NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 9 Chapter 2

Chapter 2

Kerusuhan di Kadipaten Dux


Pandora dan kawan-kawan berangkat menuju "Hutan Duka" menggunakan kereta kuda.

Kereta terus terguncang sepanjang malam.

Namun, bagian dalam kereta cukup luas dan guncangannya secara tidak alami terasa sangat minim, menjadikannya sangat nyaman.

(Sebenarnya, siapa mereka semua...)

Hal itulah yang terus dipikirkannya selama berada di dalam kereta.

Megalo itu kuat. Cukup kuat untuk memperlakukan Empat Uskup Agung terkuat dari Gereja Pusat maupun para Kardinal seperti Pandora bagaikan serangga.

Namun, Megalo yang seharusnya menjadi sosok kuat tak tertandingi itu dibunuh secara sepihak oleh seorang pria tua kusir yang mengaku sebagai manusia.

Bagi orang seperti Pandora, hal itu sudah tidak bisa diukur lagi, tetapi dinding kekuatan antara si pria tua kusir dan Megalo pasti menjulang lebih tinggi daripada pegunungan raksasa.

Begitu pula dengan Nero. Pandora tahu dia kuat.

Namun, menurut penjelasan Machia, Nero hanyalah manusia biasa.

 Dia sama sekali tidak menyangka Nero memiliki kekuatan untuk membantai anggota pasukan Giganto seperti memijak semut di pinggir jalan.

Tetapi demikian, dari serangkaian ucapan dan tindakannya, sudah dipastikan Nero bukanlah manusia biasa. Soal itu tidak masalah.

Yang menjadi masalah adalah pernyataan si kusir dan pria berambut abu-abu yang mengaku bernama Shin, bahwa mereka mempertegas diri sebagai manusia.

Terlebih lagi, si kusir sangat murka pada Megalo yang membantah hal tersebut.

Artinya, setidaknya di permukaan, si kusir dan Shin bertindak dan membawakan diri mereka sebagai manusia.

Tentu saja, monster yang membantai seluruh anggota pasukan Giganto tidak mungkin seorang manusia.

Justru karena itulah, niat Shin dan kelompoknya sama sekali tidak bisa terbaca.

Beberapa saat setelah di luar mulai terang, kereta kuda itu berhenti. Pria tua yang menjadi kusir masuk ke dalam kabin.

"Kita telah sampai di tepi Danau Jinam."

Dia melaporkan hal itu sembari membungkuk dengan hormat.

"Umu. Kalau begitu, mari kita langsung makan siang."

Faf, yang tadinya tertidur lelap sambil menghembuskan napas lucu di samping Shin, mendadak bangkit berdiri.

"Makan siang! Ada ikan!"

Sambil melompat-lompat kegirangan, dia melesat keluar dari kereta kuda.

"Tuan Pandora, kalau terus-terusan tegang begitu, kau bisa lelah. Aku akan memasak hidangan ikan, makanlah ini untuk menyegarkan diri."

Shin menyampaikan hal itu kepada Pandora dengan senyuman cerah.

Bagi Pandora, Shin setara dengan binatang buas yang bisa membunuhnya seketika hanya dengan sedikit tamparan di pipi.

Disapa seperti itu saja sudah membuat keringatnya bercucuran di luar kehendaknya, dan seluruh tubuhnya mulai gemetaran halus.

"B-baik. Dengan senang hati saya terima."

Sambil berjuang keras menahan pipinya yang hampir kejang, dia mengangguk dalam-dalam dengan ukiran senyum.

Saat Shin memasukkan pedang dengan bentuk bilah yang aneh ke dalam danau, aliran listrik menyengat air.

Tak lama kemudian, puluhan ekor ikan mengapung terombang-ambing di permukaan air.

"Ikan! Banyakkk! Ada yang besar juga!"

Dari yang berukuran normal hingga ikan raksasa berukuran beberapa meter yang jelas-jelas kelas monster ikut mengapung.

Melihat ikan-ikan itu, Faf bersuka ria dengan ekspresi penuh kegembiraan.

Shin menarik ikan-ikan tersebut ke darat dan mulai memasaknya.

"Enak sekali!"

Faf mengunyah dengan wajah penuh kebahagiaan.

Pandora pun dengan ragu-ragu memasukkan daging ikan yang terpanggang matang itu ke dalam mulutnya.

(Enak sekali!)

Garam yang ditaburkan dalam jumlah pas pada daging ikan berpadu dengan rasa manis alami dagingnya, menciptakan harmonisasi yang luar biasa.

(Ternyata aku sangat lapar, ya...)

Mungkin karena belakangan ini terjadi banyak hal hingga dia tidak bisa makan dengan benar. Pandora baru pertama kali ini menyadari bahwa dirinya ternyata sangat kelaparan.

"..."

Seperti masa kecilnya dulu, Pandora melupakan kesopanan dan situasi krisis yang dihadapinya, lalu mulai menyantap ikan itu dengan lahap tanpa memedulikan sekitar.

Setelah makan dengan lahap, tiba waktunya untuk beristirahat.

Faf tertidur di pangkuan Shin, sedangkan Nero juga sedang beristirahat di dalam kereta.

Saat ini, Shin, Lou, dan Pandora sedang meminum teh seusai makan di atas meja dan kursi lipat panjang.

"Permisi..."

"Hmm? Ada apa?"

Atas pertanyaan Pandora yang ragu-ragu, Shin bertanya balik sambil menyesap tehnya.

"Bos dari Megalo yang kalian kalahkan adalah Poseidon. Apakah orang-orang hebat seperti kalian tidak bisa membasmi mereka?"

"Bukankah itu monster yang bahkan tidak mampu diatasi oleh kalian, pihak Gereja Pusat?"

"Ya. Sangat menyesalkan, tetapi bagaimanapun caranya, kami tidak akan sanggup mengalahkan Poseidon."

"Kalau begitu, kami pun tidak akan mampu. Saat ini kami hanyalah Hunter peringkat B. Mana ada logikanya kami bisa mengalahkan monster yang tidak bisa kalian tangani."

Shin menolaknya secara halus dengan lelucon semacam itu.

Meski begitu, isi perkataan Shin sendiri adalah kebenaran. Berkat efek sekunder dari Karunia, Pandora memiliki kemampuan untuk melihat kebenaran atau kebohongan dari ucapan orang lain.

Hanya saja, kemampuan itu tidak selalu bisa mendeteksi secara pasti, melainkan sekadar firasat yang tidak sempurna.

Namun, jika dilengkapi dengan pengamatan manusia yang dikembangkan Pandora selama ini, kepastian penilaian kebenaran itu bisa meningkat drastis.

Dari sudut pandang Pandora, dia dapat memahami bahwa tidak ada kebohongan dalam pernyataan Shin barusan.

"Begitu rupanya..."

Bagi orang tingkatannya atau level Poseidon, Pandora tidak akan sanggup lagi menilai seberapa besar kekuatan mereka.

Shin sendiri mempertegas hal itu. Setidaknya, Pandora berpikir bahwa Shin merasa bertaruh nyawa jika harus menang melawan Poseidon.

"Tuan Shin..."

Nero yang keluar dari kereta kuda membisikkan sesuatu di telinga Shin.

"Hou... Bukankah itu menarik?"

Shin bergumam pelan.

Melihat sekilas ekspresinya yang menyerupai binatang buas dalam sekejap, Pandora merasakan ketakutan hebat seolah-olah es batu ditempelkan ke tulang belakangnya.

"Tuan Shin?"

Pandora menanyakan arti dari ekspresi tersebut.

"Ah, maafkan aku. Sepertinya ada masalah yang merepotkan. Tuan Pandora, menurutmu apa yang harus kita lakukan tentang ini?"

Saat Nero memetik jarinya, pemandangan sebuah padang rumput di suatu tempat terpancar di depan mata.

Si Nero itu, ternyata bisa menggunakan teknik sepraktis ini juga.

Mungin selama di Emblade dia berpura-pura polos dan menyembunyikan sebagian besar kekuatannya.

Di saat dirinya sedang mengumpat pada Nero di dalam hati——.

"Eh?"

Suara canggung keluar dari mulut Pandora.

Yang terpancar di depan matanya adalah sebuah perburuan.

Mangsa yang diburu adalah sepasang kakak beradik Beastkin kecil.

Tidak, wajah mereka juga ditumbuhi bulu. Apakah mereka bukan Beastkin, melainkan High Kobold...?

Sambil mengukir senyum tipis, para pria berintegrasi dengan pakaian mewah layaknya bangsawan mengejar anak-anak itu sambil melepaskan anak panah.

High Kobold juga tergolong monster tulen.

Menurut ajaran Gereja Pusat, mereka adalah makhluk yang bahkan keberadaannya saja sudah penuh dosa.

Setidaknya, itulah yang diajarkan kepada Pandora selama ini, dan itulah yang dia khotbahkan kepada para pengikutnya.

Oleh karena itu, seharusnya dia tidak terlalu terguncang meski diperlihatkan pemandangan anak-anak itu diburu.

Seharusnya begitu, tetapi sosok sang kakak perempuan yang menarik tangan adik lakilakinya sambil melarikan diri dengan raut wajah panik, bertaut dengan masa lalu Pandora dan adiknya yang berusaha kabur di tengah kobaran api saat diserang kaum Iblis.

"Saya akan menolong mereka! Di mana lokasinya!?"

Mengikuti gejolak emosi kuat yang mendadak membuncah, Pandora secara alami meremas tongkat yang ada di sampingnya lalu menanyakan hal tersebut.

Pada saat ini, terhadap kata-kata yang keluar secara alami tanpa keraguan maupun konflik sedikit pun, Pandora sendiri merasakan keheranan yang cukup segar.

"Di atas bukit itu. Jika kau berlari ke arah yang ditunjukkan jariku, kau akan segera sampai di lokasi kejadian."

Shin menunjuk ke arah bukit di dalam hutan, lalu menjawab dengan nada bicara membalas yang agak gembira.

Mendengar hal itu, Pandora langsung berlari seolah-olah punggungnya didorong oleh kedua tangan seseorang.

Pandora melesat di dalam hutan dengan kalap.

Baju keagamaan yang dikenakannya sudah robek di berbagai tempat akibat ranting-ranting pohon, tetapi dia terus berlari tanpa peduli.

Mengapa? Kakak beradik itu setidaknya adalah makhluk yang tergolong dalam kegelapan yang sangat dibenci Pandora.

Namun, hanya dengan sekali melihat ekspresi wajah mereka yang terdistorsi oleh ketakutan, keinginan untuk tidak menolong langsung sirnah tak berbekas.

Tentu saja, ada juga alasan bahwa penegakan keadilan tanpa belas kasihan dari Poseidon telah membuat ajaran gereja itu sendiri—yang bahkan tidak pernah dipertanyakannya sampai sekarang—menjadi tidak dapat dipercayai lagi.

Akan tetapi, keputusasaan yang dirasakan Pandora tidaklah dangkal hingga kebencian dan rasa jijiknya terhadap monster maupun kaum Iblis bisa hilang hanya karena ajaran seperti itu. Seharusnya begitu, tetapi Pandora berlari tanpa menoleh lagi.

——Padahal berlari menuju tempat tujuan ini sama sekali tidak memberikan keuntungan apa pun baginya.

——Padahal napasnya sesak, dan jantungnya serasa mau pecah.

Namun, dari kecemasan yang seolah akan meledak, kakinya tidak berhenti dan terus berlari menuju tempat tujuan.

Saat menembus hutan dan sampai di bukit yang agak tinggi, anak panah menancap sangat dalam di kaki kanan sang kakak perempuan yang melarikan diri di padang rumput yang jauh.

Sang adik menangis sambil memeluk kakaknya yang terguling. Sembari memeluk adiknya dengan erat, sang kakak merenung belasan pria yang telah melepaskan anak panah.

Menggunakan sihir untuk menyembunyikan hawa keberadaan, Pandora mendekat secara hati-hati agar tidak disadari oleh mereka.

"Kena! Tuan Gorongo, sungguh luar biasa!"

Beberapa pemuda yang tampaknya bangsawan di sekitar bertepuk tangan, memuji seorang pria muda berbadan gempal yang mengangguk puas sambil memilin kumis Kaiser di pipi kirinya dengan bangga.

Pada pakaian berhias megah yang dikenakan pria gempal itu, terdapat lambang Duke Dux yang berbatasan langsung dengan Babel dan Kerajaan Amelia.

"Seperti yang diharapkan, busur buatan Rascourt yang dibelikan Ayah memang berbeda! Bukankah ini selalu tepat sasaran!?"

Gorongo, pria gempal berkumis Kaiser, berseru kagum sembari menatap busur indah di tangan kirinya dengan ekspresi sangat puas.

"Tidak, tidak, ini bukan karena kekuatan busur, melainkan kemampuan Tuan Gorongo sendiri. Seperti yang diharapkan dari calon kepala keluarga Bildartz berikutnya!"

"Benar sekali!"

Para bangsawan pengikut memberi tepuk tangan meriah.

Apakah pria itu Gorongo Bildartz? Kadipaten Dux, Keluarga Duke Bildartz.

Dia adalah kerabat dari Kepala Negara Duke, sekaligus sinonim dari orang bodoh yang setara dengan Pangeran Gilbert dari Kerajaan Amelia.

(Jika aku menolong anak-anak itu...)

Kadipaten Dux adalah negara agama yang sangat taat di dalam wilayah ajaran Gereja Pusat.

Jika ketahuan bahwa yang menolong kakak beradik monster itu adalah Pandora yang merupakan Kardinal saat ini, masalahnya tidak akan berhenti pada Pandora seorang yang diseret ke pengadilan Inkuisisi.

Masalah ini bahkan bisa menjadi situasi yang meruntuhkan fondasi Gereja Pusat itu sendiri.

Akan tetapi, hal seperti itu——.

(Sudah terlambat!)

Benar! Sudah terlambat! Lagipula, Pandora saat ini sedang diburu oleh gereja sebagai pengkhianat yang menentang Dewa Agung. Yang terpenting, dengan turunnya Poseidon ke tanah ini, organisasi bernama gereja sudah lama hancur.

Sekarang dia bisa mempertegasnya dengan jelas. Setiap hal pasti memiliki sisi depan dan belakang, dan keduanya berdiri di atas keseimbangan yang luar biasa.

Kengerian yang terjadi ketika seseorang secara paksa menuntut kebenaran hanya dengan kekuatan, sudah dialami sendiri oleh Pandora di Emblade.

Orang-orang di depannya ini juga merupakan akhir dari kebenaran yang bengkok itu. Salah satu dampak buruk yang dihasilkan oleh keadilan sepihak dari Gereja Pusat.

Karena terlalu mempercayai kebenaran yang diucapkan orang lain secara buta, mereka mengabaikan pemikiran sendiri, hingga akhirnya menjadi manusia cacat yang kehilangan rasa empati terhadap orang lain—hal yang paling penting.

(Mereka itu adalah diriku yang dulu...)

Orang-orang menjijikkan di depannya ini adalah Pandora yang dulu, yang mempercayai keadilannya sendiri tanpa keraguan sebagai seorang Kardinal.

(Bener-benar tidak dapat diampuni!)

Rasa jijik dan amarah yang hebat terhadap dirinya sendiri dan orang-orang bodoh di depannya memenuhi hatinya bagaikan angin kencang.

"Kekuatanku ini masih belum seberapa."

"Sikap rendah hatimu juga sangat luar biasa!"

Sambil mengendurkan sudut mulutnya karena tidak terlalu membenci pujian para bangsawan, pria itu berkata.

"Nah, dengan begini perburuan selesai. Mari kita bawa pulang dan jadikan makanan Mary. Hei!"

"Siap!"

Saat Gorongo memberi isyarat dengan dagunya, beberapa pria berseragam militer Kadipaten Dux yang bersiap di belakangan memberi hormat, lalu mendekati kakak beradik itu dan mencoba mengikat pergelangan tangan mereka.

"Holy Bind!"

Merapalkan sihir dengan cepat, Pandora mengaktifkan sihir tipe pengikat yang dikuasainya, Holy Bind.

Lingkaran sihir raksasa muncul di atas kepala dan tanah, menjepit mereka dari atas dan bawah dengan kekuatan tak kasat mata.

"Gugigi!"

"Giga!"

Di saat orang-orang itu menjerit akibat rasa sakit yang tertekan dari atas dan bawah, Pandora mengabaikan mereka, mendekati kakak beradik tersebut, mencabut panah yang menancap di kaki sang kakak, dan di saat yang sama merapalkan sihir penyembuh. Dalam sekejap mata, kaki sang kakak sembuh.

"Tetaplah berada di belakang saya!"

Sambil memberikan instruksi dengan cepat sembari waspada, dia merendahkan titik berat tubuhnya dan berbalik menghadapi mereka.

Tentu saja, target yang diwaspadainya bukanlah kroco seperti Gorongo yang tidak bisa berdiri akibat efek Holy Bind, melainkan pria gundul yang tetap berdiri dengan wajah tersenyum menyeringai meski terkena sihir.

Pria gundul ini mengenakan jubah merah membara seperti darah, memakai caping merah, dan memiliki tato unik yang memuat angka '5' di wajahnya.

(Tato itu! Orang ini adalah Alumnus! Jika begitu, ini bisa jadi merepotkan!)

Tato sabit dan tengkorak, serta pakaian unik itu, mereka adalah Alumnus—asosiasi penyihir yang terdiri dari lulusan 'Menara' Babel.

Sebuah organisasi yang bergerak dengan tujuan memperoleh sihir yang disembunyikan di dunia atau teknik terlarang yang penggunaannya sendiri diharamkan, dan biasanya mereka adalah kelompok yang tidak akan pernah muncul di panggung utama.

Namun, belakangan ini ada laporan bahwa mereka dipekerjakan oleh para raja dan bangsawan berbagai negara dengan imbalan uang dalam jumlah besar, dan Gereja Pusat sendiri menandai mereka sebagai organisasi yang harus diwaspadai.

Bagaimanapun, mereka tidak memilih cara demi mencapai tujuan. Tidak diragukan lagi bahwa Pandora dan yang lainnya berada dalam situasi krisis saat ini.

"Ho~ kamu Kardinal Gereja Pusat, Pandora, kan? Mengapa kamu menolong anak anjing seperti itu?"

"Entahlah, hanya kebetulan belaka."

Sambil menjawab acuh tak acuh, dia mulai merapalkan sihir dengan suara pelan. Maaf saja, dia sama sekali tidak berniat mengobrol dengan kolektor teknik terlarang.

"Ah, itu tidak mungkin."

Sosok pria gundul berjubah merah itu mendadak lenyap dari depan matanya.

"——!?"

Saat dia panik dan melihat sekeliling,

"Nah, sebelum ratapanmu selesai, kamu bisa dengan mudah ditangkap seperti ini."

Suara serak terdengar dari belakang Pandora, dan lengan tebal seperti batang kayu membelit lehernya.

"Jangan meremehkanku!"

Mengarahkan telapak tangan kirinya ke belakang, Pandora melepaskan kartu trufnya, Holy Bullet tanpa rapal.

"Guo!?"

Beberapa bola perak bertabrakan dengan wajah pria berjubah merah. Pandora mengibaskan lengan pria berjubah merah itu.

Mengabaikan pria berjubah merah yang menjerit sambil memegang wajahnya yang mengeluarkan asap putih beserta bau daging terbakar dengan kedua tangan, Pandora merengkuh kedua kakak beradik itu dengan kedua tangannya, lalu berlari sekuat tenaga ke arah tempat Shin dan yang lainnya berada.

Kekuatan pria berjubah merah itu melebihi bayangannya. Lebih tepatnya, gerakan tadi dengan mudah melampaui gerakan manusia.

Bagaimanapun ditinjau, dia bukanlah manusia. Setidaknya, dia cukup kuat untuk memelintir dan menghancurkan Pandora dengan satu tangan secara mudah——.

(Mengapa dunia ini menjadi seperti ini!)

Karena menyesal, air matanya menetes. Hingga beberapa saat yang lalu, Pandora seharusnya adalah salah satu orang terkuat di dunia.

Namun kini, Pandora hanyalah seorang wanita tak berdaya yang melarikan diri dari orang kuat.

Jika diingat-ingat kembali, dunia berubah secara jelas setelah terlibat dengan Lumine Helner.

Sebelum terlibat dengannya, dunia ini memiliki keharmonisan, baik atau buruk. Ada Raja Iblis yang merupakan musuh kemanusiaan, dan ada Pahlawan yang berusaha mengalahkannya.

Gereja memimpin umat manusia ke arah yang benar dengan mendukung pihak manusia seperti Pahlawan dari belakang.

Namun sejak hari itu, hal tersebut runtuh secara besar-besaran.

Satu demi satu bermunculan sosok-sosok kuat tak tertandingi yang bahkan tidak bisa dilawan oleh umat manusia.

Dewa yang dipercayai Pandora dan yang lainnya dari lubuk hati, dengan mudah menjual umat manusia kepada Dewa Agung yang hanya menuntut kebenaran.

Sebaliknya, Kai Heinemann yang diperkirakan sebagai majikan dari Dewa Lalat yang dianggap sebagai musuh bebuyutan umat manusia, justru memimpin monster dan kaum Iblis yang merupakan sinonim dari kejahatan, lalu mendirikan negara baru untuk mencapai kemakmuran bersama dengan umat manusia. Ini menjadi situasi yang tidak bisa disebut selain ironi.

Jujur saja, dia sudah tidak tahu lagi harus percaya pada apa. Hanya satu hal yang bisa dikatakan——.

——Hanya kakak beradik ini yang harus diselamatkan!

Di tengah pemikirannya yang kacau, hanya hal itu yang menjadi tugas utama yang menentukan tindakan Pandora.

Saat hendak memasuki hutan, dia terguling dan jatuh ke tanah. Segera setelah itu, rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum menjalar di kedua kakinya.

"Pelacur sialan ini!"

Saat dia refleks menoleh ke arah sumber suara, pria berjubah merah dengan wajah terdistorsi oleh amarah seperti topeng Hannya dan sudut mata yang tajam menancap berada di depan mata Pandora, lalu menginjak perutnya.

Bersamaan dengan benturan itu, kesadaran Pandora lenyap seketika.

◇◆◇

Aku sedang memandangi gambar yang diproyeksikan di udara bersama para petinggi Faesta di dalam tenda di samping Danau Jinam.

Kecuali beberapa orang seperti Gilbert, raut wajah para petinggi Faesta yang memandangi gambar itu dipenuhi kebingungan.

"Ternyata Tuan Pandora menolong kakak beradik High Kobold itu, ya. Apalagi sampai mempertaruhkan nyawa."

Paman Cliff mengucapkannya dengan nada tertarik.

"Tapi, dia adalah petinggi gereja, musuh bebuyutan kita, kaum Iblis dan monster!"

Kepada petinggi kaum Iblis yang berteriak seolah-olah berusaha meyakinkan dirinya sendiri,

"Benar. Aku pun sama sekali tidak bisa mempercayainya."

Cyclone, monster Cyclops, ikut menyetujui.

Dimulai dari Crocodas, para monster dan kaum Iblis dari suku petarung berturut-turut menyuarakan kalimat penolakan terhadap gereja.

"Bagaimana menurutmu, Gil?"

Kigi, mantan pemimpin suku Sheepcat sekaligus wakil ketua Faesta, meminta pendapat kepada Gil yang merupakan ketua umum.

"Haha! Aku dulu lebih sampah daripada dia, lho. Aku tidak bisa bicara sok hebat."

Kepada Gil yang tertawa getir sambil menggaruk pipinya,

"Tentu saja. Kau yang memperlakukan sesama manusia seperti kami bagaikan serangga saja tidak bisa mengomentari orang lain. Malah, Gorongo yang tadi justru terasa jauh lebih dekat denganmu, kan?"

Terhadap sindiran tajam dari Somni,

"Tidak, tidak, dibandingkan dengan betapa sampahnya pangeran di masa lalu, yang tadi itu masih tergolong lucu."

Tetre juga langsung menjawab.

"Kalian bicara kejam sekali, ya. Tapi, masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. Benar begitu kan, Lord Kai?"

Sambil menatap sekeliling ke arah semua orang dan menyampaikan kesan tersebut, Gilbert meminta persetujuan dariku.

"Ya, ujian Tuan Pandora baru saja dimulai. Kita bisa menarik kesimpulan lagi setelah ujiannya selesai."

Sepertinya mereka menangkap Tuan Pandora yang pingsan dan mengawalnya kembali ke negara asal mereka.

Untuk saat ini, tampaknya dia tidak berada dalam bahaya jiwa dan raga yang serius seperti halnya kakak beradik High Kobold itu, jadi mari kita lihat perkembangannya.

"Apakah orang itu akan baik-baik saja?"

Kepada Shar yang bertanya dengan ekspresi cemas,

"Ya, aku juga berencana menyusup ke Kadipaten Dux sekarang, jadi tidak perlu khawatir."

Aku memberitahukan jawaban yang diinginkannya dengan tegas.

Sangat di luar dugaan bahwa Kardinal Gereja Pusat begitu lemah hingga dikalahkan dengan mudah oleh kroco seperti itu. Promosi bahwa dia kuat mungkin hanyalah gertakan untuk membuat para pengikut percaya.

Rencana awalnya adalah meminta para petinggi Faesta menilai sosok Pandora berdasarkan apakah dia menolong kakak beradik itu atau tidak, tetapi sepertinya kami terpaksa mengubah arah.

Sekarang pun aku sudah memberi instruksi kepada Boonboon untuk melindungi Pandora dan kakak beradik High Kobold itu jika terjadi sesuatu.

Kekuatan Boonboon berada satu tingkat di atas bawahan-bawahanku yang lain. Bahkan jika diserang, dia pasti sanggup melarikan diri kembali.

"Gil, secara pribadi bagaimana kau menilai Tuan Pandora?"

Atas pertanyaan Paman Cliff, Gil melipat kedua tangannya dan terdiam sejenak untuk berpikir,

"Konsep tetap adalah sejarah hidup yang telah kita jalani sampai sekarang, dan baik atau buruk, itu adalah identitas penting untuk membentuk diri sendiri. Sesuatu yang sudah melekat sekali tidak akan bisa diubah dengan mudah. Aku pernah kehilangan ingatan sekali dan berhasil merisetnya dengan baik. Namun, dia mempertahankan ingatannya dan berusaha mengubah persepsi itu sendirian melalui tindakannya sendiri. Menurutku, hal itu jauh lebih berat dan keras dari yang kita bayangkan. Karena itulah, aku ingin mempercayainya."

Gil memilih kata-katanya dan mengucapkannya seolah meresapi setiap kalimat.

"Maaf saja, Gil dan orang-orang gereja itu berbeda. Aku tidak bisa menerima mereka."

Terhadap perkataan Cyclone yang seolah mewakili perasaan semua orang, para petinggi Faesta juga mengangguk setuju dalam diam.

"Selama kalian tidak menginginkannya, aku tidak akan bergerak. Dipikirkan baik-baik lalu putuskanlah."

Aku berdiri dari kursi dan mendeklarasikannya kepada para petinggi Faesta.

◇◆◇

Di depan Putri Kedua Louise Lot Amelia yang sedang meminum teh merah dengan anggun di kediamannya di Babel, muncul Nemesis, seorang wanita cantik tiada tara yang mengenakan pakaian merah minim.

Louise berdiri dari sofa,

"Selamat datang, Lady Nemesis."

Sambil memegang ujung roknya dan mengukir senyuman, dia membungkuk dengan anggun.

Izark Gizido, pemuda berambut putih dengan mata menyipit seperti garis yang bersiap di samping Louise, juga mengikuti gerakannya dengan meletakkan tangan kiri di belakang dan tangan kanan di dada sembari membungkuk hormat.

"Louise, apakah benar-benar tidak apa-apa? Kau harus mempertaruhkan nyawamu sampai batas tertentu, lho?"

"Tentu saja, saya sudah siap."

"..."

Wanita cantik berpakaian merah, Nemesis, menatap mata Louise dalam diam sejenak,

"Peranmu kali ini adalah seorang badut. Meskipun begitu, apakah benar-benar tidak apa-apa?"

Dia bertanya dengan nada bicara yang agung.

"Ya. Kali ini saya tidak berniat untuk menonjolkan diri. Semata-mata karena pertemuan yang lebih cepat sehari saja dengan orang itu adalah kerinduan saya."

Sambil meletakkan kedua tangan di dada, dia berbisik seolah sedang bernyanyi.

Nemesis menghela napas kecil,

"Jika mempertimbangkan perasaanmu, sejujurnya aku enggan memberikan izin untuk berpartisipasi dalam rencana kali ini. Tapi... baiklah. Atas nama Nemesis ini, aku mengizinkanmu berpartisipasi dalam ujian kali ini."

Dia mengulurkan tangan kanannya dan berdeklarasi dengan tegas.

"Terima kasih atas pertimbangan Anda."

Saat Louise berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, Izark pun ikut melakukannya.

"Izark, apakah kau tidak perlu berpartisipasi dalam rencana kali ini?"

"Ya, karena saya menolak untuk menghirup udara yang sama dengan pria itu."

Kepada Izark yang mengucapkan kalimat tajam dengan senyuman, Nemesis mengangkat bahunya,

"Aku tidak berniat ikut campur dalam urusan kalian ayah dan anak, tetapi tidak ada gunanya terus bersikap keras kepala. Saling bersikap jujurlah satu sama lain."

Dia berbicara dengan lembut seolah menasihati.

"Akan saya camkan dalam hati, wahai Dewi. Terima kasih atas perhatian Anda."

Terhadap kata-kata yang jelas-jelas sekadar etika sosial itu, Nemesis menghela napas lebih besar dari sebelumnya,

"Louise, jika rencananya sudah dekat, aku akan datang menjemputmu. Kalau begitu, semoga keberuntungan memberkati kalian."

Saat menempelkan tangan kanannya ke bibir, Nemesis melenyapkan sosoknya bersama dengan bunga-bunga berwarna merah membara.

Louise dan Izark tidak bergerak sejenak sambil tetap berlutut dengan satu kaki, tetapi Louise berdiri dan berbalik menghadap Izark,

"Izark, kamu sedang merencanakan sesuatu, kan?"

Dia bertanya dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.

"Merencanakan sesuatu itu tidak mungkin. Saya selalu bertindak demi Puan Putri."

"Aku tidak meragukan hal itu. Cuma satu hal, beri tahu aku. Kamu tidak akan memusuhi Kai, kan?"

"Saya bersumpah, saya tidak akan melakukan hal yang membuat Lord Kai marah."

"...Aku mengerti. Aku percaya padamu."

Louise menghapus wajah seriusnya dan mengukir senyuman seperti biasa, lalu duduk di sofa dan mulai meminum teh merah dengan anggun.

"Kalau begitu, saya permisi dulu."

Isaak membungkuk dengan anggun sebelum melangkah keluar dari ruangan.

Tepat saat Isaak hendak meninggalkan kediaman Louise,

『Isaak, bagaimana hasilnya?』

Suara seorang pemuda bergema di dalam kepala Isaak.

(Tampaknya Putri kita berniat campur tangan dalam perselisihan antara Tuan Kai dan Poseidon kali ini.)

『Poseidon dan Kai Heinemann akan bertabrakan, kah... Dengan begini, kita bisa melihat sejauh mana kemampuan Kai Heinemann.』

(Apakah Anda meragukan kemampuan Tuan Kai, Tuan Orochi?)

『Tidak, bagaimanapun juga, dia adalah pria yang dipuji oleh Tuan Shou—tuan kita—sebagai orang yang kekuatannya tak terukur. Tak diragukan lagi dia berada di ranah yang sama dengan kita. Tapi, Poseidon itu beda kelas. Jika dia mampu bertarung secara seimbang melawan makhluk itu...』

(Tuan Kai yang akan menang.)

『Isaak, bagaimana bisa kamu sedemikian yakin?』

(Anda juga akan mengerti jika sudah bertemu dengannya secara langsung. Dia jelas-jelas berada di level yang berbeda.)

『Begitu, ya... Kalau begitu, mari kita saksikan pertarungan ini dengan santai.』

Seiring dengan kalimat terakhir itu, suara di kepalanya terputus secara terabaikan.

"Astaga, Tuan Penasihat kita masih saja bertindak seenaknya sendiri."

Sembari tersenyum getir, Isaak pun mulai melangkah pergi.

◇◆◇

Saat Pandora sadar kembali, dia sudah berada di dalam sebuah penjara bawah tanah yang dingin.

Di dalam penjara itu, terdapat belasan manusia yang tampaknya berasal dari ras manusia biasa.

Dengan kepala yang masih terasa pening, Pandora mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Kulihat kau tertidur cukup lama, kau baik-baik saja, Mbak?"

Seorang pemuda berambut abu-abu yang tampak berusia pertengahan belasan tahun duduk di samping Pandora, lalu menyuarakan keprihatinannya.

"Ya..."

Pandora mengangguk ragu dengan kepala yang masih terasa linglung bagaikan tertutup kabut.

"Mbak ini biarawati gereja, kan? Kenapa orang seperti Mbak bisa dijebloskan ke tempat seperti ini?"

Kepada pemuda berambut abu-abu yang bertanya dengan nada bicara terkesan terlampau santai itu, Pandora menjawab.

"Aku..."

Seiring ingatan yang tadinya kabur mulai menjernih, kenangan tentang apa yang terjadi hingga saat ini teringat kembali dengan sangat jelas.

Memory yang terlintas itu memicu rasa cemas yang amat luar biasa.

"Di sini... apakah anak berkulit adik-kakak High Kobold tidak dibawa ke sini?!"

Pandora mencengkeram kedua bahu pemuda berambut abu-abu itu dan bertanya dengan nada bicara yang keras.

"High Kobold? Monster, maksudmu...? Halah, pantesan aja. Biarawati berteman sama monster, ya panteslah ditangkap."

Pemuda berambut abu-abu itu mengeluarkan suara kaget, namun tak lama kemudian dia mengangguk-angguk seolah bisa memahaminya.

"Bagaimana!? Apa kau tahu sesuatu!?"

"Sayang sekali, ini penjara buat manusia. Tempat monster dibawa bukan di sini. Yah, walau ujung-ujungnya tujuan akhir mereka bakalan sama juga, sih."

"Tujuan akhir?"

"Iya, dunia orang mati."

Pemuda berambut abu-abu itu berdiri, lalu menjawab sambil menyilangkan kedua tangan di belakang kepalanya.

"Begitu, ya..."

Golongo sempat berkata, 'Akan kubawa pulang untuk dijadikan makanan Mary saja'.

Perasaannya sama sekali tidak enak.

Dia harus segera menyelamatkan mereka. Untuk itu, pertama-tama dia harus keluar dari tempat ini.

Pandora mendekati jeruji besi penjara lalu mengarahkan telapak tangan kanannya.

(Holy Bread)

Dia mencoba merapalkannya tanpa mantra.

(Tidak bisa... ya...)

Ini sudah diperkirakan. Penjara yang digunakan untuk menampung penyihir pada dasarnya memiliki struktur yang membuat sihir tidak dapat digunakan, biasanya dengan memanfaatkan barang sihir seperti Magic Item. Penjara ini pun tidak terkecuali.

"Mbak, barusan kau mau pakai sihir, ya?"

"Ya, tapi tidak bisa diaktifkan."

"Nyantai banget ngomongnya. Kalau sampai berhasil aktif, bakal geger tahu."

"Tentu saja."

Pemuda berambut abu-abu itu menatap wajah Pandora tanpa suara sejenak, lalu mengukir senyum tak kenal takut.

"Kau aneh juga, ya. Yah, bolehlah. Aku Heine. Perjumpaan kita mungkin bakal singkat, tapi salam kenal."

Setelah menyampaikan salam formalitas seperti itu, dia berjalan ke dekat dinding lalu berbaring berbantal lantai batu yang dingin.

Untuk beberapa saat, Pandora terus memikirkan cara untuk keluar dari penjara ini, tetapi tidak ada satu pun ide bagus yang terlintas di kepalanya.

Pada awalnya, Heine hanya mengawasi dari kejauhan, tetapi tak lama kemudian dia mulai mengajak Pandora berbicara sampai-sampai terasa agak mengganggu.

Pada akhirnya, dia bahkan mulai menceritakan situasi dirinya sendiri dan kronologi bagaimana dia bisa dijebloskan ke penjara tanpa ada yang meminta.

Tampaknya, Heine adalah seorang pesulap/pendekar pedang bawahan dari sosok yang sangat terpandang.

Atas perintah sosok tersebut, dia mencoba menyelamatkan orang-orang dari ras lain yang ditangkap, namun gagal dan berakhir diringkus.

Penjara di sini sepertinya merupakan tempat penampungan bagi mereka yang telah diadili oleh Inkuisisi dan dinyatakan bersalah.

"Tuan Rula adalah sosok yang luar biasa dan penuh dengan kearifan!"

Sembari mengangguk pada Heine yang bercerita dengan bangga, Pandora memutuskan untuk merapikan sedikit situasi yang ada.

Tempat ini adalah penjara bawah tanah di salah satu kastil di dalam wilayah Duke Dux.

Kemungkinan besar, Golongo telah menyerahkan Pandora kepada sang Duke.

Pandora dijatuhi hukuman bersalah dalam Inkuisisi Duke Dux, lalu dikurung di dalam penjara ini.

"Apakah Tuan Putri Rula juga ditangkap?"

Nama Putri Rula, putri kandung sang Duke, juga dikenal baik oleh Pandora.

Beliau adalah kandidat utama penerus Duke Dux berikutnya, tetapi dia juga merupakan sosok yang sejak lama diawasi oleh Gereja karena memiliki pemikiran berbahaya, yaitu pemikiran untuk hidup berdampingan dengan monster.

Pandora mendengar bahwa atas permintaan Gereja, beliau telah dicoret dari kandidat penerus Duke berikutnya.

Dahulu, Pandora menganggap Putri Rula yang mengambil tindakan yang memicu permusuhan dari berbagai pihak padahal berada di posisi kandidat utama penerus Duke sebagai wanita yang bodoh.

Namun sekarang, Pandora bisa sangat memahami apa yang ingin dilakukan oleh Putri Rula beserta perasaannya. Putri Rula hanya mencoba memperlakukan para monster sebagai individu yang setara.

Dalam hal ini, monster memiliki perbedaan inteligensi yang sangat signifikan tergantung pada tingkat evolusinya.

Ada monster seperti Goblin yang memang memangsa hewan ternak dan minim inteligensi, namun ada pula monster seperti High Ogre yang memiliki kecerdasan dan pemikiran yang setara dengan manusia.

Lagipula, selama memiliki inteligensi, mereka juga memiliki emosi.

Jika orang tersayang hilang mereka akan sedih, dan jika orang tersayang tertawa mereka akan bahagia.

Pemikiran bahwa mereka adalah makhluk jahat sehingga boleh diperlakukan seenaknya justru merupakan pemikiran yang menyimpang.

Pandora dulunya menerima ketidakwajaran yang merajalela di dalam Gereja ini sebagai hal yang lumrah.

Penyebab jatuhnya Pandora ke dalam pemikiran ini adalah kurangnya empati terhadap orang lain.

Hal itu mungkin bisa diartikan juga sebagai kurangnya tenggang rasa.

Sama seperti Pahlawan Mashiro yang kini telah jatuh ke dalam kebencian.

"Sialan, orang-orang itu mengarang tuduhan kerusuhan dan mengurung Tuan Rula!"

Heine membesarkan suaranya dengan nada penuh kebencian.

"Apakah Duke bekerja sama dengan Alumnai?"

"Tuan Duke benar-benar menuruti semua kemauan mereka. Ini semua gara-gara orang itu datang!"

Heine mengepalkan kedua tangannya erat-erat dengan raut wajah penuh dendam.

Berdasarkan informasi yang didengar dari Heine, bos dari Alumnai menyebut dirinya sebagai Neptune.

(Si bajingan busuk itu, kah...)

Neptune adalah salah satu dari dua pengawal terdekat yang berinkarnasi bersama Poseidon.

Pandora sempat berpikir ke mana dia menghilang akhir-akhir ini, ternyata dia sedang menyebarkan ajaran di tempat seperti ini...

Mikirkan bahwa pengawal terdekat Dewa Agung itu telah merebut Alumnai, organisasi berbahaya yang selama ini diawasi oleh Gereja. Sungguh sebuah ironi yang luar biasa. Bagaimanapun juga—

(Makhluk itu ada di sini...)

Kekejaman Neptune sudah di luar batas kewajaran. Keberadaannya di sini saja sudah cukup untuk memastikan bahwa wilayah Duke Dux ini telah berubah menjadi neraka.

Dan jika Neptune yang menguasai kota ini, mustahil bagi manusia seperti Pandora dan yang lainnya untuk mengalahkan mereka.

