NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 10 Short Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Keseharian Mari


Saat membuka kelopak mataku karena sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui jendela, aku mendapati diriku berada di atas tempat tidur yang sangat besar.

Ah, benar juga. Semalam aku menginap di istana Paman Giri.

Setelah menguap lebar-lebar, aku berganti pakaian yang sudah tertata rapi di atas meja, lalu berjalan keluar kamar.

Di taman dalam area istana, seorang paman berwajah hiu yang mengenakan kimono sedang berlatih tanding bersama seorang kakak bermata tajam dengan rambut hitam disisir ke belakang.

"Selamat pagi, dechu. Paman Arii, Paman Jira!"

Mendengar salamku, mereka berdua langsung menghentikan latihannya.

"Ooh, selamat pagi, Maari. Masih pagi sekali kau sudah bangun."

Paman Arii mengukir senyum di wajah hiunya sambil mengangkat tangan kanan untuk menyapa.

"Mengabaikan si tua di sebelahku ini, aku ini masih cocok dipanggil 'Kakak', kan?"

Paman Jira berjalan mendekatiku sambil tersenyum, lalu memutar-mutarkan kedua kepalan tangannya di pelipisku dengan gemas.

Paman Jira selalu tersenyum dan mengoreksi panggilannya menjadi "Kakak" setiap kali ada yang memanggilnya paman. Padahal Paman Jira itu sudah paman-paman, dasar paman yang aneh. Tapi—

"Selamat pagi, Kak Jira, dechu."

Aku memutuskan untuk menyapanya sebagai kakak saja. Menurut Kak Nemesis, hal seperti ini dinamakan 'seni bersosialisasi'.

"Jira, tidak peduli bagaimanapun, kau ini sungguh kekanak-kanakan. Bagi Maari, jangankan paman, kau ini bahkan sudah pantas dipanggil kakek!"

Paman Arii menegurnya dengan suara keras yang dipenuhi rasa heran.

"Apakah Paman Jira itu seorang kakek?"

Saat aku memiringkan kepala karena bingung—

"Tuh, kan! Maari jadi menganggapnya serius lagi!"

Paman Jira berteriak gusar sampai urat-urat tebal menonjol di pelipisnya.

"Itu salahmu sendiri!"

Mereka berdua pun kembali melanjutkan latihan tandingnya.

Entah kenapa, sekarang mereka saling pukul dengan raut wajah yang jauh lebih serius daripada sebelumnya. Sepertinya latihan fisik yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Karena tidak ingin mengganggu, lebih baik aku pergi menyapa Paman Giri dan yang lainnya.

Di bawah langit biru cerah tanpa awan sedikit pun, saat aku sedang berjalan di koridor istana, Kak Ronowe terlihat sedang tidur melayang di udara. Apakah dia tidak kedinginan tidur dengan telanjang dada seperti itu?

Begitu aku mendekat, delapan matanya mendelik tajam menatapku.

"Maari, kalau kau sudah ada di sini, apakah itu artinya hari sudah pagi? Semalam aku minum terlalu banyak..."

Dia bergumam seorang diri sambil menguap lebar.

"Selamat pagi, Kak Ronowe, dechu."

"Umu, selamat pagi, Maari."

"Kakak, kalau tidur di tempat seperti itu nanti bisa masuk angin, dechu!"

Aku berteriak sambil bertolak pinggang dengan kedua tangan, meniru gaya yang selalu dilakukan Kak Anna.

"Umu, umu, benar juga. Aku akan lebih berhati-hati."

Dia turun ke tanah lalu mengelus kepalaku dengan tangannya yang besar.

"Miyufufu..."

Saat aku memejamkan mata karena merasa sangat nyaman—

"Maari, kalau sudah bangun, mari kita sarapan."

Sosok humanoid berwarna putih bersih yang mengenakan celemek mendadak muncul di hadapan Maari.

"Paman Dureka, selamat pagi, dechu!"

Aku berlari dan langsung memeluk paman itu.

Orang ini adalah Paman Dureka, paman yang sangat lembut dan baik hati.

