Chapter 1
Insiden Serangan Puppet Dead
Sudah sekitar satu bulan berlalu sejak aku jatuh
pingsan akibat sengatan panas.
Saat aku memasuki ruang kelas tahun pertama
Jurusan Dukungan Tempur dan duduk di kursi barisan paling belakang di tengah,
dua siswa laki-laki yang menyadari kehadiranku berjalan mendekat.
"Kain, pagi! Kamu kelihatan ngantuk lagi, ya!
Semalam habis
begadang gara-gara asyik 'main solo', kan!"
Salah satu dari mereka berdua
sengaja menyisir rambut pirangnya dengan gaya yang dibuat-buat, lalu
melontarkan candaan vulgar yang sangat tidak pantas didengar itu.
"Katakanlah, Takeshi, tolong jangan samakan
aku denganmu."
Seperti biasa aku menepisnya, namun para siswi
malah memandang kami berdua dengan tatapan seolah melihat kotoran dan mulai
berbisik-bisik.
"Pfft! Jelas beda, lah!"
Entah apa yang lucu, tapi dia kembali menyisir
rambutnya dan tertawa terbahak-bahak sambil melirik ke arah para siswi.
Kalian pasti sudah paham. Takeshi Kijima
benar-benar berpikir bahwa percakapan vulgar semacam ini akan membuatnya
populer di kalangan perempuan. Benar-benar pemuda yang memalukan. Padahal
kenyataannya, dia hanyalah seorang perjaka suci yang belum pernah pacaran sama
sekali.
Di sisi lain—
"Pasti Kain sedang membayangkan malam yang
panas dengan gadis cantik berambut hitam yang pernah mendekatinya di loker
sepatu dulu! Hah hah, semalaman dengan gadis secantik itu... rasanya hidungku
mau mimisan beneran!"
Yang satu ini, pasti serius.
Siswa bertubuh mungil berkacamata yang sedang
meremas-remas kedua tangannya ini bernama Makoto Kuonji.
Berbeda dengan Takeshi yang hanya
sok mesum agar terlihat keren, anak ini benar-benar mesum sejati. Gara-gara
tingkah laku aneh mereka berdua, kami bertiga diperlakukan seperti penyakit
menular di kelas.
Ngomong-ngomong, dari tadi
punggungku terasa sangat dingin. Apa aku masuk angin?
"Ada apa?"
Melihatku memeluk tubuhku sendiri sambil
menggigil, Takeshi mengernyitkan dahi dan bertanya.
"Tidak, aku hanya merasa sedikit
kedinginan."
"Wajahmu memang kelihatan agak pucat. Lagipula, fisikmu kan tidak kuat.
Bukankah lebih baik kamu pergi ke ruang UKS?"
Mendengar saran yang diucapkan
Takeshi dengan wajah serius itu—
"U-UKS!? Kain berduaan di
ranjang dengan gadis super cantik itu... Mufufu!"
Oi oi, Tuan Mesum. Hentikan omong kosongmu. Kalau
kamu terus-terusan begini, kamu bisa benar-benar dilaporkan ke polisi.
Meski begitu, aku merasa rasa dinginku malah
bertambah tiga puluh persen. Namun, kalau aku pergi ke UKS di saat seperti ini,
rumor yang beredar tentang kami pasti akan semakin aneh. Aku harus mencari
alasan.
"Apakah kalian tahu pengumuman dari
Organisasi Hunter mengenai Distrik Katsushika yang baru saja direbut oleh
mereka?"
Topik pembicaraan yang tiba-tiba kuubah ini
membuat mereka berdua terdiam sejenak.
Setelah keheningan yang sedikit canggung berlalu—
"Ya, aku melihatnya di berita."
"Aku juga..."
Keduanya mengangguk dengan wajah seolah baru saja
menelan pil pahit. Wajar saja jika calon hunter seperti mereka tidak bercanda
ketika membicarakan topik semacam ini.
"Tapi, kalau kita berhasil merebutnya
kembali—"
"Itu akan sangat sulit."
Aku langsung membantah pendapat optimis Takeshi.
"Kenapa kamu berpikir begitu, Kain?"
Makoto menanyakan hal yang tak perlu dipikirkan
lagi itu dengan wajah yang tak biasa seriusnya.
"Coba pikirkan. Markas di Distrik Katsushika
yang melakukan perlawanan sengit itu adalah kota benteng. Mereka terpaksa harus
meninggalkan pertahanan kota itu. Jika pihak vampir tidak bodoh, saat ini
mereka pasti sudah merombak markas tersebut menjadi dipenuhi dengan jebakan.
Apalagi, menyerang sebuah benteng itu jauh lebih sulit berkali-kali lipat
daripada mempertahankannya. Merebutnya kembali akan sangat mustahil."
"Itu artinya, batas waktunya juga..."
"Ya, setengah tahun itu akan
berlalu dalam sekejap. Jika batas waktu yang ditentukan telah lewat, pasukan
vampir akan masuk. Jika itu
terjadi, maka distrik yang baru saja direbut ini akan tamat."
Di dunia ini, terdapat aturan yang bisa dikatakan
sebagai garis hidup bagi pihak umat manusia.
Pertama, vampir dan pelayannya sama sekali tidak
bisa menginjakkan kaki di wilayah yang dikuasai oleh umat manusia yang
dikelilingi oleh dinding putih.
Kedua, setiap tiga bulan sekali, umat manusia bisa
menyerang tanah di luar dinding putih dan area yang dikelilingi oleh dinding
hitam melalui sebuah gerbang (Gate) dengan batas waktu lima hari, dengan jumlah
personel tidak lebih dari seratus orang.
Namun, para vampir sendiri tidak
bisa bergabung dengan pasukan yang menyerang.
Ketiga, jika tanah yang berada di
antara dinding putih dan hitam ini berhasil diduduki oleh pihak vampir,
penghalang akan dipertahankan hanya selama setengah tahun, dan pasukan baru
pihak vampir tidak bisa masuk.
Keempat, selama masa setengah
tahun setelah dikuasai oleh pihak vampir, jika umat manusia berhasil merebut
kembali tanah yang diduduki, penghalang dinding hitam akan dipertahankan.
Sebaliknya, jika umat manusia
gagal merebutnya kembali, penghalang dinding hitam akan runtuh dan menghilang.
Kelima, setelah dinding hitam
menghilang, dinding putih yang bersebelahan dengannya akan berubah menjadi
dinding hitam, dan dinding putih baru akan muncul di dalam wilayah kekuasaan
umat manusia.
Kelima aturan ini mutlak. Karena itulah, para
vampir tidak bisa menyerang wilayah kekuasaan umat manusia dengan paksa.
Dalam aturan ini, serangan dari pihak vampir ke
pihak manusia sangat dibatasi, namun sebaliknya, serangan dari pihak manusia ke
wilayah vampir sama sekali tidak dibatasi.
Meskipun aturannya sangat merugikan pihak vampir,
ruang lingkup aktivitas umat manusia terus-menerus dirampas secara perlahan.
Hal ini semata-mata karena perbedaan kekuatan
tempur yang luar biasa dengan kubu vampir.
Jika kita terus kalah dengan ritme seperti ini,
maka tak lama lagi bumi akan menjadi milik para vampir itu.
"Yah, umat manusia tidak selemah itu!
Daripada memikirkan itu, mau mampir ke suatu tempat sepulang sekolah nanti
untuk menyegarkan pikiran? Kita kan sebentar lagi akan sibuk dengan ujian
praktik."
Takeshi menepuk punggungku berulang kali lalu
mengajukan tawaran itu.
"Boleh juga! Aku ingin makan sepuasnya atau
sesuatu yang bisa membuat perut kenyang. Bagaimana menurutmu, Makoto?"
Aku juga mengangguk setuju dan bertanya pada
Makoto.
"Maaf, sepulang sekolah hari ini aku ada
urusan, jadi sepertinya aku tidak bisa ikut."
Dengan nada menyesal, Makoto menolaknya. Makoto
memang banyak mengikuti les dari keluarganya dan biasanya sangat sibuk, tapi
dia cukup mudah diajak bergaul.
Jadi, hari ini dia pasti punya urusan yang
benar-benar tidak bisa ditinggalkan.
"Ya sudah, mau bagaimana lagi. Hari ini kita
berdua saja makan ramen ringan!"
"Ayo! Makan bersama-sama semuanya nanti saja
di lain waktu!"
Saat aku mengatakan itu, wali kelas masuk ke ruang
kelas. Sepertinya homeroom pagi akan segera dimulai.
Pelajaran sore hari adalah latihan gabungan di
lapangan latihan untuk menentukan anggota tim dalam simulasi pertarungan nyata
nanti.
Aku baru saja menyentuh bola kristal raksasa yang
berfungsi untuk mengukur Mana dengan telapak tangan kananku, lalu
menyalurkan Mana-ku ke dalamnya. Namun, bola raksasa itu sama sekali
tidak bereaksi.
"Mana di bawah 1."
Gunjingan para siswa dari Jurusan Taktik
Pertempuran yang sedari tadi mengawasi hasil dari jauh pun terdengar di
telingaku.
"Hei, kudengar Mana anak
Jurusan Dukungan itu di bawah 1, loh. Baru pertama kali ini aku melihat hasil pengukuran seperti itu!"
"Kamu nggak tahu, ya? Dia itu si pengangkut
barang paling lemah, Kain Tsukishiro."
"Aku mana peduli sama pecundang kayak dia,
makanya aku nggak tahu! Tapi, pengangkut barang paling lemah, ya. Julukannya
keren juga. Apa dia punya kemampuan manipulasi ruang?"
"Sepertinya begitu. Tapi karena Mana-nya
di bawah 1, kurasa dia cuma bisa menyimpan sedikit barang."
"Terus kenapa dia nggak dikeluarkan aja!? Cuma jadi beban doang, kan!"
"Kemampuan manipulasi ruang itu sangat
langka, makanya. Kalau nggak, orang nggak berguna kayak dia nggak mungkin bisa
masuk ke sekolah ini."
Secara garis besar, mereka sudah menjelaskannya.
Benar. Kemampuan yang kupublikasikan di sekolah
ini adalah 'Item Box'.
Alasan aku diberikan status sebagai siswa di
sekolah ini hanyalah karena kemampuanku ini sangat berharga dan berguna untuk
urusan logistik.
Tentu saja kemampuanku ini sama sekali tidak
berguna dalam pertarungan, makanya aku sering diejek dengan julukan
"Pengangkut Barang Terlemah" di sekolah ini.
"Kain, jangan dipikirkan. Biarkan saja mereka
bicara apa yang mereka mau."
Sambil memelototi para siswa dari Jurusan Taktik
Pertempuran yang sedang membicarakanku, Takeshi mendekatiku dan berkata dengan
nada marah.
"Benar sekali! Kemampuan Kain itu sangat
berguna! Kita bisa melihat koleksi majalah dewasa simpanannya kapan pun kita
mau!"
Makoto, tolong jangan mengatakan keinginan yang
penuh dengan nafsu duniawi seperti itu tanpa rasa malu.
Coba lihat tatapan para gadis di sekitar kita,
mereka menatapku seperti melihat kotoran. Mereka pasti mengira aku selalu
melakukan hal seperti itu setiap hari.
Ah! Rasa dingin misterius itu muncul lagi!
"Terima kasih, kalian berdua. Tapi aku tidak
apa-apa, kok. Lagipula, aku sama sekali tidak peduli."
Lebih tepatnya, aku malah merasa sedikit bangga
karena dianggap tidak berguna.
"..."
Keduanya menatapku dengan mata seolah sedang
melihat hal yang tak bisa dipercaya.
"Ada apa?"
"Kain, apa kamu masokis?"
Mereka berdua lalu melontarkan kata-kata yang
tidak enak didengar itu.
Sepulang sekolah, ketika aku dan Takeshi keluar
dari gerbang sekolah untuk pergi ke kedai ramen terdekat—
"Tunggu sebentar, kalian berdua!"
Kami dihentikan oleh panggilan Makoto.
Setelah berlari menghampiri kami, Makoto bertanya,
"Ada apa?"
"Jadwalku kebetulan kosong, jadi kalau kalian
mau, ayo kita pergi ke 'Sweets Wood' sekarang!"
Dia memberikan tawaran itu.
"Boleh saja, tapi di mana itu 'Sweets
Wood'?"
"Itu adalah toko spesialis makanan manis yang
sangat populer di kalangan perempuan."
Aku menjelaskannya kepada Takeshi, yang sepertinya
sama sekali tidak tahu. Toko semacam itu sepertinya memang bukan tempat yang
biasa dikunjungi oleh Takeshi.
"Hmm, makanan manis ya..."
Dia memang orang yang jujur. Ketidaktertarikannya
terlihat jelas.
Yah, bagi Takeshi yang pada dasarnya mengutamakan
nafsu makan, restoran yakiniku makan sepuasnya pasti jauh lebih menggugah
seleranya daripada aku.
"Di kalangan sebagian siswa laki-laki di
Kazatsuki, 'Sweets Wood' juga populer, loh. Tahu kenapa?"
"Karena rasanya enak, kan?"
Makoto menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan
ke kanan dengan bunyi 'ck ck ck', lalu berkata.
"Konon katanya, seragam pelayannya sangat
imut. Gimana? Nggak penasaran pengin lihat?"
Sambil tersenyum jahat, Makoto mendekati Takeshi
dan menunjukkan foto dari 'Sweets Wood'. Hmm, Makoto yang sekarang ini
benar-benar terlihat seperti pejabat korup atau pemimpin organisasi kejahatan.
"Seragam imut..."
Mendengar Takeshi menelan ludah, aku pun menghela
napas pelan. Sepertinya dia berhasil terbujuk.
"Kain, kalau kamu—"
"Aku suka makanan manis, jadi aku tidak
keberatan."
Aku memotong perkataan Makoto dan menyetujuinya.
"Kalau begitu, sudah diputuskan. Ayo kita
pergi ke tempat bernama 'Sweets Wood' itu!"
Takeshi berteriak dengan napas memburu, dan kami
pun mulai berjalan menuju stasiun tempat 'Sweets Wood' berada.
'Sweets Wood' adalah bangunan yang sangat imut dan
bernuansa dongeng, tipe tempat yang pasti disukai oleh para perempuan. Bagian
dalamnya bahkan didesain jauh lebih girly daripada penampilannya di
luar.
Tentu saja, mayoritas pengunjung toko ini adalah
perempuan, sehingga bagi kami yang laki-laki, tempat ini terasa sangat
mengasingkan.
Tentu saja, bukan berarti tidak ada laki-laki sama
sekali. Ada beberapa pelanggan menyebalkan yang datang dengan niat mesum karena
seragam toko ini imut, dan para pelanggan perempuan lainnya selalu menatap
mereka dengan tatapan bermusuhan.
Ya, persis seperti tatapan yang kami terima
sekarang.
Saat kami duduk dan melihat menu, Takeshi
terus-menerus menarik lengan bajuku.
(Hei, Kain, Makoto, gadis itu imut banget kan!?)
Dia meminta persetujuan dengan suara melengking.
(Yah, secara umum memang imut, sih.)
(Setuju.)
Di arah pandangan Takeshi, seorang wanita cantik
dengan rambut merah panjang yang diikat dengan pita kuning di belakang sedang
melayani pelanggan.
Saat melihat kami, wanita itu—
"..."
Dia membelalakkan matanya sesaat dan tubuhnya
menegang, tetapi—
"Selamat datang!"
Dia segera menghampiri kami dengan senyuman segar,
lalu meletakkan gelas kaca berisi air es di meja kami.
"T-T-Terima kasih!"
Karena sangat panik, Takeshi menjawab dengan suara
yang parau. Dia terlihat sangat gugup.
Dalam situasi seperti ini, Makoto yang biasanya
selalu melontarkan komentar pelecehan seksual, entah kenapa hanya diam dan
mengamati kejadian itu dengan raut wajah seolah sedang melihat sesuatu yang
menarik.
"Silakan panggil saya jika Anda sudah
memutuskan pesanan."
Setelah membungkuk dengan anggun, dia pergi
melayani pelanggan baru lainnya.
"Mako-chan ya... Dia
benar-benar imut..."
Dia pasti melihat papan nama di dada kanan wanita
itu. Sambil bertopang dagu, Takeshi terus bergumam linglung sambil memandangi
Mako, gadis berambut merah yang sedang melayani pelanggan lain.
Bukan cuma Takeshi. Semua pengunjung laki-laki
yang datang ke toko ini juga menatapnya dengan pipi merona, tanpa terkecuali.
(Hei, Makoto, kamu kenal dengan gadis itu?)
Aku berbisik pada Makoto yang duduk di sebelahku.
Tadi aku merasa gadis berambut merah itu sempat
mematung sesaat saat melihat kami.
Karena aku dan Takeshi sama sekali tidak
mengenalnya, satu-satunya kemungkinan adalah Makoto.
"Uho! Gadis berdada besar itu
benar-benar luar biasa! Gadis berpantat besar di sebelah sana juga bikin
gairahku naik!"
Tanpa menjawab pertanyaanku sama
sekali, Makoto malah meneriakkan suara aneh yang menjijikkan sambil menatap
para pelayan lain dengan tatapan mesum bagaikan sedang mengincar mangsa.
Hmm, entah kenapa Makoto hari ini terlihat lebih
agresif dari biasanya. Padahal biasanya dia tidak pernah melontarkan komentar
cabul seterus terang ini kepada perempuan.
"..."
Mendengar Makoto meneriakkan komentar cabul dengan
lantang, tatapan penuh kecaman dari para pelanggan di sekitar kami pun langsung
tertuju padanya.
"Makoto, kumohon hentikan..."
Untuk menghentikan komentar cabulnya, aku
mengguncang bahu Makoto yang duduk di sebelahku agar dia menghentikan
kelakuannya.
Tatapan dari para pelayan itu bahkan lebih menusuk
daripada tatapan para pelanggan. Sekarang tatapan mereka sama persis dengan
tatapan gadis-gadis di kelas kami.
Tentu saja, sekeras apa pun aku menegurnya, si
mesum ini tidak akan berhenti—
"Cukup!"
Terdengar teriakan marah dari seorang wanita.
"Maafkan saya! Saya akan segera mengurus si mesum ini!"
Aku buru-buru memiting Makoto yang
ada di sebelahku dari belakang, lalu menutup mulutnya dengan tangan kananku
sambil mengucapkan permintaan maaf, tetapi—
"Bukan. Bukan Makoto..."
Mendengar suara tegang Takeshi
yang seperti dipaksakan keluar itu, aku pun mengalihkan pandanganku dan melihat
Mako yang sedang menatap tajam empat orang siswa berseragam 'Kazatsuki' di
kursi dekat jendela.
"Hei, barusan anak ini main
tangan padaku, kan?"
Salah satu siswa laki-laki
bertubuh agak gemuk di antara keempat orang itu menyeringai, membuat pipinya
yang tembem tampak semakin mengembang, seraya meminta persetujuan dari
siswa-siswa lain yang sepertinya adalah pengikutnya.
"Ya, benar kata Tatsuya-san!"
"Dia tadi memukul tangan Tatsuya-san!"
Mereka berdiri dan mulai memaki serta menyudutkan
Mako satu per satu.
"Takeshi, apa yang sebenarnya terjadi?"
Saat aku bertanya pada Takeshi yang sedang menatap
mereka dengan ekspresi marah—
"Orang itu memegang pergelangan tangan kanan
Mako-chan, dan Mako-chan marah lalu..."
"Lalu Mako menepisnya?"
"Ya."
"Dan jadilah keributan ini. Benar-benar
konyol."
Saat aku berkata demikian—
"Aku akan memanggil polisi sekarang
juga—"
Takeshi merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel
pintarnya, dan bersiap untuk menelepon.
