangah.
"I-itu... permintaan maaf untuk
apa?"
"Untuk sikap yang saya tunjukkan
pada Alya-san kemarin, saya memohon maaf."
Sambil menundukkan kepala dalam-dalam,
Yuki berbicara dengan suara yang diselimuti rasa penyesalan.
"Bagi saya sendiri, rasanya sangat
berat hati untuk menantang pertarungan kepada Alya-san yang merupakan teman
berharga lewat cara seperti serangan kejutan... Dan demi memutus keraguan di
dalam diri saya sendiri, saya sampai menunjukkan sikap menyerang yang
berlebihan. Kemarin saat mengingat kembali sikap saya di rumah, saya telah
merenungkannya."
"..."
"Saya tahu ini adalah hal yang
terlalu muluk... tapi saya tidak ingin kehilangan persahabatan dengan Alya-san.
Apakah... Anda mau memaafkan saya?"
"Sudah, tidak apa-apa... angkat
kepalamu?"
Mengatakannya lantaran merasa canggung,
Yuki mengangkat kepalanya sedikit lalu mengintip ke arah Alisa.
"Apakah itu... artinya Anda mau
memaafkan saya?"
"I-iya... sudah tidak apa-apa, kok.
Itu artinya kamu sebegitu seriusnya, kan?"
"Terima kasih banyak! Aah,
syukurlah."
Jujur saja, di dalam diri Alisa bukannya
tidak ada perasaan membatin
"Kenapa baru sekarang". Namun,
saat melihat Yuki mendongakkan kepala lalu tertawa seolah lega dari lubuk
hatinya... ia sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Melihat Yuki yang
mengelus dadanya seolah sumbatan di hatinya sudah terangkat, Alisa juga
membiarkan senyuman tipis meluncur.
"Saya benar-benar minta maaf...
Tapi, meskipun ini terdengar seperti alasan... saya punya alasan kenapa saya
harus menang dalam pemilihan ketua OSIS."
Mengepalkan tangannya erat-erat di depan
dada, Yuki mengatakannya dengan ekspresi serius. Mengingat Alisa sempat
mendengar tentang alasan tersebut, rasa simpati ringan membuat Alisa bertanya
secara refleks.
"Alasan... soal keluargamu yang
menyuruhmu menjadi ketua OSIS?"
Itu adalah hal yang pernah diceritakan
Yuki saat ia baru bergabung dengan OSIS. Waktu itu, Alisa hanya mendengarkannya
lewat lalu sambil membatin, "Yah, urusan keluarga tiap orang kan
beda-beda. Pasti berat ya mendapat tekanan seperti itu dari keluarga"...
"Yah, hal itu juga termasuk,
tapi..."
Yuki mengedarkan pandangannya seolah
bingung bagaimana harus mengatakannya, sebelum akhirnya menatap mata Alisa
secara lurus dan berbicara.
"Saya sebenarnya punya kakak
laki-laki."
"Eh?"
Pengakuan tak terduga dari Yuki yang
selama ini ia dengar sebagai anak tunggal membuat Alisa terperangah.
Memalingkan pandangannya dari Alisa yang membelalakkan mata, Yuki berbicara
dengan lancar sambil mengarahkan pandangan matanya ke tempat yang jauh.
"Kakak saya jauh lebih unggul
ketimbang saya... Kedua orang tua maupun Kakek menaruh harapan besar pada
Kakak. Mereka yakin kalau Kakak bakal menjadi penerus keluarga Suou yang luar
biasa... Dan saya pun sangat menghormati Kakak yang seperti itu."
Mata yang lembut itu, apakah sedang
mengenang masa lalu yang berharga. Yuki yang menceritakan perihal kakaknya
dengan ekspresi tenang mendadak kehilangan ekspresinya begitu saja.
"Tapi, dia sudah tidak ada
lagi."
"Eh──"
Perubahan drastis Yuki beserta
kata-katanya membuat Alisa bungkam total. Sudah tidak ada lagi... itu
artinya...
"Karena itulah, saya tidak boleh
kalah."
Menatap lurus ke mata Alisa yang
kehabisan kata-kata, Yuki terus berbicara. Kata-kata itu mau tidak mau merasuk
menusuk hati Alisa.
"Sebagai pengganti Kakak yang
sekarang sudah tidak ada... saya harus menjawab harapan keluarga. Sebab
itulah... tugas yang tersisa untuk saya."
"..."
Dengan suara yang memancarkan rasa
tanggung jawab yang kuat dan kehendak yang kokoh, ia menyatakannya secara
anggun. Lalu, Yuki melemaskan ekspresinya.
"...Aduh, tiap orang kan punya
urusannya masing-masing, jadi tidak ada gunanya membicarakan hal seperti ini,
ya. Maaf ya, malah menceritakan hal seperti ini."
Sambil tertawa merendahkan alisnya seolah
baru saja membocorkan hal yang tidak perlu, Yuki kembali menundukkan kepalanya.
"E-iya... tidak apa-apa, kok."
Mendengar Alisa membalas sambil
menggetarkan matanya lantaran goyah, Yuki memamerkan senyuman rapuh lalu
mendongak, kemudian mengeluarkan suara cerah demi mengalihkan suasana hati.
"Aah! Sudah waktunya, nih. Alya-san,
apakah sudah siap?"
"...Iya."
Jangankan siap, pikiran Alisa saat ini
bahkan sedang tidak berada di sana.
Bahkan tanpa menyadari apa yang hendak ia
lakukan selanjutnya, Alisa berbalik menghadap mikrofon secara setengah tidak
sadar. Di sanalah, Yuki melemparkan kata-katanya.
"Ngomong-ngomong... bagaimana dengan
Alya-san?"
"Eh?"
Sebuah kata yang menjadi pukulan
mematikan bagi hati Alisa yang sudah goyah total.
"Kenapa Alya-san ingin menjadi ketua
OSIS?"
Mendengar pertanyaan itu, pikiran Alisa
seketika kosong.
Saat dulu pernah ditanyakan hal serupa
oleh Masachika, Alisa menjawab tanpa ragu bahwa ia ingin menjadi ketua OSIS
karena ia memang ingin.
Namun, setelah mendengar situasi Yuki
sekarang, motif dirinya sendiri terasa sangat kecil dan tidak ada apa-apanya...
"Aah, sudah waktunya. Kalau begitu
Alya-san, mari kita mulai."
"A, e, iya."
Merespons secara refleks, Alisa
memikirkan apa yang harus dilakukannya di sudut otaknya yang linglung... lalu
ia teringat. Namun saat ia teringat, daya mikrofon sudah dinyalakan dan siaran
telah dimulai.
