Epilog
―Kawasan perumahan mewah di utara Babel.
"Sepertinya gereja sudah mengakui Feista secara resmi."
Ksatria Suci, Hijiri Paladin, menyampaikan laporan itu kepada Mashiro dengan nada bicara yang tenang.
"Hah? Gereja mengakui apa!? Feista, negara para monster dan iblis itu!?"
Menanggapi suara terkejut Mashiro yang melengking, Hijiri menjawab dengan tegas.
"Ya. Gereja Pusat telah mengumumkan kepada dunia bahwa Feista adalah sebuah negara resmi. Organisasi gereja yang dulunya begitu membenci 'Iblis', kini justru menganggap para iblis dan monster sebagai rekan yang berjalan berdampingan."
Seketika, suasana di dalam ruangan menjadi riuh, bagaikan dedaunan yang dihempas angin kencang.
"Hijiri-kun, apakah itu berarti kita bisa menganggap para iblis dan monster telah menjadi bagian dari umat manusia?"
Seorang pria paruh baya berbadan tinggi dengan janggut tipis dan mengenakan armor putih bersih, yang sejak tadi menyimak dalam diam di sudut ruangan, mengajukan pertanyaan kepada Hijiri.
Dia adalah Osburn Rildraken, Komandan Orde Ksatria Suci Kerajaan Amelia.
Sejak Mashiro dan yang lainnya terlempar ke dunia ini, dia bertindak sebagai mantan instruktur sekaligus pilar mental bagi tim Pahlawan.
Dia baru saja kembali dari pertempuran melawan komandan iblis di bawah bawahan Igni, Raja Iblis Api yang merupakan salah satu dari Empat Raja Iblis.
"Benar. Selama gereja secara resmi mengakui iblis dan monster sebagai makhluk yang setara dengan manusia, doktrin yang menyebut mereka sebagai makhluk jahanam, jahat, dan haram tanpa belas kasihan tidak lagi berlaku. Bahkan pertarungan kita melawan iblis dan monster bukan lagi perang suci untuk melindungi kemanusiaan, melainkan sekadar pembantaian keji antarsesama saudara."
Mendengar pernyataan Hijiri, seluruh anggota tim Pahlawan hanya bisa menunduk dengan wajah pahit. Hal itu sangat wajar.
Sebab, kalimat tersebut sama saja dengan menolak mentah-mentah segala hal yang mereka yakini dan perjuangkan selama ini.
"Hijiri-sama, lalu apa yang harus kita lakukan mulai sekarang?"
Seorang ksatria pria bertanya dengan wajah yang dipenuhi rasa cemas.
"Ada dua jalan. Pertama, menghormati keputusan gereja dan menghentikan pertarungan dengan para iblis untuk sementara waktu sambil memantau situasi. Kedua, mengabaikan sama sekali deklarasi gereja kali ini dan melakukan perlawanan total."
Di antara dua pilihan sulit yang ditawarkan Hijiri, sosok yang memberikan jawaban adalah―
"Tentu saja perlawanan total!"
Dialah sang Pahlawan, Mashiro.
"Aku... sudah menduga kamu akan berkata begitu. Tapi, jika kita mengobarkan perang di situasi saat kita bahkan tidak tahu siapa musuh sebenarnya, kita malah berisiko menjadi musuh dunia. Mashiro, apakah kamu benar-benar yakin dengan keputusan itu?"
Sambil menghela napas pendek, Hijiri bertanya kepada Mashiro. Di saat semua orang menahan napas memperhatikan sikap Hijiri yang tidak biasa itu―
"Tentu saja! Dunia menjadi musuh!? Bagus kalau begitu! Dunia yang membenarkan iblis dan monster akan kuhancurkan!"
Mashiro berteriak hingga memperlihatkan gigi taringnya. Hijiri hanya mengacungkan bahu, lalu memalingkan wajahnya.
"Begitulah katanya. Satoru, bagaimana denganmu?"
Dengan raut wajah serius, Hijiri meminta pendapat dari Satoru, seorang pemuda tampan berambut hitam, yang biasanya tidak perlu ditanya lagi.
Pemuda berambut hitam itu menatap Mashiro dengan tatapan iba selama beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab.
"Aku akan mengamati situasi untuk sementara waktu."
Jawaban yang sangat di luar dugaan Mashiro terucap dari mulutnya.
"Satoru, apa maksudmu!? Apa kamu lupa!? Hari saat hal berharga milik kita direbut oleh para iblis dan monster itu!"
"Mana mungkin aku bisa lupa! Setiap malam hal itu selalu hadir di mimpiku!"
"Kalau begitu―"
Satoru memotong perkataan Mashiro yang seolah memohon kepadanya.
"Itu terjadi di dunia kita. Hal tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan iblis dan monster di dunia ini. Setidaknya, aku tidak bisa mempertaruhkan nyawa rekan-rekan berharga kita hanya demi kebencian sepihak dari kita."
"Jangan-jangan, Hijiri, kamu juga sependapat!?"
Dengan wajah pucat pasi, Mashiro mengonfirmasi hal itu kepada Hijiri yang berdiri tanpa ekspresi sambil bersedekap memperhatikan mereka berdua.
"Bisa dibilang begitu."
"Kalian... mengkhianatiku!?"
Mendengar pertanyaan penuh tuduhan dari Mashiro, raut wajah Hijiri mendadak diselimuti amarah yang membara bagaikan api.
"Mengkhianati? Justru kamu yang mengkhianati kami, Mashiro! Aku mempercayaimu! Tapi kamu malah menjual Tuan Pandora―bukan, kamu menjual rakyat Emblade kepada monster tak manusiawi bernama Poseidon yang mengendalikan Gereja Pusat! Kamu sudah berjanji padaku kalau kamu akan melupakan percakapan dengan Tuan Pandora pada saat itu!"