Pada akhirnya, tidak ada pilihan lain selain bergantung pada sosok bukan manusia yang menjadi tujuan perjalanan Pandora.

Ya, Kai Heinemann—seorang pemuda yang memiliki anugerah Gift bernama 'Yang Paling Tidak Berguna di Dunia'.

"O-Oi, ini terbuka!"

Ketika Pandora mengalihkan pandangannya ke arah suara salah satu tahanan yang duduk di dekat pintu, pintu itu memang sedikit terbuka.

"Heine, apa kau merasakan hawa keberadaan seseorang barusan!?"

"T-Tidak, aku tidak merasakannya!"

Heine pun membalas dengan suara terkejut.

Selama jeda singkat saat dia mengobrol dengan Heine, seseorang telah membuka kuncinya.

Tidak ada kemungkinan lain.

Tapi, siapa dan apa tujuannya?

Tidak, daripada memikirkan hal itu, melarikan diri dari sini adalah hal yang lebih utama sekarang.

"Aku akan keluar dari sini. Bagaimana dengan kalian semua?"

Atas pertanyaan Pandora, para tahanan saling bertukar pandang dengan raut bingung.

Mereka mungkin khawatir bahwa ini adalah jebakan dan mereka akan dieksekusi.

Namun pada dasarnya, mereka yang berada di posisi unggul secara mutlak tidak punya alasan untuk melakukan hal serumit ini.

Lagipula, jika yang memerintah di sini adalah Neptune itu, berada di sini pun pada akhirnya hanya akan membuat mereka mati lewat eksekusi publik berkedok penyiksaan. Tidak ada salahnya mengambil risiko di sini.

"Aku juga ikut. Soalnya aku harus menyelamatkan Tuan Rula!"

Heine ikut berdiri.

"Ayo pergi!"

Bagaimanapun juga, Pandora tidak berniat membiarkan wilayah Duke Dux tetap seperti ini.

Dalam hal ini, Shin memang menolak untuk menundukkan Poseidon, tetapi dia tidak menolak untuk menundukkan Neptune. Masih ada banyak ruang untuk bernegosiasi.

Yang terpenting, jika berhasil membujuk Kai Heinemann, tidak hanya Emblade, tetapi wilayah Duke Dux ini juga bisa diselamatkan. Cara untuk menyelamatkan mereka benar-benar ada.

"Sip!"

Sembari mengangguk pada Heine, Pandora merapalkan sihir penyamaran yang memiliki efek membuat hawa keberadaan dan wujud diri tidak dapat dikenali pada dirinya dan Heine, lalu berlari ke luar sel batu.

Meskipun mereka melewati tangga dari bawah tanah, entah mengapa tidak ada penjaga sama sekali sehingga mereka berhasil keluar ke dalam area kastil.

Di dalam kastil tentu saja mereka berpapasan dengan beberapa orang, tetapi berkat sihir penyamaran milik Pandora, mereka berhasil keluar dari kastil dengan selamat.

Selama penguasa di sini adalah Neptune, masalah ini tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh manusia seperti Pandora dan yang lainnya.

Cara yang paling pasti adalah meminta bantuan dari Kai Heinemann yang merupakan tujuan perjalanan Pandora.

Meski begitu, saat ini Pandora baru mengetahui nama dan rumor tentangnya saja, dan lagipula belum tentu dia mau menerima permintaan Pandora. Sebaiknya hindari bergantung sepenuhnya pada dirinya seorang.

Sosok berikutnya yang kemungkinan bisa menyelesaikan insiden ini adalah Hunter yang menjadi pengawal perjalanan Pandora, Shin. Jika dia, mungkin dia bisa menghadapi Neptune sekalipun.

Namun, Shin sendiri sepertinya tidak menyukai ide bertarung melawan kubu Poseidon. Dalam hal ini, entah mengapa Shin juga menyebut dirinya sebagai seorang Hunter manusia.

Dengan kata lain, dia bertindak dalam batas-batas akal sehat dunia Hunter manusia.

Jika dia berpikir bahwa dia tidak bisa memusuhi Poseidon karena keterikatan sebagai Hunter, tidak peduli seberapa keras Pandora memohon, dia tidak akan pernah menganggukkan kepala. Karena tempat memohonnya saja sudah salah.

Pihak yang harus dimintai bantuan oleh Pandora adalah Guild Hunter.

Dan elemen yang dibutuhkan untuk membujuk Guild Hunter tersebut adalah Putri Rula.

Pandora membutuhkan Putri Rula untuk melaporkan kondisi tragis kota ini kepada Guild Hunter dari mulutnya sendiri, agar mereka menetapkan Poseidon sebagai musuh umat manusia.

Jika begitu, kemungkinan besar Shin sang Hunter akan bergerak.

"Heine, apakah kau tahu tempat Putri Rula dikurung?"

"Tidak, aku tidak tahu."

Kepada Heine yang menjawab dengan raut penyesalan, Pandora bertanya lagi.

"Kalau begitu, adakah orang yang tahu tempat beliau dikurung?"

"Kalau pejabat tinggi negara, kemungkinan besar..."

Dia mungkin tidak bisa yakin sepenuhnya.

Heine pun bicara terbata-bata. P

ejabat tinggi Duke Dux, ya?

Kalau begitu, ini mungkin bisa menyelamatkan dua burung dengan satu batu.

"Apakah Golongo Buildarts tahu?"

"Aah, babi jenggot brengsek itu! Gara-gara aduan dia Tuan Rula sampai dikurung. Kalau dia, tidak aneh kalau dia tahu!"

(Tepat sasaran!)

Mendengar jeritan Heine yang penuh ekspresi kebencian, Pandora mengepalkan tangannya dalam hati tanda menang.

Dengan begini, salah satu tujuannya telah terhubung dengan jelas.

"Kita tangkap Golongo Buildarts dan menginterogasinya untuk mencari tahu tempat Putri Rula dikurung. Pada saat yang sama, kita juga akan melindungi adik-kakak High Kobold yang ditangkap olehnya."

Menyelamatkan adik-kakak High Kobold juga. Ini adalah satu-satunya rencana yang mutlak.

"Aku setuju soal menangkap Golongo. Tapi melarikan diri sambil membawa beban itu bakalan merepotkan. Apa memang perlu menyelamatkan adik-kakak High Kobold itu sampai mempertaruhkan nyawa?"

Menanggapi kalimat Heine yang mengandung celaan sesuai dugaan itu, Pandora menjawab.

"Ya, tentu saja. Karena ini adalah masalah pribadiku, baik menangkap Golongo untuk menanyakan tempat pengurungan Putri Rula maupun melindungi adik-kakak High Kobold, semuanya akan kulakukan sendiri."

"Pandora, kau pasti bakal mati tahu?"

"Mungkin saja. Tapi, aku harus melakukannya."

Pandora tidak tahu kenapa dia berpikir demikian.

Tapi dia merasa jika dia menyelamatkan anak-anak itu, dia bisa memulai semuanya dari awal sekali lagi.

"... Baiklah. Aku juga bakal bantu."

Untuk sejenak, Heine menatap wajah Pandora dengan raut serius, lalu mengukir senyum tak kenal takut seperti saat pertama kali bertemu dan mengacungkan ibu jarinya.

"Maaf, tapi kau hanya akan jadi beban. Tolong beritahu aku lokasi kediaman Golongo saja. Informasi lokasi pengurungan Putri Rula yang kudapatkan dari Golongo juga akan kuberikan padamu."

"Gak mau. Aku ikut. Kalau tidak, gak bakal kuberi tahu!"

Dia menjawab seperti itu dengan wajah bersungut-sungut sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

Sekarang tidak ada waktu.

Sementara mereka berdebat seperti ini, adik-kakak itu mungkin sedang dijadikan makanan monster.

"Aku tidak bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa pada dirimu!"

Saat Pandora berteriak dengan nada jengkel, Heine mengukir senyum puas lalu mulai berlari.

Berkat sihir penyamaran, mereka berhasil tiba sangat dekat dengan kediaman Golongo tanpa terekspos oleh siapa pun.

Saat ini mereka sedang menatap ke arah kediaman megah di bawah sana dari atas tebing yang curam.

Rencananya sederhana. Pertama-tama, tangkap Golongo, interogasi lokasi pengurungan Putri Rula, lalu gunakan dia sebagai sandera untuk mencari adik-kakak High Kobold.

Tentu saja, jika di tengah-tengah proses itu mereka ketahuan oleh pria berkepala botak dari Alumnai tersebut, kali ini Pandora pasti akan langsung dibunuh tanpa diberi kesempatan untuk melawan sedikit pun.

Tidak, jika hanya dibunuh mungkin masih jauh lebih beruntung. Jika tertangkap, dia akan mengalami kekejaman yang tak terbayangkan pada tubuhnya ini.

Naluri Pandora yang telah melewati berbagai medan pertempuran terus menjerit agar dia berbalik arah dan melarikan diri dari kota ini sekuat tenaga sejak tadi, tetapi entah mengapa, tekadnya untuk menjalankan rencana tidak goyah sedikit pun.

"Ayo jalan."

"Sip!"

Sembari merapalkan sihir penguat tubuh pada dirinya sendiri dan Heine, mereka berdua menuruni tebing menuju kediaman Golongo.

Semua prajurit penjaga yang menjaga bagian luar kediaman ditidurkan menggunakan sihir.

Saat melangkah masuk ke dalam pintu, terdengar suara gemuruh yang mirip seperti sorak-sorai banyak orang.

Begitu berjalan dengan hati-hati menuju sumber suara, mereka keluar di sebuah area yang terbuka.

Saat pemandangan di sana masuk ke dalam penglihatan Pandora—

"—gkh!?"

Tanpa sadar dia menahan napas. Tempat itu benar-benar neraka dunia.

Di salah satu petak area, monster berbentuk menyerupai manusia diikat pada tiang-tiang kayu, dan tubuh mereka tertancap panah yang tak terhitung jumlahnya.

Mulai dari seorang wanita yang memiliki antena tumbuh di kepalanya yang menangis ketakutan, pria Ogre bertanduk yang mengatupkan giginya rapat-rapt sambil menatap tajam meski tubuhnya dipenuhi panah, hingga anak kecil yang sudah begitu lemah sampai-sampai hanya bisa mengerang pelan.

"Masih belum kena juga, ya. Memang skill memanah Tuan Golongo sungguh luar biasa!"

"Ya, benar sekali."

Para bangsawan yang mengenakan pakaian serba mewah dan mencolok sedang berbincang-bincang tanpa rasa tegang sedikit pun sambil menjadikan para monster sebagai sasaran tembak panah.

"Tega-teganya mereka...!"

Pandora memeras suaranya di tengah amarah dan rasa cemas yang membuat seluruh sarafnya serasa hendak putus.

(Tenanglah! Tenang!)

Kemungkinan besar, pria berkepala botak dari Alumnai itu ada di kediaman ini.

Jika menuruti amarah di sini, Pandora pasti akan tertangkap, dan tujuannya untuk menangkap Golongo serta melindungi adik-kakak itu tidak akan pernah tercapai. Sekarang dia harus mendinginkan kepala.

Sembari merengut menatap pemandangan mengerikan yang tidak bisa disebut selain kekejaman ini, dia mencari keberadaan adik-kakak High Kobold.

Dari petak area yang terpasang tenda di bagian dalam, terdengar guncangan tanah dan sorak-sorai dari banyak orang.

(Di sanakah!?)

Pandora berlari menuju tenda dan masuk ke dalamnya.

Bagian dalam tempat itu dibuat menyerupai tenda sirkus raksasa yang pernah dilihatnya sewaktu kecil.

Di sana, terdapat seorang gadis High Kobold yang berlari ke sana kemari sambil memeluk adiknya yang masih kecil, serta seekor monster berkepala dua berkaki empat dengan leher panjang yang hanya memiliki mulut sedang mengejar mereka berdua sambil menggetarkan tanah.

"Kakak! Aku takut!"

Kepada adiknya yang menangis ketakutan,

"Tidak apa-apa! Kakak pasti akan menyelamatkanmu!"

Meskipun wajah gadis High Kobold itu terdistorsi oleh penderitaan, dia terus menyemangati adiknya sembari melompati kaki depan monster berkepala dua yang sebesar batang pohon itu saat berlari di atas tanah.

"Mary-chaaan! Ayo, pinter jalannya! Ayo ayo, pinter jalannya! Kalau tertangkap nanti jadi makananmu lho! Tinggal sedikit lagi, ayo berjuang!"

Saat Golongo bertepuk tangan dengan suara yang dibuat-buat seperti memanggil kucing, para penonton yang terbalut pakaian mewah pun ikut bertepuk tangan menirukan Golongo.

(Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku benar-benar ingin muntah!)

Apakah ini perbuatan yang dilakukan oleh sesama manusia?

Segalanya itu ada batasan!

Orang-orang yang merasa gembira dengan pertunjukan seperti ini jelas-jelas telah rusak hatinya sebagai manusia.

Ini bukan lagi masalah keyakinan kepada Tuhan.

Pada akhirnya, ini juga merupakan hasil akhir dari keadilan Poseidon yang menyimpang.

Kebenaran keliru yang menganggap bahwa demi memusnahkan kejahatan, kekejaman apa pun boleh dilakukan.

Dan pemikiran childish yang sangat egois serta picik itu—sama persis dengan doktrin yang dulu disebarkan oleh Gereja Pusat tempat Pandora bernaung dengan penuh rasa bangga dan percaya diri.

(Orang-orang yang dulu kuhakimi pasti akan berpikir, 'Atas dasar apa kau bicara seperti itu', ya...)

Saud, salah satu dari Empat Uskup Agung, juga memiliki kesenangan yang mirip dengan orang-orang ini.

Dan siapa orang yang menganggap hal itu sebagai salah satu bentuk keyakinan lalu berpura-pura tidak tahu!?

Pandora pun sama bersalahnya dengan orang-orang ini.

Dia adalah bajingan busuk yang bahkan tidak layak untuk beriman kepada Tuhan.

Begitu, ya, sekarang aku tahu kenapa Dewa Perang Suci Ares menyerahkan Pandora dan yang lainnya kepada Poseidon.

Di dunia di mana bajingan seperti ini bisa berkeliaran dengan bebas, sudah sepantasnya jika dunia ini dicampakkan sejak awal.

"Jangan bergerak lincah begitu dong makanannya! Kan Mary-chan jadi tidak bisa menangkap kalian!"

Saat dia melepaskan anak panah dengan nada jengkel, panah itu menancap di kaki kanan gadis High Kobold hingga dia berguling dan jatuh tersungkur.

"Kakak!"

Kepada anak laki-laki High Kobold yang berteriak dengan suara penuh kecemasan,

"Tidak apa-apa! Kau akan baik-baik saja!"

Sang kakak berteriak tegar sambil memeluk adiknya erat-erat. Ke arah mereka berdua, monster berkepala dua mendekat perlahan sambil menggetarkan tanah.

"Pandora, bagaimana!?"

Dengan raut wajah yang memancarkan emosi membara layaknya binatang buas sambil menatap tajam ke arah monster, Heine menanyakan hal yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Kita selamatkan mereka!"

Begitu berteriak, Pandora melepaskan Holy Bread tanpa mantra dengan seluruh tenaganya ke arah wajah monster yang sedang mendekat dengan mulut terbuka lebar ke arah adik-kakak High Kobold.

Beberapa bola cahaya perak berhantaman dengan monster berkepala dua itu hingga melelehkan tubuhnya menjadi lumpur.

Holy Bread adalah sihir elemen suci yang memiliki daya hancur luar biasa terhadap mereka yang memiliki atribut iblis atau kegelapan.

Dalam hal ini, semakin rendah inteligensi suatu monster, semakin kuat atribut iblis yang dimilikinya, sehingga efek sihir ini sangat Effective.

Dalam sekejap, monster itu berubah menjadi gumpalan daging yang hancur.

"M-Mary-chan!"

Golongo melemparkan busurnya lalu menempelkan kedua tangan di pipinya sembari menjerit histeris.

"P-Penyusup!"

Mumpung salah satu bangsawan penonton berteriak, Pandora memanfaatkan celah itu untuk menghujani mereka dengan Holy Bread.

Orang-orang itu sudah bukan lagi manusia, melainkan monster bajingan yang tak memiliki hati.

Jadi, dia akan memperlakukan mereka sebagaimana mestinya monster diperlakukan.

"Kyahhhh—!"

"Gaghk!"

"T-Tubuhku meleleh!"

Peluru-peluru perak meluncur menghantam para bangsawan lalu membakar mereka dengan kobaran api putih bersih.

Kalau melawan pria berkepala botak dari Alumnai itu mungkin beda cerita, tapi Pandora percaya diri memiliki daya rusak yang sanggup melelehkan para bangsawan yang tidak terlatih dalam sekejap.

Di tengah situasi yang benar-benar dipenuhi jeritan tangis dan histeria itu, Pandora mendekati adik-kakak High Kobold lalu berkata,

"Tidak apa-apa, kami datang untuk melindungi kalian."

Dia menyampaikannya secara singkat.

"..."

Di saat adik-kakak High Kobold menatap Pandora dengan raut wajah ketakutan,

"Bagaimana dengan penangkapan Golongo?"

Heine bertanya sambil tetap waspada terhadap sekeliling.

Ksatria pengawal yang berada di dalam tenda sudah bersiaga di sekitar Golongo dengan senjata terhunus.

Bertarung melawan mereka sambil melindungi dua anak ini di sini adalah hal yang mustahil.

"Kita pikirkan nanti! Sekarang kita lari dari sini! Heine, tolong bawa anak itu!"

Pandora memberi petunjuk agar Heine menggendong sang kakak dan membawa sang adik.

"Dimengerti!"

Dengan begini dia tidak bisa menanyakan keberadaan Putri Rula.

Pandora mengira Heine akan enggan, tetapi Heine mengangguk penurut lalu merengkuh sang adik dan berlari menuju luar tenda.

Saat Heine yang berlari di depan mengulurkan tangan kirinya untuk merobek tenda—

"Sayang sekali!"

Bersamaan dengan suara serak itu, tubuh Heine beserta adik High Kobold yang dipeluknya terlempar menyamping, memantul beberapa kali di atas tanah dengan kecepatan amat tinggi hingga menembus tenda dan menghilang dari pandangan.

"Heine!"

Pandora refleks berhenti dan mengejar sosok Heine dengan pandangannya, tetapi tiba-tiba sebuah hawa keberadaan muncul tepat di depan matanya.

"Ah..."

Di sana, berdiri pria berkepala botak dari Alumnai yang sedang menatap Pandora dengan sudut bibir terangkat.

"Hmf! Dari mana saja kau keluyuran sampai jam segini, hah!? Gara-gara kau Mary-chan jadi mati, tahu!"

Golongo menyemburkan kemarahannya kepada Hunph, pria berkepala botak yang mengenakan jubah merah dan topi bambu.

"Sori, sori, aku ketiduran gara-gara kebanyakan minum tadi. Tapi tenang saja, Bocah, nanti kubawakan peliharaan baru buatmu."

Dia mengucapkan kalimat yang dalam kondisi normal sama sekali tidak akan menjadi penghibur.

"Gitu, ya? Ya udah deh."

Rasa sedih dan amarah Golongo sebelumnya mendadak hilang tanpa bekas.

Dia berdiri, lalu melemparkan gumpalan daging monster berkepala dua yang dipeluknya ke tanah secara kasar, sebelum akhirnya mengukir senyum tipis yang menjijikkan.

Sembari mengabaikan Pandora yang tertegun melihat perubahan emosi Golongo yang terlalu mendadak itu,

"Lalu, mau diapakan cewek ini?"

Hunph mengonfirmasi kepada Golongo.

"Harusnya sih dia menjalani Inkuisisi terus dihukum bakar sampai mati... Kenapa dia bisa ada di sini, ya?"

Sambil memilin kumis Kaiser-nya, Golongo bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan pandangan kosong.

"Entahlah. Tapi kalau dia ada di sini, artinya dia kabur dari penjara, kan."

"Makanya aku benci para penjaga istana yang tidak berguna itu! Menangkap satu cewek saja tidak becus!"

Wajah Golongo memerah karena murka.

"Mau dikembalikan ke penjara kastil?"

"Tidak usah, nanti kalau kabur lagi malah bikin repot. Kita habisi saja dia di sini. Lagipula masih ada banyak cara lain untuk memberi pelajaran pada rakyat."

"Eksekusi, ya? Kalau tidak butuh, berikan cewek ini padaku saja. Mana ada wanita sebagus ini sering ketemu. Sayang banget kalau dibunuh."

Hunph menjilat bibirnya, lalu...

"Terserah. Aku sama sekali tidak tertarik pada wanita jelek seperti itu. Mau dijadiin bahan eksperimen sihir atau budak, lakukan saja sesukamu."

Dia benar-benar tidak tertarik pada Pandora sedikit pun. Tanpa menatapnya, dia mengucapkannya dengan acuh tak acuh.

"Jelek, ya... Padahal menurutku, wanita sehebat ini jarang ada di dunia. Seperti biasa, selera Tuan Muda memang tak bisa kupahami."

Sambil melontarkan sindiran, Hunph menatap Pandora seolah-olah sedang menilai barang dagangan.

"Kuh!"

Begitu melangkah mundur menghindari tatapannya yang lengket bagaikan ular, tubuh Pandora dengan mudahnya dilumpuhkan dan dikunci dari belakang. Sang kakak High Kobold pun terlempar ke tanah.

"Mohon kerjasamanya ya, Nona Budak."

"Siapa yang mau... sudi melakukan itu pada orang sepertimu!"

"Tuan Pandora, kehendakmu itu sama sekali tidak penting. Soalnya, begitu terkena jurus ini, kau akan menjadi boneka penurut yang hanya merasakan kenikmatan saat mematuhi perintahku."

Saat Hunph merapalkan mantra, sebuah lingkaran sihir berwarna merah membara muncul di tanah tempat Pandora tersungkur.

"H-Hentikan!"

Sambil meneriakkan penolakan, dia berusaha keras melepaskan diri dari kuncian, tetapi sama sekali tidak sanggup melawan.

"Asalkan kau membuang harga diri, kehidupan sebagai budak itu tak buruk-buruk amat kok. Tenang saja, bakal kubuat kau benar-benar merasa nikmat di atas ranjang."

Melihat Hunph yang menjilat bibirnya, rasa jijik yang amat luar biasa membuncah di dalam diri Pandora.

"Tidaaakkk―!"

Dia menjerit sekuat tenaga hingga tenggorokannya serasa hendak pecah. Tepat pada saat itulah, tanah beserta lingkaran sihir yang menutupi Pandora hancur terinjak-injak.

"Ehh?"

Masih mengunci Pandora dari belakang, Hunph mendongak dan mengeluarkan suara bodoh. Di hadapannya, Heine berdiri tegak dengan raut wajah bagaikan iblis.

"Enyah."

"Hah?"

Kepada Hunph yang mengeluarkan suara melengking kebingungan, Heine mendecakkan lidah lalu melancarkan tendangan ke atas secara asal-asalan.

"―!?"

Ujung sepatu Heine menghantam tepat di wajah Hunph sembari menghancurkan kedua lengan yang dipakainya untuk berlindung secara refleks menjadi serpihan daging. Tubuhnya pun terlempar lurus berkecepatan tinggi.

Serangan itu menyapu para bangsawan lain dan mengubah mereka menjadi daging cincang dalam sekejap, bahkan merobohkan tenda sebelum akhirnya menabrak dinding bangunan dan memicu gemuruh dahsyat.

"Pandora, kau baik-baik saja?"

"Y-Ya."

Karena situasi yang terlalu mengejutkan, Pandora kesulitan memahami apa yang terjadi dan hanya sanggup mengangguk samar.

Setelah memastikannya, Heine mencengkeram kerah belakang baju Hunph yang wajahnya sudah hancur lebur dengan tangan kanan, lalu menyeretnya sambil berjalan mendekat.

"Cuma menahan diri sampai level Hunter Rank D saja sudah langsung pingsan, ya... Seberapa lemah sih bangsat ini..."

Dia melontarkan omong kosong yang sungguh tak masuk akal.

"Heine, kau itu sebenarnya―"

Saat Pandora hendak melontarkan pertanyaan untuk meminta penjelasan atas situasi tak masuk akal ini,

"Yah, intinya mereka ini fix kroco. Boleh bersihkan sisanya dan cuma menyisakan beberapa monster di sana?"

Dengan ekspresi penuh rasa jijik, dia mengucapkannya dengan santai dan tanpa beban.

"E-Eh, ya, tolong."

Mendengar Pandora yang entah bagaimana berhasil menjawab demikian, sosok Heine mendadak menghilang.

"Gyak!"

"Gugik!"

Dalam sekejap mata, kepala para ksatria yang melindungi para bangsawan melayang di udara.

"Apa yang terjadi―"

"B-Bahaya!"

Melihat cipratan darah segar membumbung tinggi, para bangsawan menjerit histeris dan berlarian kocar-kacir.

"B-Buat formasi!"

Pria paruh baya yang tampaknya merupakan komandan ksatria berteriak memberi perintah, namun sesaat kemudian, kepalanya terlepas dari badannya.

"Hiiieeee―!"

Para ksatria bahkan tidak peduli lagi dengan tugas pengawalan mereka dan berusaha melarikan diri ke luar tenda sekuat tenaga.

"O-Oi, kalian semua! Jangan kabur! Kabur di hadapan musuh hukumannya mati tahu!"

Di tengah teriakan Golongo yang dipenuhi rasa panik berusaha menghentikan mereka,

"Gah?"

"Geh!"

Anggota badan dan kepala para ksatria yang mencoba melarikan diri terpotong-potong lalu terhempas ke tanah.

Jerit histeris dan penderitaan tak terperi. Sungguh, ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan pemandangan ini.

Angin kencang berembus melewati para ksatria dan bangsawan yang berlarian dalam ketakutan, memenggal kepala mereka secara beruntun hingga tubuh tanpa kepala itu bergelimpangan di tanah.

Hal itu terjadi hanya dalam hitungan detik. Yang tersisa hanyalah Golongo yang terduduk menahan kencing dan Hunph yang wajahnya hancur dan nyaris tak bernapas.

Heine membantai yang lainnya tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi mereka untuk memohon ampun.

Tentu saja, mengingat apa yang telah mereka lakukan, sama sekali tidak ada rasa kasihan sedikit pun untuk mereka.

Menggantikan Pandora yang kedua kakinya lemas, Heine mengumpulkan monster-monster yang disiksa oleh orang-orang itu ke satu tempat.

Lalu, dia mengeluarkan cairan merah pekat dari saku celananya dan meminumkannya pada mereka.

Luka-luka yang jelas-jelas mematikan itu pulih seolah-olah waktu diputar kembali.

Dalam sekejap mata, para monster terbaring di tanah tanpa bekas luka sedikit pun.

Saat Pandora menatap pemandangan surealis ini hingga kehilangan kata-kata, Heine mendekati Hunph lalu memercikkan cairan merah itu secara kasar.

Dalam hitungan detik, wajah Hunph yang hancur pulih kembali.

Heine berdiri tegak bagaikan raksasa di hadapan Golongo dan Hunph.

"Oi, kamu! Berpihaklah padaku! Makanan lezat yang bikin ketagihan, wanita cantik, akan kuberikan berapa pun yang kau mau! Jadi― Gugak!"

Heine melancarkan tendangan dengan ujung kakinya tepat ke mulut Golongo yang sedang berteriak bising sembari memercikkan air liur.

"Gogak!"

Kepada Golongo yang berguling-guling kesakitan dengan darah mengalir dari mulutnya,

"Dengar ya, jangan banyak omong. Kalau kau berani membuka mulut selain menjawab pertanyaan― kau tahu sendiri akibatnya, kan?"

Heine memerintahkannya dengan nada dingin.

"..."

Golongo mengangguk berkali-kali sambil memegangi mulutnya.

Heine... benar-benar terlalu lihai.

Dia pasti seorang profesional bertarung sejati.

Bukan tiruan seperti Pandora, melainkan petarung murni yang mempertaruhkan nyawa setiap hari.

Heine mengangguk puas, lalu menyiramkan cairan merah itu dari atas kepala Golongo.

"Katakan di mana Putri Rula dikurung."

Dia bertanya pada Golongo dengan nada bicara mutlak yang tak membantah.

"A-Aku tidak tahu! Yang mengurung Putri Rula adalah Alumnai. Hunph yang merupakan anggotanya pasti tahu!"

"O-Oi, bangsat kau―!"

Hunph berteriak menyalahkan Golongo dengan nada panik, namun saat Heine memiringkan kepala ke arahnya, Hunph yang melihat wajah Heine langsung menjerit histeris ketakutan.

"Di mana kalian mengurung Putri Rula?"

"T-Tidak ta―"

Lengan kiri Hunph yang menjawab ragu-ragu meledak dan hancur berantakan.

"Tidak ada kesempatan kedua. Di mana lokasi pengurungan Putri Rula?"

"...Di lantai teratas menara terpisah di Istana Kerajaan."

"Kau tidak berbohong, kan?"

"T-Tentu saja! Aku sudah memberitahumu! Tolong kasihanilah aku!"

"Ah, terima kasih atas kerja kerasmu."

Begitu Heine mengucapkannya sambil tersum, wajah Hunph mendadak hancur meledak, dan tubuhnya ambruk ke tanah bagaikan boneka yang putus talinya.

"Hiiieeee―!"

Heine menendang rahang Golongo yang menjerit ketakutan hingga hancur agar tidak bisa berbicara lagi, lalu...

"Pandora, orang ini bagusnya diapakan?"

...dia bertanya.

"Orang ini harus bertanggung jawab atas tindakannya setelah masalah ini selesai. Jadi, tolong biarkan dia tetap hidup."

"Dimengerti."

Mendengar itu, Heine menendang ulu hati Golongo hingga pria itu membusakan mulut dan tersungkur mencium tanah.

Lebih lanjut, Heine mematahkan kedua tangan dan kaki Golongo, lalu mengikatnya dengan tali yang entah diambil dari mana.

"Pandora, selanjutnya apa rencana kita?"

"Tolong beri saya waktu sebentar untuk berpikir."

"Baiklah."

Heine berlari kecil mendekati para monster yang telah dilindungi, lalu mulai mengajak mereka berbicara dengan nada yang lembut.

(Mari merapikan informasi sedikit.)

Hunph adalah monster bukan manusia yang sanggup mengintimidasi Pandora, seorang Kardinal Gereja Pusat. Namun, dia dibantai secara sepihak oleh Heine tanpa diberi kesempatan melawan sedikit pun.

Lagipula, dengan kekuatan sebesar ini, kenapa Heine bisa sampai dikurung di penjara bawah tanah kastil?

Dengan kemauan dan kemampuannya, Pandora yakin dia sangat sanggup menemukan Putri Rula dan menyelamatkannya sendirian.

Bahkan, menempatkan monster sangat berbahaya yang sanggup membunuh Hunph dalam sekejap mata di sel yang sama dengan rakyat biasa seperti Pandora dan yang lainnya juga sangat tidak wajar.

Setidaknya jika Pandora yang berada di posisi mereka, dia akan menyegelnya di penjara bawah tanah yang lebih ketat daripada tempat pengurungan Putri Rula, atau membunuhnya untuk menghilangkan potensi masalah secara permanen.

Jika tidak melakukan hal itu, apakah artinya bos Alumnai, Neptune, menganggap Heine sebagai sosok yang tidak berarti?

Neptune adalah bajingan rasis yang sangat berhati-hati, dan dia memahami kekuatan manusia seperti Pandora dengan detail. Neptune seharusnya menyadari keanehan dan bahaya dari Heine.

Apakah Putri Rula dijadikan sandera? Jika demikian, wajar jika Heine bersikap penurut di penjara bawah tanah itu.

(Tidak bisa! Semuanya merasa tidak pas dan saling bertolak belakang!)

Pasalnya, jika dicoba dijelaskan secara paksa, itu berarti Heine sengaja membiarkan dirinya ditangkap dan dikurung di penjara itu atas alasan tertentu.

Jika demikian, pengakuannya sebagai pengawal Putri Rula adalah kebohongan. Padahal, Pandora sangat yakin bahwa serangkaian ucapan Heine saat itu sama sekali tidak mengandung kebohongan.

(Mengenai Heine, mari kita sisihkan dulu untuk sementara.)

Bagaimanapun juga, fakta bahwa dia telah menyelamatkan Pandora dari bahaya menunjukkan bahwa kemungkinannya menjadi musuh sangatlah kecil.

Hanya saja niatnya belum bisa terbaca, tetapi Pandora sama sekali tidak menganggapnya sebagai orang jahat.

Alasan mengapa Heine meluapkan emosi sedahsyat itu kepada mereka adalah karena kekejaman yang telah mereka lakukan pada para monster.

Pandora bisa memahami perasaan itu hingga ke ulu hati, dan merasa bahwa Heine justru jauh lebih bermoral daripada dirinya sendiri.

Saat dia mendekati Heine yang sedang berbicara dengan para monster, tiba-tiba kedua anak laki-laki dan perempuan High Kobold itu memeluknya.

Kepada dua anak yang membenamkan wajah mereka di tubuh Pandora dan tak bergerak sedikit pun,

"A-Ada apa?"

Dia bertanya dengan bingung sambil mencoba menyembunyikan gejolak di dalam hatinya, namun...

"..."

"..."

...kedua anak itu tetap diam membisu sembari terus memeluknya tanpa bergerak.

"Tentu saja begitu. Bagi anak-anak ini, Pandora, kau adalah seorang pahlawan. Mereka sangat berterima kasih padamu."

Heine menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung sambil melontarkan omong kosong itu dengan senyum lebar.

"Saya... pahlawan? Jangan bercanda. Pada akhirnya, yang menyelamatkan semuanya adalah Anda, Heine. Saya hanya menjadi beban."

"Pada akhirnya, dunia ini hanya peduli pada hasil. Siapa yang sebenarnya membasmi mereka itu bukan masalah besar. Kau sangat ingin menyelamatkan mereka berdua hingga menyusup ke sini, dan hasilnya mereka berdua selamat. Kau paham artinya apa?"

"Apa artinya?"

"Ya, mempertaruhkan nyawa sendiri demi menghadapi cobaan dan mencapai tujuan untuk menyelamatkan kaum lemah yang tertindas. Umumnya, orang menyebut sosok seperti itu sebagai pahlawan. Berdasarkan definisi itu, tindakanmu kali ini benar-benar tindakan seorang pahlawan."

"Aku... pahlawan?"

Saat Pandora bergumam demikian, kedua anak itu mendongak dan menatap wajah Pandora. Dan kemudian―

"Terima kasih, Kakak!"

Dengan air mata mengenang di sudut mata mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang tak pernah disangka-sangka akan didengar oleh Pandora.

(Ah... begitu, ya...)

Entah mengapa, Pandora mengerti. Kata-kata dan ekspresi jujur tanpa kebohongan dari kedua anak ini adalah hal yang paling diinginkan oleh Pandora saat ini.

Dada terasa sesak bagaikan diremas, bersamaan dengan rasa hangat yang menjalar di dalam hatinya hingga air mata menetes dari matanya.

Pandora merengkuh kedua anak itu erat-erat, lalu...

"...Terima kasih banyak."

...mengucapkan kata-kata terima kasih yang tulus dari lubuk hatinya kepada dua jiwa kecil yang telah mengembalikan kemanusiaannya.

Pandora berdiskusi dengan Heine mengenai langkah selanjutnya.

Secara spesifik, para monster akan bersembunyi sementara di dalam hutan dekat ibu kota Duke Dux ini.

Sementara itu, Pandora dan Heine akan menyelamatkan Putri Rula, lalu melarikan diri dari ibu kota bersama beliau dan para monster menuju Bolero—sebuah surga bagi para Hunter terkemuka di dunia yang memiliki labirin terbesar di Duke Dux.

Jarak menuju 'Hutan Ratapan', tempat mereka bertemu dengan petinggi Feista, masih sangat jauh. Membawa para monster dalam perjalanan jarak jauh seperti itu tidaklah realistis.

Karena itu, mereka akan meminta Kepala Cabang Guild Hunter Bolero untuk memberikan perlindungan sementara bagi para monster dan menghubungi Feista.

Dalam hal ini, mereka bisa memberi utang budi pada negara super besar seperti Feista. Mengingat situasi saat ini, kemungkinan besar Guild Hunter akan menerima perlindungan monster-monster itu dengan senang hati.

Lalu, jika Guild Hunter mendengar tentang kejahatan Poseidon langsung dari mulut Putri Rula, mereka akan dengan jelas menganggap Poseidon sebagai ancaman dunia.

Jika sudah begitu, Shin yang itu pasti akan bergerak. Setitik cahaya kemenangan pun mulai terlihat.

Golongo yang dijadikan tawanan kali ini akan diserahkan kepada Guild Hunter Bolero sebagai saksi hidup atas kondisi nyata wilayah Duke Dux yang bagaikan mimpi buruk.

Rencana itulah yang mereka susun.

"Apakah Anda juga tidak sanggup mengalahkan Neptune?"

"Tentu saja! Kalau bisa, sudah kukalahkan sejak dulu!"

Jawaban Heine tidak memiliki kontradiksi. Lagipula, Pandora sudah menduganya sejak awal.

Banyak hal yang tidak wajar dari perkataan dan tindakan Heine, termasuk kronologi bagaimana dia berada di penjara bawah tanah.

Meski begitu, jika dia sanggup mengalahkan Neptune sendirian, dia pasti sudah melakukannya sejak awal.

Terlepas dari apa niat sebenarnya dari Heine, fakta itu diyakini tidak bohong.

"Benar juga, ya..."

Menginterogasinya lebih jauh lagi bisa merusak hubungan keroyalan dan kepercayaan dengan Heine.

Apalagi Pandora sudah menanyakan banyak hal secara mendalam hingga Heine terlihat jelas mulai tidak senang.

"Jangan ngomongin hal tak berguna begitu lagi. Ayo kita pergi sekarang."

Saat ini, mereka sedang bersembunyi dengan sihir penyamaran milik Pandora di depan menara tempat Putri Rula dikurung, menunggu kesempatan untuk menyusup masuk.

"Baik!"

Heine mengulurkan tangan kanannya, dan Pandora menggenggamnya kembali.

Sihir penyamaran Pandora bekerja lebih kuat jika ada kontak fisik yang erat dengan orang lain.

Karena itulah, dengan menggenggam tangannya, efek sihir penyamaran bisa bekerja secara maksimal pada Heine.

(Tidak ada apa-apa. Sama sekali tidak ada apa-apa.)

Merasakan kehangatan tangan Heine, Pandora menyadari pipinya mulai memerah dan mengulangi kalimat itu di dalam hatinya seperti sebuah mantra.

Selama ini dia selalu meniti jalan sebagai seorang biarawati. Sungguh memalukan, tetapi dia sama sekali tidak pernah bergandengan tangan dengan lawan jenis.

Ini pasti karena hal itu. Jantungnya berdegup begitu kencang secara tidak sopan seperti ini!

Sembari mengambil napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan hati, mereka menaiki menara sembari tetap waspada terhadap sekeliling.

Hingga akhirnya mereka tiba di lantai teratas. Di depan pintu besar di lantai teratas, dua orang anggota Alumnai yang mengenakan jubah merah berdiri berjaga.

"(Bagian ini biar aku yang urus.)"

Berbeda 180 derajat dari sikapnya yang seperti anak-anak seusianya tadi, Heine menunjukkan ketenangan yang aneh.

Perubahan drastis seperti orang yang berbeda ini tampaknya merupakan kebiasaan Heine saat memasuki mode pertempuran.

Heine mendekati mereka secara perlahan.

"Kau, siapa―"

Saat salah seorang anggota Alumnai yang pertama kali menyadari keberadaannya hendak berteriak penuh kewaspadaan, sosok Heine sudah berada di belakang mereka.

Kepala anggota Alumnai itu tergeser perlahan lalu jatuh ke atas lantai batu yang dingin. Disusul oleh tubuhnya yang ambruk sembari memercikkan darah segar dari lehernya.

"Ayo masuk."

Heine mengajak Pandora, lalu mendobrak pintu itu dengan tendangannya.

"Putri Rula!"

Pintu terbuka dengan keras, dan Heine melompat masuk ke dalam ruangan sembari berteriak. Pandora mengekor di belakang Heine dan masuk ke dalam.

Bagian dalam ruangan itu sungguh sederhana hingga tak terasa seperti kamar seorang Putri Duke, hanya ada furnitur seperlunya seperti tempat tidur.

Dan, sosok yang duduk di kursi adalah seorang gadis cantik berambut pirang dengan potongan bob.

"Heine! Kau datang!"

Menangkupkan kedua tangan dan berteriak kegirangan, gadis berambut pirang itu merengkuh dada Heine.

"Ehh? Hah?"

Melihat Heine yang matanya terbelalak karena wajah gadis berambut pirang itu terbenam di dadanya,

"Heine, apakah Anda mengenalnya?"