"Ya, selamat pagi. Kalau begitu, mari kita pergi ke ruang makan. Muridku sudah selesai memasak dan sedang menunggu kita di sana."

"Siaaap!"

Aku bergandengan tangan dengan Paman Dureka sambil berjalan menuju ruang makan.

Di ruang makan, sudah ada banyak anggota keluarga yang duduk di kursi mereka masing-masing.

"Maari, selamat pagi!"

"Kihihi, Maari, datanglah lagi ke bengkelku. Aku akan menyiapkan mainan terbaik untukmu."

"Selamat pagi, dechu! Aku pasti akan pergi ke bengkel!"

Saat aku sedang dikerumuni dan dimanja oleh para paman, Kakak Mata-mata yang memakai penutup mata bersama Paman Lucas menata berbagai hidangan berwarna-warni di atas meja.

"Kau sudah datang? Maari, mari kita berdoa dulu sebelum makan!"

Paman Giri yang berhidung panjang berteriak sambil mengangkat tangan kanannya.

Begitu aku duduk di kursi sebelah Paman Giri—

"............ Oh, Yang Mahatinggi!

Ampunilah kelemahan kami, para serangga sampah ini!

Ampunilah kebodohan kami, para serangga sampah ini!

Ampunilah ketidakmampuan kami, para serangga sampah ini!

Di bawah perlindungan Yang Mahagung, kami para serangga sampah akan menguasai tanah ini dan mencapai puncak kejayaan!

Kami para serangga sampah akan membinasakan seluruh orang-orang bodoh yang berani menentang Yang Mahagung!

............."

Doa panjang yang sudah menjadi rutinitas harian itu akhirnya selesai, dan kami semua mulai menyantap hidangannya.

Setelah selesai sarapan, aku ada sesi belajar bersama Paman Azazel.

Paman Azazel tahu banyak hal, jadi belajar dengannya sangatlah menyenangkan.

Hari ini kami mempelajari tentang Teori Umum Ilmu Sihir Ilahi. Namun, aku terus-menerus gagal dan tidak bisa melakukannya dengan baik.

"Gagal terus, dechu..."

Satu dari setiap tiga kali percobaanku selalu berakhir gagal.

"..."

Paman Azazel hanya menatapku dengan wajah terperangah. Mungkin aku sudah membuatnya sangat kecewa.

"Paman?"

Tanyaku dengan ragu-ragu.

"Ah, tidak, maaf, maaf. Soalnya aku sama sekali tidak menyangka kalau kau bisa berhasil walau hanya sekali..."

"Berhasil? Padahal aku gagal terus, dechu."

"Sihir Ilahi adalah sihir dengan tingkat kesulitan tertinggi di antara berbagai jenis sihir yang ada. Sihir ini tidak bisa dikuasai dengan mudah begitu saja. Maari, sebenarnya sejak dulu aku sudah berpikiran begini, tapi bakat sihirmu itu sudah melampaui kata genius, bahkan sudah di tahap tidak masuk akal."

Apakah paman sedang sangat bersemangat? Paman Azazel berbicara jauh lebih cepat dari biasanya.

"Tidak masuk akal itu apa, dechu?"

Karena artinya berada di atas genius, apakah itu sebuah pujian?

"B-Bukan, bukan begitu! Maksudku bukan seperti itu! Dengarkan paman, lupakan kata-kata tadi! Kalau sampai mereka tahu aku memperlakukanmu seperti itu, aku bisa-bisa dihajar habis-habisan oleh Girimehkala dan para dewi itu!"

Dia memegang kedua tanganku lalu memohon dengan nada suara yang hampir menangis. Karena dimohon dengan mata memerah dari balik topengnya, aku pun—

"Aku mengerti, dechu."

Menjawabnya dengan tersenyum cerah.

"Maari, kau benar-benar anak yang baik."

Paman Azazel mengelus kepalaku dengan lembut sambil bernapas lega.

Waktu belajar telah usai. Siang hari ini, aku ada sesi latihan khusus seni bela diri bersama Kak Nemesis dan Kak Athena.