"Halo semuanya. Hari ini tiba
waktunya siaran laporan kegiatan OSIS yang hadir tiap dua minggu sekali. Hari
ini saya, Suou Yuki dari seksi publikasi OSIS, kembali menyampaikan laporan
kegiatan OSIS selama dua minggu terakhir ini. Nah, berhubung hari ini siaran
terakhir di semester pertama, kita kedatangan tamu yang luar biasa. Bisakah
Anda menyampaikan sepatah kata sapaan?"
Di tengah-tengah terkesima mendengarkan
kelancaran bicara Yuki, gilirannya mendadak tiba. Pandangan Yuki yang berada di
sebelahnya terarah padanya, membuat Alisa buru-buru menghadap mikrofon... tapi
kalimat sapaan yang telah disiapkannya sirna total dari kepalanya.
"A, saya Kujou Alisa. Ah, bendahara
OSIS... ehm, hari ini mohon bantuannya, ya?"
Hasilnya, kalimat yang meluncur dari
mulutnya adalah sapaan yang tidak bisa lebih canggung lagi dari itu. Tepat
setelah mengucapkannya, punggungnya terasa memanas membara gara-gara rasa malu.
"Ara ara, Alya-san sepertinya agak
sedikit tegang, ya. Tidak apa-apa, kok! Hari ini pendulum pendengarnya cuma
sedikit, kok! Walau rasanya aneh sih kalau saya sendiri yang
mengucapkannya?"
Tindakan Yuki yang langsung membantunya
meluruskan suasana di sana membuat Alisa menyadari bahwa bukan hanya
punggungnya saja, tetapi pipinya juga ikut memanas.
(Kendalikan dirimu! Kamu kan berniat
menang dari Yuki-san! Untuk apa kamu malah dibantu olehnya!)
Ia mendorong semangat di dalam dirinya...
tapi semangat bertarung
pada Yuki yang ada hingga beberapa menit
lalu sudah sirna total.
(Menang... kenapa? Lagipula, aku ini
kenapa...)
Kenapa ia ingin menjadi ketua OSIS?
Harusnya ada. Alasan milik dirinya sendiri yang tidak bakal kalah dari Yuki.
(Bukan! Bukan begitu, sekarang aku harus
konsentrasi pada siaran di depan mata... ehm, ehm...)
Ia tahu betul kalau siaran di depan mata
ini penting. Namun, saat ini pertanyaan Yuki menguasai kepalanya secara
mendominasi tanpa bisa dihindari.
Kenapa ia ingin menjadi ketua OSIS? Jika
tidak bisa membusungkan dada dan menjawab pertanyaan itu secara percaya diri,
ia tidak bakal pernah bisa menang dari Yuki. Perasaan seperti paksaan semacam
itu menyudutkan Alisa secara perlahan.
"──Jadi,
begitu ya~ Bagaimana menurut Alya-san?"
"Eh? B-, benar juga, ya... ehm"
Namun,
di tengah-tengah hal itu siaran terus berlanjut, dan makin ia panik, jalan
pikirannya makin rumit hingga kata-kata tidak kunjung meluncur dengan lancar──
◇
"Setelah itu... sudah kacau-balau.
Aku tidak bisa menyusun pemikiranku, tidak punya waktu menata kembali mentalku
dan murni dipermainkan habis-habisan... Sama sekali tidak bisa bicara sesuai
keinginan, dan pada akhirnya malah diurus oleh Yuki-san..."
Mengucapkannya dengan suara yang
bercampur rasa kepahitan dan ejekan pada diri sendiri, Alisa mengatupkan
giginya yang seputih mutiara rapat-rapat. Sambil mengawasi sosok itu dalam
diam, Masachika membatin di dalam hatinya.
(Kejam banget...)
Itulah impresi pertama yang dirasakan
Masachika begitu mendengar cerita dari Alisa. Kejamnya serangan mental yang
dilancarkan Yuki pada Alisa membuat Masachika sendiri mau tidak mau mengukir
senyuman kedutan.
Saat menantang pertarungan, ia berakting
bak penjahat kawakan demi memicu rasa perlawanan dan semangat bertarung Alisa
sejadi-jadinya.
Lalu pada hari-H, tepat sebelum
pertarungan dimulai, ia berbalik memancing rasa simpati demi mematahkan
semangat bertarung Alisa yang sudah memuncak hingga ke akar-akarnya.
Ditambah lagi, setelah mengarahkan agar
semangat bertarung pada
dirinya dijadikan motivasi menghadapi
siaran dalam sekolah, ia bahkan menyodorkan pertanyaan kejam semacam "Saya
bertarung demi memikul harapan keluarga. Bagaimana dengan Anda?". Justru
gara-gara Alisa adalah tipe yang jujur dan serius, ia telak masuk ke dalam
perangkap Yuki.
Hal yang masih bisa disyukuri di tengah
kemalangan ini adalah fakta bahwa Alisa yang terlalu jujur tidak menyadari
kalau dirinya telah dijebak oleh Yuki.
Mengingat Alisa adalah tipe yang hanya
punya sedikit teman, jika ia tahu kalau tindakan Yuki hari ini... yang mungkin
bagi Yuki sendiri ada bagian yang murni perasaan jujur... dilakukan di atas
perhitungan yang matang, Alisa mungkin bisa kena krisis kepercayaan pada
manusia.
(Enggak... Kenyataan kalau Alya tidak
menyadarinya pun, bukannya masuk ke dalam perhitungan Yuki juga...?)
Sambil meluruskan suasana demi menjaga
persahabatan dengan Alisa, ia juga melancarkan pancingan di saat yang sama.
Meskipun adiknya sendiri, perhitungan itu sungguh mengerikan.
"Aku kesal..."
Mengarahkan kesadarannya pada suara yang
terperas meluncur itu, pemandangan Alisa yang menyipitkan matanya sesuai
kata-katanya sambil meremas kedua tangannya yang gemetar diiringi kertakan gigi
terekam di matanya.
"Gampang
banget goyah... padahal sudah menerima pertarungan atas kemauan sendiri, tapi
pada akhirnya tidak bisa melakukan apa-──"
"Okeee, stop. Jalan pikiranmu mulai
mengarah ke sudut yang berbahaya, tuh~"
Tepat saat Masachika tepuk tangan
memotong perkataannya, Alisa mendongakkan wajahnya yang tertunduk lalu menatap
Masachika.
"...Sudut yang berbahaya?"
