Chapter 2
Kerusuhan di Kadipaten Dux
Pandora dan kawan-kawan berangkat
menuju "Hutan Duka" menggunakan kereta kuda.
Kereta terus terguncang sepanjang
malam.
Namun, bagian dalam kereta cukup
luas dan guncangannya secara tidak alami terasa sangat minim, menjadikannya
sangat nyaman.
(Sebenarnya, siapa mereka
semua...)
Hal itulah yang terus
dipikirkannya selama berada di dalam kereta.
Megalo itu kuat. Cukup kuat untuk
memperlakukan Empat Uskup Agung terkuat dari Gereja Pusat maupun para Kardinal
seperti Pandora bagaikan serangga.
Namun, Megalo yang seharusnya
menjadi sosok kuat tak tertandingi itu dibunuh secara sepihak oleh seorang pria
tua kusir yang mengaku sebagai manusia.
Bagi orang seperti Pandora, hal
itu sudah tidak bisa diukur lagi, tetapi dinding kekuatan antara si pria tua
kusir dan Megalo pasti menjulang lebih tinggi daripada pegunungan raksasa.
Begitu pula dengan Nero. Pandora
tahu dia kuat.
Namun, menurut penjelasan Machia,
Nero hanyalah manusia biasa.
Dia sama sekali tidak menyangka Nero memiliki kekuatan untuk membantai
anggota pasukan Giganto seperti memijak semut di pinggir jalan.
Tetapi demikian, dari serangkaian ucapan dan
tindakannya, sudah dipastikan Nero bukanlah manusia biasa. Soal itu tidak
masalah.
Yang menjadi masalah adalah pernyataan si kusir
dan pria berambut abu-abu yang mengaku bernama Shin, bahwa mereka mempertegas
diri sebagai manusia.
Terlebih lagi, si kusir sangat murka pada Megalo
yang membantah hal tersebut.
Artinya, setidaknya di permukaan, si kusir dan
Shin bertindak dan membawakan diri mereka sebagai manusia.
Tentu saja, monster yang membantai seluruh anggota
pasukan Giganto tidak mungkin seorang manusia.
Justru karena itulah, niat Shin dan kelompoknya
sama sekali tidak bisa terbaca.
Beberapa saat setelah di luar mulai terang, kereta
kuda itu berhenti. Pria tua yang menjadi kusir masuk ke dalam kabin.
"Kita telah sampai di tepi Danau Jinam."
Dia melaporkan hal itu sembari membungkuk dengan
hormat.
"Umu. Kalau begitu, mari kita langsung makan
siang."
Faf, yang tadinya tertidur lelap sambil
menghembuskan napas lucu di samping Shin, mendadak bangkit berdiri.
"Makan siang! Ada ikan!"
Sambil melompat-lompat kegirangan, dia melesat
keluar dari kereta kuda.
"Tuan Pandora, kalau terus-terusan tegang
begitu, kau bisa lelah. Aku akan memasak hidangan ikan, makanlah ini untuk
menyegarkan diri."
Shin menyampaikan hal itu kepada Pandora dengan
senyuman cerah.
Bagi Pandora, Shin setara dengan binatang buas
yang bisa membunuhnya seketika hanya dengan sedikit tamparan di pipi.
Disapa seperti itu saja sudah membuat keringatnya
bercucuran di luar kehendaknya, dan seluruh tubuhnya mulai gemetaran halus.
"B-baik. Dengan senang hati
saya terima."
Sambil berjuang keras menahan
pipinya yang hampir kejang, dia mengangguk dalam-dalam dengan ukiran senyum.
Saat Shin memasukkan pedang dengan
bentuk bilah yang aneh ke dalam danau, aliran listrik menyengat air.
Tak lama kemudian, puluhan ekor
ikan mengapung terombang-ambing di permukaan air.
"Ikan! Banyakkk! Ada yang
besar juga!"
Dari yang berukuran normal hingga
ikan raksasa berukuran beberapa meter yang jelas-jelas kelas monster ikut
mengapung.
Melihat ikan-ikan itu, Faf bersuka
ria dengan ekspresi penuh kegembiraan.
Shin menarik ikan-ikan tersebut ke
darat dan mulai memasaknya.
"Enak sekali!"
Faf mengunyah dengan wajah penuh
kebahagiaan.
Pandora pun dengan ragu-ragu
memasukkan daging ikan yang terpanggang matang itu ke dalam mulutnya.
(Enak sekali!)
Garam yang ditaburkan dalam jumlah
pas pada daging ikan berpadu dengan rasa manis alami dagingnya, menciptakan
harmonisasi yang luar biasa.
(Ternyata aku sangat lapar, ya...)
Mungkin karena belakangan ini terjadi banyak hal
hingga dia tidak bisa makan dengan benar. Pandora baru pertama kali ini
menyadari bahwa dirinya ternyata sangat kelaparan.
"..."
Seperti masa kecilnya dulu, Pandora melupakan
kesopanan dan situasi krisis yang dihadapinya, lalu mulai menyantap ikan itu
dengan lahap tanpa memedulikan sekitar.
Setelah makan dengan lahap, tiba waktunya untuk
beristirahat.
Faf tertidur di pangkuan Shin, sedangkan Nero juga
sedang beristirahat di dalam kereta.
Saat ini, Shin, Lou, dan Pandora sedang meminum
teh seusai makan di atas meja dan kursi lipat panjang.
"Permisi..."
"Hmm? Ada apa?"
Atas pertanyaan Pandora yang ragu-ragu, Shin
bertanya balik sambil menyesap tehnya.
"Bos dari Megalo yang kalian kalahkan adalah
Poseidon. Apakah orang-orang hebat seperti kalian tidak bisa membasmi
mereka?"
"Bukankah itu monster yang bahkan tidak mampu
diatasi oleh kalian, pihak Gereja Pusat?"
"Ya. Sangat menyesalkan, tetapi bagaimanapun
caranya, kami tidak akan sanggup mengalahkan Poseidon."
"Kalau begitu, kami pun tidak akan mampu.
Saat ini kami hanyalah Hunter peringkat B. Mana ada logikanya kami bisa
mengalahkan monster yang tidak bisa kalian tangani."
Shin menolaknya secara halus dengan lelucon
semacam itu.
Meski begitu, isi perkataan Shin sendiri adalah
kebenaran. Berkat efek sekunder dari Karunia, Pandora memiliki kemampuan untuk
melihat kebenaran atau kebohongan dari ucapan orang lain.
Hanya saja, kemampuan itu tidak selalu bisa
mendeteksi secara pasti, melainkan sekadar firasat yang tidak sempurna.
Namun, jika dilengkapi dengan pengamatan manusia
yang dikembangkan Pandora selama ini, kepastian penilaian kebenaran itu bisa
meningkat drastis.
Dari sudut pandang Pandora, dia dapat memahami
bahwa tidak ada kebohongan dalam pernyataan Shin barusan.
"Begitu rupanya..."
Bagi orang tingkatannya atau level Poseidon,
Pandora tidak akan sanggup lagi menilai seberapa besar kekuatan mereka.
Shin sendiri mempertegas hal itu. Setidaknya,
Pandora berpikir bahwa Shin merasa bertaruh nyawa jika harus menang melawan
Poseidon.
"Tuan Shin..."
Nero yang keluar dari kereta kuda membisikkan
sesuatu di telinga Shin.
"Hou... Bukankah itu menarik?"
Shin bergumam pelan.
Melihat sekilas ekspresinya yang menyerupai
binatang buas dalam sekejap, Pandora merasakan ketakutan hebat seolah-olah es
batu ditempelkan ke tulang belakangnya.
"Tuan Shin?"
Pandora menanyakan arti dari ekspresi tersebut.
"Ah, maafkan aku. Sepertinya ada masalah yang
merepotkan. Tuan Pandora, menurutmu apa yang harus kita lakukan tentang
ini?"
Saat Nero memetik jarinya, pemandangan sebuah
padang rumput di suatu tempat terpancar di depan mata.
Si Nero itu, ternyata bisa menggunakan teknik
sepraktis ini juga.
Mungin selama di Emblade dia berpura-pura polos
dan menyembunyikan sebagian besar kekuatannya.
Di saat dirinya sedang mengumpat
pada Nero di dalam hati——.
"Eh?"
Suara canggung keluar dari mulut
Pandora.
Yang terpancar di depan matanya
adalah sebuah perburuan.
Mangsa yang diburu adalah sepasang
kakak beradik Beastkin kecil.
Tidak, wajah mereka juga ditumbuhi
bulu. Apakah mereka bukan Beastkin,
melainkan High Kobold...?
Sambil mengukir senyum tipis, para pria
berintegrasi dengan pakaian mewah layaknya bangsawan mengejar anak-anak itu
sambil melepaskan anak panah.
High Kobold juga tergolong monster tulen.
Menurut ajaran Gereja Pusat, mereka adalah makhluk
yang bahkan keberadaannya saja sudah penuh dosa.
Setidaknya, itulah yang diajarkan kepada Pandora
selama ini, dan itulah yang dia khotbahkan kepada para pengikutnya.
Oleh karena itu, seharusnya dia tidak terlalu
terguncang meski diperlihatkan pemandangan anak-anak itu diburu.
Seharusnya begitu, tetapi sosok sang kakak
perempuan yang menarik tangan adik lakilakinya sambil melarikan diri dengan
raut wajah panik, bertaut dengan masa lalu Pandora dan adiknya yang berusaha
kabur di tengah kobaran api saat diserang kaum Iblis.
"Saya akan menolong mereka! Di mana
lokasinya!?"
Mengikuti gejolak emosi kuat yang mendadak
membuncah, Pandora secara alami meremas tongkat yang ada di sampingnya lalu
menanyakan hal tersebut.
Pada saat ini, terhadap kata-kata yang keluar
secara alami tanpa keraguan maupun konflik sedikit pun, Pandora sendiri
merasakan keheranan yang cukup segar.
"Di atas bukit itu. Jika kau berlari ke arah
yang ditunjukkan jariku, kau akan segera sampai di lokasi kejadian."
Shin menunjuk ke arah bukit di dalam hutan, lalu
menjawab dengan nada bicara membalas yang agak gembira.
Mendengar hal itu, Pandora langsung berlari
seolah-olah punggungnya didorong oleh kedua tangan seseorang.
Pandora melesat di dalam hutan
dengan kalap.
Baju keagamaan yang dikenakannya
sudah robek di berbagai tempat akibat ranting-ranting pohon, tetapi dia terus
berlari tanpa peduli.
Mengapa? Kakak beradik itu
setidaknya adalah makhluk yang tergolong dalam kegelapan yang sangat dibenci
Pandora.
Namun, hanya dengan sekali melihat
ekspresi wajah mereka yang terdistorsi oleh ketakutan, keinginan untuk tidak
menolong langsung sirnah tak berbekas.
Tentu saja, ada juga alasan bahwa
penegakan keadilan tanpa belas kasihan dari Poseidon telah membuat ajaran
gereja itu sendiri—yang bahkan tidak pernah dipertanyakannya sampai
sekarang—menjadi tidak dapat dipercayai lagi.
Akan tetapi, keputusasaan yang
dirasakan Pandora tidaklah dangkal hingga kebencian dan rasa jijiknya terhadap
monster maupun kaum Iblis bisa hilang hanya karena ajaran seperti itu.
Seharusnya begitu, tetapi Pandora berlari tanpa menoleh lagi.
——Padahal berlari menuju tempat
tujuan ini sama sekali tidak memberikan keuntungan apa pun baginya.
——Padahal napasnya sesak, dan jantungnya serasa
mau pecah.
Namun, dari kecemasan yang seolah akan meledak,
kakinya tidak berhenti dan terus berlari menuju tempat tujuan.
Saat menembus hutan dan sampai di bukit yang agak
tinggi, anak panah menancap sangat dalam di kaki kanan sang kakak perempuan
yang melarikan diri di padang rumput yang jauh.
Sang adik menangis sambil memeluk
kakaknya yang terguling. Sembari memeluk adiknya dengan erat, sang kakak
merenung belasan pria yang telah melepaskan anak panah.
Menggunakan sihir untuk
menyembunyikan hawa keberadaan, Pandora mendekat secara hati-hati agar tidak
disadari oleh mereka.
"Kena! Tuan Gorongo, sungguh
luar biasa!"
Beberapa pemuda yang tampaknya
bangsawan di sekitar bertepuk tangan, memuji seorang pria muda berbadan gempal
yang mengangguk puas sambil memilin kumis Kaiser di pipi kirinya dengan bangga.
Pada pakaian berhias megah yang
dikenakan pria gempal itu, terdapat lambang Duke Dux yang berbatasan langsung
dengan Babel dan Kerajaan Amelia.
"Seperti yang diharapkan, busur
buatan Rascourt yang dibelikan Ayah memang berbeda! Bukankah ini selalu
tepat sasaran!?"
Gorongo, pria gempal berkumis
Kaiser, berseru kagum sembari menatap busur indah di tangan kirinya dengan
ekspresi sangat puas.
"Tidak, tidak, ini bukan karena
kekuatan busur, melainkan kemampuan Tuan Gorongo sendiri. Seperti yang
diharapkan dari calon kepala keluarga Bildartz berikutnya!"
"Benar sekali!"
Para bangsawan pengikut memberi
tepuk tangan meriah.
Apakah pria itu Gorongo Bildartz? Kadipaten Dux, Keluarga Duke
Bildartz.
Dia adalah kerabat dari Kepala
Negara Duke, sekaligus sinonim dari orang bodoh yang setara dengan Pangeran
Gilbert dari Kerajaan Amelia.
(Jika aku menolong anak-anak
itu...)
Kadipaten Dux adalah negara agama
yang sangat taat di dalam wilayah ajaran Gereja Pusat.
Jika ketahuan bahwa yang menolong
kakak beradik monster itu adalah Pandora yang merupakan Kardinal saat ini,
masalahnya tidak akan berhenti pada Pandora seorang yang diseret ke pengadilan
Inkuisisi.
Masalah ini bahkan bisa menjadi
situasi yang meruntuhkan fondasi Gereja Pusat itu sendiri.
Akan tetapi, hal seperti itu——.
(Sudah terlambat!)
Benar! Sudah terlambat! Lagipula,
Pandora saat ini sedang diburu oleh gereja sebagai pengkhianat yang menentang
Dewa Agung. Yang terpenting, dengan turunnya Poseidon ke tanah ini, organisasi
bernama gereja sudah lama hancur.
Sekarang dia bisa mempertegasnya
dengan jelas. Setiap hal pasti memiliki sisi depan dan belakang, dan keduanya
berdiri di atas keseimbangan yang luar biasa.
Kengerian yang terjadi ketika
seseorang secara paksa menuntut kebenaran hanya dengan kekuatan, sudah dialami
sendiri oleh Pandora di Emblade.
Orang-orang di depannya ini juga
merupakan akhir dari kebenaran yang bengkok itu. Salah satu dampak buruk yang
dihasilkan oleh keadilan sepihak dari Gereja Pusat.
Karena terlalu mempercayai
kebenaran yang diucapkan orang lain secara buta, mereka mengabaikan pemikiran
sendiri, hingga akhirnya menjadi manusia cacat yang kehilangan rasa empati
terhadap orang lain—hal yang paling penting.
(Mereka itu adalah diriku yang dulu...)
Orang-orang menjijikkan di depannya ini adalah
Pandora yang dulu, yang mempercayai keadilannya sendiri tanpa keraguan sebagai
seorang Kardinal.
(Bener-benar tidak dapat
diampuni!)
Rasa jijik dan amarah yang hebat
terhadap dirinya sendiri dan orang-orang bodoh di depannya memenuhi hatinya
bagaikan angin kencang.
"Kekuatanku ini masih belum seberapa."
"Sikap rendah hatimu juga sangat luar
biasa!"
Sambil mengendurkan sudut mulutnya karena tidak
terlalu membenci pujian para bangsawan, pria itu berkata.
"Nah, dengan begini perburuan
selesai. Mari kita bawa
pulang dan jadikan makanan Mary. Hei!"
"Siap!"
Saat Gorongo memberi isyarat dengan dagunya,
beberapa pria berseragam militer Kadipaten Dux yang bersiap di belakangan
memberi hormat, lalu mendekati kakak beradik itu dan mencoba mengikat
pergelangan tangan mereka.
"Holy Bind!"
Merapalkan sihir dengan cepat, Pandora
mengaktifkan sihir tipe pengikat yang dikuasainya, Holy Bind.
Lingkaran sihir raksasa muncul di atas kepala dan
tanah, menjepit mereka dari atas dan bawah dengan kekuatan tak kasat mata.
"Gugigi!"
"Giga!"
Di saat orang-orang itu menjerit akibat rasa sakit
yang tertekan dari atas dan bawah, Pandora mengabaikan mereka, mendekati kakak
beradik tersebut, mencabut panah yang menancap di kaki sang kakak, dan di saat
yang sama merapalkan sihir penyembuh. Dalam sekejap mata, kaki sang kakak
sembuh.
"Tetaplah berada di belakang saya!"
Sambil memberikan instruksi dengan
cepat sembari waspada, dia merendahkan titik berat tubuhnya dan berbalik
menghadapi mereka.
Tentu saja, target yang
diwaspadainya bukanlah kroco seperti Gorongo yang tidak bisa berdiri akibat
efek Holy Bind, melainkan pria gundul yang tetap berdiri dengan wajah
tersenyum menyeringai meski terkena sihir.
Pria gundul ini mengenakan jubah
merah membara seperti darah, memakai caping merah, dan memiliki tato unik yang
memuat angka '5' di wajahnya.
(Tato itu! Orang ini adalah
Alumnus! Jika begitu, ini bisa jadi merepotkan!)
Tato sabit dan tengkorak, serta
pakaian unik itu, mereka adalah Alumnus—asosiasi penyihir yang terdiri dari
lulusan 'Menara' Babel.
Sebuah organisasi yang bergerak
dengan tujuan memperoleh sihir yang disembunyikan di dunia atau teknik
terlarang yang penggunaannya sendiri diharamkan, dan biasanya mereka adalah
kelompok yang tidak akan pernah muncul di panggung utama.
Namun, belakangan ini ada laporan
bahwa mereka dipekerjakan oleh para raja dan bangsawan berbagai negara dengan
imbalan uang dalam jumlah besar, dan Gereja Pusat sendiri menandai mereka
sebagai organisasi yang harus diwaspadai.
Bagaimanapun, mereka tidak memilih cara demi
mencapai tujuan. Tidak diragukan lagi bahwa Pandora dan yang lainnya berada
dalam situasi krisis saat ini.
"Ho~ kamu Kardinal Gereja Pusat, Pandora,
kan? Mengapa kamu
menolong anak anjing seperti itu?"
"Entahlah, hanya kebetulan
belaka."
Sambil menjawab acuh tak acuh, dia
mulai merapalkan sihir dengan suara pelan. Maaf saja, dia sama sekali tidak
berniat mengobrol dengan kolektor teknik terlarang.
"Ah, itu tidak mungkin."
Sosok pria gundul berjubah merah
itu mendadak lenyap dari depan matanya.
"——!?"
Saat dia panik dan melihat sekeliling,
"Nah, sebelum ratapanmu selesai, kamu bisa
dengan mudah ditangkap seperti ini."
Suara serak terdengar dari belakang Pandora, dan
lengan tebal seperti batang kayu membelit lehernya.
"Jangan meremehkanku!"
Mengarahkan telapak tangan kirinya ke belakang,
Pandora melepaskan kartu trufnya, Holy Bullet tanpa rapal.
"Guo!?"
Beberapa bola perak bertabrakan dengan wajah pria
berjubah merah. Pandora mengibaskan lengan pria berjubah merah itu.
Mengabaikan pria berjubah merah yang menjerit
sambil memegang wajahnya yang mengeluarkan asap putih beserta bau daging
terbakar dengan kedua tangan, Pandora merengkuh kedua kakak beradik itu dengan
kedua tangannya, lalu berlari sekuat tenaga ke arah tempat Shin dan yang
lainnya berada.
Kekuatan pria berjubah merah itu melebihi
bayangannya. Lebih tepatnya, gerakan tadi dengan mudah melampaui gerakan
manusia.
Bagaimanapun ditinjau, dia bukanlah manusia.
Setidaknya, dia cukup kuat untuk memelintir dan menghancurkan Pandora dengan
satu tangan secara mudah——.
(Mengapa dunia ini menjadi seperti ini!)
Karena menyesal, air matanya menetes. Hingga
beberapa saat yang lalu, Pandora seharusnya adalah salah satu orang terkuat di
dunia.
Namun kini, Pandora hanyalah seorang wanita tak
berdaya yang melarikan diri dari orang kuat.
Jika diingat-ingat kembali, dunia berubah secara
jelas setelah terlibat dengan Lumine Helner.
Sebelum terlibat dengannya, dunia ini memiliki
keharmonisan, baik atau buruk. Ada Raja Iblis yang merupakan musuh kemanusiaan,
dan ada Pahlawan yang berusaha mengalahkannya.
Gereja memimpin umat manusia ke arah yang benar
dengan mendukung pihak manusia seperti Pahlawan dari belakang.
Namun sejak hari itu, hal tersebut runtuh secara
besar-besaran.
Satu demi satu bermunculan sosok-sosok kuat tak
tertandingi yang bahkan tidak bisa dilawan oleh umat manusia.
Dewa yang dipercayai Pandora dan yang lainnya dari
lubuk hati, dengan mudah menjual umat manusia kepada Dewa Agung yang hanya
menuntut kebenaran.
Sebaliknya, Kai Heinemann yang diperkirakan
sebagai majikan dari Dewa Lalat yang dianggap sebagai musuh bebuyutan umat
manusia, justru memimpin monster dan kaum Iblis yang merupakan sinonim dari
kejahatan, lalu mendirikan negara baru untuk mencapai kemakmuran bersama dengan
umat manusia. Ini menjadi situasi yang tidak bisa disebut selain ironi.
Jujur saja, dia sudah tidak tahu lagi harus
percaya pada apa. Hanya satu hal yang bisa dikatakan——.
——Hanya kakak beradik ini yang
harus diselamatkan!
Di tengah pemikirannya yang kacau,
hanya hal itu yang menjadi tugas utama yang menentukan tindakan Pandora.
Saat hendak memasuki hutan, dia terguling dan
jatuh ke tanah. Segera setelah itu, rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum
menjalar di kedua kakinya.
"Pelacur sialan ini!"
Saat dia refleks menoleh ke arah sumber suara,
pria berjubah merah dengan wajah terdistorsi oleh amarah seperti topeng Hannya
dan sudut mata yang tajam menancap berada di depan mata Pandora, lalu menginjak
perutnya.
Bersamaan dengan benturan itu, kesadaran Pandora
lenyap seketika.
◇◆◇
Aku sedang memandangi gambar yang diproyeksikan di
udara bersama para petinggi Faesta di dalam tenda di samping Danau Jinam.
Kecuali beberapa orang seperti Gilbert, raut wajah
para petinggi Faesta yang memandangi gambar itu dipenuhi kebingungan.
"Ternyata Tuan Pandora menolong kakak beradik
High Kobold itu, ya. Apalagi sampai mempertaruhkan nyawa."
Paman Cliff mengucapkannya dengan nada tertarik.
"Tapi, dia adalah petinggi gereja, musuh
bebuyutan kita, kaum Iblis dan monster!"
Kepada petinggi kaum Iblis yang berteriak
seolah-olah berusaha meyakinkan dirinya sendiri,
"Benar. Aku pun sama sekali tidak bisa
mempercayainya."
Cyclone, monster Cyclops, ikut
menyetujui.
Dimulai dari Crocodas, para monster
dan kaum Iblis dari suku petarung berturut-turut menyuarakan kalimat penolakan
terhadap gereja.
"Bagaimana menurutmu,
Gil?"
Kigi, mantan pemimpin suku Sheepcat
sekaligus wakil ketua Faesta, meminta pendapat kepada Gil yang merupakan ketua
umum.
"Haha! Aku dulu lebih sampah daripada dia,
lho. Aku tidak bisa
bicara sok hebat."
Kepada Gil yang tertawa getir
sambil menggaruk pipinya,
"Tentu saja. Kau yang memperlakukan sesama
manusia seperti kami bagaikan serangga saja tidak bisa mengomentari orang lain.
Malah, Gorongo yang tadi justru terasa jauh lebih dekat denganmu, kan?"
Terhadap sindiran tajam dari Somni,
"Tidak, tidak, dibandingkan dengan betapa
sampahnya pangeran di masa lalu, yang tadi itu masih tergolong lucu."
Tetre juga langsung menjawab.
"Kalian bicara kejam sekali,
ya. Tapi, masih terlalu dini
untuk menarik kesimpulan. Benar begitu kan, Lord Kai?"
Sambil menatap sekeliling ke arah semua orang dan
menyampaikan kesan tersebut, Gilbert meminta persetujuan dariku.
"Ya, ujian Tuan Pandora baru saja dimulai.
Kita bisa menarik kesimpulan lagi setelah ujiannya selesai."
Sepertinya mereka menangkap Tuan Pandora yang
pingsan dan mengawalnya kembali ke negara asal mereka.
Untuk saat ini, tampaknya dia tidak berada dalam
bahaya jiwa dan raga yang serius seperti halnya kakak beradik High Kobold itu,
jadi mari kita lihat perkembangannya.
"Apakah orang itu akan baik-baik saja?"
Kepada Shar yang bertanya dengan ekspresi cemas,
"Ya, aku juga berencana menyusup ke Kadipaten
Dux sekarang, jadi tidak perlu khawatir."
Aku memberitahukan jawaban yang diinginkannya
dengan tegas.
Sangat di luar dugaan bahwa Kardinal Gereja Pusat
begitu lemah hingga dikalahkan dengan mudah oleh kroco seperti itu. Promosi
bahwa dia kuat mungkin hanyalah gertakan untuk membuat para pengikut percaya.
Rencana awalnya adalah meminta para petinggi
Faesta menilai sosok Pandora berdasarkan apakah dia menolong kakak beradik itu
atau tidak, tetapi sepertinya kami terpaksa mengubah arah.
Sekarang pun aku sudah memberi instruksi kepada
Boonboon untuk melindungi Pandora dan kakak beradik High Kobold itu jika
terjadi sesuatu.
Kekuatan Boonboon berada satu tingkat di atas
bawahan-bawahanku yang lain. Bahkan jika diserang, dia pasti sanggup melarikan
diri kembali.
"Gil, secara pribadi bagaimana kau menilai
Tuan Pandora?"
Atas pertanyaan Paman Cliff, Gil melipat kedua
tangannya dan terdiam sejenak untuk berpikir,
"Konsep tetap adalah sejarah hidup yang telah
kita jalani sampai sekarang, dan baik atau buruk, itu adalah identitas penting
untuk membentuk diri sendiri. Sesuatu yang sudah melekat sekali tidak akan bisa
diubah dengan mudah. Aku
pernah kehilangan ingatan sekali dan berhasil merisetnya dengan baik. Namun,
dia mempertahankan ingatannya dan berusaha mengubah persepsi itu sendirian
melalui tindakannya sendiri. Menurutku, hal itu jauh lebih berat dan keras dari
yang kita bayangkan. Karena itulah, aku ingin mempercayainya."
Gil memilih kata-katanya dan
mengucapkannya seolah meresapi setiap kalimat.
"Maaf saja, Gil dan
orang-orang gereja itu berbeda. Aku tidak bisa menerima mereka."
Terhadap perkataan Cyclone yang seolah mewakili
perasaan semua orang, para petinggi Faesta juga mengangguk setuju dalam diam.
"Selama kalian tidak
menginginkannya, aku tidak akan bergerak. Dipikirkan baik-baik lalu putuskanlah."
Aku berdiri dari kursi dan mendeklarasikannya
kepada para petinggi Faesta.
◇◆◇
Di depan Putri Kedua Louise Lot Amelia yang sedang
meminum teh merah dengan anggun di kediamannya di Babel, muncul Nemesis,
seorang wanita cantik tiada tara yang mengenakan pakaian merah minim.
Louise berdiri dari sofa,
"Selamat datang, Lady
Nemesis."
Sambil memegang ujung roknya dan
mengukir senyuman, dia membungkuk dengan anggun.
Izark Gizido, pemuda berambut
putih dengan mata menyipit seperti garis yang bersiap di samping Louise, juga
mengikuti gerakannya dengan meletakkan tangan kiri di belakang dan tangan kanan
di dada sembari membungkuk hormat.
"Louise, apakah benar-benar
tidak apa-apa? Kau harus mempertaruhkan nyawamu sampai batas tertentu,
lho?"
"Tentu saja, saya sudah
siap."
"..."
Wanita cantik berpakaian merah,
Nemesis, menatap mata Louise dalam diam sejenak,
"Peranmu kali ini adalah
seorang badut. Meskipun begitu, apakah benar-benar tidak apa-apa?"
Dia bertanya dengan nada bicara yang
agung.
"Ya. Kali ini saya tidak
berniat untuk menonjolkan diri. Semata-mata karena pertemuan yang lebih cepat sehari saja dengan orang itu
adalah kerinduan saya."
Sambil meletakkan kedua tangan di
dada, dia berbisik seolah sedang bernyanyi.
Nemesis menghela napas kecil,
"Jika mempertimbangkan
perasaanmu, sejujurnya aku enggan memberikan izin untuk berpartisipasi dalam
rencana kali ini. Tapi... baiklah. Atas nama Nemesis ini, aku mengizinkanmu
berpartisipasi dalam ujian kali ini."
Dia mengulurkan tangan kanannya
dan berdeklarasi dengan tegas.
"Terima kasih atas pertimbangan Anda."
Saat Louise berlutut dengan satu kaki dan
menundukkan kepalanya dalam-dalam, Izark pun ikut melakukannya.
"Izark, apakah kau tidak perlu berpartisipasi
dalam rencana kali ini?"
"Ya, karena saya menolak untuk menghirup
udara yang sama dengan pria itu."
Kepada Izark yang mengucapkan
kalimat tajam dengan senyuman, Nemesis mengangkat bahunya,
"Aku tidak berniat ikut
campur dalam urusan kalian ayah dan anak, tetapi tidak ada gunanya terus
bersikap keras kepala. Saling bersikap jujurlah satu sama lain."
Dia berbicara dengan lembut seolah
menasihati.
"Akan saya camkan dalam hati,
wahai Dewi. Terima kasih atas
perhatian Anda."
Terhadap kata-kata yang jelas-jelas sekadar etika
sosial itu, Nemesis menghela napas lebih besar dari sebelumnya,
"Louise, jika rencananya sudah dekat, aku
akan datang menjemputmu. Kalau begitu, semoga keberuntungan memberkati
kalian."
Saat menempelkan tangan kanannya ke bibir, Nemesis
melenyapkan sosoknya bersama dengan bunga-bunga berwarna merah membara.
Louise dan Izark tidak bergerak sejenak sambil
tetap berlutut dengan satu kaki, tetapi Louise berdiri dan berbalik menghadap
Izark,
"Izark, kamu sedang
merencanakan sesuatu, kan?"
Dia bertanya dengan nada bicara
yang tidak menerima bantahan.
"Merencanakan sesuatu itu tidak mungkin. Saya
selalu bertindak demi Puan Putri."
"Aku tidak meragukan hal itu. Cuma satu hal,
beri tahu aku. Kamu tidak akan memusuhi Kai, kan?"
"Saya bersumpah, saya tidak akan melakukan
hal yang membuat Lord Kai marah."
"...Aku mengerti. Aku percaya padamu."
Louise menghapus wajah seriusnya dan mengukir
senyuman seperti biasa, lalu duduk di sofa dan mulai meminum teh merah dengan
anggun.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
Isaak membungkuk dengan anggun sebelum melangkah
keluar dari ruangan.
Tepat saat Isaak hendak meninggalkan kediaman
Louise,
『Isaak,
bagaimana hasilnya?』
Suara seorang pemuda bergema di dalam kepala
Isaak.
(Tampaknya Putri kita berniat campur
tangan dalam perselisihan antara Tuan Kai dan Poseidon kali ini.)
『Poseidon dan
Kai Heinemann akan bertabrakan, kah... Dengan begini, kita bisa melihat sejauh mana
kemampuan Kai Heinemann.』
(Apakah Anda meragukan kemampuan Tuan Kai,
Tuan Orochi?)
『Tidak,
bagaimanapun juga, dia adalah pria yang dipuji oleh Tuan Shou—tuan kita—sebagai
orang yang kekuatannya tak terukur. Tak diragukan lagi dia berada di ranah yang
sama dengan kita. Tapi, Poseidon itu beda kelas. Jika dia mampu bertarung
secara seimbang melawan makhluk itu...』
(Tuan Kai yang akan menang.)
『Isaak,
bagaimana bisa kamu sedemikian yakin?』
(Anda juga akan mengerti jika sudah
bertemu dengannya secara langsung. Dia jelas-jelas berada di level yang berbeda.)
『Begitu,
ya... Kalau
begitu, mari kita saksikan pertarungan ini dengan santai.』
Seiring dengan kalimat terakhir itu, suara di
kepalanya terputus secara terabaikan.
"Astaga, Tuan Penasihat kita masih saja
bertindak seenaknya sendiri."
Sembari tersenyum getir, Isaak pun mulai melangkah
pergi.
◇◆◇
Saat Pandora sadar kembali, dia sudah berada di
dalam sebuah penjara bawah tanah yang dingin.
Di dalam penjara itu, terdapat belasan manusia
yang tampaknya berasal dari ras manusia biasa.
Dengan kepala yang masih terasa
pening, Pandora mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Kulihat kau tertidur cukup
lama, kau baik-baik saja, Mbak?"
Seorang pemuda berambut abu-abu
yang tampak berusia pertengahan belasan tahun duduk di samping Pandora, lalu
menyuarakan keprihatinannya.
"Ya..."
Pandora mengangguk ragu dengan
kepala yang masih terasa linglung bagaikan tertutup kabut.
"Mbak ini biarawati gereja,
kan? Kenapa orang seperti Mbak bisa dijebloskan ke tempat seperti ini?"
Kepada pemuda berambut abu-abu
yang bertanya dengan nada bicara terkesan terlampau santai itu, Pandora
menjawab.
"Aku..."
Seiring ingatan yang tadinya kabur
mulai menjernih, kenangan tentang apa yang terjadi hingga saat ini teringat
kembali dengan sangat jelas.
Memory yang terlintas itu memicu
rasa cemas yang amat luar biasa.
"Di sini... apakah anak
berkulit adik-kakak High Kobold tidak dibawa ke sini?!"
Pandora mencengkeram kedua bahu
pemuda berambut abu-abu itu dan bertanya dengan nada bicara yang keras.
"High Kobold? Monster,
maksudmu...? Halah, pantesan aja. Biarawati berteman sama monster, ya panteslah ditangkap."
Pemuda berambut abu-abu itu
mengeluarkan suara kaget, namun tak lama kemudian dia mengangguk-angguk seolah
bisa memahaminya.
"Bagaimana!? Apa kau tahu sesuatu!?"
"Sayang sekali, ini penjara buat manusia. Tempat monster dibawa bukan di
sini. Yah, walau ujung-ujungnya tujuan akhir mereka bakalan sama juga,
sih."
"Tujuan akhir?"
"Iya, dunia orang mati."
Pemuda berambut abu-abu itu
berdiri, lalu menjawab sambil menyilangkan kedua tangan di belakang kepalanya.
"Begitu, ya..."
Golongo sempat berkata, 'Akan
kubawa pulang untuk dijadikan makanan Mary saja'.
Perasaannya sama sekali tidak enak.
Dia harus segera menyelamatkan mereka. Untuk itu,
pertama-tama dia harus keluar dari tempat ini.
Pandora mendekati jeruji besi penjara lalu
mengarahkan telapak tangan kanannya.
(Holy Bread)
Dia mencoba merapalkannya tanpa mantra.
(Tidak bisa... ya...)
Ini sudah diperkirakan. Penjara yang digunakan
untuk menampung penyihir pada dasarnya memiliki struktur yang membuat sihir
tidak dapat digunakan, biasanya dengan memanfaatkan barang sihir seperti Magic
Item. Penjara ini pun tidak terkecuali.
"Mbak, barusan kau mau pakai sihir, ya?"
"Ya, tapi tidak bisa diaktifkan."
"Nyantai banget ngomongnya. Kalau sampai
berhasil aktif, bakal geger tahu."
"Tentu saja."
Pemuda berambut abu-abu itu menatap wajah Pandora
tanpa suara sejenak, lalu mengukir senyum tak kenal takut.
"Kau aneh juga, ya. Yah, bolehlah. Aku Heine.
Perjumpaan kita mungkin bakal singkat, tapi salam kenal."
Setelah menyampaikan salam
formalitas seperti itu, dia berjalan ke dekat dinding lalu berbaring berbantal
lantai batu yang dingin.
Untuk beberapa saat, Pandora terus
memikirkan cara untuk keluar dari penjara ini, tetapi tidak ada satu pun ide
bagus yang terlintas di kepalanya.
Pada awalnya, Heine hanya
mengawasi dari kejauhan, tetapi tak lama kemudian dia mulai mengajak Pandora
berbicara sampai-sampai terasa agak mengganggu.
Pada akhirnya, dia bahkan mulai
menceritakan situasi dirinya sendiri dan kronologi bagaimana dia bisa
dijebloskan ke penjara tanpa ada yang meminta.
Tampaknya, Heine adalah seorang
pesulap/pendekar pedang bawahan dari sosok yang sangat terpandang.
Atas perintah sosok tersebut, dia
mencoba menyelamatkan orang-orang dari ras lain yang ditangkap, namun gagal dan
berakhir diringkus.
Penjara di sini sepertinya
merupakan tempat penampungan bagi mereka yang telah diadili oleh Inkuisisi dan
dinyatakan bersalah.
"Tuan Rula adalah sosok yang
luar biasa dan penuh dengan kearifan!"
Sembari mengangguk pada Heine yang
bercerita dengan bangga, Pandora memutuskan untuk merapikan sedikit situasi
yang ada.
Tempat ini adalah penjara bawah
tanah di salah satu kastil di dalam wilayah Duke Dux.
Kemungkinan besar, Golongo telah
menyerahkan Pandora kepada sang Duke.
Pandora dijatuhi hukuman bersalah
dalam Inkuisisi Duke Dux, lalu dikurung di dalam penjara ini.
"Apakah Tuan Putri Rula juga ditangkap?"
Nama Putri Rula, putri kandung sang Duke, juga
dikenal baik oleh Pandora.
Beliau adalah kandidat utama penerus Duke Dux
berikutnya, tetapi dia juga merupakan sosok yang sejak lama diawasi oleh Gereja
karena memiliki pemikiran berbahaya, yaitu pemikiran untuk hidup berdampingan
dengan monster.
Pandora mendengar bahwa atas permintaan Gereja,
beliau telah dicoret dari kandidat penerus Duke berikutnya.
Dahulu, Pandora menganggap Putri Rula yang
mengambil tindakan yang memicu permusuhan dari berbagai pihak padahal berada di
posisi kandidat utama penerus Duke sebagai wanita yang bodoh.
Namun sekarang, Pandora bisa sangat memahami apa
yang ingin dilakukan oleh Putri Rula beserta perasaannya. Putri Rula hanya mencoba
memperlakukan para monster sebagai individu yang setara.
Dalam hal ini, monster memiliki
perbedaan inteligensi yang sangat signifikan tergantung pada tingkat
evolusinya.
Ada monster seperti Goblin yang
memang memangsa hewan ternak dan minim inteligensi, namun ada pula monster
seperti High Ogre yang memiliki kecerdasan dan pemikiran yang setara dengan
manusia.
Lagipula, selama memiliki inteligensi, mereka juga
memiliki emosi.
Jika orang tersayang hilang mereka akan sedih, dan
jika orang tersayang tertawa mereka akan bahagia.
Pemikiran bahwa mereka adalah makhluk jahat
sehingga boleh diperlakukan seenaknya justru merupakan pemikiran yang
menyimpang.
Pandora dulunya menerima ketidakwajaran yang
merajalela di dalam Gereja ini sebagai hal yang lumrah.
Penyebab jatuhnya Pandora ke dalam pemikiran ini
adalah kurangnya empati terhadap orang lain.
Hal itu mungkin bisa diartikan
juga sebagai kurangnya tenggang rasa.
Sama seperti Pahlawan Mashiro yang
kini telah jatuh ke dalam kebencian.
"Sialan, orang-orang itu
mengarang tuduhan kerusuhan dan mengurung Tuan Rula!"
Heine membesarkan suaranya dengan
nada penuh kebencian.
"Apakah Duke bekerja sama
dengan Alumnai?"
"Tuan Duke benar-benar menuruti semua kemauan
mereka. Ini semua
gara-gara orang itu datang!"
Heine mengepalkan kedua tangannya
erat-erat dengan raut wajah penuh dendam.
Berdasarkan informasi yang
didengar dari Heine, bos dari Alumnai menyebut dirinya sebagai Neptune.
(Si bajingan busuk itu, kah...)
Neptune adalah salah satu dari dua
pengawal terdekat yang berinkarnasi bersama Poseidon.
Pandora sempat berpikir ke mana
dia menghilang akhir-akhir ini, ternyata dia sedang menyebarkan ajaran di
tempat seperti ini...
Mikirkan bahwa pengawal terdekat
Dewa Agung itu telah merebut Alumnai, organisasi berbahaya yang selama ini
diawasi oleh Gereja. Sungguh sebuah ironi yang luar biasa. Bagaimanapun juga—
(Makhluk itu ada di sini...)
Kekejaman Neptune sudah di luar batas kewajaran.
Keberadaannya di sini saja sudah cukup untuk memastikan bahwa wilayah Duke Dux
ini telah berubah menjadi neraka.
Dan jika Neptune yang menguasai kota ini, mustahil
bagi manusia seperti Pandora dan yang lainnya untuk mengalahkan mereka.
Pada akhirnya, tidak ada pilihan lain selain
bergantung pada sosok bukan manusia yang menjadi tujuan perjalanan Pandora.