Begitu aku membayangkan teleportasi pada cincin yang kudapatkan dari Yang Mulia, aku pun sampai di depan sebuah istana yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran.

Saat aku berdiri di depan gerbang istana, cincin itu bersinar dan pintu gerbang yang besar perlahan terbuka.

"Maari! Kau sudah datang, desu no!"

Di depan gerbang, Kak Athena sudah menyambutku seperti biasa, lalu langsung memelukku erat.

"Hee, jadi anak ini yang bernama Maari seperti di rumor itu?"

Seorang wanita cantik berambut merah yang mengenakan kimono menatapku dengan penuh rasa penasaran.

"Namaku Maari, dechu. Senang berkenalan dengan Kakak."

Aku menegakkan posisiku, lalu membungkukkan badan untuk memberi hormat.

(Memang... lucu juga sih...)

Wanita berambut merah itu memalingkan wajahnya sambil bergumam pelan dengan suara yang tidak bisa kudengar.

"Kalau begitu, mari kita mulai latihan hari ini, desu no!"

Kak Athena menarik tanganku dan menuntunku menuju ke arena pertarungan.

Setelah berlatih seni bela diri bersama Kak Athena dan yang lainnya hingga melelahkan, aku menginap di istana itu hari ini.

"Enak? Enak tidak?"

Sangat enak. Makanan yang disajikan di depanku semuanya adalah masakan dari Liberty Town. Makanan yang dihidangkan untukku adalah menu paket anak-anak favoritku!

"Enak banget, dechu!"

Di bawah tatapan semua orang, aku menjawab sambil memegang garpu dan tersenyum cerah, yang langsung disambut sorak-sorai dari para kakak perempuan.

Selesai makan dan mandi, kami semua bermain permainan kartu bersama. Itu sangat seru.

"Anak kecil, apa kau sekarang tinggal bersama Kain?"

Saat aku hendak tidur, wanita berambut merah tadi, Kak Mafuyu, menyapaku.

Kain yang dimaksud sepertinya adalah Kai Heinemann, yaitu Yang Mulia.

"Iya, dechu!"

Jawabku dengan penuh semangat.

"Kalau begitu, apa kau tahu hal-hal yang disukai oleh Kain di dunia ini?"

Dia mendesak maju dan bertanya dengan nada suara yang kuat.

"Hal yang disukai, dechu?"

"Iya! Makanan kesukaan, hobi, dan terutama tentang wanita!"

Hal-hal yang disukai oleh Yang Mulia? Tentu saja aku tahu segalanya tentang Yang Mulia. Karena, aku ini sangat, sangat—menyukai Yang Mulia!

"Masakan Yang Mulia itu sangat enak, dechu! Yang Mulia juga sangat suka bertarung! Kalau tentang wanita—"

Tepat ketika aku hendak membuka mulut untuk menceritakan tentang wanita yang disukai Yang Mulia—

"Aarak, Mafuyu~ Apa yang sedang kau tanyakan pada Maari, ya~?"

Kak Nemesis berdiri di belakang Kak Mafuyu dengan senyuman yang sangat bertekanan dan mengerikan.

"A-Ara~ Kak Nemesis, ini cuma..."

Kak Nemesis menyeret kerah belakang baju Kak Mafuyu yang terbata-bata itu, lalu pergi begitu saja.

"Ayo Maari, kita tidur bersama, desu no!"

"Athena, jangan seenaknya sendiri! Maari akan tidur bersama kita semua!"

Ditarik oleh Kak Athena dan yang lainnya, aku pun akhirnya tidur bersama mereka.

Saat pagi tiba, aku langsung menuju ke kediaman Yang Mulia di Babel.

"Maari, sarapannya sudah siap! Cuci tanganmu dulu lalu duduklah di kursimu!"

"Siaaap!"

Aku mengangguk mantap menuruti perintah Kak Anna, lalu mencuci tangan di wastafel. Begitu berjalan ke ruang makan, Yang Mulia ternyata sudah duduk di kursinya.