"Aku bilang kamu sedang masuk ke
perangkap Yuki, tahu. Cuma gara-gara kamu tidak bisa bicara sesuai harapan di
siaran dalam sekolah yang dibawakan Yuki, kan? Sejak kapan hal itu jadi ajang
pertarungan?"
"Sejak kapan maksudnya..."
"Gara-gara Yuki bilang begitu. Atau
gara-gara dia mengarahkan pemikiranmu agar menganggapnya begitu, kan?"
Mendengar perkataan Masachika, Alisa
mengedipkan matanya berkali-kali, lalu perlahan mengembalikan posisi tubuhnya
yang tadinya membungkuk ke depan. Memastikan Alisa telah mendapatkan kembali
ketenangannya, Masachika berbicara dengan tenang.
"Perasaan ingin menang dari lawan
itu penting. Tapi kalau cuma terpaku pada hal itu, pandanganmu bakal makin
sempit dan kamu tidak bakal bisa menyadari hal yang penting, jadi lebih baik
kamu berhati-hati."
"Hal yang penting...?"
"Iya. Dalam kasus kali ini... apa
sasaran utamanya."
Melihat Alisa yang menatapnya heran
seolah bertanya apa maksudnya, Masachika mengangkat bahunya lalu melanjutkan.
"Lagipula secara kepribadian, kamu
kan memang tidak cocok untuk pertarungan frontal... Kalau boleh dibilang, kamu
adalah tipe orang yang bakal berusaha sekuat tenaga tanpa memedulikan siapa pun
lawannya, lalu mengejarnya hingga tuntas sampai dirimu merasa puas. Hasilnya
bakal menyusul belakangan, kan tipe seperti itu?"
"Yah, benar juga, sih... kalau
dibilang mana."
"Bagi orang tipe seperti itu,
memperhitungkan lawan bertanding itu sendiri adalah pikiran pengganggu. Tentu
saja ada kasus di mana keberadaan lawan bertanding bisa menaikkan motivasi,
tapi untuk kasusmu kan kamu tipe yang bisa menjaga motivasimu sendiri... Kalau
sampai memedulikan lawan secara aneh, yang ada dirimu sendiri justru bakal
goyah dan tidak bisa mengeluarkan kekuatan aslimu."
"..."
"Yah, wajar saja, sih... Ini kan
pertama kalinya bagimu mengalami emosi yang naik ke kepala sampai kehilangan
ketenangan, kan?"
"Emosi naik ke kepala... benar juga,
kalau dibilang begitu mungkin memang begitu, ya..."
Seolah menyadari sesuatu, Alisa memasang
raut wajah penuh perenungan. Di sana, Masachika sengaja menyela dengan nada
bicara yang tegas.
"Dengar ya, alihkan kesadaranmu.
Target Yuki bukanlah mengambil keunggulan atas dirimu lewat siaran dalam
sekolah hari ini. Melainkan membuat masalah ini berbekas, agar kamu tidak bisa
mengeluarkan kekuatan penuhmu saat sapaan di upacara penutupan nanti."
"!"
"Soalnya pikirkan saja, kan? Hari
ini kan sekolah setengah hari, jadi murid yang mendengarkan siaran dalam
sekolah saat jam makan siang itu sedikit. Kalau tujuannya adalah mengambil
keunggulan lewat siaran dalam sekolah, harusnya ada timing lain yang jauh lebih
efektif, kan."
"Tapi itu... bukannya karena dia
menyasar timing saat Kuze-kun sedang absen..."
"Mungkin itu juga termasuk. Tapi
seandainya aku tidak libur gara-gara flu pun, kalau Yuki mengajakmu 'Mari kita
bertanding satu lawan satu', kamu pasti bakal menerimanya juga, kan?"
"..."
"Dengar ya? Seperti yang kukatakan
tadi, alihkan fokusmu. Tidak perlu terbawa oleh iramanya. Hal sepele seperti
ini, jika dibandingkan dengan sapaan di upacara penutupan nanti sama sekali
tidak ada apa-apanya dan bukan terhitung babak penyisihan. Hari ini kamu cuma
hadir sebagai tamu di siaran dalam sekolah dan tidak bisa bicara dengan lancar.
Hanya sebatas itu. Tidak ada murid yang tahu kalau kamu dan Yuki sedang
bertarung, dan lagipula sebagian besar murid tidak mendengarkan siarannya.
Tergantung hasil di upacara penutupan lusa nanti, tidak ada orang yang bakal
memedulikan kejadian hari ini lagi."
Masachika menatap lurus ke mata Alisa
sambil menasihatinya secara mendalam. Meskipun Masachika sendiri paham betul
bahwa hal yang dikatakannya barusan tidak sepenuhnya fakta murni. Tidak bisa
dibilang kalau siaran dalam sekolah hari ini sama sekali tidak mengubah
keseimbangan kekuatan antara Yuki dan Alisa.
Lokasi di mana mereka berdua yang selama
ini tidak pernah bertabrakan di ruang publik untuk pertama kalinya bertabrakan.
Masachika tadinya berpikir bahwa lokasi yang dengan sendirinya bakal menaikkan
perhatian orang-orang itu adalah upacara penutupan.
Namun, serangan kejutan Yuki kali ini
membuat perkiraan tersebut meleset. Tepat ketika reputasi Alisa sedang menanjak
berkat kiprahnya dalam debat dan mulai muncul kesan bahwa “Putri Alya ternyata
lumayan juga”, insiden ini terjadi. Masachika yang ingin menghadapi upacara
penutupan sambil mempertahankan penilaian positif terhadap Alisa pun, terus
terang saja, merasa bahwa dirinya benar-benar telah dikerjai.
Namun meski begitu, mengalihkan kesadaran
Alisa saat ini jauh lebih penting. Sebab setelah menyadari bahwa apakah Alisa
bisa mengeluarkan kemampuan aslinya atau tidak itu sangat bergantung pada
mentalnya, perawatan di bagian itu menjadi urusan mendesak.
"Itu... sasaran utamanya? Sasaran
utamanya adalah upacara penutupan, dan siaran dalam sekolah cuma
pembuka...?"
"Begitulah. Dia ingin mengacaukan
iramamu... tapi sepertinya, perkiraan Yuki agak melenceng sedikit, lho?"
"Eh?"
Kepada Alisa yang mengedipkan matanya
terperangah, Masachika memberi tahu sambil memamerkan senyuman menyeringai.
"Anak itu mungkin berharap kamu
bakal merasa berkecil hati. Dia mengincar kondisi di mana kamu menantang
upacara penutupan dalam keadaan berkecil hati gara-gara tidak bisa bicara
dengan lancar... tapi kamu justru merasa kesal. Kalau begitu, tidak ada
masalah. Soalnya kan tinggal menjadikan rasa kesal itu sebagai batu loncatan
saja."