Pandora bertanya sembari mengerutkan dahi.

Gadis itu bukanlah Putri Rula. Pandora yang pernah menduduki posisi penting di Gereja dan menghadiri berbagai acara sosial sangat mengenali wajah dan nama para tokoh penting dari berbagai negara.

Dia pernah melihat wajah gadis ini sebelumnya di acara sosial. Seingatnya, gadis ini adalah―

"Emm..."

Melepaskan diri dari Heine yang mencoba menjawab, gadis itu memegang ujung roknya, lalu...

"Saya adalah pelayan Putri Rula, Louis Laxasa. Salam kenal."

...dia membungkuk dengan penuh hormat.

"Nona Louis Laxasa, ya..."

Benar, dia ingat. Meskipun gaya rambutnya berbeda, struktur wajahnya sangat mirip dengan Putri Kedua Kerajaan Amelia, Louise Loto Amelia.

Walaupun pakaian yang dikenakannya sangat sederhana seperti gadis kota biasa.

Abaikan Pandora yang masih berada di puncak kebingungan,

"Aku adalah teman masa kecil Heine! Benar kan, Heine?"

Dia bergelayut di lengan kanan Heine sembari mendeklarasikannya dengan senyuman tanpa beban.

"Y-Ya, benar! Dia ini semacam teman masa kecilku. Syukurlah kau selamat, Louis!"

Kepada Heine yang mengangguk dengan senyuman agak canggung,

"Ya, kau juga!"

...gadis itu kembali membenamkan wajahnya di lengan kanan Heine.

"Lalu, mengapa Anda berada di sini?"

Mengapa, ya? Entah mengapa, Pandora rasanya tidak ingin melihat pemandangan ini lebih lama lagi.

Didesak oleh perasaan itu, Pandora melontarkan pertanyaan yang paling mengusiknya saat ini kepada Louis.

Wajah gadis itu berubah menjadi serius, lalu melangkah menjauh dari Heine sesuai harapan Pandora, sebelum akhirnya...

"Putri Rula tidak ada di sini."

...menyampaikan fakta yang sangat mengejutkan itu.




Karena tidak bisa berbicara dengan tenang di dalam menara, aku dan Lui memutuskan untuk melarikan diri terlebih dahulu dan mendengarkan penjelasannya di dalam hutan yang sepi.

Dari ceritanya, aku mulai bisa memahami situasi secara garis besar.

Di Kadipaten Dux, popularitas Putri Lula sangatlah luar biasa. Meskipun posisi penerus takhta dicabut akibat tekanan dari gereja, pengaruhnya tetap begitu kuat.

Merasa terancam oleh hal tersebut, Notca Val Dux—adik laki-laki

Putri Lula sekaligus kandidat penerus takhta berikutnya—bekerja sama dengan organisasi rahasia Alumni.

Dia mengurung sang kakak, lalu mulai menindas para bangsawan dan rakyat jelata yang mendukungnya.

Tanggal eksekusi mati Putri Lula secara terbuka pun ditetapkan satu minggu dari sekarang.

Karena takut Putri Lula direbut kembali oleh faksi pendukungnya, Notca mengurung pelayannya, Lui, di menara ini sebagai umpan.

Sementara itu, Putri Lula sendiri dipindahkan dan dikurung di ruang bawah tanah milik penguasa Bolero sampai hari eksekusi tiba.

"Tak disangka, tempat Putri Lula dikurung adalah Bolero..."

Sebuah kebetulan yang aneh. Bahkan terasa cukup mengerikan.

"Kalau begitu, aku akan menyiapkan kereta kuda menuju Bolero untuk kita semua. Pandora, kamu pergilah ke tempat Lui dan yang lainnya menunggu."

Setelah memberikan instruksi dengan cepat, Heine menghilang seolah-olah dia tidak pernah ada di sana sejak awal.

Lui yang ditinggalkan pun mengusulkan sesuatu dengan suara ceria.

"Kalau begitu, mari kita berangkat juga!"

"Y-ya."

Pandora mengangguk dengan senyum kaku, lalu mulai melangkah.

◇◆◇

Di dalam ruang singgasana istana ibu kota Kadipaten Dux, sekumpulan orang berjubah merah dan bertopi bambu dengan tato sabit serta tengkorak berdiri berbaris rapi.

Di singgasana tertinggi, seorang pria liar berambut hitam yang mengenakan penutup mata bermata tiga tampak duduk bersandar secara angkuh.

Beberapa wanita bergaun mewah tampak bergelayutan padanya.

Di sisinya, seorang pria paruh baya berpakaian megah yang tampaknya adalah sang Duke sedang berlutut.

Di belakangnya, para pejabat penting Kadipaten Dux menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Pria paruh baya ini tidak lain adalah Duke dari Kadipaten Dux, Ludens Val Dux.

Seorang kepala negara yang berlutut di hadapan bos dari organisasi bayaran.

Satu hal yang tidak masuk akal ini diterima secara wajar oleh semua orang di ruang singgasana.

"Hari ini, kediaman Tuan Gorongo diserang, dan banyak bangsawan serta ksatria pengawal tewas dibantai. Pelayan Yang Mulia Lula yang ditawan di menara juga berhasil direbut oleh seseorang."

Salah satu menteri memberikan laporan dengan suara gemetar.

"Lalu?"

Pria berpenutup mata itu mengonfirmasi dengan suara berat dan mengancam. Menteri yang melapor menunduk begitu dalam hingga dahi menyentuh lantai.

"I-itu..."

Dia gagap tak mampu melanjutkan.

"Kau tidak berniat membuang-buang waktu berhargaku hanya untuk urusan sepele seperti itu, kan?"

"S-Sama sekali tidak! Jasad Tuan Fünf yang menjaga Tuan Gorongo telah ditemukan!"

Mendengar ucapan sang menteri, bisik-bisik keterkejutan terdengar dari orang-orang berjubah merah dan bertopi bambu yang sebelumnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

"Jasad? Hei, apa barusan kamu bilang jasad Fünf...?"

Suara sandaran tangan kiri yang hancur berkeping-keping bergema di ruang singgasana. Sang Duke dan para menteri berusaha setengah mati menahan jeritan mereka.

"B-Benar! Beliau ditemukan dalam keadaan kepala terpenggal!"

Tubuh menteri yang memberikan laporan itu mendadak menggelembung dan membengkak secara tidak wajar.

"A-Ampuni sa—"

Bersamaan dengan kalimat permohonan itu, tubuhnya meledak hancur ke segala arah.

Sang Duke dan para menteri gemetar hebat karena ketakutan. Orang-orang berjubah merah juga bungkam dan memperbaiki sikap berdiri mereka.

Hampir semua orang yang berada di tempat ini tahu bahwa membuka mulut sepatah kata saja bisa melayang nyawa mereka.

Namun, selalu ada pengecualian.

"Tuan Neptune~ Fünf 'kan cuma urutan paling bawah! Biar saya yang bertanggung jawab membereskan pelakunya, jadi tenang saja!"

Seorang pria berambut dan berjanggut merah yang mengenakan masker serta memiliki tato angka '1' di pipinya bersuara tanpa rasa tegang sedikit pun.

"Bukan itu masalahnya! Biar bagaimanapun, salah satu bawahanku telah kalah! Fakta itulah yang menjadi masalah!"

Tepat saat Neptune berteriak murka, terpaan angin kencang tercipta. Beberapa menteri yang terkena dampaknya terlempar dan menghantam dinding hingga menjadi gumpalan daging yang mengenaskan.

Pria berambut dan berjanggut merah yang mengenakan masker itu tidak bergeming sedikit pun meski terkena hantaman angin secara langsung, sambil tetap memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

"Saya mengerti kok. Orang tak tahu diri yang membunuh Fünf akan saya beri hukuman sampai Tuan Neptune puas. Lagipula, tampaknya ada banyak hal menarik yang sedang terjadi. Hihihi!"

Neptune menatap tajam pria berambut merah dan berjanggut merah yang tertawa mengerikan itu selama beberapa saat, lalu menepuk kedua lututnya dan bangkit berdiri.

"Baguslah! Eins, aku serahkan padamu untuk membereskan orang yang membunuh Fünf! Tapi, jangan langsung membunuhnya. Buat dia menderita dan menyesali fakta bahwa dia pernah lahir ke dunia! Zwei, kamu bantu Eins!"

Neptune memberikan perintahnya.

"Siaaaap!"

Seorang wanita dengan penutup mata di mata kirinya mengangkat tangan kanan. Mata kanannya berukuran luar biasa besar, dan mulutnya yang sangat lebar terkunci dalam sunggingan senyum tidak alami, tampak persis seperti tiruan.

"Soal eksekusi Lula, boleh saya yang mengurusnya?"

"Urusan sepele begitu, terserah kamu saja. Lakukan sesukamu."

Neptune menjawab dengan nada acuh tak acuh.

"Terima kasih banyak atas kebaikan Anda~! Kalau begitu, mohon nikmati festival yang akan saya selenggarakan ini, wahai Tuan Neptune yang agung dan Dewa Tertinggi Poseidon!"

Eins meletakkan tangan kanannya di depan dan tangan kirinya di belakang, lalu membungkuk penuh hormat.

◇◆◇

Sejauh ini rencana berjalan lancar. Meski begitu, perbuatan para sampah seperti Gorongo itu hampir saja membuatku gelap mata.

Jika membantai mereka semua, rencanaku bisa berantakan. Karena itulah aku menahan diri sekuat tenaga dan hanya membiarkan si pemuda manja Gorongo yang tetap hidup.

Sampah bernama Fünf sudah kubereskan setelah pura-pura menginterogasinya. Sebenarnya, dari laporan Asta, aku sudah tahu bahwa Putri Lula dikurung di menara terpisah di Kadipaten Dux.

Rencananya, setelah menyelamatkan Putri Lula, bawahanku akan menyamar menjadi dirinya. Namun, mengingat faksi Girimehkala dan Aliansi Dewi sama-sama terlibat dalam rencana ini, perubahan mendadak memang sudah sepatutnya diantisipasi.

Faksi Girimehkala selalu bertindak sewenang-wenang dengan sok mengerti niat sejatiku. Bagi mereka, bahkan perubahan rencana secara mendadak pun hanya bentuk kepatuhan penuh terhadap kehendakku.

Konyol sekali. Tentu saja aku tidak memiliki kemampuan atau teknik untuk memperhitungkan sejauh itu. Itu cuma kepercayaan buta.

Tak peduli seberapa sering aku menjelaskannya, mereka tidak pernah mengerti dan selalu membebankan seluruh pencapaian itu kepadaku. Sungguh pemaksaan kebaikan yang sangat menyebalkan.

Aliansi Dewi bahkan jauh lebih merepotkan dan mengganggu daripada faksi Girimehkala. Terutama karena aku sama sekali tidak bisa memahami jalan pikiran mereka.

Namun, satu hal yang pasti: kedua faksi itu sama-sama bekerja keras demi diriku. Karena itulah aku tidak bisa menyalahkan mereka, dan pada akhirnya selalu pasrah mengikuti alur.

Kasus kali ini juga persis seperti itu. Putri Lula yang seharusnya dikurung di menara ternyata tidak ada, dan justru digantikan oleh orang lain yang mengaku sebagai pelayan.

Wanita ini malah memelukku dan berbisik sangat pelan, mengatakan kalimat pertanda buruk: "Aroma Kai ini sungguh merindukan."

Lagipula, aku seperti mengenal wanita ini. Kalau tidak salah, dia adalah Putri Kedua Kerajaan Amelia, Louise Lotte Amelia. Nama panggilannya "Lui", bahkan tidak ada variasinya sama sekali. Ya, namaku sendiri Heine, jadi aku tidak berhak mengkritik orang lain, sih...

Bagaimanapun juga, sepertinya Putri Lula dikurung di ruang bawah tanah kediaman penguasa Bolero. Pelayan yang ditawan di menara itu sebenarnya hanya taktik mengulur waktu sampai hari eksekusi mati Putri Lula.

Singkatnya, karena akan merepotkan jika pengikut Putri Lula membebaskannya, mereka sengaja menyebarkan rumor bahwa beliau dikurung di menara terpisah di ibu kota, lalu menawan pelayan yang juga akan dieksekusi di sana.

Tentu saja, itu cuma alasan di permukaan. Tidak ada gunanya bagi mereka melakukan hal serepot itu, dan Fünf sendiri benar-benar percaya bahwa Putri Lula dikurung di menara tersebut. Sepertinya pada saat itu Putri Lula memang benar-benar berada di sana.

Ini baru sebatas firasatku, tapi atas kehendak faksi Girimehkala atau Aliansi Dewi, Putri Lula yang dikurung di menara secara mendadak dipindahkan ke ruang bawah tanah kediaman penguasa Bolero. Di saat yang sama, fakta diubah seolah Louise-lah yang dikurung di menara sebagai pelayan.

Tentu saja, berapapun fakta diubah, kejanggalan akan tetap ada jika ingatan orang-orang tidak diubah. Namun, Aliansi Dewi memiliki Satori, seorang pakar kendali mental.

Bagi Satori, mengubah persepsi seluruh penduduk di negara ini adalah hal yang sangat mudah dilakukan.

Jujur saja, sosok yang paling kutakuti sebenarnya adalah Satori. Manipulasi mentalnya benar-benar di luar akal sehat, sampai sanggup mengubah persepsi sekelas kota negara.

Bahkan, bukan tidak mungkin dia bisa mengubah persepsi dunia itu sendiri. Jika gadis polos itu serius, selain diriku yang sanggup menetralkan segala jenis kemampuan khusus, tidak akan ada yang bisa melawannya.

Buktinya, saat kusuport untuk mengubah persepsi Neptune dan kroni-kroninya agar sesuai dengan rencana kami, dia menyelesaikannya dengan sangat mudah. Dengan kata lain, jika Satori bersungguh-sungguh, dia bahkan bisa membuat Neptune dan kelompoknya menjadi tidak berguna.

Begitulah jalannya cerita hingga aku berpisah sementara dengan Louise dan Pandora untuk menyiapkan kereta kuda. Walau kubilang menyiapkan kereta kuda, ini bukan menyewa atau membeli, melainkan buatan sendiri.

Dua ekor kuda yang menarik kereta kuda ini adalah salah satu anggota dari rekan-rekan menyenangkan di Buku Panduan Pembasmian, yaitu Flame Pegasus yang bisa mengendalikan api dan terbang di angkasa.

Meskipun berpenampilan seperti kuda, dia sebenarnya adalah bangsa naga dan bagian dari Faksi Pasukan Naga Suci. Karena termasuk bangsa naga, kecerdasannya melebihi manusia dan dia bisa berbicara.

Sebagai anggota faksi tempur, kekuatannya berada di tingkat teratas dalam Buku Panduan Pembasmian. Saudara dari Flame Pegasus ini pernah direkrut oleh faksi "Bushin" dan "Pasukan Naga Suci" setelah bergabung, namun karena sangat mengagumi Faf, dia memilih bergabung dengan Faksi Pasukan Naga Suci.

Dua buah kereta kuda—ukuran besar dan kecil—juga dibuatkan oleh perajin Magic Item dari Buku Panduan Pembasmian. Tampaknya seperti kabin biasa, tetapi dilengkapi beberapa fitur praktis.

Masalah terbesar dalam operasi ini adalah Faf. Begitu tahu perjalanan denganku dibatalkan karena perubahan rencana mendadak, dia langsung menghentakkan kaki dan menangis histeris.

Karena tidak ada pilihan lain, aku meminta Satori menanamkan persepsi kepada semua peserta perjalanan bahwa ada anak perempuan yang berpenampilan mirip Faf di antara para monster, lalu menyusupkan Faf ke dalam rombongan monster tersebut.

Bagi diriku, amukan putri kesayanganku Faf jauh lebih mencemaskan daripada si bodoh Poseidon itu.

Di saat yang sama, kami juga membutuhkan kusir, dan atas permintaan mendesak dari yang bersangkutan, kami menggunakan kemampuan Satori untuk mengubah persepsi Pandora dan menyerahkan tugas itu kepada Lucas. Dengan begini, dalam ingatan Pandora, Lucas adalah orang yang baru pertama kali dia temui.

Saat aku tiba di depan hutan membawa kereta kuda, Pandora, Louise, dan para monster bermunculan satu per satu bersama Faf.

Perjalanan selanjutnya akan terlalu mencolok jika menggunakan wujud monster. Antisipasi untuk hal itu sudah sempurna.

Aku menginstruksikan para monster untuk memakai aksesori pengubah wujud yang baru saja kubuat. Begitu mengenakan aksesori itu, para monster satu per satu berubah wujud menjadi manusia.

Melihat pemandangan itu, Pandora membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Heine, gelang apa itu?"

Dia bertanya tentang gelang tersebut.

"Itu gelang pengubah wujud."

"Jangan bercanda! Bahkan warna mana mereka pun berubah menjadi sama seperti manusia!"

Tunggu sebentar! Apa barusan Pandora bilang 'warna mana'!?

"Pandora, apa kamu bisa melihat warna mana!?"

Spontan aku mencengkeram kedua bahunya dan bertanya.

Di antara rekan-rekan menyenangkan di Buku Panduan Pembasmian, ada banyak yang bisa melihat aliran mana. Hal ini bisa ditingkatkan sampai batas tertentu melalui latihan.

Namun, urusannya berbeda jika sampai bisa melihat warnanya. Hanya segelintir orang yang mampu melakukannya, seperti Beelze yang memiliki konstitusi tubuh khusus sejak lahir, atau diriku yang melatih kontrol mana selama puluhan ribu tahun.

Warna mana ditentukan oleh berbagai faktor seperti ras, jenis kelamin, dan usia. Terutama perbedaan ras, antara manusia dan monster menunjukkan warna yang sama sekali berbeda.

Mana terkadang terkonsentrasi dan menjadi kasat mata saat melancarkan sihir atau kemampuan, dan jika dalam kondisi itu siapa pun umumnya bisa melihatnya.

Di sisi lain, dalam keadaan normal yang tidak terkonsentrasi, mana tidak kasat mata dan tidak bisa dilihat oleh orang awam.

Jika Pandora bisa membedakan warna mana, itu artinya kemampuan tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai bidang.

"Heine... tolong lepaskan aku."

"A-Ah, maaf!"

Begitu tersadar, aku langsung melepaskan Pandora.

"Aku baru bisa melihat warna mana belum lama ini."

Pandora menjawab sambil memerahkan pipinya entah kenapa.

"Belum lama ini maksudnya kapan?"

"I-Itu..."

Melihat rasa takut yang mendalam terlintas sejenak di wajah Pandora saat dia tergagap, alasannya langsung jelas. Dia pasti membangkitkan kemampuan khusus saat berhadapan dengan kematian.

Bagaimanapun juga, ini mungkin bisa berguna. Berhubung dia sudah bisa melihat warna mana, Pandora pada dasarnya mampu mempelajari berbagai teknik bertarung.

Jika aku melatihnya secara intensif, mungkin dia bisa mengatasi bawahan Poseidon. Tapi tidak, itu tidak sesuai dengan ujian kali ini.

"Aku sudah paham garis besar situasinya. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya."

Setelah mengelus kepala Pandora beberapa kali dengan telapak tangan kanan, aku berbalik menghadap para monster.

"Sekarang kita berangkat ke Bolero! Naik ke kereta kuda!"

Aku memberikan perintah dengan nada tegas.

Lui mendadak merangkul leherku dari belakang.

"(Kai, kebaikan tanpa sadar dan tanpa pandang bulu bisa memicu kesalahpahaman, lho.)"

Dia membisikkan peringatan itu di telingaku.

"(Begitu ya, terima kasih sarannya. Tapi aku juga memilih waktu, tempat, dan orangnya, jadi tidak masalah.)"

Aku membalas pelan.

Lui mencubit pipiku dengan tangan kanannya dari belakang. Lalu dia memanyunkan pipinya di hadapanku dan memalingkan muka.

Kenapa dia memalingkan muka, ya? Wujud dan sifat keras kepalanya ini memang sangat mirip dengan Rose. Mereka memang benar-benar bersaudara.

Sembari menyimpan kesan polos itu dalam hati, aku ikut naik ke dalam kereta kuda.

◇◆◇

Pandora bersama Lui pergi menuju hutan di dekat ibu kota Kadipaten Dux yang menjadi tempat berkumpul para monster.

Meskipun para monster tampak waspada terhadap Lui, setelah mendengar bahwa dia adalah kenalan Pandora dan Heine, tidak ada yang keberatan dengan keikutsertaannya.

Setelah disembuhkan oleh Magic Item milik Heine, Gorongo sempat berteriak-teriak bising, tetapi langsung bungkam saat Lui membisikkan sesuatu di telinganya.

Tak lama kemudian, Heine muncul membawa kereta kuda. Kabin kereta kuda itu ada dua, dan Gorongo dijejalkan ke dalam kabin yang lebih kecil.

Kemudian, karena menganggapnya perlu untuk menyembunyikan wujud para monster, Heine membagikan aksesori berkilauan seperti gelang, cincin, dan kalung, lalu menyuruh mereka memakainya.

Saat para monster mengenakan aksesori tersebut, wujud mereka seketika berubah menjadi manusia. Bikin tak percaya, bahkan warna mana mereka pun berubah menjadi warna yang umum dimiliki manusia.

"Jangan bercanda! Bahkan warna mana mereka pun berubah menjadi sama seperti manusia!"

Saat Pandora memprotes dengan suara meninggi, Heine sempat melongo dengan wajah terperangah. Namun, wajahnya dengan cepat berubah menjadi serius.

"Pandora, apa kamu bisa melihat warna mana!?"

Dia mencengkeram kedua bahu Pandora dan bertanya dengan nada tegas.

Wajah serius Heine mendekat hingga menyisakan jarak sedekat hembusan napas, dan Pandora sadar pipinya mendadak merona merah.

Meski kebingungan dengan emosi tak dikenal yang mendadak membuncah, dia berbisik lirih.

"Heine... tolong lepaskan aku."

Bukannya dia membenci situasi ini. Justru sebaliknya, dia merasa nyaman secara aneh. Namun, rasa malu yang membakar membuatnya menyampaikan permintaan yang bertolak belakang dengan kata hatinya.

"A-Ah, maaf!"

Heine langsung melepaskan Pandora seolah kaget.

"Aku baru bisa melihat warna mana belum lama ini."

Benar. Pandora mulai bisa melihat warna mana sejak dia mengusik Lumine Herner dan menerima peringatan kejam dari dewa monster lalat.

Awalnya warna itu hanya terlihat samar, tetapi kian hari kian jelas. Dan semenjak kedatangan Poseidon, Pandora bisa menyadarinya secara pasti.

"Belum lama ini maksudnya kapan?"

"I-Itu..."

Mengingat pemandangan seperti mimpi buruk kala itu membuat cairan asam lambungnya serasa naik ke tenggorokan.

Raut wajah Pandora saat itu pasti sangat buruk.

"Aku sudah paham garis besar situasinya. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya."

Heine berkata begitu sambil tersenyum, lalu mengelus kepala Pandora beberapa kali.

Di tengah kehangatan dan rasa bahagia tak terjelaskan yang memenuhi hatinya, Heine memunggungi Pandora, memandang sekeliling ke arah para monster, dan menyuruh mereka naik ke kereta kuda.

Saat itu, Lui memeluk punggung Heine dan membisikkan sesuatu di telinganya. Heine membalas dengan agak sinis, membuat Lui memanyunkan pipi dan memalingkan muka.

(Mereka berdua pasti...)

Jarak di antara mereka berdua benar-benar seperti sepasang kekasih. Seandainya ini Pandora yang dulu, dia pasti memandangnya dengan tatapan dingin. Tapi entah mengapa, bagian dalam dadanya terasa sedikit nyeri.

Bagian dalam kabin kereta kuda yang besar ini secara tidak wajar sangat luas, hingga seluruh monster yang jumlahnya banyak itu muat di dalamnya.

Pasti kabin itu sendiri telah dipasangi Magic Item khusus yang sanggup memanipulasi ruang. Heine bilang dia menyewa kereta ini, tetapi kereta kuda berkemampuan manipulasi ruang tidak akan dijual di mana pun di dunia ini. Lebih masuk akal jika menganggap Heine sendiri yang membuatnya.

Mulai dari Magic Item pengubah wujud tadi hingga kabin kereta kuda ini, Heine yang sanggup menciptakan benda-benda semacam itu mungkin saja merupakan keberadaan yang berada di luar nalar dunia seperti Shin dan yang lainnya.

Meski begitu, Pandora tidak pernah menganggap Heine sebagai sosok tidak manusiawi seperti Poseidon, Neptune, Kai Heineman, atau Shin.

Heine adalah sosok yang jauh lebih berhati hangat, kaya emosi, penuh perhatian, dan sangat manusiawi dibanding Pandora. Dia hanyalah seorang pemuda manusia yang tidak masuk akal kuatnya. Pandora tidak meragukan hal itu sedikit pun.

Saat ini, karena tidak ada pekerjaan di tengah perjalanan, mereka sedang mengisi waktu dengan memainkan apa yang disebut permainan kartu yang dibawa oleh Heine.

"Selesai! Aku menang! Aku menang!"

Hana, sang kakak dari High Kobold, melompat kegirangan sambil mengepalkan tangan.

"Aku kalah."

Taro, sang adik dari High Kobold, menghempaskan kartunya ke lantai dengan asal-asalan.

"Faf juga kalah..."

Gadis Dragonewt berambut pirang bernama Faf mengulum ibu jarinya dengan lesu.

Meskipun begitu, gadis Dragonewt bernama Faf ini memberikan rasa deja vu yang aneh. Terutama pada caranya yang sangat manja kepada Heine.

Di saat yang sama, kusir kereta kuda ini juga rasanya pernah ditemui di suatu tempat... Mungkinkah ini cuma dejavu akibat kelelahan?

"Sudah waktunya istirahat. Ayo kita makan."

"Hore! Hari ini makan apa!?"

Faf meneteskan air liur sambil mengangkat tangan kanannya.

"Bagaimana kalau hari ini kita makan tumis babi jahe?"

"Tumis babi jahe! Tumis babi jahe!"

Faf melompat-lompat kegirangan.

"Tumis babi jahe itu apa?"

Taro bertanya kepada Heine dengan wajah polos.

"Masakan daging. Enak lho. Tunggu sebentar, aku siapkan dulu."

Heine turun dari kereta kuda untuk menyiapkan makanan.

"Enak sekali!"

Taro berteriak penuh semangat.

"Pipi rasanya mau lumer!"

Hana juga berseru kagum.

"Tumis babi jahe itu saaaangat, sangat enak!"

Melihat reaksi mereka berdua, Faf memberikan kesannya dengan bangga.

"Tapi tanpa maksud memuji berlebihan, ini benar-benar enak, lho. Dagingnya enak, tapi bumbu sausnya ini yang juara!"

Lui mengunyah daging penuh antusias sembari mengungkapkan kesannya.

Daging lembut yang lumer saat digigit berpadu sempurna dengan bumbu saus manis gurih, menciptakan keharmonisan yang luar biasa.

Para monster melahapnya dengan berkonsentrasi penuh, ada yang makan sambil meraung gembira, bahkan ada yang sampai menangis saat memakannya karena terlalu lezat.

"Syukurlah secara umum pada suka."

"Ternyata Heine bisa memasak juga, ya."

Entah mengapa. Padahal bentuk wajah, gaya rambut, warna rambut, dan pakaian mereka sama sekali berbeda, tetapi sosok Heine dan Shin mendadak tampak tumpang tindih dalam pandangan Pandora.

"Heine, lain kali ajari aku memasak juga, dong!"

"Boleh saja, tapi apa kemampuan begitu dibutuhkan oleh seorang nona muda sepertimu?"

"Jahaaat~! Itu namanya diskriminasi nona muda, bukan, prasangka terhadap nona muda!"

Lui yang duduk di sebelahnya memanyunkan pipi dan menyuarakan protesnya. Heine mengelus kepala gadis itu.

"Yah, maaf-maaf. Nanti kuajari."

Heine mengatakannya sambil tersenyum.

Sikap santai Heine ini benar-benar tidak adil. Buktinya, Lui mendongak menatap Heine dengan wajah terpesona. Melihat keakraban mereka berdua...

(Eh? Lagi-lagi...)

Rasa nyeri kecil kembali melintas di dadanya untuk yang kesekian kali.

Pandora memasukkan makanan ke dalam mulutnya demi menyembunyikan perasaan itu sekuat tenaga.

"Pandora, ada yang ingin kubicarakan sedikit denganmu, bisa?"

Selesai makan, Heine berdiri di depan Pandora dan membuka pembicaraan.

"Ya, tentu saja."

Ada apa ini? Hanya dengan berdiri di hadapannya saja, detak jantungnya mendadak berpacu kencang.

"Aku ingin mengajarimu cara mengendalikan mana, apakah kamu tidak keberatan?"

Mendengar usulan yang berbeda dari perkiraannya, rasa kecewa dan malu merayap tipis.

"Mengendalikan mana?"

Pandora mengulang pertanyaan itu.

"Mengingat kamu bisa melihat warna mana, kamu seharusnya mampu mengendalikan kualitas mana milikmu sendiri."

Heine memberikan tawaran yang sama sekali tak terduga.

"Maksudmu, mengendalikan warna mana yang kukeluarkan?"

"Benar. Aku akan mengajarimu triknya."

Setelah berkata demikian, Heine mengacungkan jari telunjuk kirinya dan mengalirkan mana.

Mana berwarna merah pekat membelit jari telunjuk Heine. Warna merah itu kemudian berubah menjadi hitam, dilanjutkan warna putih, biru, hijau, oranye, dan berbagai warna lainnya.

"I-Itu..."

Sejauh ini, warna mana yang pernah dilihatnya pada dasarnya hanya satu warna per orang. Meski ada yang memiliki beberapa warna sekaligus, tidak ada yang sanggup mengubahnya dengan begitu bebas seperti ini.

"Kemungkinan besar, jurus yang digunakan akan berubah sesuai dengan warna mana tersebut."

Heine menjawab singkat, lalu mulai mengajari Pandora metodenya.

Pengendalian mana ternyata sangat mengandalkan intuisi, sehingga cukup sulit untuk diubah. Namun berkat pengajaran Heine yang sangat telaten di sepanjang perjalanan, Pandora akhirnya bisa mengubah sedikit warna mananya menjadi dua warna: putih dan biru.

"Untuk tahap awal, ini sudah cukup. Sisanya tinggal kamu latih sendiri."

Heine mengakhiri sesi pengajarannya.

"Terima kasih banyak."

Meski merasa sedikit kesepian karena momen berdua saja dengan Heine telah berakhir, Pandora menyampaikan rasa terima kasihnya yang tulus. Tepat saat itu...

"Tuan Heine, kita sudah memasuki wilayah Bolero. Sebentar lagi kita akan sampai di kota."

Sang kusir menyembulkan kepalanya ke dalam kabin dan melapor.

"Ooh, terima kasih atas kerja kerasmu. Kalau begitu, begitu sampai di kota, kita akan langsung bergerak."

Setelah mengucapkannya, Heine menatap Pandora lekat-lekat.

"A-Ada apa?"

Merasa bingung dengan raut wajahnya yang begitu serius, Pandora menanyakan maksud tatapan itu.

"Pandora, apa kamu masih percaya pada Dewa? Tidak, apakah kamu bisa memercayai-Nya?"

Pertanyaan Heine ini adalah sesuatu yang selalu Pandora tanyakan pada dirinya sendiri setiap harinya.

"Entahlah. Namun, sepertinya selama ini kita telah salah menafsirkan kehendak dewa kita demi kenyamanan kita sendiri."

Jika dipikir-pikir kembali, Dewa Perang Suci Ares sendiri tidak pernah secara langsung memerintahkan apa pun kepada Pandora dan yang lainnya, atau pun mengajarkan doktrin. Hanya gagasan bahwa ras iblis dan monster itu jahat.

Niat itu hanyalah sesuatu yang disebarkan dan diperluas oleh mereka yang disebut sebagai utusan surga. Pandora dan yang lainnya telah percaya buta tanpa memastikan apakah utusan surga itu benar-benar utusan Dewa Perang Suci atau bukan.

Ya, semata-mata karena mereka bisa menggunakan keajaiban yang melampaui batas manusia.

Begitu pula dengan kasus turunnya Poseidon kali ini. Dia memercayai perkataan makhluk keji itu tanpa ragu sedikit pun, dan langsung menyimpulkan bahwa Dewa Perang Suci Ares telah menelantarkannya.

Dewa Ares dan Poseidon pasti memiliki hubungan tertentu. Namun, apakah Dewa Perang Suci menoleransi kekejaman di dunia ini, itu masalah yang berbeda.

Mungkin saja ada alasan tak terhindarkan yang membuat Beliau belum menunjukkan wujud-Nya sampai sekarang. Setidaknya, sungguh keliru jika aku putus asa di sini dan menimpakan seluruh tanggung jawab atas segala bencana ini kepada Dewa Perang Suci.

"Aku adalah seorang ateis, tapi ada sesuatu seperti keyakinan yang tidak bisa diubah. Dalam hal itu, mungkin aku dan kalian orang-orang gereja memiliki kesamaan."

"Karena itu, aku akan memberanikan diri untuk menyampaikan kata-kata ini padamu."

Heine memotong kata-katanya dan menarik napas dalam-dalam.

"Berjuanglah! Berjuanglah! Berjuanglah, teruslah meronta, dan temukan jalan yang harus kamu tempuh! Jika itu adalah jalan yang kamu capai setelah melewati penderitaan, dewa yang kamu percayai pasti akan dengan senang hati memberkatinya!"

Dia meneriakkan kata-kata yang terdengar seperti ramalan itu dengan nada berat, sangat tidak seperti Heine yang biasanya ceria.

"Heine, apa maksud dari ucapanmu itu?"

"Seperti yang kubilang, itu hanyalah campur tangan yang tidak diminta dari seorang teman seperjalanan."

"B-baiklah ...."

Heine sepertinya menyadari bahwa dia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat tidak sesuai dengan karakternya. Dia mengalihkan pandangannya dari Pandora dan menggaruk pipinya dengan canggung.

Di saat yang sama, Pandora sangat mengerti bahwa tindakan Heine itu murni karena mengkhawatirkan dirinya. Karena itulah—

"Terima kasih."

Pandora mengutarakan rasa terima kasih yang tulus dari lubuk hatinya.

"Y-ya."

Heine membalas sapaan itu sambil memalingkan muka, seolah-olah dia sedang tersipu malu, sesuatu yang sangat jarang terjadi padanya.

Mereka menyembunyikan kabin dan kuda dari kereta kuda yang lebih besar di semak-semak rimbun dekat kota, lalu menyuruh para monster bersiaga di dalamnya. Setelah itu, mereka memutuskan untuk pergi ke kota Borero dengan kereta kuda kecil yang membawa Gorongo.

Kota Borero adalah salah satu wilayah kekuasaan Kadipaten Dux. Selain cabang Guild Hunter yang memiliki hak ekstrateritorial, bisa dibilang seluruh kota berada di bawah kendali ketat Kadipaten Dux.

Karena itulah, mereka memutuskan bahwa hanya Pandora, Heine, Faf, dan kusir kereta kuda saja yang boleh memasuki kota Borero.

Awalnya mereka mengira Louis akan bersikeras untuk ikut bersama Heine. Namun, karena tidak ada yang menjaga kereta kuda, gadis itu maju menawarkan diri menjadi penjaga. Tentu saja—

"Jangan lupakan janji makan berdua kita, ya!"

Meski dengan cerdik dia memaksa Heine berjanji memenuhi keinginannya, Louis mengantar kepergian Pandora dan yang lainnya dengan senyum lebar sambil melambaikan kedua tangannya.

"Faf mengantuk."

Faf menggosok matanya dengan kedua tangan lalu bersandar pada Heine.

"Lagipula, prosedur untuk masuk ke Borero akan memakan waktu beberapa jam. Aku akan membangunkanmu setelah kita sampai, jadi tidurlah."

Saat Heine berbicara sambil mengelus kepalanya dengan lembut,

"Baaaiiklaah ...."

Gadis kecil itu mulai mengeluarkan suara dengkuran tidur yang menggemaskan.

Faf menjadi sangat terikat dengan Heine yang sangat mirip dengan kakak laki-lakinya, hingga ia tidak mau berpisah sama sekali darinya. Pandora mencoba membujuknya untuk menunggu di kereta kuda di semak-semak karena terlalu berbahaya.

Namun, Faf bersikeras untuk ikut. Karena ia akan tetap mengikuti mereka meski ditinggalkan, mereka pun akhirnya memutuskan untuk membawanya serta.

Memang pantas disebut sebagai salah satu surga para Hunter terkemuka di dunia. Setelah mengantre panjang selama empat jam demi menyelesaikan prosedur masuk kota, mereka akhirnya bisa melangkah ke dalam tembok kota.

Kereta kuda bergerak menuju bangunan berbentuk silinder di pusat kota. Pandora sudah pernah ke sana sebelumnya, jadi dia mengetahuinya.

Bangunan yang sekilas terlihat aneh itu adalah cabang Guild Hunter di kota Borero.

Mereka menghentikan kereta kuda di alun-alun khusus parkir yang terletak di cabang guild tersebut. Kemudian, mereka menginstruksikan kusir dan Faf untuk menunggu sebentar di dalam kereta.

Heine lalu masuk ke dalam gedung sambil membawa Gorongo yang mulutnya disumpal.

Bagian dalam gedung ini adalah satu-satunya zona aman di Borero. Selama berada di dalam sini, mereka tidak akan langsung ditangkap oleh pihak Kadipaten Dux.

Di meja resepsionis, ia menyebutkan nama mantan Kardinal Gereja Pusat, Pandora. Lalu ia menyampaikan permintaan untuk menyerahkan penjahat besar Gorongo dan meminta perantara darurat ke kepala cabang.

Para staf kemudian membawa Gorongo pergi, dan mereka segera dipersilakan masuk ke ruang tunggu di lantai tiga.

Perabotan di dalam ruangan itu bertambah banyak. Terlebih lagi, perabotan-perabotan itu kini menjadi cukup mewah.

Saat berkunjung sebelumnya, isi ruangan itu memang sederhana tapi terasa hangat. Sekarang, ruangan ini telah berubah drastis menjadi ruangan norak selera orang kaya baru.

Aku punya firasat buruk.

Ada perasaan tidak nyaman yang aneh ini, seolah-olah ada banyak serangga tak terlihat yang merayap di punggungnya. Akan sangat bagus jika ini hanyalah imajinasi Pandora saja.

Seorang pria berpenampilan lembut yang jangkung, ramping, dan berambut belah pinggir yang sedang duduk di sofa berdiri.

"Lord Pandora, selamat datang."

Dia membungkuk sedikit. Pria ini adalah kepala cabang Borero, Reito Genghis Khan.

Berbeda dengan sebelumnya, barang-barang yang dikenakan Reito hanyalah perhiasan kelas satu yang bahkan sangat jarang terlihat dipakai oleh bangsawan tingkat tinggi.

"Maaf karena aku langsung pada intinya. Ada yang ingin kubicarakan dengan Kepala Cabang Reito."

Reito adalah seorang Hunter yang cerdik. Jika Pandora memberitahukan situasi mereka saat ini, dia yakin Reito akan menginformasikan krisis dunia ini ke markas Guild Hunter di Babel dan membantu menghubungi Festa.

Pandora hanya bisa berharap pria itu belum berubah pikiran.

"Mari kita dengar situasinya."

Reito melipat tangannya dan menunggu penjelasan dari pihak Pandora.

"Sebenarnya—"

Pandora pun mulai menceritakan tentang krisis yang saat ini tengah dihadapi oleh mereka dan seluruh dunia.

"Begitu ya. Gereja Pusat telah dikuasai oleh dewa agung bernama Poseidon itu. Terlebih lagi, tanah air kita ini, Kadipaten Dux, juga berada di bawah kendali salah satu bawahan Poseidon yang bernama Neptune."

"Itu benar-benar situasi yang terburuk. Ini memang tampaknya adalah situasi di mana Guild Hunter kita harus bertindak."

"Aku sangat tertolong karena kamu memahaminya. Jadi, bagaimana dengan dukungan konkretnya?"

"Markas Guild Hunter di Babel telah secara resmi menyatakan dukungannya kepada Festa. Pertama, mari kita lindungi para monster dan mengantar mereka ke Festa secepat mungkin. Di saat yang sama, aku akan mengajukan pertemuan antara kalian dengan markas besar guild."

Sepertinya pria itu tidak sedang berbohong. Tampaknya ketakutan bahwa mereka akan memihak pada Poseidon hanyalah kekhawatiran yang tidak berdasar.

"Terima kasih banyak atas perhatianmu!"