"A-Aku tidak tahu apa-apa!"
"Masih mau pura-pura tidak tahu? Kalau begitu, bagaimana kamu menjelaskan ini!?"
Hijiri mengempaskan sebuah item sihir berbentuk cakram hitam ke atas meja. Seketika, sebuah proyeksi gambar tercipta di udara.
Itu adalah kamar pribadi Pahlawan Mashiro. Di atas sofa kamar tersebut, tampak seorang wanita bertopeng dan berambut hitam sedang meminum anggur buah.
"Pahlawan-chin, apakah sudah selesai?"
"Ya, sepertinya pengkhianatnya adalah Kardinal Pandora."
……
"……"
Bahkan setelah proyeksi berakhir, tidak ada satu orang pun yang bersuara.
Hal itu tidak lain adalah bukti nyata bahwa Pahlawan Mashiro telah menjual rakyat Emblade, basis dari Gereja Pusat, kepada monster bernama Poseidon.
Semua orang tampaknya terlalu syok hingga tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa terhadap kenyataan yang mengejutkan ini.
"Mashiro, kamu telah mengkhianati kepercayaanku. Aku tidak bisa mengikutimu lebih jauh lagi. Aku dan Satoru keluar dari tim ini."
Setelah mendeklarasikan hal tersebut, Hijiri bahkan tidak melirik Mashiro sedikit pun. Dia melangkah keluar ruangan dengan seluruh tubuh yang memancarkan amarah.
"Mashiro, maaf. Aku juga sudah tidak sanggup lagi."
Satoru bergumam dengan raut wajah sedih, lalu melangkah keluar ruangan menyusul Hijiri.
Tak lama kemudian, hampir tujuh puluh persen ksatria yang ada di sana ikut beranjak meninggalkan ruangan mengikuti Hijiri dan Satoru.
"Osburn, apakah kalian tidak ikut pergi bersama Hijiri?"
Anggota tim Pahlawan yang tersisa di dalam ruangan kini hanya tinggal belasan orang.
"Kami adalah orang-orang yang kampung halamannya dibakar oleh iblis. Kami tidak bisa merelakannya dengan mudah seperti Hijiri-kun dan yang lainnya. Karena itu, kami akan menyertaimu sampai akhir."
"Benar sekali! Meluapkan kebencian pada iblis kan tidak masalah! Aku juga tidak bisa memaafkan iblis-iblis itu!"
Seorang pria bertubuh kekar dengan kepala gundul bernama Vodka mengucapkan kalimat riang yang tidak sesuai dengan suasana tempat itu sambil meneguk minuman beralkohol dari botolnya.
"Kesetiaanku hanya untuk Mashiro-sama!"
Mimosa, seorang ksatria wanita yang pernah diselamatkan oleh Mashiro dari serangan iblis di masa lalu, berlutut dengan satu kaki sambil berseru tegas.
Para ksatria lainnya ikut meniru tindakan Mimosa dan berlutut dengan satu kaki di hadapan Mashiro.
"Kalian……"
Saat ini, Mashiro baru saja melakukan pengkhianatan kejam hingga kehilangan kepercayaan dari teman-teman dari kampung halamannya.
Mendengar perkataan bahwa mereka masih mau mengikutinya, Mashiro merasakan dadanya teremas sakit tanpa bisa ia tahan.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan keras. Seorang ksatria pemula yang bertugas melakukan patroli menerobos masuk sambil tersungkur.
"G-Gawat! Sepertinya mahluk Undead muncul dalam jumlah besar di 【Kota Mati Bunga】!"
Dia berseru dengan nada suara yang sangat panik.
"Apa yang akan kita lakukan, Mashiro?"
Mendengar pertanyaan Osburn, Mashiro menggelengkan kepalanya untuk menyegarkan pikiran.
"Tentu saja kita akan bergerak membasmi para Undead itu! Osburn, untuk berjaga-jaga, mintalah Guild Hunter untuk membersihkan jalan!"
"Dimengerti."
Sambil memegang Pedang Suci Pahlawan yang tersandar di dinding, Mashiro memberikan instruksi tersebut kepada Osburn lalu mulai berlari menuju 【Kota Mati Bunga】.
Ketika Mashiro tiba di 【Kota Mati Bunga】, tempat itu sudah dipenuhi oleh Undead tingkat rendah. Para ksatria yang mengikutinya saat ini adalah veteran yang sanggup bertarung seimbang melawan pasukan elit Empat Raja Iblis. Undead tingkat rendah langsung dimusnahkan dalam sekejap.
"Aneh sekali."
Mendengar gumaman Vodka, Osburn yang memperhatikan mayat-mayat Undead ikut mengutarakan kesan yang sama seperti Mashiro.
"Iya. Seolah-olah para Undead ini sedang diburu oleh sesuatu."
"Aku akan memotong sumber masalahnya!"
"Apakah tidak apa-apa? Akhir-akhir ini situasi di dunia sedang mencurigakan. Tempat yang ada di depan sana mungkin saja area bahaya."
Mendengar kalimat bermakna tersirat dari Osburn, Mashiro langsung menjawab tanpa ragu.
"Area bahaya? Justru itu yang kuinginkan!"
Mashiro langsung melesat berlari.
"Seperti yang diharapkan dari Mashiro-sama! Kami akan mengikutimu!"
Mimosa mengangguk, lalu mengajak para ksatria lain untuk ikut berlari.
"Tak ada pilihan lain……"
"Dasar nekat."
Osburn dan Vodka saling mengacungkan bahu, lalu bergegas mengejar Mashiro dari belakang.
Di depan gua paling dalam di Area Lima 【Kota Mati Bunga】, berdiri seekor ular raksasa seolah-olah sedang menjaga bagian dalam gua tersebut.