"Yang Mulia!"

Rasa gembira yang membuncah langsung menembus dadaku, membuatku berlari dan melompat ke pelukan Yang Mulia serta menempelkan wajahku di dadanya.

"Ah, Maari, selamat pagi."

Yang Mulia tersenyum lembut sambil mengelus kepalaku dengan perlahan.

Setelah beberapa saat menempelkan wajahku di perutnya, tubuhku diangkat dan didudukkan di kursi sebelah kiri Yang Mulia.

"Maari, selamat pagi, nanodesu!"

Kak Faf yang berada di sebelah kanan Yang Mulia mengangkat tangan kanannya.

"Selamat pagi, Kak Faf, dechu!"

"Maari, kalau sudah selesai makan, ayo kita berpetualang, nanodesu!"

"Berpetualang, dechu?"

"Ya, nanti akan kuceritakan, nanodesu!"

Kak Faf mengacungkan kepalan tangan kanannya dengan bangga.

Aku jadi tidak sabar. Petualangan seperti apa yang akan kami lakukan nanti?

"Maari! Ayo berangkat, nanodesu!"

Selesai sarapan, aku mencuci muka lalu bersantai sejenak di atas pangkuan Yang Mulia. Di pintu masuk kediaman, Kak Faf bersama Fen—serigala kecil yang menunggangi kepalanya—serta Kak Mieu sudah menunggu di sana.

"Kalau begitu, hari ini kita akan pergi mencari binatang buas yang muncul di Babel, nanodesu!"

"Ya!"

"Ooh!"

"Ayo berangkat, dechu!"

Kami semua mengacungkan kepalan tangan kanan ke atas untuk menunjukkan tekad kami.

Menurut cerita Kak Faf, Yang Mulia pernah bilang kalau ada binatang buas yang datang ke Babel ini. Katanya, itu adalah makhluk hidup yang sangat berbahaya yang pernah bertarung adu jotos secara serius dengan Yang Mulia.

Sambil memperhatikan sekeliling dengan waspada, kami berjalan di jalan utama Babel. Dari arah depan, terlihat Kak Zack sedang berjalan bersama seorang wanita yang mengenakan gaun putih dan topi di kepalanya.

"Kak Zack!"

Saat aku melambaikan kedua tanganku tinggi-tinggi ke arah Kak Zack—

"Ooh, Maari! Kalian mau pergi ke mana?"

Begitu sampai di depan kami, dia mengelus kepalaku dengan kasar menggunakan tangan kanannya yang keras seperti batu.

"Sekarang kami mau pergi menemui binatang buas, nanodesu!"

Kata Kak Faf, Yang Mulia dan binatang buas itu sudah berdamai setelah saling adu jotos. Jadi, kami tidak perlu bertarung dengannya.

"Aah, maksudmu Take-san, ya... Yah, orang itu walau kelihatan seperti itu sepertinya suka anak-anak, jadi harusnya bakal baik-baik saja."

Kak Zack sempat berpikir sejenak, lalu mengucapkan hal yang tidak begitu kupahami dengan senyuman percaya diri.

"Zack-sama, akhir-akhir ini saya mendengar bahwa kasus penculikan anak sering terjadi di Babel. Bukankah berbahaya jika hanya anak-anak saja yang pergi?"

Wanita bergaun putih itu bertanya kepada Kak Zack sambil menatap kami dengan raut wajah yang sangat cemas.

"Sama sekali tidak perlu khawatir. Terlepas dari bencana alam dahsyat apa pun yang mungkin terjadi di Babel ini, Faf dan yang lainnya adalah orang-orang yang dipastikan akan tetap bertahan hidup."

Setelah menyampaikan ucapan yang terdengar seperti ramalan itu, Kak Zack berkata, "Jangan pulang terlalu larut, ya," lalu berjalan menjauhi kami.

"Binatang buasnya ada di sini, nanodesu!"

Tempat yang ditunjukkan oleh Kak Faf adalah sebuah bangunan terbengkalai yang sudah bobrok.