Pandora berseru kegirangan, diliputi perasaan lega layaknya orang yang baru terbangun dari mimpi buruk.

"Lalu, di mana kalian menyembunyikan para monster?"

"Mereka bersembunyi di semak-semak di sebelah selatan kota."

"Dimengerti. Aku akan segera mengirim para Hunter untuk melindungi mereka."

Reito menoleh ke belakang melalui bahunya.

"Tolong lindungi para monster itu."

Dia memberikan instruksi kepada seorang pria berambut merah yang menutupi kepalanya dengan tudung merah menyala. Pria yang tampak seperti Hunter itu sedari tadi berdiri bersandar di dinding sambil melipat tangan, mendengarkan pembicaraan mereka.

"Dimengerti, ssho!"

Pria berambut merah itu mengangkat tangan kanannya saat menjawab, lalu perlahan-lahan melangkah keluar ruangan.

Pandora merasa dia pernah melihat pria itu entah di mana. Namun, dia juga merasakan déjà vu yang serupa saat bertemu Faf dan sang kusir, jadi kemungkinan besar itu hanyalah efek dari kelelahan.

"Sepertinya Putri Lula diam-diam dikurung di kota ini. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk melindunginya?"

"Putri Lula dikurung!? Kalau itu benar, ini masalah besar! Aku akan segera membentuk tim penyelamat dan mengirim mereka ke rumah penguasa kota!"

"Kumohon, tolong lakukan!"

Untuk saat ini, setidaknya ia bisa merasa lega. Tidak diketahui sejauh mana si Neptune itu peduli pada Guild Hunter yang notabene hanyalah organisasi manusia.

Namun, Poseidon, di permukaan, sedang mencoba menyebarkan kebenaran di dunia ini. Meski kebenaran itu telah dipelintir, Pandora berasumsi tidak akan terjadi situasi yang menggunakan paksaan secara tiba-tiba.

Lagi pula, jika dia memang mencoba menghancurkan tatanan dunia yang ada dengan paksa dan menciptakan tatanan baru, Guild Hunter, yang mengklaim sebagai tombak dan perisai umat manusia dari bencana, justru akan menjadi duri di matanya. Seharusnya guild itu sudah lama lenyap dari dunia ini.

Fakta bahwa mereka masih bangga dengan kekuatan organisasi mereka yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia membuktikan, bahwa ada aturan tertentu dalam pelaksanaan keadilan orang itu.

"Kalau begitu, aku akan segera bertindak untuk menyelamatkan Yang Mulia Putri Lula. Lord Pandora pasti sangat kelelahan setelah perjalanan panjang. Aku akan menyiapkan penginapan di mana kalian bisa beristirahat dengan tenang."

Menanggapi tawaran Reito yang begitu didambakannya,

"Aku sangat berterima kasih. Tentu saja—"

Pandora mencoba untuk menerima tawaran itu, tetapi—

"Tidak, kami tidak butuh penginapan karena kami akan mencari tempat sendiri."

Heine yang sedari tadi mendengarkan di sebelahnya segera menolaknya dengan tegas.

Heine mungkin berpikir bahwa dia harus bergabung dengan Hana dan yang lainnya. Akan tetapi, jika Guild Hunter bersedia melindungi para monster, justru lebih berbahaya jika mereka bersama-sama dengan rombongan Pandora.

Lagi pula, besar kemungkinan ada perintah pemusnahan Pandora dari Poseidon. Jika ceroboh, saat terjadi serangan terhadap Pandora, ada bahaya para monster juga akan dibantai habis. Karena itulah—

"Tapi, Heine, jika Guild bersedia melindungi Hana dan yang lainnya—"

Pandora spontan mencoba mendebat ucapan Heine, namun pria itu memotongnya.

"Kita tidak butuh penginapan. Pahami situasi ini."

Heine mencengkeram pundak Pandora yang ada di sebelahnya dan menariknya ke pelukannya, lalu berbicara dengan nada tegas.

Awalnya Pandora tidak segera mengerti maksud Heine, tetapi lambat laun dia mulai memahaminya.

"...."

Dia menyadari wajahnya memanas dengan sangat cepat.

"Begitu ya. Aku mengerti."

Reito tersenyum penuh arti dan menyetujui keputusan mereka.

"Kalau begitu, kami pamit dulu. Pandora, ayo pergi!"

Heine menggenggam tangan kanan Pandora yang wajahnya memerah hingga ke pangkal leher, bagaikan tersiram warna merah terang. Ia lalu melangkah menuju pintu.

"K-Kepala Cabang Reito, kalau begitu kami permisi dulu!"

Pandora keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa sambil mengatakan hal itu dengan panik saat tangannya ditarik oleh Heine.

Segera setelah keluar dari gedung cabang guild, mereka langsung berlari menuju kereta kuda.

"Heine?"

Pandora memanggil Heine di tengah pipinya yang memanas dan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia menatap profil wajah Heine yang masih memegang tangannya, menampakkan ekspresi tajam seolah-olah baru saja menginjakkan kaki di wilayah musuh.

"―!"

Dalam sekejap, Pandora menyadari bahwa masalahnya bukan sekadar masalah sepele.

Heine masuk ke dalam kereta kuda dan memerintahkannya.

"Cepat pergi ke arah kereta kuda Hana dan yang lainnya!"

Heine memberikan instruksi kepada kusir dengan nada yang tegas.

"Dimengerti."

Sang kusir mengangguk, lalu kereta kuda pun mulai melaju.

"Kamu berpikir kalau Kepala Cabang Reito telah memihak musuh, kan?"

"Ya. Coba ingat-ingat lagi percakapan kita tadi. Ke mana dia bilang akan pergi untuk melindungi Yang Mulia Putri Lula?"

"Ke rumah penguasa kota. Dia dikurung di ruang bawah tanah, jadi tidak ada yang aneh dengan—Ah ...."

Benar juga. Pandora dan rombongannya belum mengatakan sepatah kata pun soal Putri Lula ditawan di rumah penguasa kota Borero. Akan tetapi, Kepala Cabang Reito mengatakan dia akan menuju ke rumah penguasa seolah-olah itu adalah hal yang sudah pasti.

Memang benar rumah penguasa adalah tempat yang paling mungkin digunakan untuk menawan Putri Lula. Akan tetapi, seperti halnya ketika berada di ibukota, tidak aneh jika sang putri disekap di tempat lain.

Saat itu, jika ditangani oleh kepala cabang guild biasa, dia pasti akan meminta pendapat Pandora mengenai lokasi penahanan tersebut. Setidaknya dia tak akan langsung berpikir untuk mengirimkan Hunter ke rumah penguasa kota.

Dengan kata lain, ini berarti—

"Cabang Borero dari Guild Hunter sudah tunduk pada sampah bernama Neptune itu."

Heine meludahkannya dengan ekspresi penuh kebencian.

"Heine, apakah dukungan cabang Borero kepada Neptune ini merupakan kehendak dari seluruh Guild Hunter?"

Sembari tersiksa oleh keputusasaan yang tak terlukiskan di dalam dadanya, Pandora meminta pendapat Heine.

Karena, jika markas besar Guild Hunter di Babel juga telah jatuh, maka hubungan kerja sama mereka dengan Festa yang diperintah oleh para monster pastilah sudah ditarik kembali. Dengan kata lain, mengandalkan Guild Hunter berarti pertemuan dengan Kai Heineman tidak akan pernah terwujud.

Lagipula, jika mereka ditolak oleh Guild Hunter, maka tak ada lagi organisasi yang bisa menjadi penengah pertemuan antara Pandora dan Festa.

"Belum bisa dipastikan. Tapi, jika markas besar Guild Hunter di Babel benar-benar membuat pilihan sebodoh itu, organisasi seperti itu sudah tak pantas lagi dipertahankan. Aku berani bersumpah, dalam waktu dekat Guild Hunter pasti akan lenyap dari dunia ini."

Bagaikan sumpah kepada dewa, Heine menyatakan hal itu secara perlahan-lahan.

"Heine, apakah kita tidak perlu pergi melindungi Putri Lula?"

Pandora menanyakan hal yang paling mengganjal di hatinya saat ini. Heine adalah bawahan Putri Lula.

Gadis itu yakin dalam hati pria itu, dia ingin mengabaikan tugas melindungi Pandora serta para monster demi bergegas menyelamatkan sang Putri.

"Toh, dia mungkin sudah tidak ada lagi di kota ini."

Heine menjawabnya dengan pandangan kosong.

"Eh? Apa maksudnya—?"

Saat Pandora mencoba menanyakan maksud dari perkataan pria itu, kereta kuda tiba-tiba berhenti mendadak.

Kereta kuda telah tiba di luar kota. Ketika keluar dari kereta, kusir terlihat tengah menggendong seorang anak laki-laki yang dipenuhi luka-luka.

"Taro!"

Saat dia menyadari anak laki-laki itu adalah High Kobold Taro dan bergegas menghampirinya dengan panik, anak itu angkat bicara.

"Kakak! Kakak!"

Sambil mencengkeram lengan baju Pandora dan meneteskan air mata yang berderai, Taro mencoba meneriakkan kata-kata.

"Taro, pelan-pelan, tarik napas dalam-dalam. Semuanya sudah baik-baik saja, kami akan menyelamatkan kalian."

Heine perlahan mengelus kepalanya dan berbicara dengan lembut padanya.

Sambil menangis, Taro menarik napas dalam-dalam.

"Waktu aku sedang menunggu di kereta, muncul orang-orang berpakaian merah dan bertopi. Kak Hana hampir diapa-apakan oleh salah satu dari mereka. Pas aku coba bantu, semuanya berputar-putar dan Kak Louis dikalahkan sampai luka parah ...."

"Waktu aku panggil Kak Louis, semua orang datang dan kasih minum air merah, lalu luka Kak Louis sembuh. Terus, Kak Louis suruh aku lari ke arah yang dia tunjuk ...."

Taro mulai menceritakannya dengan terbata-bata. Penjelasan Taro sangat tidak beraturan, dan Pandora hanya bisa memahami sekitar setengahnya.

Namun, ia cukup mengerti bahwa situasi yang sangat mengerikan sedang terjadi.

"Kak Hana diculik sama mereka! Kak Louis dan yang lainnya bilang mereka akan pergi ke timur dan menyuruhku memanggil Kak Heine untuk minta bantuan! Kumohon, tolong selamatkan Kakak-Kakakku!"

Taro menangis sambil menempel erat pada Heine.

"Aku tidak akan memaafkannya."

Suara penuh kebencian terdengar dari belakang. Mendengar suara itu, punggung Pandora terasa merinding. Tepat ketika dia refleks hendak menoleh,

"Guh!"

Tanah meledak ke segala arah seakan terkena hantaman telak mantra sihir skala raksasa, menciptakan hembusan angin yang kencang. Tubuh Pandora yang terlempar tertahan oleh seseorang di belakangnya.

Dari kehangatan dan aroma yang nyaman itu, ia bisa dengan mudah menebak siapa orang tersebut.

Di tengah kepulan asap dan debu yang membumbung,

"Tampaknya situasinya menjadi sedikit merepotkan ...."

Suara Heine yang bercampur dengan helaan napas bisa terdengar.

"Heine?"

"Pandora, kamu tunggu di sini bersama Ruth sang kusir. Ruth, bisa kuserahkan sisanya padamu?"

"Dimengerti!"

Tepat setelah balasan Ruth, suara ledakan tanah kembali menggetarkan gendang telinga. Kemudian, ketika kepulan debu tanah yang beterbangan menghilang, hanya tersisa Pandora, sang kusir Ruth, dan Taro di tempat itu.

"Heine?"

Pandora mengedarkan pandangannya ke sekeliling, meneriakkan nama orang yang paling membuatnya merasa aman saat ini, tetapi tak ada sosok Heine di sana.

"Nona Pandora, mari masuk ke kereta kuda bersama Taro dan menunggu. Saya akan menyajikan teh merah dan camilan manis."

Menanggapi saran dari Ruth,

"Y-ya."

Ia menjawab semampunya, menggenggam tangan Taro yang masih meneteskan air mata, dan menariknya masuk ke dalam kereta kuda.

◇◆◇

Di tengah semak-semak yang ditumbuhi tanaman tinggi di bagian selatan Borero. Di sebuah ruang berbentuk lingkaran yang ditebang rapi di dalam semak-semak itu, terparkir sebuah kereta kuda dengan sekelompok monster mendirikan perkemahan di sekelilingnya.

"Kumohon, ya Tuhan. Tolong biarkan Heine dan yang lainnya kembali dengan selamat."

Gadis manis berambut merah berpotongan bob pendek dengan tanduk di atas kepalanya—Setsuna, menangkupkan kedua tangannya dan memanjatkan doa kepada dewa para monster.

Setsuna adalah ras High Ogre yang berasal dari 'Hutan Ratapan'. Suatu kali, ketika dia kebetulan meninggalkan desanya untuk mengumpulkan buah-buahan, gadis itu ditangkap oleh para manusia yang sedang berburu dan dibawa ke kediaman Gorongo di Kadipaten Dux.

Satu hal yang menyelamatkan Setsuna adalah Gorongo menganggapnya monster jelek dan memperlakukannya sebagai barang dagangan lelang. Untungnya, dia tidak dijadikan sasaran tembak sihir atau panah, serta keperawanannya tetap terjaga.

Meskipun begitu, karena dia memiliki tenaga beberapa kali lipat dibanding manusia laki-laki biasa, dia dipaksa melakukan pekerjaan mengangkut barang. Jika pekerjaannya lambat, dia akan dicambuk.

Hari-hari yang penuh penghinaan itu pun berakhir dengan mudah di tangan seorang pria dan wanita manusia. Yang satu adalah biarawati Gereja Pusat yang menjadi musuh alami para monster.

Sementara yang satu lagi adalah salah satu pengikut Putri Lula—Putri Monster dari Kadipaten Dux yang dipercaya mewarisi darah High Ogre—yaitu Heine.

Meski kaum manusia bersikeras menyembunyikannya, ibu Putri Lula sebenarnya adalah bibi Setsuna. Dengan kata lain, Setsuna dan Putri Lula merupakan saudara sepupu.

Sewaktu kecil, ia pernah sekali berkunjung ke 'Desa Angin Iblis' secara sembunyi-sembunyi saat dibawa ibunya. Karena itulah dia sempat mengenalnya.

Fakta bahwa dia telah diperlakukan sedemikian memalukan oleh manusia dari Kadipaten Dux yang selama ini ia percayai telah mengiris hati Setsuna dalam-dalam.

Tapi, pada akhirnya, manusia jugalah yang memutuskan rantai kemalangan Setsuna ini.

Dia, Heine, telah membantai seluruh orang di rumah Gorongo dan membebaskan rombongan Setsuna.

Dia dengan instan menyembuhkan mereka yang lemah dengan ramuan ajaib, lalu memerintahkan rekan kusirnya, Ruth, untuk membawa mereka berlindung di luar kota.

Setelah itu, barulah dia pergi menyelamatkan Putri Lula.

Setelah menunggu beberapa saat, Heine datang bersama biarawati gereja bernama Pandora, serta membawa seorang gadis berambut pirang. Dia sepertinya adalah pelayan Putri Lula.

Pandora berjanji akan mengumpulkan para monster dan memandu perjalanan mereka kembali ke kampung halaman 'Hutan Ratapan'.

Akan tetapi, jarak menuju 'Hutan Ratapan' cukup jauh, apalagi dengan rombongan buronan seperti mereka, perjalanan besar seperti itu tidaklah realistis.

Karena itu, mereka memutuskan untuk singgah di cabang Borero dari Guild Hunter di kota Borero untuk memohon perlindungan sementara bagi rombongan Setsuna.

Mereka juga berencana meminta bantuan Shin, sosok yang dianggap sebagai senjata pamungkas dunia Hunter, sembari mengatur perlindungan dari negara baru monster dan iblis bernama Festa untuk para monster yang mendiami 'Hutan Ratapan'. Itulah rencananya.

Karena berbagai macam alasan itu, perjalanan yang sebenarnya pun dimulai. Perjalanan tersebut ternyata jauh lebih menyenangkan dan mendebarkan dari yang Setsuna bayangkan.

Khususnya masakan buatan Heine yang sangat lezat hingga membuat ketagihan, bahkan ada yang sampai menitikkan air mata saat memakannya.

Permainan kartu setelah makan juga merupakan pengalaman pertamanya. Bagi Setsuna, yang tak pernah menikmati hiburan, ini hanyalah kejutan yang tak ada habis-habisnya.

Waktu yang menyenangkan itu pun berakhir, dan mereka tiba di kota Borero. Setelah Ruth sang kusir merapikan semak-semak dalam bentuk melingkar, mereka memarkir kereta kuda di sana.

Kemudian, Pandora, Heine, Faf, dan Ruth segera menuju ke kota Borero, dan sekitar setengah hari telah berlalu. Matahari sudah sepenuhnya terbenam, tak ayal membuat perasaannya terasa suram.

Meski ia merasa hampir hancur oleh rasa cemas, Setsuna mencoba bertahan.

"Tolonglah, tetap aman."

Saat dia menggenggam tangannya dan membisikkan doa untuk kesekian kalinya, Louis, pelayan Putri Lula, berdiri.

"Siapa itu!?"

Gadis itu menghunus belati di pinggangnya dan berteriak dengan suara melengking tajam.

"Heee! Menyadari kehadiranku, untuk ukuran makhluk kelas rendah rendahan sepertimu, intuisimu lumayan tajam juga, ssho!"

Seorang pria dengan rambut dan janggut merah yang memakai masker keluar dari balik semak-semak. Terdapat tato angka 'satu' yang terukir di pipinya.

"Kamu... Lima Jari Suci bawahan Neptune?"

Butiran keringat membasahi wajah Louis yang berteriak.

"Itu juga benar, ssho! Sayang banget rasanya cuma ninggalin kamu terus-terusan jadi kera, ssho! Kuhihihi!"

Saat pria berambut dan berjanggut merah itu sedikit mengangkat tangan kanannya, sekelompok pria dan wanita berjubah merah dengan topi caping merah mulai menampakkan diri.

"Terus, Ein, kamu mau pakai mereka buat apa, wan?"

Di antara orang-orang itu, ada seorang wanita dengan penutup mata di mata kirinya yang selalu tersenyum seolah-olah dipaksakan.

Dia bertanya kepada pria berambut dan berjanggut merah bernama Ein itu.

"Menurut informasi spesial yang kudapat, kelihatannya dewa tanah yang membunuh Funf itu lagi gerak bareng Pandora, no."

"Pandora? Ah, si wanita jalang sialan itu, wan. Seperti biasa, bikin mual aja lihat dia tebar pesona sana-sini, wasa!"

Wanita yang terus-menerus memamerkan senyuman itu meludah dengan jijik.

"Terus si Pandora itu juga kelihatan peduli banget sama monster-monster rendahan ini. Makanya, pakai aja satu yang cocok dari mereka, pancing si dewa tanah yang bunuh Funf bareng Pandora, lalu basmi semuanya sekaligus, ssho!"

"Perintah dari Tuan Neptune itu untuk buat mereka terlihat menyedihkan dan menyesal pernah hidup, kan, wasa?"

"Pastinya, di hadapan Tuan Neptune yang ada di ibu kota, kita bakal bikin event luar biasa keren di mana jiwa dewa tanah itu hancur berkeping-keping, ssho!"

"Ya ya, bagus deh kalau kamu lagi semangat. Terus, mau bawa pulang yang mana nih, wasa?"

Wanita bersenyum aneh itu menatap rombongan Setsuna dengan mata melotot, menaksir-naksir mereka saat bertanya pada Ein.

"Sudah kuputuskan dari tadi, ssho. Yang jalang anjing itu. Kelihatannya dia adalah kesayangannya Pandora."

"Kesayangan? Yang kayak gini? Seleranya benar-benar hancur dari dulu, wasa."

"Sependapat sih, tapi Zwei, rasanya aneh dengar komentar begitu dari mulutmu, ssho."

Ein mengangkat bahu, lalu mengalihkan pandangannya pada gadis High Kobold bernama Hana sambil menampilkan seringai licik.

"Hiek!?"

Hana yang mundur selangkah mendadak dicengkeram kedua bahunya dari belakang.

"―!?"

Setsuna berhasil menahan teriakannya dan segera melangkah mundur sambil memasang posisi siaga. Wajar saja ia bereaksi begitu.

Ein yang sedari tadi berada di depannya, tiba-tiba sudah berpindah ke belakang Hana yang tepat berada di sebelah kanannya.

"Gembiralah, ssho. Kamu aku kasih peran yang sangat penting."

Ein dengan enteng mencengkeram dan mengangkat kerah belakang baju Hana, lalu berbisik di telinganya.

"...."

Hana gemetar tanpa henti dengan air mata yang menggenang di matanya. Melihatnya, anak kecil di sebelahnya berteriak.

"L-lepaskan kakakku!"

Sambil memutar-mutarkan kedua tangannya, Taro berlari menerjang Ein.

"Jangan!"

Louis berlari menghampiri Taro dan memeluknya. Sesaat kemudian, sesuatu menghantam Louis hingga membuat tubuhnya terlempar bersama Taro seperti bola, lalu menghilang di dalam semak-semak.

"Taro! Lepaskan! Lepaskan aku!"

Hana berteriak sambil memberontak dengan wajah panik. Ein mendecak tidak senang dan wajahnya berkerut tanda kesal.

"Bikin muak saja, ssho."

Pria itu meninju perut Hana. Terdengar suara mengerikan dari tulang yang patah dan daging yang hancur sebelum Hana akhirnya lemas tak berdaya.

"Hei, itu kelihatannya dia udah mau mati, wasa."

Zwei memarahi Ein dengan nada suara yang terkesan putus asa.

"Kamu tahu kan. Aku cuma sedikit salah memperhitungkan kekuatanku!"

Saat Eins berbicara dengan nada kesal, luka Hana sembuh dengan kecepatan tinggi.

"Lalu, bagaimana dengan pelacur bernama Lula itu?"

"Dia itu ibarat hidangan utama untuk memeriahkan acara kali ini. Dia sudah dalam perjalanan dipindahkan ke ibu kota."

"Ya, ya, kalau begitu gunakan seluruh jiwa ragamu untuk mempermalukan pelacur itu. Sebagai gantimu yang lamban, aku yang akan bermain-main dengan mereka."

Zwei menjilat area di sekitar mulutnya dengan lidahnya yang sangat panjang.

"Jangan bicara seolah-olah kamu berbaik hati kepadaku! Zwei, kamu pada dasarnya cuma mau bermain-main dengan mereka kan!"

"Yah, aku tidak akan menyangkalnya."

Wajah Zwei menyeringai buruk rupa. Pemandangan itu membuat para monster yang melihatnya memekik tertahan.

"Ya sudahlah, toh monster-monster ini pasti akan dimusnahkan. Hanya saja, perempuan manusia tadi tahu soal Tuan Neptune dan kita."

"Kukira dia itu semacam kerabat dewa pelindung dunia ini, jadi tangkap dia hidup-hidup! Aku akan menginterogasinya nanti untuk mengorek informasi!"

"Perempuan berambut pirang itu, bukannya dia sudah mati terkena seranganmu barusan?"

"Jangan menyebar rumor buruk. Aku sudah menahan seranganku, jadi dia pasti masih hidup."

"Baiklah. Kalau aku cuma perlu menangkap perempuan jalang itu, ini urusan sepele."

"Kalau begitu, aku akan membawa orang ini dan pergi ke ibu kota lebih dulu. Ingat, jangan sampai kamu kehilangan tujuan gara-gara terlalu asyik bermain."

Eins melontarkan ucapan perpisahan itu dengan cepat. Setelah itu, sosoknya menghilang bersama Hana.

"Nah, para serangga toilet yang menjijikkan, mari bermain sebuah permainan denganku!"

"Permainan...?"

Setsuna bertanya balik dengan nada mengulang kata-kata itu.

"Benar, sebuah permainan di mana kami akan membasmi kalian, para serangga toilet yang merayap di tanah ini, secara serentak. Jika kalian berhasil keluar dari semak-semak ini dengan selamat sebelum aku selesai menghitung sampai lima ribu, aku akan menganggap kalian menang dan melepaskan kalian."

"Ah, meskipun kalian monster, pejantan yang berwajah tampan akan kujadikan peliharaanku secara khusus!"

Dia menjilat bibirnya dengan lidah yang besarnya tidak wajar. Matanya menatap lekat para monster pria berwajah tampan seolah sedang menilai kualitas barang.

Sudut bibir Zwei yang selalu tersenyum kini tertarik semakin tinggi, meneteskan air liur dengan wajah yang tampak mabuk kepayang. Melihat Zwei yang wujudnya tak lagi menyerupai manusia itu...

"Uwaa!"

Seorang monster pria berwajah tampan menjerit ketakutan. Dia segera membalikkan badan dan menghilang ke dalam semak-semak.

"Benar! Larilah! Larilah! Kalau tidak begitu, tidak akan seru! Kalau tidak begitu, aku tidak akan terangsang!"

"Hibur aku dengan hal yang paling, paling, paling seru!"

Zwei melebarkan kedua lengannya dan meraung ke arah langit dengan ekspresi kegirangan. Pria besar bermohawk jubah merah yang tampaknya adalah wakil komandan, melangkah maju ke depan barisan. Dia mengeluarkan tongkat komando.

"Hitungan, mulai!"

Dia berteriak lantang sambil melakukan pose aneh dan mengayunkan tongkat komandonya.

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam♬"

Para pria berjubah merah itu menautkan kedua tangan mereka. Mereka mulai menghitung dengan suara melengking yang terdengar sangat menjijikkan.

"Setsuna, kita lari bawa Lui dan Taro!"

Mendengar ucapan bibi dari ras Semut, tubuh Setsuna yang kaku karena ketakutan pun mulai bergerak. Dia langsung berlari ke arah semak-semak tempat Lui dan yang lainnya terhempas.

Berkat teriakan pilu Taro, mereka dapat menemukan Lui dengan cepat.

"Kak Lui!"

Taro menangis sambil mengguncang tubuh Lui yang terluka parah dan nyaris kehilangan kesadaran. Setsuna segera berlari menghampiri mereka, lalu meminumkan obat pemulih berwarna merah bernama Potion yang telah dia terima dari Heine sebelumnya.

Dalam sekejap mata, luka-luka Lui sembuh tanpa bekas.

Mereka kemudian menjelaskan situasinya secara singkat kepada Lui yang masih terlihat linglung.

"Kakak, Kakak!"

Lui membelai lembut kepala Taro yang sedang menangis tersedu-sedu. Dia lalu melepaskan kalung dari lehernya dan memakaikannya ke leher Taro, kemudian memejamkan mata sambil menggumamkan semacam mantra.

"Taro, aku punya satu permintaan untukmu."

Lui mencengkeram kedua bahu Taro dan menatap matanya saat mengatakan hal tersebut.

"Permintaan...?"

"Ya, berlarilah ke arah utara dari sini. Dengan begitu, kamu bisa sampai di depan kota Bolero."

"Kamu pasti akan bertemu Heine di sana. Beri tahu dia tentang krisis ini, dan sampaikan bahwa kita akan bergerak ke timur."

Lui memberikan instruksi tersebut dengan lembut.

"Tapi, kalau Taro sendirian—"

Lui mengangkat tangan kanannya untuk memotong bantahan Setsuna.

"Tidak apa-apa, aku baru saja mengalirkan mana ke kalung itu. Kalung itu adalah Magic Item yang memiliki efek Stealth tingkat tinggi."

"Entah seberapa jauh alat ini mempan terhadap mereka, tapi mereka pasti meremehkan kita. Jadi kalau kita menjadi umpan, Taro pasti bisa kabur sendirian, walau ini adalah semacam pertaruhan."

Lui menjelaskan hal itu sambil membelai kepala Taro.

"Kamu benar, lagipula kita tidak akan bisa mengalahkan mereka kalau bukan dengan bantuan Tuan Heine. Aku setuju dengan pertaruhan Lui."

Saat Setsuna menyetujui usulan Lui tersebut, pria ras High Big Bear angkat bicara.

"Aku juga setuju. Menunggu bala bantuan dari Tuan Heine sepertinya adalah cara terbaik agar kita bisa bertahan hidup."

Pria besar itu mengangguk pelan dan mengacungkan jempol sebagai tanda setuju.

"Aku juga setuju."

"Aku juga!"

Mendengar suara persetujuan yang terus bersahutan, Lui kembali mencengkeram kedua bahu Taro.

"Taro, bisa aku mengandalkanmu?"

Dia bertanya dengan nada penuh kelembutan.

"Iya! Aku akan berjuang!"

Taro menyeka air matanya dan berdiri, lalu mulai berlari sekuat tenaga ke arah utara.

Taro pun menghilang ditelan rimbunnya semak-semak.

"Ini yang terbaik. Kalaupun kita gagal, setidaknya Taro punya kemungkinan untuk selamat."

Mendengar ucapan bibi Semut yang penuh penjiwaan itu, pak tua berkepala Rajawali ikut menimpali.

"Ya, para pemuda yang akan menenun masa depan memang harus tetap hidup."

Meskipun berada dalam situasi genting, pak tua itu mengangguk mantap dengan ekspresi yang anehnya terlihat cerah.

"Kita bukannya sedang melakukan hal yang sia-sia. Ini adalah cara terbaik untuk memaksimalkan peluang bertahan hidup kita. Ayo, kita juga harus segera pergi!"

Lui berteriak sebelum mulai berlari.

"Baik!"

"Ayo!"

Setsuna dan yang lainnya pun mulai menggerakkan kaki menyusul Lui.

Setelah itu, mereka berlari sekuat tenaga melintasi semak belukar bersama bibi Semut dan yang lainnya. Jantung mereka berdegup kencang seolah mau pecah, dan napas terasa sesak seakan sedang berada di dalam air.

Hal itu juga dirasakan oleh seluruh monster yang melarikan diri. Namun, mengingat wajah kejam Zwei, mereka bisa dengan mudah menebak apa yang akan terjadi jika sampai tertangkap.

Oleh karena itu, mereka saling bergandengan tangan dan memberikan semangat sembari terus berlari mati-matian menembus semak-semak ke arah timur.

Akhirnya, cahaya mulai mengintip dari ujung semak-semak. Mereka akhirnya bisa keluar dari semak belukar ini.

Bukan berarti keluar dari semak-semak akan menyelesaikan segalanya, karena ancaman bahaya masih belum berlalu. Namun, tempat di balik semak-semak ini seharusnya adalah padang rumput yang terbuka luas.

Di padang rumput itu, Heine pasti akan lebih mudah menemukan sosok Setsuna dan yang lainnya. Lagipula, mereka tidak akan bisa mengalahkan musuh-musuh itu tanpa bantuan Heine.

Keluar ke area yang membuat mereka mudah ditemukan pasti akan sangat menguntungkan untuk melewati krisis ini. Terlebih lagi, musuh jelas-jelas meremehkan Setsuna dan kelompoknya.

Mereka sesumbar tidak akan bergerak sampai selesai menghitung hingga lima ribu, dan mereka juga takkan tahu pasti ke mana Setsuna berlari di dalam belukar. Setidaknya, kelompok Setsuna masih punya celah untuk mengulur waktu.

"Kita akan menurunkan kecepatan sedikit setelah keluar dari semak-semak ini! Karena itu, bertahanlah sedikit lagi!"

Instruksi dan kata-kata penyemangat melayang dari Lui yang berlari di barisan terdepan.

Mereka mengangguk dalam hati sambil terus berlari menuju cahaya.

Dan akhirnya, mereka berhasil keluar dari semak-semak.

"Saaayang sekaaaliii."

Suara lengket yang menjijikkan bergema di telinga mereka. Sekelompok pria dan wanita berjubah merah yang dipimpin oleh Zwei tampak berdiri kaku dengan kedua tangan tertaut di belakang punggung, mengepung kelompok Setsuna dari segala arah.

"Sudah kuduga bakal begini."

Lui melontarkan makian dengan nada penuh kebencian. Setsuna menyetujuinya karena dia juga merasakan hal yang sama.

Jika mereka baru mulai mencari setelah menghitung hingga lima ribu, seharusnya butuh waktu lebih lama untuk menemukan kelompok Setsuna. Mustahil mereka bisa menunggu di tempat Setsuna akan keluar semudah ini.

Sudah sangat jelas bahwa mereka menggunakan sihir atau Skill yang bisa melacak keberadaan Setsuna dan kawan-kawannya.

"Aku terkejut melihatmu masih baik-baik saja setelah diserang oleh Eins. Yah, mungkin itu membuktikan kalau serangannya memang selemah itu."

Zwei tertawa terbahak-bahak.

"Tentu saja. Serangannya benar-benar bukan apa-apa. Kalau melawan manusia sepertiku saja kemampuannya seburuk itu, apa kelompok kalian akan baik-baik saja?"

Lui melontarkan provokasi secara terang-terangan.

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Zwei masih mempertahankan senyumnya, tetapi kebencian dan rasa tidak suka yang luar biasa terpancar dari mata kanannya yang berukuran raksasa.

"Penguasa mutlak yang benar, Poseidon? Hah! Untuk ukuran seorang penguasa mutlak, dia benar-benar menyedihkan."

"Tapi pada akhirnya, level kalian memang cuma sebatas itu. Kalian tidak lebih dari sekumpulan semut menyedihkan yang lari tunggang-langgang karena takut diinjak setelah memancing amarah monster di dunia ini."

Sosok Zwei tiba-tiba menjadi buram. Dalam sekejap, dia sudah mencengkeram kerah baju Lui dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.

"Beraninya kamu menghinaku!?"

Bersamaan dengan raungan tersebut, kedua kaki Lui hancur berkerut.

"Ara, sepertinya kamu masih punya sedikit kecerdasan untuk memahami ucapan manusia. Akan kuberikan pujian untukmu."

Dilihat dari sudut pandang mana pun, kedua kaki Lui jelas sudah patah. Rasa sakitnya pasti begitu luar biasa hingga mampu membuat kesadaran melayang.

Dia seharusnya merasa ketakutan sekarang. Namun, meski keringat dingin terus mengucur, Lui justru menatap remeh ke arah Zwei dan bertepuk tangan memberikan sorakan.

"Tutup mulut kotor itu!"

Kedua lengan Lui yang sedang bertepuk tangan seketika bengkok ke arah yang tidak wajar.

"Kamu lebih marah karena dirimu dihina daripada saat majikanmu dihina ya... Kamu benar-benar sampah yang tak tertolong lagi. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa iba pada makhluk sepertimu."

"Tuan Zwei, jika Anda melangkah lebih jauh lagi, Anda akan mengabaikan instruksi Tuan Eins—"

Pria berjubah merah berjanggut panjang yang tampak seperti ajudan baru saja membisikkan hal itu ke telinga Zwei, ketika tiba-tiba...

"Berisik! Aku tahu, jadi tutup mulutmu!"

Tinju kiri Zwei menembus bagian tengah tubuh pria berjubah merah itu dan menciptakan sebuah lubang besar. Pria berjanggut itu pun tewas seketika dan ambruk ke tanah.

Zwei menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Dia lalu kembali menurunkan sudut matanya dengan senyuman yang mengerikan.

"Tidak boleh, tidak boleh, aku hampir saja termakan omongan pelacur sialan ini. Perempuan jalang, aku tidak akan membunuhmu."

"Tapi jangan merasa lega dulu. Setelah aku melelehkan wajah cantikmu itu dengan sihir, aku akan menelanjangimu dan menjadikanmu tontonan di kota Bolero."

"Manusia rendahan..."

Lui mengernyitkan wajah dan melontarkan makian. Wajah gadis itu sudah memucat karena kehilangan banyak darah.

"Kyahaha! Benar sekali! Wajah itu yang kuinginkan! Setelah selesai dijadikan tontonan, aku akan membiarkan para pengemis bermain denganmu sampai tubuhmu hancur! Nikmatilah penderitaan itu sepuasmu!"

Saat Zwei menjentikkan jarinya, dua pria berjubah merah langsung menahan tubuh Lui. Sementara itu, satu orang lainnya mulai mendekatkan tangan kanannya yang telah berubah warna menjadi ungu ke wajah Lui.

"..."

Lui menggertakkan gigi dan menatap mereka tajam dengan ketegaran yang luar biasa.

"Siapa pun yang disentuh oleh tangan kanan itu akan dikutuk! Kulitnya akan membusuk dan dipenuhi belatung! Tidak ada obat pemulih atau sihir penyembuhan apa pun yang bisa menghilangkan kutukan tersebut!"

"Wajahmu akan menjadi buruk rupa seumur hidup! Kamu akan dilempari batu dan dihina sebagai monster! Bersenang-senanglah! Pria yang kamu cintai pun pasti akan langsung berbalik dan lari ketakutan begitu melihat wajahmu!"

Sudut bibir Zwei yang tersenyum tidak wajar itu robek hingga ke dekat telinga, dan bola matanya berubah menjadi merah darah. Sosok Zwei kini sudah benar-benar kehilangan wujud manusianya.

"Hentikan!"

Setsuna berusaha berlari menghampiri Lui untuk menghentikan mereka, tetapi gerakannya langsung ditahan oleh para pria berjubah merah.

"Ini adalah pertunjukan kelahiran monster terhebat, jadi tontonlah dengan saksama!"

Tepat saat tangan kanan ungu pria berjubah merah itu hendak menyentuh wajah Lui...

"Dasar sampah!"

Seiring dengan gema suara yang penuh penghinaan itu, tubuh bagian atas pria berjubah merah yang hendak menempelkan tangan ungunya ke wajah Lui hancur berkeping-keping.

"Hah?"

Dua pria berjubah merah yang menahan tubuh Lui mendongak dan mengeluarkan suara bodoh.

Di atas mereka, sesosok makhluk raksasa menyerupai kuda yang dibalut api dan memiliki sayap merah tua menatap tajam ke bawah dengan aura merah yang menyala-nyala.

"Enyahlah!"

Diintimidasi oleh makhluk raksasa menyerupai kuda itu, para pria dan wanita berjubah merah secara refleks langsung menjauh dari Lui.

"K-Kamu—"

Tepat saat Zwei memekik dengan suara penuh kepanikan...

"Nona Faf, izinkan hamba menemani di sisi Anda!"

Kuda raksasa itu berlutut dengan luwes. Di hadapannya, berdiri sosok gadis kecil berambut pirang bernama Faf yang tengah memasang ekspresi seperti iblis ganas.

"Aku tidak akan memaafkan kalian..."

Bola mata Faf yang menggumamkan kata-kata itu telah berubah menjadi semerah darah.

Aura tempur keemasan yang menyelimuti seluruh tubuhnya begitu panas hingga melelehkan tanah di sekitarnya.




"A-Apa-apaan ini―!"

Sambil berteriak ketakutan, Zubai mencoba mundur. Namun, dia menabrak sosok raksasa yang muncul di belakangnya.

Saat dia menoleh dengan gemetar, dia pun menjerit.

"Hiiik!?"

Perasaan Zubai saat itu sangat bisa dimengerti.

Sebab di sana, sesosok monster berkepala naga yang mengenakan pakaian emas tengah berdiri tegap sambil memancarkan amarah yang meluap-luap.

Lalu, dia pun menyadari fakta itu. Fakta bahwa saat ini mereka telah dikelilingi oleh makhluk raksasa yang tak terhitung jumlahnya.

"Naga?"

Kata itu keluar dari mulut Setsuna yang mengering, menyebutkan makhluk terkuat di dunia ini. Ratusan makhluk legenda raksasa itu menatap para jubah merah dengan ekspresi penuh kebencian.

"Tuan Faf, mohon tenangkan diri Anda."

Monster berkepala naga yang berlutut itu memberi saran kepada Faf.

"Aku tidak akan memaafkan mereka!"

Faf memukul sarung tangannya dan melangkah mendekati Zubai beserta yang lainnya.

"J-Jangan mendekat! D-Dasar monster!"

Mendengar jeritan nyaring Zubai, Faf mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat.

Dia menarik siku kanannya ke belakang dan merendahkan pusat gravitasinya untuk mengambil kuda-kuda.

"—Biar aku yang mengurus Faf. Kalian semua tolong lindungi dan sembuhkan Louis beserta para monster."

"Girimekara, pasang pelindung di seluruh area ini! Kerahkan seluruh kekuatanmu!"

"Sesuai perintah!"

Suara berat itu bergema di dalam kepala.

Di saat yang sama—.

"Dimengerti! Semuanya, mundur!"

Pria berkepala naga itu membungkuk dengan hormat dan memberikan perintah.

Seketika itu juga, sosok naga-naga yang begitu banyak tadi menghilang tanpa sisa.

Seekor kuda raksasa mendekatkan hidungnya ke arah Louis.

Bersamaan dengan cahaya yang menyilaukan, kedua tangan dan kaki Louis yang patah pulih seolah waktu telah diputar kembali.