Melihat hal itu—
"Tidak perlu. Biar aku yang
urus."
Aku menghentikannya dengan tangan
kananku dan menyatakan hal itu dengan nada tegas.
"Kamu yang urus!? Mana mungkin kamu bisa
melakukannya! Lawannya itu keluarga Akizuki, lho!?"
"Keluarga Akizuki? Jadi dia itu si 'Tatsuya
Akizuki' yang terkenal buruk reputasinya itu, ya."
Bahkan aku yang tidak terlalu peduli dengan urusan
sekolah pun tahu nama itu.
Tatsuya Akizuki adalah orang yang cukup terkenal
di 'Kazatsuki'.
Tentu saja bukan dalam artian yang baik, melainkan
karena dia adalah bajingan busuk yang sama sekali tidak boleh diajak berurusan.
Kakeknya adalah direktur perusahaan Akizuki,
ibunya adalah seorang pimpinan perusahaan, kerabatnya pernah menjabat sebagai
menteri di parlemen, dan ayahnya adalah orang penting di dunia hunter.
Singkatnya, keluarga Akizuki adalah 'raja' yang
secara praktis menguasai Jepang saat ini. Jika kamu berani menentangnya, kamu
tidak akan bisa hidup di negara ini.
Karena itulah, staf sekolah 'Kazatsuki' maupun
polisi berada dalam posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap keluarga
Akizuki secara terang-terangan.
Beredar rumor gelap bahwa Tatsuya Akizuki
memanfaatkan posisinya untuk berbuat sesuka hati.
Mengingat situasi saat ini, sepertinya rumor itu
memang benar adanya.
"Benar, makanya—"
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan terluka, dan
aku juga tidak akan membiarkan kalian terluka."
Untuk menghilangkan kekhawatiran Takeshi, aku
bersumpah seperti itu.
Keluargaku mengelola dojo seni bela diri kuno yang
memiliki tradisi panjang, dan sejak dulu aku telah menjalani latihan keras
hingga berdarah-darah.
Kakekku, yang merupakan asisten instruktur, telah
mengakui bahwa kemampuan taijutsu dan kenjutsu-ku saja sudah setara dengan
kemampuan pro hunter yang masih aktif.
Memang, secara umum dikatakan bahwa akan sulit
untuk memberikan damage dalam pertarungan melawan bawahan vampir jika bukan
menggunakan sihir pertempuran atau Skill.
Karena itu, aku sepertinya tidak akan banyak
berguna dalam pertarungan melawan monster, namun untuk pertarungan
antarmanusia, kemampuanku lebih dari cukup. Apalagi lawan kali ini hanyalah
sesama siswa.
Dalam hal ini, jika mereka menggunakan sihir
pertempuran atau Skill dalam perkelahian antarsiswa, bahkan jika dia
adalah bagian dari keluarga Akizuki, urusannya tidak akan selesai begitu saja.
Kalau sampai salah langkah, dia bisa mendekam di
penjara dan makan nasi basi untuk waktu yang lama.
Mereka tidak mungkin sebodoh itu. Dengan kata
lain, kemungkinannya adalah sembilan puluh persen kami akan bertarung dengan
tangan kosong. Jika begitu, aku pasti bisa mengatasi situasi ini dengan baik.
"T-Tunggu, Kain, bukan itu maksudku—!"
Aku mengabaikan Takeshi yang berusaha keras
menghentikanku, mengambil gelas dari atas meja, lalu berjalan mendekati mereka.
Terlebih lagi, mengingat sifat Takeshi yang polos,
jika aku tidak bertindak sekarang, dia pasti akan ikut campur dalam masalah
ini. Dan itu adalah tindakan terburuk yang bisa terjadi.
"Kalau sampai ketahuan kamu bekerja di tempat
seperti ini, pasti bakal jadi masalah besar buatmu, kan?"
Mendengar ancaman dari Tatsuya
yang pipinya mengembang sambil menyeringai licik itu—
"..."
Mako membelalakkan matanya, tetapi
dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan frustrasi.
"Pokoknya, ikut aku! Kita bicarakan baik-baik
soal ini nanti!"
Tatsuya Akizuki yang hendak menarik pergelangan
tangan Mako tiba-tiba kulempar dengan segelas air tepat di kepalanya.
"..."
Dia memandangi dirinya sendiri yang basah kuyup
dengan wajah tercengang selama beberapa saat, kemudian menoleh ke belakang dan
saat melihatku, wajahnya langsung memerah seperti gurita rebus.
"Keparat!"
Dia mengamuk dan mencoba memukulku
sambil berteriak. Aku dengan mudah menghindari pukulannya yang lambat layaknya
lelucon itu.
Saat aku terus-menerus menghindari
pukulan Tatsuya yang bodoh, Tatsuya mulai terengah-engah sambil menyeka
keringatnya yang bercucuran.
"Kalian ngapain diam aja!? Cepat bantu
aku!"
Dia memberi perintah kepada para anteknya.
"B-Baik!"
Para siswa laki-laki yang menjadi anteknya
langsung melompat dan mencoba menyerangku.
Aku terus menghindari mereka semua.
Setelah aku terus-menerus menghindar, akhirnya
antek terakhirnya pun kehabisan tenaga dan terduduk di lantai sambil
terengah-engah.
Benar-benar tidak bisa dipahami.
Mengesampingkan anak manja yang sepertinya masuk lewat jalur belakang karena
koneksi orang tuanya itu, bukankah para siswanya juga berasal dari Jurusan
Taktik Pertempuran?
Dengan teknik bertarung yang belum
matang seperti ini, apa mereka bisa bertahan dalam pertarungan melawan pelayan
vampir?
"Cuma bisa lari-lari aja! Dasar
pengecut!"
"Pengecut? Bukankah kalian yang main keroyok
itu jauh lebih pengecut?"
"Berisik! Berisik! Jangan
berani-beraninya menasihatiku! Kalau kamu menghindar lagi, aku bakal laporin
kamu ke polisi!"
Dia meneriakkan omong kosong
semacam itu.
"Baiklah. Aku tidak akan
menghindar."
Sebenarnya aku berniat untuk
menyelesaikannya secara damai ketika dia sudah mulai kelelahan dan darah yang
naik ke kepalanya sudah turun.
Tapi karena dia sendiri yang memintanya, mau
bagaimana lagi. Akan kugunakan sedikit kekerasan.
"Bagus! Diam saja dan biarkan aku
memukulmu!"
Aku menahan tangan kanannya yang melambai lebar
dengan tangan kiriku, lalu memelintir tubuhnya beberapa kali sebelum
membantingnya ke lantai.
Setelah itu, aku menahan tubuhnya yang telentang
ke lantai dengan telapak kakiku.
"Lepaskan! Lepaskan! Dasar sampah! Lepaskan,
kubilang!"
Aku memindahkan kakiku ke leher Tatsuya yang
sedang meronta-ronta sambil berteriak, lalu menekannya pelan hingga dia
tercekik.
"Gah!"
Dia mengerang kesakitan.
"Sialan!"
Salah satu anteknya mengambil garpu dari meja dan
menusukkannya dari belakang ke arah bahuku. Tanpa menoleh sedikit pun, aku
menepisnya dengan tangan kananku dan mengarahkannya ke dekat wajah Tatsuya.
Garpu itu meleset beberapa sentimeter dari kepala Tatsuya dan menancap di
lantai.
"Hii!"
Akhirnya, Tatsuya yang mulutnya berbusa pun
pingsan. Tanpa memberi jeda sedetik pun, aku menyapu kaki siswa laki-laki yang
tadi menusukkan garpu itu.
Siswa itu terpelanting beberapa kali, lalu jatuh
telentang ke lantai tanpa sempat menahan tubuhnya dan menjerit kesakitan.
Aku menoleh ke arah antek-antek Tatsuya yang
membeku tercengang, lalu berkata dengan nada tegas—
"Kalian mengganggu kenyamanan restoran, jadi
cepat bawa mereka dan pergi dari sini."
Tepat saat aku memberikan instruksi tersebut—
"Angkat tangan!"
Sekelompok polisi menerobos masuk ke dalam toko
dan mengacungkan moncong pistol mereka kepadaku.
"Waduh."
Sesuai perintah, aku mengangkat kedua tanganku.
Mungkin pemilik toko atau semacamnya yang melapor.
Gawat juga. Kalau perkelahian besar ini sampai ketahuan sekolah, aku bisa
dikeluarkan.
Apalagi aku sudah membuat si anak manja dari
keluarga Akizuki ini pingsan di depan umum, dan yang kulakukan barusan juga
bisa dianggap sebagai tindakan kekerasan.
Terlebih lagi, aku sama sekali tidak berpikir
kalau polisi akan menganggap tindakanku sebagai pembelaan diri dalam situasi
seperti ini.
Yah, apa boleh buat. Mengingat nilaiku yang bisa
membuatku dikeluarkan kapan saja, kurasa sekarang sudah terlambat untuk
menyesal.
Polisi itu mendekatiku, memborgol kedua tanganku,
dan berkata—
"Kamu ditahan atas tuduhan penganiayaan
terhadap putra keluarga Akizuki."
Dia menyatakan hal itu seolah-olah mengabaikan
pemuda antek Tatsuya yang masih mengerang kesakitan di lantai—tepat pada saat
itu—
"Tidak perlu menahannya!"
Seorang siswi berambut hitam model bob dengan
seragam Kazatsuki berteriak lantang sambil menerobos barisan polisi.
"Siapa kau?"
Seorang pria kekar berjenggot yang sepertinya
adalah polisi berpakaian preman menanyakan hal itu dengan tenang, lalu—
"Aku kakak dari orang yang
pingsan di situ."
Sambil mengacungkan jempolnya ke arah Tatsuya, dia
melontarkan kata-kata itu.
"Kakak... Kami mohon maaf!"
Polisi berpakaian preman yang berjenggot itu
segera membetulkan postur tubuhnya dan berseru lantang.
"Adik bodohku itu ketahuan menyerang pelayan
di toko ini, lalu dia ditolong oleh anak laki-laki itu. Kalau mau menangkap
seseorang, tangkap saja adikku itu."
"..."
Para anggota kepolisian tampak mengerutkan dahi
seolah memakan sesuatu yang sangat pahit.
Sepertinya mereka enggan membawa Tatsuya ke kantor
polisi dan menanggung kebenciannya.
"Anak itu memang harus dimasukkan ke penjara
biar bisa introspeksi diri. Aku akan berbicara pada ayahku nanti. Aku tidak
akan menyusahkan kalian."
Polisi preman berjenggot itu terdiam sejenak
sebelum kembali bersikap tegap dan memberi hormat, lalu membawa pergi Tatsuya
yang pingsan.
"Kalau begitu, aku juga—"
Karena borgolku sudah dilepas, aku bermaksud
memanfaatkan keributan ini untuk kabur, namun—
"Kami juga perlu mendengar
keterangan darimu. Silakan
ikut kami ke kantor polisi."
Polisi preman itu memberikan instruksi dengan nada
yang tidak menerima penolakan.
◇◆◇
Aku dibawa ke kantor polisi untuk dimintai
keterangan, jadi aku menceritakan kejadiannya secara singkat.
"Begitu rupanya! Kau hebat, Nak!"
Polisi berpakaian preman yang berjenggot tebal
tadi menepuk pundakku berulang kali seraya melontarkan pujian.
Meskipun keluarga Akizuki sudah setuju untuk tidak
mempermasalahkannya, tetap saja aku telah membuat anggota keluarga mereka
pingsan di depan umum.
Kukira aku akan dimarahi habis-habisan dan dituduh
kurang ajar karena menentang keluarga Akizuki, tapi ternyata setelah mendengar
penjelasanku, aku malah berterima kasih.
"Saya terkejut. Kukira Anda akan menyalahkan
saya atas insiden ini."
Mendengar pertanyaan polosku itu—
"Mana mungkin! Soalnya ini adalah kejadian
langka di mana keluarga Akizuki memberi pelajaran pada bocah brengsek itu!
Malahan, cuma dengan ngebayangin muka jeleknya
bocah brengsek itu pingsan, rasanya lega banget di dada!"
Begitu ya. Sepertinya dia benar-benar menyimpan
dendam yang cukup besar. Kalau begitu, mereka mungkin—
"Anda, meskipun kakak perempuan si bodoh itu
tidak muncul, Anda pasti akan membebaskan saya, kan."
Polisi yang menangani kasus ini, seorang pria
berambut hitam yang disisir belah pinggir tujuh tiga, menyeringai sambil
menaikkan sudut mulutnya, dan—
"Yah, begitulah. Ini cuma pertengkaran kecil
antarpelajar. Asalkan kami cuma nanya-nanya dikit sama ngasih ceramah sebentar,
keluarga Akizuki nggak bakal ngomong apa-apa."
Dia menjawab seperti yang kuduga.
Kurasa alasan dia menangkapku
dengan begitu paksa tadi adalah untuk melindungiku. Posisi mereka yang serba
salah benar-benar terlihat jelas.
"Begitu, ya. Saya sudah
lelah, bolehkah saya pulang sekarang?"
Aku merasa sangat lelah setelah mengetahui
kebenarannya.
Jika polisi sudah punya sikap seperti itu, dan
mengingat mereka juga sudah tiba di lokasi pada waktu yang tepat, masalah ini
pasti sudah selesai jika aku memanggil polisi seperti yang dikatakan Takeshi.
Dengan kata lain, tindakanku kali ini benar-benar
sia-sia dan hanya membuang-buang tenaga saja.
"Tentu saja. Tapi Nak, jangan terlalu
memaksakan diri. Nggak semua polisi punya pendirian kayak kami. Banyak juga
yang rela jadi budaknya keluarga Akizuki."
"Terima kasih atas sarannya."
Aku berdiri dari kursi, memberi salam pada polisi
berpakaian preman berambut belah pinggir, lalu keluar dari ruang interogasi.
Saat aku turun ke lantai satu, di area tangga aku
berpapasan dengan Mako, wanita berambut merah panjang yang diikat ekor kuda.
"..."
Karena kami tidak saling kenal, aku melewatinya
tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau bertatapan mata dengannya.
"Permisi!"
Aku dipanggil dari belakang dengan
nada sedikit marah.
"Ada perlu apa?"
Aku berhenti, menoleh ke belakang
bahuku, dan bertanya singkat.
"Terima kasih sudah menolongku!"
Dia menundukkan kepalanya padaku.
Sejujurnya, aku tidak terlalu pandai menghadapi
orang-orang mencolok seperti dia.
Kalau saja Takeshi tidak tertarik padanya, aku
mungkin tidak akan bertindak sejauh itu.
Oleh karena itu, aku merasa tidak pantas menerima
ucapan terima kasihnya.
"..."
Aku tidak membalasnya dan mulai berjalan pergi.
Tepat saat aku keluar dari kantor polisi—
"Kain!"
Di depan pintu masuk utama, Takeshi dan Makoto
sedang menungguku.
"Kalian berdua menungguku?"
Ini sudah lewat jam sepuluh malam. Jam malam
asrama sudah lama berlalu.
Pasti setelah ini akan ada hukuman dari ibu asrama
yang menyeramkan, dan hukuman dilarang keluar untuk sementara waktu sudah
menanti.
"Ya iyalah! Kami kan khawatir!"
Takeshi menepuk punggungku
berulang kali dengan air mata menggenang di sudut matanya. Bagaimanapun juga,
Takeshi adalah orang yang paling berakal sehat di antara kami berdua.
Sebaliknya, anak ini—
"Hahaha, pertarungan Kain
tadi bener-bener seru, eh, maksudku, lumayan keren, deh!"
Makoto mengacungkan jempolnya
sambil tersenyum polos seperti anak nakal.
"Keren apanya, kamu pikir ini tontonan bela
diri apa..."
Makoto sama sekali tidak terlihat khawatir sedikit
pun.
Sebaliknya, dia sepertinya sangat menikmati
situasi ini dari lubuk hatinya.
"Ya pertunjukanlah. Lagian kekuatan kalian
kan beda jauh. Tapi, gara-gara itu, kita jadi tahu kelemahan mereka. Jadi kita
nggak perlu nerima tawaran merepotkan dari mereka lagi, saking senengnya sampai
nggak tahu harus berterima kasih pake apa!"
Melihat dari ucapan dan senyuman jahatnya,
sepertinya si Makoto berniat memanfaatkan insiden ini untuk rencana liciknya.
"Makoto, masalah ini sudah diselesaikan
baik-baik. Jangan ada lagi—"
"Aku tahu. Aku nggak berniat ngelakuin
apa-apa dari pihakku kok."
Dengan nada ceria, Makoto berputar-putar, menutupi
mulutnya sambil tersenyum licik, dan—
(Lagipula, melihat wajah senang kakak saat itu,
semuanya sudah jelas. Dengan begini, aku sudah memegang kelemahan kakak.)
Dia bergumam pelan dengan nada mengancam. Makoto,
bukannya barusan kamu bilang sesuatu tentang kelemahan?
"Makoto?"
"Ah, nggak ada apa-apa kok! Ngomong-ngomong,
Kain kuat banget ya?"
Seolah mencoba mengalihkan pembicaraan, Makoto
tiba-tiba mengubah topik.
"Benar! Kekuatan itu curang
banget!"
Takeshi, yang terlihat sangat
bersemangat, menambahkan.
"Begini, kalian berdua, aku
kan sudah bilang kalau aku selama ini berlatih di dojo milik keluargaku."
Aku menjawabnya dengan nada
jengkel.
Takeshi menyipitkan matanya dan menatap wajahku
lekat-lekat, namun tak lama kemudian dia berseru seolah teringat sesuatu.
"Ah, iya juga! Penampilanmu yang begini bikin
aku mikir kamu lemah, sih. Ya kan, Makoto?"
Takeshi meminta persetujuan Makoto dengan alasan
yang sangat tidak masuk akal dan sangat tidak sopan.
"U-Uh, iya."
Berbeda dengan sikapnya yang tenang tadi, Makoto
kini mengiyakan sambil tergagap-gagap.
Mengesampingkan Takeshi yang memang selalu aneh,
Makoto hari ini terlihat agak aneh.
Biasanya dia hanya bersikap seperti cowok yang
suka membicarakan hal-hal berbau mesum, tapi hari ini dia lebih mirip anak yang
suka dengan konspirasi.
Yah, sudahlah, aku lelah... Ayo
pulang ke asrama.
"Ayo pulang."
"Sip!"
"Hehe! Go home!"
Aku, Takeshi, dan Makoto pun
berjalan pulang bersama.
◇◆◇
—Di Ruang Tamu Kedua SMA Kazatsuki.
"Kurang ajar! Si Narumi
berengsek itu, berani-beraninya dia mengurungku seharian di tempat seperti
itu!"
Tatsuya Akizuki yang berseru marah
menendang kursi di depannya hingga kursi tersebut menghantam dinding dan hancur
berkeping-keping.
"Apakah pria yang bersikap
tidak sopan pada Tuan Tatsuya ini, benar-benar orang yang bernama Kain
Tsukishiro dari Jurusan Dukungan?"
Seorang pria paruh baya bertubuh
kurus tinggi memastikan sambil menunjukkan sebuah foto pada Tatsuya.
"Ya! Orang ini! Orang ini
yang dengan pengecutnya menggunakan seorang wanita sebagai tameng dan
memukulku!"
Tatsuya menudingkan jari telunjuk
tangan kanannya ke arah foto tersebut sambil menyemburkan ludahnya ke
mana-mana.
"Saya memahami perasaan
Anda."
"Kalau begitu, cepat hukum
dia! Suguro, sebagai wakil kepala sekolah, kau bisa melakukannya, kan!?"
Pria paruh baya kurus itu
menyeringai pada Tatsuya yang berbicara dengan cepat sambil menyemburkan air
liurnya, lalu—
"Tentu saja. Tapi, kalau saya
sebagai pendidik menghukum murid dari sekolah kita sendiri, tentu saja itu
membawa risiko besar. Apakah Anda mengerti soal itu?"