Ya, Kai Heinemann—seorang pemuda yang memiliki
anugerah Gift bernama 'Yang Paling Tidak Berguna di Dunia'.
"O-Oi, ini terbuka!"
Ketika Pandora mengalihkan pandangannya ke arah
suara salah satu tahanan yang duduk di dekat pintu, pintu itu memang sedikit
terbuka.
"Heine, apa kau merasakan hawa keberadaan
seseorang barusan!?"
"T-Tidak, aku tidak
merasakannya!"
Heine pun membalas dengan suara
terkejut.
Selama jeda singkat saat dia
mengobrol dengan Heine, seseorang telah membuka kuncinya.
Tidak ada kemungkinan lain.
Tapi, siapa dan apa tujuannya?
Tidak, daripada memikirkan hal itu, melarikan diri
dari sini adalah hal yang lebih utama sekarang.
"Aku akan keluar dari sini. Bagaimana dengan
kalian semua?"
Atas pertanyaan Pandora, para tahanan saling
bertukar pandang dengan raut bingung.
Mereka mungkin khawatir bahwa ini adalah jebakan
dan mereka akan dieksekusi.
Namun pada dasarnya, mereka yang berada di posisi
unggul secara mutlak tidak punya alasan untuk melakukan hal serumit ini.
Lagipula, jika yang memerintah di sini adalah
Neptune itu, berada di sini pun pada akhirnya hanya akan membuat mereka mati
lewat eksekusi publik berkedok penyiksaan. Tidak ada salahnya mengambil risiko
di sini.
"Aku juga ikut. Soalnya aku harus
menyelamatkan Tuan Rula!"
Heine ikut berdiri.
"Ayo pergi!"
Bagaimanapun juga, Pandora tidak
berniat membiarkan wilayah Duke Dux tetap seperti ini.
Dalam hal ini, Shin memang menolak
untuk menundukkan Poseidon, tetapi dia tidak menolak untuk menundukkan Neptune.
Masih ada banyak ruang untuk bernegosiasi.
Yang terpenting, jika berhasil
membujuk Kai Heinemann, tidak hanya Emblade, tetapi wilayah Duke Dux ini juga
bisa diselamatkan. Cara untuk menyelamatkan mereka benar-benar ada.
"Sip!"
Sembari mengangguk pada Heine,
Pandora merapalkan sihir penyamaran yang memiliki efek membuat hawa keberadaan
dan wujud diri tidak dapat dikenali pada dirinya dan Heine, lalu berlari ke
luar sel batu.
Meskipun mereka melewati tangga
dari bawah tanah, entah mengapa tidak ada penjaga sama sekali sehingga mereka
berhasil keluar ke dalam area kastil.
Di dalam kastil tentu saja mereka
berpapasan dengan beberapa orang, tetapi berkat sihir penyamaran milik Pandora,
mereka berhasil keluar dari kastil dengan selamat.
Selama penguasa di sini adalah
Neptune, masalah ini tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh manusia seperti
Pandora dan yang lainnya.
Cara yang paling pasti adalah meminta bantuan dari
Kai Heinemann yang merupakan tujuan perjalanan Pandora.
Meski begitu, saat ini Pandora baru mengetahui
nama dan rumor tentangnya saja, dan lagipula belum tentu dia mau menerima
permintaan Pandora. Sebaiknya hindari bergantung sepenuhnya pada dirinya
seorang.
Sosok berikutnya yang kemungkinan bisa
menyelesaikan insiden ini adalah Hunter yang menjadi pengawal perjalanan
Pandora, Shin. Jika dia, mungkin dia bisa menghadapi Neptune sekalipun.
Namun, Shin sendiri sepertinya tidak menyukai ide
bertarung melawan kubu Poseidon. Dalam hal ini, entah mengapa Shin juga
menyebut dirinya sebagai seorang Hunter manusia.
Dengan kata lain, dia bertindak
dalam batas-batas akal sehat dunia Hunter manusia.
Jika dia berpikir bahwa dia tidak
bisa memusuhi Poseidon karena keterikatan sebagai Hunter, tidak peduli seberapa
keras Pandora memohon, dia tidak akan pernah menganggukkan kepala. Karena
tempat memohonnya saja sudah salah.
Pihak yang harus dimintai bantuan
oleh Pandora adalah Guild Hunter.
Dan elemen yang dibutuhkan untuk
membujuk Guild Hunter tersebut adalah Putri Rula.
Pandora membutuhkan Putri Rula
untuk melaporkan kondisi tragis kota ini kepada Guild Hunter dari mulutnya
sendiri, agar mereka menetapkan Poseidon sebagai musuh umat manusia.
Jika begitu, kemungkinan besar
Shin sang Hunter akan bergerak.
"Heine, apakah kau tahu tempat Putri Rula
dikurung?"
"Tidak, aku tidak tahu."
Kepada Heine yang menjawab dengan raut penyesalan,
Pandora bertanya lagi.
"Kalau begitu, adakah orang yang tahu tempat
beliau dikurung?"
"Kalau pejabat tinggi negara, kemungkinan
besar..."
Dia mungkin tidak bisa yakin sepenuhnya.
Heine pun bicara terbata-bata. P
ejabat tinggi Duke Dux, ya?
Kalau begitu, ini mungkin bisa
menyelamatkan dua burung dengan satu batu.
"Apakah Golongo Buildarts
tahu?"
"Aah, babi jenggot brengsek
itu! Gara-gara aduan dia Tuan
Rula sampai dikurung. Kalau dia, tidak aneh kalau dia tahu!"
(Tepat sasaran!)
Mendengar jeritan Heine yang penuh ekspresi
kebencian, Pandora mengepalkan tangannya dalam hati tanda menang.
Dengan begini, salah satu tujuannya telah
terhubung dengan jelas.
"Kita tangkap Golongo Buildarts dan
menginterogasinya untuk mencari tahu tempat Putri Rula dikurung. Pada saat yang
sama, kita juga akan melindungi adik-kakak High Kobold yang ditangkap
olehnya."
Menyelamatkan adik-kakak High Kobold juga. Ini
adalah satu-satunya rencana yang mutlak.
"Aku setuju soal menangkap Golongo. Tapi
melarikan diri sambil membawa beban itu bakalan merepotkan. Apa memang perlu
menyelamatkan adik-kakak High Kobold itu sampai mempertaruhkan nyawa?"
Menanggapi kalimat Heine yang mengandung celaan
sesuai dugaan itu, Pandora menjawab.
"Ya, tentu saja. Karena ini adalah masalah
pribadiku, baik menangkap Golongo untuk menanyakan tempat pengurungan Putri
Rula maupun melindungi adik-kakak High Kobold, semuanya akan kulakukan
sendiri."
"Pandora, kau pasti bakal mati tahu?"
"Mungkin saja. Tapi, aku harus
melakukannya."
Pandora tidak tahu kenapa dia berpikir demikian.
Tapi dia merasa jika dia menyelamatkan anak-anak
itu, dia bisa memulai semuanya dari awal sekali lagi.
"... Baiklah. Aku juga bakal
bantu."
Untuk sejenak, Heine menatap wajah
Pandora dengan raut serius, lalu mengukir senyum tak kenal takut seperti saat
pertama kali bertemu dan mengacungkan ibu jarinya.
"Maaf, tapi kau hanya akan jadi beban. Tolong
beritahu aku lokasi kediaman Golongo saja. Informasi lokasi pengurungan Putri
Rula yang kudapatkan dari Golongo juga akan kuberikan padamu."
"Gak mau. Aku ikut. Kalau tidak, gak bakal
kuberi tahu!"
Dia menjawab seperti itu dengan wajah
bersungut-sungut sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Sekarang tidak ada waktu.
Sementara mereka berdebat seperti ini, adik-kakak
itu mungkin sedang dijadikan makanan monster.
"Aku tidak bertanggung jawab kalau terjadi
apa-apa pada dirimu!"
Saat Pandora berteriak dengan nada jengkel, Heine
mengukir senyum puas lalu mulai berlari.
Berkat sihir penyamaran, mereka berhasil tiba
sangat dekat dengan kediaman Golongo tanpa terekspos oleh siapa pun.
Saat ini mereka sedang menatap ke arah kediaman
megah di bawah sana dari atas tebing yang curam.
Rencananya sederhana. Pertama-tama, tangkap
Golongo, interogasi lokasi pengurungan Putri Rula, lalu gunakan dia sebagai
sandera untuk mencari adik-kakak High Kobold.
Tentu saja, jika di tengah-tengah proses itu
mereka ketahuan oleh pria berkepala botak dari Alumnai tersebut, kali ini
Pandora pasti akan langsung dibunuh tanpa diberi kesempatan untuk melawan
sedikit pun.
Tidak, jika hanya dibunuh mungkin masih jauh lebih
beruntung. Jika tertangkap, dia akan mengalami kekejaman yang tak terbayangkan
pada tubuhnya ini.
Naluri Pandora yang telah melewati berbagai medan
pertempuran terus menjerit agar dia berbalik arah dan melarikan diri dari kota
ini sekuat tenaga sejak tadi, tetapi entah mengapa, tekadnya untuk menjalankan
rencana tidak goyah sedikit pun.
"Ayo jalan."
"Sip!"
Sembari merapalkan sihir penguat tubuh pada
dirinya sendiri dan Heine, mereka berdua menuruni tebing menuju kediaman
Golongo.
Semua prajurit penjaga yang menjaga bagian luar
kediaman ditidurkan menggunakan sihir.
Saat melangkah masuk ke dalam pintu, terdengar
suara gemuruh yang mirip seperti sorak-sorai banyak orang.
Begitu berjalan dengan hati-hati menuju sumber
suara, mereka keluar di sebuah area yang terbuka.
Saat pemandangan di sana masuk ke dalam
penglihatan Pandora—
"—gkh!?"
Tanpa sadar dia menahan napas. Tempat itu
benar-benar neraka dunia.
Di salah satu petak area, monster berbentuk
menyerupai manusia diikat pada tiang-tiang kayu, dan tubuh mereka tertancap
panah yang tak terhitung jumlahnya.
Mulai dari seorang wanita yang memiliki antena
tumbuh di kepalanya yang menangis ketakutan, pria Ogre bertanduk yang
mengatupkan giginya rapat-rapt sambil menatap tajam meski tubuhnya dipenuhi
panah, hingga anak kecil yang sudah begitu lemah sampai-sampai hanya bisa
mengerang pelan.
"Masih belum kena juga, ya. Memang skill memanah Tuan Golongo
sungguh luar biasa!"
"Ya, benar sekali."
Para bangsawan yang mengenakan
pakaian serba mewah dan mencolok sedang berbincang-bincang tanpa rasa tegang
sedikit pun sambil menjadikan para monster sebagai sasaran tembak panah.
"Tega-teganya mereka...!"
Pandora memeras suaranya di tengah
amarah dan rasa cemas yang membuat seluruh sarafnya serasa hendak putus.
(Tenanglah! Tenang!)
Kemungkinan besar, pria berkepala
botak dari Alumnai itu ada di kediaman ini.
Jika menuruti amarah di sini,
Pandora pasti akan tertangkap, dan tujuannya untuk menangkap Golongo serta
melindungi adik-kakak itu tidak akan pernah tercapai. Sekarang dia harus
mendinginkan kepala.
Sembari merengut menatap pemandangan
mengerikan yang tidak bisa disebut selain kekejaman ini, dia mencari keberadaan
adik-kakak High Kobold.
Dari petak area yang terpasang
tenda di bagian dalam, terdengar guncangan tanah dan sorak-sorai dari banyak
orang.
(Di sanakah!?)
Pandora berlari menuju tenda dan
masuk ke dalamnya.
Bagian dalam tempat itu dibuat
menyerupai tenda sirkus raksasa yang pernah dilihatnya sewaktu kecil.
Di sana, terdapat seorang gadis
High Kobold yang berlari ke sana kemari sambil memeluk adiknya yang masih
kecil, serta seekor monster berkepala dua berkaki empat dengan leher panjang
yang hanya memiliki mulut sedang mengejar mereka berdua sambil menggetarkan
tanah.
"Kakak! Aku takut!"
Kepada adiknya yang menangis ketakutan,
"Tidak apa-apa! Kakak pasti akan
menyelamatkanmu!"
Meskipun wajah gadis High Kobold itu terdistorsi
oleh penderitaan, dia terus menyemangati adiknya sembari melompati kaki depan
monster berkepala dua yang sebesar batang pohon itu saat berlari di atas tanah.
"Mary-chaaan! Ayo, pinter jalannya! Ayo ayo,
pinter jalannya! Kalau tertangkap nanti jadi makananmu lho! Tinggal sedikit
lagi, ayo berjuang!"
Saat Golongo bertepuk tangan dengan suara yang
dibuat-buat seperti memanggil kucing, para penonton yang terbalut pakaian mewah
pun ikut bertepuk tangan menirukan Golongo.
(Dari lubuk hatiku yang paling
dalam, aku benar-benar ingin muntah!)
Apakah ini perbuatan yang dilakukan oleh sesama
manusia?
Segalanya itu ada batasan!
Orang-orang yang merasa gembira dengan pertunjukan
seperti ini jelas-jelas telah rusak hatinya sebagai manusia.
Ini bukan lagi masalah keyakinan kepada Tuhan.
Pada akhirnya, ini juga merupakan hasil akhir dari
keadilan Poseidon yang menyimpang.
Kebenaran keliru yang menganggap bahwa demi
memusnahkan kejahatan, kekejaman apa pun boleh dilakukan.
Dan pemikiran childish yang sangat egois serta
picik itu—sama persis dengan doktrin yang dulu disebarkan oleh Gereja Pusat
tempat Pandora bernaung dengan penuh rasa bangga dan percaya diri.
(Orang-orang yang dulu kuhakimi pasti akan
berpikir, 'Atas dasar apa kau bicara seperti itu', ya...)
Saud, salah satu dari Empat Uskup Agung, juga
memiliki kesenangan yang mirip dengan orang-orang ini.
Dan siapa orang yang menganggap hal itu sebagai
salah satu bentuk keyakinan lalu berpura-pura tidak tahu!?
Pandora pun sama bersalahnya dengan orang-orang
ini.
Dia adalah bajingan busuk yang bahkan tidak layak
untuk beriman kepada Tuhan.
Begitu, ya, sekarang aku tahu kenapa Dewa Perang
Suci Ares menyerahkan Pandora dan yang lainnya kepada Poseidon.
Di dunia di mana bajingan seperti ini bisa
berkeliaran dengan bebas, sudah sepantasnya jika dunia ini dicampakkan sejak
awal.
"Jangan bergerak lincah begitu dong
makanannya! Kan Mary-chan jadi tidak bisa menangkap kalian!"
Saat dia melepaskan anak panah dengan nada
jengkel, panah itu menancap di kaki kanan gadis High Kobold hingga dia
berguling dan jatuh tersungkur.
"Kakak!"
Kepada anak laki-laki High Kobold yang berteriak
dengan suara penuh kecemasan,
"Tidak apa-apa! Kau akan baik-baik
saja!"
Sang kakak berteriak tegar sambil
memeluk adiknya erat-erat. Ke arah mereka berdua, monster berkepala dua
mendekat perlahan sambil menggetarkan tanah.
"Pandora, bagaimana!?"
Dengan raut wajah yang memancarkan
emosi membara layaknya binatang buas sambil menatap tajam ke arah monster,
Heine menanyakan hal yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Kita selamatkan
mereka!"
Begitu berteriak, Pandora
melepaskan Holy Bread tanpa mantra dengan seluruh tenaganya ke arah
wajah monster yang sedang mendekat dengan mulut terbuka lebar ke arah
adik-kakak High Kobold.
Beberapa bola cahaya perak
berhantaman dengan monster berkepala dua itu hingga melelehkan tubuhnya menjadi
lumpur.
Holy Bread adalah sihir elemen suci yang
memiliki daya hancur luar biasa terhadap mereka yang memiliki atribut iblis
atau kegelapan.
Dalam hal ini, semakin rendah
inteligensi suatu monster, semakin kuat atribut iblis yang dimilikinya,
sehingga efek sihir ini sangat Effective.
Dalam sekejap, monster itu berubah
menjadi gumpalan daging yang hancur.
"M-Mary-chan!"
Golongo melemparkan busurnya lalu menempelkan
kedua tangan di pipinya sembari menjerit histeris.
"P-Penyusup!"
Mumpung salah satu bangsawan penonton berteriak,
Pandora memanfaatkan celah itu untuk menghujani mereka dengan Holy Bread.
Orang-orang itu sudah bukan lagi manusia,
melainkan monster bajingan yang tak memiliki hati.
Jadi, dia akan memperlakukan mereka sebagaimana
mestinya monster diperlakukan.
"Kyahhhh—!"
"Gaghk!"
"T-Tubuhku meleleh!"
Peluru-peluru perak meluncur menghantam para
bangsawan lalu membakar mereka dengan kobaran api putih bersih.
Kalau melawan pria berkepala botak dari Alumnai
itu mungkin beda cerita, tapi Pandora percaya diri memiliki daya rusak yang
sanggup melelehkan para bangsawan yang tidak terlatih dalam sekejap.
Di tengah situasi yang benar-benar dipenuhi
jeritan tangis dan histeria itu, Pandora mendekati adik-kakak High Kobold lalu
berkata,
"Tidak apa-apa, kami datang untuk melindungi
kalian."
Dia menyampaikannya secara singkat.
"..."
Di saat adik-kakak High Kobold menatap Pandora
dengan raut wajah ketakutan,
"Bagaimana dengan penangkapan Golongo?"
Heine bertanya sambil tetap waspada terhadap
sekeliling.
Ksatria pengawal yang berada di dalam tenda sudah
bersiaga di sekitar Golongo dengan senjata terhunus.
Bertarung melawan mereka sambil melindungi dua
anak ini di sini adalah hal yang mustahil.
"Kita pikirkan nanti! Sekarang kita lari dari
sini! Heine, tolong bawa anak itu!"
Pandora memberi petunjuk agar Heine menggendong
sang kakak dan membawa sang adik.
"Dimengerti!"
Dengan begini dia tidak bisa
menanyakan keberadaan Putri Rula.
Pandora mengira Heine akan enggan,
tetapi Heine mengangguk penurut lalu merengkuh sang adik dan berlari menuju
luar tenda.
Saat Heine yang berlari di depan
mengulurkan tangan kirinya untuk merobek tenda—
"Sayang sekali!"
Bersamaan dengan suara serak itu,
tubuh Heine beserta adik High Kobold yang dipeluknya terlempar menyamping,
memantul beberapa kali di atas tanah dengan kecepatan amat tinggi hingga
menembus tenda dan menghilang dari pandangan.
"Heine!"
Pandora refleks berhenti dan
mengejar sosok Heine dengan pandangannya, tetapi tiba-tiba sebuah hawa
keberadaan muncul tepat di depan matanya.
"Ah..."
Di sana, berdiri pria berkepala
botak dari Alumnai yang sedang menatap Pandora dengan sudut bibir terangkat.
"Hmf! Dari mana saja kau keluyuran sampai jam
segini, hah!? Gara-gara kau Mary-chan jadi mati, tahu!"
Golongo menyemburkan kemarahannya kepada Hunph,
pria berkepala botak yang mengenakan jubah merah dan topi bambu.
"Sori, sori, aku ketiduran
gara-gara kebanyakan minum tadi. Tapi tenang saja, Bocah, nanti kubawakan peliharaan baru buatmu."
Dia mengucapkan kalimat yang dalam kondisi normal
sama sekali tidak akan menjadi penghibur.
"Gitu, ya? Ya udah deh."
Rasa sedih dan amarah Golongo sebelumnya mendadak
hilang tanpa bekas.
Dia berdiri, lalu melemparkan gumpalan daging
monster berkepala dua yang dipeluknya ke tanah secara kasar, sebelum akhirnya
mengukir senyum tipis yang menjijikkan.
Sembari mengabaikan Pandora yang tertegun melihat
perubahan emosi Golongo yang terlalu mendadak itu,
"Lalu, mau diapakan cewek ini?"
Hunph mengonfirmasi kepada Golongo.
"Harusnya sih dia menjalani Inkuisisi terus
dihukum bakar sampai mati... Kenapa dia bisa ada di sini, ya?"
Sambil memilin kumis Kaiser-nya, Golongo
bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan pandangan kosong.
"Entahlah. Tapi kalau dia ada di sini,
artinya dia kabur dari penjara, kan."
"Makanya aku benci para penjaga istana yang
tidak berguna itu! Menangkap satu cewek saja tidak becus!"
Wajah Golongo memerah karena murka.
"Mau dikembalikan ke penjara kastil?"
"Tidak usah, nanti kalau kabur lagi malah
bikin repot. Kita habisi saja dia di sini. Lagipula masih ada banyak cara lain
untuk memberi pelajaran pada rakyat."
"Eksekusi, ya? Kalau tidak butuh, berikan
cewek ini padaku saja. Mana ada wanita sebagus ini sering ketemu. Sayang banget
kalau dibunuh."
Hunph menjilat bibirnya, lalu...
"Terserah. Aku sama sekali tidak tertarik
pada wanita jelek seperti itu. Mau dijadiin bahan eksperimen sihir atau budak,
lakukan saja sesukamu."
Dia benar-benar tidak tertarik pada Pandora
sedikit pun. Tanpa menatapnya, dia mengucapkannya dengan acuh tak acuh.
"Jelek, ya... Padahal
menurutku, wanita sehebat ini jarang ada di dunia. Seperti biasa, selera Tuan
Muda memang tak bisa kupahami."
Sambil melontarkan sindiran, Hunph
menatap Pandora seolah-olah sedang menilai barang dagangan.
"Kuh!"
Begitu melangkah mundur menghindari
tatapannya yang lengket bagaikan ular, tubuh Pandora dengan mudahnya
dilumpuhkan dan dikunci dari belakang. Sang kakak High Kobold pun terlempar ke
tanah.
"Mohon kerjasamanya ya, Nona
Budak."
"Siapa yang mau... sudi melakukan itu pada
orang sepertimu!"
"Tuan Pandora, kehendakmu itu sama sekali
tidak penting. Soalnya, begitu terkena jurus ini, kau akan menjadi boneka
penurut yang hanya merasakan kenikmatan saat mematuhi perintahku."
Saat Hunph merapalkan mantra, sebuah lingkaran
sihir berwarna merah membara muncul di tanah tempat Pandora tersungkur.
"H-Hentikan!"
Sambil meneriakkan penolakan, dia berusaha keras
melepaskan diri dari kuncian, tetapi sama sekali tidak sanggup melawan.
"Asalkan kau membuang harga diri, kehidupan
sebagai budak itu tak buruk-buruk amat kok. Tenang saja, bakal kubuat kau benar-benar
merasa nikmat di atas ranjang."
Melihat Hunph yang menjilat
bibirnya, rasa jijik yang amat luar biasa membuncah di dalam diri Pandora.
"Tidaaakkk―!"
Dia menjerit sekuat tenaga hingga
tenggorokannya serasa hendak pecah. Tepat pada saat itulah, tanah beserta
lingkaran sihir yang menutupi Pandora hancur terinjak-injak.
"Ehh?"
Masih mengunci Pandora dari
belakang, Hunph mendongak dan mengeluarkan suara bodoh. Di hadapannya, Heine
berdiri tegak dengan raut wajah bagaikan iblis.
"Enyah."
"Hah?"
Kepada Hunph yang mengeluarkan
suara melengking kebingungan, Heine mendecakkan lidah lalu melancarkan
tendangan ke atas secara asal-asalan.
"―!?"
Ujung sepatu Heine menghantam
tepat di wajah Hunph sembari menghancurkan kedua lengan yang dipakainya untuk
berlindung secara refleks menjadi serpihan daging. Tubuhnya pun terlempar lurus
berkecepatan tinggi.
Serangan itu menyapu para
bangsawan lain dan mengubah mereka menjadi daging cincang dalam sekejap, bahkan
merobohkan tenda sebelum akhirnya menabrak dinding bangunan dan memicu gemuruh
dahsyat.
"Pandora, kau baik-baik
saja?"
"Y-Ya."
Karena situasi yang terlalu
mengejutkan, Pandora kesulitan memahami apa yang terjadi dan hanya sanggup
mengangguk samar.
Setelah memastikannya, Heine
mencengkeram kerah belakang baju Hunph yang wajahnya sudah hancur lebur dengan
tangan kanan, lalu menyeretnya sambil berjalan mendekat.
"Cuma menahan diri sampai level
Hunter Rank D saja sudah langsung pingsan, ya... Seberapa lemah sih
bangsat ini..."
Dia melontarkan omong kosong yang
sungguh tak masuk akal.
"Heine, kau itu sebenarnya―"
Saat Pandora hendak melontarkan pertanyaan untuk
meminta penjelasan atas situasi tak masuk akal ini,
"Yah, intinya mereka ini fix kroco. Boleh
bersihkan sisanya dan cuma menyisakan beberapa monster di sana?"
Dengan ekspresi penuh rasa jijik, dia
mengucapkannya dengan santai dan tanpa beban.
"E-Eh, ya, tolong."
Mendengar Pandora yang entah bagaimana berhasil
menjawab demikian, sosok Heine mendadak menghilang.
"Gyak!"
"Gugik!"
Dalam sekejap mata, kepala para ksatria yang
melindungi para bangsawan melayang di udara.
"Apa yang terjadi―"
"B-Bahaya!"
Melihat cipratan darah segar membumbung tinggi,
para bangsawan menjerit histeris dan berlarian kocar-kacir.
"B-Buat formasi!"
Pria paruh baya yang tampaknya merupakan komandan
ksatria berteriak memberi perintah, namun sesaat kemudian, kepalanya terlepas
dari badannya.
"Hiiieeee―!"
Para ksatria bahkan tidak peduli lagi dengan tugas
pengawalan mereka dan berusaha melarikan diri ke luar tenda sekuat tenaga.
"O-Oi, kalian semua! Jangan kabur! Kabur di
hadapan musuh hukumannya mati tahu!"
Di tengah teriakan Golongo yang dipenuhi rasa
panik berusaha menghentikan mereka,
"Gah?"
"Geh!"
Anggota badan dan kepala para ksatria yang mencoba
melarikan diri terpotong-potong lalu terhempas ke tanah.
Jerit histeris dan penderitaan tak
terperi. Sungguh, ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan
pemandangan ini.
Angin kencang berembus melewati
para ksatria dan bangsawan yang berlarian dalam ketakutan, memenggal kepala
mereka secara beruntun hingga tubuh tanpa kepala itu bergelimpangan di tanah.
Hal itu terjadi hanya dalam
hitungan detik. Yang tersisa hanyalah Golongo yang terduduk menahan kencing dan
Hunph yang wajahnya hancur dan nyaris tak bernapas.
Heine membantai yang lainnya tanpa
memberi kesempatan sedikit pun bagi mereka untuk memohon ampun.
Tentu saja, mengingat apa yang telah mereka
lakukan, sama sekali tidak ada rasa kasihan sedikit pun untuk mereka.
Menggantikan Pandora yang kedua kakinya lemas,
Heine mengumpulkan monster-monster yang disiksa oleh orang-orang itu ke satu
tempat.
Lalu, dia mengeluarkan cairan merah pekat dari
saku celananya dan meminumkannya pada mereka.
Luka-luka yang jelas-jelas mematikan itu pulih
seolah-olah waktu diputar kembali.
Dalam sekejap mata, para monster terbaring di
tanah tanpa bekas luka sedikit pun.
Saat Pandora menatap pemandangan surealis ini
hingga kehilangan kata-kata, Heine mendekati Hunph lalu memercikkan cairan
merah itu secara kasar.
Dalam hitungan detik, wajah Hunph yang hancur
pulih kembali.
Heine berdiri tegak bagaikan raksasa di hadapan
Golongo dan Hunph.
"Oi, kamu! Berpihaklah padaku! Makanan lezat
yang bikin ketagihan, wanita cantik, akan kuberikan berapa pun yang kau mau!
Jadi― Gugak!"
Heine melancarkan tendangan dengan ujung kakinya
tepat ke mulut Golongo yang sedang berteriak bising sembari memercikkan air
liur.
"Gogak!"
Kepada Golongo yang berguling-guling kesakitan
dengan darah mengalir dari mulutnya,
"Dengar ya, jangan banyak
omong. Kalau kau berani
membuka mulut selain menjawab pertanyaan― kau tahu sendiri akibatnya,
kan?"
Heine memerintahkannya dengan nada
dingin.
"..."
Golongo mengangguk berkali-kali
sambil memegangi mulutnya.
Heine... benar-benar terlalu
lihai.
Dia pasti seorang profesional
bertarung sejati.
Bukan tiruan seperti Pandora,
melainkan petarung murni yang mempertaruhkan nyawa setiap hari.
Heine mengangguk puas, lalu
menyiramkan cairan merah itu dari atas kepala Golongo.
"Katakan di mana Putri Rula dikurung."
Dia bertanya pada Golongo dengan
nada bicara mutlak yang tak membantah.
"A-Aku tidak tahu! Yang
mengurung Putri Rula adalah Alumnai. Hunph yang merupakan anggotanya pasti tahu!"
"O-Oi, bangsat kau―!"
Hunph berteriak menyalahkan Golongo dengan nada
panik, namun saat Heine memiringkan kepala ke arahnya, Hunph yang melihat wajah
Heine langsung menjerit histeris ketakutan.
"Di mana kalian mengurung Putri Rula?"
"T-Tidak ta―"
Lengan kiri Hunph yang menjawab
ragu-ragu meledak dan hancur berantakan.
"Tidak ada kesempatan kedua. Di mana lokasi
pengurungan Putri Rula?"
"...Di lantai teratas menara terpisah di
Istana Kerajaan."
"Kau tidak berbohong,
kan?"
"T-Tentu saja! Aku sudah
memberitahumu! Tolong kasihanilah aku!"
"Ah, terima kasih atas kerja kerasmu."
Begitu Heine mengucapkannya sambil tersum, wajah
Hunph mendadak hancur meledak, dan tubuhnya ambruk ke tanah bagaikan boneka
yang putus talinya.
"Hiiieeee―!"
Heine menendang rahang Golongo yang menjerit
ketakutan hingga hancur agar tidak bisa berbicara lagi, lalu...
"Pandora, orang ini bagusnya diapakan?"
...dia bertanya.
"Orang ini harus bertanggung jawab atas
tindakannya setelah masalah ini selesai. Jadi, tolong biarkan dia tetap
hidup."
"Dimengerti."
Mendengar itu, Heine menendang ulu hati Golongo
hingga pria itu membusakan mulut dan tersungkur mencium tanah.
Lebih lanjut, Heine mematahkan kedua tangan dan
kaki Golongo, lalu mengikatnya dengan tali yang entah diambil dari mana.
"Pandora, selanjutnya apa rencana kita?"
"Tolong beri saya waktu sebentar untuk
berpikir."
"Baiklah."
Heine berlari kecil mendekati para monster yang
telah dilindungi, lalu mulai mengajak mereka berbicara dengan nada yang lembut.
(Mari merapikan informasi sedikit.)
Hunph adalah monster bukan manusia yang sanggup
mengintimidasi Pandora, seorang Kardinal Gereja Pusat. Namun, dia dibantai
secara sepihak oleh Heine tanpa diberi kesempatan melawan sedikit pun.
Lagipula, dengan kekuatan sebesar ini, kenapa
Heine bisa sampai dikurung di penjara bawah tanah kastil?
Dengan kemauan dan kemampuannya, Pandora yakin dia
sangat sanggup menemukan Putri Rula dan menyelamatkannya sendirian.
Bahkan, menempatkan monster sangat berbahaya yang
sanggup membunuh Hunph dalam sekejap mata di sel yang sama dengan rakyat biasa
seperti Pandora dan yang lainnya juga sangat tidak wajar.
Setidaknya jika Pandora yang berada di posisi
mereka, dia akan menyegelnya di penjara bawah tanah yang lebih ketat daripada tempat
pengurungan Putri Rula, atau membunuhnya untuk menghilangkan potensi masalah
secara permanen.
Jika tidak melakukan hal itu, apakah artinya bos
Alumnai, Neptune, menganggap Heine sebagai sosok yang tidak berarti?
Neptune adalah bajingan rasis yang sangat
berhati-hati, dan dia memahami kekuatan manusia seperti Pandora dengan detail.
Neptune seharusnya menyadari keanehan dan bahaya dari Heine.
Apakah Putri Rula dijadikan sandera? Jika
demikian, wajar jika Heine bersikap penurut di penjara bawah tanah itu.
(Tidak bisa! Semuanya merasa tidak
pas dan saling bertolak belakang!)
Pasalnya, jika dicoba dijelaskan
secara paksa, itu berarti Heine sengaja membiarkan dirinya ditangkap dan
dikurung di penjara itu atas alasan tertentu.
Jika demikian, pengakuannya
sebagai pengawal Putri Rula adalah kebohongan. Padahal, Pandora sangat yakin
bahwa serangkaian ucapan Heine saat itu sama sekali tidak mengandung
kebohongan.
(Mengenai Heine, mari kita sisihkan dulu
untuk sementara.)
Bagaimanapun juga, fakta bahwa dia telah
menyelamatkan Pandora dari bahaya menunjukkan bahwa kemungkinannya menjadi
musuh sangatlah kecil.
Hanya saja niatnya belum bisa terbaca, tetapi
Pandora sama sekali tidak menganggapnya sebagai orang jahat.
Alasan mengapa Heine meluapkan emosi sedahsyat itu
kepada mereka adalah karena kekejaman yang telah mereka lakukan pada para
monster.
Pandora bisa memahami perasaan itu hingga ke ulu
hati, dan merasa bahwa Heine justru jauh lebih bermoral daripada dirinya
sendiri.
Saat dia mendekati Heine yang sedang berbicara
dengan para monster, tiba-tiba kedua anak laki-laki dan perempuan High Kobold
itu memeluknya.
Kepada dua anak yang membenamkan wajah mereka di
tubuh Pandora dan tak bergerak sedikit pun,
"A-Ada apa?"
Dia bertanya dengan bingung sambil mencoba
menyembunyikan gejolak di dalam hatinya, namun...
"..."
"..."
...kedua anak itu tetap diam membisu sembari terus
memeluknya tanpa bergerak.
"Tentu saja begitu. Bagi anak-anak ini,
Pandora, kau adalah seorang pahlawan. Mereka sangat berterima kasih
padamu."
Heine menyilangkan kedua tangannya di belakang
punggung sambil melontarkan omong kosong itu dengan senyum lebar.
"Saya... pahlawan? Jangan bercanda. Pada
akhirnya, yang menyelamatkan semuanya adalah Anda, Heine. Saya hanya menjadi
beban."
"Pada akhirnya, dunia ini hanya peduli pada
hasil. Siapa yang sebenarnya membasmi mereka itu bukan masalah besar. Kau
sangat ingin menyelamatkan mereka berdua hingga menyusup ke sini, dan hasilnya
mereka berdua selamat. Kau paham artinya apa?"
"Apa artinya?"
"Ya, mempertaruhkan nyawa sendiri demi
menghadapi cobaan dan mencapai tujuan untuk menyelamatkan kaum lemah yang
tertindas. Umumnya, orang menyebut sosok seperti itu sebagai pahlawan.
Berdasarkan definisi itu, tindakanmu kali ini benar-benar tindakan seorang
pahlawan."
"Aku... pahlawan?"
Saat Pandora bergumam demikian, kedua anak itu
mendongak dan menatap wajah Pandora. Dan kemudian―
"Terima kasih, Kakak!"
Dengan air mata mengenang di sudut mata mereka,
mereka mengucapkan kata-kata yang tak pernah disangka-sangka akan didengar oleh
Pandora.
(Ah... begitu, ya...)
Entah mengapa, Pandora mengerti.
Kata-kata dan ekspresi jujur tanpa kebohongan dari kedua anak ini adalah hal
yang paling diinginkan oleh Pandora saat ini.
Dada terasa sesak bagaikan
diremas, bersamaan dengan rasa hangat yang menjalar di dalam hatinya hingga air
mata menetes dari matanya.
Pandora merengkuh kedua anak itu erat-erat,
lalu...
"...Terima kasih banyak."
...mengucapkan kata-kata terima kasih yang tulus
dari lubuk hatinya kepada dua jiwa kecil yang telah mengembalikan
kemanusiaannya.
Pandora berdiskusi dengan Heine
mengenai langkah selanjutnya.
Secara spesifik, para monster akan
bersembunyi sementara di dalam hutan dekat ibu kota Duke Dux ini.
Sementara itu, Pandora dan Heine
akan menyelamatkan Putri Rula, lalu melarikan diri dari ibu kota bersama beliau
dan para monster menuju Bolero—sebuah surga bagi para Hunter terkemuka di dunia
yang memiliki labirin terbesar di Duke Dux.
Jarak menuju 'Hutan Ratapan', tempat mereka
bertemu dengan petinggi Feista, masih sangat jauh. Membawa para monster dalam
perjalanan jarak jauh seperti itu tidaklah realistis.
Karena itu, mereka akan meminta Kepala Cabang
Guild Hunter Bolero untuk memberikan perlindungan sementara bagi para monster
dan menghubungi Feista.
Dalam hal ini, mereka bisa memberi
utang budi pada negara super besar seperti Feista. Mengingat situasi saat ini,
kemungkinan besar Guild Hunter akan menerima perlindungan monster-monster itu
dengan senang hati.
Lalu, jika Guild Hunter mendengar
tentang kejahatan Poseidon langsung dari mulut Putri Rula, mereka akan dengan
jelas menganggap Poseidon sebagai ancaman dunia.
Jika sudah begitu, Shin yang itu
pasti akan bergerak. Setitik cahaya kemenangan pun mulai terlihat.
Golongo yang dijadikan tawanan
kali ini akan diserahkan kepada Guild Hunter Bolero sebagai saksi hidup atas
kondisi nyata wilayah Duke Dux yang bagaikan mimpi buruk.
Rencana itulah yang mereka susun.
"Apakah Anda juga tidak
sanggup mengalahkan Neptune?"
"Tentu saja! Kalau bisa, sudah kukalahkan
sejak dulu!"
Jawaban Heine tidak memiliki kontradiksi.
Lagipula, Pandora sudah menduganya sejak awal.
Banyak hal yang tidak wajar dari perkataan dan
tindakan Heine, termasuk kronologi bagaimana dia berada di penjara bawah tanah.
Meski begitu, jika dia sanggup mengalahkan Neptune
sendirian, dia pasti sudah melakukannya sejak awal.
Terlepas dari apa niat sebenarnya dari Heine,
fakta itu diyakini tidak bohong.
"Benar juga, ya..."
Menginterogasinya lebih jauh lagi bisa merusak
hubungan keroyalan dan kepercayaan dengan Heine.
Apalagi Pandora sudah menanyakan banyak hal secara
mendalam hingga Heine terlihat jelas mulai tidak senang.
"Jangan ngomongin hal tak
berguna begitu lagi. Ayo kita pergi sekarang."
Saat ini, mereka sedang
bersembunyi dengan sihir penyamaran milik Pandora di depan menara tempat Putri
Rula dikurung, menunggu kesempatan untuk menyusup masuk.
"Baik!"
Heine mengulurkan tangan kanannya,
dan Pandora menggenggamnya kembali.
Sihir penyamaran Pandora bekerja
lebih kuat jika ada kontak fisik yang erat dengan orang lain.
Karena itulah, dengan menggenggam
tangannya, efek sihir penyamaran bisa bekerja secara maksimal pada Heine.
(Tidak ada apa-apa. Sama sekali tidak ada
apa-apa.)
Merasakan kehangatan tangan Heine, Pandora
menyadari pipinya mulai memerah dan mengulangi kalimat itu di dalam hatinya
seperti sebuah mantra.
Selama ini dia selalu meniti jalan sebagai seorang
biarawati. Sungguh memalukan, tetapi dia sama sekali tidak pernah bergandengan
tangan dengan lawan jenis.
Ini pasti karena hal itu. Jantungnya berdegup
begitu kencang secara tidak sopan seperti ini!
Sembari mengambil napas dalam-dalam beberapa kali
untuk menenangkan hati, mereka menaiki menara sembari tetap waspada terhadap
sekeliling.
Hingga akhirnya mereka tiba di lantai teratas. Di
depan pintu besar di lantai teratas, dua orang anggota Alumnai yang mengenakan
jubah merah berdiri berjaga.
"(Bagian ini biar aku yang
urus.)"
Berbeda 180 derajat dari sikapnya
yang seperti anak-anak seusianya tadi, Heine menunjukkan ketenangan yang aneh.
Perubahan drastis seperti orang
yang berbeda ini tampaknya merupakan kebiasaan Heine saat memasuki mode
pertempuran.
Heine mendekati mereka secara
perlahan.
"Kau, siapa―"
Saat salah seorang anggota Alumnai
yang pertama kali menyadari keberadaannya hendak berteriak penuh kewaspadaan,
sosok Heine sudah berada di belakang mereka.
Kepala anggota Alumnai itu
tergeser perlahan lalu jatuh ke atas lantai batu yang dingin. Disusul oleh
tubuhnya yang ambruk sembari memercikkan darah segar dari lehernya.
"Ayo masuk."
Heine mengajak Pandora, lalu
mendobrak pintu itu dengan tendangannya.
"Putri Rula!"
Pintu terbuka dengan keras, dan
Heine melompat masuk ke dalam ruangan sembari berteriak. Pandora mengekor di
belakang Heine dan masuk ke dalam.
Bagian dalam ruangan itu sungguh
sederhana hingga tak terasa seperti kamar seorang Putri Duke, hanya ada
furnitur seperlunya seperti tempat tidur.
Dan, sosok yang duduk di kursi
adalah seorang gadis cantik berambut pirang dengan potongan bob.
"Heine! Kau datang!"
Menangkupkan kedua tangan dan
berteriak kegirangan, gadis berambut pirang itu merengkuh dada Heine.
"Ehh? Hah?"