Kuda raksasa itu kemudian menggigit pakaian Louis, meletakkannya di punggungnya, lalu melompat tinggi ke udara untuk mengambil jarak.

"Beraninya kalian—melukai teman berharga Faf—!"

Bersamaan dengan teriakan layaknya binatang buas yang tak terbayangkan keluar dari seorang gadis kecil, tubuh kecil itu pun menghilang.

"Gahii!"

Tinju kanan Faf yang bersinar keemasan menembus perut Zubai yang wajahnya sudah berkerut ketakutan.

Cahaya menyilaukan yang membuat mata tak sanggup terbuka menyelimuti mereka.

Dalam sekejap, suara gemuruh yang dahsyat dan gelombang ledakan yang menghempaskan segalanya mengamuk di sana.

Namun entah bagaimana, tubuh Setsuna tengah dipeluk oleh seseorang sehingga dia tidak ikut terhempas.

Cahaya keemasan yang menutupi sekeliling perlahan memudar, dan daratan kembali menunjukkan rupanya.

Daratan itu telah berubah sepenuhnya.

Semak-semak tanaman tinggi di belakang mereka telah hancur dan kawah raksasa muncul.

Atmosfer di langit yang jauh berderit akibat distorsi, hingga ruang hitam terekspos di balik langit yang biru cerah.

Setengah tubuh Zubai terbakar habis.

Dia jatuh terduduk sambil gemetar bersama para jubah merah yang giginya bergemeletuk ketakutan.

Lalu di sana, seorang pemuda berambut abu-abu menahan tinju kanan Faf hanya dengan telapak tangan kirinya.

"Tuan Heine!"

Suara penuh kegembiraan keluar dari mulut Setsuna. Tentu saja, karena pemuda itu adalah pahlawan yang sangat dinantikan oleh Setsuna.

Heine membelai lembut kepala Faf dengan tangan kanannya.

"Orang-orang seperti mereka tidak pantas membuat tanganmu kotor, Faf. Serahkan saja padaku."

Dia menasihati gadis itu dengan senyum yang lembut.

"Tuan, Faf... Faf..."

"Aku mengerti. Kamu pasti kesal, kan? Kesal karena teman berhargamu diinjak-injak tanpa ampun oleh orang-orang seperti mereka."

Heine memeluk Faf dan dengan lembut membelai bagian belakang kepalanya.

Dia lalu menggendong Faf yang akhirnya menangis. Dia pun menyerahkannya kepada monster berkepala naga yang tiba-tiba sudah muncul di sana.

Monster berkepala naga itu membungkuk sebelum akhirnya menghilang bersama Faf.

Heine mengarahkan pandangannya pada Zubai dan kawan-kawannya yang gemetar menyedihkan di tanah. Dia menatap mereka seolah-olah sedang menatap sebuah kotoran.

"Aku menyelamatkan kalian bukan tanpa alasan. Aku hanya tidak ingin tangan Faf kotor."

"Dan aku sama sekali tidak punya alasan untuk memberi kalian kematian yang damai."

Heine melontarkan kata-kata itu dengan nada suara yang membuat tulang belakang membeku.

"Tidak ada alasan untuk memberi kami kematian yang damai?"

Zubai bertanya dengan suara gemetar.

"Ya. Kalian ini sampah yang menyebut diri sebagai Pasukan Surga, kan? Sungguh, mulai dari kroco bernama Tartarus hingga bedebah busuk seperti Veigue, kekuatan kalian sama sekali tidak ada artinya."

"Tapi, sepertinya kalian punya bakat alami dalam hal membuatku marah."

Dia mengangkat bahu dan menggelengkan kepala seolah-olah sudah benar-benar muak.

"Tar... tarus? Kroco yang tidak ada artinya?"

Zubai bergumam dengan tatapan kosong.

"Hm? Bukannya monster kroco tidak tahu diri bernama Tartarus itu adalah teman kalian?"

Heine membalas dengan dahi berkerut.

"M-Monster kroco!? Enam Dewa Langit Tartarus kau bilang!? J-Jangan-jangan kau ini monster lalat yang telah mengalahkan Enam Dewa Langit Tartarus!?"

"Monster lalat? Ah, maksudmu Beelze. Beelze, tunjukkan wujudmu."

"Sesuai perintah, Chuu."

Diiringi suara berderik, seekor monster lalat yang berjalan dengan dua kaki dan memakai mahkota pun muncul.

"Be-Be-Beelzebuuuub!"

Wajah Zubai berubah oleh keputusasaan yang mendalam. Dia berteriak histeris hingga hampir kehabisan napas.

"Nah, karena sekarang semuanya sudah jelas, saatnya menentukan nasibmu."

"A-Ampuni kami!"

Zubai dan para jubah merah menyatukan kedua tangan mereka dan memohon dengan mata berlinang air mata.

"Tidak, aku sama sekali tidak akan memaafkanmu! Kamu telah melukai putriku. Kamu juga telah melukai temanku."

"Sejujurnya, kesabaranku sudah habis sejak tadi."

"I-Itu—"

Heine menendang rahang Zubai yang hendak mengatakan sesuatu hingga hancur berkeping-keping untuk membungkamnya.

"Beelze, interogasi mereka. Setelah itu, bereskan mereka dengan lebih teliti dari biasanya."

"Sesuai perintah, Chuu."

Tanah di bawah Zubai dan yang lainnya berubah menjadi hitam melingkar, lalu menelan tubuh mereka dalam sekejap.

Heine mendekati Louis yang berada di atas kuda bersayap merah. Begitu Heine berada di dekatnya, Louis langsung melompat dan memeluknya erat-erat.

"Kamu telat..."

"Maafkan aku."

"Sedikit lagi wajahku akan hancur berantakan, tahu."

"Maafkan aku."

Louis membenamkan wajahnya di dada Heine dan mulai menangis tanpa suara.

◇◆◇

Setelah menenangkan Louise yang terus memelukku dan tidak mau melepaskannya, aku menyerahkan perlindungan para monster kepada bawahanku. Aku kemudian masuk ke dalam tenda yang berdiri sendirian di tengah padang rumput.

Di dalam tenda, para pemimpin faksi bawahanku telah berkumpul semuanya.

"Radon, bagaimana keadaan Faf?"

"Siap! Nona Faf menangis kelelahan dan saat ini sedang beristirahat."

"Begitu, ya..."

Sudah lama aku tidak melihat Faf semarah itu. Atau lebih tepatnya, ini mungkin pertama kalinya sejak aku berhenti terluka di Easy Dungeon waktu itu.

"Apakah itu luka akibat menahan tinju Faf?"

Dia bertanya sambil menatap lengan kiriku yang membengkak ungu.

"Ya, begitulah. Tanganku hancur total."

Mendengar jawabanku, suara keterkejutan terdengar di seluruh penjuru tenda.

Hanya dengan kekuatan fisik murninya, ruang menjadi terdistorsi dan menciptakan semacam ruang dimensi kecil. Padahal, aku sudah berusaha menyebarkan dampaknya.

Jika Faf mengayunkan tinjunya itu tanpa ada aku yang menghentikannya, mudah ditebak apa yang akan terjadi.

Aku mengeluarkan High Potion dari Item Box, lalu meminumnya untuk menyembuhkan lukaku.

"Radon, terima kasih sudah mengurus Faf."

Aku menundukkan kepalaku kepada Radon.

Bagiku, Faf sudah seperti putri kandungku sendiri. Ketidakmampuanku telah membuat Faf terluka sangat dalam.

Ini benar-benar sebuah penyesalan terbesar bagiku.

"Tidak, kata-kata Anda terlalu berlebihan. Hamba merasa sangat terhormat."

Radon berdiri dari tempat duduknya, berlutut dengan satu kaki, dan menundukkan kepalanya.

"Tolong terus jaga Faf untuk sementara waktu."

"Siap!"

Biarkan Faf beristirahat sampai masalah ini selesai. Nanti, jika dia melihat Hana dan Taro sehat-sehat saja, Faf pasti akan kembali ceria seperti sedia kala.

Tentu saja, luka batin yang telah tergores tidak akan sembuh begitu saja. Setelah masalah ini selesai, aku akan meluangkan banyak waktu bersamanya sebagai sebuah keluarga.

Untuk sementara waktu, aku akan terus berada di sisinya sama seperti saat kami berada di Easy Dungeon dulu.

Tapi, untuk saat ini—.

"Aku sudah sangat paham dengan kebodohan sampah bernama Poseidon itu beserta para pengikutnya. Aku akan mengambil tanggung jawab penuh untuk memusnahkan faksi mereka dengan tanganku sendiri."

"Lalu, meski sudah melihat semua usaha Pandora selama ini, apakah Feista masih tetap tidak bisa mempercayai pihak Gereja?"

"Feista sudah melihat seluruh pergerakan Pandora dan Tuan Master melalui rekaman visual. Kesimpulan Feista adalah, dia mungkin bisa mempercayai Pandora."

"Namun, tanggapannya terhadap Gereja tetaplah tidak."

"Begitu, ya..."

Aku menghela napas panjang mendengar jawaban Asta.

Selama ini, ras iblis dan para monster selalu dianggap sebagai makhluk jahat yang harus dimusnahkan oleh pihak Gereja, sehingga mereka menjadi target pembasmian.

Secara khusus, kekejaman Pahlawan Mashiro kepada iblis dan monster atas perintah Gereja telah mengakar kuat sebagai ingatan yang tidak bisa dihapus di benak mereka.

Kini, Gereja memohon bantuan karena mereka ditindas secara tidak manusiawi oleh makhluk non-manusia yang menyebut diri mereka sebagai Tuhan.

Sangat tidak masuk akal untuk menyuruh iblis dan monster menerima begitu saja permintaan tolong tersebut.

Meski begitu, jika di sini aku menuruti amarahku dan membasmi Poseidon, Feista tidak akan pernah mengakui Pandora dan kelompoknya. Di sisi lain, pihak Gereja juga tidak akan mengubah sikap dan perkataan arogan mereka.

Pandora akhirnya mulai melepaskan diri dari kutukan bernama diskriminasi yang ada di dalam organisasi Gereja. Gadis itu sedang berusaha melangkah maju dengan keinginannya sendiri.

Aku bisa memastikan ini, setidaknya jika kesempatan ini hilang, Gereja tidak akan pernah bisa saling memahami dengan para monster serta iblis dan selamanya akan memilih jalan permusuhan.

Yang menunggu di ujung jalan itu hanyalah penderitaan dan kematian rakyat tak berdosa yang tak terhitung jumlahnya dari kedua belah pihak, serta kepunahan mutlak salah satu dari mereka.

Ini berarti, tindakanku yang gegabah dan emosional dapat menentukan masa depan Pandora dan Feista.

Dengan kata lain, aku harus menunggu. Sampai Pandora dan pihak Gereja mencapai sebuah kesimpulan melalui ujian ini—.

"Tuan Master, apa yang rencananya akan Anda lakukan?"

"Apa yang akan kulakukan? Tentu saja sudah jelas. Aku hanya akan melanjutkan rencana seperti ini."

Menghentikan rencana sekarang tidak akan memberikan keuntungan bagi siapa pun.

"Apakah Tuan Master benar-benar setuju dengan hal itu?"

Asta bertanya dengan ragu-ragu. Hal itu tidak seperti biasanya di mana dia selalu mengatakan apa pun yang dipikirkannya secara blak-blakan.

"Bukan soal setuju atau tidak, itulah ujian yang diberikan kepada Pandora dan kelompoknya."

Sampai kapan pun, kami hanyalah orang luar. Kemenangan maupun kekalahan, itu semua adalah kehormatan dan penderitaan yang hanya diberikan kepada Pandora dan kelompoknya.

Kami yang berada di luar ini hanya bisa meminjamkan kekuatan untuk mendukung pilihan yang mereka buat. Karena jika tidak begitu, ujian ini sama sekali tidak ada artinya.

"Tuan Master, kalau begitu kita akan melanjutkan rencana ini ke tahap akhir. Maaf jika Hamba terus mengulanginya, tapi apakah Anda benar-benar yakin?"

Asta mungkin tidak ingin aku ikut campur lebih jauh dalam ujian ini. Dan alasannya pasti—.

"Asta, kamu memang baik hati. Terima kasih."

"T-Tidak, Hamba ini..."

Aku tersenyum masam melihat Asta yang wajahnya memerah dan menjadi sangat salah tingkah. Lalu, aku mengedarkan pandangan ke seluruh pemimpin yang hadir.

"Poseidon berada di level yang sepenuhnya berbeda dari para kroco yang pernah muncul sejauh ini. Benar, kan?"

"Hal itu benar adanya."

Asta langsung menjawab, dan tidak ada satu pun orang yang menentang ucapannya.

"Kalau begitu, ini akan mempertaruhkan nyawa. Dengar, aku sendirilah yang akan membereskan Poseidon. Kuperintahkan kalian untuk membersihkan jalan bagiku."

Siapa pun lawannya, aku tidak berniat untuk kalah. Apalagi, Poseidon telah menyentuh kemarahanku.

Aku tidak akan puas sebelum menghancurkannya berkeping-keping.

"Sesuai perintah!"

Girimekara membungkuk dengan penuh hormat, dan semua orang pun mengikuti langkahnya seraya menundukkan kepala mereka.

"Laksanakan rencananya!"

Setelah mendeklarasikan hal tersebut, aku mulai berjalan menuju tempat Pandora dan yang lainnya menunggu.

◇◆◇

Beberapa saat setelah Heine pergi, seberkas cahaya berbentuk setengah bola muncul di arah semak-semak yang letaknya sangat jauh, membuat daratan bergetar hebat. Beberapa jam kemudian, Heine kembali ke kereta kuda kelompok Pandora.

Dia datang seorang diri tanpa membawa Faf. Dari ekspresi wajahnya yang rumit, sudah bisa ditebak bahwa hal ini telah menjadi masalah yang sangat merepotkan.

Namun, kenyataan yang sebenarnya mereka dengar justru jauh lebih buruk dari yang dibayangkan.

"Hana diculik, ya..."

Seperti yang diduga, para monster diserang oleh Ein dan Zubai dari Alumni atas perintah Neptune.

Selain Hana yang diculik oleh Ein, para monster juga diserang oleh Alumni yang dipimpin oleh Zubai, namun mereka berhasil dimusnahkan oleh Heine yang bergegas datang.

Mereka mendengarkan penjelasan situasi secara rinci dari Zubai yang tertangkap. Rupanya, Kadipaten Dux telah sepenuhnya diambil alih oleh Neptune.

Dengan Ein sebagai pemimpinnya, mereka berniat menggunakan eksekusi publik Hana dan Putri Lula untuk memancing Pandora serta Heine keluar.

"Apa yang akan kita lakukan?"

"Tentu saja, membiarkan Hana mati itu di luar dugaan. Kita akan segera pergi ke ibu kota Kadipaten."

"Itu sudah pasti jebakan, tahu? Lagipula, kemungkinan besar Hunter Guild juga telah berbalik menjadi musuh kita."

Fakta bahwa Hunter Guild telah menjadi musuh memang sangat mengejutkan. Tetapi jika dipikir-pikir lagi—.

"Toh, saat ini aku adalah orang yang memusuhi Gereja Pusat. Sekarang, mana mungkin aku bingung dan ragu hanya karena satu organisasi netral bergabung dengan mereka!"

Selama Kai Heineman berada di balik pihak Feista, jelas bahwa dia tidak akan pernah sejalan dengan Poseidon.

Bagaimanapun juga, situasi dunia saat ini hanyalah konflik antara dua orang Transcenden, yaitu Poseidon dan Kai Heineman.

Jika Hunter Guild secara keseluruhan memihak Poseidon, itu berarti mereka telah memilih jalan untuk berbenturan langsung dengan Kai Heineman. Masalahnya di sini adalah pergerakan Shin, sang pemburu terkuat di dunia Hunter.

Informasi tentangnya sangat sedikit sehingga mereka belum bisa memastikan, namun dari pembicaraan singkat dengannya, rasanya Shin bukanlah sosok yang mau melakukan tindakan keji.

Pandora sama sekali tidak bisa membayangkan Shin akan membunuh rakyat tak berdosa hanya karena perintah tidak masuk akal dari Hunter Guild.

Lagipula—.

(Kurasa dia tidak sebodoh itu.)

Di belakang Feista ada Sang Transcenden, Kai Heineman.

Pandora sama sekali tidak berpikir bahwa Shin yang banyak akal itu akan mengambil risiko berbenturan dengan Kai Heineman akibat perintah sembrono dari Guild.

Kemungkinan besar, dia akan memilih untuk mengamati dari pinggir lapangan untuk sementara waktu.

Fakta bahwa mereka tidak bisa mendapatkan bantuan Shin dalam masalah ini memang merupakan kerugian.

Tetapi tidak peduli berapa banyak Hunter selain Shin yang datang, mereka tidak akan pernah menjadi ancaman bagi Pandora.

"Kamu sudah berubah, ya. Atau lebih tepatnya, kamu sudah membulatkan tekadmu?"

"Ya, aku sudah lelah karena terus-terusan merasa putus asa. Mari kita berjuang dan melawan hingga akhir."

Pandora mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat dan menyatakannya dengan penuh semangat kepada Heine.

"Aku mengerti. Selama Nona Lula akan dieksekusi, aku juga harus pergi. Lagipula, perasaanku saat ini sama sepertimu, Pandora."

"Sejujurnya, kesabaranku sudah mencapai batasnya karena terus-terusan dipermainkan sesuka hati mereka."

Kepada Heine yang memamerkan gigi taringnya dengan ekspresi penuh amarah, Pandora membalas.

"Kalau begitu, mari kita susun rencana penyelamatan yang spesifik."

Pandora merasakan kelegaan seolah-olah dia telah melepaskan beban di dalam hatinya.

Mereka pun berdiskusi mengenai operasi penyelamatan Putri Lula dan Hana yang lebih spesifik.

Sebelum itu, masalahnya adalah para monster yang diselamatkan Heine kali ini. Para monster tersebut cukup terluka parah akibat serangan dari Zubai dan kawan-kawannya.

Oleh karena itu, sepertinya Heine telah menitipkan perlindungan para monster itu kepada salah satu ksatria Putri Lula.

Di saat yang sama, Louis yang merupakan pelayan Putri Lula juga mengalami luka berat dan terpaksa keluar dari garis depan pertempuran.

Nyawanya berhasil diselamatkan berkat obat pemulihan dari Heine, namun saat ini dia masih membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Hal ini berarti, selain Heine, Pandora, dan kusir kereta bernama Ruth, tidak ada orang lain yang bisa ikut campur dalam operasi penyelamatan kali ini. Karena itulah, mereka bertiga harus menyusun strategi untuk menyelesaikannya.

Terlebih lagi, mereka harus berhasil mencapainya dengan menerobos jebakan musuh. Tingkat kesulitannya benar-benar di luar bayangan.

Oleh karena itu, mereka terus berdiskusi berkali-kali, menyusun strategi, dan mengulang simulasi.

Di tengah situasi tersebut, sebuah informasi diumumkan di kota Bolero bahwa eksekusi publik anak monster dan pengkhianat yang melindunginya, Putri Lula, akan dilaksanakan tepat lima hari lagi di ibu kota Kadipaten.

Kemungkinan besar, itu adalah bentuk ancaman sekaligus provokasi bagi Pandora dan kelompoknya.

Di tengah situasi yang seperti itu, operasi penyelamatan untuk saat ini telah berhasil disusun dan mereka akan segera berangkat menuju ibu kota Kadipaten.

"Oboro, aku serahkan anak-anak ini kepadamu."

"Aku menerimanya. Kudoakan keberuntunganmu dalam pertempuran."

Seorang pria berpenampilan lembut yang mengenakan kacamata bulat dan pakaian merah kebesaran berkerudung menjawab permintaan Heine sambil memukulkan kepalan tangan kanannya ke dada.

"..."

Taro berpegangan erat pada Pandora dan membenamkan wajahnya ke perut gadis itu.

"Tidak apa-apa. Aku pasti akan membawa Hana kembali. Karena itu, Taro, tolong jadilah anak baik dan tunggu kami di sini, ya."

Pandora memeluk Taro dan berbicara selembut mungkin kepadanya.

"Ung."

Sambil membelai kepala Taro yang enggan melepaskannya, Pandora berpamitan.

"Aku pergi dulu, Taro."

Dia mengucapkannya dengan senyuman di wajahnya.

"Hati-hati... di jalan."

Sambil menangis, Taro pun melepaskan pelukannya dari Pandora. Menahan perasaan enggan untuk berpisah akibat tatapan Taro, Pandora akhirnya naik ke dalam kereta kuda.

Setelah terguncang di dalam kereta kuda selama beberapa hari, mereka pun tiba di ibu kota Kadipaten.

Dengan bantuan Magic Item penyamaran yang disiapkan oleh Heine, mereka menyamar menjadi pasangan pedagang keliling dan menyusup ke dalam ibu kota.

Begitu mendapatkan penginapan di dalam ibu kota, mereka bertiga mulai mengumpulkan informasi secara menyeluruh di tempat masing-masing.

Pandora berkeliling ke toko pakaian dan toko perhiasan yang ditujukan untuk kalangan elit.

Dia secara diam-diam bertanya kepada para pelanggan dan penjaga toko tentang Putri Lula serta eksekusinya.

Golongan elit bisa dibilang sebagai kelompok mayoritas di dalam Kadipaten Dux. Secara khusus, ada banyak penganut Gereja yang taat di sana.

Oleh karena itu, dia awalnya mengira bahwa Putri Lula yang jelas-jelas menentang ajaran Gereja akan sangat dijauhi oleh mereka—.

"Mengeksekusi Yang Mulia Lula, itu benar-benar hal yang tidak masuk akal!"

Pemilik toko perhiasan mewah itu meninggikan suaranya yang dipenuhi dengan amarah yang mendalam.

"Rumor yang beredar luas mengatakan bahwa Yang Mulia Duke telah kehilangan akal sehatnya."

Seorang pria berpenampilan seperti bangsawan mencubit kumis melintangnya sambil memberikan pendapat yang sangat tidak terduga.

"Kudengar Yang Mulia Putri Lula adalah seorang pecinta monster?"

Pertanyaan dari Pandora itu mengubah suasana di dalam toko. Hampir seluruh pelanggan yang ada di sana memancarkan aura permusuhan terang-terangan kepadanya.

"Itu cuma omongan seenaknya dari pihak berwenang dan Gereja! Yang Mulia Lula hanya bersikeras untuk menghentikan tindakan kejam terhadap monster yang memiliki akal cerdas!"

"Sama sekali tidak ada alasan baginya untuk dieksekusi!"

"Aku setuju! Beliau tidak pernah sekalipun melarang kita membunuh monster yang berbahaya! Sebaliknya, saat kampung halamanku diserang gerombolan Little Troll yang menyerang ternak, beliaulah yang paling cepat menggerakkan para Ksatria Kadipaten untuk menyelamatkan kami!"

"Benar sekali! Saat itu, pihak Kadipaten dan Gereja bahkan tidak mau mendengarkan keluhan kami! Satu-satunya yang mau mendengarkan kami hanyalah beliau!"

Ah, begitu rupanya. Putri Lula pasti adalah sosok yang sangat bertolak belakang dengan Pandora.

Dia tidak menyerah pada tekanan dari lingkungan sekitarnya yang didasarkan pada alasan palsu seperti tradisi maupun formalitas. Dia hanya bertindak mengikuti nilai dan keyakinan dirinya sendiri.

Sosok yang sulit dikendalikan seperti itu memang wajar diasingkan oleh para penguasa. Pandora mengenal seseorang yang mirip dengan putri tersebut, yaitu Putri Pertama Kerajaan Amelia, Rosemarie Roth Amelia.

Demi keyakinan yang telah mereka temukan, para gadis itu tidak segan menolak dan menghancurkan organisasi, pemikiran, bahkan akal sehat yang selama ini tidak pernah diragukan oleh siapa pun.

Lalu, saat mereka menabrak dinding tinggi bernama struktur kekuasaan dan jatuh ke dalam krisis yang mengancam nyawa, Sang Penyelamat pasti akan selalu muncul untuk menolong mereka.

Penyelamat itu akan melenyapkan semua kesulitan yang mereka hadapi, lalu menunjukkan jalan keluar.

Persis seperti Sang Transcenden, Kai Heineman yang meminjamkan kekuatannya kepada Putri Rosemarie. Begitu pula dengan Heine yang saat ini meminjamkan kekuatannya kepada Putri Lula.

Pandora sangat berbeda dengan mereka. Tanpa ragu-ragu, dia terus-menerus berlindung di balik pihak yang kuat.

Bahkan pedoman pemikiran yang menjadi penentu tindakannya yang seharusnya murni dan tanpa cela, hanyalah pinjaman dari orang lain. Perbedaan inilah yang menjadi hasil akhirnya.

Seandainya seseorang membicarakan hal buruk tentang Kardinal Pandora di Enblade yang merupakan markas besar Gereja Pusat, pasti tidak akan ada satu orang pun yang marah dan membelanya seperti ini. Alih-alih menyangkal perkataan itu, mereka malah mungkin akan ikut-ikutan mencelanya.

Orang-orang yang mendekati Pandora hanyalah para babi jelek berjiwa serakah yang tenggelam dalam kekuasaan, bersembunyi di balik penampilan dan tutur kata yang menawan. Ini benar-benar sebuah karma.

Pandora berpikir, hal ini adalah pembalasan yang wajar atas semua perbuatan yang telah dia lakukan selama ini.

Sungguh menyedihkan. Ini benar-benar menyedihkan.

Rasanya begitu menyedihkan hingga dia tanpa sadar meneteskan air mata.

"H-Hei, Nona, kau tidak apa-apa? Tidak ada gunanya juga marah-marah kepada gadis kecil seperti ini, kan!"

Seseorang angkat bicara untuk membela Pandora. Akal sehat para pelanggan di sekelilingnya pun kembali, dan amarah mereka perlahan lenyap.

Pandora merasakan kecanggungan yang teramat sangat karena menyadari fakta tersebut. Dia pun pergi meninggalkan toko itu seolah-olah sedang melarikan diri.

Tanpa dia sadari, dia sudah kembali ke penginapan yang menjadi tempat pertemuan mereka. Semakin dia mengetahui tentang Putri Lula, perasaan frustrasi dan rendah dirinya semakin menyiksa.

Dia kembali menyadari betapa bodoh dan berdosanya segala tindakan yang dia lakukan selama ini.

Saat dia memasuki kamar, Heine sudah berada di sana dan tengah melipat kedua tangannya sambil tenggelam dalam pikiran. Ruth tampaknya juga sudah kembali.

"Karena Pandora juga sudah kembali, mari kita mulai bertukar informasi."

Menanggapi ajakan Heine, Ruth dan Pandora juga memberikan persetujuan tanpa kata-kata dan mulai berbicara satu sama lain.

"Sepertinya lokasi kurungan Nona Lula hanya diketahui oleh orang-orang dengan posisi tertentu ke atas. Setidaknya, para penjaga berpangkat rendah sama sekali tidak tahu di mana posisi Nona Lula saat ini."

Heine menghantamkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya dengan kesal.

"Sama halnya denganku, aku juga sama sekali tidak bisa mengetahui di mana lokasi Putri Lula dan Hana dikurung, sekeras apa pun aku mencarinya."

Sejauh ini, semuanya masih sesuai dugaan. Tujuan musuh adalah mengeksekusi Putri Lula di depan umum.

Penghalang terbesar bagi mereka adalah Pandora dan kelompoknya. Jika Pandora berada di posisi musuh, dia mungkin akan melakukan hal yang sama.

"Bagaimana jika kita menggunakan Stealth Magic milikku untuk menyusup dan mencari di dalam kastil kerajaan?"

Terhadap saran nekat dari Pandora yang tak menaruh banyak harapan tersebut, Heine membalas.

"Tidak, itu tidak akan berhasil. Mengingat Pandora sudah pernah melarikan diri, mereka pasti sudah memprediksi bahwa kita akan menggunakan Stealth Magic."

"Mereka pasti sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi. Lagipula, aku sama sekali tidak berpikir kalau Nona Lula dan Hana disekap di tempat yang sama."

"Dengan kata lain, faktanya saat eksekusi Putri Lula dan Hana adalah satu-satunya kesempatan bagi kita, kan?"

"Benar sekali. Mereka pasti harus mengalokasikan penjagaan untuk Nona Lula dan Hana."

"Selain itu, Neptune juga akan menampakkan dirinya di hadapan kita pada saat itu. Aku akan menyerangnya dengan kekuatan penuh."

"Memanfaatkan kekacauan tersebut, kamu dan Ruth, Pandora, harus segera mengamankan mereka berdua lalu melarikan diri dari ibu kota. Ini adalah metode dengan peluang menang yang paling tinggi."

"Pada akhirnya, berarti kita tetap menjalankan rencana awal, ya..."

Dia sebenarnya sudah menduga sejak awal kalau akhirnya akan jadi seperti ini.

Setelah mempertimbangkannya berulang kali, mereka mencapai kesimpulan bahwa peluang terbesar untuk menyelamatkan mereka berdua hanyalah ketika mereka muncul di depan umum.

"Ya, begitulah. Dengan menyusutnya pilihan yang harus kita lakukan, pikiranku justru jadi lebih jernih. Sisanya, biarlah semuanya terjadi sebagaimana mestinya."

Menanggapi perkataan Heine yang terdengar seolah sudah berpasrah diri, Ruth pun menimpali sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Benar. Kalau begitu, mari kita eksekusi rencana ini di hari eksekusi mereka lusa nanti."

"Dimengerti! Lusa, kita akan melaksanakan rencana ini sesuai persiapan!"

Heine pun bangkit dari kursinya untuk menjawab ucapan tersebut.

"Saya permisi dulu."

Ruth membungkuk sedikit sebelum keluar dari ruangan. Heine pun mengangkat tangan kanannya sebagai salam singkat, lalu bersiap meninggalkan kamar Pandora.

"Heine!"

Pandora sendiri tidak mengerti mengapa dia menghentikan pria itu. Hanya saja, hatinya sangat ingin melakukannya.

"Hm? Ada apa?"

Heine berhenti di depan pintu, lalu menoleh ke belakang melalui bahunya.

"Bisakah kamu menemaniku mencari udara segar seharian besok?"

"Lagipula tidak ada yang perlu dikerjakan sampai hari pelaksanaan rencana, jadi aku tidak keberatan."

Begitu permintaannya disetujui dengan sangat mudah,

"K-kalau begitu ... um ...."

Meski telah memberanikan diri membuat ajakan terbesar dalam hidupnya, Pandora tidak tahu harus berbuat apa. Saat gadis itu menjadi terbata-bata,

"Besok pagi, aku akan datang menjemputmu."

Setelah mengatakan hal itu sambil tersenyum, Heine melangkah keluar ruangan.

Sejak kehilangan adik laki-lakinya, Ikaros, akibat kesalahannya yang bisa dibilang fatal, Pandora tak lagi bisa tidur nyenyak di malam hari.

Kenangan bersama Ikaros dan pemandangan saat Ikaros berubah menjadi Dewa Monster Poseidon terus terulang dalam mimpinya setiap malam. Ia pun selalu terbangun dari tidurnya sambil menangis.

Akan tetapi, malam ini dia tidak bisa tidur karena kegirangan. Semua itu karena emosi yang tidak biasa, seperti rasa gugup dan malu.

Alasan dia tidak bisa tidur adalah karena akan pergi keluar bersama lawan jenis. Jika itu Pandora beberapa waktu lalu, dia pasti akan menertawakannya.

Tentu saja, saat ini Putri Lula dan Hana sedang ditawan, dan mereka akan dieksekusi lusa. Dia sangat sadar bahwa ini bukanlah saatnya melakukan hal yang tidak ada gunanya.

Namun, izinkan dia melakukan sesukanya khusus untuk besok. Sebab, lusa nanti, Pandora akan mati.

Dalam rencana lusa, pengaturannya adalah Pandora dan rombongannya akan menyelamatkan mereka berdua saat Heine menyerang Neptune. Tapi, Pandora sangat mengetahui kelicikan dan kekuatan mereka.

Terutama Neptune, dia kuat sampai pada tahap yang membuat putus asa. Bisa dipastikan bahwa ras manusia tidak akan pernah bisa melawannya.

Secara logika, tidak mungkin manusia seperti Heine bisa menang melawan Neptune, dan tidak mungkin juga dia bisa melarikan diri. Hal ini juga telah diakui oleh Heine sendiri.

Meski begitu, dia sama sekali tidak berniat menjadi putus asa dan melakukan serangan bunuh diri yang sembrono lusa nanti. Ia juga sama sekali tak berniat membiarkan Heine mati sia-sia.

Pandora memiliki kartu as.

Kartu as itu adalah sihir putih milik Pandora yang dibangkitkan oleh Heine. Berdasarkan hasil uji coba berbagai sihir di waktu luangnya sejak saat itu, sihir putih tersebut memperkuat efek sihir penyembuhan dan pertahanan secara drastis.

Tidak, kata 'memperkuat' sudah berbeda dimensi. Lagi pula, kekuatan itu bahkan bisa membengkokkan ruang itu sendiri.

Bahkan sihir dasar untuk membuat perisai transparan fisik saja mengalami perubahan efek yang luar biasa. Jika dia merapal sihir pertahanan terkuat yang dimilikinya—Holy Silence—dengan menggunakan sihir putih, dia pasti mampu menahan serangan Neptune sekalipun.

Namun, ada dua masalah dalam menggunakan Holy Silence dengan sihir putih ini.

Pertama, sihir yang menggunakan kekuatan magis putih ini sangat menguras Mana.

Kemungkinan besar, jika dia menggunakan Holy Silence sekali saja, Mana miliknya akan terkuras habis dan dia tidak akan bisa bergerak lagi.

Kedua, sihir pertahanan dan penyembuhan dari kekuatan magis putih itu sama sekali tidak berdampak pada dirinya sendiri. Dia rasa ini adalah semacam batasan bawaan yang ada pada sihir putih tersebut.

Karena itu, Pandora akan menggunakan sihir ini lusa untuk melindungi Putri Lula, Hana, Heine, dan Ruth. Sisanya, Heine pasti bisa melarikan diri dengan lancar.

Pada saat yang sama, Pandora yang tak terlindungi akan ditangkap dan dihabisi oleh mereka.

Itulah sebabnya, besok adalah hari terakhir dalam hidup Pandora. Hal yang Pandora pilih pada hari yang berharga itu bukanlah berdoa kepada Tuhan, atau pun meratapi nasib dengan pesimis.

Dia memilih untuk menghabiskan waktu bersama Heine.

Malam yang panjang pun berganti fajar, menandakan hari libur terakhir Pandora.

Pintu kamarnya di penginapan diketuk. Saat dia membukanya, Heine berdiri di depan pintu.

Hanya dengan melihat sosoknya saja, hatinya terasa sesak, lalu dia merasakan kehangatan yang nyaman menjalar di dadanya.

"Ayo kita pergi!"

Pandora menguatkan tekadnya, lalu menggenggam tangan kanan Heine dan mulai berjalan.

"O-oi!"

Mendengar suara Heine yang terdengar terkejut, rasa malunya meluap hingga ia sadar wajahnya memerah.

Untuk menyembunyikan wajahnya yang memalukan itu, Pandora berjalan keluar penginapan sambil menundukkan kepala.

Ia mengelilingi ibukota sambil bergandengan tangan dengan Heine.

Ibukota Kadipaten Dux masih belum terkena dampak pelaksanaan keadilan yang menyimpang dari Neptune, sehingga kota itu penuh dengan semangat kehidupan.

Mereka berjalan-jalan sambil membeli dan menyantap makanan dari kedai-kedai di sepanjang jalan utama ibu kota yang ramai. Ia juga menonton pertunjukan kelompok akrobat di alun-alun bersama Heine.

Waktu yang terasa seperti mimpi berlalu dalam sekejap, dan kini matahari telah berubah oranye serta mulai terbenam.

Waktu sebagai putri dari kisah kepahlawanan yang dulu sering ia bacakan untuk adiknya telah berakhir.

Kini, kenyataan kematian yang tak terhindarkan menantinya.

Saat mereka tiba di depan Magic General Shop,

"Heine, bisakah kamu menungguku sebentar di sini?"

Ia menyampaikan permintaannya pada Heine.

"Ya, aku mengerti."

Setelah melihat Heine mengangguk, ia masuk ke dalam toko.

Benar saja, ada papan tanda dengan lambang kurir yang terpajang di toko itu. Dari sini, dia bisa mengirimkan surat.

Pandora bermaksud mengirimkan sepucuk surat ke Festa.

Itu adalah surat yang berisi perasaannya yang paling jujur saat ini. Tentu saja, jika dia mengirimkannya begitu saja, surat itu tak akan pernah sampai karena disensor oleh Kadipaten Dux.

Terlebih lagi, Festa pasti belum diakui sebagai tujuan pengiriman yang sah.

Oleh karena itu, ia membubuhkan sihir penyembunyi yang menggunakan kekuatan sihir biru dengan efek pendorong yang kuat pada surat itu. Dengan begini, surat tersebut akan dikirimkan kepada Putri Louise dari Kerajaan Amelia yang saat ini berada di Babel.

Putri Louise adalah orang yang menawarkan perjanjian kepada Pandora melalui ajudannya, Isaac. Jika itu Putri Louise, dia pasti akan menyampaikan surat ini ke Festa.

Lagipula, Kadipaten Dux tak akan bisa dengan mudah menahan surat yang ditujukan untuk seorang anggota keluarga kerajaan, dan mereka pun tak punya alasan untuk melakukannya. Pasalnya, isi surat yang terlihat hanyalah sapaan musim panas biasa.

Lalu, ketika surat itu tiba di tangan Putri Louise, efek sihirnya akan menghilang dan tulisan aslinya akan muncul.

"Tolong antarkan surat ini ke alamat di Babel."

"Baiklah."

Saat ia memintanya, pegawai toko itu menerimanya dengan senyuman.

Dengan ini, Pandora telah melakukan semua tindakan yang bisa ia perbuat. Sisanya, ia hanya bisa menyerahkan nasib pada kehendak langit.

"Heine, terima kasih untuk hari ini! Sangat menyenangkan!"

Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyampaikan kata-kata yang tulus dari lubuk hatinya kepada Heine.

"Pandora, kamu ... tidak, bukan apa-apa."

Tumben sekali Heine ragu-ragu untuk berbicara.

Mengingat sifat Heine yang peka, dia mungkin sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Pandora besok.

Terima kasih.

Kepada Heine yang tetap percaya dan tidak mengatakan apa-apa, Pandora sekali lagi mengucapkan terima kasih di dalam hatinya, lalu berbalik dan berlari kecil masuk ke penginapan.

Begitu masuk ke kamarnya, dia langsung merebahkan diri di tempat tidur.

Besok, hidup Pandora akan berakhir. Hal itu seharusnya sangat menakutkan, tetapi hatinya justru dipenuhi oleh perasaan yang hangat dan lembut.

"Ikaros, akhirnya besok aku akan menyusulmu."

Jika dipikir-pikir lagi, sejak hari dia kehilangan Ikaros, Pandora terus berlari di dalam kegelapan. Namun, sekarang dia akhirnya bisa keluar menuju cahaya.

"Heine ...."

Di tengah kesadarannya yang kian memudar, sembari menggumamkan nama pria yang sangat dicintainya, Pandora kembali mengingat kehangatan bahagia di tangan kanannya yang ia rasakan sepanjang hari ini.

◇◆◇

Kisah ini mundur ke beberapa hari sebelum Pandora dan rombongannya mengunjungi ibukota Kadipaten Dux.

Di sebuah rumah tua di pinggiran ibu kota Kadipaten Dux, belasan orang berpenampilan lusuh layaknya pengemis tampak berkumpul.

Di salah satu kursi meja bundar besar itu, duduk seorang pria paruh baya dengan kumis yang rapi. Pria itu melipat tangannya dengan wajah yang luar biasa serius.

Pakaian pria itu compang-camping dan sobek di sana-sini. Kulit di sekujur tubuhnya pun dipenuhi lumpur dan debu, tetapi dari sorot mata serta gerak-geriknya, masih terlihat semacam keanggunan.

Meski sedang menyamar, dialah sang Duke Kadipaten Dux, Ludens val Dux itu sendiri.

"Yang Mulia Duke, apakah Anda benar-benar berniat membiarkan Tuan Putri mati begitu saja!"

Seorang pria bertubuh besar dan kekar yang duduk di meja bundar itu berdiri dan berteriak kepada Duke Ludens.

"Komandan, suaramu terlalu keras!"

"Kamu tidak sopan pada Yang Mulia Duke!"

Mendengar suara kecaman dari orang-orang lain yang semeja dengannya, pembuluh darah di pelipisnya semakin menonjol.