"Faf-chan, dari mana kau mendapatkan informasi ini?"

Tanya Kak Mieu.

"Aku melihat orang-orang mencurigakan berpakaian hitam masuk ke sini, nanodesu!"

"Orang-orang mencurigakan berpakaian hitam! Hebat sekali Kak Faf, dechu!"

Saat Kak Faf membusungkan dadanya dengan bangga, Kak Mieu membalasnya dengan memasang posisi bertarung yang penuh semangat.

"Orang-orang mencurigakan berpakaian hitam! Pasti mereka sedang melakukan hal jahat! Orang jahat harus segera dihajar! Begitulah yang dikatakan oleh Kuronobatta-san dan Kak Byakko!"

"Akan kubunuh merekaaa!"

Kak Fen juga ikut mengangkat tangan kanannya.

"Akan kubunuh, dechu!"

Aku pun meniru gerakan Kak Faf dan mengacungkan kepalan tangan kananku ke atas.

◇◆◇

Di dalam sebuah bangunan terbengkalai di Babel, transaksi organisasi perdagangan manusia 【Zamzamboo】 sedang berlangsung.

"Sungguh sangat terbantu! Gara-gara Perusahaan Giri, tercipta suasana yang membuat perdagangan budak menjadi sangat sulit dilakukan. Namun, masih banyak bangsawan yang membutuhkan budak."

Seorang pedagang berbadan agak gemuk bergumam sambil memperhatikan beberapa gadis suku beastman di dalam kandang besi besar, seolah-olah sedang menilai kualitas barang dagangan.

"Kami juga sudah berulang kali dibuat menderita oleh Perusahaan Giri! Tapi Anda tidak perlu khawatir. Di belakang kami ada Pangeran Knut dan para bangsawan tingkat tinggi Kerajaan Amelia lainnya. Asalkan syaratnya bukan ras manusia, kami memiliki jalur pasokan yang sangat cukup."

Pria berpakaian hitam menjawab dengan penuh percaya diri.

"Itu sangat bagus! Ini adalah kabar baik bagi kami para pedagang budak!"

Pedagang berbadan gemuk itu berteriak kegirangan.

Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar nyaring dan lantai satu bergetar hebat.

"Ada apa!? Apakah Divisi Keamanan Babel sudah bergerak!?"

Di Babel, penjualan budak dilarang keras. Jika tertangkap, mereka akan langsung ditahan di tempat.

"Sepertinya begitu. Tapi tenang saja. Kita tinggal menghabisi para penyusup itu lalu melarikan diri. Pangeran Knut sudah menyiapkan tempat perlindungan untuk kita."

"Kau bilang menghabisi dengan mudahnya, tapi lawan kita adalah Divisi Keamanan Babel itu!"

"Tentara bayaran di ruangan ini adalah prajurit veteran yang berpengalaman. Dan yang terpenting, ada dua orang ini bersama kita."

Pria berpakaian hitam itu meminta konfirmasi kepada seorang pria berbadan bongsor yang berpakaian seperti tentara bayaran, serta seorang pria kecil yang tampak kurus dan lemah.

"Tentu saja, sama sekali tidak ada masalah. Benar kan, Rokkoro-san?"

Pria berbadan bongsor berpakaian tentara bayaran itu bertanya kepada Rokkoro, pria kurus berbadan kecil.

"Ya, kalau terjadi sesuatu yang darurat, aku akan membantu kalian."

Pria berbadan bongsor yang kekar itu meminta petunjuk kepada pria yang jelas-jelas terlihat lebih lemah darinya. Di saat pedagang berbadan gemuk itu mengerutkan alisnya karena merasa situasi tersebut sangat tidak cocok—

"Di belakang kita ada Pangeran Knut! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"

Tepat ketika dia membanggakan hal itu dengan sombongnya, pintu ruangan hancur terpental, dan tiga orang anak kecil beserta seekor anak anjing masuk ke dalam ruangan.

Salah satunya adalah anak perempuan berambut pirang.

Satunya lagi adalah anak perempuan dari suku beastman.