Melihat Heine yang matanya
terbelalak karena wajah gadis berambut pirang itu terbenam di dadanya,
"Heine, apakah Anda
mengenalnya?"
Pandora bertanya sembari
mengerutkan dahi.
Gadis itu bukanlah Putri Rula.
Pandora yang pernah menduduki posisi penting di Gereja dan menghadiri berbagai
acara sosial sangat mengenali wajah dan nama para tokoh penting dari berbagai
negara.
Dia pernah melihat wajah gadis ini
sebelumnya di acara sosial. Seingatnya, gadis ini adalah―
"Emm..."
Melepaskan diri dari Heine yang
mencoba menjawab, gadis itu memegang ujung roknya, lalu...
"Saya adalah pelayan Putri Rula, Louis
Laxasa. Salam kenal."
...dia membungkuk dengan penuh hormat.
"Nona Louis Laxasa, ya..."
Benar, dia ingat. Meskipun gaya rambutnya berbeda,
struktur wajahnya sangat mirip dengan Putri Kedua Kerajaan Amelia, Louise Loto
Amelia.
Walaupun pakaian yang dikenakannya sangat
sederhana seperti gadis kota biasa.
Abaikan Pandora yang masih berada di puncak
kebingungan,
"Aku adalah teman masa kecil Heine! Benar kan, Heine?"
Dia bergelayut di lengan kanan
Heine sembari mendeklarasikannya dengan senyuman tanpa beban.
"Y-Ya, benar! Dia ini semacam teman masa
kecilku. Syukurlah kau selamat, Louis!"
Kepada Heine yang mengangguk dengan senyuman agak
canggung,
"Ya, kau juga!"
...gadis itu kembali membenamkan wajahnya di
lengan kanan Heine.
"Lalu, mengapa Anda berada di sini?"
Mengapa, ya? Entah mengapa, Pandora rasanya tidak
ingin melihat pemandangan ini lebih lama lagi.
Didesak oleh perasaan itu, Pandora melontarkan
pertanyaan yang paling mengusiknya saat ini kepada Louis.
Wajah gadis itu berubah menjadi serius, lalu
melangkah menjauh dari Heine sesuai harapan Pandora, sebelum akhirnya...
"Putri Rula tidak ada di sini."
...menyampaikan fakta yang sangat mengejutkan itu.
Karena tidak bisa berbicara dengan tenang di dalam
menara, aku dan Lui memutuskan untuk melarikan diri terlebih dahulu dan
mendengarkan penjelasannya di dalam hutan yang sepi.
Dari ceritanya, aku mulai bisa memahami situasi
secara garis besar.
Di Kadipaten Dux, popularitas Putri Lula sangatlah
luar biasa. Meskipun posisi penerus takhta dicabut akibat tekanan dari gereja,
pengaruhnya tetap begitu kuat.
Merasa terancam oleh hal tersebut, Notca Val
Dux—adik laki-laki
Putri Lula sekaligus kandidat penerus takhta
berikutnya—bekerja sama dengan organisasi rahasia Alumni.
Dia mengurung sang kakak, lalu mulai menindas para
bangsawan dan rakyat jelata yang mendukungnya.
Tanggal eksekusi mati Putri Lula secara terbuka
pun ditetapkan satu minggu dari sekarang.
Karena takut Putri Lula direbut kembali oleh faksi
pendukungnya, Notca mengurung pelayannya, Lui, di menara ini sebagai umpan.
Sementara itu, Putri Lula sendiri dipindahkan dan
dikurung di ruang bawah tanah milik penguasa Bolero sampai hari eksekusi tiba.
"Tak disangka, tempat Putri Lula dikurung
adalah Bolero..."
Sebuah kebetulan yang aneh. Bahkan
terasa cukup mengerikan.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan kereta
kuda menuju Bolero untuk kita semua. Pandora, kamu pergilah ke tempat Lui dan
yang lainnya menunggu."
Setelah memberikan instruksi dengan cepat, Heine
menghilang seolah-olah dia tidak pernah ada di sana sejak awal.
Lui yang ditinggalkan pun mengusulkan sesuatu
dengan suara ceria.
"Kalau begitu, mari kita berangkat
juga!"
"Y-ya."
Pandora mengangguk dengan senyum kaku, lalu mulai
melangkah.
◇◆◇
Di dalam ruang singgasana istana ibu kota
Kadipaten Dux, sekumpulan orang berjubah merah dan bertopi bambu dengan tato
sabit serta tengkorak berdiri berbaris rapi.
Di singgasana tertinggi, seorang pria liar
berambut hitam yang mengenakan penutup mata bermata tiga tampak duduk bersandar
secara angkuh.
Beberapa wanita bergaun mewah tampak bergelayutan
padanya.
Di sisinya, seorang pria paruh baya berpakaian
megah yang tampaknya adalah sang Duke sedang berlutut.
Di belakangnya, para pejabat penting Kadipaten Dux
menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Pria paruh baya ini tidak lain adalah Duke dari
Kadipaten Dux, Ludens Val Dux.
Seorang kepala negara yang
berlutut di hadapan bos dari organisasi bayaran.
Satu hal yang tidak masuk akal ini
diterima secara wajar oleh semua orang di ruang singgasana.
"Hari ini, kediaman Tuan
Gorongo diserang, dan banyak bangsawan serta ksatria pengawal tewas dibantai.
Pelayan Yang Mulia Lula yang ditawan di menara juga berhasil direbut oleh
seseorang."
Salah satu menteri memberikan
laporan dengan suara gemetar.
"Lalu?"
Pria berpenutup mata itu
mengonfirmasi dengan suara berat dan mengancam. Menteri yang melapor menunduk
begitu dalam hingga dahi menyentuh lantai.
"I-itu..."
Dia gagap tak mampu melanjutkan.
"Kau tidak berniat
membuang-buang waktu berhargaku hanya untuk urusan sepele seperti itu,
kan?"
"S-Sama sekali tidak! Jasad
Tuan Fünf yang menjaga Tuan Gorongo telah ditemukan!"
Mendengar ucapan sang menteri,
bisik-bisik keterkejutan terdengar dari orang-orang berjubah merah dan bertopi
bambu yang sebelumnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Jasad? Hei, apa barusan kamu
bilang jasad Fünf...?"
Suara sandaran tangan kiri yang
hancur berkeping-keping bergema di ruang singgasana. Sang Duke dan para menteri
berusaha setengah mati menahan jeritan mereka.
"B-Benar! Beliau ditemukan
dalam keadaan kepala terpenggal!"
Tubuh menteri yang memberikan
laporan itu mendadak menggelembung dan membengkak secara tidak wajar.
"A-Ampuni sa—"
Bersamaan dengan kalimat
permohonan itu, tubuhnya meledak hancur ke segala arah.
Sang Duke dan para menteri gemetar
hebat karena ketakutan. Orang-orang berjubah merah juga bungkam dan memperbaiki
sikap berdiri mereka.
Hampir semua orang yang berada di
tempat ini tahu bahwa membuka mulut sepatah kata saja bisa melayang nyawa
mereka.
Namun, selalu ada pengecualian.
"Tuan Neptune~ Fünf 'kan cuma
urutan paling bawah! Biar saya yang bertanggung jawab membereskan pelakunya,
jadi tenang saja!"
Seorang pria berambut dan
berjanggut merah yang mengenakan masker serta memiliki tato angka '1' di
pipinya bersuara tanpa rasa tegang sedikit pun.
"Bukan itu masalahnya! Biar bagaimanapun,
salah satu bawahanku telah kalah! Fakta itulah yang menjadi masalah!"
Tepat saat Neptune berteriak murka, terpaan angin
kencang tercipta. Beberapa menteri yang terkena dampaknya terlempar dan
menghantam dinding hingga menjadi gumpalan daging yang mengenaskan.
Pria berambut dan berjanggut merah yang mengenakan
masker itu tidak bergeming sedikit pun meski terkena hantaman angin secara
langsung, sambil tetap memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Saya mengerti kok. Orang tak tahu diri yang
membunuh Fünf akan saya beri hukuman sampai Tuan Neptune puas. Lagipula,
tampaknya ada banyak hal menarik yang sedang terjadi. Hihihi!"
Neptune menatap tajam pria berambut merah dan
berjanggut merah yang tertawa mengerikan itu selama beberapa saat, lalu menepuk
kedua lututnya dan bangkit berdiri.
"Baguslah! Eins, aku serahkan padamu untuk
membereskan orang yang membunuh Fünf! Tapi, jangan langsung membunuhnya. Buat
dia menderita dan menyesali fakta bahwa dia pernah lahir ke dunia! Zwei, kamu
bantu Eins!"
Neptune memberikan perintahnya.
"Siaaaap!"
Seorang wanita dengan penutup mata di mata kirinya
mengangkat tangan kanan. Mata kanannya berukuran luar biasa besar, dan mulutnya
yang sangat lebar terkunci dalam sunggingan senyum tidak alami, tampak persis
seperti tiruan.
"Soal eksekusi Lula, boleh saya yang
mengurusnya?"
"Urusan sepele begitu, terserah kamu saja.
Lakukan sesukamu."
Neptune menjawab dengan nada acuh tak acuh.
"Terima kasih banyak atas kebaikan Anda~!
Kalau begitu, mohon nikmati festival yang akan saya selenggarakan ini, wahai
Tuan Neptune yang agung dan Dewa Tertinggi Poseidon!"
Eins meletakkan tangan kanannya di depan dan
tangan kirinya di belakang, lalu membungkuk penuh hormat.
◇◆◇
Sejauh ini rencana berjalan lancar. Meski begitu,
perbuatan para sampah seperti Gorongo itu hampir saja membuatku gelap mata.
Jika membantai mereka semua, rencanaku bisa
berantakan. Karena itulah aku menahan diri sekuat tenaga dan hanya membiarkan
si pemuda manja Gorongo yang tetap hidup.
Sampah bernama Fünf sudah kubereskan setelah
pura-pura menginterogasinya. Sebenarnya, dari laporan Asta, aku sudah tahu
bahwa Putri Lula dikurung di menara terpisah di Kadipaten Dux.
Rencananya, setelah menyelamatkan Putri Lula,
bawahanku akan menyamar menjadi dirinya. Namun, mengingat faksi Girimehkala dan
Aliansi Dewi sama-sama terlibat dalam rencana ini, perubahan mendadak memang
sudah sepatutnya diantisipasi.
Faksi Girimehkala selalu bertindak sewenang-wenang
dengan sok mengerti niat sejatiku. Bagi mereka, bahkan perubahan rencana secara
mendadak pun hanya bentuk kepatuhan penuh terhadap kehendakku.
Konyol sekali. Tentu saja aku tidak memiliki
kemampuan atau teknik untuk memperhitungkan sejauh itu. Itu cuma kepercayaan
buta.
Tak peduli seberapa sering aku menjelaskannya,
mereka tidak pernah mengerti dan selalu membebankan seluruh pencapaian itu
kepadaku. Sungguh pemaksaan kebaikan yang sangat menyebalkan.
Aliansi Dewi bahkan jauh lebih merepotkan dan
mengganggu daripada faksi Girimehkala. Terutama karena aku sama sekali tidak
bisa memahami jalan pikiran mereka.
Namun, satu hal yang pasti: kedua faksi itu
sama-sama bekerja keras demi diriku. Karena itulah aku tidak bisa menyalahkan
mereka, dan pada akhirnya selalu pasrah mengikuti alur.
Kasus kali ini juga persis seperti itu. Putri Lula
yang seharusnya dikurung di menara ternyata tidak ada, dan justru digantikan
oleh orang lain yang mengaku sebagai pelayan.
Wanita ini malah memelukku dan berbisik sangat
pelan, mengatakan kalimat pertanda buruk: "Aroma Kai ini sungguh
merindukan."
Lagipula, aku seperti mengenal wanita ini. Kalau
tidak salah, dia adalah Putri Kedua Kerajaan Amelia, Louise Lotte Amelia. Nama
panggilannya "Lui", bahkan tidak ada variasinya sama sekali. Ya,
namaku sendiri Heine, jadi aku tidak berhak mengkritik orang lain, sih...
Bagaimanapun juga, sepertinya Putri Lula dikurung
di ruang bawah tanah kediaman penguasa Bolero. Pelayan yang ditawan di menara
itu sebenarnya hanya taktik mengulur waktu sampai hari eksekusi mati Putri
Lula.
Singkatnya, karena akan merepotkan jika pengikut
Putri Lula membebaskannya, mereka sengaja menyebarkan rumor bahwa beliau
dikurung di menara terpisah di ibu kota, lalu menawan pelayan yang juga akan
dieksekusi di sana.
Tentu saja, itu cuma alasan di permukaan. Tidak
ada gunanya bagi mereka melakukan hal serepot itu, dan Fünf sendiri benar-benar
percaya bahwa Putri Lula dikurung di menara tersebut. Sepertinya pada saat itu
Putri Lula memang benar-benar berada di sana.
Ini baru sebatas firasatku, tapi atas kehendak
faksi Girimehkala atau Aliansi Dewi, Putri Lula yang dikurung di menara secara
mendadak dipindahkan ke ruang bawah tanah kediaman penguasa Bolero. Di saat
yang sama, fakta diubah seolah Louise-lah yang dikurung di menara sebagai
pelayan.
Tentu saja, berapapun fakta diubah, kejanggalan
akan tetap ada jika ingatan orang-orang tidak diubah. Namun, Aliansi Dewi
memiliki Satori, seorang pakar kendali mental.
Bagi Satori, mengubah persepsi seluruh penduduk di
negara ini adalah hal yang sangat mudah dilakukan.
Jujur saja, sosok yang paling kutakuti sebenarnya
adalah Satori. Manipulasi mentalnya benar-benar di luar akal sehat, sampai
sanggup mengubah persepsi sekelas kota negara.
Bahkan, bukan tidak mungkin dia bisa mengubah
persepsi dunia itu sendiri. Jika gadis polos itu serius, selain diriku yang
sanggup menetralkan segala jenis kemampuan khusus, tidak akan ada yang bisa
melawannya.
Buktinya, saat kusuport untuk mengubah persepsi
Neptune dan kroni-kroninya agar sesuai dengan rencana kami, dia
menyelesaikannya dengan sangat mudah. Dengan kata lain, jika Satori
bersungguh-sungguh, dia bahkan bisa membuat Neptune dan kelompoknya menjadi
tidak berguna.
Begitulah jalannya cerita hingga aku berpisah
sementara dengan Louise dan Pandora untuk menyiapkan kereta kuda. Walau
kubilang menyiapkan kereta kuda, ini bukan menyewa atau membeli, melainkan
buatan sendiri.
Dua ekor kuda yang menarik kereta kuda ini adalah
salah satu anggota dari rekan-rekan menyenangkan di Buku Panduan Pembasmian,
yaitu Flame Pegasus yang bisa mengendalikan api dan terbang di angkasa.
Meskipun berpenampilan seperti kuda, dia
sebenarnya adalah bangsa naga dan bagian dari Faksi Pasukan Naga Suci. Karena
termasuk bangsa naga, kecerdasannya melebihi manusia dan dia bisa berbicara.
Sebagai anggota faksi tempur, kekuatannya berada
di tingkat teratas dalam Buku Panduan Pembasmian. Saudara dari Flame Pegasus
ini pernah direkrut oleh faksi "Bushin" dan "Pasukan Naga
Suci" setelah bergabung, namun karena sangat mengagumi Faf, dia memilih
bergabung dengan Faksi Pasukan Naga Suci.
Dua buah kereta kuda—ukuran besar dan kecil—juga
dibuatkan oleh perajin Magic Item dari Buku Panduan Pembasmian.
Tampaknya seperti kabin biasa, tetapi dilengkapi beberapa fitur praktis.
Masalah terbesar dalam operasi ini adalah Faf.
Begitu tahu perjalanan denganku dibatalkan karena perubahan rencana mendadak,
dia langsung menghentakkan kaki dan menangis histeris.
Karena tidak ada pilihan lain, aku meminta Satori
menanamkan persepsi kepada semua peserta perjalanan bahwa ada anak perempuan
yang berpenampilan mirip Faf di antara para monster, lalu menyusupkan Faf ke
dalam rombongan monster tersebut.
Bagi diriku, amukan putri kesayanganku Faf jauh
lebih mencemaskan daripada si bodoh Poseidon itu.
Di saat yang sama, kami juga membutuhkan kusir,
dan atas permintaan mendesak dari yang bersangkutan, kami menggunakan kemampuan
Satori untuk mengubah persepsi Pandora dan menyerahkan tugas itu kepada Lucas.
Dengan begini, dalam ingatan Pandora, Lucas adalah orang yang baru pertama kali
dia temui.
Saat aku tiba di depan hutan membawa kereta kuda,
Pandora, Louise, dan para monster bermunculan satu per satu bersama Faf.
Perjalanan selanjutnya akan terlalu mencolok jika
menggunakan wujud monster. Antisipasi untuk hal itu sudah sempurna.
Aku menginstruksikan para monster untuk memakai
aksesori pengubah wujud yang baru saja kubuat. Begitu mengenakan aksesori itu,
para monster satu per satu berubah wujud menjadi manusia.
Melihat pemandangan itu, Pandora membelalakkan
matanya lebar-lebar.
"Heine, gelang apa itu?"
Dia bertanya tentang gelang
tersebut.
"Itu gelang pengubah
wujud."
"Jangan bercanda! Bahkan
warna mana mereka pun berubah menjadi sama seperti manusia!"
Tunggu sebentar! Apa barusan Pandora
bilang 'warna mana'!?
"Pandora, apa kamu bisa melihat warna
mana!?"
Spontan aku mencengkeram kedua bahunya dan
bertanya.
Di antara rekan-rekan menyenangkan di Buku Panduan
Pembasmian, ada banyak yang bisa melihat aliran mana. Hal ini bisa ditingkatkan
sampai batas tertentu melalui latihan.
Namun, urusannya berbeda jika sampai bisa melihat
warnanya. Hanya segelintir orang yang mampu melakukannya, seperti Beelze yang
memiliki konstitusi tubuh khusus sejak lahir, atau diriku yang melatih kontrol
mana selama puluhan ribu tahun.
Warna mana ditentukan oleh berbagai faktor seperti
ras, jenis kelamin, dan usia. Terutama perbedaan ras, antara manusia dan
monster menunjukkan warna yang sama sekali berbeda.
Mana terkadang terkonsentrasi dan menjadi kasat
mata saat melancarkan sihir atau kemampuan, dan jika dalam kondisi itu siapa
pun umumnya bisa melihatnya.
Di sisi lain, dalam keadaan normal yang tidak
terkonsentrasi, mana tidak kasat mata dan tidak bisa dilihat oleh orang awam.
Jika Pandora bisa membedakan warna mana, itu
artinya kemampuan tersebut bisa diaplikasikan ke berbagai bidang.
"Heine... tolong lepaskan aku."
"A-Ah, maaf!"
Begitu tersadar, aku langsung
melepaskan Pandora.
"Aku baru bisa melihat warna mana belum lama
ini."
Pandora menjawab sambil memerahkan pipinya entah
kenapa.
"Belum lama ini maksudnya kapan?"
"I-Itu..."
Melihat rasa takut yang mendalam terlintas sejenak
di wajah Pandora saat dia tergagap, alasannya langsung jelas. Dia pasti
membangkitkan kemampuan khusus saat berhadapan dengan kematian.
Bagaimanapun juga, ini mungkin bisa berguna.
Berhubung dia sudah bisa melihat warna mana, Pandora pada dasarnya mampu
mempelajari berbagai teknik bertarung.
Jika aku melatihnya secara intensif, mungkin dia
bisa mengatasi bawahan Poseidon. Tapi tidak, itu tidak sesuai dengan ujian kali
ini.
"Aku sudah paham garis besar situasinya. Kamu
tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya."
Setelah mengelus kepala Pandora beberapa kali
dengan telapak tangan kanan, aku berbalik menghadap para monster.
"Sekarang kita berangkat ke
Bolero! Naik ke kereta kuda!"
Aku memberikan perintah dengan
nada tegas.
Lui mendadak merangkul leherku
dari belakang.
"(Kai, kebaikan tanpa sadar dan tanpa pandang
bulu bisa memicu kesalahpahaman, lho.)"
Dia membisikkan peringatan itu di telingaku.
"(Begitu ya, terima kasih sarannya. Tapi aku
juga memilih waktu, tempat, dan orangnya, jadi tidak masalah.)"
Aku membalas pelan.
Lui mencubit pipiku dengan tangan kanannya dari
belakang. Lalu dia memanyunkan pipinya di hadapanku dan memalingkan muka.
Kenapa dia memalingkan muka, ya? Wujud dan sifat
keras kepalanya ini memang sangat mirip dengan Rose. Mereka memang benar-benar
bersaudara.
Sembari menyimpan kesan polos itu dalam hati, aku
ikut naik ke dalam kereta kuda.
◇◆◇
Pandora bersama Lui pergi menuju hutan di dekat
ibu kota Kadipaten Dux yang menjadi tempat berkumpul para monster.
Meskipun para monster tampak waspada terhadap Lui,
setelah mendengar bahwa dia adalah kenalan Pandora dan Heine, tidak ada yang
keberatan dengan keikutsertaannya.
Setelah disembuhkan oleh Magic Item milik
Heine, Gorongo sempat berteriak-teriak bising, tetapi langsung bungkam saat Lui
membisikkan sesuatu di telinganya.
Tak lama kemudian, Heine muncul membawa kereta
kuda. Kabin kereta kuda itu ada dua, dan Gorongo dijejalkan ke dalam kabin yang
lebih kecil.
Kemudian, karena menganggapnya perlu untuk
menyembunyikan wujud para monster, Heine membagikan aksesori berkilauan seperti
gelang, cincin, dan kalung, lalu menyuruh mereka memakainya.
Saat para monster mengenakan aksesori tersebut,
wujud mereka seketika berubah menjadi manusia. Bikin tak percaya, bahkan warna
mana mereka pun berubah menjadi warna yang umum dimiliki manusia.
"Jangan bercanda! Bahkan warna mana mereka
pun berubah menjadi sama seperti manusia!"
Saat Pandora memprotes dengan suara meninggi,
Heine sempat melongo dengan wajah terperangah. Namun, wajahnya dengan cepat
berubah menjadi serius.
"Pandora, apa kamu bisa melihat warna
mana!?"
Dia mencengkeram kedua bahu Pandora
dan bertanya dengan nada tegas.
Wajah serius Heine mendekat hingga
menyisakan jarak sedekat hembusan napas, dan Pandora sadar pipinya mendadak
merona merah.
Meski kebingungan dengan emosi tak
dikenal yang mendadak membuncah, dia berbisik lirih.
"Heine... tolong lepaskan aku."
Bukannya dia membenci situasi ini. Justru
sebaliknya, dia merasa nyaman secara aneh. Namun, rasa malu yang membakar
membuatnya menyampaikan permintaan yang bertolak belakang dengan kata hatinya.
"A-Ah, maaf!"
Heine langsung melepaskan Pandora seolah kaget.
"Aku baru bisa melihat warna mana belum lama
ini."
Benar. Pandora mulai bisa melihat warna mana sejak
dia mengusik Lumine Herner dan menerima peringatan kejam dari dewa monster
lalat.
Awalnya warna itu hanya terlihat samar, tetapi
kian hari kian jelas. Dan semenjak kedatangan Poseidon, Pandora bisa
menyadarinya secara pasti.
"Belum lama ini maksudnya kapan?"
"I-Itu..."
Mengingat pemandangan seperti mimpi buruk kala itu
membuat cairan asam lambungnya serasa naik ke tenggorokan.
Raut wajah Pandora saat itu pasti sangat buruk.
"Aku sudah paham garis besar situasinya. Kamu
tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya."
Heine berkata begitu sambil tersenyum, lalu
mengelus kepala Pandora beberapa kali.
Di tengah kehangatan dan rasa bahagia tak
terjelaskan yang memenuhi hatinya, Heine memunggungi Pandora, memandang
sekeliling ke arah para monster, dan menyuruh mereka naik ke kereta kuda.
Saat itu, Lui memeluk punggung Heine dan
membisikkan sesuatu di telinganya. Heine membalas dengan agak sinis, membuat
Lui memanyunkan pipi dan memalingkan muka.
(Mereka berdua pasti...)
Jarak di antara mereka berdua benar-benar seperti
sepasang kekasih. Seandainya ini Pandora yang dulu, dia pasti memandangnya
dengan tatapan dingin. Tapi entah mengapa, bagian dalam dadanya terasa sedikit
nyeri.
Bagian dalam kabin kereta kuda yang besar ini
secara tidak wajar sangat luas, hingga seluruh monster yang jumlahnya banyak
itu muat di dalamnya.
Pasti kabin itu sendiri telah dipasangi Magic
Item khusus yang sanggup memanipulasi ruang. Heine bilang dia menyewa
kereta ini, tetapi kereta kuda berkemampuan manipulasi ruang tidak akan dijual
di mana pun di dunia ini. Lebih masuk akal jika menganggap Heine sendiri yang
membuatnya.
Mulai dari Magic Item pengubah wujud tadi
hingga kabin kereta kuda ini, Heine yang sanggup menciptakan benda-benda
semacam itu mungkin saja merupakan keberadaan yang berada di luar nalar dunia
seperti Shin dan yang lainnya.
Meski begitu, Pandora tidak pernah menganggap
Heine sebagai sosok tidak manusiawi seperti Poseidon, Neptune, Kai Heineman,
atau Shin.
Heine adalah sosok yang jauh lebih berhati hangat,
kaya emosi, penuh perhatian, dan sangat manusiawi dibanding Pandora. Dia
hanyalah seorang pemuda manusia yang tidak masuk akal kuatnya. Pandora tidak
meragukan hal itu sedikit pun.
Saat ini, karena tidak ada pekerjaan di tengah
perjalanan, mereka sedang mengisi waktu dengan memainkan apa yang disebut
permainan kartu yang dibawa oleh Heine.
"Selesai! Aku menang! Aku menang!"
Hana, sang kakak dari High Kobold, melompat
kegirangan sambil mengepalkan tangan.
"Aku kalah."
Taro, sang adik dari High Kobold, menghempaskan
kartunya ke lantai dengan asal-asalan.
"Faf juga kalah..."
Gadis Dragonewt berambut pirang bernama Faf
mengulum ibu jarinya dengan lesu.
Meskipun begitu, gadis Dragonewt bernama Faf ini
memberikan rasa deja vu yang aneh. Terutama pada caranya yang sangat manja
kepada Heine.
Di saat yang sama, kusir kereta kuda ini juga
rasanya pernah ditemui di suatu tempat... Mungkinkah ini cuma dejavu akibat
kelelahan?
"Sudah waktunya istirahat. Ayo kita
makan."
"Hore! Hari ini makan apa!?"
Faf meneteskan air liur sambil
mengangkat tangan kanannya.
"Bagaimana kalau hari ini kita makan tumis
babi jahe?"
"Tumis babi jahe! Tumis babi jahe!"
Faf melompat-lompat kegirangan.
"Tumis babi jahe itu apa?"
Taro bertanya kepada Heine dengan wajah polos.
"Masakan daging. Enak lho. Tunggu sebentar,
aku siapkan dulu."
Heine turun dari kereta kuda untuk menyiapkan
makanan.
"Enak sekali!"
Taro berteriak penuh semangat.
"Pipi rasanya mau lumer!"
Hana juga berseru kagum.
"Tumis babi jahe itu saaaangat, sangat
enak!"
Melihat reaksi mereka berdua, Faf
memberikan kesannya dengan bangga.
"Tapi tanpa maksud memuji
berlebihan, ini benar-benar enak, lho. Dagingnya enak, tapi bumbu sausnya ini
yang juara!"
Lui mengunyah daging penuh
antusias sembari mengungkapkan kesannya.
Daging lembut yang lumer saat
digigit berpadu sempurna dengan bumbu saus manis gurih, menciptakan
keharmonisan yang luar biasa.
Para monster melahapnya dengan
berkonsentrasi penuh, ada yang makan sambil meraung gembira, bahkan ada yang
sampai menangis saat memakannya karena terlalu lezat.
"Syukurlah secara umum pada suka."
"Ternyata Heine bisa memasak juga, ya."
Entah mengapa. Padahal bentuk wajah, gaya rambut,
warna rambut, dan pakaian mereka sama sekali berbeda, tetapi sosok Heine dan
Shin mendadak tampak tumpang tindih dalam pandangan Pandora.
"Heine, lain kali ajari aku memasak juga,
dong!"
"Boleh saja, tapi apa kemampuan begitu
dibutuhkan oleh seorang nona muda sepertimu?"
"Jahaaat~! Itu namanya diskriminasi nona
muda, bukan, prasangka terhadap nona muda!"
Lui yang duduk di sebelahnya memanyunkan pipi dan
menyuarakan protesnya. Heine mengelus kepala gadis itu.
"Yah, maaf-maaf. Nanti kuajari."
Heine mengatakannya sambil
tersenyum.
Sikap santai Heine ini benar-benar
tidak adil. Buktinya, Lui mendongak menatap Heine dengan wajah terpesona.
Melihat keakraban mereka berdua...
(Eh? Lagi-lagi...)
Rasa nyeri kecil kembali melintas
di dadanya untuk yang kesekian kali.
Pandora memasukkan makanan ke dalam mulutnya demi
menyembunyikan perasaan itu sekuat tenaga.
"Pandora, ada yang ingin kubicarakan sedikit
denganmu, bisa?"
Selesai makan, Heine berdiri di depan Pandora dan
membuka pembicaraan.
"Ya, tentu saja."
Ada apa ini? Hanya dengan berdiri di hadapannya
saja, detak jantungnya mendadak berpacu kencang.
"Aku ingin mengajarimu cara mengendalikan
mana, apakah kamu tidak keberatan?"
Mendengar usulan yang berbeda dari perkiraannya,
rasa kecewa dan malu merayap tipis.
"Mengendalikan mana?"
Pandora mengulang pertanyaan itu.
"Mengingat kamu bisa melihat warna mana, kamu
seharusnya mampu mengendalikan kualitas mana milikmu sendiri."
Heine memberikan tawaran yang sama sekali tak
terduga.
"Maksudmu, mengendalikan warna mana yang
kukeluarkan?"
"Benar. Aku akan mengajarimu
triknya."
Setelah berkata demikian, Heine mengacungkan jari
telunjuk kirinya dan mengalirkan mana.
Mana berwarna merah pekat membelit jari telunjuk
Heine. Warna merah itu kemudian berubah menjadi hitam, dilanjutkan warna putih,
biru, hijau, oranye, dan berbagai warna lainnya.
"I-Itu..."
Sejauh ini, warna mana yang pernah dilihatnya pada
dasarnya hanya satu warna per orang. Meski ada yang memiliki beberapa warna
sekaligus, tidak ada yang sanggup mengubahnya dengan begitu bebas seperti ini.
"Kemungkinan besar, jurus yang digunakan akan
berubah sesuai dengan warna mana tersebut."
Heine menjawab singkat, lalu mulai mengajari
Pandora metodenya.
Pengendalian mana ternyata sangat mengandalkan
intuisi, sehingga cukup sulit untuk diubah. Namun berkat pengajaran Heine yang
sangat telaten di sepanjang perjalanan, Pandora akhirnya bisa mengubah sedikit
warna mananya menjadi dua warna: putih dan biru.
"Untuk tahap awal, ini sudah
cukup. Sisanya
tinggal kamu latih sendiri."
Heine mengakhiri sesi pengajarannya.
"Terima kasih banyak."
Meski merasa sedikit kesepian karena momen berdua
saja dengan Heine telah berakhir, Pandora menyampaikan rasa terima kasihnya
yang tulus. Tepat saat itu...
"Tuan Heine, kita sudah memasuki wilayah
Bolero. Sebentar lagi kita akan sampai di kota."
Sang kusir menyembulkan kepalanya
ke dalam kabin dan melapor.
"Ooh, terima kasih atas kerja kerasmu. Kalau begitu, begitu sampai di
kota, kita akan langsung bergerak."
Setelah mengucapkannya, Heine menatap Pandora
lekat-lekat.
"A-Ada apa?"
Merasa bingung dengan raut wajahnya yang begitu
serius, Pandora menanyakan maksud tatapan itu.
"Pandora, apa kamu masih percaya pada Dewa?
Tidak, apakah kamu bisa memercayai-Nya?"
Pertanyaan Heine ini adalah sesuatu yang selalu
Pandora tanyakan pada dirinya sendiri setiap harinya.
"Entahlah. Namun, sepertinya selama ini kita
telah salah menafsirkan kehendak dewa kita demi kenyamanan kita sendiri."
Jika dipikir-pikir kembali, Dewa Perang Suci Ares
sendiri tidak pernah secara langsung memerintahkan apa pun kepada Pandora dan
yang lainnya, atau pun mengajarkan doktrin. Hanya gagasan bahwa ras iblis dan
monster itu jahat.
Niat itu hanyalah sesuatu yang disebarkan dan
diperluas oleh mereka yang disebut sebagai utusan surga. Pandora dan yang
lainnya telah percaya buta tanpa memastikan apakah utusan surga itu benar-benar
utusan Dewa Perang Suci atau bukan.
Ya, semata-mata karena mereka bisa menggunakan
keajaiban yang melampaui batas manusia.
Begitu pula dengan kasus turunnya Poseidon kali
ini. Dia memercayai perkataan makhluk keji itu tanpa ragu sedikit pun, dan
langsung menyimpulkan bahwa Dewa Perang Suci Ares telah menelantarkannya.
Dewa Ares dan Poseidon pasti memiliki hubungan
tertentu. Namun, apakah Dewa Perang Suci menoleransi kekejaman di dunia ini,
itu masalah yang berbeda.
Mungkin saja ada alasan tak terhindarkan yang
membuat Beliau belum menunjukkan wujud-Nya sampai sekarang. Setidaknya, sungguh
keliru jika aku putus asa di sini dan menimpakan seluruh tanggung jawab atas
segala bencana ini kepada Dewa Perang Suci.
"Aku adalah seorang ateis, tapi ada sesuatu
seperti keyakinan yang tidak bisa diubah. Dalam hal itu, mungkin aku dan kalian
orang-orang gereja memiliki kesamaan."
"Karena itu, aku akan memberanikan diri untuk
menyampaikan kata-kata ini padamu."
Heine memotong kata-katanya dan menarik napas
dalam-dalam.
"Berjuanglah! Berjuanglah! Berjuanglah,
teruslah meronta, dan temukan jalan yang harus kamu tempuh! Jika itu adalah
jalan yang kamu capai setelah melewati penderitaan, dewa yang kamu percayai
pasti akan dengan senang hati memberkatinya!"
Dia meneriakkan kata-kata yang terdengar seperti
ramalan itu dengan nada berat, sangat tidak seperti Heine yang biasanya ceria.
"Heine, apa maksud dari ucapanmu itu?"
"Seperti yang kubilang, itu hanyalah campur
tangan yang tidak diminta dari seorang teman seperjalanan."
"B-baiklah ...."
Heine sepertinya menyadari bahwa dia baru saja
mengatakan sesuatu yang sangat tidak sesuai dengan karakternya. Dia mengalihkan
pandangannya dari Pandora dan menggaruk pipinya dengan canggung.
Di saat yang sama, Pandora sangat mengerti bahwa
tindakan Heine itu murni karena mengkhawatirkan dirinya. Karena itulah—
"Terima kasih."
Pandora mengutarakan rasa terima kasih yang tulus
dari lubuk hatinya.
"Y-ya."
Heine membalas sapaan itu sambil memalingkan muka,
seolah-olah dia sedang tersipu malu, sesuatu yang sangat jarang terjadi
padanya.
Mereka menyembunyikan kabin dan kuda dari kereta
kuda yang lebih besar di semak-semak rimbun dekat kota, lalu menyuruh para
monster bersiaga di dalamnya. Setelah itu, mereka memutuskan untuk pergi ke
kota Borero dengan kereta kuda kecil yang membawa Gorongo.
Kota Borero adalah salah satu wilayah kekuasaan
Kadipaten Dux. Selain cabang Guild Hunter yang memiliki hak ekstrateritorial,
bisa dibilang seluruh kota berada di bawah kendali ketat Kadipaten Dux.
Karena itulah, mereka memutuskan bahwa hanya
Pandora, Heine, Faf, dan kusir kereta kuda saja yang boleh memasuki kota
Borero.
Awalnya mereka mengira Louis akan bersikeras untuk
ikut bersama Heine. Namun, karena tidak ada yang menjaga kereta kuda, gadis itu
maju menawarkan diri menjadi penjaga. Tentu saja—
"Jangan lupakan janji makan berdua kita,
ya!"
Meski dengan cerdik dia memaksa Heine berjanji
memenuhi keinginannya, Louis mengantar kepergian Pandora dan yang lainnya
dengan senyum lebar sambil melambaikan kedua tangannya.
"Faf mengantuk."
Faf menggosok matanya dengan kedua tangan lalu
bersandar pada Heine.
"Lagipula, prosedur untuk masuk ke Borero
akan memakan waktu beberapa jam. Aku akan membangunkanmu setelah kita sampai,
jadi tidurlah."
Saat Heine berbicara sambil mengelus kepalanya
dengan lembut,
"Baaaiiklaah ...."
Gadis kecil itu mulai mengeluarkan suara dengkuran
tidur yang menggemaskan.
Faf menjadi sangat terikat dengan Heine yang
sangat mirip dengan kakak laki-lakinya, hingga ia tidak mau berpisah sama
sekali darinya. Pandora mencoba membujuknya untuk menunggu di kereta kuda di
semak-semak karena terlalu berbahaya.
Namun, Faf bersikeras untuk ikut. Karena ia akan
tetap mengikuti mereka meski ditinggalkan, mereka pun akhirnya memutuskan untuk
membawanya serta.
Memang pantas disebut sebagai salah satu surga
para Hunter terkemuka di dunia. Setelah mengantre panjang selama empat jam demi
menyelesaikan prosedur masuk kota, mereka akhirnya bisa melangkah ke dalam
tembok kota.
Kereta kuda bergerak menuju
bangunan berbentuk silinder di pusat kota. Pandora sudah pernah ke sana
sebelumnya, jadi dia mengetahuinya.
Bangunan yang sekilas terlihat
aneh itu adalah cabang Guild Hunter di kota Borero.
Mereka menghentikan kereta kuda di
alun-alun khusus parkir yang terletak di cabang guild tersebut. Kemudian,
mereka menginstruksikan kusir dan Faf untuk menunggu sebentar di dalam kereta.
Heine lalu masuk ke dalam gedung
sambil membawa Gorongo yang mulutnya disumpal.
Bagian dalam gedung ini adalah
satu-satunya zona aman di Borero. Selama berada di dalam sini, mereka tidak
akan langsung ditangkap oleh pihak Kadipaten Dux.
Di meja resepsionis, ia menyebutkan nama mantan
Kardinal Gereja Pusat, Pandora. Lalu ia menyampaikan permintaan untuk
menyerahkan penjahat besar Gorongo dan meminta perantara darurat ke kepala
cabang.
Para staf kemudian membawa Gorongo pergi, dan
mereka segera dipersilakan masuk ke ruang tunggu di lantai tiga.
Perabotan di dalam ruangan itu bertambah banyak.
Terlebih lagi, perabotan-perabotan itu kini menjadi cukup mewah.
Saat berkunjung sebelumnya, isi ruangan itu memang
sederhana tapi terasa hangat. Sekarang, ruangan ini telah berubah drastis
menjadi ruangan norak selera orang kaya baru.
Aku punya firasat buruk.
Ada perasaan tidak nyaman yang aneh ini,
seolah-olah ada banyak serangga tak terlihat yang merayap di punggungnya. Akan
sangat bagus jika ini hanyalah imajinasi Pandora saja.
Seorang pria berpenampilan lembut yang jangkung,
ramping, dan berambut belah pinggir yang sedang duduk di sofa berdiri.
"Lord Pandora, selamat datang."
Dia membungkuk sedikit. Pria ini adalah kepala
cabang Borero, Reito Genghis Khan.
Berbeda dengan sebelumnya, barang-barang yang
dikenakan Reito hanyalah perhiasan kelas satu yang bahkan sangat jarang
terlihat dipakai oleh bangsawan tingkat tinggi.
"Maaf karena aku langsung pada intinya. Ada
yang ingin kubicarakan dengan Kepala Cabang Reito."
Reito adalah seorang Hunter yang cerdik. Jika
Pandora memberitahukan situasi mereka saat ini, dia yakin Reito akan
menginformasikan krisis dunia ini ke markas Guild Hunter di Babel dan membantu
menghubungi Festa.
Pandora hanya bisa berharap pria itu belum berubah
pikiran.
"Mari kita dengar situasinya."
Reito melipat tangannya dan menunggu penjelasan
dari pihak Pandora.
"Sebenarnya—"
Pandora pun mulai menceritakan tentang krisis yang
saat ini tengah dihadapi oleh mereka dan seluruh dunia.
"Begitu ya. Gereja Pusat telah dikuasai oleh
dewa agung bernama Poseidon itu. Terlebih lagi, tanah air kita ini, Kadipaten
Dux, juga berada di bawah kendali salah satu bawahan Poseidon yang bernama
Neptune."
"Itu benar-benar situasi yang
terburuk. Ini memang tampaknya adalah situasi di mana Guild Hunter kita harus
bertindak."
"Aku sangat tertolong karena kamu
memahaminya. Jadi,
bagaimana dengan dukungan konkretnya?"
"Markas Guild Hunter di Babel
telah secara resmi menyatakan dukungannya kepada Festa. Pertama, mari kita lindungi para monster dan
mengantar mereka ke Festa secepat mungkin. Di saat yang sama, aku akan
mengajukan pertemuan antara kalian dengan markas besar guild."
Sepertinya pria itu tidak sedang
berbohong. Tampaknya ketakutan bahwa mereka akan memihak pada Poseidon hanyalah
kekhawatiran yang tidak berdasar.
"Terima kasih banyak atas perhatianmu!"