Karena itulah, tak usah dipikirkan lagi.
Masachika menatap mata Alisa dengan lekat. Apakah maksud tersebut tersampaikan
kepada Alisa? Alisa memejamkan matanya sekali lalu menarik napas dalam-dalam,
setelah itu ia merapikan ekspresinya dan berbalik menghadap Masachika.
"...Aku paham. Terima kasih."
"Ngh... ah, lalu soal rasa kesal itu
memang bagus, tapi jangan sampai membakar semangat persaingan secara
berlebihan, ya? Soalnya itu juga bakal membuatmu terbawa oleh iramanya."
"Benar juga... Dengan kata lain,
untuk kali ini aku harus melupakannya untuk sementara, lalu mengeluarkan
kekuatan penuh dengan caraku sendiri, kan?"
"Yah, kurang lebih begitu."
"Aku paham... bakal kuusahakan agar
bisa mengalihkan fokus. ...Dan juga, maaf ya. Karena aku malah melesat
sendirian."
Sambil berkata begitu, Alisa menundukkan
kepalanya. Pengalaman yang sangat langka di mana Alisa menundukkan kepala
padanya membuat Masachika merasa sangat tidak tenang.
"Bukan, yah. Maksudku... aku yang
sampai tumbang di saat penting begini juga salah, kok... Jadi untuk hal itu aku
juga minta maaf."
"Hal itu kan mau bagaimana lagi...
Kamu kan kena flu."
"Tapi kalau aku tidak memberikan
celah, hal seperti ini tidak bakal... Lagipula, kegagalanku adalah tidak bisa
menduga kalau Yuki bakal bertindak sejauh ini. Aku menyesali diriku yang
santai-santai berpikir, 'Mana mungkin dia bertindak sampai sejauh itu cuma demi
sapaan upacara penutupan, ini kan bukan debat'..."
"Yang tidak bisa menduga hal itu
bukan cuma kamu, tapi aku juga, kok. Lagipula, kalau saja dari awal aku tidak
sok gengsi dan berkonsultasi pada Kuze-kun, masalahnya kan bakal selesai."
"Makanya itu kan gara-gara aku
tumbang... aduh, ya sudah anggap saja kita sama-sama salah."
Saat Masachika menggaruk-garuk kepalanya
sambil berkata begitu, Alisa mengangguk meski wajahnya memancarkan raut yang
terkesan agak kurang puas. Di tengah suasana
yang agak canggung, Masachika berdeham lalu melanjutkan.
"Tapi yah, kalau dipikir-pikir lagi,
hal ini bisa dibilang kesempatan bagus untuk hal yang kita bicarakan di
restoran keluarga dulu, yaitu 'Memperlihatkan sosokmu yang sedang berjuang'...
Justru di tengah kemalanganlah sang tokoh utama bakal bersinar, kan...
Lagipula, mengetahui secara langsung bahwa Yuki lebih unggul dalam hal taktik
seperti ini saja sudah merupakan sebuah hasil. Mengetahui kemampuan lawan
adalah hal yang penting."
"...Benar juga. Jujur saja, aku
tidak menyangka kalau Yuki-san bakal memakai cara licik seperti ini, jadi kalau
berpikir bahwa mulai sekarang aku bisa mewaspadai sisi itu juga... ini adalah
pengalaman yang bagus, mungkin?"
Seolah meyakinkan dirinya sendiri, Alisa
berkata begitu. Kepada Alisa
yang seperti itu, Masachika bertanya
dengan nada agak cemas.
"...Kamu merasa kecewa?"
"Eh?"
"Setelah tahu kalau dia melancarkan
hal yang seperti serangan kejutan begini... aku berpikir jangan-jangan kamu
jadi kecewa pada Yuki."
Atas pertanyaan Masachika, Alisa
mengedipkan matanya perlahan sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
"Sama sekali tidak kecewa, kok...
Lagipula walau dibilang serangan kejutan, bagaimanapun juga Yuki-san kan
menantangku secara berhadapan langsung. Kalau aku malah menyalahkan Yuki-san
cuma gara-gara kalah, itu kan namanya pelampiasan kekesalan, kan?"
"...Iya, begitu ya... Syukurlah
kalau begitu."
Menyadari bahwa persahabatan antara Alisa
dan Yuki tidak hancur membuat Masachika menghela napas lega. Dan di saat yang
sama, hal yang membuatnya penasaran adalah...
(Iya... ternyata dia beneran tidak
menyadari kalau Yuki melancarkan guncangan mental, ya.)
Sepertinya Alisa menelan mentah-mentah
alasan Yuki soal "Memotong keraguan hingga menunjukkan sikap menyerang
yang berlebihan", dan tidak menyadari bahwa itu semua adalah akting Yuki
yang
diperhitungkan secara matang demi
mengacaukan irama Alisa. Dia hanya berpikir secara simpel bahwa Yuki
menantangnya bertarung adu bicara, lalu saat itu iramanya kebetulan terkacaukan
oleh kata-kata Yuki.
(Bukan, bukan begitu tahu! Semuanya itu
hasil perhitungan, tahu! Tapi yah, sejauh mana aku boleh menyampaikan hal ini
padanya, ya...)
Jika ia menyampaikannya secara jujur
seluruhnya, persahabatan Alisa dan Yuki justru bisa hancur gara-gara hal itu.
Tapi kalau tidak menjelaskan cara main Yuki, Alisa tidak bakal bisa
mewaspadainya. Saat Masachika sedang merenung memikirkan harus bagaimana, Alisa
memiringkan kepalanya sedikit.
"Kuze-kun? Ada apa?"
"Aah... tidak, bukan apa-apa."
Melihat wajah polos Alisa, Masachika
memutuskan untuk diam.
Lagipula sejak awal, urusan taktik
semacam itu adalah keahliannya.
Bagian yang tidak dikuasai Alisa tinggal
ia topang saja.
"Bukan apa-apa maksudnya... lalu
kenapa kamu tersenyum?"
"Eh?"
Teguran Alisa membuat Masachika
mengedipkan matanya berkali-kali.
Lalu saat menyentuh wajahnya sendiri, ia
menyadari bahwa dirinya memang sedang tersenyum.
"Beneran, nih... kenapa, ya?"
"Kenapa maksudmu..."
Di hadapan Alisa yang bingung, Masachika
memikirkan alasannya... lalu ia menyadarinya.
(Aah, aku... ternyata merasa antusias,
ya. Karena berhasil dikerjai habis-habisan... oleh Yuki dan Ayano.)