"Yang satu itu... gawat juga..."
Vodka bergumam pelan, dan Osburn mengangguk setuju.
"Benar. Yang satu itu bakal menyulitkan kita."
"Apa yang harus kita lakukan, Mashiro-sama?"
Mimosa menatap wajah Mashiro yang ada di sampingnya untuk meminta instruksi, namun matanya mendadak terbelalak kaget.
"Itu adalah……"
Air mata berukuran besar menetes dari kedua mata Mashiro yang bergumam pelan, sementara wajahnya terdistorsi oleh kebencian yang mendalam.
"M-Mashiro-sama, ada apa dengan Anda!?"
Sambil mengibaskan tangan Mimosa yang bertanya dengan ragu-ragu, Mashiro menggenggam erat gagang pedang panjangnya.
"BAJINGAN―!"
Dia mengobarkan pertempuran menuju ular raksasa tersebut.
"Mashiro panik! Mau tidak mau kita harus bertarung! Tidak apa-apa kan, Komandan!?"
"Ya, tapi kalau situasinya di luar kendali, kita bawa Mashiro kabur. Syaratnya adalah jangan memaksakan diri! Paham!?"
"Dimengerti!"
Para ksatria mengangguk, masing-masing menggenggam senjata mereka dan melancarkan serangan total ke arah monster ular raksasa.
Mashiro dan monster ular raksasa itu bertarung seimbang.
Situasi saling serang berlangsung untuk beberapa saat, hingga akhirnya Pedang Suci milik Mashiro berhasil menebas kepala ular raksasa tersebut dan mengakhiri pertempuran dengan kemenangan tim Pahlawan.
"Akhirnya kita menang juga."
Osburn mengibaskan darah dari pedang besarnya sambil bergumam.
Benang ketegangan yang membentang seolah terputus, membuat para ksatria berjatuhan duduk di tanah satu per satu untuk beristirahat.
"Sudah tidak sanggup lagi. Mana milikku benar-benar kering, sudah habis total."
Vodka bersandar pada batu besar di dekatnya sambil melontarkan keluhan yang jarang sekali terdengar darinya.
Di antara mereka, hanya Mashiro seorang yang berjalan menuju kedalaman gua dengan raut wajah penuh amarah.
"Kita sedang lelah saat ini. Mashiro, sekarang kita harus menunggu bantuan dari Guild Hunter."
Osburn berusaha menghentikannya, namun Mashiro yang menggenggam Pedang Suci di satu tangan seolah tidak mendengar dan menghilang ke dalam gua.
"Cih! Suka-sukanya sendiri! Bagaimana ini, Komandan?"
Sambil menyeringai kesal, Vodka meminta kepastian dari Osburn.
"Sepertinya Mashiro punya hubungan masa lalu dengan monster itu. Hanya aku dan Vodka yang akan pergi. Sisanya tetap bersiap di sini dan amankan jalan keluar!"
Mendengar instruksi Osburn, Mimosa sangat ingin ikut.
"S-Saya juga―"
"Kamu tidak akan bisa bersikap tegas pada Mashiro, kan? Untuk membawa Mashiro kembali, kami berdua lebih cocok. Lagipula, kalau tidak ada jalan keluar, Mashiro dan kita semua akan mati. Ini tugas yang sangat penting. Mengerti?"
Mendengar ucapan Osburn yang tidak menerima bantahan, Mimosa menggertakkan giginya namun tetap mengangguk pelan.
"Kalau begitu, kami serahkan pada kalian."
Setelah mengucapkan hal itu, Osburn dan Vodka melangkah masuk ke dalam gua.
Di dalam gua, seorang monster berbadan manusia di bagian atas dan berbadan ular di bagian bawah sedang berhadapan dengan Mashiro.
Monster yang mengenakan armor itu tersenyum mengerikan sambil memikul tombak dan menatap Mashiro lekat-lekat.
Tanpa menyeka air matanya, Mashiro memandang rendah monster ular berwujud manusia itu dengan api amarah yang membara di matanya.
(Komandan, Anda menyadarinya, kan?)
(Ya, monster itu terlalu berat untuk kita.)
Wajah kedua orang berpengalaman yang saling berbisik itu tampak pucat pasi, disertai tetesan keringat dingin yang mengalir deras.
"Tiba-tiba dipanggil, tak disangka aku malah bertemu dengan sosok yang menarik. Kamu, bukankah gadis dari waktu itu?"
Manusia ular itu bertanya kepada Mashiro dengan raut wajah penuh kesenangan.
"Keparat, bagaimana bisa kamu ada di dunia ini!?"
"Dunia ini? Hou, ternyata ini dunia lain! Aku memang bisa merasakan mana yang sangat kuat memenuhi tempat ini! Jika di sini, aku bahkan bisa mendapatkan kekuatan yang cukup!"
Manusia ular itu merentangkan kedua tangannya, gemetar dalam kebahagiaan.
"BUNUH!"
Mashiro melesat ke arah manusia ular dan mengayunkan Pedang Suci ke ubun-ubunnya dengan seluruh tenaganya. Namun―
"Sia-sia saja."
Dengan tangan kirinya, manusia ular itu menggenggam Pedang Suci dengan sangat mudah.
Sesaat kemudian, pilar api jatuh dari atas kepala manusia ular, bersamaan dengan sesuatu mirip rantai yang melilit tubuhnya dan mengempaskannya ke dinding.
"Kita kabur, Mashiro!"
Osburn berlari mendekati Mashiro, mencengkeram pergelangan tangannya, dan memberikan instruksi dengan nada tegas.
"Tidak mau! Aku―!"
Mashiro mengibaskan tangan Osburn dan berteriak menolak dengan suara keras.
"Gawat!"
Vodka berteriak sambil memegang kapaknya dan maju ke depan Mashiro dan Osburn. Dan―
"Kh!"