Pandora berseru kegirangan, diliputi perasaan lega
layaknya orang yang baru terbangun dari mimpi buruk.
"Lalu, di mana kalian menyembunyikan para
monster?"
"Mereka bersembunyi di semak-semak di sebelah
selatan kota."
"Dimengerti. Aku akan segera
mengirim para Hunter untuk melindungi mereka."
Reito menoleh ke belakang melalui
bahunya.
"Tolong lindungi para monster
itu."
Dia memberikan instruksi kepada
seorang pria berambut merah yang menutupi kepalanya dengan tudung merah
menyala. Pria yang tampak seperti Hunter itu sedari tadi berdiri bersandar di
dinding sambil melipat tangan, mendengarkan pembicaraan mereka.
"Dimengerti, ssho!"
Pria berambut merah itu mengangkat
tangan kanannya saat menjawab, lalu perlahan-lahan melangkah keluar ruangan.
Pandora merasa dia pernah melihat pria itu entah
di mana. Namun, dia juga merasakan déjà vu yang serupa saat bertemu Faf dan
sang kusir, jadi kemungkinan besar itu hanyalah efek dari kelelahan.
"Sepertinya Putri Lula diam-diam dikurung di
kota ini. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk melindunginya?"
"Putri Lula dikurung!? Kalau itu benar, ini
masalah besar! Aku akan segera membentuk tim penyelamat dan mengirim mereka ke
rumah penguasa kota!"
"Kumohon, tolong lakukan!"
Untuk saat ini, setidaknya ia bisa merasa lega.
Tidak diketahui sejauh mana si Neptune itu peduli pada Guild Hunter yang
notabene hanyalah organisasi manusia.
Namun, Poseidon, di permukaan, sedang mencoba
menyebarkan kebenaran di dunia ini. Meski kebenaran itu telah dipelintir,
Pandora berasumsi tidak akan terjadi situasi yang menggunakan paksaan secara
tiba-tiba.
Lagi pula, jika dia memang mencoba menghancurkan
tatanan dunia yang ada dengan paksa dan menciptakan tatanan baru, Guild Hunter,
yang mengklaim sebagai tombak dan perisai umat manusia dari bencana, justru
akan menjadi duri di matanya. Seharusnya guild itu sudah lama lenyap dari dunia
ini.
Fakta bahwa mereka masih bangga dengan kekuatan
organisasi mereka yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia membuktikan,
bahwa ada aturan tertentu dalam pelaksanaan keadilan orang itu.
"Kalau begitu, aku akan segera bertindak
untuk menyelamatkan Yang Mulia Putri Lula. Lord Pandora pasti sangat kelelahan
setelah perjalanan panjang. Aku akan menyiapkan penginapan di mana kalian bisa
beristirahat dengan tenang."
Menanggapi tawaran Reito yang begitu
didambakannya,
"Aku sangat berterima kasih. Tentu
saja—"
Pandora mencoba untuk menerima tawaran itu,
tetapi—
"Tidak, kami tidak butuh penginapan karena
kami akan mencari tempat sendiri."
Heine yang sedari tadi mendengarkan di sebelahnya
segera menolaknya dengan tegas.
Heine mungkin berpikir bahwa dia
harus bergabung dengan Hana dan yang lainnya. Akan tetapi, jika Guild Hunter
bersedia melindungi para monster, justru lebih berbahaya jika mereka
bersama-sama dengan rombongan Pandora.
Lagi pula, besar kemungkinan ada perintah
pemusnahan Pandora dari Poseidon. Jika ceroboh, saat terjadi serangan terhadap
Pandora, ada bahaya para monster juga akan dibantai habis. Karena itulah—
"Tapi, Heine, jika Guild bersedia melindungi
Hana dan yang lainnya—"
Pandora spontan mencoba mendebat ucapan Heine,
namun pria itu memotongnya.
"Kita tidak butuh penginapan. Pahami situasi
ini."
Heine mencengkeram pundak Pandora yang ada di
sebelahnya dan menariknya ke pelukannya, lalu berbicara dengan nada tegas.
Awalnya Pandora tidak segera mengerti maksud
Heine, tetapi lambat laun dia mulai memahaminya.
"...."
Dia menyadari wajahnya memanas dengan sangat
cepat.
"Begitu ya. Aku mengerti."
Reito tersenyum penuh arti dan menyetujui
keputusan mereka.
"Kalau begitu, kami pamit dulu. Pandora, ayo
pergi!"
Heine menggenggam tangan kanan Pandora yang
wajahnya memerah hingga ke pangkal leher, bagaikan tersiram warna merah terang.
Ia lalu melangkah menuju pintu.
"K-Kepala Cabang Reito, kalau begitu kami
permisi dulu!"
Pandora keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa
sambil mengatakan hal itu dengan panik saat tangannya ditarik oleh Heine.
Segera setelah keluar dari gedung cabang guild,
mereka langsung berlari menuju kereta kuda.
"Heine?"
Pandora memanggil Heine di tengah pipinya yang
memanas dan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia menatap profil wajah
Heine yang masih memegang tangannya, menampakkan ekspresi tajam seolah-olah
baru saja menginjakkan kaki di wilayah musuh.
"―!"
Dalam sekejap, Pandora menyadari bahwa masalahnya
bukan sekadar masalah sepele.
Heine masuk ke dalam kereta kuda dan
memerintahkannya.
"Cepat pergi ke arah kereta kuda Hana dan
yang lainnya!"
Heine memberikan instruksi kepada
kusir dengan nada yang tegas.
"Dimengerti."
Sang kusir mengangguk, lalu kereta
kuda pun mulai melaju.
"Kamu berpikir kalau Kepala
Cabang Reito telah memihak musuh, kan?"
"Ya. Coba ingat-ingat lagi percakapan kita
tadi. Ke mana dia bilang akan pergi untuk melindungi Yang Mulia Putri
Lula?"
"Ke rumah penguasa kota. Dia dikurung di
ruang bawah tanah, jadi tidak ada yang aneh dengan—Ah ...."
Benar juga. Pandora dan rombongannya belum
mengatakan sepatah kata pun soal Putri Lula ditawan di rumah penguasa kota
Borero. Akan tetapi, Kepala Cabang Reito mengatakan dia akan menuju ke rumah
penguasa seolah-olah itu adalah hal yang sudah pasti.
Memang benar rumah penguasa adalah tempat yang
paling mungkin digunakan untuk menawan Putri Lula. Akan tetapi, seperti halnya
ketika berada di ibukota, tidak aneh jika sang putri disekap di tempat lain.
Saat itu, jika ditangani oleh kepala cabang guild
biasa, dia pasti akan meminta pendapat Pandora mengenai lokasi penahanan
tersebut. Setidaknya dia tak akan langsung berpikir untuk mengirimkan Hunter ke
rumah penguasa kota.
Dengan kata lain, ini berarti—
"Cabang Borero dari Guild Hunter sudah tunduk
pada sampah bernama Neptune itu."
Heine meludahkannya dengan ekspresi penuh
kebencian.
"Heine, apakah dukungan cabang Borero kepada
Neptune ini merupakan kehendak dari seluruh Guild Hunter?"
Sembari tersiksa oleh keputusasaan yang tak
terlukiskan di dalam dadanya, Pandora meminta pendapat Heine.
Karena, jika markas besar Guild Hunter di Babel
juga telah jatuh, maka hubungan kerja sama mereka dengan Festa yang diperintah
oleh para monster pastilah sudah ditarik kembali. Dengan kata lain, mengandalkan Guild Hunter
berarti pertemuan dengan Kai Heineman tidak akan pernah terwujud.
Lagipula, jika mereka ditolak oleh
Guild Hunter, maka tak ada lagi organisasi yang bisa menjadi penengah pertemuan
antara Pandora dan Festa.
"Belum bisa dipastikan. Tapi,
jika markas besar Guild Hunter di Babel benar-benar membuat pilihan sebodoh
itu, organisasi seperti itu sudah tak pantas lagi dipertahankan. Aku berani
bersumpah, dalam waktu dekat Guild Hunter pasti akan lenyap dari dunia
ini."
Bagaikan sumpah kepada dewa, Heine menyatakan hal
itu secara perlahan-lahan.
"Heine, apakah kita tidak perlu pergi
melindungi Putri Lula?"
Pandora menanyakan hal yang paling
mengganjal di hatinya saat ini. Heine adalah bawahan Putri Lula.
Gadis itu yakin dalam hati pria
itu, dia ingin mengabaikan tugas melindungi Pandora serta para monster demi
bergegas menyelamatkan sang Putri.
"Toh, dia mungkin sudah tidak ada lagi di
kota ini."
Heine menjawabnya dengan pandangan kosong.
"Eh? Apa maksudnya—?"
Saat Pandora mencoba menanyakan maksud dari
perkataan pria itu, kereta kuda tiba-tiba berhenti mendadak.
Kereta kuda telah tiba di luar kota. Ketika keluar
dari kereta, kusir terlihat tengah menggendong seorang anak laki-laki yang
dipenuhi luka-luka.
"Taro!"
Saat dia menyadari anak laki-laki itu adalah High
Kobold Taro dan bergegas menghampirinya dengan panik, anak itu angkat bicara.
"Kakak! Kakak!"
Sambil mencengkeram lengan baju Pandora dan
meneteskan air mata yang berderai, Taro mencoba meneriakkan kata-kata.
"Taro, pelan-pelan, tarik napas dalam-dalam.
Semuanya sudah baik-baik saja, kami akan menyelamatkan kalian."
Heine perlahan mengelus kepalanya dan berbicara
dengan lembut padanya.
Sambil menangis, Taro menarik napas dalam-dalam.
"Waktu aku sedang menunggu di kereta, muncul
orang-orang berpakaian merah dan bertopi. Kak Hana hampir diapa-apakan oleh
salah satu dari mereka. Pas aku coba bantu, semuanya berputar-putar dan Kak
Louis dikalahkan sampai luka parah ...."
"Waktu aku panggil Kak Louis, semua orang
datang dan kasih minum air merah, lalu luka Kak Louis sembuh. Terus, Kak Louis
suruh aku lari ke arah yang dia tunjuk ...."
Taro mulai menceritakannya dengan terbata-bata.
Penjelasan Taro sangat tidak beraturan, dan Pandora hanya bisa memahami sekitar
setengahnya.
Namun, ia cukup mengerti bahwa
situasi yang sangat mengerikan sedang terjadi.
"Kak Hana diculik sama mereka! Kak Louis dan
yang lainnya bilang mereka akan pergi ke timur dan menyuruhku memanggil Kak
Heine untuk minta bantuan! Kumohon, tolong selamatkan Kakak-Kakakku!"
Taro menangis sambil menempel erat pada Heine.
"Aku tidak akan memaafkannya."
Suara penuh kebencian terdengar dari belakang. Mendengar suara itu, punggung
Pandora terasa merinding. Tepat ketika dia refleks hendak menoleh,
"Guh!"
Tanah meledak ke segala arah
seakan terkena hantaman telak mantra sihir skala raksasa, menciptakan hembusan
angin yang kencang. Tubuh Pandora yang terlempar tertahan oleh seseorang di
belakangnya.
Dari kehangatan dan aroma yang
nyaman itu, ia bisa dengan mudah menebak siapa orang tersebut.
Di tengah kepulan asap dan debu
yang membumbung,
"Tampaknya situasinya menjadi
sedikit merepotkan ...."
Suara Heine yang bercampur dengan
helaan napas bisa terdengar.
"Heine?"
"Pandora, kamu tunggu di sini
bersama Ruth sang kusir. Ruth,
bisa kuserahkan sisanya padamu?"
"Dimengerti!"
Tepat setelah balasan Ruth, suara
ledakan tanah kembali menggetarkan gendang telinga. Kemudian, ketika kepulan
debu tanah yang beterbangan menghilang, hanya tersisa Pandora, sang kusir Ruth,
dan Taro di tempat itu.
"Heine?"
Pandora mengedarkan pandangannya
ke sekeliling, meneriakkan nama orang yang paling membuatnya merasa aman saat
ini, tetapi tak ada sosok Heine di sana.
"Nona Pandora, mari masuk ke kereta kuda
bersama Taro dan menunggu. Saya akan menyajikan teh merah dan camilan
manis."
Menanggapi saran dari Ruth,
"Y-ya."
Ia menjawab semampunya, menggenggam tangan Taro
yang masih meneteskan air mata, dan menariknya masuk ke dalam kereta kuda.
◇◆◇
Di tengah semak-semak yang ditumbuhi tanaman
tinggi di bagian selatan Borero. Di sebuah ruang berbentuk lingkaran yang
ditebang rapi di dalam semak-semak itu, terparkir sebuah kereta kuda dengan
sekelompok monster mendirikan perkemahan di sekelilingnya.
"Kumohon, ya Tuhan. Tolong biarkan Heine dan
yang lainnya kembali dengan selamat."
Gadis manis berambut merah berpotongan bob pendek
dengan tanduk di atas kepalanya—Setsuna, menangkupkan kedua tangannya dan
memanjatkan doa kepada dewa para monster.
Setsuna adalah ras High Ogre yang berasal dari
'Hutan Ratapan'. Suatu kali, ketika dia kebetulan meninggalkan desanya untuk
mengumpulkan buah-buahan, gadis itu ditangkap oleh para manusia yang sedang
berburu dan dibawa ke kediaman Gorongo di Kadipaten Dux.
Satu hal yang menyelamatkan Setsuna adalah Gorongo
menganggapnya monster jelek dan memperlakukannya sebagai barang dagangan
lelang. Untungnya, dia tidak dijadikan sasaran tembak sihir atau panah, serta
keperawanannya tetap terjaga.
Meskipun begitu, karena dia memiliki tenaga
beberapa kali lipat dibanding manusia laki-laki biasa, dia dipaksa melakukan
pekerjaan mengangkut barang. Jika pekerjaannya lambat, dia akan dicambuk.
Hari-hari yang penuh penghinaan itu pun berakhir
dengan mudah di tangan seorang pria dan wanita manusia. Yang satu adalah
biarawati Gereja Pusat yang menjadi musuh alami para monster.
Sementara yang satu lagi adalah salah satu
pengikut Putri Lula—Putri Monster dari Kadipaten Dux yang dipercaya mewarisi
darah High Ogre—yaitu Heine.
Meski kaum manusia bersikeras menyembunyikannya,
ibu Putri Lula sebenarnya adalah bibi Setsuna. Dengan kata lain, Setsuna dan
Putri Lula merupakan saudara sepupu.
Sewaktu kecil, ia pernah sekali berkunjung ke
'Desa Angin Iblis' secara sembunyi-sembunyi saat dibawa ibunya. Karena itulah
dia sempat mengenalnya.
Fakta bahwa dia telah diperlakukan sedemikian
memalukan oleh manusia dari Kadipaten Dux yang selama ini ia percayai telah
mengiris hati Setsuna dalam-dalam.
Tapi, pada akhirnya, manusia jugalah yang
memutuskan rantai kemalangan Setsuna ini.
Dia, Heine, telah membantai seluruh orang di rumah
Gorongo dan membebaskan rombongan Setsuna.
Dia dengan instan menyembuhkan mereka yang lemah
dengan ramuan ajaib, lalu memerintahkan rekan kusirnya, Ruth, untuk membawa
mereka berlindung di luar kota.
Setelah itu, barulah dia pergi menyelamatkan Putri
Lula.
Setelah menunggu beberapa saat, Heine datang
bersama biarawati gereja bernama Pandora, serta membawa seorang gadis berambut
pirang. Dia sepertinya adalah pelayan Putri Lula.
Pandora berjanji akan mengumpulkan para monster
dan memandu perjalanan mereka kembali ke kampung halaman 'Hutan Ratapan'.
Akan tetapi, jarak menuju 'Hutan Ratapan' cukup
jauh, apalagi dengan rombongan buronan seperti mereka, perjalanan besar seperti
itu tidaklah realistis.
Karena itu, mereka memutuskan untuk singgah di
cabang Borero dari Guild Hunter di kota Borero untuk memohon perlindungan
sementara bagi rombongan Setsuna.
Mereka juga berencana meminta bantuan Shin, sosok
yang dianggap sebagai senjata pamungkas dunia Hunter, sembari mengatur
perlindungan dari negara baru monster dan iblis bernama Festa untuk para
monster yang mendiami 'Hutan Ratapan'. Itulah rencananya.
Karena berbagai macam alasan itu, perjalanan yang
sebenarnya pun dimulai. Perjalanan tersebut ternyata jauh lebih menyenangkan
dan mendebarkan dari yang Setsuna bayangkan.
Khususnya masakan buatan Heine yang sangat lezat
hingga membuat ketagihan, bahkan ada yang sampai menitikkan air mata saat
memakannya.
Permainan kartu setelah makan juga merupakan
pengalaman pertamanya. Bagi Setsuna, yang tak pernah menikmati hiburan, ini
hanyalah kejutan yang tak ada habis-habisnya.
Waktu yang menyenangkan itu pun berakhir, dan
mereka tiba di kota Borero. Setelah Ruth sang kusir merapikan semak-semak dalam bentuk melingkar,
mereka memarkir kereta kuda di sana.
Kemudian, Pandora, Heine, Faf, dan
Ruth segera menuju ke kota Borero, dan sekitar setengah hari telah berlalu.
Matahari sudah sepenuhnya terbenam, tak ayal membuat perasaannya terasa suram.
Meski ia merasa hampir hancur oleh rasa cemas,
Setsuna mencoba bertahan.
"Tolonglah, tetap aman."
Saat dia menggenggam tangannya dan membisikkan doa
untuk kesekian kalinya, Louis, pelayan Putri Lula, berdiri.
"Siapa itu!?"
Gadis itu menghunus belati di pinggangnya dan
berteriak dengan suara melengking tajam.
"Heee! Menyadari kehadiranku, untuk ukuran
makhluk kelas rendah rendahan sepertimu, intuisimu lumayan tajam juga,
ssho!"
Seorang pria dengan rambut dan
janggut merah yang memakai masker keluar dari balik semak-semak. Terdapat tato angka 'satu' yang
terukir di pipinya.
"Kamu... Lima Jari Suci bawahan
Neptune?"
Butiran keringat membasahi wajah
Louis yang berteriak.
"Itu juga benar, ssho! Sayang
banget rasanya cuma ninggalin kamu terus-terusan jadi kera, ssho!
Kuhihihi!"
Saat pria berambut dan berjanggut
merah itu sedikit mengangkat tangan kanannya, sekelompok pria dan wanita
berjubah merah dengan topi caping merah mulai menampakkan diri.
"Terus, Ein, kamu mau pakai mereka buat apa,
wan?"
Di antara orang-orang itu, ada seorang wanita
dengan penutup mata di mata kirinya yang selalu tersenyum seolah-olah
dipaksakan.
Dia bertanya kepada pria berambut dan berjanggut
merah bernama Ein itu.
"Menurut informasi spesial yang kudapat,
kelihatannya dewa tanah yang membunuh Funf itu lagi gerak bareng Pandora,
no."
"Pandora? Ah, si wanita jalang sialan itu,
wan. Seperti biasa, bikin mual aja lihat dia tebar pesona sana-sini,
wasa!"
Wanita yang terus-menerus memamerkan senyuman itu
meludah dengan jijik.
"Terus si Pandora itu juga kelihatan peduli
banget sama monster-monster rendahan ini. Makanya, pakai aja satu yang cocok
dari mereka, pancing si dewa tanah yang bunuh Funf bareng Pandora, lalu basmi
semuanya sekaligus, ssho!"
"Perintah dari Tuan Neptune itu untuk buat
mereka terlihat menyedihkan dan menyesal pernah hidup, kan, wasa?"
"Pastinya, di hadapan Tuan Neptune yang ada
di ibu kota, kita bakal bikin event luar biasa keren di mana jiwa dewa tanah
itu hancur berkeping-keping, ssho!"
"Ya ya, bagus deh kalau kamu lagi semangat.
Terus, mau bawa pulang yang mana nih, wasa?"
Wanita bersenyum aneh itu menatap rombongan
Setsuna dengan mata melotot, menaksir-naksir mereka saat bertanya pada Ein.
"Sudah kuputuskan dari tadi, ssho. Yang
jalang anjing itu. Kelihatannya dia adalah kesayangannya Pandora."
"Kesayangan? Yang kayak gini? Seleranya
benar-benar hancur dari dulu, wasa."
"Sependapat sih, tapi Zwei, rasanya aneh
dengar komentar begitu dari mulutmu, ssho."
Ein mengangkat bahu, lalu mengalihkan pandangannya
pada gadis High Kobold bernama Hana sambil menampilkan seringai licik.
"Hiek!?"
Hana yang mundur selangkah mendadak dicengkeram
kedua bahunya dari belakang.
"―!?"
Setsuna berhasil menahan teriakannya dan segera
melangkah mundur sambil memasang posisi siaga. Wajar saja ia bereaksi begitu.
Ein yang sedari tadi berada di depannya, tiba-tiba
sudah berpindah ke belakang Hana yang tepat berada di sebelah kanannya.
"Gembiralah, ssho. Kamu aku kasih peran yang
sangat penting."
Ein dengan enteng mencengkeram dan mengangkat
kerah belakang baju Hana, lalu berbisik di telinganya.
"...."
Hana gemetar tanpa henti dengan
air mata yang menggenang di matanya. Melihatnya, anak kecil di sebelahnya
berteriak.
"L-lepaskan kakakku!"
Sambil memutar-mutarkan kedua
tangannya, Taro berlari menerjang Ein.
"Jangan!"
Louis berlari menghampiri Taro dan
memeluknya. Sesaat kemudian, sesuatu menghantam Louis hingga membuat tubuhnya
terlempar bersama Taro seperti bola, lalu menghilang di dalam semak-semak.
"Taro! Lepaskan! Lepaskan
aku!"
Hana berteriak sambil memberontak
dengan wajah panik. Ein mendecak tidak senang dan wajahnya berkerut tanda
kesal.
"Bikin muak saja, ssho."
Pria itu meninju perut Hana. Terdengar suara
mengerikan dari tulang yang patah dan daging yang hancur sebelum Hana akhirnya
lemas tak berdaya.
"Hei, itu kelihatannya dia udah mau mati,
wasa."
Zwei memarahi Ein dengan nada suara yang terkesan
putus asa.
"Kamu tahu kan. Aku cuma sedikit salah
memperhitungkan kekuatanku!"
Saat Eins berbicara dengan nada kesal, luka Hana
sembuh dengan kecepatan tinggi.
"Lalu, bagaimana dengan pelacur bernama Lula
itu?"
"Dia itu ibarat hidangan utama untuk
memeriahkan acara kali ini. Dia sudah dalam perjalanan dipindahkan ke ibu
kota."
"Ya, ya, kalau begitu gunakan seluruh jiwa
ragamu untuk mempermalukan pelacur itu. Sebagai gantimu yang lamban, aku yang akan
bermain-main dengan mereka."
Zwei menjilat area di sekitar
mulutnya dengan lidahnya yang sangat panjang.
"Jangan bicara seolah-olah
kamu berbaik hati kepadaku! Zwei, kamu pada dasarnya cuma mau bermain-main
dengan mereka kan!"
"Yah, aku tidak akan
menyangkalnya."
Wajah Zwei menyeringai buruk rupa.
Pemandangan itu membuat para monster yang melihatnya memekik tertahan.
"Ya sudahlah, toh
monster-monster ini pasti akan dimusnahkan. Hanya saja, perempuan manusia tadi
tahu soal Tuan Neptune dan kita."
"Kukira dia itu semacam
kerabat dewa pelindung dunia ini, jadi tangkap dia hidup-hidup! Aku akan
menginterogasinya nanti untuk mengorek informasi!"
"Perempuan berambut pirang
itu, bukannya dia sudah mati terkena seranganmu barusan?"
"Jangan menyebar rumor buruk.
Aku sudah menahan seranganku, jadi dia pasti masih hidup."
"Baiklah. Kalau aku cuma perlu menangkap
perempuan jalang itu, ini urusan sepele."
"Kalau begitu, aku akan membawa orang ini dan
pergi ke ibu kota lebih dulu. Ingat, jangan sampai kamu kehilangan tujuan
gara-gara terlalu asyik bermain."
Eins melontarkan ucapan perpisahan itu dengan
cepat. Setelah itu, sosoknya menghilang bersama Hana.
"Nah, para serangga toilet yang menjijikkan,
mari bermain sebuah permainan denganku!"
"Permainan...?"
Setsuna bertanya balik dengan nada mengulang
kata-kata itu.
"Benar, sebuah permainan di mana kami akan
membasmi kalian, para serangga toilet yang merayap di tanah ini, secara
serentak. Jika kalian berhasil keluar dari semak-semak ini dengan selamat
sebelum aku selesai menghitung sampai lima ribu, aku akan menganggap kalian
menang dan melepaskan kalian."
"Ah, meskipun kalian monster, pejantan yang
berwajah tampan akan kujadikan peliharaanku secara khusus!"
Dia menjilat bibirnya dengan lidah yang besarnya
tidak wajar. Matanya menatap lekat para monster pria berwajah tampan seolah
sedang menilai kualitas barang.
Sudut bibir Zwei yang selalu tersenyum kini
tertarik semakin tinggi, meneteskan air liur dengan wajah yang tampak mabuk
kepayang. Melihat Zwei yang wujudnya tak lagi menyerupai manusia itu...
"Uwaa!"
Seorang monster pria berwajah tampan menjerit
ketakutan. Dia segera membalikkan badan dan menghilang ke dalam semak-semak.
"Benar! Larilah! Larilah! Kalau tidak begitu,
tidak akan seru! Kalau
tidak begitu, aku tidak akan terangsang!"
"Hibur aku dengan hal yang
paling, paling, paling seru!"
Zwei melebarkan kedua lengannya
dan meraung ke arah langit dengan ekspresi kegirangan. Pria besar bermohawk
jubah merah yang tampaknya adalah wakil komandan, melangkah maju ke depan
barisan. Dia mengeluarkan tongkat komando.
"Hitungan, mulai!"
Dia berteriak lantang sambil
melakukan pose aneh dan mengayunkan tongkat komandonya.
"Satu, dua, tiga, empat,
lima, enam♬"
Para pria berjubah merah itu menautkan kedua
tangan mereka. Mereka
mulai menghitung dengan suara melengking yang terdengar sangat menjijikkan.
"Setsuna, kita lari bawa Lui dan Taro!"
Mendengar ucapan bibi dari ras Semut, tubuh
Setsuna yang kaku karena ketakutan pun mulai bergerak. Dia langsung berlari ke arah
semak-semak tempat Lui dan yang lainnya terhempas.
Berkat teriakan pilu Taro, mereka dapat menemukan
Lui dengan cepat.
"Kak Lui!"
Taro menangis sambil mengguncang tubuh Lui yang
terluka parah dan nyaris kehilangan kesadaran. Setsuna segera berlari
menghampiri mereka, lalu meminumkan obat pemulih berwarna merah bernama Potion
yang telah dia terima dari Heine sebelumnya.
Dalam sekejap mata, luka-luka Lui sembuh tanpa
bekas.
Mereka kemudian menjelaskan situasinya secara
singkat kepada Lui yang masih terlihat linglung.
"Kakak, Kakak!"
Lui membelai lembut kepala Taro yang sedang
menangis tersedu-sedu. Dia lalu melepaskan kalung dari lehernya dan
memakaikannya ke leher Taro, kemudian memejamkan mata sambil menggumamkan
semacam mantra.
"Taro, aku punya satu permintaan
untukmu."
Lui mencengkeram kedua bahu Taro dan menatap
matanya saat mengatakan hal tersebut.
"Permintaan...?"
"Ya, berlarilah ke arah utara dari sini. Dengan begitu, kamu bisa sampai di
depan kota Bolero."
"Kamu pasti akan bertemu Heine di sana. Beri tahu dia tentang krisis ini,
dan sampaikan bahwa kita akan bergerak ke timur."
Lui memberikan instruksi tersebut
dengan lembut.
"Tapi, kalau Taro sendirian—"
Lui mengangkat tangan kanannya untuk memotong
bantahan Setsuna.
"Tidak apa-apa, aku baru saja mengalirkan
mana ke kalung itu. Kalung
itu adalah Magic Item yang memiliki efek Stealth tingkat
tinggi."
"Entah seberapa jauh alat ini mempan terhadap
mereka, tapi mereka pasti meremehkan kita. Jadi kalau kita menjadi umpan, Taro
pasti bisa kabur sendirian, walau ini adalah semacam pertaruhan."
Lui menjelaskan hal itu sambil membelai kepala
Taro.
"Kamu benar, lagipula kita tidak akan bisa
mengalahkan mereka kalau bukan dengan bantuan Tuan Heine. Aku setuju dengan
pertaruhan Lui."
Saat Setsuna menyetujui usulan Lui tersebut, pria
ras High Big Bear angkat bicara.
"Aku juga setuju. Menunggu bala bantuan dari
Tuan Heine sepertinya adalah cara terbaik agar kita bisa bertahan hidup."
Pria besar itu mengangguk pelan
dan mengacungkan jempol sebagai tanda setuju.
"Aku juga setuju."
"Aku juga!"
Mendengar suara persetujuan yang terus bersahutan,
Lui kembali mencengkeram kedua bahu Taro.
"Taro, bisa aku mengandalkanmu?"
Dia bertanya dengan nada penuh kelembutan.
"Iya! Aku akan berjuang!"
Taro menyeka air matanya dan berdiri, lalu mulai
berlari sekuat tenaga ke arah utara.
Taro pun menghilang ditelan
rimbunnya semak-semak.
"Ini yang terbaik. Kalaupun
kita gagal, setidaknya Taro punya kemungkinan untuk selamat."
Mendengar ucapan bibi Semut yang
penuh penjiwaan itu, pak tua berkepala Rajawali ikut menimpali.
"Ya, para pemuda yang akan
menenun masa depan memang harus tetap hidup."
Meskipun berada dalam situasi
genting, pak tua itu mengangguk mantap dengan ekspresi yang anehnya terlihat
cerah.
"Kita bukannya sedang
melakukan hal yang sia-sia. Ini adalah cara terbaik untuk memaksimalkan peluang
bertahan hidup kita. Ayo, kita juga harus segera pergi!"
Lui berteriak sebelum mulai
berlari.
"Baik!"
"Ayo!"
Setsuna dan yang lainnya pun mulai
menggerakkan kaki menyusul Lui.
Setelah itu, mereka berlari sekuat
tenaga melintasi semak belukar bersama bibi Semut dan yang lainnya. Jantung
mereka berdegup kencang seolah mau pecah, dan napas terasa sesak seakan sedang
berada di dalam air.
Hal itu juga dirasakan oleh
seluruh monster yang melarikan diri. Namun, mengingat wajah kejam Zwei, mereka
bisa dengan mudah menebak apa yang akan terjadi jika sampai tertangkap.
Oleh karena itu, mereka saling
bergandengan tangan dan memberikan semangat sembari terus berlari mati-matian
menembus semak-semak ke arah timur.
Akhirnya, cahaya mulai mengintip
dari ujung semak-semak. Mereka
akhirnya bisa keluar dari semak belukar ini.
Bukan berarti keluar dari semak-semak akan
menyelesaikan segalanya, karena ancaman bahaya masih belum berlalu. Namun,
tempat di balik semak-semak ini seharusnya adalah padang rumput yang terbuka
luas.
Di padang rumput itu, Heine pasti akan lebih mudah
menemukan sosok Setsuna dan yang lainnya. Lagipula, mereka tidak akan bisa
mengalahkan musuh-musuh itu tanpa bantuan Heine.
Keluar ke area yang membuat mereka mudah ditemukan
pasti akan sangat menguntungkan untuk melewati krisis ini. Terlebih lagi, musuh
jelas-jelas meremehkan Setsuna dan kelompoknya.
Mereka sesumbar tidak akan bergerak sampai selesai
menghitung hingga lima ribu, dan mereka juga takkan tahu pasti ke mana Setsuna
berlari di dalam belukar. Setidaknya, kelompok Setsuna masih punya celah untuk
mengulur waktu.
"Kita akan menurunkan kecepatan sedikit
setelah keluar dari semak-semak ini! Karena itu, bertahanlah sedikit
lagi!"
Instruksi dan kata-kata penyemangat melayang dari
Lui yang berlari di barisan terdepan.
Mereka mengangguk dalam hati
sambil terus berlari menuju cahaya.
Dan akhirnya, mereka berhasil
keluar dari semak-semak.
"Saaayang sekaaaliii."
Suara lengket yang menjijikkan
bergema di telinga mereka. Sekelompok pria dan wanita berjubah merah yang
dipimpin oleh Zwei tampak berdiri kaku dengan kedua tangan tertaut di belakang
punggung, mengepung kelompok Setsuna dari segala arah.
"Sudah kuduga bakal
begini."
Lui melontarkan makian dengan nada
penuh kebencian. Setsuna
menyetujuinya karena dia juga merasakan hal yang sama.
Jika mereka baru mulai mencari setelah menghitung
hingga lima ribu, seharusnya butuh waktu lebih lama untuk menemukan kelompok
Setsuna. Mustahil mereka bisa menunggu di tempat Setsuna akan keluar semudah
ini.
Sudah sangat jelas bahwa mereka menggunakan sihir
atau Skill yang bisa melacak keberadaan Setsuna dan kawan-kawannya.
"Aku terkejut melihatmu masih baik-baik saja
setelah diserang oleh Eins. Yah, mungkin itu membuktikan kalau serangannya
memang selemah itu."
Zwei tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja. Serangannya benar-benar bukan
apa-apa. Kalau melawan manusia sepertiku saja kemampuannya seburuk itu, apa
kelompok kalian akan baik-baik saja?"
Lui melontarkan provokasi secara terang-terangan.
"Apa maksud perkataanmu itu?"
Zwei masih mempertahankan senyumnya, tetapi
kebencian dan rasa tidak suka yang luar biasa terpancar dari mata kanannya yang
berukuran raksasa.
"Penguasa mutlak yang benar,
Poseidon? Hah! Untuk ukuran seorang penguasa mutlak, dia benar-benar
menyedihkan."
"Tapi pada akhirnya, level
kalian memang cuma sebatas itu. Kalian tidak lebih dari sekumpulan semut
menyedihkan yang lari tunggang-langgang karena takut diinjak setelah memancing
amarah monster di dunia ini."
Sosok Zwei tiba-tiba menjadi
buram. Dalam sekejap, dia sudah mencengkeram kerah baju Lui dan mengangkat
tubuhnya tinggi-tinggi.
"Beraninya kamu
menghinaku!?"
Bersamaan dengan raungan tersebut,
kedua kaki Lui hancur berkerut.
"Ara, sepertinya kamu masih punya sedikit
kecerdasan untuk memahami ucapan manusia. Akan kuberikan pujian untukmu."
Dilihat dari sudut pandang mana pun, kedua kaki
Lui jelas sudah patah. Rasa sakitnya pasti begitu luar biasa hingga mampu
membuat kesadaran melayang.
Dia seharusnya merasa ketakutan sekarang. Namun,
meski keringat dingin terus mengucur, Lui justru menatap remeh ke arah Zwei dan
bertepuk tangan memberikan sorakan.
"Tutup mulut kotor itu!"
Kedua lengan Lui yang sedang bertepuk tangan
seketika bengkok ke arah yang tidak wajar.
"Kamu lebih marah karena dirimu dihina
daripada saat majikanmu dihina ya... Kamu benar-benar sampah yang tak tertolong
lagi. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa iba pada makhluk
sepertimu."
"Tuan Zwei, jika Anda melangkah lebih jauh
lagi, Anda akan mengabaikan instruksi Tuan Eins—"
Pria berjubah merah berjanggut panjang yang tampak
seperti ajudan baru saja membisikkan hal itu ke telinga Zwei, ketika
tiba-tiba...
"Berisik! Aku tahu, jadi tutup mulutmu!"
Tinju kiri Zwei menembus bagian tengah tubuh pria
berjubah merah itu dan menciptakan sebuah lubang besar. Pria berjanggut itu pun
tewas seketika dan ambruk ke tanah.
Zwei menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk
menenangkan dirinya. Dia lalu kembali menurunkan sudut matanya dengan senyuman
yang mengerikan.
"Tidak boleh, tidak boleh, aku hampir saja
termakan omongan pelacur sialan ini. Perempuan jalang, aku tidak akan
membunuhmu."
"Tapi jangan merasa lega dulu. Setelah aku
melelehkan wajah cantikmu itu dengan sihir, aku akan menelanjangimu dan
menjadikanmu tontonan di kota Bolero."
"Manusia rendahan..."
Lui mengernyitkan wajah dan melontarkan makian.
Wajah gadis itu sudah memucat karena kehilangan banyak darah.
"Kyahaha! Benar sekali! Wajah itu yang
kuinginkan! Setelah selesai dijadikan tontonan, aku akan membiarkan para
pengemis bermain denganmu sampai tubuhmu hancur! Nikmatilah penderitaan itu
sepuasmu!"
Saat Zwei menjentikkan jarinya, dua pria berjubah
merah langsung menahan tubuh Lui. Sementara itu, satu orang lainnya mulai
mendekatkan tangan kanannya yang telah berubah warna menjadi ungu ke wajah Lui.
"..."
Lui menggertakkan gigi dan menatap
mereka tajam dengan ketegaran yang luar biasa.
"Siapa pun yang disentuh oleh tangan kanan
itu akan dikutuk! Kulitnya
akan membusuk dan dipenuhi belatung! Tidak ada obat pemulih atau sihir
penyembuhan apa pun yang bisa menghilangkan kutukan tersebut!"
"Wajahmu akan menjadi buruk rupa seumur
hidup! Kamu akan dilempari batu dan dihina sebagai monster!
Bersenang-senanglah! Pria yang kamu cintai pun pasti akan langsung berbalik dan
lari ketakutan begitu melihat wajahmu!"
Sudut bibir Zwei yang tersenyum tidak wajar itu
robek hingga ke dekat telinga, dan bola matanya berubah menjadi merah darah.
Sosok Zwei kini sudah benar-benar kehilangan wujud manusianya.
"Hentikan!"
Setsuna berusaha berlari menghampiri Lui untuk
menghentikan mereka, tetapi gerakannya langsung ditahan oleh para pria berjubah
merah.
"Ini adalah pertunjukan kelahiran monster
terhebat, jadi tontonlah dengan saksama!"
Tepat saat tangan kanan ungu pria berjubah merah
itu hendak menyentuh wajah Lui...
"Dasar sampah!"
Seiring dengan gema suara yang penuh penghinaan
itu, tubuh bagian atas pria berjubah merah yang hendak menempelkan tangan
ungunya ke wajah Lui hancur berkeping-keping.
"Hah?"
Dua pria berjubah merah yang menahan tubuh Lui
mendongak dan mengeluarkan suara bodoh.
Di atas mereka, sesosok makhluk raksasa menyerupai
kuda yang dibalut api dan memiliki sayap merah tua menatap tajam ke bawah
dengan aura merah yang menyala-nyala.
"Enyahlah!"
Diintimidasi oleh makhluk raksasa menyerupai kuda
itu, para pria dan wanita berjubah merah secara refleks langsung menjauh dari
Lui.
"K-Kamu—"
Tepat saat Zwei memekik dengan suara penuh
kepanikan...
"Nona Faf, izinkan hamba menemani di sisi
Anda!"
Kuda raksasa itu berlutut dengan luwes. Di
hadapannya, berdiri sosok gadis kecil berambut pirang bernama Faf yang tengah
memasang ekspresi seperti iblis ganas.
"Aku tidak akan memaafkan kalian..."
Bola mata Faf yang menggumamkan kata-kata itu
telah berubah menjadi semerah darah.
Aura tempur keemasan yang menyelimuti seluruh
tubuhnya begitu panas hingga melelehkan tanah di sekitarnya.
"A-Apa-apaan ini―!"
Sambil berteriak ketakutan, Zubai mencoba mundur.
Namun, dia menabrak sosok raksasa yang muncul di belakangnya.
Saat dia menoleh dengan gemetar, dia pun menjerit.
"Hiiik!?"
Perasaan Zubai saat itu sangat bisa dimengerti.
Sebab di sana, sesosok monster berkepala naga yang
mengenakan pakaian emas tengah berdiri tegap sambil memancarkan amarah yang
meluap-luap.
Lalu, dia pun menyadari fakta itu. Fakta bahwa
saat ini mereka telah dikelilingi oleh makhluk raksasa yang tak terhitung
jumlahnya.
"Naga?"
Kata itu keluar dari mulut Setsuna yang mengering,
menyebutkan makhluk terkuat di dunia ini. Ratusan makhluk legenda raksasa itu
menatap para jubah merah dengan ekspresi penuh kebencian.
"Tuan Faf, mohon tenangkan
diri Anda."
Monster berkepala naga yang
berlutut itu memberi saran kepada Faf.
"Aku tidak akan memaafkan
mereka!"
Faf memukul sarung tangannya dan
melangkah mendekati Zubai beserta yang lainnya.
"J-Jangan mendekat! D-Dasar
monster!"
Mendengar jeritan nyaring Zubai,
Faf mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat.
Dia menarik siku kanannya ke
belakang dan merendahkan pusat gravitasinya untuk mengambil kuda-kuda.
"—Biar aku yang mengurus Faf.
Kalian semua tolong lindungi dan sembuhkan Louis beserta para monster."
"Girimekara, pasang pelindung
di seluruh area ini! Kerahkan
seluruh kekuatanmu!"
"Sesuai perintah!"
Suara berat itu bergema di dalam
kepala.
Di saat yang sama—.
"Dimengerti! Semuanya,
mundur!"
Pria berkepala naga itu membungkuk
dengan hormat dan memberikan perintah.
Seketika itu juga, sosok naga-naga
yang begitu banyak tadi menghilang tanpa sisa.
Seekor kuda raksasa mendekatkan hidungnya ke arah
Louis.
Bersamaan dengan cahaya yang menyilaukan, kedua
tangan dan kaki Louis yang patah pulih seolah waktu telah diputar kembali.