Dulu Yuki pernah berkata bahwa
"Pertarungan kakak adik itu klise yang membakar semangat", dan
sepertinya hal itu berlaku sama bagi Masachika.
"Ooh begitu... Kuku, enggak, aku
cuma berpikir mereka beneran berhasil mengerjaiku, nih."
(Tl/N:
Disini konteksnya ‘Kuku’ itu (くくっ) merupakan tawa kecil yang tertahan.)
Tepat saat ia menyadarinya, senyuman
Masachika berubah menjadi senyuman licik yang bahkan bisa dibilang sangat
kejam.
"Kenapa ya ini. Jujur saja, aku
merasa antusias sampai diriku sendiri agak kaget."
Yuki... maupun Ayano, kemarin tidak
memperlihatkan perubahan sikap apa pun. Namun kenyataannya, di balik sikap
biasa itu mereka menyembunyikan pedang dan mengintai celah dengan sangat sabar.
Dan mereka berhasil mengerjai Masachika
tanpa membuat Masachika menyadari keberadaan pedang tersebut.
Fakta tersebut terasa sangat menyenangkan
di luar dugaan bagi Masachika. Kalau boleh dibilang dengan gaya sok hebat,
mungkin perasaannya mirip seperti orang tua yang senang melihat pertumbuhan
anaknya.
Kesan malas yang biasanya terpancar sirna
entah ke mana. Melihat Masachika memamerkan senyuman mengerikan seolah hendak
membasahi bibirnya, Alisa membelalakkan matanya... lalu perlahan menutupi
mulutnya dengan tangan dan memalingkan pandangan.
【Wajah seperti itu... boleh juga.】
Mendengar bisikan bahasa Rusia di balik
tangannya, Masachika yang beneran tidak bisa menangkap maksudnya mengedipkan
mata.
"Kamu bilang apa?"
"Tidak... aku cuma bilang 'Wajahmu
kelihatan jahat banget, ya'."
"...Sejahat itu kah wajahku?"
"...Iya."
Meskipun Alisa mengangguk begitu, pipinya
yang tidak tertutupi oleh tangan memancarkan warna merah tipis. Masachika
merasa agak bingung atas ketidakselarasan antara kata-kata dan ekspresi
tersebut.
(Eh? Kenapa? Jangan-jangan... dia suka
pria jahat? Maksudnya tipe di mana makin terpelajar dan berkelakuan baik
seorang gadis, dia justru makin tertarik pada pria yang agak nakal?)
Seketika, bayangan Alisa yang tertipu
oleh pria bermuka dua yang sok nakal melintas di dalam kepalanya, membuat
Masachika merasa ganjil.
Masachika tahu bahwa kata "bermuka
dua" yang biasanya tidak dipakai dalam arti bagus, justru diperlakukan
seolah-olah merupakan sebuah kelebihan dalam karya-karya fiksi untuk perempuan.
"Alya..."
"Apa?"
"Sosok pimpinan yakuza muda yang
keren itu cuma ada di dunia dua dimensi, tahu? Pimpinan yakuza muda di dunia
nyata mah cuma orang yang tidak boleh didekati, tahu?"
"...Kamu ini terkadang beneran
membocorkan hal yang di luar nalar,
ya... Sebenarnya lagi bahas apa,
sih?"
"Enggak, habisnya kamu kelihatan
tersipu malu... jadi aku berpikir apa kamu suka pria jahat."
"Mana ada, aku tidak suka, tahu.
Lagipula aku sama sekali tidak sedang tersipu malu. Ini cuma... Kuze-kun yang
memamerkan wajah agak jahat itu tidak cocok sampai-sampai rasanya lucu
saja."
"Jahat banget?"
Memang benar, jika dibilang begitu
sosoknya saat ini tidak terlihat berbeda dari orang yang menahan tawa sambil
menutupi mulutnya...
(Tapi tidak, berhubung dia bergumam pakai
bahasa Rusia, sudah pasti dia membocorkan hal yang memalukan, kan.)
Terlepas dari apakah hal itu dikatakan
secara jujur dari lubuk hatinya atau tidak. Atau mungkin dia tersipu malu
gara-gara kenyataan bahwa dirinya
membocorkan hal yang memalukan itu sendiri.
(Yah, ya sudahlah. Lagipula aku tidak
berpikir kalau Alya bisa tertipu oleh pria jahat, juga...)
Di situ, bagaikan mendapat ilham
mendadak, cuplikan adegan di rumahnya tadi melintas di dalam kepala Masachika.
Sosok Ayano yang matanya berbinar-binar merespons deklarasi Masachika yang
hendak memandangnya dengan hinaan.
(Jangan-jangan... Alya, kamu juga!?)
Fakta bahwa dia merespons wajah jahat
tadi... jangan-jangan maksudnya ke arah sana!?
Pemikiran seperti itu spontan melintas di
dalam kepalanya, tetapi ia segera menepis kemungkinan tersebut sendiri.
(Tidak, tidak mungkin... Alya
bagaimanapun kan jelas-jelas tipe S. Dia kan sering menatap
dengan mata seperti melihat sampah.)
Meskipun cara mengambil kesimpulannya
sangat tidak sopan, di sana satu pola templat otaku kembali muncul di dalam
kepalanya.
(Tapi
tidak, justru pada gadis yang jelas-jelas tipe S seperti itu, pola di mana dia
menjadi M khusus di hadapan orang yang disukainya adalah hal yang sering
terja── Ngugh!!)
Begitu memikirkannya sampai ke titik itu,
Masachika memukul jatuh dirinya sendiri di dalam pikirannya.
(Gawaat, barusan aku memikirkan hal yang
sangat mesum sampai kelewat percaya diri banget. Sip, bagus. Mari kita tidak
memikirkan hal ini lagi.)
Mengalihkan
jalan pikirannya, Masachika merapikan ekspresinya dan berbalik menghadap Alisa
lagi──
【Kalau kamu sih, tidak masalah.】
"Nngh!!"
"Kuze-kun!?"
Melihat Masachika yang mendadak memukul
dahinya sendiri (atau lebih
tepatnya menjatuhkan kepalanya ke
tinjunya sendiri), Alisa membelalakkan matanya terperangah.
"A-ada apa? Kamu tidak
apa-apa?"
"...Ngh? Apanya?"
"Apanya maksudmu... duh, dahimu
sampai memerah begitu kan."
Apakah karena perintangan batasnya sudah
hilang gara-gara merawatnya kemarin, Alisa mendekatkan wajahnya dengan raut
cemas, lalu mengelus dahi Masachika dengan jarinya. Mengingat jarak yang dekat
serta sensasi geli yang menyentuh dahinya, Masachika menarik tubuhnya ke
belakang sambil Spontan membuka suara.