Osburn refleks mendorong Mashiro. Sesaat kemudian, ekor panjang manusia ular menghempaskan tubuh Osburn dan Vodka seolah-olah mengibaskan ranting pohon.
Mereka berdua terlempar ke dinding dengan kecepatan dahsyat dan tidak bergerak sedikit pun.
"Wanita bodoh. Jika kamu menuruti perkataan mereka, mungkin keajaiban terjadi dan kamu bisa kabur dariku."
"……"
Tanpa kata-kata, Mashiro menatapnya dengan raut kebencian dan air mata penyesalan. Seolah menikmati reaksi itu, manusia ular tersebut melanjutkan ulasannya.
"Ada rekan-rekanmu di luar sana, kan? Kalau begitu baguslah."
Dengan senyum menjijikkan, dia memetik jarinya. Dari ruang berwarna ungu di tanah, bermunculan ular-ular raksasa yang tak terhitung jumlahnya.
"H-Hentikan!"
Mashiro yang menyadari niat manusia ular itu berteriak keras, namun―
"Kalian boleh memakan makhluk tingkat rendah di luar sana."
Ular-ular raksasa itu gemetar kegirangan lalu berebut berlari menuju luar gua.
"Mana boleh kubiarkan!"
Sambil berteriak, Mashiro berusaha mengejar ular-ular itu, namun―
"Mana mungkin kubiarkan kamu kabur."
Bersamaan dengan kalimat penuh kesenangan itu, tubuh Mashiro dililit oleh batang tubuh panjang milik manusia ular.
"Lepaskan! Lepaskan aku―!"
Mashiro yang panik berusaha melepaskan diri, namun lilitan itu tidak bergeming sedikit pun.
"Nah, mulai sekarang aku akan mencekikmu sampai mati dengan sangat pelan. Bagaimanapun juga, daging wanita yang menangis berteriak karena kesakitan dan ketakutan adalah makanan favoritku."
Secara perlahan, kekuatan yang meremas tubuh Mashiro semakin menguat.
Entah berapa banyak waktu telah berlalu.
Rasa sakit yang hingga tadi terasa sangat mengganggu kini mulai tidak terasa, namun kebencian yang mendalam terhadap bajingan di depannya semakin menguat, membuat Mashiro terus menatap tajam ke arahnya.
"Kamu, apakah kamu punya tubuh khusus yang tidak merasakannya? Membosankan, sungguh membosankan. Daging wanita yang penuh rasa perlawanan biasanya rasanya hambar."
Manusia ular itu mengangkat Mashiro hingga tepat di depan mata dan hidungnya sambil bergumam mengeluh.
"Mati sana, ular brengsek!"
Mashiro meludahi wajah manusia ular itu dan memamakinya dengan suara keras. Hanya ini perlawanan maksimal yang bisa dilakukan Mashiro saat ini.
Manusia ular itu menatap Mashiro dengan raut wajah melongo selama beberapa saat.
Namun saat tangan kirinya menyentuh ludah Mashiro, wajahnya seketika memerah karena amarah.
"Makhluk tingkat rendah sepertimu, beraninya padaku―!"
Manusia ular itu ngamuk dan mengangkat tombak di tangan kanannya, lalu mengayunkannya ke bawah menuju kepala Mashiro.
Tebasan tombak mematikan dari manusia ular itu terhenti secara mendadak, tepat setipis kulit di dahi Mashiro.
Sosok yang menggenggam gagang tombak yang ditujukan pada Mashiro adalah seorang pemuda berambut abu-abu.
(Orang ini adalah……)
Karena ia pernah mendatangi Akademi Ouboro secara rahasia dan mengonfirmasinya dengan matanya sendiri, ia tidak mungkin salah.
Pemuda berambut abu-abu ini adalah sosok yang dirumorkan telah mencuci otak Pangeran Bodoh Gilbert dan mendirikan negara para monster dan iblis, Feista―Kai Heineman.
◇◆◇
"Faf menang, nodedu!"
Faf mengangkat tangan kanannya sambil menunjukkan kartu, dan―
"Ah, aku kalah. Kalah telak."
Miu, si gadis Beastkin, melemparkan kartu di tangannya ke atas meja lalu mengangkat kedua tangan.
"Kamu kuat banget ya, Faf-chan."
"Kuat! Kuat!"
Hana, gadis high kobold, beserta adiknya, Taro, memberikan pujian kepada Faf yang berhasil menang.
"Ehehe, nodedu."
Faf menggosok bagian bawah hidungnya dengan tangan kiri sambil tersenyum malu.
Syukurlah. Faf sudah benar-benar kembali seperti biasanya.
Sejak saat itu, bahkan setelah Faf bertemu kembali dengan Hana dan Taro, dia tampak agak kurang bersemangat.
Karena itu, setelah menggelar turnamen permainan kartu bersama adik-kakak Hana dan Taro serta sahabatnya Miu, Faf kembali menjadi sosok yang ceria seperti biasa. Sekarang harusnya sudah tidak apa-apa.
"Rose, Anna, sebentar lagi aku harus pergi. Tolong jaga Faf dan yang lainnya ya."
"Ya, serahkan pada kami."
"Serahkan saja padaku!"
Setelah memastikan Rose dan Anna mengangguk sambil tersenyum, aku memanggilnya.
"Faf, aku mau pergi sebentar?"
"Aku ingin Kamu cepat pulang, nodedu!"
Aku mengelus kepala Faf yang memelukku sambil mendongak menatapku dengan senyuman, lalu meninggalkan kediaman yang menjadi basis kami di Babel.
Akibat tindakan Pandora, Feista memilih untuk bergandengan tangan dengan Gereja Pusat. Alhasil, para monster dan iblis Feista akan mengulurkan tangan dalam pemulihan Emblade, ibu kota Gereja Pusat.