Kuda raksasa itu kemudian menggigit pakaian Louis,
meletakkannya di punggungnya, lalu melompat tinggi ke udara untuk mengambil
jarak.
"Beraninya kalian—melukai teman berharga
Faf—!"
Bersamaan dengan teriakan layaknya binatang buas
yang tak terbayangkan keluar dari seorang gadis kecil, tubuh kecil itu pun
menghilang.
"Gahii!"
Tinju kanan Faf yang bersinar keemasan menembus
perut Zubai yang wajahnya sudah berkerut ketakutan.
Cahaya menyilaukan yang membuat mata tak sanggup
terbuka menyelimuti mereka.
Dalam sekejap, suara gemuruh yang dahsyat dan
gelombang ledakan yang menghempaskan segalanya mengamuk di sana.
Namun entah bagaimana, tubuh Setsuna tengah
dipeluk oleh seseorang sehingga dia tidak ikut terhempas.
Cahaya keemasan yang menutupi sekeliling perlahan
memudar, dan daratan kembali menunjukkan rupanya.
Daratan itu telah berubah sepenuhnya.
Semak-semak tanaman tinggi di belakang mereka
telah hancur dan kawah raksasa muncul.
Atmosfer di langit yang jauh berderit akibat
distorsi, hingga ruang hitam terekspos di balik langit yang biru cerah.
Setengah tubuh Zubai terbakar habis.
Dia jatuh terduduk sambil gemetar bersama para
jubah merah yang giginya bergemeletuk ketakutan.
Lalu di sana, seorang pemuda berambut abu-abu
menahan tinju kanan Faf hanya dengan telapak tangan kirinya.
"Tuan Heine!"
Suara penuh kegembiraan keluar dari mulut Setsuna.
Tentu saja, karena pemuda itu adalah pahlawan yang sangat dinantikan oleh
Setsuna.
Heine membelai lembut kepala Faf dengan tangan
kanannya.
"Orang-orang seperti mereka
tidak pantas membuat tanganmu kotor, Faf. Serahkan saja padaku."
Dia menasihati gadis itu dengan
senyum yang lembut.
"Tuan, Faf... Faf..."
"Aku mengerti. Kamu pasti
kesal, kan? Kesal karena teman berhargamu diinjak-injak tanpa ampun oleh
orang-orang seperti mereka."
Heine memeluk Faf dan dengan
lembut membelai bagian belakang kepalanya.
Dia lalu menggendong Faf yang
akhirnya menangis. Dia pun menyerahkannya kepada monster berkepala naga yang
tiba-tiba sudah muncul di sana.
Monster berkepala naga itu
membungkuk sebelum akhirnya menghilang bersama Faf.
Heine mengarahkan pandangannya
pada Zubai dan kawan-kawannya yang gemetar menyedihkan di tanah. Dia menatap mereka seolah-olah sedang
menatap sebuah kotoran.
"Aku menyelamatkan kalian bukan tanpa alasan.
Aku hanya tidak ingin
tangan Faf kotor."
"Dan aku sama sekali tidak punya alasan untuk
memberi kalian kematian yang damai."
Heine melontarkan kata-kata itu dengan nada suara
yang membuat tulang belakang membeku.
"Tidak ada alasan untuk memberi kami kematian
yang damai?"
Zubai bertanya dengan suara gemetar.
"Ya. Kalian ini sampah yang menyebut diri
sebagai Pasukan Surga, kan? Sungguh, mulai dari kroco bernama Tartarus hingga
bedebah busuk seperti Veigue, kekuatan kalian sama sekali tidak ada
artinya."
"Tapi, sepertinya kalian punya bakat alami
dalam hal membuatku marah."
Dia mengangkat bahu dan menggelengkan kepala
seolah-olah sudah benar-benar muak.
"Tar... tarus? Kroco yang
tidak ada artinya?"
Zubai bergumam dengan tatapan
kosong.
"Hm? Bukannya monster kroco
tidak tahu diri bernama Tartarus itu adalah teman kalian?"
Heine membalas dengan dahi
berkerut.
"M-Monster kroco!? Enam Dewa
Langit Tartarus kau bilang!? J-Jangan-jangan kau ini monster lalat yang telah
mengalahkan Enam Dewa Langit Tartarus!?"
"Monster lalat? Ah, maksudmu
Beelze. Beelze, tunjukkan
wujudmu."
"Sesuai perintah, Chuu."
Diiringi suara berderik, seekor monster lalat yang
berjalan dengan dua kaki dan memakai mahkota pun muncul.
"Be-Be-Beelzebuuuub!"
Wajah Zubai berubah oleh keputusasaan yang
mendalam. Dia berteriak histeris hingga hampir kehabisan napas.
"Nah, karena sekarang semuanya sudah jelas,
saatnya menentukan nasibmu."
"A-Ampuni kami!"
Zubai dan para jubah merah menyatukan kedua tangan
mereka dan memohon dengan mata berlinang air mata.
"Tidak, aku sama sekali tidak akan
memaafkanmu! Kamu telah melukai putriku. Kamu juga telah melukai temanku."
"Sejujurnya, kesabaranku sudah habis sejak
tadi."
"I-Itu—"
Heine menendang rahang Zubai yang hendak
mengatakan sesuatu hingga hancur berkeping-keping untuk membungkamnya.
"Beelze, interogasi mereka. Setelah itu,
bereskan mereka dengan lebih teliti dari biasanya."
"Sesuai perintah, Chuu."
Tanah di bawah Zubai dan yang lainnya berubah
menjadi hitam melingkar, lalu menelan tubuh mereka dalam sekejap.
Heine mendekati Louis yang berada
di atas kuda bersayap merah. Begitu Heine berada di dekatnya, Louis langsung
melompat dan memeluknya erat-erat.
"Kamu telat..."
"Maafkan aku."
"Sedikit lagi wajahku akan hancur berantakan,
tahu."
"Maafkan aku."
Louis membenamkan wajahnya di dada Heine dan mulai
menangis tanpa suara.
◇◆◇
Setelah menenangkan Louise yang terus memelukku
dan tidak mau melepaskannya, aku menyerahkan perlindungan para monster kepada
bawahanku. Aku kemudian masuk ke dalam tenda yang berdiri sendirian di tengah
padang rumput.
Di dalam tenda, para pemimpin faksi bawahanku
telah berkumpul semuanya.
"Radon, bagaimana keadaan Faf?"
"Siap! Nona Faf menangis kelelahan dan saat
ini sedang beristirahat."
"Begitu, ya..."
Sudah lama aku tidak melihat Faf semarah itu. Atau
lebih tepatnya, ini mungkin pertama kalinya sejak aku berhenti terluka di Easy
Dungeon waktu itu.
"Apakah itu luka akibat menahan tinju
Faf?"
Dia bertanya sambil menatap lengan
kiriku yang membengkak ungu.
"Ya, begitulah. Tanganku hancur
total."
Mendengar jawabanku, suara
keterkejutan terdengar di seluruh penjuru tenda.
Hanya dengan kekuatan fisik
murninya, ruang menjadi terdistorsi dan menciptakan semacam ruang dimensi
kecil. Padahal, aku sudah berusaha menyebarkan dampaknya.
Jika Faf mengayunkan tinjunya itu
tanpa ada aku yang menghentikannya, mudah ditebak apa yang akan terjadi.
Aku mengeluarkan High Potion
dari Item Box, lalu meminumnya untuk menyembuhkan lukaku.
"Radon, terima kasih sudah mengurus
Faf."
Aku menundukkan kepalaku kepada Radon.
Bagiku, Faf sudah seperti putri kandungku sendiri.
Ketidakmampuanku telah membuat Faf terluka sangat dalam.
Ini benar-benar sebuah penyesalan
terbesar bagiku.
"Tidak, kata-kata Anda
terlalu berlebihan. Hamba merasa sangat terhormat."
Radon berdiri dari tempat
duduknya, berlutut dengan satu kaki, dan menundukkan kepalanya.
"Tolong terus jaga Faf untuk
sementara waktu."
"Siap!"
Biarkan Faf beristirahat sampai masalah ini
selesai. Nanti, jika dia melihat Hana dan Taro sehat-sehat saja, Faf pasti akan
kembali ceria seperti sedia kala.
Tentu saja, luka batin yang telah tergores tidak
akan sembuh begitu saja. Setelah masalah ini selesai, aku akan meluangkan
banyak waktu bersamanya sebagai sebuah keluarga.
Untuk sementara waktu, aku akan terus berada di
sisinya sama seperti saat kami berada di Easy Dungeon dulu.
Tapi, untuk saat ini—.
"Aku sudah sangat paham dengan kebodohan
sampah bernama Poseidon itu beserta para pengikutnya. Aku akan mengambil
tanggung jawab penuh untuk memusnahkan faksi mereka dengan tanganku
sendiri."
"Lalu, meski sudah melihat semua usaha
Pandora selama ini, apakah Feista masih tetap tidak bisa mempercayai pihak
Gereja?"
"Feista sudah melihat seluruh pergerakan
Pandora dan Tuan Master melalui rekaman visual. Kesimpulan Feista adalah, dia
mungkin bisa mempercayai Pandora."
"Namun, tanggapannya terhadap Gereja tetaplah
tidak."
"Begitu, ya..."
Aku menghela napas panjang mendengar jawaban Asta.
Selama ini, ras iblis dan para monster selalu
dianggap sebagai makhluk jahat yang harus dimusnahkan oleh pihak Gereja,
sehingga mereka menjadi target pembasmian.
Secara khusus, kekejaman Pahlawan Mashiro kepada
iblis dan monster atas perintah Gereja telah mengakar kuat sebagai ingatan yang
tidak bisa dihapus di benak mereka.
Kini, Gereja memohon bantuan karena mereka
ditindas secara tidak manusiawi oleh makhluk non-manusia yang menyebut diri
mereka sebagai Tuhan.
Sangat tidak masuk akal untuk menyuruh iblis dan
monster menerima begitu saja permintaan tolong tersebut.
Meski begitu, jika di sini aku menuruti amarahku
dan membasmi Poseidon, Feista tidak akan pernah mengakui Pandora dan
kelompoknya. Di sisi lain, pihak Gereja juga tidak akan mengubah sikap dan
perkataan arogan mereka.
Pandora akhirnya mulai melepaskan diri dari
kutukan bernama diskriminasi yang ada di dalam organisasi Gereja. Gadis itu
sedang berusaha melangkah maju dengan keinginannya sendiri.
Aku bisa memastikan ini, setidaknya jika
kesempatan ini hilang, Gereja tidak akan pernah bisa saling memahami dengan
para monster serta iblis dan selamanya akan memilih jalan permusuhan.
Yang menunggu di ujung jalan itu hanyalah
penderitaan dan kematian rakyat tak berdosa yang tak terhitung jumlahnya dari
kedua belah pihak, serta kepunahan mutlak salah satu dari mereka.
Ini berarti, tindakanku yang gegabah dan emosional
dapat menentukan masa depan Pandora dan Feista.
Dengan kata lain, aku harus menunggu. Sampai
Pandora dan pihak Gereja mencapai sebuah kesimpulan melalui ujian ini—.
"Tuan Master, apa yang rencananya akan Anda
lakukan?"
"Apa yang akan kulakukan? Tentu saja sudah
jelas. Aku hanya akan melanjutkan rencana seperti ini."
Menghentikan rencana sekarang tidak akan
memberikan keuntungan bagi siapa pun.
"Apakah Tuan Master benar-benar setuju dengan
hal itu?"
Asta bertanya dengan ragu-ragu. Hal itu tidak
seperti biasanya di mana dia selalu mengatakan apa pun yang dipikirkannya
secara blak-blakan.
"Bukan soal setuju atau tidak, itulah ujian
yang diberikan kepada Pandora dan kelompoknya."
Sampai kapan pun, kami hanyalah orang luar.
Kemenangan maupun kekalahan, itu semua adalah kehormatan dan penderitaan yang
hanya diberikan kepada Pandora dan kelompoknya.
Kami yang berada di luar ini hanya bisa
meminjamkan kekuatan untuk mendukung pilihan yang mereka buat. Karena jika
tidak begitu, ujian ini sama sekali tidak ada artinya.
"Tuan Master, kalau begitu kita akan
melanjutkan rencana ini ke tahap akhir. Maaf jika Hamba terus mengulanginya,
tapi apakah Anda benar-benar yakin?"
Asta mungkin tidak ingin aku ikut campur lebih
jauh dalam ujian ini. Dan alasannya pasti—.
"Asta, kamu memang baik hati. Terima
kasih."
"T-Tidak, Hamba ini..."
Aku tersenyum masam melihat Asta yang wajahnya
memerah dan menjadi sangat salah tingkah. Lalu, aku mengedarkan pandangan ke
seluruh pemimpin yang hadir.
"Poseidon berada di level yang sepenuhnya
berbeda dari para kroco yang pernah muncul sejauh ini. Benar, kan?"
"Hal itu benar adanya."
Asta langsung menjawab, dan tidak ada satu pun
orang yang menentang ucapannya.
"Kalau begitu, ini akan mempertaruhkan nyawa.
Dengar, aku sendirilah yang akan membereskan Poseidon. Kuperintahkan kalian
untuk membersihkan jalan bagiku."
Siapa pun lawannya, aku tidak berniat untuk kalah.
Apalagi, Poseidon telah menyentuh kemarahanku.
Aku tidak akan puas sebelum menghancurkannya
berkeping-keping.
"Sesuai perintah!"
Girimekara membungkuk dengan penuh hormat, dan
semua orang pun mengikuti langkahnya seraya menundukkan kepala mereka.
"Laksanakan rencananya!"
Setelah mendeklarasikan hal tersebut, aku mulai
berjalan menuju tempat Pandora dan yang lainnya menunggu.
◇◆◇
Beberapa saat setelah Heine pergi, seberkas cahaya
berbentuk setengah bola muncul di arah semak-semak yang letaknya sangat jauh,
membuat daratan bergetar hebat. Beberapa jam kemudian, Heine kembali ke kereta
kuda kelompok Pandora.
Dia datang seorang diri tanpa
membawa Faf. Dari ekspresi wajahnya yang rumit, sudah bisa ditebak bahwa hal
ini telah menjadi masalah yang sangat merepotkan.
Namun, kenyataan yang sebenarnya
mereka dengar justru jauh lebih buruk dari yang dibayangkan.
"Hana diculik, ya..."
Seperti yang diduga, para monster
diserang oleh Ein dan Zubai dari Alumni atas perintah Neptune.
Selain Hana yang diculik oleh Ein,
para monster juga diserang oleh Alumni yang dipimpin oleh Zubai, namun mereka
berhasil dimusnahkan oleh Heine yang bergegas datang.
Mereka mendengarkan penjelasan
situasi secara rinci dari Zubai yang tertangkap. Rupanya, Kadipaten Dux telah
sepenuhnya diambil alih oleh Neptune.
Dengan Ein sebagai pemimpinnya,
mereka berniat menggunakan eksekusi publik Hana dan Putri Lula untuk memancing
Pandora serta Heine keluar.
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Tentu saja, membiarkan Hana mati itu di luar
dugaan. Kita akan segera pergi ke ibu kota Kadipaten."
"Itu sudah pasti jebakan, tahu? Lagipula,
kemungkinan besar Hunter Guild juga telah berbalik menjadi musuh kita."
Fakta bahwa Hunter Guild telah menjadi musuh
memang sangat mengejutkan. Tetapi jika dipikir-pikir lagi—.
"Toh, saat ini aku adalah orang yang memusuhi
Gereja Pusat. Sekarang,
mana mungkin aku bingung dan ragu hanya karena satu organisasi netral bergabung
dengan mereka!"
Selama Kai Heineman berada di
balik pihak Feista, jelas bahwa dia tidak akan pernah sejalan dengan Poseidon.
Bagaimanapun juga, situasi dunia
saat ini hanyalah konflik antara dua orang Transcenden, yaitu Poseidon
dan Kai Heineman.
Jika Hunter Guild secara
keseluruhan memihak Poseidon, itu berarti mereka telah memilih jalan untuk
berbenturan langsung dengan Kai Heineman. Masalahnya di sini adalah pergerakan
Shin, sang pemburu terkuat di dunia Hunter.
Informasi tentangnya sangat
sedikit sehingga mereka belum bisa memastikan, namun dari pembicaraan singkat
dengannya, rasanya Shin bukanlah sosok yang mau melakukan tindakan keji.
Pandora sama sekali tidak bisa
membayangkan Shin akan membunuh rakyat tak berdosa hanya karena perintah tidak
masuk akal dari Hunter Guild.
Lagipula—.
(Kurasa dia tidak sebodoh itu.)
Di belakang Feista ada Sang Transcenden,
Kai Heineman.
Pandora sama sekali tidak berpikir
bahwa Shin yang banyak akal itu akan mengambil risiko berbenturan dengan Kai
Heineman akibat perintah sembrono dari Guild.
Kemungkinan besar, dia akan
memilih untuk mengamati dari pinggir lapangan untuk sementara waktu.
Fakta bahwa mereka tidak bisa
mendapatkan bantuan Shin dalam masalah ini memang merupakan kerugian.
Tetapi tidak peduli berapa banyak
Hunter selain Shin yang datang, mereka tidak akan pernah menjadi ancaman bagi
Pandora.
"Kamu sudah berubah, ya. Atau
lebih tepatnya, kamu sudah membulatkan tekadmu?"
"Ya, aku sudah lelah karena terus-terusan
merasa putus asa. Mari kita berjuang dan melawan hingga akhir."
Pandora mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat dan
menyatakannya dengan penuh semangat kepada Heine.
"Aku mengerti. Selama Nona Lula akan
dieksekusi, aku juga harus pergi. Lagipula, perasaanku saat ini sama sepertimu,
Pandora."
"Sejujurnya, kesabaranku sudah mencapai
batasnya karena terus-terusan dipermainkan sesuka hati mereka."
Kepada Heine yang memamerkan gigi taringnya dengan
ekspresi penuh amarah, Pandora membalas.
"Kalau begitu, mari kita susun rencana
penyelamatan yang spesifik."
Pandora merasakan kelegaan seolah-olah dia telah
melepaskan beban di dalam hatinya.
Mereka pun berdiskusi mengenai operasi
penyelamatan Putri Lula dan Hana yang lebih spesifik.
Sebelum itu, masalahnya adalah para monster yang
diselamatkan Heine kali ini. Para monster tersebut cukup terluka parah akibat
serangan dari Zubai dan kawan-kawannya.
Oleh karena itu, sepertinya Heine telah menitipkan
perlindungan para monster itu kepada salah satu ksatria Putri Lula.
Di saat yang sama, Louis yang merupakan pelayan
Putri Lula juga mengalami luka berat dan terpaksa keluar dari garis depan
pertempuran.
Nyawanya berhasil diselamatkan berkat obat
pemulihan dari Heine, namun saat ini dia masih membutuhkan waktu untuk
beristirahat.
Hal ini berarti, selain Heine, Pandora, dan kusir
kereta bernama Ruth, tidak ada orang lain yang bisa ikut campur dalam operasi
penyelamatan kali ini. Karena itulah, mereka bertiga harus menyusun strategi
untuk menyelesaikannya.
Terlebih lagi, mereka harus berhasil mencapainya
dengan menerobos jebakan musuh. Tingkat kesulitannya benar-benar di luar
bayangan.
Oleh karena itu, mereka terus berdiskusi
berkali-kali, menyusun strategi, dan mengulang simulasi.
Di tengah situasi tersebut, sebuah informasi
diumumkan di kota Bolero bahwa eksekusi publik anak monster dan pengkhianat
yang melindunginya, Putri Lula, akan dilaksanakan tepat lima hari lagi di ibu
kota Kadipaten.
Kemungkinan besar, itu adalah bentuk ancaman
sekaligus provokasi bagi Pandora dan kelompoknya.
Di tengah situasi yang seperti itu, operasi
penyelamatan untuk saat ini telah berhasil disusun dan mereka akan segera
berangkat menuju ibu kota Kadipaten.
"Oboro, aku serahkan anak-anak ini
kepadamu."
"Aku menerimanya. Kudoakan keberuntunganmu
dalam pertempuran."
Seorang pria berpenampilan lembut yang mengenakan
kacamata bulat dan pakaian merah kebesaran berkerudung menjawab permintaan
Heine sambil memukulkan kepalan tangan kanannya ke dada.
"..."
Taro berpegangan erat pada Pandora dan membenamkan
wajahnya ke perut gadis itu.
"Tidak apa-apa. Aku pasti akan membawa Hana
kembali. Karena itu, Taro, tolong jadilah anak baik dan tunggu kami di sini,
ya."
Pandora memeluk Taro dan berbicara selembut
mungkin kepadanya.
"Ung."
Sambil membelai kepala Taro yang enggan
melepaskannya, Pandora berpamitan.
"Aku pergi dulu, Taro."
Dia mengucapkannya dengan senyuman di wajahnya.
"Hati-hati... di jalan."
Sambil menangis, Taro pun melepaskan pelukannya
dari Pandora. Menahan perasaan enggan untuk berpisah akibat tatapan Taro,
Pandora akhirnya naik ke dalam kereta kuda.
Setelah terguncang di dalam kereta kuda selama
beberapa hari, mereka pun tiba di ibu kota Kadipaten.
Dengan bantuan Magic Item penyamaran yang
disiapkan oleh Heine, mereka menyamar menjadi pasangan pedagang keliling dan
menyusup ke dalam ibu kota.
Begitu mendapatkan penginapan di dalam ibu kota,
mereka bertiga mulai mengumpulkan informasi secara menyeluruh di tempat
masing-masing.
Pandora berkeliling ke toko pakaian dan toko
perhiasan yang ditujukan untuk kalangan elit.
Dia secara diam-diam bertanya kepada para
pelanggan dan penjaga toko tentang Putri Lula serta eksekusinya.
Golongan elit bisa dibilang sebagai kelompok
mayoritas di dalam Kadipaten Dux. Secara khusus, ada banyak penganut Gereja
yang taat di sana.
Oleh karena itu, dia awalnya mengira bahwa Putri
Lula yang jelas-jelas menentang ajaran Gereja akan sangat dijauhi oleh mereka—.
"Mengeksekusi Yang Mulia
Lula, itu benar-benar hal yang tidak masuk akal!"
Pemilik toko perhiasan mewah itu
meninggikan suaranya yang dipenuhi dengan amarah yang mendalam.
"Rumor yang beredar luas
mengatakan bahwa Yang Mulia Duke telah kehilangan akal sehatnya."
Seorang pria berpenampilan seperti
bangsawan mencubit kumis melintangnya sambil memberikan pendapat yang sangat
tidak terduga.
"Kudengar Yang Mulia Putri
Lula adalah seorang pecinta monster?"
Pertanyaan dari Pandora itu
mengubah suasana di dalam toko. Hampir seluruh pelanggan yang ada di sana memancarkan aura permusuhan
terang-terangan kepadanya.
"Itu cuma omongan seenaknya
dari pihak berwenang dan Gereja! Yang Mulia Lula hanya bersikeras untuk
menghentikan tindakan kejam terhadap monster yang memiliki akal cerdas!"
"Sama sekali tidak ada alasan baginya untuk
dieksekusi!"
"Aku setuju! Beliau tidak pernah sekalipun
melarang kita membunuh monster yang berbahaya! Sebaliknya, saat kampung
halamanku diserang gerombolan Little Troll yang menyerang ternak, beliaulah
yang paling cepat menggerakkan para Ksatria Kadipaten untuk menyelamatkan
kami!"
"Benar sekali! Saat itu, pihak Kadipaten dan
Gereja bahkan tidak mau mendengarkan keluhan kami! Satu-satunya yang mau
mendengarkan kami hanyalah beliau!"
Ah, begitu rupanya. Putri Lula pasti adalah sosok
yang sangat bertolak belakang dengan Pandora.
Dia tidak menyerah pada tekanan dari lingkungan
sekitarnya yang didasarkan pada alasan palsu seperti tradisi maupun formalitas.
Dia hanya bertindak mengikuti nilai dan keyakinan dirinya sendiri.
Sosok yang sulit dikendalikan seperti itu memang
wajar diasingkan oleh para penguasa. Pandora mengenal seseorang yang mirip
dengan putri tersebut, yaitu Putri Pertama Kerajaan Amelia, Rosemarie Roth
Amelia.
Demi keyakinan yang telah mereka temukan, para
gadis itu tidak segan menolak dan menghancurkan organisasi, pemikiran, bahkan
akal sehat yang selama ini tidak pernah diragukan oleh siapa pun.
Lalu, saat mereka menabrak dinding tinggi bernama
struktur kekuasaan dan jatuh ke dalam krisis yang mengancam nyawa, Sang
Penyelamat pasti akan selalu muncul untuk menolong mereka.
Penyelamat itu akan melenyapkan semua kesulitan
yang mereka hadapi, lalu menunjukkan jalan keluar.
Persis seperti Sang Transcenden, Kai
Heineman yang meminjamkan kekuatannya kepada Putri Rosemarie. Begitu pula
dengan Heine yang saat ini meminjamkan kekuatannya kepada Putri Lula.
Pandora sangat berbeda dengan
mereka. Tanpa ragu-ragu, dia terus-menerus berlindung di balik pihak yang kuat.
Bahkan pedoman pemikiran yang
menjadi penentu tindakannya yang seharusnya murni dan tanpa cela, hanyalah
pinjaman dari orang lain. Perbedaan inilah yang menjadi hasil akhirnya.
Seandainya seseorang membicarakan
hal buruk tentang Kardinal Pandora di Enblade yang merupakan markas besar
Gereja Pusat, pasti tidak akan ada satu orang pun yang marah dan membelanya
seperti ini. Alih-alih
menyangkal perkataan itu, mereka malah mungkin akan ikut-ikutan mencelanya.
Orang-orang yang mendekati Pandora hanyalah para
babi jelek berjiwa serakah yang tenggelam dalam kekuasaan, bersembunyi di balik
penampilan dan tutur kata yang menawan. Ini benar-benar sebuah karma.
Pandora berpikir, hal ini adalah pembalasan yang
wajar atas semua perbuatan yang telah dia lakukan selama ini.
Sungguh menyedihkan. Ini
benar-benar menyedihkan.
Rasanya begitu menyedihkan hingga dia tanpa sadar
meneteskan air mata.
"H-Hei, Nona, kau tidak apa-apa? Tidak ada
gunanya juga marah-marah kepada gadis kecil seperti ini, kan!"
Seseorang angkat bicara untuk membela Pandora.
Akal sehat para pelanggan di sekelilingnya pun kembali, dan amarah mereka
perlahan lenyap.
Pandora merasakan kecanggungan yang teramat sangat
karena menyadari fakta tersebut. Dia pun pergi meninggalkan toko itu
seolah-olah sedang melarikan diri.
Tanpa dia sadari, dia sudah kembali ke penginapan
yang menjadi tempat pertemuan mereka. Semakin dia mengetahui tentang Putri
Lula, perasaan frustrasi dan rendah dirinya semakin menyiksa.
Dia kembali menyadari betapa bodoh dan berdosanya
segala tindakan yang dia lakukan selama ini.
Saat dia memasuki kamar, Heine sudah berada di
sana dan tengah melipat kedua tangannya sambil tenggelam dalam pikiran. Ruth
tampaknya juga sudah kembali.
"Karena Pandora juga sudah kembali, mari kita
mulai bertukar informasi."
Menanggapi ajakan Heine, Ruth dan Pandora juga
memberikan persetujuan tanpa kata-kata dan mulai berbicara satu sama lain.
"Sepertinya lokasi kurungan Nona Lula hanya
diketahui oleh orang-orang dengan posisi tertentu ke atas. Setidaknya, para penjaga
berpangkat rendah sama sekali tidak tahu di mana posisi Nona Lula saat
ini."
Heine menghantamkan kepalan tangan kanannya ke
telapak tangan kirinya dengan kesal.
"Sama halnya denganku, aku juga sama sekali
tidak bisa mengetahui di mana lokasi Putri Lula dan Hana dikurung, sekeras apa
pun aku mencarinya."
Sejauh ini, semuanya masih sesuai dugaan. Tujuan
musuh adalah mengeksekusi Putri Lula di depan umum.
Penghalang terbesar bagi mereka adalah Pandora dan
kelompoknya. Jika Pandora berada di posisi musuh, dia mungkin akan melakukan
hal yang sama.
"Bagaimana jika kita menggunakan Stealth
Magic milikku untuk menyusup dan mencari di dalam kastil kerajaan?"
Terhadap saran nekat dari Pandora yang tak menaruh
banyak harapan tersebut, Heine membalas.
"Tidak, itu tidak akan berhasil. Mengingat
Pandora sudah pernah melarikan diri, mereka pasti sudah memprediksi bahwa kita
akan menggunakan Stealth Magic."
"Mereka pasti sudah menyiapkan
langkah-langkah antisipasi. Lagipula, aku sama sekali tidak berpikir kalau Nona
Lula dan Hana disekap di tempat yang sama."
"Dengan kata lain, faktanya saat eksekusi
Putri Lula dan Hana adalah satu-satunya kesempatan bagi kita, kan?"
"Benar sekali. Mereka pasti harus
mengalokasikan penjagaan untuk Nona Lula dan Hana."
"Selain itu, Neptune juga akan menampakkan
dirinya di hadapan kita pada saat itu. Aku akan menyerangnya dengan kekuatan
penuh."
"Memanfaatkan kekacauan tersebut, kamu dan
Ruth, Pandora, harus segera mengamankan mereka berdua lalu melarikan diri dari
ibu kota. Ini adalah metode dengan peluang menang yang paling tinggi."
"Pada akhirnya, berarti kita tetap
menjalankan rencana awal, ya..."
Dia sebenarnya sudah menduga sejak awal kalau
akhirnya akan jadi seperti ini.
Setelah mempertimbangkannya berulang kali, mereka
mencapai kesimpulan bahwa peluang terbesar untuk menyelamatkan mereka berdua
hanyalah ketika mereka muncul di depan umum.
"Ya, begitulah. Dengan menyusutnya pilihan
yang harus kita lakukan, pikiranku justru jadi lebih jernih. Sisanya, biarlah
semuanya terjadi sebagaimana mestinya."
Menanggapi perkataan Heine yang terdengar seolah
sudah berpasrah diri, Ruth pun menimpali sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Benar. Kalau begitu, mari kita eksekusi
rencana ini di hari eksekusi mereka lusa nanti."
"Dimengerti! Lusa, kita akan melaksanakan
rencana ini sesuai persiapan!"
Heine pun bangkit dari kursinya untuk menjawab
ucapan tersebut.
"Saya permisi dulu."
Ruth membungkuk sedikit sebelum keluar dari
ruangan. Heine pun mengangkat tangan kanannya sebagai salam singkat, lalu
bersiap meninggalkan kamar Pandora.
"Heine!"
Pandora sendiri tidak mengerti mengapa dia
menghentikan pria itu. Hanya saja, hatinya sangat ingin melakukannya.
"Hm? Ada apa?"
Heine berhenti di depan pintu, lalu menoleh ke
belakang melalui bahunya.
"Bisakah kamu menemaniku mencari udara segar
seharian besok?"
"Lagipula tidak ada yang perlu dikerjakan
sampai hari pelaksanaan rencana, jadi aku tidak keberatan."
Begitu permintaannya disetujui dengan sangat
mudah,
"K-kalau begitu ... um ...."
Meski telah memberanikan diri membuat ajakan
terbesar dalam hidupnya, Pandora tidak tahu harus berbuat apa. Saat gadis itu
menjadi terbata-bata,
"Besok pagi, aku akan datang
menjemputmu."
Setelah mengatakan hal itu sambil
tersenyum, Heine melangkah keluar ruangan.
Sejak kehilangan adik
laki-lakinya, Ikaros, akibat kesalahannya yang bisa dibilang fatal, Pandora tak
lagi bisa tidur nyenyak di malam hari.
Kenangan bersama Ikaros dan
pemandangan saat Ikaros berubah menjadi Dewa Monster Poseidon terus terulang
dalam mimpinya setiap malam. Ia pun selalu terbangun dari tidurnya sambil
menangis.
Akan tetapi, malam ini dia tidak
bisa tidur karena kegirangan. Semua itu karena emosi yang tidak biasa, seperti rasa gugup dan malu.
Alasan dia tidak bisa tidur adalah karena akan
pergi keluar bersama lawan jenis. Jika itu Pandora beberapa waktu lalu, dia
pasti akan menertawakannya.
Tentu saja, saat ini Putri Lula dan Hana sedang
ditawan, dan mereka akan dieksekusi lusa. Dia sangat sadar bahwa ini bukanlah
saatnya melakukan hal yang tidak ada gunanya.
Namun, izinkan dia melakukan sesukanya khusus
untuk besok. Sebab, lusa nanti, Pandora akan mati.
Dalam rencana lusa, pengaturannya adalah Pandora
dan rombongannya akan menyelamatkan mereka berdua saat Heine menyerang Neptune.
Tapi, Pandora sangat mengetahui kelicikan dan kekuatan mereka.
Terutama Neptune, dia kuat sampai pada tahap yang
membuat putus asa. Bisa dipastikan bahwa ras manusia tidak akan pernah bisa
melawannya.
Secara logika, tidak mungkin manusia seperti Heine
bisa menang melawan Neptune, dan tidak mungkin juga dia bisa melarikan diri.
Hal ini juga telah diakui oleh Heine sendiri.
Meski begitu, dia sama sekali tidak berniat
menjadi putus asa dan melakukan serangan bunuh diri yang sembrono lusa nanti.
Ia juga sama sekali tak berniat membiarkan Heine mati sia-sia.
Pandora memiliki kartu as.
Kartu as itu adalah sihir putih milik Pandora yang
dibangkitkan oleh Heine. Berdasarkan hasil uji coba berbagai sihir di waktu
luangnya sejak saat itu, sihir putih tersebut memperkuat efek sihir penyembuhan
dan pertahanan secara drastis.
Tidak, kata 'memperkuat' sudah berbeda dimensi.
Lagi pula, kekuatan itu bahkan bisa membengkokkan ruang itu sendiri.
Bahkan sihir dasar untuk membuat perisai
transparan fisik saja mengalami perubahan efek yang luar biasa. Jika dia
merapal sihir pertahanan terkuat yang dimilikinya—Holy Silence—dengan
menggunakan sihir putih, dia pasti mampu menahan serangan Neptune sekalipun.
Namun, ada dua masalah dalam menggunakan Holy
Silence dengan sihir putih ini.
Pertama, sihir yang menggunakan kekuatan magis
putih ini sangat menguras Mana.
Kemungkinan besar, jika dia menggunakan Holy
Silence sekali saja, Mana miliknya akan terkuras habis dan dia tidak
akan bisa bergerak lagi.
Kedua, sihir pertahanan dan penyembuhan dari
kekuatan magis putih itu sama sekali tidak berdampak pada dirinya sendiri. Dia
rasa ini adalah semacam batasan bawaan yang ada pada sihir putih tersebut.
Karena itu, Pandora akan menggunakan sihir ini
lusa untuk melindungi Putri Lula, Hana, Heine, dan Ruth. Sisanya, Heine pasti
bisa melarikan diri dengan lancar.
Pada saat yang sama, Pandora yang tak terlindungi
akan ditangkap dan dihabisi oleh mereka.
Itulah sebabnya, besok adalah hari terakhir dalam
hidup Pandora. Hal yang Pandora pilih pada hari yang berharga itu bukanlah
berdoa kepada Tuhan, atau pun meratapi nasib dengan pesimis.
Dia memilih untuk menghabiskan waktu bersama
Heine.
Malam yang panjang pun berganti
fajar, menandakan hari libur terakhir Pandora.
Pintu kamarnya di penginapan diketuk. Saat dia
membukanya, Heine berdiri di depan pintu.
Hanya dengan melihat sosoknya saja, hatinya terasa
sesak, lalu dia merasakan kehangatan yang nyaman menjalar di dadanya.
"Ayo kita pergi!"
Pandora menguatkan tekadnya, lalu menggenggam
tangan kanan Heine dan mulai berjalan.
"O-oi!"
Mendengar suara Heine yang terdengar terkejut,
rasa malunya meluap hingga ia sadar wajahnya memerah.
Untuk menyembunyikan wajahnya yang memalukan itu,
Pandora berjalan keluar penginapan sambil menundukkan kepala.
Ia mengelilingi ibukota sambil
bergandengan tangan dengan Heine.
Ibukota Kadipaten Dux masih belum
terkena dampak pelaksanaan keadilan yang menyimpang dari Neptune, sehingga kota
itu penuh dengan semangat kehidupan.
Mereka berjalan-jalan sambil
membeli dan menyantap makanan dari kedai-kedai di sepanjang jalan utama ibu
kota yang ramai. Ia juga
menonton pertunjukan kelompok akrobat di alun-alun bersama Heine.
Waktu yang terasa seperti mimpi berlalu dalam
sekejap, dan kini matahari telah berubah oranye serta mulai terbenam.
Waktu sebagai putri dari kisah kepahlawanan yang
dulu sering ia bacakan untuk adiknya telah berakhir.
Kini, kenyataan kematian yang tak terhindarkan
menantinya.
Saat mereka tiba di depan Magic
General Shop,
"Heine, bisakah kamu menungguku sebentar di
sini?"
Ia menyampaikan permintaannya pada Heine.
"Ya, aku mengerti."
Setelah melihat Heine mengangguk,
ia masuk ke dalam toko.
Benar saja, ada papan tanda dengan
lambang kurir yang terpajang di toko itu. Dari sini, dia bisa mengirimkan
surat.
Pandora bermaksud mengirimkan
sepucuk surat ke Festa.
Itu adalah surat yang berisi
perasaannya yang paling jujur saat ini. Tentu saja, jika dia mengirimkannya
begitu saja, surat itu tak akan pernah sampai karena disensor oleh Kadipaten
Dux.
Terlebih lagi, Festa pasti belum
diakui sebagai tujuan pengiriman yang sah.
Oleh karena itu, ia membubuhkan
sihir penyembunyi yang menggunakan kekuatan sihir biru dengan efek pendorong
yang kuat pada surat itu. Dengan begini, surat tersebut akan dikirimkan kepada
Putri Louise dari Kerajaan Amelia yang saat ini berada di Babel.
Putri Louise adalah orang yang
menawarkan perjanjian kepada Pandora melalui ajudannya, Isaac. Jika itu Putri Louise, dia pasti akan
menyampaikan surat ini ke Festa.
Lagipula, Kadipaten Dux tak akan bisa dengan mudah
menahan surat yang ditujukan untuk seorang anggota keluarga kerajaan, dan
mereka pun tak punya alasan untuk melakukannya. Pasalnya, isi surat yang
terlihat hanyalah sapaan musim panas biasa.
Lalu, ketika surat itu tiba di tangan Putri
Louise, efek sihirnya akan menghilang dan tulisan aslinya akan muncul.
"Tolong antarkan surat ini ke alamat di
Babel."
"Baiklah."
Saat ia memintanya, pegawai toko itu menerimanya
dengan senyuman.
Dengan ini, Pandora telah melakukan semua tindakan
yang bisa ia perbuat. Sisanya, ia hanya bisa menyerahkan nasib pada kehendak
langit.
"Heine, terima kasih untuk hari ini! Sangat
menyenangkan!"
Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam,
menyampaikan kata-kata yang tulus dari lubuk hatinya kepada Heine.
"Pandora, kamu ... tidak, bukan
apa-apa."
Tumben sekali Heine ragu-ragu untuk berbicara.
Mengingat sifat Heine yang peka, dia mungkin sudah
bisa menebak apa yang akan dilakukan Pandora besok.
Terima kasih.
Kepada Heine yang tetap percaya dan tidak
mengatakan apa-apa, Pandora sekali lagi mengucapkan terima kasih di dalam
hatinya, lalu berbalik dan berlari kecil masuk ke penginapan.
Begitu masuk ke kamarnya, dia
langsung merebahkan diri di tempat tidur.
Besok, hidup Pandora akan berakhir.
Hal itu seharusnya sangat menakutkan, tetapi hatinya justru dipenuhi oleh
perasaan yang hangat dan lembut.
"Ikaros, akhirnya besok aku akan
menyusulmu."
Jika dipikir-pikir lagi, sejak hari dia kehilangan
Ikaros, Pandora terus berlari di dalam kegelapan. Namun, sekarang dia akhirnya
bisa keluar menuju cahaya.
"Heine ...."
Di tengah kesadarannya yang kian memudar, sembari
menggumamkan nama pria yang sangat dicintainya, Pandora kembali mengingat
kehangatan bahagia di tangan kanannya yang ia rasakan sepanjang hari ini.
◇◆◇
Kisah ini mundur ke beberapa hari sebelum Pandora
dan rombongannya mengunjungi ibukota Kadipaten Dux.
Di sebuah rumah tua di pinggiran ibu kota
Kadipaten Dux, belasan orang berpenampilan lusuh layaknya pengemis tampak
berkumpul.
Di salah satu kursi meja bundar besar itu, duduk
seorang pria paruh baya dengan kumis yang rapi. Pria itu melipat tangannya
dengan wajah yang luar biasa serius.
Pakaian pria itu compang-camping dan sobek di
sana-sini. Kulit di sekujur tubuhnya pun dipenuhi lumpur dan debu, tetapi dari
sorot mata serta gerak-geriknya, masih terlihat semacam keanggunan.
Meski sedang menyamar, dialah sang
Duke Kadipaten Dux, Ludens val Dux itu sendiri.
"Yang Mulia Duke, apakah Anda
benar-benar berniat membiarkan Tuan Putri mati begitu saja!"
Seorang pria bertubuh besar dan
kekar yang duduk di meja bundar itu berdiri dan berteriak kepada Duke Ludens.
"Komandan, suaramu terlalu keras!"
"Kamu tidak sopan pada Yang Mulia Duke!"
Mendengar suara kecaman dari orang-orang lain yang
semeja dengannya, pembuluh darah di pelipisnya semakin menonjol.