Dan yang terakhir adalah seorang balita yang usianya jauh lebih kecil.

"Apa-apaan ini?"

"Anak bocah?"

Anak perempuan berambut pirang itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu menghentikan tatapannya pada gadis-gadis yang terkurung di dalam kandang.

"Merek ini orang-orang jahat, nanodesu!"

Ucapnya dengan suara gemetar. Seolah merespons kemarahan anak perempuan berambut pirang itu, anak anjing berwarna putih di atas kepalanya juga memperlihatkan taringnya sambil mengerang pelan.

"Aku tidak akan memaafkan kalian!"

Gadis beastman berambut perak itu juga merendahkan tumpuan tubuhnya dan mengambil posisi siap bertarung.

"Tanduk itu... apakah dia ras naga berambut pirang...? Ras beastman berambut perak juga sangat langka. Tolong tangkap mereka tanpa membunuhnya. Aku akan membeli kedua anak itu dengan harga tinggi!"

Menanggapi permintaan pedagang berbadan gemuk itu—

"Kalian dengar itu!? Dengar ya bajingan, kalau kalian berhasil menangkap kedua bocah itu, kita bisa hidup leha-leha untuk sementara waktu!"

"Hihaa! Ini sungguh luar biasa!"

"Kita bisa pergi ke rumah bordil setiap hari dan bermain dengan para wanita sepuasnya!"

Semua orang gemetar kegirangan.

"Menjijikkan, dechu. Kak Faf dan Kak Mieu adalah teman-temanku yang sangat berharga!"

Balita kecil berambut merah muda itu berteriak keras. Begitu dia mengepalkan tangan kanannya, suara patahan tulang yang mengerikan bergema, dan kedua tangan serta kaki dari sekitar separuh tentara bayaran di ruangan itu langsung patah dan tertekuk secara tidak alami.

“““““““...”””””””

Setelah keheningan singkat, jeritan histeris membumbung tinggi. Para tentara bayaran yang tangan dan kakinya dihancurkan itu berguling-guling di lantai sambil mengerang kesakitan.

"Ya ampun, bocah itu sepertinya bukan manusia biasa. Hei, Pashi!"

"Baik."

Atas perintah pria kecil berbadan kurus itu, seorang tentara bayaran yang kekar mencabut pedang besarnya dan melangkah ke depan.

"Lawan yang satu itu tidak bisa dihadapi dengan cara biasa. Hei Pashi, aku mengizinkanmu mengeluarkan wujud aslimu. Bunuh mereka!"

"Siap!"

Tentara bayaran yang kekar itu membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai mengerahkan tenaga. Asap hitam keluar dari mulutnya yang terbuka lebar dan menutupi seluruh tubuhnya.

Bersamaan dengan suara remukan daging dan tulang yang sangat mengerikan, dia berubah menjadi monster iblis hitam.

"Hii!"

Pria berpakaian hitam itu menyusutkan wajahnya karena ketakutan, sementara tentara bayaran lainnya mengeluarkan jeritan kecil.

"Ooi, Bocah! Berbeda dengan bocah perempuan di sana, kau yang sudah bertindak kelewatan harus mati!"

Sambil membunyikan persendian kedua tangannya, dia mencoba mendekati balita berambut merah muda itu.

Tepat saat balita berambut merah muda itu mengangkat tangan kanannya—

"Ketemu juga!"

Dinding di dekat jendela hancur berkeping-keping, dan seorang pria tampan berambut gelap dengan janggut di wajahnya menerobos masuk.

Di saat semua orang tidak bisa bergerak karena terkejut oleh kejadian yang mendadak ini, pria tampan berambut gelap itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

Wajahnya mengerut penuh rasa jijik saat melihat gadis-gadis di dalam kandang.

Lebih dari itu, raut wajahnya berubah menjadi sangat mengerikan seperti iblis ketika melihat monster hitam kekar yang sedang mendesak maju ke arah balita berambut merah muda.

"Begitu ya... Kalau menghadapi kalian, aku tidak perlu menahan diri lagi, kan?"