Dia memastikan pada Tatsuya dengan
nada yang terdengar seperti sedang bernyanyi.
"Uang!? Kalau uang di
dompetku nggak cukup, aku bakal minta Kakek ngasih berapapun jumlah yang kau
mau!"
Mendengar jawaban Tatsuya ini,
staf pengajar yang juga ada di sana pun menelan ludah.
"Tentu saja, kita perlu
menyiapkan bayaran untuk mereka yang terlibat dalam masalah ini, jadi kita
butuh dana yang cukup. Dan,
ada satu hal lagi yang saya ingin Anda setujui."
"Apa itu!?"
Kepada Tatsuya yang terlihat kesal dan
terus-menerus menggoyangkan kakinya, pria itu—
"Saya ingin Anda meminta kakek Anda untuk
merekomendasikan saya sebagai kepala sekolah Kazatsuki untuk periode
berikutnya."
Suguro, sang wakil kepala sekolah, memberikan
jawaban yang sarat akan keserakahan.
"Baiklah. Aku akan memintanya pada
Kakek!"
"Kalau begitu, sepakat."
Suguro berdiri dan membungkuk, lalu—
"Aku mengandalkanmu! Pastikan kau membuat
orang itu benar-benar menyesali perbuatannya padaku kali ini!"
Tatsuya berseru dengan lantang.
"Tentu. Saya pasti akan
membuatnya merasakan penghinaan yang Tuan Tatsuya rasakan sampai ke sumsum
tulang!"
Suguro menyeringai dengan senyum
licik dan melontarkan sumpah tersebut.
Setelah Tatsuya pergi—
"Bocah manja yang bodoh dan
bodoh sampai tidak tertolong! Tapi, justru karena itulah dia bisa berguna untukku!"
Suguro, sang wakil kepala sekolah, berseru
gembira.
"Namun, Guru Suguro, insiden kali ini
kabarnya juga melibatkan Tuan Narumi. Bukankah itu berbahaya?"
Seorang guru berambut pendek dengan tubuh besar
yang merupakan pion Suguro, bertanya dengan ragu-ragu kepadanya.
"Dilihat dari situasinya, wanita sok suci
yang menjijikkan itu mungkin hanya kebetulan melihat perbuatan si tuan muda dan
ikut campur. Setidaknya, wanita itu tidak punya banyak waktu luang untuk
mengurusinya."
"Tetapi..."
Melihat pion tangan kanannya yang berambut pendek
itu masih tidak yakin, Suguro menjawab dengan nada riang.
"Tidak apa-apa! Semuanya akan baik-baik
saja."
"Kita bisa mendapatkan dana yang sangat dari
cukup dari si tuan muda. Dengan begitu, kita bisa menyewa Puppeteer of Death
untuk mengurus si Tsukishiro itu."
"P-Puppeteer of Death!? Maksud
Anda Kriminal Kelas A itu!?"
Guru itu meninggikan suaranya yang
penuh dengan kepanikan.
"Ya, dengan kemampuannya, kita
pasti bisa membereskannya dengan membuatnya terlihat seperti kecelakaan."
"T-Tapi bagaimana jika ketahuan—!"
"Ah, tutup mulutmu! Apa kau pikir aku tidak
menyiapkan rencana untuk mengatasi kekhawatiranmu itu?"
Suguro mengangkat telapak tangan kanannya untuk
memotong perkataan guru tersebut.
"Apa yang... akan Anda lakukan?"
"Kita akan membuatnya seolah-olah tuan muda
itu yang bekerja sama dengan faksi Kepala Sekolah untuk menyewa pembunuh
tersebut."
"Kita akan meninggalkan semua buktinya juga.
Jadi tidak perlu khawatir."
"Kalaupun pembunuh itu tertangkap dan masalah
ini terbongkar, kita tidak akan meninggalkan bukti apa pun yang mengarah pada
kita."
Sejenak, guru kaki tangannya itu menatap wajah
Suguro dengan ekspresi tercengang.
"Guru Suguro... Anda
benar-benar orang yang menakutkan..."
Dia memaksakan kata-kata itu keluar dengan suara
pelan.
"Aku akan menganggapnya sebagai pujian!"
Bagi Suguro, para siswa SMA Kazuki tidak lebih
berharga dari semut di pinggir jalan. Kebahagiaan terbesar bagi rakyat jelata
seperti mereka adalah dimanfaatkan dengan baik dan mati sebagai pion dari
manusia genius dan mulia seperti dirinya.
Itulah yang dia yakini.
"Hehehe, ini sangat bagus!"
Jika rencana ini berhasil, dia bisa membuat
Tatsuya berutang budi besar padanya. Sebagai hasil dari berbagi rahasia ini,
Tatsuya pasti akan sangat memercayainya.
Jika dia membantunya melakukan kejahatan serupa
beberapa kali lagi, dan memanipulasinya sampai dia tidak bisa mundur lagi,
seorang budak yang berguna pun akan tercipta.
Jika rencananya gagal, dia tinggal menyuruh salah
satu budaknya dari dunia bawah untuk membunuh Tatsuya. Di saat yang sama, dia
akan melimpahkan semua tanggung jawab ke faksi Kepala Sekolah untuk menjatuhkan
mereka.
Bagaimanapun juga, masa depan akan mengalir sesuai
keinginan Suguro. Ini bukanlah rasa percaya diri yang berlebihan ataupun
delusi, melainkan kenyataan.
Lagipula, Suguro dilindungi oleh Tuhan!
"K-Kalau begitu, saya permisi dulu."
Guru berambut pendek yang merupakan pion Suguro
itu tersenyum kaku, membungkuk, dan berbalik untuk meninggalkan ruangan.
—Suguro, orang di depanmu itu berencana untuk
mengkhianatimu.
Suara serak seorang lelaki tua
bergema di dalam kepalanya. Menanggapi suara yang tidak memiliki ketegangan
itu, Suguro tersenyum.
(Tuhanku. Terima kasih atas wahyu-Mu.)
Dia mencengkeram bagian belakang kepala guru itu
dengan tangan kanannya, menyalurkan kekuatan yang diberikan oleh sosok
tersebut.
"Gue?"
Mengeluarkan suara aneh yang tidak terdengar
seperti manusia, tubuh guru itu mengejang hebat dan mulutnya berbusa.
"Gugi! Gukekekekikiki!"
Dia menjerit aneh sambil memutar matanya ke segala
arah. Namun tak lama kemudian, dia menggoyangkan tubuhnya seperti hewan moluska
dan berpose menjijikkan di depan Suguro.
Lalu—
"Tuanku! Berikan saya perintah!"
Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan
postur yang mustahil dilakukan oleh manusia biasa.
"Pilihlah tim yang menaungi anak bernama
Tsukishiro itu!"
Ini adalah kesempatan bagus. Dia akan mengumpulkan
para siswa yang kebal terhadap kemampuannya dan menyingkirkan mereka.
Tentu saja, perbudakan dengan kekuatan Tuhan
adalah jalan terakhir yang akan mengakhiri segalanya jika ketahuan. Sebisa
mungkin, lebih baik tidak menggunakannya sama sekali.
Meski begitu, kekuatan ini mampu membalikkan
keadaan di atas papan catur. Hal yang paling baik dilakukan adalah
menyingkirkan lawan yang kebal terhadap kekuatan ini sejak awal.
"Siaaaap."
Berpose konyol, guru itu melompat-lompat kecil
keluar dari ruangan.
(Apa tidak ada yang bisa dilakukan tentang gerakan
aneh budak-budak itu...)
Dia tidak memiliki keluhan terhadap Tuhannya.
Tidak ada sama sekali.
Namun jujur saja, tingkah laku para budaknya yang
sangat mencolok itu benar-benar mengganggunya.
(Tidak, itu adalah pemikiran yang tidak sopan.)
Dia menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi
untuk menepis ketidakpuasan kecil yang muncul di benaknya.
"Nah, dengan ini, kekuasaanku di akademi ini
akan menjadi semakin kokoh!"
Kegembiraan menerpanya seperti ombak besar,
membuatnya memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.
"Aku benar-benar harus berterima kasih kepada
siswa bernama Tsukishiro itu!"
Suguro meninggikan suaranya yang dipenuhi dengan
hasrat yang mendalam.
◇◆◇
Sesuai pernyataan wanita berpotongan rambut bob
hitam itu, tidak ada hukuman apa pun untukku setelah insiden tersebut.
Atau lebih tepatnya, mungkin lebih benar jika
dikatakan seolah-olah insiden itu tidak pernah terjadi.
Berkat itu, aku bisa menjalani rutinitasku seperti
biasa.
Hari ini pun aku pergi ke taman terdekat di pagi
hari untuk melakukan peregangan demi rutinitas latihanku. Namun, sudah ada
seseorang yang duduk di bangku.
Seorang gadis dengan gaun terusan berwarna biru
muda. Akhir-akhir ini, dia selalu mengamati latihanku dalam diam tanpa pernah
absen.
Kukira dia hanya akan melihatku lagi hari ini,
tetapi dia tiba-tiba mendekat.
"Hei, latihanmu sudah mau selesai, kan? Ayo
sarapan bareng!"
Dia tiba-tiba memberikan tawaran seperti itu.
"Aku menolaknya dengan sopan."
Memang benar latihanku akan segera selesai. Namun,
jika gadis cantik ini dan diriku yang hanya karakter figuran masuk ke sebuah
toko bersama, kami pasti akan menarik perhatian.
Kemarin saja aku sudah bertindak terlalu jauh.
Kalau sampai muncul rumor aneh dan pihak akademi mencari masalah dengan alasan
pergaulan bebas, itu akan sangat merepotkan.
Lagipula, tidak ada alasan bagiku untuk makan
bersama orang asing sepertinya.
"Sudahlah, ayo cepat."
Seolah sudah menebak jawabanku, dia tidak goyah
sedikit pun. Dia meraih tangan kananku dan menarikku kuat-kuat ke arah bangku.
Setelah memaksaku duduk, dia duduk di sebelahku
dan membuka keranjang yang dibawanya. Di dalamnya terdapat roti lapis yang
bentuknya agak berantakan.
"Maaf, tapi aku tidak punya alasan untuk
menerimanya."
"Tidak apa-apa, aku punya alasannya."
Gadis bergaun terusan itu menjawab sambil
tersenyum.
"Apa maksudmu—"
Rasa penasaranku terpotong saat dia menjejalkan
roti lapis itu ke dalam mulutku.
Rasa buah dan krim segar meleleh
serta berpadu di dalam mulutku. Ini yang biasanya disebut fruit sandwich.
"Anu..."
"Ya, ini satu lagi."
Gadis itu menyodorkan roti lapis kedua.
Melihat sikapnya yang memaksa ini, menolaknya
pasti akan percuma. Demi menghindari masalah, mungkin lebih baik aku memakannya
saja.
Aku menghela napas pelan dan mulai makan.
"Terima kasih atas makanannya."
Setelah selesai makan, gadis itu berdiri dan
membungkuk padaku.
"Tidak, rasanya sangat enak."
Itu perasaanku yang sebenarnya. Awalnya aku ragu
makan makanan manis di pagi hari, tetapi ternyata rasanya cukup lumayan.
Rasanya sangat lezat dan cukup
mengenyangkan. Sarapan
seperti ini sesekali mungkin tidak buruk juga.
"Benarkah!?"
"Ya, tanpa kebohongan sedikit pun, ini luar
biasa."
"Syukurlah kalau begitu!"
Dia mengangguk berkali-kali dengan wajah bahagia.
"Apa alasanmu membuatkan makanan
untukku?"
Aku menanyakan maksud dari tindakannya itu.
"Nah, kira-kira kenapa, ya!"
Setelah berseru seperti itu, dia
pergi meninggalkan taman sambil bersenandung.
"Orang yang aneh."
Aku mengangkat bahu, menggumamkan
kesan tersebut, dan mulai berjalan kembali ke kamarku.
Setibanya di akademi, aku
memeriksa pembagian kelompok praktik yang ditempel di depan tangga lantai satu
bersama Takeshi dan Makoto.
"Kelompokku A-1, ya..."
Kelompok praktik biasanya dibagi
menjadi A hingga D berdasarkan nilai dan kemampuan. Nilainya berurutan dari D,
C, B, hingga A, lalu dibagi lagi menjadi 1 sampai 5.
Semakin kecil angkanya dari 5 ke 1, semakin baik
nilainya. Namun, aku
justru masuk kelompok A-1.
Melihat nilaiku, ini adalah sesuatu yang sama
sekali tidak mungkin terjadi. Terlebih lagi komposisi anggotanya, alasan apa
yang membuat akademi menempatkanku di kelompok ini?
Mungkinkah pertengkaranku di 'Sweets Wood'
dijadikan masalah oleh akademi, dan aku ditempatkan di kelompok ini sebagai
hukuman?
Memang benar aku tidak bisa melakukan apa pun di
kelompok elite A-1.
Nilaiku nanti pasti akan sangat buruk. Mengingat
aku telah menghajar putra berandalan dari keluarga Akizuki, apakah ini tindakan
untuk mencari alasan agar aku dikeluarkan?
"Cain, kau hebat sekali!"
Tanpa menyadari perasaanku, Takeshi menepuk
punggungku berulang kali dengan wajah gembira.
"Benar! Aku juga ingin sekali masuk
A-1!"
Makoto menggumamkan hasrat sejujurnya sambil
melihat kolom nama anggota yang satu kelompok denganku. Dilihat dari
ekspresinya yang penuh penyesalan dan menyedihkan itu, dia pasti serius.
Tujuan Makoto tidak diragukan lagi adalah gadis
itu. Sang primadona dari kelompok A-1, Mikage Mashiro.
Rumor tentang dirinya bahkan telah sampai ke
telinga kami di Departemen Dukungan Tempur. Dia adalah satu-satunya gadis yang
diakui oleh pedang suci pembasmi iblis, serta harapan dari Departemen Khusus
yang bisa menggunakan berbagai Skill sihir tingkat tinggi.
Karena praktik ini mengutamakan pertempuran nyata,
beberapa orang dipilih berdasarkan nilai mereka dari setiap departemen.
Departemen Komando Strategi yang memimpin tim,
Departemen Taktik Tempur yang menjadi ujung tombak, Departemen Dukungan Tempur
yang memberikan bantuan, dan Departemen Khusus yang merupakan ahli tempur.
A-1 adalah yang terbaik dari yang
terbaik. Siswa-siswa berprestasi yang namanya pernah kudengar setidaknya sekali
terpilih dari masing-masing departemen.
Terlebih lagi ada Mikage Mashiro
di sana, menjadikannya kelompok yang benar-benar super elite. Dan aku, yang
nilai praktiknya berada di urutan terbawah, masuk ke kelompok ini.
Keanehan sebesar ini sangat jarang
terjadi. Mungkin lebih tepat jika kuanggap ada suatu alasan di baliknya.
Omong-omong, Takeshi dan Makoto
berada di kelompok A-2. Mengesampingkan kepribadian mereka, kemampuan Buff
dan Debuff mereka sangatlah kuat dan berdampak langsung pada
pertempuran.
Jadi, dalam hal ini, wajar saja
mereka masuk ke sana.
Bagaimanapun juga, petinggi
akademilah yang menentukan pembagian kelompok ini. Meskipun bawahan sepertiku merasa ragu dan
mengajukan keberatan, keputusan itu tidak akan berubah.
Lagipula, tidak ada gunanya melakukan itu. Kalau
tujuanku adalah agar tidak mencolok, bertindak protes justru akan menjadi
bumerang. Aku hanya perlu melakukan apa yang bisa kulakukan.
"Kalau begitu, mari kita berjuang
bersama!"
Setelah menyemangati mereka berdua, aku mulai
berjalan menuju kelas.
Setelah meletakkan tas di kelas, aku menyiapkan
peralatanku di ruang ganti dan keluar ke lapangan sekolah.
Lapangan sekolah sudah dipenuhi oleh para siswa
yang akan mengikuti praktik.
"Cain!"
Mendengar suara dari belakang, aku menoleh dari
balik bahuku. Aku melihat Akutsu Arata, pemuda berambut merah dengan potongan two-block
dan tatapan tajam, mengangkat tangan kanannya sambil mendekat.
Arata ditempatkan di kelompok A-2. Bisa dibilang, evaluasinya
termasuk tingkat atas di akademi ini.
"Hai, Arata. Sudah lama tidak bertemu."
"Ya, akhir-akhir ini kita sama-sama sibuk
sampai tidak punya waktu luang untuk makan."
Kalau dipikir-pikir, aku memang sudah berjanji
untuk pergi makan bersama Arata, tetapi masih belum terlaksana karena kami
sibuk.
"Bukan kita sama-sama sibuk, tapi cuma kau
yang sibuk."
"Jangan menyindir begitu. Dengan kekuatanmu,
bukankah kau seharusnya masuk Departemen Khusus atau Kelas A sama seperti
kami?"
"Siapa yang sengaja memilih Departemen
Dukungan karena tidak ingin mencolok, ya?" tambah Arata.
"Itu... mungkin kau benar."
Kata-katanya itu tepat mengenai titik lemahku.
Teknik bertarungku cukup tinggi hingga kakekku menganggapku berada di tingkat
pemburu profesional yang aktif.
Jika teknik bertarungku dinilai sebagaimana
mestinya, kemungkinan besar aku akan ditempatkan di Departemen Khusus atau
Departemen Taktik Kelas A. Namun, itu bukanlah keinginanku.
Aku muak dengan perebutan ahli waris yang konyol
di keluargaku, sehingga aku masuk ke akademi ini hanya untuk keluar dari rumah.
Di keluargaku, hanya kakekku yang mengetahui teknik bertarungku.
Aku tidak pernah menunjukkannya kepada siapa pun
selain kakekku.
Meskipun pertempuran saat ini berpusat pada sihir
dan Skill, jika aku memiliki kemampuan yang diakui kakekku, mungkin akan
ada orang bodoh yang mencalonkanku sebagai kepala keluarga berikutnya.
Karena itulah, tujuanku adalah lulus dari akademi
pelatihan pemburu ini dan menjadi staf administrasi.
Lagipula, di dunia yang berpusat pada sihir dan Skill
ini, kemampuan tempurku secara keseluruhan paling banter hanya setara dengan
pemburu tingkat D.
Kemampuan ini mungkin tidak akan banyak berguna
dalam pertempuran nyata melawan monster.
Bayangkan saja jika akademi mengetahui kalau aku
memiliki kemampuan bertarung antar-manusia dalam kondisi seperti itu.
Masa depanku pasti akan dipindahkan ke departemen
khusus antipersonel dan dimanfaatkan sebagai pion di balik layar Asosiasi
Pemburu.
Tujuan utamaku yang seorang penganut pasifisme ini
hanyalah kehidupan yang damai.
Aku sangat menolak kehidupan keras seperti tokoh
utama dalam komik entah berantah.
"Kau kelihatan pucat akhir-akhir ini. Apa kau
kelelahan?"
"Mungkin saja."
Memang benar akhir-akhir ini
ingatanku sering kali kacau. Ini pasti karena kelelahan mental.
"Belajarnya jangan terlalu dipaksakan."
Karena tujuanku adalah menjadi staf administrasi
Asosiasi Pemburu dan bekerja di belakang layar setelah lulus, aku saat ini
sedang belajar mati-matian, dan mungkin itu yang dimaksud Arata.
"Akan kulakukan."
Memang benar akhir-akhir ini aku
sering kali lupa pada hal-hal sederhana. Kelelahan yang berlebihan mungkin
menjadi penyebabnya.
Setelah praktik ini selesai,
mungkin ada baiknya aku bersantai dan tidur siang tanpa melakukan apa pun
selama beberapa hari.