"Tidak sopan!? Apa ini saat yang tepat untuk
mengatakan hal seperti itu! Aku berani sumpah, jika Tuan Putri dieksekusi, Tuan
Notka dipastikan akan menjadi penerus takhta! Jika itu terjadi, negara ini
secara harfiah akan berakhir!"
Dia kembali meninggikan suaranya.
"Tuan muda bodoh itu, ya ... dia memang tak
punya kapasitas untuk mengurus urusan negara. Jika dia menjadi Duke, maka hanya
masa depan di mana orang bodoh seperti Gorongo yang merajalela yang menanti
kita."
Pria tua berambut putih yang menjabat sebagai
Perdana Menteri saat ini menyuarakan pendapatnya sembari menatap langit-langit
dengan tatapan kosong.
"Ya, jika Tuan Notka yang merupakan
perwujudan diskriminasi itu menjadi Duke, menjalin hubungan diplomatik dengan
Festa hanyalah mimpi di siang bolong. Kita akan dikuras habis-habisan sampai ke
tulang oleh dewa itu, dan hanya akan menjadi negara yang perlahan menunggu
kematiannya."
Salah satu menteri memaksakan kata-kata itu keluar
dengan ekspresi getir.
"Festa, negara para monster dan ras iblis, ya
... negara super besar yang juga menaungi Raja Iblis Kegelapan Ashmedia, dan
bahkan telah menyerap Negara Kabut. Terlebih rajanya adalah Gilbert loth
Amelia, yang terkenal sebagai Pangeran Bodoh."
"Bagi mereka yang mengenal dirinya di masa
lalu, hal itu terdengar seperti lelucon semata."
Menanggapi gumaman Perdana Menteri yang terdengar
seperti berbicara pada dirinya sendiri itu,
"Setelah upacara Festa, orang yang bersikeras
bahwa kita harus meminta bantuan dari Festa adalah Anda, Yang Mulia Duke.
Bolehkah kami mendengarkan isi hati Anda?"
Pria besar nan kuat yang merupakan Komandan
Ksatria Pengawal Kadipaten Dux bertanya pada Ludens dengan nada yang tidak
menerima penolakan.
"Pangeran Gilbert benar-benar
memiliki kapasitas seorang raja. Bukan raja boneka sepertiku, bukan pula
pahlawan yang tenggelam dalam kebencian, dia adalah raja sejati. Mungkin semua
orang yang menghadiri upacara itu juga memiliki penilaian yang sama."
"Namun, saat aku menemuinya
di acara sosial beberapa tahun lalu, dia pastinya adalah pangeran naif yang tak
jauh berbeda dari putra bodohku. Karena dia terlalu berbeda dengan masa lalunya, aku bertanya kepada Perdana
Menteri Kerajaan Amelia saat ini, Johannes Roosevelt. Lalu dia ...."
Duke Ludens memutus kata-katanya di situ. Pria itu
memejamkan mata dan bungkam.
"Yang Mulia, tolong jangan
berbelit-belit dalam situasi seperti ini! Apa yang dikatakan oleh Yang Mulia
Johannes!?"
Mendengar kemarahan Komandan
Ksatria yang bisa dibilang tidak sopan itu, para menteri yang biasanya akan
menegurnya pun tetap terdiam dan mengawasi jalannya perbincangan.
"Aku tak berniat
berbelit-belit. Aku hanya khawatir apakah kalian akan memercayainya jika aku
mengungkapkan kebenaran ini sekarang."
"Apa fakta tersebut!?"
Melihat sang Komandan Ksatria yang
mencondongkan tubuhnya, Duke Ludens tersenyum getir, lalu berkata.
"Fakta bahwa sosok yang
mengubah Pangeran Gilbert dan menciptakan negara adidaya Festa itu adalah Royal
Guard milik Putri Rosemary, Kai Heineman."
Ia mengucapkan setiap kata dengan
perlahan. Dalam sekejap, ruangan itu dipenuhi dengan suara keributan yang
terdengar layaknya pepohonan yang bergoyang di hutan.
"Kai Heineman, aku pernah
mendengar selentingan tentang dirinya. Bukankah dia adalah pengkhianat terbesar
yang ditinggalkan oleh Dewa Perang Suci, yang dijuluki sebagai 'orang paling
tak kompeten di dunia'?"
"Pemilik Gift tak
berguna seperti itu menggabungkan dua negara iblis? Apalagi sampai bisa menaklukkan Ashmedia? Itu
sangat tidak mungkin."
"Mengapa Perdana Menteri Johannes mengatakan
hal semacam itu? Mungkinkah itu semacam rencana busuk untuk melawan kita?"
Menanggapi ucapan keraguan dan penyangkalan yang
datang bertubi-tubi, Duke Ludens menghela napas panjang.
"Karena itulah aku ragu untuk mengatakannya
pada kalian. Jadi, bagaimana sekarang? Apa kalian akan menganggap Kai Heineman
sebagai eksistensi yang tidak penting dan membatalkan kerja sama dengan
Festa?"
Ludens melihat ke sekeliling
ruangan dan menanyakan pendapat mereka.
Sesaat kemudian, ruangan itu
menjadi sunyi senyap oleh pertanyaan yang bahkan mengandung kemarahan dari sang
Duke.
"Gift adalah berkah
yang diberikan oleh Dewa Perang Suci, dan orang yang tidak punya kemampuan
adalah bukti dari pengkhianat terbesar ... ya. Kuku ... itu pemikiran yang
benar-benar konyol dan bodoh ...."
Suara seorang menteri berkumis
tebal yang tertawa mencela diri sendiri bergema di dalam ruangan.
"Menteri Dalam Negeri, apanya
yang konyol dan bodoh!?"
Menteri yang ucapannya disangkal
itu menanyakan maksud tawa rekannya dengan nada jengkel.
"Hah! Negara kita saat ini
sedang diobrak-abrik dan berada dalam krisis yang belum pernah terjadi
sebelumnya karena monster yang mengaku sebagai dewa dengan eksistensi di atas
Dewa Perang Suci itu!"
"Dengan kata lain, dasar keyakinan kita telah
hancur lebur! Apa kalian masih ingin memercayai akal sehat yang diajarkan oleh
Dewa Perang Suci itu sekarang!?"
Menteri Dalam Negeri berseru
dengan nada mengancam.
Di saat semua orang menunjukkan ekspresi
seolah-olah baru saja menelan pil pahit,
"Dengan ini tak ada lagi yang
kusembunyikan. Jika Kai Heineman adalah sosok yang mengubah Pangeran Gilbert
yang kekanak-kanakan itu hingga sejauh itu, kurasa dia pantas untuk
dipertaruhkan. Bagaimana pendapat kalian semua?"
Duke Ludens meminta pendapat dari
para menteri yang hadir di sana dengan ekspresi khusyuk.
"Saya setuju! Toh, bagaimanapun juga negara
kita tak akan bisa lepas dari Neptune jika terus begini! Lalu, di bawah
kendalinya, kita akan menjadi negara terburuk di mana orang bodoh seperti Tuan
Notka dan Gorongo merajalela!"
"Itu sama saja dengan kehancuran negara!
Meski kemungkinannya sangat kecil, itu jauh lebih baik ketimbang tidak ada
harapan di masa depan sama sekali! Saya akan bertaruh pada Kai Heineman!"
Komandan Ksatria berdiri dan mengutarakan
pendapatnya.
"Begitu, ya. Aku juga akan bertaruh pada Kai.
Aku sangat tertarik melihat seberapa hebat bocah penakut itu telah tumbuh
dewasa."
Menanggapi gumaman dari Perdana Menteri yang
sedari tadi terus merenung sejak nama Kai Heineman disebut,
"Tunggu dulu, Kakek kenal dengan Kai
Heineman!?"
Wajah Duke Ludens berubah pucat saat ia
mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ketika aku masih muda, aku pernah bertarung
di garis depan bersama Elm sebagai penyihir dalam Perang Iblis Besar. Belasan
tahun yang lalu, saat Elm datang berkunjung untuk menyombongkan cucunya, aku
pernah bertemu dengan Kai sekali."
"Yah, aku tak pernah bermimpi kalau bocah
dari masa itu akan menjadi pria yang mendominasi ras iblis."
Semua orang di ruangan itu ternganga melihat
Perdana Menteri yang tertawa renyah sambil menggaruk kepalanya. Kemudian—
"Bukan, bukan! Tuan Perdana Menteri, kenapa
Anda tiba-tiba membuat pengakuan seperti itu!"
"Itu baru pertama kalinya saya dengar! Lebih
tepatnya, Perdana Menteri ada di Party yang sama dengan Sword Saint
Elm!?"
"Jadi, Kai Heineman adalah cucu dari Sword
Saint Elm itu!?"
Mendengar para menteri yang mulai
mengobrol sesuka hati mereka,
"Hei, berisik sekali!"
Saat Duke Ludens berteriak dengan
marah, keributan itu pun langsung berhenti.
"Kakek, jika kau kenal dengan Kai Heineman,
aku sangat memohon bantuanmu untuk menjadi perantara! Aku, tidak, negara ini
sama sekali tidak boleh kehilangan Lula!"
Begitu Ludens berseru dengan suara
keras,
"Akan saya laksanakan."
Perdana Menteri meletakkan tangan kanannya di dada
lalu membungkuk sedikit.
"Kalian semua tidak keberatan
dengan ini, kan!?"
Ludens melihat ke sekeliling pada
orang-orang di meja itu, lalu berteriak dengan nada yang tidak menerima
penolakan. Semuanya pun mengangguk setuju dalam diam.
"Sepertinya pembicaraan
kalian sudah selesai."
Perhatian semua orang seketika terpusat pada suara
wanita yang berasal dari sudut ruangan.
Di sana, berdiri seorang gadis berambut merah
dengan sepasang sayap putih bersih, dan bertolak pinggang.
"S-siapa kamu!?"
Komandan Ksatria segera berdiri di depan Ludens
lalu mencabut pedang besar di pinggangnya. Ia merendahkan pusat gravitasinya
sembari bersiaga menatap gadis berambut merah itu, lalu berteriak lantang.
"Aku? Aku adalah bawahan pertama Tuan Ares
dan orang yang berada di kursi terbawah dari Aliansi Dewi yang mulia. Dan aku
adalah utusan yang diberi tugas sebagai pembawa pesan dari orang yang paling
agung di dunia ini, Ramiel!"
Gadis berambut merah itu membusungkan dada dengan
bangga dan mengumumkan namanya dengan suara lantang.
"Ares ...? Apakah yang Anda
maksud adalah Dewa Perang Suci Ares ...?"
Menanggapi Ludens yang bertanya
dengan takut-takut, raut wajahnya seketika berubah menjadi tidak senang.
"Memangnya terdengar seperti
siapa lagi!? Tuan Ares itu tunangan dari orang yang agung! Jangan sembarangan
memanggil nama Tuan Ares! Sangat tidak sopan!"
Gadis itu melontarkan kata-kata
yang tidak masuk akal. Tiba-tiba saja, Mana merah menyala yang bagaikan
arus deras memancar dari gadis berambut merah itu, memenuhi seluruh ruangan.
Terhantam tekanan yang bahkan
membuat mereka kesulitan untuk sekadar bernapas, Ludens beranjak lalu berlutut.
Semua orang di ruangan itu bisa merasakan secara langsung bahwa gadis di
hadapan mereka ini bukan sekadar monster atau roh biasa.
"K-kami mohon maaf atas ketidaksopanan
kami!"
Para pejabat tinggi lainnya juga bangkit seperti
pegas dan berlutut serempak.
"Ramiel, apa maksud ucapanmu barusan,
hm?"
Di belakang gadis berambut merah bernama Ramiel
itu, muncul seorang wanita cantik bertubuh tinggi. Wanita berambut perak
panjang berponi rata itu menutup matanya.
Gadis itu menempelkan kedua tinjunya ke pelipis
Ramiel dan menekan kuat-kuat sambil melontarkan teguran.
"Kak Juno ... saakitt."
Melihat Ramiel yang merengek pelan dengan mata
berkaca-kaca, semua orang di ruangan itu saling berpandangan dengan bingung.
"Tolong lupakan saja apa yang dikatakan anak
ini. Itu semua hanyalah omong kosong dan khayalannya saja."
Wanita cantik berambut perak bernama Juno itu
menjepit ujung rok gaunnya yang berenda dan membungkuk dengan elegan.
"B-baik ...."
Dihadapkan pada situasi tidak wajar di mana gadis
berambut merah yang tadinya ganas seperti binatang buas tiba-tiba menjadi
jinak, Ludens yang pikirannya sangat kacau menjawab dengan setengah hati.
Juno berdeham untuk menata ulang pembicaraan, lalu
seketika mengubah suasananya.
"Junjungan kami yang tercinta tak akan
menyelamatkan mereka yang tak mau berjuang! Ini adalah ujian yang diberikan
Junjungan kami kepada kalian! Tampilkanlah kemampuan kalian di pertunjukan yang
akan digelar tiga hari lagi!"
"Kami akan memberikan kalian kekuatan untuk
melakukannya! Ini adalah konsensus dari Aliansi Dewi!"
Berbeda 180 derajat dengan tingkah lakunya yang
elegan sebelumnya, wanita itu bertolak pinggang dengan tangan kirinya sembari
menjulurkan tangan kanannya ke depan.
Ia menyuarakan deklarasi yang
teramat buruk itu dengan nada serius.
"P-pertunjukan tiga hari
lagi?"
Kepada Ludens yang bertanya dengan
ragu-ragu sambil gemetar,
"Tidak ada pilihan bagi kalian. Hasilnya
hanya akan ada dari perjuangan kalian sendiri."
Juno menjawab hal itu sembari menjentikkan
jarinya.
Pemandangan di sekeliling mereka
terdistorsi. Detik berikutnya, Ludens dan yang lainnya sudah berdiri di sebuah
gurun berwarna merah kecokelatan.
Di tempat itu, sudah ada para
monster yang berdiri dengan raut wajah gelisah.
"M-monster!?"
"Manusia!?"
Mereka langsung menjaga jarak,
mengambil senjata, dan saling mengintimidasi.
"Yang Mulia Duke, tolong
mundur! Biar saya—!"
Komandan Ksatria maju untuk
melindungi Ludens sembari memegang pedang besarnya.
"Tampaknya kalian cukup
bersemangat! Hmm, di luar dugaan, sepertinya kalian pantas untuk dilatih!"
Mendengar suara lantang nan serak
yang menghujani mereka dibarengi dengan tawa keras yang dipenuhi kegirangan,
mereka merasakan ketakutan yang membuat bulu kuduk di sekujur tubuh merinding.
Semua orang yang ada di sana seketika menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Kemudian—
"Hiiie!?"
Saat melihat monster raksasa
berhidung panjang yang sedang bertolak pinggang, tanpa terkecuali mereka semua
menjerit dan berlarian panik.
"Girimehkala, bolehkah aku menitipkan
pelatihan mereka kepada faksimu?"
Menanggapi permintaan Juno,
"Tentu saja. Jika itu adalah kehendak
Junjungan agung kami! Hei, kalian!"
Monster itu berteriak keras hingga menggema ke
sekeliling sambil membunyikan buku-buku jarinya.
"Ooooooh!"
Raungan yang menggetarkan udara pun menggema, dan
monster-monster aneh mulai muncul satu per satu.
Mulai dari Ludens dan anggota Kadipaten Dux,
bukan, bahkan para monster yang ada di tempat itu tanpa ragu memahaminya lewat
insting mereka. Kejahatan yang luar biasa kuat ini.
Sekali lihat saja, mereka langsung paham. Bahwa
monster-monster ini, masing-masing dari mereka adalah monster yang berada di
luar hukum logika dunia ini, dan mereka adalah kebalikan dari kebaikan dan
keadilan.
Di tengah situasi yang dikelilingi oleh monster
jahat tulen itu,
"Hei kalian, siapakah kami!?"
Girimehkala, monster berhidung panjang itu
melontarkan pertanyaan yang bahkan sampai menimbulkan hembusan angin yang
dahsyat.
"Kami adalah orang-orang yang berjalan dengan
bangga di jalan kejahatan yang diajarkan oleh Junjungan tertinggi kami!"
Makhluk-makhluk di sebelah kanan langsung
menjawabnya serempak.
"Bagaimana cara kita untuk mencapai puncak
jalan kejahatan itu!?"
Mendengar pertanyaan Girimehkala,
"Melalui keyakinan yang menentang dan
terlepas dari nalar kejahatan!"
Makhluk-makhluk di sebelah kiri langsung
menjawabnya seketika.
Rombongan Girimehkala seketika menatap lekat-lekat
pada rombongan Ludens dan para monster.
"Wahai serangga yang merayap di tanah! Kami
akan menugaskan sebuah pelatihan super khusus yang disebut dengan siksaan dan
penderitaan kepada kalian!"
"Tunjukkan jiwa panas dan tekad kuat kalian
pada Junjungan tertinggi kami pada hari pertunjukan takdir tiga hari dari
sekarang!"
Ia berteriak begitu keras sampai
serasa mampu merobek gendang telinga.
"T-tolong kasihani kami!"
Semuanya serba putus asa. Mewakili tempat itu,
Ludens dengan mati-matian mengucapkan kata-kata yang mendesak Girimehkala dan
rekan-rekannya untuk mengubah pikiran, demi menghindari situasi gila ini.
Namun—
"Norn! Perpanjang waktunya sampai batas
maksimal selama tiga hari mulai sekarang!"
"Siap laksanakan!"
Gadis berusia dua belas atau tiga belas tahun yang
hampir seluruh wajahnya tertutup rambut putih yang membalas dengan suara manis
itu adalah Norn. Entah sejak kapan dia sudah muncul di langit.
"T-tunggu sebentar, Girimehkala, apa tak apa
melakukan hal nekat seperti itu?"
Mendengar perkataan Juno yang bernada gelisah itu,
Girimehkala menarik sudut bibirnya hingga mencapai telinga.
"Aku sudah cukup paham batasan mental manusia
lewat pelatihanku pada Somni dan Tetru! Tidak masalah untuk sedikit berbuat
nekat selama tiga hari!"
"Lagipula, meski mereka hancur, Satori bisa
memperbaiki mereka berapa kali pun!"
Girimehkala menatap ke langit lalu menjawabnya
dengan nada riang.
"Sedikit nekat, ya ... rasanya tidak ada kata
yang lebih terdengar bohong ketimbang kata itu. Yah, tak ada masalah pada
rencana kita, jadi kurasa tak apa ...."
"Kalau begitu, aku serahkan padamu,
Girimehkala."
Sembari memandang Ludens dan para monster dengan
raut wajah iba, ia menjawabnya dengan sungguh-sungguh lalu menghilangkan diri.
Pada saat yang sama, sosok gadis berambut putih tadi juga ikut menghilang.
Sambil memamerkan senyuman jahat
dan menatap Ludens beserta para monster dari atas, Girimehkala mulai berkata,
"Ayo, semuanya! Yang pertama
adalah memperbaiki mentalitas pecundang pelit mereka yang suka bergantung pada
orang lain! Ujian macam apa yang cocok untuk mereka!?"
Girimehkala meneriakkan kata-kata
yang tak lebih dari sekadar mimpi buruk bagi Ludens dan rombongannya.
"T-tunggu dulu!"
Namun suara memelas Ludens itu
dengan mudahnya tenggelam oleh lautan sorak-sorai monster lain yang menggema
seperti gelombang tsunami.
—Itulah momen di mana para
petinggi Kadipaten Dux dan para monster yang diculik oleh Kadipaten tersebut,
bergandengan tangan, atau lebih tepatnya dipaksa bergandengan tangan, memulai
perjalanan neraka mereka menuju ujian sekali seumur hidup.
◇◆◇
—Di dalam Ruang Singgasana istana Kadipaten Dux.
Di antara dua barisan orang-orang berjubah merah bertopi dengan tato sabit dan
tengkorak,
"Rombongan Ludens telah menghilang."
Pria gemuk dengan rambut dipotong gaya bob,
memakai jubah merah dengan tato angka tiga yang terukir di mulutnya, Drei,
memberikan laporannya pada sang pemuda jangkung yang duduk bersandar angkuh di
atas singgasana sambil mengenakan penutup mata tiga lubang, Neptune.
"Jadi mereka kabur meninggalkan tanggung
jawab untuk melindungi negara! Benar-benar orang yang tak punya setitik pun kebenaran di hatinya! Sampah seperti mereka tak pantas untuk
hidup! Segera setelah kalian menemukannya, habisi mereka!"
Menanggapi Neptune yang memberikan
instruksi dengan nada membuang ludah,
"Kalau begitu, Drei, kamu
yang bergerak untuk membereskan rombongan Ludens, ssho."
Pria berambut dan berjanggut merah
yang memakai masker, Ein, yang memiliki tato angka 'satu' terukir di pipinya,
segera memberikan instruksi kepada Drei.
"Aku sih tidak masalah. Tapi,
kalau aku pergi memburu mereka, tidak akan ada yang mengawal tuan muda bodoh
itu."
"Kalau dia dibunuh di saat seperti ini,
bukankah keadaannya akan jadi gawat?"
"Pengawalan Notka biar Zwei saja yang urus,
ssho. Baru saja ada panggilan telepati darinya yang bilang kalau pembuangan
monster sudah selesai semua."
"Pembuangan, ya. Paling-paling dia cuma
melakukan permainan seperti biasanya."
"Mungkin saja, ssho. Lagipula, Zwei
sepertinya akan kembali ke ibu kota sebelum hari eksekusi Lula, jadi sampai
saat itu tiba, aku yang akan mengambil alih tugas pengawalan Notka, ssho!"
"Aku mengerti. Kalau begitu,
Tuan Neptune, aku akan pergi memburu rombongan Ludens yang melarikan
diri."
Drei berseru sembari berlutut
dengan satu kaki dan menundukkan kepalanya.
"Cepat pergi! Dan bawa kepala
Ludens ke hadapanku! Sekarang juga!"
Sembari memelototinya dari atas singgasana,
Neptune memberikan perintah tegas kepada Drei.
"Sesuai perintah Anda! Pasti akan saya
laksanakan!"
Setelah berteriak seperti itu, Drei berdiri,
membungkuk kepada Neptune, lalu melangkah keluar dari ruangan.
"Bagaimana dengan eksekusi besok?"
"Berjalan lancar tanpa hambatan. Kami akan
mempersembahkan pertunjukan yang luar biasa untuk Tuan Neptune kita, ssho!
Ihihihi!"
Ein memberikan laporannya sembari memamerkan
senyuman yang mengerikan.
"Sudah sepantasnya! Kalau gagal, kau akan
mencoreng namaku! Jika itu terjadi, aku akan membunuhmu, Ein!"
Mendengar seruan keras Neptune,
orang-orang berjubah merah yang hadir di sana pun gemetaran.
"Sesuka hati Anda."
Tanpa mengubah ekspresinya sedikit
pun, Ein meletakkan tangan kanannya di dada dan membungkuk dengan penuh hormat.
"Ya sudahlah. Lalu, bagaimana
dengan pembangunan patung emas Tuan Poseidon?"
Neptune bertanya dengan nada datar
kepada pria berjubah merah yang meringkuk gemetaran di ujung barisan.
"M-mohon maaf yang
sebesar-besarnya! Kami sedang mempercepat pembangunannya, jadi mohon tunggu
sebentar la—"
"Lambat!"
"Gih!"
Bersamaan dengan bentakan penuh
amarah itu, sebuah garis merah menyala melintang di leher pria berjubah merah
yang sedang melapor dengan hormat, dan kepalanya pun jatuh tergelincir.
Tubuh tanpa kepala itu
memuncratkan darah segar saat jatuh tersungkur ke atas karpet merah.
"Kenapa bisa selambat
ini!?"
"C-cadangan emas negara ini
tidak cukup, dan kami kesulitan mengumpulkan emas dari manusia di negara lain
... gueh?"
Seluruh tubuh pria paruh baya yang
berada di sebelah pria berjubah merah yang tewas itu bergejolak, lalu meledak
ke segala arah usai memberikan jawaban tersebut.
"Emasnya tidak cukup!? Rencana
awalnya adalah patung Orichalcum! Aku memberimu pengecualian khusus untuk
menggunakan emas karena alasan bahan yang tidak tersedia!"
"Kalau emasnya tidak cukup,
serang tempat lain dan dapatkan emasnya!"
"B-baik! Pasti akan kami
lakukan!"
Seorang wanita berjubah merah yang
juga bertanggung jawab atas pembangunan patung emas Poseidon berseru dengan
suara yang melengking karena ketakutan.
"Bulan depan, Tuan Poseidon
akan mengunjungi tempat ini! Kita harus membuktikan betapa makhluk-makhluk
rendahan di tempat ini berjalan di jalan yang benar di bawah bimbingan Neptune
yang benar!"
"Rakyat di negara ini rela
membuang sedikit harta benda mereka demi menciptakan wujud Tuan Poseidon yang
bersinar keemasan. Itulah bentuk ideal yang seharusnya ada dari negara
ini!"
Neptune berseru lantang.
"Itu sangat benar! Tuan
Neptune, manusia dari Guild Hunter yang baru kutemukan baru-baru ini pasti bisa
mewujudkan sosok gagah Tuan Poseidon, ssho!"
Ein melangkah maju dan memberikan saran sembari
meletakkan tangan kanannya di dada.
"Apa ucapanmu itu benar?"
Neptune bangkit dari singgasana dan memunculkan
trisula di tangan kanannya. Ia mengarahkan ujung tajamnya tepat ke depan hidung
Ein yang tampak sama sekali tidak tegang, lalu menatapnya tajam dan menuntut
jawaban.
"Tentu saja. Lebih tepatnya, patungnya baru
saja selesai di alun-alun pusat kota, ssho!"
Saat Ein menjentikkan jarinya, pemandangan
alun-alun ibu kota pun diproyeksikan. Di alun-alun itu, tampak sebuah patung
emas raksasa Poseidon yang sedang memegang tombak dan berpose gagah.
"Kerja bagus, Ein! Luar biasa! Inilah sosok
Tuan Poseidon! Bawa manusia dari Guild Hunter itu kemari! Aku akan memberinya
hadiah!"
"Sudah kuduga Anda akan
berkata begitu. Silakan masuk."
Sekali lagi Ein menjentikkan
jarinya, dan seorang pria berpenampilan lembut yang jangkung, ramping, dengan
rambut belah pinggir pun masuk ke dalam ruangan.
"Tuan Neptune, nama saya
adalah Kepala Cabang dari Cabang Borero, Reito Genghis Khan. Salam kenal."
"Hah! Aku akan memberimu kehormatan untuk
berjalan di jalan yang benar bersama kami! Gemetarlah dalam kegembiraan!"
Menanggapi ucapan Neptune yang sangat angkuh dan
sombong itu,
"Ini adalah sebuah kehormatan!"
Reito menundukkan kepalanya dengan anggun, masih
dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Ein, aku menantikan acaramu besok!"
Neptune yang suasana hatinya seketika berubah
menjadi baik, melontarkan kata-kata pujian kepada Ein.
"Pertunjukan sekali seumur hidupku ini, aku
pasti akan membuatnya sukses dan menunjukkannya kepada Anda!"
Ein menyatakan hal itu dengan senyum menyeramkan
yang menghiasi wajahnya. Wajah Ein itu dipenuhi oleh hasrat jahat yang sangat
bertolak belakang dengan kebenaran.
◇◆◇
Keesokan paginya, hari pelaksanaan operasi pun
tiba. Sekaligus, ini merupakan hari terakhir bagi Pandora.
Sekarang pun dia masih merasa takut, dan jelas
masih ada rasa enggan untuk meninggalkan dunia ini. Namun, secara mengejutkan
tidak ada kepesimisan dalam dirinya.
Bahkan Pandora sendiri tak begitu paham apa
alasannya. Satu hal yang bisa ia pikirkan adalah, jalan-jalannya berdua saja
dengan Heine kemarin. Ia merasa bahwa hal itu entah bagaimana telah melepaskan
semua beban pikirannya.
Alun-alun ibu kota telah dipenuhi oleh kerumunan
warga. Sebagian besar wajah warga ibu kota diliputi oleh kesedihan yang
mendalam.
Mereka sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan
pada patung emas pria tampan yang tiba-tiba muncul dan seharusnya menarik
perhatian itu. Ya, tatapan orang banyak terpusat pada seorang gadis yang diikat
ke sebuah tiang besi di alun-alun.
Gadis berambut merah dengan kuncir kuda yang
diikat dengan rantai ke tiang besi di tengah alun-alun. Terdapat dua tanduk
kecil di dahi gadis itu, sehingga dalam sekali pandang orang bisa mengetahui
bahwa ia bukan manusia murni.
Dia adalah Putri Pertama Lula val Dux.
Emosi yang terpancar jelas di mata rakyat saat
melihat gadis itu, adalah rasa cemas yang teramat sangat karena nyawa sang
gadis akan segera direnggut, serta kemarahan terhadap Gereja Pusat yang
memimpin eksekusi ini.
Pandora menerobos gelombang orang-orang yang
mengarahkan tatapan penuh kebencian kepada pihak gereja dan ksatria suci yang
memimpin eksekusi, lalu mendekat hingga jaraknya hanya sejengkal dari tiang
besi tempat Putri Lula ditahan.
Hana tidak ada!
Sosok Hana tidak terlihat di mana pun. Padahal,
dari informasi yang dikumpulkan oleh Heine dan Ruth, tidak salah lagi bahwa
mereka berniat menggunakan Hana dalam eksekusi ini.
Sembari menyadari rasa dingin yang perlahan
menjalar dari ujung kakinya, ia dengan mati-matian mencari keberadaan Hana.
Sesuai rencana, saat Neptune menampakkan diri,
Heine akan melancarkan serangan kepadanya.
Gift yang dimiliki Heine adalah peningkatan dan
perubahan Mana miliknya secara signifikan. Peningkatan Mana
memang butuh waktu tertentu, tetapi dengan mengubah Mana yang telah
ditingkatkan itu, kabarnya dia bisa bergerak dan memiliki kekuatan fisik
ratusan kali lipat dari biasanya.
Meski tak diberi tahu secara rinci, Heine pasti
melakukannya dengan menggunakan warna Mana khusus. Dengan menggunakan
sihir biru dan putih saja, Pandora mampu memicu fenomena yang tak masuk akal.
Bagi Heine yang mampu menguasai berbagai macam
warna, efek sekelas kemampuan manusia super semacam itu pastilah sangat mungkin
terjadi.
Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Heine akan
menyerang Neptune, dan memanfaatkan kekacauan itu agar Pandora dan Ruth dapat
melindungi Putri Lula dan Hana lalu melarikan diri.
Tentu saja, pada kenyataannya, Pandora akan
menggunakan sihir putih miliknya untuk merapal Holy Silence pada
rombongan Heine dan Ruth.
Akan tetapi, hal ini mengacu pada premis bahwa
Putri Lula dan Hana ada di sana. Jika Hana tak ada di tempat ini, maka rencana
tersebut akan berantakan.
Diiringi dengan suara riuh kerumunan, Uskup Gereja
yang ditugaskan di Kadipaten Dux muncul sembari membawa beberapa bangsawan dan
sejumlah besar Ksatria Suci.
Kemudian, setelah sang Uskup dan para Ksatria Suci
yang bertindak sebagai pembuka jalan itu, muncullah sosok utama, yaitu Neptune
beserta anggota Alumni yang menjadi bawahannya.
Rombongan Neptune naik ke atas
podium yang terletak di ujung alun-alun. Kemudian, saat Neptune duduk di atas
kursi mewah nan megah yang telah disiapkan, Uskup itu mengalihkan pandangannya
pada Ein dan menundukkan kepalanya sedikit.
"Baiklah, baiklah."
Sambil tersenyum ramah dan
melambaikan tangan kanannya kepada para penonton, Ein melangkah maju.
"Mulai saat ini, upacara
eksekusi kanker Kadipaten Dux, sang manusia setengah monster Lula, akan
dimulai, ssho!"
Rakyat memusatkan tatapan kecaman yang kuat kepada
Ein, yang mendeklarasikan eksekusi itu tanpa lagi menggunakan panggilan
kehormatan.
"Pertama-tama, akan ada kata sambutan
perayaan terkait patung emas dan eksekusi ini dari Kepala Cabang Cabang Borero
yang memelopori pembuatan patung emas Tuan Poseidon, dewa besar yang kita
sembah, yaitu Tuan Reito Genghis Khan, ssho!"
Sambil melambai-lambaikan kedua tangannya, dia
mengarahkan perhatian pada Reito, pria berpenampilan lembut yang tinggi,
ramping, dengan rambut belah pinggir yang sedang bersiaga di samping Neptune.
Seperti dugaannya, Reito memang berkhianat. Jika
begitu, muncul pertanyaan apakah pengkhianatan ini hanya terjadi di Cabang
Borero saja atau tidak.
Meski Pandora tak terlalu ingin memikirkannya, ada
kemungkinan bahwa seluruh Guild Hunter telah memihak pada Poseidon.
Tak ada gunanya hanya memikirkan
hal-hal buruk.
Ya. Seandainya Guild Hunter
memihak Poseidon sekalipun, Pandora tak yakin Putri Louise dan Shin akan ikut
berpihak kepada mereka.
Jika memang begitu, masih ada yang bisa ia
lakukan. Saat ini, perlindungan terhadap Hana dan Putri Lula harus menjadi
prioritas utama.
Reito melangkah maju ke depan podium.
"Guild Hunter kami ada berkat
Gereja Pusat. Kali ini, kami gemetar penuh rasa haru karena diberi kehormatan
untuk mewujudkan sosok agung dari dewa besar Poseidon yang disembah oleh gereja
tersebut."
"Saya berharap, semoga rakyat
Kadipaten Dux ini juga mendapatkan berkah dari dewa yang kita percayai."
Dia melontarkan kata-kata yang seolah akan
diucapkan oleh siapapun yang merupakan seorang umat yang saleh.
Kenapa ya ....
Meskipun kata-kata Reito sama sekali tidak aneh
jika diucapkan oleh seorang kepala cabang dari Guild Hunter yang telah memihak
Poseidon, entah mengapa Pandora merasakan kejanggalan yang sangat kuat.
Sekarang yang terpenting adalah lokasi
Hana!
Tidak salah lagi bahwa Reito telah menjadi musuh.
Tak ada gunanya memikirkan pergerakan musuh sekarang. Lebih dari itu,
melindungi Hana harus menjadi prioritas utama.
Pasalnya, sudah hampir dipastikan bahwa Hana telah
dibawa ke alun-alun ini. Saat Pandora hendak melafalkan sihir penglihatan jarak
jauh untuk mulai mencari Hana—
"Berhubung salam dari Kepala Cabang Reito
sudah selesai, mari kita segera mulai acara utama upacara kali ini, ssho!"
Ketika Ein menjentikkan jarinya, seorang gadis
High Kobold yang matanya ditutup dan diikat ke sebatang kayu, Hana, dibawa
masuk.
"―!?"
Melihat penampilannya yang begitu menyedihkan,
Pandora terkejut seolah-olah disengat lebah. Wajah Hana sudah membengkak, dan
memar-memar pun terlihat tersebar di sekujur tubuhnya.
A-apa yang telah mereka lakukan!
Detik berikutnya, emosi ganas nan buas memenuhi
hatinya bagaikan angin topan.
Sesaat Putri Lula membelalakkan matanya melihat
pemandangan mengerikan ini, lalu,
"Kalian semua!"
Ia memekik keras, kehilangan kendali atas dirinya
sendiri dengan sangat hebat. Sementara para penonton kehilangan kata-kata
karena melihat wujudnya yang panik itu,
"Nah, Tuan dan Nyonya, dua monster itu adalah
makhluk berdosa yang mengalirkan darah iblis jahat, hidup mereka sendiri adalah
sebuah dosa!"
"Ambillah batu dan hukum makhluk yang tak
pantas hidup ini! Dengan
begitu, dosa yang kalian tanggung sekarang akan diampuni, ssho!"
Ein melontarkan kalimat menjijikkan tersebut.
Jika itu adalah warga Enblade, markas besar Gereja
Pusat yang secara spiritual telah tunduk pada keadilan Poseidon yang penuh
dengan kesalahan, mereka mungkin akan patuh begitu saja.
Namun—
"...."
Tidak ada satupun yang berusaha
mengambil batu. Mereka hanya mengarahkan ekspresi jijik dan amarah pada Ein dan
Neptune.
Tepat ketika Neptune menyipitkan
matanya karena permusuhan dari rakyat,
"Ada apa ini, apa kalian bahkan tidak bisa
membasmi monster! Memang pantas menjadi rakyat bodoh yang diperintah oleh raja
bodoh yang menjadikan monster sebagai permaisuri!"
"Sebagai ganti kalian rakyat jelata, aku,
Pangeran Pertama Kadipaten Dux, Notka val Dux, akan memberikan contoh. Benar
kan Gorongo, kalian semua juga bisa, kan?"
Pemuda berambut merah yang mengenakan pakaian
mahal tapi berselera buruk, yang duduk di kursi VIP, berdiri dan menanyakan hal
itu pada pemuda bangsawan gemuk yang duduk di sebelahnya.
"Tentu saja!"
"Luar biasa, Yang Mulia! Anda adalah panutan
bagi kami para bangsawan!"
Gorongo dan para bangsawan tingkat tinggi lainnya
menyunggingkan senyuman menyeramkan saat mereka melompat turun dari podium dan
mendekati altar tempat kerikil ditumpuk.
Kemudian, mereka mengambil kerikil, membidikkan
sasarannya pada gadis High Kobold, lalu bersiap melemparnya. Tepat pada saat
itu—
"Para pengecut tak tahu malu! Jika berbicara
tentang monster, aku juga mewarisi darah monster! Jangan lakukan itu pada gadis
lemah, mulailah dariku!"
Mendengar teriakan marah Putri Lula,
"Aku yang hebat ini adalah pengecut dan tidak
tahu malu?"
Kepada Notka yang menoleh ke arah sumber suara
dengan wajah tersenyum,
"Kalian bahkan tidak berani menyakiti satu
anak kecil jika bukan dari tempat yang aman. Orang-orang menyebut makhluk seperti itu
sebagai pengecut yang lemah!"
Putri Lula melontarkan penilaian yang sangat masuk
akal.
"Tuan Ein, apa aku boleh memulainya dari
wanita ini?"
Sembari memperlihatkan ekspresi penuh kebencian,
pembuluh darah tebal menonjol di dahi Notka saat ia meminta persetujuan Ein.
"Silakan. Lakukanlah sesuka hatimu."
Usulan Notka mungkin bukan hal yang mengejutkan.
Ein menyetujuinya dengan mudah sembari memamerkan seringaian yang memuakkan.
"Fakta bahwa separuh darahku sama dengan
wanita monster kotor ini adalah sesuatu yang tak bisa kutoleransi!"
Notka mengayunkan tangannya, lalu melemparkan batu
dengan sekuat tenaga ke arah Putri Lula.
Batu itu menghantam bahu kiri Putri Lula dan
menghasilkan suara berdebum. Setidaknya, tulang bahunya pasti patah. Rasa
sakitnya pasti luar biasa.
Meskipun begitu, Putri Lula tidak menggerakkan
alisnya sedikit pun, dia hanya memelototi Notka.
"A-ada apa dengan tatapanmu itu! Hei, kalian
juga! Lemparkan batu ke wanita monster ini!"
Notka memberikan instruksi dengan nada keras
kepada para bangsawan dan Ksatria Suci lainnya.
Mengikuti perintah majikannya, para Ksatria Suci
mengambil batu dan melemparnya ke arah Putri Lula.
Meski batu-batu itu mengenai wajahnya, membuatnya
bengkak, dan membuat gaun putih bersihnya ternoda merah darah karena rasa sakit
yang begitu menyiksa, Putri Lula tak menjerit sedikit pun dan terus menatap
Notka serta yang lainnya dengan tajam.
"Sudah kubilang, aku tidak suka tatapanmu
itu!"
Dengan bahu yang naik turun karena terengah-engah,
Notka kembali melemparkan batu yang membidik wajah Putri Lula.
Tepat sebelum mengenai wajah Putri Lula, batu itu
ditangkap oleh seorang pemuda berambut abu-abu.
Tentu saja, ia tak akan sanggup melihat majikannya
terluka lebih jauh lagi. Pandora sudah mengira Heine akan melakukan itu.
Sebaliknya, meski yang dilempari batu saat ini
bukanlah majikannya, sang Putri Lula, ia yakin Heine pasti akan melakukan
tindakan yang sama. Entah kenapa, Pandora sangat meyakini hal itu.
Namun, peningkatan Mana Heine masih belum
cukup. Kalau tidak, Heine pasti sudah menyerang Neptune dari awal untuk
mengakhiri lelucon ini.
Dengan kata lain, ini berarti rencana yang telah
dirancang dengan matang oleh Pandora dan yang lainnya telah gagal.
"Siapa kamu ...."
Tatapan Putri Lula yang diarahkan pada Heine
terlihat seolah mereka baru pertama kali bertemu. Kepada sang putri yang
bertanya dengan tatapan kosong pada punggung Heine itu,
"Namaku Heine, orang yang datang untuk
menyelamatkan Anda."
Pria itu membalas dari balik bahunya dan
menyatakan kalimat itu sembari menahan emosi.
Apa maksudnya ini. Dilihat dari isi sapaannya,
jelas-jelas ini adalah pertemuan pertama mereka berdua. Mungkinkah sang
majikan, Putri Lula, tidak mengenal Heine yang merupakan bawahannya?
Di tengah keraguan yang silih berganti di benak
Pandora,
"Kak Heine?"
Hana membuka kelopak matanya dan bertanya.
"Hana, tidak apa-apa, aku akan segera
menyelamatkanmu."
Heine berteriak dengan kuat sembari menurunkan
pusat gravitasinya.
"O-orang ini! Dialah yang kurang ajar padaku
dan membunuh Funf!"
Gorongo berteriak nyaring sambil menunjuk ke arah
Heine dengan jari telunjuknya.
"Kepung dia!"