"Tidak sopan!? Apa ini saat yang tepat untuk mengatakan hal seperti itu! Aku berani sumpah, jika Tuan Putri dieksekusi, Tuan Notka dipastikan akan menjadi penerus takhta! Jika itu terjadi, negara ini secara harfiah akan berakhir!"

Dia kembali meninggikan suaranya.

"Tuan muda bodoh itu, ya ... dia memang tak punya kapasitas untuk mengurus urusan negara. Jika dia menjadi Duke, maka hanya masa depan di mana orang bodoh seperti Gorongo yang merajalela yang menanti kita."

Pria tua berambut putih yang menjabat sebagai Perdana Menteri saat ini menyuarakan pendapatnya sembari menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

"Ya, jika Tuan Notka yang merupakan perwujudan diskriminasi itu menjadi Duke, menjalin hubungan diplomatik dengan Festa hanyalah mimpi di siang bolong. Kita akan dikuras habis-habisan sampai ke tulang oleh dewa itu, dan hanya akan menjadi negara yang perlahan menunggu kematiannya."

Salah satu menteri memaksakan kata-kata itu keluar dengan ekspresi getir.

"Festa, negara para monster dan ras iblis, ya ... negara super besar yang juga menaungi Raja Iblis Kegelapan Ashmedia, dan bahkan telah menyerap Negara Kabut. Terlebih rajanya adalah Gilbert loth Amelia, yang terkenal sebagai Pangeran Bodoh."

"Bagi mereka yang mengenal dirinya di masa lalu, hal itu terdengar seperti lelucon semata."

Menanggapi gumaman Perdana Menteri yang terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri itu,

"Setelah upacara Festa, orang yang bersikeras bahwa kita harus meminta bantuan dari Festa adalah Anda, Yang Mulia Duke. Bolehkah kami mendengarkan isi hati Anda?"

Pria besar nan kuat yang merupakan Komandan Ksatria Pengawal Kadipaten Dux bertanya pada Ludens dengan nada yang tidak menerima penolakan.

"Pangeran Gilbert benar-benar memiliki kapasitas seorang raja. Bukan raja boneka sepertiku, bukan pula pahlawan yang tenggelam dalam kebencian, dia adalah raja sejati. Mungkin semua orang yang menghadiri upacara itu juga memiliki penilaian yang sama."

"Namun, saat aku menemuinya di acara sosial beberapa tahun lalu, dia pastinya adalah pangeran naif yang tak jauh berbeda dari putra bodohku. Karena dia terlalu berbeda dengan masa lalunya, aku bertanya kepada Perdana Menteri Kerajaan Amelia saat ini, Johannes Roosevelt. Lalu dia ...."

Duke Ludens memutus kata-katanya di situ. Pria itu memejamkan mata dan bungkam.

"Yang Mulia, tolong jangan berbelit-belit dalam situasi seperti ini! Apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Johannes!?"

Mendengar kemarahan Komandan Ksatria yang bisa dibilang tidak sopan itu, para menteri yang biasanya akan menegurnya pun tetap terdiam dan mengawasi jalannya perbincangan.

"Aku tak berniat berbelit-belit. Aku hanya khawatir apakah kalian akan memercayainya jika aku mengungkapkan kebenaran ini sekarang."

"Apa fakta tersebut!?"

Melihat sang Komandan Ksatria yang mencondongkan tubuhnya, Duke Ludens tersenyum getir, lalu berkata.

"Fakta bahwa sosok yang mengubah Pangeran Gilbert dan menciptakan negara adidaya Festa itu adalah Royal Guard milik Putri Rosemary, Kai Heineman."

Ia mengucapkan setiap kata dengan perlahan. Dalam sekejap, ruangan itu dipenuhi dengan suara keributan yang terdengar layaknya pepohonan yang bergoyang di hutan.

"Kai Heineman, aku pernah mendengar selentingan tentang dirinya. Bukankah dia adalah pengkhianat terbesar yang ditinggalkan oleh Dewa Perang Suci, yang dijuluki sebagai 'orang paling tak kompeten di dunia'?"

"Pemilik Gift tak berguna seperti itu menggabungkan dua negara iblis? Apalagi sampai bisa menaklukkan Ashmedia? Itu sangat tidak mungkin."

"Mengapa Perdana Menteri Johannes mengatakan hal semacam itu? Mungkinkah itu semacam rencana busuk untuk melawan kita?"

Menanggapi ucapan keraguan dan penyangkalan yang datang bertubi-tubi, Duke Ludens menghela napas panjang.

"Karena itulah aku ragu untuk mengatakannya pada kalian. Jadi, bagaimana sekarang? Apa kalian akan menganggap Kai Heineman sebagai eksistensi yang tidak penting dan membatalkan kerja sama dengan Festa?"

Ludens melihat ke sekeliling ruangan dan menanyakan pendapat mereka.

Sesaat kemudian, ruangan itu menjadi sunyi senyap oleh pertanyaan yang bahkan mengandung kemarahan dari sang Duke.

"Gift adalah berkah yang diberikan oleh Dewa Perang Suci, dan orang yang tidak punya kemampuan adalah bukti dari pengkhianat terbesar ... ya. Kuku ... itu pemikiran yang benar-benar konyol dan bodoh ...."

Suara seorang menteri berkumis tebal yang tertawa mencela diri sendiri bergema di dalam ruangan.

"Menteri Dalam Negeri, apanya yang konyol dan bodoh!?"

Menteri yang ucapannya disangkal itu menanyakan maksud tawa rekannya dengan nada jengkel.

"Hah! Negara kita saat ini sedang diobrak-abrik dan berada dalam krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya karena monster yang mengaku sebagai dewa dengan eksistensi di atas Dewa Perang Suci itu!"

"Dengan kata lain, dasar keyakinan kita telah hancur lebur! Apa kalian masih ingin memercayai akal sehat yang diajarkan oleh Dewa Perang Suci itu sekarang!?"

Menteri Dalam Negeri berseru dengan nada mengancam.

Di saat semua orang menunjukkan ekspresi seolah-olah baru saja menelan pil pahit,

"Dengan ini tak ada lagi yang kusembunyikan. Jika Kai Heineman adalah sosok yang mengubah Pangeran Gilbert yang kekanak-kanakan itu hingga sejauh itu, kurasa dia pantas untuk dipertaruhkan. Bagaimana pendapat kalian semua?"

Duke Ludens meminta pendapat dari para menteri yang hadir di sana dengan ekspresi khusyuk.

"Saya setuju! Toh, bagaimanapun juga negara kita tak akan bisa lepas dari Neptune jika terus begini! Lalu, di bawah kendalinya, kita akan menjadi negara terburuk di mana orang bodoh seperti Tuan Notka dan Gorongo merajalela!"

"Itu sama saja dengan kehancuran negara! Meski kemungkinannya sangat kecil, itu jauh lebih baik ketimbang tidak ada harapan di masa depan sama sekali! Saya akan bertaruh pada Kai Heineman!"

Komandan Ksatria berdiri dan mengutarakan pendapatnya.

"Begitu, ya. Aku juga akan bertaruh pada Kai. Aku sangat tertarik melihat seberapa hebat bocah penakut itu telah tumbuh dewasa."

Menanggapi gumaman dari Perdana Menteri yang sedari tadi terus merenung sejak nama Kai Heineman disebut,

"Tunggu dulu, Kakek kenal dengan Kai Heineman!?"

Wajah Duke Ludens berubah pucat saat ia mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Ketika aku masih muda, aku pernah bertarung di garis depan bersama Elm sebagai penyihir dalam Perang Iblis Besar. Belasan tahun yang lalu, saat Elm datang berkunjung untuk menyombongkan cucunya, aku pernah bertemu dengan Kai sekali."

"Yah, aku tak pernah bermimpi kalau bocah dari masa itu akan menjadi pria yang mendominasi ras iblis."

Semua orang di ruangan itu ternganga melihat Perdana Menteri yang tertawa renyah sambil menggaruk kepalanya. Kemudian—

"Bukan, bukan! Tuan Perdana Menteri, kenapa Anda tiba-tiba membuat pengakuan seperti itu!"

"Itu baru pertama kalinya saya dengar! Lebih tepatnya, Perdana Menteri ada di Party yang sama dengan Sword Saint Elm!?"

"Jadi, Kai Heineman adalah cucu dari Sword Saint Elm itu!?"

Mendengar para menteri yang mulai mengobrol sesuka hati mereka,

"Hei, berisik sekali!"

Saat Duke Ludens berteriak dengan marah, keributan itu pun langsung berhenti.

"Kakek, jika kau kenal dengan Kai Heineman, aku sangat memohon bantuanmu untuk menjadi perantara! Aku, tidak, negara ini sama sekali tidak boleh kehilangan Lula!"

Begitu Ludens berseru dengan suara keras,

"Akan saya laksanakan."

Perdana Menteri meletakkan tangan kanannya di dada lalu membungkuk sedikit.

"Kalian semua tidak keberatan dengan ini, kan!?"

Ludens melihat ke sekeliling pada orang-orang di meja itu, lalu berteriak dengan nada yang tidak menerima penolakan. Semuanya pun mengangguk setuju dalam diam.

"Sepertinya pembicaraan kalian sudah selesai."

Perhatian semua orang seketika terpusat pada suara wanita yang berasal dari sudut ruangan.

Di sana, berdiri seorang gadis berambut merah dengan sepasang sayap putih bersih, dan bertolak pinggang.

"S-siapa kamu!?"

Komandan Ksatria segera berdiri di depan Ludens lalu mencabut pedang besar di pinggangnya. Ia merendahkan pusat gravitasinya sembari bersiaga menatap gadis berambut merah itu, lalu berteriak lantang.

"Aku? Aku adalah bawahan pertama Tuan Ares dan orang yang berada di kursi terbawah dari Aliansi Dewi yang mulia. Dan aku adalah utusan yang diberi tugas sebagai pembawa pesan dari orang yang paling agung di dunia ini, Ramiel!"

Gadis berambut merah itu membusungkan dada dengan bangga dan mengumumkan namanya dengan suara lantang.

"Ares ...? Apakah yang Anda maksud adalah Dewa Perang Suci Ares ...?"

Menanggapi Ludens yang bertanya dengan takut-takut, raut wajahnya seketika berubah menjadi tidak senang.

"Memangnya terdengar seperti siapa lagi!? Tuan Ares itu tunangan dari orang yang agung! Jangan sembarangan memanggil nama Tuan Ares! Sangat tidak sopan!"

Gadis itu melontarkan kata-kata yang tidak masuk akal. Tiba-tiba saja, Mana merah menyala yang bagaikan arus deras memancar dari gadis berambut merah itu, memenuhi seluruh ruangan.

Terhantam tekanan yang bahkan membuat mereka kesulitan untuk sekadar bernapas, Ludens beranjak lalu berlutut. Semua orang di ruangan itu bisa merasakan secara langsung bahwa gadis di hadapan mereka ini bukan sekadar monster atau roh biasa.

"K-kami mohon maaf atas ketidaksopanan kami!"

Para pejabat tinggi lainnya juga bangkit seperti pegas dan berlutut serempak.

"Ramiel, apa maksud ucapanmu barusan, hm?"

Di belakang gadis berambut merah bernama Ramiel itu, muncul seorang wanita cantik bertubuh tinggi. Wanita berambut perak panjang berponi rata itu menutup matanya.

Gadis itu menempelkan kedua tinjunya ke pelipis Ramiel dan menekan kuat-kuat sambil melontarkan teguran.

"Kak Juno ... saakitt."

Melihat Ramiel yang merengek pelan dengan mata berkaca-kaca, semua orang di ruangan itu saling berpandangan dengan bingung.

"Tolong lupakan saja apa yang dikatakan anak ini. Itu semua hanyalah omong kosong dan khayalannya saja."

Wanita cantik berambut perak bernama Juno itu menjepit ujung rok gaunnya yang berenda dan membungkuk dengan elegan.

"B-baik ...."

Dihadapkan pada situasi tidak wajar di mana gadis berambut merah yang tadinya ganas seperti binatang buas tiba-tiba menjadi jinak, Ludens yang pikirannya sangat kacau menjawab dengan setengah hati.

Juno berdeham untuk menata ulang pembicaraan, lalu seketika mengubah suasananya.

"Junjungan kami yang tercinta tak akan menyelamatkan mereka yang tak mau berjuang! Ini adalah ujian yang diberikan Junjungan kami kepada kalian! Tampilkanlah kemampuan kalian di pertunjukan yang akan digelar tiga hari lagi!"

"Kami akan memberikan kalian kekuatan untuk melakukannya! Ini adalah konsensus dari Aliansi Dewi!"

Berbeda 180 derajat dengan tingkah lakunya yang elegan sebelumnya, wanita itu bertolak pinggang dengan tangan kirinya sembari menjulurkan tangan kanannya ke depan.

Ia menyuarakan deklarasi yang teramat buruk itu dengan nada serius.

"P-pertunjukan tiga hari lagi?"

Kepada Ludens yang bertanya dengan ragu-ragu sambil gemetar,

"Tidak ada pilihan bagi kalian. Hasilnya hanya akan ada dari perjuangan kalian sendiri."

Juno menjawab hal itu sembari menjentikkan jarinya.

Pemandangan di sekeliling mereka terdistorsi. Detik berikutnya, Ludens dan yang lainnya sudah berdiri di sebuah gurun berwarna merah kecokelatan.

Di tempat itu, sudah ada para monster yang berdiri dengan raut wajah gelisah.

"M-monster!?"

"Manusia!?"

Mereka langsung menjaga jarak, mengambil senjata, dan saling mengintimidasi.

"Yang Mulia Duke, tolong mundur! Biar saya—!"

Komandan Ksatria maju untuk melindungi Ludens sembari memegang pedang besarnya.

"Tampaknya kalian cukup bersemangat! Hmm, di luar dugaan, sepertinya kalian pantas untuk dilatih!"

Mendengar suara lantang nan serak yang menghujani mereka dibarengi dengan tawa keras yang dipenuhi kegirangan, mereka merasakan ketakutan yang membuat bulu kuduk di sekujur tubuh merinding. Semua orang yang ada di sana seketika menoleh ke arah sumber suara tersebut. Kemudian—

"Hiiie!?"

Saat melihat monster raksasa berhidung panjang yang sedang bertolak pinggang, tanpa terkecuali mereka semua menjerit dan berlarian panik.

"Girimehkala, bolehkah aku menitipkan pelatihan mereka kepada faksimu?"

Menanggapi permintaan Juno,

"Tentu saja. Jika itu adalah kehendak Junjungan agung kami! Hei, kalian!"

Monster itu berteriak keras hingga menggema ke sekeliling sambil membunyikan buku-buku jarinya.

"Ooooooh!"

Raungan yang menggetarkan udara pun menggema, dan monster-monster aneh mulai muncul satu per satu.

Mulai dari Ludens dan anggota Kadipaten Dux, bukan, bahkan para monster yang ada di tempat itu tanpa ragu memahaminya lewat insting mereka. Kejahatan yang luar biasa kuat ini.

Sekali lihat saja, mereka langsung paham. Bahwa monster-monster ini, masing-masing dari mereka adalah monster yang berada di luar hukum logika dunia ini, dan mereka adalah kebalikan dari kebaikan dan keadilan.

Di tengah situasi yang dikelilingi oleh monster jahat tulen itu,

"Hei kalian, siapakah kami!?"

Girimehkala, monster berhidung panjang itu melontarkan pertanyaan yang bahkan sampai menimbulkan hembusan angin yang dahsyat.

"Kami adalah orang-orang yang berjalan dengan bangga di jalan kejahatan yang diajarkan oleh Junjungan tertinggi kami!"

Makhluk-makhluk di sebelah kanan langsung menjawabnya serempak.

"Bagaimana cara kita untuk mencapai puncak jalan kejahatan itu!?"

Mendengar pertanyaan Girimehkala,

"Melalui keyakinan yang menentang dan terlepas dari nalar kejahatan!"

Makhluk-makhluk di sebelah kiri langsung menjawabnya seketika.

Rombongan Girimehkala seketika menatap lekat-lekat pada rombongan Ludens dan para monster.

"Wahai serangga yang merayap di tanah! Kami akan menugaskan sebuah pelatihan super khusus yang disebut dengan siksaan dan penderitaan kepada kalian!"

"Tunjukkan jiwa panas dan tekad kuat kalian pada Junjungan tertinggi kami pada hari pertunjukan takdir tiga hari dari sekarang!"

Ia berteriak begitu keras sampai serasa mampu merobek gendang telinga.

"T-tolong kasihani kami!"

Semuanya serba putus asa. Mewakili tempat itu, Ludens dengan mati-matian mengucapkan kata-kata yang mendesak Girimehkala dan rekan-rekannya untuk mengubah pikiran, demi menghindari situasi gila ini.

Namun—

"Norn! Perpanjang waktunya sampai batas maksimal selama tiga hari mulai sekarang!"

"Siap laksanakan!"

Gadis berusia dua belas atau tiga belas tahun yang hampir seluruh wajahnya tertutup rambut putih yang membalas dengan suara manis itu adalah Norn. Entah sejak kapan dia sudah muncul di langit.

"T-tunggu sebentar, Girimehkala, apa tak apa melakukan hal nekat seperti itu?"

Mendengar perkataan Juno yang bernada gelisah itu, Girimehkala menarik sudut bibirnya hingga mencapai telinga.

"Aku sudah cukup paham batasan mental manusia lewat pelatihanku pada Somni dan Tetru! Tidak masalah untuk sedikit berbuat nekat selama tiga hari!"

"Lagipula, meski mereka hancur, Satori bisa memperbaiki mereka berapa kali pun!"

Girimehkala menatap ke langit lalu menjawabnya dengan nada riang.

"Sedikit nekat, ya ... rasanya tidak ada kata yang lebih terdengar bohong ketimbang kata itu. Yah, tak ada masalah pada rencana kita, jadi kurasa tak apa ...."

"Kalau begitu, aku serahkan padamu, Girimehkala."

Sembari memandang Ludens dan para monster dengan raut wajah iba, ia menjawabnya dengan sungguh-sungguh lalu menghilangkan diri. Pada saat yang sama, sosok gadis berambut putih tadi juga ikut menghilang.

Sambil memamerkan senyuman jahat dan menatap Ludens beserta para monster dari atas, Girimehkala mulai berkata,

"Ayo, semuanya! Yang pertama adalah memperbaiki mentalitas pecundang pelit mereka yang suka bergantung pada orang lain! Ujian macam apa yang cocok untuk mereka!?"

Girimehkala meneriakkan kata-kata yang tak lebih dari sekadar mimpi buruk bagi Ludens dan rombongannya.

"T-tunggu dulu!"

Namun suara memelas Ludens itu dengan mudahnya tenggelam oleh lautan sorak-sorai monster lain yang menggema seperti gelombang tsunami.

—Itulah momen di mana para petinggi Kadipaten Dux dan para monster yang diculik oleh Kadipaten tersebut, bergandengan tangan, atau lebih tepatnya dipaksa bergandengan tangan, memulai perjalanan neraka mereka menuju ujian sekali seumur hidup.

◇◆◇

—Di dalam Ruang Singgasana istana Kadipaten Dux. Di antara dua barisan orang-orang berjubah merah bertopi dengan tato sabit dan tengkorak,

"Rombongan Ludens telah menghilang."

Pria gemuk dengan rambut dipotong gaya bob, memakai jubah merah dengan tato angka tiga yang terukir di mulutnya, Drei, memberikan laporannya pada sang pemuda jangkung yang duduk bersandar angkuh di atas singgasana sambil mengenakan penutup mata tiga lubang, Neptune.

"Jadi mereka kabur meninggalkan tanggung jawab untuk melindungi negara! Benar-benar orang yang tak punya setitik pun kebenaran di hatinya! Sampah seperti mereka tak pantas untuk hidup! Segera setelah kalian menemukannya, habisi mereka!"

Menanggapi Neptune yang memberikan instruksi dengan nada membuang ludah,

"Kalau begitu, Drei, kamu yang bergerak untuk membereskan rombongan Ludens, ssho."

Pria berambut dan berjanggut merah yang memakai masker, Ein, yang memiliki tato angka 'satu' terukir di pipinya, segera memberikan instruksi kepada Drei.

"Aku sih tidak masalah. Tapi, kalau aku pergi memburu mereka, tidak akan ada yang mengawal tuan muda bodoh itu."

"Kalau dia dibunuh di saat seperti ini, bukankah keadaannya akan jadi gawat?"

"Pengawalan Notka biar Zwei saja yang urus, ssho. Baru saja ada panggilan telepati darinya yang bilang kalau pembuangan monster sudah selesai semua."

"Pembuangan, ya. Paling-paling dia cuma melakukan permainan seperti biasanya."

"Mungkin saja, ssho. Lagipula, Zwei sepertinya akan kembali ke ibu kota sebelum hari eksekusi Lula, jadi sampai saat itu tiba, aku yang akan mengambil alih tugas pengawalan Notka, ssho!"

"Aku mengerti. Kalau begitu, Tuan Neptune, aku akan pergi memburu rombongan Ludens yang melarikan diri."

Drei berseru sembari berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepalanya.

"Cepat pergi! Dan bawa kepala Ludens ke hadapanku! Sekarang juga!"

Sembari memelototinya dari atas singgasana, Neptune memberikan perintah tegas kepada Drei.

"Sesuai perintah Anda! Pasti akan saya laksanakan!"

Setelah berteriak seperti itu, Drei berdiri, membungkuk kepada Neptune, lalu melangkah keluar dari ruangan.

"Bagaimana dengan eksekusi besok?"

"Berjalan lancar tanpa hambatan. Kami akan mempersembahkan pertunjukan yang luar biasa untuk Tuan Neptune kita, ssho! Ihihihi!"

Ein memberikan laporannya sembari memamerkan senyuman yang mengerikan.

"Sudah sepantasnya! Kalau gagal, kau akan mencoreng namaku! Jika itu terjadi, aku akan membunuhmu, Ein!"

Mendengar seruan keras Neptune, orang-orang berjubah merah yang hadir di sana pun gemetaran.

"Sesuka hati Anda."

Tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, Ein meletakkan tangan kanannya di dada dan membungkuk dengan penuh hormat.

"Ya sudahlah. Lalu, bagaimana dengan pembangunan patung emas Tuan Poseidon?"

Neptune bertanya dengan nada datar kepada pria berjubah merah yang meringkuk gemetaran di ujung barisan.

"M-mohon maaf yang sebesar-besarnya! Kami sedang mempercepat pembangunannya, jadi mohon tunggu sebentar la—"

"Lambat!"

"Gih!"

Bersamaan dengan bentakan penuh amarah itu, sebuah garis merah menyala melintang di leher pria berjubah merah yang sedang melapor dengan hormat, dan kepalanya pun jatuh tergelincir.

Tubuh tanpa kepala itu memuncratkan darah segar saat jatuh tersungkur ke atas karpet merah.

"Kenapa bisa selambat ini!?"

"C-cadangan emas negara ini tidak cukup, dan kami kesulitan mengumpulkan emas dari manusia di negara lain ... gueh?"

Seluruh tubuh pria paruh baya yang berada di sebelah pria berjubah merah yang tewas itu bergejolak, lalu meledak ke segala arah usai memberikan jawaban tersebut.

"Emasnya tidak cukup!? Rencana awalnya adalah patung Orichalcum! Aku memberimu pengecualian khusus untuk menggunakan emas karena alasan bahan yang tidak tersedia!"

"Kalau emasnya tidak cukup, serang tempat lain dan dapatkan emasnya!"

"B-baik! Pasti akan kami lakukan!"

Seorang wanita berjubah merah yang juga bertanggung jawab atas pembangunan patung emas Poseidon berseru dengan suara yang melengking karena ketakutan.

"Bulan depan, Tuan Poseidon akan mengunjungi tempat ini! Kita harus membuktikan betapa makhluk-makhluk rendahan di tempat ini berjalan di jalan yang benar di bawah bimbingan Neptune yang benar!"

"Rakyat di negara ini rela membuang sedikit harta benda mereka demi menciptakan wujud Tuan Poseidon yang bersinar keemasan. Itulah bentuk ideal yang seharusnya ada dari negara ini!"

Neptune berseru lantang.

"Itu sangat benar! Tuan Neptune, manusia dari Guild Hunter yang baru kutemukan baru-baru ini pasti bisa mewujudkan sosok gagah Tuan Poseidon, ssho!"

Ein melangkah maju dan memberikan saran sembari meletakkan tangan kanannya di dada.

"Apa ucapanmu itu benar?"

Neptune bangkit dari singgasana dan memunculkan trisula di tangan kanannya. Ia mengarahkan ujung tajamnya tepat ke depan hidung Ein yang tampak sama sekali tidak tegang, lalu menatapnya tajam dan menuntut jawaban.

"Tentu saja. Lebih tepatnya, patungnya baru saja selesai di alun-alun pusat kota, ssho!"

Saat Ein menjentikkan jarinya, pemandangan alun-alun ibu kota pun diproyeksikan. Di alun-alun itu, tampak sebuah patung emas raksasa Poseidon yang sedang memegang tombak dan berpose gagah.

"Kerja bagus, Ein! Luar biasa! Inilah sosok Tuan Poseidon! Bawa manusia dari Guild Hunter itu kemari! Aku akan memberinya hadiah!"

"Sudah kuduga Anda akan berkata begitu. Silakan masuk."

Sekali lagi Ein menjentikkan jarinya, dan seorang pria berpenampilan lembut yang jangkung, ramping, dengan rambut belah pinggir pun masuk ke dalam ruangan.

"Tuan Neptune, nama saya adalah Kepala Cabang dari Cabang Borero, Reito Genghis Khan. Salam kenal."

"Hah! Aku akan memberimu kehormatan untuk berjalan di jalan yang benar bersama kami! Gemetarlah dalam kegembiraan!"

Menanggapi ucapan Neptune yang sangat angkuh dan sombong itu,

"Ini adalah sebuah kehormatan!"

Reito menundukkan kepalanya dengan anggun, masih dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.

"Ein, aku menantikan acaramu besok!"

Neptune yang suasana hatinya seketika berubah menjadi baik, melontarkan kata-kata pujian kepada Ein.

"Pertunjukan sekali seumur hidupku ini, aku pasti akan membuatnya sukses dan menunjukkannya kepada Anda!"

Ein menyatakan hal itu dengan senyum menyeramkan yang menghiasi wajahnya. Wajah Ein itu dipenuhi oleh hasrat jahat yang sangat bertolak belakang dengan kebenaran.

◇◆◇

Keesokan paginya, hari pelaksanaan operasi pun tiba. Sekaligus, ini merupakan hari terakhir bagi Pandora.

Sekarang pun dia masih merasa takut, dan jelas masih ada rasa enggan untuk meninggalkan dunia ini. Namun, secara mengejutkan tidak ada kepesimisan dalam dirinya.

Bahkan Pandora sendiri tak begitu paham apa alasannya. Satu hal yang bisa ia pikirkan adalah, jalan-jalannya berdua saja dengan Heine kemarin. Ia merasa bahwa hal itu entah bagaimana telah melepaskan semua beban pikirannya.

Alun-alun ibu kota telah dipenuhi oleh kerumunan warga. Sebagian besar wajah warga ibu kota diliputi oleh kesedihan yang mendalam.

Mereka sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada patung emas pria tampan yang tiba-tiba muncul dan seharusnya menarik perhatian itu. Ya, tatapan orang banyak terpusat pada seorang gadis yang diikat ke sebuah tiang besi di alun-alun.

Gadis berambut merah dengan kuncir kuda yang diikat dengan rantai ke tiang besi di tengah alun-alun. Terdapat dua tanduk kecil di dahi gadis itu, sehingga dalam sekali pandang orang bisa mengetahui bahwa ia bukan manusia murni.

Dia adalah Putri Pertama Lula val Dux.

Emosi yang terpancar jelas di mata rakyat saat melihat gadis itu, adalah rasa cemas yang teramat sangat karena nyawa sang gadis akan segera direnggut, serta kemarahan terhadap Gereja Pusat yang memimpin eksekusi ini.

Pandora menerobos gelombang orang-orang yang mengarahkan tatapan penuh kebencian kepada pihak gereja dan ksatria suci yang memimpin eksekusi, lalu mendekat hingga jaraknya hanya sejengkal dari tiang besi tempat Putri Lula ditahan.

Hana tidak ada!

Sosok Hana tidak terlihat di mana pun. Padahal, dari informasi yang dikumpulkan oleh Heine dan Ruth, tidak salah lagi bahwa mereka berniat menggunakan Hana dalam eksekusi ini.

Sembari menyadari rasa dingin yang perlahan menjalar dari ujung kakinya, ia dengan mati-matian mencari keberadaan Hana.

Sesuai rencana, saat Neptune menampakkan diri, Heine akan melancarkan serangan kepadanya.

Gift yang dimiliki Heine adalah peningkatan dan perubahan Mana miliknya secara signifikan. Peningkatan Mana memang butuh waktu tertentu, tetapi dengan mengubah Mana yang telah ditingkatkan itu, kabarnya dia bisa bergerak dan memiliki kekuatan fisik ratusan kali lipat dari biasanya.

Meski tak diberi tahu secara rinci, Heine pasti melakukannya dengan menggunakan warna Mana khusus. Dengan menggunakan sihir biru dan putih saja, Pandora mampu memicu fenomena yang tak masuk akal.

Bagi Heine yang mampu menguasai berbagai macam warna, efek sekelas kemampuan manusia super semacam itu pastilah sangat mungkin terjadi.

Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Heine akan menyerang Neptune, dan memanfaatkan kekacauan itu agar Pandora dan Ruth dapat melindungi Putri Lula dan Hana lalu melarikan diri.

Tentu saja, pada kenyataannya, Pandora akan menggunakan sihir putih miliknya untuk merapal Holy Silence pada rombongan Heine dan Ruth.

Akan tetapi, hal ini mengacu pada premis bahwa Putri Lula dan Hana ada di sana. Jika Hana tak ada di tempat ini, maka rencana tersebut akan berantakan.

Diiringi dengan suara riuh kerumunan, Uskup Gereja yang ditugaskan di Kadipaten Dux muncul sembari membawa beberapa bangsawan dan sejumlah besar Ksatria Suci.

Kemudian, setelah sang Uskup dan para Ksatria Suci yang bertindak sebagai pembuka jalan itu, muncullah sosok utama, yaitu Neptune beserta anggota Alumni yang menjadi bawahannya.

Rombongan Neptune naik ke atas podium yang terletak di ujung alun-alun. Kemudian, saat Neptune duduk di atas kursi mewah nan megah yang telah disiapkan, Uskup itu mengalihkan pandangannya pada Ein dan menundukkan kepalanya sedikit.

"Baiklah, baiklah."

Sambil tersenyum ramah dan melambaikan tangan kanannya kepada para penonton, Ein melangkah maju.

"Mulai saat ini, upacara eksekusi kanker Kadipaten Dux, sang manusia setengah monster Lula, akan dimulai, ssho!"

Rakyat memusatkan tatapan kecaman yang kuat kepada Ein, yang mendeklarasikan eksekusi itu tanpa lagi menggunakan panggilan kehormatan.

"Pertama-tama, akan ada kata sambutan perayaan terkait patung emas dan eksekusi ini dari Kepala Cabang Cabang Borero yang memelopori pembuatan patung emas Tuan Poseidon, dewa besar yang kita sembah, yaitu Tuan Reito Genghis Khan, ssho!"

Sambil melambai-lambaikan kedua tangannya, dia mengarahkan perhatian pada Reito, pria berpenampilan lembut yang tinggi, ramping, dengan rambut belah pinggir yang sedang bersiaga di samping Neptune.

Seperti dugaannya, Reito memang berkhianat. Jika begitu, muncul pertanyaan apakah pengkhianatan ini hanya terjadi di Cabang Borero saja atau tidak.

Meski Pandora tak terlalu ingin memikirkannya, ada kemungkinan bahwa seluruh Guild Hunter telah memihak pada Poseidon.

Tak ada gunanya hanya memikirkan hal-hal buruk.

Ya. Seandainya Guild Hunter memihak Poseidon sekalipun, Pandora tak yakin Putri Louise dan Shin akan ikut berpihak kepada mereka.

Jika memang begitu, masih ada yang bisa ia lakukan. Saat ini, perlindungan terhadap Hana dan Putri Lula harus menjadi prioritas utama.

Reito melangkah maju ke depan podium.

"Guild Hunter kami ada berkat Gereja Pusat. Kali ini, kami gemetar penuh rasa haru karena diberi kehormatan untuk mewujudkan sosok agung dari dewa besar Poseidon yang disembah oleh gereja tersebut."

"Saya berharap, semoga rakyat Kadipaten Dux ini juga mendapatkan berkah dari dewa yang kita percayai."

Dia melontarkan kata-kata yang seolah akan diucapkan oleh siapapun yang merupakan seorang umat yang saleh.

Kenapa ya ....

Meskipun kata-kata Reito sama sekali tidak aneh jika diucapkan oleh seorang kepala cabang dari Guild Hunter yang telah memihak Poseidon, entah mengapa Pandora merasakan kejanggalan yang sangat kuat.

Sekarang yang terpenting adalah lokasi Hana!

Tidak salah lagi bahwa Reito telah menjadi musuh. Tak ada gunanya memikirkan pergerakan musuh sekarang. Lebih dari itu, melindungi Hana harus menjadi prioritas utama.

Pasalnya, sudah hampir dipastikan bahwa Hana telah dibawa ke alun-alun ini. Saat Pandora hendak melafalkan sihir penglihatan jarak jauh untuk mulai mencari Hana—

"Berhubung salam dari Kepala Cabang Reito sudah selesai, mari kita segera mulai acara utama upacara kali ini, ssho!"

Ketika Ein menjentikkan jarinya, seorang gadis High Kobold yang matanya ditutup dan diikat ke sebatang kayu, Hana, dibawa masuk.

"―!?"

Melihat penampilannya yang begitu menyedihkan, Pandora terkejut seolah-olah disengat lebah. Wajah Hana sudah membengkak, dan memar-memar pun terlihat tersebar di sekujur tubuhnya.

A-apa yang telah mereka lakukan!

Detik berikutnya, emosi ganas nan buas memenuhi hatinya bagaikan angin topan.

Sesaat Putri Lula membelalakkan matanya melihat pemandangan mengerikan ini, lalu,

"Kalian semua!"

Ia memekik keras, kehilangan kendali atas dirinya sendiri dengan sangat hebat. Sementara para penonton kehilangan kata-kata karena melihat wujudnya yang panik itu,

"Nah, Tuan dan Nyonya, dua monster itu adalah makhluk berdosa yang mengalirkan darah iblis jahat, hidup mereka sendiri adalah sebuah dosa!"

"Ambillah batu dan hukum makhluk yang tak pantas hidup ini! Dengan begitu, dosa yang kalian tanggung sekarang akan diampuni, ssho!"

Ein melontarkan kalimat menjijikkan tersebut.

Jika itu adalah warga Enblade, markas besar Gereja Pusat yang secara spiritual telah tunduk pada keadilan Poseidon yang penuh dengan kesalahan, mereka mungkin akan patuh begitu saja.

Namun—

"...."

Tidak ada satupun yang berusaha mengambil batu. Mereka hanya mengarahkan ekspresi jijik dan amarah pada Ein dan Neptune.

Tepat ketika Neptune menyipitkan matanya karena permusuhan dari rakyat,

"Ada apa ini, apa kalian bahkan tidak bisa membasmi monster! Memang pantas menjadi rakyat bodoh yang diperintah oleh raja bodoh yang menjadikan monster sebagai permaisuri!"

"Sebagai ganti kalian rakyat jelata, aku, Pangeran Pertama Kadipaten Dux, Notka val Dux, akan memberikan contoh. Benar kan Gorongo, kalian semua juga bisa, kan?"

Pemuda berambut merah yang mengenakan pakaian mahal tapi berselera buruk, yang duduk di kursi VIP, berdiri dan menanyakan hal itu pada pemuda bangsawan gemuk yang duduk di sebelahnya.

"Tentu saja!"

"Luar biasa, Yang Mulia! Anda adalah panutan bagi kami para bangsawan!"

Gorongo dan para bangsawan tingkat tinggi lainnya menyunggingkan senyuman menyeramkan saat mereka melompat turun dari podium dan mendekati altar tempat kerikil ditumpuk.

Kemudian, mereka mengambil kerikil, membidikkan sasarannya pada gadis High Kobold, lalu bersiap melemparnya. Tepat pada saat itu—

"Para pengecut tak tahu malu! Jika berbicara tentang monster, aku juga mewarisi darah monster! Jangan lakukan itu pada gadis lemah, mulailah dariku!"

Mendengar teriakan marah Putri Lula,

"Aku yang hebat ini adalah pengecut dan tidak tahu malu?"

Kepada Notka yang menoleh ke arah sumber suara dengan wajah tersenyum,

"Kalian bahkan tidak berani menyakiti satu anak kecil jika bukan dari tempat yang aman. Orang-orang menyebut makhluk seperti itu sebagai pengecut yang lemah!"

Putri Lula melontarkan penilaian yang sangat masuk akal.

"Tuan Ein, apa aku boleh memulainya dari wanita ini?"

Sembari memperlihatkan ekspresi penuh kebencian, pembuluh darah tebal menonjol di dahi Notka saat ia meminta persetujuan Ein.

"Silakan. Lakukanlah sesuka hatimu."

Usulan Notka mungkin bukan hal yang mengejutkan. Ein menyetujuinya dengan mudah sembari memamerkan seringaian yang memuakkan.

"Fakta bahwa separuh darahku sama dengan wanita monster kotor ini adalah sesuatu yang tak bisa kutoleransi!"

Notka mengayunkan tangannya, lalu melemparkan batu dengan sekuat tenaga ke arah Putri Lula.

Batu itu menghantam bahu kiri Putri Lula dan menghasilkan suara berdebum. Setidaknya, tulang bahunya pasti patah. Rasa sakitnya pasti luar biasa.

Meskipun begitu, Putri Lula tidak menggerakkan alisnya sedikit pun, dia hanya memelototi Notka.

"A-ada apa dengan tatapanmu itu! Hei, kalian juga! Lemparkan batu ke wanita monster ini!"

Notka memberikan instruksi dengan nada keras kepada para bangsawan dan Ksatria Suci lainnya.

Mengikuti perintah majikannya, para Ksatria Suci mengambil batu dan melemparnya ke arah Putri Lula.

Meski batu-batu itu mengenai wajahnya, membuatnya bengkak, dan membuat gaun putih bersihnya ternoda merah darah karena rasa sakit yang begitu menyiksa, Putri Lula tak menjerit sedikit pun dan terus menatap Notka serta yang lainnya dengan tajam.

"Sudah kubilang, aku tidak suka tatapanmu itu!"

Dengan bahu yang naik turun karena terengah-engah, Notka kembali melemparkan batu yang membidik wajah Putri Lula.

Tepat sebelum mengenai wajah Putri Lula, batu itu ditangkap oleh seorang pemuda berambut abu-abu.

Tentu saja, ia tak akan sanggup melihat majikannya terluka lebih jauh lagi. Pandora sudah mengira Heine akan melakukan itu.

Sebaliknya, meski yang dilempari batu saat ini bukanlah majikannya, sang Putri Lula, ia yakin Heine pasti akan melakukan tindakan yang sama. Entah kenapa, Pandora sangat meyakini hal itu.

Namun, peningkatan Mana Heine masih belum cukup. Kalau tidak, Heine pasti sudah menyerang Neptune dari awal untuk mengakhiri lelucon ini.

Dengan kata lain, ini berarti rencana yang telah dirancang dengan matang oleh Pandora dan yang lainnya telah gagal.

"Siapa kamu ...."

Tatapan Putri Lula yang diarahkan pada Heine terlihat seolah mereka baru pertama kali bertemu. Kepada sang putri yang bertanya dengan tatapan kosong pada punggung Heine itu,

"Namaku Heine, orang yang datang untuk menyelamatkan Anda."

Pria itu membalas dari balik bahunya dan menyatakan kalimat itu sembari menahan emosi.

Apa maksudnya ini. Dilihat dari isi sapaannya, jelas-jelas ini adalah pertemuan pertama mereka berdua. Mungkinkah sang majikan, Putri Lula, tidak mengenal Heine yang merupakan bawahannya?

Di tengah keraguan yang silih berganti di benak Pandora,

"Kak Heine?"

Hana membuka kelopak matanya dan bertanya.

"Hana, tidak apa-apa, aku akan segera menyelamatkanmu."

Heine berteriak dengan kuat sembari menurunkan pusat gravitasinya.

"O-orang ini! Dialah yang kurang ajar padaku dan membunuh Funf!"

Gorongo berteriak nyaring sambil menunjuk ke arah Heine dengan jari telunjuknya.

"Kepung dia!"

Atas perintah dari Komandan Ksatria, para Ksatria Suci pun mengelilingi Heine.