"Kalau begitu, aku duluan!"
"Ya, mari kita berjuang bersama!"
Kami meninju pelan tinju kanan satu sama lain,
lalu aku beranjak menuju titik kumpul kelompok A-1.
Sesampainya di titik kumpul, anggota kelompok A-1
memasang wajah tidak senang. Terutama—.
"—ッ!"
Gadis berambut hitam panjang bernama Mikage
Mashiro melebarkan matanya sejenak saat berpapasan denganku, lalu dengan jelas
mengerutkan kening karena muak.
Kalau sudah dibenci sampai sejauh ini, aku hanya
bisa tertawa. Namun, aku bukan anak kecil yang akan mengabaikannya tanpa
memberi salam.
Meskipun berpikir begitu, saat aku mencoba
menyapanya tiba-tiba, kata-kataku tidak langsung keluar. Hasilnya—.
"Terima kasih atas bantuan Anda waktu
itu."
Aku memberikan sapaan yang sangat canggung.
"E-Eh, iya."
Mashiro menarik diri sambil memaksakan senyum
kaku, seolah-olah ingin melarikan diri dariku.
Sebagai ganti Mashiro, seorang siswa laki-laki
berambut cokelat pendek yang mengawasi interaksi kami dari kejauhan, berjalan
mendekat dengan ekspresi campur aduk antara penghinaan dan kebencian.
Aku sangat mengenalnya karena dia
adalah orang terkenal di akademi ini.
Sakuraba Tatsuki, calon kepala
keluarga berikutnya dari keluarga penyihir tradisional, keluarga Sakuraba,
sekaligus jagoan di Departemen Taktik.
Dia adalah orang yang akan menjadi
pilar utama para pemburu di masa depan. Singkatnya, dia adalah salah satu
petarung terbaik di kelompok ini, atau bahkan di seluruh akademi.
"Hei, orang tidak berguna,
kecurangan macam apa yang kau lakukan sampai bisa berada di kelompok
ini!?"
Orang tidak berguna, ya. Entah
kenapa. Aku merasa ada keakraban yang aneh dengan panggilan itu.
"Entahlah, sebaliknya aku
malah ingin kau yang memberitahuku."
Saat aku mengangkat bahu dan
memejamkan sebelah mata, Sakuraba mendekat dan mencengkeram kerah bajuku.
Lalu—.
(Apa yang kau lakukan pada
Mashiro!?)
Dia menarikku dan berbisik dengan
suara berat di telingaku.
Ah, begitu ya. Rupanya dia naksir pada Mashiro.
—Aku tidak akan mengganggu usahamu untuk
mendekatinya.
Sesaat, bayangan diriku yang mengatakan hal itu
dan sosok seorang pemuda tampan berambut hitam yang membuka tutup mulutnya
dengan wajah memerah di depan seorang wanita berambut merah muda, terlintas di
benakku.
Hmm, sepertinya itu cuma perasaanku saja. Aku sama
sekali tidak ingat pernah melakukan percakapan seperti itu.
(Aku tidak melakukan apa-apa padanya.)
(Jangan berbohong!)
Seolah tidak puas dengan jawabanku, urat tebal
muncul di dahi Sakuraba, dan cengkeraman tangan kanannya di kerahku semakin
menguat.
"Ini akan memengaruhi nilai kita juga, jadi
kalau mau bertengkar, lakukan saja setelah praktik ini selesai."
Orang yang melerai kami tanpa berusaha
menyembunyikan ketidaksukaannya adalah seorang gadis cantik berambut merah
sebahu.
Dia juga cukup terkenal. Kuonji Karina, lulusan
terbaik dari Departemen Komando Strategi, yang dijuluki sebagai "Ratu
Kelicikan". Dia adalah sosok yang ditakuti para siswa dalam artian yang
berbeda.
Dan seperti yang ditunjukkan oleh nama
keluarganya, dia adalah adik kembar dari temanku, Makoto.
"..."
Sakuraba menatapku dengan ekspresi penuh
kebencian, lalu berdecak lidah dan melepaskan kerah bajuku.
Aku berbisik ke telinga Sakuraba
agar hanya dia yang bisa mendengarnya.
(Aku baru pertama kali bertemu
dengan Mashiro. Mungkin dia teringat pada seseorang yang mirip denganku.)
Aku langsung melontarkan kalimat
yang ingin dia dengar.
(B-Benarkah itu!?)
(Ya, aku bersumpah.)
Melihat ekspresi lega di wajahnya
setelah mendengar jawabanku, dia pergi karena merasa urusannya sudah selesai.
Dia kemudian mulai mengobrol dengan rekan-rekan
satu kelompok kami.
Omong-omong, siswa laki-laki dari Departemen
Dukungan di kelas sebelah itu. Aku memang pernah dengar kalau dia itu pintar,
tapi apa dia selalu pendiam seperti ini?
Yah, aku belum pernah berbicara dengannya, jadi
itu cuma asumsi sepihakku saja.
Akhirnya, instruktur pembimbing kami sepertinya
sudah tiba.
"A-1, berkumpul!"
Seorang guru bertubuh besar dengan rambut pendek
berteriak, dan kami pun segera berkumpul di bawah arahannya.
"Aku instruktur pembimbing
kalian, Shido. Sekarang aku akan menjelaskan tentang praktik kalian hari
ini."
Instruktur Shido mulai menjelaskan
garis besar dari praktik kali ini.
Setelah penjelasan selesai, kami
tiba di sebuah blok terbengkalai yang menjadi tempat praktik kami.
Praktik untuk A-1 menggabungkan Subjugation
Quest dan Gathering Quest.
Isi praktiknya sendiri sangat
sederhana.
Monster-monster yang dipanggil
dengan sihir pemanggilan dilepaskan ke dalam blok tak berpenghuni yang dikelola
oleh akademi.
Syarat keberhasilan praktik ini
adalah mengambil kartu yang disembunyikan akademi di dalam blok tersebut.
Tentu saja, jumlah monster yang
berhasil dikalahkan akan dihitung sebagai nilai individu.
Kemungkinan besar, poin evaluasi
individu dari membunuh monster ini hanyalah tipuan akademi untuk melihat apakah
ada siswa yang bertindak seenaknya. Jika dipikirkan dengan kepala dingin, hal itu sudah sangat jelas, tetapi—.
Seekor monster berkepala babi berlari ke arah kami
sambil membawa pentungan raksasa di satu tangan, membuat tanah bergetar.
"Biar aku yang mengurusnya!
Minggir!"
"Jangan bercanda! Biar aku
yang membunuhnya!"
Orang-orang dari Departemen Taktik
Tempur berlomba-lomba menyerang monster berkepala babi itu dengan senjata
masing-masing.
Di tengah keributan itu, seorang
gadis kecil berjubah biru tua dengan topi kerucut mengarahkan ujung tongkatnya
ke monster tersebut.
Hei, hei, jangan bilang—!
"Flame Bullet!"
Firasat burukku menjadi kenyataan.
Gadis itu melepaskan salah satu Basic Magic berbasis api tanpa mantra.
Peluru api itu melesat lurus ke arah monster babi, lalu bertabrakan dan meledak
dalam kobaran api.
"Hei, itu hampir saja mengenalku!"
"Benar! Apa kau berniat membunuh kami!?"
Para siswa di kelompok praktik melontarkan kecaman
pada penyihir perempuan dari Departemen Taktik Tempur yang melepaskan sihir
tersebut.
"Ini benar-benar parah..."
Masih ada hawa keberadaan monster di sekitar sini.
Singkatnya, ini
adalah medan perang. Memperebutkan buruan di tempat seperti ini sama saja
dengan bunuh diri.
Mereka mungkin bisa menggunakan
sihir dan Skill dengan bebas. Namun, mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman pertempuran nyata yang
merupakan hal paling penting.
Jika lawan mereka hanyalah monster tak berakal,
mereka mungkin masih bisa menang. Namun, jika berhadapan dengan vampir yang
memiliki kecerdasan tinggi atau para pengikutnya, mereka akan mati dalam
sekejap.
—Apakah menuntun anak-anak muda juga merupakan
tugas seorang prajurit tua?
Tiba-tiba pemikiran konyol dan arogan muncul di
kepalaku.
Prajurit tua apanya, umurku baru tujuh belas
tahun. Terlebih lagi, aku tidak punya kemampuan atau kualifikasi untuk menuntun
mereka.
Namun, jika aku hanya diam dan menonton, bisa-bisa
ada yang tewas.
Buktinya, saat ini ada beberapa monster kera besar
yang menyembunyikan wujud mereka dan mendekati tim kami.
Tentu saja, hawa keberadaan mereka tidak
sepenuhnya hilang, sehingga orang yang memiliki sedikit kemampuan seni bela
diri bisa menyadarinya dengan mudah.
Sayangnya, tak satu pun dari sekumpulan amatir ini
yang tampaknya menyadari hal itu. Jika kita tidak mengambil tindakan apa pun
sekarang, skenario terburuknya adalah seluruh tim akan musnah.
(Nah, apa yang harus kulakukan sekarang...)
Saat aku bergumam pelan,
"Mulai sekarang aku yang akan mengambil alih
komando!"
Teriakan tajam itu menusuk telingaku bersamaan
dengan suara tanah yang tercongkel.
"—ッ!?"
Saat semua orang menoleh ke arah sumber suara,
Mashiro berdiri tegak dengan kedua tangannya memegang pedang suci yang
ditancapkan ke tanah.
"Biarpun kau dari Departemen
Khusus, kau tidak bisa bertindak seenaknya—"
Seorang siswi dalam tim mencoba
memprotes, tetapi Mashiro mencabut pedang sucinya dari tanah dan mengayunkannya
ke arah perempuan itu.
Sesaat kemudian, kepala seekor
monster kera besar bipedal yang hendak menyerang dari belakang siswi itu jatuh
ke tanah. Tubuhnya pun terjerembap dengan suara berdebum layaknya boneka putus
tali.
Saat cipratan darah turun seperti
hujan merah di atas kepala kami, siswi yang hendak melontarkan kata-kata
kecaman pada Mashiro itu berlutut dan menjerit histeris.
Oh, ternyata dia sadar, ya. Gadis bernama Mashiro
ini sepertinya memiliki pengalaman tempur yang lumayan.
Ngomong-ngomong, bukankah monster-monster itu
terlalu lemah? Berdasarkan instingku, monster-monster ini jauh lebih lemah
daripada Slime atau Goblin yang merupakan monster paling lemah.
Apakah mereka benar-benar siswa terbaik di akademi
ini jika sampai kesulitan menghadapi monster semacam itu? Kalau berhadapan
dengan pengikut vampir, mereka pasti akan langsung menjadi daging cincang.
Bagaimanapun juga, monster di sini sangat lemah.
Jika kita menyerahkan semuanya pada Mashiro, keselamatan tim setidaknya bisa
terjamin. Tidak ada perlunya aku ikut campur.
Ironisnya, serangan Mashiro pada kera tadi
berhasil menyatukan kelompok A-1. Tidak ada lagi yang berani protes terhadap
perintahnya.
Sejak saat itu, kera-kera transparan, iblis
berkulit merah seperti ogre, dan monster kadal raksasa terus menyerang, namun
kami berhasil memukul mundur mereka di bawah komando Mashiro.
Satu-satunya yang tidak ikut bertarung dan hanya
mengawasi keadaan sekitar adalah Kuonji Karina dari Departemen Komando
Strategi. Dia menarik
lengan bajuku, lalu berbisik.
(Hei, bagaimana pendapatmu tentang
monster-monster ini?)
Sambil mengamati sekeliling dengan
waspada, dia melontarkan pertanyaan yang sulit dijawab.
Yah, tidak ada gunanya berbohong.
"Ini di luar dugaanku."
Mereka benar-benar lemah di luar
dugaanku.
Semua monster yang muncul sejauh ini penampilannya
sangat menipu. Jujur saja, ini pertama kalinya aku melihat monster selemah ini.
Bahkan seorang amatir yang punya sedikit
pengetahuan bela diri pasti bisa mengalahkan mereka.
"Aku juga sependapat. Praktik ini terasa sangat
aneh."
Praktik yang aneh, ya... Memang
benar, monster selemah ini tidak bisa dijadikan patokan nilai. Hampir bisa
dipastikan ini adalah kecurangan.
Anggota A-1 sepertinya memiliki Skill
dan sihir tingkat tinggi, jadi mereka pasti berbakat. Masalahnya, mereka
terlalu minim pengalaman tempur.
Buktinya, mereka baru bisa
mengalahkan monster kroco ini dengan susah payah. Kemungkinan besar, mereka
menggunakan uang dan koneksi untuk membeli nilai praktik ini. Benar-benar
menyedihkan. Aku memikirkan hal itu dari lubuk hatiku yang terdalam.
"Meskipun begitu, tidak ada
yang bisa kita lakukan. Untuk
saat ini, kita hanya bisa mengamati situasinya."
"Kau bersikap sangat acuh tak acuh, ya.
Seolah-olah ini sama sekali bukan urusanmu."
"Yah, separuhnya memang bukan urusanku."
Walaupun akademi melakukan kecurangan, tidak ada
bahaya yang mengancam nyawa. Bagiku ini justru menguntungkan dan sama sekali
tidak merugikan.
Lagipula, rasa keadilanku tidak sebesar itu untuk
meluruskan kecurangan akademi. Lebih tepatnya, aku tidak peduli.
Namun, kenapa aku dimasukkan ke dalam kelompok
ini? Semuanya terasa sangat tidak masuk akal.
Pasti ada alasannya, tapi memikirkannya di sini
hanya akan menumpuk asumsi di atas asumsi. Tidak ada gunanya.
"Tentu saja begitu, kalau kau sekuat
itu."
Dengan bibir mengerucut, Karina melontarkan
kalimat yang penuh makna.
Hah? Kenapa dia berpikir aku kuat? Seharusnya
hanya Takeshi, Makoto, dan Arata yang tahu kalau aku belajar bela diri di
akademi ini.
Apa Makoto yang memberitahunya? Padahal aku sudah
menyuruhnya tutup mulut. Aku tidak merasa dia akan mengingkari janjinya padaku,
tapi...
"Kita istirahat dulu di sini."
Di taman dengan pemandangan yang bagus, Mashiro
mengumumkan waktu istirahat. Semua orang duduk di bangku.
Nah, sekarang giliranku beraksi.
Aku mengeluarkan makanan ringan dan minuman untuk
semua orang dari Item Box, lalu membagikannya.
Ada yang merebutnya begitu saja, ada yang
menerimanya dengan wajah cemberut, ada juga yang melontarkan makian seperti,
"Enak ya cuma nonton doang," sambil menerimanya.
Hampir semuanya memiliki satu kesamaan: tak satu
pun dari mereka yang mengucapkan terima kasih.
Sambil berpikir Mashiro pun pasti akan bersikap
sama,
"Ini, roti lapis dan minumannya."
Aku menyerahkan makanan dan minuman padanya.
"..."
Mashiro hanya menatapku dengan wajah tanpa emosi
tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat dia tidak mau menerimanya, aku pun
bertanya.
"Anu, ada apa?"
Aku mengernyitkan dahi dan
langsung menanyakan alasannya.
"E-Eh, anu, tidak, maafkan aku!"
Dia menerima makanan dan minuman itu dengan
sedikit panik.
"Terima kasih."
Dia lalu tersenyum padaku.
"..."
Begitu melihat senyum tulusnya itu, aku merasakan
nostalgia yang aneh. Saat aku masih tercengang sejenak,
"Minggir! Mashiro, ayo makan bersama
kami!"
Sakuraba mendorongku yang sedang berdiri di depan
Mashiro, lalu duduk di bangku sebelah. Pengikut Sakuraba pun duduk di bangku
sekitar Mashiro dan mulai mengobrol dengan akrab.
Aku mengangkat bahu dan duduk di
bangku yang agak jauh. Karina
lalu duduk di sebelahku.
Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang
berterima kasih saat aku memberikannya makanan dan air minum.
"Ada perlu denganku?"
"Apa aku tidak boleh makan bersamamu kalau
tidak ada perlu?"
Dengan wajah datar yang tidak bisa
ditebak, dia melontarkan sindiran seperti itu.
"Hmm, bukan begitu, sih. Kalau begitu, mari
kita makan bersama."
"Ya!"
Walaupun dalam hati aku merasa heran dengan Karina
yang mengangguk sambil tersenyum, aku mengeluarkan kotak makanku dari Item
Box dan mulai makan.
Eksplorasi dilanjutkan kembali, dan tim kami yang
dipimpin oleh Mashiro tiba di depan sebuah gedung pencakar langit yang
tampaknya menjadi titik akhir.
"Pasti kartunya ada di dalam gedung
ini!"
Salah satu pengikut Sakuraba mendengus kegirangan
dan masuk ke dalam gedung.
"Padahal aku belum memberikan perintah untuk
masuk!"
Mendengar decakan lidah Mashiro, Sakuraba meminta
maaf.
"Mashiro, aku minta maaf. Nanti aku akan
menegurnya dengan keras."
Meskipun Sakuraba telah meminta maaf dengan nada
menyesal, Mashiro tetap menahannya.
"Tidak apa-apa. Tapi kita juga tidak bisa
membiarkannya sendirian. Kita akan bagi tim menjadi dua, seperti rencana awal
kita."
Mashiro menghentikannya dengan telapak tangan
kanannya, lalu menatap semua orang dan menyatakan hal itu.
Dalam situasi di mana kita tidak tahu apa yang ada
di dalam gedung ini, menyusup masuk bersama-sama hanyalah sebuah risiko.
Jika ada yang celaka di dalam, orang yang berada
di luar bisa memanggil bantuan. Membagi tim menjadi dua adalah hal yang masuk
akal.
Ini adalah salah satu metode dasar yang diajarkan
di SMA Kazuki untuk menaklukkan markas musuh dalam perang melawan bawahan
vampir. Itulah mengapa tidak ada yang menentangnya.
Masalahnya adalah siapa yang akan ditempatkan
sebagai penjaga di luar—.
"Kalau begitu, kau saja yang
tinggal, Tsukishiro si anak Departemen Dukungan! Meskipun kau sendirian, kau
setidaknya bisa memanggil bantuan, kan!"
Sakuraba memberikan perintah
sepihak kepadaku.
Sudah kuduga dia akan berkata
begitu. Tapi jujur saja, itu justru sangat membantuku.
Mengingat tingginya kemungkinan
kalau praktik ini hanyalah sandiwara belaka, aku tidak punya kewajiban untuk
terus melayani mereka.
Lagipula, untuk monster tingkat
rendahan seperti ini, kemampuan mereka sudah lebih dari cukup.
Tepat saat aku hendak setuju—.
"Aku mau satu tim dengan
Cain."
Karina memberikan jawaban yang
tidak terduga.
"Tidak, itu tidak perlu.
Anggota yang akan dibagi sudah ditentukan oleh Instruktur Shido yang
bertanggung jawab atas praktik kita. Kita tidak punya hak untuk
memutuskannya."
Mashiro memberitahu kami, lalu
mengeluarkan amplop dan mulai membacanya.
Komposisi anggota tim penyusup
gedung yang ditentukan oleh Instruktur Shido berada di luar dugaanku.
Mashiro, Sakuraba, satu siswi dari
Departemen Taktik Tempur, Karina, siswa laki-laki yang sangat pendiam dari
Departemen Dukungan bernama Akagi Yusuke, dan aku.
Ah, begitu. Apakah aku dimasukkan
ke dalam tim ini untuk memastikan para siswa mendapat perbekalan yang cukup?
Benar-benar pelayanan yang luar biasa.
Yang membuatku terkejut adalah
pengikut Sakuraba dari Departemen Taktik yang sudah memiliki kerja sama yang
baik dengan Sakuraba, tidak dimasukkan ke dalam tim penyerang.