"K-kamu sendiri tidak apa-apa?
Wajahmu kelihatan masih agak muram, lho?"
Meskipun kalimat itu diucapkannya lebih
dari separuh demi mengalihkan topik pembicaraan... Alisa mendadak menghentikan
gerakannya atas teguran tersebut.
"..."
"Ada apa? Masih ada hal yang
mengganjal di pikiranmu?"
Masachika mengajukan pertanyaan pada
Alisa yang perlahan duduk kembali di kursinya. Tepat saat itu, setelah beberapa
saat hening Alisa bergumam pelan.
"...Aku tidak bisa
menjawabnya."
"Menjawab apa?"
"Saat ditanya oleh Yuki-san...
kenapa aku ingin menjadi ketua OSIS... aku, tidak bisa menjawabnya."
Menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil
meremas kedua tangannya di atas rok, Alisa bercerita dengan nada menderita.
"Yuki-san... demi keluarganya,
menantang pertarungan pemilihan dengan perasaan yang sangat kuat... Tapi,
tapi... alasanku ingin menjadi ketua OSIS itu semuanya demi diriku sendiri...
Aku berpikir, apakah tidak boleh kalau alasannya cuma seperti ini. Begitu
memikirkannya, aku tidak bisa membocorkan apa-apa...!"
Seolah menahan penderitaan di dalam
dadanya, Alisa mengepalkan tangannya erat-erat di dada.
"Di hadapan Yuki-san... aku merasa
malu pada diriku sendiri yang sempat goyah. Kepada Yuki-san, diriku yang tidak
bisa menjawab secara percaya diri itu... rasanya sangat kesal...!"
Sambil berkata begitu, Alisa menggigit
bibirnya lalu menundukkan kepala. Melihat sosok itu... Masachika tidak bisa
mengeluarkan kata-kata secara instan. Sebab orang yang pernah menderita
gara-gara alasan... adalah dirinya sendiri pada masa lalu.
Membawa rasa bersalah pada Yuki, dirinya
yang menantang pertarungan pemilihan.
Lalu, dirinya yang menyingkirkan orang
lain hingga menjadi wakil ketua. Gara-gara terus menderita atas hal itu... ia
paham betul perasaan Alisa hingga rasanya menyakitkan.
(Tapi...)
Namun, ada senior yang menertawakan
penderitaannya itu. Ada senior yang membenarkannya dengan lembut.
"Alya..."
Kali ini... giliran dirinya. Seperti para
senior yang lembut itu pernah mendorong punggungnya, kali ini gilirannya untuk
mendorong punggung Alisa. Janji pada hari itu saat ia bersumpah bakal
menopangnya, harus ia tepati.
"Tataplah ke depan. Lihat aku!"
Merespons panggilan Masachika, tubuh
Alisa tersentak pelan lalu ia mendongakkan wajahnya. Menatap lurus ke mata
Alisa yang merapatkan bibirnya menderita, Masachika berbicara.
"Dibandingkan Yuki, alasanmu tidak
ada apa-apanya? Lalu kenapa. Kamu lupa? Padahal aku sudah tahu situasi Yuki
maupun situasi milikmu seluruhnya, dan aku tetap memilihmu, tahu?"
Kata-kata Masachika membuat Alisa
membelalakkan matanya lebar-lebar. Melihat Alisa yang tampak benar-benar
terperangah dari lubuk hatinya, Masachika berbicara secara lurus.
"Dulu aku juga pernah bilang, kan?
'Kamu itu sudah jadi sosok yang membuat orang ingin mendukungmu apa adanya'.
Aku tahu. Keindahanmu. Dirimu yang lebih tekun dari siapa pun, yang selalu
berusaha sekuat tenaga... dan hidup secara lurus. Kamu itu pantas mendapat
balasan yang lebih baik. Kamu adalah orang yang pantas didukung dan disukai
oleh jauh lebih banyak orang."
Sambil berbicara ia merasakan punggungnya
perlahan memanas, tetapi untuk saat ini ia sengaja mengabaikannya. Sebab jika
bukan kata-kata dari perasaan jujurnya, hal itu tidak bakal merasuk ke dalam
hati Alisa.
Yang terpenting, ia merasa khusus untuk
saat ini ia harus berhadapan dengan perasaan jujur.
"Karena itulah... tataplah ke depan.
Busungkan dadamu, dan bersikaplah anggun apa adanya. Tenang saja. Pesona dari
dirimu... sama sekali tidak kalah dari Yuki. Aku yang menjaminnya."
Selesai menuturkannya secara tegas,
Masachika merasakan keringat menyembur keluar di punggungnya. Saat ini juga ia
ingin berguling-guling dan membenturkan kepalanya ke meja, tetapi ia menahannya
erat-erat dan terus menatap mata Alisa.
Seketika itu juga, Alisa yang
membelalakkan matanya mengedipkan mata perlahan... lalu menempelkan tangan di
mulutnya dan mulai tertawa.
"Fu, fufu, rasanya ini benar-benar
seperti pernyataan cinta, ya?"
"Bisa diam tidak, jangan diucapkan!
Seriusan aku tidak bakal mengucapkannya untuk kedua kali, tahu!"
Hal yang disadarinya secara samar
diucapkan secara langsung dari depan, membuat Masachika berteriak tidak tahan.
"Aah~ duh panas banget! Demamku
kumat lagi, nih. Memang ya, tidak usah melakukan hal yang tidak terbiasa
dilakukan saat lagi flu~!"
"Fufu, benar juga, ya? Kalau lagi
demam sih... mau bagaimana lagi, ya?"
Melihat Masachika yang mengibaskan bagian
dada seragamnya sambil berpaling ke arah lain, Alisa mendekatinya sambil
tertawa. Lalu, ia menempelkan tangannya di pipi Masachika yang sedang
memalingkan wajah untuk mengarahkannya ke dirinya... lalu menempelkan dahinya
ke dahi Masachika yang membelalakkan mata.
"...Benar, ya. Agak sedikit hangat,
mungkin?"
"Ugh──!?"
Jarak di mana ujung hidung mereka nyaris
bersentuhan, serta wajah Alisa yang memejamkan mata. Pemandangan di luar
realitas yang benar-benar seperti beberapa detik sebelum ciuman membuat
Masachika membeku kehabisan kata-kata.
Beberapa detik yang sangat panjang, di
mana bernapas saja terasa ragu.