Sambil membunyikan persendian kepalan tangan kanannya menggunakan tangan kiri, dia mendekat dengan senyuman bak binatang buas.

Tiba-tiba sosoknya menghilang, dan monster berwarna hitam itu langsung hancur berkeping-keping menjadi serpihan daging yang berhamburan.

"Ha?"

Mungkin karena belum bisa memahami situasi yang terjadi, pria kecil berbadan kurus itu hanya bisa menatap nanar anak buahnya yang telah hancur berkeping-keping.

"Berikutnya giliranmu, kan? Coba perlihatkan sedikit keberanianmu itu?"

Melihat pria tampan berambut gelap yang mendekat dengan senyuman binatang buas, pria kecil berbadan kurus itu akhirnya tersadar. Dia melompat ke belakang lalu membentuk segel tangan—

"Jangan remehkan aku! Manusia biasa tidak usah sok hebat!"

Dia berubah menjadi monster bunglon yang berdiri dengan dua kaki.

"Emm, biarpun berubah wujud, kau tetap tidak kelihatan begitu kuat."

Pria tampan berambut gelap itu bergumam seorang diri. Dalam sekejap, dia cengkeram kepala monster bunglon itu lalu mengangkatnya ke udara.

"L-Lepaskan aku! Gigigigugigigigigagaga!"

Tiba-tiba, petir berwarna hitam mengalir ke seluruh tubuhnya dan menghanguskannya menjadi arang dalam sekejap.

"Membosankan sekali. Apa cuma sampai di sini saja?"

Hanya karena ditatap oleh pria tampan berambut gelap itu, seluruh tubuh pria berpakaian hitam langsung tegang ketakutan.

"K-Kalau kau melukaiku, Pangeran Knut tidak akan tinggal diam!"

"Knut? Tidak tahu tuh. Aku tidak begitu paham dengan urusan di dunia ini."

Sambil mengepalkan tangan kanannya erat-erat, pria tampan berambut gelap itu berjalan mendekat secara perlahan.

"M-Memihaklah kepada kami! Jika kau melakukan itu, wanita dan kekayaan bisa kau dapatkan sepuasnya!"

"Aku sama sekali tidak tertarik!"

Kepalan tangan kanan pria tampan berambut gelap yang keras seperti batu mendarat telak di wajah pria berpakaian hitam, membuatnya terpental menembus dinding bangunan dan menghilang.

Tak lama setelah itu, beberapa pria dan wanita bersenjata menerobos masuk ke dalam ruangan—

"Jangan melawan! Kami dari Guild Hunter! Perdagangan manusia organisasi 【Zamzamboo】, kalian semua kami tahan!"

Seketika itu juga, seluruh anggota yang masih bertahan hidup berhasil ditangkap tanpa sisa.

◇◆◇

Bahkan bagi awam sekalipun, itu adalah pertarungan yang sangat hebat!

Mungkin pria berambut gelap ini sama kuatnya dengan Paman Giri dan yang lainnya!

Buktinya, Kak Faf dan Kak Fen masih belum menurunkan kewaspadaan mereka.

Aku yakin paman ini berada di tingkat kekuatan yang jauh melampaui bayanganku. Tapi, entah kenapa, aku sama sekali tidak merasa takut pada paman ini. Makanya—

"Terima kasih banyak."

Aku berjalan mendekat, lalu membungkukkan kepala untuk memberi hormat.

"Ooh, senang melihatmu sangat bersemangat!"

Dia mengelus kepalaku dengan kasar sambil tersenyum.

"Kalian tidak apa-apa!? Apakah ada yang terluka!?"

Seorang wanita berkulit gelap dengan potongan rambut pendek yang sepertinya adalah staf Guild Hunter berlari dengan wajah panik.

Dia mendorong pria tampan berambut gelap itu ke samping, lalu mendekati kami dan menanyakan keselamatan kami.

"I-Iya, kami tidak apa-apa, dechu."

Saat aku mengangguk dengan ragu-ragu, dia langsung memeluk kami erat-erat sambil mengembuskan napas lega yang panjang.