Atas perintah dari Komandan Ksatria, para Ksatria
Suci pun mengelilingi Heine.
Saat kedua tangan Heine bergerak cepat,
"Gugih!"
Kedua tangan Ksatria Suci yang memegang senjata
pun terhempas. Pada saat yang sama, Heine menginjak bumi dengan kuat,
menghancurkan tanah berkeping-keping hingga debunya berterbangan dan
menyelimutinya.
"Bugah!"
"Gahah!"
Tak terhitung banyaknya peluru pasir yang menembus
para Ksatria Suci yang mengepung secara beruntun. Darah segar pun menyembur
layaknya hujan kelopak bunga.
Peluru pasir itu kemudian meluncur ke arah Ein dan
pria botak kurus yang memiliki angka empat terukir di dahinya, yang masih
merapatkan kedua tangannya di dekat pria itu.
"Licik sekali!"
Saat pria botak berukirkan angka empat itu membuka
matanya yang putih bersih dan membentak, peluru pasir itu menguap tepat di
depan matanya.
"Hei, Ein, biar aku yang
mengurus orang ini. Boleh, kan?"
"Tidak kurekomendasikan sih,
tapi toh meski dilarang kamu akan tetap melakukannya, ssho."
Ein bersiul sembari memutar
tongkatnya di tangan kanan, lalu bergumam dengan pasrah.
"Tuan Neptune, saya mohon
izinkan Viertel ini yang membereskannya."
Viertel berlutut dan meminta
persetujuan kepada pria tampan yang sedang bersandar angkuh di atas kursi mewah
di atas podium.
"Lakukan sesukamu. Namun, aku tak akan
membiarkanmu kalah, apalagi sampai kerepotan."
"Ini adalah sebuah kehormatan."
Tepat saat ia menundukkan kepalanya, sosok Heine
telah berada di belakang Viertel.
"Kamu bodoh, ya."
Kepalanya dicengkeram kuat dari belakang oleh
kedua tangan Heine.
"Hare?"
Viertel mengeluarkan suara konyol
bernada tinggi.
—Gokiri!
Bersamaan dengan suara patahan tulang, leher itu
pun terpelintir putus. Tubuh tanpa kepala itu memuncratkan darah merah menyala
ke tanah saat ambruk dengan bunyi gedebuk.
"Hoo ...."
Padahal sebelumnya dia bilang tak akan
mengampuninya meski hanya kerepotan. Neptune yang dikiranya akan murka besar,
hanya menopang dagu sambil memandangi Heine lekat-lekat seolah sedang menaksir
kemampuannya.
"Kan sudah kubilang. Makanya kukatakan aku
tak merekomendasikannya."
Ein mengarahkan ujung tongkatnya ke Heine. Kontras
dengan nada bicaranya yang menantang saat berhadapan dengan Heine, raut
wajahnya terlihat sangat serius.
"Ini memang melenceng dari rencana, tapi aku
akan memaksakannya!"
Begitu mencabut pisaunya dari
pinggang, sosok Heine langsung menghilang. Dalam sekejap, bilah pisau Heine terhenti sehelai
kulit dari dahi Ein.
"Seperti yang orang itu
bilang, gerakannya benar-benar berhenti, ssho!"
Kemudian, ujung tongkat Ein
menusuk dalam-dalam ke ulu hati Heine, dan detik berikutnya ia diselimuti oleh
cahaya biru terang. Sesaat setelahnya, ledakan yang memekakkan telinga dan
angin ribut pun berhembus kencang.
"Sialan ... aku ceroboh
...."
Saat Neptune menjentikkan jarinya,
kepulan debu menghilang dan sosok Heine yang berlutut dengan satu kaki sambil
mengalirkan darah dari mulutnya pun terlihat.
"Kak Heine!"
Di tengah suara Hana yang
menyerupai jeritan memilukan dan menggema ke seluruh alun-alun,
"Sudah kuduga, kau bergerak
berdasarkan perintah rahasia dari Ratu Iblis itu, kan!"
Setelah berseru dengan angkuh
seperti pemenang, Ein mengangkat boneka yang dililit kalung indah yang
digenggam di tangan kirinya.
"I-itu milik Ibu!"
Putri Lula berteriak penuh
keterkejutan.
Begitu rupanya. Karena Heine
selalu memuji Putri Lula, Pandora mengira dia adalah bawahannya, tetapi memang
benar Heine hanya menyebut dirinya sebagai ksatria dari sosok bangsawan tinggi.
Pandora berpikir, orang yang
dilayani oleh Heine bukanlah Putri Lula, melainkan sang Ratu.
"Dasar bodoh. Meski punya
kekuatan sehebat itu, kau malah terobsesi dengan monster rendahan. Kau bahkan
tidak bisa memperhitungkan untung rugi yang masuk akal, karena itulah aku benci
pada dewa tanah yang bodoh, ssho!"
Ein berseru seolah meludahi pria
itu. Kata-katanya, entah mengapa, menusuk relung hati Pandora dalam-dalam.
"Bagus! Bagus sekali! Kekuatan itu sangat
layak untuk kujadikan bidakku! Genggam jiwanya dan jadikan dia sebagai budak
tanpa memberinya kematian atau pun kehidupan!"
Berubah total dari sikap kesalnya sebelumnya,
Neptune memberikan perintah sembari melonjak kegirangan.
"Jika itu adalah kehendak Dewa kita."
Ein meletakkan tangan kanan di dadanya menghadap
Neptune, membungkuk anggun, lalu kembali menoleh ke arah Heine.
"Nah, Tuan dewa tanah yang bodoh! Kau
bukanlah rekanku, kau adalah budak! Aku akan mempekerjakanmu seperti kuda
penarik kereta, jadi bersiaplah, ssho!"
Ein melontarkan kata-kata itu pada Heine dengan
wajah yang berubah buruk rupa karena kenikmatan.
"...."
Heine berusaha mundur ke belakang untuk mengambil
jarak, tetapi tiba-tiba, tubuhnya ditekan ke tanah dengan tidak wajar. Di
tangan kiri Ein, tergenggam erat sebuah boneka jerami yang berlumuran darah
Heine.
"Jiwamu sekarang sudah ada di tanganku. Kamu
tak akan bisa lagi melukai atau melawan perintahku dan Tuan Neptune apa pun
yang terjadi. Dan ini adalah sentuhan akhirnya, ssho!"
Benda yang terwujud di tangan kanannya itu tak
lain adalah boneka yang dililit liontin kalung.
"Bajingan ...."
Mendengar erangan penuh kebencian
dari Heine,
"Bagus sekali! Ekspresi itulah yang ingin
kulihat, ssho! Pria tangguh yang jauh lebih kuat dariku, kini tak berdaya dan
tunduk menjadi budak yang patuh di hadapan kemampuanku!"
"Tuan Neptune, apa aku boleh melakukan apa
saja pada orang ini, ssho!?"
"Selama dia masih berguna sebagai aset
pertarungan, kau bebas melakukan apa pun padanya!"
Neptune mengangguk setuju dengan
suasana hati yang baik.
"Kira-kira mau kuapakan, ya. Ah, aku tahu!
Pertama, aku akan menyuruhnya membunuh monster 'Hutan Ratapan' yang kita
tangkap!"
"Kalau kau bawahan dari Ratu Monster itu,
berarti kau punya ikatan yang kuat dengan para monster di 'Hutan Ratapan',
kan?"
"Jangan-jangan kalian ...."
Menghadapi Heine yang memaksakan kata-katanya
dengan ekspresi sedih,
"Ya ya, bagus karena tebakanmu tepat. Persis
seperti itu, ssho! Sekarang, pasukan besar Bildarts pasti sedang menyerang
'Hutan Ratapan', ssho."
"Bahkan manusia yang tidak kompeten sekalipun
harusnya bisa sekadar membasmi dan menangkap monster, ssho!"
Ein membalasnya dengan riang dan
gembira.
"Sialan!"
"Jangan khawatir, aku juga
memikirkan hadiah untukmu, ssho! Kalau kamu berhasil membantai monster dengan
baik, aku akan mengizinkanmu memeluk Ratu pujaan hatimu itu, ssho!"
"Tentu saja, setelah para
prajurit puas bersenang-senang dengannya. Atau, daripada perempuan tua seperti dia, mungkin
kamu lebih suka gadis oni yang di sana itu?"
—Jangan bercanda! Aku tak akan pernah membiarkanmu
melakukannya!
Melihat Ein yang berbicara dengan angkuh sambil
mengangkat sudut bibirnya hingga ke telinga, ledakan emosi kuat meledak hingga
membuat pandangan Pandora memutih.
Pandora sendiri benar-benar terkejut menemukan
bahwa emosi seburuk dan sekuat itu terkubur dalam dirinya.
Ia menggertakkan gigi sampai gigi gerahamnya
hampir hancur, menatap nyalang pada Ein, lalu mengubah Mana miliknya
menjadi putih dan mulai merapal sihir panjang Holy Silence.
"...."
Di saat niat membunuh dan kemarahan yang kuat
mendidih di kedalaman mata Heine,
"Ein, permalukan dewa tanah itu sepuas
hatimu, dan perlihatkan dia yang menyerahkan jiwanya kepadaku!"
Neptune memberikan perintahnya pada Ein dengan
raut wajah puas.
"Dimengerti, ssho! Kalau begitu, pertama-tama
aku akan menyuruh mereka melempar batu ke anak anjing di sana itu yang berusaha
kau lindungi!"
Ketika Ein menjentikkan jarinya, para anggota
Alumni berjubah merah itu segera mengepung para warga sambil menodongkan
senjata mereka.
"Kamu yang di sana, lemparkan batu ke anak
anjing itu, ssho."
Ia mendekati pemuda berambut hitam yang berada di
barisan terdepan, memberikan batu padanya, merangkul bahunya, lalu memberikan
perintah tepat di telinganya.
"A-aku tidak bisa—"
Lehernya bengkok ke arah yang tak wajar, dan
pemuda berambut hitam itu ambruk terduduk. Setelah kesunyian singkat, jeritan
yang memekakkan telinga meletus.
"Berisik sekali."
Suara tanpa belas kasihan Neptune bergema. Tepat
setelahnya, warga ibu kota yang berteriak itu hancur berhamburan menjadi
potongan-potongan daging.
Sambil menampilkan senyum menjijikkan, Ein
membagikan batu kepada rakyat yang gemetar hebat.
"Ayo, ayo, lempar, ssho! Kebenaran kalian
akan terbukti dengan melempar batu ke monster."
"Hasilnya, keluarga kalian akan
terselamatkan, ssho!"
Sambil menangis, semua warga secara bersamaan
mengayunkan tangan, lalu melemparkan batu-batu itu ke arah Hana.
—Kumohon, bersiaplah!
Jeritan hati yang menyerupai permohonan Pandora
pun terkabul, dan lantunan sihir Holy Silence miliknya selesai
diucapkan.
"Holy Silence!"
Gadis itu melancarkan Holy Silence yang ditargetkan pada Heine, Hana, dan Putri Lula
.
Pada saat yang sama, tubuh Hana, Heine, dan Putri
Lula memancarkan cahaya menyilaukan, dan luka-luka mereka pun sembuh seketika.
Bagus! Holy Silence juga memiliki efek
meniadakan segala kondisi abnormal dari targetnya. Dengan ini, Heine bebas.
Sisanya, jika itu Heine, dia pasti bisa melakukan sesuatu.
"Sihir putih? Mana mungkin ...."
Neptune mengangkat jari telunjuk dan jari
tengahnya, lalu membuat gerakan membelah udara. Namun, serangannya buyar
seiring dengan suara sesuatu yang pecah.
"B-bohong ... serangan Tuan Neptune
digagalkan? S-siapa yang melakukan hal gila ini!?"
Melihat Ein yang panik untuk pertama kalinya,
Pandora memaki dalam hati, "Rasakan itu."
Apakah hanya sampai di sini ....
Ia tidak bisa bergerak selangkah
pun lagi. Jika ketahuan oleh mereka, Pandora yang telah dijatuhi perintah
pemusnahan akan langsung dieksekusi. Padahal seharusnya begitu, namun—
Syukurlah, aku merasa lega.
Ia berhasil membalas perbuatan
mereka dan menyelamatkan Putri Lula serta Hana. Lebih dari segalanya, ia bisa
menyelamatkan Heine. Itulah hal yang paling membuatnya bahagia.
Sudah waktunya untuk berhenti
membohongi diri sendiri. Pandora
sendiri sudah menemukan jawaban atas perasaannya. Pandora sangat menyukai
Heine. Ya, bahkan lebih dari dirinya sendiri. Pasti, inikah yang dinamakan
cinta pertama.
Di tengah kesadarannya yang mulai kabur, saat dia
tak lagi bisa berdiri dan jatuh terduduk di tanah,
"Di sana rupanya!"
Neptune mengaum dan membuat gerakan seolah
menangkap sesuatu di udara dengan tangan kanannya, dan tubuh Pandora pun
melayang ke udara.
Tatapan semua orang di alun-alun terpusat padanya.
"Pandora!? Jangan-jangan orang ini adalah Singularitas!"
Neptune memamerkan gigi taringnya seperti binatang
buas dan bersorak kegirangan.
Di tengah kesadarannya yang kian terdistorsi,
pandangannya bertemu dengan pandangan Heine.
"Heine, aku sangat mencintaimu."
Saat Pandora menyampaikan perasaan jujur dari
lubuk hatinya yang dipenuhi oleh kehangatan dan rasa puas,
"Neptune, kerja bagus sudah mengamankan Singularitas."
Diiringi oleh suara penuh wibawa itu, kesadaran
Pandora pun terputus sepenuhnya.
◇◆◇
(Sialan! Seperti biasa, kau mengambil semuanya
dengan seenaknya! Singularitas itu aku yang menemukannya!)
Di dalam hatinya, Neptune melontarkan umpatan
kepada dewa utamanya.
Sihir putih yang sempat terlihat saat pengaktifan
sihir tadi, tak salah lagi itu adalah sihir legendaris bahkan di kalangan para
dewa—'Taiji Putih'.
Sihir yang memanifestasikan kemampuan spesialis
dukungan seperti pemulihan yang bahkan bisa mendistorsi fenomena, peniadaan
kondisi abnormal, dan buff khusus. Saat Pandora bisa menggunakan sihir
itu, ia sudah menjadi Singularitas.
Jika Neptune menyerapnya, ia bisa menjadi
eksistensi yang selangkah lebih maju di antara para dewa. Bahkan mungkin saja
untuk melampaui Enam Dewa Langit. Namun, hal itu telah direbut oleh dewa
utamanya, Poseidon, yang memiliki kekuatan sangat tidak masuk akal.
(Tidak, toh aku memang tidak punya pilihan lain
....)
Kepindahan paksa Singularitas Pandora ke
Enblade di waktu yang sangat tepat. Bisa dibilang bahwa Neptune terus-menerus
diawasi. Jika ia mencoba menyerapnya saat itu, ia pasti sudah dieksekusi oleh
dewa utama.
Justru sebaliknya, mungkin ia harus menganggap
dirinya beruntung karena pengamanan Singularitas itu dianggap sebagai
pencapaian Neptune.
Lagipula, Poseidon memang luar biasa. Ia bahkan
mampu meniadakan penghalang pertahanan dari 'Taiji Putih' yang tak bergeming
sedikit pun dari serangan Neptune, langsung dari Enblade.
Mau tak mau, ia hanya bisa melampiaskan
kekesalannya pada makhluk-makhluk bodoh ini.
"Ein!"
"Y-ya!"
Tersentak oleh panggilan Neptune, Ein yang sedari
tadi menatap kosong ke tempat Pandora berada, mengarahkan bonekanya kepada sang
dewa tanah bernama Heine, dan merapal mantra dengan cepat. Tubuh Heine pun
bercahaya,
"Perbudakan ulang selesai!"
Ein melapor dengan nada suara yang riang gembira.
"Untuk memperbaiki mood-ku! Cepat
lanjutkan eksekusinya!"
Tanpa repot-repot menyembunyikan mood-nya
yang buruk, Neptune memberikan instruksi kepada Ein.
"Ya ya ya, kalau begitu, semuanya, lemparkan
batu lagi ke anak anjing itu, ssho!"
Ein memprovokasi kerumunan manusia makhluk
rendahan yang bodoh itu.
"Kalau begitu, biar aku yang
mulai duluan! Aku akan membunuh monster dan menyucikan kotoran!"
"Setelah Yang Mulia,
giliranku! Kalau soal memburu monster, aku jagonya."
Tuan Muda Notka dan Gorongo dengan
bangga berjalan ke altar tumpukan batu, lalu mengambil sebongkah batu dengan
tangan kanannya.
Mengikuti jejak mereka, para Uskup
juga tersenyum menyeringai, lalu berjalan ke altar dan mengambil batu.
Di tengah jeritan memilukan dan
isak tangis manusia yang terdengar dari mana-mana, pria ramping dan tinggi
berambut belah pinggir yang terlihat lembut, Reito, melangkah maju lalu
berlutut dengan satu kaki sambil menempelkan tangan kanan di dadanya. Kemudian—
"Wahai Junjungan kami yang
tertinggi dan absolut, sampai kapan Anda berniat melanjutkan lelucon ini?"
Ia bertanya kepada dewa tanah
berambut abu-abu yang dipanggil Heine itu.
"Reito, apa maksud tindakanmu ini,
ssho!?"
Ein mengerutkan dahi, mempertanyakan maksud dari
tindakan aneh itu.
"Diam kau, bajingan rendah! Kau sedang berada
di hadapan Raja kita yang agung!"
Reito berdiri dengan kasar, ekspresinya yang
tenang berubah seratus delapan puluh derajat saat ia meluapkan amarahnya pada
Ein. Tatapan Reito yang ditujukan pada Neptune dan Ein tak sedikit pun
menunjukkan rasa hormat, bahkan ia menganggap mereka tak lebih dari serangga
yang merayap di jalan.
"Kau ini—"
Marah besar karena dihina oleh manusia rendahan,
ia berniat untuk membunuh Reito dan sang dewa tanah itu. Namun, tepat ketika ia
menggenggam trisula dan hendak berteriak,
"Lelucon ya ... kau benar."
Seakan mematikan teriakan itu, sang dewa tanah
berambut abu-abu itu menggumamkan kata-kata itu dengan senyum mencela diri.
Kemudian, ia mengangkat wajahnya yang tertunduk.
"―!?"
Itu hanyalah ekspresi marah dari seorang dewa
tanah yang tampak kekanak-kanakan. Namun, hanya dengan melihat ekspresi itu
saja, Neptune merasakan hawa dingin luar biasa yang terasa seolah jiwanya yang
mungil tengah dicengkeram langsung oleh raksasa sebesar gunung, dan ia menelan
jeritannya sambil mencondongkan tubuhnya ke belakang.
"...."
Pria itu membunyikan jari-jari kedua tangannya,
lalu mengarahkan tatapan tajam seolah menembus tubuh Neptune. Tiba-tiba,
Neptune menyadari ada monster besar berwarna merah kehitaman yang berayun-ayun
di belakang pria itu.
"M-monster!"
Ia berteriak nyaring dan melompat sejauh mungkin
darinya dengan sekuat tenaga, seraya mengarahkan ujung trisulanya pada sang
dewa tanah berambut abu-abu itu.
Neptune tahu! Tekanan hebat ini sudah sangat ia
kenali! Ini adalah tekanan keputusasaan yang tak terhindarkan dan ia rasakan
saat menyentuh amarah dari dewa utama, Poseidon, yang baru saja ikut campur!
Dewa kakak kandung dari dewa terkuat Enam Dewa
Langit, Deus. Dewa Laut yang memiliki kekuatan absolut di antara Pasukan
Surgawi. Eksistensi yang sejak awal dianggap sebagai bencana karena hanya ada
beberapa dewa saja yang bisa melawannya, termasuk sang Dewa Lalat dari zaman
kuno, Beelzebub.
Neptune merasakan teror yang sama dengan saat
membuat marah eksistensi mutlak tersebut, dan ia merasakannya dari dewa tanah
berambut abu-abu di hadapannya.
"Tuan Neptune?"
Kepada Ein yang bertanya dengan ragu-ragu,
"Orang itu bahaya! Terlalu bahaya! Kalian
semua, jadikan Lula dan anak anjing itu perisai dan kabur dari sini!"
Dengan suara keras, Neptune memberikan perintah
penyelamatan di saat-saat kritis.
"Eh? A-apa maksudnya ini, ssho?"
Melihat Ein yang kebingungan melihat perubahan
drastis Neptune,
"Sudah cepat lakukan! Nanti terlambat!"
Neptune balas membentaknya dengan
penuh amarah.
"B-baik, ssho!"
Bagaikan peluru yang ditembakkan,
Ein berlari ke arah Lula yang terikat di tiang besi.
"Terlambat? Kuha! Ini sudah
terlambat dari dulu!"
Seiring dengan kalimat deklarasi
tanpa ampun dari pria berambut abu-abu itu, dunia pun berubah.
"Kukekekekekekekeke—!"
Tiba-tiba, Lula menengadah menatap
langit mendung, lalu mulai tertawa dengan suara melengking menyeramkan yang
sama sekali tak pantas diucapkan seorang putri. Lalu, tawa itu perlahan berubah
menjadi suara aneh 'kishya-kishya'.
Hampir bersamaan dengan itu, anak
anjing monster itu juga menengadah ke langit, tertawa terbahak-bahak dengan
suara tajam.
"Hah!?"
Mungkin karena insting bertahannya
terpicu oleh situasi aneh tersebut, Ein pun mengambil jarak dari keduanya.
"Hei wanita monster, apanya
yang lucu?"
Notka bertanya keheranan pada Lula.
"Tuan Notka, dia pasti menjadi gila karena
ketakutan."
Gorongo memberikan balasan yang sama sekali tak
menunjukkan rasa krisis.
"Oh, begitu ya! Dunia ini memang tidak
semudah itu! Sekalipun ketakutan, bukan berarti kalian akan dimaa—hihe?"
Notka tak sempat menyelesaikan kalimat penuh
kepuasan miliknya, dan berganti menjadi jeritan bodoh tanda terkejut.
Hal itu mungkin wajar. Pasalnya, mulut Lula yang
ada di depan mata Notka robek hingga mencapai telinganya dan berubah menjadi
katup bibir. Matanya pun berubah menjadi mata majemuk, dan wujudnya telah
bermutasi menjadi makhluk yang mirip dengan lalat.
"Hiiiii!"
Gorongo yang tadinya berniat melemparkan batu pada
anak monster anjing itu juga jatuh terduduk dan berteriak memekakkan telinga. Anak monster anjing itu juga telah
berubah menjadi monster berhidung panjang.
Lalu, Neptune pun menyadarinya,
atau lebih tepatnya terpaksa menyadarinya. Sekali melihatnya, tak akan mungkin
bisa melupakannya. Sosok yang menatap tajam Neptune dengan mata majemuknya itu
adalah—
"B-B-Beelzebuub!!"
Dewa tertinggi dan paling
menakutkan yang membuat gemetar para dewa generasi lama sama seperti dewa
utama—Beelzebub! Bencana besar ciptaan dunia, yang bahkan membuat dewa monster
Poseidon berkata agar jangan pernah melawannya meski secara tak sengaja berpapasan
dengannya.
Namun, dengan begini identitas
pria berambut abu-abu ini pun masuk akal. Dia adalah pelayan Beelzebub tingkat
tertinggi.
"Hihe? B-Beelze ... bub
...?"
Mendengar nama itu, wajah Ein
seketika menjadi sepucat mayat. Begitu juga dengan bawahan Neptune yang
lainnya. Seluruh tubuh mereka bergetar hebat.
(Masa bodoh dengan semua ini!)
Menjadikan Beelzebub sebagai musuh
bukan lagi sekadar nekat, melainkan sebuah kebodohan. Bagaimanapun juga, dunia ini akan perlahan-lahan
dimakan hidup-hidup oleh monster itu.
Jika bertarung dengan monster ini, bahkan Tuan
Poseidon sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya. Lain cerita jika dia berhasil
menyerap Singularitas, tapi tetap saja dia tidak bisa sepenuhnya yakin
akan meraih kemenangan. Dialah sosok semacam itu.
"Semuanya, serang Beelzebub secara bersamaan!
Ini adalah perintah ilahi dariku!"
Setelah memberikan perintah
serangan bunuh diri, Neptune melompat ke udara. Namun,
"Mana mungkin aku membiarkan
orang sepertimu kabur begitu saja."
Ia ditendang oleh pemuda bermata
satu berpakaian putih yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Pandangannya berputar dengan
cepat, ia terlempar dan membentur kursi di atas podium dengan keras.
"S-satu serangan ...
mengalahkanku?"
Neptune menggertakkan giginya
menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang seolah-olah hendak hancur
berantakan—sesuatu yang baru ia rasakan lagi setelah sekian lama. Saat ia
bangkit berdiri, ia menyadari bahwa dirinya telah dikepung dari segala arah:
dari udara, darat, dan atap-atap gedung, oleh sesuatu.
Terlebih lagi, dari keberadaan tak
terhitung banyaknya entitas itu, memancar energi magis berbahaya yang sarat
dengan aroma kematian pekat, seolah menguar seperti fatamorgana.
"I-itu ... tak mungkin!"
Jangan bercanda! Hawa energi magis
dan eksistensi yang tidak normal ini hampir setara dengan Neptune sendiri. Sebagian dari mereka bahkan memancarkan
tekanan sekelas Machia, petarung terkuat faksi Poseidon.
Apalagi, apakah monster berhidung panjang itu
adalah mantan jenderal pasukan iblis, Girimehkala? Ada beberapa wajah lain yang
juga ia kenal. Jangan-jangan, Beelzebub bahkan telah menaklukkan kekuatan
pasukan iblis?
"Inikah pasukan Beelzebub! Terlalu tak masuk
akal!"
Machia, yang ahli dalam pertempuran, memiliki
tingkat kekuatan selevel enam jenderal besar saat ini. Dan ada banyak entitas
sekuat itu di sini.
Bagi Neptune, tak peduli apa yang dia lakukan,
pertempuran ini mustahil dimenangkan. Jangankan bertarung, melarikan diri pun
sepertinya mustahil.
"Kalian sedang berada di
hadapan Junjungan Agung kami! Tundukkan kepala kalian!"
Seakan-akan menganggap Neptune dan
anak buahnya tidak ada, monster gajah yang tampaknya adalah Girimehkala itu
meraung dengan suara berat.
Lalu, Beelzebub si dewa monster
lalat yang berjalan dengan dua kaki dan memakai mahkota, beserta para dewa yang
mengepung Neptune serempak berlutut dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
"Hah?"
Beelzebub, yang diyakini sebagai
pemimpin pasukan terburuk ini, berlutut di hadapan pria berambut abu-abu itu. Di saat Neptune masih belum bisa mencerna
situasi yang sama sekali tak masuk akal ini,
"Nah, mari kita perkenalan. Namaku Kai
Heineman. Aku adalah manusia, pendekar pedang yang selalu kalian hina sebagai
makhluk rendahan."
Pria berambut abu-abu yang menyebut dirinya Kai
Heineman menjatuhkan bom yang semakin membuat Neptune kebingungan.
"Kau ... manusia? Jangan bercanda! Mana ada
manusia yang wujudnya monster sepertimu!?"
Ia benar-benar tak mengerti lagi.
Teror tak dikenal dari pria berambut abu-abu ini, kenyataan bahwa ia memimpin
bencana besar Beelzebub, serta fakta bahwa biang keladinya mengaku sebagai
manusia makhluk rendahan, semuanya terlalu membingungkan dan tak bisa dipahami
akal sehat.
"Hanya soal yang satu itu aku
setuju denganmu. Tidak mungkin monster seburuk ini dari segi mental maupun
fisik, adalah kera manusia yang tak berdaya."
Satu-satunya yang tak berlutut dan
berdiri melipat tangan di samping pria berambut abu-abu itu adalah seorang
wanita berpakaian ungu yang dengan sinis menyetujui ucapan Neptune.
Di saat sebagian besar monster
yang berlutut mengangguk tanda setuju, Kai Heineman menghunus pedang panjang
dari ruang hampa.
"Tahu tidak, aku sudah tak
bisa bersabar lagi. Aku hanya diam dan memperhatikan kalian bajingan berbuat
semena-mena, dan Pandora diculik tepat di depan mataku. Dan apa akibatnya? Hati
Faf terluka melihat penderitaan sahabatnya hingga ia menangis, dan hal itu
sangat melukai hati Pandora."
"Aku tahu. Ini pasti cuma pelampiasan emosiku
yang egois. Tapi, kalau aku tidak melakukan ini, aku tidak akan pernah bisa
memaafkan diriku sendiri."
Ia memelototi Neptune dan mengarahkan ujung
pedangnya pada mereka.
Hanya dengan sekali menatap mata sedingin elang
itu, lutut Neptune gemetar hebat dan giginya bergemeletuk.
"Tuan?"
Menanggapi wanita berbaju ungu yang bertanya
dengan nada sedikit cemas akan maksudnya,
"Asta, semuanya, kali ini biarkan aku berbuat
sesukaku."
Ia memberitahunya dengan tenang.
"Dimengerti."
Dengan anggukan yang tampak
sedikit kesepian, wanita berpakaian ungu bernama Asta itu membungkuk sekilas
dan menghilang bagai asap.
"Sesuai kehendak Anda!"
"Sesuai perintahmu."
Para dewa seperti Beelzebub dan Girimehkala pun
ikut membungkuk dan menghilang dari tempat itu satu per satu. Di saat yang
sama, manusia-manusia di sekitar mereka juga raib tak berbekas.
"Nah ...."
Kai Heineman mengarahkan ujung pedang panjangnya
pada Neptune.
"Ini salah paham! Ya, ini murni salah paham!
Kalau aku tahu ini adalah wilayahmu, aku tak akan pernah berbuat—Hiiie!?"
Terdorong oleh insting bertahan hidup, ia
mati-matian mencoba menghindari pertempuran yang kelewat sembrono ini. Namun,
saat melihat apa yang tiba-tiba muncul di tangan kanan pria itu, ia menjerit
pelan. Wajar saja. Itu adalah—
"Z-Zwei!"
Ein berteriak nyaring dengan suara yang dipenuhi
ketakutan. Benda yang ada di genggaman tangan kanan Kai Heineman adalah kepala
Zwei. Namun, tak terhitung banyaknya belatung dan kelabang yang menggeliat
keluar dari kedua mata, hidung, dan mulut Zwei.
"To... long ampu... ni sa... ya ...."
Zwei memaksakan suaranya yang terdengar
seakan-akan nyaris menghilang itu, tetapi,
"Tentu saja tidak boleh. Kau telah melukai
hati Faf. Sebagai seorang ayah yang memiliki anak perempuan, aku tak akan
pernah memaafkanmu. Aku akan membuatmu merasakan penderitaan dan mimpi buruk
berulang kali sampai jiwamu yang kecil itu lenyap."
Kai Heineman berbisik di telinga Zwei, lalu
melempar kepalanya ke udara. Zwei yang jatuh dari atas kepalanya sambil
berteriak histeris, meledak hancur berantakan ke segala arah. Daging dan
darahnya berubah menjadi cairan merah menyala, sebelum akhirnya berkumpul dan
menghilang.
"Makhluk bodoh tadi adalah masa depan kalian.
Memohon belas kasihan tak akan berguna. Ini bukan lagi tahap untuk itu."
Kai Heineman melontarkan kalimat yang sama saja
dengan hukuman mati bagi Neptune.
"...."
Rasa ngeri yang luar biasa, seolah-olah darah di
seluruh tubuhnya mengalir terbalik, membuat giginya bergemeletuk.
Ia terlalu naif! Terlalu ceroboh! Dia setara
dengan Tuan Poseidon!? Tidak!
Ini benar-benar berbeda! Orang ini bukan lawan yang bisa dianggap enteng
seperti itu.
Kekuatannya sudah tak usah diragukan lagi,
pemikirannya pun sangat kejam. Terlebih lagi, eksistensinya sebagai dewa benar-benar tak masuk akal.
Orang ini pastilah jenis makhluk yang sama dengan jenderal pasukan iblis,
seburuk-buruknya kejahatan!
(Sialnya, kenapa aku harus
berurusan dengan monster seperti ini!)
Satu hal yang bisa ia pastikan. Jika Neptune
kalah, ia bahkan tak akan diizinkan untuk lenyap dengan tenang. Ia akan
merasakan neraka dunia seperti yang dialami Zwei.
(Jangan bercanda denganku!)
"Ein, gunakan Ratu Monster itu!"
Kepada Ein yang gemetar ketakutan layaknya anak
kelinci, Neptune memberikan perintah yang merupakan satu-satunya jalan keluar
untuk selamat dari krisis ini.
Kai Heineman tampaknya memiliki obsesi yang kuat
pada Lula dan Ratu Oni, Sena. Buktinya, dia hanya menunjukkan reaksi yang jelas
saat Ein menggunakan boneka kutukan pada sang Ratu. Kabur dari tempat ini
dengan menjadikan Ratu sebagai tameng, itulah satu-satunya pilihan terbaik.
"B-baik! Hei kau, kalau kau berani melawan
walau hanya sedikit, Ratu Oni ini akan kubunuh, ssho!"
Ein mengeluarkan boneka Ratu dari
saku dalam jaketnya, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan berteriak.
"Tak kusangka, di situasi seperti ini kau
malah mau menjadikan Bibi Sena sandera ... tapi, itu pilihan terburuk,
lho."
"B-banyak omong, heh?"
Melihat boneka tak asing yang digenggam di tangan
kiri Kai Heineman, Ein lalu menatap ke arah tangan kanannya sendiri dan
menjerit ngeri.
Pergelangan tangan Ein telah terpotong, dan dari
luka potongannya menyembur deras darah segar.
"Hiiieee!"
Tepat ketika Ein menjerit histeris, Neptune
berkedip sekali. Detik berikutnya, alun-alun itu telah berubah menjadi neraka.
Notka, Gorongo, dan semua bawahan Neptune yang
berjubah merah telah terpotong-potong badannya, kaki dan tangannya, serta
kepalanya, lalu dilemparkan ke tanah.
Kai Heineman kemudian menjambak rambut kepala Ein
yang telah terputus dan memandangi wajahnya lekat-lekat.
"Kau bingung ya, kenapa kau masih bisa hidup
meski hanya tinggal kepala?"
Kai Heineman bertanya dengan suara datar kepada
Ein yang terus gemetar menahan tangis, air mata dan ingus bercampur di
wajahnya.
Benar. Tidak ada setetes darah pun yang mengalir
dari bawahan-bawahannya yang seharusnya terpotong-potong. Atau lebih tepatnya,
apa mereka benar-benar dipotong?
Ia tak bisa mengingat bagaimana wujud mereka
sebelum dipotong. Seolah-olah mereka memang berwujud seperti itu dari awal—
"Am... puni saya."
"Kalian dipotong dengan efek dari teknik
pedangku yang bersifat mutlak. Berarti, kalian sejak awal adalah makhluk yang
berwujud seperti ini."
Apa yang diucapkan orang ini?
Neptune benar-benar tidak bisa mengikuti pemikiran Kai Heineman.
"Makhluk-makhluk bodoh. Kalau
saja kalian menyerangku sebelum aku menjadi tenang, kalian bisa mati dengan
lebih tenang. Tapi, sekarang keberuntungan itu pun sudah lenyap."
"Mulai sekarang, aku akan
mengubah kalian menjadi makhluk lemah yang tak bisa melakukan apa-apa. Dimakan
oleh hewan buas yang tak berakal, jadi tempat sarang belatung, dipatuk burung,
atau dicerna ikan, seiring berjalannya waktu kalian akan kembali ke wujud
semula."
"Kalian akan terus menderita tanpa akhir
dengan wujud itu tanpa pernah bisa mati."
Ucapan Kai Heineman benar-benar tak masuk akal.
Namun, entah kenapa, Neptune sangat yakin bahwa orang itu tidak sedang
berbohong maupun melebih-lebihkan.
"Tidak mau ...."
Begitu Neptune bergumam, ia melemparkan kepala Ein
ke udara.
Saat ia melihat senyuman Kai Heineman yang
mengangkat sudut bibirnya dengan tak wajar, serta tatapannya yang hampa bagai
hewan arthropoda, Neptune mengerti dengan jelas akan takdir kejam yang
menunggunya.
"Tidaaak!"
Ia melompat tinggi ke udara, berusaha menjauh
sejauh mungkin dari monster itu—tetapi sesaat kemudian—
"Teknik Pedang Aliran Shinkai Satu
Pedang—Bentuk Kesembilan—Kilatan Penebas—Revisi."
Kata-kata sedingin es dari Kai Heineman pun
menggema. Detik
berikutnya, pandangan Neptune retak berantakan.
"Hentikaaan—"
Bersamaan dengan jeritan terakhir
Neptune, tubuhnya pun hancur berkeping-keping.
◇◆◇
Sebuah ruangan yang terletak di
balik pintu rahasia di dalam gudang makanan istana ibu kota Kadipaten Dux
merupakan penjara yang dibuat secara khusus untuk menahan para penjahat yang
keberadaannya tidak bisa diungkapkan ke publik oleh Kadipaten.
Di salah satu sel penjara ini,
terdapat seorang wanita cantik berambut merah bertanduk yang dirantai dan
ditawan.
Pintu rahasia itu terbuka, dan
seorang pria bertubuh besar dengan wajah mirip kera yang sekujur tubuhnya
dipenuhi bekas luka masuk ke penjara bersama beberapa prajurit. Tak lama
setelah masuk, ia langsung berkata,
"Tuan Ein sudah memberikan
izin! Ratu Oni itu, kita
boleh melakukan apa saja padanya!"
Ia menyatakan hal itu pada para prajurit yang
berjaga.
"Serius, nih!?"
"Kapten Simpanse, apa kami juga boleh!?"
"Tentu saja, permalukan dia sepuas
kalian."
Simpanse, sang pria bertubuh besar itu, menjawab
sambil memandangi Ratu Oni Sena dengan tatapan penuh nafsu. Ratu Oni Sena
seketika memasang wajah kaku karena jijik dan ketakutan.
"Wahah! Kita bisa berbuat seenaknya pada
Sena, wanita tercantik di Kadipaten! Ini benar-benar hadiah terbaik!"
"Kapten, apa aku boleh duluan!?"
Di tengah sorak-sorai itu,
"Bodoh! Tentu saja aku yang pertama!"
Ia membentak prajurit lainnya, lalu membuka kunci
jeruji besi dan masuk ke dalam sel perlahan mendekati Ratu Oni Sena.
"T-tidak ...."
Melihat Sena yang menggelengkan kepalanya dengan
wajah seperti mau menangis,
"Bagus! Silakan memberontak sepuasmu! Itu
malah akan membuatku semakin bergairah!"
Dengan napas terengah-engah, Simpanse yang tak
hentinya menggerak-gerakkan tangannya itu terus mendekat.
"Tidak tidak tidak tidak ...."
Menanggapi nafsu kotor Simpanse, Sena semakin kuat
menggelengkan kepalanya menolak pria itu.
"Kuhi, ini yang terbaik! Ratu
Oni Sena yang legendaris ini, aku—"
Tepat di saat Simpanse berteriak
kegirangan, kepala Sena tiba-tiba membesar dengan sangat cepat.
"Eh?"
Simpanse mengeluarkan suara bodoh
saat melihat Sena yang kepalanya telah membesar beberapa kali lipat dan terus
menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan kuat.
"Hiiii!"
Diiringi jeritan para prajurit
yang bergema di seluruh penjara,
"M-m-m-m-monster!!"
Ketika Simpanse dengan wajah pucat
pasi mencoba melarikan diri, kedua bahunya dicengkeram kuat oleh makhluk yang
dulunya adalah Sena itu.
"L-lepaskan—Hiiiii!?"
Terdengar jeritan melengking dari
mulut Simpanse. Mulut makhluk yang dulunya adalah Sena itu membelah membentuk
lingkaran seperti cacing, menampakkan deretan taring tajam yang saling
bergemeletuk.
"TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK,
SERIUS, KELIHATAN ENAK BANGET!"
Makhluk yang dulunya adalah Sena
itu melontarkan sorakan gembira, lalu menggigit kepala Simpanse dan mulai
mengunyahnya dengan rakus.
Di tengah rintik darah yang
beterbangan, para prajurit menjerit, berlari tunggang langgang menuju pintu
rahasia untuk melarikan diri dari neraka ini.
Tepat di depan mata mereka, pintu itu terbuka.
Namun, masuklah seorang pria bertubuh mungil dan agak gemuk yang mengenakan
setelan jas hitam beserta topi, membawa serta sekumpulan pria berbadan besar
yang tubuhnya dililit perban.
"Aduh aduh aduuuuh, tidak boleh begitu, ya. Sungguh tak tertolong lagi, kalian
ini terlalu tidak berguna, ya. Terutama bagian di mana kalian berpikir bisa
selamat setelah mencoba menyentuh orang berharga milik Junjungan Tertinggi
kami."
Pria agak gemuk itu berbicara
sembari memutar-mutarkan tongkatnya.
Kontras dengan nada dan sikapnya
yang santai, sekujur tubuhnya berwarna merah padam, dan banyak pembuluh darah
besar menonjol di kepalanya yang botak bagaikan bilur-bilur merah.
"T-Toloong—buhee!?"
Kepala prajurit yang meminta
tolong dengan raut wajah putus asa itu membengkak lalu meledak
berkeping-keping.
"Dengar, kalian hanyalah
serangga, tapi berani-beraninya mencoba menyerang orang berharga milik Dewa
kami! Apa kalian pikir
serangga pemberontak seperti kalian akan diizinkan memohon ampun!?"
Seakan merespons monster berkepala botak yang
mengaum sembari menyemburkan api dari mulutnya itu, tubuh para pria berbalut
perban di sekelilingnya juga ikut membengkak dan berubah wujud menjadi serangga
raksasa.
"...."
Kepada para prajurit yang saling berpelukan dan
gemetar hebat sembari mengalirkan air mata serta ingus karena ketakutan yang
luar biasa,
"Habisi."