Jujur saja, awalnya diperkirakan para penganut akan menunjukkan alergi yang sangat kuat terhadap monster dan iblis, namun kenyataannya para penganut menerima mereka dengan sangat mulus secara mengejutkan.
Karena aku telah menipu Pandora sekian lama, aku sudah bersiap jika setidaknya harus dipukul, namun kenyataannya, hal yang dilakukan Pandora adalah sebuah kecupan.
Aku tidak menyangka wanita cantik seperti Pandora akan tertarik pada pria sepertiku sebagai lawan jenis.
Belakangan ini kejadian serupa sering terjadi, apakah ini semacam skinship yang sedang tren di kalangan anak muda? Yah, sepertinya aku sendiri tidak akan bisa menirunya.
Aku tiba di bangunan tiga lantai yang terletak di samping Central Center Guild Hunter di Babel, yang merupakan tujuan tujuanku.
Begitu diantar ke ruang tamu, di sana ada Ralph Excel, Paman Olga, Tuan Johnson, dan kepala cabang Bolero, Late Genghis Khan.
"Kai-sama, atas kelancangan kali ini, saya benar-benar minta maaf! Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya!"
Late menundukkan kepalanya dengan ekspresi seolah-olah sedang mempertaruhkan takdirnya.
Pakaiannya telah berubah menjadi lebih sederhana. Mungki ini adalah penampilan aslinya yang sebenarnya.
Apa yang kami lihat di cabang Bolero sepertinya adalah wujud palsu untuk mengelabui Pandora.
Pengarahan yang rumit dan tidak perlu ini mungkin adalah ide dari Girimehkala atau sejenisnya.
"Tidak, tidak, Kepala Cabang Late, angkat kepalamu. Justru aku yang harus minta maaf karena bawahanku telah menyusahkanmu. Maafkan aku."
"T-Terima kasih banyak, saya sangat bahagia!"
Melihat Late yang tersedu-sedu karena terharu, aku mendapat tatapan bernada tuduhan dari Ralph dan yang lainnya.
Hei, tunggu sebentar! Apakah ini juga salahku? Bukankah itu terlalu tidak adil? Aku sendiri baru menyadarinya di tengah jalan, dan awalnya kuajira dia adalah musuh.
"Gereja Pusat kali ini secara resmi telah mengumumkan dalam bentuk pernyataan bersama dengan Archduchy of Dux bahwa mereka mendukung penuh pendirian negara Feista. Dengan ini, organisasi yang menentang Feista secara praktis telah lenyap dari dunia ini. Dunia kini menuju ke arah konflik yang damai dan tenang."
Tuan Johnson memajukan tubuhnya dan mendeklarasikan hal tersebut. Nada suaranya lebih tinggi dari biasanya.
Bagi Tuan Johnson, ini adalah hal yang jarang terjadi di mana perasaannya tampak meluap-luap.
"Tidak, Anda salah. Justru, perang yang sesungguhnya akan dimulai dari sini."
Ini adalah hal yang diyakiini oleh diriku sendiri.
"Maksudmu dari sini, apakah tentang Pahlawan Kerajaan Amelia dan Yang Mulia Knut?"
Paman Olga bertanya dengan nada suara kaku.
Fakta bahwa dia melontarkan pertanyaan ini adalah bukti bahwa dia mulai memahami kejanggalan dunia ini secara samar.
Namun, poin tersebut meleset dari sasaran.
"Adik kandung dari Raja Kerajaan Amelia saat ini, Knut Loto Amelia, ya? Dia tampaknya bergerak di balik layar melakukan berbagai hal, tapi untuk saat ini dia tidak akan menjadi penghalang. Tentu saja, kalau dia bertindak terlalu jauh, aku akan langsung memberinya hukuman. Mengenai Pahlawan Mashiro... bersiap-siaplah."
Mendengar perkataanku, ketenangan mendadak sirna dari raut wajah Ralph, Tuan Johnson, dan Paman Olga.
"Bersiap-siap!? Apa maksudnya itu!?"
Ralph melontarkan suara yang dipenuhi rasa cemas.
"Kali ini, Pahlawan Mashiro berhubungan dengan pihak Poseidon dan menjual Pandora. Jika hanya sebatas itu saja masih mending, tapi sepertinya kali ini Pahlawan Mashiro meminta bantuan kepada kelompok merepotkan bernama Pasukan Surga untuk memusnahkan setiap orang di Feista tanpa tersisa."
Ini bukanlah informasi dari divisi intelijen Shirayuki dan yang lainnya, melainkan diberikan oleh 'Fraksi Raja Lalat' setelah insiden Poseidon.
Menurut Asta, tingkat kerahasiaan para bawahan Beelzebub berada di tingkat yang sangat tidak wajar. Keandalan informasinya sangat tinggi.
Mengenai hal ini, Pasukan Surga pada akhirnya hanyalah organisasi lemah yang hanya diisi oleh orang-orang sekelas Poseidon, namun mereka adalah organisasi yang berhubungan erat dengan Ares.
Saat ini belum ada kerugian nyata yang diterima dari Pahlawan Mashiro. Karena itu, awalnya aku berniat untuk menjadi pengamat saja dalam urusan Pahlawan ini.
Namun, jika Pahlawan Mashiro dibiarkan begitu saja, dia bisa menjadi bom yang sangat berbahaya.
Tiga pihak, yaitu Akuja Bankai, Fraksi Raja Lalat, dan Aliansi Dewi secara bersama-sama memberikan saran yang sangat kuat mengenai hal itu.
Untuk sementara, aku telah memerintahkan mereka untuk menahan diri sampai keputusan keluar, namun orang-orang dari fraksi Girimehkala cenderung bertindak dengan menebak-nebak pikiranku sendiri, dan Beelzebub memiliki obsesi aneh untuk menyenangkan diriku.