Mengingat kelemahan monster yang
tidak wajar ini, pihak akademi sepertinya ingin A-1 menyelesaikan praktik ini
dengan nilai terbaik.
Hal yang paling dibutuhkan dalam
penaklukan markas bukanlah daya tembak atau kekuatan murni, melainkan kerja
sama tim yang solid. Pihak
akademi, yang selalu mengajarkan hal ini, seharusnya sangat memahaminya.
Meskipun begitu, mereka malah sengaja memisahkan
Sakuraba dan para pengikutnya.
Yah, itu juga berarti pihak akademi sangat yakin
tim ini bisa menyelesaikan penaklukan tersebut.
"Kalau begitu, ayo masuk."
Setelah mengatakan itu, Mashiro membelah pintu
utama gedung dengan pedang sucinya, lalu melangkah masuk, dan kami pun
mengikutinya.
Di dalam gedung, banyak bagian yang hancur.
Puing-puing seperti atap yang runtuh dan pecahan kaca berserakan di lantai.
"Toru tidak ada di sini!"
Sakuraba meninggikan suaranya yang penuh kepanikan
sambil mencari ke seluruh lantai satu. Memang benar, hawa keberadaan Toru yang
masuk ke gedung ini lebih dulu, tidak terasa sama sekali di lantai satu ini.
Kami sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada
seorang pun di lantai satu.
"Dia mungkin ada di atas. Kita akan naik
lewat eskalator. Semuanya maju sambil tetap waspada."
Atas perintah Mashiro, kami naik menggunakan
eskalator yang sudah mati.
Hmm, ada belasan monster yang
menunggu di depan sana. Sama
seperti monster di luar, mereka sangat lemah, jadi mungkin bisa dihabisi dalam
sekejap.
(...)
Hanya saja, tim ini sempat panik menghadapi
monster-monster kroco tadi, jadi wajar jika aku merasa khawatir dengan semuanya
kecuali Mashiro yang masih bisa bergerak gesit.
"Ada monster yang menunggu di
ujung eskalator itu."
Aku menunjukkannya dengan nada santai.
"Hei, dasar tidak berguna,
jangan bicara sembarangan!"
Sakuraba menjadi marah. Benar-benar merepotkan.
"Oh, maaf, lupakan saja. Aku cuma bermaksud
bilang agar kita lebih berhati-hati."
Aku memberikan alasan asal-asalan untuk mengelak.
"Cain, kenapa kau berpikir begitu?"
Mengabaikan Sakuraba, Mashiro menanyakannya dengan
ekspresi serius.
Jangan-jangan, Mashiro si jagoan Departemen Khusus
ini tidak menyadari niat membunuh yang begitu jelas ini? Atau dia sedang
mengujiku?
"Cuma firasat saja."
Untuk saat ini, lebih baik aku melihat situasinya
dulu. Setidaknya begitu perasaanku.
"..."
Mashiro menatap wajahku sejenak, lalu berkata
singkat.
"Kita maju. Tapi bersiaplah agar tidak
terjadi masalah kalau kita harus bertarung di ujung eskalator ini."
Setelah memberikan arahan singkat, dia mulai
berjalan.
"Mashiro, apa kau benar-benar mau mempercayai
omongan orang tidak berguna ini!?"
Mendengar suara Sakuraba yang berteriak
menyalahkan, teman sekelasnya, Ashika Ran, seorang siswi yang berpakaian
seperti penyihir dengan jubah biru tua dan topi kerucut, mengernyit.
(Berisik. Siapa juga yang tidak
berguna.)
Dia bergumam pelan dengan raut
wajah tidak senang.
"Sakuraba, meskipun ini
latihan, selama ada monster, tempat ini adalah medan tempur. Tolong
bertindaklah sewajarnya."
Saat Mashiro menasihatinya, dia akhirnya menyadari
arti dari tatapan kami.
"..."
Wajahnya memerah dan dia pun terdiam.
Saat eskalator tiba di atas, sesuai dugaanku,
belasan monster yang mirip dengan beruang bertanduk raksasa sudah menanti kami.
"Menyebar!"
Seolah sudah menduganya, Mashiro menyiapkan Pedang
Sucinya dan memberikan instruksi pada kami.
Yang benar-benar bergerak dan
menyiapkan senjata hanyalah aku dan Karina. Sementara itu, Sakuraba dan Ashika Ran hanya bisa
membelalakkan mata, tidak bisa bergerak sama sekali.
Di sisi lain, siswa laki-laki dari Departemen
Dukungan, Akagi Yuusuke, melemparkan Support Magic kepada kami semua
tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.
"Itsuki, Ran! Jangan cuma bengong! Apa kalian
mau mati!?"
Mashiro berseru lantang.
"A-Ah, maaf!"
Sakuraba dengan panik menghunuskan pedangnya, lalu
melangkah ke depan dan bersiap.
"Jangan memerintahku!"
Wajah Ran memerah karena merasa terhina. Ia
mengarahkan ujung tongkat sihirnya ke arah monster beruang itu dari belakang
Mashiro dan barisan depan lainnya.
"Ayo maju!"
Bersamaan dengan seruan Mashiro, pertarungan pun
dimulai.
Kemenangan segera diraih. Sayangnya,
monster-monster itu terlalu lemah.
Kawanan monster beruang yang tadinya begitu
banyak, kini semuanya telah menjadi mayat bisu. Meskipun begitu—
"Tohru benar-benar tidak ada!"
Setelah pertarungan usai, kami mencari di lantai
dua. Namun, kami tidak bisa menemukan sosok Tohru yang bertindak sembarangan
dengan menyusup ke dalam gedung.
"Dipikir-pikir lagi,
monster-monster ini tidak normal. Perasaanku tidak enak, sebaiknya kita
laporkan dulu hal ini kepada Shishido-sensei."
Sambil menyentuh dagunya yang
indah dengan tangan kanan, Mashiro mengajukan usulan yang sesuai dengan teori
ketika muncul elemen tak terduga.
"Maksudmu kita akan meninggalkan Tohru!?
Tidak! Itu sama sekali tidak boleh!"
Sakuraba meninggikan suaranya, melontarkan
kata-kata bantahan dengan emosi.
Cukup mengejutkan. Kupikir dia akan bersikeras
untuk kabur jika melihat jumlah monster sebanyak ini, meskipun mereka cuma
kroco. Aku tidak menyangka dia akan seputus asa ini demi menyelamatkan
temannya.
"Tentu saja kita akan melanjutkan pencarian.
Aku hanya ingin memberitahu mereka yang bersiaga di luar agar segera melapor ke
pihak akademi."
Setelah memberikan jawaban yang logis itu, ia
mulai berjalan menuju pintu masuk utama gedung.
"Apakah ini pelindung magis...?"
Mashiro melontarkan pertanyaan itu dengan ekspresi
pahit.
Pintu masuk utama gedung pencakar langit tempat
kami masuk tadi kini telah tertutup oleh kegelapan hitam. Kami benar-benar
terisolasi dari dunia luar.
"Sepertinya begitu. Ponsel pintar kita juga
tidak bisa digunakan, kelihatannya kita benar-benar terkurung."
Dilihat dari bentuknya, ini adalah jenis pelindung
magis yang memblokir semua interaksi dan komunikasi antara dalam dan luar area.
Namun, struktur pelindung magis ini sangat amatir
dan kekuatannya juga lemah.
Bahkan aku pun sepertinya bisa memotongnya dengan
mudah menggunakan pisau.
Hunter profesional yang masih aktif pasti bisa
menghancurkannya tanpa kesulitan.
Apa alasan mereka memasang pelindung magis yang
sekilas terlihat tidak masuk akal ini? Kemungkinan besar, ini adalah semacam
kejutan dari pihak akademi.
Sepertinya mereka ingin menguji kemampuan adaptasi
kita dengan melemparkan monster-monster kroco agar kita lengah, lalu
menjerumuskan kita ke dalam situasi darurat yang tiba-tiba.
Kenyataannya, semua orang menjadi panik melihat
pelindung magis ini tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.
Jika memang begitu, aku akan
terlalu mencolok kalau bergerak sekarang. Sebaiknya aku mengamati situasinya
saja dulu.
Walaupun sebelumnya aku sempat
curiga ada kecurangan, sepertinya pihak akademi tidak sebusuk itu.
Ya, aku harusnya bersyukur kalau
tempat pelatihan organisasi Hunter, yang akan menjadi tempatku bekerja di masa
depan, masih bisa dipercaya.
"Mashiro, ada sesuatu yang
datang!"
Karina menunjuk ke arah depan.
Di lantai satu yang sebelumnya
tidak ada serangga satu ekor pun, kini muncul hawa kehadiran dalam jumlah yang
tak terhitung banyaknya.
"Hii!"
Begitu Sakuraba mengarahkan
pandangannya ke sana, sebuah jeritan kecil terlontar dari mulutnya.
Di ujung pandangannya, tampak para
raksasa berbaju zirah setinggi tiga meter memegang gada besi di satu tangannya.
Jika digambarkan, mereka tampak seperti Goblin raksasa bersenjata lengkap.
Melihat mereka muncul secara
tiba-tiba, ini mungkin semacam sihir pemanggilan.
"Kita harus melawan mereka di sini! Semuanya,
bersiaplah!"
"..."
Mendengar seruan Mashiro, murid-murid lain bahkan
tidak menjawab. Mereka hanya bisa mengatupkan gigi dengan wajah pucat pasi.
"Gugooooooo!"
Para Goblin raksasa bersenjata lengkap itu
berteriak dengan suara memekakkan telinga. Mereka berjalan perlahan ke arah
kami, seolah-olah sedang menikmati ketakutan kami.
"..."
Mashiro mendecakkan lidah pelan melihat Sakuraba
dan yang lainnya gemetar tak bisa bergerak.
Ia kemudian melangkah maju sambil menyiapkan
Pedang Sucinya.
Semua orang menjadi blank karena
krisis yang tiba-tiba ini. Yah, setidaknya mereka masih mendingan karena tidak
sampai panik dan berteriak histeris.
Penampilan monster-monster itu
memang terlihat sangar, tapi sebenarnya mereka jauh lebih lemah daripada Goblin
biasa.
Ini hanyalah monster tingkat
rendah yang bisa dengan mudah diatasi jika teman-temanku menggunakan kekuatan
asli mereka.
Kalau begini ceritanya, pihak pengurus akademi
pasti merasa menang. Saat ini, mereka pasti sedang menertawakan kebodohan kami
dari kejauhan.
"Mashiro, apa kamu bisa mengatasi mereka
sendirian?"
Aku melangkah ke belakangnya dan
bertanya dengan singkat.
Mashiro memasang ekspresi sedikit terkejut, namun
ia menjawab.
"Jumlah mereka sangat banyak, mungkin akan
sedikit sulit. Aku tidak yakin bisa melindungi mereka semua dalam situasi
seperti ini."
Jawabannya sudah kuduga.
Mashiro memang memiliki Pedang Suci, tetapi
kemampuan berpedangnya hanya sedikit lebih baik daripada orang amatir.
Meski begitu, dia jauh lebih baik daripada murid
lain yang sepertinya meremehkan ilmu bela diri.
Selain itu, dia berasal dari
Departemen Khusus. Dia pasti
memiliki sihir atau Skill unik.
Jika dia bertarung serius, tidak mungkin dia akan
kalah dari monster jadi-jadian seperti Goblin raksasa itu.
"Aku mengerti. Biar aku yang mengurus perlindungan mereka. Kamu silakan mengamuk sesukamu tanpa perlu
khawatir."
"..."
Ia sempat terkejut sesaat, lalu menatap wajahku
seolah mencoba memahami maksudku.
"Aku serahkan padamu."
Tak lama, ia mengangguk mantap seolah telah
membuat keputusan dan berlari ke arah musuh. Ia melompat ringan lalu menebas
leher Goblin jadi-jadian yang berada di barisan paling depan, menerbangkan
kepalanya.
Sesaat kemudian, darah muncrat ke udara. Tubuh
monster itu ambruk ke tanah dengan suara bergemuruh, bagaikan boneka yang
talinya diputus.
Saat sekumpulan Goblin raksasa jadi-jadian itu
mengerumuni Mashiro, dua di antaranya berlari menyerbu ke arah kami. Aku
melangkah ke depan Sakuraba dan yang lainnya, yang saat ini masih belum bisa
bergerak.
"Uaahh..."
"Tidaak..."
Sakuraba, Ashika Ran, dan yang lainnya menjerit
pelan dengan wajah tegang saat Goblin raksasa jadi-jadian itu mendekat dengan
langkah bergemuruh.
Dua Goblin raksasa itu mengayunkan gada besinya ke
arah kepalaku dengan sekuat tenaga.
Aku menarik dua pisau berburu dari sarung di
pinggangku, lalu mengalihkan kekuatan serangan kedua monster itu agar saling
berbenturan.
Gada besi yang membelah angin ke arahku tiba-tiba
mengubah arahnya menuju satu sama lain.
Detik berikutnya, kedua gada besi itu saling
menghantam wajah para monster dengan keras, membuat isi kepala mereka
berceceran.
"Eh?"
Ran, yang tampaknya kehilangan tenaga di kakinya,
jatuh terduduk di tanah. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan sambil
mengeluarkan suara keheranan yang konyol.
Dari arah serong kiri depan, seekor Goblin raksasa
jadi-jadian lain mengayunkan gada besinya ke arahku secara horizontal. Aku
membelokkan kekuatannya ke arah wajah monster itu sendiri.
Gada besi itu menghantam wajahnya dengan telak
hingga kepalanya hancur berantakan. Monster itu pun ambruk ke tanah dengan suara berdebum keras.
"Gugi?"
Melihat wujud rekan-rekan mereka
yang kini telah menjadi mayat tak bernyawa, raut wajah para Goblin jadi-jadian
itu menunjukkan keterkejutan dan mereka mundur sesaat.
Detik berikutnya, kepala mereka terpenggal halus
dan jatuh ke tanah.
Di belakang mereka berdiri Mashiro yang memegang
Pedang Sucinya.
Sepertinya semuanya sudah hampir selesai.
Saat aku hendak memasukkan pisau berburuku kembali
ke sarungnya, Ran mendekatiku.
"Apa-apaan Skill Counter super kuat
yang tidak masuk akal barusan!?"
Ran berjalan sempoyongan lalu mencengkeram kerah
bajuku dan mulai memberondongku dengan pertanyaan.
"Rahasia perusahaan."
Sebenarnya itu hanya teknik bela diri biasa, tapi
aku tak punya kewajiban untuk menjelaskannya dengan ramah.
Di sisi lain, jika aku berbohong, hal itu hanya
akan menjadi masalah di kemudian hari. Jawaban barusan adalah yang terbaik.
Mashiro menghampiriku. Dengan ekspresi seolah
sedang menantang takdir, ia berkata,
"Kain..."
Ia sepertinya ingin mengatakan sesuatu, namun
kata-katanya terhenti dan ia tidak menyelesaikannya.
"Ada apa denganku?"
"Tidak... lupakan saja."
Setelah mengatakan hal tersebut,
ekspresinya yang tadinya terlihat memelas menghilang. Ia kembali menjadi
Mashiro yang tenang dan rasional seperti biasa.
"Aku khawatir dengan Edano. Ayo kita
jalan."
"..."
Mashiro mencoba melangkah maju, tetapi Sakuraba,
yang sebelumnya begitu bersemangat ingin menyelamatkan temannya, hanya
tertunduk dan tidak bergerak.
Dia sudah tidak bisa diandalkan. Cahaya semangat
bertarung telah lenyap dari matanya.
"Maaf saja, tapi aku tidak mau ikut. Kalau
kamu bersikeras ingin menyelamatkannya, pergilah sendiri."
Ran memalingkan wajahnya dan
menolak dengan tegas.
"Kalau lawannya monster
setingkat itu, tindakan gegabah malah akan menimbulkan korban jiwa tambahan.
Kalau kita semua tetap di sini,
setidaknya kita bisa mengulur waktu agar tidak mati. Aku juga setuju kalau lebih baik kita menunggu
bantuan di sini."
Sambil melirik ke arahku, Karina menyetujui
pendapat Ran.
"Aku juga setuju."
Untuk pertama kalinya Akagi Yuusuke ikut angkat
bicara dan menyatakan persetujuannya.
Mashiro menatap mereka dalam diam, lalu tersenyum
lembut.
"Aku mengerti. Aku sendiri yang akan pergi
menyelamatkannya. Jadi, kalian tunggulah di sini sebentar. Kain, bisakah aku
minta tolong padamu untuk melindungi mereka?"
Ia mengajukan permintaan yang sama sekali tidak
kuduga. Entah kenapa, kupikir gadis bernama Mashiro ini tidak akan pernah
meminta tolong padaku seperti ini.
Tentu saja, aku tidak punya dasar pemikiran yang
jelas. Hanya saja, saat itu aku benar-benar merasa tidak bisa memaafkan
pilihannya yang terdengar seperti sebuah kepasrahan. Karena itulah—
"Aku tidak mau. Aku ini hanyalah siswa
Departemen Dukungan Pertarungan. Kalau kamu ingin melindungi mereka, lakukanlah
sendiri."
Saat aku baru saja mau melangkah maju, terdengar
sebuah suara.
"Jangan seenaknya membuat keputusan
sendiri."
Bersamaan dengan kata-kata itu, ruang di sekitar
kami berdistorsi. Detik berikutnya, kami sudah berdiri di sebuah ruangan batu
yang luas berbentuk silinder.
Melihat makhluk dalam jumlah tak terhitung yang
mengepung kami, Sakuraba berteriak histeris.
"Hii!"
Tiga ekor monster—Goblin raksasa berotot kekar,
Ogre bersenjata sihir lengkap, dan Orc bertubuh besar dengan kulit merah
berkilauan yang mengenakan zirah emas—berada di barisan paling depan.
Di belakang mereka, berdiri
pasukan besar yang terdiri dari Goblin, Ogre, dan Orc.
Lalu, di atas sofa yang berada di
bagian paling dalam ruangan, tampak seorang pria dengan pakaian serba hitam
sedang berbaring, matanya tertutup sehelai kain.
Wah, wah. Jumlah pasukan mereka
sungguh berlebihan jika dibandingkan dengan jumlah kami. Tapi sayangnya, mereka
juga luar biasa lemah.
Meskipun digabungkan, tingkat
ancaman mereka lebih rendah dibandingkan dengan Goblin yang biasa memangsa
ternak.
Astaga, kenapa hari ini aku terus dihadapkan pada
hal-hal seperti ini? Lama-lama ini bikin frustrasi tahu! —Eh...?
Aku tiba-tiba dikejutkan oleh pikiranku sendiri
yang tidak masuk akal ini.
Aku menggelengkan kepalaku untuk menyingkirkan
bayangan tersebut.
Bukannya bagus kalau lawannya lemah?
Aku frustrasi karena tidak bisa
bertarung melawan musuh yang kuat?
Apakah itu yang baru saja kupikirkan?
Orang gila pertarungan macam apa aku ini!
"Apa kamu yang menculik Edano!?"
Mashiro, dengan ekspresi penuh amarah, berteriak
pada pria yang matanya tertutup kain hitam, memutus lamunanku.
"Edano? Oh, maksudmu ini?"
Pria itu menjentikkan jarinya. Seekor Ogre
berzirah sihir yang tampaknya merupakan pemimpin dari para monster, melangkah
maju, membuka penutup sebuah kotak besi, dan mengeluarkan isinya dengan tangan
kanannya.
"Ghh...!?"
Semuanya menelan ludah, menahan rasa kaget dan
jeritan ngeri mereka. Tentu saja hal itu wajar bagi mereka yang tidak memiliki
pengalaman tempur sesungguhnya.