Setelah berdiri, dia menatap pria tampan berambut gelap itu dengan pandangan kesal—

"Take-san, kenapa kau malah membunuh dua orang yang kelihatan seperti dalangnya!? Kalau begini kan kita tidak bisa menggali informasi dari mereka!"

Tanyanya dengan nada heran.

"Tidak, mau bagaimana lagi... refleks saja..."

"Jangan bilang refleks! Kalau begini, kita tidak bisa melacak siapa dalang utamanya! Usaha kita yang sudah bekerja keras melakukan penyelidikan rahasia selama ini jadi sia-sia!"

"Maaf deh. Aku sama sekali tidak menyangka kalau mereka bakal selemah itu..."

"Haah, kenapa kau malah bicara seperti Kai-san sih..."

Wanita itu menghela napas panjang—

"Kalau begitu, aku ingin mendengar keterangan dari kalian juga, jadi tolong ikuti aku ya."

Dia mengedipkan sebelah matanya lalu mulai berjalan.

Kak Faf dan Kak Mieu sepertinya juga sudah sepenuhnya luluh oleh kelembutan aura kakak berkulit gelap itu, sehingga mereka mengikutinya dengan penurut.

Setelah itu, kami dibawa ke sebuah bangunan besar milik Guild Hunter dan mendapatkan teguran dari staf wanita Guild Hunter karena telah melakukan hal yang berbahaya.

Saat hendak pulang, Paman Take—pria tampan berambut gelap itu—menghampiri kami.

"Kalian juga jangan sampai membuat orang itu khawatir lagi, ya."

Ucapnya sambil mengelus kepala kami.

"Apakah kau kenal dengan Tuan Kita, nanodesu?"

"Ah, bisa dibilang kami ini teman."

Aku bisa merasakan kewaspadaan Kak Faf dan yang lainnya terhadap Paman Take langsung menghilang seketika.

"Aku mengerti, nanodesu!"

Kami semua mengucapkan terima kasih lalu pergi menuju lantai satu bangunan untuk pulang.

Tepat di saat itu, Yang Mulia baru saja masuk ke dalam bangunan.

Yang Mulia berjalan ke hadapan kami dengan raut wajah cemberut, lalu berjongkok untuk menyamakan pandangan dengan kami semua.

"Kalian semua, aku sudah mendengarnya. Sepertinya kalian bertindak nekat lagi, ya. Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang kuat. Kali ini kalian beruntung karena lawan kalian cuma kroco, tapi keberuntungan seperti itu tidak akan bertahan selamanya. Kalian paham, kan?"

"Maafkan kami... nanodesu."

Saat kami menunduk dengan lesu, Yang Mulia memeluk kami erat-erat—

"Tapi, syukurlah kalian benar-benar selamat."

Gumamnya dengan penuh perasaan.

Hidungku terasa mampat dan dadaku terasa sesak oleh rasa haru, membuat kami semua balik memeluk Yang Mulia erat-erat.

Di bawah langit barat yang terhiasi oleh awan tipis memanjang berwarna jingga kemerahan, kami semua berjalan pulang sambil bergandengan tangan.

"Apakah Yang Mulia akan selalu bersamaku, dechu?"

Tiba-tiba rasa cemas menghampiriku, membuatku menengadah dan bertanya padanya.

Yang Mulia sempat berpikir sejenak, namun kemudian—

"Ya, kita akan selalu bersama."

Jawabnya dengan sangat tegas. Hal itu membuatku sangat bahagia, hingga aku kembali memeluk Yang Mulia sekali lagi.

Dan aku pun—berdoa agar kebahagiaan ini bisa terus berlanjut selamanya.



Afterword | ToC

1 comment

1 comment

  • mob
    mob
    2/10/26 23:28
    Bisakah Anda menerjemahkan sebuah *light novel* Game World Reincarnation ~ Game Addicts Plays “Encouragement For Job Hunting In Dungeons” From a “New Game”~ (LN) ?
    Reply
close