Aliansi Dewi bahkan bergerak dengan teori yang lebih tidak masuk akal lagi. Ketiga pihak ini selalu bertindak ceroboh tanpa memikirkan kerepotan orang di sekitar mereka.
Selama ketiga pihak ini memiliki obsesi kuat pada Mashiro, apa pun yang kukatakan, pada akhirnya hal itu akan tetap berjalan sampai ke batasnya.
"Artinya dia telah menyentuh batas kesabaran orang-orang itu... Jika memang begitu, sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi!"
Melihat Paman Olga yang memegang kepalanya, aku mengoreksinya.
"Tidak, ini sepertinya bukan kemarahan. Bisa dibilang ini adalah ketertarikan yang sangat kuat terhadap Pahlawan Mashiro."
Ini hanya firasatku, tapi mereka menjadikan Mashiro sebagai target bukan karena dia meminta bantuan Pasukan Surga untuk memusnahkan Feista.
Jika begitu, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak bergerak melawan Knut yang mengincar Feista. Yang terpenting, fakta bahwa Aliansi Dewi bergerak di balik layar adalah buktinya.
"Kalau begitu, perang dunia yang Kamu maksud, apakah tentang urusan Pahlawan Mashiro?"
Aku langsung membantah pertanyaan Ralph yang seolah berharap itu benar.
"Tidak, bukan."
"Bukan!? Apakah hal seperti kali ini akan terjadi lagi!?"
Tampaknya anggota yang hadir juga tidak menduga perdebatanku, membuat wajah mereka menegang dengan jelas.
"Ya, aku ingin menegaskan terlebih dahulu bahwa ini hanyalah firasatku saja. Hanya saja, masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia ini akan terjadi. Aku memiliki firasat seperti itu."
Rasa merinding di sekujur kulit yang seharusnya sudah kulumakan sejak lama, kini sering kurasakan setelah insiden North Ground.
Dalam waktu dekat, pertarungan mati-matian yang mengharuskan aku mempertaruhkan nyawa telah menanti. Itu pasti bukanlah organisasi mencurigakan seperti Surga atau Kejahatan.
Bukan juga orang-orang yang disebut generasi tua oleh Asta. Situasi yang begitu mengerikan hingga hal-hal seperti itu hanya terlihat seperti semut yang merayap di tanah.
“““……”””
Umm, suasananya malah jadi seperti upacara pemakaman. Aku sendiri tidak punya bukti pasti. Sebaiknya aku menahan diri untuk tidak membuat pernyataan yang memicu kecemasan.
"Untuk apa kalian berkecil hati! Kita memiliki Kai-sama! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali!"
Di antara orang-orang di ruangan itu, hanya Late yang berdiri dan berseru keras. Tidak ada sedikit pun rasa cemas atau gelisah dalam suara maupun ekspresinya.
"Late, kenapa kamu bisa begitu bersemangat!? Ini adalah penderitaan yang bahkan dikatakan oleh Kai yang menganggap North Ground sebagai hal sepele, tahu!?"
Ralph menyemburkan ludahnya sambil melontarkan pertanyaan, namun Late memotong kalimatnya di tengah jalan dan mengutarakan kesan yang sangat masuk akal.
"Jika memang begitu, justru―tidak, mari kita hentikan. Bagaimanapun, mengkhawatirkan hal yang belum terjadi mulai sekarang adalah hal yang sia-sia."
Dia berhasil menutupi perkataan yang terlanjur kuucapkan dengan sangat baik. Pria yang sangat luar biasa.
"Seperti yang dikatakan Tuan Late, saat ini ini masih sebatas firasatku saja. Bisa jadi ini hanya perasaanku saja."
"Aku berharap begitu. Kalau tidak, perutku bisa berlubang."
Sambil meringis, Ralph melontarkan gurauan itu. Aku tersenyum pahit lalu beranjak berdiri dari kursi.
"Kalau begitu, karena laporan sudah selesai, semuanya, aku pamit dulu."
Saat aku berdiri dan menundukkan kepala, pintu ruang tamu terbuka dengan keras dan seorang staf Guild Hunter menerobos masuk.
"G-Gawat! Monster bermunculan dalam jumlah besar dari 【Kota Mati Bunga】! Komandan Orde Ksatria Suci Kerajaan Amelia, Tuan Osburn, meminta bantuan kepada Guild Hunter! Tim Pahlawan Mashiro-sama telah menuju ke lokasi terlebih dahulu, jadi beliau meminta kita untuk membersihkan jalan!"
【Kota Mati Bunga】, ya…… Area Lima di sana adalah tempat di mana Rott King yang sangat lemah itu berada.
Di kedalaman Area Lima, ada tempat di mana ruang dan waktu tidak stabil serta sering terjadi distorsi.
Bahkan sebelumnya, pernah ada insiden aneh di mana lingkaran sihir pemindah dunia lain muncul.
Meskipun begitu, tim Pahlawan Mashiro muncul di waktu yang pas seperti sengaja diincar begini. Tidak mungkin, kan……
"【Kota Mati Bunga】 lagi! Aku punya firasat yang sangat buruk!"
Melihat Ralph yang memegang kepala sambil mengeluh, Tuan Johnson menatapku dengan raut wajah serius dan mengajukan permintaan.
"Aku sependapat. Sama seperti sebelumnya, kemunculan monster dalam jumlah besar di 【Kota Mati Bunga】. Pasti tidak akan selesai hanya dengan membersihkan jalan untuk tim Pahlawan. Kai, bisakah kami menyerahkan penanganan insiden kali ini padamu?"
"Ya, tentu saja."
Berpikirnya belakangan saja. Sekarang mari kita menuju ke lokasi.