Tak berapa lama kemudian, Alisa menarik
wajahnya perlahan, lalu memamerkan senyuman lembut ke arah Masachika.
"Terima kasih ya, berkatmu...
keraguanku sudah sirna."
"...Sip. Kalau begitu
syukurlah."
Entah kenapa ia tidak bisa menatap lurus
ke wajah Alisa, membuat Masachika memalingkan pandangannya dan membalas dengan
sedikit kata. Melihat Masachika yang seperti itu kembali membuat Alisa
tersenyum, lalu ia berbicara dengan suara yang terkesan lega.
"Benar juga, ya. Membandingkan diri
dengan orang lain... kan tidak ada gunanya, ya. Mau bagaimanapun aku ya tetap
diriku, kan."
"Mmm... Yuki adalah Yuki, kamu
adalah kamu."
"Benar, kan."
Melihat
pasangannya yang sepertinya sudah mendapatkan kembali iramanya yang biasa
membuat Masachika menghela napas lega──
"Sekalipun Yuki-san memikul wasiat
dari almarhum kakaknya... bukan berarti aku harus ciut gara-gara hal itu,
kan."
...Ngh? Mendengar kata-kata yang tidak
bisa dibiarkan begitu saja merasuk ke telinganya, Masachika mematung. Batu
almarhum kakaknya............ Wasiat dari almarhum kakaknya!?
(WOI!!
Adikku!! Kakakmu (aku) malah dibikin mati, dongーーーー!!)
Menghadap ke bayangan adiknya yang sedang
julur lidah di dalam benaknya, Masachika berteriak dengan sekuat tenaga.
Keringat jenis yang berbeda dari sebelumnya menyembur deras di seluruh
tubuhnya.
(G-g-gimana, nih!? Kenapa Yuki malah
membuat setting masa lalu yang kelewat berat begini... tapi sebagai teman masa
kecil, bukannya ini harus diluruskan? Tapi kalau begitu, ada kemungkinan
persahabatan Alya dan Yuki bisa retak... tapi kalau dibiarkan ini
jelas-jelas...)
Mendapat masalah sulit yang mendadak
muncul di luar dugaan, Masachika memegangi kepalanya di dalam hati... dan
setelah berpikir keras selama beberapa detik, ia menyapa Alisa dengan sungkan.
"A-,
anu. Alya──"
Namun pada timing tersebut pintu kelas
terbuka, hingga Masachika dan Alisa menoleh ke arah sana secara bersamaan.
"Halo~"
"Permisi."
Membuka pintu dengan suara lemas, sosok
yang melangkah masuk ke kelas adalah Nonoa. Di belakangnya, sosok yang masuk
setelah membungkuk sopan adalah Sayaka. Kedatangan tamu tak terduga itu membuat
Masachika dan Alisa membelalakkan mata mereka bersamaan.
"Ooh~ ternyata kalian masih ada di
kelas, ya~... eh, Kuzechhi? Bukannya
hari ini kamu libur?"
"Aah, aku baru saja datang..."
"Ah, begitu? Ya sudah, pas banget
deh~"
Namun Nonoa sama sekali tidak memedulikan
reaksi mereka berdua.
Setelah mengatakan hal itu, ia langsung
melesak duduk di kursi Hikaru yang ada di depan Masachika... ...dengan posisi
duduk mengangkangi kursi.
"Nonoa... tidak sopan, lho."
"Eeeh~ kan tidak apa-apa. Lagipula
tidak ada orang lain ini."
Tanpa mengindahkan teguran Sayaka, Nonoa
seperti biasa, Nonoa menatap dengan mata setengah terpejam dan ekspresi malas,
lalu menopang dagunya di sandaran kursi. Tepat di hadapan Masachika.
Sambil merentangkan kedua kakinya
lebar-lebar.
(...Gara-gara dia punya sisi seperti ini,
mau baik ataupun buruk dia jadi tidak dipandang bagai idola, ya.)
Bagi Masachika, jika dilihat dari
penampilan luar dan tingkat popularitas, Nonoa sama sekali tidak aneh jika
dimasukkan ke dalam jajaran "Putri Cantik Tingkat Satu".
Namun alasan hal itu tidak terjadi adalah
karena Nonoa dianggap sebagai sosok yang lumayan dekat jika dibandingkan dengan
Alisa atau Yuki. Jika Alisa dan Yuki adalah bunga di atas puncak gunung, Nonoa
mungkin bisa dibilang sebagai bunga mekar yang tumbuh di atas tanah.
(...Walau sebenarnya tanaman pemakan
serangga, sih.)
Menambahkan hal itu di dalam hati,
Masachika sedikit menaikkan kewaspadaannya sambil menanyakan maksud
kedatangannya.
"Lalu? Ada urusan apa?"
"Emm~? Yang ada urusan bukan aku,
tapi Sayacchi, lho?"
"Taniyama?"
Saat Masachika mengarahkan pandangannya
pada Sayaka yang berdiri di belakang serong Nonoa, alis Sayaka tersentak pelan
untuk sejenak, sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang. Lalu, ia merapikan
posisi berdirinya dengan ekspresi tulus.
"Ini sudah terlambat, tapi...
Kuze-san, Kujou-san. Saya sudah sangat merepotkan kalian berdua. Termasuk
deretan sikap tidak sopan saya pada kalian berdua, saya memohon maaf. Saya
benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya."
Kemudian, ia menundukkan kepalanya
dalam-dalam ke arah mereka berdua. Melihat hal itu, Nonoa yang masih duduk di
kursi ikut menundukkan kepalanya sedikit.
"Dari aku juga minta maaf, ya.
Berhubung aku tahu Sayacchi lepas kendali tapi tidak menghentikannya, aku juga
punya tanggung jawab. Walau baru sekarang, bisa maafkan kami tidak? Aku tidak
bakal bilang gratisan, kok."
Sambil merapatkan kedua tangan di depan
wajah dan memejamkan sebelah matanya, Nonoa memohon. Sayaka tetap menundukkan
kepalanya dalam posisi berdiri. Melihat mereka berdua, Masachika berbalik
menatap Alisa.
"Aku pribadi tidak punya ganjalan
apa-apa pada kalian berdua. Mau memaafkan atau tidak, itu tergantung
Alya."
"Aku juga... kalau sudah dimintai
maaf soal perkataan kasar waktu itu, sudah tidak apa-apa, kok. Khusus untuk
Miyamae-san, tidak ada hal yang perlu dimintai maaf secara khusus juga,
kan."
"Enggak~ soal penonton bayaran saat
debat rasanya murni hal yang harus dimintai maaf, lho~?"