Sebab, apa yang dikeluarkan oleh monster itu
adalah penggalan kepala Edano, yang hilang setelah nekat masuk ke dalam gedung.
Wajah Sakuraba, Ran, dan Karina menegang penuh
ketakutan dengan raut yang sangat pucat.
Bahkan Akagi Yuusuke, yang sebelumnya selalu datar
dan tanpa emosi, kini pipinya berkedut tegang.
Satu-satunya pengecualian adalah—
"Bedebah kau!"
Mashiro sangat murka, ia meluapkan perasaan
kebencian yang luar biasa pada pria bermata tertutup kain hitam itu.
Hmm, jadi dia sampai begitu
histeris dan kehilangan akal sehatnya, ya? Kutarik ucapanku.
Mereka semua hanyalah amatir yang
kurang pengalaman dalam pertempuran nyata.
Lagipula, aku sama sekali tidak merasakan energi
sihir dari kepala itu. Bahkan setelah mati pun, akan ada sedikit energi sihir
yang tersisa pada mayat selama beberapa hari.
Itu artinya, kemungkinan besar kepala itu hanyalah
properti palsu belaka. Kemungkinan, ini semua juga adalah sandiwara konyol yang
direncanakan oleh pihak akademi.
Namun—
"Mashiro, biarlah amarahmu menyala di dalam
hati, tapi pikiranmu harus tetap jernih."
Aku memegang bahunya dan menasihatinya, membagikan
moto hidupku padanya.
"Kain—!"
Aku mendorong Mashiro ke arah Sakuraba tepat saat
ia berbalik dan mencoba berbicara padaku.
Setelah memastikan Sakuraba menangkapnya, aku
berkata.
"Sakuraba, kalau gadis itu penting bagimu,
lindungilah dia baik-baik. Biar aku yang membereskan ini."
Jujur saja, aku sudah mulai muak dengan taktik
rendahan yang mereka gunakan terhadap orang-orang awam yang tak punya
pengalaman tempur.
Sudahlah, aku tidak akan pura-pura pasrah atau
bertindak mencolok lagi. Aku akan berhenti berpura-pura kalem.
"Oi, apa kau paham dengan situasi saat ini,
huh?"
"Ya, sangat memuakkan malah."
"Kalau begitu ceritanya bakal singkat. Di
mana orang yang bernama Tsukishiro Kain?"
"Itu aku."
Entah kenapa ya. Aku sangat ingin memberi
pelajaran keras kepada para idiot yang merancang sandiwara berselera buruk ini.
Begitulah yang terlintas di pikiranku.
"Aku sama sekali tidak merasakan energi sihir
dari tubuhmu! Untuk apa Tuan Kugutsushi yang agung ini dipanggil hanya demi
melenyapkan bocah lemah sepertimu, hah!?"
Melenyapkanku? Itu pasti juga bagian dari
pengaturan skenario pihak akademi. Apa kalian masih mau terus berakting di saat
seperti ini? Baiklah, aku akan ikuti sandiwara ini sebentar lagi.
"Lalu, kenapa Tuan Kugutsushi yang agung
menargetkan murid payah sepertiku?"
"Entahlah. Paling-paling kau sudah membuat
petinggi di suatu tempat naik pitam."
Naik pitam, ya. Kebetulan sekali aku baru saja
berseteru dengan putra keluarga Akizuki. Fakta bahwa aku punya dugaan yang
cocok malah membuat situasi ini semakin mengganggu.
Apakah ini juga salah satu bentuk intimidasi pihak
akademi yang memicu keributan itu? Ini benar-benar membuatku semakin tidak
nyaman.
"Lalu, apa perlunya kau menyerang mereka
juga? Bukankah targetmu cuma aku?"
"Sepertinya mereka memiliki ketahanan unik
terhadap Charm milik majikanku. Karena itulah mereka juga harus
disingkirkan."
Skenario yang benar-benar dirancang dengan niat.
Alur ceritanya yang agak masuk akal ini juga membuatku kesal.
Namun—
"Jadi, kau berniat menggunakan mereka untuk
melenyapkanku?"
—Jujur saja, ikut-ikutan meladeni sandiwara ini
sudah mulai terasa melelahkan. Rasanya bahkan untuk sekadar bertukar kata pun
aku sudah malas.
"Benar! Mereka ini adalah mahakarya yang
dipanggil langsung oleh Tuan Kugutsushi yang agung ini! Lihatlah, betapa luar
biasanya kekuatan tempur yang ada di hadapanmu ini!"
Jadi, orang ini adalah seorang
Summoner, ya.
"Sihir pemanggilan, ya. Kebetulan sekali. Aku
juga punya kekuatan yang mirip dengan itu."
Tentu saja, aku merasa sangat malu kalau harus
menyebut kekuatanku yang lemah ini sebagai sihir pemanggilan.
"Hoo, menarik juga. Baiklah, aku akan
membiarkan mereka bertarung dengan pasukanku! Panggillah mereka! Ya, itu pun
kalau kau bisa, sih! Kuhih! Kuhahaha!"
Kugutsushi tertawa keras, seolah meremehkanku.
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan."
Aku membayangkan sebuah buku, membuka lembaran
halamannya di dalam pikiranku, lalu—
"Panggil—Battaman."
Aku menyerukan kata-kata tersebut.
Di hadapanku, muncul sesosok pria belalang
berjalan dengan dua kaki, mengenakan setelan jas hitam dengan cangkang berkilau
hitam pekat.
"Gagagigigugu (Tuanku yang
agung! Apa perintah Anda!)"
Ia berlutut dengan takzim dan
menundukkan kepalanya. Dia adalah serangga yang bisa kupanggil melalui
Pemanggilan, yaitu Chrono Grasshopper.
Hmm, kalau memakai kostum begini,
Chrono Grasshopper benar-benar terlihat seperti pahlawan tokusatsu kesukaan
anak-anak.
"Tolong basmi monster-monster
kroco yang mengepung kita ini. Ah, ya. Untuk yang satu itu, tolong biarkan dia
hidup. Walaupun bikin kesal, sepertinya dia adalah orang akademi, jadi biar aku
saja yang mengurusnya nanti."
"Gagii! (Sesuai perintah
Anda!)"
Bersamaan dengan jawabannya, ia
berdiri dan menatap sekeliling ke arah para monster kroco yang mengepung kami.
"Kuha! Monster macam apa itu
yang kelihatannya lemah banget! Seekor belalang, heh!?"
Berawal dari ucapan Kugutsushi
yang mengejek itu, Chrono Grasshopper mulai melancarkan pembantaiannya.
Garis cahaya hitam bergerak cepat
ke segala arah, menebas para monster hingga menjadi potongan daging bahkan
tanpa memberi mereka waktu untuk berteriak.
Hanya dalam sekejap mata, monster
yang tersisa di ruangan itu hanyalah ketiga monster bos: sang Ogre, Goblin, dan
Orc.
"He? Pa-Pa-Pa-Pasukan iblisku yang
agung...!?"
Chrono Grasshopper dengan santai mengabaikan
teriakan panik Kugutsushi dan mengibaskan kedua tangannya untuk membersihkan
noda darah. Lalu, sambil menatap rendah ketiga monster bos tersebut, ia
membalikkan telapak tangan kirinya ke atas, memberikan isyarat untuk maju.
"Gigagagagugigi (Maju sini
dengan tekad mati). Gugigigigugaga (Aku akan memberikan pengecualian dan
memperlakukan kalian sebagai seorang pejuang.)"
Ia berteriak dengan bunyi decakan
yang khas.
Meskipun gemetar, ketiga bos
monster itu mengambil senjata mereka, merendahkan titik berat tubuh, dan
bersiap.
Dengan suara raungan seperti
binatang buas, mereka menerjang ke arah Chrono Grasshopper.
Namun, sosok Chrono Grasshopper
tiba-tiba mengabur dan ia sudah berada di belakang ketiga bos monster itu. Di
kedua tangannya, terdapat tiga buah jantung.
Ketika Chrono Grasshopper meremas
jantung-jantung itu hingga hancur, ketiga bos monster itu pun ambruk dan
tumbang.
"Ti-Tidak mungkin! Mereka itu Tiga Raja
Iblis, tahu! Monster-monster
yang kekuatannya setara dengan Hunter Peringkat S!"
Aku bergerak ke belakang
Kugutsushi yang masih melontarkan omong kosong itu, lalu menendang kakinya.
"Guhee?"
Pria itu mengeluarkan suara konyol
sambil berputar beberapa kali di udara sebelum akhirnya wajahnya menghantam
tanah. Dengan posisi pantat
di atas, ia kejang-kejang.
"Ah, aku malah melakukannya..."
Masalahnya adalah apa sebenarnya tujuan pihak
akademi.
Kalau penangkapan pria ini termasuk dalam cerita
yang disusun pihak akademi sih tidak masalah, tapi kalau tujuannya sekadar
untuk melihat kemampuan kami para siswa dalam merespons krisis darurat, aku
malah meninju dan membuat pingsan staf yang disewa akademi.
Mungkin akan ada hukuman karena hal ini.
"Yah, apa mau dikata..."
Saat aku membuang napas pelan sambil menurunkan
bahu, Mashiro yang tingkat kewaspadaannya sedang maksimal, mengarahkan Pedang
Sucinya padaku dan bertanya.
"Kain, monster... itu?"
Aku tersenyum kecut melihat Mashiro bertanya
sambil menodongkan Pedang Sucinya dengan kewaspadaan maksimal.
"Ini adalah monster tipe
serangga yang kupanggil menggunakan Skill milikku."
Aku menjawabnya dengan singkat.
"Jangan bohong! Kekuatanmu itu Item Box! Itu sudah
pasti! Terlebih lagi, kamu juga punya Skill Counter! Tidak mungkin kamu
juga bisa menggunakan sihir pemanggilan!"
Apa yang dikatakan Mashiro sangatlah masuk akal.
Bagaimanapun juga, manusia hanya bisa memiliki maksimal dua Skill. Jika
ada yang bisa memiliki lebih dari itu, mereka hanyalah makhluk bukan manusia.
Karena itulah wajar jika Mashiro sangat tidak memercayaiku.
Sebenarnya teknik counter tadi murni hanya sebuah
jurus bela diri, sama sekali bukan hal hebat seperti Skill.
Nah, apa yang harus kujawab sekarang?
Kalau aku bilang itu adalah jurus bela diri,
mungkin mereka akan percaya. Namun, sebagai gantinya, ada kemungkinan aku akan
dipaksa pindah ke Departemen Taktik Pertarungan.
Aku sangat menyukai kehidupan sehari-hariku
bersama Takeshi dan Makoto. Sebisa mungkin, aku ingin tetap berada di
Departemen Dukungan.
"Aku punya kondisi tubuh unik yang
memungkinkanku memiliki tiga Skill."
Aku langsung menjawab secara refleks, meski
jawabanku terdengar sangat tidak meyakinkan.
Kenyataannya, Mashiro juga sepertinya tidak
percaya sama sekali. Ia masih menatapku tajam sambil terus menodongkan Pedang
Sucinya padaku. Aku mengangkat bahu dan mengalihkan pandanganku.
"Chrono Grasshopper, seharusnya ada seorang
anak bernama Edano Tohru yang ditawan di suatu tempat di sini. Temukan dia dan
antarkan dia ke ruang kesehatan akademi."
Aku memberikan perintah pada Chrono Grasshopper.
"Gugigi (Baiklah.)"
Sesuai perintahku, sosok Chrono Grasshopper
menghilang layaknya asap.
"Apa Tohru masih hidup!?"
Sakuraba bertanya dengan nada suara penuh harapan.
"Potongan kepala tadi itu palsu. Kemungkinan
besar dia masih hidup."
Aku menjawabnya dengan tegas untuk menenangkannya.
Sekarang tinggal membereskan sisanya. Saat aku
mengeluarkan tali dari Item Box dan mengikat kedua tangan serta
pergelangan kaki Kugutsushi—
"Dasar tidak berguna, kau
kalah ya."
Suara pria yang bernada lengket
tiba-tiba bergema.
"Gugoh!?"
Tiba-tiba, Kugutsushi yang
seharusnya pingsan, mencakar tenggorokannya dengan kasar dan mulutnya
mengeluarkan busa.
Bersamaan dengan itu, sekujur
tubuhnya mendidih berbuih, otot-ototnya membengkak, dan bulu-bulu kaku
bermunculan. Kepalanya meleleh lalu berubah menjadi tengkorak.
Begitu rupanya. Ternyata orang ini
juga adalah seekor monster. Dia
mungkin diperintah oleh pihak akademi dan dijadikan bidak sekali pakai.
"Benar-benar memuakkan..."
Sekalipun lawanmu itu monster, ada hal-hal yang
pantas dan tidak pantas dilakukan. Dan kali ini, pihak akademi dengan mudahnya
melanggar batasan tersebut.
Seketika, Mashiro dan Sakuraba mengambil jarak
dari makhluk yang dulunya adalah Kugutsushi, lalu bersiap dengan senjata
mereka.
Karina dan Ran mulai merapal mantra sihir,
sementara Akagi Yuusuke memberikan buff kepada kami.
Ironisnya, baru di situasi ini kami akhirnya bisa
membentuk kerja sama tim dasar. Apakah ini juga sesuai dengan rencana akademi?
Akan tetapi—
"Biar aku yang maju."
Aku menarik kedua pisau berburuku dari sarung
kulitnya, menyatakan keputusanku dengan nada yang tak terbantahkan.
Bagaimanapun juga, monster ini sepertinya tidak
memiliki akal sehat. Aku ini bukan seorang yang terlalu mengasihi segalanya.
Aku sama sekali tidak berniat membiarkan monster
yang jelas-jelas membahayakan umat manusia tetap hidup.
"Kain, tapi kita harus menghadapinya
bersama—"
Sambil memasang ekspresi tegang, Mashiro mencoba
memprotes kata-kataku. Aku pun mengarahkan pisau berburu di tangan kananku
padanya.
"Aku yang akan melakukannya."
Aku mengulangi perkataanku sekali lagi agar
semuanya mengerti. Sambil memutar pisaunya untuk mengubah pegangan, aku
mencengkeram gagangnya dengan erat dan menurunkan pusat gravitasi tubuhku.
Jika lawan yang ada di hadapanku ini adalah
monster malang yang dipermainkan oleh akademi, aku tidak berniat membuatnya
menderita. Aku akan mengakhiri hidupnya dengan satu serangan telak.
Tengkorak itu menembakkan sinar merah dari mata
dan mulutnya ke arahku. Bersamaan dengan itu, ia melompat ke dinding di
sekitarnya bagaikan binatang buas.
Jujur saja, kemampuannya sangat lemah sampai tidak
patut diperhitungkan. Bagiku,
monster ini tidak ada bedanya dengan para kroco tadi. Karena itu, teknik yang akan kugunakan ini
sebenarnya tidak perlu.
Sambil menghindari sinar merah tersebut, aku
menyadari makhluk yang dulunya adalah Kugutsushi melancarkan serangan cakar
tajam dari belakangku.
"[Ilmu Belati Tsukishiro], Jurus Dasar—Garis
Kematian."
Tepat saat cakar tajam sebelah kanannya hampir
menyentuhku, tubuh monster itu hancur menjadi serpihan-serpihan daging yang
bertebaran.
"..."
Tidak ada yang berbicara, keheningan menyelimuti
sekeliling. Tepat saat aku mengibaskan darah dari pisauku dan memasukkannya ke
dalam sarung kulit—
"Ba-Barusan itu apa!? Skill!?
Tapi, kamu kan bilang kamu punya tiga Skill!?"
Ran mendekatiku dengan wajah memerah karena
antusias, lalu melemparkan rentetan pertanyaan.
Kini, sulit bagiku untuk terus menyembunyikannya,
dan rasanya tidak ada gunanya juga. Jika aku berbohong dengan mengatakan itu
adalah Skill, kali ini aku bisa benar-benar dicurigai sebagai kaki
tangan vampir.
"Maaf, aku tadi berbohong. Sebenarnya,
gerakan counter tadi dan yang barusan, semuanya adalah jurus bela diri. Bukan Skill atau
semacamnya."
"Jurus... bela diri? Fenomena
yang seperti sihir tingkat tinggi itu?"
"Yah, itu adalah teknik
rahasia tingkat tinggi dari dojo keluargaku."
Mendengar penjelasanku, Karina menyela pembicaraan
kami.
"Punya Item Box, punya Skill
Pemanggilan Kelas Menengah Atas, ditambah kemampuan ilmu bela diri super,
seberapa curangnya lagi dirimu!?"
Ia melontarkan komentar konyol seperti itu.
"Dengar ya, 'Pemanggilan' tadi itu hanya bisa
memanggil monster tingkat rendah seperti Battaman. Kenyataannya, kemampuan
tempur Battaman yang tadi juga hanya setara dengan Hunter Peringkat D. Terlebih
lagi, aku sama sekali tidak memiliki sihir atau Skill tipe petarung.
Secara keseluruhan, kemampuanku hanya setara dengan Hunter Peringkat D yang
masih aktif."
Karina menatap wajahku dengan bingung selama
beberapa saat.
"Kamu serius?"
Ia mencengkeram kedua bahuku lalu menatapku dengan
mata memerah.
"Haa, tentu saja."
"Gitu... kamu serius ya... kalau
begitu..."
Karina berjalan gontai, bersandar pada dinding di
dekatnya, dan mulai menggumamkan sesuatu pada dirinya sendiri.
Maaf saja, tapi dia sangat menakutkan. Lebih baik
aku tidak usah ikut campur. Lagipula udaranya masih cukup panas, mungkin dia
sedang demam.
"Kalau begitu, mari kita keluar dari
sini."
Aku menarik pisau berburu dari pinggangku lalu
menebaskan pisau itu ke pelindung magis.
Terdengar suara dentingan yang memecah keheningan,
dan pelindung magis itu menghilang dengan mudahnya. Kami kembali berada di
depan pintu masuk utama gedung pencakar langit.
"Ti-Tidak mungkin... pelindung magis yang
sekuat itu hancur hanya dengan satu sayatan pisau?"
Sementara Mashiro bersuara dengan
gemetar, Ran memeluk lenganku erat-erat.
"Kau bekerja saja di keluarga Ashika! Aku
jamin kau akan mendapatkan perlakuan istimewa!"
Ia melontarkan kata-kata omong kosong yang
mengejutkan itu.
"Jangan sembarangan bicara! Kain itu
milikku!"
Karina langsung membalasnya dengan ucapan ngawur
yang tidak masuk akal.
Seolah menyela dua gadis yang sedang saling
memelototi itu, Akagi Yuusuke maju melerai lalu mengangkat ponsel pintarnya.
"Kalian berdua salah. Dialah yang akan jadi
milik keluarga Akizuki kami."
Seorang siswi berambut hitam bob yang pernah
kutemui di restoran keluarga sebelumnya sedang berdiri, memamerkan senyuman
polos bagaikan orang yang baru saja sukses menjahili orang lain.
◇◆◇
—Di atap sebuah gedung.
"Seperti apa sebenarnya pandangan Master
mengenai kekuatan?"
Kalimat pertama yang terucap dari mulut Asta
setelah melihat tingkah laku Kain di dalam gedung melalui layar proyektor di
depannya adalah hal tersebut.
"Bagi Master, itu hanyalah Hunter Kelas D
Lemuria."
Girimekara menjawab dengan wajah berkerut,
menunjukkan luapan rasa bahagia yang tak tertahankan.
"Menurut Tuan, seberapa kuat Hunter Peringkat
D itu?"
Dewi Nemesis yang mengenakan pakaian merah terbuka
bertanya dengan polos.
"Itu semua tergantung
seberapa besar kamu menghargai Hunter Peringkat D, kan."
Dewa monster berwajah singa,
Nemea, menjawab samar sambil melipat kedua lengannya.