"Aku berutang budi padamu. Kai, Guild Hunter menyerahkan wewenang penuh atas insiden ini padamu!"
Ralph berdiri dan mendeklarasikan hal itu.
"Dimengerti. Kalau begitu saya akan segera menuju ke lokasi sekarang!"
Setelah berseru demikian, aku berlari menuju 【Kota Mati Bunga】.
Area Satu hingga Empat di 【Kota Mati Bunga】 dipenuhi oleh mayat-mayat Undead, dan para ksatria pemula yang tampaknya bergegas datang setelah mendengar rumor, sedang sibuk membersihkan sisa-sisa Undead.
Mengalahkan Undead sebanyak ini adalah hal yang mustahil bagi para hunter belum berpengalaman yang ada di sini saat ini. Yang melakukannya kemungkinan besar adalah tim Pahlawan.
Aku melangkah semakin jauh ke dalam.
"Ternyata benar-benar di sini……"
Di depan gua paling dalam di Area Lima 【Kota Mati Bunga】, tim Pahlawan sedang bertarung melawan beberapa monster yang menyerupai ular raksasa.
Para ksatria berarmor putih bertarung mengayunkan pedang sambil berteriak histeris dengan darah mengalir dari kepala mereka.
Namun, mereka dengan mudah dihantam dan terlempar oleh ekor ular raksasa.
Aku mendengar bahwa tim Pahlawan diisi oleh orang-orang elit, tapi tak disangka mereka kewalahan melawan monster sekelas ini.
Apakah mereka salah menilai tempat ini mudah lalu membawa ksatria pemula untuk latihan?
Bagaimanapun, mereka sudah hampir tewas. Jika aku membiarkannya lebih lama lagi, orang-orang ini akan mati.
Dengan Raikiri, aku menebas ular raksasa yang hendak menyemburkan api ke arah para ksatria hingga menjadi potongan-potongan kecil, lalu meminumkan potion kepada para ksatria yang tergeletak.
"Kamu tidak apa-apa? Minumlah ini. Kamu akan merasa lebih baik."
Saat meminumkan potion kepada ksatria wanita yang merupakan orang terakhir, lukanya sembuh dalam sekejap.
"Kamu adalah……?"
Sambil membuka kelopak matanya dengan sayu, dia bertanya padaku.
"Aku orang yang diminta oleh Guild Hunter. Aku datang memberikan bantuan. Jelaskan situasinya."
"Guild Hunter!"
Ksatria wanita itu menggenggam lengan bajuku dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Di dalam gua, Mashiro-sama ada di sana! Tolong―tolong selamatkan orang itu!"
Dia berteriak melengking. Dari sikap ini sudah terlihat jelas. Setidaknya para ksatria ini sangat mengagumi sosok bernama Pahlawan Mashiro.
Ada alasan mengapa mereka begitu mempercayai seseorang. Dia sepertinya bukan sekadar orang bodoh yang tenggelam dalam kebencian.
"Aku mengerti. Pahlawan Mashiro pasti akan kuselamatkan. Karena itu, sekarang istirahatlah dengan tenang."
Setelah membaringkan para ksatria wanita yang terluka di samping, aku melangkah masuk ke dalam gua.
Di dalam gua, seorang gadis berambut hitam sedang dililit oleh ekor panjang monster berbadan manusia di bagian atas dan berbadan ular di bagian bawah.
Dan di dekat dinding, dua orang pria tergeletak jatuh. Aku memunculkan Healing Slime dan memerintahkannya untuk menyembuhkan mereka.
"Makhluk tingkat rendah sepertimu, beraninya pada akuー!"
Menyadari manusia ular itu mengamuk dan hendak mengayunkan tombak ke kepala gadis berambut hitam, aku refleks mendekat ke sampingnya dan menangkap gagang tombak tersebut.
"Ya ampun, nyaris saja ya."
Aku mematahkan gagang tombaknya, lalu merobek ekornya dengan kedua tangan.
Di tengah jeritan bising manusia ular, aku menggendong gadis berambut hitam yang hampir jatuh.
Sambil digendong, gadis berambut hitam itu menatapku dengan raut wajah cengong, namun wajahnya mendadak memerah.
"Lepaskan! Lepaskan aku―! Kai Heineman!"
Dia berteriak keras dan berusaha mengamuk.
Hmm? Gadis ini sepertinya mengenalku.
Apakah kami pernah bertemu di suatu tempat?
Lagipula, ada air mata yang menggenang di sudut matanya, apakah aku pernah melakukan sesuatu padanya?
Aku tidak ingat sama sekali.
"Aku paham. Aku paham, jadi tunggulah sebentar. Lagipula, kalau kamu terlalu banyak bergerak, kamu bisa mati."
Lagi pula, dalam kondisi hampir tewas begini, beraninya dia mengamuk hebat seperti ini.
"Ghh!?"
Sesuai dugaan, gadis berambut hitam itu pingsan karena rasa sakit.
"Tuh kan, apa kubilang."
Menanggapi komenter keherananku, manusia ular itu berteriak murka.
"Keparat! Makhluk tingkat rendah sepertimu! Hei, para bawahan, mangsa dan bunuh orang itu!"
Sesaat kemudian, ular-ular yang tak terhitung jumlahnya bermunculan dari tanah dan mengepung kami sepenuhnya.
"Hah, membosankan."
Sambil menggendong gadis berambut hitam yang pingsan dengan tangan kanan, aku menarik Raikiri dari sarungnya dengan tangan kiri.
"Shinkai-ryuu Kenjutsu Ittou-ryuu, Ichi no Kata―Shisen."
Ular-ular yang berusaha menyentuh kami berubah menjadi potongan-potongan daging yang hancur. Di tengah tetesan darah dan daging yang berguguran, manusia ular melontarkan suara terkejut.
"Hah?"