Kepada Nonoa yang memiringkan kepalanya
sambil tetap merapatkan kedua tangan di depan wajah, Masachika melambaikan
tangannya pelan.
"Hal semacam itu kan bagian dari
strategi. Lagipula, mana ada ceritanya pihak yang kalah minta maaf pada pihak
yang menang."
"Ahahaha... yah, memang benar
begitu, sih~?"
"...Yang melepaskan kemenangan itu
adalah kalian berdua, kan."
Mendongakkan kepalanya, Sayaka menatap
lurus ke arah Masachika.
Dari tatapan itu, Masachika menyadari
bahwa permintaannya kepada Nonoa untuk meredam rumor buruk tentang Sayaka
rupanya sudah ketahuan, sehingga ia mengabgkat bahunya.
"Aku cuma melakukan itu gara-gara
Alya bilang merasa aneh terus-terusan. Lagipula yang beneran bergerak kan
Miyamae, jadi tidak ada alasannya kalian menuding kami."
Maksud Masachika adalah, kalau mereka
tidak menerima ucapan terima kasih karena sudah membantu Sayaka, mereka juga
tidak akan menerima tudingan karena rumor buruk itu akhirnya beralih kepada
Nonoa. Dengan kata lain, kalau ada yang ingin dipermasalahkan, silakan
sampaikan semuanya kepada pasangan masing-masing, yaitu Nonoa.
Menangkap niat tersebut tanpa tersisa,
Sayaka justru mengarahkan pandangannya pada Alisa.
"Meskipun begitu, kenyataan kalau
kalian berdua memedulikan saya adalah hal yang nyata, kan. Di laporan kegiatan
hari ini... fakta bahwa pembicaraan soal debat sama sekali tidak diungkit,
bukankah artinya memang seperti itu?"
Menerima tatapan Sayaka, Alisa membalas
tatapan itu secara lurus.
"...Secara fakta, jika pemungutan
suara tetap dilakukan saat itu, tidak ada yang tahu siapa yang bakal menang.
Cuma gara-gara tidak mendapatkan kemenangan secara jelas, aku tidak berniat
melakukan deklarasi kemenangan, sebatas itu saja."
Mendengar kata-kata Alisa, Sayaka menatap
balik mata Alisa lekat-lekat demi mencari niat aslinya. Namun tak berapa lama
kemudian ia perlahan menurunkan pandangannya, membiarkan senyuman tipis
meluncur di bibirnya lalu mengangguk sekali.
"...Begitu, ya. Ternyata Anda sangat
menjaga kehormatan, ya."
Bergumam begitu, Sayaka memutar tumitnya
lalu melangkah menuju
pintu depan kelas. Tangannya memegang
gagang pintu, lalu menghentikan gerakannya sejenak di sana.
"...Tapi, saya juga punya kehormatan
milik saya sendiri."
Mendengar kata-kata serta melihat
punggung itu, Masachika menyadari bahwa Sayaka berniat melakukan sesuatu.
"Tunggu sebentar Taniyama. Apa yang
berniat kamu lakukan?"
Saat ditanyai secara refleks seperti itu,
Sayaka mengarahkan pandangan matanya sedikit pada Masachika lalu membalas.
"...Saya tidak berniat membelokkan
fakta hanya demi melindungi nama baik saya sendiri."
"Makanya kamu berniat menyampaikan
deklarasi kekalahan alih-alih deklarasi kemenangan? Lewat siaran dalam
sekolah... tidak, saat upacara penutupan, kah?"
Perkataan Masachika membuat Sayaka
kehabisan kata-kata lalu memalingkan pandangannya. Menyadari bahwa tebakannya
telak, Masachika berdiri.
"Sayang sekali, tapi sebagai
pengurus OSIS, aku tidak bisa membiarkan tindakan seenaknya saat upacara
penutupan... Kalau kamu beneran ingin membalas kebaikan Alya, bisakah
membalasnya dengan cara lain?"
"...Cara lain?"
Kepada Sayaka yang berbalik badan,
Masachika menyampaikan
permintaannya. Isi dari permintaan itu
membuat bukan hanya Sayaka, tetapi Alisa juga membelalakkan matanya
terperangah, dan Nonoa pun menaikkan alisnya.
"...Anda serius?"
"Iya. Alya juga tidak keberatan,
kan?"
"E, iya..."
"Miyamae juga tadi bilang 'tidak
bakal bilang gratisan', kan?"
"Aah~ yah aku memang bilang begitu,
sih..."
Melihat Alisa yang mengangguk bingung dan
Nonoa yang memamerkan senyum tipis, Sayaka memutarkan seluruh tubuhnya
menghadap Masachika. Sambil menatap Masachika dan Alisa dengan pandangan mata
yang rumit, ia berbicara dengan suara yang menahan berbagai emosi.
"...Bukan berarti saya mendukung
kalian berdua, lho."
"Iya, aku tahu."
"...Bahkan sampai sekarang pun, saya
merasa Anda harusnya
berpasangan dengan Suou-san."
"Begitu, ya. Tapi alasan kenapa aku
memilih Alya... kamu juga sudah paham sedikit, kan?"
Mendengar pertanyaan Masachika, Sayaka
menatap wajah Alisa lekat-lekat. Alisa pun membalas tatapan Sayaka dalam diam.
Setelah saling melempar pandangan selama beberapa detik, Sayaka memejamkan
matanya pelan.
"...Saya paham."
Lalu, ia mengangguk pelan. Melihat hal
itu, Nonoa memegang sandaran kursi lalu menarik tubuhnya ke belakang.
"Seriusan, nih~... Ya sudah, aku
juga tidak keberatan, deh. Yah."
Mengembalikan tubuhnya ke posisi semula
lalu mengangguk secara santai, Nonoa mendapat anggukan mantap dari Masachika.
"Terima kasih, tolong bantuannya,
ya."
Kemudian, ia berbalik ke arah Alisa yang
membelalakkan mata terperangah lalu memberi tahu.
"Alya, inilah kekuatan milikmu.
Dengan begini... kita bisa menang dari
mereka."
"Eh... menang? Eh, bukannya target
kita hasil seri..."
Mendapat perkembangan drastis yang
kelewat cepat membuat Alisa kebingungan, sementara Masachika memamerkan
senyuman yang sangat ganas.
"Target hasil seri sudah tidak
berlaku lagi. Berhubung pihak sana sudah melancarkan serangan... kita bakal
membantainya tanpa ampun."
Atas deklarasi tersebut, Alisa menahan
napasnya, Sayaka menaikkan kacamata dalam diam, dan Nonoa tertawa dengan sangat
gembira.



Post a Comment