"Kupikir itu sama sekali bukan jawaban."
"Maaf. Jujur saja, aku juga tidak begitu
paham dengan standar kekuatan Tuan. Di masa lalu, dia menganggap Dewa Tingkat
Atas Lemuria seperti Raja Kebusukan setara dengan Goblin yang suka menyerang
ternak. Di sisi lain, Tuan juga salah mengira Badress—salah satu petarung dari
Pasukan Kejahatan—sebagai Goblin jenis baru. Tuan mungkin menyebut Badress
sebagai Goblin jenis baru hanya karena wujudnya yang mirip manusia tapi
kekuatannya terlalu lemah. Ya, hanya sebatas itu saja."
Mendengar spekulasi Nemea ini, Asta memegang
kepalanya pusing.
"Mengesampingkan soal Raja Kebusukan,
bagaimana ceritanya Tuan bisa menganggap Badress sebagai Goblin!?"
Ia meninggikan suara
mempertanyakan kewarasan argumen tersebut dengan nada jengkel.
"Bagi Tuan, pasukan Pasukan Langit, Pasukan
Kejahatan, dan bahkan kita semua tidak lebih dari sekumpulan semut yang merayap
di jalan. Bisakah kamu membedakan seberapa kuat masing-masing semut
tersebut?"
"..."
Tentu saja tidak mungkin. Itulah pemikiran jujur
dari semua orang yang ada di tempat itu.
Jika mereka memiliki warna, ukuran, atau bentuk
yang berbeda, mungkin dari sana masih bisa membedakan mereka.
Namun, jika penampilan mereka hampir sama, itu
akan jadi hal yang mustahil. Tidak, lebih tepatnya, sangat mustahil.
Namun, Kai Heineman tidak hanya gagal merasakan
kekuatan makhluk-makhluk di dunia bawah seperti umat manusia dan monster.
Ia juga berlaku sama pada para Dewa dari Pasukan
Langit dan Pasukan Kejahatan—dua faksi utama yang menguasai dunia ini. Lantas,
seberapa besar kekuatan yang dibutuhkan agar dapat merasakan perbedaan di
antara mereka semua?
Merasakan kekuatan tuannya yang jauh melampaui
batas kewajaran, mereka semua terdiam. Di tengah situasi tersebut—
"Sepertinya aku selama ini sudah salah
sangka. Bagi Master yang bahkan tidak bisa membedakan antara Goblin dan Kolonel
Pasukan Kejahatan, mana mungkin dia bisa membedakan kekuatan kelas perwira dari
Pasukan Langit dan Pasukan Kejahatan. Padahal, dia masih bisa membedakan
tingkat kekuatan selain manusia. Bukankah justru hal itulah yang tidak
normal?"
Memecah keheningan, Asta memasang wajah serius dan
meminta konfirmasi pada Girimekara.
"Benar sekali! Sebagai hasil dari pertarungan
terus-menerus dengan kita di Dungeon itu, Tuan telah memperoleh semacam indra
super untuk mengetahui kekuatan kita, para dewa dan monster mitologi, dengan
sangat akurat. Berkat itulah beliau dapat merasakan adanya tingkat kekuatan
yang kuat dan lemah pada hama seperti kita. Namun, akibat hubungannya dengan
umat manusia di Lemuria dan pertarungan sia-sia melawan pasukan langit dan
kejahatan, indra tersebut perlahan memudar. Kalian mengerti apa artinya ini!?"
Girimekara memandangi semua orang yang hadir dan
melontarkan pertanyaannya.
"Standar Hunter Peringkat D milik Tuan itu
kini sudah tidak ada artinya lagi, ya..."
Nemesis meletakkan tangan di
pinggangnya dan bergumam samar.
"Ya, mungkin kelasnya setara
dengan dewa kelas atas seperti Raja Kebusukan, atau mungkin juga sekelas Enam
Dewa Langit dan Enam Jenderal Besar. Bagaimanapun juga, itu hanyalah sekadar
[Intensitas Eksistensi]. Jika ini adalah pertarungan sesungguhnya, ceritanya
akan sangat berbeda."
"Ngomong-ngomong, Zak bilang,
meskipun Master hanya memiliki kekuatan yang sama seperti seekor Goblin, ia
merasa sama sekali tidak memiliki peluang menang melawannya."
Mendengar Asta mengomentari hal
tersebut dengan serius—
"Ucapan yang benar-benar
pas."
Nemesis langsung setuju dengan
ucapan Zak di masa lalu tersebut, dan yang lainnya mengangguk, menyetujuinya.
"Saat ini, Tuan sangat haus akan keinginan
untuk melawan yang kuat. Sama persis seperti saat pertama kali kita bertemu
dengannya, saat ia masih belum menyerah untuk bertemu dengan lawan yang
sepadan. Kalau bisa, aku benar-benar ingin memenuhi keinginannya itu."
Nemea menyipitkan mata saat mengatakan hal
tersebut. Asta pun menggigit bibir bawahnya.
"Jangan khawatir! Semuanya berjalan sangat lancar!"
Mendengar seruan Girimekara—
"Girimekara, jangan lupakan masalah tentang
ingatan Tuan itu, oke?"
Nemesis menegur Girimekara.
"Tentu saja!"
Melihat Girimekara mengangguk
mantap, Asta bertanya pada Girimekara dan Nemesis sambil tersenyum.
"Ingatan Master? Girimekara,
Nemesis, jangan bilang kalian berdua merencanakan hal konyol lagi terhadap
Master?"
Bertolak belakang dengan
ekspresinya, aura merah berbahaya yang memancar dari seluruh tubuh Asta membuat
keringat dingin menetes di pipi Nemesis.
"Tentu saja ini masalah tentang mengembalikan
ingatan Tuan. Benar kan, Girimekara?"
Sambil terlihat sedikit panik, Nemesis meminta
persetujuan.
"Umu, benar sekali!"
Tanpa menunjukkan kegelisahan sedikit pun,
Girimekara mengangguk sambil membalas dengan nada yang sama seperti biasanya.
Asta menatap tajam ke arah Nemesis dan Girimekara
dengan senyuman selama beberapa saat.
"Kalau begitu, baguslah."
Ia menganggukkan kepala dan menarik kembali aura
berbahayanya. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak terlihat yakin akan hal
tersebut.
"Asta, seperti yang direncanakan, aku ingin
meminta bantuanmu untuk membereskan kekacauan kali ini."
"Baiklah."
"Mengesampingkan kelelawar bodoh itu, dia
hanyalah manusia biasa. Jangan sampai kau bertindak terlalu jauh."
Kata-kata penuh belas kasihan yang sungguh tak
disangka-sangka keluar dari mulut Girimekara ini sama sekali bukan demi
memikirkan keselamatan manusia bernama Suguro.
Sebaliknya, kata-kata itu diucapkan karena ia
mengkhawatirkan Asta sendiri yang cenderung bertindak di luar kendali lantaran
terlalu memikirkan Tuannya, Kai Heineman.
"Akan kucoba."
Tanpa menoleh, Asta mengangkat tangan kanannya
lalu melangkah pergi.
"..."
Melihat raut wajah Asta, Girimekara menghela napas
panjang. Dari gerak-geriknya, Asta sama sekali tidak terlihat berniat menahan
diri.
◇◆◇
Di SMA Kazatsuki, para staf pengajar setingkat
kepala tingkatan kelas atau di atasnya diberikan ruangan tersendiri.
Sebagai wakil kepala sekolah, Suguro juga tidak
terkecuali. Ia
diberikan sebuah ruangan yang besarnya setara dengan ruang kelas.
Bagian dalam ruangan itu dipenuhi
dengan ornamen mewah dan megah. Jika diucapkan dengan sopan, gayanya sangat
elegan, namun kasarnya, ruangan itu mencerminkan selera norak khas orang kaya
baru.
Sambil bersandar di punggung kursi
yang terletak di dekat jendela kamarnya...
"Death Puppeteer yang sudah
mekar, kalah?"
Suguro bergumam pelan dengan
tatapan kosong.
Sang Summoner, 'Death
Puppeteer', adalah perapal panggilan kelas atas. Seandainya tangannya tidak
berlumuran darah, kekuatannya sudah cukup untuk membuatnya menjadi Hunter Rank
S.
Ia telah membuat Benih Dewa yang
ditanamkan ke dalam tubuh 'Death Puppeteer' itu mekar. Manusia kuat yang
dijadikan persemaian bagi Benih Dewa akan bangkit menjadi Rasul Dewa.
Seharusnya tidak ada yang bisa
mengalahkan mereka, tak peduli sekuat apa pun lawannya. Namun, sinyal dari
'Death Puppeteer' yang telah menjadi Rasul itu tiba-tiba terputus.
Sebagai gantinya, ia malah menerima laporan bahwa
para siswa telah diselamatkan tanpa luka sedikit pun. Bersamaan dengan itu, departemen investigasi
kabarnya mulai menyelidiki insiden ini.
Ia dengar Shishido juga telah
ditangkap. Jika efek kontaminasi dari Charm yang ditanamkan pada
Shishido dihilangkan, pria itu pasti akan membongkar semuanya.
Cepat atau lambat, jejaknya akan
mengarah pada Suguro.
Tentu saja, tidak ada yang bisa
mengalahkan Suguro yang kini memiliki kekuatan dewa. Jika kedoknya terbongkar,
ia bahkan sudah berencana untuk menaklukkan Jepang saat itu juga.
Sekalipun lawannya adalah ras
vampir, dewa yang menaungi Suguro tidak akan kalah. Ia sangat yakin akan hal
itu.
Akan tetapi, fakta bahwa 'Death
Puppeteer' dikalahkan dengan begitu mudah menandakan sesuatu. Itu berarti Rasul
Dewa lain atau para vampir telah ikut campur dalam masalah ini.
Jika lawannya adalah sesama Rasul
Dewa, Suguro harus mempertaruhkan nyawanya. Mengetahui identitas pelaku adalah
hal yang sangat krusial.
"Bisa dipastikan pelakunya
adalah salah satu dari anggota kelompok praktik itu. Jika benar, apakah
pelakunya Tsukishiro Kanon yang identitasnya tidak jelas itu?"
Ia sebenarnya telah menyelidiki
latar belakang Tsukishiro Kanon. Namun, hasil yang didapatkannya terlalu
sempurna dan detail, tanpa celah sedikit pun.
Saat melihat laporan itu, Suguro merasakan
kengerian di dalam hatinya. Jika diselidiki, seharusnya ada satu atau dua hal
yang buram dari masa lalu seseorang.
Namun, segala hal tentang Tsukishiro Kanon—mulai
dari tempat kelahirannya, hobi, hingga sifatnya—semuanya terlalu sempurna tanpa
cela. Ya, seolah-olah semua itu hanyalah buatan belaka.
"Benar-benar Unknown ya... Sepertinya
dia harus dieliminasi secepatnya."
Perasaan apa ini? Kenapa ada rasa dingin yang
merayap di tulang belakang layaknya serangga?
Suguro merasa seakan-olah ia telah melewatkan
suatu detail yang sangat krusial.
"Aku punya firasat yang
sangat buruk. Wahai Dewaku,
kumohon berikanlah wahyu-Mu mengenai Tsukishiro Kanon."
Ia menyatukan kedua tangannya dan memanjatkan doa
kepada dewanya. Namun, wahyu yang biasanya selalu ia terima tak kunjung datang.
"Ya Dewa! Pinjamkanlah kekuatan-Mu kepada
hamba-Mu yang hina ini!"
Ia memohon sekali lagi, namun tetap tidak ada
balasan.
"Dewa?"
"Percuma saja."
Mendengar suara yang tiba-tiba itu, ia langsung
menoleh ke belakang. Di sana, seorang wanita yang mengenakan jas berekor,
sarung tangan putih, dan topi fedora berdiri dengan tangan berkacak pinggang.
"Siapa Kamu?!"
Hanya dengan ditatap oleh monokel wanita itu, hawa
dingin yang mengerikan menjalari tubuhnya, seakan-akan dililit oleh ular.
Karena itulah ia berteriak sekuat tenaga dari tenggorokannya.
"Aku? Aku tidak punya nama untuk disebutkan
kepada monyet sepertimu."
"Kamu memanggilku monyet?! Dasar manusia
rendahan!"
"Itu adalah penghinaan terbesar bagiku yang
telah menjadi Rasul Dewa yang agung!"
Mendengar kata-kata yang begitu arogan, Suguro
memaksakan amarah keluar dari lubuk hatinya. Ia mencoba menepis kecemasan yang
tak berwujud itu dengan meninggikan suaranya.
Namun, di sisi lain, kecemasannya justru semakin
menjadi-jadi. Suguro sangat menyadari bahwa semua itu hanyalah gertakan sambal
belaka.
"Hah! Dewa yang agung, katamu? Apa benda ini
yang kamu maksud?"
Petik! Wanita bermonokel itu menjentikkan jarinya,
membuat sebuah benda melayang di udara. Saat Suguro melihat wujud benda
tersebut...
"Hiii!"
Pemandangan itu terlalu mengerikan hingga
membuatnya menjerit tanpa sadar.
"Bu... nuh... aku..."
Benda yang melayang itu adalah penggalan kepala
seorang pria tua bertelinga panjang. Darah segar mengalir dari mata, hidung,
dan mulutnya.
Kepala itu memohon ampun kepada sang wanita dengan
suara yang sangat familiar.
"Tentu saja tidak. Kelelawar rendahan, kamu
sudah terlalu sombong."
"Aku tidak pernah bermimpi
kalau kamu berani mengincar Master-ku! Memang benar, Master tidak
akan terluka sedikit pun oleh kelelawar sepertimu, tak peduli seberapa banyak
kekuatannya yang dibatasi."
"Tapi... Tapi! Kalian mencoba
melukai Master-ku yang berharga dengan cara yang licik! Aku sama sekali tidak bisa memaafkan hal
itu!"
Wanita itu kembali menjentikkan jarinya. Seketika,
telinga kepala itu meleleh menjadi gumpalan kental.
"GYAAAA!"
Jeritan melengking membelah
keheningan.
(S-Suara ini?!)
Suara jeritan yang menyedihkan itu... Suguro tidak mungkin salah
mendengarnya. Sebab, itu adalah suara dewa junjungannya, sosok yang seharusnya
menjadi entitas tertinggi dan absolut.
"Mulai sekarang, kamu akan
melihat mimpi buruk yang abadi bersama dengan kelelawar rendahan ini."
"Mimpi buruk... abadi?"
Hanya dengan mendengar kata-kata
yang teramat sial itu, hati Suguro langsung terselimuti kegelapan tanpa
secercah cahaya pun.
"Sebuah perjalanan menuju penderitaan dan
keputusasaan di mana kamu bahkan tidak diizinkan untuk hancur."
Sudut bibir wanita bermonokel yang melontarkan
kalimat itu melengkung membentuk bulan sabit. Sosoknya benar-benar menyerupai
iblis yang sering muncul di buku-buku dongeng masa kecil.
"Tidak..."
Suguro memuntahkan kata-kata penolakan sambil
melangkah mundur.
"Aku akan mengirimmu ke sana tanpa kompromi
sedikit pun."
Melihat wanita itu perlahan mengangkat telapak
tangan kanannya, rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kaki Suguro.
"TIDAAAAAK!"
Ia meninggalkan dewa yang selama ini ia percayai
dan berusaha melarikan diri sekuat tenaga dari monster di hadapannya.
"Curse Song."
Suara wanita tanpa belas kasih itu bergema dari
belakang. Dalam sekejap, ruangan tersebut berubah menjadi tempat yang paling
kejam bagi Suguro.
"Aaaaaaaa~♪"
Wajah-wajah tak terhitung jumlahnya bermunculan
dari dinding ruangan dan mulai menyanyikan sebuah lagu.
Pemandangan yang terlampau menyeramkan itu membuat
ketakutan menggeliat hebat di dasar dada Suguro.
"H-Hentikaaaaan!"
Nyanyian yang memekakkan telinga itu terasa
seperti pisau tajam yang menyayat jiwanya secara langsung. Suguro menutup rapat
telinganya.
Namun, usahanya sia-sia. Suara itu malah semakin
mengeras dan bergema langsung di dalam kepalanya.
"—Ghh?!"
Lalu, ia menyadari sebuah fakta. Kedua lengannya
bengkok dengan bentuk yang sangat tidak wajar, dan di ujung lengannya terdapat
wajah manusia yang sedang bernyanyi dengan semangat.
"Hiiiii!"
Pemandangan absurd nan menjijikkan itu membuatnya
meronta mati-matian. Ia berusaha kabur dari wajah yang menempel di lengannya,
namun ia tersandung dan jatuh telungkup dengan menyedihkan.
Di lantai itulah Suguro melihatnya—
"Gihya?!"
Kedua kakinya juga menari-nari layaknya karet,
sementara wajah di ujung jari kakinya ikut bernyanyi. Sebuah pemandangan yang
benar-benar wujud nyata dari mimpi buruk.
Monster-monster berwajah itu menyanyi sembari
merangkak mendekat, seakan-akan menikmati ketakutan Suguro.
"Jangan mendekat! JANGAN MENDEKAAAT!"
Ia berteriak putus asa. Menolak kenyataan di depan
matanya.
Namun, monster-monster itu terus merayap mendekat
dan mulai menggerogoti sekujur tubuhnya tanpa ampun.
Di tengah jeritan tangis, rasa sakit, dan
ketakutan luar biasa karena dimakan oleh tubuhnya sendiri, kesadaran Suguro
perlahan tenggelam ke dalam tidur abadi bernama mimpi buruk.
◇◆◇
Di ruang kepala sekolah SMA Kagetsu, berkumpul
orang-orang penting yang biasanya tidak pernah duduk dalam satu ruangan yang
sama.
Orang pertama adalah seorang pria berjas dengan
kumis tipis. Dia adalah Kepala Sekolah SMA Kagetsu saat ini, Ashihana Kureto.
Ia juga merupakan kepala Keluarga Ashihana saat
ini, keluarga bangsawan keturunan Onmyouji sejak zaman Heian yang memadukan
ilmu sihir Barat pada zaman Meiji.
Orang kedua adalah pria bertubuh besar dengan
kepala plontos dan bekas luka di sekujur tubuhnya.
Dia adalah anggota Keluarga Akizuki yang saat ini
menguasai politik dan ekonomi Jepang.
Selain itu, pria bernama Akizuki Eisei ini adalah
pimpinan tertinggi, Direktur Asosiasi Hunter Cabang Jepang yang menjadi
pelindung umat manusia.
Orang ketiga adalah wanita berambut merah yang
sangat cantik, mengenakan kimono. Namanya adalah Kuonji Kyouka.
Dia adalah Ketua Quon Group saat ini, sebuah
konglomerat raksasa dari keluarga penyihir ternama yang setara dengan Keluarga
Ashihana.
Mereka bertiga adalah penguasa
tertinggi yang memegang kendali atas Jepang. Biasanya mereka saling mengawasi
dan menekan, sehingga sangat jarang bisa berkumpul bersama seperti ini.
Para petinggi dari masing-masing
keluarga juga berdiri mengelilingi ketiga tokoh sentral tersebut.
Namun, ekspresi yang ditunjukkan
oleh setiap faksi sangatlah kontras.
Sang Ratu dari Keluarga Kuonji,
Kyouka dan kawan-kawannya, tampak tersenyum puas dan penuh percaya diri.
Di sisi lain, para pengikut
Keluarga Akizuki—yang membanggakan kekuasaan mutlak di Jepang saat
ini—menunjukkan wajah serius.
Mereka menahan napas, menanti laporan dari Kureto
selaku perwakilan pengurus sekolah, seolah-olah sedang menghadapi takdir.
"Aku akan menyampaikan laporan insiden kali
ini dari pihak manajemen sekolah."