Saat kedua tangan Heine bergerak cepat,

"Gugih!"

Kedua tangan Ksatria Suci yang memegang senjata pun terhempas. Pada saat yang sama, Heine menginjak bumi dengan kuat, menghancurkan tanah berkeping-keping hingga debunya berterbangan dan menyelimutinya.

"Bugah!"

"Gahah!"

Tak terhitung banyaknya peluru pasir yang menembus para Ksatria Suci yang mengepung secara beruntun. Darah segar pun menyembur layaknya hujan kelopak bunga.

Peluru pasir itu kemudian meluncur ke arah Ein dan pria botak kurus yang memiliki angka empat terukir di dahinya, yang masih merapatkan kedua tangannya di dekat pria itu.

"Licik sekali!"

Saat pria botak berukirkan angka empat itu membuka matanya yang putih bersih dan membentak, peluru pasir itu menguap tepat di depan matanya.

"Hei, Ein, biar aku yang mengurus orang ini. Boleh, kan?"

"Tidak kurekomendasikan sih, tapi toh meski dilarang kamu akan tetap melakukannya, ssho."

Ein bersiul sembari memutar tongkatnya di tangan kanan, lalu bergumam dengan pasrah.

"Tuan Neptune, saya mohon izinkan Viertel ini yang membereskannya."

Viertel berlutut dan meminta persetujuan kepada pria tampan yang sedang bersandar angkuh di atas kursi mewah di atas podium.

"Lakukan sesukamu. Namun, aku tak akan membiarkanmu kalah, apalagi sampai kerepotan."

"Ini adalah sebuah kehormatan."

Tepat saat ia menundukkan kepalanya, sosok Heine telah berada di belakang Viertel.

"Kamu bodoh, ya."

Kepalanya dicengkeram kuat dari belakang oleh kedua tangan Heine.

"Hare?"

Viertel mengeluarkan suara konyol bernada tinggi.

—Gokiri!

Bersamaan dengan suara patahan tulang, leher itu pun terpelintir putus. Tubuh tanpa kepala itu memuncratkan darah merah menyala ke tanah saat ambruk dengan bunyi gedebuk.

"Hoo ...."

Padahal sebelumnya dia bilang tak akan mengampuninya meski hanya kerepotan. Neptune yang dikiranya akan murka besar, hanya menopang dagu sambil memandangi Heine lekat-lekat seolah sedang menaksir kemampuannya.

"Kan sudah kubilang. Makanya kukatakan aku tak merekomendasikannya."

Ein mengarahkan ujung tongkatnya ke Heine. Kontras dengan nada bicaranya yang menantang saat berhadapan dengan Heine, raut wajahnya terlihat sangat serius.

"Ini memang melenceng dari rencana, tapi aku akan memaksakannya!"

Begitu mencabut pisaunya dari pinggang, sosok Heine langsung menghilang. Dalam sekejap, bilah pisau Heine terhenti sehelai kulit dari dahi Ein.

"Seperti yang orang itu bilang, gerakannya benar-benar berhenti, ssho!"

Kemudian, ujung tongkat Ein menusuk dalam-dalam ke ulu hati Heine, dan detik berikutnya ia diselimuti oleh cahaya biru terang. Sesaat setelahnya, ledakan yang memekakkan telinga dan angin ribut pun berhembus kencang.

"Sialan ... aku ceroboh ...."

Saat Neptune menjentikkan jarinya, kepulan debu menghilang dan sosok Heine yang berlutut dengan satu kaki sambil mengalirkan darah dari mulutnya pun terlihat.

"Kak Heine!"

Di tengah suara Hana yang menyerupai jeritan memilukan dan menggema ke seluruh alun-alun,

"Sudah kuduga, kau bergerak berdasarkan perintah rahasia dari Ratu Iblis itu, kan!"

Setelah berseru dengan angkuh seperti pemenang, Ein mengangkat boneka yang dililit kalung indah yang digenggam di tangan kirinya.

"I-itu milik Ibu!"

Putri Lula berteriak penuh keterkejutan.

Begitu rupanya. Karena Heine selalu memuji Putri Lula, Pandora mengira dia adalah bawahannya, tetapi memang benar Heine hanya menyebut dirinya sebagai ksatria dari sosok bangsawan tinggi.

Pandora berpikir, orang yang dilayani oleh Heine bukanlah Putri Lula, melainkan sang Ratu.

"Dasar bodoh. Meski punya kekuatan sehebat itu, kau malah terobsesi dengan monster rendahan. Kau bahkan tidak bisa memperhitungkan untung rugi yang masuk akal, karena itulah aku benci pada dewa tanah yang bodoh, ssho!"

Ein berseru seolah meludahi pria itu. Kata-katanya, entah mengapa, menusuk relung hati Pandora dalam-dalam.

"Bagus! Bagus sekali! Kekuatan itu sangat layak untuk kujadikan bidakku! Genggam jiwanya dan jadikan dia sebagai budak tanpa memberinya kematian atau pun kehidupan!"

Berubah total dari sikap kesalnya sebelumnya, Neptune memberikan perintah sembari melonjak kegirangan.

"Jika itu adalah kehendak Dewa kita."

Ein meletakkan tangan kanan di dadanya menghadap Neptune, membungkuk anggun, lalu kembali menoleh ke arah Heine.

"Nah, Tuan dewa tanah yang bodoh! Kau bukanlah rekanku, kau adalah budak! Aku akan mempekerjakanmu seperti kuda penarik kereta, jadi bersiaplah, ssho!"

Ein melontarkan kata-kata itu pada Heine dengan wajah yang berubah buruk rupa karena kenikmatan.

"...."

Heine berusaha mundur ke belakang untuk mengambil jarak, tetapi tiba-tiba, tubuhnya ditekan ke tanah dengan tidak wajar. Di tangan kiri Ein, tergenggam erat sebuah boneka jerami yang berlumuran darah Heine.

"Jiwamu sekarang sudah ada di tanganku. Kamu tak akan bisa lagi melukai atau melawan perintahku dan Tuan Neptune apa pun yang terjadi. Dan ini adalah sentuhan akhirnya, ssho!"

Benda yang terwujud di tangan kanannya itu tak lain adalah boneka yang dililit liontin kalung.

"Bajingan ...."

Mendengar erangan penuh kebencian dari Heine,

"Bagus sekali! Ekspresi itulah yang ingin kulihat, ssho! Pria tangguh yang jauh lebih kuat dariku, kini tak berdaya dan tunduk menjadi budak yang patuh di hadapan kemampuanku!"

"Tuan Neptune, apa aku boleh melakukan apa saja pada orang ini, ssho!?"

"Selama dia masih berguna sebagai aset pertarungan, kau bebas melakukan apa pun padanya!"

Neptune mengangguk setuju dengan suasana hati yang baik.

"Kira-kira mau kuapakan, ya. Ah, aku tahu! Pertama, aku akan menyuruhnya membunuh monster 'Hutan Ratapan' yang kita tangkap!"

"Kalau kau bawahan dari Ratu Monster itu, berarti kau punya ikatan yang kuat dengan para monster di 'Hutan Ratapan', kan?"

"Jangan-jangan kalian ...."

Menghadapi Heine yang memaksakan kata-katanya dengan ekspresi sedih,

"Ya ya, bagus karena tebakanmu tepat. Persis seperti itu, ssho! Sekarang, pasukan besar Bildarts pasti sedang menyerang 'Hutan Ratapan', ssho."

"Bahkan manusia yang tidak kompeten sekalipun harusnya bisa sekadar membasmi dan menangkap monster, ssho!"

Ein membalasnya dengan riang dan gembira.

"Sialan!"

"Jangan khawatir, aku juga memikirkan hadiah untukmu, ssho! Kalau kamu berhasil membantai monster dengan baik, aku akan mengizinkanmu memeluk Ratu pujaan hatimu itu, ssho!"

"Tentu saja, setelah para prajurit puas bersenang-senang dengannya. Atau, daripada perempuan tua seperti dia, mungkin kamu lebih suka gadis oni yang di sana itu?"

—Jangan bercanda! Aku tak akan pernah membiarkanmu melakukannya!

Melihat Ein yang berbicara dengan angkuh sambil mengangkat sudut bibirnya hingga ke telinga, ledakan emosi kuat meledak hingga membuat pandangan Pandora memutih.

Pandora sendiri benar-benar terkejut menemukan bahwa emosi seburuk dan sekuat itu terkubur dalam dirinya.

Ia menggertakkan gigi sampai gigi gerahamnya hampir hancur, menatap nyalang pada Ein, lalu mengubah Mana miliknya menjadi putih dan mulai merapal sihir panjang Holy Silence.

"...."

Di saat niat membunuh dan kemarahan yang kuat mendidih di kedalaman mata Heine,

"Ein, permalukan dewa tanah itu sepuas hatimu, dan perlihatkan dia yang menyerahkan jiwanya kepadaku!"

Neptune memberikan perintahnya pada Ein dengan raut wajah puas.

"Dimengerti, ssho! Kalau begitu, pertama-tama aku akan menyuruh mereka melempar batu ke anak anjing di sana itu yang berusaha kau lindungi!"

Ketika Ein menjentikkan jarinya, para anggota Alumni berjubah merah itu segera mengepung para warga sambil menodongkan senjata mereka.

"Kamu yang di sana, lemparkan batu ke anak anjing itu, ssho."

Ia mendekati pemuda berambut hitam yang berada di barisan terdepan, memberikan batu padanya, merangkul bahunya, lalu memberikan perintah tepat di telinganya.

"A-aku tidak bisa—"

Lehernya bengkok ke arah yang tak wajar, dan pemuda berambut hitam itu ambruk terduduk. Setelah kesunyian singkat, jeritan yang memekakkan telinga meletus.

"Berisik sekali."

Suara tanpa belas kasihan Neptune bergema. Tepat setelahnya, warga ibu kota yang berteriak itu hancur berhamburan menjadi potongan-potongan daging.

Sambil menampilkan senyum menjijikkan, Ein membagikan batu kepada rakyat yang gemetar hebat.

"Ayo, ayo, lempar, ssho! Kebenaran kalian akan terbukti dengan melempar batu ke monster."

"Hasilnya, keluarga kalian akan terselamatkan, ssho!"

Sambil menangis, semua warga secara bersamaan mengayunkan tangan, lalu melemparkan batu-batu itu ke arah Hana.

—Kumohon, bersiaplah!

Jeritan hati yang menyerupai permohonan Pandora pun terkabul, dan lantunan sihir Holy Silence miliknya selesai diucapkan.

"Holy Silence!"

Gadis itu melancarkan Holy Silence yang ditargetkan pada Heine, Hana, dan Putri Lula




.Tiba-tiba, batu yang mengarah pada Hana hancur menjadi partikel-partikel halus dan melebur ke udara.

Pada saat yang sama, tubuh Hana, Heine, dan Putri Lula memancarkan cahaya menyilaukan, dan luka-luka mereka pun sembuh seketika.

Bagus! Holy Silence juga memiliki efek meniadakan segala kondisi abnormal dari targetnya. Dengan ini, Heine bebas. Sisanya, jika itu Heine, dia pasti bisa melakukan sesuatu.

"Sihir putih? Mana mungkin ...."

Neptune mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu membuat gerakan membelah udara. Namun, serangannya buyar seiring dengan suara sesuatu yang pecah.

"B-bohong ... serangan Tuan Neptune digagalkan? S-siapa yang melakukan hal gila ini!?"

Melihat Ein yang panik untuk pertama kalinya, Pandora memaki dalam hati, "Rasakan itu."

Apakah hanya sampai di sini ....

Ia tidak bisa bergerak selangkah pun lagi. Jika ketahuan oleh mereka, Pandora yang telah dijatuhi perintah pemusnahan akan langsung dieksekusi. Padahal seharusnya begitu, namun—

Syukurlah, aku merasa lega.

Ia berhasil membalas perbuatan mereka dan menyelamatkan Putri Lula serta Hana. Lebih dari segalanya, ia bisa menyelamatkan Heine. Itulah hal yang paling membuatnya bahagia.

Sudah waktunya untuk berhenti membohongi diri sendiri. Pandora sendiri sudah menemukan jawaban atas perasaannya. Pandora sangat menyukai Heine. Ya, bahkan lebih dari dirinya sendiri. Pasti, inikah yang dinamakan cinta pertama.

Di tengah kesadarannya yang mulai kabur, saat dia tak lagi bisa berdiri dan jatuh terduduk di tanah,

"Di sana rupanya!"

Neptune mengaum dan membuat gerakan seolah menangkap sesuatu di udara dengan tangan kanannya, dan tubuh Pandora pun melayang ke udara.

Tatapan semua orang di alun-alun terpusat padanya.

"Pandora!? Jangan-jangan orang ini adalah Singularitas!"

Neptune memamerkan gigi taringnya seperti binatang buas dan bersorak kegirangan.

Di tengah kesadarannya yang kian terdistorsi, pandangannya bertemu dengan pandangan Heine.

"Heine, aku sangat mencintaimu."

Saat Pandora menyampaikan perasaan jujur dari lubuk hatinya yang dipenuhi oleh kehangatan dan rasa puas,

"Neptune, kerja bagus sudah mengamankan Singularitas."

Diiringi oleh suara penuh wibawa itu, kesadaran Pandora pun terputus sepenuhnya.

◇◆◇

(Sialan! Seperti biasa, kau mengambil semuanya dengan seenaknya! Singularitas itu aku yang menemukannya!)

Di dalam hatinya, Neptune melontarkan umpatan kepada dewa utamanya.

Sihir putih yang sempat terlihat saat pengaktifan sihir tadi, tak salah lagi itu adalah sihir legendaris bahkan di kalangan para dewa—'Taiji Putih'.

Sihir yang memanifestasikan kemampuan spesialis dukungan seperti pemulihan yang bahkan bisa mendistorsi fenomena, peniadaan kondisi abnormal, dan buff khusus. Saat Pandora bisa menggunakan sihir itu, ia sudah menjadi Singularitas.

Jika Neptune menyerapnya, ia bisa menjadi eksistensi yang selangkah lebih maju di antara para dewa. Bahkan mungkin saja untuk melampaui Enam Dewa Langit. Namun, hal itu telah direbut oleh dewa utamanya, Poseidon, yang memiliki kekuatan sangat tidak masuk akal.

(Tidak, toh aku memang tidak punya pilihan lain ....)

Kepindahan paksa Singularitas Pandora ke Enblade di waktu yang sangat tepat. Bisa dibilang bahwa Neptune terus-menerus diawasi. Jika ia mencoba menyerapnya saat itu, ia pasti sudah dieksekusi oleh dewa utama.

Justru sebaliknya, mungkin ia harus menganggap dirinya beruntung karena pengamanan Singularitas itu dianggap sebagai pencapaian Neptune.

Lagipula, Poseidon memang luar biasa. Ia bahkan mampu meniadakan penghalang pertahanan dari 'Taiji Putih' yang tak bergeming sedikit pun dari serangan Neptune, langsung dari Enblade.

Mau tak mau, ia hanya bisa melampiaskan kekesalannya pada makhluk-makhluk bodoh ini.

"Ein!"

"Y-ya!"

Tersentak oleh panggilan Neptune, Ein yang sedari tadi menatap kosong ke tempat Pandora berada, mengarahkan bonekanya kepada sang dewa tanah bernama Heine, dan merapal mantra dengan cepat. Tubuh Heine pun bercahaya,

"Perbudakan ulang selesai!"

Ein melapor dengan nada suara yang riang gembira.

"Untuk memperbaiki mood-ku! Cepat lanjutkan eksekusinya!"

Tanpa repot-repot menyembunyikan mood-nya yang buruk, Neptune memberikan instruksi kepada Ein.

"Ya ya ya, kalau begitu, semuanya, lemparkan batu lagi ke anak anjing itu, ssho!"

Ein memprovokasi kerumunan manusia makhluk rendahan yang bodoh itu.

"Kalau begitu, biar aku yang mulai duluan! Aku akan membunuh monster dan menyucikan kotoran!"

"Setelah Yang Mulia, giliranku! Kalau soal memburu monster, aku jagonya."

Tuan Muda Notka dan Gorongo dengan bangga berjalan ke altar tumpukan batu, lalu mengambil sebongkah batu dengan tangan kanannya.

Mengikuti jejak mereka, para Uskup juga tersenyum menyeringai, lalu berjalan ke altar dan mengambil batu.

Di tengah jeritan memilukan dan isak tangis manusia yang terdengar dari mana-mana, pria ramping dan tinggi berambut belah pinggir yang terlihat lembut, Reito, melangkah maju lalu berlutut dengan satu kaki sambil menempelkan tangan kanan di dadanya. Kemudian—

"Wahai Junjungan kami yang tertinggi dan absolut, sampai kapan Anda berniat melanjutkan lelucon ini?"

Ia bertanya kepada dewa tanah berambut abu-abu yang dipanggil Heine itu.

"Reito, apa maksud tindakanmu ini, ssho!?"

Ein mengerutkan dahi, mempertanyakan maksud dari tindakan aneh itu.

"Diam kau, bajingan rendah! Kau sedang berada di hadapan Raja kita yang agung!"

Reito berdiri dengan kasar, ekspresinya yang tenang berubah seratus delapan puluh derajat saat ia meluapkan amarahnya pada Ein. Tatapan Reito yang ditujukan pada Neptune dan Ein tak sedikit pun menunjukkan rasa hormat, bahkan ia menganggap mereka tak lebih dari serangga yang merayap di jalan.

"Kau ini—"

Marah besar karena dihina oleh manusia rendahan, ia berniat untuk membunuh Reito dan sang dewa tanah itu. Namun, tepat ketika ia menggenggam trisula dan hendak berteriak,

"Lelucon ya ... kau benar."

Seakan mematikan teriakan itu, sang dewa tanah berambut abu-abu itu menggumamkan kata-kata itu dengan senyum mencela diri. Kemudian, ia mengangkat wajahnya yang tertunduk.

"―!?"

Itu hanyalah ekspresi marah dari seorang dewa tanah yang tampak kekanak-kanakan. Namun, hanya dengan melihat ekspresi itu saja, Neptune merasakan hawa dingin luar biasa yang terasa seolah jiwanya yang mungil tengah dicengkeram langsung oleh raksasa sebesar gunung, dan ia menelan jeritannya sambil mencondongkan tubuhnya ke belakang.

"...."

Pria itu membunyikan jari-jari kedua tangannya, lalu mengarahkan tatapan tajam seolah menembus tubuh Neptune. Tiba-tiba, Neptune menyadari ada monster besar berwarna merah kehitaman yang berayun-ayun di belakang pria itu.

"M-monster!"

Ia berteriak nyaring dan melompat sejauh mungkin darinya dengan sekuat tenaga, seraya mengarahkan ujung trisulanya pada sang dewa tanah berambut abu-abu itu.

Neptune tahu! Tekanan hebat ini sudah sangat ia kenali! Ini adalah tekanan keputusasaan yang tak terhindarkan dan ia rasakan saat menyentuh amarah dari dewa utama, Poseidon, yang baru saja ikut campur!

Dewa kakak kandung dari dewa terkuat Enam Dewa Langit, Deus. Dewa Laut yang memiliki kekuatan absolut di antara Pasukan Surgawi. Eksistensi yang sejak awal dianggap sebagai bencana karena hanya ada beberapa dewa saja yang bisa melawannya, termasuk sang Dewa Lalat dari zaman kuno, Beelzebub.

Neptune merasakan teror yang sama dengan saat membuat marah eksistensi mutlak tersebut, dan ia merasakannya dari dewa tanah berambut abu-abu di hadapannya.

"Tuan Neptune?"

Kepada Ein yang bertanya dengan ragu-ragu,

"Orang itu bahaya! Terlalu bahaya! Kalian semua, jadikan Lula dan anak anjing itu perisai dan kabur dari sini!"

Dengan suara keras, Neptune memberikan perintah penyelamatan di saat-saat kritis.

"Eh? A-apa maksudnya ini, ssho?"

Melihat Ein yang kebingungan melihat perubahan drastis Neptune,

"Sudah cepat lakukan! Nanti terlambat!"

Neptune balas membentaknya dengan penuh amarah.

"B-baik, ssho!"

Bagaikan peluru yang ditembakkan, Ein berlari ke arah Lula yang terikat di tiang besi.

"Terlambat? Kuha! Ini sudah terlambat dari dulu!"

Seiring dengan kalimat deklarasi tanpa ampun dari pria berambut abu-abu itu, dunia pun berubah.

"Kukekekekekekekeke—!"

Tiba-tiba, Lula menengadah menatap langit mendung, lalu mulai tertawa dengan suara melengking menyeramkan yang sama sekali tak pantas diucapkan seorang putri. Lalu, tawa itu perlahan berubah menjadi suara aneh 'kishya-kishya'.

Hampir bersamaan dengan itu, anak anjing monster itu juga menengadah ke langit, tertawa terbahak-bahak dengan suara tajam.

"Hah!?"

Mungkin karena insting bertahannya terpicu oleh situasi aneh tersebut, Ein pun mengambil jarak dari keduanya.

"Hei wanita monster, apanya yang lucu?"

Notka bertanya keheranan pada Lula.

"Tuan Notka, dia pasti menjadi gila karena ketakutan."

Gorongo memberikan balasan yang sama sekali tak menunjukkan rasa krisis.

"Oh, begitu ya! Dunia ini memang tidak semudah itu! Sekalipun ketakutan, bukan berarti kalian akan dimaa—hihe?"

Notka tak sempat menyelesaikan kalimat penuh kepuasan miliknya, dan berganti menjadi jeritan bodoh tanda terkejut.

Hal itu mungkin wajar. Pasalnya, mulut Lula yang ada di depan mata Notka robek hingga mencapai telinganya dan berubah menjadi katup bibir. Matanya pun berubah menjadi mata majemuk, dan wujudnya telah bermutasi menjadi makhluk yang mirip dengan lalat.

"Hiiiii!"

Gorongo yang tadinya berniat melemparkan batu pada anak monster anjing itu juga jatuh terduduk dan berteriak memekakkan telinga. Anak monster anjing itu juga telah berubah menjadi monster berhidung panjang.

Lalu, Neptune pun menyadarinya, atau lebih tepatnya terpaksa menyadarinya. Sekali melihatnya, tak akan mungkin bisa melupakannya. Sosok yang menatap tajam Neptune dengan mata majemuknya itu adalah—

"B-B-Beelzebuub!!"

Dewa tertinggi dan paling menakutkan yang membuat gemetar para dewa generasi lama sama seperti dewa utama—Beelzebub! Bencana besar ciptaan dunia, yang bahkan membuat dewa monster Poseidon berkata agar jangan pernah melawannya meski secara tak sengaja berpapasan dengannya.

Namun, dengan begini identitas pria berambut abu-abu ini pun masuk akal. Dia adalah pelayan Beelzebub tingkat tertinggi.

"Hihe? B-Beelze ... bub ...?"

Mendengar nama itu, wajah Ein seketika menjadi sepucat mayat. Begitu juga dengan bawahan Neptune yang lainnya. Seluruh tubuh mereka bergetar hebat.

(Masa bodoh dengan semua ini!)

Menjadikan Beelzebub sebagai musuh bukan lagi sekadar nekat, melainkan sebuah kebodohan. Bagaimanapun juga, dunia ini akan perlahan-lahan dimakan hidup-hidup oleh monster itu.

Jika bertarung dengan monster ini, bahkan Tuan Poseidon sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya. Lain cerita jika dia berhasil menyerap Singularitas, tapi tetap saja dia tidak bisa sepenuhnya yakin akan meraih kemenangan. Dialah sosok semacam itu.

"Semuanya, serang Beelzebub secara bersamaan! Ini adalah perintah ilahi dariku!"

Setelah memberikan perintah serangan bunuh diri, Neptune melompat ke udara. Namun,

"Mana mungkin aku membiarkan orang sepertimu kabur begitu saja."

Ia ditendang oleh pemuda bermata satu berpakaian putih yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

Pandangannya berputar dengan cepat, ia terlempar dan membentur kursi di atas podium dengan keras.

"S-satu serangan ... mengalahkanku?"

Neptune menggertakkan giginya menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang seolah-olah hendak hancur berantakan—sesuatu yang baru ia rasakan lagi setelah sekian lama. Saat ia bangkit berdiri, ia menyadari bahwa dirinya telah dikepung dari segala arah: dari udara, darat, dan atap-atap gedung, oleh sesuatu.

Terlebih lagi, dari keberadaan tak terhitung banyaknya entitas itu, memancar energi magis berbahaya yang sarat dengan aroma kematian pekat, seolah menguar seperti fatamorgana.

"I-itu ... tak mungkin!"

Jangan bercanda! Hawa energi magis dan eksistensi yang tidak normal ini hampir setara dengan Neptune sendiri. Sebagian dari mereka bahkan memancarkan tekanan sekelas Machia, petarung terkuat faksi Poseidon.

Apalagi, apakah monster berhidung panjang itu adalah mantan jenderal pasukan iblis, Girimehkala? Ada beberapa wajah lain yang juga ia kenal. Jangan-jangan, Beelzebub bahkan telah menaklukkan kekuatan pasukan iblis?

"Inikah pasukan Beelzebub! Terlalu tak masuk akal!"

Machia, yang ahli dalam pertempuran, memiliki tingkat kekuatan selevel enam jenderal besar saat ini. Dan ada banyak entitas sekuat itu di sini.

Bagi Neptune, tak peduli apa yang dia lakukan, pertempuran ini mustahil dimenangkan. Jangankan bertarung, melarikan diri pun sepertinya mustahil.

"Kalian sedang berada di hadapan Junjungan Agung kami! Tundukkan kepala kalian!"

Seakan-akan menganggap Neptune dan anak buahnya tidak ada, monster gajah yang tampaknya adalah Girimehkala itu meraung dengan suara berat.

Lalu, Beelzebub si dewa monster lalat yang berjalan dengan dua kaki dan memakai mahkota, beserta para dewa yang mengepung Neptune serempak berlutut dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

"Hah?"

Beelzebub, yang diyakini sebagai pemimpin pasukan terburuk ini, berlutut di hadapan pria berambut abu-abu itu. Di saat Neptune masih belum bisa mencerna situasi yang sama sekali tak masuk akal ini,

"Nah, mari kita perkenalan. Namaku Kai Heineman. Aku adalah manusia, pendekar pedang yang selalu kalian hina sebagai makhluk rendahan."

Pria berambut abu-abu yang menyebut dirinya Kai Heineman menjatuhkan bom yang semakin membuat Neptune kebingungan.

"Kau ... manusia? Jangan bercanda! Mana ada manusia yang wujudnya monster sepertimu!?"

Ia benar-benar tak mengerti lagi. Teror tak dikenal dari pria berambut abu-abu ini, kenyataan bahwa ia memimpin bencana besar Beelzebub, serta fakta bahwa biang keladinya mengaku sebagai manusia makhluk rendahan, semuanya terlalu membingungkan dan tak bisa dipahami akal sehat.

"Hanya soal yang satu itu aku setuju denganmu. Tidak mungkin monster seburuk ini dari segi mental maupun fisik, adalah kera manusia yang tak berdaya."

Satu-satunya yang tak berlutut dan berdiri melipat tangan di samping pria berambut abu-abu itu adalah seorang wanita berpakaian ungu yang dengan sinis menyetujui ucapan Neptune.

Di saat sebagian besar monster yang berlutut mengangguk tanda setuju, Kai Heineman menghunus pedang panjang dari ruang hampa.

"Tahu tidak, aku sudah tak bisa bersabar lagi. Aku hanya diam dan memperhatikan kalian bajingan berbuat semena-mena, dan Pandora diculik tepat di depan mataku. Dan apa akibatnya? Hati Faf terluka melihat penderitaan sahabatnya hingga ia menangis, dan hal itu sangat melukai hati Pandora."

"Aku tahu. Ini pasti cuma pelampiasan emosiku yang egois. Tapi, kalau aku tidak melakukan ini, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."

Ia memelototi Neptune dan mengarahkan ujung pedangnya pada mereka.

Hanya dengan sekali menatap mata sedingin elang itu, lutut Neptune gemetar hebat dan giginya bergemeletuk.

"Tuan?"

Menanggapi wanita berbaju ungu yang bertanya dengan nada sedikit cemas akan maksudnya,

"Asta, semuanya, kali ini biarkan aku berbuat sesukaku."

Ia memberitahunya dengan tenang.

"Dimengerti."

Dengan anggukan yang tampak sedikit kesepian, wanita berpakaian ungu bernama Asta itu membungkuk sekilas dan menghilang bagai asap.

"Sesuai kehendak Anda!"

"Sesuai perintahmu."

Para dewa seperti Beelzebub dan Girimehkala pun ikut membungkuk dan menghilang dari tempat itu satu per satu. Di saat yang sama, manusia-manusia di sekitar mereka juga raib tak berbekas.

"Nah ...."

Kai Heineman mengarahkan ujung pedang panjangnya pada Neptune.

"Ini salah paham! Ya, ini murni salah paham! Kalau aku tahu ini adalah wilayahmu, aku tak akan pernah berbuat—Hiiie!?"

Terdorong oleh insting bertahan hidup, ia mati-matian mencoba menghindari pertempuran yang kelewat sembrono ini. Namun, saat melihat apa yang tiba-tiba muncul di tangan kanan pria itu, ia menjerit pelan. Wajar saja. Itu adalah—

"Z-Zwei!"

Ein berteriak nyaring dengan suara yang dipenuhi ketakutan. Benda yang ada di genggaman tangan kanan Kai Heineman adalah kepala Zwei. Namun, tak terhitung banyaknya belatung dan kelabang yang menggeliat keluar dari kedua mata, hidung, dan mulut Zwei.

"To... long ampu... ni sa... ya ...."

Zwei memaksakan suaranya yang terdengar seakan-akan nyaris menghilang itu, tetapi,

"Tentu saja tidak boleh. Kau telah melukai hati Faf. Sebagai seorang ayah yang memiliki anak perempuan, aku tak akan pernah memaafkanmu. Aku akan membuatmu merasakan penderitaan dan mimpi buruk berulang kali sampai jiwamu yang kecil itu lenyap."

Kai Heineman berbisik di telinga Zwei, lalu melempar kepalanya ke udara. Zwei yang jatuh dari atas kepalanya sambil berteriak histeris, meledak hancur berantakan ke segala arah. Daging dan darahnya berubah menjadi cairan merah menyala, sebelum akhirnya berkumpul dan menghilang.

"Makhluk bodoh tadi adalah masa depan kalian. Memohon belas kasihan tak akan berguna. Ini bukan lagi tahap untuk itu."

Kai Heineman melontarkan kalimat yang sama saja dengan hukuman mati bagi Neptune.

"...."

Rasa ngeri yang luar biasa, seolah-olah darah di seluruh tubuhnya mengalir terbalik, membuat giginya bergemeletuk.

Ia terlalu naif! Terlalu ceroboh! Dia setara dengan Tuan Poseidon!? Tidak! Ini benar-benar berbeda! Orang ini bukan lawan yang bisa dianggap enteng seperti itu.

Kekuatannya sudah tak usah diragukan lagi, pemikirannya pun sangat kejam. Terlebih lagi, eksistensinya sebagai dewa benar-benar tak masuk akal. Orang ini pastilah jenis makhluk yang sama dengan jenderal pasukan iblis, seburuk-buruknya kejahatan!

(Sialnya, kenapa aku harus berurusan dengan monster seperti ini!)

Satu hal yang bisa ia pastikan. Jika Neptune kalah, ia bahkan tak akan diizinkan untuk lenyap dengan tenang. Ia akan merasakan neraka dunia seperti yang dialami Zwei.

(Jangan bercanda denganku!)

"Ein, gunakan Ratu Monster itu!"

Kepada Ein yang gemetar ketakutan layaknya anak kelinci, Neptune memberikan perintah yang merupakan satu-satunya jalan keluar untuk selamat dari krisis ini.

Kai Heineman tampaknya memiliki obsesi yang kuat pada Lula dan Ratu Oni, Sena. Buktinya, dia hanya menunjukkan reaksi yang jelas saat Ein menggunakan boneka kutukan pada sang Ratu. Kabur dari tempat ini dengan menjadikan Ratu sebagai tameng, itulah satu-satunya pilihan terbaik.

"B-baik! Hei kau, kalau kau berani melawan walau hanya sedikit, Ratu Oni ini akan kubunuh, ssho!"

Ein mengeluarkan boneka Ratu dari saku dalam jaketnya, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan berteriak.

"Tak kusangka, di situasi seperti ini kau malah mau menjadikan Bibi Sena sandera ... tapi, itu pilihan terburuk, lho."

"B-banyak omong, heh?"

Melihat boneka tak asing yang digenggam di tangan kiri Kai Heineman, Ein lalu menatap ke arah tangan kanannya sendiri dan menjerit ngeri.

Pergelangan tangan Ein telah terpotong, dan dari luka potongannya menyembur deras darah segar.

"Hiiieee!"

Tepat ketika Ein menjerit histeris, Neptune berkedip sekali. Detik berikutnya, alun-alun itu telah berubah menjadi neraka.

Notka, Gorongo, dan semua bawahan Neptune yang berjubah merah telah terpotong-potong badannya, kaki dan tangannya, serta kepalanya, lalu dilemparkan ke tanah.

Kai Heineman kemudian menjambak rambut kepala Ein yang telah terputus dan memandangi wajahnya lekat-lekat.

"Kau bingung ya, kenapa kau masih bisa hidup meski hanya tinggal kepala?"

Kai Heineman bertanya dengan suara datar kepada Ein yang terus gemetar menahan tangis, air mata dan ingus bercampur di wajahnya.

Benar. Tidak ada setetes darah pun yang mengalir dari bawahan-bawahannya yang seharusnya terpotong-potong. Atau lebih tepatnya, apa mereka benar-benar dipotong?

Ia tak bisa mengingat bagaimana wujud mereka sebelum dipotong. Seolah-olah mereka memang berwujud seperti itu dari awal—

"Am... puni saya."

"Kalian dipotong dengan efek dari teknik pedangku yang bersifat mutlak. Berarti, kalian sejak awal adalah makhluk yang berwujud seperti ini."

Apa yang diucapkan orang ini? Neptune benar-benar tidak bisa mengikuti pemikiran Kai Heineman.

"Makhluk-makhluk bodoh. Kalau saja kalian menyerangku sebelum aku menjadi tenang, kalian bisa mati dengan lebih tenang. Tapi, sekarang keberuntungan itu pun sudah lenyap."

"Mulai sekarang, aku akan mengubah kalian menjadi makhluk lemah yang tak bisa melakukan apa-apa. Dimakan oleh hewan buas yang tak berakal, jadi tempat sarang belatung, dipatuk burung, atau dicerna ikan, seiring berjalannya waktu kalian akan kembali ke wujud semula."

"Kalian akan terus menderita tanpa akhir dengan wujud itu tanpa pernah bisa mati."

Ucapan Kai Heineman benar-benar tak masuk akal. Namun, entah kenapa, Neptune sangat yakin bahwa orang itu tidak sedang berbohong maupun melebih-lebihkan.

"Tidak mau ...."

Begitu Neptune bergumam, ia melemparkan kepala Ein ke udara.

Saat ia melihat senyuman Kai Heineman yang mengangkat sudut bibirnya dengan tak wajar, serta tatapannya yang hampa bagai hewan arthropoda, Neptune mengerti dengan jelas akan takdir kejam yang menunggunya.

"Tidaaak!"

Ia melompat tinggi ke udara, berusaha menjauh sejauh mungkin dari monster itu—tetapi sesaat kemudian—

"Teknik Pedang Aliran Shinkai Satu Pedang—Bentuk Kesembilan—Kilatan Penebas—Revisi."

Kata-kata sedingin es dari Kai Heineman pun menggema. Detik berikutnya, pandangan Neptune retak berantakan.

"Hentikaaan—"

Bersamaan dengan jeritan terakhir Neptune, tubuhnya pun hancur berkeping-keping.

◇◆◇

Sebuah ruangan yang terletak di balik pintu rahasia di dalam gudang makanan istana ibu kota Kadipaten Dux merupakan penjara yang dibuat secara khusus untuk menahan para penjahat yang keberadaannya tidak bisa diungkapkan ke publik oleh Kadipaten.

Di salah satu sel penjara ini, terdapat seorang wanita cantik berambut merah bertanduk yang dirantai dan ditawan.

Pintu rahasia itu terbuka, dan seorang pria bertubuh besar dengan wajah mirip kera yang sekujur tubuhnya dipenuhi bekas luka masuk ke penjara bersama beberapa prajurit. Tak lama setelah masuk, ia langsung berkata,

"Tuan Ein sudah memberikan izin! Ratu Oni itu, kita boleh melakukan apa saja padanya!"

Ia menyatakan hal itu pada para prajurit yang berjaga.

"Serius, nih!?"

"Kapten Simpanse, apa kami juga boleh!?"

"Tentu saja, permalukan dia sepuas kalian."

Simpanse, sang pria bertubuh besar itu, menjawab sambil memandangi Ratu Oni Sena dengan tatapan penuh nafsu. Ratu Oni Sena seketika memasang wajah kaku karena jijik dan ketakutan.

"Wahah! Kita bisa berbuat seenaknya pada Sena, wanita tercantik di Kadipaten! Ini benar-benar hadiah terbaik!"

"Kapten, apa aku boleh duluan!?"

Di tengah sorak-sorai itu,

"Bodoh! Tentu saja aku yang pertama!"

Ia membentak prajurit lainnya, lalu membuka kunci jeruji besi dan masuk ke dalam sel perlahan mendekati Ratu Oni Sena.

"T-tidak ...."

Melihat Sena yang menggelengkan kepalanya dengan wajah seperti mau menangis,

"Bagus! Silakan memberontak sepuasmu! Itu malah akan membuatku semakin bergairah!"

Dengan napas terengah-engah, Simpanse yang tak hentinya menggerak-gerakkan tangannya itu terus mendekat.

"Tidak tidak tidak tidak ...."

Menanggapi nafsu kotor Simpanse, Sena semakin kuat menggelengkan kepalanya menolak pria itu.

"Kuhi, ini yang terbaik! Ratu Oni Sena yang legendaris ini, aku—"

Tepat di saat Simpanse berteriak kegirangan, kepala Sena tiba-tiba membesar dengan sangat cepat.

"Eh?"

Simpanse mengeluarkan suara bodoh saat melihat Sena yang kepalanya telah membesar beberapa kali lipat dan terus menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan kuat.

"Hiiii!"

Diiringi jeritan para prajurit yang bergema di seluruh penjara,

"M-m-m-m-monster!!"

Ketika Simpanse dengan wajah pucat pasi mencoba melarikan diri, kedua bahunya dicengkeram kuat oleh makhluk yang dulunya adalah Sena itu.

"L-lepaskan—Hiiiii!?"

Terdengar jeritan melengking dari mulut Simpanse. Mulut makhluk yang dulunya adalah Sena itu membelah membentuk lingkaran seperti cacing, menampakkan deretan taring tajam yang saling bergemeletuk.

"TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK, SERIUS, KELIHATAN ENAK BANGET!"

Makhluk yang dulunya adalah Sena itu melontarkan sorakan gembira, lalu menggigit kepala Simpanse dan mulai mengunyahnya dengan rakus.

Di tengah rintik darah yang beterbangan, para prajurit menjerit, berlari tunggang langgang menuju pintu rahasia untuk melarikan diri dari neraka ini.

Tepat di depan mata mereka, pintu itu terbuka. Namun, masuklah seorang pria bertubuh mungil dan agak gemuk yang mengenakan setelan jas hitam beserta topi, membawa serta sekumpulan pria berbadan besar yang tubuhnya dililit perban.

"Aduh aduh aduuuuh, tidak boleh begitu, ya. Sungguh tak tertolong lagi, kalian ini terlalu tidak berguna, ya. Terutama bagian di mana kalian berpikir bisa selamat setelah mencoba menyentuh orang berharga milik Junjungan Tertinggi kami."

Pria agak gemuk itu berbicara sembari memutar-mutarkan tongkatnya.

Kontras dengan nada dan sikapnya yang santai, sekujur tubuhnya berwarna merah padam, dan banyak pembuluh darah besar menonjol di kepalanya yang botak bagaikan bilur-bilur merah.

"T-Toloong—buhee!?"

Kepala prajurit yang meminta tolong dengan raut wajah putus asa itu membengkak lalu meledak berkeping-keping.

"Dengar, kalian hanyalah serangga, tapi berani-beraninya mencoba menyerang orang berharga milik Dewa kami! Apa kalian pikir serangga pemberontak seperti kalian akan diizinkan memohon ampun!?"

Seakan merespons monster berkepala botak yang mengaum sembari menyemburkan api dari mulutnya itu, tubuh para pria berbalut perban di sekelilingnya juga ikut membengkak dan berubah wujud menjadi serangga raksasa.

"...."