Aku menebas ekor dan kedua lengan manusia ular yang melontarkan suara bodoh itu.
"……"
Melihat wujudnya yang mengenaskan, aku mendekati manusia ular yang berteriak bising itu, lalu menancapkan Raikiri ke dalam mulutnya untuk membungkam suara mengganggunya.
"Tunggulah sebentar. Aku akan menggali informasi tentang hubungan latar belakang kalian―"
Saat aku menarik pedang dari mulutnya dan berbicara dengan nada yang tidak menerima bantahan, sebuah lingkaran sihir tiga dimensi berwarna merah muncul di belakang monster ular berwujud manusia itu.
"Gugigi!? I-Ini―H-Hentikan―!"
Tubuh manusia ular itu memancarkan cahaya, dan sambil melontarkan kalimat penolakan, dia terhisap ke dalam lingkaran sihir di belakangnya.
Di saat yang sama, tubuh kami juga melayang dan memancarkan cahaya, lalu diselimuti oleh cahaya yang menyilaukan.
Saat membuka kelopak mata karena sinar matahari yang menyengat, langit biru tanpa awan memenuhi seluruh pandanganku.
Aku menegakkan tubuh bagian atas dan melihat sekeliling, ternyata tempat itu adalah di atas bukit kecil.
Saat berdiri dan meregangkan badan, seorang pemuda yang berlari di dekat situ tertangkap oleh pandanganku.
Pakaian pria itu bukan milik warga Babel pada umumnya.
Pakaian seperti itu belum pernah kulihat sekali pun di Remuria.
"Jangan-jangan……"
Didorong oleh rasa merinding yang luar biasa, aku mulai melangkah dengan cepat turun dari bukit untuk memastikan tempat ini secara detail.
Begitu keluar ke jalan kecil tempat pemuda tadi berlari, aku berjalan sebentar menyusuri jalan hingga sampai di tempat dengan pemandangan yang luas.
Begitu melihat pemandangan yang terhampar di bawah, sebuah suara terkejut terlontar dari mulutku.
"Hah?"
Suara terkejut itu sangat wajar. Sebab, di atas rel logam yang membentang seperti ular, kereta logam melesat dengan kecepatan tinggi, dan di sekelilingnya menjulang gedung-gedung pencakar langit dari logam dalam jumlah yang tidak main-main.
◇◆◇
Setelah Pahlawan Mashiro dan Kai Heineman terhisap ke dalam lingkaran sihir tiga dimensi, Beelzebub, Girimehkala, Nemesis, dan Asura menampakkan diri.
"Kai-sama jadi menghilang! Apa maksudnya ini, Beelzebub!?"
Asura membentak dengan emosi, namun Beelzebub hanya mengemput empengnya dengan gembira.
"Ini adalah permainan terbaik yang dipersembahkan oleh Bab untuk Yang Mulia Tercinta, babu!"
"P-Permainan!?"
Asura melontarkan suara terkejut, sementara Girimehkala bersedekap dan berbicara dengan bangga.
"Ayah Agung kita telah memutuskan untuk memberikan cobaan kepada Pahlawan Mashiro yang telah menjual rakyat suci kita kepada Pasukan Surga. Lingkaran sihir pemindah ruang dimensi lain inilah bentuknya!"
"Ini juga merupakan pilihan yang diambil oleh gadis bernama Mashiro itu."
Nemesis juga mengatupkan kedua tangannya di depan dada berukuran besarnya dan memejamkan mata.
"J-Jadi ini adalah bagian dari rencana Kai-sama!?"
Asura melontarkan pertanyaan dengan suara yang sangat kebingungan.
"Tentu saja! Karena Yang Mulia melihat segala hal di dunia ini!"
Girimehkala merentangkan kedua tangannya menengadah ke langit dan berteriak keras.
"Asura, kamu sebelumnya sudah berjanji pada Bab, babu."
"Janji? Soal bertarung dengan mainan Kai-sama itu?"
"Bagaimana, babu? Sekarang kamu bisa pergi ke tempat Yang Mulia, babu. Tapi pikirkan baik-baik, babu. Di dunia tempat Yang Mulia berada sekarang, ada musuh bebuyutan Bab, babu."
"Apakah yang dimaksud orang-orang ini?"
Asura bertanya balik sambil menatap mayat yang dibantai oleh Kai Heineman.
"Mana mungkin hal seperti ini adalah bawahan langsungnya, babu. Dia masih dalam bentuk kepompong, babu. Dan kali ini berniat memperkuatnya dengan Poseidon yang berhasil ditangkap, babu. Kalau begitu, mainan yang saaaangat luar biasa akan tercipta, babu. Kamu yang dulu pasti akan mati dalam sekejap, babu."
Mendengar Beelzebub yang tertawa kegirangan, Asura menyeringai.
"Bukankah itu sangat menarik! Kalau tidak begitu, mana seru! Yang terpenting, melindungi Kai-sama adalah tugasku saat ini! Kirim aku ke dunia itu!"
"Selain Yang Mulia dan kelas Bab, tempat di depan sana adalah area kematian. Apakah tidak apa-apa, babu?"
"Jarangan-jarang kamu cerewet begitu, Beelzebub! Tapi sia-sia saja! Tekadku sudah bulat!"
"Dimengerti, babu."
Setelah tertawa puas, Beelzebub merapalkan mantra. Sesaat kemudian, tubuh Asura memancarkan cahaya dan wujudnya terhisap ke dalam lingkaran sihir tiga dimensi.
"Nah, Ayah Agung kita yang mulia! Kepada pahlawan yang malang dan bodoh ini, berikanlah petunjuk jalan!"
Suara Girimehkala yang mengatupkan kedua tangan dan berteriak keras hingga menggetarkan udara bergema di dalam gua.



Post a Comment