Pria berkepala botak itu mengayunkan tongkatnya
yang terangkat, lalu serangga-serangga raksasa itu menerkam para prajurit.
Ketika serangga-serangga raksasa itu selesai
melahap habis para prajurit,
"Laporkan perkembangannya!"
Tiba-tiba, terdengar suara berat dari atas kepala
pria botak dan kelompoknya.
"Siap! Kami memprioritaskan perlindungan
Nyonya Sena dan telah selesai membasmi serangga pencuri!"
Ketika pria botak itu—Sang Iblis Penyakit—berlutut
dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, serangga-serangga raksasa di dalam
ruangan itu pun kembali ke wujud manusia dan meniru gerakannya.
"Kerja bagus. Ayah kita pasti akan sangat
senang dengan hasil kerja kalian!"
Mendengar suara berat yang memuji
itu,
"Siap! Siap laksanakan! Kami sangat berterima
kasih!"
Sang Iblis Penyakit yang menyatukan kedua
tangannya dan menangis tersedu-sedu sambil menggigil itu,
"Kami yang akan menjelaskan situasinya kepada
Nyonya Sena. Iblis Penyakit, antar Nyonya Sena ke kastil kita!"
Suara berat itu memberikan perintah.
"Sesuai perintah! Segera laksanakan!"
Sang Iblis Penyakit berbalik menghadap serangga
berwujud manusia yang masih berlutut itu.
"Aku akan mengantar Nyonya
Sena ke Kastil Kegelapan. Kalian
lanjutkan membasmi serangga sampah faksi Poseidon di dalam istana ini! Dengar,
harga diri Dewa kita ada di pundak kalian. Lahap habis semuanya tanpa
kompromi!"
Ia memberikan instruksi dengan
nada tegas.
"Gigigii!"
Setelah memberi hormat kepada Sang
Iblis Penyakit sambil mengeluarkan suara aneh, serangga-serangga berwujud
manusia itu berhamburan keluar dari pintu rahasia.
"Nah, saatnya aku mengantar
Nyonya Sena."
Bersamaan dengan kata-kata itu,
sosok Sang Iblis Penyakit menghilang bagaikan asap.
Sena, Ratu Kadipaten Dux yang
berasal dari suku High Ogre, terbangun di atas tempat tidur di sebuah ruangan
mewah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Di mana ini ...?"
Ia bangkit dan memeriksa sekelilingnya, tapi ia
sama sekali tidak mengenali tempat ini.
"Aku ... ditangkap dan
dirantai di penjara ...."
Saat kepalanya yang masih pusing
mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, ia menyadari kehadiran beberapa
sosok.
Ketika ia mengarahkan
pandangannya, tampak beberapa makhluk aneh tengah berlutut di hadapan Sena.
"Siapa, ya?"
Semua yang berlutut itu memiliki
penampilan mengerikan yang tidak terlihat seperti manusia, tetapi entah mengapa
ia sama sekali tidak merasa takut.
"Kami adalah pelayan setia Tuan Kai. Saat ini
situasinya sedang sangat rumit, jadi kami akan menjelaskan situasinya secara
singkat, lalu kami akan mengantar Anda ke tempat Yang Mulia Duke."
Nama yang sangat tidak terduga keluar dari mulut
monster berhidung panjang yang berada di tengah—.
"Kai!? Apa yang terjadi pada Kai!? Situasi
yang sangat rumit itu maksudnya apa!?"
Itu adalah nama anak yang pernah ia asuh untuk
sementara waktu atas permintaan sahabatnya, Maria, di masa lalu.
Saat ini negara ini sangat berbahaya. Tempat ini
sama sekali bukan tempat yang baik bagi anak baik hati yang bahkan tak mampu
membunuh serangga itu.
Monster-monster yang berlutut itu tersenyum lembut
pada Sena,
"Kami akan menjelaskan situasinya
sekarang."
Mereka pun mulai membuka suara.
◇◆◇
—Semua monster di 'Desa Angin Iblis', atau lebih
tepatnya 'Hutan Ratapan', saat ini tengah berada dalam krisis kepunahan.
Diserang oleh pasukan besar Kadipaten Dux secara
tiba-tiba, para monster ditumpas dalam sekejap, dan para wanita muda serta
anak-anak ditangkap.
Saat ini, para monster berakal
tengah berkumpul dan melakukan perlawanan sengit dengan menjadikan
'Desa Angin Iblis' yang terletak
di dekat tebing paling dalam di 'Hutan Ratapan' sebagai garis pertahanan
terakhir.
Di salah satu pondok besar yang
dibangun terburu-buru di 'Desa Angin Iblis', para monster 'Hutan Ratapan'
tengah berkumpul.
"Manusia sialan! Berani-beraninya mereka
mengabaikan perjanjian! Makanya sudah kubilang hidup berdampingan dengan
manusia itu mustahil!"
Cell, sang oni berkulit merah, memukul meja kayu
dengan tangan kanannya dengan diliputi amarah yang bergejolak di dalam hatinya.
"Berisik sekali. Itu kan masalah kalian suku
High Ogre. Jangan
teriak-teriak heboh tentang masalah yang tidak kami ketahui."
Tetua dari suku High Ape, monster
berwajah kera, mengibas-ngibaskan tangan kanannya karena merasa terganggu dan
menegur tindakan Cell.
"Kakek tua kera, kau ini—"
Jelas-jelas diremehkan seperti
itu, Cell hendak berteriak marah, tetapi,
"Hentikan, Cell."
Ayah, yang juga merupakan kepala
suku High Ogre, menutup matanya dan melipat lengannya sembari berpikir, lalu
menegur Cell.
"Tapi, Ayah, bahkan Setsuna
diculik oleh mereka!? Dan yang sedang menyerang hutan ini sekarang juga
manusia! Minta bantuan ke
organisasi yang dipimpin manusia itu benar-benar tidak waras!"
Cell tidak mau mengalah dan
meninggikan suaranya.
Adiknya, Setsuna, menghilang saat
pergi berburu. Hampir bisa
dipastikan ia diculik oleh manusia.
"Omongan Cell ada benarnya
juga. Aku tetap tidak setuju bekerja sama dengan manusia."
Seorang pria High Orc dengan wajah
babi mengerutkan dahi karena rasa jijik yang kuat, dan sangat setuju dengan
Cell.
"Festa, negara monster, ras
iblis, dan manusia, ya ... itu memang sangat mencurigakan."
Pria paruh baya High Kobold berwajah
anjing melontarkannya dengan ekspresi marah. Seluruh desa dari bos High Kobold
ini diserang oleh manusia, dan di tengah kekacauan itu putri serta putranya
yang masih kecil diculik. Kemungkinan
besar karena itulah ia sangat marah.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apa kau
mau menghabiskan sisa hidupmu sebagai budak manusia-manusia itu? Setidaknya
utusan Festa sudah menjamin bahwa kita bisa tetap menjalani kehidupan seperti
biasanya, lho."
Mink, seorang wanita cantik dari suku Tengu
bersayap hitam, menatap mereka semua dengan jengkel dan melontarkan pertanyaan
yang sangat masuk akal.
"Makanya—aku bilang pemimpin Festa itu
manusia jadi tidak bisa dipercaya!"
"Benar! Pasti itu cuma organisasi boneka
manusia!"
Menanggapi kata-kata penolakan yang bermunculan
satu per satu,
"Dengar ya, Festa yang sekarang adalah negara
militer terkemuka di dunia yang telah menyerap dua negara iblis, Kegelapan dan
Kabut, serta menaungi Raja Iblis Ashmedia. Untuk apa mereka perlu menipu
organisasi kecil dan lemah seperti kita sekarang! Kalian cuma kehilangan
ketenangan gara-gara kebencian pada manusia!"
Mendengar kata-kata Mink, beberapa di antara
mereka memalingkan wajah karena canggung.
"Memangnya kenapa kalau benci manusia! Gara-gara mereka, teman-teman kita
diculik dan dijadikan budak!"
Cell berteriak terbawa emosi.
"Aku bukan sedang berdebat
soal baik dan buruk! Yang ingin kubilang adalah—"
Tepat ketika Mink berdiri dan
hendak meninggikan suaranya, pintu terbuka lebar dan Happy, monster berkepala
burung, berguling masuk.
"Tempat ini sudah ketahuan! Kita sudah
dikepung pasukan besar!"
Ia melapor dengan suara seperti mau menangis.
"Pas sekali. Aku akan membalas mereka!"
Cell berdiri dari kursinya dan menyatukan kedua
tinjunya.
"Aku harap kalian memikirkan perasaan kami
yang harus terseret dengan keinginan bunuh diri kalian!"
Meski suaranya bergetar karena frustrasi, Mink
tetap mengambil busur di dekatnya.
"Kita bahas ini setelah berhasil melewati ini
semua! Suku petarung, ikut aku! Mink, bawa suku yang tidak bisa bertarung,
wanita, dan anak-anak, lari lewat jalan rahasia di dalam gua belakang!"
"... Aku mengerti ...."
Dengan ekspresi pahit Mink
mengangguk dan berlari kecil keluar ruangan.
Begitu Cell dan yang lainnya
keluar dari bangunan, pilar api membubung dari arah tembok kayu yang
mengelilingi desa sebagai pertahanan.
"Ayo!"
Ayah mencabut pedang besinya dari
pinggang dan berlari menuju sumber api.
Tempat itu adalah medan perang
yang didominasi oleh darah dan api.
Kepada para monster yang berlarian
panik untuk menyelamatkan diri, sekelompok orang berjubah merah tak dikenal
menembakkan sihir beraneka warna dan merenggut nyawa mereka.
—Seorang wanita yang tampaknya
adalah seorang ibu terbaring tengkurap dengan luka bakar parah, dan seorang
anak kecil mengguncang-guncang tubuhnya sembari menangis.
—Seorang Lizardman berusaha
melindungi anak-anak yang masih kecil meski tubuhnya bersimbah darah.
—Seorang High Orc merentangkan
kedua tangannya menjadi tameng bagi ibu dan anak di belakangnya.
Melihat pemandangan itu, ia merasa
seolah pandangannya memerah karena amarah yang memuncak.
"Ayah!"
"Aku tahu! Semuanya, selamatkan saudara
kita!"
Sembari mengaum layaknya binatang buas, Cell dan
kawan-kawannya mengangkat pedang dan mulai menyerang.
Hasilnya sangat cepat. Atau lebih tepatnya, mereka
sama sekali tidak bisa melawan, dan saudara-saudara monster mereka bertumbangan
satu per satu. Akhirnya, Cell juga terkena sihir api mereka dan terlempar.
Kini, ia bersandar di dinding bangunan, hanya bisa menunggu ajalnya.
"Aduh aduh aduuuuh, benar-benar tidak ada
perlawanan sama sekali, ya~. Tapi yah, wajar saja karena kalian ini kan makhluk
rendahan tak berotak yang hina."
Seorang pria gemuk berpotongan rambut bob
dengan tato angka tiga di mulutnya yang tampaknya adalah pemimpin kelompok
berjubah merah itu, muncul di hadapan Cell bersama kelompoknya.
"Sialan!"
Sembari menggertakkan giginya menahan rasa sakit
di seluruh tubuhnya yang terasa seakan hancur berantakan, Cell berdiri dan
mencoba menyayat pria berambut bob itu dengan cakar tajamnya.
"Aku tidak butuh jantan yang cuma modal
semangat tapi tidak berguna, ya."
Kakinya dengan mudah disapu, lalu pria itu
menginjak perutnya.
Bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa
seolah-olah organ dalamnya dikocok, ia memuntahkan banyak darah. Hanya dengan
serangan yang tak terlihat serius dari pria itu, ia menderita luka parah.
Normalnya, ia pasti akan hancur dalam keputusasaan
dan menjerit kesakitan. Namun, saat ini yang ada di dalam diri Cell hanyalah
amarah yang meluap dari lubuk hatinya. Salah satu amarah itu tertuju pada pria
brengsek di hadapannya, tetapi yang lainnya tertuju pada dirinya sendiri yang
tak berdaya menyelamatkan satu pun temannya.
"Sialan!"
Sembari meneteskan air mata penyesalan, ia
menggigit kaki pria itu dengan sekuat tenaga.
Pria itu menatap Cell dengan hampa sejenak, tapi
kemudian pembuluh darah besar menonjol di wajahnya dan wajahnya memerah hingga
seolah mengeluarkan uap. Kemudian—.
"Monster kotor! Apa yang kau
lakukan!"
Cell pun ditendang melayang. Ia
terhempas lurus menabrak tembok pertahanan kayu desa dan menghantamnya dengan
punggungnya terlebih dahulu.
Ia bahkan tidak bisa menggerakkan satu jarinya
pun, dan tak lagi merasakan sakit. Padahal seharusnya begitu, namun entah
mengapa pandangan dan kesadarannya begitu jernih.
"Tuan Drei, apa yang harus kita lakukan
dengan para monster ini?"
Seseorang yang sepertinya bawahannya melihat
rekan-rekannya seolah sedang menilai mereka, dan meminta kepastian pada pria
gemuk berambut bob bernama Drei itu.
"Yang jantan musnahkan. Yang betina dengan
penampilan lumayan jadikan budak, ya. Kudengar mereka bisa dijual mahal ke
bangsawan mesum. Manusia memang seleranya sangat buruk, ya."
"Benar sekali."
"Lebih dari itu, di mana keberadaan Duke dan
menteri-menteri Kadipaten Dux? Padahal aku yakin sekali mereka ada di sini,
ya?"
"Berdasarkan hasil interogasi tadi,
sepertinya mereka tidak ada di desa ini!"
"Ternyata tebakanku salah, ya. Gawat juga,
ya. Kalau begini aku bisa dieksekusi oleh Tuan Neptune."
Berubah seratus delapan puluh derajat dari
sebelumnya, Drei bergumam dengan penuh kecemasan. Orang yang membalas ucapan
Drei itu adalah,
"Jangan khawatir. Neptune di ibukota pasti
sudah dibasmi oleh Beliau. Ya, kan?"
Ia adalah seorang gadis dengan kuncir kuda
berwarna merah yang memakai gaun putih serta memiliki dua tanduk di kepalanya.
"Iya, aku yakin Tuan Heine pasti sudah
mengalahkannya."
Terdengar suara yang familier.
"Se ... tsuna?"
Orang yang muncul di pandangan
Cell adalah satu-satunya adik yang berharga baginya, Setsuna.
Setsuna mendekat, memeluk tubuh
bagian atas Cell, dan meminumkan cairan berwarna merah kepadanya. Sesaat
setelahnya, rasa sakit itu hilang seolah itu hanyalah sebuah kebohongan.
"Bohong, kan ...."
Cell berseru kaget melihat lukanya
yang sembuh seketika. Tepat
saat ia hendak menanyakan situasi aneh ini pada Setsuna—.
"Lula, kenapa kau ada di sini? Bukannya kau
seharusnya sudah dieksekusi di ibukota?"
Sembari menatap wanita bergaun putih itu, Drei
membuka matanya lebar-lebar dan melontarkan pertanyaan bernada tinggi.
Lula? Begitu, ya. Pantas saja wanita bergaun putih
itu terlihat familier, dia adalah gadis yang dibawa oleh bibinya, Sena, saat
berkunjung ke tempat ini ketika ia masih kecil.
"Aku ini pengiringnya."
"Nya? Siapa itu?"
Drei bertanya pada Lula dengan suara yang sarat
akan kekesalan, namun yang menjawabnya adalah—.
"Aku."
Ia adalah seorang pria bertubuh besar dengan
penampilan liar yang entah sejak kapan telah muncul di tempat itu.
(Apa, itu?)
Bagaimanapun juga pria itu hanyalah manusia biasa,
tetapi entah mengapa hanya dengan melihat pria ini, keringatnya mengucur dan
sekujur tubuhnya gemetar hebat.
"Tuan Zack, tolong urus orang-orang yang
tidak tahu diri itu."
Sembari memegang ujung roknya dengan pipi yang
sedikit merona, Lula membungkuk hormat.
"Karena ini demi Guru, aku akan melakukan
tugasku dengan baik."
Membunyikan buku jari tangan kanannya dengan
telapak tangan kirinya, Zack perlahan mendekati Drei dan kelompoknya.
"Aku punya firasat yang
sangat buruk. Kalian, habisi dia!"
Tepat setelah Drei memberikan
instruksi itu, kepala para bawahannya yang berjubah merah hancur
berkeping-keping.
"Heh?"
Sebuah lengan kanan yang bagaikan
batang kayu menyembul dari belakang Drei yang melontarkan suara bingung, dan
dengan mudah mencengkeram kepalanya.
"Kau lemah banget. Masa cuma
segini doang? Cepat tunjukkan wujud aslimu. Aku ini lagi kesal banget,
lho."
Berbicara dengan singkat, Zack
melempar Drei dengan mudahnya.
"Giheheheheheeee!"
Sembari mengeluarkan suara aneh
dan berputar dengan kecepatan tinggi, kepala Drei menabrak tebing dan membentuk
kawah raksasa.
"...."
Cell sama sekali tak bisa mencerna situasinya.
Saat ia memperhatikan situasi dalam diam,
"Kutak mengampunimu, makhluk rendahan!"
Bersamaan dengan teriakan marah, kepulan debu
tertiup angin dan Drei muncul dengan seluruh tubuhnya yang ditumbuhi jarum.
"Itukah wujud aslimu? Kayaknya nggak ada
bedanya, deh."
Zack bergumam seolah tidak
tertarik.
"Jangan meremehkanku, makhluk
rendahan! Jarum ini beracun dan bisa melelehkan apa saja! Bahkan sebelum
tertusuk, kau akan langsung menjadi gumpalan daging hanya dengan
menyentuhnya!"
Sembari meneriakkan omong kosong
itu, Drei menembakkan jarum yang tak terhitung jumlahnya ke arah Zack.
"Permainan anak-anak."
Jarum-jarum itu hancur
berkeping-keping tepat di depan Zack.
"Hah!?"
Drei berseru kaget. Zack mengerutkan dahinya karena kecewa,
lalu berkata,
"Mengutip kata-kata Guru, daripada kau
terkejut, lebih baik kau pikirkan cara untuk menyerangku."
Dan seketika sosoknya menghilang.
Sesaat setelahnya—.
"Bube!"
Separuh tubuh sebelah kiri Drei
hancur berkeping-keping bersama jarum-jarumnya.
"Hei hei, masa sudah sekarat begini. Bukan
sekadar nggak ada perlawanan, aku ini belum mengeluarkan sedikit pun
kekuatanku, lho."
Zack mendekat perlahan ke arah Drei yang hanya
tersisa setengah badannya dan tidak bisa bergerak.
"Guruna!"
"Selamat tinggal."
Sesampainya di depan Drei, Zack menurunkan pusat
gravitasinya dan mengambil posisi kuda-kuda bela diri.
Detik berikutnya, tendangan memutar kanan Zack
menghantam bagian tengah tubuhnya, dan Drei pun hancur berkeping-keping.
"Astaga, dipikir bagaimanapun juga, ini sih
zonk."
Saat Zack bergumam sendiri,
"Dia itu salah satu pilar Lima Jari Suci, bodyguard
pribadi Neptune. Seharusnya manusia tidak akan bisa mengalahkannya. Zack,
akhir-akhir ini sejak kau menjadi bawahan Nemea, ucapan dan tindakanmu makin
terlihat seperti monster."
Wanita berkacamata satu yang berpakaian ungu
tiba-tiba muncul dan melontarkan komentar tak masuk akal dengan nada heran.
"Kamu sih ngomong gitu Kak Asta, tapi ini sih
nggak ada perlawanannya sama sekali. Padahal aku mau menghajar bajingan yang
bikin Faf nangis ini sampai babak belur, masa cuma dihajar dikit udah
mati."
"Nah, bagian itulah yang kelihatan seperti
monsternya. Lagipula, sisa manusia kera yang mengepung tempat ini saja yang
belum diurus, bagaimana soal itu?"
"Sepertinya Paman Girimehkala dan kelompoknya
memberikan latihan khusus yang kelewatan pada Duke dan kelompoknya. Biarpun ada
jutaan kroco di luar sana, mereka nggak akan bisa jadi lawannya."
Zack membalasnya dengan mengangkat bahu seolah
sedikit jengkel.
"Turut berdukacita."
Asta merapatkan kedua tangannya dan berdoa.
"Setuju."
Zack juga menempelkan kedua tangannya.
"Kalau begitu, aku akan menuju ke tahap akhir
bersama Tuan."
Asta menghilang setelah mengucapkan kalimat itu.
Berkat obat pemulihan ajaib milik Setsuna, Ayah
dan yang lainnya telah pulih sepenuhnya, dan mereka sedang mencoba untuk
berdiri sembari menggelengkan kepala.
Cell juga memaksa kakinya yang gemetar untuk
berdiri, lalu pergi ke samping Setsuna, dan berkata,
"Setsuna, jelaskan situasinya."
Ia menuntut penjelasan tentang situasi saat ini
dengan nada tegas.
"Heine, maksudku, karena Pak Kai, 'Hutan
Ratapan' ini bisa terselamatkan."
Setsuna menempelkan kedua tangannya ke dadanya
yang sintal, memejamkan mata, dan menjawab dengan tegas.
"Heine? Kai? Memangnya siapa dia?"
"Dia adalah pembimbing kita."
Setsuna menyatukan kedua tangannya dan berbicara
dengan penuh semangat.
◇◆◇
Mink membawa para wanita dan anak-anak dari desa
melarikan diri melalui gua. Namun, ia merasakan ada banyak orang di sekitar
mereka.
(Kita dikepung! Sial, mereka sudah menebak jalur
pelarian kita!)
"Ayo lari kembali ke dalam gua!"
Mink memberikan instruksi singkat, dan mereka
mencoba kembali ke dalam gua, tapi tanah di depan gua tiba-tiba meninggi dan
menutup jalan masuknya.
"Kapten, kita pasti
benar-benar beruntung, kan?"
Pria-pria berbaju zirah muncul
dari balik pepohonan.
"Ah, rupanya ada banyak
wanita cantik! Hei, kalian,
sebelum dijual, ayo kita nikmati mereka sepuasnya!"
Mereka berseru kegirangan.
"Horeeee! Mantap nih. Kalau begitu, aku pilih
wanita anjing yang di sana, ya!"
"Selera yang aneh! Kalau aku sih pilih yang
bersayap hitam itu saja!"
Mink melesatkan anak panahnya ke arah dahi para
pria yang sedang menilai mereka.
"Kalian pikir aku akan membiarkannya!"
Akan tetapi, anak panahnya ditangkap tepat sebelum
mengenai dahi mereka.
"Nggak mungkinlah. Kamu nggak bisa
membunuhku. Karena kalian itu amatir."
"A-aku adalah pejuang kebanggaan Suku
Tengu!"
"Ah, bukan begitu maksudku. Dari dirimu sama
sekali tidak tercium bau darah."
"Jangan menghinaku! Aku sudah siap!"
Sejak diakui sebagai pejuang oleh kepala desa, ia
telah menjalankan tugasnya dengan tekad untuk membunuh dan siap dibunuh. Ia
sama sekali tidak main-main.
"Siap? Kuha! Hei, kalian dengar nggak, dia
bilang siap!"
Manusia-manusia itu serentak menertawakan Mink.
"Aduh aduh Kapten, dia memang
harus siap. Siap dipeluk oleh
laki-laki maksudnya."
Sembari menjilati bibirnya, pria berambut mohawk
itu mendekat sambil memegang pisau.
"Tepat sekali! Kalau begitu, siapa cepat dia
dapat!"
Pria berjenggot yang dipanggil Kapten itu
mendekati Mink dengan ekspresi yang dipenuhi hasrat sembari menghunus pedang
panjangnya.
"Kuh!"
Mink mengarahkan panah ke busurnya dan terus
menembaki pria berjenggot itu, namun semua panahnya berhasil ditepis dengan
pedang panjangnya.
Ia membuang busurnya dan mencoba menyerangnya
dengan belati di pinggang, namun pergelangannya dengan mudah ditangkap dan ia
dipiting dari belakang.
"Nah, saatnya aku mencicipimu."
Tepat saat pria berjenggot itu mengulurkan tangan
ke pakaian atas Mink—.
"Menyerang wanita di medan
perang, ya ...."
Terdengar suara yang dipenuhi
dengan penghinaan.
"Kue?"
Detik berikutnya, sebuah pedang
menembus dari mulut pria berjenggot itu. Di tengah semburan darah yang
menari-nari seperti kelopak bunga, seorang pria paruh baya yang memiliki kumis
rapi dengan pakaian compang-camping berdiri di sampingnya.
"S-Siapa kalian!"
Ketika pria berambut mohawk
berteriak dengan nada kepanikan, seberkas cahaya melintasi dahinya.
"Kihe."
Pria berambut mohawk itu
terbelah menjadi dua dari dahinya, lalu tubuhnya jatuh berdebum ke arah kanan
dan kiri. Di belakangnya, seorang ksatria bertubuh besar dengan zirah putih
kusam mengayunkan pedang aneh dari dunia lain untuk menghilangkan noda darah.
"M-Musuh menyerang—!"
"Larii—"
Ketika kilatan cahaya dengan
kecepatan tinggi melesat dan melilit prajurit manusia yang hendak berteriak,
kepala mereka melayang ke udara satu demi satu.
"Hiiiii!"
Kepanikan. Itu adalah kata yang paling tepat untuk
menggambarkan situasi ini.
Dalam sekejap mata, para prajurit yang begitu
banyak itu berubah menjadi mayat yang bungkam. Dan di samping mayat-mayat itu,
puluhan orang bersenjata telah berdiri.
Melihat ada monster dengan sayap hitam di
punggungnya, memakai masker hitam dan jubah hitam di dalam kelompok itu,
"Kakak!"
Mink berseru kaget dengan suara
tercekik.
"Mink, sekarang sudah aman. Serahkan sisanya
pada kami."
"I-iya."
Ia mengangguk ragu, merasa canggung dengan
penampilan adiknya yang brutal, sangat berbeda dari adiknya yang lembut dan
bahkan tidak sanggup membunuh serangga.
"Ludens, tolong, ya."
Sang kakak mendesak pria paruh baya berkumis rapi
itu. Pria paruh baya itu mengangguk pelan, lalu mengangkat pedang di tangan
kanannya ke langit, dan berkata,
"Ini adalah pertarungan pertama kita di luar!
Kita harus memenangkan pertarungan semacam ini! Kita tak boleh bertindak
memalukan! Kalian tahu alasannya, kan!?"
Semuanya mengangguk kuat, memegang
senjata mereka masing-masing, dan mengangkatnya ke langit.
"Pertarungan ini
dipersembahkan untuk siapa!?"
Pemuda oni dengan mata merah
berseru dengan nyaring,
""Untuk pemimpin tertinggi kita, Tuan
Kai Heineman!""
Semuanya serentak mengaum dengan keras hingga
menggetarkan udara.
"Apa yang harus kita lakukan pada para
berandal yang menyerang saudara-saudara dan keluarga kita!?"
Mendengar pertanyaan sang ksatria
bertubuh besar itu,
""Bunuh!""
Secara bersamaan mereka meneriakkan kata-kata yang
begitu mengerikan.
"Apa yang ingin kita lakukan pada
sampah-sampah yang membuat Tuan Kai Heineman tidak senang!?"
""Bunuh! Bunuh! Bunuh!
Bunuuuuuh!!""
Raungan amarah dan hentakan kaki bagaikan
gelombang badai menerjang ke dalam hutan.
Sembari menoleh sekilas ke arah Mink dan yang
lainnya yang tercengang,
"Ayo kita mulai pertarungan kita!"
Ludens berseru. Sesaat kemudian, dari arah sang
kakak dan yang lainnya muncul raungan buas yang berhembus kencang.
Detik berikutnya, kelompok bersenjata Ludens yang
begitu banyak tadi, menghilang tak berbekas.
"Ini sebenarnya apa, sih ...."
Mink mengutarakan ketidakpuasannya yang sangat
besar di dalam hati.
◇◆◇
Pasukan yang dikerahkan untuk menaklukkan 'Hutan
Ratapan' kali ini adalah tentara bayaran pribadi milik kepala keluarga
Kadipaten Dux, Duke Dos Bildarts.
Dengan uang dalam jumlah besar yang diperoleh dari
tambang milik keluarga Duke Bildarts, mereka merekrut tentara bayaran dan hunter
ahli dari seluruh dunia.
Mereka adalah para profesional dalam pertarungan
dan peperangan, serta menjadi kekuatan tempur tertinggi dari pihak manusia di
Kadipaten Dux. Pasukan ini dapat menghancurkan militer negara kecil hanya dalam
hitungan jam.
Namun, tentara bayaran kebanggaan Duke Bildarts
itu kini sedang diserang oleh para monster dan berada dalam kekacauan parah.
"Ihihihihii! Mati! Mati! Mati! Matiiii!"
Pria tua berambut putih, Perdana Menteri Kadipaten
Dux, tertawa terbahak-bahak dengan suara melengking di udara sembari mengangkat
kedua tangannya.
Sebuah lingkaran sihir melayang di depan mata
kirinya, dan banyak bola cahaya beterbangan di sekelilingnya, menembak lurus
para prajurit tentara bayaran yang berusaha melarikan diri bagaikan peluru
kendali.
"L-Lenganku!"
"Aaaaakh!"
Jerit pilu, mungkin itu adalah kata yang tepat
untuk menggambarkan pemandangan mengerikan ini.
Saat ia menggerakkan tangannya ke sana kemari,
bola cahaya dalam jumlah tak terhingga muncul dan bergoyang di atas langit,
sebelum akhirnya menyatu menjadi satu. Kemudian, itu membentuk tangan cahaya
raksasa yang mengepal erat.
Pukulan tangan cahaya raksasa itu menghantam bumi,
menggulung tanaman dan tanah, lalu menghanguskan pasukan besar prajurit dalam
sekejap.
Berdiri di hadapan daratan yang telah terpotong
rapi membentuk cekungan,
"Ini adalah sihir rahasiaku yang telah
disempurnakan oleh Guruku, Tuan Azazel! Makhluk serangga rendahan seperti
kalian tak punya cara untuk melawannya! Kalian semua harusnya sangat bersyukur
bisa mati oleh sihir rahasiaku ini!"
Ia melontarkan pernyataan arogan yang sama sekali
tak mencerminkan sosok perdana menteri yang cerdas. Setelahnya, ia melesat ke
langit dengan cepat untuk mencari mangsa lainnya.
Wanita bersayap hitam pekat yang terbang di
langit, membuat gerakan menarik busur. Segera, panah-panah bermunculan dan berulang
kali menembus dahi para jenderal. Bagaikan anak panah yang ditakdirkan untuk
tepat sasaran, semuanya menembus dahi para jenderal itu dengan mudahnya.
"Tak ada perlawanan ... Inikah
tentara bayaran Duke Bildarts yang sangat kita takuti ... Betapa
menyedihkannya. Aku merasa sangat bodoh pernah ketakutan pada mereka ...."
Wanita bersayap hitam pekat itu
terus melepaskan anak panah dari atas langit, walau suaranya bergetar menahan
amarah.
"A-apa yang terjadi!?"
Suara jenderal pasukan kavaleri yang
seperti jeritan menggema ke seluruh medan.
Kepala-kepala melayang di udara
tanpa alasan yang jelas, darah muncrat layaknya kelopak bunga yang menari-nari,
sementara tubuh-tubuh mereka tumbang di tanah.
"A-aku belum mau mati!"
"Tidaaak!"
Melihat pemandangan yang seperti
mimpi buruk itu, wajah prajurit-prajurit itu menjadi pucat pasi. Mereka pun berlari menuju luar hutan yang
menurut mereka aman. Namun, seolah menertawakan ketakutan mereka, kepala para
prajurit yang berlarian itu juga ikut tertebas dan melayang ke udara.
"Apa yang sebenarnya terjadi!?"
Saat jenderal itu bertanya lagi, dari sudut
matanya, ia melihat sesosok raksasa berbaju besi putih kusam.
"Kau rupanya—"
Saat jenderal itu mencoba untuk menghunus
pedangnya sembari menunggangi kudanya, pandangannya seketika berputar-putar.
Begitu menyadari adanya tubuh tanpa kepala yang sangat mirip dengan dirinya,
kesadarannya pun sirna seketika.
Di antara tumpukan mayat itu, ksatria berbaju besi
tersebut mengibaskan pedangnya yang memiliki bentuk aneh namun tak memiliki
cacat sedikit pun untuk membersihkan sisa darah.
"Wahai Dewa kami yang agung! Terima kasih
atas kesempatan untuk memperbaiki negara kami yang busuk ini!"
Ia menangis dan memanjatkan rasa terima kasihnya.
"Atas kehendak agung Dewa kami, aku akan
memusnahkan semua musuh Dewa!"
Ia melontarkan kata-kata yang tak akan pernah ia
katakan di saat masih menjadi seorang atheis ke langit. Lalu, sosoknya
menghilang dari pandangan.
Itu adalah markas besar tentara bayaran Duke
Bildarts yang dibangun di padang rumput di depan 'Hutan Ratapan'.
Tinju cahaya raksasa yang tiba-tiba muncul dari
atas langit menghanguskan para prajurit. Jenderal-jenderal terbunuh oleh
serangan tepat di dahi. Kepala-kepala terpotong dan melayang ke udara tanpa
suara, bahkan tanpa tanda-tanda kehadiran manusia.
Laporan kekalahan yang seakan menjadi rentetan
fenomena ganjil terus mengalir masuk ke telinga Dos Bildarts.
"Apa maksudnya ini!? Cepat laporkan situasi
pertempuran aneh ini kepadaku!"
Ia berteriak dengan lantang, mengulangi kata-kata
yang sama untuk kesekian kalinya.
"...."
Semua jenderal saling pandang dengan raut wajah
kebingungan. Tentu saja.
Alih-alih Dos yang hanya komandan boneka,
merekalah yang sebenarnya memimpin semua pasukan, dan merekalah yang paling
ingin mengetahui situasi tersebut.
"Kalian bodoh! Pikirkan berapa banyak aku
membayar kalian! Aku tak peduli hidup atau mati! Segera bantai habis semua yang
berani melawanku, tangkap para monster perempuan dan bawa ke sini!"
Dos menghentakkan kakinya dan melampiaskan amarah
layaknya anak kecil.
"Sekarang giliranku kah?"
Pria berwajah panjang yang memakai baju ringan itu
membawa botol minum, lalu bangkit dan bertanya pada Dos.
"Oh, pahlawanku, Mimis! Apa kau akan
maju!?"
Itulah Mimis, tentara bayaran legendaris yang
mengukir namanya di medan pertempuran saat melawan Kerajaan Amelia, pada Perang
Loha.
Sejak saat itu, ia terus mengukir prestasi
gemilang di berbagai medan pertempuran.
Prinsip utamanya adalah membunuh semua musuh.
Kekuatan bertarung dan cara bertarungnya yang
sangat kejam membuatnya dikenal sebagai "Sang Algojo Mimis".
"Aku akan maju. Lagipula ini tugasku. Tapi,
kau belum lupa dengan janji kita, kan?"
"Tentu saja! Ratu Oni itu pasti akan
kuberikan padamu!"
"Ratu Oni Sena yang cantik itu akan segera
jadi milikku ... Aku jadi makin bersemangat!"
Kecantikan Ratu Oni Sena sudah menjadi pembicaraan
umum di Kadipaten Dux.
Konon, ia memancarkan kecantikan bak dewi-dewi
mitologi yang turun ke dunia manusia.
"Sena adalah Ratuku. Aku tak akan
menyerahkannya pada orang sepertimu."
Mendengar suara yang tiba-tiba muncul itu, mereka
melihat ke arah sumber suara.
Di sana, berdirilah seorang pria paruh baya yang
memakai baju compang-camping dengan kumis yang rapi, membawa pedang panjang di
tangannya.
"Y-Yang Mulia Duke!"
Saat pengawal Dos berseru nyaring setelah
mengenali pria itu, beberapa bawahan lain yang juga ia bawa bersorak riuh.
"Bunuh dia! Tuan Duke negara kita adalah Tuan
Muda Notka! Orang itu hanyalah seorang pengkhianat!"
Mendengar seruan kencang Dos, para jenderal yang
merupakan mantan tentara bayaran dan hunter, serta pengawalnya, segera
mengambil posisi dengan senjata masing-masing sembari menjaga jarak dari Duke
Ludens.
"Ini yang namanya ngasih nyawa! Kalau aku
membunuh orang ini, Sena bakal sah jadi milikku, kan!"
Sesaat kemudian, tepat saat Mimis yang berwajah
penuh hasrat tengah menjilati bibirnya, Ludens telah berada di belakangnya. Ia
mengayunkan pedangnya dan mengibaskan sisa-sisa darah.
"Eh?"
Saat Mimis hendak menoleh ke belakang, garis merah
muncul membelah tepat di tengah dari ubun-ubunnya,
"Punyaku—!"
Lalu, tubuhnya perlahan terbelah dua dan jatuh ke
arah kiri dan kanan.
"I-itu, si pahlawan Mimis ...."
Sambil melontarkan suara keputusasaan, para
jenderal itu melangkah mundur.
Tiba-tiba saja wajah pucat mereka tercabik-cabik
membentuk garis silang, dan mereka pun jatuh terjerembap bagai boneka yang
terputus talinya, seraya menyemburkan darah segar.
Itu terjadi dalam sekejap mata. Dalam rentang
waktu yang sangat singkat itu, Dos menjadi satu-satunya orang yang masih
bernapas.
Menatap mayat-mayat jenderal yang berserakan
dengan mengenaskan di lantai, ia sekali lagi merasakan ketakutan luar biasa
akan kematian yang mencengkeram jantungnya.
"Guhi!"
Saat Dos berlari keluar dari tenda dengan putus
asa,
"S-Serangan musuh! Serangan penuh, b-bunuh
penyusup ini...?"
Ia mencoba berteriak sekuat tenaga, tapi suaranya
tiba-tiba mengecil, dan
"Gihiii!"
Ia jatuh terduduk sambil menjerit histeris. Di
hadapan Dos, terhampar mayat yang begitu banyak.
Tidak hanya satu atau dua, pasukan besar Dos
semuanya telah menjadi mayat yang tak bisa berbicara.
"Jika mereka prajurit negara kita, aku
mungkin akan menahan diri, tapi sebagian besar pasukanmu hanyalah orang-orang
bayaran. Jadi, kalian harusnya sudah siap untuk mati."
Bahunya ditahan dari belakang.
Tubuhnya gemetar hebat, dan
giginya beradu tiada henti.
Saat perlahan menoleh, ada sosok iblis, secara
harfiah.
"Dos, perbuatanmu jujur saja sudah melampaui
batas. Tapi, aku tidak bisa membunuhmu."
"Apa ... Anda akan
mengampuniku?"
Menggenggam secercah harapan dari
ucapan Duke Ludens, ia mempertanyakan maksudnya.
"Kau pikir kau akan diampuni setelah
melakukan semua ini? Apa
kau benar-benar percaya itu?"
Suara Ludens bergetar karena
amarah.
"M-Mohon ampuni saya, Yang Mulia! Saya ini
pengkhianat yang diancam oleh Neptune!"
Jika salah bicara, ia akan langsung dibunuh.
Di tengah ketakutan itu, ia melontarkan alasan
pembelaan.
"Kau berbohong semudah kau bernapas, ya.
Begitu ya, persis seperti apa yang para Tetua katakan. Dosa-dosamu terlalu
besar untuk bisa mati begitu saja."
Sesaat setelah Ludens menyelesaikan kalimatnya,
tubuh Dos perlahan melayang ke udara.
"Naha!? Tubuhku—"
Bersamaan dengan kata-kata terakhirnya, seluruh
tubuh Dos berpelintir.
"Gugigagagaga ... gehe!"
Layaknya memeras kain lap kotor, darah menetes
dari tubuhnya, sebelum akhirnya tubuh itu lenyap tak berbekas.
Ludens berlutut dengan dengan
penuh hormat.
Di hadapannya, monster berhidung
panjang, Girimehkala, tengah berdiri dengan gagah.
"Ludens, selamat atas penyelesaian ujian ini.
Kalian telah menunjukkan jalan kalian sendiri. Ayah kami pasti akan sangat
senang."
Mendengar kata-kata Girimehkala yang terdengar
agak riang,
"Ini adalah sebuah kehormatan!"
Ludens menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kepada kalian yang telah menyelesaikan
ujian, Ayah Agung kami akan memberikan hadiah."
Girimehkala menjentikkan jarinya.
"Ludens?"
Ia mendongak mendengar suara yang begitu
dirindukannya, dan di sana, berdirilah wanita yang ia cintai sepanjang
hidupnya.
"Sena!"
Saat ia berdiri dan berseru memanggil namanya,
Sena langsung memeluknya.
Setelah ia memeluk Sena erat,
"Tak lama lagi, semua insiden ini akan segera
berakhir. Ludens, kau punya tugas untuk membangun kembali Kadipaten Dux yang
telah dikacaukan oleh Neptune dan para pengikutnya, tapi sekarang kau harus
memulihkan tenaga dulu."
Bersamaan dengan ucapan itu, keberadaan
Girimehkala pun lenyap.
"Dari mana aku harus mulai cerita, ya
...."
"Ya, anak itu, Kai, terlibat,
kan? Bawahan Kai hanya menceritakan garis besarnya ... Aku tidak ingin dia
terlibat dalam hal berbahaya ...."
Mendengar Sena yang menyebut nama
itu dengan penuh kecemasan,
"Sena, kau—"
Di saat ia baru saja hendak membuka
mulut untuk menanyakan pertanyaan yang sangat janggal itu,
"Biar aku saja yang
menjelaskan."
Seorang pemuda elf menampakkan
dirinya.
Dia adalah Olga Evans, teman lama
Ludens dan Sena, sekaligus sosok yang pernah mempertemukan mereka berdua di
masa lalu.



Post a Comment