Kepada para prajurit yang saling berpelukan dan gemetar hebat sembari mengalirkan air mata serta ingus karena ketakutan yang luar biasa,

"Habisi."

Pria berkepala botak itu mengayunkan tongkatnya yang terangkat, lalu serangga-serangga raksasa itu menerkam para prajurit.

Ketika serangga-serangga raksasa itu selesai melahap habis para prajurit,

"Laporkan perkembangannya!"

Tiba-tiba, terdengar suara berat dari atas kepala pria botak dan kelompoknya.

"Siap! Kami memprioritaskan perlindungan Nyonya Sena dan telah selesai membasmi serangga pencuri!"

Ketika pria botak itu—Sang Iblis Penyakit—berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, serangga-serangga raksasa di dalam ruangan itu pun kembali ke wujud manusia dan meniru gerakannya.

"Kerja bagus. Ayah kita pasti akan sangat senang dengan hasil kerja kalian!"

Mendengar suara berat yang memuji itu,

"Siap! Siap laksanakan! Kami sangat berterima kasih!"

Sang Iblis Penyakit yang menyatukan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu sambil menggigil itu,

"Kami yang akan menjelaskan situasinya kepada Nyonya Sena. Iblis Penyakit, antar Nyonya Sena ke kastil kita!"

Suara berat itu memberikan perintah.

"Sesuai perintah! Segera laksanakan!"

Sang Iblis Penyakit berbalik menghadap serangga berwujud manusia yang masih berlutut itu.

"Aku akan mengantar Nyonya Sena ke Kastil Kegelapan. Kalian lanjutkan membasmi serangga sampah faksi Poseidon di dalam istana ini! Dengar, harga diri Dewa kita ada di pundak kalian. Lahap habis semuanya tanpa kompromi!"

Ia memberikan instruksi dengan nada tegas.

"Gigigii!"

Setelah memberi hormat kepada Sang Iblis Penyakit sambil mengeluarkan suara aneh, serangga-serangga berwujud manusia itu berhamburan keluar dari pintu rahasia.

"Nah, saatnya aku mengantar Nyonya Sena."

Bersamaan dengan kata-kata itu, sosok Sang Iblis Penyakit menghilang bagaikan asap.

Sena, Ratu Kadipaten Dux yang berasal dari suku High Ogre, terbangun di atas tempat tidur di sebuah ruangan mewah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Di mana ini ...?"

Ia bangkit dan memeriksa sekelilingnya, tapi ia sama sekali tidak mengenali tempat ini.

"Aku ... ditangkap dan dirantai di penjara ...."

Saat kepalanya yang masih pusing mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, ia menyadari kehadiran beberapa sosok.

Ketika ia mengarahkan pandangannya, tampak beberapa makhluk aneh tengah berlutut di hadapan Sena.

"Siapa, ya?"

Semua yang berlutut itu memiliki penampilan mengerikan yang tidak terlihat seperti manusia, tetapi entah mengapa ia sama sekali tidak merasa takut.

"Kami adalah pelayan setia Tuan Kai. Saat ini situasinya sedang sangat rumit, jadi kami akan menjelaskan situasinya secara singkat, lalu kami akan mengantar Anda ke tempat Yang Mulia Duke."

Nama yang sangat tidak terduga keluar dari mulut monster berhidung panjang yang berada di tengah—.

"Kai!? Apa yang terjadi pada Kai!? Situasi yang sangat rumit itu maksudnya apa!?"

Itu adalah nama anak yang pernah ia asuh untuk sementara waktu atas permintaan sahabatnya, Maria, di masa lalu.

Saat ini negara ini sangat berbahaya. Tempat ini sama sekali bukan tempat yang baik bagi anak baik hati yang bahkan tak mampu membunuh serangga itu.

Monster-monster yang berlutut itu tersenyum lembut pada Sena,

"Kami akan menjelaskan situasinya sekarang."

Mereka pun mulai membuka suara.

◇◆◇

—Semua monster di 'Desa Angin Iblis', atau lebih tepatnya 'Hutan Ratapan', saat ini tengah berada dalam krisis kepunahan.

Diserang oleh pasukan besar Kadipaten Dux secara tiba-tiba, para monster ditumpas dalam sekejap, dan para wanita muda serta anak-anak ditangkap.

Saat ini, para monster berakal tengah berkumpul dan melakukan perlawanan sengit dengan menjadikan

'Desa Angin Iblis' yang terletak di dekat tebing paling dalam di 'Hutan Ratapan' sebagai garis pertahanan terakhir.

Di salah satu pondok besar yang dibangun terburu-buru di 'Desa Angin Iblis', para monster 'Hutan Ratapan' tengah berkumpul.

"Manusia sialan! Berani-beraninya mereka mengabaikan perjanjian! Makanya sudah kubilang hidup berdampingan dengan manusia itu mustahil!"

Cell, sang oni berkulit merah, memukul meja kayu dengan tangan kanannya dengan diliputi amarah yang bergejolak di dalam hatinya.

"Berisik sekali. Itu kan masalah kalian suku High Ogre. Jangan teriak-teriak heboh tentang masalah yang tidak kami ketahui."

Tetua dari suku High Ape, monster berwajah kera, mengibas-ngibaskan tangan kanannya karena merasa terganggu dan menegur tindakan Cell.

"Kakek tua kera, kau ini—"

Jelas-jelas diremehkan seperti itu, Cell hendak berteriak marah, tetapi,

"Hentikan, Cell."

Ayah, yang juga merupakan kepala suku High Ogre, menutup matanya dan melipat lengannya sembari berpikir, lalu menegur Cell.

"Tapi, Ayah, bahkan Setsuna diculik oleh mereka!? Dan yang sedang menyerang hutan ini sekarang juga manusia! Minta bantuan ke organisasi yang dipimpin manusia itu benar-benar tidak waras!"

Cell tidak mau mengalah dan meninggikan suaranya.

Adiknya, Setsuna, menghilang saat pergi berburu. Hampir bisa dipastikan ia diculik oleh manusia.

"Omongan Cell ada benarnya juga. Aku tetap tidak setuju bekerja sama dengan manusia."

Seorang pria High Orc dengan wajah babi mengerutkan dahi karena rasa jijik yang kuat, dan sangat setuju dengan Cell.

"Festa, negara monster, ras iblis, dan manusia, ya ... itu memang sangat mencurigakan."

Pria paruh baya High Kobold berwajah anjing melontarkannya dengan ekspresi marah. Seluruh desa dari bos High Kobold ini diserang oleh manusia, dan di tengah kekacauan itu putri serta putranya yang masih kecil diculik. Kemungkinan besar karena itulah ia sangat marah.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apa kau mau menghabiskan sisa hidupmu sebagai budak manusia-manusia itu? Setidaknya utusan Festa sudah menjamin bahwa kita bisa tetap menjalani kehidupan seperti biasanya, lho."

Mink, seorang wanita cantik dari suku Tengu bersayap hitam, menatap mereka semua dengan jengkel dan melontarkan pertanyaan yang sangat masuk akal.

"Makanya—aku bilang pemimpin Festa itu manusia jadi tidak bisa dipercaya!"

"Benar! Pasti itu cuma organisasi boneka manusia!"

Menanggapi kata-kata penolakan yang bermunculan satu per satu,

"Dengar ya, Festa yang sekarang adalah negara militer terkemuka di dunia yang telah menyerap dua negara iblis, Kegelapan dan Kabut, serta menaungi Raja Iblis Ashmedia. Untuk apa mereka perlu menipu organisasi kecil dan lemah seperti kita sekarang! Kalian cuma kehilangan ketenangan gara-gara kebencian pada manusia!"

Mendengar kata-kata Mink, beberapa di antara mereka memalingkan wajah karena canggung.

"Memangnya kenapa kalau benci manusia! Gara-gara mereka, teman-teman kita diculik dan dijadikan budak!"

Cell berteriak terbawa emosi.

"Aku bukan sedang berdebat soal baik dan buruk! Yang ingin kubilang adalah—"

Tepat ketika Mink berdiri dan hendak meninggikan suaranya, pintu terbuka lebar dan Happy, monster berkepala burung, berguling masuk.

"Tempat ini sudah ketahuan! Kita sudah dikepung pasukan besar!"

Ia melapor dengan suara seperti mau menangis.

"Pas sekali. Aku akan membalas mereka!"

Cell berdiri dari kursinya dan menyatukan kedua tinjunya.

"Aku harap kalian memikirkan perasaan kami yang harus terseret dengan keinginan bunuh diri kalian!"

Meski suaranya bergetar karena frustrasi, Mink tetap mengambil busur di dekatnya.

"Kita bahas ini setelah berhasil melewati ini semua! Suku petarung, ikut aku! Mink, bawa suku yang tidak bisa bertarung, wanita, dan anak-anak, lari lewat jalan rahasia di dalam gua belakang!"

"... Aku mengerti ...."

Dengan ekspresi pahit Mink mengangguk dan berlari kecil keluar ruangan.

Begitu Cell dan yang lainnya keluar dari bangunan, pilar api membubung dari arah tembok kayu yang mengelilingi desa sebagai pertahanan.

"Ayo!"

Ayah mencabut pedang besinya dari pinggang dan berlari menuju sumber api.

Tempat itu adalah medan perang yang didominasi oleh darah dan api.

Kepada para monster yang berlarian panik untuk menyelamatkan diri, sekelompok orang berjubah merah tak dikenal menembakkan sihir beraneka warna dan merenggut nyawa mereka.

—Seorang wanita yang tampaknya adalah seorang ibu terbaring tengkurap dengan luka bakar parah, dan seorang anak kecil mengguncang-guncang tubuhnya sembari menangis.

—Seorang Lizardman berusaha melindungi anak-anak yang masih kecil meski tubuhnya bersimbah darah.

—Seorang High Orc merentangkan kedua tangannya menjadi tameng bagi ibu dan anak di belakangnya.

Melihat pemandangan itu, ia merasa seolah pandangannya memerah karena amarah yang memuncak.

"Ayah!"

"Aku tahu! Semuanya, selamatkan saudara kita!"

Sembari mengaum layaknya binatang buas, Cell dan kawan-kawannya mengangkat pedang dan mulai menyerang.

Hasilnya sangat cepat. Atau lebih tepatnya, mereka sama sekali tidak bisa melawan, dan saudara-saudara monster mereka bertumbangan satu per satu. Akhirnya, Cell juga terkena sihir api mereka dan terlempar. Kini, ia bersandar di dinding bangunan, hanya bisa menunggu ajalnya.

"Aduh aduh aduuuuh, benar-benar tidak ada perlawanan sama sekali, ya~. Tapi yah, wajar saja karena kalian ini kan makhluk rendahan tak berotak yang hina."

Seorang pria gemuk berpotongan rambut bob dengan tato angka tiga di mulutnya yang tampaknya adalah pemimpin kelompok berjubah merah itu, muncul di hadapan Cell bersama kelompoknya.

"Sialan!"

Sembari menggertakkan giginya menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya yang terasa seakan hancur berantakan, Cell berdiri dan mencoba menyayat pria berambut bob itu dengan cakar tajamnya.

"Aku tidak butuh jantan yang cuma modal semangat tapi tidak berguna, ya."

Kakinya dengan mudah disapu, lalu pria itu menginjak perutnya.

Bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa seolah-olah organ dalamnya dikocok, ia memuntahkan banyak darah. Hanya dengan serangan yang tak terlihat serius dari pria itu, ia menderita luka parah.

Normalnya, ia pasti akan hancur dalam keputusasaan dan menjerit kesakitan. Namun, saat ini yang ada di dalam diri Cell hanyalah amarah yang meluap dari lubuk hatinya. Salah satu amarah itu tertuju pada pria brengsek di hadapannya, tetapi yang lainnya tertuju pada dirinya sendiri yang tak berdaya menyelamatkan satu pun temannya.

"Sialan!"

Sembari meneteskan air mata penyesalan, ia menggigit kaki pria itu dengan sekuat tenaga.

Pria itu menatap Cell dengan hampa sejenak, tapi kemudian pembuluh darah besar menonjol di wajahnya dan wajahnya memerah hingga seolah mengeluarkan uap. Kemudian—.

"Monster kotor! Apa yang kau lakukan!"

Cell pun ditendang melayang. Ia terhempas lurus menabrak tembok pertahanan kayu desa dan menghantamnya dengan punggungnya terlebih dahulu.

Ia bahkan tidak bisa menggerakkan satu jarinya pun, dan tak lagi merasakan sakit. Padahal seharusnya begitu, namun entah mengapa pandangan dan kesadarannya begitu jernih.

"Tuan Drei, apa yang harus kita lakukan dengan para monster ini?"

Seseorang yang sepertinya bawahannya melihat rekan-rekannya seolah sedang menilai mereka, dan meminta kepastian pada pria gemuk berambut bob bernama Drei itu.

"Yang jantan musnahkan. Yang betina dengan penampilan lumayan jadikan budak, ya. Kudengar mereka bisa dijual mahal ke bangsawan mesum. Manusia memang seleranya sangat buruk, ya."

"Benar sekali."

"Lebih dari itu, di mana keberadaan Duke dan menteri-menteri Kadipaten Dux? Padahal aku yakin sekali mereka ada di sini, ya?"

"Berdasarkan hasil interogasi tadi, sepertinya mereka tidak ada di desa ini!"

"Ternyata tebakanku salah, ya. Gawat juga, ya. Kalau begini aku bisa dieksekusi oleh Tuan Neptune."

Berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya, Drei bergumam dengan penuh kecemasan. Orang yang membalas ucapan Drei itu adalah,

"Jangan khawatir. Neptune di ibukota pasti sudah dibasmi oleh Beliau. Ya, kan?"

Ia adalah seorang gadis dengan kuncir kuda berwarna merah yang memakai gaun putih serta memiliki dua tanduk di kepalanya.

"Iya, aku yakin Tuan Heine pasti sudah mengalahkannya."

Terdengar suara yang familier.

"Se ... tsuna?"

Orang yang muncul di pandangan Cell adalah satu-satunya adik yang berharga baginya, Setsuna.

Setsuna mendekat, memeluk tubuh bagian atas Cell, dan meminumkan cairan berwarna merah kepadanya. Sesaat setelahnya, rasa sakit itu hilang seolah itu hanyalah sebuah kebohongan.

"Bohong, kan ...."

Cell berseru kaget melihat lukanya yang sembuh seketika. Tepat saat ia hendak menanyakan situasi aneh ini pada Setsuna—.

"Lula, kenapa kau ada di sini? Bukannya kau seharusnya sudah dieksekusi di ibukota?"

Sembari menatap wanita bergaun putih itu, Drei membuka matanya lebar-lebar dan melontarkan pertanyaan bernada tinggi.

Lula? Begitu, ya. Pantas saja wanita bergaun putih itu terlihat familier, dia adalah gadis yang dibawa oleh bibinya, Sena, saat berkunjung ke tempat ini ketika ia masih kecil.

"Aku ini pengiringnya."

"Nya? Siapa itu?"

Drei bertanya pada Lula dengan suara yang sarat akan kekesalan, namun yang menjawabnya adalah—.

"Aku."

Ia adalah seorang pria bertubuh besar dengan penampilan liar yang entah sejak kapan telah muncul di tempat itu.

(Apa, itu?)

Bagaimanapun juga pria itu hanyalah manusia biasa, tetapi entah mengapa hanya dengan melihat pria ini, keringatnya mengucur dan sekujur tubuhnya gemetar hebat.

"Tuan Zack, tolong urus orang-orang yang tidak tahu diri itu."

Sembari memegang ujung roknya dengan pipi yang sedikit merona, Lula membungkuk hormat.

"Karena ini demi Guru, aku akan melakukan tugasku dengan baik."

Membunyikan buku jari tangan kanannya dengan telapak tangan kirinya, Zack perlahan mendekati Drei dan kelompoknya.

"Aku punya firasat yang sangat buruk. Kalian, habisi dia!"

Tepat setelah Drei memberikan instruksi itu, kepala para bawahannya yang berjubah merah hancur berkeping-keping.

"Heh?"

Sebuah lengan kanan yang bagaikan batang kayu menyembul dari belakang Drei yang melontarkan suara bingung, dan dengan mudah mencengkeram kepalanya.

"Kau lemah banget. Masa cuma segini doang? Cepat tunjukkan wujud aslimu. Aku ini lagi kesal banget, lho."

Berbicara dengan singkat, Zack melempar Drei dengan mudahnya.

"Giheheheheheeee!"

Sembari mengeluarkan suara aneh dan berputar dengan kecepatan tinggi, kepala Drei menabrak tebing dan membentuk kawah raksasa.

"...."

Cell sama sekali tak bisa mencerna situasinya. Saat ia memperhatikan situasi dalam diam,

"Kutak mengampunimu, makhluk rendahan!"

Bersamaan dengan teriakan marah, kepulan debu tertiup angin dan Drei muncul dengan seluruh tubuhnya yang ditumbuhi jarum.

"Itukah wujud aslimu? Kayaknya nggak ada bedanya, deh."

Zack bergumam seolah tidak tertarik.

"Jangan meremehkanku, makhluk rendahan! Jarum ini beracun dan bisa melelehkan apa saja! Bahkan sebelum tertusuk, kau akan langsung menjadi gumpalan daging hanya dengan menyentuhnya!"

Sembari meneriakkan omong kosong itu, Drei menembakkan jarum yang tak terhitung jumlahnya ke arah Zack.

"Permainan anak-anak."

Jarum-jarum itu hancur berkeping-keping tepat di depan Zack.

"Hah!?"

Drei berseru kaget. Zack mengerutkan dahinya karena kecewa, lalu berkata,

"Mengutip kata-kata Guru, daripada kau terkejut, lebih baik kau pikirkan cara untuk menyerangku."

Dan seketika sosoknya menghilang. Sesaat setelahnya—.

"Bube!"

Separuh tubuh sebelah kiri Drei hancur berkeping-keping bersama jarum-jarumnya.

"Hei hei, masa sudah sekarat begini. Bukan sekadar nggak ada perlawanan, aku ini belum mengeluarkan sedikit pun kekuatanku, lho."

Zack mendekat perlahan ke arah Drei yang hanya tersisa setengah badannya dan tidak bisa bergerak.

"Guruna!"

"Selamat tinggal."

Sesampainya di depan Drei, Zack menurunkan pusat gravitasinya dan mengambil posisi kuda-kuda bela diri.

Detik berikutnya, tendangan memutar kanan Zack menghantam bagian tengah tubuhnya, dan Drei pun hancur berkeping-keping.

"Astaga, dipikir bagaimanapun juga, ini sih zonk."

Saat Zack bergumam sendiri,

"Dia itu salah satu pilar Lima Jari Suci, bodyguard pribadi Neptune. Seharusnya manusia tidak akan bisa mengalahkannya. Zack, akhir-akhir ini sejak kau menjadi bawahan Nemea, ucapan dan tindakanmu makin terlihat seperti monster."

Wanita berkacamata satu yang berpakaian ungu tiba-tiba muncul dan melontarkan komentar tak masuk akal dengan nada heran.

"Kamu sih ngomong gitu Kak Asta, tapi ini sih nggak ada perlawanannya sama sekali. Padahal aku mau menghajar bajingan yang bikin Faf nangis ini sampai babak belur, masa cuma dihajar dikit udah mati."

"Nah, bagian itulah yang kelihatan seperti monsternya. Lagipula, sisa manusia kera yang mengepung tempat ini saja yang belum diurus, bagaimana soal itu?"

"Sepertinya Paman Girimehkala dan kelompoknya memberikan latihan khusus yang kelewatan pada Duke dan kelompoknya. Biarpun ada jutaan kroco di luar sana, mereka nggak akan bisa jadi lawannya."

Zack membalasnya dengan mengangkat bahu seolah sedikit jengkel.

"Turut berdukacita."

Asta merapatkan kedua tangannya dan berdoa.

"Setuju."

Zack juga menempelkan kedua tangannya.

"Kalau begitu, aku akan menuju ke tahap akhir bersama Tuan."

Asta menghilang setelah mengucapkan kalimat itu.

Berkat obat pemulihan ajaib milik Setsuna, Ayah dan yang lainnya telah pulih sepenuhnya, dan mereka sedang mencoba untuk berdiri sembari menggelengkan kepala.

Cell juga memaksa kakinya yang gemetar untuk berdiri, lalu pergi ke samping Setsuna, dan berkata,

"Setsuna, jelaskan situasinya."

Ia menuntut penjelasan tentang situasi saat ini dengan nada tegas.

"Heine, maksudku, karena Pak Kai, 'Hutan Ratapan' ini bisa terselamatkan."

Setsuna menempelkan kedua tangannya ke dadanya yang sintal, memejamkan mata, dan menjawab dengan tegas.

"Heine? Kai? Memangnya siapa dia?"

"Dia adalah pembimbing kita."

Setsuna menyatukan kedua tangannya dan berbicara dengan penuh semangat.

◇◆◇

Mink membawa para wanita dan anak-anak dari desa melarikan diri melalui gua. Namun, ia merasakan ada banyak orang di sekitar mereka.

(Kita dikepung! Sial, mereka sudah menebak jalur pelarian kita!)

"Ayo lari kembali ke dalam gua!"

Mink memberikan instruksi singkat, dan mereka mencoba kembali ke dalam gua, tapi tanah di depan gua tiba-tiba meninggi dan menutup jalan masuknya.

"Kapten, kita pasti benar-benar beruntung, kan?"

Pria-pria berbaju zirah muncul dari balik pepohonan.

"Ah, rupanya ada banyak wanita cantik! Hei, kalian, sebelum dijual, ayo kita nikmati mereka sepuasnya!"

Mereka berseru kegirangan.

"Horeeee! Mantap nih. Kalau begitu, aku pilih wanita anjing yang di sana, ya!"

"Selera yang aneh! Kalau aku sih pilih yang bersayap hitam itu saja!"

Mink melesatkan anak panahnya ke arah dahi para pria yang sedang menilai mereka.

"Kalian pikir aku akan membiarkannya!"

Akan tetapi, anak panahnya ditangkap tepat sebelum mengenai dahi mereka.

"Nggak mungkinlah. Kamu nggak bisa membunuhku. Karena kalian itu amatir."

"A-aku adalah pejuang kebanggaan Suku Tengu!"

"Ah, bukan begitu maksudku. Dari dirimu sama sekali tidak tercium bau darah."

"Jangan menghinaku! Aku sudah siap!"

Sejak diakui sebagai pejuang oleh kepala desa, ia telah menjalankan tugasnya dengan tekad untuk membunuh dan siap dibunuh. Ia sama sekali tidak main-main.

"Siap? Kuha! Hei, kalian dengar nggak, dia bilang siap!"

Manusia-manusia itu serentak menertawakan Mink.

"Aduh aduh Kapten, dia memang harus siap. Siap dipeluk oleh laki-laki maksudnya."

Sembari menjilati bibirnya, pria berambut mohawk itu mendekat sambil memegang pisau.

"Tepat sekali! Kalau begitu, siapa cepat dia dapat!"

Pria berjenggot yang dipanggil Kapten itu mendekati Mink dengan ekspresi yang dipenuhi hasrat sembari menghunus pedang panjangnya.

"Kuh!"

Mink mengarahkan panah ke busurnya dan terus menembaki pria berjenggot itu, namun semua panahnya berhasil ditepis dengan pedang panjangnya.

Ia membuang busurnya dan mencoba menyerangnya dengan belati di pinggang, namun pergelangannya dengan mudah ditangkap dan ia dipiting dari belakang.

"Nah, saatnya aku mencicipimu."

Tepat saat pria berjenggot itu mengulurkan tangan ke pakaian atas Mink—.

"Menyerang wanita di medan perang, ya ...."

Terdengar suara yang dipenuhi dengan penghinaan.

"Kue?"

Detik berikutnya, sebuah pedang menembus dari mulut pria berjenggot itu. Di tengah semburan darah yang menari-nari seperti kelopak bunga, seorang pria paruh baya yang memiliki kumis rapi dengan pakaian compang-camping berdiri di sampingnya.

"S-Siapa kalian!"

Ketika pria berambut mohawk berteriak dengan nada kepanikan, seberkas cahaya melintasi dahinya.

"Kihe."

Pria berambut mohawk itu terbelah menjadi dua dari dahinya, lalu tubuhnya jatuh berdebum ke arah kanan dan kiri. Di belakangnya, seorang ksatria bertubuh besar dengan zirah putih kusam mengayunkan pedang aneh dari dunia lain untuk menghilangkan noda darah.

"M-Musuh menyerang—!"

"Larii—"

Ketika kilatan cahaya dengan kecepatan tinggi melesat dan melilit prajurit manusia yang hendak berteriak, kepala mereka melayang ke udara satu demi satu.

"Hiiiii!"

Kepanikan. Itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan situasi ini.

Dalam sekejap mata, para prajurit yang begitu banyak itu berubah menjadi mayat yang bungkam. Dan di samping mayat-mayat itu, puluhan orang bersenjata telah berdiri.

Melihat ada monster dengan sayap hitam di punggungnya, memakai masker hitam dan jubah hitam di dalam kelompok itu,

"Kakak!"

Mink berseru kaget dengan suara tercekik.

"Mink, sekarang sudah aman. Serahkan sisanya pada kami."

"I-iya."

Ia mengangguk ragu, merasa canggung dengan penampilan adiknya yang brutal, sangat berbeda dari adiknya yang lembut dan bahkan tidak sanggup membunuh serangga.

"Ludens, tolong, ya."

Sang kakak mendesak pria paruh baya berkumis rapi itu. Pria paruh baya itu mengangguk pelan, lalu mengangkat pedang di tangan kanannya ke langit, dan berkata,

"Ini adalah pertarungan pertama kita di luar! Kita harus memenangkan pertarungan semacam ini! Kita tak boleh bertindak memalukan! Kalian tahu alasannya, kan!?"

Semuanya mengangguk kuat, memegang senjata mereka masing-masing, dan mengangkatnya ke langit.

"Pertarungan ini dipersembahkan untuk siapa!?"

Pemuda oni dengan mata merah berseru dengan nyaring,

""Untuk pemimpin tertinggi kita, Tuan Kai Heineman!""

Semuanya serentak mengaum dengan keras hingga menggetarkan udara.

"Apa yang harus kita lakukan pada para berandal yang menyerang saudara-saudara dan keluarga kita!?"

Mendengar pertanyaan sang ksatria bertubuh besar itu,

""Bunuh!""

Secara bersamaan mereka meneriakkan kata-kata yang begitu mengerikan.

"Apa yang ingin kita lakukan pada sampah-sampah yang membuat Tuan Kai Heineman tidak senang!?"

""Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuuuuuh!!""

Raungan amarah dan hentakan kaki bagaikan gelombang badai menerjang ke dalam hutan.

Sembari menoleh sekilas ke arah Mink dan yang lainnya yang tercengang,

"Ayo kita mulai pertarungan kita!"

Ludens berseru. Sesaat kemudian, dari arah sang kakak dan yang lainnya muncul raungan buas yang berhembus kencang.

Detik berikutnya, kelompok bersenjata Ludens yang begitu banyak tadi, menghilang tak berbekas.

"Ini sebenarnya apa, sih ...."

Mink mengutarakan ketidakpuasannya yang sangat besar di dalam hati.

◇◆◇

Pasukan yang dikerahkan untuk menaklukkan 'Hutan Ratapan' kali ini adalah tentara bayaran pribadi milik kepala keluarga Kadipaten Dux, Duke Dos Bildarts.

Dengan uang dalam jumlah besar yang diperoleh dari tambang milik keluarga Duke Bildarts, mereka merekrut tentara bayaran dan hunter ahli dari seluruh dunia.

Mereka adalah para profesional dalam pertarungan dan peperangan, serta menjadi kekuatan tempur tertinggi dari pihak manusia di Kadipaten Dux. Pasukan ini dapat menghancurkan militer negara kecil hanya dalam hitungan jam.

Namun, tentara bayaran kebanggaan Duke Bildarts itu kini sedang diserang oleh para monster dan berada dalam kekacauan parah.

"Ihihihihii! Mati! Mati! Mati! Matiiii!"

Pria tua berambut putih, Perdana Menteri Kadipaten Dux, tertawa terbahak-bahak dengan suara melengking di udara sembari mengangkat kedua tangannya.

Sebuah lingkaran sihir melayang di depan mata kirinya, dan banyak bola cahaya beterbangan di sekelilingnya, menembak lurus para prajurit tentara bayaran yang berusaha melarikan diri bagaikan peluru kendali.

"L-Lenganku!"

"Aaaaakh!"

Jerit pilu, mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pemandangan mengerikan ini.

Saat ia menggerakkan tangannya ke sana kemari, bola cahaya dalam jumlah tak terhingga muncul dan bergoyang di atas langit, sebelum akhirnya menyatu menjadi satu. Kemudian, itu membentuk tangan cahaya raksasa yang mengepal erat.

Pukulan tangan cahaya raksasa itu menghantam bumi, menggulung tanaman dan tanah, lalu menghanguskan pasukan besar prajurit dalam sekejap.

Berdiri di hadapan daratan yang telah terpotong rapi membentuk cekungan,

"Ini adalah sihir rahasiaku yang telah disempurnakan oleh Guruku, Tuan Azazel! Makhluk serangga rendahan seperti kalian tak punya cara untuk melawannya! Kalian semua harusnya sangat bersyukur bisa mati oleh sihir rahasiaku ini!"

Ia melontarkan pernyataan arogan yang sama sekali tak mencerminkan sosok perdana menteri yang cerdas. Setelahnya, ia melesat ke langit dengan cepat untuk mencari mangsa lainnya.

Wanita bersayap hitam pekat yang terbang di langit, membuat gerakan menarik busur. Segera, panah-panah bermunculan dan berulang kali menembus dahi para jenderal. Bagaikan anak panah yang ditakdirkan untuk tepat sasaran, semuanya menembus dahi para jenderal itu dengan mudahnya.

"Tak ada perlawanan ... Inikah tentara bayaran Duke Bildarts yang sangat kita takuti ... Betapa menyedihkannya. Aku merasa sangat bodoh pernah ketakutan pada mereka ...."

Wanita bersayap hitam pekat itu terus melepaskan anak panah dari atas langit, walau suaranya bergetar menahan amarah.

"A-apa yang terjadi!?"

Suara jenderal pasukan kavaleri yang seperti jeritan menggema ke seluruh medan.

Kepala-kepala melayang di udara tanpa alasan yang jelas, darah muncrat layaknya kelopak bunga yang menari-nari, sementara tubuh-tubuh mereka tumbang di tanah.

"A-aku belum mau mati!"

"Tidaaak!"

Melihat pemandangan yang seperti mimpi buruk itu, wajah prajurit-prajurit itu menjadi pucat pasi. Mereka pun berlari menuju luar hutan yang menurut mereka aman. Namun, seolah menertawakan ketakutan mereka, kepala para prajurit yang berlarian itu juga ikut tertebas dan melayang ke udara.

"Apa yang sebenarnya terjadi!?"

Saat jenderal itu bertanya lagi, dari sudut matanya, ia melihat sesosok raksasa berbaju besi putih kusam.

"Kau rupanya—"

Saat jenderal itu mencoba untuk menghunus pedangnya sembari menunggangi kudanya, pandangannya seketika berputar-putar. Begitu menyadari adanya tubuh tanpa kepala yang sangat mirip dengan dirinya, kesadarannya pun sirna seketika.

Di antara tumpukan mayat itu, ksatria berbaju besi tersebut mengibaskan pedangnya yang memiliki bentuk aneh namun tak memiliki cacat sedikit pun untuk membersihkan sisa darah.

"Wahai Dewa kami yang agung! Terima kasih atas kesempatan untuk memperbaiki negara kami yang busuk ini!"

Ia menangis dan memanjatkan rasa terima kasihnya.

"Atas kehendak agung Dewa kami, aku akan memusnahkan semua musuh Dewa!"

Ia melontarkan kata-kata yang tak akan pernah ia katakan di saat masih menjadi seorang atheis ke langit. Lalu, sosoknya menghilang dari pandangan.

Itu adalah markas besar tentara bayaran Duke Bildarts yang dibangun di padang rumput di depan 'Hutan Ratapan'.

Tinju cahaya raksasa yang tiba-tiba muncul dari atas langit menghanguskan para prajurit. Jenderal-jenderal terbunuh oleh serangan tepat di dahi. Kepala-kepala terpotong dan melayang ke udara tanpa suara, bahkan tanpa tanda-tanda kehadiran manusia.

Laporan kekalahan yang seakan menjadi rentetan fenomena ganjil terus mengalir masuk ke telinga Dos Bildarts.

"Apa maksudnya ini!? Cepat laporkan situasi pertempuran aneh ini kepadaku!"

Ia berteriak dengan lantang, mengulangi kata-kata yang sama untuk kesekian kalinya.

"...."

Semua jenderal saling pandang dengan raut wajah kebingungan. Tentu saja.

Alih-alih Dos yang hanya komandan boneka, merekalah yang sebenarnya memimpin semua pasukan, dan merekalah yang paling ingin mengetahui situasi tersebut.

"Kalian bodoh! Pikirkan berapa banyak aku membayar kalian! Aku tak peduli hidup atau mati! Segera bantai habis semua yang berani melawanku, tangkap para monster perempuan dan bawa ke sini!"

Dos menghentakkan kakinya dan melampiaskan amarah layaknya anak kecil.

"Sekarang giliranku kah?"

Pria berwajah panjang yang memakai baju ringan itu membawa botol minum, lalu bangkit dan bertanya pada Dos.

"Oh, pahlawanku, Mimis! Apa kau akan maju!?"

Itulah Mimis, tentara bayaran legendaris yang mengukir namanya di medan pertempuran saat melawan Kerajaan Amelia, pada Perang Loha.

Sejak saat itu, ia terus mengukir prestasi gemilang di berbagai medan pertempuran.

Prinsip utamanya adalah membunuh semua musuh.

Kekuatan bertarung dan cara bertarungnya yang sangat kejam membuatnya dikenal sebagai "Sang Algojo Mimis".

"Aku akan maju. Lagipula ini tugasku. Tapi, kau belum lupa dengan janji kita, kan?"

"Tentu saja! Ratu Oni itu pasti akan kuberikan padamu!"

"Ratu Oni Sena yang cantik itu akan segera jadi milikku ... Aku jadi makin bersemangat!"

Kecantikan Ratu Oni Sena sudah menjadi pembicaraan umum di Kadipaten Dux.

Konon, ia memancarkan kecantikan bak dewi-dewi mitologi yang turun ke dunia manusia.

"Sena adalah Ratuku. Aku tak akan menyerahkannya pada orang sepertimu."

Mendengar suara yang tiba-tiba muncul itu, mereka melihat ke arah sumber suara.

Di sana, berdirilah seorang pria paruh baya yang memakai baju compang-camping dengan kumis yang rapi, membawa pedang panjang di tangannya.

"Y-Yang Mulia Duke!"

Saat pengawal Dos berseru nyaring setelah mengenali pria itu, beberapa bawahan lain yang juga ia bawa bersorak riuh.

"Bunuh dia! Tuan Duke negara kita adalah Tuan Muda Notka! Orang itu hanyalah seorang pengkhianat!"

Mendengar seruan kencang Dos, para jenderal yang merupakan mantan tentara bayaran dan hunter, serta pengawalnya, segera mengambil posisi dengan senjata masing-masing sembari menjaga jarak dari Duke Ludens.

"Ini yang namanya ngasih nyawa! Kalau aku membunuh orang ini, Sena bakal sah jadi milikku, kan!"

Sesaat kemudian, tepat saat Mimis yang berwajah penuh hasrat tengah menjilati bibirnya, Ludens telah berada di belakangnya. Ia mengayunkan pedangnya dan mengibaskan sisa-sisa darah.

"Eh?"

Saat Mimis hendak menoleh ke belakang, garis merah muncul membelah tepat di tengah dari ubun-ubunnya,

"Punyaku—!"

Lalu, tubuhnya perlahan terbelah dua dan jatuh ke arah kiri dan kanan.

"I-itu, si pahlawan Mimis ...."

Sambil melontarkan suara keputusasaan, para jenderal itu melangkah mundur.

Tiba-tiba saja wajah pucat mereka tercabik-cabik membentuk garis silang, dan mereka pun jatuh terjerembap bagai boneka yang terputus talinya, seraya menyemburkan darah segar.

Itu terjadi dalam sekejap mata. Dalam rentang waktu yang sangat singkat itu, Dos menjadi satu-satunya orang yang masih bernapas.

Menatap mayat-mayat jenderal yang berserakan dengan mengenaskan di lantai, ia sekali lagi merasakan ketakutan luar biasa akan kematian yang mencengkeram jantungnya.

"Guhi!"

Saat Dos berlari keluar dari tenda dengan putus asa,

"S-Serangan musuh! Serangan penuh, b-bunuh penyusup ini...?"

Ia mencoba berteriak sekuat tenaga, tapi suaranya tiba-tiba mengecil, dan

"Gihiii!"

Ia jatuh terduduk sambil menjerit histeris. Di hadapan Dos, terhampar mayat yang begitu banyak.

Tidak hanya satu atau dua, pasukan besar Dos semuanya telah menjadi mayat yang tak bisa berbicara.

"Jika mereka prajurit negara kita, aku mungkin akan menahan diri, tapi sebagian besar pasukanmu hanyalah orang-orang bayaran. Jadi, kalian harusnya sudah siap untuk mati."

Bahunya ditahan dari belakang.

Tubuhnya gemetar hebat, dan giginya beradu tiada henti.

Saat perlahan menoleh, ada sosok iblis, secara harfiah.

"Dos, perbuatanmu jujur saja sudah melampaui batas. Tapi, aku tidak bisa membunuhmu."

"Apa ... Anda akan mengampuniku?"

Menggenggam secercah harapan dari ucapan Duke Ludens, ia mempertanyakan maksudnya.

"Kau pikir kau akan diampuni setelah melakukan semua ini? Apa kau benar-benar percaya itu?"

Suara Ludens bergetar karena amarah.

"M-Mohon ampuni saya, Yang Mulia! Saya ini pengkhianat yang diancam oleh Neptune!"

Jika salah bicara, ia akan langsung dibunuh.

Di tengah ketakutan itu, ia melontarkan alasan pembelaan.

"Kau berbohong semudah kau bernapas, ya. Begitu ya, persis seperti apa yang para Tetua katakan. Dosa-dosamu terlalu besar untuk bisa mati begitu saja."

Sesaat setelah Ludens menyelesaikan kalimatnya, tubuh Dos perlahan melayang ke udara.

"Naha!? Tubuhku—"

Bersamaan dengan kata-kata terakhirnya, seluruh tubuh Dos berpelintir.

"Gugigagagaga ... gehe!"

Layaknya memeras kain lap kotor, darah menetes dari tubuhnya, sebelum akhirnya tubuh itu lenyap tak berbekas.

Ludens berlutut dengan dengan penuh hormat.

Di hadapannya, monster berhidung panjang, Girimehkala, tengah berdiri dengan gagah.

"Ludens, selamat atas penyelesaian ujian ini. Kalian telah menunjukkan jalan kalian sendiri. Ayah kami pasti akan sangat senang."

Mendengar kata-kata Girimehkala yang terdengar agak riang,

"Ini adalah sebuah kehormatan!"

Ludens menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Kepada kalian yang telah menyelesaikan ujian, Ayah Agung kami akan memberikan hadiah."

Girimehkala menjentikkan jarinya.

"Ludens?"

Ia mendongak mendengar suara yang begitu dirindukannya, dan di sana, berdirilah wanita yang ia cintai sepanjang hidupnya.

"Sena!"

Saat ia berdiri dan berseru memanggil namanya, Sena langsung memeluknya.

Setelah ia memeluk Sena erat,

"Tak lama lagi, semua insiden ini akan segera berakhir. Ludens, kau punya tugas untuk membangun kembali Kadipaten Dux yang telah dikacaukan oleh Neptune dan para pengikutnya, tapi sekarang kau harus memulihkan tenaga dulu."

Bersamaan dengan ucapan itu, keberadaan Girimehkala pun lenyap.

"Dari mana aku harus mulai cerita, ya ...."

"Ya, anak itu, Kai, terlibat, kan? Bawahan Kai hanya menceritakan garis besarnya ... Aku tidak ingin dia terlibat dalam hal berbahaya ...."

Mendengar Sena yang menyebut nama itu dengan penuh kecemasan,

"Sena, kau—"

Di saat ia baru saja hendak membuka mulut untuk menanyakan pertanyaan yang sangat janggal itu,

"Biar aku saja yang menjelaskan."

Seorang pemuda elf menampakkan dirinya.

Dia adalah Olga Evans, teman lama Ludens dan Sena, sekaligus sosok yang pernah mempertemukan mereka berdua di masa lalu.



Chapter 1 | ToC | Chapter 3

Post a Comment

Post a Comment

close