"Insiden bermula karena Akizuki Tatsuya
dipermalukan oleh Tsukishiro Kanon di toko kue 'Sweets Wood'. Ia kemudian
meminta Wakil Kepala Sekolah Suguro untuk menghukum anak itu."
"Suguro memanfaatkan kesempatan ini untuk
mencari kelemahan Akizuki Tatsuya. Ia menyewa buronan Kelas A, 'Death
Puppeteer', untuk membunuh Tsukishiro Kanon dan murid-murid lain yang
mengganggunya."
"Semua orang memang sempat diculik, tetapi
Tsukishiro Kanon berhasil membalikkan keadaan. Itulah ringkasan insiden kali
ini."
Mendengar laporan dari Kepala Sekolah Ashihana
Kureto, sebuah permintaan maaf pun terlontar.
"Putraku yang bodoh benar-benar telah membuat
kekacauan. Aku tidak berniat mencari-cari alasan atas perbuatannya. Mewakili
keluarga, aku minta maaf yang sebesar-besarnya."
Akizuki Eisei menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Semua anggota Keluarga Akizuki yang hadir juga
ikut menunduk, kecuali Akizuki Narumi, seorang gadis berambut hitam pendek
bergaya bob.
Melihat kejadian itu, anggota dari dua faksi
lainnya menahan napas terkejut.
Di bawah kekuasaan absolut Keluarga Akizuki saat
ini, sangat mustahil membayangkan Eisei, sang perwakilan keluarga, meminta maaf
kepada dua kekuatan besar lainnya.
Oleh karena itu, semua orang sadar betul bahwa
hasil akhir dari insiden ini membawa dampak yang teramat besar.
"Ara~, permintaan maaf dari Orang Nomor Dua
sepertimu tidak ada artinya. Apa yang dikatakan Kakek Monster itu?"
Kuonji Kyouka melemparkan pertanyaan dengan suara
yang manis dan senyuman yang menyebalkan.
Kakek Monster yang dimaksud adalah Akizuki Kouzen,
penguasa sebenarnya dari Keluarga Akizuki, tokoh dengan pengaruh absolut di
Jepang.
Ia juga seorang lelaki tua yang dirumorkan sebagai
penyihir terkuat sepanjang masa.
Orang yang menjawab pertanyaan tersebut adalah—
"Kakek buyut telah memutuskan untuk mengusir
Tatsuya. Mulai sekarang, Tatsuya bukan lagi bagian dari Keluarga Akizuki sampai
batas waktu yang tak ditentukan."
Ya, yang berbicara adalah Akizuki Narumi.
Kegaduhan langsung meledak di
dalam ruangan. Keterkejutan mereka sangat beralasan.
Kasih sayang Kouzen kepada cucunya
sangatlah terkenal. Tidak ada
satu pun yang menduga ia akan memilih opsi pengusiran.
Di saat yang sama, mereka juga sadar bahwa
keputusan ini menunjukkan bahwa Keluarga Akizuki sama sekali tidak berniat
mundur dari persoalan ini.
"A~ra, kasihan sekali. Tuan muda itu
sepertinya sudah dibuang, ya."
Kyouka merubah ekspresi puasnya dan melontarkan
sindiran tajam.
"Perbuatan Tatsuya memang
sefatal itu. Memalukan
sekali, kami terlalu memanjakannya."
"Untuk saat ini, kami akan membiarkannya
mendinginkan kepala," jawab Eisei dengan nada dingin.
Mendengar jawaban itu, tak ada satu pun pengikut
Keluarga Akizuki yang melayangkan protes atau mengubah ekspresi mereka.
Mungkin saja selama ini mereka semua juga sudah
memendam amarah terhadap tingkah laku Tatsuya.
(Dasar pengecut!)
Kyouka mendecakkan lidah dan menggumam pelan.
"Ada apa, Kyouka? Apa Kamu tidak puas dengan
keputusan Yang Mulia Kouzen terkait masalah ini?" tanya Eisei tanpa
ekspresi.
"Tidak juga~"
Meski menjawab demikian, Kyouka memalingkan wajah
dengan senyum palsunya. Terlihat jelas bahwa suasana hatinya sedang sangat
buruk.
"Mari kita langsung ke intinya. Kita semua
berkumpul di sini bukan untuk membahas hukuman si idiot Tatsuya itu,
'kan?"
Pria berambut pirang dengan beanie hitam dan
tindik di bibirnya, yang sedari tadi melipat tangan tanpa ikut campur, membuka
sebelah mata. Ia memecah keheningan di tengah situasi yang mulai memanas ini.
Dia adalah Ashihana Okibi, pria yang menyandang
julukan 'Raja Api', salah satu dari empat Hunter Rank S di Jepang.
Ia merupakan mantan kekuatan tempur terkuat
Keluarga Ashihana yang kini menjadi orang kepercayaan Eisei, sang Direktur
Asosiasi Hunter Cabang Jepang.
"Kamu benar. Narumi, tolong
jelaskan tentang dia."
Eisei menoleh dan memberikan perintah. Narumi
mengangguk mantap.
"Tsukishiro Kanon. Kelas Satu Jurusan
Dukungan Tempur SMA Kagetsu. Masuk sekolah dengan Skill Item Box."
"Ia juga memiliki Hidden Skill berupa
kemampuan memanggil Monster Belalang yang dapat membantai monster peringkat S
dalam sekejap."
"Kanon sendiri memiliki ilmu
bela diri yang luar biasa, setara dengan Monster Belalang tersebut. Hanya itu
yang kami ketahui."
Penjelasan datar dari Narumi itu
membuat seisi ruangan berdengung riuh layaknya sangkar burung.
"Pemilik Item Box saja
sudah sangat langka, apalagi dia adalah seorang Double Skill Holder yang
juga punya kemampuan memanggil monster. Terlebih lagi, kemampuan bela dirinya
juga sangat luar biasa..."
"Aku sudah mendengarnya dari
Ran, tapi apa itu benar-benar nyata?"
Ashihana Kureto tersenyum sambil
melontarkan pertanyaan kepada Narumi yang pipinya memerah karena kegirangan.
"Ya, aku melihatnya dengan mata kepalaku
sendiri melalui Yusuke! Kekuatannya benar-benar berada di luar nalar!"
"Bisa jadi, kekuatannya bahkan mampu
menandingi para vampir itu!"
Jawaban Narumi memancing gumaman tak percaya dari
para veteran berbagai faksi yang hadir. Sebagian besar dari mereka diliputi
rasa ragu, merasa bahwa hal itu mustahil terjadi.
"Mampu menandingi vampir, ya. Jika dipikir
secara logika, itu adalah cerita yang sulit dipercaya."
"Ara ara, Kureto~ Kamu tidak percaya, ya~
Kalau begitu, kalian dari Keluarga Ashihana bersedia mundur dari perebutan anak
ini, 'kan?"
Kuonji Kyouka bangkit dari sofa, berjalan
mendekati Kureto, dan duduk di atas meja. Ia menunduk menatap Kureto sembari
bertanya dengan nada manja.
"Tidak, aku baru saja bilang jika dipikir
secara logika, bukan? Narumi sendiri yang mengatakannya, jadi tentu saja
aku percaya."
"Lagi pula, dia adalah murid di sekolah ini.
Hak asuh dan pengawasannya ada di tangan kami, pihak manajemen sekolah."
Kureto menjawab seraya melipat tangan dengan
senyuman di wajahnya. Namun, sorot matanya sama sekali tidak menyiratkan
keramahan.
"Kak Kureto, bukankah yang paling penting
adalah Tsukishiro Kanon sendiri tampaknya memiliki rasa tidak percaya yang
sangat kuat terhadap kalian, pihak manajemen sekolah?"
Ashihana Okibi bertanya sambil bersandar di sofa,
menatap merendahkan dengan mata setengah tertutup.
Meski biasanya terlihat lembut, Kureto sejatinya
adalah seorang petarung garis keras. Ia adalah orang yang paling agresif di
ruangan ini.
Karena itu, ia tidak akan membiarkan tindakan
provokasi yang tidak sopan, meskipun itu berasal dari adiknya sendiri, Okibi.
Semua orang memprediksi Kureto akan bereaksi keras terhadap sikap Okibi yang
telah mengkhianati Keluarga Ashihana dan berpihak pada Eisei.
Namun—
"Benar! Itu dia! Bagian itulah yang sangat
tidak masuk akal!"
Kureto justru meninggikan suaranya
dengan nada antusias.
"Tidak masuk akal? Apa
maksudmu?"
Kyouka yang untuk pertama kalinya
menghilangkan senyumnya, mengerutkan kening, meminta penjelasan lebih lanjut.
"Sepertinya, Kain curiga
bahwa pihak sekolah sengaja ikut campur. Pasalnya, monster-monster yang ia
hadapi dalam ujian praktik kali ini menurutnya terlalu lemah."
"Hah? Aku sudah mendengar
detail pertarungannya dari Karina. Bukankah semua monster yang dilawan oleh
Kelompok A-1 setidaknya setingkat Rank C?"
"Bahkan, kabarnya ada monster
Rank B di dalam gedung itu, 'kan?"
Orang yang menjawab keraguan
Kyouka adalah—
"Aku sendiri yang
memastikannya, jadi tidak mungkin salah. Terutama monster-monster yang
dipanggil oleh 'Death Puppeteer' itu, mereka benar-benar sangat
berbahaya."
Itu adalah Narumi.
"Nona Narumi, saat Anda berkata sangat
berbahaya... Apakah itu berarti ada beberapa monster Rank A?"
Hunter muda kepercayaan Eisei membenarkan letak
kacamatanya saat ia memastikan hal itu pada Narumi.
"Ini hanya berdasarkan intuisiku, tapi
mayoritas dari mereka adalah Rank A."
"Apalagi ketiga bos monster itu; Goblin, Orc,
dan Ogre yang mengenakan senjata sihir. Kekuatan mereka bahkan terlalu besar
untuk bisa aku ukur."
Semua orang terdiam mendengar penuturan Narumi.
Mereka sepertinya kebingungan dan tidak tahu bagaimana harus mencerna situasi
ini.
"Mungkinkah Tsukishiro Kanon hanya sok
kuat?"
"Apa kamu bodoh? Intinya, alasan Tsukishiro
Kanon curiga adalah karena ia merasa monster yang muncul terlalu lemah untuk
diurus oleh anak-anak."
"Oleh sebab itu, ia salah paham dan mengira
sekolah yang mendalanginya. Menurutmu apa makna dari semua itu?"
Menanggapi pertanyaan penuh ejekan dari Ashihana
Okibi, Hunter muda itu memasang wajah kesal menahan amarah.
"Itu berarti, bagi Tsukishiro Kanon,
monster-monster tersebut hanyalah makhluk yang tidak ada artinya!"
balasnya dengan suara lantang kepada atasannya, Okibi.
"Benar, itulah yang membuatku
bingung. Mungkinkah ada manusia di dunia ini yang beranggapan bahwa monster di
atas Rank A itu terlalu lemah?"
Pertanyaan retoris dari Kepala Sekolah Kureto
membungkam seluruh ruangan. Padahal, jawabannya sudah sangat jelas tanpa perlu
dipikirkan lagi.
—Hal itu sama sekali tidak mungkin.
"Begitu rupanya, jadi Tsukishiro Kanon adalah
orang yang memiliki hubungan dengan Dewa Susanoo, seperti yang dikatakan oleh
Tuan Atom!"
Eisei berdiri dengan penuh semangat sembari
melempar senyuman, memaparkan teorinya.
"Itu sangat tidak mungkin. Karena itulah aku bilang, aku
tidak mengerti."
Kureto langsung membantah dengan
ekspresi tidak percaya.
"Mengapa Kamu bisa bilang
begitu?!"
"Kami telah memastikan bahwa
ia adalah putra kedua dari keluarga praktisi bela diri kuno, 'Bela Diri Kuno
Tsukishiro' yang berada di Chiba."
"Adakah kemungkinan informasi itu
salah?"
"Staf kami sudah turun langsung ke lokasi
untuk memastikannya, jadi informasi itu valid. Sebelum masuk ke SMA ini,
tampaknya ia telah menjalani latihan yang teramat keras sejak kecil di dojo
terpencil di atas gunung."
"Pemikirannya yang tidak masuk akal itu
sebenarnya bisa dijelaskan dengan latar belakangnya, tapi..."
"Meskipun dia kurang pengetahuan tentang
dunia luar, pemikirannya itu memang sudah sangat kelewatan, ya..."
Eisei melipat tangannya dan berpikir keras.
"Bodoh sekali! Pemikirannya saat ini sama
sekali tidak penting. Yang paling utama adalah fakta bahwa dia itu kuat. Oleh
karena itu, dia akan menjadi milikku seutuhnya."
Wajah cantik Kyouka sedikit memerah, dan ia
menjilat bibirnya sendiri.
"Cih, dasar wanita gila gairah! Tante-tante
yang usianya hampir empat puluh tahun tidak usah menggoda pria yang jauh lebih
muda darinya!"
Mendengar penolakan keras yang tak biasa dari
Narumi, Kyouka tersenyum licik dan menyeringai.
"A~ra, Narumi, wajar 'kan jika seorang wanita
ingin memiliki anak dengan gen yang unggul?"
"Atau jangan-jangan... Kamu
sendiri yang ingin melahirkan anak darinya, ya?"
Kyouka mendekati Narumi, merangkul
bahunya dengan lengan kanan, lalu mengintip wajah gadis itu.
"M-Mana mungkin!"
Narumi yang wajahnya memerah
langsung membuang muka dan membantahnya mentah-mentah.
"Jangan terlalu mengganggu putriku, Kyouka. Narumi tidak tahan dengan lelucon
semacam itu. Lagi pula, bukankah Kamu sangat setia pada mendiang suamimu?"
Mendengar perkataan Eisei, Narumi
baru menyadari bahwa dirinya sedang dipermainkan. Ia gemetar menahan amarah,
seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Pembicaraan kita sudah
selesai! Ayah, Pak Okibi,
kuserahkan sisanya pada kalian berdua!"
Setelah berteriak kesal, Narumi
langsung melenggang keluar dari ruangan tersebut.
"Tapi, niatku untuk menjadikannya milikku itu
tidak main-main. Yah, lebih tepatnya untuk putri-putriku, sih."
Kyouka berdiri dan membuka kipas lipatnya,
menyampaikan sebuah deklarasi yang terdengar seperti pernyataan perang.
"Keluarga Ashihana juga memiliki niat yang
sama. Berkat orang bodoh yang minggat dari keluarga kami, penurunan kekuatan
tempur menjadi masalah yang mendesak bagi Keluarga Ashihana saat ini."
"Jika ia menikah dengan Ran dan membantu
memajukan sekolah ini, semuanya akan aman terkendali," sahut Kureto sambil
memelototi Okibi.
"Kami, Keluarga Akizuki, juga punya pendapat
yang sama. Kalian pasti sudah mengerti dari reaksi Narumi tadi, 'kan?"
"Tumben sekali Narumi terlihat sangat
antusias. Tsukishiro Kanon sangat pantas menjadi penerus Keluarga Akizuki. Jika
ia bersama Narumi, mereka pasti bisa membasmi para vampir itu dan mengembalikan
dunia ini ke tangan umat manusia!" ujar Eisei dengan nada yang membara.
"..."
Ketiga perwakilan faksi tersebut saling menatap
satu sama lain dengan senyuman di wajah mereka.
"Sepertinya ini tidak akan
ada ujungnya," ujar Kureto sambil mengangkat bahu.
"Benar. Aku punya usul, bolehkah?"
"Apa itu? —Ah, kurasa aku tidak perlu
bertanya lagi."
"Tentu saja. Mengingat situasinya seperti
ini, wajar jika hal itu akan terjadi, 'kan?"
Mereka bertiga pun tertawa, sementara para
petinggi dari masing-masing keluarga menelan ludah dengan gugup.
Dan dengan demikian, jaring pengepungan untuk
mendapatkan Tsukishiro Kanon mulai terajut secara perlahan.
◇◆◇
Di salah satu ruangan bergaya Barat di dalam Vlad
Palace yang berlokasi di distrik Adachi, Tokyo, terdapat dua orang vampir.
Salah satunya adalah pria vampir dengan kantung
mata bernama Spade.
Vampir lainnya berambut pendek dan mengenakan
pakaian mewah berlapis-lapis khas bangsawan abad pertengahan yang sering muncul
di buku dongeng. Namanya adalah Dar Ear.
"Sepertinya bawahan kesayanganku, Rugedo,
telah kehilangan kontak."
Mendengar ucapan Spade tersebut...
"Hah? Meski Rugedo hanyalah agen mata-mata
dan kekuatannya tidak seberapa, dia tetaplah saudara kita."
"Tidak mungkin ada seorang pun di dunia ini
yang bisa mengalahkannya, 'kan?" sanggah Dar Ear dengan nada tinggi sambil
mengerutkan alisnya.
"Itu adalah sebuah fakta. Apakah Kamu
mengerti apa arti dari semua ini?"
"Faksi Pilar Dewa selain milik kita! Kelompok
Dewa Susanoo, ya?!"
"Tebakanmu sepertinya keliru. Menurutku,
lawan kita kali ini adalah sang True Ancestor."
Dar Ear sempat menatap tajam ke arah Spade yang
merangkai kata-katanya dengan penuh penekanan.
"Kenapa Kamu bisa berpikir begitu?"
tanyanya kembali dengan ekspresi serius.
"Sebelumnya, Rugedo tampak bersenang-senang
memanfaatkan seorang manusia bernama Suguro."
"Ia melapor dengan penuh semangat, 'Akhirnya
aku menemukan sang True Ancestor'. Setelah itu, panggilannya terputus."
"Bukankah Rugedo pernah bertemu dengan sang
True Ancestor lima tahun yang lalu?"
"Tapi, True Ancestor itu bisa berubah wujud,
'kan? Bukankah mustahil membedakannya hanya dari penampilannya saja?"
"Benar. Aku tidak tahu alasannya, namun di
tengah permainannya kali ini, Rugedo sangat yakin bahwa orang yang ia temukan
itu adalah sang True Ancestor."
"Sekarang setelah dia mati, kita tidak tahu
apa alasannya dan siapa sosok sebenarnya..."
"Walaupun begitu, kita bisa mempersempit
daftar tersangka. Selain itu, Rugedo juga tidak bisa masuk ke wilayah yang
dikuasai manusia."
"Jika Rugedo terbunuh di sana, itu
berarti—"
"True Ancestor sengaja keluar dari zona
amannya dan membunuh Rugedo?"
"Hanya itu satu-satunya kesimpulan yang masuk
akal."
"Apa Kamu sudah melaporkan hal ini pada Tuan
Vlad?"
Bulir keringat yang besar menempel
di dahi Dar Ear. Ia bertanya dengan sedikit gugup.
"Jika aku sudah
melaporkannya, aku tidak mungkin berdiri di sini sekarang."
"Sudah kuduga..."
Dar Ear mengusap keringatnya dan
menghela napas lega.
"Aku punya rencana untuk
menemukan dan menangkap True Ancestor, apa Kamu ingin ikut ambil bagian?"
Spade menyampaikan tawaran terbaik yang bisa ia
pikirkan saat ini.
"Tergantung isi rencananya."
"Aku hanya akan menjelaskannya jika Kamu
setuju untuk bergabung dalam rencanaku."
Dar Ear menatap tajam ke arah Spade dan terdiam
sejenak.
"Baiklah. Aku ikut. Jadi? Apa yang akan kita
lakukan?"
Ia lalu mengangguk mantap sambil
menghela napas berat.
"Kita akan memanfaatkan hasrat para manusia
bodoh itu."
Spade melengkungkan ujung bibirnya ke atas, melontarkan ucapan tersebut dengan nada seperti orang yang tengah bernyanyi.



Post a Comment